• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK. Kata Kunci: Sexy Killer, semiotika Roland Barthes

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRAK. Kata Kunci: Sexy Killer, semiotika Roland Barthes"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

xii ABSTRAK

Alif Kurniawan, Adhaditya. 2019. NIM. 1510521045, Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film Dokumenter Sexy Killer, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jember, Pembimbing: Dr. Juariyah, M.S.i.

Kata Kunci: Sexy Killer, semiotika Roland Barthes

Film adalah komoditi, seni dan sekaligus ideologi, dapat menjadi media menghibur masyarakat dalam bentuk komedi, drama, aksi, sejarah dan dokumenter. Film secara umum dibangun dengan banyak tanda, tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik dalam upaya mencapai efek yang diharapkan. Dengan menggunakan media film, semua orang dapat memanfaatkannya bukan hanya sebagai media hiburan namun juga kritik sosial yang bermanfaat. Dalam menganalisa tanda dalam film sexy killer, penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan Analisis Semiotika dari Roland Barthes. Dalam film ini peneliti meneliti bagian scene 10:33 – 16:34 dimana kubangan air bekas lubang galian tambang dimunculkan. Hasil yang diperoleh dari penelitian pada film Sexy Killer menemukan temuan-temuan sebagai berikut: (1) Makna denotasi dan konotasi pada film ini memberikan pemahaman kepada kita energi listrik yang digunakan sehari-hari memberi dampak bagi warga yang tempat tinggalnya berada di daerah pertambangan batu bara dan PLTU. (2) Mitos yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini adalah di saat semua orang sangat membutuhkan listrik atau bahkan tidak bisa lepas sedetik pun karena listrik, terdapat saudara kita disana tercemar efek samping dari pengolahan energi tersebut.

(2)

1 ABSRACT

Alif Kurniawan, Adhaditya. 2019. NIM. 1510521045, Roland Barthes’s Semiotics Analisys in Sexy Killer Documentary Film, Communication Studies Program, Faculty of Social and Political Sciences, Muhammadiyah Jember University, Advisor: Dr. Juariyah, M.S.i. Key Word: Sexy Killer, Roland Barthes’s semiotics

Film is a commodity, a senior ideology and at the same time, can be a media that pleases society in the form of comedy, drama, action, history and documentaries. Films are generally built with many signs, they include various sign systems that work well together in an effort to achieve the expected effect. By using media films, everyone can use them not only as a shopping medium but also useful social criticism. In analyzing signs in sexy killer films, this study uses descriptive qualitative with Semiotic Analysis from Roland Barthes. In this film researchers study parts of the scene 10:33 - 16:34 The results obtained from research on Sexy Killer films find the following findings: (1) The meaning of denotations and connotations in this film provides an understanding of our electrical energy used daily - day and power plant. (2) The myth that can be denied in this study is when everyone needs electricity or cannot escape for a second because of electricity, related to us involved

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Film adalah merupakan bentuk karya seni yang menjadi fenomena dalam kehidupan modern, setelah ditemukan media untuk mengapresiasikannya tentunya. Film telah berkembang menjadi salah satu bagian dari kehidupan sosial, yang memiliki pengaruh cukup signifikan pada manusia sebagai penonton. Kekuatan dan kemampuan film mampu menjangkau banyak segmen sosial, lantas membuat para ahli berpendapat bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Sejak saat itu, maka merebaklah berbagai penelitian yang hendak melihat dampak film terhadap masyarakat. Ini, misalnya, dapat dilihat dari sejumlah penelitian film yang mengambil berbagai topik seperti: pengaruh film terhadap anak, film dan agresivitas, film dan politik, dan seterusnya.

Dunia film, pada dasarnya juga sebuah bentuk pemberian informasi kepada masyarakat. Film juga memiliki kebebasan dalam menyampaikan informasi atau pesan-pesan dari seorang pembuat sineas kepada para penontonnya. Kebebasan dalam hal ini adalah film seringkali secara lugas dan jujur menyampaikan sesuatu, di pihak lain film juga terkadang malah disertai tendensi tertentu, misalnya ingin mendeskripsikan suatu tema sentral. Film juga sebagai karya seni yang memiliki pengaruh yang kuat dan memperkaya pengalaman hidup seseorang. Melalui film, prinsip, nilai estetika, teori dan keyakinan, kebudayaan tampil secara utuh sekaligus memikat. Film menjadi salah satu prinsip kebudayaan postmodern yang dapat dibaca dengan mudah. Melalui film, paradigma kebudayaan postmodern dikembangkan di seluruh penjuru dunia. Sebagai produk budaya massa, film merangkum dalam dirinya tentang kemampuan menjelajah ke setiap sudut ruang yang ada, menciptakan ruang estetika tersendiri dan menanamkan berbagai nilai dan pandangan hidup. Film adalah komoditi, seni dan sekaligus ideologi.

(4)

51

Harus diakui bahwa hubungan antara film dan masyarakat memiliki sejarah yang panjang dalam kajian para ahli komunikasi karena dapat menjadi media menghibur masyarakat dalam bentuk komedi, atau bisa juga mendidik melalui film dokumenter, dan lain sebagainya.

Film umumnya dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik dalam upaya mencapai efek yang diharapkan. Yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara: kata yang diucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar) dan musik film. Sistem semiotika yang lebih penting lagi dalam film adalah digunakannya tanda-tanda ikonis, yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu. Hal ini merujuk pada film dokumenter Sexy Killer, yang merepresentasikan keadaan masyarakat korban dari pertambangan batu bara. Tanda-tanda yang muncul dalam film tersebut sangat jelas adanya dan fakta apa yang sedang terjadi. Peneliti tertarik meneliti film ini dikarenakan isu yang diangkat dan problem yang sedang dialami oleh bangsa ini sangat berbanding lurus. Apalagi film Sexy Killer bisa dikategorikan sebagai karya yang kontroversial, diunggah di YouTube tepat beberapa hari sebelum pemilu 2019.

Fakta yang ditunjukkan dalam salah satu cuplikan film tersebut ialah di Kalimantan misalnya, di mana dulunya adalah suatu daerah dengan gunung yang subur dan hasil pertanian yang melimpah, kini setelah dibangun PLTU situasi menjadi amat berbeda. Masyarakat hidup dengan kesulitan air bersih, perlu jalan kaki dengan jarak sekitar 1,5 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Tentu saja ini sangat miris sekali, pihak pabrik tak mau bertangung jawab atas situasi tersebut, tanah bekas galian pun tak kunjung direklamasi. Karena menurut mereka pihak perusahaan, sudah menyetor uang jaminan atau uang untuk biaya reklamasi kepada pemerintah. Hal yang lebih mengerikan letak lubang tersebut tepat di belakang Sekolah Dasar dan tidak jarang anak-anak juga menjadi korban tenggelam akibat tanah galian yang berubah menjadi danau karena menjadi lokasi bermain anak-anak. Dalam film tersebut dinyatakan terdapat 32 anak meninggal akibat bekas galian tambang yang tidak direklamasi sepanjang 2012 hingga 2013. Pemerintah

(5)

setempat hanya memagari lubang galian tersebut dengan pagar seng bekas yang bertuliskan larangan bermain area berbahaya. Entah terdapat korupsi uang jaminan atau perjanjian kerjasama tentang bekas lubang galian yang bermasalah. Mirisnya lagi daerah tersebut dulunya dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Film ini mengangkat fenomena tentang listrik yang biasa kita gunakan sehari-hari, berbanding terbalik dengan kehidupan sosial masyarakat yang tinggal di daerah sekitar pertambangan batu bara dan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Energi yang kita serap sehari-hari ternyata menimbulkan efek yang cukup berat bagi mereka. Hal yang juga turut menyita perhatian warganet, terlibatnya elit-elit politik yang sedang berperang di panggung pilpres maupun koalisi pendukung dengan usaha pertambangan mereka. Bukan tidak mungkin bahwa majunya mereka dalam garda terdepan perpolitikan Indonesia adalah untuk mengamankan perusahaan beserta aset yang tersimpan di dalamnya.

