1 1.1 Latar Belakang
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) adalah bentuk kerjasama antar anggota negara-negara ASEAN yang terdiri dari Brunei, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Melalui MEA yang diawali tahun 2016 terjadi pemberlakuan perdagangan bebas di kawasan ASEAN. MEA dirancang untuk mewujudkan Wawasan ASEAN 2020. Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi momentum penting bagi negara-negara ASEAN untuk semakin meningkatkan kerjasama ekonomi yang saling melengkapi satu sama lain, terutama bagi negara yang memiliki perusahaan dengan jaringan global yang sedang berkembang, seperti PT Kamadjaja Logistics (Supporting Industri Makanan dan Minuman), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (Supporting Industri Otomotif), PT Agility International (Supporting Industri Personal Car/Home Care), PT Gerbang Teknologi Cikarang/Cikarang Dry Port (Supporting Industri Tekstil/Kapas), PT Dunia Express (Supporting Industri Tekstil/Kapas), PT Khrisna Cargo (IKM), PT Vopak Terminal Merak (Supporting Industri Tekstil Sintetis/Bahan Kimia), dan PT Dahana Persero (Supporting Industri Migas dan Pertambangan/Bahan Peledak). Implementasi MEA dapat menunjukkan potensi perdagangan intraregional ASEAN yang harus dimanfaatkan secara optimal. Salah satu dampak positif dari implementasi MEA yaitu investor Indonesia dapat
memperluas ruang investasinya tanpa ada batasan ruang antar negara anggota ASEAN. Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan skala ekonomi dalam negeri sebagai basis memperoleh keuntungan. Adapun tantangan dari MEA ini yaitu bagaimana menarik minat investor untuk berinvestasi di Indonesia. (Rikho, 2016)
Ketika investor berinvestasi, tentunya akan mencari informasi-informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan berinvestasi. Salah satu media informasi yang digunakan oleh investor yaitu laporan keuangan. Laporan keuangan disusun berdasarkan atas standar yang berlaku di masing-masing negara. Dengan adanya laporan keuangan, maka para investor akan mampu menentukan wadahnya yang paling tepat untuk melakukan suatu kegiatan investasi tersebut. Laporan keuangan yang wajar merupakan sebuah laporan yang sangat diharapkan baik bagi para pengguna laporan keuangan untuk pengambilan keputusan. Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2015), pengguna laporan keuangan adalah investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah dan masyarakat. Jadi, laporan keuangan merupakan pertimbangan yang mutlak untuk mengubah paradigma yang dimiliki oleh para investor untuk menentukan wadah mereka dalam berinvestasi, dan standar untuk pembuatan laporan keuangan yang diterapkan oleh setiap perusahaan belum tentu sama dari berbagai negara. Standar akuntansi di setiap negara tidaklah sama. Hal ini kemudian menjadi masalah karena laporan keuangan setiap negara itu menjadi tidak dapat dibandingkan. Oleh karena itu harus ada standar akuntansi internasional yang bisa dipakai secara global. IFRS merupakan jawaban dari persoalan ini. IFRS
(International Financial Reporting Standard) merupakan standar akuntansi internasional yang saat ini sudah diadopsi setidaknya oleh 130 negara di dunia. Adanya IFRS sebagai standar akuntansi internasional bukan berarti masalah selesai sampai disitu saja. Pada dasarnya, laporan keuangan dibuat oleh pihak manajemen. Adapun pengguna laporan keuangan tidak hanya berasal dari manajemen yang merupakan pihak internal, tetapi juga pihak eksternal. Investor merupakan salah satu dari pihak eksternal. Kendati laporan keuangan sudah dibuat sesuai dengan standar akuntansi internasional yang berlaku, IFRS, tidak ada jaminan bahwa seluruh informasi yang terkandung dalam laporan keuangan sudah mencerminkan keadaan perusahaan yang sesungguhnya. (Hasibuan, 2016)
Seiring berkembangnya perusahaan-perusahaan multinasional, KAP (Kantor Akuntan Publik) dengan jaringan internasional melayani klien global yang mengadopsi standar-standar IFAC mulai berafiliasi dengan KAP Internasional seperti KAP KOSASIH, NURDIYAMAN, MULYADI, TJAHJO & REKAN (Kerjasama dengan Crowe Horwarth International), KAP MULYAMIN SENSI SURYANTO & LIANNY (Kerjasama dengan Moore Stephens International Limited), KAP HENDRAWINATA EDDY SIDDHARTA & TANZIL (Kerjasama dengan Kreston International), dll. (Direktorat IAPI, 2016). Kantor Akuntan Publik merupakan wadah yang digunakan sebagai tempat berpraktiknya akuntan publik. Praktik yang dilakukan oleh akuntan publik adalah memeriksa dan mengevaluasi laporan keuangan secara profesional sesuai dengan standar yang berlaku, sehingga diharapkan hasil dari audit tersebut dapat meningkatkan kepercayaan para investor dan kreditor akan laporan keuangan perusahaan. (Tuanakotta, 2013).
