BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Teknologi dalam bidang konstruksi berkembang dengan pesat, baik dari segi desain maupun metode-metode konstruksi yang dilakukan. Dalam pekerjaan konstruksi beton, pemadatan atau vibrasi beton adalah pekerjaan yang mutlak harus dilakukan untuk suatu pekerjaan struktur beton bertulang konvensional. Tujuan dari pemadatan itu sendiri adalah meminimalkan udara yang terjebak dalam beton segar sehingga diperoleh beton yang homogen dan tidak terjadi rongga-rongga di dalam beton (honey-comb). Pengecoran beton konvensional pada beam column joint yang padat tulangan dengan alat vibrator belum menjamin tercapainya kepadatan secara optimal. Selain itu, penggunaan vibrator pada daerah yang padat bangunan dapat menimbulkan polusi berupa suara, yang mengganggu lingkungan sekitarnya. Pengecoran beton pada pelaksanaan konstruksi di bawah air juga tidak memungkinkan penggunaan alat vibrator pada tahap pemadatan, sehingga hanya mengandalkan sifat self-compactibility beton segar yang digunakan.
segregation resistance, dengan menggunakan beberapa alat ukur standar seperti: Slump-Flow Test, J-Ring Test, dan GTM screen stability test (EFNARC, 2005).
SCC yang telah mengeras tetap merupakan beton yang bersifat getas. Oleh karena itu, perlu dilakukan modifikasi dengan penambahan serat (fibers) dengan tujuan meningkatkan kekuatan tarik matrik beton dan ketahanan terhadap beban kejut. Serat juga dapat difungsikan sebagai media penghubung antar retakan (cracks), yang sekaligus dapat menghambat penjalaran retak-retak dalam beton.
Efek samping dari penambahan serat ke dalam adukan beton adalah terjadinya perubahan sifat beton segar menjadi beton yang lebih sulit untuk dikerjakan (Mindess dkk., 2003). Perubahan sifat beton segar ini dapat menyebabkan hilangnya kestabilan (robustness) self-compacting concrete. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian secara komprehensif terhadap keempat karakteristik utama beton segar SCC, agar penambahan serat yang ditujukan untuk memperbaiki karakteristik beton yang telah mengeras tidak merusak kestabilan SCC. Setelah dilakukan pengujian kestabilan SCC dalam kondisi segar, perlu dilakukan evaluasi terhadap beberapa parameter utama dari sifat mekanik beton segar, yang meliputi: kuat tekan, kuat tarik belah, ketahanan kejut, dan kuat lentur beton. Selain itu, untuk memprediksi durabilitas SCFRC yang dapat pula digunakan pada kostruksi beton di bawah air ataupun struktur lepas pantai perlu diketahui beberapa parameter penting terkait karakteristik transpor zat cair dalam beton, yang meliputi: porositas semu dan koefisien sorptivitas yang digunakan untuk memprediksi laju penyerapan kapiler dalam beton.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
viskositas yang baik dan memadat dengan memanfaatkan berat sendiri sehingga menghasilkan beton keras yang benar-benar padat atau kompak tanpa dilakukan proses pemadatan atau vibrasi.
Permasalahan yang terjadi pada saat ini berkaitan dengan teknologi self compacting fiber reinforced concrete meliputi;
1. Optimalisasi cara mix design,
2. Sifat beton segar (rheological properties), 3. Sifat mekanis beton keras,
4. Durabilitas SCFRC,
5. Aplikasi SCFRC untuk elemen struktural,
6. Teknologi pelaksanaan dalam aplikasinya untuk berbagai pekerjaan konstruksi, dan
7. Optimasi biaya konstruksi.
C. BATASAN MASALAH
Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat polipropylene ke dalam beton jenis self-compacting concrete terhadap sifat beton segar, sifat mekanis, maupun durabilitas self-compacting fiber reinforced concrete.
Batasan-batasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Ukuran agregat maksimum yang digunakan adalah 19 mm. 2. Jenis semen yang digunakan adalah semen portland type I.
3. Superplasticizer yang digunakan berupa sika viscocrete-10, yang berbasis kimiawi polycarboxylatether, dengan takaran 0,9% dari berat binder yang digunakan.
4. Filler yang digunakan berupa silica fume, menggantikan sebagian semen dengan takaran 10% berat binder yang diperlukan.
5. Serat yang digunakan adalah serat polypropylene monofilament. 6. Faktor air semen (water perbinder ratio) ditetapkan sebesar 0,44. 7. Tata cara pengujian sifat beton segar mengacu pada standar
flowability/ filling ability dengan metode slump-flow test, viscosity dengan metode T500 Slump-flow, passing ability dengan metode
J-Ring Test, dan ketahanan segregasi dengan metode GTM screen stability test.
8. Parameter sifat mekanis beton keras yang diteliti meliputi: kuat tekan, kuat tarik belah, ketahanan kejut, dan kuat lentur beton. 9. Parameter karakteristik penyerapan zat cair dalam beton yang
diteliti meliputi: nilai porositas semu dan koefisien sorptivitas beton.
D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang akan diselesaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap flowability/ filling ability SCC?
2. Bagaimana pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap viscosity SCC?
3. Bagaimana pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap passing ability SCC?
4. Bagaimana pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap ketahanan segregasi SCC?
5. Bagaimana pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap kuat tekan self-compacting concrete?
6. Bagaimana pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap kuat tarik belah self-compacting concrete?
7. Bagaimana pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap ketahanan kejut self-compacting concrete?
8. Bagaimana pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap kuat lentur self-compacting concrete?
10. Bagaimana pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap sorptivitas self-compacting concrete?
E. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang akan diselesaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui kestabilan sifat beton segar (robustness) beton segar SCC, ditinjau dari keempat karakteristik utamanya yang terdiri dari: flowability/filling ability, viscosity, passing ability dan ketahanan segregasi self-compacting concrete.
2. Mengetahui pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap sifat mekanis beton, yang diukur berdasarkan kuat tekan, kuat tarik belah, ketahanan kejut, dan kuat lentur self-compacting concrete.
3. Mengetahui pengaruh penambahan serat polipropylene terhadap karakteristik penyerapan zat cair dalam beton, yang diukur berdasarkan nilai porositas semu dan koefisien sorptivitas SCC.
