54
BAB IV PENGEMBANGAN METODA PEMILIHAN SKEMA KPS
Pengelolaan air minum pada beberapa daerah di Indonesia saat ini dilaksanakan secara kerjasama antara PDAM dan pihak swasta. Meskipun begitu, PDAM dan swasta sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam penyediaan air minum masih mengalami penurunan kinerja untuk memenuhi kebutuhan air minum. Pencapaian yang diambil biasanya hanya didasarkan pada satu aspek tanpa melihat berbagai aspek yang terkait. Misalnya untuk mengatasi kerugian yang dialami oleh PDAM, diatasi dengan meningkatkan tarif dasar air tanpa melihat sebab-sebab permasalahan lainnya.
Keadaan tersebut membuat PDAM di Indonesia mengalami penurunan terus-menerus setiap tahunnya. Oleh sebab itu diperlukan suatu tinjauan baru pengelolaan air minum, yaitu dengan cara mengatasi permasalahan pengelolaan air minum dari seluruh aspek yang terkait.
4.1 Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Pelaksanaan KPS
Ide pengembangan Metoda Pemilihan Skema KPS (MPS-KPS) pengambilan keputusan untuk pemilihan skema KPS yang paling sesuai yang diterapkan pada investasi air minum didasarkan oleh metoda Pemilihan Skema KPS, penelitian-penelitian, serta teori-teori yang telah dikembangkan sebelumnya. MPS-KPS yang dikembangkan ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah pengambilan keputusan dalam menentukan skema kerjasama yang telah disesuaikan dengan kondisi di Indonesia, dan dapat digunakan pada PDAM-PDAM yang akan melaksanakan KPS. Untuk menentukan hasil skema yang sesuai, maka dibentuk jaringan ANP untuk mengetahui hubungan antar kriteria dan elemen. Dalam pengembangan MPS-KPS dilakukan beberapa kali perubahan kriteria dan elemen pada jaringan. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperbaiki MPS-KPS yang dikembangkan.
Pada awalnya aspek dalam MPS-KPS diambil langsung dari hasil studi pustaka, sehingga memiliki terlalu banyak kriteria dan elemen. Setiap elemen masih memiliki sub-sub elemen. Terlalu banyaknya elemen dan sub-sub elemen menyebabkan jaringan menjadi terlalu rumit dan susah dipahami. Hal ini diperkirakan akan menyebabkan kesulitan
55
dalam pembentukan dan pengisian kuisioner. Setelah melalui beberapa kali diskusi dengan pihak-pihak yang mengetahui mengenai KPS dan keadaan dalam PDAM maka dilakukan pengurangan beberapa elemen. Elemen-elemen yang memiliki tujuan sama dibuat menjadi satu elemen agar tidak terjadi tumpang tindih. Sub-sub elemen sebagian dibuat menjadi elemen atau dihilangkan karena dianggap sudah saling mewakili atau tidak terlalu relevan dengan keadaan PDAM-PDAM di Indonesia. Kriteria dan elemen dibuat menjadi lebih umum namun tetap mewakili aspek-aspek yang dikaji.
Setelah melalui beberapa proses pergantian, maka dihasilkan jaringan yang dapat mewakili semua aspek KPS yang ingin ditinjau serta tidak terlalu rumit. Jaringan yang baru ini terdiri dari tujuh kriteria dan dua puluh enam elemen. Jaringan yang baru tidak memiliki sub-sub elemen. Dengan adanya jaringan yang hanya terdiri dari kriteria dan elemen ini diharapkan responden dapat memahami dengan cepat dan mudah aspek-aspek yang ingin dikaji dalam pemilihan skema KPS serta hubungan yang terjadi antar kriteria dan elemen dalam jaringan. Evaluasi dan perubahan terhadap MPS-KPS jaringan dilakukan dengan tujuan memudahkan responden dalam memahami struktur jaringan sehingga dapat mengisi kuisioner sesuai dengan yang diharapkan. Berikut ini disajikan pembahasan mengenai enam kriteria atau aspek yang mempengaruhi pelaksanaan KPS.
1. Aspek Pencapaian Yang Diharapkan
Aspek ini dipilih dengan tujuan untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dengan adanya KPS. Dengan adanya pelaksanaan KPS pada pengelolaan air minum maka diharapkan akan terjadi perbaikan kinerja PDAM sehingga dapat memenuhi kebutuhan pelanggan selama dua puluh empat jam perhari dengan kulitas yang memenuhi standar Kepmendagri Nomor 47 Tahun 1999. Dalam hal ini, pencapaian yang diharapkan dengan adanya KPS ada lima kriteria, yaitu:
a) Meningkatkan kapasitas produksi b) Memperluas jaringan distribusi c) Meningkatkan efisiensi operasi
d) Merehabilitasi / memperbaharui fasilitas eksisting e) Meningkatkan kualitas pelayanan
56
2. Aspek lingkungan / kondisi negara secara umum
Aspek lingkungan / kondisi negara secara umum dipilih karena berkaitan dengan keadaan yang menunjang untuk melaksanakan usaha pada suatu negara. Untuk melaksanakan KPS maka investor akan melihat atau memeriksa terlebih dahulu kondisi suatu negara. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam suatu negara yang menunjang dilaksanakannya program KPS. Keadaan ini biasanya dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi sektor ekonomi sebagai akibat adanya ketidakstabilan nilai mata uang dan undang-undang yang mendukung investasi, aturan, dan institusi yang melengkapi. Aspek ini diambil berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Vives, et.al. dan Pramono. Aspek lingkungan/ kondisi negara secara umum terbagi menjadi enam kriteria, yaitu:
a) Stabilitas politik
b) Kondisi-kondisi makro ekonomi, seperti masalah inflasi, tingkat suku bunga, pajak, dan lainnya.
c) Pendapatan per kapita
d) Komitmen pemberantasan korupsi e) Kerangka hukum di semua sektor
f) Ruang fiskal atau kemampuan keuangan pemerintah
3. Aspek kinerja PDAM / penyedian air minum lokal saat ini
Aspek ini merupakan aspek yang berkaitan dengan pengelolaan manajemen PDAM dan pemeliharaan sistem infrastruktur yang berhubungan dengan penyediaan air minum agar sistem tersebut dapat berjalan setiap harinya, termasuk pelayanan kepada masyarakat. Aspek ini diambil dari Kepmendagri Nomor 47 Tahun 1999 dan riset yang dilakukan oleh Pramono. Aspek ini terbagi menjadi empat kriteria, yaitu :
a) Efisiensi investasi, yaitu kemampuan untuk melakukan investasi pembangunan atau pengembangan fisik
b) Efisiensi operasi dan pemeliharaan, yaitu penekanan biaya-biaya input sedemikian rupa tanpa mempengaruhi standar produk atau layanan
c) Kesehatan keuangan perusahaan, seperti pendapatan operasi, kemampuan bayar hutang, dan lainnya
57
d) Tanggung jawab terhadap pengguna, seperti kualitas pelayanan, cakupan atau akses pelayanan, kemudahan akses, pemerataan, dan lainnya.
