V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Analisis Keberlanjutan Pengelolaan Sumberdaya Hutan di Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat
Penilaian terhadap status keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Barat dilakukan dengan menggunakan analisis Rapid Appraisal Indeks Sustainable for Forestry Management (Rap-Insusforma). Analisis Rap -Insusforma akan menghasilkan nilai indeks status keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan pada masing -masing dimensi yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi, hukum dan kelembagaan serta yang bersifat multidimensi. Masing-masing dimensi memiliki atribut yang mencerminkan status keberlanjutan dari dimensi yang bersangkutan. Nilai indeks yang dihasilkan meliputi nilai indeks status keberlanjutan mutlidimensi (ekonomi, ekologi, sosial budaya, teknologi, hukum dan kelembagaan) maupun nilai indeks keberlanjutan untuk masing-masing dimensi. Nilai indeks yang dihasilkan merupakan gambaran tentang kondisi pengelolaan sumberdaya hutan di kawasan perbatasan yang terjadi pada saat ini. Nilai tersebut ditentukan oleh nilai skoring dari masing-masing atribut pada setiap dimensi yang dikaji.
Atribut dari masing -masing dimensi yang sensitif mempengaruhi nilai indeks status keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan akan digabung dengan faktor dari analisis kebutuhan guna merumuskan kebijakan dan skenario strategi dalam pengelolaan sumberdaya hutan pada masa yang akan datang agar terjadi peningkatan nilai indeks pengelolaan dari kondisi saat ini.
5.1.1. Kondisi skor masing-masing atribut pada setiap dimensi
Nilai indeks status keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan Provinsi kalimantan barat ditentukan berdasarkan skor untuk masing-masing atribut pada setiap dimensi sesuai dengan kondisi pengelolaan yang dilakukan pada saat ini dengan mengacu pada kriteria dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Nilai skor masing-masing atribut pada setiap dimensi pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan Kalimantan Barat dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Kondisi nilai skor keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan.
Dimensi dan Atribut Skor saat ini Baik Buruk Keterangan
Dimensi Ekologi Ketersediaan zonasi untuk berbagai pengeloaan hutan
(1) tersedia 2 0 (0)tidak tersedia; (1)tersedia tapi belum dipatuhi secara baik; (2) tersedia dan dipatuhi Upaya perlindungan terhadap
tempat-tempat yang rentan ekologis
(1) dilakukan 2 0 (0) tidak dilakukan; (1)dilakukan tapi belum secara maksimal; (2)dilakukan secara maksimal. Tingkat kekayaan/keragaman biota (2) sangat beragam 2 0 (0)sangat minim; (1)cukup beragam; (2)sangat beragam. Upaya perlindungan terhadap
biota langka (1) dilakukan sebatas yang mendapat dukungan dana internasional 3 0 (0) tidak dilakukan; (1)dilakukan sebatas yang mendapat dukungan dana internasional; (2)dilakukan pada semua biota yang memiliki nilai ekonomi; (3) Dilakukan pada semua biota langka.
Frekuensi kejadian kebakaran hutan (2) setiap tahun sekali pada musim kemarau. 0 2 (0)tidak pernah; (1)terjadi pada saat musim kemarau panjang; (2) setiap tahun sekali pada musim kemarau.
Waktu suksesi hutan (0) lambat 2 0 (0) lambat; (1) sedang;
(2) cepat.
Program reboisasi hutan (1) sedikit 3 0 (0)tidak ada; (1) ada sedikit; (2) sedang; (3)banyak
Kegiatan ladang berpindah (3) banyak 0 3 (0)tidak ada; (1) ada sedikit; (2) sedang; (3) banyak
Diameter tebangan (0) kecil 2 0 0) kecil; (1) sedang;
(2) besar
Frekuensi kejadian banjir (2) sering 0 2 (0) tidak pernah terjadi; (1) jarang terjadi; (2)sering
Dimensi Ekonomi
Tingkat pengembalian dana reboisasi
(0) rendah 2 0 (0) rendah; (1) sedang; (2) tinggi
Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB Kalimanatan Barat
(2) tinggi 2 0 (0) rendah; (1) sedang; (2) tinggi
Jenis produk hutan yang dipasarkan
(1) bahan setengah jadi
3 0 (0) bahan mentah; (1) bahan setengah jadi;(2) bahan jadi; (3) produk nilai ekonomi tinggi.
Pasar produk (2)
internasional
2 0 (0) lokal; (1) nasional; (2) internasional
Tingkat ketergantungan konsumen terhadap hasil hutan.
(2) tinggi 0 2 (0) rendah; (1) sedang; (2) tinggi
Harga komoditi hasil hutan yang dipasarkan.
(0) rendah 2 0 (0) rendah; (1) sedang;
(2) tinggi Kelayakan usaha industri
kehutanan
(2) keuntungan marginal
3 0 Mengacu pada analisis usaha: (0) rugi; (1) kembali modal (2) kuntungan marjinal; (3) untung besar.
Tingkat pendapatan masyarakat di sekitar hutan
(0) rendah 2 0 (0) rendah; (1) s edang; (2) tinggi
Pemanfaatan sumberdaya hutan bukan kayu
(0) rendah 2 0 (0) rendah; (1) sedang;
(2) tinggi Dimensi Sosial Budaya
Akses masyarakat lokal terhadap sumberdaya hutan
(1) rendah 3 0 (0) tidak punya sama
sekali ; (1) rendah; (2) sedang; (3) tinggi Tingkat penyerapan tenaga
kerja
(2) tinggi 2 0 (0) rendah; (1) sedang;
(2) tinggi Pemahaman, kepedulaian,
dan tanggung jawab masayarakat terhadap SDH
(0) rendah 2 0 (0) rendah; (1) sedang;
(2) tinggi Pola hubungan para
stakeholder dalam pemanfaatan sumberdaya hutan (1) saling menguntungkan 1 0 (0) tidak saling menguntungkan; (1) saling menguntungkan Tingkat pendidikan
masayarakat di sekitar hutan
(0) dibawah rata-rata nasional 2 0 (0) dibawah rata-rata nasional; (1) sama dengan rata-rata nasional; (2) di atas rata-rata nasional.
Jarak pemukiman dengan kawasan hutan
(0) dekat 2 0 (0) dekat ; (1) sedang; (2) jauh
Peran masyarakat adat dalam pengelolaan hutan
(2) tinggi 2 0 (0) rendah; (1)sedang; (2) tinggi
Pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan
(1) ada, tidak berjalan
3 0 (0) tidak ada; (1) ada, tidak berjalan; (2)kurang optimal; (3) berjalan optimal
Dimensi Teknologi
Tingkat efisiensi industri pengolahan hasil hutan
(1) sedang 2 0 (0) rendah; (1) sedang; (2) tinggi
Ketersediaan teknologi pengolahan hasil hutan.
(1) sedang 2 0 (0) teknologi sederhana; (1) teknologi sedang; (2) teknologi tinggi
Ketersediaan teknologi informasi (0) sangat minim 3 0 (0) sanga minim ; (1) cukup tersdia; (2) tersedia memadai; (3) tersedia dengan teknologi tinggi Ketersediaan basis data (data
base) sumberdaya hutan
(0) tidak tersedia
1 0 (0) tidak tersedia; (1) tersedia
Ketersediaan teknologi mitigasi bencana kebakaran hutan
(0) tidak tersedia
1 0 (0) tidak tersedia; (1) tersedia
Standarisasi mutu produk hasil hutan (1) diterapkan hanya untuk produk tertentu saja 2 0 (0) belum diterapkan; (1) diterapkan hanya untuk produk tertentu saja ; (2) diterapkan pada semua produk Penerapan sertifikasi produk
hasil hutan (ekolabel)
(0) belum diterapkan
2 0 (0) belum diterapkan; (1) diterapkan hanya untuk produk tertentu saja; (2) diterapkan pada semua produk Pengolahan limbah kayu
bekas tebangan
(0) rendah 2 0 (0) rendah; (1) sedang;
(2) tinggi Hukum dan Kelembagaan
Perjanjian kerjasama dengan negara tetangga Malaysia
(0) tidak ada 2 0 (0) tidak ada; (1) ada tapi belum secara secara khsusus membahas sumberdaya hutan; (2) ada secara khusus. Mekanisme kerjasama lintas
sektor dan antar daerah dalam pengelolaan SDH
(0) tidak ada 1 0 (0) tidak ada; (1) ada
Frekuensi konflik (2) sering terjadi
0 2 (0)tidak pernah ada ; (1) jarang terjadi; (2)sering terjadi Intensitas pelanggaran
hokum (penebangan liar)
(2) sering terjadi
0 2 (0) tidak pernah ada ; (1) jarang terjadi ; (2)sering terjadi Ketersedian peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan sumberdaya hutan
(1) sedikit 3 0 (0) tidak ada ; (1) ada sedikit ; (2) cukup banyak; (3) banyak Ketersediaan hukum adat/agama (1) cukup tersedia
2 0 (0) tidak ada ; (1) cukup tersedia ; (2) sangat lengkap
Keberadaan aparat penegak hukum di lokasi (1) kurang tersedia 3 0 (0) tidak ada ; (1) kurang tersedia ; (2) cukup tersedian; (3) sangat lengkap Konsistensi penegakan hukum (0) tidak konsisten 3 0 (0) tidak konsisten ; (1) cukup konsisten ; (2) konsisten ; (3) sangat konsisten
Singkronisasi kebijakan pusat dan daerah (1) kurang sinkron 2 0 (0) tidak singkron; (1) kurang sinkron; (2) sinkron.
