Bab 2 Kebijakan Kementerian Sosial Terhadap Warga
C. Program dan Kegiatan
Berbagai kebijakan pemerintah dalam upaya penanggulangan kemiskinan, Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin memfokuskan pada penanganan kemiskinan di wilayah pesisir, pulau-pulau kecil dan perbatasan antar negara. Program yang diluncurkan dalam penanganan kemiskinan di daerah tersebut terutama; bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH).
1. Usaha Ekonomi Produktif
Satu diantara sekian program pemberdayaan fakir miskin yaitu memberikan bantuan UEP terhadap KUBE. KUBE adalah kelompok usaha binaan Kementerian Sosial yang dibentuk dari beberapa Keluarga Binaan Sosial (KBS) untuk melaksanakan kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS) dalam rangka kemandirian usaha meningkatkan kesejahteraan sosial anggotanya dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.
KUBE diharapkan dapat mempercepat pengurangan kemiskinan melalui:
a. Peningkatan kemampuan berusaha para anggota KUBE secara bersama dalam kelompok,
b. Peningkatan pendapatan, c. Pengembangan usaha, dan
d. Peningkatan kepedulian dan kesetiakawanan sosial diantara para anggota KUBE dan dengan masyarakat sekitar.
Demikian halnya dengan Kelompok Usaha Bersama di daerah tertinggal, mereka berasal dari keluarga yang tergolong fakir miskin, kemudian dibentuk, tumbuh dan berkembang atas dasar prakarsa sendiri. Dalam kelompok ini mereka saling saling berinteraksi satu sama lainnya dan tinggal dalam kelembagaan desa sejahtera. Pembentukan ini di dasarkan pada Ketetapan
Kementerian Sosial RI Nomor 05/HUK/2012 tentang Desa Sejahtera di 50 Kabupaten Daerah Tertinggal.
Tujuan pembentukan KUBE:
a. Meningkatkan kemampuan keluarga fakir miskin di dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ditandai dengan meningkatnya pendapatan keluarga, meningkatnya kualitas pangan, sandang, papan, kesehatan dan tingkat pendidikan. b. Meningkatnya kemampuan keluarga fakir miskin dalam
mengatasi masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam keluarganya maupun dengan lingkungan sosialnya.
c. Meningkatnya kemampuan masyarakat miskin di daerah kabupaten tertinggal dalam peran sosialnya, baik dalam keluarga maupun lingkungannya.
d. Meningkatkan aktivitas ekonomi dan perdagangan daerah kabupaten tertinggal.
e. Berkurangnya ketertinggalan dari daerah kabupaten tertinggal di daerah sekitarnya yang lebih berkembang ataupun untuk mensinergikan dengan perkembangan negara tetangga.
2. Perbaikan Rumah
Perbaikan rumah atau Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) atau istilah sekarang Rutilahu. Cikal bakal istilah ini muncul tahun 1970 di tiap desa dengan sebutan Lembaga Sosial Desa (LSD) yang merupakan suatu lembaga sosial dibentuk masyarakat untuk menangani permasalahan sosial. Lembaga Sosial Desa pernah melakukan perbaikan rumah warga yang kurang mampu dengan sebutan Gerakan Sosial Perumahan Sehat Gotong Royong (PSGR). Masyarakat desa diajak untuk mengumpulkan bahan bangunan yang diperlukan dalam perbaikan rumah. Selain itu menyumbangkan tenaganya dengan menyediakan waktu untuk membangun rumah warga lain yang dijadikan sasaran kegiatan. Masyarakat tidak menerima bayaran
karena dilakukan secara sukarela dan bergotong royong, bisa bersamaan atau bergantian di satu tempat.
Perkembangan selanjutnya pada Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), tepatnya tanggal 20 Desember secara bersamaan antara masyarakat dengan pemerintah, dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dan lingkungannya dilakukan melalui tiga pendekatan (Tri Bina) yaitu: bina manusia, bina usaha dan bina lingkungan. Sejak tahun 1986 diprioritaskan bina lingkungan dengan menata lingkungan kumuh menjadi pemukiman teratur. Namun pada tahun 1998 beralih kepada kegiatan bina usaha terhadap penghuni yang tinggal di daerah kumuh terutama yang terkena Proyek Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK). Masyarakat yang berada di lingkungan proyek sebagian mendapatkan kegiatan perbaikan rumah dan lingkungan, sebagian lagi hanya memperoleh bantuan usaha.