4. Aspek isu-isu lingkungan dan sosial
Aspek isu-isu lingkungan dan sosial berhubungan dengan tingkat penerimaan masyarakat terhadap ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan (misalnya tarif dasar air) karena pada dasarnya masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa air merupakan komoditas bebas yang dapat dimiliki dan dinikmati oleh siapapun secara bebas. Aspek ini diambil berdasarkan kajian yang terdapat pada PPP-Readiness Self Assessment. Oleh sebab itu, pada umumnya aspek lingkungan dan sosial terbagi menjadi empat kriteria, yaitu :
a) Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat b) Kesetaraan akses terhadap pelayanan
c) Kebijakan lingkungan yang berlaku
d) Penerimaan/persepsi masyarakat terhadap peran serta swasta di sektor air minum
5. Aspek kemampuan institusional
Merupakan aspek yang memuat mengenai kebijakan perkembangan dan pelaksanaaan KPS agar tidak meninggalkan tujuan utama dibentuknya KPS serta aturan mengenai keterbatasan unit kerja pemerintah dan swasta dalam KPS. Aspek ini diambil dari hasil penelitian Vives, et. al. Pada dasarnya, aspek ini terdiri dari dua kriteria, yaitu :
a) Ketersediaan perangkat hukum dan regulasi-regulasi yang terkait dengan KPS b) Ketersediaan unit pelaksana dan kebijakan KPS
6. Aspek skema KPS yang tersedia
Aspek ini terdiri dari skema-skema kerjasama pemerintah dengan swasta yang umum dilaksanakan di Indonesia (ADB, 2000; Gleick, et.al, 2002). Aspek ini terdiri dari lima skema yaitu :
a) Concession
b) BOT (Build-Operate-Transfer) c) Lease contract
58
e) Service contract
4.2 Metoda Konseptual Pengambilan Keputusan Skema KPS
ANP merupakan gabungan dari dua bagian. Bagian pertama terdiri dari hierarki kontrol atau jaringan dari kriteria dan subkriteria yang mengontrol interaksi. Bagian kedua adalah jaringan pengaruh-pengaruh diantara elemen dan kluster. Untuk membuat suatu jaringan, maka perlu diketahui hubungan antara kluster dan elemen. Pada MPS-KPS yang dikembangkan ini, para pengambil keputusan akan memberikan penilaian terhadap kriteria-kriteria dan elemen-elemen yang dibandingkan secara berpasangan sebagaimana yang dilakukan dalam AHP. AHP dan ANP, keduanya menggunakan prosedur untuk mendapatkan skala rasio seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Adanya pengaruh-pengaruh feedback dalam ANP membutuhkan matriks besar yang dikenal dengan supermatriks yang berisi suatu set dari sub-matriks. Supermatriks juga digunakan untuk mengetahui hubungan saling ketergantungan antar kriteria dan elemen sehinga supermatriks ini diharapkan dapat menangkap pengaruh dari elemen-elemen pada elemen-elemen lain dalam jaringan. Pada penelitian ini perhitungan bobot-bobot pada supermatriks dilakukan dengan menggunakan bantuan software SuperDecisions 1.6.0.
Software SuperDecisions 1.6.0. adalah alat bantu (software) yang digunakan untuk memudahkan dalam pembentukan dan perhitungan matriks. Software ini merupakan implementasi dari Analytic Network Process yang dibuat oleh Dr. Thomas Saaty dan dikembangkan oleh tim ANP yang bekerja untuk Creative Decisions Foundation. Software. Untuk menjalankan program SuperDecisions 1.6.0. maka dapat langsung diunduh dari www.superdecisions.com.
Untuk menggunakan software ini, maka MPS-KPS dibuat terlebih dahulu. MPS-KPS yang telah dibuat kemudian diaplikasikan dalam software ini dan hasil kuisioner yang telah diperoleh dari responden diisikan satu-persatu pada bagian perbandingan berpasangan sama dengan cara pengisian dalam kuisioner. Hal ini dilakukan untuk memasukkan data hasil kuisioner. Setelah semua data dimasukkan, sofware akan
59
membantu dalam pemeriksaan validasi, pembuatan sub matriks, dan perhitungan bobot prioritas lokal. Setelah itu dilakukan pembentukan supermatriks dengan menggunakan nilai bobot prioritas lokal tiap sub-matriks dan dihasilkan Supermatriks awal, biasa disebut dengan Unweighted Supermatriks. Kemudian Unweighted Supermatriks diberi bobot dengan cara membagi nilai yang ada di setiap baris dengan jumlahnya sesuai dengan kolom yang ditinjau. Matriks yang telah diberi bobot ini kemudian disebut
Weighted Supermatriks. Setelah itu matriks tersebut dikalikan dengan dirinya sendiri
beberapa kali hingga mencapai nilai yang stabil. Matriks yang telah stabil dinamakan
Limiting Supermatriks.
Dari hasil analisis terhadap pengembangan MPS-KPS dan juga hasil validasinya, dapat disimpulkan bahwa metode ANP beserta data yang dikembangkan ini dapat digunakan sebagai sistem pengambilan keputusan.
Dalam melakukan proses pengambilan keputusan terkadang permasalahan yang terjadi adalah elemen dan kriteria pengambilan keputusan tidak selalu terstruktur dalam bentuk hirarki linear satu arah, namun mungkin saja berbentuk jaringan. Dengan demikian dimungkinkan terjadi hubungan interdependensi antar kriteria atau elemen pengambilan keputusan.
MPS-KPS yang dikembangkan ini dapat mengatasi hubungan saling ketergantungan antar kriteria-kriteria dan elemen-elemen pengambilan keputusan. Pada MPS-KPS yang dikembangkan ini, para pengambil keputusan dapat memberikan penilaian terhadap kriteria-kriteria dan elemen-eleman yang dibandingkan secara berpasangan dalam suatu jaringan. Dengan MPS-KPS ini tidak dibutuhkan adanya asumsi hubungan hirarki antar kriteria, karena setiap kriteria dapat ditinjau secara langsung elemen-elemen yang saling mempengaruhi. Kemudian, untuk menghitung hubungan saling ketergantungan antar kriteria-kriteria pengambilan keputusan maka dikembangkan suatu hubungan supermatriks. Dengan adanya hubungan supermatriks diharapkan dapat menyelesaikan hubungan saling ketergantungan antar kriteria-kriteria tersebut.
