13
DAN PERILAKU SOSIAL
A. Majelis Ta’lim
1. Pengertian Majelis Ta’lim
Majelis ta’lim berasal dari dua suku kata, yaitu kata majelis dan kata ta’lim. Dalam bahasa arab kata majelis ( سلجم ) adalah kata tempat kata kerja dari( سلج ) yang artinya “tempat duduk, tempat sidang. Kata ta’lim dalam bahasa Arab merupakan masdar dari kata kerja ( ملع - ملعی - امیلغٺ ) yang mempunyai arti “pengajaran” (Munawir, 1997 : 1038).
Secara etimologis, kata majelis ta’lim berasal dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata yaitu kata majelis dan ta’lim. Majelis kata kerjanya adalah jalasa yang berarti duduk, sedangkan kata ta’lim diartikan sebagai pelajaran atau pengajian, perkembangan berikutnya menjadi majelis ta’lim, maka kemudian artinya mulai menggeser bukan hanya satu tempat saja melainkan suatu lembaga (istitution) penyelenggara pengajaran atau pengajian (Taqiyuddin, 2010 : 151).
Menurut bahasa majelis ta’lim adalah berasal dari bahasa arab yang terdiri dari dua suku kata yaitu majelis yang berarti pertemuan (perkumpulan) orang banyak, dan ta’lim ysmg berarti pengajaran agama islam atau pengajian (Alawiyah, 1997 : 5) .
Muhsin (2009 : 1) menuliskan, kata majelis berasal dari kata jalasa, yajlisu, julusan yang artinya duduk atau rapat. Kata majelis akan bermakna lain jika dikaitkan dengan kata yang berbeda, seperti majelis wal majlimah artinya tempat duduk, tempat sidang, dewan. Sedangkan kata ta’lim berasal dari kata alima, ya’lamu, iman yang artinya mengetahui suatu ilmu, ilmu pengetahuan kata ta’lim dalam pembelajaran berarti mengajar, melatih, berasal dari kata alama, allaman yang artinya mengecap, memberi tanda, dan ta’alam yang berarti terdidik belajar. Dengan demikian, kata majelis ta’lim artinya adalah mengajar, tempat mendidik, tempat melatih atau tempat belajar dan tempat menuntut ilmu.
▸ Baca selengkapnya: contoh kop surat majelis ta'lim
(2)Sesuai dengan realitas dalam masyarakat, majlis taklim bisa juga diartikan sebagai tempat atau lembaga pendidikan, pelatihan dan kegiatan balajar mengajar (khususnya bagi kaum muslim) dalam mempelajari, mendalami dan memahami ilmu pengetahuan tentang Islam dan sebagai wadah dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang memberikan kemaslahatan kepada jamaah dan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, majlis ta’lim merupakan suatu lembaga pendidikan nonformal yang waktu belajarnya seacara berkala tetapi teratur tidak setiap hari, bertujuan untuk menyebarkan Islam kepada masyarakat luas, karena di dalam majlis ta’lim terjadi proses pembelajaran atau terwujudnya kegiatan keagamaan.
Majlis ta’lim adalah salah satu lembaga pendidikan non formal, antara lain majlis ta’lim termasuk lembaga pendidikan luar sekolah yang bercirikan Islam, sabagai lembaga pendidikan luar sekolah majlis ta’lim mempunyai tujuan yang dapat mengatur dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang di dalamnya berkembang prinsip demokrasi berdasarkan musyawarah untuk mufakat demi kelancaran pelaksanaan Majlis Ta’lim sesuai dengan tuntutan pesertanya (Arifin, 1991 : 118). Majlis ta’lim dilahirkan, dikelola, dipelihara, dikembangkan, dan didukung oleh anggotanya, oleh karena itu, majlis ta’lim merupakan wadah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri (Tuty Alawiyah, 1997 : 75).
Keberadaan majlis ta’lim menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari para ibu-ibu yang aktif mengikuti kegiatan Majelis Ta’lim ada yang mengalami perubahan perilaku, ada juga yang tetap saja seperti semula. Proses perubahan sosial dalam suatu masyarakat yang didukung oleh para tokoh agama, ulama/kyai, ustadz dan sebagainya, lembaga ini sudah menunjukan eksistensinya dalam membina para jama’ah yang rata-rata terdiri dari kaum ibu-ibu. Dengan bermunculannya Majelis Ta’lim, seyogyanya dapat dijadikan sebagai motivasi untuk menggerakan kesadaran beragama bagi ibu-ibu, dengan demikian majlis ta’lim akan berpotensi untuk bersinggungan dengan komunitas masyarakat secara langsung.
▸ Baca selengkapnya: contoh proposal majelis ta'lim ibu-ibu
(3)Majlis ta’lim bila dilihat dari struktur organisasinya termasuk organisasi pendidikan luar sekolah atau suatu lembaga pendidikan Islam yang bersifat non formal yang senantiasa menanamkan akhlaq yang mulia dan lurus, meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan keterampilan jama’ahnya, serta memberantas kebodahan umat Islam agar dapat memperoleh kehidupan yang bahagia dan sejahtera serta diridhai oleh Allah SWT. Jika dilihat dari segi tujuan, majlis ta’lim termasuk lembaga atau sarana dakwah Islamiyah yang mengatur dan melaksankan kegiatan-kegiatannya, di dalamnya berkembang prinsip demokrasi yang berdasarkan musyawarah untuk mufakat demi kelancaran pelaksanaan ta’lim sesuai dengan tuntutan pesertanya (Hasbullah, 1996 : 201-202).
Berdasarkan pemaparan di atas, tampak bahwa penyelenggaraan majlis ta’lim berbeda dengan penyelenggaraan pendidikan Islam lainnya, seperti pesantren dan madrasah, baik menyangkut sistem, materi maupun tujuannya. Pada majlis ta’lim, menurut Hasbullah (1996 : 202-203) ada hal-hal yang cukup membedakan dengan yang lainnya yaitu :
a. Majlis ta’lim adalah lembaga pendidikan nonformal Islam.
b. Waktu belajarnya berkala tapi teratur, tidak setiap hari sebagaimana halnya sekolah atau madrasah.
c. Pengikut atau pesertanya di sebut jama’ah (orang banyak), bukan pelajar atau santri, hal ini di dasarkan kepada kehadiran di majlis ta’lim tidak merupakan kewajiban sebagaimana dengan kewajiban murid menghadiri sekolah atau madrasah.
d. Tujuannya itu memasyarakatkan ajaran Islam.