Tujuan dari penataan lingkungan kumuh:
a. Tumbuhnya kesadaran akan pemukiman dan lingkungan yang layak secara fisik dan sosial.
b. Terwujudnya tempat tinggal dan lingkungan sosial yang layak dan sehat.
c. Meningkatnya kemampuan masyarakat menata dan mengelola lingkungan.
Sebagai kelanjutan dari program tersebut tahun 2006 istilah Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK) diganti dengan istilah Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH), hingga sekarang ini. Dalam pelaksanaan program tidak jauh berbeda hanya kegiatan RSRTLH dan sarling dilaksanakan dengan mekanisme bantuan langsung kepada kelompok penerima melalui rekening pada bank pemerintah. Kegiatan dilaksanakan secara gotong royong yang bertujuan untuk menghidupkan kesetiakawanan sosial atau modal sosial di masyarakat.
3. Bantuan Sosial Keluarga
Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program pemberian bantuan tunai bersyarat kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) atau Keluarga Sangat Miskin (KSM) yang telah ditetapkan sebagai peserta. Secara umum tujuan utama PKH adalah mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia terutama pada kelompok masyarakat miskin.
Tujuan secara khusus:
a. Meningkatkan kondisi sosial ekonomi RTSM b. Meningkatkan taraf pendidikan anak-anak RTSM,
c. Meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas dan anak dibawah enam tahun dari RTSM
d. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan RTSM. Program dalam jangka pendek bertujuan mengurangi beban keluarga miskin, sedang program jangka panjangnya akan dapat memutus mata rantai kemiskinan antar generasi, sehingga generasi berikutnya dapat keluar dari kondisi kemiskinan.
Peserta PKH berasal dari keluarga sangat miskin yang didalamnya terdapat satu atau lebih persoalan, dengan kriteria: ibu hamil, ibu nifas, anak usia 0 – 6 tahun, serta anak usia 7 – 18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun yaitu SD dan SMP sederajat. Peserta diwajibkan memenuhi persyaratan dan komitmen dalam bidang pendidikan dan kesehatan sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia.
Hak dan kewajiban peserta PKH: a. Hak peserta;
1) Menerima bantuan tunai bersyarat sesuai komponen bidang kesehatan dan pendidikan
2) Menerima pelayanan kesehatan dari lembaga pelayanan kesehatan seperti: Puskesmas, Poliklinik Desa/Pos Kesehatan Desa, Puskesmas Pembantu/Puskesmas Keliling, Pos Pelayanan Terpadu, dan jaringannya.
3) Menerima pelayanan pendidikan dasar sembilan tahun.
b. Kewajiban peserta;
1) Berkaitan dengan kesehatan a) Anak usia 0 – 6 tahun
(1) Anak usia 0 – 11 bulan harus mendapatkan imunisasi lengkap (BCG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis B) dan ditimbang berat badannya secara rutin tiap bulan.
(2) Anak usia 6 – 11 bulan harus mendapatkan vitamin A minimal sebanyak dua kali dalam setahun yaitu bulan Pebruari dan Agustus. (3) Anak usia 12 – 59 bulan perlu mendapatkan
imunisasi tambahan dan ditimbang berat badannya secara rutin setiap tiga bulan.
(4) Anak usia 5 – 6 tahun ditimbang berat badannya secara rutin setiap tiga bulan untuk dipantau tumbuh kembangnya dan atau mengikuti Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). b) Ibu hamil dan ibu nifas
(1) Selama kehamilan ibu hamil harus melakukan pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan sebanyak empat kali dan mendapatkan suplemen tablet FE
(2) Ibu melahirkan harus ditolong oleh tenaga kesehatan
(3) Ibu nifas harus melakukan pemeriksaan kesehatan setidaknya dua kali sebelum bayi berusia 28 hari
c) Berkaitan dengan pendidikan
Peserta PKH yang mempunyai anak berumur 5 – 6 tahun diwajibkan mendaftarkan ke SD/MI atau SMP/MTs. Jika terdapat anak 15 – 18 tahun dan belum menyelesaikan pendidikan dasar, maka dapat menjadi peserta PKH.
