• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PANDANGAN YURIDIS CONFLICT OF LAW DAN CHOICE OF LAW

DALAM KONTRAK BISNIS INTERNASIONAL

Oleh: Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH1

A. Umum

1. Pengantar

Conflict of law menjadi salah satu topik dalam diskusi berkepanjangan yang dibahas dalam Working Group VI UNCITRAL bulan September 2005. Tujuan pembahasan adalah untuk membentuk model law bisnis internasional, antara lain sengketa hukum dalam pelaksanaannya, terutama yang berhubungan dengan kebebasan para pihak menentukan hukum dalam penyelesaian sengketa mereka (choice of law ) dan pembatasannya, yang semakin berkembang dalam pelaksanaannya,

berakibat dibutuhkannya pengaturan yang lebih luas.

Keadaan nyata dapat dilihat pada perlindungan terhadap risiko yang timbul dalam perjanjian terkait dengan aktivitas bank dalam pelaksanaan fungsinya sebagai lembaga untuk menyediakan dan membiayai, seperti perkreditan,

treasury, investasi, dan pembiayaan perdagangan.2

1

Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Hukum dan HAM RI.

2

Dalam menjalankan usahanya, bank menghadapi berbagai risiko, antara lain penerbitan surat berharga yang dipersengketakan, tunduk pada ketentuan dalam UU No. 7 Tahun 1992 Tentang

Hukum sebagai penunjang utama dalam pelaksanaannya agar berjalan secara tertib berdasarkan hukum nasional para pihak yang membatasi pilihan hukum, misalnya UU Kepailitan,3 UU Lingkungan Hidup, UU Perbankan (termasuk kantor cabang bank asing mengikuti ketentuan ini vide Peraturan Bank Indonesia No. 7/4/PBI/2005 tentang Prinsip Kehati-hatian).

Dalam Sekuritisasi Aset Bank Umum, HAKI,4 PP tentang Waralaba, dan sebagainya, memperhatikan

model law perdagangan internasional yang disepakati dalam UNCITRAL.

Tujuannya adalah menciptakan efisiensi, konsistensi, dan koherensi dalam unifikasi dan harmonisasi hukum perdagangan internasional.

Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998, dan dapat pula karena risiko kredit, yaitu risiko yang timbul akibat kegagalan

count er part memenuhi kewajibannya.

3

Kasus insolvensi di Indonesia berlaku UU Kepailitan, berdasarkan Pasal 2 UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Pembayaran Utang. Untuk proses likuidasi bank, berlaku ketentuan Bab VI mengenai Likuidasi UU No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

4

(2)

Konvensi internasional sebagai

model law yang berlaku, pelaksanaan kontrak, antara lain di bidang barang, seperti The Hague

Convention on the Law Applicable to Contracts of International Sale of Goods (1986).5 Konvensi dibidang transaksi elektronik, pelaksanaan fungsi pengaw asan pelaksanaan Konvensi New York 1958 tentang

recognation and enforcement of Foreign Arbital Aw ards, dan sebagainya.

Dalam kenyataannya ketentuan hukum harmonisasi yang merupakan

model law saat ini sudah tidak memadai dikaitkan dengan

kegiatan-kegiatan bisnis internasional, terutama yang

menyangkut pelaksanaan penyertaan modal, transaksi

elektronik, pemberian kredit/ hak dan kew ajiban para pihak dikaitkan dengan perjanjian baku, dalam pelaksanaan fungsi bank sebagai penyedia dan penerima dana.

Lembaga internasional/ M ajelis Umum PBB, khususnya Komite VI (Hukum), melalui UNCITRAL, dalam mengantisipasi perkembangan yang terjadi telah melakukan usaha mengumpulkan pendapat dan kesepakatan negara anggota untuk membuat suatu konvensi yang menjadi model atau rujukan dalam pembangunan rezim hukum

5

Konvensi ini menentukan bahwa hukum yang berlaku dalam suatu kontrak penjualan yang tidak dipilih oleh para pihak adalah hukum tempat kedudukan bisnis penjual saat kontrak dibuat. Pasal 13 menentukan bahwa apabila tidak ada pilihan hukum yang tegas maka berlaku hukum negara pemeriksaan barang dilakukan.

perdagangan internasional dalam bentuk model law yang sesuai kebutuhan saat ini, misalnya dalam kaitan dengan conflict of law yang berhubungan erat dengan choice of

law (pilihan hukum), yaitu hak para pihak untuk memilih hukum yang berlaku apabila terjadi conflict of

law.

B. Permasalahan

1. Apa, dan bagaimana

pelaksanaan lembaga choice

of law, dalam pelaksanaan kontrak bisnis internasional apabila terjadi conflict of

law?

2. Apa permasalahan dan solusi penerapan choice of law dalam pelaksanaan kontrak bisnis internasional apabila terjadi conflict of law ?

