KESEJAHTERAAN SOSIAL
di PERBATASAN ANTAR NEGARA
Achmadi Jayaputra, dkk.
Kesejahteraan Sosial
di Perbatasan Antar Negara
Penerbit Penulis :
Achmadi Jayaputra (Kementerian Sosial) Setyo Sumarno (Kementerian Sosial) Harapan Lumban Gaol (Kementerian Sosial) Nurasih Shamadiyah (Universitas Malikussaleh)
Mari Esterilita (Universitas Binawan) Utomo Hanafi Rohman (Universitas Binawan) Rizki Nurrahman (Universitas Muhammadiyah Jakarta)
Editor:
Achmadi Jayaputra (Kementerian Sosial RI)
Penulis:
1. Achmadi Jayaputra (Kementerian Sosial) 2. Setyo Sumarno (Kementerian Sosial) 3. Harapan Lumban Gaol (Kementerian Sosial) 4. Nurasih Shamadiyah (Universitas Malikussaleh) 5. Mari Esterilita (Universitas Binawan)
6. Utomo Hanafi Rohman (Universitas Binawan)
7. Rizki Nurrahman (Universitas Muhammadiyah Jakarta)
Cetakan Pertama, 2020
ISBN 987-602-0798-25-5
Diterbitkan oleh: UMJ Press
Jl. K.H. Ahmad Dahlan, Cireundeu, Kec. Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten 15419
Kesejahteraan Sosial di Perbatasan Antar Negara. Jakarta; UMJ Press, 2020. vi + 134 hlm. 14,8 cm x 21 cm.
Assalamulaikum warrahmatullahi wa barakatuh
Segala puji kehadirat Allah SWT dengan terbitnya buku ini yang telah disusun para akademisi dan peneliti terkait dengan aspek kesejahteraan sosial. Kami selalu menyambut baik tulisan yang sifatnya praktis dalam upaya mewujudkan kesejahteraan golongan masyarakat tertentu. Terutama mereka yang dianggap kurang beruntung dan selalu diupayakan untuk bersama menikmati kehidupan ini sesuai dengan kesempatan yang ada.
Melalui tulisan ini diharapkan pembaca dan halayak sekalian dapat mengetahui dan memahami hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapainya. Terutama wilayah perbatasan antar negara yang harus menjadi perhatian dalam pengembangan masyarakatnya sebab masih kurang perhatian terhadap wilayah tersebut. Hanya daerah tertentu yang sudah mengalami kemajuan dan ketergantungan, sehingga diharapkan masyarakat kita dapat sejajar dengan masyarakat lainnya.
Semoga bermanfaat.
Wassalamulaikum warrahmatullahi wa barakatuh
Jakarta, 1 Maret 2020 Ditektur UMJ Press
Endang Zakaria
PENGANTAR PENERBIT
PENGANTAR EDITOR
Assalamulaikum warrahmatullahi wa barakatuh
Pembahasan tentang aspek kesejahteraan sosial sangat luas dan memerlukan pusat perhatian yang perlu ditulis kepada pemerhati masalah sosial tersebut. Sejak tahun 2015 Kementerian Sosial mulai menangani masyarakat miskin dengan program dan kegiatan yang sesuai dengan kondisinya. Sasaran ada di perdesaan, perkotaan, daerah terpencil, pulau-pulau terluar, dan batas antar negara. Oleh karena itu banyak muncul tulisan dan penelitian tentang masyarakat yang ada di perdesaan dan perkotaan, tetapi masih jarang yang membahas tentang kesejahteraan sosial di perbatasan antar negara. Hal ini agak sulit dilakukan karena situasi dan kondisi masyarakat di perbatasan antar negara berbeda. Ada yang berbatasan langsung melalui daratan dan lautan, sehingga kegiatan juga berbeda.
Aspek kesejahteraan sosial di perbatasan sering menjadi permasalahan sosial dikaitkan dengan munculnya kemiskinan dan pelintas batas menjadi masalah dalam aspek keamanan. Penyelesaianya juga akan berbeda karena saling terkait. Semisal perbatasan antar negara di Kepulauan Riau dan sekitarnya, kemiskinan muncul karena kesenjangan ekonomi masyarakat kita yang dianggap lebih rendah dengan warga negara tetangga. Demiikian juga sarana jauh berbeda kondisinya. Sedangkan di perbatasan antara negara di Provinsi Nusa Tenggara Timur, justru warga negara dari tetangga membutuhkan bahan makanan dari wilayah kita yang ditengarai harganya terjangkau atau lebih murah. Ekonomi di wilayah Kabupaten Belu berkembang karena bahan makanan dan keperluan lain sangat diperlukan.
Lima tahun terakhir kebijakan bagi masyarakat di perbatasan terjadi perubahan dari pendekatan keamanan menjadi pendekatan
kesejahteraan dalam mendukung pengembangan ekonomi. Kementerian Sosial menyelaraskan perubahan tersebut dengan membuat kebijakan dan kegiatan yang dapat dilakukan bagi masyarakat setempat. Tentunya pengembangan yang diharapkan dari aspek kesejahteraan sosial yang terkait dengan potensi dan permasalahanya. Seperti kegiatan pemberdayaan keluarga di perbatasan. Namun dalam pelaksanaannya belum menunjukkan hasil karena berbagai keterbatasan, sehingga memerlukan perhatian atau penelitian khusus untuk mereka. Contoh-contoh lain sebagai gambaran yang dapat dijadikan sebagai bahan pemikiran bagi pemerhati pengembangan masyarakat. Ada kalanya yang cocok demi kepentingan bersama
Wassalamulaikum warrahmatullahi wa barakatuh
Jakarta, 9 Maret 2020 Editor
DAFTAR ISI
Pengantar Penerbit ... iii
Pengantar Editor ... iv
Daftar Isi ... vi
Bab 1 Prolog. Situasi di Perbatasan Antar Negara Oleh: Achmadi Jayaputra – Kementerian Sosial ... 1
A. Kawasan Perbatasan ... 1
B. Permasalahan ... 6
C. Aspek Sosial dan Budaya ... 10
Daftar Bacaan ... 16
Bab 2 Kebijakan Kementerian Sosial Terhadap Warga Perbatasan Antar Negara Oleh: Setyo Sumarno – Kementerian Sosial ... 17
A. Kemiskinan ... 17
B. Kebijakan ... 19
C. Program dan Kegiatan ... 24
D. Hasil Penanganan ... 34
Daftar Bacaan ... 46
Bab 3 Membuka Akses Bagi Komunitas Adat Terpencil Oleh: Harapan Lumban Gaol – Kementerian Sosial .... 49
A. Komunitas dan Aksesibilitas ... 50
B. Pemberdayaan dan Pendampingan ... 53
C. Tantangan ... 56
D. Parameter Keberhasilan ... 62
Daftar Bacaan ... 63
Bab 4 Pusat Pemberdayaan Keluarga di Perbatasan Oleh: Rizki Nurrahman – Universitas Muhammadiyah Jakarta ... 65
B. Peningkatan Kesejahteraan ... 69
Daftar Bacaan ... 73
Bab 5 Kesejahteraan Sosial di Sumatera Oleh: Nurasih Shamadiyah – Universitas Malikussaleh 74 A. Sumatera Sekitarnya ... 74
B. Budaya ... 78
C. Kesejahteraan Sosial ... 83
Daftar Bacaan ... 91
Bab 6 Kesejahteraan Sosial di Kalimantan Oleh: Mari Esterilita – Universitas Binawan ... 93
A. Profil Daerah ... 93
B. Perbedaan Sosial dan Budaya ... 95
C. Ketergantungan Ekonomi ... 98
D. Kesejahteraan Sosial ... 104
Daftar Bacaan ... 110
Bab 7 Profil Wilayah Indonesia Timur Oleh: Utomo Hanafi Rohman – Universitas Binawan 112
A. Nusa Tenggara Timur ... 112
B. Maluku ... 118
C. Papua ... 134
Daftar Bacaan ... 137
Bab 8 Epilog. Potensi dan Masalah di Perbatasan Antar Negara Oleh: Achmadi Jayaputra – Kementerian Sosial ... 138
A. Potensi ... 139
B. Permasalahan ... 141
Bab
1
SITUASI DI PERBATASAN
ANTAR NEGARA
Oleh: Achmadi Jayaputra – Kementerian Sosial
Kawasan perbatasan suatu negara memiliki peran penting dalam penentuan batas wilayah kedaulatan, pemanfaatan sumber daya alam, menjaga keamanan dan keutuhan wilayah. Pembangunan wilayah perbatasan pada dasarnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Kawasan perbatasan mempunyai nilai strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional. Hal tersebut ditunjukkan oleh karakteristik kegiatan yang mempunyai dampak penting bagi kedaulatan negara, menjadi faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya. Memiliki keterkaitan yang saling mempengaruhi dengan kegiatan yang dilaksanakan di wilayah lainnya yang berbatasan dengan wilayah maupun antar negara, serta mempunyai dampak terhadap kondisi pertahanan dan keamanan, baik skala regional maupun nasional.