Kenapa diberi judul Sexy Killer? Dandhy mengatakan, “Judul itu merujuk pada poin sentral tentang bisnis batu bara yang menjadi sorotan, jadi kesan sexy-nya itu dalam konteks ini adalah bisnis yang seksi, ini energy yang seksi, energy yang cepat diakses. Secara politik, ini sumber uang yang sexy. Banyak aspek di batu bara yang seksi dan killer, ya mereka semua adalah killers buat saya serta ada korban. The fact is ada korban”.

Di balik banyak pembangunan PLTU Batubara, terdapat korban-korban dari kalangan petani, nelayan, dan kelompok rentan lain. Sexy Killer menunjukkan para korban “pembunuhan” batu bara itu terentang dari hulu hingga hilir. Dari lokasi penambangan sampai di mana batu bara itu digunakan. Di lokasi penambangan di Kalimantan Timur, misalnya, petani dari Jawa dan Bali yang melakukan transmigrasi pada zaman Orde Baru, kini harus berhadapan dengan industri penambangan batu bara. Mereka tergusur atau tercemar. Dari lokasi penambangan, pengangkutan batu bara itu terus memakan lebih banyak tumbal ketika diangkut menuju lokasi PLTU di Jawa dan Bali. Di Batang, Jawa Tengah, petani tergusur dan tidak bisa leluasa

(6)

memasuki sawahnya. Nelayan juga terkepung PLTU sehingga sumber penghidupannya terancam. Terumbu karang hancur karena tumpahan batu bara atau jangkar kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara.

Di tempat lain, asap PLTU batu bara itu bahkan telah merenggut nyawa warga sekitar, seperti di Palu, Sulawesi Tengah.

Di tempat lain, asap PLTU batu bara itu bahkan telah merenggut nyawa warga sekitar, seperti di Palu, Sulawesi Tengah. Sexy Killer menghadirkan getir tangis para korban di balik gemerlap lampu yang dinikmati warga sehari-hari.

Pertama, ganti rugi tanah yang belum selesai, antara lain karena nilai ganti rugi yang tidak layak dan proses yang tidak transparan. Kedua, hancurnya mata pencaharian, terutama untuk petani dan nelayan tangkap. Ketiga, kerusakan lingkungan di darat dan di laut akibat limbah sisa pembakaran. Keempat, terganggunya kesehatan warga terutama sakit pernapasan yang diperburuk serta tidak adanya pemantauan mengenai dampak kesehatan.

Adanya film ini juga memperingatkan kita yang sedang menggunakan listrik untuk dapat menghematnya. Bukan memunafikkan diri, kita memang butuh listrik untuk hidup di era modernisasi secara terus-menerus, namun apa salahnya kalau kita lebih peduli terhadap lingkungan, sadar akan ketimpangan sosial yang ada di sekitar kita.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa makna denotasi yang terkandung dibalik bekas lubang galian tambang dalam film Sexy Killer?

1.2.2 Apa makna konotasi yang terkandung dibalik bekas lubang galian tambang dalam film Sexy Killer?

1.2.3 Apa makna mitos yang terkandung dibalik bekas lubang galian tambang dalam film Sexy Killer?

(7)

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Menjelaskan makna denotasi yang terkandung dibalik bekas lubang galian tambang dalam film Sexy Killer

1.3.2 Menjelaskan makna konotasi yang terkandung dibalik bekas lubang galian tambang dalam film Sexy Killer

1.3.3 Menjelaskan makna mitos yang terkandung dibalik bekas lubang galian tambang dalam film Sexy Killer

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Penelitian ini berguna untuk memberitahu kepada peneliti gambaran jelas mengenai bekas lubang galian tambang melalui film Sexy Killer 1.4.2 Penelitian ini berguna untuk peneliti apa yang sebenarnya terjadi di

daerah bekas lubang galian tambang di Kalimantan dan dampaknya bagi masyarakat disana

1.4.3 Penelitian ini berguna bagi peneliti untuk memahami komunikasi dan pesan yang disampaikan film Sexy Killer kepada masyarakat Indonesia

(8)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian menggunakan Penelitian Deskriptif Kualitatif (Ghony & Almanshur, 2017:25) memaparkan bahwa penelitian ini menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur statistik atau dengan cara-cara kuantifikasi. Penelitian kualitatif dapat menunjukkan kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, pergerakan sosial, dan hubungan kekerabatan. Beberapa data dapat diukur melalui data sensus, tetapi analisanya tetap analisis data kualitatif. Sebenarnya, istilah penelitian kualitatif membingungkan karena istilah ini dapat berarti different things to different people.

Penelitian kualitatif ialah penelitian yang menekankkan pada quality atau hal terpenting suatu barang atau jasa. Hal terpenting suatu barang atau jasa yang berupa kejadian, fenomena, dan gejala sosial adalah makna di balik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi pengembangan konsep teori. Jangan sampai sesuatu yang berharga tersebut berlalu bersama waktu tanpa meninggalkan manfaat. Penelitian kualitatif dapat didesain untuk memberikan sumbangannya terhadap teori, praktis, kebijakan, masalah-masalah sosial, dan tindakan.

3.2 Objek Penelitian

Objek yang diteliti adalah Film dokumenter berjudul Sexy Killer, yaitu bagaimana kritik sosial yang ditunjukkan dalam film tersebut.

3.3 Sumber Data Penelitian 3.3.1 Data Primer

Data yang diperoleh melalui sumber utama yaitu film Sexy Killer yang menjadi objek penelitian. Pengumpulan data dengan menganalisis isi film tersebut, seperti dari tayangan-tayangan yang menunjukkan kesan

(9)

kritik sosial, arti bahasa yang digunakan oleh narator, tehnik sinematografi dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam film.

3.3.2 Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder melalui studi pustaka. Studi pustaka digunakan untuk memperoleh data-data dan teori relevan untuk memperoleh jawaban tentang masalah yang diteliti.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan tehnik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Tujuannya yaitu untuk memperoleh data-data yang akurat dan benar yang dapat digunakan sesuai tujuan yang diinginkan peneliti. Metode pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti yakni melalui:

3.4.1 Analisis Semiotika

Dalam hal ini peneliti menggunakan konsep semiotika dari Roland Barthes, yang melontarkan tentang makna tambahan (connotative) dan arti penunjukan (denotative).

1. Signifier (penanda)

2. Signified (petanda) 3. Denotative sign (tanda denotatif)

4. CONNOTATIVE SIGNIFIER (PENANDA KONOTATIF) 5. CONNOTATIVE SIGNIFIED (PETANDA KONOTATIF) 6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

3.4.2. Studi Pustaka

Penulis juga akan melakukan studi pustaka yang akan bertujuan melengkapi data penelitian yang mengacu pada wacana-wacana pustaka sebagai pembanding ataupun sebagai referensi dalam penelitian. Studi

(10)

pustaka ini dibutuhkan karena melalui teknik tersebut peneliti dapat memperoleh data, baik yang bersifat teoritis maupun praktis. Literatur tidak hanya buku-buku mengenai ilmu komunikasi atau ilmu sosial lainnya, tetapi juga pemberitaan dari majalah ataupun internet yang dapat memberi gambaran mengenai pemahaman film.