C. Pembahasan

1. Perkembangan Choice of Law dalam Kontrak Bisinis Internasional

Hak dan kew ajiban para pihak yang menjadi dasar penyelesaian sengketa mereka dalam conflict of law diistilahkan sebagai choice of law , dan ada pula yang mempergunakan

party autonomy. Istilah choice of law lebih pasti pengertiannya dari pada

(3)

dikemukakan oleh Sudargo Gautama.6

Istilah party autonomy sering dipahami secara keliru (misleidend) dalam Hukum Bisnis Internasional, sehingga menimbulkan pemikiran ke arah yang sebenarnya tidak dicakup oleh istilah tersebut. Istilah

autonomy (otonom) mengandung pengertian menentukan sendiri hukum yang harus berlaku bagi mereka. Secara hukum para pihak tidak mempunyai kemampuan untuk membuat sendiri undang-undang bagi mereka. Tidak ada kew enangan untuk menciptakan hukum bagi para pihak yang berkontrak. M ereka hanya diberikan kebebasan untuk memilih hukum mana yang mereka kehendaki untuk diterapkan bagi kontrak yang mereka buat, dan tidak diberikan kew enangan untuk secara otonom menentukan sendiri hukum yang harus berlaku bagi mereka. Kolleew ijn mengemukakan dalam kaitan ini: “ Het is slechts

kiesvrijheid...Niet het recht tot self-regeling”.7 (Itu hanyalah kebebasan

6

Sudargo Gaut am a, Hukum Perdata Internasional, Jilid II Bagian 4, Buku ke 5, Penerbit Alumni, Bandung, 1992, hal. 3. Menurut Szaszy Schnit zer, dalam Private International Law in European People’s Democraties, Leiden Universiteit, Leiden, 1964, P. 211, bahwa part y

aut onomy (Inggris) dalam bahasa Belanda part ij

aut onomie, part eiaut onomie/ Jerman atau part y

aut onomy/ int ent ion of t he part ies/ Inggris, lebih menekankan hak para pihak tanpa batas. Schnit zer, dalam Handelingen Nederlandse Juristenvereniging, Marthijn Nijhof, Nederland, P. 106, mengatakan bahwa istilah lain dari part y aut onomy adalah recht skeuze, atau choice of law, yang menurut Schnitzer istilah choice of law lebih sesuai karena menggambarkan apa yang diartikan dengan istilah hukum yang bersangkutan dalam hukum perdata internasional.

7

Kollew ijn, R.D, Rechtskeuse, Een Nederlandsch-Indische Rechtspiegelvoorgehouden aan het

untuk memilih....bukanlah hak untuk mengatur sendiri–Terjemahan Redaksi).

Perkembangan masalah otonomi para pihak ke arah kebebasan memilih hukum yang menjadi dasar hubungan perjanjian para pihak sudah dipraktekkan sejak dahulu. Otonomi para pihak secara konkrit baru dikenal kemudian. Dumolin seorang ahli hukum Italia abad pertengahan mengemukakannya berkenaan dengan masalah syarat-syarat perkaw inan (huw

elijks-voorw aarden) berkaitan dengan ide kebebasan para pihak.8

Di Perancis dan Nederland ajaran Dumolin ini telah tersebar. Kebebasan para pihak untuk memilih hukum ini ternyata tidak dibatasi untuk soal-soal perkaw inan, tetapi juga dibidang hukum perjanjian diakui pilihan hukum oleh para pihak, baik secara tegas maupun diam-diam, sebagai faktor yang menentukan. Namun demikian belum tegas bagi para penulis saat itu tentang kebebasan untuk memilih hukum apakah juga berlaku

International Privaatrecht. Paul Scholt en, Verzamelde Opstellen over Intergentiele Privaatrecht Rechtsgeleerde Opstellen Aangeboden aan, Bandung, 1955, hlm. 4.

8

(4)

sebagai ketentuan yang bersifat mengikat (dw ingend).9

Choice of law (pilihan hukum) dalam hukum perjanjian adalah kebebasan yang diberikan kepada para pihak untuk memilih sendiri hukum yang hendak dipergunakan untuk perjanjian mereka.10 Tujuan penerapan pilihan hukum adalah perlakuan sama untuk kasus serupa, dan pengembangan kepentingan, tujuan dan kebijakan masyarakat.

Ada beberapa alasan memberlakukan pilihan hukum, yaitu memberlakukan klausula pilihan hukum yang terdapat dalam kontrak (pengakuan) terhadap party

autonomy,11 mengesampingkan pilihan hukum, dan memberlakukan klausula pilihan hukum sebagai penunjang, dan bukan faktor penentu.12

9

Abad ke 19 ajaran kebebasan memilih oleh para pihak ini semakin berkembang, dipergunakan oleh para hakim, antara lain Von Savigny. Menurutnya bahwa hubungan hukum ditampilkan dalam bentuk penundukan sukarela pada sesuatu stelsel hukum yang terjadi karena dipilih (lex loci execut ions). Pilihan sedemikian ini terutama terjadi secara diam-diam. Teori otonomi para pihak dikembangkan oleh Mancini, bahwa otonomi para pihak merupakan salah satu dari hak asasi keseluruhan bangunan hukum perdata internasional disamping prinsip nasionalitas dan kepentingan umum. Mancini menjadikan kebebasan para individu untuk menentukan hukum bagi hubungan kontrak mereka, namun kebebasan tersebut dibatasi oleh faham ketertiban umum.