A. Kawasan Perbatasan
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah 16.056 pulau. Tahun 2017 sudah terverifikasi oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penetapan Pulau-pulau Kecil Terluar. Luas wilayah teritorialnya 3,1 juta Km² dan wilayah perairannya 5,8 juta Km². Geografi yang luas ini membuat Indonesia memiliki wilayah
Prolog
yang bersinggungan dengan banyak negara. Indonesia memiliki perbatasan darat sepanjang 3.092,8 Km dengan Malaysia, Timor Leste, dan Papua New Guinea. Sementara itu, wilayah lautnya berbatasan dengan 10 negara, yaitu: India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Australia, Timor Leste, Palau, dan Papua New Guinea. Perbatasan laut ini mencakup 92 pulau kecil terdepan, mulai dari Pulau Miangas di utara hingga Pulau Dana di selatan. Jumlah kawasan perbatasan yang banyak, Indonesia berkepentingan untuk menjaga kedaulatan dari ancaman negara lain dan menyejahterakan kehidupan masyarakatnya di perbatasan.
Sebagai beranda depan, wajah perbatasan Indonesia seharusnya mencerminkan kondisi yang aman dan sejahtera. Namun, nampaknya kebijakan pembangunan saat ini masih lebih dominan pada sektoral dan terpusat. Ada ketimpangan pembangunan antar wilayah yang menyebabkan masih terdapat sejumlah kawasan daerah tertinggal, yaitu kawasan terpencil, kawasan pulau kecil terluar, dan daerah perbatasan serta daerah terbelakang lainnya. Kondisi ini menyiratkan paradigma masa lalu yang memandang kawasan perbatasan, pulau kecil terluar dan kawasan terpencil lainnya sebagai halaman belakang dan daerah terluar yang membuat pembangunannya kurang diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat. Akibatnya, pembangunan kawasan perbatasan dan pulau kecil terluar secara umum tertinggal dibandingkan daerah Indonesia lainnya. Kondisi kawasan perbatasan Indonesia yang masih tertinggal ini akan lebih terlihat jika dibandingkan dengan kawasan perbatasan negara lain yang lebih maju seperti Malaysia.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, bahwa daerah perbatasan adalah wilayah negara tetangga dan/atau laut lepas. Kawasan perbatasan negara meliputi kawasan perbatasan darat dan kawasan perbatasan laut termasuk pulau-pulau kecil terluar. Berikutnya berdasarkan Undang-undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara, Indonesia memiliki 41 kabupaten yang berbatasan dengan negara lain yang berada
di wilayah perbatasan antar negara. Sebanyak 41 kabupaten tersebut berada di 13 provinsi dan berhadapan langsung dengan negara lain; Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Philipina, Papua New Guinea, dan Timor Leste. Sebagai daerah tertinggal, ciri utamanya adalah kondisi sosial budaya, ekonomi, keuangan daerah, aksesibilitas, serta ketersediaan infrastuktur yang masih tertinggal dibanding wilayah lainnya. Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat perbatasan, menurut beberapa literatur adalah masalah kemiskinan dan keterbelakangan. Kondisi ini mendorong mereka terlibat dalam kegiatan ekonomi illegal guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Termasuk kegiatan illegal lain yang terkait dengan aspek politik dan keamanan. Jika dilihat dalam pembangunan wilayah perbatasan sampai saat ini masih ada beberapa masalah yang belum dapat diselesaikan, beberapa diantaranya yaitu masalah kemiskinan, kesenjangan pembangunan antara wilayah kota dengan pedalaman/perbatasan, masalah ketenaga kerjaan serta masalah lingkungan. Selama beberapa puluh tahun ke belakang masalah perbatasan memang masih belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Hal ini tercermin dari kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan kawasan perbatasan dan lebih mengarah kepada wilayah-wilayah yang padat penduduk, aksesnya mudah, dan potensial, sedangkan kebijakan pembangunan bagi daerah-daerah terpencil, terisolir dan tertinggal seperti kawasan perbatasan masih belum diprioritaskan. Dengan adanya usaha dan kebijakan pemerintah dalam percepatan pembangunan perbatasan, maka pembangunan daerah perbatasan selama ini merupakan salah satu kawasan yang perlu mendapatkan perhatian dan penanganan secara khusus dalam berbagai bidang pembangunan di Indonesia. Hal ini karena daerah perbatasan memiliki permasalahan yang kompleks dalam penanganannya.
Upaya mengeluarkan daerah-daerah tertinggal terutama di daerah perbatasan dari posisi keterbelakangan pembangunan, yaitu kondisi kemiskinan dan pendapatan yang rendah menuju berkurangnya warga miskin dan meningkatnya kesejahteraan
kehidupan warga di daerah perbatasan, diperlukan terobosan pembangunan. Sehubungan dengan hal tersebut perlu melakukan pemilihan strategi pembangunan yang tepat. Pemilihan strategi tersebut menjadi penting mengingat situasi dan kondisi dari infrastruktur dan sarana prasarana di daerah tertinggal perbatasan pada umumnya masih minim dan terbatas.
Tabel 1. Prioritas Lokasi Penanganan Kab/Kota Perbatasan RPJMN 2015 – 2019. No Provinsi Kabupaten 1 Kalbar 1 Sambas 2 Bengkayang 3 Sanggau 4 Sintang 5 Kapuas Hulu 2 Kaltim 6 Nunukan 7 Malinau 8 Kutai Barat
3 Sulut 9 Kepulauan Talaud
10 Kepulauan Sangihe
4 NTT
11 Kupang
12 Timor Tengah Utara 13 Belu 14 Alor 15 Rote Ndao 5 Papua 16 Keerom 17 Merauke 18 Boven Digoel 19 Pegunungan Bintang 20 Kota Jayapura 21 Supiori
No Provinsi Kabupaten 6 K e p u l a u a n Riau 22 Kepulauan Anambas 23 Karimun 24 Kota Batam 25 Natuna 26 Kota Bintan 7 Riau 27 Dumai 28 Bengkalis 29 Rokan Hilir 30 Indragiri Hilir 31 Kepulauan Meranti
8 Papua Barat 32 Raja Ampat
9 Maluku
33 Maluku Barat Daya 34 Maluku Tenggara
Barat
35 Kepulauan Aru
10 Maluku Utara 36 Morotai
11 Sumatera Utara 37 Serdang Bedagai
12 NAD 38 Kota Sabang
Sumber: Bappenas, 2017
Dilihat dari lokasi tersebut, tentunya permasalahan perbatasan antar Negara menjadi pertimbangan yang perlu dipikirkan. Diantaranya terdapat perbedaan-perbadaan yang harus diketahui diantaranya terkait dengan sosial, budaya, dan ekonomi. Ketiganya saling terkait menjadikan aspek penting dalam penanggulangan kemiskinan. Misalnya perbatasan antar Negara dengan Malaysia dan Singapura lebih banyak dipengaruhi aspek ekonomi. Sebab ekonomi di daerah tersebut memberi peluang perdagangan antar negara, baik secara resmi maupun secara tidak resmi yang sering disebut black market. Apa saja dapat dilakukan dalam sistem ekonomi yang berlaku dikawasan tersebut. Penggunaan mata uang,
seringkali ketiga atau empat mata uang berlaku secara umum dalam transaksi apapun. Tinggal menghitung rincian masing-masing mata uang saat dilakukan, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan karena saling sepakat untuk menggunakan mata uang.
B. Permasalahan
Pembangunan di daerah tertinggal, kawasan perbatasan dan kawasan rawan bencana merupakan implementasi dari Nawa Cita Pembangunan yang telah dijabarkan dalam RPJMN 2015 - 2019. Pembangunan di daerah tertinggal dan kawasan perbatasan merepresentasikan Nawa Cita ke tiga, yaitu; Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan.
Memperhatikan permasalahan perbatasan tersebut, maka arah kebijakan pengembangan kawasan perbatasan menurut Peraturan Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan Nomor 1 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengelolaan Perbatasan Negara Tahun 2015 - 2019.
Arah Kebijakan Pembangunan Kawasan Perbatasan yaitu: 1. Aspek Infrastruktur Kawasan Perbatasan meliputi:
a. meningkatnya aksesibilitas lokasi prioritas, dan b. meningkatnya kualitas pelayanan transportasi,
2. Aspek Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Perbatasan yaitu meningkatnya nilai tambah ekonomi komoditi unggulan lokasi prioritas melalui pemanfaatan teknologi pengolahan dan fasilitas pemasaran,
3. Aspek Pelayanan Sosial Dasar Kawasan Perbatasan meliputi: a. Terpenuhinya kebutuhan infrastruktur dasar permukiman
yang memadai,
b. Terpenuhinya kebutuhan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang memadai,
c. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia masyarakat perbatasan,
d. Tertatanya sistem tata kelola pemerintahan kawasan perbatasan, dan
e. Meningkatnya kualitas pelayanan serta sarana dan prasarana pelayanan pemerintahan.