Berdasarkan Tabel 17, berikut dijelaskan kondisi masing-masing atribut sesuai dengan nilai skor pada setiap dimensi, yaitu:
a. Dimensi ekologi
Tata ruang kawasan perbatasan Kalimantan Barat belum secara detail dijabarkan. Adanya perubahan struktur organisasi pemerintahan berupa peningkatan status beberapa kecamatan menjadi kabupaten baru (pemekaran) menuntut perubahan struktur pemerintahan yang ada. Pada saat ini telah dilakukan pengalokasian kawasan -kawasan prioritas (zonasi), tetapi kegiatan ekonomi relatif masih kecil. Kawasan konservasi, taman nasional, merupakan kawasan yang banyak mendapat perhatian. Hal tersebut juga dilakukan oleh organisasi-organisasi internasional seperti WWF, ITTO dan organisasi yang berbasis lingkungan. Walupun sudah ada zonasi peruntukan kawasan, zona-zona potensial di kawasan perbatasan belum cukup berkembang . Hal ini diantaranya diakibatkan oleh:
1. Belum tertatanya kawasan pemukiman yang ada.
2. Belum tertatanya kawasan lindung dan wisata ekologi yang ada. 3. Belum tertatanya kawasan budidaya dan sektor primer lainnya.
4. Belum teralokasinya kawasan-kawasan bisnis, perdagangan, jasa, dan industri.
5. Belum tertatanya kawasan potensial di kawasan perbatasan.
Selain itu belum lengkapnya penyusunan detail RTRW, RDTR dan Rencana Kota – Ibukota Kecamatan, serta perangkat hukum yang pelaksanaannya masih menghambat pembangunan zona-zona potensial di kawasan perbatasan. Secara rinci zonasi kawasan wilayah perbatasan adalah sebagai berikut: 1) kawasan suaka alam seluas 1.088.269 ha (cagar alam, taman nasional, taman wisata alam), 2) hutan lindung seluas 1.491.619 ha, 3) hutan produksi seluas 1.089.856, 4) hutan produksi terbatas seluas 1.260.481 ha, dan 5) hutan produksi yang dapat di konversi seluas 173.217 ha.
Upaya perlindungan terhadap kawasan-kawasan yang rentan bencana ekologis, seperti kawasan yang rentan terjadi bencana kebakaran hutan, tanah longsor, banjir dan lain-lain di kawasan perbatasan belum secara maksimal diperhatikan. Hal ini ditunjukkan oleh masih banyaknya kegiatan pembakaran hutan yang dilakukan oleh masyarakat dan perusahaan perkebunan skala besar pada saat membuka lahan (land clearing). Di samping itu, pembukaan lahan di daerah resapan air dan DAS bagian hulu masih sering ditemukan, sehingga pada
musim hujan terjadi banjir dan pada musim kemarau terjadi penurunan permukaan air sungai yang dapat mengganggu jalur trasportasi sungai.
Tingkat keanekaragaman hayati di kawasan perbatasan relatif tinggi baik untuk tumbuhan (flora) maupun hewan (fauna). Dalam perspektif ekologi, semakin tinggi tingkat keanekaragaman hayati sutau ekosistem maka ekosistem tersebut relatif semakin stabil dan memiliki nilai ekonomi yang semakin tinggi. Berdasarkan hasil Borneo Biodiversity Expedition to the Transboundary Conservation Area of Betung Kerihun National Park (Kapuas Hulu) and Lanjak Kentimau Wildlife Sanctuary (Sarawak) Tah un 2003, menunjukkan bahwa wilayah perbatasan memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi. Jenis keanekaragaman hayati yang ditemukan di wilayah perbatasan adalah sebagai berikut:
• Pada kedua kawasan lindung tersebut diketemukan sejumlah tumbuhan yaitu Genera laxocarpus, Ardisa, Lepisanthes, Microtopis dan Jarandersonia.
• Terdapat tumbuhan langka di TN Betung Kerihun yakni Cyrtranda mirabilis.
• Diidentifikasi 62 jenis palem, 2 diantaranya jenis baru.
• Kaya akan jenis dipterocarpaceae, terutama Lanjak Ketimau.
• Tercatat 125 jenis ikan dari 12 famili (91 jenis ditemukan di Kalimantan Barat, 61 jenis di Sarawak), juga 2 jenis ikan dari genus Glaniopsis dan sejenis ikan Gastromyzon ditemukan pertama kali di Kalimantan.
• Ditemukan 291 jenis burung dari 39 famili, dengan 20 jenis endemik dan 17 jenis migran, yang mewakili ± 70% avifauna hutan dataran rendah kalimantan.
• Terdapat 41 jenis tumbuhan obat-obatan, 144 jenis tumbuhan yang menghasilkan bahan makanan, 38 jenis tumbuhan untuk upacara, 30 jenis tumbuhan untuk bahan bangunan dan 60 jenis tumbuhan untuk berbagai macam bangunan.
• Ditemukan tumbuhan Hornstedtia sp yang digunakan untuk indikator bahwa areal bekas perladangan sudah bisa ditanami kembali.
Ada beberapa biota langka yang dilindungi yang terdapat di kawasan perbatasan seperti Cyrtranda mirabilis, ikan arwana , orang hutan, dan lain -lain. Upaya perlindungan terhadap biota langka ini telah dilakukan dalam bentuk penangkaran satwa dan penetapan melalui undang -undang sebagai biota yang dilindungi, namun sering kali ditemukan penyelundupan dan perdagangan ilegal biota langka ke luar negeri yang melibatkan masyarakat lokal.
Kebakaran hutan di Kalimantan Barat terjadi setiap tahun pada saat musim kemarau tiba. Pada tahun 2004, jumlah titik api (hotspot) di Kalimantan
barat mencapai 7.980 meningkat 100 persen lebih jika dibandingkan pada tahun 2003 yang hanya berjumlah 3.140 titik api. Jumlah titik api tertinggi ditemukan di Kabupaten Ketapang (2.660 titik api), kemudian disusul Kabupaten Sintang 1.876 titik api, dan Kabupaten Sanggau 1.516 titik api. Kebakaran hutan terjadi pada bulan Mei sampai September dan puncak tertinggi terjadi pada bulan Agustus yang mencapai 5.728 titik api. Perincian jumlah titik api pada tahun 2004 di Kalimantan Barat dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Jumlah titik api pada masing-masing kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat tahun 2004
Tahun 2004 No. Kabupaten/
Kota Mei Juni Juli Agust Sept
Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 Pontaianak Sambas Bengkayang Landak Sanggau Sintang Kapuas Hulu Ketapang Kota Pontianak Kota Singkawang 4 9 4 1 - 2 5 10 - 51 34 171 4 21 35 64 32 - 8 23 15 4 - 2 9 24 10 - 1 294 65 148 652 1.406 1.444 290 1.413 2 14 16 - 1 9 87 365 8 1.195 4 - 388 123 28 666 1.516 1.876 391 2.660 6 26 56 420 88 5.728 1.685 7.980
Sumber: Dinas Kehutanan Kalimantan Barat 2005.
Kebakaran hutan di wilayah Kalimantan Barat pada tahun 2004 terjadi di areal HPHTI dan lahan pertanian. Luas hutan yang terbakar seluas 256,80 ha, lahan perkebunan seluas 400,00 ha, dan lahan pertanian seluas 70,20 ha. Perincian luas areal kebakaran hutan pada musim kemarau tahun 2004 dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Luas areal kebakaran hutan pada musim kemarau di Provinsi Kalimantan Barat tahun 2004
Jenis Tanaman (Ha) No
.
Kabupaten/ Perusahaan
Pengguna
an Lahan Hutan Kebun Lahan Jumla h Keterangan 1. 2. 3. Sambas Sanggau PT. Finantara Bengkayang PT. Ceria Prima PT. Mitra ISP. Pertanian Perkebun an Perkebun an - 256,80 - - - - 300,00 100,00 - 40,95 1,00 200,00 - 128,25 40,95 257,80 500,00 100,00 128,25 Hutan Tanaman Kelapa sawit Kelapa sawit Lahan terbuka Jumlah 256,80 400,00 370,20 1.027
Di wilayah perbatasan, terutama di Kabupaten Kapuas Hulu secara keseluruhan merupakan daerah yang telah mengalami pengikisan dan semakin tua, yang ditandai dengan gradient sungai yang kecil dan berkelok-kelok. Morfologi daerah berbentuk wajan (kuali), terdiri dari dataran rendah/cekung yang terendam air. Dengan morfologi daerah yang demikian, sumberdaya hutan di wilayah perbatasan merupakan sumberdaya hutan gambut dan sering terendam air. Hutan gambut yang sering tergenang air karena berada di daerah sekitar aliran sungai menjadi faktor penghambat terjadinya suksesi hutan apabila terjadi penebangan kayu dan pembukaan lahan untuk pertanian atau perkebunan. Proses suksesi hutan pada jenis tanah podsolik merah kuning (PMK), brown forest litosol dan organosol, dan lahan gambut membutuhkan waktu yang relatif lebih lama jika d ibandingkan pada lahan podsolik hitam, lahan tidak bergambut, dan tidak tergenang air.
Program penghijauan (program reboisasi) merupakan upaya yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dalam rangka menanggulangi kerusakan hutan terutama di wila yah perbatasan. Pada tahun 2004, kegiatan reboisasi melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) di Provinsi Kalimantan Barat seluas 7.300 ha. Kegiatan reboisasi yang dilakukan banyak mengalami kegagalan karena kurang melibatkan masyarakat setempat dan kegiatan tersebut hanya berlangsung sesaat, sehingga lahan kritis sebagai akibat kebakaran hutan, penebangan liar, ladang berpindah, dan perambahan hutan di Kalimantan Barat mencapai luas 2.364.158 ha berada dalam kawasan
hutan, dan se luas 2.973.873 hektar yang berada di luar kawasan hutan (Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, 2005).
b. Dimensi ekonomi
Realisasi penerimaan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dari iuran dana reboisasi (DR) pada tahun 2004 kurang dari 10% dari jumlah yang ditetapkan. Penerimaan iuran DR yang diterima pemerintah hanya sebesar 438.997,87 US dolar, sedangkan tunggakan DR mencapai 5.621.759,33 US dolar. Kondisi ini menggambarkan rendahnya komitmen dari HPH untuk secara bersama bertanggung jawab dalam memperbaiki sumberdaya hutan di wilayah Kalimantan Barat.