3.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah suatu metode atau cara untuk mengolah sebuah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut menjadi mudah untuk dipahami dan juga bermanfaat untuk menemukan solusi permasalahan, yang tertutama adalah masalah tentang sebuah penelitian.

Analisis data kualitatif merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja menggunakan data, mengorganisasikan data, memilah data, menjadi satuan yang dapat dikelola, mengadakan sintesis, mencari dan menemukan pola, mencari apa yang penting dan apa yang dipelajari, serta membuat keputusan apa yang akan diceritakan kepada orang lain.

Setelah rangkaian data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis data dengan prosedur dan teknis pengolahan berikut :

(1) Melakukan pemilahan dan penyusunan klasifikasi data;

(2) Melakukan penyunting data dan pemberian kode data untuk membangun kinerja analisis data;

(3) Melakukan konfirmasi data yang memerlukan verifikasi data dan pendalaman data;

(4) Melakukan analisis data sesuai dengan konstruksi pembahasan hasil penelitian.

(11)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.1 Gambaran Umum Penelitian 1.1.1 Ekspedisi Indonesia Biru

Merupakan sebuah proyek rumah produksi Watchdoc dengan visi dan misi berkeliling Indonesia selama 365 hari untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan isu-isu yang ada di bumi pertiwi. Perjalanan ditempuh hanya dengan mengendarai sepeda motor, dimulai dari Baduy Dalam, 1 Januari 2015 dan mengakhirinya di lokasi yang sama pada 31 Desember 2015. Ekspedisi Indonesia Biru diprakarsai oleh dua jurnalis yaitu Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz serta 14 videografer dan kru yang ikut menemani ekspedisi ini. Menyuarakan hashtag #BERSIHKANINDONESIA, benang merah EIB atau Ekspedisi Indonesia Biru ialah konflik sumber daya alam, keadilan sosial ekonomi, kearifan budaya, kritik ekonomi hijau dan kelestarian lingkungan. Berkeliling satu tahun menggunakan motor bebek bekas 125cc serta menempuh jarak 19.833 km, mereka tidak terikat dengan sponsor apapun, semua biaya murni ditanggung sendiri, tujuannya agar proses pembuatan film tidak terbebani dengan ikatan kerjasama, pesan yang disampaikan benar-benar real atau nyata yang terjadi di lapangan, tidak ada bias maupun campur tangan dari pihak ketiga.

Alasan mengapa dinamakan Indonesia Biru, Dandhy menjelaskan, idenya adalah sebuah gagasan ekonomi yang ingin meletakkan keadilan sosial berbasis ekologi, penerapan teknologi-teknologi tepat guna dan kontekstual di masyarakat. Memberi edukasi melalui film memang cara yang paling tepat. Karena di era sekarang ini audio visual sudah memiliki tempat tersendiri bagi mereka yang ingin mensuarakan isi hatinya, atau bisa dibilang sebagai ajang mengekspresikan diri. Dan juga penyebarannya yang tidak susah, melalui sosial media YouTube, karya tersebut sudah bisa disebarluaskan dan dinikmati banyak orang. Beberapa film garapan Watchdoc pun bisa dinikmati secara gratis melalui YouTube. Seperti kata mas Dhandy, “karya Watchdoc

(12)

mudah-mudahan suatu saat nanti mampu menginspirasi serta menjadi rujukan bagi generasi mendatang”.

Film Sexy Killer merupakan film ke-12, bisa disebut babak terakhir dari serangkaian film Ekspedisi Indonesia Biru yang telah diproduksi, berikut beberapa diantaranya :

1. Samin vs Semen 7. Huhate

2. Kala Benoa 8. Gorontalo Baik 3. Lewa di Lembata 9. Asimetris

4. Baduy 10. Boti

5. The Mahuzes 11. Made in Siberut 6. Kasepuhan Ciptagelar 12. Sexy Killer 1.1.2 Sinopsis film Sexy Killer

Film dokumenter ini secara garis besar mengeksploitasi tentang pertambangan batu bara dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat sekitar. Dimulai dari adegan pasangan yang berbulan madu didalam hotel, menciptakan nuansa harmonis nan indah membuat iri siapapun yang melihat, namun tidak lama sudut pandang mulai sedikit berbeda ketika kamera menunjukkan beberapa perabotan yang menggunakan listrik, dari lampu, handphone, laptop, televisi serta beberapa alat elektronik lainnya dengan jumlah voltase yang ikut dicantumkan. Sedikit membingungkan memang, seperti tidak ada hubungannya antara pasangan dengan sorotan barang elektronik. Sebenarnya penonton diajak berrepresentasi dari adegan tersebut, dari mana sebenarnya listrik berasal atau bagaimana sistem kerja listrik yang kita gunakan sehari-hari. “Kita semua tahu adegan selanjutnya yang tidak kita tahu bagaimana listrik bisa sampai ke ruangan ini” ujar Dhandy Laksono (sutradara).

Kemudian masuk ke area pertambangan, menunjukkan beberapa traktor mengeruk batu bara lalu dialihkan ke tongkang-tongkang bermuatan rata-rata 8000 ton yang berada di sungai pedalaman dibawa melintasi sungai yang lebih besar. Lalu di lautan dipindahkan ke kapal vessel dengan kapasitas hingga 50.000 ton. Sebagian di ekspor, ada juga yang dikirim ke PLTU didalam negeri.

(13)

Masuk ke desa Kertabuana, Samarinda, Kalimantan Timur warganya selama 20 tahun hidup bertetangga dengan perusahaan batu bara. Permasalahan yang pertama muncul di sini ialah air bersih, warga juga mengambil air yang tidak bersih tersebut masih harus berjalan kaki ke sumur yang jaraknya cukup jauh. Air yang mengalir dari gunung sudah tidak jernih lagi karena membawa endapan lumpur. Begitu juga dengan sawah-sawah yang biasa menjadi mata pencaharian berubah menjadi ladang lumpur sehingga tidak mampu menghasilkan padi. Daerah tersebut awalnya membentang sawah hijau, kini menjadi sisa keruhan alat-alat berat yang telah mengambil isi bumi. Seorang warga bernama Nyoman pernah protes menghadang alat berat, namun malah dipenjara dengan alasan mengganggu operasional perusahaan.

Tidak jauh dari tempat tinggal Nyoman, terdapat lubang-lubang bekas galian yang menimbulkan kubangan air, yang seharusnya direklamasi. Lubang tersebut awalnya tanah subur yang digali untuk diambil batu baranya lalu ditinggalkan begitu saja tanpa ada tindak lanjut. Lokasinya berdekatan dengan pemukiman warga, sehingga menelan korban jiwa akibat tenggelam ke dalam lubang. Tidak ada respon yang signifikan dari pemilik perusahaan, bahkan dari pemerintah setempat. Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor sempat diwawancarai mengenai hal tersebut, namun tanggapannya malah tidak masuk akal. Salah satu ucapannya seperti “Ya namanya nasibnya dia, meninggalnya di kolam tambang, kan”. Terdapat juga cuplikan debat presiden yang membahas pencemaran lingkungan, turut menyinggung soal bekas lubang galian. Sampai saat ini diperkirakan terdapat 3500 bekas lubang tambang. Aktifitas pertambangan yang sangat berdekatan dengan rumah warga, menyebabkan beberapa efek samping seperti, tanah yang semakin miring menyebabkan rumah sedikit bergeser.