F. MANFAAT
Manfaat yang diharapkan untuk diperoleh melalui penelitian ini adalah:
1. Manfaat teoritis :
Mempelajari perkembangan teknologi beton modern, berkaitan dengan tata cara perancangan campuran material, pengujian sifat beton segar, sifat mekanis, maupun durabilitas self-compacting fiber reinforced concrete.
2. Manfaat praktis:
beton segar, sifat mekanis, maupun durabilitas self-compacting fiber reinforced concrete, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan awal dalam berbagai pekerjaan konstruksi. b. Mendapatkan gambaran dan alasan teknis penerapan SCFRC
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Beton
Beton merupakan campuran antara bahan agregat halus dan kasar dengan pasta semen (kadang-kadang juga ditambahkan admixtures), campuran tersebut apabila dituangkan ke dalam cetakan kemudian didiamkan akan menjadi keras seperti batuan. Proses pengerasan terjadi karena adanya reaksi kimiawi antara air dengan semen yang terus berlangsung dari waktu ke waktu, hal ini menyebabkan kekerasan beton terus bertambah sejalan dengan waktu. Beton dapat juga dipandang sebagai batuan buatan di mana adanya rongga pada partikel yang besar (agregat kasar) diisi oleh agregat halus dan rongga yang ada di antara agregat halus akan diisi oleh pasta (campuran air dengan semen) yang juga berfungsi sebagai bahan perekat sehingga semua bahan penyusun dapat menyatu menjadi massa yang padat.
Bahan penyusun beton meliputi air, semen portland, agregat kasar dan halus serta bahan tambah, di mana setiap bahan penyusun mempunyai fungsi dan pengaruh yang berbeda-beda. Sifat yang penting pada beton adalah kuat tekan, bila kuat tekan tinggi maka sifat-sifat yang lain pada umumnya juga baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kuat tekan beton terdiri dari kualitas bahan penyusun, nilai faktor air-semen, gradasi agregat, ukuran maksimum agregat, cara pengerjaan (pencampuran, pengangkutan, pemadatan dan perawatan) serta umur beton (Tjokrodimuljo, 1996).
B. Bahan Penyusun Beton
Unsur utama yang terkandung dalam semen dapat digolongkan ke dalam empat bagian yaitu : trikalsium silikat (C3S), dikalsium silikat (C2S), trikalsium aluminat (C3A) dan tetrakalsium aluminoferit (C4AF), selain itu pada semen juga terdapat unsur-unsur lainnya dalam jumlah kecil misalnya : MgO, TiO2, Mn2O3, K2O dan Na2O. Soda atau potasium (Na2O dan K2O) merupakan komponen minor dari unsur-unsur penyusun semen yang harus diperhatikan, karena keduanya merupakan alkalis yang dapat bereaksi dengan silika aktif dalam agregat sehingga menimbulkan disintegrasi beton (Neville dan Brooks, 1987).
Unsur C3S dan C2S merupakan bagian terbesar (70% - 80%) dan paling dominan dalam memberikan sifat semen (Tjokrodimuljo, 1996), bila semen terkena air maka C3S akan segera berhidrasi dan memberikan pengaruh yang besar dalam proses pengerasan semen terutama sebelum mencapai umur 14 hari. Unsur C2S bereaksi dengan air lebih lambat sehingga hanya berpengaruh setelah beton berumur 7 hari. Unsur C3A bereaksi sangat cepat dan memberikan kekuatan setelah 24 jam, semen yang megandung unsur C3A lebih dari 10% akan berakibat kurang tahan terhadap sulfat. Unsur yang paling sedikit dalam semen adalah C3AF sehingga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kekerasan pasta semen atau beton.
Perubahan komposisi kimia semen yang dilakukan dengan cara mengubah persentase 4 komponen utama semen dapat menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Standar industri di Amerika (ASTM) maupun di Indonesia (SII) mengenal 5 jenis semen, yaitu :
1. Jenis I, yaitu semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus.
3. Jenis III, yaitu semen portland yang dalam penggunaannnya menuntut persyaratan Kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi.
4. Jenis IV, yaitu semen portland yang dalam penggunaannya menuntut panas hidrasi yang rendah.
5. Jenis V, yaitu semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat yang sangat baik.
Tabel 1. Komposisi Penyusun Semen Menurut ASTM C 180-84 (Neville dan Brooks, 1987)
Semen
Persentase Komponen Penyusun
C3S C2S C3A C4AF CaSO4 CaO
Bebas
Proses hidrasi yang terjadi pada semen portland dapat dinyatakan dalam persamaan kimia sebagai berikut :
cenderung melemahkan beton karena dapat bereaksi dengan zat asam maupun sulfat yang ada di lingkungan sekitar sehingga menimbulkan proses korosi pada beton.
2. Air. Air merupakan bahan penyusun beton yang diperlukan untuk bereaksi dengan semen, yang juga berfungsi sebagai pelumas antara butiran-butiran agregat agar dapat dikerjakan dan dipadatkan. Proses hidrasi dalam beton segar membutuhkan air kurang lebih 25% dari berat semen yang digunakan, tetapi dalam kenyataan jika nilai faktor air semen kurang dari 35% beton segar menjadi tidak dapat dikerjakan dengan sempurna sehingga setelah mengeras beton yang dihasilkan menjadi keropos dan memiliki kekuatan yang rendah. Kelebihan air dari proses hidrasi diperlukan untuk syarat-syarat kekentalan (consistency) agar dapat dicapai suatu kelecakan (workability) yang baik. Kelebihan air ini selanjutnya akan menguap atau tertinggal di dalam beton sehingga menimbulkan pori-pori (capillary poreous) di dalam beton yang sudah mengeras.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada air yang akan digunakan sebagai bahan pencampur beton meliputi kandungan lumpur maksimal 2 gr/lt, kandungan garam-garam yang dapat merusak beton maksimal 15 gr/lt, tidak mengandung khlorida lebih dari 0,5 gr/lt serta kandungan senyawa sulfat maksimal 1 gr/lt. Secara umum air dinyatakan memenuhi syarat untuk dipakai sebagai bahan pencampur beton, apabila dapat menghasilkan beton dengan kekuatan lebih dari 90% kekuatan beton yang menggunakan air suling (Tjokrodimuljo, 1996).