Di wilayah perbatasan, kerusakan lingkungan ditandai dengan adanya kerusakan sumberdaya hutan yang diakibatkan pembakaran dan penebangan hutan terutama oleh HPH tanpa diikuti dengan kegiatan reboisasi. Hal ini
menyebabkan mulai punahnya beberapa unsur keanekaragaman hayati flora dan fauna. Kerusakan lingkungan di kawasan ini ternyata tidak terbatas pada kerusakan sumberdaya hutan saja, namun telah terjadi kerusakan lingkungan laut, udara, dan sungai terutama akibat adanya kegiatan industri pengolahan hasil hutan yang pada umumnya lokasinya berada di sepanjang sungai.
Mata pencaharian masyarakat di wilayah perbatasan lebih dari 80 persen adalah bertani. Kegiatan pertanian yang dilakukan dengan cara membuka hutan secara berpindah-pindah merupakan budaya turun-temurun masyarakat tradsional di wilayah perbatasan. Kegiatan pembersihan lahan dengan cara dibakar menjadi salah satu faktor penyebab utama seringnya terjadi kebakaran hutan di wilayah perbatasan.
Kegiatan ladang berpindah yang dilakukan masyarakat di wilayah perbatasan dan pembersihan lahan dengan cara dibakar tidak saja mengakibatkan kerusakan sumberdaya hutan berupa kayu dan hasil hutan lainnya, tetapi kegiatan ini juga akan mengganggu keseimbangan ekosistem hutan secara keseluruhan. Secara alamiah, hutan sebagai suatu ekosistem membentuk fungsi keseimbangan antar berbagai komponen hidup (biotik) dan komponen tidak hidup (abiotik ). Kegiatan ladang berpindah akan merusak keseimbangan ekosistem ini secara menyeluruh karena banyaknya komponen ekosistem yang rusak akibat kegiatan ladang berpindah.
Distribusi persentase Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) yang memberikan gambaran struktur perekonomian di Provinsi Kalimantan Barat selama lima tahun terkahir dari tahun 1999 - 2004 dapat dikatakan tidak mengalami perubahan yang cukup berarti. Sektor pertanian masih tetap mejadi pemimpin (leading sector) dari sektor-sektor yang lainnya, dengan kontribusi rata-rata mencapai 50,08 persen. Peranan sektor pertanian yang dominan tersebut dalam struktur perkenomian Kalimantan Barat terutama didukung oleh sub sektor kehutanan yang memberikan kontribusi terbesar yaitu 24,18 persen; disusul oleh sub sektor tanaman pangan sebe sar 12,00 persen; diikuti oleh sub sektor perikanan yang memberikan kontribusi sebesar 7,24 persen. Untuk sub sektor tanaman perkebunan dan peternakan masing-masing hanya menyumbang sebesar 2,06 persen dan 2,26 persen terhadap sektor pertanian.
Sektor kedua yang memberikan kontribusi besar terhadap PDRB tahun 2004 adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan kontribusi sebesar 23,16 persen. Untuk sektor ini, penyumbang terbesar diberikan oleh
sub sektor perdagangan, yaitu sebesar 22,74 persen. Kontribusi terbesar ketiga diberikan oleh sektor jasa yaitu sebesar 8,99 persen, dengan peran terbesar diberikan oleh sub sektor pemerintahan umum, sedangkan untuk sektor-sektor yang lainnya hanya memberikan kontribusi kurang 8 persen.
Ada tiga jenis produksi hasil sumberdaya hutan di wilayah Kalimantan Barat, yaitu kayu bulat, hasil hutan bukan kayu, dan kayu olahan. Pada tahun 2004, dihasilkan sebanyak 699.420,08 M3 kayu bulat dari empat jenis perijinan yang dikeluarkan oleh pemerintah .
Menurut laporan Departemen Kehutanan (2003), sampai tahun 1980-an produk hasil hutan didominasi oleh kayu bulat. Industri perkayuan ini bergeser dominasinya ke industri kayu lapis, sejalan dengan kebijakan peningkatan industri hilir di dalam negeri mela lui pengurangan ekspor kayu bulat, sampai akhirnya pelarangan secara penuh ekspor kayu bulat pada tahun 1985. Kondisi ini telah memberikan implikasi meningkatnya tekanan terhadap sumberdaya hutan yang dicerminkan oleh tingkat kerusakan dan degradasi hutan yang tinggi (bervariasi antara 1,3 – 2,4 juta ha per tahun).
Tingkat kerusakan dan degradasi sumberdaya hutan yang relatif tinggi sangat terkait dengan (a) tidak berimbangnya porsi kegiatan pemanfaatan dengan kegiatan rehabilitasi hutan dalam kebijakan pengelolaan sumberdaya hutan yang digariskan pemerintah; dan (b) pemanfaatan yang lebih terkonsentrasi pada pemanfaatan hasil hutan kayu. Dengan kata lain, kebijakan pemerintah dalam pengelolaan hutan lebih menitik beratkan pada pemanfaatan kayu dibanding pemanfaatan lainnya (sumber obat-obatan dan jasa lingkungan untuk ekowisata). Orientasi dan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya hutan selama ini sering dinilai sebagai ”hanya berorientasi kayu” (timber oriented ).
Produksi hasil hutan bukan kayu di Kalimantan Barat yang sudah dimanfaatkan baru sebatas rotan, kayu gaharu (ramin buaya), dan damar, sementara hasil hutan bukan kayu berupa obat-obatan dan jasa lingkungan masih belum mendapat perhatian dan belum didapat manfaat yang optimal. Pada Tabel 20 disajikan produksi hasil hutan bukan kayu di Kalimantan Barat pada tahun 2004.
Tabel 20. Produksi hasil hutan bukan kayu di Kalimantan Barat tahun 2004
No. Jenis Hasil Hutan Satuan Produksi
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Rotan Lacak Rotan Cacing Rotan Semambu Rotan Manau Rotan Getah Rotan Hitam Kulit Kayu Damar Batu
Serpihan Kayu Ramin Ramin Buaya Ton Ton Batang Batang Ton Ton Ton Ton Kg Kg 25 24 40.275 212.858 15 4 31 80 114.120 4.400 Sumber: Dinas Kehutanan Kalimantan Barat 2005
Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan provinsi Kalimantan Barat (2005), terdapat banyak manfaat lain dari sumberdaya hutan yang belum diperhitungkan secara maksimal termasuk dalam menentukan nilai akhir dari satu meter kubik kayu saat dipasarkan. Pasar kayu Indonesia telah gagal dalam menetapkan harga kayu. Harga kayu yang berlaku di pasaran tidak mencerminkan nilai kayu yang sesungguhnya. Keadaan ini menujukkan fakta empiris, bahwa telah terjadi kegagalan pasar untuk kayu Indonesia (market failure ) yang men yebabkan komoditi kayu itu sendiri dihargai sedemikian rendah (undervalued).
Hasil sumberdaya hutan berupa kayu di Provinsi Kalimantan Barat masih merupakan komoditas ekspor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap komposisi nilai ekspor. Pada tahun 2004, nilai ekspor mencapai 259,781 juta US dolar. Negara tujuan ekspor adalah Jepang, China, Korea, Amerika Serikat, Singapura, Taiwan, dan Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa pasar komoditas hasil hutan kayu asal Kalimantan Barat sudah mencakup pasar internasional. Pada Tabel 21, Gambar 8 dan 9 dapat dilihat perkembangan dan komposisi nilai ekspor Kalimantan Barat pada tahun 2003 -2004.
Tabel 21. Perkembangan nilai ekspor Kalimantan Barat tahun 2003 -2004.
Nilai Ekspor (US. $) Komoditas
2003 2004
Perkembangan (%)
Hasil hutan kayu 260,612 259,781 -0,32
Karet 126,821 163,354 28,81
Industri lain 1,848 3,848 108,22
Re-Ekspor 0,106 0,109 2,83
Hasil hutan ikutan 0,388 0,359 -7,47
Hasil perikanan 16,746 20,747 23,89
Non industri lain-lain 3,743 5,744 53,46
Jumlah 410,264 45,942 10,64
260,612259,781 126,821 163,354 1,8483,848 0 0 0 0 16,74620,747 3,7435,744 0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000
Juta US
Hasil hutan kayuKaret Industri lain Re-ekspor Hasil hutan
ikutan
Hasil perikanan Non industri lain
Komoditas
2003
2004
Gambar 8.. Perkembangan nilai ekspor Kalimantan Barat Tahun 2003 -2004
4
0.109
21
6
0.359
163
260
Hasil hutan kayu Karet
Industri lain Re-ekspor Hasil hutan ikutan Hasil perikanan Non industri lain
Gambar 9. Komposisi nilai ekspor Kalimantan Barat tahun 2004 dalam juta US .$
Nilai ekspor hasil hutan yang mendominasi komposisi nilai ekspor Kalimantan Barat ternyata belum memberikan manfaat secara signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. Sektor pertanian
masih mendominasi sebagai mata pencaharian sebagian besar penduduk di wilayah perbatasan. Hampir 80 persen usia kerja bekerja pada sektor pertanian, khususnya sub sektor tanaman pangan yang mencapai 53,08 persen. Kegiatan usaha tani yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah perbatasan masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masing-masing keluarga petani itu sendiri (Bappeda dan BPS Kalimantan Barat, 2004).
c. Dimensi sosial-budaya
Masyarakat di sekitar hutan, memperoleh manfaat dari sumberdaya hutan berupa rotan dan hasil hutan bukan kayu lainnya, sedangkan hasil hutan kayu hanya dipergunakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya untuk membangun rumah sebagai tempat tinggal. Dengan demikian, hasil hutan kayu secara umum belum memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan keluarga masyarakat di sekitar wilayah hutan.