Indonesia hingga saat ini masih menghadapi masalah karena sejumlah daerah masih terisolasi, komunikasi sulit, dan keterbatasan dalam banyak hal. Oleh karena itu perlu komitmen pemerintah daerah dan pusat secara bersama-sama mengubah permasalahan tersebut supaya wilayah terdepan ini harus maju dan kuat. Pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat harus diselaraskan dengan pembangunan di daerah agar prosesnya berjalan efektif dan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Pelaksanaan pembangunan daerah perbatasan harus terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan. Terpadu artinya melibatkan seluruh kementerian dan lembaga baik di pusat maupun daerah, melibatkan masyarakat dan dunia usaha. Menyeluruh artinya mencakup semua aspek kehidupan yakni; pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial ekonomi lainnya. Secara territorial, program juga harus bisa mengakses dan menjangkau seluruh masyarakat. Berkesinambungan artinya pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Jadi misalnya pembangunan infrastruktur secara fisik yang dilakukan nanti harus disertai dengan program-program pemberdayaan masyarakat untuk mendorong mereka mandiri dan produktif, sehingga kesejahteraan mereka meningkat dan rasa bangga sebagai warga bangsa menguat.
Peraturan Presiden RI Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015 - 2019 telah menetapkan arah dan pengembangan wilayah perbatasan negara sebagai satu program prioritas pembangunan nasional. Pembangunan wilayah perbatasan memiliki keterkaitan yang sangat
erat dengan misi pembangunan nasional terutama untuk menjamin keutuhan dan kedaulatan wilayah, pertahanan keamanan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat di wilayah perbatasan. Kondisi ini membuat Indonesia memiliki posisi strategis sekaligus berhadapan langsung dengan berbagai tantangan dan ancaman. Karena itu, perlu penataan dan pengelolaan wilayah perbatasan yang lebih intensif dan serius karena sangat berpotensi memunculkan konflik dengan negara tetangga. Selain itu, wilayah perbatasan sangat erat kaitannya dengan misi pembangunan nasional, khususnya untuk menjamin keutuhan dan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan sistem pertahanan keamanan nasional. Disamping itu, pembangunan wilayah perbatasan juga demi peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Sebab, persoalan ekonomi bisa menjadi pemicu disintegrasi bangsa.
Oleh karena itu, paradigma pembangunan yang selama ini berorioentasi ke tengah (inward looking), yang lebih mengutamakan pengembangan di pusat negara harus diubah menjadi ke arah pinggiran (outward looking). Tujuannya agar wilayah perbatasan benar-benar menjadi pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga yang memberikan dampak positif pada kesejahteraan masyarakat sekitar. Sehingga pendekatan pembangunan wilayah perbatasan negara mesti menggunakan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) tanpa meninggalkan pendekatan keamanan (security approach).
Pendekatan pemerintahan dengan mengusung Nawacita ketiga, membangun Indonesia dari pinggiran menjadi penegasan bahwa sudah saatnya wilayah perbatasan diperhatikan secara serius. Permasalahan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2004 - 2025, salah satu arah kebijakan pembangunan disebutkan mewujudkan pembangunan yang merata dan dapat dinikmati seluruh komponen bangsa di berbagai wilayah Indonesia, termasuk perbatasan. Kemudian dipertegas dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2004 - 2009. Sayangnya RPJM kurang berjalan
maksimal dan optimal. Karena itu pemerintah membentuk Badan Nasional Pengelola Perbatasan sesuai Peraturan Presiden RI Nomor 12 Tahun 2010 tentang BNPP. Tujuan pembentukan lembaga ini dimaksudkan agar kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI mantap, serta bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan melalui pendekatan keamanan dan kesejahteraan yang seimbang.
Hal ini disebabkan selama ini wilayah perbatasan Indonesia masih identik dengan daerah terisolir, terpencil dan terbelakang serta sering menimbulkan peluang kegiatan ilegal antara lain pencurian kekayaan alam, perdagangan manusia, perdagangan narkoba, penyelundupan yang kesemuanya dapat merugikan negara. Di sisi lain, kondisi tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah karena dampak belum meratanya pembangunan di daerah perbatasan dan hal ini mempengaruhi tingkat pemahaman bela negara untuk menghadapi ancaman yang dapat membahayakan kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI. Dalam hal ini BNPP bisa berperan memberikan masukan atau bahan pertimbangan kepada pemerintah guna mengambil langkah-langkah kebijakan atau strategis untuk meningkatkan pembangunan di wilayah perbatasan. Dengan adanya, koordinasi lintas sektoral dengan kementerian atau lembaga terkait dan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten serta pelibatan masyarakat lokal sangat diperlukan, sehingga pembangunan yang dicapai dapat dirasakan oleh masyarakat perbatasan.
Sebagian besar wilayah perbatasan di Indonesia masih merupakan daerah tertinggal dengan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi yang masih sangat terbatas. Pandangan dimasa lalu bahwa daerah perbatasan merupakan wilayah yang perlu diawasi secara ketat karena menjadi tempat persembunyian para pemberontak telah menjadikan paradigma pembangunan perbatasan lebih mengutamakan pada pendekatan keamanan dari pada kesejahteraan. Sebagai wilayah perbatasan di beberapa daerah menjadi tidak tersentuh oleh dinamika sehingga pembangunan
dan masyarakatnya pada umumnya miskin dan banyak yang berorientasi kepada negara tetangga.
C. Aspek Sosial dan Budaya
Daerah perbatasan dalam kontek pembangunan pada hakekatnya merupakan pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Pembangunan dilaksanakan untuk mewujudkan tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Pembangunan Nasional dilaksanakan secara terencana, menyeluruh, terpadu, terarah, bertahap, dan berkelanjutan untuk memacu peningkatan kemampuan nasional, dalam rangka mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang telah maju. Pembangunan Nasional dilaksanakan bersama oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat adalah pelaku utama pebangunan, dan pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing, serta menciptakan suasana yang menunjang sehingga akan saling mengisi, saling melengkapi dalam kesatuan langkah menuju tercapainya tujuan pembangunan nasional. Pembangunan Nasional meliputi pembangunan daerah yang dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini berarti pembangunan daerah harus merata di seluruh wilayah dan diselenggarakan dari, oleh, dan untuk rakyat.
Secara umum pembangunan nasional Indonesia bertujuan untuk:
pertumbuhannya
2. Memperkokoh kesatuan ekonomi Nasional, dan 3. Memelihara efisiensi pertumbuhan Nasional.
Diantara ke tiga tujuan tersebut merupakan sentral, yaitu keseimbangan antar daerah dalam hal pertumbuhan. Keseimbangan antar daerah akan memenuhi keadilan sosial, mengurangi kesenjangan pertumbuhan antar daerah, dan merupakan bagian untuk mencapai pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Indonesia sebagai pemantapan perwujudan Wawasan Nusantara.
Sebagai upaya dalam rangka pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah, telah diupayakan pelaksanaan otonomi daerah dengan mempertimbangkan kemampuan pembangunan daerah yang bersangkutan. Terlihat dalam pelaksanaan pembangunan masih diperlukan perhatian yang lebih besar khususnya kepada daerah yang terbelakang, daerah yang padat dan daerah yang sangat kurang penduduknya, daerah transmigrasi, daerah terpencil dan daerah perbatasan, serta daerah yang memiliki ciri khas daerah tertentu. Hal tersebut sudah tercantum sejak masih berlakunya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993. Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan Nasional, dilaksanakan secara serasi, terpadu, dan berkelanjutan, berhasil guna dan berdaya guna, pada tiap tingkat pemerintahan. Pelaksanaan pembangunan daerah diupayakan sesuai dengan potensi dan prioritas daerah yang bersangkutan.
Pada umumnya terdapat kecenderungan bahwa daerah yang telah berkembang menjadi pusat pelayanan. Misalnya daerah perkotaan akan menyerap lebih banyak investasi dan intervensi pembangunan. Pertumbuhan suatu wilayah akan saling terkait dengan perkembangan fasilitas pelayanan, disebabkan pertumbuhan wilayah membutuhkan dukungan pengadaan dan perluasan pelayanan. Ketersediaan pelayanan di suatu wilayah tersebut pada gilirannya akan menstimulir pertumbuhan wilayah. Hal ini disebabkan kebijaksanaan pembangunan wilayah berjalan
bersama-sama dengan perwujudan pelayanan sosial, ekonomi, dan infrastruktur wilayah lainnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 08 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), seseorang, keluarga atau kelompok masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan atau ganggunan sehingga tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya jasmani, rohani dan sosial secara memadai dan wajar. Lima besaran; kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, ketunasusilaan, keterbelakangan, keterasingan, bencana alam dan bencana sosial. Sedangkan PMKS ada 27 jenis yang perlu ditangani. Sementara itu Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) adalah semua hal yang berharga yang dapat digunakan untuk menjaga, menciptakan, mendukung atau memperkuat Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS). Potensi sosial ini bersifat manusiawi, sosial dan alam.
Masalah kesejahteraan sosial dapat terjadi di setiap wilayah dan disebabkan oleh berbagai hal yang saling berkait. Faktor penyebab masalah kesejahteraan sosial dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal sekaligus. Faktor internal pada umumnya menunjuk pada sistem sosial yang mengandung benih ketimpangan struktural dalam masyarakat. Biasanya terdapat segolongan masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap peluang-peluang sosial ekonomi, sehingga menjadi rentan terhadap masalah kesejahteraan sosial. Keterbatasan aset produksi dapat juga menyebabkan kemiskinan, kemiskinan menyebabkan kurang pangan dan gizi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental.