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah gradasi atau distribusi ukuran butir agregat, karena bila butir-butir agregat mempunyai ukuran yang seragam akan menghasilkan volume pori yang besar tetapi bila ukuran butir-butirnya bervariasi maka volume pori menjadi kecil. Hal ini disebabkan butir yang lebih kecil akan mengisi pori di antara butiran yang lebih besar. Agregat sebagai bahan penyusun beton diinginkan mempunyai kemampatan yang tinggi, sehingga volume pori dan bahan pengikat yang dibutuhkan lebih sedikit.
Menurut British Standard 882:1973 (Gambhir, 1986), distribusi ukuran butiran agregat halus dibagi menjadi empat daerah atau zone yaitu: zone I (kasar), zone II (agak kasar), zone III (agak halus) dan zone IV (halus) sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2 dan distribusi agregat kasar yang ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2.2 Batas-Batas Gradasi Agregat Halus (Gambhir, 1986)
Ukuran
10,00 mm 100 100 100 100
5, 00 mm 90-100 90-100 90-100 95-100
2,36 mm 60-95 75-100 85-100 95-100
1,18 mm 30-70 55-90 75-100 90-100
0,60 mm 15-34 35-59 60-79 80-100
0,30 mm 5-20 8-30 12-40 15-50
0,15 mm 0-10 0-10 0-10 0-15
Tabel 3. Batas-Batas Gradasi Agregat Kasar (Gambhir, 1986)
(BS) 5 mm sampai 40 mm 5 mm sampai 20 mm
37,5 mm 90-100 100
20,0 mm 35-70 90-100
10,0 mm 10-40 50-85
5,0 mm 0-5 0-10
Ukuran agregat dalam prakteknya secara umum digolongkan ke dalam 3 kelompok yaitu :
a. Batu, jika ukuran butiran lebih dari 40 mm.
b. Kerikil, jika ukuran butiran antara 5 mm sampai 40 mm. c. Pasir, jika ukuran butiran antara 0,15 mm sampai 5 mm.
Butiran yang lebih kecil dari 0,15 mm dinamakan “silt” atau tanah (Tjokrodimuljo, 1996).
Agregat kasar menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia perlu diuji ketahanannya terhadap keausan (dengan mesin Los Angeles). Persyaratan mengenai ketahanan agregat kasar beton terhadap keausan ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Persyaratan Kekerasan Agregat Kasar Beton (Tjokrodimuljo, 1996) Kekuatan
Beton
Maksimum bagian yang hancur dengan Mesin Los Angeles, Lolos Ayakan 1,7 mm
(%)
Kelas I (sampai 10 MPa) 50
Kelas II (10MPa-20MPa) 40
Kelas III (di atas 20 MPa) 27
antara lain: mempercepat pengerasan, menambah kelecakan (workability) beton segar, menambah kuat tekan beton, meningkatkan daktilitas atau mengurangi sifat getas beton, mengurangi retak-retak pengerasan dan sebagainya. Bahan tambah diberikan dalam jumlah yang relatif sedikit dengan pengawasan yang ketat agar tidak berlebihan yang berakibat memperburuk sifat beton (Tjokodimuljo, 1996). Bahan tambah menurut maksud penggunaannnya dibagi menjadi dua golongan yaitu admixtures dan additives.
Admixtures ialah semua bahan penyusun beton selain air, semen hidrolik dan agregat yang ditambahkan sebelum, segera atau selama proses pencampuran adukan di dalam batching, untuk merubah sifat beton baik dalam keadaan segar atau setelah mengeras. Definisi additive lebih mengarah pada semua bahan yang ditambahkan dan digiling bersamaan pada saat proses produksi semen (Taylor, 1997).
Menurut Tjokrodimuljo (1996), bahan tambah dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Chemical Admixtures merupakan bahan tambah bersifat kimiawi yang dicampurkan pada adukan beton dengan maksud agar diperoleh sifat-sifat yang berbeda pada beton dalam keadaan segar maupun setelah mengeras, misalnya sifat pengerjaannya yang lebih mudah dan waktu pengikatan yang lebih lambat atau lebih cepat. Superplasticizer merupakan salah satu jenis chemical admixure yang sering ditambahkan pada beton segar. Pada dasarnya penambahan superplasticizer dimaksudkan untuk meningkatkan kelecakan, mengurangi jumlah air yang diperlukan dalam pencampuran (faktor air semen), mengurangi slump loss, mencegah timbulnya bleeding dan segregasi, menambah kadar udara (air content) serta memperlambat waktu pengikatan (setting time).
semen, tetapi dalam keadaan halus bereaksi dengan kapur bebas dan air menjadi suatu massa padat yang tidak larut dalam air. Pozolan dapat ditambahkan pada campuran adukan beton atau mortar (sampai batas tertentu dapat menggantikan semen), untuk memperbaiki kelecakan (workability), membuat beton menjadi lebih kedap air (mengurangi permeabilitas) dan menambah ketahanan beton atau mortar terhadap serangan bahan kimia yang bersifat agresif. Penambahan pozolan juga dapat meningkatkan kuat tekan beton karena adanya reaksi pengikatan kapur bebas (Ca(OH)2) oleh silikat atau aluminat menjadi tobermorite (3.CaO.2SiO2.3H2O). Pozolan yang saat ini telah banyak diteliti dan digunakan antara lain silIca fume (SF), fly ash (FA), Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBS), tras alam dan abu sekam padi (Rice Husk Ash).
3. Serat (fibre) merupakan bahan tambah yang berupa serat gelas /kaca, plastik, baja atau serat tumbuh-tumbuhan (rami, ijuk). Penambahan serat ini dimaksudkan untuk meningkatkan kuat tarik, menambah ketahanan terhadap retak, meningkatkan daktilitas dan ketahanan beton terhadap beban kejut (impact load) sehingga dapat meningkatkan keawetan/durabilitas beton, misalnya pada perkerasan jalan raya atau lapangan udara, spillway serta pada bagian struktur beton yang tipis untuk mencegah timbulnya keretakan.