Wilayah perbatasan merupakan daerah yang belum berkembang terutama untuk kegiatan ekonomi yang melibatkan masyarakat setempat. Hal tersebut dikarenakan produk-produk yang dihasilkan mempunyai daya saing yang rendah di satu sisi dan juga dukungan sarana dan prasarana yang terbatas di sisi lainnya yang mengakibatkan rendahnya tingkat pendapatan masyarakat di kawasan ini.
Pendapatan masyarakat di sekitar hutan yang rendah juga dipengaruhi oleh faktor rendahnya akses masyarakat lokal di sekitar hutan. Untuk dapat mengakses sumberdaya hutan diperlukan kemampuan berupa keterampilan dan modal kerja yang memadai serta sarana dan prasarana tansportasi.
Sarana transportasi darat yang menghubungkan daerah -daerah di wilayah perbatasan terdapat lebih kurang sepanjang 520 kilometer. Dilihat dari kondisinya, maka jalan tersebut terdiri dari sekitar 290 kilometer jalan aspal, 30 kilometer jalan batu dan 200 kilometer jalan tanah. Arah jalan pada umumnya vertikal terhadap perbatasan, berbeda dengan jalan Serawak yang horizontal terhadap perbatasan. Jumlah kendaraan yang melakukan perjalanan keluar-masuk kawasan perbatasan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Sarana dan prasarana pendidikan di wilayah perbatasan masih relatif minim. Fasilitas pendidikan formal berupa bangunan gedung sekolah untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) memang sudah tersebar pada setiap desa. Namun untuk jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah
Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) apalagi Perguruan Tinggi (PT), akses penduduk usia sekolah terhadap fasilitas pendidikan formal tersebut masih cukup sulit.
Rendahnya tingkat partisipasi sekolah masyarakat di wilayah perbatasan dipicu oleh peluang pekerjaan dari negara tetangga Malaysia sebagai buruh tani, buruh kasar atau pembantu rumah tangga. Dengan pekerjaan tersebut diperoleh penghasilan berkisar antara 150 – 400 Ringgit Malaysia atau setara dengan Rp. 350.000-, - Rp. 950.000 -, per bulan. Gaji yang cukup besar tersebut menjadi daya tarik bagi anak usia sekolah lebih memilih bekerja daripada melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Secara umum tingkat pendidikan rata -rata masyarakat di wilayah perbatasan lebih rendah daripada tingkat pendidikan rata-rata penduduk Provinsi Kalimantan Barat.
Tingkat pendidikan dan keterampilan penduduk di kawasan perbatasan umumnya juga masih rendah yakni 70,90 % penduduk usia kerja hanya berpendidikan sekolah dasar. Tingkat pendidikan penduduk yang rendah tersebut mengakibatkan rendahnya kualitas sumberd aya manusia yang antara lain ditandai dengan besarnya angka pengangguran pada usia kerja. Kualitas sumberdaya manusia di daerah ini dapat dikatakan rendah karena sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai.
Tingkat pendidikan yang rendah tersebut menyebabkan pemahaman, kepedulian, dan tanggung jawab masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya hutan menjadi rendah. Hal ini dapat dipahami, karena masyarakat yang tidak memahami dampak dari kerusakan sumberdaya hutan akan secara otomatis memiliki tingkat kepedulian yang rendah untuk menjaga dan melestarikannya. Masyarakat yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang lingkungan akan timbul rasa tanggung jawab dan dapat memanfaatkan sumberdaya hutan secara arif, bijak dan lestari.
Di wilayah perbatasan, masyarakat lokal bermukim di sekitar dan di dalam kawasan hutan. Masyarakat lokal yang membuka hutan untuk kegiatan usahatani ladang, kemudian menetap dan membentuk perkampungan baru. Penduduk yang tinggal bermukim di sekitar dan di dalam kawasan hutan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah memiliki kecenderungan untuk mengambil dan memanfaatkan sumberdaya hutan secara tidak bijaksana. Kasus penebangan liar yang menyebabkan kerusakan sumberdaya hutan secara besar-besaran salah satunya dipicu oleh masyarakat yang menggantungkan
penghasilannya kepada sumberdaya hutan yang berada di sekitar pemukimannya.
Seperti umumnya keadaan penduduk di Kalimantan, jumlah penduduk di kabupaten-kabupaten yang terletak di kawasan perbatasan relatif lebih kecil dengan tingkat pertumbuhan yang rendah. Penyebaran penduduk di sepanjang kawasan ini tidak merata. Pusat-pusat pemukiman masyarakat menyebar dalam kelompok-kelompok kecil dan tidak merata. Kondisi tersebut jika dikaitkan dengan adanya kebiasaan atau pola hidup berpindah-pindah dari sebagain penduduk membuat pembangunan menjadi mahal, pembukaan lahan baru, sulitnya interaksi sosial, dan perdagangan antar penduduk.
Program pemberdayaan masyarakat telah dilakukan oleh para pemegang HPH/HPHTI sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 523/Kpts-II/1997 dengan cara melaksanakan Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH). Namun, berdasarkan hasil evaluasi, kegiatan ini belum mencapai hasil yang optimal. Hal ini dikarenakan kegiatan yang dilaksanakan masih be rorientasi proyek dan bersifat sesaat. Sehingga keberlanjutan program dalam bentuk pembinaan yang berkelanjutan tidak dilaksanakan secara terus-menerus. Pada tahun 2004, para pemegang HPH/HPHTI di Provinsi Kalimantan Barat telah mengeluarkan dana unutk kegiatan ini sebesar 2.939.561.034 rupiah dengan kegiatan sebagaimana disajikan pada Tabel 22
Tabel 22. Realisasi kegiatan PMDH oleh HPH/HPHTI tahun 2004 Jumlah anggaran (Rupiah) No. Jenis Kegiatan
Realisasi 1. 2. 3. 4. 5. Peningkatan pendapatan
Penyediaan sarana dan prasarana
Pertanian menetap
Konservasi sumberdaya alam Sosial budaya 1.269.110.61 654.755.805 47.480.000 160.611.000 807.60.868 Jumlah 2.939.561.034
Sumber: Neraca Perusahaan HPH/HPHTI, 2004.
Kegiatan-kegiatan peningkatan pendapatan ma syarakat di sekitar hutan dilaksanakan dalam bentuk sebagai beikut:
1. Pembentukan lembaga usaha koperasi sebanyak tiga unit di dua lokasi, yaitu dua unit di Kabupaten sambas yang bertempat di desa tekam dan Kuningan, satu unit di Kabupaten Bengkayang yang bertempat di Desa seluas.
2. Pelatihan keterampilan anyaman rotan bagi anggota koperasi usaha masyarakat di sekitar hutan sebanyak 30 orang selama 20 hari di Unit latihan Kerja Industri di Pontianak yang diikuti peserta dari delapan kabupaten yang ada di provinsi Kalimantan Barat.
3. Bantuan sarana produksi dan bantuan modal usaha, berupa: a. Pengadaan koloni lebah madu sebanyak 330 kotak
b. Bantuan modal usaha untuk tiga unit koperasi masing -masing sebesar 15.000.000 rupiah.
4. Pembuatan percontohan kebun rotan seluas 10 ha di Desa Seluas Kecamatan seluas Kabupaten Bengkayang.dengan jumlah bibit sebanyak 4.000 batang.
5. Monitoring dan evaluasi terhadap koperasi yang telah dibentuk dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 sebanyak 15 unit. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat sudah sejauh mana perkembangan koperasi dalam menjalankan usahanya berdasarkan rencana yang telah disusun oleh masing -masing koperasi.
6. Pembangunan Model Unit Manajemen Hutan Meranti (PMUMHM). Kegiatan ini merupakan program prioritas Departemen Kehutanan yang diarahkan untuk membangun model unit manajeman hutan produksi yang memenuhi kaidah -kaidah pengelolaan hutan produksi lestari.
7. Pengembangan uji coba pengelolaan hutan alam produksi (mangrove) oleh masyarakat di batu ampar Kabupaten Pontianak tahun 2004. Kegiatan ini mengalami hambatan karena areal yang disediakan dengan ijin Bupati Pontianak seluas 6.000 ha ternyata 4.000 ha berada dalam kawasan hutan lindung.
Masyarakat lokal di kawasan perbatasan hidup berkelompok dan masih memegang teguh adat budaya setempat. Mereka memiliki berbagai aturan adat, baik yang menyangkut tata kehidupan bermasyarakat dan termasuk dalam hal pemanfaatan sumberdaya hutan. Para ketua adat menjadi tokoh panutan dan penentu setiap keputusan yang ditetapkan. Jika terjadi pelanggaran terhadap tata kehidupan bermasyarakat maka ketua adat yang menetapkan hukuman (denda). Ketua adat juga berperan dalam penentuan kawasan-kawasan yang boleh atau tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat setempat. Berbagai pelanggaran terhadap aturan atau norma yang disepakati lebih banyak
diselesaikan melalui hukum adat. Hukum adat di kawasan perbatasan masih memiliki kekuatan dan diakui oleh semua lapisan masyarakat.
Berdasarkan data realisasi produksi kayu bulat tahun 2004 yang hanya mencapai lebih kurang dari 70 persen dari target yang ditetapkan berimplikasi pada tidak terpenuhinya kapasitas terpasang industri pengolahan kayu di Provinsi Kalimantan Barat. Beberapa industri pengolahan kayu terancam gulung tikar karena tidak tersedianya bahan baku berupa kayu bulat. Kondisi ini akan memberikan konsekuensi pada penurunan pendapatan industri pengolahan dan secara otomatis juga akan menurunkan nilai keuntungan. jika bahan baku industri pengolahan kayu terpenuhi sesuai dengan kapasitas industri terpasang, maka kegiatan usaha industri pengolahan kayu merupakan industri yang memiliki kelayakan finansial yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan nilai tambah (added value) yang diperoleh setelah kayu bulat mengalami proses pengolahan menjadi produksi kayu olahan memiliki nilai tinggi.