Terkait dengan faktor eksternal, bisa termasuk intervensi pemerintah, lembaga pemerintah dan pengusaha swasta. Intervensi program dari pemerintah yang pada awalnya bertujuan intervensi
pemecahan masalah, ternyata justru menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah dan/atau menimbulkan suatu jenis masalah yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat.
Menurut perspektif antropologi, masyarakat dilihat melalui sistem budayanya. Secara universal, dalam setiap masyarakat memiliki kebudayaan di dalamnya meliputi unsur-unsur kebudayaan.
Unsurnya antara lain:
1. Agama atau kepercayaan adalah rangkaian jaringan umat beragama. sistem ritual dan seremonial, sistem peralatan ritus dan seremonial serta sistem kejiwaan dan emosi keagamaan. 2. Organisasi sosial adalah semua aspek aktivitas perilaku berpola
yang telah membudaya dalam interaksi manusia dalam suatu masyarakat yang diperankan melalui nilai, norma, serta wadah struktur keorganisasian yang dibentuk. Budhisantoso (1995) mengemukakan, bahwa betapapun sederhananya kehidupan suatu masyarakat, ia pasti mengembangkan organisasi sosial yang masing-masing menjamin ketertiban dan pencapaian tujuan hidup bersama. Organisasiasi sosial itu pada intinya meliputi pengaturan hubungan sosial antar anggota (social alignment), cita-cita atau tujuan bersama yang mengikat kesatuan sosial yang bersangkutan (social media), ketentuan sosial yang disepakati sebagai pedoman dalam pergaulan sosial (social standard) dan penegakan ketertiban hidup bersama (social control).
3. Kesenian yaitu jaring rangkai keahlian dan keterampilan manusia untuk mengekspresikan dan menciptakan komponen-komponen yang indah serta bernilai.
4. Struktur sosial. Berbagai karakteristik dan dimensi masyarakat menggambarkan bahwa masyarakat menyerupai sebuah bangunan yang di dalamnya terdiri dari komponen-komponen, yang berupa pranata sosial yang berlapis-lapis atau berstruktur.
Struktur masyarakat mencakup berbagai hubungan sosial antara individu secara teratur. Fungsi dari struktur masyarakat, yaitu fungsi pengendalian perilaku, penyesuaian diri dan pengawasan sosial bagi individu-individu. Adanya struktur ini, maka tidak memungkinkan terjadinya kesewenang-wenangan dan penyelewengan yang dilakukan oleh individu-individu sebagai anggota masyarakat.
Keempat unsur tersebut mempengaruhi teknologi yang digunakan ketika manusia berinteraksi di dalam masyarakatnya. Teknologi diartikan sebagai rangkaian konsep serta aktivitas mengenai pengadaan, pemeliharaan dan penggunaan sarana-sarana hidup manusia dalam kebudayaannya. Macam-macamnya meliputi: teknologi atau peralatan hidup pengolahan alam sebagai mata pencaharian, teknologi untuk pembuatan perumahan dan jalan, teknologi untuk alat dan kendaraan, komunikasi, serta teknologi untuk kepentingan tempat dan peralatan ritual keagamaan.
Secara potensial setiap masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah kesejahteraan sosial yang terjadi pada masyarakat tersebut. Potensi kesejahteraan sosial tersebut ada dalam bentuk sumber daya alami, sumber daya manusia, dan sumber daya sosial yang berupa kemampuan mengorganisir sumber daya alam atau manusia atau perpaduan keduanya. Pertahanan kehidupannya, masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi, politik, keagamaan, kesenian, gotong royong, dan sebagainya. Pemanfaatan dan pengorganisasian aktivitas ini diistilahkan sebagai lembaga sosial. Pengertian lembaga disini mencakup bentuk-bentuk organisasi atau kelompok secara konkrit dan pranata sosial misalnya tolong menolong. Masyarakat lokal dalam lembaga sosialnya, mengorganisir diri untuk mengelola sumber daya alam, sumber daya manusia dan uluran tangan pihak luar dari pemerintah atau swasta yang ada dalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya secara umum mengatasi masalah
kesejahteraan sosial secara khusus. Kemampuan setiap lembaga sosial untuk melindungi masyarakatnya dari setiap masalah kesejahteraan sosial ditentukan oleh norma, kelakuan berpola, peralatan dan anggota masyarakat pendukung lembaga tersebut.
Lembaga sosial ini hadir sebagai jawaban masyarakat menghadapi masalah sosial spesifik, artinya masyarakat memiliki lembaga sosial tertentu untuk mengatasi masalah sosial tertentu. Hubungannya dengan masalah kesejahteraan sosial, masyarakat desa mempunyai beragam lembaga untuk masalah tersebut. Ada lembaga sosial yang berfungsi untuk mengatasi masalah kemiskinan, adapula lembaga lain yang berfungsi mengatasi masalah pencaharian hidup, masalah politik, masalah agama, religi dan kepercayaan, masalah kesehatan, masalah pendidikan serta masalah keturunan dan kekerabatan yang ada di lingkungannya. Setiap masyarakat mempunyai potensi untuk mengatasi masalah kesejahteraan sosial yang ada secara mandiri.
Khusus mengenai masyarakat di wilayah perbatasan antar negara, mereka dihadapkan pada berbagai permasalahan yang sangat jauh berbeda dengan masyarakat di wilayah bukan perbatasan antar negara. Permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat di wilayah perbatasan, yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. Memahami pengertian masyarakat dan berbagai isu yang berkembang pada masyarakat di wilayah perbatasan tersebut di atas, menggambarkan bahwa masyarakat di wilayah perbatasan, memiliki banyak dimensi. Implikasinya, bahwa asesmen daerah perbatasan perlu menggunakan berbagai perspektif guna memperoleh informasi yang mendalam tentang kondisi, masalah, sumber-sumber dan kebutuhan masyarakat.
DAFTAR BACAAN
Amran, 2016. Kualitas Hidup Pelintas Batas Negara. [Ringkasan Disertasi, FISIP UI].
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2017. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015 – 2019. Jakarta; Bappenas.
Budhisantoso, 1995. Perkembangan Masyarakat dan Kebudayaan. Jakarta; Cipta.
Humas BNPP, 2014. “Banyak Capaian. Tapi Belum Cukup Menjawab Tantangan”, dalam Perbatasan, September, 6 – 7.
…………, 2015. “Agar di Laut Tetap Jaya” dalam Perbatasan, September, 10 -11.
Koentjaraningrat, 2004. Pengantar Antropologi. Jakarta; Rineka Cipta
Sasongko, Triyono Budi, 2014. “Mempersiapkan Rencana Induk Pengelolaan Perbatasan 2015 – 2019”, dalam Perbatasan, September, 8 – 9.
Sunarto, 2015. “Gerakan Pembangunan Terpadu Kawasan Perbatasan”, dalam Perbatasan, September, 34 – 35.
Oleh: Setyo Sumarno – Kementerian Sosial
Kemiskinan merupakan persoalan yang sangat kompleks dan aktual dalam kehidupan manusia. Masalah kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji dan bukan saja masalah kemiskinan telah ada sejak lama, tetapi masalah ini semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia. Kemiskinan disepakati sebagai masalah yang bersifat sosial, ekonomi tetapi penyebab dan cara mengatasinya terkait dengan ideologi yang melandasinya (Sjafari, 2014).
Melihat kondisi yang demikian perhatian pemerintah Indonesia untuk menanggulangi kemiskinan cukup besar. Hal itu terbukti dengan terbitnya Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri yang berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan. Berbagai program penanganan kemiskinan sudah dilakukan pemerintah melalui berbagai kementerian seperti; Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, maupun Kementerian Kesehatan.
A. Kemiskinan
Upaya menyukseskan program penanggulangan kemiskinan, pemerintah telah mengucurkan dana besar, bahkan dananya
Bab
2
KEBIJAKAN KEMENTERIAN
SOSIAL TERHADAP
WARGA PERBATASAN
ANTAR NEGARA
dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 2004 telah dikucurkan dana untuk program penanggulangan kemiskinan sebesar Rp 18 triliun, tahun 2005 menjadi Rp 23 triliun, pada tahun 2006 naik hampir dua kali lipat menjadi Rp 42 triliun, tahun 2007 bertambah menjadi Rp 51 triliun, dan pada Maret 2009 anggaran kemiskinan bertambah menjadi Rp 66,2 triliun.
Data tersebut senada dengan anggapan yang dikemukakan oleh Setiaji (2010), bahwa anggaran Program Penanggulangan kemiskinan dalam empat tahun terakhir meningkat tiga kali lipat, dari 23 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 66,2 triliun pada tahun 2009. Namun kenyataan dengan berbagai program pengentasan kemiskinan hasilnya belum seperti yang diharapkan. Menurut BAPPENAS anggaran kemiskinan yang besar tersebut belum mampu menurunkan angka kemiskinan yang signifikan. Selama enam tahun (2004 - 2009) penurunan angka kemiskinan berkisar antara 14 – 17 %. Sedangkan anggaran kemiskinan terlihat semakin membengkak dengan jumlah kenaikan hampir 300 % pada tahun 2007. Ini berarti bahwa tingginya anggaran yang disediakan oleh pemerintah ternyata tidak berpengaruh secara signifikan pada mengentaskan kemiskinan. Walaupun kondisinya demikian, namun pemerintah tetap berupaya dengan berbagai pendekatan untuk mengentaskan kemiskinan.
