URGENSI SERTIFIKAT LAIK FUNGSI SEBAGAI PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA BAGI PENGGUNA/PENGHUNI BANGUNAN GEDUNG

Teks penuh

(1)

URGENSI SERTIFIKAT LAIK FUNGSI SEBAGAI

PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA BAGI

PENGGUNA/PENGHUNI BANGUNAN GEDUNG

(The Urgency on the Certificate of Occupancy as Human

Rights Protection for Building User/Occupant)

Anda Setiawati

Fakultas Hukum Universitas Trisakti anda.s@trisakti.ac.id

Abstrak

Kasus robohnya bangunan gedung di Jakarta, tidak terlepas dari kondisi fungsi bangunan yang tidak layak. Menurut aturan, setiap pemilik bangunan gedung wajib memperoleh SLF yang membuktikan keandalan bangunan sekaligus menjamin keamanan, kenyamanan dan keselamatan pengguna/penghuninya. Kewajiban memperoleh SLF pada dasarnya untuk memberikan rasa aman terutama bagi diri pribadi, keluarga, dan hak milik penghuni/pengguna bangunan gedung sebagaimana tertuang dalam UU No. 39/1999 tentang HAM. Perlindungan atas rasa aman terutama hak milik dari penghuni/pengguna diwujudkan dalam bentuk tanggung gugat pemilik bangunan. Tanggung gugat pemilik bangunan gedung didasarkan pada perbuatan melawan hukum. Hak asasi pengguna/penghuni bangunan gedung yang laik fungsi juga dilindungi agar pemerintah daerah beserta aparatnya tidak melakukan tindakan sewenang-wenang dan melakukan penyalahgunaan wewenang dalam melakukan proses SLF. Dari aspek hukum administratif, penyalahgunaan wewenang dalam penerbitan SLF melanggar UU No. 30/2014 terutama asas perlindungan atas HAM. Sedangkan secara perdata, tindakan pemerintah daerah dan pejabatnya juga dapat digugat atas dasar perbuatan melanggar hukum dari penguasa. Kata kunci: Sertifikat Laik Fungsi (SLF), HAM, Pengguna/Penghuni Bangunan Gedung

Abstract

The case of building collapse, especially in Jakarta, cannot be separated from the existence of improper building function conditions. In its rules, every building owner must obtain a Certificate of Occupancy (CO) that proves the reliability of his building while ensuring the safety, comfort and safety of the user / occupant. Obligation to obtain CO is basically to provide a sense of security, especially for personal, family, and property rights of occupants / building users as stipulated in Law No. 39/1999 concerning human rights. Protection of security, especially ownership rights of occupants / users is realized in the form of the owner's accountability. The liability of building owners is based on unlawful acts. The rights of building users/occupants that are worthy of function are also protected so the local government and its apparatus do not take arbitrary actions and abuse their authority in carrying out the CO process. From the aspect of administrative law, the abuse of authority in issuing CO violates Law No. 30/2014 especially protection principle of human rights. Whereas the actions of regional government and its officials can also be sued on the basis of unlawful acts from the authorities.

(2)

Keywords: Certificate of Occupancy (CO), Human Rights, User/Occupant of Building Pendahuluan

Awal tahun 2020, muncul pemberitaan tentang robohnya bangunan gedung 4 lantai di Jl. Brigjen Katamso, Kel. Kota Bambu Utara, Slipi Jakarta Barat. Dari keterangan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan, ada bahwa robohnya gedung tersebut dikarenakan kualitas bangunan yang buruk. Menurut penjelasan Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan DKI Jakarta, kualitas bangunan itu memang terlihat sangat rapuh. Penjelasan yang sama juga disampaikan oleh penyidik Polri yang menyatakan bahwa runtuhnya bangunan dikarenakan faktor cuaca dan kondisi bangunan yang rapuh. Kondisi ini bisa dilihat dari konstruksi bangunan yang terlihat keropos karena ada beton yang terkelupas dan kerangka dari bangunannya yang turut ambles. Secara teknis sebenarnya telah dilakukan pemeriksaan atas bangunan tersebut dengan cara mengambil sampel beton dari bangunan dan hasil dinyatakan baik. Atas

dasar itu pemerintah daerah mengeluarkan Sertifikat Layak Fungsi (SLF) sebagai dokumen yang membuktikan kelayakan dari bangunan.1 Sebagai pihak yang berwenang menerbitkan SLF, pemerintah daerah memiliki tugas untuk memastikan bahwa semua prosedur kelengkapan dalam penerbitan SLF telah dipenuhi.2

Sebelumnya, masalah kepatuhan SLF sudah pernah dikaji ulang pasca robohnya suatu lantai khusus yang disebut lantai mezanin di dalam gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil audit BPK Perwakilan Provinsi DKI Jakarta terhadap kinerja dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM-PTSP)

1 Endah Harisun, “Kajian Sistem Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Gedung di Kota Ternate Propinsi Maluku Utara”, Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING, VOL. 3 NO. 1, Maret 2013, p. 14; Octavianna Evangelista dan Hanafi Tanawijaya, “Analisis Mengenai Pertanggungjawaban Pengembang Rumah Susun terkait Ketiadaan Sertifikat Laik Fungsi menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun juncto Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Studi Kasus Apartemen Parama Cilandak Jakarta Selatan), Jurnal Hukum Adigama, Vol. 1 No. 1, 2018, pp. 21-22.