60
Pada penelitian ini, masalah pemilihan skema KPS dapat dilihat dari enam aspek yang telah dibahas sebelumnya. Keenam aspek ini menjadi kluster pada jaringan tersebut ditambah dengan kluster ”Goal” sebagai kluster yang digunakan untuk menetukan skema KPS yang sesuai dengan kondisi lokal dimana PDAM dan instalasi air minum tersebut berada. Dengan begitu jaringan ini memiliki tujuh buah kluster yaitu (1) Goal, (2) Pencapaian yang diharapkan, (3) Lingkungan / kondisi negara secara umum, (4) Kinerja PDAM/penyedian air minum lokal saat ini, (5) Isu-isu lingkungan dan sosial, (6) Kemampuan institusional, dan (7) Alternatif skema KPS yang tersedia.
Kemudian kriteria-kriteria yang terdapat dalam setiap aspek, menjadi elemen dalam kluster. Sehingga dapat diketahui bahwa kluster ”Goal” tidak memiliki elemen, kluster ”Pencapaian yang diharapkan” memiliki lima elemen, kluster ”Lingkungan/kondisi negara secara umum” memiliki enam elemen, kluster ”Kinerja PDAM/penyedian air minum lokal saat ini” memiliki empat elemen, kluster ”Isu-isu lingkungan dan sosial” memiliki empat elemen, kluster ”Kemampuan institusional” memiliki dua buah kluster dan kluster ”Alternatif skema KPS yang tersedia” memilki lima elemen.
Setelah dilakukan penentuan kluster dan elemen dalam menentukan alternatif skema KPS yang sesuai, maka kluster-kluster dan elemen-elemen tersebut dibentuk menjadi sebuah jaringan untuk mengidentifikasi hubungan saling mempengaruhi secara logika. Hubungan antar kluster akan terjadi jika elemen yang terdapat pada kedua kluster saling mempengaruhi. Hubungan saling mempengaruhi yang terjadi antar satu elemen dengan elemen lain dalam satu kluster disebut dengn hubungan innerdependence, sedangkan hubungan antara satu elemen dengan elemen lain yang ada dalam kluster lain disebut dengan outer dependence. Pada gambar berikut digambarkan jaringan ANP yang terdiri dari hubungan innerdependence dan outer dependence secara keseluruhan antar kluster dan elemen yang terdapat didalamnya. Tanda panah pada gambar berikut menunjukkan pengaruh, pangkal anak panah berarti kluster atau elemen yang menjadi respek atau elemen yang dipengaruhi, sedangkan arah anak panah berarti kluster atau elemen yang mempengaruhi.
61 Goal Lingkungan/kondisi Negara secara umum Kemampuan institusional Pencapaian yang diharapkan Kinerja PDAM/ penyedian air minum lokal saat
ini
Isu-isu lingkungan dan social
Alternatif Skema KPS
Gambar 4. 1 Model Konseptual ANP untuk memilih skema KPS yang sesuai
Dalam jaringan tersebut terdapat sub-sub jaringan. Sub-sub jaringan menunjukkan elemen-elemen mana yang saling mempengaruhi. Pada Tabel 4.1 dijelaskan mengenai nama-nama kluster yang telah disingkat untuk memudahkan penjelasan mengenai hubungan-hubungan yang ada.
Tabel 4. 1 Singkatan Nama-Nama Kluster
No Nama Kluster Singkatan
1 Lingkungan / kondisi negara secara umum Negara
2 Pencapaian yang diharapkan Pencapaian
3 Kemampuan institusional Kemampuan
4 Kinerja PDAM/ Penyediaan air minum lokal saat ini Kinerja
5 Isu-isu Lingkungan dan sosial Lingkungan
6 Alternatif Skema KPS Skema
Sub-sub jaringan yang terdapat dalam jaringan tersebut adalah :
1. Kluster Goal dipengaruhi kluster negara, solusi, kemampuan, dan kinerja. Kluster goal merupakan kluster yang menunjukkan hasil atau solusi yang skema kerjasama yang akan diperoleh sesuai dengan kondisi wilayah yang ditinjau. Kondisi setiap wilayah tinjauan akan berbeda tergantung dari aspek-aspek yang mempengaruhi. Kondisi suatu wilayah akan dipengaruhi oleh keadaan negara dan kemampuan institusional karena dengan adanya otonomi daerah maka
62
masing-masing wilayah kajian memiliki perbedaan dalam regulasi atau peraturan mengenai KPS. Kluster goal juga dipengaruhi oleh kinerja PDAM saat ini yang ada pada masing-masing wilayah dan pencapaian yang diharapkan dengan adanya pelaksanaan KPS. Hubungan pengaruh antar kluster dapat dilihat pada Gambar 4.2 hingga 4.5.
Meningkatkan kapasitas produksi
Memperluas jaringan distribusi
Meningkatkan efisiensi operasi
Merehabilitasi/memperbaharui fasiltas eksisting
Meningkatkan kualitas pelayanan Pencapaian yang Diharapkan
Goal
Gambar 4. 2 Hubungan Goal dengan Pencapaian
Stabilitas politik Kondisi makroekonomi Pendapatan perkapita Komitmen pemberantasan korupsi Kerangka hukum Lingkungan / kondisi negara
secara umum
Goal
Ruang fiskal
63
Efisiensi investasi
Efisiensi operasi dan pemeliharaan
Kesehatan keuangan dan perusahaan
Tanggung jawab terhadap pengguna Kinerja PDAM / penyediaan air
minum lokal saat ini
Goal
Gambar 4. 4 Hubungan Goal dengan Kinerja
Ketersediaan perangkat hukum dan regulasi-regulasi yang
terkait dengan KPS
Ketersediaan unit pelaksana kebijakan KPS Kemampuan institusional
Goal
Gambar 4. 5 Hubungan Goal dengan Kemampuan
2. Kluster negara mempengaruhi ditentukannya skema KPS yang sesuai dengan kondisi lokal karena dalam pemilihan skema KPS harus disesuaikan dengan undang-undang dan kondisi negara yang bersangkutan. Kondisi suatu negara seperti kestabilan ekonomi, pendapatan perkapita, hukum yang berlaku dan lainnya akan mempengaruhi minat investor dalam berinvestasi. Untuk skema kontrak yang mamiliki nilai investasi besar dan berjangka waktu lama seperti konsesi dan BOT, maka dibutuhkan kondisi negara yang stabil karena dibutuhkan waktu yang lama pula untuk mengembalikan investasi tersebut. Oleh sebab itu, kondisi suatu negara akan sangat berpengaruh pada pemilihan skema KPS. Hubungan negara dengan skema dapat dilihat pada Gambar 4.6.
