• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Metode Penggunaan Spektrum Frekuensi Siaran TV Digital

Keuntungan yang paling utama dalam implementasi siaran TV digital adalah efisiensi kanal spektrum frekuensi radio. Pada sistem siaran analog, satu kanal spektrum frekuensi radio hanya digunakan untuk menyiarkan satu program siaran. Sedangkan pada sistem penyiaran TV digital satu kanal spektrum frekuensi radio bisa digunakan untuk menyiarkan 12 sampai 20 programa siaran. Tergatung dari standar resolisi video dan parameter pemancar yang digunakan.

Selain itu metode penggunaan dari spektrum frekuensi radio untuk siaran tv digital bisa menggunakan salah satu dari 2 metode berikut:

1. Single Frekuensi Network (SFN)

SFN adalah penggunaan satu kanal spektrum frekuensi oleh satu operator dalam satu zona layanan.

2. Multi Frekuensi Network (MFN)

MFN adalah penggunaan beberapa kanal spektrum frekuensi oleh satu operator dalam satu zona layanan.

(2)

2.2 Metode Multy Frequency Network (MFN)

MFN adalah penggunaan beberapa kanal spektrum frekuensi oleh satu operator dalam satu zona layanan. Masing masing wilayah layanan dalam satu zona memiliki alokasi kanal yang berbeda beda. Dan operaor juga menggunakan frekuensi yang berbeda di tiap tiap wilayah layanan.

2.2.1 Keuntungan dan Kerugian Metode MFN

Keuntungan dan kerugian menggunakan metode MFN adalah sebagai berikut:

Untuk Regulator;

- Kemungkinan Inteference co-channel kecil. Tiap zona menggunakan alokasi kanal spektrum frekuensi yang berbeda beda sehingga kemungkinan interferensi co channel sangat kecil.

- Dibutuhkan alokasi frekuensi lebih banyak.

- Karena tiap tiap wilayah layanan menggunakan alokasi spektrum yang berbeda beda maka di perlukan banyak alokasi spektrum frekuensi untuk keperluan siaran TV digital.

Untuk Operator;

- Setting peralatan lebih mudah. Pada jaringan yang menggunakan sistem MFN tidak ada setting parameter pemancar yang khusus, sehingga hal ini memudahkan operator dalam set up peralatan.

(3)

- Banyak sekali komponen perangkat pemancar yang bekerja berdasarkan

spesifikasi frekuensi, misalnya: bandpass filter, ascilator, High power amplifier, transmission line dll. Sehingga semakin banyak frekuensi yang

digunakan semakin banyak pula sparepart yang digunakan.

Untuk Pemirsa;

- Apabila perangkat penerima pindah wilayah layanan perlu re-tuning. Karena setiap wilayah layanan menggunakan spektrum frekuensi radio yang berbeda untuk siaran TV digital maka apabila perangkat dipindahkan ke wilayah layanan lain dalam satu zona harus re-tuning lagi.

- Bagi pemirsa yang menggunakan perangkat penerima di mobil akan terputus jika pindah wilayah layanan.

Gambar berikut adalah ilustrasi penggunaan spektrum frekuensi oleh salah satu operator di zona wilayah layanan 6.

(4)

Gambar diatas adalah ilustrasi penggunaan spektrum frekuensi radio dengan menggunakan metode MFN di zona 6. Salah satu operator pemenang tender TV digital menggunakan 3 kanal frekuensi untuk siaran di 3 wilayah layanan di Zona 6.

Gambar 2.3 Konfigurasi Network MFN.

Pada jaringan MFN masing masing pemancar di tiap tiap wilayah layanan berdiri sendiri sendiri tanpa ada hubungan antara satu dan yang lain. Pada konfigurasi sistem MFN ini tidak diperlukan clock GPS.