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa majelis ta’lim yaitu lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pengajaran tentang ilmu-ilmu agama Islam kepada masyarakat muslim, tidak ada ketentuan batas usia dan bukan merupakan gerakan politik tetapi merupakan gerakan sosial keagamaan. Pengikutnya disebut jama’ah bukan murid, hal ini disebabkan karena majelis ta’lim merupakan tempat pendidikan islam yang tidak diwajibkan sebagai mana murid disekolah. Majelis ta’lim
merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang waktunya berkala tetapi rutin dilakukan.
2. Tujuan Majelis Ta’lim
Tujuan majlis ta’lim adalah membina dan mengembangkan hubungan yang santun dan sesuai atau serasi antara manusia dengan Allah, antara manusia dengan manusia lainnya, antara manusia dengan tempat tinggal sekitarnya atau lingkungan, dalam rangka meningkatkan ketakwaan mereka kepada Allah swt ( Muhsin, 2009: 5)
Adapun tujuan diadakan kegiatan keagamaan seperti majelis ta’lim mempunyai tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan realita orang atau masyarakat itu sendiri. Berdasarkan renungan dan pengalaman Dr. Hj. Tuty Alawiyah, ia merumuskan bahwa tujun majelis ta’lim adalah sebagai berikut :
a. Sebagai tempat belajar, maka tujuan majelis ta’lim adalah menambah ilmu dan keyakinan agama yang akan mendorong pengalaman ajaran agama.
b. Sebagai kontak sosial, maka majelis ta’lim mempunyai tujuan sebagai ajang tempat silaturahmi.
c. Sebagai mewujudkan minat sosial, maka tujuannya adalah meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan rumah tangga serta lingkungan jama’ahnya (Alawiyah, 1997 : 78).
Arifin (1995 : 32) beliau mengemukakan pendapatnya tentang tujuan majelis ta’lim sebagai berikut :
“Tujuan majelis ta’lim adalah mengkokohkan landasan hidup manusia Indonesia pada khususnya di bidang mental spiritual keagamaan Islam dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya secara integral, lahiriyah dan batiniyah, duniawiyah dan ukhwariyah secara bersamaan sesuai tuntutan ajaran Agama Islam yaitu iman dan takwa melandasi kehidupan duniawi dalam segala bidang kegiatannya”.
Secara sederhana tujuan dari majelis ta’lim dari apa yang diungkapkan di atas adalah tempat berkumpulnya manusia yang di dalamnya membahas pengetahuan keagamaan serta menjalin tali silaturahmi dengan sesama manusia sehingga menumbuhkan kesadaran masyarakat atau jama’ah tentang
pentingnya peranan agama dalam kehidupan individu, keluarga dan masyarakat.
3. Fungsi dan Peranan Majelis Ta’lim
Majelis ta’lim memiliki fungsi sebagaimana dikemukakan Taqiyuddin (2010 : 152) yaitu sebagai berikut :
a. Membina dan mengembangkan agama Islam dalam rangka membantu masyarakat beriman dan bertaqwa kepada Allah.
b. Sebagai taman rekreasi rohani karena diselenggarakan serius tapi santai. c. Sebagai ajang silaturahmi yang dapat menghidup suburkan dakwah dan
ukhuwah Islamiyah.
d. Sebagi sarana dialog berkesinambungan antar ulama, umara dan umat. e. Sebagai motivasi terhadap pembinaan jamaah dalam mendalami ilmu
agama islam.
Lembaga Majelis ta’lim menurut Muhsin (2009 : 5-7) berfungsi sebagai berikut :
a. Tempat belajar mengajar majelis ta’lim dapat berfungsi sebagai tempat belajar mengajar umat islam, khususnya bagi kaum perempuan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam mereka diharapkan dapat memiliki akhlak yang mulia, meningkatkan ilmu dan kecerdasan dalam rangka mengangkat derajatnya dan memperbanyak amal, gerak dan perjuangan yang baik.
b. Lembaga pendidikan dan keterampilan majelis ta’lim juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan keterampilan bagi kaum perempuan dalam masyarakat yang berhubungan, antara lain dengan masalah pengembangan kepribadian serta pembinaan keluarga dalam rumah tangga sakinah, mawadah warahmah.
c. Wadah kegiatan berkreatifitas Majelis ta’lim juga berfungsi sebagai wadah kegiatan dan berkreativitas bagi kaum perempuan. Antara lain dalam berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Wanita muslimah juga mempunyai tugas seperti laki-laki sebagai pengemban risalah dalam kehidupan ini. Alhasil merekapun harus bersifat sosial dan aktif dalam masyarakat serta dapat memberi warna kehidupan mereka
sendiri. Negara dan bangsa kita membutuhkan kehadiran perempuan yang solehah dengan keahlian dan keterampilan sehingga dengan kesalehan dan kemampuan tersebut dia dapat membimbing dan mengarahkan masyarakatnya kepada yang lebih baik.
d. Pusat pembinaan dan pengembangan Majlis ta’lim juga berfungsi sebagai tempat pembinaan dan pengembangan kemampuan dan kalitas sumberdaya manusia kaum perempauan dalam berbagai bidang seperti dakwah, pendidikan, sosial dan politik yang sesuai dengan kodratnya. Dalam bidang dakwah dan pendidikan majlis ta’lim diharapkan dapat meluluskan dan mewisuda pesertanya menjadi guru-guru dan juru dakwah baru, sedangkan dalam bidang politik dan perjuangan, bahwa bilakaum muslimat di zaman Rasulullah ikut berjuang fisabilillah, di zaman sekarang ini mereka juga diharapkan dapat melaksanakan kegiatan sosial dan politik di negerinya sendiri.
e. Jaringan komunikasi, ukhuwah dan silaturahmi Majlis ta’lim juga di harapkan menjadi jaringan komunikasi, ukhuwah dan silaturahim antar sesama, antara lain dalam membangun masyarakat dan tatanan kehidupan yang Islami. Lewat lembaga ini, diharapkan mereka yang kerap bertemu dan berkumpul dapat memperkokoh ukhuwah, mempererat silaturahim dan saling berkomunikasi sehingga dapat memecahkan berbagai masalah yang mereka hadapi dalam hidup dan kehidupan pribadi, keluarga dan lingkungan masyarakatnya secara bersama-sama dan bekerja sama, terlebih lagi dalam mengatasi berbagai permasalahan berat yang tengah dihadapi oleh umat dan bangsa dewasa ini.