64 Stabilitas politik Kondisi makroekonomi Pendapatan perkapita Komitmen pemberantasan korupsi Kerangka hukum Lingkungan / kondisi negara
secara umum Ruang fiskal Concession BOT Lease contract Management contract Service contract Skema KPS yang tersedia
Gambar 4. 6 Hubungan Kondisi Negara dengan Alternatif Skema KPS
3. Pemilihan skema KPS juga berhubungan dengan kemampuan institusional negara, karena tanpa adanya regulasi dan ketersediaan perangkat hukum yang mengerti mengenai KPS, maka KPS tidak akan berjalan sesuai dengan baik, misalnya terjadinya ketidakjelasan batasan antara hak dan kewajiban pemerintah dan swasta. Kluster alternatif skema KPS saling berpengaruh terhadap kluster Kemampuan institusional, karena skema apapun yang terpilih maka dibutuhkan perangkat hukum yang sesuai dengan KPS dan tersedianya unit pelaksana kebujakan KPS. Begitu pula dengan pemilihan alternatif skema KPS, harus sesuai dengan kemampuan institusional yang ada. Hubungan ini disajikan pada Gambar 4.7.
Concession
BOT
Lease contract
Management contract
Service contract Skema KPS yang tersedia
Ketersediaan perangkat hukum dan regulasi-regulasi yang
terkait dengan KPS
Ketersediaan unit pelaksana kebijakan KPS Kemampuan institusional
65
4. Begitu pula dengan kluster pencapaian, skema kerjasama yang dipilih harus mampu memenuhi pencapaian yang diharapkan dengan adanya kerjasama dengan pihak swasta. Selain itu, pemilihan skema kerjasama juga harus memperhatikan kondisi kinerja PDAM saat ini, sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangan kinerja PDAM serta solusinya dalam kontrak kerjasama yang akan dipilih. Hubungan ini ditunjukkan pada Gambar 4.8.
Meningkatkan kapasitas produksi
Memperluas jaringan distribusi
Meningkatkan efisiensi operasi
Merehabilitasi/memperbaharui fasiltas eksisting
Meningkatkan kualitas pelayanan Pencapaian Yang Diharapkan
Concession
BOT
Lease contract
Management contract
Service contract Skema KPS yang tersedia
Gambar 4. 8 Hubungan Pencapaian dengan Skema
5. Kluster negara juga mempengaruhi kluster lingkungan karena kondisi suatu negara akan mempengaruhi elemen keinginan dan tingkat kemampuan membayar masyarakat. Jika kondisi negara stabil, memiliki pendapatan perkapita yang tinggi, inflasi rendah, dan hukum ditegakkan dengan benar maka tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pembangunan infrastrukrur yang dilaksanakan pemerintah akan tinggi. Dengan tingkat yang tinggi, maka masyarakat dengan sendirinya akan rela membayar biaya pelayanan karena percaya bahwa uang mereka akan digunakan dengan benar dan memperoleh jaminan pelayanan yang sesuai. Hubungan ini dapat dilihat pada Gambar 4.9.
66
Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat
Kesetaraan akses terhadap pelayanan
Kebijakan lingkungan yang berlaku
Penerimaan/persepsi masyarakat terhadap peran
serta swasta di sektor air minum Isu-isu lingkungan dan sosial
Stabilitas politik Kondisi makroekonomi Pendapatan perkapita Komitmen pemberantasan korupsi Kerangka hukum Lingkungan / kondisi negara
secara umum
Ruang fiskal
Gambar 4. 9 Hubungan Lingkungan dengan Negara
6. Kluster pencapaian yang diharapkan dipengaruhi oleh kinerja PDAM saat ini, karena dengan mengetahui kinerja PDAM saat ini, dapat diketahui layanan apa saja yang belum dapat dipenuhi oleh PDAM saat ini sehingga mempengaruhi pencapaian apa saja yang ingin dicapai dengan adanya kerjasama dengan pihak swasta. Kluster pencapaian yang diharapkan juga memiliki hubungan innerdependence karena elemen yang terdapat didalamnya saling mempengaruhi. Elemen meningkatkan kualitas pelayanan berhubungan dengan peningkatan kapasitas produksi, perluasan jaringan distribusi, peningkatan efisiensi operasi, dan pembaharuan fasilitas eksisting. Hubungan ini ditunjukkan pada Gambar 4.10.
Efisiensi investasi
Efisiensi operasi dan pemeliharaan
Kesehatan keuangan dan perusahaan
Tanggung jawab terhadap pengguna Kinerja PDAM / penyediaan air
minum lokal saat ini
Meningkatkan kapasitas produksi
Memperluas jaringan distribusi
Meningkatkan efisiensi operasi
Merehabilitasi/memperbaharui fasiltas eksisting
Meningkatkan kualitas pelayanan Pencapaian Yang Diharapakan
67
7. Kluster kinerja PDAM / penyediaan air minum lokal saat ini dipengaruhi oleh Kluster lingkungan dan sosial karena elemen-elemen yang terdapat pada Kluster Isu-isu lingkungan dan sosial akan mempengaruhi elemen tanggung jawab terhadap pengguna. Keinginan dan kemampuan masyarakat untuk membayar, kesetaraan akses pelayanan, kebijakan lingkungan, dan penerimaan masyarakat terhadap sektor swasta akan menuntut tanggung jawab PDAM yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.
Efisiensi investasi
Efisiensi operasi dan pemeliharaan Kesehatan keuangan dan
perusahaan Tanggung jawab terhadap
pengguna
Kinerja PDAM / penyediaan air minum lokal saat ini
Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat Kesetaraan akses terhadap
pelayanan Kebijakan lingkungan yang
berlaku Penerimaan/persepsi masyarakat terhadap peran
serta swasta di sektor air minum
Isu-isu lingkungan dan sosial
Gambar 4. 11 Hubungan Kinerja dengan Lingkungan
8. Kluster kinerja saling mempengaruhi terhadap kluster Alternatif skema KPS. Kinerja PDAM saat ini menentukan skema kontrak yang akan digunakan dalam KPS, sedangkan skema KPS yang dipilih akan mempengaruhi kinerja PDAM di masa yang akan datang. Hubungan ini ditunjukkan pada Gambar 4.12.
68
Efisiensi investasi
Efisiensi operasi dan pemeliharaan Kesehatan keuangan dan
perusahaan Tanggung jawab terhadap
pengguna Kinerja PDAM / penyediaan air
minum lokal saat ini Concession
BOT
Lease contract
Management contract
Service contract Skema KPS yang tersedia
Gambar 4. 12 Hubungan Kinerja dan Skema
9. Kluster lingkungan dan sosial dipengaruhi oleh kluster pencapaian yang diharapkan dan skema KPS, karena pencapaian terhadap pencapaian yang diharapkan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap PDAM dan peran swasta. Demikian pula dengan pemilihan skema KPS yang sesuai, akan berpengaruh terhadap penerimaan masyarakat mengenai peran swasta di sektor air minum. Hubungan ini ditunjukkan pada Gambar 4.13 dan 4.14.
Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat
Kesetaraan akses terhadap pelayanan Kebijakan lingkungan yang
berlaku Penerimaan/persepsi masyarakat terhadap peran
serta swasta di sektor air minum Isu-isu lingkungan dan sosial
Meningkatkan kapasitas produksi
Memperluas jaringan distribusi
Meningkatkan efisiensi operasi
Merehabilitasi/memperbaharui fasiltas eksisting
Meningkatkan kualitas pelayanan Pencapaian yang Diharapkan
69
Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat
Kesetaraan akses terhadap pelayanan Kebijakan lingkungan yang
berlaku Penerimaan/persepsi masyarakat terhadap peran
serta swasta di sektor air minum Isu-isu lingkungan dan sosial
Concession
BOT
Lease contract
Management contract
Service contract Skema KPS yang tersedia
Gambar 4. 14 Hubungan Lingkungan dan Sosial dengan Skema
Untuk lebih jelasnya hubungan antar elemen dapat diamati pada Tabel 4.2.
Tabel 4. 2 Hubungan antar eleman pada Jaringan Pemilihan Skema KPS
No Respek Yang Dipengaruhi
Kluster Elemen Kluster Elemen
1 Goal Skema KPS yang optimal Pencapaian yang diharapkan
1. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Memperluas jaringan distribusi 3. Meningkatkan efisiensi operasi 4. Merahabilitasi/memperbaharui fasilitas
eksisting
5. meningkatkan kualitas pelayanan 2 Goal Skema KPS yang optimal Lingkungan/kondisi
Negara secara umum
1. Stabilitas politik 2. Kondisi makroekonomi 3. Pendapatan perkapita
4. Komitmen pemberantasan korupsi 5. Kerangka hukum
6. Ruang fiskal 3 Goal Skema KPS yang optimal Kinerja PDAM /
penyedian air minum lokal saat ini
1. Efisiensi investasi,
2. Efisiensi operasi dan pemeliharaan 3. Kesehatan keuangan perusahaan 4. Tanggungjawab terhadap pengguna 4 Goal Skema KPS yang optimal Kemampuan
institusional
1. Ketersediaan perangkat hukum dan regulasi-regulasi yang terkait dengan KPS
2. Ketersediaan unit pelaksana dan kebijakan KPS
5 Pencapaian yang diharapkan
Meningkatkan efisiensi operas Pencapaian yang diharapkan
1. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Memperluas jaringan distribusi 3. Merahabilitasi/memperbaharui fasilitas
eksisting
4. Meningkatkan kualitas pelayanan 6 Kinerja PDAM / penyedian air minum lokal saat ini 1. Efisiensi investasi, 2. Efisiensi operasi dan
pemeliharaan
3. Kesehatan keuangan perusahaan 4. Tanggungjawab terhadap
pengguna
Pencapaian yang diharapkan
1. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Memperluas jaringan distribusi 3. Meningkatkan efisiensi operasi 4. Merahabilitasi/memperbaharui fasilitas
eksisting
70 7 Kinerja PDAM / penyedian air minum lokal saat ini 1. Efisiensi investasi, 2. Efisiensi operasi dan
pemeliharaan 3. Kesehatan keuangan perusahaan 4. Tanggungjawab terhadap pengguna Skema KPS yang tersedia 1. Concession 2. BOT (Build-Operate-Transfer) 3. Lease contract 4. Management contract 5. Service contract 8 Kinerja PDAM / penyedian air minum lokal saat ini
Tanggungjawab terhadap pengguna Isu-isu lingkungan dan sosial
1. Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat
2. Kesetaraan akses terhadap pelayanan 3. Kebijakan lingkungan yang berlaku 4. Penerimaan/persepsi masyarakat
terhadap peran serta swasta di sektor air minum 9 Pencapaian yang diharapkan 1. Meningkatkan kapasitas produksi
2. Memperluas jaringan distribusi 3. Meningkatkan efisiensi operasi 4. Merahabilitasi/memperbaharui fasilitas eksisting 5. Meningkatkan kualitas pelayanan Skema KPS yang tersedia 1. Concession 2. BOT (Build-Operate-Transfer) 3. Lease contract 4. Management contract 5. Service contract 10 Isu-isu lingkungan dan sosial
1. Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat 2. Kesetaraan akses terhadap
pelayanan
3. Kebijakan lingkungan yang berlaku
4. Penerimaan/persepsi
masyarakat terhadap peran serta swasta di sektor air minum
Pencapaian yang diharapkan
1. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Memperluas jaringan distribusi 3. Meningkatkan efisiensi operasi 4. Merahabilitasi/memperbaharui fasilitas
eksisting
5. Meningkatkan kualitas pelayanan
11 Isu-isu lingkungan dan sosial
1. Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat 2. Kesetaraan akses terhadap
pelayanan
3. Kebijakan lingkungan yang berlaku
4. Penerimaan/persepsi
masyarakat terhadap peran serta swasta di sektor air minum
Skema KPS yang tersedia 1. Concession 2. BOT (Build-Operate-Transfer) 3. Lease contract 4. Management contract 5. Service contract 12 Isu-isu lingkungan dan sosial
Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat
Lingkungan/kondisi Negara secara umum
1. Stabilitas politik 2. Kondisi makroekonomi 3. Pendapatan perkapita
4. Komitmen pemberantasan korupsi 5. Kerangka hukum 6. Ruang fiskal 13 Kemampua n institusiona l
1. Ketersediaan perangkat hukum dan regulasi-regulasi yang terkait dengan KPS
2. Ketersediaan unit pelaksana dan kebijakan KPS Skema KPS yang tersedia 1. Concession 2. BOT (Build-Operate-Transfer) 3. Lease contract 4. Management contract 5. Service contract 14 Skema KPS yang tersedia 1. Concession 2. BOT (Build-Operate-Transfer) 3. Lease contract 4. Management contract 5. Service contract Kemampuan institusional
1. Ketersediaan perangkat hukum dan regulasi-regulasi yang terkait dengan KPS
2. Ketersediaan unit pelaksana dan kebijakan KPS 15 Skema KPS yang tersedia 1. Concession 2. BOT (Build-Operate-Transfer) 3. Lease contract 4. Management contract Kinerja PDAM / penyedian air minum lokal saat ini
1. Efisiensi investasi,
2. Efisiensi operasi dan pemeliharaan 3. Kesehatan keuangan perusahaan 4. Tanggungjawab terhadap pengguna
71 5. Service contract 16 Skema KPS yang tersedia 1. Concession 2. BOT (Build-Operate-Transfer) 3. Lease contract 4. Management contract 5. Service contract Lingkungan/kondisi Negara secara umum
1. Stabilitas politik 2. Kondisi makroekonomi 3. Pendapatan perkapita
4. Komitmen pemberantasan korupsi 5. Kerangka hukum
6. Ruang fiskal
4.3 Kuesioner
Dalam rangka mendapatkan data tentang persepsi para pakar dan kalangan pelaksana KPS terhadap masalah pemilihan skema KPS yang paling sesuai diterapkan di Indonesia, dalam kerangka pemilihan skema KPS yang telah dirancang, dilakukan survey menggunakan kuisioner. Responden terdiri dari kalangan PDAM, BAPEDA, dan konsultan.