Untuk fasilitas kelistrikan baru sekitar 50 persen penduduk yang mendapatkan pelayanan listrik. Hal ini menunjukkan besarnya perbedaan kesejahteraan masyarakat perbatasan di Kalimantan Barat dengan masyarakat perbatasan di Serawak yang hampir seluruhnya telah mendapatkan pelayanan listrik. Kondisi tersebut ternyata terjadi pula pada fasilitas air bersih yang hanya mampu melayani 50 persen penduduk di kawasan Kalimantan Barat, sedangkan penduduk perbatasan di Serawak telah terpenuhi 100 persen fasilitas air bersihnya.
d. Dimensi teknologi
Jika dibandingkan dengan wilayah perbatasan negara tetangga Malaysia, maka terlihat adanya kesenjangan ekonomi. Kawasan perbatasan Kalimantan Barat yang kaya akan sumberdaya alam seharusnya merupakan kawasan yang maju dan sejahtera, namun kenyataannya menjadi tertinggal. Jika dicermati, terjadi aktivitas ekonomi yang cukup tinggi khususnya yang terkait dengan sumberdaya hutan khususnya kayu, tetapi karena proses produksinya tidak terjadi di Kalimantan Barat, daerah ini hanya memperoleh nilai tambah yang rendah. Pada Tabel 23 dapat dilihat perkembangan industri pengolahan hasil hutan di Kalimantan Barat. Industri pengolahan yang ada semuanya masih terbatas pada industri pengolahan hasil hutan kayu, sedangkan industri pengolahan hasil hutan non kayu belum ada sama sekali.
Tabel 23. Perkembangan industri pengolahan kayu Di Provinsi Kalimantan Barat
Kapasitas
Industri Hulu Industri Hilir No
.
Jenis Industri Jumlah Unit
Jenis Olahan
Volume (M3)
Jenis Olahan Volume (M3) 1. 2. 3. 4. Kayu Lapis. Sawmill. Dowell/Mouldi ng dan Wood Working. Particle Board 17 80 228 5 Polywood Sawn Timber 1479 844.832 - - Dowell/Mouldi ng dan Wood Working. Particle -Board - 449.85 487.50 0 Jumlah 330 846.311 937.35
Dalam rangka penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, telah dilkukan pelatihan kepada instansi pemerintah dan kelompok masyarakat pada tahun 2004. Pada Tabel 24 dan 25 disajikan tenaga keamanan dan tenaga teknis bidang kehutanan yang tersedia di lokasi kawasan perbatasan yang memiliki kemampuan dalam hal pengendalian dan pencegahan kebakaran hutan.
Tabel 24. Potensi SDM terlatih bidang pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Barat
No. Instansi Jenis Pelatihan Jumlah
(orang) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
Polisi Kehutanan Dinas Kehutanan provinsi dan kabupaten
Organisai pemuda/LSM
Korem 121 ABW (TNI-AD)
Pemerintah Kabupaten Sintang (Poskolak)
Kecamatan Ng Pinoh (Satlak)
Perusahaan
(HPH/HPHTI/Perkebunan).
Dinas Kehutanan Provinsi (Posko Karhut)
Poskolak, TNI-AD, LSM, dan masyarakat di
Ketapang
Poskolak, TNI-AD, LSM, dan masyarakat di Sintang Poskolak, TNI-AD, LSM, dan masyarakat di Sanggau
Pelatihan Dasar Karhutla
Pelatihan Dasar Karhutla
Pelatihan Dasar Karhutla
Pelatihan Dasar Karhutla
Pelatihan Dasar Karhutla
Pelatihan Dasar Karhutla Deteksi dan peringatan dini
Simulasi Protap
Simulasi Protap
Simulasi Protap
Latihan Dasar Karhutla
115 60 57 60 40 115 120 110 108 140 Jumlah 1.028
\
Tabel 25. Jumlah tenaga Polisi Khusus Kehutanan dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Provinsi Kalimantan Barat
No. Unit Kerja PPNS Polisi
Hutan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. . 8.
Dinas Kehutanan Provinsi Kalimanatan Barat Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Pontianak Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Landak Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Sambas Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Sanggau Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Sintang Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Kapuas Hulu
Dinas Kehutanan Kab. Pontianak Ketapang
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Bengkayang 17 2 1 11 10 4 10 31 103 3 32 32 34 50 7 Jumlah 92 347
Dalam rangka pengendalian kebakaran hutan dan lahan, telah dilakukan kampanye dan pencanangan pencegahan kebakaran hutan dan lahan oleh Gubernur Kalimantan Barat dengan cara;
a. Mobilisasi sumberdaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dengan melibatkan potensi yang ada (Badan pemadam Kebakaran/swasta, ABRI, anggota masyarakat, dan lain-lain).
b. Sosialisa si dan penyuluhan melalui media elektronik dan cetak di 4 kabupaten.
Ketersediaan sarana dan prasarana untuk pengamanan hutan menjadi faktor yang menentukan dalam pelaksanaan kegiatan pengamanan dan pengendalian hutan. Kondisi kawasan hutan perbatasan yang luas dan aksesibilitas jalan yang masih minim sementara teknologi informasi dan basis data sumberdaya hutan yang belum memadai menjadi kendala bagi petugas yang akan melakukan berbagai kegiatan pengamanan di kawasan perbatasan.
Tabel 26. Keadaan sarana dan prasarana pengamanan hutan yang dimiliki Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat
No. Jenis Sarana/Perlatan Jumlah (unit) Keterangan 1.
2.
3. 4. 5.
Kendaraan roda dua Senjata api -Laras panjang -Genggam Speed bot 40 PK Pos Jaga Alat Komunikasi 3 200 38 2 3 3 Baik/berfungsi 110 tersimpan Terdistribusi Baik/Berfungsi Baik/Berfungsi Baik/Berfungsi
Secara umum sampai saat ini ketersediaan teknologi dalam mengelola sumberdaya hutan di wilayah perbatasan masih rendah dan belum memadai jika dibandingkan dengan luas wilayah.
e. Dimensi hukum dan kelembagaan
Intensitas terjadinya pelanggaran hukum di wilayah perbatasan masih tinggi. Luasnya wilayah serta minimnya prasarana dan sarana serta jumlah personil aparat keamanan yang tidak memadai telah menyebabkan belum optimalnya aktivitas aparat keamanan dan kepolisian. Untuk infrastruktur sosial dan keamanan, sudah seharusnya sedikit-demi sedikit diperbaiki untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah. Kerjasama pembangunan dengan Malaysia perlu dilakukan dalam rangka untuk mengefisienkan infrastruktur yang ada, terutama di kabupaten yang saat ini sudah dilewati jalan tembus ke Negara Bagian Serawak dan Sabah. Infrastruktur spesifik yang perlu dibangun di kawasan ini adalah infrastruktur komunikasi dan informasi. Dengan peluncuran program “internet desa” oleh negara tetangga maka pembangunan infrastruktur komunikasi perlu mendapat perhatian yang serius.
Umumnya penduduk di kawasan perbatasan teridiri atas berbagai etnis. Heterogenitas etnis disertai kesenjangan ekonomi dan sosial akhir-akhir ini sering menimbulkan kecemburuan sosial yang jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan berbagai konflik. Permasalahan-permasalahan yang terjadi selama ini tidak teratasi karena masyarakat perbatasan masih banyak yang tidak mengetahui bagaimana menyalurkan keluhan mereka kepada pemerintah. Masyarakat, terutama suku yang tinggal di daerah perbatasan lebih suka menghindar ke pedalaman manakala wilayah mereka terdegradasi. Kesenjangan akibat selisih kurs valuta, sarana dan prasarana darat, laut dan udara, sarana komunikasi dan informasi dengan Malaysia, juga mengurangi tingkat rasa nasionalisme dan kesadaran politik masyarakat di wilayah perbatasan, sehingga orientasi mereka dalam aspek ekonomi dan perdagangan lebih condong ke Pemerintah Negara Malaysia daripada ke Pemerintah Republik Indonesia. Kecenderungan masyarakat di wilayah perbatasan yang lebih berorientasi ke Serawak baik dalam mencari pekerjaan maupun perdagangan mengakiba tkan nilai tambah justru diperoleh oleh negara tetangga. Di sisi lain, informasi perkembangan pembangunan melalui alat elektronik yang mereka terima sebagian besar melalui saluran TV Malaysia karena saluran TVRI belum cukup
mampu menjangkau daerah -daerah di wilayah perbatasan. Hal ini akan berdampak pada berkurangnya rasa nasionalisme dan rentannya kecemburuan sosial masyarakat.
Permasalahan di bidang politik umumnya berhubungan dengan rendahnya tingkat pemahaman terhadap aturan dan perundang -undangan yang berlaku. Partai politik belum dapat berperan secara optimal dalam pendidikan politik masyarakat perbatasan, lembaga legislatif juga belum secara optimal menyuarakan aspirasi rakyat perbatasan, adanya keinginan putra daerah menempati jabatan politik, belum siapnya masyarakat menghadapi otonomi daerah merupakan permasalahan bidang politik yang harus disikapi dengan arif dan memerlukan solusi. Umumnya berbagai kalangan berpendapat bahwa sebenarnya SDM lokal cukup memadai, namun belum secara maksimal diberdayakan. Di samping itu mereka setuju penempatan putra daerah pada jabatan politis asal memenuhi persyaratan dan memiliki kemampuan yang dapat dipertanggung jawabkan.