Komponen bantuan yang diberikan (2007): 1) Bantuan tetap : Rp 300.000,-2) Ibu hamil/Nifas/Balita : Rp 1.000.000,-3) Anak SD : Rp 500.000,-4) Anak SMP : Rp 1.000.000,-5) Bantuan maksimal : Rp 2.800.000,-6) Bantuan minimal : Rp
800.000,-Program Keluarga Harapan mulai dilaksanakan tahun 2007 sampai dengan tahun 2015 dengan sasaran sekitar enam juta keluarga sangat miskin. Kegiatan ini dimulai dengan ujicoba pada tujuh provinsi yaitu: Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara dan Gorontalo. Peserta PKH akan menerima bantuan selama maksimal enam tahun dan selalu dilakukan evaluasi. Peserta program PKH sudah mencapai 387.947 RTSM dalam 48 kabupaten/kota. Tahun 2010 sudah dilaksanakan di 20 provinsi, 70 kabupaten/kota, 739 kecamatan. Sasaran dari program ini sudah mencapai 774.293 RTSM. Mereka didampingi 3.600 pendamping dan 416 operator. Sejak tahun 2012 program ini telah disepakati menjadi program nasional dengan alasan program telah menjangkau seluruh provinsi di Indonesia dan pelaksanaanya dilakukan secara bersama-sama dengan kementerian/ lembaga seperti: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, Kementerian Dalam negeri, Badan Pusat Statistik, Tim Nasional
Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, dan Pemerintah Daerah. Sampai dengan 2013 program ini telah menangani 2.400.000 RTSM dalam 336 kabupaten/kota yang mencakup 34 provinsi. Diperkirakan tahun 2014 akan mencapai 3.200.000 RTSM (Achmadi Jayaputra, dkk: 2014).
4.
Pemberdayaan Komunitas Adat TerpencilSecara umum masih banyak sebagian dari penduduk Indonesia berada lapisan paling bawah dalam struktur dan perkembangan masyarakat yang mengalami permasalahan ketertinggalan dalam pencapaian pemenuhan kebutuhan dasar hidup sebagai manusia konsekuensi dari keberadaan mereka yang secara geografis sangat sulit dijangkau dan secara sosial termasuk dalam budaya terasing atau biasa disebut Komunitas Adat Terpencil (KAT).
Komunitas tersebut tinggal di pegunungan, rawa, pinggiran pantai dan perbatasan dengan negara lain, bahkan terdapat juga yang tinggal di pulau-pulau terpencil. Mereka sangat unik memiliki aturan tersendiri mengenai budaya adat istiadat yang mengatur pola hidupnya. Ini dapat dilihat dari ketika mereka mengolah sumber alam, tata cara pengolahannya dan alat yang digunakan merupakan aturan atau ilmu yang sudah turun temurun diwariskan oleh leluhur mereka yang tidak ditularkan kepada kelompok lain sehingga hubungan antar kelompok sangat jarang mereka lakukan karena menurut pendapat mereka dianggap “pamali”.
Jumlah KAT sepuluh tahun silam sekitar 1,1 jiwa atau berjumlah 250.000 jiwa dengan kondisi miskin, hidup terasing/ terpencil, hidup berkelompok dengan jumlah anggota yang tidak banyak, sering berpindah tempat tinggal, dan tersebar di hampir seluruh pelosok provinsi di ujung pulau-pulau terpencil, perbatasan dan pegunungan dengan mata pencaharian
bertani, berburu, dan nelayan tradisional. Apabila lahan tempat mata pencaharian mereka sudah tidak subur, mereka akan berpindah mencari lahan lain untuk tempat tinggal sekaligus untuk bercocok tanam. Permasalahan yang dihadapi oleh Komunitas Adat Terpencil di Indonesia adalah kurangnya aksesibilitas terhadap fasilitas publik yang memungkinkan mereka untuk melakukan transformasi hidup ke arah yang lebih baik. Kurangnya aksesibilitas terhadap dunia luar yang menyebabkan masyarakat KAT tertinggal dalam berbagai segi kehidupan seperti; kemiskinan, kesehatan yang kurang diperhatikan, tingkat pendidikan yang rendah, dan lainnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Peraturan Peraturan Presiden Nomor 186 Tahun 2014 tentang Pemberdayaan Sosial Terhadap Komunitas Adat Terpencil.
