commit to user
BAB III
SISTEM PRODUKSI INDUSTRI RUMAH TANGGA JAMU
TJAP DJAGO TAHUN 1918-1949
1. Bahan Baku Jamu
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Ketersediaan bahan baku untuk pembuatan jamu di Indonesia cukup melimpah. Industri jamu tradisional tidak memiliki ketergantungan impor. Kekayaan flora yang terdapat di Indonesia menjadi peluang untuk berkembangnya industri jamu.1 Bahan baku jamu atau bisa disebut dengan simplisia diperoleh dari pedagang. Berikut bahan-bahan untuk pembuatan jamu:
Tabel. 3
Daftar Bahan Baku Jamu
Daun Salam Daun Jambu Jati Belanda Temulawak Daun Sendok Gadung
Pala Kunir Lengkuas
Cabe Jawa Alang-alang Bunga Cengkeh Blimbing Wuluh Kina Meniran
Cengkeh Akar Wangi Jinten Jahe Merica Hitam Sereh
Pepaya Kecubung Delima Putih
Pasak Bumi Kina Bangle
Sumber: MURI
1 Irma Wardani., “Strategi Pemasaran Produk Unggulan Jamu Ngeres Linu PT. Nyonya Meneer Semarang”, Tesis Fakultas Pascasarjana Agribisnis, (Surakarta: Universitas Sebelas Maret), 2011, hlm 1-2.
commit to user
2. Proses Produksi Jamu Tahun 1918-1930
Produksi merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk merubah bahan baku menjadi barang setengah jadi atau jadi. Seluruh produk yang dihasilkan atau dipasarkan merupakan hasil dari serangkaian proses produksi yang dilaksanakan oleh perusahaan.2 Jamu tradisional termasuk salah satu pengobatan alternatif yang dimiliki dan dipercaya masyarakat tempo dulu sampai sekarang, dan masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Jawa. Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan jamu mulai ada jamu yang membuat jamu dalam jumlah yang relatif besar dan menggunakan penjaja sebagai pengedarnya. Proses produksi jamu yang dilakukan oleh industri rumah tangga Tjap Djago ketika masih berada di Wonogiri sangat tradisional, bahkan belum menggunakan mesin modern seperti zaman sekarang. Pada awal produksinya industri jamu Tjap Djago berkembang sebagai industri rumah tangga. Awal memproduksinya hanya memiliki satu lesung kayu hingga kemudian menjadi 40 lesung kayu karena semakin dikenalnya jamu yang diproduksi.
Gambar. 1
Peralatan Pembuatan Jamu Tradisional
Sumber: Djawahir Muhammad, Semarang Sepanjang Jalan Kenangan Tahun 1995.
2 Ibid., hlm 81.
commit to user
Perbekalan produksi perlu dilakukan secara terencana yang meliputi semua barang dan bahan yang dimiliki perusahaan dan digunakan untuk proses produksi. Perbekalan ini akan terdiri dari, bahan baku untuk proses produksi, bahan setengah jadi, olahan yang merupakan bagian produk, bahan pembantu proses produksi, bahan pengemas dan pengepak, dan bahan-bahan lain untuk keperluan pabrik.3 Menurut pandangan produksi, perbekalan harus sebanyak mungkin agar kebutuhan proses produksi selalu terpenuhi setiap waktu dengan mutu yang baik tanpa resiko kehabisan perbekalan. Pengendalian proses produksi pada prinsipnya adalah mengusahakan agar proses produksi berjalan lancar, tepat waktunya, dan menghasilkan produk dalam jumlah dan mutu yang telah terencana dengan baik. Perawatan perlu dilakukan secara periodik untuk mencegah terjadinya kerusakan yang dapat mengakibatkan terhambatnya proses produksi, terakhir adalah pengendalian mutu bahan yang bertujuan untuk mencegah penyimpangan mutu dan memperbaiki kesalahan-kesalahan mutu yang mungkin terjadi. Proses produksi pada industri rumah tangga jamu Tjap Djago sewaktu masih di Wonogiri dan masih menggunakan alat yang begitu tradisional karena pada waktu itu belum ada mesin modern untuk memproduksi jamu dapat dilihat dengan gambar bagan dibawah ini:
3 Singgih Wibowo., dkk, Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil, (Jakarta: Penebar Swadaya, 1999), hlm. 19.