C Self-Compacting Concrete
Prototype dari self compacting concrete mulai dikembangkan di Jepang pada akhir dekade 1980-an dengan tujuan mendapatkan struktur beton yang memiliki tingkat kepadatan yang tinggi untuk daerah rawan gempa. Berbagai penelitian telah dilakukan dengan hasil yang memuaskan, sehingga saat ini self compacting concrete telah digunakan secara luas di berbagai negara dengan aplikasi yang disesuaikan dengan kondisi serta konfigurasi struktur beton yang dibutuhkan.
Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan self compacting concrete antara lain :
1. Mengurangi lamanya konstruksi dan besarnya upah pekerja. 2. Pemadatan dan penggetaran beton yang dimaksudkan untuk
memperoleh tingkat kepadatan optimum dapat dieliminir.
3. Mengurangi kebisingan yang dapat mengganggu lingkungan sekitarnya.
4. Meningkatkan kepadatan elemen struktur beton pada bagian yang sulit dijangkau dengan alat pemadat, seperti vibrator. 5. Meningkatkan kualitas struktur beton secara keseluruhan.
Gambar 1. Prinsip Dasar Proses Produksi Self-Compacting Concrete (Dehn dkk, 2000)
Menurut Dehn dan kawan-kawan (2000), perkembangan kuat tekan beton yang tergolong self-compacting concrete lebih cepat dibandingkan dengan beton normal yang menggunakan fly ash sebagai pozolan tetapi lebih lambat jika dibandingkan dengan beton normal yang tidak menggunakan pozolan, sehingga disarankan untuk menggunakan kuat tekan pada umur 56 hari sebagai tolok ukur pengujian. Hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Perkembangan Kuat Tekan SCC (Dehn dkk, 2000)
D. Beton Berserat
Beton bertulang berserat (fibre reinforced concrete) didefinisikan sebagai bahan beton yang dibuat dari bahan campuran semen, agregat halus, agregat kasar, air dan sejumlah serat (fibre) yang tersebar secara acak dalam matriks campuran beton segar (Syafei Amri, 2005:231).
2. Jenis-jenis serat (fibre type) (Syafei Amri, 2005:236).
a. Serat-serat logam, seperti serat baja karbon atau serat baja tahan karat
b. Serat-serat polymerik (acrylic, aramid, nylon, polyester, polypropylene)
c. Serat-serat karbon
d. Serat-serat gelas (glass fibre)
e. Serat-serat alami (serat akwara, bambu, rami, ampas kayu, jerami, sisal, sabut kelapa)
3. Perilaku beton berserat
Perilaku beton berserat ditentukan oleh beberapa faktor (Syafei Amri, 2005:231), antara lain sifat fisik matrik dan serat dan perlekatan antara serat dan matriknya.
a. Sifat-sifat fisik serat dan matrix
Hannant menyatakan bahwa faktor utama yang menentukan kemampuan bahan serat adalah sifat fisik serat dan matrik seperti yang diberikan pada Tabel 5 dan 6 dan kekuatan lekatan diantara keduanya. Tampak dari kedua tabel tersebut bahwa tegangan rata-rata serat adalah dua sampai tiga kali lebih besar dari tegangan runtuh matrix, hal ini akan menyebabkan beton retak sebelum kuat tarik maksimum serat tercapai.
Tabel 5. Tipikal sifat-sifat berbagai macam serat (dari ACI 544.1R-82 dalam Amri, S, 2005 : 237)
(MPa) MPa batas,% Gravity
Acrylic 207-414 2.07 25-45 1.1
Asbestos 552-966 82.8-138 0.6 3.2
Cotton 414-690 4.83 3.10 1.5
Glass 1035-3795 69 1.5-3.5 2.5
Nylon (Ht)* 759-828 4.14 16-20 1.1
Polyester (Ht)* 724.5-862.5 8.28 11-13 1.4
Polyetylene 690 0.138-0.414 10 0.95
Polypropylene 552-759 3.45 25 0.90
Rayon (Ht)* 414-621 6.9 10-25 1.5
ROCK wool 483-759 69-117.3 0.6 2.7
Steel 276-2760 200.1 0.5-35 7.8
Ket (Ht)*: High tenacity
Tabel 6. Tipikal sifat-sifat berbagai matrik (Amri, S, 2005 : 237)
Matrik
MPa Putus X 10Regangan-6 Semen PC Normal
b. Pengaruh panjang dan diameter serat.
Serat panjang dan tipis dengan rasio l/d > 100 mempunyai lekatan dengan beton yang lebih besar dibandingkan dengan serat yang pendek dengan rasio l/d < 50. hal ini berdasarkan penelitian oleh Hannant D.J, sedangkan hasil percobaan untuk l/d < 50 menunjukan hasil yang mudah untuk dicabut dari beton.
Pengaruh perbandingan panjang dan diameter serat (aspek ratio) akan mempengaruhi lekatan antara serat dengan matrik. Pengaruh panjang dan diameter serat akan lebih dominan terhadap lentur bila dibandingkan dengan volume serat.
Ukuran maksimum matrik akan mempengaruhi distribusi dan kuantitas serat yang dapat masuk ke dalam komposit. Hannant D.J memberikan rata-rata ukuran agregat partikel ±10-30 mikron, sedangkan ukuran agregat maksimum agregat untuk adukan 5 mm. Agregat dalam komposit tidak boleh lebih besar dari 20 mm dan disarankan lebih kecil dari 10 mm, yang bertujuan agar serat dapat tersebar dengan merata. Untuk menghindarkan terjadinya rongga, pada benda uji disarankan untuk memakai bahan pengisi (agregat campura) paling sedikit 50 % dari volume beton.
d. Perilaku sifat mekanik beton berserat
Hannant (1978:6) memberikan persamaan hubungan antara volume fraksi dengan perbandingan serat dalam matriks sebagai berikut:
W’f = presentase berat serat terhadap matrik beton, % Vf = presentase volume fraksi serat terhadap matrik
beton, %
Vm = presentase matriks beton , % Df = density dari serat, kg/m3
Dm = density dari matrik beton, kg/m3
e. Mekanisme kontribusi serat terhadap beban lentur
Dalam aplikasinya, beton berserat lebih banyak digunakan sebagai elemen penahan beban lentur dibandingkan penahan akibat beban lainnnya. Hasil percobaan menunjukan peningkatan kuat lentur lebih tinggi daripada kuat tekan atau kuat tarik belah. Peningkatan kuat lentur sangat dipengaruhi oleh faktor volume fraksi dan aspek rasio serat. Dengan terjadinya peningkatan nilai volume fraksi maka kuat lentur akan meningkat, demikian pula dengan aspek rasio yang tinggi juga meningkatkan kuat lentur.