Bila dilihat perkembangan penduduk miskin, pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin yang tercatat di BPS ada 32,53 juta jiwa, kemudian pada tahun 2010 data BPS menyebutkan bahwa masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan sekitar 31,92 juta jiwa atau 13,33 % dari total penduduk. Pada tahun 2014 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan dari 31,92 jiwa menjadi 27,73 juta orang (10,96 %), namun pada tahun 2015 , jumlah penduduk miskin dibanding penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,22 %). Dengan demikian bila kita cermati jumlah penduduk miskin dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi,
kadang mengalami kenaikan kadang mengalami penurunan. Walaupun mengalami naik turun tetapi jumlah masyarakat miskin di Indonesia senantiasa menunjukkan angka yang tinggi, baik secara relatif maupun absolut.
Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 166 tahun 2014, bahwa kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang mendesak dan memerlukan langkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistimatis, terpadu dan menyeluruh dalam rangka memenuhi beban dan memenuhi hak-hak dasar warga negara secara layak melalui pembangunan inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan untuk mewujudkan kehidupan yang bermartabat. Upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi program percepatan penanggulangan kemiskinan perlu dilakukan upaya-upaya penajaman penanganan melalui berbagai program. Penanggulangan kemiskinan di dalam Peraturan Presiden dimaksudkan melalui kebijakan dan program pemerintah, pemerintah daerah yang dilakukan secara sistimatis, terencana dan bersinergi dengan mengajak dunia usaha dan masyarakat dalam rangka mengurangi jumlah penduduk miskin.
B. Kebijakan
Masalah kemiskinan tidak hanya terjadi pada masyarakat perkotaan tetapi sudah menyebar ke seluruh wilayah perdesaan, pesisir pantai, pulau-pulau terpencil bahkan wilayah perbatasan antar negara. Permasalahan yang terjadi disepanjang wilayah perbatasan antar negara yang merupakan batas wilayah antar negara, letak kawasan yang berhadapan secara langsung dengan negara lain sehingga menyebabkan kawasan ini rawan terhadap intervensi dari negara lain baik dalam aspek ekonomi, politik, sosio-kultural, maupun keamanan.
Disisi lain, kawasan ini memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Namun demikian pembangunan dibeberapa wilayah perbatasan masih sangat jauh tertinggal di banding dengan
pembangunan di wilayah negara tetangga. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah ini umumnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi sosial ekonomi warga negara tetangga. Hal ini mengakibatkan timbulnya berbagai kegiatan ilegal di daerah perbatasan yang dikawatirkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai kerawanan sosial. Permasalahan yang terjadi di kawasan perbatasan dipengaruhi oleh faktor geografis, ketersediaan sumber daya manusia, sumber daya alam, kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya serta tingkat kersejahteraan masyarakat negara tetangga (Hadiwijoyo, 2009).
Permasalahan utama yang dialami masyarakat Indonesia di wilayah perbatasan adalah kemiskinan, tetapi masalah lain yang tidak kalah penting adalah keterbatasan sarana dan prasarana dasar sosial dan ekonomi, pergeseran batas negara, minimnya pembangunan infrastruktur, kesenjangan kehidupan dengan negara tetangga, kurangnya arus informasi, sampai pada kurangnya perhatian dari sektor-sektor wilayah perbatasan. Program yang diluncurkan dalam penanggulangan kemiskinan melalui bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil, serta program lainnya terkait dengan peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat. Visi Pembangunan Nasional tahun 2015 – 2019 adalah terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berdasarkan gotong royong. Visi ini dijabarkan dalam tujuh misi pembangunan Nasional tahun 2015 – 2019 dengan sebutan Nawacita.
Upaya mewujudkan visi tersebut, salah satu tugas Kementerian Sosial RI adalah mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, dan sejahtera dalam pembangunan. Tanggung jawab Kementerian Sosial meliputi:
1. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, 2. Meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat
3. Melakukan revolusi karakter bangsa dan memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
Terkait dengan percepatan pembangunan di perbatasan pemerintah konsentrasi pada pembangunan wilayah pinggiran daerah perbatasan karena wilayah tersebut mempunyai potensi sumber daya yang besar pengaruhnya terhadap aspek ekonomi, demografi, politis, dan hankam. Sehubungan dengan hal tersebut pemerintah menjadikan wilayah perbatasan antar negara sebagai garda terdepan dalam pembangunan tentunya menuntut konsekwensi terciptanya kondisi fisik, mental dan sosial masyarakat yang handal dalam menghadapi proses pembangunan. Untuk menciptakan kondisi yang demikian bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama termasuk dunia usaha ataupun masyarakat ikut di dalamnya. Strategi penanggulangan kemiskinan telah dirancang melalui berbagai program dan kegiatan. Penanganan kemiskinan akan dilihat sebagai suatu aktivitas melalui pembangunan masyarakat, mengingat penanganan kemiskinan sangat dipengaruhi oleh pendekatan dalam memahami latar belakang dan sumber masalahnya.
Beberapa strategi utama dalam penanganan kemiskinan (Soetomo, 2010):
1. Perluasan kesempatan kepada kelompok miskin dalam pemenuhan hak-hak dasar dan peningkatan taraf hidup secara berkelanjutan.
2. Pemberdayaan kelembagaan masyarakat guna lebih memungkinkan partisipasi kelompok miskin dalam pengambilan keputusan kebijakan publik.
3. Peningkatan kapasitas untuk mengembangkan kemampuan dasar dan kemampuan berusaha kelompok miskin agar dapat memanfaatkan perkembangan lingkungan
4. Perlindungan sosial dan rasa aman terutama bagi kelompok rentan.
5. Penataan kemitraan global untuk menata ulang hubungan dan kerjasama dengan lembaga internasional guna mendukung pelaksanaan strategi pertama sampai ke empat.
Upaya penanggulangan kemiskinan harus menggunakan pendekatan yang lebih terpadu, sistimatik dan menyentuh pada akar permasalahan kemiskinan. Program pengurangan kemiskinan selama ini sering dilakukan secara parsial oleh satu atau beberapa lembaga tanpa didasari oleh koordinasi yang baik, sehingga program yang diluncurkan kurang terarah, kurang terkontrol, tidak tepat sasaran bahkan sering ditemukan di lapangan program tumpah tindih sampai ke bawah.
Tahun 2009 terbit Peraturan Presiden Nomor 13 Tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang disempurnakan dengan Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2010 Tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Perpres ini mengamanatkan pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di tingkat Pusat dan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. Padaperiode pemerintahan 2014 – 2019 pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 166 tahun 2014 tentang Program Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
Percepatan penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan antara lain:
1. Memperbaiki Program Perlindungan Sosial
Sistem perlindungan ini dimaksudkan untuk membantu individu dan masyarakat miskin dan rentan dalam menghadapi goncangan hidup seperti, jatuh sakit, kematian anggota keluarganya, kehilangan pekerjaan ataupun tertimpa musibah/ bencana. Hal ini dimaksudkan sebagai antisipasi jangan sampai masyarakat yang mengalami musibah jatuh miskin.
2. Meningkatkan Akses terhadap Pelayanan Dasar
Pelayanan dasar meliputi; pelayanan pendidikan, kesehatan, air bersih dan sanitasi, pangan dan gizi. Meningkatkan akses pelayanan dasar dimaksud adalah untuk memperbaiki kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam rangka membantu mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh kelompok masyarakat miskin di satu sisi dan di sisi lain mendorong peningkatan investasi modal manusia.
3. Pemberdayaan Kelompok Masyarakat Miskin
Selama ini upaya penanggulangan kemiskinan memperlakukan penduduk miskin sebagai obyek pembangunan. Konsep pembangunan dalam penanggulangan kemiskinan umumnya melalui mekanisme atas-bawah (top-down), tanpa menyertakan partisipasi dari masyarakat. Akibatnya masyarakat menjadi ketergantungan, program yang diberikan sering tidak mempunyai korelasi dengan kebutuhan masyarakat. Melalui pertimbangan tersebut, upaya penanggulangan kemiskinan dengan memberdayakan masyarakat miskin salah satu prinsip utama dalam strategi penanggulangan kemiskinan.
4. Menciptakan Pembangunan yang Inklusif
Partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dari seluruh pelaksanaan pembangunan. Fakta menunjukkan kemiskinan hanya dapat berkurang dalam suatu perekonomian yang tumbuh scara dinamis, sebaliknya pertumbuhan ekonomi yang stagnan hampir bisa dipastikan berujung pada peningkatan angka kemiskinan. Pertumbuhan harus mampu menciptakan lapangan kerja produktif dalam jumlah besar. Diharapkan dari terbukanya lapangan kerja yang produktif mampu meningkatkan pendapatan mayoritas penduduk, peningkatan taraf hidup dan mengurangi angka kemiskinan.
C. Program dan Kegiatan
Berbagai kebijakan pemerintah dalam upaya penanggulangan kemiskinan, Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin memfokuskan pada penanganan kemiskinan di wilayah pesisir, pulau-pulau kecil dan perbatasan antar negara. Program yang diluncurkan dalam penanganan kemiskinan di daerah tersebut terutama; bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH).