commit to user Gambar. 2 Skema Produksi Sumber: PT Jamu Jago Keterangan:
1. Bahan jamu/simplisia berasal dari pedagang. 2. Gudang bahan kotor.
3. Perajangan. 4. Pemilihan/sortasi. 5. Pencucian.
6. Pengeringan.
7. Bahan jamu yang sudah bersih. 8. Peracikan.
9. Gudang peracikan. 10. Penggilingan. 11. Pengayakan. 12. Pengadukan.
13. Gudang bahan jamu setengah jadi. 14. Pencetakan jamu khusus bagian luar.
commit to user
16. Pengeringan jamu, khusus untuk pemakaian luar. 17. Gudang bahan jadi.
18. Pemasaran produk.
Penjelasan mengenai urutan proses produksi jamu diatas pada nomor 1 sampai dengan 8 merupakan proses pengolahan bahan jamu yang paling utama, seperti proses mendapatkan bahan baku jamu dari pedagang hingga proses peracikan. Proses produksi jamu dari nomor 9 hingga 17 merupakan proses produksi jamu dari bahan mentah menjadi jamu setengah jadi hingga menjadi menjadi jamu yang siap dikonsumsi. Pada nomor 18 merupakan proses distribusi atau pemasaran jamu.
Industri jamu Tjap Djago mempunyai standarisasi dalam penyimpanan bahan jamu maupun hasil produksinya. Penyimpanan yang kurang baik dapat mempengaruhi mutu dan khasiat jamu, seperti: khasiat akan menurun, masa kadaluarsa akan diperpendek, terjadi kerusakan total. Hal-hal lain yang dapat mempengaruhi rusak khasiat jamu antara lain:
1. Kelembaban: jamu yang ditempatkan di ruangan yang lembab akan mempercepat pertumbuhan microorganism yang menggunakan zat-zat dalam jamu sebagai bahan makanannya, sehingga khasiat jamu akan menurun.
2. Sinar matahari: panas dari sinar matahri dapat mengakibatkan berurainya zat-zat dan perubahan warna pada jamu.4
4 Juniarti A.F, “Cara Penyimpanan Jamu/Obat Yang Baik”, Majalah Berita
commit to user
Tempat penyimpanan atau gudang untuk agen-agen besar tentunya disediakan tempat tersendiri. Gudang yang memenuhi syarat-syarat yaitu harus ada ventilasi untuk sirkulasi udara, jamu jangan langsung ditempatkan diatas lantai tapi ditempatkan dalam rak, penyimpanannya dipisah antara obat luar dan obat dalam. Dalam proses penyalurannya juga terdapat aturan supaya jamu yang dijual selalu dalam keadaan baik. Jamu yang dijual harus dengan cara menghabiskan stok lama kemudian mengeluarkan stok baru, karena itu setiap jamu yang baru datang harus diberi nomor urut penerimaan sehingga memudahkan pengontrolan masuk dan keluarnya jamu. Pada toko-toko pengecer cukup menempatkan jamu didalam toples, tetapi jika ada kelebihan jumlah jamu jangan diletakkan dilantai tapi simpan didalam lemari.5
3. Perkembangan Mesin Industri Jamu Tjap Djago.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknik maupun sistem informasi mengakibatkan perubahan cepat dalam masyarakat, baik dibidang industri maupun kebutuhan masyarakat. Mengantisipasi gejala-gejala perubahan masyarakat, sehingga sistem kerja maupun produk yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan zaman atau dengan yang lain kita bekerja dan berkarya sesuai dengan perubahan dan dinamika masyarakat. 6
5 Ibid., hlm. 7.
6 Suryo Hadiwinoto, “Gerak Dan Irama Keluarga Besar Jamu Jago”, Majalah
commit to user
Industri jamu Tjap Djago didirikan di Wonogiri pada tahun 1918, berkembang sebagai industri rumah tangga. Indutri jamu yang berada di kota Wonogiri, 32 km di selatan Surakarta, belum mengenal listrik maupun waduk, suatu daerah yang dikatakan tandus karena daerahnya yang kering. Para petani yang mengumpulkan dan mengusahakan bahan-bahan jamu, akan tetapi pada saat itu obat-obatan sulit didapatkan akibat terisolirnya daerah tersebut akibat terganggunya lalu lintas antara Indonesia dengan Eropa akibat Perang Dunia I.7 Pada awal didirikan industri jamu merupakan industri rumah tangga yang memakai alat-alat tradisional, akan tetapi pada tahun 1936 beliau mengundurkan diri dan diteruskan oleh para putranya dan produksi jamu terus berkembang pesat.