Patok-patok perbatasan banyak yang hilang dan berpindah tempat sehingga dapat menyulitkan dalam menentukan garis perbatasan. Jumlah Pos perbatasan yang tidak memadai dan sangat tidak sebanding dengan panjangnya garis perbatasan menyebabkan sulitnya pengawasan pelintas batas ilegal di kawasan perbatasan. Di samping itu masih lemahnya koordinasi antar instansi di kawasan perbatasan (TNI, POLRI, Bea Cukai, Kehutanan, dan Immigrasi) menjadikan lambannya pembangunan di wilayah perbatan. Di sisi lain, rendahnya tingkat kesadaran hukum, disiplin, kerampilan masyarakat, kurangnya fasilitas pendukung bagi aparat dan tingginya tindak kriminalitas merupakan permasalahan tersendiri yang memerlukan perhatian.
5.1.2. Nilai Indeks status keberlanjutan Pengelolaan Sumberdaya Hutan di Wilayah Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat.
Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di kawasan perbatasan Kalimantan Barat dilakukan dengan metode multidimensional scaling (MDS) yang disebut dengan metode INSUSFORMA. Analisis Rap-INSUSFORMA akan menghasilkan status dan indeks keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di kawasan perbatasan Kalimantan Barat.
Hasil analisis Rap-INSUSFORMA yang bersifat multidimensi, yaitu gabungan semua atribut dari lima dimensi yang dianalisis (ekologi, ekonomi, sosial-budaya, teknologi, hukum dan kelembagaan) menghasilkan nilai indeks keberlanjutan sebesar 36,85 pada skala sustainabilitas 0 – 100 (Gambar 10). Nilai indeks keberlanjutan sebesar 36,85 yang diperoleh berdasarkan penilaian terhadap 44 atribut tersebut termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan (Kurang: 25 < Nilai indeks < 50). Untuk mengetahui dimensi pembangunan apa yang memerlukan perbaikan maka perlu dilakukan analisis Rap-INSUSFORMA pada setiap dimensi.
RAPFISH Ordination 36.85 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
Real Fisheries References Anchors
Gambar 10 Analisis Rap-INSUSFORMA yang menunjukkan nilai keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan Kalbar.
Berdasarkan Gambar 11 nilai indeks kebe rlanjutan untuk dimensi ekologi adalah sebesar 36,11 pada skala sustainabilitas 0 – 100. Jika dibandingkan dengan nilai indeks keberlanjutan yang bersifat multidimensi maka nilai indeks
dimensi ekologi berada di bawah nilai indeks multidimensi dan terma suk ke dalam kategori kurang berkelanjutan (Kurang : 25 < Nilai indeks < 50).
RAPFISH Ordination 36.11 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
Real Fisheries References Anchors
Gambar 11. Analisis Rap -INSUSFORMA yang menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi.
5.02 4.65 7.41 8.47 5.49 5.72 0.10 5.06 4.88 4.41 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Ketersediaan Zonasi Untuk Berbagai Pengelolaan Hutan Upaya Perlindungan thdp tempat2 yg rentan ekologis Tingkat keanekaragaman biota Upaya perlindungan thd biota langka Frekwensi kebakaran hutan Waktu Suksesi hutan Program reboisasi hutan Kegiatan Ladang berpindah Frekuensi terjadinya banjir Diameter Tebangan
Atribut
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Gambar 12. Peran masing-masing atribut aspek ekologi yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai RMS.
Analisis leverage dilakukan bertujuan untuk melihat atribut yang sensitif memberikan kontribusi terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi. Berdasarkan Gambar 12, semua atribut dimensi ekologi memiliki tingkat sensitivitas yang relatif sama dalam perannya terhadap nilai indeks kebelanjutan. Namun dari ketujuh atribut pada dimensi ini, atribut upaya perlindungan terhadap biota langka (8,47), atribut tingkat keaneka ragaman biota (7,41), atribut kegiatan ladang berpindah (5,08), atribut waktu suksesi hutan (5,72), atribut frekwensi kejadian kebakaran hutan (5,49), dan atribut ketersediaan zonasi untuk berbagai pengelolaan sumberdaya hutan (5,02), merupakan atribut yang sangat penting dan berpengaruh terhadap nilai indeks yang dihasilkan.
Kebakaran hutan yang selalu berulang setiap tahun selama dua dekade terakhir ini menimbulkan kerugian yang tidak sedikit mengingat sumberdaya hutan memiliki keterkaitan yang erat dengan kinerja perekonomian, kualitas ekologi, dan ketergantungan sosial.
Sumberdaya hutan merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Dalam sepuluh tahun terakhir (1994-2004), kontribusi sektor kehutanan terhadap produk dome stik bruto (PDB) mencapai rata -rata sebesar 1,53 %, dengan laju pertumbuhan pada periode yang sama rata -rata sebesar 0,73 %. Kontribusi tersebut dicapai melalui kegiatan eksploitasi hutan yang mengabaikan prinsip hutan lestari. Industri pengolahan kayu di Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 80 juta M3 kayu tiap tahun untuk memasok industri penggergajian, kayu lapis, pulp dan kertas. Jumlah kebutuhan tersebut jauh lebih besar dari yang dapat diproduksi secara legal dari hutan alam dan HTI. Akibatnya, lebih dari setengah pasokan kayu di Indonesia sekarang diperoleh dari pembalakan illegal (FWI/GFW, 2001). Eksploitasi sumberdaya hutan yang tak terkendali ini akan mengganggu keseimbangan alam, salah satunya berupa peningkatan potensi kerawanan terhadap kebakaran hutan.
Salah satu persoalan yang selalu menyertai kegiatan eksploitasi sumberdaya hutan adalah terjadinya kebakaran hutan. Kebakaran hutan di Indonesia ternyata merupakan sutau kejadian yang terus berulang dalam kurun waktu 20 tahun terkahir ini. Sejak kebakaran besar yang terjadi pada tahun 1982/83 di Kalimantan Timur yang menghabiskan 3,5 juta ha hutan (KMNLH dan UNDP, 1998), intensitas kebakaran hutan makin sering terjadi dan sebarannya semakin luas. Kebakaran besar di Indonesia tercatat terjadi pada tahun 1987,
1991, 1994, dan 1997/1998 (Dennis, 1999). Kebakaran hutan terburuk terjadi pada tahun 1997 meliputi 25 provinsi dengan 75 juta orang terkena dampaknya (Bappenas, 1999).
Berulangnya kejadian kebakaran hutan menjadi ancaman bagi pembangunan yang berkelanjutan karena dampaknya terhadap kegiatan ekonomi, ekologi dan sosial secara langsung dirasakan oleh masyarakat. Kebakaran hutan menimbulkan kerugian ekonomi berupa hilangnya hasil hutan (kayu dan non kayu), hilangnya keanekaragaman hayati dan lain-lain. Secara tidak langsung, asap akibat kebakaran hutan akan berdampak pada kesehatan, kehilangan hari kerja dan sekolah, kehilangan fungsi ekologi, serta kerugian sektor pariwisata dan perhubungan. Secara ekologis, kebakaran pada hutan hujan tropis akan mengurangi fungsi hutan dalam menjaga kesuburan tanah, mengatur tata air dan iklim serta menjadi berkurangnya habitat fauna. Terjadinya kebakaran hutan mengakibatkan proses ekologi hutan berupa suksesi alam, produksi bahan organik dan proses dekomposisi, siklus unsur hara, siklus hodrologi dan pembentukan tanah akan terganggu.
Dari dimensi sosial lebih difokuskan pada kerugian di tingkat makro, misalnya kerugian di sektor transportasi, pariwisata, dan industri kehutanan. Semua sektor tersebut dinilai lebih banyak pengaruhnya terhadap politik dan ekonomi dibandingkan keadaan petani miskin di sekitar hutan dan pedesaan, padahal ada 30 juta penduduk yang secara langsung mengandalkan hidupnya pada sektor kehutanan. Secara keseluruhan, sekitar 100 juta orang menggantungkan hidupnya pada hasil hutan. Selain itu, sekitar sepertiga dari penduduk pedesaan di Indonesia bergantung pada ketersediaan kayu bakar, tanaman obat, makanan, dan pupuk organik dari sampah hutan, dan sekaligus sebagai sumber penghasilan.
Dari sisi penegakan hukum, ganti rugi yang diterapkan pada para pelaku pembakaran hutan relatif rendah dan tidak didasarkan pada perhitungan dampak dari kebakaran hutan secara keseluruhan (sosial, ekonomi, dan ekologi). Sebagai contoh, pada kasus pembakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau pada tahun 1999, PT Adei Plantation hanya dikenakan denda 100 juta rupiah untuk 2.970 hektar areal hutan yang terbakar.
Analisis dampak kebakaran hutan yang dilakukan selama ini lebih dititikberatkan pada sektor produksi, padahal, kebakaran hutan juga memiliki keterkaitan dengan pelaku produksi (rumah tangga, perusahaan, dan
pemerintah) dan faktor produksi (tenaga kerja dan modal) sehingga kerugian sungguhnya dari kebakaran hutan menjadi jauh lebih besar dan kompleks.
Sudut pandang yang parsial tersebut dapat menimbulkan kerancuan kebijakan karena keterbatasan pemahaman mengenai dampak kebakaran hutan terhadap ekosistem dan perekonomian. Hal tersebut juga dapat mengakibatkan terjadinya ketidakpastian tanggapan secara sosial, ekonomi, dan kelembagaan terhadap kebakaran hutan yang terjadi. Berbagai usulan kebijakan yang diajukan untuk menyelesaikan masalah kebakaran hutan hendaknya difokuskan pada dampak sesungguhnya yang akan ditimbulkan oleh kebakaran hutan.