10

Sudargo Gaut am a, op. cit, hal 5, lihat pula Subekt i, Hukum Perjanjian, Alumni Bandung, 1987, hal. 11.

11

Apabila hukum yang dipilih berhubungan erat dengan kontrak, dan tidak melanggar kebijakan fundamental dari negara lain yang lebih besar kepentingannya terhadap keputusan pokok.

12

Dari berbagai putusan pengadilan di berbagai negara, dapat dilihat tidak ada perbedaan prinsipil antara sistem hukum yang ada di dunia,

M anfaat pilihan hukum adalah memuaskan para pihak karena menggunakan hak dasarnya, bersifat kepastian karena memungkinkan para pihak dengan mudah

menentukan hukumnya, memberikan efisiensi dan manfaat.

Dasar pertimbangan berlakunya pilihan hukum atas pemikiran bahw a semua negara tidak memiliki sistem hukum nasional yang sama. Apabila tidak ditentukan pilihan hukum, maka diterapkan hukum privat nasional.

Pembahasan tentang party

autonomy ditampilkan dalam satu bahasan perkembangan praktek bisnis internasional berkaitan dengan kontrak. Dikemukakan dalam Pokja UNCITRAL, bahw a party

autonomy harus diakui dalam perjanjian baku perbankan, misalnya perjanjian kredit antara bank sebagai kreditur dan debitur sebagai penerima kredit. Klausula dalam perjanjian baku tersebut harus bersifat perintah (mandatory) dalam rangka melindungi debitur sebagai pihak yang melunasi kredit agar dapat membayar hutangnya sesuai kesanggupannya, bila terjadi conflict

of law.

Aspek-aspek lain yang dibahas apabila terjadi conflict of law , antara lain tentang negotiable instrument dan negotiable document, disamping conflict of law . Apakah

(5)

dalam menyelesaikan sengketa para pihak hukum negara pihak penanggung (guarantor) dapat sebagai tempat penyelesaiannya. Selanjutnya disinggung pula substansi pengaturan berkaitan dengan benda bergerak yang harus didaftarkan, dan intellectual

property yang sudah disetujui dalam sidang sebelumnya sebagai security

right intangible property, yang akan dilanjutkan di New York.

Pembahasan yang dilakukan oleh Pokja Hukum UNCITRAL tersebut merupakan pembahasan yang selama ini telah dilakukan, dan sebagian sudah mencapai kesepakatan, antara lain

E-Commerce, the Use of Elect ronic Communications in International Contracts, yang dibahas oleh Pokja IV sebagai respon terhadap kebutuhan hukum berkaitan dengan

secured transaction, yang secara efisien diharapkan mampu menghilangkan hambatan hukum dan memberikan dampak positif terhadap kesediaan biaya bagi kredit.13

Pelaksanaan Sidang Working Group UNCITRAL yang diselenggarakan tanggal 5-9 September 2005, membahas masalah security interest, sesi ke 8 untuk draft rancangan ketentuan hukum secured

13

Sebagian besar masih dalam proses pembahasan. Substansi yang dibahas adalah mengenai procurement (Pokja I), arbit rat ion

(pokja II), t ransport law (Pokja III), insolvency law

(Pokja V), dan securit y int erest (Pokja VI). Securit y

int erest oleh Pokja VI merupakan lanjutan

pembahasan pada sesi 7, diselenggarakan di New York pada tanggak 24-28 Januari 2005.

transaction, dengan fokus secured

credit law.

Pertimbangan pembahasan isu mengenai secured credit law ini adalah merupakan respon terhadap kendala-kendala hukum yang timbul dalam pelaksanaan penyediaan dan pembiayaan bank. Beberapa hasil keputusan dalam pembahasan

Working Group VI tersebut adalah chapter IX tentang insolvency, chapter X tentang acquisition

financing, dan chapter XI tentang

conflict of law.

Diskusi terkait dengan conflict of law antara lain menyinggung tentang

bank account (rekening bank), dan

security account (surat berharga). Kedua instrumen ini sulit dibedakan dalam pelaksanaan fungsi bank sebagai pihak ketiga dalam melayani nasabah. Security account berfungsi sebagai pemenuhan kew ajiban yang diatur terakhir dalam Hague Convention lebih kompleks dari

bank account. Kesepakatan pemanfaatan surat berharga sebagai pemenuhan kew ajiban mengikuti perjanjian pokok, dan harus dibayar saat jatuh tempo oleh penerbit.