Pulau Karimunjawa, Jawa Tengah, ikut merasakan dampak negatif. Karena tongkang-tongkang pengangkut batu bara hilir mudik dalam perjalanan dari Kalimantan menuju PLTU di Jawa dan Bali. Sebagian kawasan tersebut masuk kawasan taman nasional yang dilindungi. Terumbu karang mengalami kerusakan akibat tergilas tongkang, serta tumpahan batu bara yang ikut mencemari ekosistem laut. Ditambah lagi kabupaten Batang

(14)

akan membangun PLTU yang disebut-sebut salah satu terbesar di Asia Tenggara, sudah bisa dibayangkan apa yang akan selanjutnya terjadi.

Salah satu tujuan akhir tongkang, yaitu Celukan Bawang, Buleleng, pulau Bali. Energi batu bara menuntut pengorbanan besar dari warga sekitar. Dampak dirasakan oleh nelayan yang mulai kekurangan hasil tangkapan ikan, serta petani kelapa dengan kualitas buah dan pohon yang tidak seperti sedia kala. Asap yang dikeluarkan akibat pembakaran batu bara mengeluaran zat sisa di udara. Sisa pembakaran menyebar ke tanaman, perairan serta masuk ke paru-paru manusia. Tidak semua orang melulu menggunakan listrik dari batu bara, seseorang mulai menggunakan tenaga panel surya untuk kebutuhan listrik sehari-hari. Menurut Dandhy, “tidak perlu pusat pembangkit dengan lahan luas yang mendistribusikan listrik ke setiap rumah dengan jaringan dan kabel-kabel panjang atau interkoneksi, setiap rumah cukup menyediakan ruang 1 meter persegi untuk setiap 10.000 rupiah biaya listrik per bulan”, contoh jika biaya listrik bulanan 300.000 rupiah berarti butuh setidaknya 30 meter persegi untuk memasang panel surya.

Debu PLTU juga menyebabkan beberapa orang di Jepara terkena sesak nafas, batuk dan pilek yang tak kenal musim. Juga warga di Palu, terserang alergi debu, dan kanker stadium 4. Juga pembuangan abu terbang yang tidak ditangani dengan baik oleh PLTU, memicu pencemaran llingkungan. Menurut penelitian Universitas Harvard dan Greenpeace yang dipublikasikan tahun 2015, PLTU batu bara di Indonesia menyebabkan kematian prematur hingga 6500 jiwa setiap tahunnya. Jika di hitung rata-rata, ada 17 kematian setiap harinya akibat terpapar polusi batu bara.

Watchdoc juga menjelaskan secara detail siapa saja elit-elit politik Indonesia yang ikut menghiasi deretan teratas sebagai pemilik batu bara dan pemegang saham PLTU, hampir 80% dihuni mantan jenderal TNI dan Polri. Penjelasan terstruktur dari hulu ke hilir ditampilkan dalam visual, tanpa ada keberpihakan.

Saat pemilu lalu, situasi panas antar kedua kubu bisa terlihat dari berbagai media. Masing-masing pendukung sempat bersi-tegang, isu-isu negatif terlontar untuk kedua pasangan calon. Dan film ini menjadi ujung

(15)

pertarungan siapa yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Menciptakan sensasi yang tidak terduga-duga. Menjawab pertanyaan rakyat-rakyat kecil, menyadarkan kepada mereka yang terlalu fanatik ke salah satu kubu. Terangkatnya siapa saja pemilik saham, pemilik lahat serta pengelola batu bara membuat siapa saja yang menonton akan tercengang.

Kedua calon presiden Jokowi dan Prabowo, dimana tim sukses mereka rata-rata pemilik lahan batu bara. Film ini bukan ajang saling mencemooh satu sama lain. Melainkan sarana informasi bagi kita akan keterlibatan petinggi negara dalam bisnis model pertambangan batu bara. Mereka juga tidak bisa disalahkan akan dampak yang terjadi terhadap lingkungan serta warga sekitar. Di akhir video, diperlihatkan unjuk rasa dilakukan warga setempat yang didukung oleh Greenpeace (Organisasi lingkungan internasional). Unjuk rasa terjadi di PLTU Buleleng, Bali dan taman nasional Karimunjawa, Jawa Tengah.

(16)

1.2 Profil sutradara film Sexy Killer

Dhandy Laksono lahir di Lumajang, Jawa Timur pada tanggal 29 Juni 1976, merupakan seorang jurnalistik senior sekaligus CEO Watchdoc. Pria yang bertubuh gemuk ini memulai karir kewartawanan sejak tahun 1998. Beliau juga dikenal sebagai wartawan yang kritis terhadap isu-isu sosial. Sebagai wartawan, Dandhy pernah bekerja di beberapa media cetak, radio, online dan televisi. Di kalangan wartawan lainnya, sosok Dandhy cukup disegani lantaran berani mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah, sebagai bukti, dirinya pernah berurusan dengan Kepolisian Daerah Jawa Timur akibat unggahan status dalam laman pribadi facebook-nya. Ia dilaporkan polisi oleh Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jawa Timur, yaitu organisasi sayap PDI Perjuangan, karena dianggap menghina Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Status tersebut dinilai Repdem telah menebar unsur kebencian kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo.

Dandhy semula adalah kru sebuah radio dan ditarik ke SCTV oleh Bayu Sutiyono yg sdh lebih dulu di SCTV. Di SCTV, Dandhy menjabat sebagai produser. Namun dia dipecat pada 13 Juni 2003 dan ini baru 1 tahun masa kerjanya ditempat tersebut. Dandhy dipecat karena ketika mendapat penugasan di Aceh dia tidak mampu mengemban tanggung jawab dan menjaga nama baik SCTV. Dandhy juga dinilai menggangu kondusifitas tempatnya bekerja. Tidak terima diberhentikan, Dandhy kemudian membawa persoalan ini ke ranah hukum dan menjerat nama Karni Ilyas yang saat itu menjabat Pemimpin Redaksi SCTV sebagai tergugat. Setelah dipecat SCTV, RCTI kemudian memberikannya kesempatan untuk bekerja namun setelah keluar dari sini pun Dandhy meninggalkan kesan negatif. Ia juga bahkan menjelek – jelekkan RCTI yang dianggapnya tidak memenuhi hak – haknya sebagai karyawan.

Selain bekerja sebagai wartawan dan pembuat film dokumenter, pria yang telah memasuki kepala empat itu juga pernah menulis buku yang berjudul, ‘Indonesia for Sale’ dan ‘Jurnalisme Investigasi’.

(17)

Sosoknya lebih dikenal sebagai pendiri Watchdoc , sebuah rumah produksi audio visual yang didirikannya bersama Andhy Panca Kurniawan. Sejauh ini pihak Watchdoc telah menghasilkan sebanyak 25 episode dokumenter, 540 features televisi serta 40 karya video komersial dan non-komersial yang memperoleh berbagai penghargaan.

Dandhy kerap mengangkat tema sosial dalam film yang akan diproduksi. Bisa dibilang, seorang Dandhy menjadi salah satu jurnalis paling berani menyuarakan ketidakadilan kepada rakyat kecil yang terkadang luput dari pantauan media.