2.2.2 Parameter dan Setting Pemancar Sistem MFN

Parameter dan setting pemancar pada sistem MFN tidak terlalu rumit. Karena tidak perlu setting time clocking antar pemancar. Yang perlu diperhatikan hanya kebutuhan kapasitas data dan target pemirsa yang diharapkan oleh operator. Berikut contoh parameter yang digunakan oleh salah satu operator di zona 6.

(5)

Tabel 2.1 Parameter DVB-T2 dan Kapasitas Data

2.3 Metode Single Frequency Network (SFN)

SFN adalah penggunaan satu kanal spektrum frekuensi oleh satu operator dalam satu zona layanan. Masing masing wilayah layanan dalam satu zona memiliki alokasi kanal yang sama. Dan operator juga menggunakan frekuensi yang sama di tiap tiap wilayah layanan yang luas, sehingga dapat meningkatkan cakupan pelanggannya tanpa harus memerlukan lebih dari satu kanal frekuensi untuk dapat diaplikasi kan. Pada Gambar berikut menunjukkan diagram sistem SFN menggunakan DVB-T dengan aplikasi lebih dari satu pemancar.

(6)

SFN (Single Fequency of Network) merupakan suatu single-transmitter sistem yang dimana maksimum jarak antar pemancarnya akan tergantung dari pengunaan panjang guard interval dan signal delay pada saat dilakukan transmisi, untuk dapat menentukan jarak antar pemancar sangat dibutuhkan informasi tentang topologi wilayah. Tabel 2.2 menunjukkan standart jarak pemancar dengan panjang Guard

Interval dan panjang bandwidth frekuensi yang digunakan berdasarkan

International Telecomunication Union (ITU)

Tabel 2.2 Nilai jarak pemancar dengan panjang guard interval yang digunakan

Mode  Symbol  Length  (µs)  Guard  Interval  Guard  Interval  (µs)  Transmitter   Distance   (km)  2K  224  1/4  56  16.8  2K  224  1/8  28  8.4  2K  224  1/16  14  4.2  2K  224  1/32  7  2.1  8K  896  1/4  224  67.1  8K  896  1/8  112  33.6  8K  896  1/16  56  16.8  8K  896  1/32  28  8.4 

2.3.1 Keuntungan menggunakan metode SFN

Keuntungan menggunakan metode SFN adalah sebagai berikut:

Untuk Regulator;

- Alokasi frekuensi untuk siaran TV Digital lebih sedikit. Alokasi sprektrum frekuensi radio yang digunakan oleh setiap wilayah layanan sama dalam satu zona sehingga kebutuhan spektrum frekuensi radio jadi lebih sedikit.

- Digital deviden semakin banyak.

- Karena kebutuhan spektrum frekuensi radio untuk siaran TV digital, maka pada saat ASO digital dividen yang bisa digunakan untuk keperluan lain di

(7)

masa depan akan jadi lebih banyak. Tentunya ini kan memberikan keuntungan yang lebih besar karena potensi pendapatan bukan pajak akan meningkat pula.

- Lebih mudah dalam pengendalian dan Monitoring. Spektrum frekuensi radio yang digunakan dalam metode SFN untuk siaran TV digital lebih sedikit. Selain itu operator menggunakan kanal spektrum frekuensi yang sama di seluruh wilayah layanan dalam satu zona, hal ini membuat pengawasan, pengendalian dan monitoring yang dilakukan oleh regulator jadi semakin mudah.

- Kemungkinan interference co-channel ada. Terutama apabila setting yang dilakukan oleh operator kurang tepat. Akan tetapi hal ini tidak akan mengganggu operator lain.

Untuk Operator;

- Lebih mudah me-manage infrastruktur

- Lebih efisien dalam hal maintenance perangkat

- Efisiensi sparepart dan perangkat Banyak sekali komponen perangkat pemancar yang bekerja berdasarkan spesifik frekuensi, misalnya: bandpass filter, ascilator, High power amplifier, transmission line dll. Sehingga semakin sedikit frekuensi yang digunakan semakin sedikit pula sparepart yang digunakan.