2. Choice of Law dan Ketertiban

Umum

(6)

pihak dalam menentukan choice of

law yaitu memilih hukum yang berlaku bagi mereka apabila terjadi sengketa.

Hijman mengatakan dalam bidang perdata internasional masih didiskusikan tentang seberapa jauhkah arti dari hak para pihak dalam menentukan hukum bagi mereka. Apakah keinginan para pihak memiliki peranan dalam menentukan hukum yang harus diperlakukan. Berkaitan dengan

partij-autonomie dikatakan bahw a

“ M et dit vragstuk raak ik een hoofdproblemen, van het geheele privaatrecht: de betekenis van den menselijken w il voor het recht”. (Dengan pertanyaan ini sampailah saya pada masalah yang utama dari keseluruhan hukum perdata: arti dari keinginan manusia terhadap hukum–Terjemahan Redaksi)

Choice of law sangat penting dihubungkan dengan ketertiban umum, yang bila dilihat dari sudut pandang falsafah peranan kemauan individu terhadap hukum yang berlaku (w ildogma) dan ajaran Romaw i. Persoalan pilihan hukum dalam bidang bisnis internasional menampilkan unsur-unsur falsafah hukum, mengandung pula segi-segi teori hukum, praktek hukum dan politik hukum, yang oleh Kosters disebut sebagai de hoek steen van

het rechtstelsel (batu penjuru dari suatu sistem hukum-Terjemahan Redaksi).

Pendekatan semacam ini dapat mempengaruhi pandangan ke arah falsafah tentang sejauh manakah peranan kemauan individu terhadap hukum yang berlaku, atau dalam hukum romaw i mengenai animus,

voluntas, consentire, yang substansinya tidak diuraikan lebih jauh dalam tulisan ini. Persoalannya adalah dalam menentukan haknya bila terjadi conflict of law .

Para ahli dibidang bisnis internasional mengakui bahw a secara empiris prinsip pilihan hukum dibidang kontrak dipergunakan di dunia tanpa mempersoalkan pandangan secara dogmatis yang dikemukakan para ahli. Pelaksanaannya lebih didasarkan pada pertimbangan dari segi prinsip-prinsip ekonomi, dan hukum, berkaitan dengan batas-batas kew enangan choice of law . Batas kew enangan choice of law dapat dilakukan secara tidak terbatas, atau dibatasi hanya dalam hal-hal tertentu, yaitu tentang hukum manakah yang berlaku bagi kontrak yang disepakati para pihak, dan sejauh manakah para pihak dapat menentukan sendiri hukum yang dipergunakan bagi hubungan hukum mereka, dan apabila para pihak tidak menggunakan haknya untuk memilih hukum yang berlaku bagi mereka maka hukum manakah yang menjadi dasar pelaksanaan kontrak mereka.

(7)

menentukan pilihan hukum, dan apabila menggunakannya hak tersebut ditinjau dari sifat kebebasan untuk menentukan sendiri hukum yang berlaku bagi para pihak yang berkontrak sesuai dengan logika atau bertentangan dengan sifat memaksa (dw ingend) dari ketentuan peraturan perundang-undangan. Juga merupakan persoalan apakah para pihak bebas dalam pilihan mereka atau sangat terbatas dalam kemampuan mereka ini. Apakah para pihak dapat menentukan kaidah-kaidah tertentu tunduk atau berlaku hanya terhadap bagian-bagian tertentu dalam kontrak, sehingga dalam satu kontrak terdapat beberapa kaidah yang menjadi dasar penundukan/ sebagian tunduk kepada hukum tertentu, sedangkan bagian lainnya dari kontrak tunduk kepada hukum lain perlu diamati secara tersendiri.

Berkaitan dengan substansi ini, Rabel yang mendukung prinsip kebebasan memilih hukum mengatakan bahw a para pihak berhak menentukan hukum yang berlaku dalam kontrak mereka.14

Secara empiris dapat dilihat pada hasil penelitian terhadap keputusan M ahkamah Agung Internasional, dan badan-badan arbitrase

14

Rabel, dalam Sudargo Gautama, op.cit, hal 122, mengatakan bahwa “despite some the parties to a contract have a right to determine the law applicable to their contractual relationship only the limits may be controversial. Hence the recent literature interest it self more in the limits to imposed upon the autonomy of the parties intention than in challenging its existence”.

internasional tentang adanya pengakuan terhadap hak pilihan hukum bagi para pihak (the principle

of the importance of the intention of the parties has been adopted by most courts and publicits). Sudargo Gautama mengemukakan pendapat Winter dalam suatu karangan khusus mengenai peranan yang memaksa pada perjanjian-perjanjian internasional tentang penerimaan pilihan hukum oleh para pihak berkenaan dengan dilakukannya kontrak-kontrak internasional.15 Ketertiban umum memiliki beberapa fungsi dihubungkan dengan choice

of law, pertama; sebagai rem atau penghambat, yaitu membatasi diberlakukannya hukum asing dalam hal-hal tertentu. Kedua; untuk menghalangi kebebasan hak otonomi para pihak dalam menentukan berlakunya hukum dalam kontrak mereka. Ketiga; sebagai elemen yang membatasi berlakunya stelsel hukum asing yang tidak sesuai dengan stelsel hukum dari hakim yang mengadili sengketa para pihak; dan keempat; sebagai perlindungan terhadap pemakaian otonomi hak para pihak dalam

choice of law yang terlampau luas.