Berikut karir yang pernah digeluti oleh Dhandy Laksono: 1) Reporter Tabloid Kapital (1998-2000) (1998-2000)

2) Reporter Warta Ekonomi Magazine (2000) (2000) 3) Editor PAS FM Radio (2000) (2000-2001)

4) Chief Editor AHA Digital Lifestyle Magazine (2001) (2001) 5) Editorial Writer SMART FM Radio (2001-2003) (2001-2003) 6) News Producer RAMAKO Radio (2000-2002) (2000-2002) 7) News Producer Liputan 6, SCTV (2002-2003) (2002-2003)

8) Freelance Indonesian Political Analyst ABC Radio, Indonesian Section, Australia (2001-2003) (2001-2003)

9) Chief Editor Acehkita.com (2003-2005) (2003-2005) 10) Head of Assigment Desk RCTI (2006-2009) (2006-2009)

11) Editorial Consultant First Media News (cable) – 2010-2011 (2010-2011)

Beberapa penghargaan yang pernah diraih Dandhy Laksono: 1) People Choice Award for Alkinemokiye

2) Southeast Asia Documentary Festival 2012 3) Chevening Scholar-led Program

4) Alkinemokiye Public Screening in U.K

5) 1st Prize for British Council Broadcast Competition: Ranger di Tepian

Leuser, an Illegal Logging Story in Aceh (2008)

6) 1st Prize for Jakarta The Best Journalist (2008): Investigative Report on

Pembunuhan Munir, a Human Right Defender Murder Case (Alliance of

(18)

Independent Journalist AJI)

7) 1st Prize for Jakarta Stock Exchange Journalist Writing Competition:

Anjing penjaga di Lantai Bursa (2002)

8) 5th Prize for Pikiran Rakyat Daily Election Writing Competition: Pemilu

dan Pemilih Pemula (1997)

9) 1st Prize for Padjadjaran University Education Writing Competition:

Membangun Kampus dari Dalam Kelas (1998).

1.3 Tim Produksi film Sexy Killer

Sutradara : Dhandy Laksono Asisten Sutradara : Suparta Arz Peneliti : Tommy Apriando Eksekutif Produser : Andhy Panca

: Ari Trismana Produser : Arif Fiyanto

: Didit Haryo : Merah Johansyah : Roy Murtadho : Deby Natalia : Jeri Kusuma Videografer : Ikang Fauji

: Harry Maulana : Dhandy Laksono : Suparta Arz : Kasan Kurdi : Tommy Apriando : Erik Wirawan : Nugroho Adi Putera : Okie Kristiyawan : Tri Yuliantoro

: Jeri Kusuma Asmoro : Rivan Hanggarai : Artho Viando

(19)

: Ranny Virginia

Pilot Drone : Dhandy Laksono : Nugroho Adi Putera : Jeri Kusuma Asmoro : Rivan Hanggarai : Ahmad Saini : Saifullah Fadli : Ivan Zulfikri : Romiansyah Nebo : Harry Maulana Videografer bawah air : Tri Yuliantoro Editor : Fandhi Bagus

: Hendra Permana : Khoirul Umam : Okie Kristyawan : Godi Utama Desain Grafis : Faiz Benshadeq

: Zairi Arjani : Pakonian Studio Musik : David Suhartoyo Unit Produksi : Yuli Astrini

: Suphianita

: Yulia Adiningsih : Anisa Dewi Anggriaeni : Aisyah Nur Syamsi Tim Support : Nurul Alvi

: Rizky Cahya Ramdani : Dedi Zulfriyan

Terima kasih kepada : Greenpeace Indonesia : Jaringan Advokasi Tambang : Bersihkan Indonesian

(20)

: FNKSDA

1.4 Makna Denotasi, Konotasi dan Mitos

Dalam film ini peneliti hanya menganalisis tentang bekas lubang galian tambang yang belum direklamasi. Scene tersebut dimulai di menit 10:23 – 16:34. Untuk menjelaskan identifikasi lengkapnya, peneliti menggunakan analisis semiotika model Roland Barthes :

1) Scene 1

Pada gambar dibawah terlihat secara jelas lubang galian bekas tambang yang berada di Kalimantan,

Visual Dialog/Suara Type of Shot

Dandhy Laksono : sebagian diantaranya mati muda tenggelam dibekas galian tambang batu bara yang seharusnya direklamasi atau ditimbun kembali.

Extra Long Shot : gambar diambil dari jarak yang sangat jauh sehingga gambar terlihat kecil.

Tidak ada dialog

Long Shot : Gambar diambil dari jarak jauh, sehingga seluruh bagian objek dan latar belakangnya terlihat jelas.

(21)

Dandhy Laksono: Lokasi tempat bekas galian tambang yang berdekatan dengan sekolah.

Long Shot : Gambar diambil dari jarak jauh, sehingga seluruh bagian objek dan latar belakangnya terlihat jelas.

Dandhy Laksono: Saat ini diperkirakan ada 3500 lubang bekas tambang, menurut aturan lubang-lubang ini seharusnya

diuruk kembali atau

direklamasi. Perusahaan bahkan telah diminta menyetor sejumlah uang jaminan untuk biaya reklamasi. Namun ini bukan tentang perusahaan yang melanggar aturan atau korupsi uang jaminan, melainkan aturan pasca penambangan sendiri yang juga bermasalah

Long Shot : Gambar diambil dari jarak jauh, sehingga seluruh bagian objek dan latar belakangnya terlihat jelas.

Denotasi

Gambar lubang bekas galian tambang yang berada di Kalimantan, yang belum direklamasi. Terlihat seperti danau yang indah karena warnanya yang hijau dan dikelilingi beberapa pepohonan.

(22)

Konotasi

Jika melihat gambar yang diambil oleh Watchdog tersebut, secara tidak langsung memiliki pesan simpati, prihatin bahkan kritik sosial di benak penonton. Karena timbul pertanyaan, kenapa lubang tersebut sampai memakan korban, kenapa Indonesia begitu lalai menetapkan peraturan bagi pemilik perusahaan.

Mitos

Patut dipertanyakan, kubangan air tersebut sangat banyak bertebaran ditanah Kalimantan, bagaimana kesepakatan awal pemerintah dengan pemilik tambang, setelah hasil bumi diambil, tidak ada pertanggung jawaban, lokasi bekas galian menjadi rusak membentuk kubangan air yang menewaskan warga. Sudah berjalan puluhan tahun tetapi masih saja masalah pencemaran lingkungan tidak bisa diperbaiki. Menyebabkan mereka yang berkantong tebal menjadi semena-mena dengan tanah negerinya sendiri. Kubangan yang terekspos ini hanya sebagian kecil dari lubang-lubang lain, yang mungkin kondisinya lebih parah. Pekerjaan rumah berat bagi Negara, pemerintah dituntut untuk lebih tegas lagi dalam menetapkan peraturan mengenai ijin tambang.

Harusnya kubangan air tersebut direklamasi atau ditimbun kembali dengan tanah, supaya meminimalisir kedalaman. Dan dari lubang inilah beberapa nyawa melayang sia-sia. “ini bukan soal korupsi uang jaminan, tetapi aturan pertambangan yang masih bermasalah”, ujar Dandhy Laksono. Protes dari warga ke pemerintah memang kerap dilakukan tetapi hasilnya nihil, tidak mendapat respon kecuali janji yang tidak ditepati. Jika warga protes ke perusahaan, penjara akan menjadi ancaman karena perusahaan menganggap hal tersebut termasuk mengganggu aktifitas operasional. Masih belum tampak keseriusan pemerintah untuk memperbaiki tempat itu. Pembatas kubangan dengan rumah-rumah pun juga tidak begitu kokoh. Hanya berbatasan dengan seng lembaran, bisa roboh kapan saja ketika angin berhembus kencang.

