• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES TRANSMISI TARI SEKAR KEPUTREN DI SANGGAR SEKAR PANDAN KERATON KACIREBONAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PROSES TRANSMISI TARI SEKAR KEPUTREN DI SANGGAR SEKAR PANDAN KERATON KACIREBONAN."

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

PROSES TRANSMISI TARI SEKAR KEPUTREN DI SANGGAR SEKAR PANDAN DI KERATON KACIREBONAN

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Seni Tari

Oleh :

Dinar Yuliandani

0901204

JURUSAN PENDIDIKAN SENI TARI FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

(2)

PROSES TRANSMISI TARI SEKAR KEPUTREN DI

SANGGAR SEKAR PANDAN DI KERATON KACIREBONAN

Oleh

Dinar Yuliandani

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Bahasa Dan Seni

© Dinar Yuliandani 2013

Universitas Pendidikan Indonesia

Oktober 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian,

(3)
(4)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Proses Transmisi Tari Sekar Keputren Di Sanggar Sekar Pandan Keraton Kacirebonan” .Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk mengungkap informasi mengenai proses transmisinya yang dilaksanakan di Sanggar Sekar Pandan Keraton Kacirebonan yang beralamat di Jalan Pulasaren Kelurahan Pulasaren Kecamatan Pekalipan Kota Cirebon. Tari penyambutan tamu dilatarbelakangi adanya ciri kehidupan kaum menak (bangsawan) hingga akhirnya menjadi sebuah tradisi yang dan menjadi identitas sebuah keraton, maka dengan ini Elang Hery Komarahadi Arkhaningrat selaku pimpinan sanggar Sekar Pandan sekaligus pencipta Tari Sekar Keputren mencoba mentransmisikan pada peserta didik agar tradisi keraton yang selalu menyelanggarakan penyambutan tamu pun dapat tetap lestari.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data-data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi pustaka dianalisis tanpa menggunakan angka. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan mendeskripsikan semua hal yang berkaitan dengan proses transmisi tari Sekar Keputren dan hasil proses transmisi sesuai fakta yang ada dilapangan. Proses transmisi dilakukan dengan cara dibelajarakan disanggar sebagai sarana pendidikan nonformal, pembelajarannya menggunakan metode behavioristik yaitu mentransfer ilmu dan evaluasi dengan kriteria wirahma, wiraga wirasa dan harmonisasi dengan tujuan untuk menghasilkan generasi-generasi baru yang berprestasi didalam dan diluar sanggar sebagai hasil proses transmisinya

(5)

Abstract

The study is titled " Transmission Process for Sekar Keputren dance in Studio Sekar Sekar Pandan Kacirebonan palace." In this study, researchers sought to uncover information about the transmission process is carried out in Studio Sekar Pandan Kacirebonan palace is located at Jalan Pulasaren Pulasaren Village District Pekalipan Cirebon. Welcoming guests dance to a backdrop of the marvelous features of life ( nobility ) until it became a tradition and become the identity of a palace, then with the Elang Hery Komarahadi Arkhaningrat as leader of the studio as well as the creator of Sekar Keputren dance tried to transmit to the students so that the palace tradition always organized a reception guests were able to remain sustainable.

This study uses descriptive analysis with a qualitative approach. The data obtained from the observations, interviews, documentation and literature studies analyzed without using numbers. Purpose of the implementation of this study is to illustrate and describe all matters relating to the transmission process and outcome of Sekar Keputren dance transmission process according the facts on the ground. Transmission process is done by learning in dance studio as a means of non-formal education, the learning method behavioristik ie transferring knowledge and evaluation criteria wirahma, wiraga wirasa and harmonization with the aim to produce new generations who excel inside and outside the studio as a result of the transmission process

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR BAGAN ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... ...xi

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Metode Penelitian ... 6

F. Struktur Organisasi ... 8

BAB 11 KAJIAN TEORETIS A. Seni dan Masyarakat ... 9

B. Pengertian Transmisi/ Pewarisan ... 11

C. Sanggar Sekar Pandan Sebagai Sarana Pendidikan Nonformal ... 14

D. Proses Belajar Mengajar ... 15

1. Pengertian Pembelajaran ... 15

(7)

E. Komponen-Komponen Pembelajaran ... 19

F. Tari Sekar Keputren ... 22

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 27

B. Metode penelitian ... 27

C. Definisi Operasional ... 28

D. Instrumen Penelitian... 29

E. Teknik Pengumpulan Data ... 30

F. Teknik Pengolahan Data ... 34

G. Langkah-Langkah Penelitian ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Latar Belakang Terbentuknya Keraton Kacirebonan ... 40