f. Daktilitas (flexural toughness)
E. Kerangka Pikir
Beton merupakan material yang bersifat getas, dengan kekuatan tekan yang baik, tetapi sangat lemah dalam menahan gaya tarik. Untuk memperbaiki sifat mekanik beton di atas, maka salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menambahkan serat ke dalam beton. Selain meningkatkan daktilitas beton, penambahan serat juga akan mempengaruhi sifat beton yang lain, seperti sifat beton segar, ketahanan kejut, ketahanan terhadap peningkatan temperatur saat terjadi kebakaran, maupun laju penyerapan zat cair ke dalam beton, yang akan sangat berpengaruh terhadap tingkat keawetan (durabilitas) beton.
BAB III
METODE PENELITIAN
Sesuai dengan tujuan, maka penelitian ini termasuk penelitian eksperimental.
A. Material
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk melaksanakan berbagai pengujian dalam penelitian ini, meliputi :
2. Agregat yang digunakan berupa agregat alami dengan diameter maksimum 19 mm yang berasal dari wilayah Kabupaten Sleman.
3. Air diperoleh dari Laboratorium Bahan Bangunan FT UNY.
4. Serat polipropylene.
5. Silica fume dengan merk Sika-Fume.
6. Hyperplasticizer jenis polycarboxylate dengan merk Sika Viscocrete.
B. Peralatan
Peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan berbagai pengujian dalam penelitian ini terdiri dari :
1. Ayakan/saringan dan penggetar siever 2. Cetakan Beton
3. Compression Testing Machine 4. Universal Testing Machine 5. Slump Flow Test
6. L-Shape Box 7. J-Ring Test 8. Concrete mixer
9. Gelas ukur dan piknometer 10.Penggaris
11.Oven 12.Timbangan
C. Rancangan Pengujian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui persentase optimum dalam penambahan serat polypropylene ditinaju dari kestabilan beton segar SCC, sifat mekanik dan karakteristik transpor massa di dalam self-compacting concrete.
berdasarkan volume beton. Dalam penelitian ini, akan dilakukan pengujian beton segar yang meliputi: flowability/filling ability, viscosity, passing ability dan ketahanan segregasi. Selanjutnya, dilakukan pengujian kuat tekan, kuat tarik belah, ketahanan kejut, kuat lentur, porositas semu, dan sorptivitas beton pada umur 28 hari untuk setiap varian. Setiap data diperoleh dari pengujian 3 benda uji standar.
Penelitian ini dilakukan dalam 6 (enam) tahapan yaitu :
Tahap I : Pemeriksaan sifat bahan agregat kasar dan agregat halus. Tahap II : Perhitungan rencana campuran (mix design).
Tahap III : Pengujian sifat beton segar flowability/filling ability, viscosity, passing ability dan ketahanan segregasi.
Tahap IV : Pengujian sifat mekanik beton, yang meliputi: kuat tekan, kuat tarik belah, ketahanan kejut dan kuat lentur SCFRC.
Tahap V : Pengujian karakteristik penyerapan zat cair dalam beton, yang meliputi: nilai porositas semu dan koefisien sorptivitas SCFRC. Tahap VI : Analisis dan interprestasi data hasil penelitian dengan metode
deskriptif kuantitatif.
D. Pengujian Sifat Beton Segar
Kualitas dan durabilitas SCFRC sangat ditentukan oleh sifat beton segar yang digunakan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilakukan pengujian empat sifat beton segar yang utama SCC berdasarkan standar Uni Eropa (EFNARC 2002 dan 2005), yang meliputi:
a. Flowability/ filling ability dengan cara pengujian slump-flow Test
b. Viscosity dengan metode T500 Slump-flow test.
c. Passing ablitity dengan metode J-Ring Test.
E. Pengujian Kuat Tekan Beton
Kuat tekan beton adalah besarnya beban persatuan luas yang menyebabkan benda uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu, yang dihasilkan oleh mesin tekan. Peralatan yang digunakan meliputi cetakan silinder diameter 152 mm dan tinggi 305 mm, tongkat pemadat, dan mesin tekan.
Prosedur pengujian dilaksanakan berdasarkan SNI : 03-1974-1990, benda uji diletakkan pada mesin tekan secara sentris, dan mesin tekan dijalankan dengan penambahan beban antara 2 sampai 4 kg/cm2 perdetik. Pembebanan dilakukan sampai benda uji menjadi hancur dan beban maksimum yang terjadi selama pemeriksaan benda uji dicatat. Kuat tekan beton dihitung berdasarkan besarnya beban persatuan luas, menurut persamaan 1.
Benda uji yang digunakan berupa silinder dengan diameter 150 mm dengan tinggi 300 mm sebanyak 3 buah benda uji untuk setiap data yang diperlukan.
G. Pengujian Ketahanan Kejut Beton
Uji ketahanan kejut beton dilakukan berdasarkan rekomendasi ACI 544 committee, dengan benda uji berbentuk cakaram dengan diameter 15 cm, tebal 6 cm, diperoleh dengan menggergaji silinder beton berdiameter 15 cm dengan tinggi 30 cm menjadi lima potongan.
Pengujian dilaksanakan dengan metode drop-weight, di mana benda uji diletakkan di atas plat landasan, kemudian di atas benda uji dipasang bola besi berdiameter 6,35 cm. Selanjutnya dilakukan pemukulan secara berulang dengan menggunakan palu dengan berat 4,45 kg dengan tinggi jatuh 45,7 cm. Jumlah pukulan yang menyebabkab retak pertama dan hancurnya benda uji dicatat sebagai ketahanan kejut saat retak dan hancur (Song dkk., 2005).
H. Pengujian Kuat Lentur Beton
Cara pengujian yang digunakan adalah metode dua titik pembebanan yang mengacu pada standar SNI 03-4431-1997, besaran tegangan tarik (modulus of rupture) yang terjadi pada benda uji dihitung dengan Persamaan 3.