(23)

Jika tidak ditangani secara dini, tanah yang berada disana akan penuh dengan lubang. Tidak ada lagi pemandangan hijaunya sawah serta penghargaan lumbung padi yang diraih pada tahun 1991.

2) Scene 2

Setelah pencarian dilakukan, akhirnya tim basarnas menemukan jasad korban tenggelam. Kedalaman kubangan air tersebut cukup membuat tim kewalahan, kalau penampakan dari atas memang terlihat seperti danau, tetapi sebenarnya air itu sudah bercampur dengan limbah batu bara, membuat unsur air sedikit lebih mengental. Dan juga zat-zat kimia yang terkandung didalam kubangan pun cukup membahayakan. Tim basarnas dengan dibantu oleh warga setempat, mengevakuasi korban untuk dibawa ke rumah.

Visual Dialog/Suara Type of Shot

Tidak ada dialog

Medium Long Shot: gambar diambil setengah badan dari jarak yang jauh, namun objek tetap terlihat jelas beserta latar belakangnya.

Tidak ada dialog

Medium Long Shot: gambar diambil setengah badan dari jarak yang jauh, namun objek tetap terlihat jelas beserta latar belakangnya.

(24)

Dandhy Laksono: Antara tahun 2011 hingga 2018 tercatat setidaknya 32 jiwa melayang akibat tenggelam di lubang bekas tambang hanya di provinsi Kalimantan Timur. Secara nasional antara 2014 hingga 2018 jumlah yang tewas mencapai 118 jiwa.

Medium Long Shot: gambar diambil setengah badan dari jarak yang jauh, namun objek tetap terlihat jelas beserta latar belakangnya.

Denotasi

Tim basarnas dan warga sedang menggotong jasad korban meninggal, serta antusias warga yang berbondong-bondong menyaksikan evakuasi korban. Terlihat sangat ramai dipadati oleh penduduk. Tidak sedikit pula yang merekam kejadian dengan smartphone.

Konotasi

Melihat jasad korban tenggelam di lubang bekas galian tambang membuat amarah tersendiri bagi masyarakat disana maupun penonton. Sedih, marah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain sabar dan pasrah akan nasib. Kubangan tersebut sebenarnya sudah bertahun-tahun belum juga direklamasi. Sehingga menjadi seperti waduk di tengah hutan.

Mitos

Jatuhnya korban meninggal karena tenggelam menjadi momok bagi masyarakat yang hidup didekat bekas lubang galian tambang, terutama anak-anak. Kubangan air yang terlihat seperti kolam ternyata mempunyai kedalaman yang cukup jauh hingga mampu menelan korban jiwa.

Kejadian seperti yang terlihat digambar bukan kali pertama, sudah ratusan orang meninggal akibat kubangan air. Fenomena yang sangat memprihatinkan

(25)

bagi warga sekitar. Menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah. Meski aturan sudah dibuat, tetap saja kondisi di lapangan tidak seperti yang diharapkan. Masyarakat sangat sulit untuk berhati-hati, dikarenakan lokasi kubangan sangat berdekatan dengan pemukiman, bahkan berada di lingkungan sekolah. Pemandangan menyayat hati bagi siapa saja yang menyaksikan. Teguran keras bagi mereka yang bertanggung jawab akan pertambangan batu bara.

3) Scene 3

Pada scene ini, terlihat reaksi orang tua ketika mengetahui anaknya meninggal diakibatkan tenggelam di lubang bekas galian tambang. Mereka tidak bisa protes akan kematian anaknya, meski tahu bahwa kejadian tersebut termasuk lalainya pemerintah dan pemilik perusahaan dalam mengatur kesepakatan.

Visual Dialog/Suara Type of Shot

Tidak ada dialog

Medium Long Shot: gambar diambil setengah badan dari jarak yang jauh, namun objek tetap terlihat jelas beserta latar belakangnya.

Ibu korban: sampai sekarang mana, mana yang terjun? Itu masyarakat. Mana? Mana orang perusahaan, sampai sekarang belum ketemu.

Medium Long Shot: gambar diambil setengah badan dari jarak yang jauh, namun objek tetap terlihat jelas beserta latar belakangnya.

(26)

Tidak ada dialog

Medium Long Shot: gambar diambil setengah badan dari jarak yang jauh, namun objek tetap terlihat jelas beserta latar belakangnya.

Ibu korban: kalau saya bangun subuh, di masjid saya nangis-nangis, ku ingat anak saya semua, susah betul.

Medium Close Up: Dari jarak yang dekat, objek diambil hanya separuh badan.

Ibu korban: orang tua namanya ibu itu kan kalau ditinggal anak pasti sedih, sampai sekarang pun ya sedih teringat terus. Kalau aku, memang anak ku sudah aku ikhlas kan.

Medium Close Up: Dari jarak yang dekat, objek diambil hanya separuh badan.

Ibu korban: teringat ucapan anaknya sebelum meninggal, “memang gak ada cita-cita, kalau rayhan besar cuma ingin punya uang banyak supaya mamak bisa naik haji sama bapak, bisa bikinkan mamak rumah.

Medium Close Up: Dari jarak yang dekat, objek diambil hanya separuh badan.

(27)

Denotasi Ekspresi kemarahan dan kesedihan orang tua ketika ditinggal pergi anaknya

Konotasi

Gambaran orang tua yang sangat terpukul hatinya ketika menyaksikan sendiri anaknya meninggal secara mengenaskan tenggelam di kubangan air bekas galian tambang. Rasa marah, sedih dan tidak terima atas apa yang terjadi menjadi satu.

Mitos

Pemerintah yang dianggap lalai oleh masyarakat, tidak mampu mengatasi bekas lubang galian. Para orang tua bingung karena tidak tahu akan protes terhadap siapa.

Para orang tua ini menjadi bukti nyata akan dampak negatif industri pertambangan, anak mereka telah menjadi tumbal energi yang kita gunakan sehari-hari. Pelajaran sangat berharga bagi kita sesame manusia, harus saling menghargai, lebih menghormati siapa saja yang berada didekat kita dan menghormatinya. Peduli memang gampang untuk diucapkan namun cukup susah untuk dilakukan. Lama-kelamaan habitat manusia akan berkurang karena alam sudah hancur. Uang telah menghinoptis para elit, monomer-satukan harta dibanding prikemanusiaan. Kesedihan mereka adalah kesedihan kita juga, ikut merasakan betapa pedihnya penderitaan yang dialami.

Dalam scene tersebut menggambarkan bahwa masih saja ada ketidakadilan yang diakibatkan sistem, listrik yang tujuannya untuk kebutuhan banyak orang

(28)

ternyata menyisakan pilu. Terdapat pro dan kontra, pihak pro jelas dari mereka yang bekerja di pertambangan dan menikmati hasil jerih payah mereka. Namun kontra nya sangat pedih, bahkan nyawa taruhannya. Seakan uang sudah tidak ada artinya lagi. Tetapi jika pertambangan ditutup, pasokan listrik akan berkurang dan juga menyisakan pengangguran cukup signifikan. Dilema yang susah untuk dihindari, menjadi bahan perbincangan bersama untuk mencari solusi. Kita tidak bisa pasrah terhadap pemerintah begitu saja. Ada jalan lain yang bisa ditempuh bagi rakyat sipil untu menyuarakan pendapatnya demi menciptakan energi yang lebih hemat serta ramah lingkungan.