Fungsi ketertiban umum tersebut secara empiris terdapat di Cina. Ketentuan hukum Cina melarang

15

(8)

pelaksanaan choice of law dalam kontrak bisnis yang terkait dengan teknologi. Ketentuan hukum yang dipergunakan adalah hukum Cina. Ketentuan yang ditetapkan oleh M enteri Perdagangan dan Ekonomi Cina itu mengenai kebijakan impor teknologi di RRC.16 Oleh karena itu menurut Niboyet, salah satu ahli yang menentang otonomi para pihak, mengatakan bahw a apabila istilah otonomi dipergunakan perlu membatasi pengertiannya, misalnya dalam bentuk definisi untuk menghindari pelaksanaan yang luas.17

Caleb menyebut ketertiban umum atau openbare orde (Belanda), dan

ordre public (Perancis), sebagai pembatasan utama kebebasan untuk melaksanakan kemauan seseorang dalam bidang kontrak untuk menghindari terjadinya penyelundupan hukum.

Penyelundupan hukum itu dapat dilakukan melalui perubahan titik taut yang menentukan dalam proses hukum yang dipakai sebagai dasar dalam penyelesaian suatu peristiw a

16

Douglas C. Markel dan Randy Peerenboom. The Technology Transfer Tango, The China Business, January-February 1997, P. 25.

17

Niboyet, dalam Subekti, op.cit. hal. 12 Volker Triebel dalam The Choice of Law in Commercial Relations, A German Prespective, International and Comparative Law Quarterly, Vol. 37, October 1988, P. 939, mengemukakan bahwa di negara-negara lain antara lain Jerman membentuk undang-undang yang membatasi part y aut onomy, yaitu t he act on t he regulat ion of st andardized

cont ract. Pilihan hukum para pihaktidak boleh

mengabaikan peraturan perundang-undangan yang berlaku, apabila kontrak bersifat publik, misalnya public of f er, public advert ising di Jerman.

hukum. Peranan subyektif dengan jalan memindahkan atau mengubah titik-titik taut penentu ke arah stelsel hukum lain yang dikendaki dapat berakibat terjadinya penyelundupan hukum ini.

Penyelundupan hukum adalah penggeseran titik-titik pertalian obyektif yang menentukan titik pertalian sekunder. Para pihak melakukan perubahan domicilie, atau menutup kontrak di luar negeri, atau memilih tempat pelaksanaan (lex loci executionis) di luar negeri. Secara hukum, pilihan hukum dapat dilakukan dengan titik pertalian yang bersifat obyektif, seperti misalnya kew arganegaraan (lex

patriea), domisili (lex domicilie), tempat letaknya benda (lex rei sitae), tempat kontrak dilaksanakan (lex

loci contractus), dan sebagainya.

Untuk menghindari terjadinya penyelundupan hukum, melalui sikap pihak bersangkutan secara sew enang-w enang memilih hukum yang dibalut kepentingan menguntungkan dirinya sendiri, dan bukan hukum yang berlaku di negara salah satu pihak yang melakukan kontrak, maka diterapkan persyaratan secara tegas.18

18

Yurispudensi negara-negara dengan sistem hukum Anglo Saxon sangat tegas menerapkan persayaratan ini. Misalnya dalam hukum Inggris, sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan oleh pemerintah Belanda berhubung dengan Konfrensi ke-6 di Den Haag mengenai jual beli internasional telah dikemukakan antara lain:

The view adopt ed in English Law is t hat a

(9)

Jika dilakukan perbuatan bersangkutan di tempat tertentu, maka pilihan tempat ini tidak dengan sengaja dipilih dengan maksud untuk melakukan

penyelundupan. Rabel mengemukakan “ the place should

not be intentionaly selected for the purpose of evasion”, dalam berbagai sistem hukum tertentu disyaratkan bahw a pemilihan hanya dapat dilakukan mengenai hukum yang benar-benar mempunyai hubungan nyata dengan peristiw a hukum yang bersangkutan.