Gambar 3. Metode Pengujian Three Point Bending L
P
h
R = . 2
di mana; R = modulus rupture
P = beban maksimum (kN) L = panjang benda uji (mm)
b = lebar penampang benda uji (mm) h = tinggi penampang benda uji (mm)
Benda uji yang digunakan berupa balok dengan ukuran 150 mm x 150 mm x 750 mm sebanyak 3 buah benda uji untuk setiap data yang diperlukan. muka lalu benda uji tersebut ditimbang, selanjutnya beton dimasukkan ke dalam oven dengan temperatur 105o celcius selama minimal 24 jam kemudian dikeluarkan, diangin-anginkan dan ditimbang lagi. Pengujian yang dilaksanakan mengacu pada standar SNI 03-2914-1990 tentang spesifikasi beton bertulang kedap air, selanjutnya porositas semu beton dihitung dengan Persamaan 4.
Wjkm = Berat jenuh kering muka
Pengujian sorptivitas dilakukan untuk mengukur laju penyerapan zat cair ke dalam beton, yang dilaksanakan berdasarkan ASTM C1585 tahun 2004 , sebagaimana ditunjukkan pada Gambar di bawah ini.
Gambar 4. Metode Pengujian Sorptivitas
Nilai sorptivitas dihitung dengan Persamaan berikut:
2 1
t S
i . (5)
dengan;
i : kumulatif serapan air per satuan luas dalam arah aliran atau berat air yang diserap dibagi luas penampang (Q/A) s : sorptivitas
t : waktu pengujian
Pengujian dilakukan pada 1, 4, 9, 16 25, 36, 49, dan 64 menit.
J. Analisis Data
Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi :
a) Sifat beton segar (flowability/filling ability, viscosity, passing ability, dan ketahanan segregasi).
b) Sifat mekanik beton dalam kondisi normal (kuat tekan, tarik belah, ketahanan kejut dan kuat lentur).
Kemudian data tersebut dianalisis dan disajikan secara deskriptif kuantitatif dalam bentuk grafik dan tabel untuk mengetahui nilai volume fraction optimum dalam produksi SCFRC dengan serat polipropylene.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengujian Bahan
Untuk hasil pengujian agregat halus dapat dilihat pada Tabel 7 dibawah ini :
Tabel 7. Hasil Pengujian Agregat Halus
No. Jenis Pengujian Hasil Pengujian
1 Kadar Lumpur 3,89 %
2 Kadar Zat Organik No 2
3 Berat Jenis SSD 2,65
4 Berat Jenis Alami 2,50
5 Modulus Kehalusan Butir 4,858
6 Gradasi Zone 1
7 Kadar Air Alami 3,77 %
8 Kadar Air SSD 2,99 %
9 Bobot Isi Gembur 1400 gr/liter
2. Agregat Kasar
Untuk hasil pengujian agregat kasar dapat dilihat pada Tabel 8 dibawah ini :
Tabel 8. Hasil Pengujian Agregat Kasar No. Jenis Pengujian Hasil Pengujian
1 Berat Jenis SSD 2,48
2 Berat Jenis Alami 2,51 3 Modulus Kehalusan Butir 7,65 4 Kadar Air Alami 0,49 %
5 Kadar Air SSD 1,33 %
6 Berat Satuan Padat 1300 gr/liter
Berdasarkan hasil pengujian bahan di atas, dapat dilakukan rancang campur adukan SCC, dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 9. Komposisi Campuran Adukan Beton SCFRC Material Persentase Penambahan Serat
Polipropylene
Polycarboxylate (lt/m3) 4,80 4,80 4,80 4,80
Air (lt/m3) 212,00 212,00 212,00 212,00
Semen (kg/m3) 435,00 435,00 435,00 435,00
Silica fume (kg/m3) 48,00 48,00 48,00 48,00
Agregat Kasar (kg/m3) 648,00 648,00 648,00 648,00
Agregat Halus (kg/m3) 926,00 926,00 926,00 926,00
Serat Polipropylene (kg/m3)
0,00 0,45 0,90 1,35
Berat total (kg/m3) 2273,4 2273,85 2274,30 2274,75
B. Pengujian Beton Segar
Pengujian beton segar dilakukan untuk mengukur empat karakteristik utama yang harus dipenuji dalam memproduksi self-compacting concrete, yang meliputi: flowability/filling ability,viscosity, passing ability dan ketahanan segregasi (EFNARC, 2005). Untuk mengetahui keempat karakteristik SCC tersebut, dapat digunakan beberapa alat uji, yaitu: Slump-flow Test untuk mengukur flowability/filling ability, T500 Slump-flow
untuk mengukur viskositas, J-Ring Test untuk mengukur passing ability, dan GTM Screen Stability test untuk mengukur ketahanan segregasi SCC.
Gambar 5. Pengaruh Penambahan Serat Polypropylene Terhadap Flowability/ Filling Ability (Slump-Flow)
Hasil pengujian Slump-flow pada beton segar SCC yang ditunjukkan pada Tabel 10 dan Gambar 5 menunjukkan semakin bertambahnya persentase serat polypropylene di dalam campuran beton, maka besarnya nilai slump-flow menjadi semakin kecil. Nilai slump-flow beton segar SCC tanpa penambahan serat dapat mencapai 74,8 cm, sedangkan pada penambahan serat polypropylene sebesar 0,15% nilai slump-flow hanya mencapai 42,8 cm, lebih kecil dari syarat minimal slump-flow SCC sebesar 55 cm (EFNARC, 2005).
Nilai T500 slump-flow yang ditunjukkan pada Tabel 10 dan Gambar
6, menunjukkan bahwa nilai T500 slump-flow berbanding lurus dengan
Gambar 6. Pengaruh Penambahan Serat Polypropylene Terhadap Viscosity (T500 Slump-Flow)
Gambar 7. Pengaruh Penambahan Serat Polypropylene Terhadap Passing Ability (J-Ring Test)
tidak mampu melewati celah-celah antar tulangan, sehingga dapat dikatakan passing ability beton segar menurun. Meskipun demikian, dapat diketahui bahwa penambahan serat polypropylene sampai dengan 0,10% dari volume beton masih memenuhi syarat passing ability SCC.