Kondisi di ata s memunculkan beberapa pertanyaan yang mendasar seputar kebakaran hutan, yaitu seberapa jauh kebakaran hutan berdampak terhadap penurunan output tenaga kerja dan modal, seberapa besar dampak kebakaran hutan terhadap perubahan distribusi pendapatan rumah tanga, perusahaan dan pemerintah, dan melalui jalur-jalur utama mana dampak kebakaran hutan tersebut terjadi.
Nilai kerugian ekonomi total yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan mencapai Rp. 269 juta per hektar areal hutan terbakar. Kerugian ini diakibatkan oleh penurunan output produksi sebesar Rp. 128,61 juta, serta hilangnya pendapatan faktor produksi (factorial income ) dan pendapatan institusi masing-masing sebesar Rp. 62,94 juta dan Rp. 77, 44 juta untuk setiap hektar hutan yang terbakar. Dengan rata-rata luas kebakaran hutan sebesar 71.040 hektar tiap tahunnya, total kerugian sosial ekonomi akibat kebakaran hutan setiap tahunnya mencapai Rp. 19,11 triliun (Bappenas dan Usaid, 2000)
Secara sosial, rumahtangga merupakan institusi yang paling terkena dampak dari terjadinya kebakaran hutan. Kerugian yang dirasakan rumahtangga, yaitu berupa penurunan pendapatan sebesar Rp. 45,48 juta per hektar areal hutan yang terbakar jaun lebih besar dari penurunan pendapatan yang dialami perusahaan dan pemerintah yang masing-masing hanya sebesar Rp. 20,42 juta dan Rp. 11,54 juta untuk setiap hektar areal hutan yang terbakar.
Dari analisis jalur struktural disimpulkan bahwa jalur dampak kebakaran hutan (termasuk dampak kerusakan hutan lainnya) memiliki keterkaitan yang erat dengan faktor tenaga kerja di daerah pedesaan, modal berupa tanah dan modal pertanian lainnya, buruh tani, dan pengusaha kecil di sektor pertanian. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara kegiatan di sektor kehutanan dengan sektor-sektor yang berbasiskan pertanian di pedesaan.
Implementasi sistem pengendalian kebakaran hutan di Indonesia selama ini lebih mengacu kepada pola yang cenderung bersifat reaktif, bukan antisipatif terhadap terjadinya bencana. Kebijakan pengendalian kebakaran hutan masih belum menyentuh akar permasalahannya. Hal ini disebabkan oleh strategi penanggulangan kebakaran hutan yang masih berfokus pada manajemen pemadaman dan tidak pada manajemen pencegahan. Selain itu, perangkat dan penegakan hukum di bidang lingkung an masih lemah untuk dapat menindak para pelaku penyebab kebakaran hutan. Untuk itu, perencanaan anggaran pencegahan yang efektif dan pemberian sanksi ganti rugi yang nilainya ditentukan sesuai besaran dampak (nilai kerugian) yang ditimbulkan akan sangat membantu dalam mengurangi potensi dan resiko kebakaran hutan.
Penyediaan anggaran pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan perlu direncanakan dan dihitung dengan dasar yang jelas. Angka kerugian sosial ekonomi sesuai dengan hasil penelitian Kusmayadi (2004), yaitu sebesar Rp. 269 juta per hektar areal hutan yang terbakar dapat dijadikan dasar perhitungan untuk pengalokasian anggaran dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan. Jika alokasi anggaran pemerintah dalam rangka pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan diasumsikan sebesar satu persen (berdasarkan pada kontribusi sektor kehutanan terhadap PDB ± 1%) dan potensi kerugian yang dapat ditimbulkan pada tahun berikutnya, maka pemerintah harus mengalokasikan dana sebesar 191,1 milyar rupiah setiap tahun.
Dengan asumsi yang sama bahwa komponen biaya yang disediakan untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan sebesar satu persen dari total kerugian yang ditimbulkan, perusahaan yang mendapat konsesi hutan perlu menyisihkan dana inte rnal perusahaan untuk pengendalian kebakaran hutan sebesar Rp. 2,69 juta untuk tiap hektar konsesi yang dimiliki. Nilai ini dapat pula digunakan sebagai dasar perhitungan dana jaminan kebakaran hutan yang dipungut pemerintah dari setiap hektar konsesi yang diberikan kepada perusahaan. Apabila terjadi kebakaran hutan, dana yang dikelola oleh pemerintah ini dapat digunakan untuk kegiatan pemadaman kebakaran hutan maupun kegiatan penanaman kembali areal hutan pasca kebakaran.
Nilai kerugian ekonomi kebakaran hutan sebesar Rp. 269 juta tiap hektar akibat kejadian kebakaran hutan diharapkan dapat menjadi acuan dalam penentuan besarnya ganti rugi yang dibebankan kepada pelaku pembakaran
hutan. Selain itu, belum ada keputusan bersama antara Menteri Kehutanan dan menteri-menteri lain yang terkait dengan lingkungan hidup, yang isinya mengtur standar minimal besaran ganti rugi akibat kebakaran hutan.
Gambar 13 menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi sebesar 53,17. Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi lebih besar daripada nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi dan termasuk ke dalam kategori cukup berkelanjutan. Hal ini mengandung pengertian bahwa pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan lebih berkelanjutan (memberikan manfaat) dari aspek ekonomi dari pada aspek ekologi. Namun manfaat ekonomi yang diperoleh saat ini masih bersifat jangka pendek karena sumberdaya hutan yang dieksploitasi belum diolah dengan menggunakan berbagai teknolgi, sehingga nilai tambah yang besar belum diperoleh untuk pertumbuhan ekonomi wilayah Kalimantan Barat. Nilai tambah yang lebih besar diperoleh Negara tetangga Malaysia. Perbaikan terhadap atribut yang sensitif terhadap nilai indeks dimensi tersebut perlu dilakukan, agar nilai indeks dimensi ini di masa yang akan datang semakin meningkat. RAPFISH Ordination 53.17 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
Real Fisheries References Anchors
Gambar 13. Analisis Rap -INSUSFORMA yang menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi.
Berdasarkan hasil analisis leverage (Gambar 14) terdapat empat atribut yang sensitif mempengaruhi besarnya nilai indeks keberlanjutan dimensi
ekonomi, yaitu: 1) ketergantungan konsumen terhadap sumberdaya hutan terutama kayu (9,63); 2) besarnya pasar produk (8,93); 3) tingkat pendapatan masyarakat (6,23); 4) harga komoditi hasil hutan (9,58).
Gambar 14. Peran masing-masing atribut aspek ekonomi yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai RMS.
Gambar 15 menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya sebesar 40,44. Nilai indeks tersebut berada di bawah indeks keberlanjutan dimensi ekologi maupun ekonomi dan termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan. Untuk meningkatkan status nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya ini perlu dilakukan perbaikan terhadap beberapa atribut yang sensitif mempengaruhi n ilai indeks tersebut.
Leverage of Attributes 2.38 5.15 3.02 8.93 9.63 9.58 1.49 6.23 3.89 0 2 4 6 8 10 12
Tingkat pengembalian dana reboisasi Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB
Kalimanatan Bara
Jenis produk hutan yang dipasarkan Pasar produk Tingkat ketergantungan konsumen terhadap hasil
hutan.
Harga komoditi hasil hutan yang dipasarkan. Kelayakan usaha industri kehutanan Tingkat pendapatan masyarakat di sekitar hutan Pemanfaatan sumberdaya hutan bukan kayu
Attribute
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
RAPFISH Ordination 40.44 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
Real Fisheries References Anchors
Gambar 15. Analisis Rap -INSUSFORMA yang menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial budaya.
Berdasarkan hasil analisis leverage , terdapat tiga atribut yang sensitif mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya.
Leverage of Attributes 1.57 4.79 8.68 11.21 11.83 9.53 3.12 0.57 0 2 4 6 8 10 12 14
Akses masyarakat lokal terhadap sumberdaya hutan
Pemahaman, kepedulaian, dan tanggung jawab masayarakat terhadap sumberdaya hutan Tingkat pendidikan masayarakat di sekitar hutan Peran masyarakat adat dalam pengelolaan hutan
Attribute
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Gambar 16. Peran masing-masing atribut aspek sosial budaya yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai RMS.
Atribut-atribut yang sensitif mempengaruhi indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya adalah sebagai berikut: 1) pola hubungan stakeholders(9,53); 2) tingkat pendidikan masyarakat (11,83); dan 3) jarak lokasi pemukiman penduduk dengan kawasan hutan (11,21).
Gambar 17. menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi teknologi sebesar 23,17. Nilai indeks tersebut termasuk ke dalam kategori buruk. Nilai ini sekaligus mengindikasikan masih rendahnya aplikasi teknologi pada pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan, padahal aplikasi teknologi dalam pengelolaan sumberdaya hutan sangat diperlukan baik teknologi pengolahan maupun berbagai teknologi yang diperlukan dalam rangka pengendalian dan penegamanan sumberdaya hutan. Agar nilai indeks keberlanjutan dimensi teknologi dapat ditingkatkan perlu dilakukan perbaikan terhadap beberapa atribut yang sensitif mempengaruhi nilaiindeks tersebut.
RAPFISH Ordination 23.17 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
Real Fisheries References Anchors
Gambar 17. Analisis Rap -INSUSFORMA yang menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi teknologi.
Berdasarkan Gambar 18. terdapat lima atribut yang perlu dikelola dengan baik karena memberikan pengaruh yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi teknologi, yaitu: 1) ketersediaan teknologi pengolahan hasil hutan (6,47); 2) standarisasi mutu produk (6,25); 3) tingkat efisiensi industri pengolahan hasil hutan (5,00); 4) basis data sumberdaya hutan (4,61), dan 5) teknologi mitigasi bencana kebakaran hutan (4,00).