Majelis ta’lim bila dilihat dari struktur organisasinya, termasuk organisasi pendidikan luar sekolah yaitu lembaga pendidikan yang sifatnya non formal, karena tidak didukung oleh seperangkat aturan akademik kurikulum, lama waktu belajar tidak ada kenaikan kelas buku raport, ijazah, dan sebagainya bagaimana lembaga pendidikan formal yaitu sekolah Huda, 1987 : 13).
Disamping peranannnya yang ikut menentukan dalam membangkitkan sikap patriotisme dan nasionalisme sebagai modal pencapai kemerdekaan
Indonesia, lembaga ini ikut serta menunjang tercapainya tujuan pendidikan nasional. Dilihat dari bentuk dan sifat pendidikannya, lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut ada yang berbentuk langgar suaraw, rangkang.
Telah dikemukakan bahwa majelis ta’lim adalah lembaga pendidikan non formal Islam. Dengan demikian ia bukan lembaga pendidikan formal islam seperti madrasah, sekolah, pondok pesantren atau perguruan tinggi. Ia juga bukan organisasi masa atau organisasi politik.
Namun, majelis ta’lim mempunyai kedudukan tersendiri di rumah-rumah masyarakat yaitu antara lain :
a. Sebagai wadah untuk membina dan mengembangkan kehidupan beragama dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT.
b. Taman rekreasi rohaniah, karena penyelenggaraannya bersifat santai. c. Wadah silaturahmi yang menghidup suburkan syiar Islam.
d. Media penyampaian gagasan-gagasan yang bersifat bagi pembangunan umat dan bangsa (Zuhairi, 1997 : 19).
Dapat disimpulkan dari beberapa definisi diatas bahwa peranan dan fungsi majelis ta’lim yaitu mengkokohkan landasan hidup manusia muslim Indonesia pada khususnya di bidang mental spiritual keagamaan Islam dalam upaya meningkatkan kualitas hidupnya secara integral, lahiriyah dan batiniyah nya, duniawi dan ukhrawiyah, bersamaan sesuai tuntunan agama Islam yaitu iman dan taqwa yang melandasi kehidupan duniawi dalam segala bidang kegiatannya.
4. Materi dan Metode Pengajaran Majelis Ta’lim a. Materi
Seperti yang telah terjadi di lapangan, materi dari majelis ta’lim merupakan pelajaran atau ilmu yang diajarkan dan disampaikan pada saat pengajian itu dilakukan, dan materi-materi tersebut tidak jauh berbeda dengan pendidikan agama yang ada di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah, dengan lain kata materi atau isi tetap mengacu pada ajaran agama Islam (Harlin, 2008 : 15).
Secara garis besar ada dua kelompok pelajaran dalam mejlis taklim yang dikemukakan oleh Nurul Huda (1990 : 29), yaitu kelompok pengetahuan agama dan kelompok pengetahuan umum :
1) Kelompok pengetahuan agama
Bidang pengajaran yang masuk kelompok ini adalah :
a) Tauhid, adalah mengesahkan Allah dalam hal mencipta, menguasai, mengatur, dan mengikhlaskan peribadahan hanya kepada-Nya.
b) Akhlakul karimah, materi ini meliputi akhlak yang terpuji dan akhlak yang tercela. Akhlak terpuji antara lain ikhlas, tolong menolong, sabar, dan sebagainnya. Akhlak tercera antara lain sombong, kikir, sum’ah, dusta, bohong, dan hasud.
c) Fiqih. Adapun isi materi fiqh meliputi tentang sholat, puasa, zakat dan sebagainya. Disamping itu juga dibahas hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari, yang meliputi pengertian wajib, sunah, halal dan haram, makruh dan mubah. Diharapkan setelah mempunyai pengetahuan tersebut jamaah akan patuh dengan semua hukum yang diatur oleh ajaran islam.
d) Tafsir adalah ilmu yang mempelajari kandungan Al-Qur’an berikut penjelasannya, makna dan hikmahnya.
e) Hadits adalah segala perkataan, perubahan dan ketetapan dan persetujuan Nabi Muhammad yang dijadikan ketepatan atau hukum dalam agama islam.
2) Kelompok Pengetahuan Umum
Karena banyaknya pengetahuan umum, maka tema-tema yang disampaikan hendaknya hal-hal yang langsung ada kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Kesemuanya itu dikaitkan dengan agama artinya dalam menyampaikan uraian-uraian tersebut hendaknya jangan dilupakan dalil-dalil agama, baik berupa ayat-ayat Al-Qur’an
atau hadits-hadits maupun contoh dari kehidupan Rasulullah SAW (Huda, 1990 : 30)
Menurut Tuti Awaliyah (1997 : 78) bahwa kategori pengajian itu diklasifikasikan menjadi lima bagian :
a) Majelis ta’lim tidak mengajarkan secara rutin hanya sebagai tempat berkumpul, membaca shalawat, berjamaah dan sebulan sekali pengurus majelis ta’lim mengundang seorang guru untuk berceramah, itulah isi majelis ta’lim.
b) Majelis ta’lim mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan dasar ajaran agama seperti belajar mengaji Al-Qur’an atau penerangan fiqih.
c) Majelis ta’lim mengajarkan tentang fiqih, tauhid, atau akhlak yang diajarkan dalam pidato-pidato mubaligh yang kadang-kadang dilengkapi dengan tanya jawab.
d) Majelis ta’lim seperti butir ke-3 menggunakan kitab sebagai pegangan, ditambah dengan pidato atau ceramah.
e) Majelis ta’lim dengan menggunakan ceramah pada pelajaran pokok juga diberikan teks tertulis. Materi pelajaran disesuaikan dengan situasi berdasarkan ajaran Islam.
Penambah dan pengembang yang perlu penanganan yang tepat. Wujud program yang tepat dan aktual sesuai dengan kebutuhan jamaah itu sendiri merupakan suatu langkah yang baik agar majelis ta’lim tidak terkesan kolot dan terbelakang.
b. Metode
Metode berasal dari dua kata yaitu “Meta dan Hodos” Meta artinya melalui dan Hodos artinya jalan, maka pengertian metode adalah jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan (Arifin, 1993 : 10).
Metode adalah cara, dalam hal ini acara menyajikan bahan pengajaran dalam majelis ta’lim untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Maka baik metode yang dipilih makin efektif pencapaian tujuan. Metode mengajar banyak sekali macamnya, namun bagi majelis ta’lim tidak semua metode itu dapat dipakai. Ada metode mengajar di
kelas yang tidak semua metode mengajar di kelas yang tidak dapat dipakai dalam majelis ta’lim. Hal ini disebabkan karena perbedaan kondisi dan situasi sekolah dengan majelis ta’lim (Huda, 1990 : 10).