2 Bonfilio Mahendra Wahanaputra Ladjar, “Gedung Empat Lantai di Slipi Ambruk”, Kompas.com, 6 Januari 2020,

https://megapolitan.kompas.com/read/2020/01/06/10 524341/gedung-empat-lantai-di-slipi-ambruk (diakses 9 Januari 2020).

(3)

DKI Jakarta, yang dilaporkan dalam kurun waktu mulai tanggal 2 Agustus hingga 12 Oktober tahun 2017 menunjukkan bahwa ditemukan 23 (dua puluh tiga) gedung di Jakarta yang melanggar Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Penelitian terhadap dokumentasi dari 23 gedung menunjukkan hasil yang bervariasi mengenai SLF, yakni terdapat masa berlaku SLF yang sudah habis dan terdapat pula gedung yang dibangun tanpa memiliki SLF. Laporan ini sudah barang tentu menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat yang banyak melakukan aktivitas di gedung bertingkat di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa laporan BPK tersebut hanya memperlihatkan sebagian kecil dari semua gedung bertingkat yang ada di Jakarta. Belum lagi beberapa apartemen atau rumah susun yang sudah terlanjur dipasarkan dan dijual ke konsumen tapi belum mengantongi SLF.3

3 “23 Pengembang Diduga Langgar Aturan Kelayakan Bangunan. Sanksi Ringan Pengawasan pun Lemah”, Koran Tempo, Edisi 15 November 2017,

https://koran.tempo.co/read/metro/423977/23- pengembang-diduga-langgar-aturan-kelayakan-bangunan? ; Hendra Friana, “BPK Temukan 23 Gedung di Jakarta Langgar SLF; Anies: Lebih Banyak”, tirto.id,

Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta mencoba memberikan sanksi tegas melalui pemberlakuan Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2010 tentang Bangunan Gedung. Hal yang sama juga dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya yang menerbitkan Peraturan Walikota Surabaya No. 14 Tahun 2018 tentang Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung. Kedua peraturan tersebut memerintahkan agar setiap bangunan gedung baik non hunian, apartemen maupun rumah susun memperoleh SLF sebelum bangunan gedung tersebut dimanfaatkan/ digunakan. Tapi dalam praktiknya masih banyak pemilik gedung terutama pelaku pembangunan rumah susun yang belum memperoleh SLF.

Bagi orang awam, keberadaan SLF mungkin belum menjadi suatu hal yang penting. Padahal pada prinsipnya SLF merupakan bukti bahwa pemilik gedung telah melakukan pembangun gedung yang bersangkutan sesuai standardisasi, baik

17 Januari 2018, https://tirto.id/bpk-temukan-23-gedung-di-jakarta-langgar-slf-anies-lebih-banyak-cDn4 (diakses 12 Mei 2020).

(4)

dalam aspek kesesuaian fungsi hingga aspek keselamatan dan kesehatan, termasuk sebagai bukti dalam rangka penghindaran kecelakaan kerja.4 Ketiadaan SLF membuktikan tidak adanya jaminan keamanan dan keselamatan bagi pengguna dan pemilik bangunan. Dampaknya mungkin tidak dirasakan dalam waktu dekat. Namun dalam jangka panjang, ketika terjadi kecelakaan gedung barulah orang berpikir betapa pentingnya SLF. Belum lagi dengan penguasaan dan pemilikan bangunan seperti rumah susun atau apartemen. Salah satu syarat agar pelaku pembangunan dapat menjual satuan rumah susunnya adalah SLF. Keberadaan SLF menjadi penting karena berhubungan dengan penerbitan akta pertelaan dan Sertifikat HMSRS (SHMSRS) atau Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKBG).

Terlepas dari itu, pemerintah daerah juga memberi andil atas terjadinya pelanggaran hukum khususnya

4 Kanyaka Prajnaparamita, “Aspek Hukum

Sertifikat Layak Fungsi (SLF) Bangunan dalam rangka Penghindaran Kecelakaan Kerja”, Adinistrative Law & Governance Journal, Vol. 1 Edisi 4, November 2018, pp. 391-396.

pelanggaran SLF. Di banyak praktik, banyak bangunan gedung yang meskipun sudah berdiri lama tapi baru mengantongi SLF Sementara. Meskipun UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan mengatur cara-cara pencegah, penyalahgunaan wewenang dari pejabat pemerintah, namun dalam praktiknya masih terjadi kendala dalam pengurusan SLF. Prosedur yang berbelit-belit, oknum nakal pejabat daerah serta minimnya informasi dan sosialisasi tentang SLF ikut memberi andil dalam proses penerbitan SLF. Berdasarkan latar belakang tersebut, tulisan ini membahas urgensi atau pentingnya suatu SLF sebagai perlindungan hak asasi

manusia khususnya bagi

pengguna/penghuni gedung bangunan. SLF sebagai Dokumen Kelaikan Bangunan Gedung

Secara yuridis, masalah bangunan gedung sudah diatur dalam UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dan PP No. 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang

(5)

Bangunan Gedung. Dalam Pasal 71 ayat (1) PP No. 36/2005 diperintahkan agar setiap bangunan gedung memiliki SLF sebagai syarat agar bangunan tersebut dapat digunakan/dimanfaatkan. Hal ini dimaksudkan agar pemilik atau pengguna bangunan gedung memperoleh jaminan keselamatan dalam bentuk kelaikan fungsi bangunan. Penerbitan SLF tidak hanya untuk bangunan tunggal saja tapi juga untuk bangunan bertingkat seperti apartemen, gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan,5 bahkan juga untuk jalan atau ruas jalan,6 dan lain sebagainya. Pada saat ini ketentuan yang mengatur SLF tertuang dalam Peraturan Menteri PUPR No. 27/PRT/M/2018 tentang Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung.

Penerbitan SLF sebagai dokumen yang membuktikan bahwa laik-fungsi suatu bangunan dilakukan oleh Pemerintah

5 Petrus Mahesa Kusuma, Shinta Hadiyantina,

Agus Yulianto, “Efektivitas Pasal 70 ayat (2) Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 6 Tahun 2014 tentang Bangunan Gedung terkait Bangunan Pusat Perbelanjaan tanpa Sertifikat Laik Fungsi (Studi di Wilayah Kerja Kota Bekasi)”, Jurnal Hukum, Universitas Brawijaya, September 2019.

6 Jimmy Adwang, “Pemutakhiran Sertifikasi Uji Laik Fungsi Jalan pada Ruas Jalan Nasional Lingkar Kakorotan Kabupaten Kepulauan Talaud”, TEKNO, Vol. 17 No. 74, April 2020, pp. 68-72.

Daerah didahului dengan pemeriksaan atau pengukuran. Untuk menentukan laik tidaknya fungsi suatu bangunan diukur berdasarkan beberapa parameter yaitu :7 a. Bangunan memiliki tingkat keselamatan

bagi penghuni dan lingkungannya. Persyaratan tingkat keselamatan bangunan gedung diwujudkan dalam kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan serta perlindungan terhadap bahaya kebakaran dan petir;

b. Bangunan memiliki tingkat kesehatan yang baik bagi penghuni dan lingkungannya. Tingkat kesehatan suatu bangunan dalam hal ini meliputi sistem air bersih yang sehat, sanitasi dan pengaturan udara;

c. Bangunan memiliki tingkat kenyamanan bagi penghuni dan lingkungannya. Tingkat kenyamanan bangunan dapat dilihat dari berfungsinya pengaturan udara, ruang gerak dan temperatur; d. Bangunan memberikan kemudahan bagi

seluruh penggunanya, termasuk kelompok lansia dan penyandang cacat. Hal tersebut mencakup pengaturan ke dan dari fungsi-fungsi ruang dalam menunjang aktivitas di dalam bangunan. Pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung dilakukan setelah dipenuhi persyaratan administrasi dan persyaratan teknisnya. Dokumen-dokumen

7 Arief Sabaruddin, A-Z Persyaratan Teknis Bangunan, (Jakarta: Griya Kreasi, 2013) Hal. 102

(6)

yang harus dilampirkan dalam persyaratan administratif berupa :

a. Izin Mendirikan Bangunan (IMB);

b. Sertifikat hak atas tanahnya atau surat perjanjian pemanfaatan atau penggunaan tanah, apabila pemilik bangunan gedung bukanlah pemegang hak atas tanah yang bersangkutan; c. Status kepemilikan bangunan gedung

berupa Sertifikat HMSRS atau SKBG atau surat perjanjian pemanfaatan bangunan gedung jika pemiliknya bukan pemilik bangunan yang bersangkutan.

Lain halnya dengan persyaratan teknis, di mana harus dipenuhi persyaratan tata bangunan dan keandalan bangunan gedung. Khusus untuk persyaratan tata bangunan, syarat-syarat yang harus dipenuhi meliputi :

a. persyaratan peruntukan bangunan; b. persyaratan intensitas bangunan; c. persyaratan arsitektur bangunan;

dan

d. persyaratan pengendalian dampak lingkungan

Dari persyaratannya, penerbitan dan pemberian SLF dibedakan atas beberapa SLF, antara lain :

1. SLF Pertama

SLF Pertama diterbitkan untuk bangunan gedung yang tidak hanya sudah selesai dibangun akan tetapi juga telah

memenuhi persyaratan kelaikan fungsi dan penggunaannya sesuai dengan IMB. 2. SLF Pendahuluan

SLF Pendahuluan dapat diberikan atas sebagian dan/atau keseluruhan bangunan gedung yang secara teknis sudah memenuhi persyaratan kelaikan fungsi namun masih terdapat terdapat beberapa bagian bangunan gedung yang perlu diperbaiki. Perpanjangan SLF ini dapat diberikan dengan masa berlaku paling lama 6 (enam) bulan dan tidak dapat diperpanjang