KAP tersebut berpraktik secara global dengan metodologi audit, jaminan kualitas, dan pelatihan yang sama. Namun, pada saat yang sama, KAP juga harus beroperasi dan memberikan layanan di bawah regulasi pelaporan keuangan yang berbeda-beda di wilayah hukum masing-masing negara. Dengan kondisi tersebut, dapat diketahui bahwa kekurangan yang ditemukan dalam audit dan pelaporan keuangan di perusahaan global dalam satu yurisdiksi tertentu dapat menimbulkan dampak bagi pelaporan keuangan di yurisdiksi lain. Hal ini dikarenakan, perusahaan-perusahaan ini menggunakan standar pelaporan keuangan yang sama, dan dapat diaudit oleh perusahaan audit jaringan global yang sama.(Sekretaris Jendral Hadiyanto dalam The 4th ASEAN Audit Regulators Group (AARG) meeting and inspection workshop Bali, 2016)
Kualitas audit dapat diartikan sebagai bagus tidaknya suatu pemeriksaan yang telah dilakukan oleh auditor. Berdasarkan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) audit yang dilaksanakan auditor dikatakan berkualitas, jika memenuhi ketentuan atau standar pengauditan. DeAngelo (1981), mendefinisikan audit quality sebagai penilaian oleh pasar dimana terdapat kemungkinan auditor akan memberikan a) penemuan mengenai suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi klien; dan b) adanya pelanggaran dalam pencatatannya. Kemungkinan bahwa auditor akan melaporkan adanya laporan yang salah saji telah dideteksi dan didefinisikan sebagai independensi auditor.
Auditing adalah pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi itu dengan kriteria
yang telah ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen. (Arens, 2015:3). Audit atas laporan keuangan oleh akuntan publik digunakan untuk memperoleh keyakinan bahwa laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen perusahaan dapat diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain itu, audit atas laporan keuangan dapat menengahi konflik kepentingan antara pembuat informasi (manajemen) dan pengguna informasi (pemilik, investor, kreditur, pemerintah) (Taylor dan Glezen, 1994).
Menurut Jensen dan Meckling (1976), auditor memberikan layanan yang penting untuk pasar modal dunia. Tanpa kualitas audit yang tinggi, manajer akan menghadapi biaya agensi yang lebih tinggi. Auditor merupakan pihak yang mempunyai kualifikasi untuk memeriksa dan menguji apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Tingginya tingkat kepercayaan terhadap profesi akuntan publik, harus diantisipasi dengan lebih memperhatikan kualitas audit. Sikap profesional akuntan publik dapat ditonjolkan dengan kompetensi yang dimiliki dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang berlaku sehingga menghasilkan audit yang lebih berkualitas. Pada akhirnya, audit yang berkualitas akan meningkatkan kredibilitas akuntan publik sekaligus memperoleh keyakinan atas keandalan laporan keuangan agar lebih dipercaya oleh pihak-pihak berkepentingan.
Selama menjalankan penugasan yang diberikan klien, proses pengauditan tentunya dilakukan berdasarkan standar audit yang berlaku di negara tersebut. Pada mulanya, standar yang digunakan oleh KAP di Indonesia adalah SPAP yang
diadopsi dari U.S. GAAS (United States Generally Accepted Auditing Principle). Kemudian, diawali dengan skandal akuntansi, yang, dalam istilah ISA, massive and pervasive. Auditor gagal mendeteksi financial statement fraud. Association of Certified Fraud Examiners (Asosiasi Akuntan Forensik di Amerika Serikat) membuat kajian tentang kecurangan secara global (Global Fraud Studies) dalam laporannya yang berjudul Report to the Nations on Occupational Fraud and Abuse. Beberapa informasi di antaranya, disarikan dari Report to the Nations 2012 dan 2010 dalam tabel dibawah.