Leverage of Attributes 5.00 6.74 3.61 4.61 4.00 6.25 3.58 2.55 0 1 2 3 4 5 6 7 8
Tingkat efisiensi industri pengolahan hasil hutan Ketersediaan teknologi pengolahan hasil hutan Ketersediaan teknologi informasi Ketersediaan basis data (data base) sumberdaya
hutan
Ketersediaan teknologi mitigasi bencana kebakaran hutan
Standarisasi mutu produk hasil hutan Penerapan sertifikasi produk hasil hutan
(ekolabel)
Pengolahan limbah kayu bekas tebangan
Attribute
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Gambar 18. Peran masing -masing atribut aspek teknologi yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai RMS.
Gambar 19. menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan hanya sebesar 26,09 Nilai indeks tersebut termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan..
RAPFISH Ordination 26.09 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
Real Fisheries References Anchors
Gambar 19. Analisis Rap -INSUSFORMA yang menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan
Berdasarkan Gambar 20 terdapat empat atribut yang sensitif mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan, yaitu: 1) ketersediaan hukum adat/agama (6,10); 2) sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah dalam bidang kehutanan (3,66); 3) Intensitas pelanggaran hukum (illegal logging) (3,85), dan 4) frekuensi konflik (3,84).
Leverage of Attributes 3.18 3.55 3.84 3.85 3.39 6.10 3.33 1.61 3.66 0 1 2 3 4 5 6 7
Perjanjian kerjasama dengan negara tetangga Malaysia
Mekanisme kerjasama lintas sektor dan antar daerah dalam pengelolaan sumberdaya hutan
Frekuensi konflik Intensitas pelanggaran hokum (penebangan liar) Ketersedian peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan sumberdaya hutan
Ketersediaan hukum adat/agama Keberadaan aparat penegak hukum di lokasi Konsistensi penegakan hukum Singkronisasi kebijakan pusat dan daerah
Attribute
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Gambar 20. Peran masing -masing atribut aspek hukum dan kelembagaan yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai RMS.
Analisis pada setiap dimensi (ekologi, ekonomi, sosial-budaya, teknologi, hukum dan kelembagaan) seperti disajikan pada Gambar 12,14, 16, 18, dan 20 memperlihatkan bahwa dari kelima dimensi yang dianalisis ternyata dimensi teknologi memiliki indeks keberlanjutan yang rendah, kemudian disusul oleh dimensi hukum dan kelembagaan, sosial budaya, ekologi, dan yang paling tinggi adalah dimensi ekonomi. Berdasarkan indeks keberlanjutan setiap dimensi hasil analisis Rap-INSUSFORMA dapat disimpulkan bahwa tidak ada satupun dimensi yang termasuk kategori “baik” dan bahkan satu dimensi yang termasuk kategori “buruk”, yaitu dimensi teknologi.
Gambar 21 memperlihatkan bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk setiap dimensi berbeda-beda. Dalam konsep pembangunan berkelanjutan bukan berarti semua nilai indeks dari setiap dimensi harus memiliki nilai yang sama besar akan tetapi dalam berbagai kondisi daerah/negara tentu memiliki prioritas dimensi apa yang lebih dominan untuk menjadi perhatian. Pada prinsipnya nilai indeks keberlanjutan pada setiap dimensi tersebut berada pada kategori “baik” atau paling tidak “cukup” status keberlanjutannya.
36.11
53.17
40.44
23.17
26.09
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 EKOLOGI EKONOMI SOSIAL TEKNOLOGI HUKUM DAN KELEMBAGAANGambar 21. Diagram layang (kite diagram) nilai indeks keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan Kalimantan Barat.
Beberapa parameter statistik yang diperoleh dari analisis Rap-INSUSFORMA dengan menggunakan metode MDS berfungsi sebagai
standar untuk menentukan kelayakan terhadap hasil kajian yang dilakukan di wilayah studi. Tabel 27 menyajikan nilai “stress” dan R2 (koefisien determinasi) untuk setiap dimensi maupun multidimensi. Nilai tersebut berfungsi untuk menentukan perlu tidaknya penambahan atribut untuk mencerminkan dimensi yang dikaji secara akurat (mendekati kondisi sebenarnya).
Tabel 27. Hasil analisis Rap-INSUSFORMA untuk beberapa parameter statistik. Nilai
Statistik
Multi
Dimensi Ekologi Ekonomi
Sosial-Budaya Teknolo gi Hukum dan Kelembaga an Stress 0.12 0.13 0.13 0.13 0.14 0.14 R2 0.96 0.95 0.95 0.95 0.95 0.95 Jumlah iterasi 2 2 2 2 2 2
Sumber : Hasil analisis, 2006.
Berdasarkan Tabel 27, setiap dimensi maupun multidimensi memiliki nilai “stress” yang jauh lebih kecil dari ketetapan yang menyatakan bahwa nilai “stress” pada analisis dengan metode MDS sudah cukup memadai jika diperoleh nilai 25% (Fisheries. Com, 1999). Semakin kecil nilai “stress” yang diperoleh berarti semakin baik kualitas hasil analisis yang dilakukan. Berbeda dengan nilai koefisien determinasi (R2), kualitas hasil analisis semakin baik jika nilai koefisien determinasi semakin besar (mendekati 1). Dengan demikian dari kedua parameter (nilai “stress” dan R2) menunjukkan bahwa seluruh atribut yang digunakan pada analisis keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di Kalimantan Barat relatif baik dalam menerangkan kelima dimensi pembangunan yang dianalisis.
Untuk menguji tingkat kepercayaan nilai indeks multidimensi maupun masing-masing dimensi digunakan analisis Monte Carlo. Analisis ini merupakan analisis berbasis komputer yang dikembangkan pada tahun 1994 dengan menggunakan teknik random number berdasarkan teori statistika untuk mendapatkan dugaan peluang suatu solusi persamaan atau model ma tematis (EPA 1997). Mekanisme untuk mendapatkan solusi tersebut mencakup perhitungan yang berulang-ulang.
Analisis Montecarlo dalam analisis Rap -INSUSFORMA digunakan untuk melihat pengaruh kesalahan pembuatan skor pada setiap atribut pada masing-masing dimensi yang disebabkan oleh kesalahan prosedur atau pemahaman terhadap atribut, variasi pemberian skor karena perbedaan opini atau penilaian oleh peneliti yang berbeda, stabilitas proses analisis MDS, kesalahan memasukkan data atau ada data yang hilang (missing data ), dan nilai “stress” yang terlalu tinggi. Hasil akhir analisis Rap - INSUSFORMA berupa indeks keberlanjutan mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi.
Hasil analisis Monte Carlo dilakukan dengan beberapa kali pengulangan ternyata mengandung kesalahan yang tidak banyak mengubah nilai indeks total maupun masing-masing dimensi. Berdasarkan Tabel 28 dapat dilihat bahwa nilai status indeks keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan Kalimantan Barat pada selang kepercayaan 95% didapatkan hasil yang tidak banyak mengalami perbedaan antara hasil analisis MDS dengan analisis Monte Carlo. Perbedaan nilai indeks keberlanjutan antara hasil analisis metode MDS dengan analisis Monte Carlo mengindikasikan hal-hal sebagai berikut: 1) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif kecil; 2) variasi pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil; 3) proses analisis yang dilakukan secara berulang-ulang stabil; 4) kesalahan pemasukan data dan data yang hilang dapat dihindari.
Tabel 28. Hasil analisis Monte Carlo untuk nilai INSUSFORMA dan masing-masing dimensi pada selang kepercayaan 95%.
Status Indeks Hasil MDS Hasil Monte Carlo Perbedaan
Multidimensi 36,85 36,44 0,41 Ekologi 36,11 36,44 0,33 Ekonomi 53,17 52,76 0,51 Sosial-Budaya 40,44 41,39 0,95 Teknologi 23,17 24,06 0,89 Hukum dan Kelembagaan 26,09 27.18 1,09
Sumber: Hasil Analisis, 2005.
Perbedaan hasil analisis yang relatif kecil sebagaimana disajikan pada Tabel 28 menunjukkan bahwa analisis Rap -INSUSFORMA dengan menggunakan metode MDS untuk menentukan keberlanjutan sistem yang dikaji memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, dan sekaligus dapat disimpulkan bahwa metode analisis Rap-INSUSFORMA (Rapid appraisal-Indeks Sustainability Forest Management) yang dilakukan dalam kajian ini dapat dipergunakan sebagai salah satu alat evaluasi untuk menilai secara cepat (rapid appraisal) keberlanjutan dari sistem pengelolaan sumberdaya hutan di suatu wilayah/daerah.
Pada Gambar 22,23, 24, 25, 26, dan 27 dapat dilihat nilai indeks keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan Kalimantan Barat berdasarkan hasil analsis Montecarlo.
RAPFISH Ordination (Median with Error Bars showing 95%Confidence of Median) 36.44 100.00 0.00 49.88 49.71 97.11 90.03 79.20 65.15 35.10 21.57 10.61 3.30 2.85 9.45 20.04 34.08 64.73 77.93 88.47 95.99 -60 -40 -20 0 20 40 60 0 2 0 40 6 0 8 0 100 120 F i s h e r i e s S u s t a i n a b i l i t y
Gambar 22. Analisis Monte Carlo yang menunjukkan nilai indeks keberlanjutan multidimensi sebesar 36,44.
RAPFISH Ordination (Median with Error Bars showing 95%Confidence of Median) 36.44 100.00 0.00 49.88 49.71 97.11 90.03 79.20 65.15 35.10 21.57 10.61 3.30 2.85 9.45 20.04 34.08 64.73 77.93 88.47 95.99 -60 -40 -20 0 20 40 60 0 2 0 40 6 0 8 0 100 120 F i s h e r i e s S u s t a i n a b i l i t y
Gambar 23 Analisis Monte Carlo yang menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi sebesar 36,44.
Rap-insusforma