Dalam analisis ANP jumlah sampel/responden tidak digunakan sebagai patokan validitas. Syarat responden yang valid dalam ANP adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli di bidangnya. Oleh karena itu, responden yang dipilih dalam survey ini adalah para pakar yang telah mengetahui pelaksanaan KPS yang sehari-harinya berkecimpung dengan segala urusan KPS.
Pertanyaan dalam kuesioner ANP berupa pairwise comparison (pembandingan pasangan) antar elemen dalam kluster untuk mengetahui mana diantara keduanya yang lebih besar pengaruhnya (lebih dominan) dan seberapa besar perbedaannya (pada skala 1-9) dilihat dari satu sisi. Skala numerik 1-9 yang digunakan merupakan terjemahan dari penilaian verbal seperti pada Tabel 4.3.
Tabel 4. 3 Skala Penilaian Tingkat Kepentingan (Saaty TL, 1993) Intensitas
Pentingnya Definisi Penjelasan
1 Kedua elemen sama besar pengaruhnya Dua elemennya menyumbang sama besar pada sifat itu.
3 Elemen yang satu sedikit lebih besar pengaruhnya daripada elemen lain.
Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas elemen lainnya.
5 Elemen yang satu lebih besar
pengaruhnya daripada elemen lainnya.
Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat menyokong satu elemen atas elemen lainnya.
72 7 Satu elemen sangat lebih besar
pengaruhnya dari pada elemen lainnya.
Satu elemen dengan kuat disokong dan dominannya telah terlihat dalam prakteknya.
9 Satu elemen mutlak lebih besar pengaruhnya daripada elemen lainnya.
Bukti yang menyokong elemen yang satu atas yang lainnya memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan. Nilai Tengah 2 4 6 8
Jika ada keraguan antar skala 1 dan 3 Jika ada keraguan antar skala 3 dan 5 Jika ada keraguan antar skala 5 dan 7 Jika ada keraguan antar skala 7 dan 9
Sebagai contoh, untuk mengoptimalkan Biaya Operasi, dilakukan perbandingan terhadap elemen yang terdapat pada alternatif KPS yang tersedia. Kuisioner disajikan dalam tabel berikut ini.
Tabel 4. 4 Perbandingan Berpasangan
Perbandingan Berpasangan antar Elemen
No. Elemen Skala Penilaian Elemen
1. BOT 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Consession 2. BOT 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lease Contract 3. Consession 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lease Contract
Sub-sub Komponen kiri lebih dominan Sub-sub Komponen kanan lebih dominan
Artinya :
Pada penilaian terhadap Fokus/Goal pada penelitian ini, kalau menurut penilaian saudara BOT sedikit lebih berpengaruh (3 kali lebih dominan) dari Consession, maka saudara memberikan penilaian pada angka 3 di sebelah kiri.
Pada penilaian terhadap Fokus/Goal pada penelitian ini, kalau menurut penilaian saudara BOT sama pengaruhnya dari Lease Contract , maka saudara memberikan penilaian pada angka 1.
Pada penilaian terhadap Fokus/Goal pada penelitian ini, kalau menurut penilaian saudara Lease Contract jauh lebih berpengaruh (5 kali lebih dominan) dari
73
Angka-angka yang diperoleh dari hasil kuesioner masing-masing responden kemudian dipergunakan dalam sintesis ANP untuk menghasilkan tiga supermatriks yang akan memberikan prioritas masalah, alternatif pemecahan masalah dan pilihan strategi kebijakannya. Kuisioner terdiri dari empat puluh lima pertanyaan yang terbagi dalam beberapa bagian sesuai dengan kriteria yang ditinjau. Semua pertanyaan saling membandingkan elemen-elemen yang terdapat dalam metoda Pemilihan Skema KPS. Kuisioner selengkapnya disajikan pada Lampiran I.
4.4 Karakteristik Responden
Pada dasarnya responden yang diambil dalam survey ini adalah merupakan responden yang dianggap paling paham tentang pemilihan skema KPS ditambah dengan beberapa responden lain yang dianggap memiliki pemahaman yang mendalam tentang pemilihan skema KPS. Responden BAPEDA merupakan orang pilihan yang mewakili pihak pemerintah dan ikut terlibat dalam diskusi mengenai KPS dengan PDAM. Responden dari konsultan merupakan pihak-pihak yang pernah ikut dalam merancang skema KPS dan pelaksanaan tender KPS. Sedangkan responden dari PDAM juga merupakan orang pilihan yang yang tergabung dalam tim KPS dan sudah cukup lama memiliki pengalaman di PDAM, dengan jabatan minimal setingkat kepala divisi sampai dengan direktur utama. Penyebaran kuisioner dilakukan selama sebulan.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendatangi responden secara langsung dengan harapan tingkat pengembalian kuesioner dari responden lebih cepat dan tinggi. Kebanyakan responden dapat langsung ditemui dan dapat mengisi kuisioner. Sebagian responden yang tidak dapat ditemui secara langsung dilakukan penitipan kuisioner dan pengiriman melalui alamat email. Karena pengisian kuisioner ini membutuhkan waktu yang cukup lama, maka setiap responden diberi waktu seminggu untuk mengisi. Setelah seminggu, maka hasil kuisioner diambil kembali secara langsung.
Namun dalam pelaksanaanya ada beberapa responden yang tidak dapat menyelesaikan pengisian dalam waktu seminggu. Hal ini disebabkan karena responden memiliki
74
kesibukan masing-masing. Responden di Kabupaten Bandung yang terlambat diberi beberapa hari waktu tambahan. Namun ada pula responden yang bersedia untuk mnyelesaikan pengisian saat pengembalian, sehingga hasil kuisioner dapat ditunggu dan diambil dalam satu hari. Untuk responden yang terdapat di Kabupaten Tangerang dan DKI Jakarta diadakan perjanjian mengenai waktu pengembalian. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya perjalanan. Agar pengisian sesuai dengan waktu yang ditetapkan, maka komunikasi dilakukan lewat telepon. Untuk responden Kabupaten Tangerang, seluruh hasil kuisioner dikumpulkan pada satu responden, sehingga memudahkan pengambilan. Sedangkan untuk responden yang berada di DKI Jakarta sangat sulit untuk ditemui, sehingga untuk pengiriman dan pengambilan hasil kuisioner dilakukan dengan cara menghubungi pihak yang dekat dengan responden terlebih dahulu agar dapat menghubungi dan melakukan penagihan kepada responden.