- Spektrum frekuensi radio yang digunakan dalam metode SFN untuk siaran TV digital lebih sedikit. Selain itu operator menggunakan kanal spektrum Frekuensi yang sama di seluruh wilayah layanan dalam satu zona, hal ini

(8)

membuat pengawasan, pengendalian dan monitoring yang dilakukan oleh operator jadi semakin mudah.

Untuk Pemirsa;

- Apabila perangkat penerima pindah wilayah layanan tidak perlu re-tuning Karena setiap wilayah layanan menggunakan spektrum frekuensi radio yang sama untuk siaran TV digital maka apabila perangkat dipindahkan ke wilayah layanan lain dalam satu zona tidak perlu re-tuning lagi.

- Bagi pemirsa yang menggunakan perangkat penerima di mobil, bisa menikmati siaran tanpa terputus jika pindah wilayah layanan. Apabila pemirsa menggunakan perangkat penerima bergerak dan pindah wilayah layanan maka layanan tidak akan terputus karena frekuensi yang digunakan sama.

Gambar dibawah adalah ilustrasi penggunaan spektrum frekuensi oleh salah satu operator di zona wilayah layanan 6.

(9)

Gambar diatas adalah ilustrasi penggunaan spektrum frekuensi radio dengan menggunakan metode SFN di zona 6. Salah satu operator pemenang tender TV digital menggunakan 1 kanal frekuensi untuk siaran di 3 wilayah layanan di Zona 6.

DVB-T2 menawarkan jarak pemancar maksimum dalam SFN dari 67,2 km. Ini mengasumsikan saluran 8 MHz menggunakan mode pembawa 8K dan guard interval 1/4. Untuk sistem operasional SISO (Single Input Single Output), DVB-T2 yang berarti setiap pemancar memancarkan sinyal yang sama maksimum jarak pemancar bisa sampai 159,6 km (8 MHz channel). Pada jarak ini kelengkungan bumi akan berpengaruh signifikan, dan selanjutnya meningkatkan kesempatan lebih jauh untuk pemancar dengan jenis SFN.

Gambar 2.6 Konfigurasi Network SFN

Secara umum yang akan meningkatkan gangguan diprediksi situasi di daerah tersebut. Contoh ini menunjukkan bahwa SFN skala besar, yang

(10)

kadang-kadang disebut nasional SFNS, adalah pilihan yang lebih baik . Ini bukan kasus untuk DVB-T. Tapi seperti cakupan hanya satu sisi perencanaan, koordinasi juga harus dipertimbangkan. Dalam ITU Region 1 GE06 DVB- T entri rencana dapat digunakan untuk DVB - T2 karena sesuai dengan GE06 DVB- T spektrum masker. Sebuah SFN optimal ukuran untuk DVB - T2 seperti yang ditunjukkan pada contoh berarti daerah penjatahan lebih besar dari ukuran standar dalam GE06 Merencanakan dan memerlukan koordinasi dengan terpengaruh administrasi . Dalam contoh ini adalah koordinasi diperlukan dengan 14 administrasi . Beberapa dari mereka tidak bahkan memiliki perbatasan bersama dengan Jerman. Ini SFNS skala besar yang tersedia di DVB - T2 SISO modus . Dalam mode MISO jarak pemancar maksimum terbatas 79,8 km yang hanya sedikit lebih dari apa DVB-T ditawarkan. Ukuran SFN dan penggunaan MISO memiliki hati-hati dievaluasi tergantung pada Mode penerimaan.