Gambar 8. Pengaruh Penambahan Serat Polypropylene Terhadap Ketahanan Segregasi (GTM Screen Stability Test)
Sedangkan hasil pengujian GTM Screen Stability pada beton segar yang ditunjukkan pada Tabel 3 dan Gambar 8, memperlihatkan bahwa semakin bertambahnya persentase serat polypropylene di dalam campuran beton, maka nilai rasio segregasi semakin rendah yaitu 0,76%. Nilai rasio segregasi tersebut memenuhi syarat SCC yang ditetapkan maksimum 20% (EFNARC, 2005).
karena semakin bertambahnya persentase serat polypropylene dalam campuran mengakibatkan luas permukaan yang dibasahi oleh air semakin besar, sehingga kadar air bebas dalam campuran beton menjadi berkurang. Keberadaan serat dalam adukan beton segar juga dapat menyebabkan gesekan permukaan antara serat dengan agregat, sehingga dapat mengurangi energi potensial yang diperlukan beton segar SCC untuk mengalir dengan memanfaatkan berat sendirinya. Selain itu, juga terjadi efek kombinasi dengan penambahan bahan tambah mineral berupa silica fume yang bersifat menyerap air, dan diperlukan untuk menjamin viskositas dalam campuran SCC. Berdasarkan, hasil pengujian ini, maka dimungkinkan pengurangan kandungan silica fume dalam produksi SCC, apabila akan ditambahkan serat ke dalam adukan beton. Sedangkan untuk mengurangi blocking effect dapat dipertimbangkan untuk menggunakan agregat kasar dengan ukuran yang lebih kecil, ataupun menggunakan agregat alami yang permukaannya lebih halus.
C. Pengujian Sifat Mekanik
Untuk mengetahui pengaruh penambahan serat polypropylene terhadap sifat mekanik beton yang telah mengeras, juga dilakukan pengujian terhadap beberapa parameter utama kinerja beton, yang meliputi: kuat tekan, kuat tarik belah, ketahanan kejut, dan kuat lentur beton.
Tabel 11. Pengaruh Penambahan Serat Polypropylene Terhadap Beberapa Sifat Mekanik SCC
Gambar 9. Pengaruh Penambahan Serat Polypropylene Terhadap Kuat Tekan SCC
Hasil pengujian kuat tekan menunjukkan bahwa penambahan serat polypropylene dapat meningkatkan kuat tekan beton sampai dengan penambahan 0,10% dari volume beton. Pada penambahan sebesar 0,15% mulai terjadi penurunan kuat tekan beton. Berdasarkan hasil penelitian ini, nilai optimum penambahan serat polypropylene diperoleh pada volume fraction sebesar 0,05% dengan peningkatan kuat tekan sebesar 5,09%.
Hasil pengujian kuat tarik belah menunjukkan bahwa penambahan serat polypropylene dapat meningkatkan kuat tarik belah beton sampai dengan penambahan 0,10% dari volume beton. Pada penambahan sebesar 0,15% mulai terjadi penurunan kuat tarik belah beton. Berdasarkan hasil penelitian ini, nilai optimum penambahan serat polypropylene diperoleh pada volume fraction sebesar 0,10% dengan peningkatan kuat tarik belah sebesar 6,53%.
Hasil pengujian ketahanan kejut beton menunjukkan bahwa penambahan serat polypropylene dapat meningkatkan ketahanan kejut beton sampai dengan penambahan 0,10% dari volume beton. Pada penambahan sebesar 0,15% mulai terjadi penurunan ketahanan kejut beton. Berdasarkan hasil penelitian ini, nilai optimum penambahan serat polypropylene diperoleh pada volume fraction sebesar 0,10% dengan peningkatan ketahanan kejut sebesar 174% pada saat retak dan 161% saat hancur.
Gambar 12. Pengaruh Penambahan Serat Polypropylene Terhadap Kuat Lentur SCC
Hasil pengujian kuat tarik lentur menunjukkan bahwa penambahan serat polypropylene dapat meningkatkan kuat tarik lentur beton sampai dengan penambahan 0,15% dari volume beton. Berdasarkan hasil penelitian ini, nilai optimum penambahan serat polypropylene diperoleh pada volume fraction sebesar 0,15% dengan peningkatan kuat tarik belah sebesar 10,39%.
dapat pula menghambat laju perambatan retak yang terjadi selama pembebanan.
D. Pengujian Karakteristik Penyerapan Zat Cair
Untuk mengetahui pengaruh penambahan serat polypropylene terhadap karakteristik penyerapan zat cair dalam beton yang telah mengeras, dilakukan pengujian terhadap porositas semu beton dan koefisien sorptivitas beton.
Tabel 12. Pengaruh Penambahan Serat Polypropylene Terhadap Beberapa Parameter Karkteristik Penyerapan Zat Cair dalam SCC Volume fraction
serat polypropylene (%)
Porositas Semu Beton (%)
Koefisien Sorptivitas k x 10-3 cm/det1/2
0,00 1,025 1,559
0,05 1,337 1,818
0,10 1,857 1,881
0,15 2,024 2,130
Gambar 13. Pengaruh Penambahan Serat Polypropylene Terhadap Porositas Semu SCC
serat diperoleh nilai porositas semu terkecil sebesar 1,025%. Sedangkan nilai porositas semu terbesar diperoleh pada penambahan serat polypropylene sebesar 0,15% dari volume beton, dengan nilai porositas semu 2,024%. Meskipun terjadi peningkatan nilai porositas semu, namun nilai porositas semu yang diperoleh masih lebih kecil dari batas maksimum sebesar 6,5%, yang ditetapkan untuk beton kedap air menurut SNI 03-2914-1990. Dengan demikian SCFRC dapat digunakan untuk keperluan konstruksi beton di lingkungan agresif.
Hasil pengujian di atas sejalan dengan hasil pengujian laju penyerapan kapiler dalam beton yang diukur berdasarkan nilai koefisien sroptivitas. Hasil pengujian sorptivitas menunjukkan bahwa penambahan serat polypropylene akan mengakibatkan laju penyerapan kapiler dalam beton. Pada pengujian SCC tanpa penambahan serat diperoleh koefisen sorptivitas terendah sebesar 1,559x10-3 cm/det1/2. Sedangkan nilai koefisen sorptivitas terbesar diperoleh pada penambahan serat polypropylene sebesar 0,15% dari volume beton, dengan koefisen sorptivitas 2,130x10-3 cm/det1/2.