3. SLF Sementara

SLF Sementara adalah sertifikat yang diberikan atas sebagian dan/atau keseluruhan bangunan gedung yang secara teknis sudah memenuhi persyaratan kelaikan fungsi namun terdapat kewajiban yang tercantum dalam Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT) yang belum dipenuhi karena pemegang SIPPT belum dapat menyelesaikan keseluruhan kewajiban yang ada dalam SIPPT. Jangka waktu berlaku SLF sementara paling lama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang hanya 1 (satu) kali dengan jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun. 4. SLF Perpanjangan

Perpanjangan SLF diterbitkan atas bangunan gedung yang telah memiliki SLF dan masih memenuhi persyaratan kelaikan fungsi.

Sanksi yang dapat dikenakan pada pemilik bangunan gedung yang tidak memenuhi kewajibannya dalam penyelenggaraan bangunan gedung berupa sanksi

(7)

administratif maupun sanksi pidana. Dalam Pasal 44 UU No. 28/2002 secara tegas dinyatakan: “Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi, dan/atau persyaratan, dan/atau penyelenggaraan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini dikenai sanksi administratif dan/atau sanksi pidana”. Bagi pemilik bangunan di DKI Jakarta, pengenaan sanksinya merujuk pada Perda No. 7 tahun 2010 berupa sanksi pidana paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah).

Tanggung Jawab Pemilik Bangunan dan Pemerintah Daerah Sebagai Bentuk Perlindungan HAM

Tanggung Gugat Pemilik Bangunan Gedung

Dalam konteks ini, akan timbul pertanyaan mengenai hubungan antara HAM dan tanggung gugat pemilik bangunan gedung. Mengutip Theo Huijbers, terdapat 2 (dua) bentuk hak-hak manusia yaitu hak yang didasarkan pada ketentuan undang-undang dan hak yang dianggap melekat

pada setiap manusia sebagai manusia (biasa disebut hak asasi) yang bersifat mendasar,8 yang diakui dan dipandang sebagai bagian humanisasi hidup manusia akan tempat dan tugasnya di dunia9. Hak-hak manusia tersebut di dalam ilmu hukum dikenal dengan hak-hak subjektif yang meliputi hak-hak pribadi

(persoonlijkheidscrechten), hak-hak kekayaan (vermogensrecht), hak-hak kebebasan dan hak atas kehormatan dan nama baik.

Dalam Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, salah satu hak manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan keadaan apapun dan oleh siapapun adalah hak atas rasa aman. UU HAM menetapkan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan hak miliknya10. Perlindungan atas rasa aman tersebut juga melekat pada pengguna atau penghuni bangunan gedung berupa hak untuk

8 Theo Huijbers, Filsafat Hukum (Yogyakarta : Kanisius, 1995), hal 96-97.

9 Ibid, hal.104.

10 Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM

(8)

mendapatkan perlindungan atas keselamatan diri dan hak miliknya. Bukan tidak mungkin bangunan yang tidak laik fungsi akibat kelalaian atau kesengajaan pemilik bangunan gedung akan menimbulkan kerugian dalam bentuk rasa aman pada pengguna atau penghuni bangunan gedung.

Secara perdata, ketiadaan SLF dari pemilik bangunan menunjukkan adanya kelalaian bahkan mungkin kesengajaan dalam memelihara kelaikfungsian bangunan miliknya dan karenanya dapat dimintai tanggung gugatnya atas dasar perbuatan melawan hukum. Tanggung gugat pemilik bangunan baru dapat dituntut ketika terjadi kerugian pada pihak-pihak yang memanfaatkan bangunan gedung. Ketentuan yang mengatur tanggung gugat pemilik bangunan gedung terdapat dalam Pasal 1365 jo 1369 KUH Perdata. Pasal 1369 KUH Perdata menyebutkan :

“Pemilik sebuah gedung adalah bertanggung jawab tentang kerugian yang disebabkan karena ambruknya gedung itu untuk seluruhnya atau sebagian. Jika ini terjadi karena kelalaian dalam pemeliharaannya, atau sesuatu cacat dalam pembangunan tataannya.”

Untuk bisa menggugat pemilik bangunan gedung, pengguna atau penghuni bangunan gedung dapat menggunakan Pasal 1365 KUH Perdata tentang perbuatan melawan hukum

(onrechtmatigedaad) sebagai dasar gugatannya. Jika sebelumnya perbuatan melawan hukum dimaknai dalam arti

onwetmatigedaad (perbuatan yang melanggar kaidah-kaidah tertulis berupa pelanggaran atas kewajiban hukum si pelaku dan hak-hak subjektif orang lain), sejak tahun 1919 pengertian perbuatan melawan hukum dimaknai dalam arti

onrechtmatigedaad. Menurut Suharnoko,

onrechtmatigedaad merupakan “setiap perbuatan atau tidak berbuat yang tidak hanya melanggar hak subjektif orang lain (hak yang ditentukan undang-undang), bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku (kewajiban yang ditentukan undang-undang), atau bertentangan dengan tata susila atau bertentangan dengan

(9)

kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian dalam pergaulan masyarakat”11.