Ada beberapa yang digunakan di Majelis Ta’lim, diantaranya : 1) Majelis ta’lim yang diselenggarakan dengan metode ceramah.
Metode ini dilakukan dan dilaksanakan dengan dua cara :
a) Ceramah umum, di mana pengajar atau ustadz bertindak aktif dengan memberi pelajaran atau ceramah, sedangkan peserta aktif, yaitu hanya mendengar atau menerima materi yang diceramahkan.
b) Ceramah terbatas, di mana biasanya terdapat kesempatan untuk bertanya jawab. Jadi, baik pengajar atau ustadz maupun peserta atau jamaah sama-sama aktif.
2) Majelis ta’lim yang diselenggarakan dengan metode halaqoh. Dalam hal ini pengajar atau ustadz memberikan pelajaran biasanya dengan memegang selalu kitab tertentu.
3) Majelis ta’lim yang diselenggarakan dengan metode mudzakarah, metode ini dilaksanakan dengan cara tukar menukar pendapat atau diskusi mengenai suatu masalah pendapat atau diskusi mengenai suatu masalah pendapat atau diskusi mengenai masalah yang disepakati untuk dibahas.
4) Majelis ta’lim yang diselenggarakan dengan metode campuran artinya majelis ta’lim menyelenggarakan kegiatan pendidikan atau pengajian tidak dengan satu macam metode saja, melainkan dengan berbagai metode secara berselang-seling.
5. Bentuk Kegiatan Majelis Ta’lim
Kegiatan majelis ta’lim banyak diikuti oleh kaum perempuan, majelis ta’lim juga bisa diikuti oleh kaum laki-laki. Beberapa kegiatan majelis ta’lim yang dikemukakan oleh Ahmad Yani (2007 : 168-169) yaitu sebagai berikut :
a. Pengajian
Pengajian yaitu kegiatan belajar untuk mendalami ajaran agama islam yang menanamkan norma-norma agama melalui media tertentu.
Kegiatan belajar diselenggarakan secara rutin di bawah bimbingan orang yang dipandang lebih mengetahui tentang ajaran agama Islam. Pembimbing disapa dengan gelar ustadz/ustasdzah, kyai, guru atau masyarakat baik di masjid, mushola, madrasah-madrasah, perumahan bahkan perkantoran.
b. Kegiatan sosial
Kegiatan sosial adalah salah satu bentuk kepedulian seseorang atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain yang dirasa memiliki keterbatasan kondisi. Keterbatasan kondisi ini dapat berupa keterbatasan sandang, pangan, papan maupun kesehatan fisik yang disebabkan oleh berbagai kondisi. Kegiatan sosial seperti bakti sosial, kunjungan sosial, maupun pemeriksaan kesehatan gratis merupakan kegiatan sosial.
c. Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
Peringatan hari besar islam adalah suatu cara untuk menunjukan kecintaan kita kepada Nabi besar Muhammad saw dengan selalu mengenang hari kelahiran beliau. Penyelenggaraan hari besar islam termasuk kegiatan majelis ta’lim yang selalu dilaksanakan oleh jama’ah majelis ta’lim yaitu peringatan nuzulul Qur’an, lailatul Qodar, hari raya idul fithri, hari raya idul adha, tahun baru islam, maulid nabi, dan isra’mi’raj. Sebagai umat islam tentunya kita sudah menjalankan dan memahami tentang hal-hal penting dalam kehdupan sehari-hari. Untuk hal terpuji ini pasti kita tidak akan melewatkan setiap datangnya hari-hari besar islam tersebut.
Abd. Rosyad Shaleh (1997 : 40) mengemukakan bentuk-bentuk kegiatan keagamaan yang dilakukan masyarakat dalam kegiatan majelis ta’lim pada umumnya antara lain:
a. Jami’yah hadiyu yang diikuti anggota jami’yah dengan kegiatannya adalah membaca hadiwan dan ceramah keagamaan.
b. Jami’yah sholawat Nabi dengan kegiatannya meliputi sholawat Nabi, tahlil, dan sholawat nariyah.
c. Jami’yah qulhu, dengan kegiatannya antara lain: membaca sholawat Nabi, membaca surat Al-Ikhlas dan membaca tasbih.
d. Jami’yah ayat kursi kegiatan yang dilaksanakan adalah membaca tasbih, tahlil, dan ayat kursi.
Beberapa kegiatan di atas yaitu merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang biasa dilaksanakan di majelis ta’lim. Sedangkan kegiatan lainnya masih ada, seperti ceramah keagamaan, jama’ah mendengarkan dan ustadz atau ustadzah (pengajar) yang berbicara mengenai pengetahuan keagamaan, selain itu kegiatan majelis ta’lim biasanya diawali dengan tawasul lalu tahlil ada juga marhabanan, sholat, sholawatan, istighosah, doa-doa dan lainnya.
a. Tawasul
Tawasul yaitu berasal dari Bahasa Arab, yang artinya adalah Memakai Perantaraan. Jadi berdo'a memakai tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantaraan sesuatu, sedang sesuatu yang dipakai perantara itu disebut dengan wasilah. Wasilah menurut arti bahasa jalan, sebab yang mendekatkan kepada yang lain. Dapat diambil pengertian, bahwa tawassul atau wasilah adalah mengerjakan sesuatu apa saja, baik ucapan ataupun perbuatan yang menjadi sarana, perantara, kebutuhan, atau sebab dengan landasan aqidah yang bersih dan lurus untuk mendekakan diri kepada Allah.
b. Tahlil
Tahlil berasal dari kata hallala-yuhallilu-tahlilan yang artinya membaca kalimat la ilaha illallah / tiada Tuhan selain Allah. Jadi yang dimaksud dengan tahlil di sini adalah membaca serangkaian surat-surat Al-Qur’an, ayat-ayat pilihan, dan kalimat-kalimat zikir pilihan (termasuk di dalamnya membaca la ilaha illallah) dengan meniatkan pahalanya untuk para arwah dan ditutup dengan doa didasari keyakinan bahwa membacanya memperoleh pahala dari Allah SWT. Pahalanya dikirimkan untuk orang yang sudah mati atau masih hidup tetapi diperlakukan seperti orang yang sudah mati, umpama seorang yang sedang haji
ditahlili sejak hari pemberangkatannya hingga hari ke tujuh setelah itu tiap malam Jumat hingga yang haji kembali ke rumah dengan selamat. c. Sholawatan
Sholawat merupakan lafadz dari kata Sholat. Sholawat merupakan bahasa arab, yang artinya adalah doa, rahmat dari tuhan, memberi berkah, dan ibadah. Sholawat berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan sholawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah SWT, serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, bahwa orang yang bersholawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik sholawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).
