Muatan Bergerak
• Muatan hidup yang bergerak dari satu ujung ke ujung lain pada suatu
k k d b b b b k
konstruksi disebut beban bergerak.
• Sebuah kendaraan melalui suatu jembatan, maka akan timbul perubahan‐
b h il i k i d l
perubahan nilai reaksi maupun gaya dalam.
• salah satu batang dari suatu konstruksi rangka batang yang dibebani muatan hidup mungkin akan bersifat tarik dan pada ketika lain akan muatan hidup mungkin akan bersifat tarik, dan pada ketika lain akan bersifat tekan.
• Dalam merencanakan ukuran satu bagian tertentu dari suatu konstruksi • Dalam merencanakan ukuran satu bagian tertentu dari suatu konstruksi,
perlu dipertimbangkan agar bagian dari konstruksi itu selaras dengan bentuk konstruksi dan cukup kuat gaya terbesar yang akan terjadi pada konstruksi tersebut
• Besarnya gaya dalam yang dihasilkan oleh muatan hidup pada bagian tertentu tergantung pada posisi muatan pada konstruksi
tertentu tergantung pada posisi muatan pada konstruksi. • Posisi muatan hidup yang mengakibatkan nilai gaya dalam maksimum d b d k k d b k pada bagian tertentu dari suatu konstruksi, dapat berupa reaksi perletakan, gaya lintang, dan momen lentur, atau gaya batang pada rangka batang.
Pengertian Garis Pengaruh
• Garis pengaruh digunakan sebagai dasar perhitungan pada konstruksi yang menerima muatan bergerak. • Yang dimaksud dengan muatan bergerak adalah kedudukan muatan yang selalu berubah, misalnya mobil atau kereta api • Akibat muatan yang berubah ini pengaruhnya terhadap penampang konstruksi juga akan berubah. • Untuk keperluan ini, kita memerlukan lukisan garis pengaruh. • Garis pengaruh adalah suatu garis yang menunjukkan besarnya pengaruh dari suatu muatan untuk setiap perubahan kedudukan muatan.• Besarnya reaksi atau gaya dalam pada suatu konstruksi tergantung dari posisi beban pada konstruksi,
• garis pengaruh pada suatu konstruksi dapat berupa garis pengaruh reaksi, garis pengaruh gaya lintang, dan garis pengaruh momen lentur.
Garis Pengaruh Pada Balok Sederhana
P A B P VA A B VA A B P A B P x L X VBVA VB L A bil k k i b l k d h AB di b b Apabila suatu konstruksi balok sederhana AB dimuatan beban hidup P yang bergerak dari A ke B, seperti pada GambarPada saat gaya P berada di titik A maka reaksi perletakan A Pada saat gaya P berada di titik A, maka reaksi perletakan A sebesar P, sedangkan reaksi perletakan di B sebesar 0.
Sebaliknya bila muatan P ada di atas perletakan B akan Sebaliknya bila muatan P ada di atas perletakan B akan
menghasilkan reaksi perletakan A sebesar 0 dan reaksi perletakan B sebesar P
• Apabila kemudian muatan sedang berada di suatu titik X, maka reaksiApabila kemudian muatan sedang berada di suatu titik X, maka reaksi perletakan A akan sebesar :
P
x
L
V
A=
−
.
• Sedangkan reaksi perletakan B akan sebesar :L
AP
L
x
V
B=
.
• Kedua nilai tersebut menunjukkan suatu persamaan linear• Kedua reaksi perletakan dapat dinyatakan di dalam suatu diagram garis • Kedua reaksi perletakan dapat dinyatakan di dalam suatu diagram garis
Diagram Garis Pengaruh Balok Sederhana
A C B persamaan garis pengaruh gaya lintangnya adalah : G V Gp VA g y g y B CV
L
AC
→
=
−
Gp VB Gp LC i h A CV
L
CB
→
=
+
Gp MC b V V persamaan garis pengaruh momen lenturnya adalah :b
V
M
AC
→
C=
B.
b.VA a.V Aa
V
M
CB
C A B C.