Perlu diketahui bahwa sudah banyak tenaga manusia yang dapat digantikan dengan alat mekanis dan otomatis, tetapi didalam banyak hal manusia masih diperlukan terutama dalam hal-hal dimana alat perlengkapan mekanis itu belum dapat dipergunakan.8 Pada tahun 1938 perusahaan yang dipimpin oleh generasi kedua, yakini Anwar, Panji, dan Lambang Suprana mulai menggunakan mesin untuk alat produksinya.9 Mesin yang digunakan pada saat itu adalah mesin mekanik yang meliputi:
7 Suryo Hadiwinoto, “Jago Tumbuh Dan Berkembang Bersama Masyarakat”,
Majalah Berita Jago (Edisi Ulang Tahun ke 70), Juli 1988, hlm.1
8 Buchari Zainun., Perencanaan Dan Pembinaaan Tenaga Kerja, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), hlm 40.
9 Harian Suara Merdeka,8 Januari 2003, diakses pada tanggal 22 Januari 2014 pukul 21.58 WIB.
commit to user a. Mesin Giling Pukul (tumbuk)
Proses produksi yang digunakan pada awalnya menggunakan lumpang, karena pada awalnya berkembang sebagai industri rumah tangga dan menggunakan alat-alat tradisional untuk memproduksi jamu. Daerah pemasaran begitu luas dan peminat jamu yang semakin meningkat, maka Pabrik Jamu Jago mengganti alat-alat produksinya dengan mesin. Mesin giling pukul (tumbuk) mempunyai fungsi sebagai alat pengganti lumpang yaitu untuk menumbuk jamu.
Penggilingan palu merupakan dari gaya pukul. Bahan baku akan terpukul oleh palu yang berputar dan bertumbuk dengan dinding, palu atau sesama bahan. Akibatnya akan terjadi pemecahan bahan. Proses ini berlangsung terus hingga didapatkan bahan yang dapat lolos dari saringan di bagian bawah alat.10
b. Mesin Ayak Gaplek
Mesin ayak gaplek merupakan alat yang digunakan setelah jamu selesai ditumbuk kemudian disaring agar mendapatkan hasil kualitas super. Industri jamu Tjap Djago terkenal dengan jamu serbuknya ketika dipimpin oleh generasi kedua. Mesin ayak digunakan merupakan alat pemisah dari bahan jamu yang telah digiling, dengan alat ini bahan jamu
10 Ainunnissala Quatauji., “Proses Produksi Jamu Sediaan Serbuk Di PJ Sabdo Palon Kecamatan Nguter Sukoharjo”, Tugas Akhir (Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 2008), hlm. 11
commit to user
yang telah ditumbuk akan terpisah dan menghasilkan jamu serbuk yang berkualitas baik. Pembaharuan dalam bidang sistem produksi, membuat produksi jamu menjadi lancar dan dapat memenuhi target pemasaran yang begitu luas hingga ke pelosok seluruh Jawa.
4. Daftar Hasil Produksi Jamu
Produksi Pabrik Jamu Jago pada tahun 1918 sampai tahun 1949 tidak dapat dipantau setiap tahunnya, karena data yang dikeluarkan untuk produksi ketika masih diproduksi di Wonogiri tidak terdapat tahun dan jamu-jamu yang diproduksi dahulu adalah jamu serbuk yang kini terus diperbaharui dan diperbanyak jenisnya.
Gambar. 3
Foto Produk Jamu Tahun 1939 Sumber: MURI
Pada gambar 3 terdapat foto yang menggambarkan bahwa pada tahun 1939 jamu yang diproduksi oleh industri jamu Tjap Djago sudah begitu bermacam-macam jamu. Jamu yang berada di gambar 3 merupakan jamu serbuk dan terdapat pula param yaitu jamu gosok untuk pemakaian luar. Jamu-jamu yang diproduksi
commit to user
oleh industri jamu Tjap Djago secara lengkap telah dijelaskan pada tabel 4, dengan khasiat dan harganya yang berbeda-beda.