d. Istighosah
Istighotsah sama dengan berdoa akan tetapi bila disebutkan kata istighotsah konotasinya lebih dari sekedar berdoa, karena yang dimohon dalam istighotsah adalah bukan hal yang biasa biasa saja. Oleh karena itu, istighotsah sering dilakukan secara kolektif dan biasanya dimulai dengan wirid-wirid tertentu, terutama istighfar, sehingga Allah SWT berkenan mengabulkan permohonan itu. Istighotsah adalah meminta pertolongan ketika keadaan sukar dan sulit.
e. Do’a-do’a
Do’a adalah permohonan kepada Allah yang disertai kerendahan hati untuk mendapatkan suatu kebaikan dan kemaslahatan yang berada di sisi-Nya.
f. Sholat
Sholat secara bahasa berarti berdo’a, dengan kata lain sholat secara bahasa mempunyai arti mengagungkan. Sedangkan pengertian sholat mempunyai syara’ adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Ucapan di sini adalah bacan-bacaan al-Qur’an, takbir, tasbih, dan do’a. Sedangan yang dimaksud dengan perbuatan adalah
gerakan dalam sholat misalnya berdiri, ruku, sujud, duduk dan gerakan-gerakan lain yang dilakukan dalam sholat.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas majelis ta’lim sangat penting bagi masyarakat, biasanya aktivitas tersebut mendapat dukungan yang cukup banyak dari warga atau masyarakat setempat karena kegiatan yang ada di majelis ta’lim banyak memberikan manfaat yang besar untuk kehidupan individu atau masyarakat bahkan orang banyak.
B. Perilaku Sosial
1. Pengertian Perilaku Sosial
Perilaku adalah pengertian umum dari akhlak istilah bahasa Arab dari kata Khuluq yang berarti perilaku, perilaku itu sesungguhnya merupakan aktivitas dari prinsip, nilai atau keyakinan dari seseorang. Sebuah perilaku tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai ajaran yang dianut oleh seseorang (Ahmad, 2004 : 2).
Ada ahli yang memandang bahwa perilaku sebagai respons terhadap stimulus, akan sangat ditentukan oleh keadaan stimulusnya dan individu atau organisme seakan-akan tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan perilakunya. Pandangan semacam ini pada umumnya merupakan pandangan yang bersifat behaviorisme. Pandangan dari aliran kognitif yaitu memandang bahwa perilaku individu merupakan respon dari stimulus, namun dalam diri individu itu ada kemampuan untuk menentukan perilaku yang diambilnya (Walgito, 1990 : 15).
Perilaku sebagai aktivitas otot yang dapat diamati secara umum, atau kelenjar-kelenjar pengeluaran eksternal yang diwujudkan, misalnya, di pergerakan-pergerakan bagian-bagian tubuh atau munculnya air mata, keringat, ludah dan sebagainya. Perilaku adalah dasar nyata dari psikologi dan kita tidak memasukan dalam pengertian apapun yang kemungkinan besar kurang dapat diamati (Erlbaum, 1987 : 11).
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap lingkungan (Depdikbud, 1998 : 671). Menurut Arthur S Rober, “Perilaku atau tingkah laku adalah sebuah istilah yang sangat umum mencakup tindakan, aktivitas,
respon, reaksi, gerakan, proses, operasi-operasi dan sebagainya. Singkatnya, respon apapun dari organisme yang bisa diukur.
Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dalam pembentukan perilaku adalah faktor kepribadian seseorang, faktor lingkungan, dan faktor budaya. Menurut Casale Lombroso, faktor yang mempengaruhi perilaku, yaitu faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor sosiologis.
Menurut Lowrence Green, perilaku ditentukan atau terbentuk dari tiga faktor, yaitu sebagai berikut :
a. Predisposisi (predis posing faktors) yang terwujud dalam pengetahuan, siakp kepercayaan, keyakianan, nilai-nilai, dan sebagainya.
b. Pendukung (enabling faktors) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak kesediaan sarana.
c. Pendorong (reinforcement faktors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku, kebijakan, dan lain-lain.
Baron dan Byrne menyebutkan empat kategori utama yang dapat membentuk perilaku seseorang, yaitu:
a. Perilaku dan karakteristik orang lain b. Proses kognitif
c. Faktor lingkungan
d. Tatar budaya sebagai tempat perilaku dan pemikiran itu terjadi.
Bentuk dan perilaku seseorang dapat pula ditunjukkan oleh siakp sosialnya. Sikap sosial dinyatakan oleh cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap objek sosial yang menyebabkan terjadinya cara-cara tingkah laku, yang dinyatakan berulang-ulang terhadap salah satu objek sosial. Selanjutnya, berbagai bentuk dan jenis perilaku seseorang pada dasarnya merupakan karakter atau ciri kepribadian yang dapat teramati ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain. Seperti dalam kehidupan berkelompok, kecenderungan perilaku sosial yang menjadi anggota kelompok akan terlihat jelas di antara anggota kelompok lainnya.
Istilah sosial memiliki arti yang berbeda-beda sesuai pemakaiannya. Istilah sosial pada ilmu sosial merujuk pada objeknya, yaitu masyarakat.
Selain itu, sosial itu berkenaan dengan perilaku interpersonal individu atau yang berkaitan dengan proses-proses sosial (Supardan, 2009 : 27).
Perilaku sosial adalah aktivitas psikis seseorang terhadap orang lain atau sebagainya dalam memenuhi kebutuhan diri atau orang lain yang sesuai dengan tuntunan sosial (Hurlock, 1999 : 362).
Perilaku sosial menurut Bambang Rudito (2003 : 1) adalah rangkaian norma, moral, nilai dan aturan yang bersumber dari kebudayaan suatu masyarakat atau komuniti yang digunakan sebagai acuan dalam berhubungan antar manusia.
Perilaku sosial itu sendiri menurut Rusli Ibrahim (2001 : 22) didefinisikan sebagai suasana saling ketergantungan yang merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan manusia. Sebagai bukti bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain. Ada ikatan saling ketergantungan diantara satu orang dengan yang lainnya. Artinya bahwa kelangsungan hidup manusia berlangsung dalam suasana saling mendukung dalam kebersamaan.