=
→
Garis pengaruh balok gantung
• Muatan P = 1 kN bergerak sejauh x dari ujung bebas A, seperti pada Gambar, maka dapat dihitung reaksi perletakan sebagai berikut :, p g p g • Garis pengaruh reaksi B. x PP
x
e
L
V
(
+
)
−
A B C e L Gp VBL
x
L
e
V
Gp
P
L
V
B B.
1
.
.
)
(
−
+
=
=
L e + 1L
L
B1
0
→
=
+
=
V
Be
x
- Gp VC L e −0
1
1
0
=
→
+
=
=
→
=
+
→
B B BV
e
L
x
V
e
x
L
V
x
P0
→
V
Be
x
Garis pengaruh balok gantung
• Garis pengaruh reaksi C.P
e
x
V
=
−
A B C e L x PL
e
L
x
V
Gp
P
L
V
B C−
=
=
.
.
e L Gp VB eL
L
0
→
=
−
=
CL
e
V
x
- Gp VC L e − L e + 11
0
=
→
+
=
=
→
=
C C CV
e
L
x
V
e
x
L
p C P• Bila P bergerak di sebelah kanan titik B akan didapat garis pengaruh LBkananBkanan = VB yang berlaku di BC.
A B C
x P
II
Bila P di sebelah kiri titik II
A C e L a I b c 1 Bila P di sebelah kiri titik II didapat : ) ( .L V positif Gp II = C Gp LI 1 Gp LBki 1 Bila P di sebelah kanan titik II didapat : L c Gp LBka p Bki b B II
V
L
Gp
.
=
e c b Gp LII + L c L e LB C x P II Garis pengaruh M A B C e L a II Garis pengaruh M1. Bila P di sebelah kiri I akan didapat persamaan garis pengaruh :
)
(
b c Gp MI P.a Bila P di sebelah kanan I nilai garis)
.(
a
x
P
M
I=
−
−
Gp MI P.e g pengaruh sama dengan nol, berlaku juga untuk titik G, yakni bila P di sebelah kiri titik B, berlaku persamaan : Gp MB c L e . G M)
(
e
x
P
M
B=
−
−
L c b . Gp MIIB C x P II Garis pengaruh M A B C e L a II Garis pengaruh M1I. Bila P di sebelah kiri II akan didapat persamaan garis pengaruh : b c Gp MI P.a
c
V
M
II=
C.
Gp MI P.e Bila P sebelah kanan II akan didapat persamaan garis pengaruh :b
V
M
II=
B Gp MB c L e . G Mb
V
M
II B.
L c b . Gp MIIGaris pengaruh konstruksi rangka batang
A B h G H F 1 2 3 4 Berdasarkan cara Ritter, gaya batang 1 dan batang 2 ditentukan dengan persamaan : h M b1 = Hgaya batang 2 dan gaya batang 3
h M b h G = 2 gaya batang 2 dan gaya batang 3 ditentukan dengan persamaan : α sec Co L b = α α . . . sec . . 2 2 Sec L b Co L b FKa FKi = =
Manfaat Garis Pengaruh
• Muatan hidup yang bekerja pada suatu jembatan tidak hanya berupa muatan titik P, melainkan terdapat juga muatan berantai, seperti gambar di bawah ini.
• Selain dari pada itu terdapat pula muatan terbagi rata.
Garis Pengaruh
A B C 3 m 3 m I 5 m 7 m D G 0 25 Suatu konstruksi balok sederhana yang dibebani muatan hidup berantai Gp. VB 1,25 1 0,25 Gp. VC - y g p Garis pengaruh momen I menggambarkan besarnya momen , 1 25 0,25 1 75 lentur I bila gaya P = 1 kN bergerak sepanjang batang AD. Bila suatu gaya P = 3 kN bergerak di titik A, maka : 1,25 + - Gp M -I 1,25 1,75 0,58Gaya P = 3 ton ini akan menimbulkan
kNm
x
M
I=
−
1
,
75
3
=
−
5
,
25
.