2.4 Mode Multiple Input Single Output (MISO)

Selama periode ketika konsep-konsep teknis yang dievaluasi untuk DVB - T2 , satu kelompok insinyur BBC melihat ke menggunakan teknik MIMO untuk DVB - T2. mereka dianalisis polarisasi sistem MIMO ganda. Hasil cukup menjanjikan dari sudut pandang teknis tetapi untuk mencapai manfaat potensial antena penerima perlu disesuaikan dengan benar untuk menggunakan lengkap potensial. Sayangnya yang jauh dari kenyataan bahwa ada di atas atap sebagian pemirsa, apalagi persyaratan untuk mengubah setiap antena televisi di negara, Akhirnya modul komersial set DVB - T2 batas dengan mensyaratkan bahwa antena pemirsa instalasi harus dibiarkan tak tersentuh . Untuk penerima Sisi itu

(11)

adalah antena tunggal lagi , tetapi menggunakan dua antena dengan polarisasi yang berbeda atau dua terpisah lokasi pemancar untuk sistem input multiple masih

pilihan yang valid di sisi penyiar.

Teknik MISO sederhana mengingat perhitungan daya adalah Alamouti coding - dua mengirimkan antena sistem.

Gambar 2.7 Konfigurasi Sistem MISO

Hal ini juga disebut Space-Time Block Coding. Itu Informasi dikodekan melalui dua antena terpisah dalam ruang dan waktu. Dua simbol yang berdampingan membangun satu blok dimana pengkodean dilakukan. DVB-T2 menggunakan dimodifikasi Alamouti coding mentransfer konsep dari ruang waktu dengan simbol yang berdekatan dengan ruang frekuensi dengan dua operator yang berdekatan.

(12)

Gambar 2.8 Penempatan dan Distribusi MISO

Bahwa pengkodean dilakukan secara berpasangan. Dua operator data yang ditransmisikan dimodifikasi pada TX1 sementara mereka mendapatkan matematis diadaptasi dan mengubah posisi transmisi pada TX2. Jika dua sinyal berkorelasi (DVB-T2 SISO SFN atau DVB-T SFN) itu mengarah ke degradasi parah sinyal yang perlu dikompensasi oleh kekuatan medan yang lebih tinggi. Daerah dengan tingkat sinyal yang sama menunjukkan statistik "SFN ". Tapi keuntungan ini tidak cukup untuk mengkompensasi hal ini meningkat dalam minimum yang diperlukan kekuatan medan. Ketika menghapus korelasi ini menggunakan MISO yang "SFN Gain" memberikan kontribusi sepenuhnya kepada pertanggungan.

Efek lain juga meningkatkan jangkauan cakupan pemancar. di daerah dengan tingkat yang sama dan penundaan singkat antara gema, MISO menurunkan minimum yang diperlukan bidang kekuatan relative untuk kasus non-MISO. Jumlah efek yang ditampilkan dalam mengikuti perencanaan cakupan sederhana misalnya, berdasarkan perhitungan dengan model propagasi statistik.

(13)

Di daerah dengan kekuatan bidang yang sama kedua efek menyebabkan peningkatan cakupan. Langit hasil daerah dari Gain SFN dan daerah merah dari mendapatkan beroperasi dalam mode miso. Sebagai cakupan ditampilkan pada "ya atau tidak" secara angka tidak menunjukkan bahwa Area Gain SFN juga tunduk pada beberapa keuntungan miso. Oleh karena itu beberapa keandalan tambahan untuk cakupan juga ditambahkan.

Gambar 2.9 Peningkatan Cakupan gain SFN dan MISO

Pengkodean Alamouti didasarkan pada dua antena pemancar (dua lokasi) tetapi juga dapat digunakan dengan lebih dari dua pemancar. kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Memperluas perencanaan MISO untuk lebih dari dua pemancar akan lebih dari sebuah tantangan. Penelitian masih dilakukan untuk menemukan model perencanaan yang cocok yang menghasilkan jaringan yang optimal topologi yaitu menugaskan para pemancar ke MISO grup 1 atau 2.