1. Usaha Ekonomi Produktif
Satu diantara sekian program pemberdayaan fakir miskin yaitu memberikan bantuan UEP terhadap KUBE. KUBE adalah kelompok usaha binaan Kementerian Sosial yang dibentuk dari beberapa Keluarga Binaan Sosial (KBS) untuk melaksanakan kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS) dalam rangka kemandirian usaha meningkatkan kesejahteraan sosial anggotanya dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.
KUBE diharapkan dapat mempercepat pengurangan kemiskinan melalui:
a. Peningkatan kemampuan berusaha para anggota KUBE secara bersama dalam kelompok,
b. Peningkatan pendapatan, c. Pengembangan usaha, dan
d. Peningkatan kepedulian dan kesetiakawanan sosial diantara para anggota KUBE dan dengan masyarakat sekitar.
Demikian halnya dengan Kelompok Usaha Bersama di daerah tertinggal, mereka berasal dari keluarga yang tergolong fakir miskin, kemudian dibentuk, tumbuh dan berkembang atas dasar prakarsa sendiri. Dalam kelompok ini mereka saling saling berinteraksi satu sama lainnya dan tinggal dalam kelembagaan desa sejahtera. Pembentukan ini di dasarkan pada Ketetapan
Kementerian Sosial RI Nomor 05/HUK/2012 tentang Desa Sejahtera di 50 Kabupaten Daerah Tertinggal.
Tujuan pembentukan KUBE:
a. Meningkatkan kemampuan keluarga fakir miskin di dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ditandai dengan meningkatnya pendapatan keluarga, meningkatnya kualitas pangan, sandang, papan, kesehatan dan tingkat pendidikan. b. Meningkatnya kemampuan keluarga fakir miskin dalam
mengatasi masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam keluarganya maupun dengan lingkungan sosialnya.
c. Meningkatnya kemampuan masyarakat miskin di daerah kabupaten tertinggal dalam peran sosialnya, baik dalam keluarga maupun lingkungannya.
d. Meningkatkan aktivitas ekonomi dan perdagangan daerah kabupaten tertinggal.
e. Berkurangnya ketertinggalan dari daerah kabupaten tertinggal di daerah sekitarnya yang lebih berkembang ataupun untuk mensinergikan dengan perkembangan negara tetangga.
2. Perbaikan Rumah
Perbaikan rumah atau Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) atau istilah sekarang Rutilahu. Cikal bakal istilah ini muncul tahun 1970 di tiap desa dengan sebutan Lembaga Sosial Desa (LSD) yang merupakan suatu lembaga sosial dibentuk masyarakat untuk menangani permasalahan sosial. Lembaga Sosial Desa pernah melakukan perbaikan rumah warga yang kurang mampu dengan sebutan Gerakan Sosial Perumahan Sehat Gotong Royong (PSGR). Masyarakat desa diajak untuk mengumpulkan bahan bangunan yang diperlukan dalam perbaikan rumah. Selain itu menyumbangkan tenaganya dengan menyediakan waktu untuk membangun rumah warga lain yang dijadikan sasaran kegiatan. Masyarakat tidak menerima bayaran
karena dilakukan secara sukarela dan bergotong royong, bisa bersamaan atau bergantian di satu tempat.
Perkembangan selanjutnya pada Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), tepatnya tanggal 20 Desember secara bersamaan antara masyarakat dengan pemerintah, dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dan lingkungannya dilakukan melalui tiga pendekatan (Tri Bina) yaitu: bina manusia, bina usaha dan bina lingkungan. Sejak tahun 1986 diprioritaskan bina lingkungan dengan menata lingkungan kumuh menjadi pemukiman teratur. Namun pada tahun 1998 beralih kepada kegiatan bina usaha terhadap penghuni yang tinggal di daerah kumuh terutama yang terkena Proyek Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK). Masyarakat yang berada di lingkungan proyek sebagian mendapatkan kegiatan perbaikan rumah dan lingkungan, sebagian lagi hanya memperoleh bantuan usaha.
Tujuan dari penataan lingkungan kumuh:
a. Tumbuhnya kesadaran akan pemukiman dan lingkungan yang layak secara fisik dan sosial.
b. Terwujudnya tempat tinggal dan lingkungan sosial yang layak dan sehat.
c. Meningkatnya kemampuan masyarakat menata dan mengelola lingkungan.
Sebagai kelanjutan dari program tersebut tahun 2006 istilah Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK) diganti dengan istilah Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH), hingga sekarang ini. Dalam pelaksanaan program tidak jauh berbeda hanya kegiatan RSRTLH dan sarling dilaksanakan dengan mekanisme bantuan langsung kepada kelompok penerima melalui rekening pada bank pemerintah. Kegiatan dilaksanakan secara gotong royong yang bertujuan untuk menghidupkan kesetiakawanan sosial atau modal sosial di masyarakat.
3. Bantuan Sosial Keluarga
Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program pemberian bantuan tunai bersyarat kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) atau Keluarga Sangat Miskin (KSM) yang telah ditetapkan sebagai peserta. Secara umum tujuan utama PKH adalah mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia terutama pada kelompok masyarakat miskin.
Tujuan secara khusus:
a. Meningkatkan kondisi sosial ekonomi RTSM b. Meningkatkan taraf pendidikan anak-anak RTSM,
c. Meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas dan anak dibawah enam tahun dari RTSM
d. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan RTSM. Program dalam jangka pendek bertujuan mengurangi beban keluarga miskin, sedang program jangka panjangnya akan dapat memutus mata rantai kemiskinan antar generasi, sehingga generasi berikutnya dapat keluar dari kondisi kemiskinan.
Peserta PKH berasal dari keluarga sangat miskin yang didalamnya terdapat satu atau lebih persoalan, dengan kriteria: ibu hamil, ibu nifas, anak usia 0 – 6 tahun, serta anak usia 7 – 18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun yaitu SD dan SMP sederajat. Peserta diwajibkan memenuhi persyaratan dan komitmen dalam bidang pendidikan dan kesehatan sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia.
Hak dan kewajiban peserta PKH: a. Hak peserta;
1) Menerima bantuan tunai bersyarat sesuai komponen bidang kesehatan dan pendidikan
2) Menerima pelayanan kesehatan dari lembaga pelayanan kesehatan seperti: Puskesmas, Poliklinik Desa/Pos Kesehatan Desa, Puskesmas Pembantu/Puskesmas Keliling, Pos Pelayanan Terpadu, dan jaringannya.
3) Menerima pelayanan pendidikan dasar sembilan tahun.
b. Kewajiban peserta;
1) Berkaitan dengan kesehatan a) Anak usia 0 – 6 tahun
(1) Anak usia 0 – 11 bulan harus mendapatkan imunisasi lengkap (BCG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis B) dan ditimbang berat badannya secara rutin tiap bulan.
(2) Anak usia 6 – 11 bulan harus mendapatkan vitamin A minimal sebanyak dua kali dalam setahun yaitu bulan Pebruari dan Agustus. (3) Anak usia 12 – 59 bulan perlu mendapatkan
imunisasi tambahan dan ditimbang berat badannya secara rutin setiap tiga bulan.
(4) Anak usia 5 – 6 tahun ditimbang berat badannya secara rutin setiap tiga bulan untuk dipantau tumbuh kembangnya dan atau mengikuti Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). b) Ibu hamil dan ibu nifas
(1) Selama kehamilan ibu hamil harus melakukan pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan sebanyak empat kali dan mendapatkan suplemen tablet FE
(2) Ibu melahirkan harus ditolong oleh tenaga kesehatan
(3) Ibu nifas harus melakukan pemeriksaan kesehatan setidaknya dua kali sebelum bayi berusia 28 hari
c) Berkaitan dengan pendidikan
Peserta PKH yang mempunyai anak berumur 5 – 6 tahun diwajibkan mendaftarkan ke SD/MI atau SMP/MTs. Jika terdapat anak 15 – 18 tahun dan belum menyelesaikan pendidikan dasar, maka dapat menjadi peserta PKH.
Komponen bantuan yang diberikan (2007): 1) Bantuan tetap : Rp 300.000,-2) Ibu hamil/Nifas/Balita : Rp 1.000.000,-3) Anak SD : Rp 500.000,-4) Anak SMP : Rp 1.000.000,-5) Bantuan maksimal : Rp 2.800.000,-6) Bantuan minimal : Rp
800.000,-Program Keluarga Harapan mulai dilaksanakan tahun 2007 sampai dengan tahun 2015 dengan sasaran sekitar enam juta keluarga sangat miskin. Kegiatan ini dimulai dengan ujicoba pada tujuh provinsi yaitu: Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara dan Gorontalo. Peserta PKH akan menerima bantuan selama maksimal enam tahun dan selalu dilakukan evaluasi. Peserta program PKH sudah mencapai 387.947 RTSM dalam 48 kabupaten/kota. Tahun 2010 sudah dilaksanakan di 20 provinsi, 70 kabupaten/kota, 739 kecamatan. Sasaran dari program ini sudah mencapai 774.293 RTSM. Mereka didampingi 3.600 pendamping dan 416 operator. Sejak tahun 2012 program ini telah disepakati menjadi program nasional dengan alasan program telah menjangkau seluruh provinsi di Indonesia dan pelaksanaanya dilakukan secara bersama-sama dengan kementerian/ lembaga seperti: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, Kementerian Dalam negeri, Badan Pusat Statistik, Tim Nasional
Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, dan Pemerintah Daerah. Sampai dengan 2013 program ini telah menangani 2.400.000 RTSM dalam 336 kabupaten/kota yang mencakup 34 provinsi. Diperkirakan tahun 2014 akan mencapai 3.200.000 RTSM (Achmadi Jayaputra, dkk: 2014).