Tabel 1.1
Data Kecurangan Global
Keterangan 2012 2010
Jumlah kasus yang disurvey Kasus global Kasus Asia Kasus Indonesia 1.388 204 20 1.843 298 27 Kerugian rata-rata (median loss) secara global
Dari jumlah pendapatan (% of revenue)
Jika diproyeksikan terhadap Gross World Product
5% $ 3,5 triliun
5% $ 2,9 triliun Frekuensi kecurangan secara global
Penjarahan aset (asset misappropiation) Korupsi (corruption)
Manipulasi laporan keuangan (fraudulent financial statement) 86,7% 33,4% 7,6% 86,3% 32,8% 4,8%
Kerugian rata-rata (median loss) secara global Manipulasi laporan keuangan
Korupsi Penjarahan aset $ 1.000 $ 250 $ 120 $ 4.100 $ 250 $ 135 Manipulasi laporan keuangan
Dilakukan berapa lama sebelum terdeteksi 24 bulan 27 bulan Kecurangan secara menyeluruh, terdeteksi
Secara kebetulan (by accident) Oleh external audit
7% 3,3%
8,3% 4,6% Sumber: Tuanakotta (2013:vi)
Regulator mencari solusi. Lembaga yang menetapkan standar (standard-setting body) secara proaktif atau reaktif menemukan solusi. Solusi tersebut adalah ISA (International Standards on Auditing), diterbitkan oleh IFAC (International Federation of Accountant) yang mulai berlaku efektif di Indonesia pada tanggal 1 Januari 2013 untuk perusahaan emiten, dan berlaku 1 Januari 2014 untuk perusahaan non emiten (Tuanakotta,2013:4). Adanya perbedaan antara standar tentu akan berdampak pada perencanaan dan kegiatan audit. Dan saat ini ada perubahan dalam standar pengauditan di Indonesia. Selayaknya pelaporan keuangan yang saat ini berkiblat ke IFRS, maka sejak 1 Januari 2013, pengauditan mulai berkiblat pada International Standards on Auditing (ISA). Baik ISA maupun IFRS berkiblat pada standar yang diciptakan oleh Masyarakat Uni Eropa. Sebelumnya, baik standar pelaporan maupun standar pengauditan yang dianut di Indonesia berasal dari Amerika Serikat (Tuanakotta,2013). ISA dan standar lain
yang dikeluarkan IFAC dimaksudkan untuk mencapai pelaporan keuangan yang berkualitas pada tantangan global. Standar ini mengharuskan suatu perubahan cara berpikir dan sikap auditor dalam melakukan audit. Tuanakotta (2013:10) menjelaskan 5 (lima) hal yang berbeda secara fundamental antara ISA dengan SPAP. Perbedaan tersebut antara lain:
1. Menekankan pada Audit Berbasis Risiko 2. Perubahan dari Rules Based ke Principle Based 3. Berpaling dari Model Matematis
4. Menekankan pada Kearifan Profesional
5. Melibatkan peran Those Charged with Governance (TCWG)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ashe J, et al. (2014) menunjukkan persepsi yang positif atas kepatuhan terhadap standar ISA pada KAP di Uganda, persepsi positif oleh audit partner, dan pengguna informasi keuangan yang telah di audit pada kualitas audit di Uganda dan hubungan positif yang signifikan antara kepatuhan terhadap ISA dan kualitas audit di Uganda. Dari hasil penelitian ini jelas bahwa ISA bisa di aplikasikan dan sebaiknya KAP mengikuti ISA agar memiliki kualitas audit yang tetap. Penelitian yang dilakukan oleh Caecilia dan Rustiana (2016) mengenai pemetaan standar audit berbasis ISA pada KAP di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan bahwa 50% dari KAP di Yogyakarta baru berada pada tahap mengetahui mengenai penerapan standar audit berbasis ISA, 17% pada tahap aplikasi, dan 33% pada tahap pendidikan.