(14)

Dengan adanya banyak kelebihan membuat DVB-T2 yang lebih efisien dari DVB-T. Dalam DVB-T2 minimum yang diperlukan SNR per bit (Eb/N0) secara signifikan menurun. Ada dua kemungkinan untuk memanfaatkannya. Opsi pertama adalah untuk menahan data rate tetap dan rendah nilai kekuatan medan minimum. Hal tersebut akan mendapatkan hasil cakupan yang lebih besar sekaligus mengurangi biaya jaringan per program karena jumlah pemancar dapat dikurangi. Jika tidak dapat digunakan untuk menyediakan cakupan yang sama sambil mengurangi kekuatan pemancar dan karena itu mengurangi biaya jaringan per program.

Pilihan kedua adalah dengan menggunakan ketahanan tambahan untuk meningkatkan kapasitas transmisi sekaligus mempertahankan minimum kekuatan medan yang sama. Untuk kekuatan yang sama lebih banyak data dapat dikirim dan oleh karena itu biaya per program berkurang, yang juga dapat meningkatkan viabilitas memperkenalkan layanan HD. Parameter diberikan dalam tabel 2.3

Tabel 2.3 Perbandingan Parameter DVB-T dan DVB-T2

Peningkatan cakupan yang signifikan untuk penerimaan dalam ruangan portabel dapat diperoleh ketika menjaga data rate konstan tetapi menurunkan

(15)

bidang minimum power. DVB-T2 memungkinkan suara menjadi 6,2 dB lebih tinggi sambil memberikan kapasitas data yang sedikit lebih dari DVB-T. Hal ini dimungkinkan untuk menggabungkan dua pilihan umum cakupan yang lebih besar atau kapasitas yang lebih tinggi menggunakan Fisik Lapisan Pipa (PLP) konsep. Menggunakan salah satu PLP dengan tinggi kapasitas untuk layanan HD untuk penerimaan tetap dan lain PLP menargetkan penerimaan dalam ruangan portabel dengan layanan SD adalah pilihan yang layak. Termasuk layanan mobile dan fixed akan benar-benar membutuhkan tradeoff antara layanan. Terutama di pasar yang hanya dimulai digital terestrial TV (DTT) masalah ini harus erat dievaluasi. Untuk operasi SFN peningkatan dalam kecepatan data yang dapat dicapai ditunjukkan pada Tabel 4 dan Tabel 5. Minimum kekuatan medan untuk DVB-T digunakan untuk menemukan pencocokan DVB-T2 parameter yang ditetapkan. Modus pembawa tinggi dalam DVB-T2 (8K, 16K atau 32K) memiliki pilihan untuk menambahkan operator pada setiap sisi dari spektrum untuk membuat lebih baik menggunakan channel (extended carrier mode).

(16)

Tabel 2.5 Perbandingan Parameter DVB-T dan DVB-T2

Tabel 2.4 dan Tabel 2.5 menunjukkan keuntungan yang jelas menggunakan DVB-T2. The tetap Modus SFN sini akan memungkinkan pengangkutan 4 HD (MPEG-4, 720p) dengan kualitas gambar yang wajar sedangkan pilihan portable akan memungkinkan distribusi 14 SD (MPEG-4, 576i) jasa. Dengan DVB-T2 platform terestrial menjadi dasar yang sangat baik untuk kompetisi dengan satelit atau kabel distribusi.

DVB-T2 tidak hanya terbatas untuk penerimaan tetap dan portabel.Ponsel penerimaan bahkan akan lebih ditingkatkan sebagai DVBNGH (Next Generation Handheld) akan didasarkan pada DVBT2 Extended Frame masa depan dan karenanya memiliki kemungkinan untuk berbagi multipleks dengan itu.