B. Profil Sanggar Sekar Pandan di Keraton Kacirebonan ... 42

C. Hasil Penelitian ... 45

1. Konsep Pembelajaran Tari di Sanggar Sekar Pandan ... 45

2. Sarana Dan Prasarana ... 45

3. Proses Transmisi Tari Sekar Keputren ... 46

a. Tujuan Pembelajaran Tari Sekar Keputren ... 46

b. Materi Pembelajaran Tari Sekar Keputren ... 47

c. Metode Pembelajaran Tari Sekar Keputren ... 47

d. Evaluasi Pembelajaran Tari Sekar Keputren ... 48

e. Susunan Koreografi Tari Sekar Keputren ... 50

f. Proses Transmisi Tari Sekar Keputren ... 51

D. Pembahasan ... 60

(8)

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMONDASI

A. Kesimpulan ... 69

B. Rekomendasi ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 72

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 74

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kebudayaan merupakan pola tingkah laku yang dipelajari dan

disampaikan dari satu generasi ke genarasi berikutnya karena kebudayaan

merupakan proses belajar dan bukan sesuatu yang dibelajarkan. Proses

pembelajaran manusia berkaitan dengan fitrah manusia yaitu sebagai makhluk

hidup dan sebagai makhluk sosial. Akan tetapi kesenian akan hidup

ditengah-tengah masyarakat jika terdapat dukungan dari masyarakat itu sendiri dengan cara

mewariskan kesenian tersebut dari genarasi ke generasi selanjutnya, meski

generasi tersebut bukanlah garis keturunan dan tidak memiliki hubungan darah

dengan sang pewaris.

...tidak ada bentuk pewarisan karya seni atau naluri berkesenian yang secara 100% diwariskan oleh suatu generai ke generasi berikutnya, karena seseungguhnya setiap generasi, setiap angkatan atau bahkan kelompok dalam suatu masyarakat secara khusus memiliki interpretasinya sendiri dan memberi makna pada zamannya. (Masunah dalam Alkahfi 2008 : 17)

Proses transmisi atau pewarisan kebudayaan dapat dilakukan dengan cara

sengaja dan tidak disengaja, yang cara disengaja yaitu dengan cara dibelajarkan

dalam suatu kegiatan pembelajaran yang bisa diperoleh di pendidikan formal

maupun nonformal sedangkan yang tidak disengaja yaitu dengan cara menirukan

secara tidak sengaja hingga lama kelamaan individu itu menjadi bisa dan secara

tidak langsung sudah mewarisi budaya atau tradisi tersebut.

Pendidikan nonformal sebagai bagian dari sistem pendidikan memiliki

tugas yang sama dengan pendidikan lainnya (pendidikan formal) yakni

memeberikan pelayanan terbaik terhadap masyarakat terutama masyarakat sasaran

pendidikan nonformal. Pembelajaran pendidikan nonformal merupakan dunia

pendidikan bentuk dan pelaksanaannya berbeda dengan sistem sekolah formal,

dalam setiap kesempatan terdapat komuikasi yang teratur, terarah diluar sekolah

(10)

2

dengan kebutuhan hidup. Philips H Combos dalam Joesoef (1981 : 19)

mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan nonformal adalah

“setiap kegiatan yang diorganisir diselenggarakan diluar sistem formal, baik yang tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas untuk

memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan

dari belajar”.

Kegiatan nonformal bagi masyarakat yang memerlukan bekal

pengetahuan, kecakapan hidup, keterampilan, bekerja, usaha mandiri, sikap untuk

mengembangkan potensi dan melanjutkan pendidikan dapat dihargai setara

dengan hasil program pendidikan nonformal setelah melalui proses penilaian

penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah

dengan mengacu pada standar pendidikan nasional

Namun disayangkan bahwa saat ini masih berpendapat bahwa pendidikan

nonformal memiliki posisi yang rendah dibanding pendidikan formal yang bisa

membentuk pribadi dan sumber daya manusia yang bermutu dan juga dengan

pendidikan formal pula dapat dijadikan sesuatu yang dapat dibanggakan serta

sebagai syarat untuk dapat diterima bekerja diberbagai intstansi pemerintah

ataupun perusahaan, ditambah dengan kurangnya respon dari pemerintah yang

meski sudah berprestasi. Seperti yang di ungkapkan oleh

Pendidikan luar sekolah mempunyai derajat keketatan dan keseragaman yang lebih rendah dibanding dengan tingkat keketatan dan keseragaman pendidikan sekolah, pendidikan luar sekolah memiliki bentuk dan isi program yang bervariasi, sedangkan pendidikan sekolah pada umumnya, memiliki bentuk dan isi program yang seragam untuk setiap satuan, jenis, dan jenjang pendidikan. Unesco dalam Alkahfi (2011 : 2)

Kegiatan nonformal adalah pendidikan yang dilaksanakan diluar sekolah

dan keluarga seperti sanggar, kursus, kelompok bermain dan lain-lain. Sanggar

dapat diartikan sebagai suatu wadah yang termasuk kedalam ranah nonformal

yang berfungsi sebagai sarana masyarakat untuk dapat mengembangkan potensi

yang sesuai minat dan bakatnya.