Para orang tua diatas merupakan sebagian kecil contoh korban akibat pertambangan, pasti masih banyak diluar sana yang mengalami nasib yang sama. Sesuatu yang menggiurkan pasti memberi efek samping, untuk menghilangkan mungkin bisa dibilang tidak mungkin. Tetapi paling tidak dapat meminimalisir dampak negatif.

4) Scene 4

Pihak pemerintah pun memberi tanggapan, Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor, angkat bicara soal kubangan air bekas galian tambang. Salah satu reporter Samarinda TV mewawancarai beliau,

Visual Dialog/Suara Type of Shot

Reporter: Korban terus jatuh begini, Pak?

Gubernur Kaltim: Tidak masalah, nasibnya kasihan. Reporter: Untuk memutus ini bagaimana, Pak dari Pemprov Kaltim? Supaya tidak ada lagi korban jiwa, Pak?

Gubernur Kaltim: Korban jiwa itu, dimana-mana terjadi Reporter: Tapi ini bekas kolam tambang, meninggalnya

Medium Close Up: Dari jarak yang dekat objek diambil hanya separuh badan.

(29)

Gubernur Kaltim: Ya namanya nasibnya dia, meninggalnya di kolam tambang, kan.

Reporter: Tidak ada upaya, Pak? Supaya tidak terjadi lagi Gubernur Kaltim: itukan pertanggungjawabannya dunia akhirat

Gubernur Kaltim: waspada masyarakat tahu ada lubang, ya, kita sudah sampaikan, sebarkan ke seluruh Suba, kan itu sudah ditandai jangan sampai ada yang lewat, masih aja lagi. Jangan-jangan ada hantunya itu

Denotasi

Seorang gubernur, sedang diwawancarai oleh wartawan. Berada di ruang rapat, dengan didampingi oleh pengawalnya. Wawancara tersebut diambil oleh Samarinda TV yang dialokasikan kepada Watchdoc.

Dikarenakan wawancara menggunakan HP jadi yang ditampilkan hanya gambar beserta audionya saja.

Lalu di wawancara selanjutnya, diambil dari dokumen kompas.id, ketika pak Gubernur sedang keluar dari kantor

Konotasi

Jawaban yang tidak etis ditunjukkan oleh petinggi pemerintah. Bisa dibilang ngawur serta tidak menunjukkan rasa simpati terhadap korban meninggal. Malah menyalahkan masyarakat bukan untuk mencari solusi

(30)

Mitos

Seorang Gubernur yang menunjukkan wibawanya, mengenakan seragam dengan didampingi pengawal pribadinya. Salah satu aktifitas gubernur yaitu menerima untuk diwawancara. Agar sang wartawan mendapat jawaban atas apa yang menjadi topik perbincangan public. Dilihat pak Gubernur menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan dari sang wartawan.

Dari scene diatas menujukkan bahwa, tanggapan yang mengecewakan dari pihak pemerintah, apalagi hal tersebut diucapkan secara langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor. Elektalibitas seorang Gubernur bisa dilihat dari wawancara itu, betapa rendahnya rasa kemanusiaan, hilangnya respect terhadap korban meninggal, yang seharusnya menjadi evaluasi malah menyalahkan masyarakat dikarenakan melanggar ketetapan untuk tidak melewati bekas lubang galian. Pemerintah dinilai lalai, menganggap perkara ini sebagai kasus kemalangan biasa, padahal mereka yang jadi korban disebabkan oleh lokasi penambangan yang dekat dengan pemukiman warga bahkan persis dibelakang sekolah.

1.5 Pesan yang Disampaikan dalam film Sexy Killer

Film ini diupload di YouTube H-4 sebelum pemilu serentak dimulai. Menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat maupun pihak yang disebutkan didalam film. Tentu isinya sangat sensitif sekali terhadap pemerintah, fakta dan data kongkrit dijelaskan didalam isi film. Memberikan informasi kepada khalayak tentang bagaimana listrik berasal, mekanisme serta penggunaan batu bara dan panel surya. Dengan adanya kubangan air bekas lubang galian tambang membuat kita semakin prihatin dengan keadaan warga yang tinggal berdekatan dengan pertambangan. Demi menerangi pulau-pulau lain di Indonesia, mereka menjadi tumbal itu semua. Merasakan langsung dampak negatif dari penambangan batu bara.

Film ini harusnya menjadi tolak ukur bagi siapa saja yang menonton bahwa kita harus lebih hemat energi. Harus lebih bersyukur akan kehidupan yang telah membaik. Banyak korban melayang akibat proses pembuatan listrik. Bukan

(31)

maksud hati untuk anti-listik maupun pemerintah. Namun lebih ke peduli terhadap lingkungan, menggalakkan green-life. Dan membuat rencana untuk mencoba menggunakan panel surya untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Memang lebih mahal dari batu bara, tetapi mampu membuat bumi lebih bersih, tertata dan yang pasti hemat energi. Setiap perusahaan tambang batu bara, pasti akan mengkorbankan lahan atau sebuah wilayah untuk digali tanahnya untuk mendapatkan hasil batu baranya. Dan setelah melihat sekilas kubangan air yang begitu banyak, coba bayangkan berapa banyak titik tanah yang digali di setiap daerah. Bisa diprediksikan bahwa lama-kelamaan tanah disekitarnya pasti akan ambruk, hal tersebut tentu merugikan masyarakat sekitar. Belum lagi tongkang-tongkang yang melalui laut dapat mencemari ekosistem dibawahnya. Mulai saat ini, ayo sadar diri akan alam, kita yang berada jauh dari Kalimantan cukup dengan melakukan hal kecil yaitu menjaga kelestarian lingkungan, mulai menanam pohon dan terumbu karang. Semakin kesini alam Indonesia semakin terpuruk, gunung dan laut mulai menjadi lahan investasi. Kalau bukan kita yang menjaga siapa lagi

(32)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Setelah peneliti mengamati serta menganalisis data berupa rangkaian scene yang terdapat kubangan air bekas lubang galian tambang dalam film Sexy Killer dengan mencari makna denotasi, konotasi dan mitos, maka peneliti merumuskan beberapa hal seperti berikut :

1. Makna Denotasi

Sebuah film dokumenter yang diangkat dari apa yang sekarang sedang terjadi di daerah yang banyak terdapat kubangan air lubang galian bekas tambang yaitu di provinsi Kalimantan.

2. Makna Konotasi

Dampak yang buruk sekali, dirasakan masyarakat yang hidupnya berdampingan dengan kubangan air bekas galian tambang. Sungguh memprihatinkan, sedang pemerintah lamban dalam menangani kasus tersebut. Kubangan air yang tak kunjung direklamasi, embel-embel bekas galian lubang ingin dibuat wisata hanya omong kosong belaka. 3. Mitos

Film ini dibuat oleh Watchdoc dan didedikasikan untuk negeri tercinta ini, mengangkat isu-isu yang terjadi di Indonesia. Memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang penambangan batu bara serta pihak pemerintah yang terlibat didalamnya. Dan diperlihatkan juga bagaimana perjuangan setiap individu yang terkena dampak dari batu bara itu sendiri. Listrik yang kita pakai saat ini telah menelan banyak korban, energi yang sangat vital perannya ternyata memiliki latar belakang cukup memprihatinkan. Perang konflik dengan batin menjadi kebiasaan yang mau tidak mau harus diterima.