(17)

Tabel 2.6 Perbandingan Parameter DVB-T dan DVB-T2

2.5 DVB-T2 dengan Fitur unik Multiple PLP

DVB-T2 yang telah mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam standar televisi terrestrial digital. Lebih dari 28 negara di seluruh dunia telah memilih untuk standar DTT mereka. Penyebaran pertama di Inggris pada bulan Desember 2009. 2010 dan 2011 melihat peluncuran layanan DVB-T2 di Swedia, Finlandia dan Italia.

(18)

Kedua penggelaran dan uji coba baru yang direncanakan untuk sisa tahun 2011 di Eropa, Afrika dan Asia Tenggara. DVB-T2 adalah sistem DTT yang paling maju di dunia yang menawarkan efisiensi yang lebih tinggi, ketahanan dan fleksibilitas. Ini sangat meningkatkan kapasitas saluran transmisi untuk memenuhi kebutuhan bandwidth HD dan 3D dan menawarkan fleksibilitas melalui berbagai model bisnis dengan menggunakan salah satu kelebihan teknis standart ini yaitu: Physical Layer Pipa (M PLP) teknologi, yang memberikan ketahanan layanan spesifik.

DVB-T2 menggabungkan berbagai inovasi termasuk teknik FEC baru dan skema yang lebih tinggi modulasinya. Semua inovasi ini berkontribusi dalam meningkatkan kinerja dan memberikan banyak fleksibilitas untuk operator membuka ke berbagai macam model bisnis baru. The Multiple Lapisan Pipa Fisik (M-PLP) mekanisme memungkinkan skema modulasi yang berbeda dan ketahanan untuk layanan berbeda dalam multipleks DVB-T2. M-PLP memungkinkan operator untuk mengirimkan, misalnya, pada saat yang sama layanan HD untuk penerimaan oleh antena di atap dan layanan SD untuk penerimaan ruangan portabel. M-PLP juga merupakan alat yang fantastis untuk memfasilitasi penyisipan layanan TV daerah dalam multipleks lebar nasional / frekuensi. Makalah ini menyajikan sebagian pertama gambaran dari standar DVB-T2 untuk mendapatkan pembaca akrab dengan konsep utamanya. Kemudian menjelaskan bagaimana bermigrasi dari DVB-T ke jaringan DVB-T2, menjelaskan perbedaan utama antara kedua setup. Ini kemudian menyoroti teknologi PLP secara lebih rinci, mengungkap potensi tinggi dalam Digital Terrestrial Networks. Membangun fleksibilitas dari standar dan fitur Beberapa

(19)

PLP, kertas mengusulkan daftar lengkap non-model bisnis yang dapat diimplementasikan bila M-PLP layanan berbasis siaran DVB-T2.

2.6 Struktur Sinyal T2.

Standar T2 mendefinisikan struktur framing baru untuk sinyal DVB-T2. Struktur rangka fisik terdiri super frame, frame T2, dan simbol FEF. Super-frame dapat berisi hingga 255 T2 Frames (2 disarankan). Bingkai Perpanjangan Masa Depan akan membawa frame didefinisikan dalam standar DVB masa depan, mungkin NGH. Panjang durasi maksimum bingkai T2 adalah 250 ms sehingga semua sistem ini dibentuk untuk menjadi sedekat mungkin dengan nilai maksimum ini memiliki kinerja yang lebih baik. Sebuah bingkai T2 dibagi menjadi tiga bagian: satu P1 basa-basi yang merupakan simbol yang kuat untuk mengenali sinyal DVB-T2, satu basa-basi P2 yang membawa sinyal yang menggambarkan isi dan struktur dari frame dan data simbol T2 yang

mengusung DVB-T2 dalam symbol OFDM.

Struktur framing logis termasuk BB-Frames, Interleaving frame dan TI-blok. Dalam system DVB-T2, BB-frame adalah unit dasar dalam struktur framing logis dari DVB-T2: alokasi dan penjadwalan yang dilakukan dalam jumlah seluruh BB-Frames. Satu FEC-Frame membawa tepat satu BB-Frame menambahkan BCH dan LDPC informasi FEC.

