• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 3 Membuka Akses Bagi Komunitas Adat Terpencil

C. Tantangan

Faktor yang menjadi kendalan penanganan diantaranya persebaran populasi yang sulit dilacak akibat lokasi yang terpencil dan pola hidup nomadik. Populasi yang sulit didata, biaya yang mahal dalam penjangkauan dan penyediaan kebutuhan dasar. Demikian juga dalam elaksanaan program pemberdayaan, regulasi yang ketat harus diperhitungkan. Misalnya status lahan tempat tinggal dan kelayakan permukiman untuk kehidupan dan penghidupan ke depan.

Kendala lain di beberapa komunitas yang telah lama hidup di kawasan hutan. Ketika hendak diberdayakan melalui penyediaan permukiman layak sederhana terbentur dengan lahannya masuk

kawasan hutan lindung, hutan produksi atau kawasan yang tidak boleh dibangun. Warga KAT akan mengklaim bahwa mereka pemilik lahan yang sah karena telah hidup turun temurun jauh sebelum pemetaan hutan dilaksanakan. Pada kasus lain, industri kehutanan dan perkebunan telah merambah kawasan permukiman komunitas, sehingga membatasi ruang gerak mereka untuk mempertahankan hidupnya. Studi kelayakan untuk mengetahui profil calon komunitas yang akan diberdayakan kadangkala tidak dilakukan dengan cermat dan mendalam. Lahan pemukiman yang sempit dan tidak ada ruang untuk berkebun, sumber air yang jauh antara lain adalah kasus yang ditemui di lapangan. Akibatnya ada warga KAT yang harus tetap mencari nafkah di hutan dengan jarak yang jauh dari rumah tinggal karena tidak ada lahan yang bisa digarap untuk penghidupan.

Persiapan penyesuaian diri warga KAT yang homogen dan tertutup terhadap orang luar yang heterogen sering belum matang, sehingga menyebabkan konflik dengan warga sekitar. Misalnya satu lokasi baru pemukiman di Kabupaten Merangin, Jambi. Pernah terjadi konflik dari salah paham kecil antara komunitas dengan warga sekitarnya. Akan tetapi berdampak besar. Warga yang meludah di hadapan seorang warga komunitas Anak Dalam disikapi dengan ketersinggungan dan berujung konflik komunal. Akibatnya pemukiman yang sudah dibangun dirusak massa, sehingga tidak bisa ditempati warga KAT. Mereka harus kembali ke habitat awal. Pendampingan yang lemah dianggap sebagai satu faktor dalam proses akulturasi warga KAT dengan warga sekitar.

Tantangan dari sisi regulasi terkait dengan pembatasan jangka waktu pemberdayaan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Sosial Nomor 12 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 186 Tahun 2014 Tentang Pemberdayaan Sosial Terhadap Komunitas Adat Terpencil. Jangka waktu pemberdayaan terhadap KAT, khsusunya Pasal 10 dilaksanakan berdasarkan kategori KAT dengan ketentuan: Kategori I selama tiga

tahun berturut-turut, Kategori II selama dua tahun berturut-turut, atau Kategori III selama satu tahun. Akibatnya hasil evaluasi yang merekomendasikan apakah warga KAT telah benar-benar graduated atau belum dari keterpencilan kurang menjadi pertimbangan dalam melakukan exit programe. Setelah masa pemberdayaan satu sampai tiga tahun sesuai kategori, program KAT harus dirujuk kepada pemerintah daerah. Artinya masa pemberdayaan harus benar-benar terencana, bersinergi antar berbagai pihak terkait pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha. Keberpihakan dalam melakukan pemberdayaan lanjutan atau purnabina.

Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa upaya pemberdayaan KAT yang telah dilaksanakan pemerintah dan dan lembaga-lembaga non pemerintah telah membawa banyak kemajuan bagi KAT. Lokasi KAT yang awalnya sangat terpencil, tetapi pasca pemberdayaan telah berubah menjadi desa. Dahulunya kecamatan, sekarang menjadi ibukota kabupaten. Misalnya Agats dahulunya ibukota kecamatan, sekarang telah menjadi ibukota Kabupaten Asmat. Ddilihat dari sisi sumber daya manusia, pemberdayaan KAT telah melahirkan banyak warga yang berpendidikan tinggi dan menjadi tokoh-tokoh pemerintahan. Di Mentawai Sumatera Barat misalnya, banyak pejabat daerah dan anggota legislatif yang mengaku pernah sebagai warga KAT yang mendapat pemberdayaan pemerintah.

Beberapa hal yang harus diperhatikan; 1. Data Nasional

Seperti disinggung di atas, populasi KAT dalam data base saat ini hanyalah laporan pemerintah daerah tentang indikasi adanya fenomena komunitas adat yang masih terpencil di daerahnya. Data ini dilaporkan pemerintah daerah kabupaten secara sukarela untuk kemudian dikaji lebih lanjut. Pemerintah daerah yang memiliki keberpihakan terhadap komunitas yang akan dikaji. Sementara yang tidak berpihak dan tidak

mengalokasikan anggaran pemetaan sosial tentu tidak akan memberikan laporan. Oleh karena itu pemetaan KAT secara nasional perlu dilakukan, sehingga diketahui jumlah populasi yang sesungguhnya terkait dengan area persebaran, kriteria keterpencilan. Bahkan bagi KAT purnabina, yakni KAT yang telah diberdayakan beberapa tahun lalu dan sudah dinyatakan exit perlu dikaji ulang status sosial, ekonomi, geografi dan demografinya. Data base nasional KAT akan memberikan gambaran jumlah populasi saat ini termasuk estimasi pertumbuhannya beberapa tahun ke depan, untuk kemudian menyusun rencana strategis pemberdayaan atau penghapusan keterpencilan.