Berdasarkan pengujian porositas semu dan koefisien sorptivitas beton dapat diketahui bahwa bertambahnya porositas semu dan laju penyerapan kapiler dalam beton dimungkinkan dapat terjadi karena dengan penambahan serat polypropylene ke dalam campuran mengakibatkan luas permukaan yang dibasahi oleh air semakin besar, sehingga kadar air bebas dalam campuran beton menjadi berkurang. Keberadaan serat dalam adukan beton segar juga dapat menyebabkan gesekan permukaan antara serat dengan agregat, sehingga dapat mengurangi energi potensial yang diperlukan beton segar SCC untuk mengalir dengan memanfaatkan berat sendirinya. Dengan berkurangnya kemampuan beton segar untuk mengalir, mengisi rongga, dan menerobos tulangan maka akan berakibat bertambahnya rongga dalam beton. Selain itu permukaan serat yang licin akan berakibat adanya celah antara serat dengan pasta di sekelilingnya, hal ini berakibat meningkatnya laju penyerapan kapiler dalam beton.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan berikut:
1. Penambahan serat polipropylene menyebabkan berkurangnya flowability/ filling ability SCC, kondisi SCC masih dapat dicapai saat serat polypropylene ditambahkan dari 0% sampai dengan 0,10% dari volume beton. Pada penambahan 0,15% beton segar tidak dapat memenuhi syarat minimal flowability/ filling ability SCC. 2. Penambahan serat polipropylene menyebabkan meningkatnya
volume beton. Pada penambahan 0,15% beton segar melampaui batas maksimal viskositas SCC.
3. Penambahan serat polipropylene menyebabkan berkurangnya passing ability SCC, kondisi SCC masih dapat dicapai saat serat polypropylene ditambahkan dari 0% sampai dengan 0,10% dari volume beton. Pada penambahan 0,15% beton segar tidak dapat memenuhi syarat minimal passing ability SCC.
4. Penambahan serat polipropylene menyebabkan berkurangnya rasio segregasi SCC. Semua varian dalam penelitian ini memiliki rasio segregasi lebih kecil dari batas maksimum rasio segregasi SCC. 5. Penambahan serat polypropylene dapat meningkatkan kuat tekan
beton sampai dengan penambahan 0,10% dari volume beton. Pada penambahan sebesar 0,15% mulai terjadi penurunan kuat tekan beton. Nilai optimum penambahan serat polypropylene diperoleh pada volume fraction sebesar 0,05% dengan peningkatan kuat tekan sebesar 5,09%.
6. Penambahan serat polypropylene dapat meningkatkan kuat tarik belah beton sampai dengan penambahan 0,10% dari volume beton. Pada penambahan sebesar 0,15% mulai terjadi penurunan kuat tarik belah beton. Nilai optimum penambahan serat polypropylene diperoleh pada volume fraction sebesar 0,10% dengan peningkatan kuat tarik belah sebesar 6,53%.
7. Penambahan serat polypropylene dapat meningkatkan ketahanan kejut beton sampai dengan penambahan 0,10% dari volume beton. Pada penambahan sebesar 0,15% mulai terjadi penurunan ketahanan kejut beton. Nilai optimum penambahan serat polypropylene diperoleh pada volume fraction sebesar 0,10% dengan peningkatan ketahanan kejut sebesar 174% pada saat retak dan 161% saat hancur.
diperoleh pada volume fraction sebesar 0,15% dengan peningkatan kuat tarik belah sebesar 10,39%.
9. Penambahan serat polypropylene berakibat meningkatnya porositas semu beton. Meskipun demikian, semua varian dalam penelitian ini masih tergolong beton kedap air menurut SNI 03-2914-1990. 10.Penambahan serat polypropylene berakibat meningkatnya koefisien
sorptivitas beton.
DAFTAR PUSTAKA
Dehn, F., Holschemacher, K. and Weie, D., 2000, Self-Compacting Concrete (SCC) Time Development of the Material Properties and the Bond Behaviour, LACER No.5., Leipzig.
EFNARC, 2002, Specification & guidelines for self-compacting concrete, English ed., Norfolk UK: European Federation for Specialist Construction Chemicals and Concrete Systems.
EFNARC, 2005, The European Guidelines for Self-Compacting Concrete Specification, Production and Use, Norfolk UK: European Federation for Specialist Construction Chemicals and Concrete Systems.
Ferraris, C.F., Lynn, B., Celik, O. and Daczko, J., 2000, Workability of Self-Compacting Concrete, International Simposium of High Performance Concrete, Orlando.
Grunewald, S., 2004, Performace Design of Self Compacting Fiber Reinforced Concrete, Doctoral Thesis, Delft: Technische Universiteit Delft.
Hannant, D.J., 1978, Fiber Cements and Fiber Concretes, Chicester: John Wiley & Sons.
Okamura, H. and Ozawa, K., 1994, Self-Compacting High-Performance Concrete in Japan, ACI SP-159 : International Workshop on High Performance Concrete, Michigan.
Ouchi, M., 2001, Self-Compacting Concrete Development, Applications and Investigations, Kochi University of Technology.
Persson, B., 2000, A Comparison Between Mechanical Properties of Self-Compacting Concrete and the Corresponding Properties of Normal Concrete, Cement and Concrete Research, Vol. 31, Pergamon. Slamet Widodo, 2002, Pengaruh Sika Viscocrete-5 Terhadap Kuat Tekan,
Serapan Air dan Kuat Lekat Tulangan Self-Compacting Concrete di Bawah Air, Thesis Program Pascasarjana, Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Sjafei Amri, 2005, Teknologi Beton A-Z, Jakarta: Penerbit Yayasan John Hi-Tech Idetama.
Song, P.S., Wu, J.C., Hwang, S. and Sheu, B.C., 2005, “Statistical analysis of impact strength and strength reliability of steel– polypropylene hybrid fiber-reinforced concrete”, Construction and Building Materials, Vol. 19, Elsevier.
Tasdemir, C., 2003, Combined effects of mineral admixtures and curing conditions on the sorptivity coefficient of concrete, Cement and Concrete Research, Vol. 33, Pergamon.