2.7 Physical Layer Pipes (PLP)

Konsep PLP diwariskan dari standar DVB-S2. Hal ini memungkinkan ketahanan khusus layanan. Setiap PLP dapat memiliki modulasi sendiri, FEC code

(20)

rate dan interleaving. Semua PLPs yang disiarkan melalui frekuensi yang sama

sehingga dianggap sebagai saluran DVB-T2 tunggal.

Gambar 2.10 Ilustrasi multiple PLP

Sebuah multiplex DVB-T2 dapat membawa PLP tunggal, yang didefinisikan sebagai mode input A, atau beberapa PLP, didefinisikan sebagai mode input B dari sistem T2. Sebuah sistem T2 dapat menyiarkan maksimal 255 PLP per multipleks. Ada 3 jenis PLP: PLP yang umum tipe 0 yang membawa informasi yang diambil dari PLP data lain seperti panduan program, atau informasi umum lainnya.

PLP tipe 1 berisi 1 iris per frame T2 sedangkan tipe 2 berisi beberapa potong untuk membawa data aktual. Data dari PLP tipe 1 dapat digunakan untuk layanan yang membutuhkan penghematan daya yang baik.

(21)

Gambar 2.11 PLP tipe 1 berisi 1 iris per frame T2

Data PLP tipe 2 dilakukan dalam beberapa sub-iris per frame T2 meningkatkan keragaman waktu dan kemudian memberikan ketahanan yang lebih baik untuk layanan mobile. Jumlah sub-iris harus sebesar mungkin.

Gambar 2.12 PLP tipe 2 berisi beberapa sub- iris per frame T2 Dalam mode M-PLP, demodulator akan menerima pada waktu yang sama PLP umum dan satu PLP data yang akan mampu membangun Streaming MPEG-2 Transport seperti yang diterima di masukan pembangun PLP. Demodulator dapat disetel untuk yang diinginkan PLP berkat informasi yang diambil dari tabel SI atau diambil dari pemindaian. Sebagai demodulator yang seharusnya hanya

(22)

membaca satu PLP pada waktu tertentu tidak ada batasan di sisi penerima pada jumlah PLP didukung. Beberapa parameter yang umum untuk semua PLP, seperti frekuensi pusat, SFN / MISO, bandwidth, guard interval ukuran FFT atau pola percontohan tersebar. Dan beberapa parameter PLP tertentu seperti konstelasi, code rate, FEC, bit rate TS dan waktu kedalaman interleaving.

Dalam sistem DVB-T reguler hanya satu MPTS dapat disiarkan per saluran DVB-T. Dalam sistem DVB-T2 setiap PLP harus berisi TS konsisten. Jadi sistem T2 disederhanakan dapat dilihat sebagai beberapa MPTS berbagi saluran yang sama tanpa perlu multiplexing MPTS ini bersama-sama di Head-end.

(23)

2.8 Elemen Kunci pada Jaringan DVB-T2

T2 Gateway bertujuan encapsulating masuk MPEG-2 TS ke frame baseband, memasukkan informasi sinkronisasi SFN penyiaran, mengontrol konfigurasi modulator, penjadwalan siaran M-PLP serta alokasi TFS.

Para modulator T2 menerima konfigurasi dari Gateway T2, melakukan pengkodean saluran dengan menambahkan informasi koreksi kesalahan ke depan, membangun frame T2, dan memodulasi sinyal sebelum mengirimkannya melalui udara. Sebuah penguat DVB-T dapat digunakan untuk menyiarkan DVB-T2 dengan meningkatkan modulator DVB-T nya dengan DVB-T2 satu.