Pemilihan hanya terhadap hukum yang ada hubungan tertentu dengan kontrak bersangkutan. Persyaratan di atas merupakan usaha untuk menghindari kemungkinan pilihan hukum berubah menjadi penyelundupan hukum. Dalam hubungan ini dapat ditunjuk pada perkara-perkara riba, yang seringkali terjadi pada Yurispudensi USA tentang perbedaan “ rate” bunga dan syarat-syaratnya di berbagai negara bagian, mengakibatkan terjadinya penyelundupan hukum dengan jalan pilihan-hukum. Dalam hal ini Hakim berpendirian bahw a pilihan hukum hanya dapat diterima, jika hukum yang dipilih merupakan hukum domisili sebenarnya para pihak dan kontrak ditutup, sekaligus

st ipulat e t hat t heir cont ract shall be governed by t he cont ract , provided t hat t he st ipulat ion express t he bonaf ide int ent ion of t he part ies. But a cont ract w ill not be enf orced in England, w het her law f ul by t he law w hich t he part ies int ended t o be applicable or not , (1) if it or t he enf orcement of it is opposed in English int erest s of st at e, or t o t he police of t he English law , or t he moral rules upheld by English law…”

dianggap dibuat, dan dilaksanakan dan dilakukannya pembayaran.19

3. Choice of Law Dalam Praktek

Perbankan

Secara empiris putusan hakim Indonesia yang berkaitan dengan

choice of law dalam perkembangannya jarang ditemukan, disebabkan

perkara-perkara yang diajukan ke pengadilan Indonesia pada umumnya kurang dipermasalahkan pilihan hukum oleh para pihak, demikian pula terdapat sebagaian besar hukum Indonesia yang mengatur pembatasan pilihan hukum, yang berdampak kepastian hukum.

Kenyataan dapat disimak sejak dahulu, bahw a dalam praktik choice

of law terdapat pembatasan pemberian hak terhadap para pihak.

Sebelum kemerdekaan dapat dilihat dalam kasus “ Tijdschrift van het

Recht”, diputuskan hakim Indonesia berkaitan dengan sistem choice of

law, atau rectskeuze yaitu Arrest dari

Hoogerechtshof tahun 1935, tentang penggunaan w esel yang telah diendosir kepada order dari

19

(10)

dan diserahkan kepada Barclay’s Bank Limited.

Kasus Zecha v. Samuel Jones & Co (Export) Ltd, Pedagang Lois Zecha yang bertempat tinggal di Sukabumi dan pedagang dengan merek dagang “ Soekaboemische

Snelpersdrukkerij” telah digugat oleh perusahaan Inggris Samuel Jones & Co (Export) Ltd, berkedudukan di London, untuk membayar 12 w esel yang telah ditarik oleh perusahaan George M an & Co Limited di London pada ordernya sendiri atas tergugat Zecha, w esel-w esel tersebut telah diaksep oleh George M an & Co Limited, sebagian dari w esel-w esel ini telah diendosir kepada order dan diserahkan kepada Barclay’s Bank Limited, yang kemudian diedarkan kepada pihak lain, dan setelah jatuh tempo pihak Zecha tidak bersedia membayar.20

M enurut pertimbangan Hooggerechtshof para pihak saat

melakukan perbuatan-perbuatan tersebut adalah agar hukum Indonesia yang diberlakukan. Para pihak telah memilih hukum

20

Sudargo Gautama, op.cit 211. Sebagai alasan dikemukakan bahwa tuntutan berdasar wesel-wesel ini tidak beralasan, justru pihak Zecha yang mempunyai gugatan penggantian kerugian setelah wanprestasi oleh pihak Mann & Co, berdasarkan jual beli mesin, karena mesin tersebut rusak dan tidak dapat dipergunakan, berakibat telah ditarik wesel-wesel tersebut. Pihak Jones sudah mengetahui lebih dahulu sebelum mengambil alih wesel-wesel tersebut. Pengambilalihan wesel-wesel oleh Jones ini juga semata-mata merupakan suatu perbuatan pura-pura (schijnhandeling) karena sebenarnya cessie-cessie bersangkutan hanya dilakukan supaya lebih mudah pihak Mann & Co dapat memperoleh jumlah yang dituntutnya.

Indonesia sebagai sistem hukum yang bersangkutan yang harus dipergunakan.21

Walaupun dari kasus ini ternyata bahw a cessie bersangkutan telah dilakukan di London, dihadapan Notaris Jhon Dalton Venn, yang berpraktik di kota itu. Hooggerechtshof beranggapan bahw a hukum Indonesia yang berlaku. Dalam hal ini terlihat bahw a

Hooggerechtshof tidak mempertimbangkan lex loci

contractus sebagai yang menentukan, dan kemampuan para pihak yang lebih diutamakan pada tempat dimana akta dibuat.

Dengan mempergunakan hukum

Indonesia, Hooggerchtshof berpendirian bahw a akta-akta cessie

yang dibuat mempunyai titel yang sah karena ternyata cessie dan peralihan hak yang bersangkutan telah terjadi dengan pembayaran oleh pihak Jones kepada Barclay’s Bank dari jumlah yang ditagih oleh Jones dari Zecha, dan cessie semacam ini dianggap berlaku menurut ketentuan-ketentuan hukum Indonesia.