4.5 Pengolahan Data Berdasarkan Metode ANP
Hasil survey yang diperoleh diolah terlebih dahulu per masing-masing individu responden dengan menggunakan kerangka ANP seperti disajikan pada Gambar 4.15. Data yang diolah dari masing-masing responden tersebut menghasilkan tiga supermatriks yang memberikan urutan prioritas aspek-aspek terpenting dan masalahnya, alternatif pemecahan masalah, dan pilihan strategi kebijakan yang tepat menurut masing-masing responden.
Selanjutnya hasil pengolahan tersebut dikelompokkan berdasarkan wilayah penelitian untuk menghasilkan urutan prioritas berdasarkan kelompok. Dalam metode ANP, data yang diperlukan dapat diperoleh melalui dua cara. Pertama, satu data yang diperoleh merupakan konsensus dari sekelompok responden yang dikumpulkan secara bersamaan. Kedua, pengumpulan data dilakukan secara terpisah untuk masing-masing responden, dalam kasus ini metode ANP membolehkan menggunakan modus atau rata-rata untuk mendapatkan satu hasil urutan prioritas. Pada penelitian ini, digunakan cara yang kedua. Masing-masing responden diminta untuk mengisi kuisioner, kemudian diolah menggunakan bantuan software superdecision. Bentuk jaringan dalam superdecision disajikan pada gambar berikut ini.
75
Gambar 4. 15 Jaringan ANP pada Software Superdecision
Setelah hasil ANP dari perseorangan diperoleh, kemudian dari semua responden dalam satu kelompok dihitung rata-rata dan modusnya agar dapat diperoleh prioritas tiap-tiap kelompok. Disamping hasil urutan prioritas skema KPS mana yang paling sesuai berdasarkan masing-masing kelompok, dihitung juga urutan prioritas aspek lain yang mendukung pemilihan skema KPS tersebut. Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan contoh perhitungan serta tahapan dalam pengolahan data.
4.5.1. Matriks Perbandingan Berpasangan (Sub-Matriks)
Berdasarkan hasil kuisioner yang diperoleh, setiap pertanyaan terlebih dahulu diuraikan menjadi bentuk matriks perbandingan berpasangan. Sebagai contoh, diambil dari responden pada wilayah Kabupaten Bandung yang berasal dari PDAM. Pada pertanyaan yang memiliki respek terhadap BOT dan dipengaruhi oleh elemen yang terdapat pada kluster lingkungan negara dan kinerja PDAM, bentuk matrik perbandingan berpasangannya adalah sebagai berikut.
76
Tabel 4. 5 Matriks A1 Kluster Lingkungan Negara terhadap BOT
Tabel 4. 6 Matriks A2 Kluster Kinerja PDAM terhadap BOT
Kemudian setiap elemen dari masing-masing kolom pada matriks A1 dan A2 dibagi dengan hasil penjumlahan dari masing-masing kolom. Perhitungan bobot prioritas lokal diperoleh dengan cara membuat nilai rata-rata dari setiap baris elemen. Hasil matriks yang telah diberi bobot disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel 4. 7 Matriks A1 yang telah diberi bobot lokal
Tabel 4. 8 Matriks A2 yang telah diberi bobot lokal
BOT Komitmen Kemampuan Kerangka Kondisi Pendapatan Stabilitas Komitmen pemberantasan korupsi 1.000 2.000 5.000 2.000 3.000 8.000 Kemampuan keuangan pemerintah 0.500 1.000 3.000 0.666 2.000 6.000
Kerangka hukum 0.200 0.333 1.000 0.200 0.167 3.000
Kondisi makroekonomi 0.500 1.502 5.000 1.000 4.000 7.000 Pendapatan perkapita 0.333 0.500 6.000 0.250 1.000 2.000 Stabilitas politik 0.125 0.167 0.333 0.143 0.500 1.000
Jumlah 2.658 5.502 20.333 4.259 10.667 27.000
BOT Ef.investasi Ef. OP Kesehatan Tnggjwb
Efisiensi investasi 1.000 0.200 0.200 0.250
Efisiensi operasi dan pemeliharaan 5.000 1.000 2.000 4.000 Kesehatan keuangan perusahaan 5.000 0.500 1.000 4.000 Tanggungjawab terhadap pengguna 4.000 0.250 0.250 1.000
Jumlah 15.000 1.950 3.450 9.250
BOT Komitmen Kemampuan Kerangka Kondisi Pendapatan Stabilitas Rata-Rata
Komitmen pemberantasan korupsi 0.376 0.364 0.246 0.470 0.281 0.296 0.339
Kemampuan keuangan pemerintah 0.188 0.182 0.148 0.156 0.188 0.222 0.181
Kerangka hukum 0.075 0.061 0.049 0.047 0.016 0.111 0.060
Kondisi makroekonomi 0.188 0.273 0.246 0.235 0.375 0.259 0.263
Pendapatan perkapita 0.125 0.091 0.295 0.059 0.094 0.074 0.123
Stabilitas politik 0.047 0.030 0.016 0.034 0.047 0.037 0.035
Jumlah 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000
BOT Ef.investasi Ef. OP Kesehatan Tnggjwb Rata-Rata
Efisiensi investasi 0.067 0.103 0.058 0.027 0.064
Efisiensi operasi dan pemeliharaan 0.333 0.513 0.580 0.432 0.465 Kesehatan keuangan perusahaan 0.333 0.256 0.290 0.432 0.328 Tanggungjawab terhadap pengguna 0.267 0.128 0.072 0.108 0.144
77
4.5.2. Perhitungan Konsistensi
Perhitungan konsistensi dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a) Setiap baris elemen pada matriks A2 dikalikan dengan bobot prioritas lokal yang saling bersesuaian (matriks) untuk memperoleh nilai eigen.
b) Kemudian hasil perkalian tersebut dijumlahkan dalam jumlah elemen yang sama c) Menghitung Lamda maksimum (λmaks) dengan cara mencari nilai rata-ratanya d) Menghitung nilai CI = (λmaks – n)/(n-1)
e) Menghitung nilai CR=CI/RI(n)
Apabila nilai rasio konsistensi lebih kecil dari 0,1 maka hasil penilaian dapat diterima. Berikut adalah contoh perhitungan konsistensi matriks A1 dan A2
Matriks A1 Matriks A2 2.175 0.339 6.419 1.161 0.181 6.431 0.366 : 0.060 = 6.128 1.740 0.263 6.626 0.821 0.123 6.676 0.227 0.035 6.438 Jumlah 38.718 n=6 Max 6.453 CI 0.091 RI(n) 1.25 CR 0.072
78
Matriks A1 dan A2 memiliki nilai CR< 0,01, sehingga matriks A1 dan A2 dapat diterima.