Standar DVB-T2 telah mendefinisikan interface protokol baru T2-MI (T2-Modulator Interface) untuk berkomunikasi antara Gateway T2 dan modulator. Paket-paket T2-MI membawa data dienkapsulasi menjadi BB Frames, menyediakan informasi sinkronisasi ketika penyiaran melalui SFN dan mencakup semua informasi sinyal untuk transmisi. Semua PLP, TFS, fitur SFN dijadwalkan dari Gateway T2 dan dijelaskan dalam paket tertentu T2-MI.

2.9 Bisnis Model pada Multiple PLP DVB-T2

Konsep PLP memungkinkan berbagai model bisnis. Operator dapat membedakan dengan mudah jasa secara PLP dengan penawaran yang bervariasi sesuai dengan tingkat robusstness. Salah satu skenario yang mungkin adalah kemampuan untuk menggunakan skema modulasi yang berbeda untuk mengaktifkan berbagai kelas QoS yang berbeda untuk masing-masing PLP. Skenario ini memungkinkan, misalnya, PLP data rate yang tinggi untuk penerimaan konten 3D/HD oleh antena di atap, PLP kedua didedikasikan untuk

(24)

penerimaan SD ruangan dan PLP ketiga dengan ketahanan tinggi untuk mobile TV atau penerimaan radio.

Gambar 2.14 Beberapa standar layanan dalam satu frekuensi Menggunakan multiple PLP DVB-T2

(25)

2.10 Penyisipan Kontel Lokal Regional

Regionalisasi bertujuan menawarkan, di samping layanan TV nasional atau umum, regional atau konten lokal tertentu ke wilayah yang dapat menjadi sebuah kota, daerah atau negara. Hari ini keluar dari 1500 saluran TV yang disiarkan melalui jaringan terestrial digital, dari 50% adalah saluran lokal.

Menawarkan program daerah dalam pelayanan DTT sekarang dianggap wajib. Oleh karena itu, setiap daerah memiliki untuk menyiarkan sendiri DVB-T2 multipleks yang terdiri dari konten nasional dan regional / lokal. Regionalisasi dapat dioperasikan melalui berbagai jenis arsitektur (nasional, daerah, lokal) yang bervariasi tergantung di mana isi regional atau lokal dimasukkan. Hal lain yang penting untuk mempertimbangkan adalah keharusan untuk menjamin Single Frekuensi Jaringan sinkronisasi.

Gambar 2.15 Ilustrasi pengunaan multiple PLP untuk menyisipkan konten lokal.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian berikutnya yaitu Okky (2012) meneliti tentang analisa faktor yang mampu mempengaruhi tingkat pendapatan usaha mikro kecil dan menengah (umkm) di kota Batu,

kapal di Wilayah VTS dengan menggunakan sarana perangkat radio dan elektronika pelayaran; (2) Coastal VTS adalah layanan yang dioperasikan untuk menunjang keselamatan

Pengaturan penomoran penting bagi pihak industri Integrated Receiver Decoder (IRD) atau peralatan penerima siaran TV digital sebagai pedoman standar dalam membuat perangkat

* Jika anda menggunakan TV sebagai monitor atau menggunakan penerima digital untuk menonton TV (Kotak Set Atas - STB) dan anda tidak menggunakan alat kawalan jauh TV, anda

• Jika anda menggunakan TV sebagai monitor atau menggunakan penerima digital untuk menonton TV (Kotak Set Atas - STB) dan anda tidak menggunakan alat kawalan jauh TV, anda

Dalam hal pemegang Izin Pita Spektrum Frekuensi Radio (IPSFR) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 tidak melakukan pengaturan ulang (re-tuning) penggunaan blok pita frekuensi radio

Pada frekuensi tinggi, jarak komunikasi antara tag aktif dengan pembaca RFID dapat lebih jauh, tetapi masih terbatas oleh daya yang ada.. Sinyal elektromagnetik pada frekuensi

* Jika anda menggunakan TV sebagai monitor atau menggunakan penerima digital untuk menonton TV (Kotak Set Atas - STB) dan anda tidak menggunakan alat kawalan jauh TV, anda