2. Peran Pemerintah Kabupaten

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, mengamanatkan bahwa pemberdayaan KAT menjadi tugas Pemerintah Kabupaten. Regulasi ini memberi peluang bahwa kekhususan KAT di setiap Daerah perlu dipertimbangkan dalam pendekatan pemberdayaan. Di samping kemiskinan dan ketertinggalannya, KAT sangat mungkin memiliki kearifan lokal spesifik yang tidak dimiliki komunitas lain. Sebut saja di Asmat. Kemampuan dalam seni pahat suku ini telah mendunia yang pantas dijual ke seantero dunia. Keberpihakan dan kemampuan pemerintah kabupaten sangat menentukan pelestarian talenta warga ini. Pengembangan KAT dapat diarahkan sesuai dengan keunikan budaya setempat. Ke depan KAT bisa menjadi penghasil karya artistik yang sangat khas, lokasi wisata, sumber musik lokal tradisional dengan instrumen musik tiup, petik dan atau tari-tarian. Talenta alami seperti ini banyak terdapat dan masih hidup di kalangan KAT seperti antara lain di Mentawai, Dayak, Papua. Tantangannya adalah bagaimana Pemerintah Daerah memberi keberpihakan nyata bagi mereka.

memberi perintah kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mengambil bagian. Terutama membuka akses dasar antara lain; membuka akses jalan, penerangan, perumahan, air bersih, keterampilan bertani atau beternak, layanan kesehatan, dan layanan pendidikan adalah kebutuhan dasar. Keberpihakan Bupati seperti ini telah terjadi di beberapa daerah dan menunjukkan hasil nyata yang cepat dirasakan warga. 3. Memastikan masuk Sistem Data Nasional

Merupakan keniscayaan bahwa basis data penduduk nasional sudah dalam sistem yang dikelola secara terpusat. Program yang dilaksanakan oleh setiap sektor harus berbasis data tersebut. Oleh karena itu setelah database KAT berhasil dibangun baik melalui sensus nasional maupun sensus lokal oleh daerah, harus dipastikan bahwa data tersebut menjadi bagian dari basis data nasional. Melalui data ini barulah diupayakan seluruh program perlindungan sosial, penanganan kemiskinan atau program pemberdayaan diarahkan ke KAT. Agar selaras dengan regulasi, harus juga dipastikan semua warga KAT secara individu mendapatkan hak-hak sipilnya yakni Nomor Induk Kependudukan (NIK), Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP), akte kelahiran dan sebagainya. Ketersediaan hak-hak sipil ini akan melicinkan masuknya program-program perlindungan sosial kepada KAT. 4. Keterlibatan Masyarakat dan Dunia Usaha

Pemberdayaan KAT perlu melibatkan sebanyak mungkin potensi yang ada. Mengandalkan dana pemerintah Pusat dan Daerah yang sangat terbatas tidak dapat mengejar persoalan KAT yang populasinya bertambah karena ada temuan KAT baru atau pertambahan alami, serta ongkos program yang meningkat. Mengambil perbandingan, populasi KAT yang berhasil didata sampai dengan tahun 2018 yang jumlahnya sekitar 250.000 KK, baru bisa diberdayakan sekitar 104.000 (41,6 %). Bahkan sesuai Rencana Kerja Pemerintah, target pemberdayaan melalui APBN

setahun hanya 2.099 KK.

Terbatasnya pendanaan ini, maka perlu menggandeng lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan korporasi. Banyak lembaga sosial karitatif dan keagamaan yang mengambil peran penting dalam pemberdayaan KAT. Demikian juga korporasi melalui corporate social responsibilty (CSR). Dukungan yang diberikan beragam mulai dari penyediaan balai sosial, air bersih, mandi cuci kakus, penerangan solar cell, layanan kesehatan, pendidikan, pendampingan dan sebagainya. Bahkan ke depan akan diinisiasi gerakan orang tua asuh bagi anak-anak KAT untuk mendapatkan pendidikan. Dukungan lembaga-lembaga sosial dan dunia usaha sebenarnya sangat tinggi karena dana yang dikucurkan langsung menyentuh warga. Hanya saja diperlukan inisiatif dan dorongan Pemerintah Daerah.

5. Pendampingan

Pendampingan adalah upaya paling soft dalam pemberdayaan KAT. Pendamping sebagai agen perubahan bisa berasal dari warga setempat yang berdekatan dan paham kultur warga KAT. Bisa juga tenaga sarjana profesional dari luar yang memiliki kapasitas dan integritas. Sejak awal pendamping telah menjadi front liner yang menjadi mitra pemerintah mentransformasikan berbagai kecakapan hidup kepada warga komunitas setempat. Meski tidak banyak orang berpendidikan yang berdedikasi tinggi untuk tinggal bersama warga komunitas di pedalaman. Ke depan kegiatan ini harus terus digalakkan. Pendampingan berkelanjutan akan dilanjutkan dan diperkuat dengan sistem rekrutmen yang baik, pelatihan yang sesuai, jaminan dan insentif yang memadai termasuk fasilitas di lapangan. Pendampingan yang berhasil akan menghasilkan percepatan akulturasi budaya komunitas tersebut dengan pihak luar. Pendampingan juga akan membangun perencanaan exit strategy pemberdayaan KAT pasca pemberdayaan.

Dokumen terkait