Mengingat masih minimnya penelitian mengenai pengaruh implementasi ISA terhadap kualitas audit, maka penulis ingin menguji dan menganalisis pengaruh implementasi ISA baik secara parsial maupun simultan terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik Afiliasi yang ada di Jakarta. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh implementasi ISA (International Standards on Auditing ) terhadap kualitas audit. Maka dari itu penulis mengangkat judul sebagai berikut :
“PENGARUH IMPLEMENTASI ISA (INTERNATIONAL STANDARDS ON AUDITING ) TERHADAP KUALITAS AUDIT”
1.2 Identifikasi Masalah
1. Apakah prinsip umum dan tanggungjawab auditor dalam pelaksanaan audit programnya mempengaruhi kualitas audit.
2. Apakah penilaian risiko dan respons auditor terhadap risiko yang dinilai mempengaruhi kualitas audit.
3. Apakah kecukupan bukti audit mempengaruhi kualitas audit.
4. Apakah sikap auditor atas penggunaan hasil pekerjaan pihak lain mempengaruhi kualitas audit.
5. Apakah penyusunan kesimpulan audit dan laporan audit oleh auditor mempengaruhi kualitas audit.
6. Apakah pelaksanaan audit dengan tujuan khusus mempengaruhi kualitas audit.
7. Apakah prinsip umum dan tanggungjawab auditor dalam pelaksanaan audit programnya, penilaian risiko dan respons auditor terhadap risiko yang dinilai, kecukupan bukti audit, sikap auditor atas penggunaan hasil pekerjaan pihak lain, penyusunan kesimpulan audit dan laporan audit oleh auditor, serta pelaksanaan audit dengan tujuan khusus mempengaruhi kualitas audit secara simultan.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh prinsip umum dan tanggungjawab auditor dalam pelaksanaan audit programnya terhadap kualitas audit.
2. Untuk mengetahui pengaruh penilaian risiko dan respons auditor terhadap risiko yang dinilai kualitas audit.
3. Untuk mengetahui pengaruh kecukupan bukti audit kualitas audit.
4. Untuk mengetahui pengaruh sikap auditor atas penggunaan hasil pekerjaan pihak lain terhadap kualitas audit.
5. Untuk mengetahui pengaruh penyusunan kesimpulan audit dan laporan audit oleh auditor terhadap kualitas audit.
6. Untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan audit dengan tujuan khusus terhadap kualitas audit.
7. Untuk mengetahui pengaruh prinsip umum dan tanggungjawab auditor dalam pelaksanaan audit programnya, penilaian risiko dan respons auditor terhadap risiko yang dinilai, kecukupan bukti audit, sikap auditor atas penggunaan hasil pekerjaan pihak lain, penyusunan kesimpulan audit dan
laporan audit oleh auditor, serta pelaksanaan audit dengan tujuan khusus terhadap kualitas audit secara simultan.
1.4 Kegunaan Penelitian 1. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat membantu untuk lebih memahami mengenai pengaruh implementasi ISA ( International Standards on Auditing ) terhadap kualitas audit.
2. Bagi KAP
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam pengimplementasian standar ISA ( International Standards on Auditing ) terhadap kualitas audit.
3. Bagi pembaca
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi dalam mengimplementasikan standar ISA ( International Standards on Auditing ) dan pengaruhnya terhadap kualitas audit.
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada beberapa KAP Afiliasi di Jakarta dan Bandung dan dilaksanakan pada bulan Desember 2016 sampai April 2017.
DAFTAR PUSTAKA
Ashe J, et al. 2014. Perceived Compliance with International Standards on Auditing and Quality of Auditing. International Journal of Academic Research in Management (IJARM) Vol. 3, No. 1, 2014, Page: 95-109, ISSN: 2296-1747.
Kusumawardhani, Agustina Prima. 2015. Implementasi International Standards on Auditing (ISA) dan Dampaknya Pada Kualitas Audit. Skripsi. Universitas Santa Dharma Yogyakarta.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. 2015.
Tuanakotta, Theodorus M. 2013. Audit Berbasis ISA (International Standards on Auditing). Jakarta: Salemba Empat.
( http://ekbis.sindonews.com/read/1140471/34/mea-jadi-momentum-perkuat-kerja-sama-asean-1474271227 ) Diakses November 2016
( http://news.hargatop.com/2016/01/04/2016-mea-dimulai-pengertian-apa-itu-mea-masih-banyak-masyarakat-indoensia-yang-tidak-mengerti/4119821.html ) Diakses November 2016.
(http://infobanknews.com/indonesia-dan-aarg-bahas-standar-praktik-audit/) Diakses Selasa, 7 Juni 2016.