Tujuan pemberdayaan KAT adalah untuk mewujudkan: a. Perlindungan hak sebagai warga negara
b. Pemenuhan kebutuhan dasar
c. Integrasi KAT dengan sistem sosial yang lebih luas, dan d. Kemandirian sebagai warga negara.
Tujuan sesuai dengan kriteria yang terdapat pada pemberdayaan KAT yaitu:
a. Keterbatasan akses pelayanan sosial dasar,
b. Tertutup, homogen dan penghidupannya tergantung kepada sumber daya alam,
c. Marjinal di pedesaan dan perkotaan, dan/atau
d. Tinggal di wilayah perbatasan antar negara, daerah pesisir, pulau-pulau terluar dan terpencil.
Pemberdayaan Sosial KAT dilaksanakan melalui tahapan kegiatan terdiri: a. Persiapan pemberdayaan b. Pelaksanaan pemberdayaan c. Rujukan, dan d. Terminasi.
Pemberdayaan sosial yang dilakukan meliputi: a. Permukiman b. Administrasi kependudukan c. Kehidupan beragama d. Kesehatan e. Pendidikan f. Ketahanan pangan
g. Penyediaan akses kesempatan kerja h. Penyediaan akses lahan
i. Advokasi dan bantuan hukum j. Pelayanan sosial dan/atau, k. Lingkungan hidup.
Mengingat kondisi KAT antara satu dengan lainnya kondisinya tidak sama, maka dalam program pemberdayaan dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, Kategori I pemberdayaan sosial dilakukan selama tiga tahun. Kategori I umumnya hidup dengan kondisi berpencar dan berpindah dalam komunitas kecil, tertutup, dan homogen, bermata pencaharian berburu dan meramu dari berbagai potensi sumber daya alam setempat, hidup dengan sistem ekonomi subsistem, penggunaan teknologi dan peralatan sangat sederhana, marginal di pedesaan ditandai oleh keterbatasan akses pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan administrasi pemerintahan, mengalami berbagai kerentanan terhadap kesehatan, ketahanan pangan, kecukupan gizi dan permasalahan kesejahteraan sosial.
Kedua, Kategori II pemberdayaan sosial dilakukan selama dua tahun. Kategori II umumnya hidup menetap sementara, pada umumnya masih homogen namun sudah lebih terbuka, peladang berpindah-pindah, hidup dengan sistem ekonomi mengarah pada sistem pasar ditandai dengan penggunaan teknologi dan peralatan yang lebih bervariasi, marginal di pedesaan ditandai oleh keterbatasan akses pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan administrasi pemerintahan, mengalami berbagai kerentanan terhadap kesehatan, ketahanan pangan, kecukupan gizi dan permasalahan kesejahteraan sosial. Ketiga, Kategori III pemberdayaan sosial dilakukan osial selama setahun. Kategori III umumnya hidup menetap, sudah heterogen dan lebih terbuka. Bermata pencaharian bertani, berkebun, nelayan, kerajinan dan/atau berdagang dengan sistem ekonomi pasar, ditandai oleh aktivitas pasar yang lebih intensif dengan cara penghidupan yang lebih bervariasi sudah mengenal teknologi yang lebih modern serta interaksi dengan masyarakat di luar komunitasnya sudah intensif, marginal di pedesaan ditandai oleh keterbatasan akses pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan administrasi pemerintahan, mengalami berbagai kerentanan terhadap kesehatan, ketahanan pangan, kecukupan gizi dan permasalahan kesejahteraan sosial. Pelaksanaan kegiatan pemberdayaan KAT didasarkan pada permasalahan dan kondisi KAT sesuai dengan kategori yang ada. Pemberdayaan tahun pertama pembangunan pemukiman baru dengan kegiatan meliputi: pembangunan rumah warga KAT, bantuan bahan bangunan rumah, pembangunan infrastruktur balai sosial, penyediaan sarana air bersih, rumah petugas dan sarana ibadah, bantuan jaminan hidup, bantuan bibit tanaman palawija, bantuan peralatan kerja warga, dan bantuan peralatan rumah tangga. Pemberdayaan tahun kedua pemantapan pemukiman kegiatannya; pembangunan infrastruktur seperti balai sosial, sarana air bersih, rumah petugas dan sarana ibadah,
dan bantuan jaminan hidup. Kemudian pemberdayaan tahun ketiga sebagai pengembangan pemukiman diberikan bantuan jaminan hidup.