Meskipun perbuatan melawan hukum yang dianut saat ini diartikan sebagai

onrechtmatigedaad, oleh ajaran relativitas (Schutznormtheorie). Sedangkan aplikasi ajarannya dapat ditemukan dalam keputusan Hoge Raad Belanda tanggal 17 Januari 1958. Dalam kasus tersebut, ada seseorang yang bertindak sebagai dokter gadungan, yang mengakibatkan sejumlah dokter lainnya yang juga membuka tempat praktik di sekitar tempat praktik dokter gadungan tersebut mengalami kerugian, yakni berkurangnya penghasilan mereka. Dalam perkara ini terbukti ada perbuatan melawan hukum dalam bentuk pelanggaran undang-undang yang menetapkan orang bukan dokter berpraktik sebagai dokter. Selain itu terbukti ada kerugian yang ditimbulkan oleh dokter gadungan tersebut. Namun Hoge Raad menolak gugatan ganti rugi tersebut atas dasar teori schutznorm.

Dalam keputusan Hoge Raad diberikan

11 Suharnoko, Hukum Perjanjian Teori dan Analisa Kasus (Jakarta : Prenada Media, 2004), hal. 121.

suatu alasan bahwa undang-undang hanya melarang orang yang bukan dokter berpraktik sebagai dokter dengan tujuan untuk melindungi masyarakat dari praktik dokter ilegal; dan bukan untuk melindungi pendapatan dari dokter lainnya yang juga melakukan praktik wilayah tersebut. Menurut schutznorm theorie, suatu “perbuatan yang bertentangan dengan kaidah hukum dan oleh karenanya adalah melawan hukum, akan menyebabkan si pelaku dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian yang disebabkan oleh perbuatan tersebut, bilamana norma yang dilanggar itu dimaksudkan untuk melindungi penderita”12.

Untuk membuktikan ada tidaknya perbuatan melawan hukum, ada beberapa persyaratan yang harus dibuktikan, yaitu :

a. Adanya suatu perbuatan.

Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan yang bersifat positif (berbuat sesuatu) maupun yang bersifat negatif (tidak berbuat sesuatu)13. Ketidaklaikan

12 Rosa Agustina dikutip dari M. A. Moegni Djojodirjo, Perbuatan Melawan Hukum (Jakarta: Program Pascasarjana FHUI, 2003), hal. 41.

13 Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan ( Bandung : Citra Aditya Bakti, 2016), hal. 106.

(10)

bangunan yang dibuktikan dari tidak diperoleh SLF membuktikan adanya perbuatan yang bersifat positif maupun negatif dari pemilik bangunan.

b. Perbuatan tersebut bersifat melawan hukum.

Perbuatan pemilik bangunan gedung yang tidak memperoleh SLF merupakan perbuatan yang melanggar kewajiban hukumnya, melanggar hak subjektif penghuni/pengguna bangunan gedung sekaligus melanggar kepatutan, kesusilaan, ketelitian dan kehati-hatian dalam masyarakat serta harta benda penghuni/pengguna bangunan gedung.

c. Ada kerugian.

Kerugian yang harus ditanggung oleh penghuni/pengguna bangunan gedung tidak hanya dalam bentuk hilangnya harta benda (kerugian materiil) tapi juga dalam bentuk kerugian imaterial yang berupa rasa sakit, rasa takut, hilangnya nyawa yang akan dinilai dengan uang.

d. Ada kesalahan.

Kesalahan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kesalahan hukum maupun kesalahan sosial yaitu suatu kegagalan seseorang untuk dapat berperilaku ideal dalam masyarakat sebagai manusia yang normal dan wajar. Pemilik bangunan yang tidak mengantongi SLF termasuk perbuatan yang salah apalagi undang-undang memerintahkan pemilik bangunan untuk mengurus SLF bangunan miliknya.

e. Ada hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara kesalahan dengan kerugian. Kerugian yang diderita pengguna/penghuni bangunan dalam bentuk hilangnya hak milik atas kekayaannya, rasa sakit, rasa

tidak aman dari

pengguna/penghuni bangunan merupakan dampak dari kesalahan atau kelalaian pemilik bangunan yang tidak memelihara kelaikan fungsi bangunan (tidak memiliki SLF).