Perkembangan jaman membawa dampak postif dan negatif pada

(11)

3

mampu menggeser kesenian tradisional, namun masih ada beberapa sanggar tari

yang masih mengembangkan kesenian tradisional ditengah-tegah perkembangan

jaman. Salah satu bentuk pelestarian budaya dilakukan dengan cara mendirikan

sanggar-sanggar. Hal ini terus diupayakan agar kesenian terus berkembang dan

tidak tersisisihkan oleh kemajuan jaman, sebagai perwujudan dari sebuah proses

transmisi

Saat ini di kota Cirebon banyak terdapat sanggar tari, salah satunya yaitu

Sanggar Tari Sekar Pandan yang berada di Komplek Keraton Kacirebonan yang

terletak di Jalan Pulasaren No. 49 RT 04 RW 02 Kelurahan Pulasaren Kecamatan

Pekalipan Kota Cirebon salah satunya yaitu Sanggar Sekar Pandan yang berdiri

pada tanggal 5 mei 1992 yang dipimpin oleh Elang Hery Komarahadi, beliau

adalah seniman yang sudah banyak menciptakan tarian salah satunya Tari Sekar

Keputren yang berfungsi sebagai tari penyambutan tamu

Proses Penciptaan Tari Sekar Keputren sendiri berawal dari ide Elang

Tomy yang menginginkan adanya tari penyambutan tamu, maka diciptakanlah tari

ini pada tahun 1992 bersama salah satu kerabatnya yaitu Elang Hery Komarahadi,

beliau merupakan pimpinan dari sanggar Sekar Pandan yang berada di Komplek

Keraton Kacirebonan yang terletak di Jalan Pulasaren No. 49 RT 04 RW 02

Kelurahan Pulasaren Kecamatan Pekalipan Kota Cirebon dan tari ini juga sudah

mendapatkan otoritas dari pihak keraton sendiri (wawancara Elang Hery

Komarahadi, Desember 2012)

Dilingkungan Keraton Kacirebonan, sejak masa lalu budaya menyambut

tamu telah melekat menjadi sebuah tradisi. Berbagai ritual diselenggarakannya

dan dipersiapakan sebaik mungkin agar meninggalkan kesan yang baik untuk

menjamu para tamu yang datang. Kondisi ini dipengaruhi oleh lingkungan

keraton, karena terdapat adanya ciri kehidupan kaum menak (bangsawan), dimana

terdapat berbagai kebiasaan yang menjadi budaya melekat pada kehidupan

keraton, hingga akhirnya menjadi sebuah tradisi yang dan menjadi identitas

sebuah keraton khususnya ritual adat.

Sebuah tradisi yang diselenggarakan dilingkungan keraton, misalnya

(12)

4

kaum menak memiliki gaya hidup yang berbeda dengan masyarakat umumnya.

Dengan adanya upacara penyambutan sebagai lambang gaya hidup yang mewah

tersebuat dapat ditunjukan identitas dan status sosial mereka dalam masyarakat.

Hal tersebut merupakan ritual adat kebiasaan masyarakat keraton yang telah

melekat menjadi sebuah tradisi. Begitu pula di Keraton Kacirebonan, dalam

aktivitas kehidupannya ritual adat yang diselenggarakan merupakan bagian dari

tradisi keraton. Salah satunya dapat dilihat pada setiap acara-acara kenegaraan.

Dalam upaya proses transmisi atau upaya pewarisan tentu tidak selalu

berjalan lancar, faktor-faktor yang menghambat dan mendukung proses transmisi

tersebut sering kali ditemui dalam prosesnya. Tari Sekar Keputren yang

sebenarnya diperuntukan bagi putri-putri keraton akan tetapi dengan terbatasnya

jumlah putri-putri didalam keraton dan juga dengan kesibukan-kesibukan mereka,

serta karena keturunan dan kerabat-kerabat keraton masih berusia SD, sehingga

membuat tarian ini dulunya tidak bisa berkembang dan mengalami kemunduran.