Tabel. 4
Daftar Produk Jamu Tahun 1918 – 1949 Pabrik Jamu Jago
Galian Singset Galian Putri Poepoer Bondet
Jamu Kuat Jamu Gadung Sari Jamu Pik Tay
Jamu Pegel Linu Jamu Anti Batuk Minyak Param Djago Jamu Tujuh Angin Jamu Sakit Pinggang Delima Putih
Parem Pusaka Jamu Olahraga Jamu Madjoen
Afridolzeep Aer Rasa Jamu Triwindoe
Aspirine Tablet Abdisyroop Jamu Sari Poetih Aspirin Poeder Anti Dysenterie Poeder Jamu Sri Moeda Anti Influenza Poeder Adalin Tablet Jamu Senopati Madu Moejidjat Jamu Waloeja Jamu Kinaria Sumber: PT Jamu Jago Semarang,
MURI,
Majalah Asia Raya, halaman 65 tahun 1943
Jamu-jamu diatas memiliki kasiat yang berbeda-beda, antara lain:
1. Galian Singset: jamu ini mempunyai manfaat menjaga kecantikan, menjadikan badan singset dan menarik.
2. Jamu Kuat: menambah kekuatan dan kesehatan badan, untuk menghindari penyakit. Jamu ini dapat dikonsumsi untuk pria dan wanita.
3. Jamu Pegel Linu: untuk sakit encok tulang dan badan pegal linu.
commit to user
5. Parem Pusaka: untuk menghilangkan badan lelah, salah urat dan kesleo.
6. Aspirin Poeder: obat demam dan sakit kepala. Aturan pakainya tiga kali sehari dan dicampur dengan air. Harganya satu dus ƒ 0.50.
7. Anti Influenza Poeder: obat demam influenza yaitu sakit panas dingin yang disertai batuk dan badan lemas. Aturan pakainya terdapat dalam setiap dus, dalam satu dus terdapat 12 bungkus dan harganya ƒ 0.50. 8. Madu Moejidjat: mempunyai manfaat untuk segala macam penyakit,
dapat dikonsumsi oleh pria maupun wanita juga bisa untuk anak-anak. Tersedia dalam botol kecil.
9. Afridolzeep: merupakan obat yang berupa sabun bermanfaat untuk mencegah penyakit kulit dan membuat kulit halus. Aturan pakai sabun ini adalah seperti orang memakai sabun biasa, satu sabun dijual dengan harga ƒ 1.20
10. Aspirine Tablet: merupakan obat demam dan sakit kepala. Aturan pakainya sehari tiga kali dan dicampur dengan air sampai halus. Harganya 1 tube ƒ 0.75
11. Galian Putri: jamu yang penting kaum wanita untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.
12. Jamu Gadung Sari: menjaga kesehatan badan dan semangat dalam bekerja.
commit to user
13. Jamu Anti Batuk: menyembuhkan segala penyakit batuk dan masuk angin.
14. Jamu Sakit Pinggang: dengan cepat menyembuhkan pinggang pegal, sakit karena lelah bekerja atau banyak duduk.
15. Jamu Olahraga: menambah semangat, ketangkasan dan kekuatan badan bagi olahragawan.
16. Aer Rasa: obat oles badan yang kurang kuat, pegel linu, dan sakit tulang. Aturan pakainya yaitu satu botol dicampur dengan 10 lembar daun sirih yang sudah ditumbuk halus ditambah dengan 2 sendok besar minyak wijen, kemudian dicampur sampai rata dibagian yang sakit, jangan terkena emas atau perak. Harganya 1 botol berisi 6 gram ƒ 0.50.
17. Abdisyroop: obat sesak dan segala macam batuk. Harganya 1 botol ƒ 3.
18. Anti Dysenterie Poedar: obat untuk sulit buang air besar dan berak darah. Harganya 1 kardus berisi 12 bungkus ƒ 0.50.
19. Adalin Tablet: obat untuk anak yang sulit tidur atau untuk orang tua yang terlalu banyak pikiran. Aturan pakainya minum 2 tablet sebelum tidur. Harganya 1 tube ƒ 1.50.
20. Poepoer Bondet: bedak ini merupakan resep dari Dr. P. Winoto dari Solo, lulusan dari Eropa dan bekas dokter dari Kerajaan Surakarta. Bedak ini terdiri dari beberapa macam warna antara lain, putih, kuning langsat dan merah jambu. Bedak ini mempunyai kasiat membuat wajah
commit to user
halus, dapat menghilangkan jerawat. Harganya berbeda-beda, untuk bedak ukuran besar ƒ 1.25, ukuran sedang ƒ 0.70, ukuran kecil ƒ 0.10. 21. Jamu Waloeja: jamu untuk laki-laki yang kaki dan tangannya merasa
linu, kesemutan dan baik untuk laki-laki yang suka gerak badan. Satu bungkus sekali minum ƒ 0,07 ½ dan satu botol untuk 14 kali minum harganya ƒ 1,10.