4.
Pemberdayaan Komunitas Adat TerpencilSecara umum masih banyak sebagian dari penduduk Indonesia berada lapisan paling bawah dalam struktur dan perkembangan masyarakat yang mengalami permasalahan ketertinggalan dalam pencapaian pemenuhan kebutuhan dasar hidup sebagai manusia konsekuensi dari keberadaan mereka yang secara geografis sangat sulit dijangkau dan secara sosial termasuk dalam budaya terasing atau biasa disebut Komunitas Adat Terpencil (KAT).
Komunitas tersebut tinggal di pegunungan, rawa, pinggiran pantai dan perbatasan dengan negara lain, bahkan terdapat juga yang tinggal di pulau-pulau terpencil. Mereka sangat unik memiliki aturan tersendiri mengenai budaya adat istiadat yang mengatur pola hidupnya. Ini dapat dilihat dari ketika mereka mengolah sumber alam, tata cara pengolahannya dan alat yang digunakan merupakan aturan atau ilmu yang sudah turun temurun diwariskan oleh leluhur mereka yang tidak ditularkan kepada kelompok lain sehingga hubungan antar kelompok sangat jarang mereka lakukan karena menurut pendapat mereka dianggap “pamali”.
Jumlah KAT sepuluh tahun silam sekitar 1,1 jiwa atau berjumlah 250.000 jiwa dengan kondisi miskin, hidup terasing/ terpencil, hidup berkelompok dengan jumlah anggota yang tidak banyak, sering berpindah tempat tinggal, dan tersebar di hampir seluruh pelosok provinsi di ujung pulau-pulau terpencil, perbatasan dan pegunungan dengan mata pencaharian
bertani, berburu, dan nelayan tradisional. Apabila lahan tempat mata pencaharian mereka sudah tidak subur, mereka akan berpindah mencari lahan lain untuk tempat tinggal sekaligus untuk bercocok tanam. Permasalahan yang dihadapi oleh Komunitas Adat Terpencil di Indonesia adalah kurangnya aksesibilitas terhadap fasilitas publik yang memungkinkan mereka untuk melakukan transformasi hidup ke arah yang lebih baik. Kurangnya aksesibilitas terhadap dunia luar yang menyebabkan masyarakat KAT tertinggal dalam berbagai segi kehidupan seperti; kemiskinan, kesehatan yang kurang diperhatikan, tingkat pendidikan yang rendah, dan lainnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Peraturan Peraturan Presiden Nomor 186 Tahun 2014 tentang Pemberdayaan Sosial Terhadap Komunitas Adat Terpencil.
Tujuan pemberdayaan KAT adalah untuk mewujudkan: a. Perlindungan hak sebagai warga negara
b. Pemenuhan kebutuhan dasar
c. Integrasi KAT dengan sistem sosial yang lebih luas, dan d. Kemandirian sebagai warga negara.
Tujuan sesuai dengan kriteria yang terdapat pada pemberdayaan KAT yaitu:
a. Keterbatasan akses pelayanan sosial dasar,
b. Tertutup, homogen dan penghidupannya tergantung kepada sumber daya alam,
c. Marjinal di pedesaan dan perkotaan, dan/atau
d. Tinggal di wilayah perbatasan antar negara, daerah pesisir, pulau-pulau terluar dan terpencil.
Pemberdayaan Sosial KAT dilaksanakan melalui tahapan kegiatan terdiri: a. Persiapan pemberdayaan b. Pelaksanaan pemberdayaan c. Rujukan, dan d. Terminasi.
Pemberdayaan sosial yang dilakukan meliputi: a. Permukiman b. Administrasi kependudukan c. Kehidupan beragama d. Kesehatan e. Pendidikan f. Ketahanan pangan
g. Penyediaan akses kesempatan kerja h. Penyediaan akses lahan
i. Advokasi dan bantuan hukum j. Pelayanan sosial dan/atau, k. Lingkungan hidup.
Mengingat kondisi KAT antara satu dengan lainnya kondisinya tidak sama, maka dalam program pemberdayaan dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, Kategori I pemberdayaan sosial dilakukan selama tiga tahun. Kategori I umumnya hidup dengan kondisi berpencar dan berpindah dalam komunitas kecil, tertutup, dan homogen, bermata pencaharian berburu dan meramu dari berbagai potensi sumber daya alam setempat, hidup dengan sistem ekonomi subsistem, penggunaan teknologi dan peralatan sangat sederhana, marginal di pedesaan ditandai oleh keterbatasan akses pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan administrasi pemerintahan, mengalami berbagai kerentanan terhadap kesehatan, ketahanan pangan, kecukupan gizi dan permasalahan kesejahteraan sosial.
Kedua, Kategori II pemberdayaan sosial dilakukan selama dua tahun. Kategori II umumnya hidup menetap sementara, pada umumnya masih homogen namun sudah lebih terbuka, peladang berpindah-pindah, hidup dengan sistem ekonomi mengarah pada sistem pasar ditandai dengan penggunaan teknologi dan peralatan yang lebih bervariasi, marginal di pedesaan ditandai oleh keterbatasan akses pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan administrasi pemerintahan, mengalami berbagai kerentanan terhadap kesehatan, ketahanan pangan, kecukupan gizi dan permasalahan kesejahteraan sosial. Ketiga, Kategori III pemberdayaan sosial dilakukan osial selama setahun. Kategori III umumnya hidup menetap, sudah heterogen dan lebih terbuka. Bermata pencaharian bertani, berkebun, nelayan, kerajinan dan/atau berdagang dengan sistem ekonomi pasar, ditandai oleh aktivitas pasar yang lebih intensif dengan cara penghidupan yang lebih bervariasi sudah mengenal teknologi yang lebih modern serta interaksi dengan masyarakat di luar komunitasnya sudah intensif, marginal di pedesaan ditandai oleh keterbatasan akses pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan administrasi pemerintahan, mengalami berbagai kerentanan terhadap kesehatan, ketahanan pangan, kecukupan gizi dan permasalahan kesejahteraan sosial. Pelaksanaan kegiatan pemberdayaan KAT didasarkan pada permasalahan dan kondisi KAT sesuai dengan kategori yang ada. Pemberdayaan tahun pertama pembangunan pemukiman baru dengan kegiatan meliputi: pembangunan rumah warga KAT, bantuan bahan bangunan rumah, pembangunan infrastruktur balai sosial, penyediaan sarana air bersih, rumah petugas dan sarana ibadah, bantuan jaminan hidup, bantuan bibit tanaman palawija, bantuan peralatan kerja warga, dan bantuan peralatan rumah tangga. Pemberdayaan tahun kedua pemantapan pemukiman kegiatannya; pembangunan infrastruktur seperti balai sosial, sarana air bersih, rumah petugas dan sarana ibadah,
dan bantuan jaminan hidup. Kemudian pemberdayaan tahun ketiga sebagai pengembangan pemukiman diberikan bantuan jaminan hidup.
D. Hasil Penanganan
Upaya penanggulangan kemiskinan di wilayah pesisir, pulau-pulau kecil dan perbatasan antar negara melalui program pemberian bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH), Program Keluarga Harapan (PKH), Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT), nampak pada hasil-hasil penelitian yang selama ini dilakukan oleh Puslitbangkesos.
Permasalahan yang dialami masyarakat perbatasan Skouw Wutung, Distrik Muara Tami, Kabupaten Jayapura, Papua. Sebab terbatasnya sarana prasarana seperti: jalan, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Selain itu belum adanya program pemberdayaan bagi keluarga miskin. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, pemerintah telah melakukan pembangunan sarana fisik berupa, pembangunan jalan, sekolah, kesehatan, ekonomi pasar di perbatasan, dan pemukiman. Disamping itu program lainnya yang telah masuk dalam rangka menangani masalah kemiskinan wilayah perbatasan adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT), Raskin. Kemudian program yang sifatnya pemberdayaan meliputi: KUBE, BLPS, bantuan UEP dan berbagai pelatihan seperti, pertanian, perkebunan, peternakan, dan keterampilan (Sugiyanto, 2011).
Di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Permasalahan umum yang dirasakan adalah terbatasnya infrastruktur wilayah sebagai penopang perkembangan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial, budaya bahkan politik dan pertahanan keamanan. Akibat dari permasalahan tersebut berdampak pada masalah kemiskinan. Hal ini ditandai dengan banyaknya rumah tidak layak huni, wanita
rawan sosial ekonomi, rendahnya kemampuan masyarakat untuk membeayai pendidikan anak-anaknya. Persoalan lain di wilayah ini adalah terbatasnya aksesibilitas dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi maupun tingkat kesejahteraan sosial, disamping sumber daya manusia, infrastruktur dan kemampuan finansial.