Minat merupakan keinginanan dari dalam diri seseorang untuk memiliki atau

mempelajari sesuatu hal, meski masih ada yang mau belajar kesenian tardisional

khususnya Tari Sekar Keputren akan tetapi kebanyakan dari generasi muda jaman

sekarang terkadang lebih mengesampingkan seni tradisional karena dianggap

kuno dan monoton sehingga mereka lebih mengutamakan seni modern, sehingga

minat akan memepelajari Tari Sekar Keputren pun terbatas

Selain dari faktor-faktor yang datang dari dalam diri masing-masing

individu adapula yang menjadi faktor lain yaitu yang datang dari luar dan sangat

mengambat proses transmisi yang nyata adalah perubahan jaman, dengan adanya

perubahan jaman membuat masyarakat khususnya generasi muda terkontaminasi

dan cenderung mengikuti budaya baru yang serba instan serta berkembangnya

teknologi yang membuat cenderung autis. Generasi muda pada jaman modern ini

sudah memiliki pola pikir yang modern, hal ini tentu saja membuat menjamurnya

seni modern yang sekarang banyak diminati oleh remaja-remaja sehingga peminat

seni tradisional berkurang karena dia anggap ketinggalan jaman dan

(13)

5

Atas dasar inilah maka proses transmisi tari Sekar Keputren menjadi

dianggap perlu, sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai tari penyambutan tamu

agar tetap menjadi identitas Keraton Kacirebonan, dengan keanggunan dan

kelembutan geraknya sehingga keberadaannya perlu dilestarikan. Oleh karena itu,

maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan mengambil judul Proses

Transmisi Tari Sekar Keputren Di Sanggar Sekar Pandan Di Keraton

Kacirebonan

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan judul penelitian serta latarbelakang masalah yang peneliti

paparkan diatas, maka peneliti merumuskan beberapa permasalahan, diantaranya :

1. Bagaimana proses transmisi tari Sekar Keputren di sanggar Sekar Pandan

Keraton Kacirebonan?

2. Bagaimana hasil transmisi tari Sekar Keputren di sanggar Sekar Pandan

Keraton Kacirebonan?

C. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Untuk membukukan penelitian tentang Proses Transmisi Tari Sekar

Keputren yang lahir di Sanggar Sekar Pandan Keraton Kacirebonan

sebagai warisan seni budaya bangsa.

b. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini, diantaranya:

1. Untuk mendeskripsikan proses Transmisi Tari Sekar Keputren di

Sanggar Sekar Pandan di Keraton Kacirebonan

2. Untuk mengetahui hasil dari proses transmisi Tari Sekar Keputren

(14)

6

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini, adalah :

a. Peneliti

Dengan adanya penelitian ini, dapat memberikan wawasan yang luas

serta pengalaman melakukan penelitian mengenai proses transmisi tari

Sekar Keputren di Sanggar Sekar Pandan di Keraton Kacirebonan.

b. Mahasiswa UPI

Dengan adanya penelitian tentang Proses Transmisi Tari Sekar

Keputren di Sanggar Sekar Pandan di Keraton Kacirebonan, memberikan

pengetahuan baru serta memberikan informasi pada mahasiswa tentang

keberadaan dan proses transmisi Tari Sekar Keputren sebagai warisan seni

budaya bangsa

c. Lembaga Pendidikan ( UPI )

Dengan adanya penelitian tentang proses Transmisi Tari Sekar

Keputren di Sanggar Sekar Pandan di Keraton Kacirebonan, dapat

memberikan informasi serta menambah literature di perpustakaan UPI.

d. Masyarakat

Dengan adanya penelitian ini, peneliti diharapkan dapat memberikan

informasi akan keberadaan dan proses transmisi Tari Sekar Keputren di

Sanggar Sekar Pandan di Keraton Kacirebonan, dan memberikan wawasan

bagi masyarakat luas, seniman, dan generasi muda. Peneliti juga mengajak

kepada masyarakat luas dimanapun berada untuk menghargai,

mempertahankan, melestarikan seni budaya bangsa setempat.