Ganti rugi sebagai beban yang harus dipikul pemilik bangunan gedung merupakan aktualisasi dari konsep keadilan terutama dalam hubungan antar manusia yang diatur oleh undang-undang. Aristoteles dalam bukunya yang berjudul

Nicomachean Ethics mengatakan bahwa keadilan adalah kebajikan yang berkaitan dengan hubungan antar manusia, baik yang timbul karena perjanjian maupun karena undang-undang. Pandangan berbeda disampaikan Hugo Grotius yang mengatakan prinsip ganti rugi pada dasarnya harus diterima sebab hukum mencoba untuk membagi kerugian itu secara adil. Menurut Grotius terdapat 4 (empat) prinsip dasar yang berlaku dalam

(11)

hubungan antar manusia, yaitu prinsip kupunya kau punya, prinsip ganti rugi, prinsip kesetiaan pada janji (pacta sunt servanda), dan prinsip perlunya hukuman.14 Demikian pula dengan prinsip perlunya hukuman. Menurutnya hukum adalah suatu norma yang menuntut dan ada sanksi bagi mereka yang tidak bisa menerimanya15. Sedangkan dalam pandangan John Rawls, keadilan diukur berdasarkan keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama16. Dari pendapat para ahli tersebut, pada dasarnya ganti rugi yang dibebankan pada pemilik bangunan gedung tidak semata-mata hanya mengatur masalah kebajikan tapi lebih dalam lagi ditujukan pada keseimbangan hak dan kewajiban antar umat manusia yang berujung pada penghormatan atas hak asasi penghuni atau pengguna bangunan gedung.

14 Theo Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah (Yogyakarta : Kanisius, 1982), hal. 60, 87-88.

15 Ibid., hal. 88.

16 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995), hal. 159.

Tanggung Jawab Pemerintah Daerah Dalam Penerbitan SLF

Pada dasarnya wewenang yang dimiliki pemerintah daerah dalam menerbitkan SLF merupakan wewenang yang sifatnya hukum publik. Wewenang jenis ini yaitu wewenang yang menimbulkan akibat-akibat hukum yang sifatnya publik dan berkaitan dengan suatu jabatan (ambt) yang bisa bersumber dari atribusi, delegasi dan mandat.17 Menurut Miriam Budiarjo, ada beberapa pendapat yang saling berbeda satu dengan yg lain terkait istilah kewenangan dan wewenang. Sebagian mengatakan istilah kewenangan sama dengan wewenang. Pendapat lainnya mengistilahkan wewenang dengan

“bevoegheid”. Namun menurut Phillipus M. Hadjon perbedaan antara kewenangan dengan “bevoegheid” terletak pada karakter hukumnya.18 Ditilik dari kewenangan mengatur bangunan gedung di wilayahnya, kewenangan pemerintah

17 Ali Marwan HSB dan Evlyn Martha Julianthy, “Pelaksanaan Kewenangan Atribusi Pemerintah Daerah berdasarkan Undang-undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah”, Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 15 No. 2, Juli 2018, pp. 1-8.

18 Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998), hal. 35-36.

(12)

daerah dalam menerbitkan SLF lahir dari pelimpahan wewenang (delegasi) yang bersumber pada UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Menteri PUPR No. 27/PRT/M/2018.

Namun demikian bisa saja tindakan pemerintah daerah digolongkan sebagai perbuatan hukum perdata (privat) jika perbuatan hukum tersebut dilakukan oleh pejabat (ambtsdrager) atau pemerintah daerah dalam kapasitasnya sebagai badan hukum publik19. Misalnya tindakan oknum pemerintah daerah yang mempersulit pemilik bangunan gedung dalam mengurus permohonan dan perpanjangan SLF, padahal secara prosedural telah memenuhi persyaratan.

Secara prosedural, penerbitan SLF merujuk pada 3 (tiga) landasan utama yaitu landasan negara hukum, landasan demokrasi, dan landasan instrumental yaitu daya guna dan hasil guna20. Landasan

19 Philipus M. Hadjon, et. al, Pengantar Hukum

Administrasi Indonesia (Introduction to The

Indonesian Administrative Law) (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2015), hal. 134-135.

20 Ibid, hal. 261.

negara hukum tercantum dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan negara Indonesia sebagai negara hukum

(rechtstaat) dan menjamin penghormatan HAM.21 Jadi, menjadi kewajiban pemerintah daerah dan aparaturnya untuk menerbitkan SLF secara benar dengan berpedoman pada prinsip rechtmatigheid.

Maksud dari rechtmatigheid adalah dalam setiap keputusan yang dibuat baik oleh pemerintah maupun administrasi tidak

boleh melanggar hukum

(onrechtmatigeoverheidsdaad). 22

Dari kacamata hukum administratif, penyalahgunaan wewenang atau tindakan sewenang-wenang dari aparatur pemerintah daerah melanggar UU No. 30/2014 tentang AUPB dan dapat dikenai sanksi administratif. Ketentuan AUPB harus diimplementasikan dalam penerbitan dan

21 Zaherman Armandz Muabezi, “Negara

Berdasarkan Hukum (Rechtsstaats) Bukan Kekuasaan (Machtsstaat), Jurnal Hukum dan Peradilan, Vol. 6 No. 3, November 2017, pp. 421-446; Achmad Irwan Hamzani, “Menggagas Indonesia sebagai Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya”, Yustisia, Edisi 90, September – Desember 2014, p. 138.

22 Andrey Sujatmoko, dikutip dari Indroharto, Pemulihan Korban Pelanggaran Berat HAM Menurut Prinsip Tanggung Jawab Negara (Jakarta : Rajawali Pers, 2019), hal. 47-48.