Permasalahan yang berkaitan dengan implementasi kebijakan khususnya dalam pembangunan daerah perbatasan masih dihadapkan pada sulitnya koordinasi dan sinergi keterpaduan program lintas sektor. Kesulitan transportasi dan dukungan infrastruktur lainnya menjadi kendala masuknya program pembangunan ke daerah perbatasan. Pelaksanaan pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat perbatasan terkesan partisipasi masyarakat dalam pembangunan masih rendah, merasa terabaikan dan menjadi penonton pembangunan di tempatnya sendiri. Dengan demikian meskipun telah ditetapkan kebijakan dan program pemerintah yang dilaksanakan namun kawasan perbatasan masih saja belum dapat dikembangkan sebagai kawasan ekonomi yang melibatkan seluruh masyarakat lokal untuk dapat menjadi kawasan yang mampu bersaing dengan negara tetangga. Pada tataran proses pelaksanaan pembangunan, koordinasi lintas sektor dan sinergi keterpaduan program pembangunan dari beberapa institusi terkait sulit untuk diwujudkan sehingga sering kali program berjalan sendiri-sendiri. Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) sebagai koordinator pembangunan daerah perbatasan juga belum dapat berbuat banyak untuk mewujudkan keterpaduan program dalam pembangunan perbatasan (Agus Budi Purwanto, dan Moch Syawie, 2013).
Wilayah Entikong, ada dua kecamatan perbatasan langsung dengan negara tetangga Serawak, Malaysia Timur. Kecamatan Entikong merupakan satu dari 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Sanggau. Batas wilayahnya: sebelah utara berbatasan dengan Serawak, Malaysia Timur; sebelah timur, selatan dan barat
berbatasan dengan Kecamatan Sekayam, Kabupaten Landak. Kecamatan Entikong wilayahnya sangat strategis. Secara geografis terletak pada jalur kawasan perbatasan, berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak, terletak pada jalur Trans Borneo yang menghubungkan Serawak, Sabah, dan Brunei Darussalam.
Permasalahan umum di Kecamatan Entikong antara lain:
1. Belum memadainya jalan di sepanjang perbatasan yang menghubungkan kecamatan dengan desa sepanjang 42 Km 2. Infrastruktur kurang memadai
3. Kualitas sumber daya manusia rendah (70 % tamatan SD)
4. Terbatasanya keterlibatan pemerintah Kabupaten Sanggau dalam pengelolaan kawasan perbatasan
5. Kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat perbatasan Indonesia dengan Serawak, Malaysia Timur
6. Tidak ada lahan yang siap pakai
7. Lesunya perekonomian di kawasan perbatasan.
Sedangkan permasalahan anak yang nampak tercermin dalam diskusi dengan para tokoh masyarakat, dan orang tua sebagai berikut:
1. Anak Putus Sekolah
Tidak sedikit anak-anak usia sekolah karena keterbatasan sarana pendidikan, kondisi sosial ekonomi orang tua ataupun terbatasnya pengetahuan orang tua akan artinya pentingnya pendidikan bagi anak-anak sebagai generasi penerus. Sebagian besar anak-anak di daerah ini hanya lulus SD, bahkan diantara dari mereka yang seharusnya masih menuntut ilmu di bangku sekolah, karena keterbatasan orang tua, anaknya belum cukup umur sudah dinikahkan. Tetapi ada juga setelah lulus SD mereka bekerja di Pontianak ataupun bekerja di negara tetangga (Malaysia).
2. Pemenuhan Hak Identitas
Sebagian besar anak-anak di daerah ini tidak mempunyai akte kelahiran masalahnya; biaya, persyaratan untuk pembuatan akte kelahiran, dan jauhnya tempat pengurusan akte di Sanggau. Pembuatan akte kelahiran salah satu persyaratan adalah mempunyai surat nikah. Di beberapa wilayah Entikong dengan mayoritas penduduk beragama Katholik dan Kristen pernikahan dilakukan oleh pihak pastoran di gereja. Pasangan yang menikah hanya mendapatkan surat nikah dari gereja. Belum tercatat di Kantor Cacatan Sipil, sehingga mereka tidak mempunyai akte nikah yang menyebabkan pembuatan akte nikah mengalami keterlambatan.
3. Pernikahan Usia Dini
Faktor dari banyaknya anak yang putus sekolah mendorong anak-anak menikah pada usia dini. Informasi ini diperkuat oleh pengakuan Kepala Dusun Serangkang anak gadis menikah pada usia 16 – 18 tahun, baik menikah dengan penduduk setempat ataupun dengan orang Malaysia. Data Puskesmas menunjukkan anak-anak dibawah usia 18 tahun yang melahirkan di tahun 2010 sebanyak 18 anak, 15 orang diantaranya melahirkan anak pertama dan tiga orang melahirkan anak kedua. Tahun 2011 anak usia dibawah 18 tahun yang memeriksakan kehamilan sebanyak 16 anak.
4. Pekerjaan Anak-anak
Beberapa jenis pekerjaan yang dilakukan anak-anak di wilayah Entikong. Anak bekerja sebagai pengisi identitas sesuai paspor (borang) di pos lintas batas Entikong. Mereka membantu mengisi borang orang yang akan melintas ke Malaysia dengan imbalan satu formulir Rp 5.000,-. Selain itu anak-anak juga bekerja sebagai buruh angkut di terminal bongkar muat barang. Sehari mereka bisa mendapatkan Rp 25.000,- sampai dengan Rp 100.000,-. Terdapat pula anak di Dusun Pripin bekerja di aliran Sungai Sekayam mencari batu intan atau biji emas yang dikenal
dengan istilah dompleng. Lain halnya dengan anak perempuan, mereka lebih memilih menjadi pembantu rumah tangga atau penjaga toko di Malaysia dengan gaji berkisar 300 – 600 RM. Di dusun Sontas Kecamatan Entikong terdapat 33 anak yang bekerja dan sekolah sambil bekerja.
5. Minuman Keras dan Merokok
Di wilayah Entikong terdapat tradisi gawai, setiap rumah menyuguhkan beraneka ragam makanan, daging dan minuman keras (tuak). Acara ini paling disukai oleh anak-anak dengan minum minuman keras sambil mengikuti acara yang diselenggarakan panitia. Dampak dari minuman keras jelas tidak terelakan pasti anak-anak pada mabok. Demikian halnya dengan anak-anak yang putus sekolah dan mereka bekerja. Hasil kerja dari mereka dipakai untuk membeli minuman dan rokok. Dari dua persoalan inilah pada akhirnya anak-anak suka mabok dan merokok. Padahal bila kita cermati tradisi tersebut, didaerah lainpun ada pula dengan menyediakan minuman keras. Tetapi itu hanya untuk menghangatkan badan, tetapi tidak sedikit mereka yang menyalahgunakan akhirnya mabok. 6. Abuse
Pergaulan yang melebihi batas kewajaran juga sering terjadi di daerah ini. Mereka sering keluar malam, pergaulan bebas, bahkan terjadi pelecehan seksuual. Pernyataan dari anak perempuan di sekolah, mereka mengaku pernah dicolek pantatnya, dipegang payudaranya oleh teman laki-lakinya dan perlakuan lain yang sebenarnya tidak pada tempatnya.
Masih belum terlindunginya anak dari berbagai pelanggaran hak anak, menunjukkan masih lemahnya penegakan hukum atas Undang-Undang Perlindungan Anak. Pasal 13 (1), bahwa anak-anak dalam pengasuhan orang tua, wali atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapatkan
perlindungan dari perlakuan, diskriminasi maupun eksploitasi baik ekonomi maupun seksual. Permasalahan anak yang bekerja menunjukkan bahwa anak-anak masih belum terlindungi dari bentuk-bentuk pekerjaan anak, yang menyebabkan anak-anak juga tidak bisa sekolah dan kehilangan masa bermainnya.
Berbagai permasalahan anak yang muncul di wilayah perbatasan terkait dengan pemenuhan hak anak, tidak terlepas dari peran orang tua/keluarga, lingkungan dan masyarakat ataupun dukungan dan kebijakan dari pemerintah yang berpihak pada anak. Permasalahan anak hasil diskusi dengan tokoh masyarakat dan orang tua diperkuat dengan hasil temuan lapangan yang dilakukan dalam penelitian.
Beberapa temuan lapangan terkait dengan pemenuhan hak-hak anak sebagai berikut:
1. Hak mendapatkan pendidikan
Masih banyak anak-anak yang mengalami putus sekolah sehingga mereka tidak biasa melanjutkan pendidikannya, bahkan sebagian dari mereka harus bekerja.
2. Hak mendapatkan kesehatan
Beberapa anak belum terpenuhi gizinya dengan baik, termasuk sebagian bayi belum mendapatkan hak atas ASI ekslusif. Selain itu sebagian anak-anak juga harus melahirkan dibawah usia 18 tahun.
3. Hak mendapatkan identitas
Sebagian besar anak-anak belum mempunyai akte kelahiran sebagai identitas kewarganegaraannya.
4. Hak untuk berpartisipasi
Belum adanya wadah khusus serta kesempatan bagi anak-anak untuk terlibat serta dilibatkan dalam kegiatan pembangunan di wilayahnya, termasuk kesempatan untuk berkelompok dan mengekspresikan diri.