E. Metode Penelitian

Metode merupakan suatu yang sangat penting dan menentukan berhasil

atau tidakanya suatu penelitian. Metode adalah upaya yang diformulasikan untuk

menemukan jawaban atas permasalahan yang yang diajukan dalam penelitian,

pada intinya adalah sebuah cara untuk menemukan jawaban. Seperti yang

diungkapkan oleh Arikunto (1997 : 150) bahwa “metode adalah cara yang

(15)

7

Metodologi penelitian sangat menentukan dalam upaya menghimpun data yang diperlukan dalam penelitian. Dengan kata lain metodologi penelitian akan memeberikan petunjuk terhadap pelaksanaan penelitian atau petunjuk bagaimana penelitian itu dilaksanakan. Bagaimana prosedurnya, jenis data mana yang akan dikumpulkan, alat apa yang akan digunakan untuk memeperoleh data tersebut, dari mana diperolehnya berapa banyak yang diperlukan, bagaimana data harus ditampilkan, dan lain-lain. (Ibrahim 2007 : 16)

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Penggunaan

metode ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mendeskripsikan tentang data-data

dilapangan dan setelah seluruh data terkumpul dilakukan proses analisis, karena

data-data yang dikaji bersifat sebjektif dan harus dapat dipertanggungjawabkan

kebenarannya.

1. Studi Pustaka

Untuk memecahkan permasalahan yang ada pada penelitian, peneliti

melakukan studi pustaka dengan cara membaca buku-buku referensi, internet,

hasil-hasil penelitian, serta hal-hal lain yang relevan dengan permasalahan yang

diteliti. Studi kepustakaan yakni teknik penelitian yang ada hubungannya dengan

masalah yang diteliti. Data ini bisa didapat dari buku-buku teks, karya ilmiah,

media massa ataupun hasil penelitian terlebih dahulu.

2. Dokumentasi

Untuk mewujudkan pengumpulan data dan analisis data yang akurat dari

seluruh data yang diperoleh dilapangan, maka diperlukan alat yang dapat

menyimpan dan mengabadikan data dalam waktu yang relatif lama dan dapat

diamati secara berulang-ulang.

Dalam penelitian ini pendokumentasiannya dengan menggunakan alat

perekam suara, kamera foto, dan handycam. Alat perekam suara digunakan untuk

melakukan observasi secara langsung atau wawancara. Alat perekam ini berfungsi

untuk merekam keseluruhan hasil wawancara yang dilakukan langsung antara

peneliti dengan narasumber.

Kamera foto digunakan peneliti untuk mendapatkan gambar atau foto

tentang bentuk-bentuk gerak pada Tari Sekar Keputren, foto wawancara peneliti

(16)

8

merekam gambar atau kejadian yang diteliti. Alat ini digunakan untuk merekam

bentuk penyajian Tari Sekar Keputren.

3. Struktur Organisasi

Pada Bab I Pendahuluan, berisikan tentang latar belakang masalah,

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional,

metode penelitian,

Pada Bab II Landasan Teoritis berisikan tentang seni dan masyarakat,

pengertian transmisi/pewarisan, sanggar Sekar Pandan sebagai sarana pendidikan

nonformal, proses belajar mengajar, komponen-komponen pembelajaran, dan Tari

Sekar Keputren

Pada Bab III Metodologi Penelitian berisikan tentang lokasi dan subjek

penelitian, metode penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, teknik

pengumpulan data, teknik pengolahan data dan langkah-langkah penelitian

Pada Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan berisikan tentang latar

belakang terbentuknya Keraton Kacirebonan, profil sanggar Sekar Pandan

Keraton Kacirebonan, hasil penelitian yaitu konsep pembelajaran tari di Sanggar

Sekar Pandan, Sarana dan Prasarana, proses transmisi Tari Sekar Keputren, tujuan

pembalajaran Tari Sekar Keputren, materi pembelajaran Tari Sekar Keputren,

proses pembelajaran Tari Sekar Keputren, susunan koreografi Tari Sekar

Keputren, metode pembelajaran Tari di Sanggar Sekar Pandan, evaluasi

pembelajaran Tari Sekar Keputren, Pembahasan berisikan yaitu Proses transmisi

Tari Sekar Keputren, hasil transmisi Tari Sekar Keputren dan solusi dalam proses

transmisi Tari Sekar Keputren

Pada Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi berisikan tentang kesimpulan

yang didalamnya berupa kesimpulan pada proses transmisi Tari Sekar Keputren di

Sanggar Sekar Pandan di Keraton Kacirebona dan yang kedua yaitu rekomendasi

yang didalamnya berisikan tentang rekomendasi-rekomendasi bagi pihak Keraton,

ihak Sanggar Sekar Pandan, masyarakat, pemerintah setempat, dan untuk generasi

(17)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Subjek Penelitian

a. Lokasi penelitian bertempat di Sanggar Sekar Pandan yang berada di

Kompek Keraton Kacirebonan, yang beralamat di Jalan Pulasaren No. 49

RT 04 RW 02 Kelurahan Pulasaren Kecamatan Pekalipan Kota Cirebon

b. Subyek penelitian ini mengambil tari Sekar Keputren yang akan diteliti

adalah proses transmisi tari Sekar Keputren dari pelatih pada peserta didik

B. Metode Penelitian

Metode merupakan suatu yang sangat penting dan menentukan berhasil

atau tidakanya suatu penelitian. Metode adalah upaya yang diformulasikan untuk

menemukan jawaban atas permasalahan yang yang di ajukan dalam penelitian,

pada intinya adalah sebuah cara untuk menemukan jawaban. Seperti yang

diungkapkan oleh Arikunto (1997 : 150) bahwa “metode adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data dalam penelitiannya”. Dan yang lebih rinci lagi diungkapkan oleh Ibrahim (2007 : 16) “Metodologi penelitian sangat menentukan dalam upaya menghimpun data yang diperlukan