Menurut Abu Ahmadi (2007 : 93) yang dimaksud dengan perilaku sosial adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun (kecuali kemungkinan perasaan telah melakukan kebaikan). Kepribadian atau personalitas bukanlah merupakan hal yang diwarisi, yang diperolehnya dari keturunan, tetapi personalitas itu adalah hasil resultans dari pada proses interaksu sosial secara fundamental antara individu dengan individu-individu di dalam dan dengan seluruh pola kebudayaan yang ada di sekitar individu-individu baik materil maupun non materil, baik individu-individual maupun sosial.
Dari pengertian yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku sosial ialah sikap-sikap dan perilaku sosial dengan baik dan mulia dalam lingkungan masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara.
Setiap usaha, dan tindakan yang disengaja untuk mencapai tujuan harus mempunyai landasan untuk berpijak yang baik dan kuat. Dari
pengertian diatas, perilaku sosial bertujuan agar individu mampu mengimplementasikan hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dilandasi dengan nilai-nilai agama islam. 2. Bentuk-bentuk Perilaku Sosial
Bentuk-bentuk perilaku sosial sebagaimana yang dijelaskan oleh Soekanto (2004 : 113) di antaranya adalah :
a. Aktif dalam organisasi keagamaan
Bentuk prilaku sosial keagamaan di antaranya adalah aktif dalam organisasi keagamaan, di mana dalam pembahasan ini mengenai ibu-ibu jamiy’ah pengajian marhaban. Jamaah jami’yah marhaban yang memiliki perilaku sosial yang baik di anataranya ditandai dengan seorang tersebut aktif dalam organisasi keagamaan di mana dia tinggal, dengan berorganiasi seseorang dapat berlatih bagaimana berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang baik, bersosial, dan berlatih dan menghargai sesama manusia.
b. Berakhlak mulia
Bentuk prilaku sosial yang lain adalah berakhak mulia. Seseorang yang berakhlak baik suka memberi, menolong, mudah memaafkan keselahan orang lain, bisa menghargai sesama, menunjukkan bahwa seseorang trsebut memiliki rasa sosial keagamaan yang tinggi.
c. Menghargai terhadap sesama dan tidak angkuh
Kiranya sudah tidak asing lagi bahwa manusia dilahirkan di dunia ini dengan satu naluri untuk senang bisa hidup bersama dengan sesamanya. Hal itu terutama disebabkan oleh karena itu secara mental dan fisik manusia tidak dilengkapi dengan sarana-sarana yang memungkinkan dia untuk hidup sendiri.
Manusia hidup di dunia ini tidaklah sendiri, melainkan membutuhkan orang lain, maka dari itu dalam berinteraksi sosial kita harus menghargai terhadap sesama, tidak mudah menyakiti orang lain.
Kita diciptakan oleh Allah dalam keadaan yang bermacam-macam, berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, karena dengan perbedaan itulah manusia bisa saling melengkapi, maka dari itu kita
harus saling menghargai terhadap orang lain yang mungkin kadang tidak sama dengan kita.
d. Ikut serta dalam kegiatan keagamaan di masyarakat
Dalam hidup di masyarakat kita dituntut berinteraksi dengan sesama, dan ikut serta dalam kegiatan di masyarakat untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan menunjukkan bahwa kita memang benar-benar hidup dalam lingkungan masyarakat.
Islam mengimbangi hak-hak pribadi, hak orang lain dan hak masyarakat, sehingga tidak timbul pertentangan. Semuanya harus bekerja sama dalam mengembangkan hukum-hukum Allah. Bentuk prilaku sosial dalam etika Islam (Hamzah, 1993 : 95) adalah sebagai berikut :
a. Saling Menghormati
Dalam menjalani roda kehidupan ini banyak sekali perbedaan baik dari cara pandang seseorang, kepribadian dan lain-lain. Untuk itu diperlukan sikap menghormati orang lain agar tercipta suatu keharmonisan dalam pergaulan maupun dalam bermasyarakat. Menghormati merupakan perilaku di mana seseorang dapat menempatkan dirinya dalam suasana maupun lingkungannya ketika ia dihadapkan dengan berbagai perbedaan.
Sikap saling menghormati banyak sekali manfaatnya dalam pergaulan. Tidak hanya menjamin kenyamanan dalam bergaul, sikap menghormati ini nantinya juga akan kembali kepada kita sendiri.
b. Tolong Menolong
Setiap manusia pasti pernah mengalami kemudahan sekaligus kesulitan. Kadang ada saat-saat bahagia mengisi hidup. Namun di waktu lain kesengsaraan menyapa tak terduga. Dalam keadaan sulit tersebit, seseorang memerlukan uluran tangan untuk meringankan beban yang menimpa (Abbdusshomad, 1993 : 39).
Mengulurkan tangan untuk membantu orang lain dalam segala jenis masalah adalah salah satu elemen sifat yang baik. Kadang suatu masalah tampak tidak terlalu besar jika di pandang dari luar sehingga tidak diperlukan bantuan material khusus selain advis bersahabat dan
ucapan simpati. Orang yang baik tidak akan menahan diri untuk memberikan bantuan atau memberikan nasihat baik pada orang yang membutuhkan. Ia punya telinga yang sabar dan simpatik untuk mendengar keluhan orang lain yang punya masalah.
c. Sopan Santun
Kesopanan merujuk pada kesediaan kemampuan raga atau tendensi pikiran untuk memelihara sikap, cara dan hal-hal yang dianggap layak dan baik di mata masyarakat. Melalui cara berpakaian, berperilaku, bersikap, berpenampilan dan lain-lain. Orang yang sopan mencoba bertindak sebaik mungkin seperti yang bisa diterima dan dihargai masyarakat.
Kesopanan tidak berarti orang itu selalu harus berkata “ya” pada orang lain. Kesopanan juga tidak harus berarti seseorang harus menyenangkan pihak lain sepanjang waktu. Sebaiknya, kesopanan juga dibutuhkan sebagai alat untuk menunjukan penolakan tanpa harus menunjukan sikap tidak bisa menyetujui.
Sopan santun adalah suatu kebiasaan seseorang dalam berbicara, bergaul dan berperilaku. Aspek ini sangat penting karena mempengaruhi baik buruknya akhlak dan perilaku sosial seseorang.