+ 3 1 2 m1 3 Urutan (3,1) Gaya P = 3 ton ini akan menimbulkan M1 terbesar bila P ada di titik I, yakni sebesar : 2 m Urutan (1,3)M
I=
2
,
917
x
3
=
8
,
75
.
kNm
• Bila muatan hidup bergerak dalam urutan (1,3) dan gaya 1 kN ada di titikBila muatan hidup bergerak dalam urutan (1,3) dan gaya 1 kN ada di titik A, maka : kNm x x MI = (1,75 1)+(0,58 3) =3,49. • Nilai ini akan berubah bila rangkaian ini berbalik arah menjadi (3,1) dan gaya 3 kN di A, maka : • Nilai M1 terbesar bila gaya 3 kN ditempatkan di titik I, dan ada dua kNm x x MI = (1,75 3) + (0,58 1) = 5,83. kemungkinan urutan, yaitu : kN M U kNm x x M Uru I 84 10 ) 1 08 2 ( ) 3 92 2 ( ) 3 1 ( t . 51 , 10 ) 3 92 , 2 ( ) 1 75 , 1 ( ) 1 , 3 ( tan → → = + = • penempatan gaya 3 kN di titik I dengan urutan (3,1) akan menghasilkan M1 terbesar. kNm x x M Urutan → (1,3) → I = (2,92 3) + (2,08 1) =10,84. terbesar.
• Selanjutnya dengan memanfaatkan garis pengaruh, momen lentur akibat muatan terbagi rata juga dapat ditentukan
muatan terbagi rata juga dapat ditentukan. • Bila sejumlah muatan terbagi rata bekerja pada suatu konstruksi, maka d d h b l k b b dapat dihitung besarnya momen lentur akibat muatan tersebut. Dengan menggunakan diagram garis pengaruh momen lentur akibat muatan terbagi rata q dapat dianalisis. A B C D I N Bila muatan q bekerja di titik A, maka : A peng ord qx MI = . . . - -Gp 1,7 5 1,7 5 a1 a n p g q I xq M I = 1,75 + MI 2 9 a a 0o b 0 c d a n 1 q x x qx MI = (−1/2.1,75 3+1/2/1,17 2)=−1,46 2,9 2 1
Contoh Soal 1 dan Pembahasan
P = 2 kN A P 2 kN B A B C x 3 m 6 Garis pengaruh reaksi : P bergerak sejarak x, dari titik A ke Bm
x
6
0
≤
≤
6 m 2 A B C P = 2 kN xP
L
x
L
V
m
x
A.
6
0
−
=
≤
≤
2 Gp VA 2P
L
x
V
B=
.
Gp VB Gp L 2 kN V kN V V kN V x A B 2 2 6 0 2 6 6 6 0 2 . 6 0 ; . 2 2 . 6 0 6 0 − = = → = − = → = Gp M p 2 kN V kN V m x A B .2 2. 6 ; . 0 2 . 6 6 → = = → = = = 3P = 2 kN A P 2 kN B A B C x 3 m 6 Garis pengaruh gaya lintang dan momen lentur : P berada antara A dan potongan I – I 6 m 2 A B C P = 2 kN x (titik C) x m x AC → 0 ≤ ≤ 3 2 Gp VA 2 b V M P L x V L B x B x . . = − = − = Gp VB Gp L 2 kNm M kN L m x M L x 3 3 1 ; 1 2 3 3 0 3 . 0 ; 0 2 . 6 0 0 0 0 → → = = → = − = → = Gp M p 2 kNm M kN L m x .2 1. ; 1.3 3. 6 3 → 3 =− =− → 3 = = = 3
P = 2 kN A P 2 kN B A B C x 3 m 6 P berada antara potongan I – I (titik C) dan titik B m x m CB → 3 ≤ ≤ 6 6 m 2 A B C P = 2 kN x a V M P L x L V L m x m CB A A x . 6 3 = − = + = ≤ ≤ → 2 Gp VA 2 M x VA.a kNm M kN L m x .2 1. ; 1.3 3. 6 3 6 3 → 3 = − = → 3 = = = Gp VB Gp L 2 kNm M kN L m x .2 0. ; 0.3 0. 6 6 6 6 → 6 = − = → 6 = = = Gp M p 2 3