Peranan ketertiban umum dalam penentuan choice of law

diefektifkan dalam memutuskan

21

(11)

kasus-kasus oleh pengadilan dan M ahkamah Agung di negara-negara di dunia, misalnya di Amerika Serikat.

Dalam perkara First National Bank vs Banco Pere El Commercio Exiterior de Cuba,22 tahun 1983, M ahkamah Agung Amerika Serikat, telah menggunakan pilihan hukum dan ketertiban umum dalam menentukan kasus nasionalisasi property yang dilakukan Cuba bertentangan dengan ketertiban umum, yaitu tidak sesuai dengan hukum yang berlaku dan situasi yang terjadi.

Putusan M ahkamah Agung mengijinkan “ Citibank’s set off,

advancing both equitable principles and United States public policy” .

Pengadilan di Amerika Serikat menghormati pilihan hukum para pihak dalam kontrak internasional, namun mempergunakan konsep ketertiban umum (public policy) sebagai suatu alat yang mengizinkan forum pengadilan untuk mengabaikan penerapan hukum asing yang tidak sesuai. David Cliffort mengatakan bahw a pembenaran klasik penggunaan konsep public policy terhadap pilihan hukum, yaitu penerapan dalam tradisi kesejahteraan umum.23

22

Yansen Dermawan Latief, Disertasi, Pilihan Hukum dan Pilihan Forum Dalam Kont rak

Int ernasional, Universitas Indonesia, Fakultas

Hukum, Program Pascasarjana, Jakarta 2002, 67-72.

23

David Cliffort, “Transnational Public Policy as a Factor in Choice of Law Analisis”, New York Law School of Journal of International and Comparative Law; 1984, 5 No. 2 & 3, P 367.

Pembatasan terhadap pilihan hukum para pihak diatur dalam Pasal 187 (2) (b) The Restatement (second), yang menentukan pengadilan mengikuti hukum para pihak, kecuali bertentangan dengan kebijaksanaan mendasar dari negara yang mempunyai hubungan lebih erat dengan pilihan hukum yang telah dilakukan.24

Klausula pilihan hukum memang secara esensi memberikan para pihak kecakapan untuk mengeluarkan suatu peraturan

“ illegalit y” atas kontrak dan mengesampingkan hukum, namun

the restatement juga menentukan pembatasan-pembatasan. The Restatement’s “ fundamental policy” dan “ materially greater interest test”

adalah suatu versi modifikasi dari pendekatan analisis kepentingan (interest analisis).25

24

Ari Dobnert, “Litigation for Sale “University of Pennsylvania Law Review. V. 144:1529. Ia mengemukakan bahwa application of the law of chosen state would be contrary to a fundamental policy of state which has a materially greater interest than the chosen state in the determination of the particular issue and which, under the rule of & 188, would be the state of applicable law in the absence of an effective choice of law by the parties.

25

Joint venture antara warga negara Cuba dan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat telah menanamkan modal di Cuba. Dalam pelaksanaannya beberapa bank, termasuk Citibank telah membuka cabang di Cuba untuk melancarkan usahanya termasuk dana investasi, namun demikian, akibat politik, hubungan Cuba dan Amerika Serikat semakin sulit saat itu. Amerika Serikat melakukan ketentuan melarang impor gula dari Cuba. Untuk menanggulangi persoalan bisnis, pemerintah Cuba mengeluarkan peraturan menasionalisasi seluruh propert y dari penduduk Amerika Serikat di Cuba. Cuba mengatakan bahwa Banco National mempunyai suatu “ legal personalit y and w as a separat e juridical ent it y. Banco Nat ional capable of suing

(12)

Indonesia menganut kedua asas tersebut, baik asas kebebasan berkontrak maupun ketertiban umum, atas dasar Pasal 1337 KUHPerdata, bahw a suatu sebab terlarang apabila bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan atau ketertiban umum, demikian pula Pasal 25 AB, bahw a perbuatan atau perjanjian tidak boleh menghilangkan kekuatan peraturan hukum, ketentuan umum atau kesusilaan. Pasal 17 AB mengatur tentang barang tidak bergerak berlaku hukum nasional di tempat barang itu terletak sesuai dengan asas lex rei sitae. Bagi tanah yang dijadikan jaminan harus didaftarkan pada kantor pertanahan, dalam perjanjian antara kreditur asing dan debitur Indonesia.26 Demikian pula ketentuan UU Kepailitan menentukan penyelesaian kepailitan berdasarkan hukum Indonesia, dan bukan pilihan hukum para pihak. Ketentuan UU Kepailitan mengabaikan pilihan hukum para

terhadap modal dan aset, dan bukan merupakan tanggung jawab pemerintah Cuba atas utang Banco National.