(13)

perpanjangan SLF yang didasarkan pada 3 (tiga) asas penting, yaitu:

1. Asas Legalitas

2. Asas Perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia

3. Asas-asas umum pemerintahan yang baik yang meliputi :

a. Asas kepastian hukum; b. Asas kemanfaatan; c. Asas ketidakberpihakan; d. Asas kecermatan;

e. Asas tidak menyalahgunakan kewenangan;

f. Asas keterbukaan;

g. Asas kepentingan umum; dan h. Asas pelayanan yang baik

Selain sanksi administratif, tindakan pemerintah daerah dan aparatnya juga dapat dikenai sanksi perdata. Pelanggaran peraturan tentang SLF menyebabkan pemerintah daerah maupun pejabatnya dapat digugat atas dasar perbuatan melawan hukum. Sebagai dasar hukum dapat dilihat putusan Mahkamah Agung No. 838K/Sip/1970 yang merumuskan kriteria

rechtmatigheid tindakan penguasa yang meliputi undang-undang dan peraturan formal, kepatutan dalam masyarakat yang harus dipatuhi oleh penguasa dan perbuatan kebijaksanaan penguasa. Putusan tersebut kemudian dipertegas

melalui Surat Edaran Mahkamah Agung No. MA/Pemb/0159/1977 tanggal 25 Februari 197723.

Dari kriteria yang pertama yaitu undang-undang dan peraturan formal, penerbitan SLF yang menjadi kewenangan pemerintah daerah merupakan aturan yang diperintahkan oleh UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Menteri PUPR No. 27/PRT/M/2018 tentang SLF. Meskipun berdasarkan peraturan perundangan tentang otonomi daerah pemerintah daerah diberi kewenangan untuk mengatur sendiri daerahnya, namun kewenangan itu dibatasi oleh UU No. 30/2014.

Kriteria yang kedua mengenai kepatutan yang harus diperhatikan oleh penguasa. Dalam penerbitan SLF, pemerintah daerah dan aparaturnya harus selalu memperhatikan kepatutan yang berlaku di masyarakat. Dalam Surat Edaran Mahkamah Agung No. MA/Pemb/0159/1977 tanggal 25 Februari 1977 antara lain diserukan :

(14)

“kepada ketua pengadilan negeri maupun pengadilan tinggi di seluruh Indonesia agar... mengadili perkara di mana pemerintah digugat melakukan perbuatan melanggar hukum hendaknya mengadakan keseimbangan antara perlindungan terhadap perseorangan (individual) dan terhadap kepentingan persekutuan seperti penguasa...”.

Surat Edaran MA tersebut sejalan dengan asas perlindungan HAM dari UU No. 30/2014 tentang AUPB yang menegaskan bahwa pelaksanaan tugas administrasi pemerintahan baik oleh badan pemerintah maupun pejabat pemerintah tidak boleh melanggar hak-hak masyarakat yang dijamin oleh UUD 1945. Dalam UU No. 39 Tahun 1999 disebutkan24:

“setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak sengaja, atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.”

24 Pasal 1 angka 6 Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Kriteria ketiga mengenai perbuatan kebijaksanaan penguasa. Dalam Surat Edaran MA disebutkan bahwa pengadilan baru memiliki kewenangan atau kompetensi untuk menilai kebijakan pemerintah sebagai perbuatan melawan hukum jika terdapat unsur kesewenang-wenangan (willekeur)

dan penyalahgunaan wewenang

(detournement de povoir)25. Prinsipnya, negara yang diwakili pemerintah daerah bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya yang melawan hukum atau kelalaiannya26. Tanggung jawab itu juga meliputi tanggung jawab atas penyelenggaran bangunan yang layak huni dengan cara menerbitkan SLF. Konsep tentang tanggung jawab dari negara dalam hal ini pemerintah daerah, berangkat dari perintah konstitusi terutama Pasal 281 ayat (4) UUD 1945 bahwa perlindungan, pemajuan, penegakkan, dan pemenuhan HAM adalah tanggung jawab negara terutama pemerintah. Penegasan atas

25 Philipus M. Hadjon, Loc.Cit.

26 Andrey Sujatmoko dikutip dari Huala Adolf, Op. Cit, hal. 40.

(15)

ketentuan Pasal 281 ayat (4) UUD 1945 diatur dalam UU No. 39/1999 tentang HAM.

Kesimpulan

Untuk melindungi hak asasi penghuni/pengguna bangunan gedung dalam bentuk rasa aman, perlu ada kesadaran yang baik dan benar dari setiap pemilik bangunan untuk selalu memelihara kelaikfungsian bangunannya dengan tetap mengurus permohonan SLF untuk bangunan yang baru. Apabila bangunan itu pernah diterbitkan SLFnya, diupayakan untuk selalu mengurus permohonan perpanjangan SLF bangunan gedungnya.