(33)

5.2 Saran

a) Sesudah menonton film ini, kita harus siap dihadapkan dengan stereotype - stereotype yang akan dibuat oleh Dhandy Laksono selaku sutradara sebagai penggambaran realitas yang terjadi di Kalimantan.. Mari berpikir lebih luas dan terbuka lagi, masih banyak yang bisa dilakukan untuk membersihkan Indonesia. Penggunaan listrik melalui batu bara memang ada efek samping, maka dari itu mulai detik ini mari mencoba energi yang lebih ramah lingkungan serta tidak merugikan orang lain.

b) Film ini bukan semata-mata dibuat untuk menolak batu bara maupun anti pemerintah, justru dengan kita menyimak dengan baik apa yang disuguhkan dalam film ini, kita menjadi lebih sadar akan lingkungan, memulai hidup hemat energy. Juga berdoa kepada saudara kita disana untuk tetap tegar menghadapi kenyataan yang ada. Berharap pemerintah dapat menemukan solusi agar kubangan-kubangan air tersebut mampu dikurang atau direklamasi agar tidak lagi menelan korban jiwa.

c) Bagi peneliti, film ini sudah memenuhi kriteria yang baik sebagai film dokumenter. Edukatif serta informatif dalam menyampaikan pesan. Film ini dapat dijadikan contoh bagi mereka yang ingin menyuarakan pendapat tentang Negara kita tercinta ini. Sumbangsih seperti ini masih sangat dibutuhkan demi terwujudnya Indonesia yang bersih dan adil.

d) Apabila dalam melakukan segala sesuatu pembangunan yang berkaitan dengan aktivitas manusia harus melakukan sebuah analisis lingkungan terlebih dahulu dan mementingkan aspek lingkungan sosial dan ekonomi agar tidak menuai kecaman dari masyarakat

(34)

DAFTAR PUSTAKA

BUKU :

Budiman, Kris. 2011. Semiotika Visual : Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: Jalasutra.

Christomy, Tommy dan Untung Yuwono. (Ed). 2004. Semiotika Budaya. Depok: Kampus Universitas Indonesia.

Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta: Jalasutra.

Ghony, M. Djunaidi dan Fauzan Almanshur. 2017. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Halik, Abdul. 2013. Komunikasi Massa. Makassar : Alauddin University Press.

Halim, Syaiful. 2016. Semiotika Dokumenter : Membongkar Dokonstruksi Mitos dalam Media Dokumenter. Tangerang Selatan: Deepublish.

Ibrahim, Idi Subandy. (Ed). 2011. Cultural and Communication Studies:Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.

Kurniawan. 2001. Semiologi Roland Barthes. Magelang: Yayasan Indonesiatera. Morissan. 2013. Teori Komunikasi: Individu hingga Massa. Jakarta: Kencana

Prenadamedia Group.

Mulyana, Deddy dan Gembirasari. (Ed). 2005. Human Communication: Konteks-konteks komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset

Nala, Heavy, dkk. 2014. Media Massa : Terror is Me. Malang : Garuda Mas Sejahtera.

Nurudin. 2009. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Rajawali Pers.

Romli, Khomsahrial. 2016. Komunikasi Massa. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

Susanto, Eko Harry. 2016. Komunikasi & Gerakan Perubahan. Jakarta: Mitra Wacana Media

Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

__________, 2014. Filsafat Komunikasi: Tradisi dan Metode Fenomenologi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

(35)

Tinarbuko, Sumbo. 2009. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra Wibowo, ISW. 2013. Semiotika Komunikasi : Aplikasi Praktis Bagi Penelitian

Dan Skripsi Komunikasi Edisi Kedua. Jakarta : Mitra Wacana Media.

JURNAL DAN SKRIPSI:

Ariani, Permata P.I. 2017. “Melawan Kuasa Media dengan Media” [skripsi]. Malang (ID): Universitas Brawijaya Malang.

P. Martuahman, Dony. 2012. “Analisis Semiotika Makna Rasisme pada Film 8 Mile (Analisis Semiotika Rasisme di Kota Detroit Amerika Serikat)” [skripsi]. Yogyakarta (ID): Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”

WEBSITE: https://www.youtube.com/watch?v=qlB7vg4I-To https://socialblade.com/youtube/channel/UCEfBiFTaxLT5Kxe- m6JS5iw http://dimensipers.com/2019/04/18/resensi- film-dokumenter-sexy-killers/ https://www.youtube.com/watch?v=8axPppJwj-8 https://sinopsisfilmbioskopterbaru.com/sinopsis-sexy-killers-2019-lengkap/ https://www.kompasiana.com/zil44982/5cb1e0e5a8bc156030302942/review-sexy-killers-film-dan-isu-terseksi-tahun-ini?page=all https://tirto.id/m/dandhy-dwi-laksono-hM?gclid=CjwKCAjw98rpBRAuEiwALmo-yo5AVv-wm7eAA8oE7ERcp3dJh4Jc4XWDO7wYFo2Be098B7xyuH7NXBoCHaoQAvD_BwE https://www.boombastis.com/fakta-dandhy-laksono/218728 https://www.cnbcindonesia.com/market/20190418195859-17-67682/film-sexy-killers-viral-saham-saham-ini-menjadi-korban https://id.bookmyshow.com/person/dandhy-dwi-laksono/4355 https://hot.detik.com/movie/d-4534427/di-balik-judul-sexy-killers https://www.kompasiana.com/margiecynthia/5cc7fdaaa8bc154475033532/analisis-film-dokumenter-sexy-killers

(36)

Gambar

gambar  diambil  setengah  badan  dari  jarak  yang  jauh,  namun  objek  tetap  terlihat  jelas  beserta  latar  belakangnya
gambar  diambil  setengah  badan  dari  jarak  yang  jauh,  namun  objek  tetap  terlihat  jelas  beserta  latar  belakangnya
gambar  diambil  setengah  badan  dari  jarak  yang  jauh,  namun  objek  tetap  terlihat  jelas  beserta  latar  belakangnya
gambar  diambil  setengah  badan  dari  jarak  yang  jauh,  namun  objek  tetap  terlihat  jelas  beserta  latar  belakangnya

Referensi

Dokumen terkait

Jenis Kegiatan Pembangunan Dermaga Ikan Pasir Jambak Pemberi Kerja Dinas Kelautan dan Perikanan kota Padang Waktu Pelaksanaan April 2008.. Nama Proyek Studi Penyusunan

Dari beberapa provinsi di wilayah Sulawesi itu sendiri , salah satu daerah yang memiliki struktur geologi yang kompleks adalah Sulawesi itu sendiri , salah satu

Hasil penelitian ini menunjukkan dukungan organisasi tidak berperan penting terhadap kompetensi kerja karyawan PT Bank X Malang dan bertentangan dengan penelitian

Nasution (2008:94) menjelaskan bahwa gaya kognitif mampu menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat dan berfikir maupun memecahkan soal dengan cara yang konsisten. Setiap

Strategi Pemasaran Teh Manggata pada CV Dari Teman Sejati dengan menggunakan Analisis SWOT antara lain: Strategi Produk adalah Mening-katkan nilai jual dari Teh

employment kekuatan TNI Angkatan Laut di luar yurisdiksi nasional pada saat operasi pembebasan MV Sinar Kudus, secara tidak langsung juga telah melatih dan

Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian untuk menghasilkan sistem informasi yang dapat membantu para petani dalam proses penyimpanan data hasil produksi jamur tiram..

Form kartu persediaan adalah form yang digunakan untuk menampilkan laporan kartu persediaan yang berasal dari master barang berupa kuantitas barang yang masuk dan