Di antara perilaku yang berkaitan erat dengan sopan santun adalah:
1) Etika Berbicara
Diantara tata krama berbicara adalah memperhatikan apa yang bicarakan oleh orang lain dan bersikap ramah. Tatakrama dalam berbicara adalah bersikap ramah kepada orang lain diajak bicara pada saat dan sesudahnya termasuk etika yang baik agar mereka tidak jenuh di tengah-tengah pembicaraan.
2) Etika Bergurau
Salah satu tatakrama bergurau adalah tidak berlebih-lebihan dalam bergurau dan bermain, karena hal itu dapat melupakan orang islam dari kewajiban yaitu beribadah kepada Allah. Banyak bergurau juga dapat mematikan hati dan mewariskan sikap bermusuhan.
d. Peka dan Peduli
Kepedulian tentunya harus bersumber dari hati yang tulus tanpa sebuah noda kepentingan. Di saat seseorang bersedia membantu, menolong dan peduli pada orang lain namun berdiri dibalik sebuah kepentingan, maka sesungguhnya dia sedang terjebak dalam kepedulian tanpa hati nurani, sebuah kepedulian tanpa keikhlasan.
Karena segala bermula dari pikiran kita. Di saat kita berpikir hanya untuk diri sendiri, tentu hanya kita sendiri pulalah yang akan mengakui diri kita. Sebaliknya, jika yang kita pikirkan adalah orang lain dan kemaslahatan umat, maka itulah yang akan kita dapatkan.
e. Berterimakasih
Gratitude atau perasaan yang berterimakasih adalah salah satu kualitas tertinggi manusia. Suatu masyarakat yang tidak mengenal rasa terimakasih adalah masyarakat yang tidak rasional. Dalam tindakan-tindakan manusiawi yang sangat natural, seseorang harus berterima kasih pada orang lain yang memberikan sesuatu dengan tulus dan jujur. Diharapkan, ia membalas tindak kebaikan ini dengan aksi setimpal saat orang memberikan sesuatu itu sedang bermasalah.
3. Indikator Perilaku Sosial
Islam mengimbangi hak-hak pribadi, hak orang lain dan hak masyarakat, sehingga tidak timbul pertentangan. Semuanya harus bekerja sama dalam mengembangkan hukum-hukum Allah. Sehingga, untuk mengetahui indikator perilaku sosial dapat melihat dengan cara menganalisa kegiatan-kegiatan yang dilakukan individu atau objek. Dengan demikian untuk menganalisa perilaku sosial dapat digunakan beberapa indikator sebagai berikut :
Bentuk perilaku sosial dalam etika Islam (Hamzah, 1993 : 95) adalah sebagai berikut :
a. Saling Menghormati
Dalam menjalani roda kehidupan ini banyak sekali perbedaan baik dari cara pandang seseorang, kepribadian dan lain-lain. Untuk itu diperlukan sikap menghormati orang lain agar tercipta suatu
keharmonisan dalam pergaulan maupun dalam bermasyarakat. Menghormati merupakan prilaku diman seseorang dapat menempatkan dirinya dalam suasana maupun lingkungannya ketika ia dihadapkan dengan berbagai perbedaan.
Sikap saling menghormati banyak sekali manfaatnya dalam pergaulan. Tidak hanya menjamin kenyamanan dalam bergaul, sikap menghormati ini nantinya juga akan kembali kepada kita sendiri.
b. Tolong Menolong
Setiap manusia pasti pernah mengalami kemudahan sekaligus kesulitan. Kadang ada saat-saat bahagia mengisi hidup. Namun diwaktu lain kesengsaraan menyapa tak terduga. Dalam keadaan sulit tersebit, seseorang memerlukan uluran tangan untuk meringankan beban yang menimpa (Abbdusshomad, 1993 : 39).
Mengulurkan tangan untuk membantu orang lain dalam segala jenis masalah adalah salah satu elemen sifat yang baik. Kadang suatu masalah tampak tidak terlalu besar jika dipandang dari luar sehingga tidak diperlukan bantuan material khusus selain advis bersahabat dan ucapan simpati. Orang yang baik tidak akan menahan diri untuk memberikan bantuan atau memberikan nasihat baik pada orang yang membutuhkan. Ia punya telinga yang sabar dan simpatik untuk mendengar keluhan orang lain yang punya masalah.
c. Sopan Santun
Kesopanan merujuk pada kesediaan kemampuan raga atau tendensi pikiran untuk memelihara sikap, cara dan hal-hal yang dianggap layak dan baik dimata masyarakat. Melalui cara berpakaian, berperilaku, bersikap, berpenampilan dan lain-lain. Orang yang sopan mencoba bertindak sebaik mungkin seperti yang bisa diterima dan dihargai masyarakat.
Kesopanan tidak berarti orang itu selalu harus berkata “ya” pada orang lain. Kesopanan juga tidak harus berarti seseorang harus menyenangkan pihak lain sepanjang waktu. Sebaiknya, kesopanan juga
dibutuhkan sebagai alat untuk menunjukan penolakan tanpa harus menunjukan sikap tidak bisa menyetujui.
Sopan santun adalah suatu kebiasaan seseorang dalam berbicara, bergaul dan berperilaku. Aspek ini sangat penting karena mempengaruhi baik buruknya akhlak dan perilaku sosial seseorang. Di antara perilaku yang berkaitan erat dengan sopan santun adalah :
1) Etika Berbicara
Di antara tata krama berbicara adalah memperhatikan apa yang bicarakan oleh orang lain dan bersikap ramah. Tatakrama dalam berbicara adalah bersikap ramah kepada orang lain diajak bicara pada saat dan sesudahnya termasuk etika yang baik agar mereka tidak jenuh di tengah-tengah pembicaraan.
2) Etika Bergurau
Salah satu tatakrama bergurau adalah tidak berlebih-lebihan dalam bergurau dan bermain, karena hal itu dapat melupakan orang Islam dari kewajiban yaitu beribadah kepada Allah. Banyak bergurau juga dapat mematikan hati dan mewariskan sikap bermusuhan. d. Peka dan Peduli
Kepedulian tentunya harus bersumber dari hati yang tulus tanpa sebuah noda kepentingan. Di saat seseorang bersedia membantu, menolong dan peduli pada orang lain namun berdiri dibalik sebuah kepentingan, maka sesungguhnya dia sedang terjebak dalam kepedulian tanpa hati nurani, sebuah kepedulian tanpa keikhlasan.