dalam penelitian. Dengan kata lain metodologi penelitian akan memeberikan

petunjuk terhadap pelaksanaan penelitian atau petunjuk bagaimana penelitian itu

dilaksanakan. Bagaimana prosedurnya, jenis data mana yang akan dikumpulkan,

alat apa yang akan digunakan untuk memeperoleh data tersebut, dari mana

diperolehnya berapa banyak yang diperlukan, bagaimana data harus ditampilkan,

dan lain-lain”.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Penggunaan

metode ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mendeskripsikan tentang data-data

dilapangan dan setelah seluruh data terkumpul dilakukan proses analisis, karena

data-data yang dikaji bersifat sebjektif dan harus dapat dipertanggungjawabkan

kebenarannya. Metode sebagai prosedur pemecahan masalah tidak akan berfungsi

bila tidak ditunjang dengan tersedianya data-data yang terkumpul, kemudian

(18)

28

dianalisis. Seperti yang diungkapkan oleh Winarno Surakhmad (1998:140) bahwa

ciri-ciri metode dekriptif analisis adalah sebagai berikut:

1. Merumuskan, memusatkan diri pada pemecahan masalah yang terjadi pada

masa sekarang yakni pada masa aktual

2. Data dikumpulkan, mula-mula disusun dijelaskan dan kemudian dianalisis

karena itu sering disebut analisis.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan harapan dapat

menggali data berdasarkan apa yang diucapkan, dirasakan dan dilakukan oleh

partisipan (sumber data). Peneliti merajuk pada pernyataan Lexy J. Moleong

(2007 : 6) bahwa “penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya

perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain dengan cara deskripsi dalam

bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah”

Metode ini atas dasar pertimbangan-pertimbangan, bahwa masalah yang

diteliti adalah permasalahan yang ada sekarang dengan cara mengumpulkan data,

menyusun mengklasifikasikan dan menganalisisnya. Data yang tersedia diterima

apa adanya tanpa ditambah dan dikurangi sedikitpun.

Peneliti berharap dapat membantu menjawab semua permasalahan yang

berhubungan dengan penelitian dengan cara menganalisa dan menelaah objek

yang diteliti untuk selanjutnya hasil analisis dapat diketahui bagaimana proses

Transmisi Tari Sekar Keputren di Sanggar Sekar Pandan Keraton Kacirebonan

C. Definisi Operasional

Untuk memperjelas maksud dari penelitian dari judul yang diangkat oleh

peneliti maka peneliti memberikan batasan istilah yang terdapat dalam judul

penelitian. Bahwa:

Transmisi: Transmisi dapat dipersepsikan sebagai proses pewarisan dari

pelatih kepada muridnya, dari satu orang ke orang lain, dari generasi ke generasi.

Pada dasaranya setiap orang memiliki pengalaman yang mungkin ia bisa bagi

kepada orang lain, entah itu pengalaman hidup, pengalaman pendidikan dan juga

(19)

29

tidak sengaja dengan menjalani tradisi yang sudah berlangsung secara turun

temurun seperti yang tuturkan oleh Kasmahidayat (2010 : 32) yaitu “Proses pewarisan yang dilakukan melalui lembaga pendidikan formal maupun nonformal

yang prosesnya terencana secara sistematis”