Pelaksanaan pemerintah di daerah khususnya di bidang pengawasan bangunan gedung, harus dilaksanakan dengan tetap mengedepankan perlindungan HAM dan pelayanan masyarakat dengan berpedoman pada asas-asas umum pemerintahan yang baik. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi lagi kasus-kasus yang merugikan penghuni/pengguna bangunan gedung sekaligus memberikan jaminan kepastian

hukum dalam penguasaan unit-unit atau bagian-bagian dari bangunan gedung.

DAFTAR PUSTAKA Buku

Agustina, Rosa. Perbuatan Melawan Hukum. Jakarta: Program Pascasarjana FHUI, 2003.

Badrulzaman, Mariam Darus. Kompilasi Hukum Perikatan. Bandung : Citra Aditya Bakti, 2016.

Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998.

Darmodiharjo, Darji. dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995.

Hadjon, Philipus M. et. al, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia (Introduction to The Indonesian Administrative Law). Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2015. Huijbers, Theo, Filsafat Hukum Dalam

Lintasan Sejarah, Yogyakarta : Kanisius, 1982.

---, Filsafat Hukum

Yogyakarta : Kanisius, 1995.

Sabaruddin, Arief. A-Z Persyaratan Teknis Bangunan. Jakarta: Griya Kreasi, 2013.

Suharnoko. Hukum Perjanjian Teori dan Analisa Kasus. Jakarta : Prenada Media, 2004.

Sujatmoko, Andrey. Pemulihan Korban Pelanggaran Berat HAM Menurut Prinsip Tanggung Jawab Negara. Jakarta : Rajawali Pers, 2019.

Terbitan Berkala

Adwang, Jimmy. “Pemutakhiran Sertifikasi Uji Laik Fungsi Jalan pada Ruas Jalan Nasional Lingkar Kakorotan

(16)

Kabupaten Kepulauan Talaud”.

TEKNO, Vol. 17 No. 74, (April 2020): 68-72.

Bonfilio Mahendra Wahanaputra Ladjar, “Gedung Empat Lantai di Slipi Ambruk”, Kompas.com, 6 Januari 2020,

https://megapolitan.kompas.com/rea d/2020/01/06/10524341/gedung-empat-lantai-di-slipi-ambruk (diakses 9 Januari 2020).

Evangelista, Octavianna dan Hanafi Tanawijaya. “Analisis Mengenai Pertanggungjawaban Pengembang Rumah Susun terkait Ketiadaan Sertifikat Laik Fungsi menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun juncto Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Studi Kasus Apartemen Parama Cilandak Jakarta Selatan)”. Jurnal Hukum Adigama, Vol. 1 No. 1, 2018: 21-22.

Hamzani, Achmad Irwan. “Menggagas Indonesia sebagai Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya”.

Yustisia, Edisi 90, September – Desember 2014: 138.

Harisun, Endah. “Kajian Sistem Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Gedung di Kota Ternate Propinsi Maluku Utara”.

Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING, VOL. 3 NO. 1, Maret 2013: 14.

Mahesa Kusuma, Petrus, Shinta

Hadiyantina, Agus Yulianto.

“Efektivitas Pasal 70 ayat (2) Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 6 Tahun 2014 tentang Bangunan Gedung terkait Bagunan Pusat Perbelanjaan tanpa Sertifikat Laik Fungsi (Studi di Wilayah Kerja Kota

Bekasi)”. Jurnal Hukum, Universitas

Brawijaya, (September 2019).

Marwan HSB, Ali dan Evlyn Martha Julianthy. “Pelaksanaan Kewenangan Atribusi Pemerintah Daerah berdasarkan Undang-undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah”. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 15 No. 2, Juli 2018: 1-8.

Metro, “23 Pengembang Diduga Langgar Aturan Kelayakan Bangunan. Sanksi Ringan Pengawasan pun Lemah”,

Koran Tempo, Edisi 15 November 2017,

https://koran.tempo.co/read/metro/4 23977/23-pengembang-diduga-langgar-aturan-kelayakan-bangunan? Muabezi, Zaherman Armandz. “Negara

Berdasarkan Hukum (Rechtsstaats) Bukan Kekuasaan (Machtsstaat)”.

Jurnal Hukum dan Peradilan Vol. 6 No. 3, November 2017: 421-446. Prajnaparamita, Kanyaka. “Aspek Hukum

Sertifikat Layak Fungsi (SLF) Bangunan dalam rangka Penghindaran Kecelakaan Kerja”.

Adinistrative Law & Governance Journal, Vol. 1 Edisi 4, November 2018: 391-396.

Dokumen Hukum

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Indonesia. Undang-Undang No. 27 Tahun

2018 tentang Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung.

Indonesia. Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan.

Indonesia. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.

Surat Edaran Mahkamah Agung No. MA/Pemb/0159/1977.

Situs Web

Hendra Friana, “BPK Temukan 23 Gedung di Jakarta Langgar SLF; Anies: Lebih Banyak”, tirto.id, 17 Januari 2018,

https://tirto.id/bpk-temukan-23- gedung-di-jakarta-langgar-slf-anies-lebih-banyak-cDn4 (diakses 12 Mei 2020).

Figur

Memperbarui...

Related subjects :