Karena segala bermula dari pikiran kita. Di saat kita berpikir hanya untuk diri sendiri, tentu hanya kita sendiri pulalah yang akan mengakui diri kita. Sebaliknya, jika yang kita pikirkan adalah orang lain dan kemaslahatan umat, maka itulah yang akan kita dapatkan.
e. Berterimakasih
Gratitude atau perasaan yang berterimakasih adalah salah satu kualitas tertinggi manusia. Suatu masyarakat yang tidak mengenal rasa terimakasih adalah masyarakat yang tidak rasional. Dalam tindakan-tindakan manusiawi yang sangat natural, seseorang harus berterima kasih
pada orang lain yang memberikan sesuatu dengan tulus dan jujur. Diharapkan, ia membalas tindak kebaikan ini dengan aksi setimpal saat orang memberikan sesuatu itu sedang bermasalah.
Dengan demikian, indikator yang digunakan sebagai acuan penelitian ini adalah indikator-indikator minat sebagaimana di uraikan sebelumnya yaitu meliputi saling menghormati, tolong menolong, sopan santun, peka dan peduli terhadap orang lain dan berterimakasih.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sosial
Beberapa faktor yang berpengaruh dalam perilaku sosial diantaranya faktor seseorang. Menurut Rusli Ibrahim (2001 : 24) perilaku dipengaruhi dari tiga faktor:
a. Faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan, sikap kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
b. Faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedia sarana.
c. Faktor pendorong yang terwujud dalam sikap dan perilaku, kebijakan dan lain-lain.
Menurut Zakiah Darajat (1975 : 10) terbentuknya perilaku sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
a. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang. Faktor-faktor tersebut dapat berupa insting, motif dan dalam dirinya, sikap serta nafsu. Faktor internal yang bermacam-maca yang berada dalam ciri seseorang akan menimbulkan bentuk perilaku sosial keagamaan yang bermacam-macam.
b. Faktor Eksternal
Faktor ekternal adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang atau individu. Faktor yang timbul dari keluarga, sekolah dan masyarakat akan mempengaruhi perilaku sosial keagamaan seorang individu. Faktor eksternal ini dapat berupa pengaruh lingkungan sekitar tempat dimana individu tersebut hidup dan ditambah dengan adanya hukuman dan hadiah yang ada dalam komunitas tersebut.
C. Hubungan Aktivitas Majelis Ta’lim Dengan Perilaku Sosial
Kualitas pendidikan suatu bangsa dapat ditingkatkan melalui jalur pendidikan non formal (PLS) karena pendidikan luar sekolah dapat memberikan pengetahuan dasar, sikap, nilai dan keterampilan anggota masyarakat yang tidak memperoleh kesempatan dalam pendidikan non formal.
Berkaitan dengan forum Majelis Ta’lim Nurul Huda, maka peranan pendidikan luar sekolah memberikan peran cukup besar dalam upaya membina aqidah, menambah wawasan pengetahuan, menjalin sifat sosial para jamaah pengajian ibu-ibu Majleis Ta’lim Nurul Huda. Abdullah (1986) menegaskan bahwa kedudukan pendidikan luar sekolah (PLS) dalam konteks sistem pendidikan bertugas untuk melengkapi dan menambah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang telah didapat dibangku sekolah atau juga sebagai penyelenggaraan secara khusus bagi masyarakat yang membutuhkan belajar.
Tujuan mengikuti pengajian adalah mendapatkan suatu ilmu yang benar. Esensi dari ilmu itu akan ada bila dirinya ada iman dan amal shaleh. Pengertian iman adalah kepercayaan yang tertanam dalam lubuk hati dengan penuh keyakinan tanpa keraguan sedidkitpun dan termanifestasikan dengan amal perbuatan atau perilaku dalam kehidupan sehari-hari (Rais, 2000 : 175). Perbuatan dalam hal ini lebih ditekankan pada amal shaleh. Kata iman dikenal juga kata aman (damai dan tentram). Manusia yang beriman seharusnya mampu mengaktualisasikan suasana damai dan selalu ingin menjadi pelita kedamaian. Dalam menciptakan suasana damai maka manusia harus bisa menjalin hubungan dengan sesamanya dalam bentuk silaturahim (Rais, 2000 : 9).
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki naluri untuk hidup berkelompok atau bermasyarakat. Sejak manusia diciptakan sesuai dengan fitrahnya (bakat dan potensi) punya hasrat untuk hidup bersama, berkumpul dengan sesamanya dan saling berinteraksi. Salah satu faktor yang mendorong manusia untuk hidup bersama adalah faktor informasi yaitu atas dorongan naluri manusia harus menyampaikan isi hati atau perasaan-perasaannya terhadap orang lain. Penyampaian berbagai perasaan atau informasi bertujuan supaya terjadi hubungan silaturahmi antar sesamanya (Rais, 2000 : 20). Untuk membina silaturahmi dan
meningkatkan ukhuwah Islamiyah dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu secara fisik dan non fisik. Secara fisik misalnya: bersalaman, bergaul dengan sesamanya, saling tolong menolong dan saling berkunjung.
Sedangkan secara non fisik misalnya dengan cara saling memaafkan, saling mendo’akan, saling bertukar pikiran atau informasi dan saling bermusyawarah, berdiskusi, saling berwasiat dalam kebenaran, kesabaran dan cinta kasih. Hal tersebut dapat terealisasikan dalam bentuk pengajian yang mana dengan pengajian umat Islam akan berkumpul bersama dan akan terjalin hubungan sosial diantara sesama manusia. Di sela-sela pelaksanaan ibadah, mereka dapat berkomunikasi, bertukar informasi berbagai hal. Sehingga hubungan persaudaraan antar umat Islam dapat berkembang lagi.
Dengan adanya kegiatan majelis ta’lim diharapkan akan adanya perubahan yang signifikan yaitu bisa mengubah pola perilaku jama’ahnya dari yang tidak baik menjadi berperilaku baik, dengan pemberitahuan pengetahuan baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum. Bila dikaitkan dengan perilaku sosial keagamaan, kegiatan majelis ta’lim merupakan wadah pembelajaran untuk meningkatkan perilaku sosial jama’ah bisa lebih baik.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas Majelis Ta’lim ada hubungannya dengan perilaku sosial ibu-ibu Jam’iyah Nurul Huda. Dengan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Ta’lim, ibu-ibu diharapkan dapat menyadari betapa pentingnya menimba ilmu pengetahuan agama karena dengan bertambahnya ilmu agama perilaku sosial ibu-ibu bisa lebih baik, sehingga dapat mendidik dan membimbing anak-anaknya menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, serta menjadi tauladan yang baik dihadapan manusia dan Allah SWT.