Revolusi Cuba mengakibatkan perubahan ekonomi, sosial dan politik, “ (t ) here w as a st udied ef f ort t o preserve a cont inued corporat e exist ence, w hile reorganizing t he Cent ral Bank t o

conf orm it t o t he new order” . Dengan demikian

terjadi perubahan signifikan. Pert ama, seluruh Banco National dimiliki dan dikontrol oleh pemerintah Cuba. Kedua, nasionalisasi secara khusus terhadap property beberapa bank Amerika Serikat, termasuk Citibank. Dalam sengketa, Citibank dimenangkan atas dasar ketertiban umum.

26

St Remy Sjahdeni, Hak Tanggungan, Asas-asas Ketentuan Pokok dan Masalah Perbankan. Pemberian hak tanggungan wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan untuk lahirnya hak tanggungan, dan untuk mengikatnya pada pihak ketiga, Bandung, Penerbit Alumni, Hal 36-44.

pihak dalam kontrak bisnis internasional, dan menerapkan hukum Indonesia dalam penyelesaian sengketa insolvensi, dan penundaan pembayaran utang melalui kew enangan khusus, berupa yurisdiksi substantif yang efektif, berdasarkan Pasal 2 dan Pasal 3 UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Pembayaran Utang.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahw a pelaksanaan choice of law dalam

conflict of law memberikan hak kepada para pihak untuk menentukan hukum yang berlaku bagi bisnisnya. Hakim negara-negara di dunia menghormati pilihan hukum para pihak. Namun demikian ada pembatasannya, melalui penerapan asas ketertiban umum, misalnya berdasarkan UU nasional pelaksanaan kontrak, misalnya di Indonesia UU Kepailitan yang menentukan berlakunya hukum nasional dalam penyelesaian conflict

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Cliffort, David. Transnational Public Policy as a Factor in Choice of Law . Harvard University Press, 1979. School of Journal of International and comparative Law , 1984, 5 No. 2 & 3, P. 367.

Dobnert, Ari. Litigation for Sale. University of Pennsylvania Law Review . V. 144: 1529.

Gautama, Sudargo. Hukum Perdata Internasional. Jilid II Bagian 4. Buku ke 5. Bandung: Alumni, 1992.

Kolew ijn, RD. Rechtskeuse Een Nederlandsch Indische Rechtspiegelvoorge

houden aan het International Privaatrecht. Nederland, M arthijn Nijhof, 1969.

LJ, De Winter. Dw ingen Recht bij Internationale Overeenkomsten. Leiden, University of Leiden, M arthijn Nijhof, Nederland, 1964.

Schnitzer, dalam Handelingen Nederlandse Juristenvereeniging. M arthijn Nijhof, Nederland, 1999.

Scholten, Paul. Verzamelde Opstellen over intergentiele Privaatrecht Rechtsgeleer

de Opstellen Aangeboden aan. Bandung, 1955.

Sjahdeini, St Remy. Hak Tanggungan, Asas-asas, Ketentuan dan Pokok dan

M asalah Perbankan. Bandung: Alumni, 1999.

Subekti. Hukum Perjanjian. Jakarta: Pustaka Djembatan, 1982.

Szaszy Schnitzer. Private International Law in European People’s Democraties. Leiden, Leiden Universiteit, 1964.

Triebel, Volker. The Choice of Law Commercial Relations, A German Perspective,

International and Comparative Law Quarterly, Vol 37, October 1988.

Yansen Demaw an Latief. Disertasi, Pilihan Hukum dan Pilihan Forum Dalam

Referensi

Dokumen terkait

Namun terjadi penurunan pada perlakuan pengukusan 50 menit dan waktu kempa 60 menit yang dapat disebabkan oleh kesalahan teknis seperti jarak yang ditempuh dari

Setelah itu dilakukan uji lanjutan yaitu uji Duncan dapat dilihat dari penurunan volume udem telapak kaki mencit bahwa adanya perbedaan yang sangat nyata

dukungan, motivasi, dan semangat yang telah diberikan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Mas Ogie Ardy Pangestu. Terimakasih atas doa, dukungan, serta

Koefisien regresi untuk dana bagi hasil diperoleh sebesar 0,0149 artinya setiap kenaikan sebesar 1 persen yang terjadi pada variabel dana bagi hasil maka akan

Untuk mengetahui bahan makanan dan pelengkap yang digunakan pada hidangan Main Course?. Untuk mengetahui teknik pengolahan hidangan Main Course

Analisis spasial wilayah potensial PKL menghasilkan peta tingkat wilayah potensial yang tersebar sepanjang Jalan Dr.Radjiman berdasarkan aksesibilitas lokasi dan

Jika dilihat dari kepentingan relatif maka dari 32 atribut yang mencakup peningkatan stabilitas dinamik pada motor Skutik dengan produk Yamaha Mio yang harus

[r]