22. Jamu Pik Tay (Keputihan): jamu kesehatan untuk wanita, untuk wanita yang mukanya pucat dan kurus. Sebungkus untuk satu kali minum ƒ 0, 07 ½ dan untuk sebotol 14 kali minum ƒ 1,10.
23. Minyak Param Djago: menyembuhkan badan lelah dan kesleo.
24. Jamu Delima Putih: jamu khusus perempuan, jamu awet muda, badan menjadi singset dan mencegah penyakit dari laki-laki. Sebungkus ƒ 0,07 ½ , sebotol 14 kali minum ƒ 1,10.
25. Jamu Madjoen (Tjong Yang): jamu untuk laki-laki menambah tenaga, megencangkan urat-urat yang sudah tua akan merasa muda. Sebungkus ƒ 0,07 ½ , sebotol 14 kali minum ƒ 1,10.
26. Jamu Triwindoe: jamu untuk perempuan yang terlambat datang bulan. Sebungkus ƒ 0,07 ½ , sebotol 14 kali minum ƒ 1,10.
27. Jamu Sari Poetih: jamu untuk perempuan untuk menghilangkan keputihan. Sebungkus ƒ 0,07 ½ , sebotol 14 kali minum ƒ 1,10.
commit to user
28. Jamu Sri Moeda: jamu untuk perempuan muda ataupun tua, yang berwajah pucat dan terlihat kurus, mencegah wanita tidak cepat tua. Sebungkus ƒ 0,07 ½ , sebotol 14 kali minum ƒ 1,10.
29. Jamu Senopati: jamu untuk laki-laki untuk menambah nafsu makan atau untuk mereka yang bermuka pucat dan sering sakit kepala. Sebungkus ƒ 0,07 ½ , sebotol 14 kali minum ƒ 1,10.
30. Jamu Kinaria: obat untuk penyakit malaria. Obat dari bahan Jawa yang dikerjakan dengan penuh kenyakinan dan sudah terbukti nyata.
5. Jumlah Tenaga Kerja Industri Rumah Tangga Jamu Tjap Djago
Jumlah tenaga kerja pada sebuah industri rumahan biasanya tidak lebih dari 100 orang, bahkan hanya terdiri dari 20 orang saja. Industri rumah tangga jamu Tjap Djago ketika masih awal memulai memproduksi jamu memiliki beberapa tenaga kerja/buruh atau sekitar 20 orang, akan tetapi ketika permintaan jamu melonjak, maka pabrik tersebut menambah jumlah buruh untuk memenuhi target produksi dan tenaga kerja yang ada hampir mencapai 100-200 orang. Sistem perekrutannya juga melalui orang-orang terdekat, seperti saudara. Industri jamu Tjap Djago dari awal berdirinya dijalankan oleh keluarga Suprana atau disebut dengan turun temurun. Praktek tenaga kerja dadakan biasanya disebut sebagai tenaga kerja borongan, yaitu tenaga kerja yang digunakan ketika produksi meningkat. Maka ketika permintaan jamu sedang melonjak para pekerja borongan akan diikutsertakan dalam proses produksi guna mencukupi
commit to user
kebutuhan jamu. Pada tahun 1930, tenaga kerja di pemasaran mulai menggunakan cebol sebagai hiburan sehingga masyarakat tertarik dengan jamu yang diproduksi oleh industri jamu Tjap Djago. Jumlah cebol dari tahun 1930 hingga tahun 1940 hanya 8-10 orang saja dan ditempatkan di mobil-mobil propaganda 2 orang setiap mobil.11
Gambar. 4
Tenaga Kerja Industri Jamu Tjap Djago
Sumber: Majalah Berita Djago Edisi Pertama Tahun 1976
Pada gambar 4 merupakan foto tenaga kerja yang ada di industri jamu Tjap Djago. Tenaga kerja di industri jamu Tjap Djago pada lebih banyak mempekerjakan kaum perempuan dan hanya ada beberapa laki-laki yang bekerja. Pada umumnya memang industri-industri jamu lebih banyak mempunyai tenaga kerja perempuan.