4.5.3. Proses pembuatan Supermatriks
Setelah semua pertanyaan dihitung bobot prioritas lokalnya, kemudian dibentuk supermatriks dengan menggunakan nilai bobot prioritas lokal tiap sub-matriks. Penyusunan supermatriks diharapkan dapat menangkap pengaruh dari elemen-elemen pada elemen-elemen lain dalam jaringan. Supermatriks awal, biasa disebut dengan
Unweighted Supermatriks. Berikut adalah contoh sebagian supermatriks responden yang
berasal dari wilayah penelitian Kabupaten Bandung, dan untuk selengkapnya disajikan pada Lampiran 2. 0.258 0.064 4.060 2.014 : 0.465 = 4.335 1.454 0.328 4.431 0.596 0.144 4.145 Jumlah 16.971 n=4 MAX 4.243 CI 0.081 RI(n) 0.89 CR 0.091
79
Tabel 4. 9 Unweighted Supermatriks Responden Kabupaten Bandung
Kemudian Unweighted Supermatriks diberi bobot dengan cara membagi nilai yang ada di setiap baris dengan jumlahnya sesuai dengan kolom yang ditinjau. Berikut ini disajikan tabel Weighted Supermatriks.
80
Tabel 4. 10 Weighted Supermatriks Responden Kabupaten Bandung
Setelah itu matriks tersebut dikalikan dengan dirinya sendiri beberapa kali hingga mencapai nilai yang stabil seperti pada tabel berikut ini. Matriks yang telah stabil dinamakan Limiting Supermatriks.
Kode E 1 E 2 E 3 E 4 E 5 BOT E 1 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Concession E 2 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Lease E 3 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Management contract E 4 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Service Contract E 5 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
Komitmen pemberantasan korupsi E 6 0.113 0.026 0.018 0.020 0.017 Kemampuan keuangan pemerintah E 7 0.060 0.065 0.078 0.063 0.064
Kerangka hukum E 8 0.020 0.024 0.034 0.023 0.028
Kondisi makroekonomi E 9 0.088 0.065 0.055 0.061 0.063
Pendapatan perkapita E 10 0.041 0.129 0.129 0.137 0.139
Stabilitas politik E 11 0.012 0.024 0.019 0.030 0.023
Efisiensi investasi E 12 0.021 0.021 0.085 0.065 0.040
Efisiensi operasi dan pemeliharaan E 13 0.155 0.173 0.021 0.052 0.087 Kesehatan keuangan perusahaan E 14 0.109 0.095 0.186 0.165 0.185 Tanggungjawab terhadap pengguna E 15 0.048 0.045 0.042 0.052 0.021 Memperluas jaringan distribusi E 16 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Meningkatkan efisiensi operasi E 17 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Meningkatkan kapasitas produksi E 18 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Meningkatkan kualitas pelayanan E 19 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Rehabilitasi fasilitas eksisting E 20 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
Goal E 21 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
Ketersediaan perangkat hukum dan regulasi KPS E 22 0.067 0.083 0.267 0.278 0.286 Ketersediaan unit pelaksana kebijakan KPS E 23 0.267 0.250 0.067 0.056 0.048 Kebijakan lingkungan yang berlaku E 24 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Kesetaraan akses pelayanan E 25 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Penerimaan masyarakat terhadap peran swasta E 26 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat E 27 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
81
Tabel 4. 11 Limiting Supermatriks Responden Kabupaten Bandung
Dari nilai pembobotan yang telah diperoleh maka dapat dilakukan perankingan setiap alternatif. Tabel berikut merupakan hasil perankingan tersebut. Bobot pada kolom total adalah bobot eigenvektor yang dihasilkan dari limiting supermatriks. Bobot pada kolom normal adalah bobot yang telah dinormalisasi sehingga jumlah totalnya adalah satu. Sedangkan pada kolom ideal adalah bobot ideal dengan nilai terbesar sama dengan satu, yang diperoleh dengan membagi bobot pada kolom normal dengan nilai terbesarnya.
bel 4. 12 Hasil Pemilihan Alternatif Skema KPS
Grafik Alternatives Total Normal Ideal Ranking
BOT 0.1265 0.3143 1.0000 1 Concession 0.0866 0.2152 0.6847 2 Lease 0.0693 0.1723 0.5480 4 Management contract 0.0697 0.1732 0.5510 3 Service Contract 0.0503 0.1250 0.3976 5 Kode E 1 E 2 E 3 E 4 E 5 BOT E 1 0.126 0.126 0.126 0.126 0.126 Concession E 2 0.087 0.087 0.087 0.087 0.087 Lease E 3 0.069 0.069 0.069 0.069 0.069 Management contract E 4 0.070 0.070 0.070 0.070 0.070 Service Contract E 5 0.050 0.050 0.050 0.050 0.050
Komitmen pemberantasan korupsi E 6 0.026 0.026 0.026 0.026 0.026 Kemampuan keuangan pemerintah E 7 0.036 0.036 0.036 0.036 0.036
Kerangka hukum E 8 0.012 0.012 0.012 0.012 0.012
Kondisi makroekonomi E 9 0.028 0.028 0.028 0.028 0.028
Pendapatan perkapita E 10 0.049 0.049 0.049 0.049 0.049
Stabilitas politik E 11 0.010 0.010 0.010 0.010 0.010
Efisiensi investasi E 12 0.020 0.020 0.020 0.020 0.020
Efisiensi operasi dan pemeliharaan E 13 0.055 0.055 0.055 0.055 0.055 Kesehatan keuangan perusahaan E 14 0.065 0.065 0.065 0.065 0.065 Tanggungjawab terhadap pengguna E 15 0.020 0.020 0.020 0.020 0.020 Memperluas jaringan distribusi E 16 0.009 0.009 0.009 0.009 0.009 Meningkatkan efisiensi operasi E 17 0.043 0.043 0.043 0.043 0.043 Meningkatkan kapasitas produksi E 18 0.016 0.016 0.016 0.016 0.016 Meningkatkan kualitas pelayanan E 19 0.025 0.025 0.025 0.025 0.025 Rehabilitasi fasilitas eksisting E 20 0.018 0.018 0.018 0.018 0.018
Goal E 21 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
Ketersediaan perangkat hukum dan regulasi KPS E 22 0.081 0.081 0.081 0.081 0.081 Ketersediaan unit pelaksana kebijakan KPS E 23 0.079 0.079 0.079 0.079 0.079 Kebijakan lingkungan yang berlaku E 24 0.004 0.004 0.004 0.004 0.004 Kesetaraan akses pelayanan E 25 0.002 0.002 0.002 0.002 0.002 Penerimaan masyarakat terhadap peran swasta E 26 0.001 0.001 0.001 0.001 0.001 Keinginan dan kemampuan membayar masyarakat E 27 0.001 0.001 0.001 0.001 0.001