Tari Sekar Keputren: Tari Sekar Keputren merupakan tari putri yang

berkarakter halus, nama tari ini diambil dari kata „sekar‟ yang artinya bunga,

simbol keharuman dan putren artinya putri keraton sehingga dapat diartikan

sebagai putri keraton yang anggun, memakai pula properti lilin sebagai simbol

pencahayaan putri keraton. Di ciptakan pada tahun 1992 yang berangkat dari

permintaan Elang Tomy untuk di fungsikan sebagai tari penyambutan tamu agung

dan digarap oleh Elang Hery Komarahadi, tari ini ditampilkan ketika acara

tertentu saja seperti ulang tahun Sultan dan pernikahan putra putri Sultan

Sanggar: Sanggar merupakan suatu tempat atau saran yang digunakan

untuk kegiatan berkesenian dengan ekspresi, apresiasi, dan aspirasi oleh

sekumpulan orang atau suatu komunitas. Misalnya kegiatan sebi tari, seni musik

ataupun seni rupa, dalam hal ini sanggar memeberikan kontribusi bagi masyarakat

untuk dapat berprestasi diluar lembaga pendidikan formal, sehingga dapat

dipastikan bahwa sanggar dikategorikan sebagai lembaga pendidikan nonformal

Sekar Pandan: Nama sanggar yang berada di Komplek Keraton

Kacirebonan yang terletak di Jalan Pulasaren No. 49 RT 04 RW 02 Kelurahan

Pulasaren Kecamatan Pekalipan Kota Cirebon yang berdiri pada tanggal 5 mei

1992 dan dipimpin oleh Elang Hery Komarahadi Arkhaningrat.

D. Instrumen Penelitian

Untuk melihat keabsahan data hasil penelitian dengan data yang telah

diperoleh dan terkumpul dan dapat dipercaya keabsahannya, maka perlu

memperpanjang waktu penelitian. Hal ini dilakukan, karena diharapkan para

informan/ responden dapat lebih leluasa memberikan data yang sebenarnya, dan

peneliti mendapatkan informasi yang lebih banyak. Ketekunan observasipun

(20)

30

data, seorang peneliti dituntut untuk cermat dan tekun merekam semua informasi

yang relevan.

Instrumen penelitian merupakan hal yang penting didalam kegiatan

penelitian, hal ini karena perolehan suatu informasi atau data relevan atau

tidaknya tergantung pada alat ukur tersebut. Oleh karena itu penelitian harus

memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai, maka dari itu sebelum terjun ke

lapangan peneliti harus memiliki beberapa pedoman penelitian yang akan

digunakan, diantaranya :

a. Pedoman Observasi

Menurut Abdurrahman (2006 : 104) Pedoman observasi adalah teknik

pengumpulan data yang dilakuakan melalui suatu pengamatan, dengan disertai

pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran. Orang

yang menggunakan observasi disebut pengobservasi (observer) dan pihak

yang diobservasi disebut terobservasi (observe)

b. Pedoman Wawancara

Pedoman Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui tanya

jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak

yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancara.

Kedudukan kedua pihak secara berbeda ini terus dipertanyakan selama proses

tanya jawab berlangsung.

c. Pedoman Dokumentasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dokumentasi merupakan sesuatu

yang tertulis, tercetak atau terekam yang dapat dipakai sebagai bukti atau

keterangan. Dalam penelitian ini pendokumentasiannya dengan menggunakan

alat perekam suara, kamera foto, dan handycam.

E. Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi

Teknik Observasi berguna untuk mengamati gejala yang terjadi

dilapangan secara langsung. Dengan melihat secara langsung, membawa peneliti

(21)

31

melalui orang lain yang berada dilingkungan setempat ataupun menggunakan

media seperti telepon. Disamping itu, guna memberi kemudahan pada peneliti

dalam mencatat data yang diperoleh agar tidak terlewat.

Dengan melakukan observasi ini peneliti dapat melihat dan mengamati

secara menyeluruh, apa saja yang terdapat dalam Tari Sekar Keputren di Keraton

Kacirebonan. Beberapa tahapan yang dilakukan pada saat observasi yaitu:

1. Pada tanggal 10 Desember 2012, peneliti mengunjungi sanggar Sekar Pandan

Keraton Kacirebonan, dan bertemu langsung serta mengenalkan diri pada

Elang Hery Komarahadi, kemudian peneliti mencoba menanyakan beberapa

hal yang akan menjadi permasalahan dalam penelitian, dalam beberapa bulan

selanjutnya sempat beberapa kali meneliti tarian lain sehingga pada akhirnya

memilih objek Proses Transmisi tari sekar Keputren sebagai objek materi yang

akan diteliti

2. Pada tanggal 24 Desember 2012, peneliti mengunjungi Keraton Kacirebonan

dan bertemu dengan Pangeran Abdul Ghani Natadingingrat dan melakukan

wawancara seputar sejarah terbentuknya Keraton dan responnya terhadap

aktivitas sanggar dan memeberikan dokumentasi berupa foto-foto beserta

nama-nama bangunan yang ada didalam Keraton Kacirebonan

3. Pada tanggal 8 Februari 2013, peneliti melakukan observasi yang kedua

dengan materi wawancara mengenai biografi Elang Hery, sinopsis, latar

belakang penciptaan, struktur gerak, rias dan busana, musik iringan, dan

secara kebetulan diberikan dokumentasi pribadi Elang Hery berupa foto-foto

dan video tari Sekar Keputren yang tengah tampil di festival keraton

se-Indonesia di Makassar

4. Pada tanggal 8 April 2013, peneliti melakukan observasi yang ketiga dengan

materi wawancara latarbelakang terbentuknya sanggar, profil sanggar, struktur

organisasi, konsep pembelajaran tari di sanggar dan komponen pembelajaran

tari yang ada di sanggar dan proses transmisi tari Sekar Keputren

5. Pada tanggal 27 Mei 2013, peneliti melakukan observasi dengan menyaksikan

proses latihan tari Sekar Keputren, mendokumentasikan proses latihan,

(22)

32

Hery, dan juga foto-foto gerak tari Sekar Keputren beserta nama-nama

geraknya

6. Pada tanggal 6 Juni 2013, peneliti mengunjungi Keraton dengan maksud

menyaksikan secara langsung penampilan Tari sekar Keputren saat tampil

pada acara Pentas Bulanan yang di selenggarakan oleh pihak sanggar Sekar

Pandan, pada momen ini peneliti berkesempatan menyaksikan dan merekam

secara langsung tari Sekar Keputren yang sudah menggunakan properti bokor

lilin yang terbaru

b. Wawancara

Pengumpulan data yang diperlukan dalam kegiatan penelitian, tidak hanya

dapat dilakukan dengan cara pengamatan atau observasi saja namun juga dengan

wawancara. Observasi tentu saja memiliki keterbatasan, karena hanya dilakukan

dengan cara mendengar, melihat, meraba dan merasakan. Oleh karena itu, untuk

melengkapi kekurangan dari observasi tersebut maka peneliti menggunakan

teknik wawancara yang dimaksudkan untuk mendapatkan dan menggali data-data

lainnya yang tidak diperoleh melalui teknik observasi.

Sedangkan menurut Abdurrahman (2006 : 104) Wawancara adalah teknik

pengumpulan data melalui tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya

pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh

yang diwawancara. Kedudukan kedua pihak secara berbeda ini terus

dipertanyakan selama proses tanya jawab berlangsung”.

Pada penelitian ini, wawancara merupakan proses pencarian yang

mendalam tentang diri subjek. Wawancara yang demikian dapat membantu

peneliti memahami masalah dalam konteks yang lebih luas yang menyangkut

aspek-aspek sosial budaya dan lingkungannya.

c. Studi Pustaka

Untuk memecahkan permasalahan yang ada pada penelitian, peneliti

melakukan studi pustaka dengan cara membaca buku-buku referensi, internet,

hasil-hasil penelitian, serta hal-hal lain yang relevan dengan permasalahan yang

diteliti. Studi kepustakaan yakni teknik penelitian yang ada hubungannya dengan

(23)

33

media massa ataupun hasil penelitian terlebih dahulu. Tujuan dari studi

kepustakaan ini adalah untuk memperoleh data informasi tentang teknik penelitian

yang diterapakan, pertimbangan disiplin ilmu pengetahuan pada masalah yang

diteliti.

Dalam hal ini peneliti menggunakan beberapa buku referensi sebagai pisau

bedah untuk menguatkan penjelasan yang telah ditulis, yang peratama buku dari

Yuliawan Kasmahidayat yang berjudul Agama dalam Transformasi Budaya

Nusantara (2010) yang menjadi rujukan penulis adalah sistem pewarisan seni

tradisi yang menerapkan guru panggung untuk melestarikan seni tradisi dari

kepunahan, cara tersebut merupkan sistem pewarisan yang tepat karena

pencapaian tingkat kemahiran anak akan sampai ke ajang pembentukan seniman

sejati

Selanjutnya buku Kurikulum Pembelajaran oleh Toto Ruhimat (2009)

yang menjadi rujukan penulias adalah menjelaskan tentang komponen

pembelajararn yaitu guru, murid, materi pembelajaran, strategi pembelajaran dan

evaluasi, kemudian penulis merujuk pada buku Mustofa Kamil yang berjudul

Pendidikan Nonformal beliau menjelaskan bahwa secara mendasar pendidikan

formal informal dan nonformal sebagai sebuah konsep pendidikan dalam rangka

pendidikan sepanjang hayat dan belajar sepanjang hayat, memiliki berbagai ragam

program sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat masa kini maupun

masa depan

d. Dokumentasi

Untuk mewujudkan pengumpulan data dan analisis data yang akurat dari

seluruh data yang diperoleh dilapangan, maka diperlukan alat yang dapat

menyimpan dan mengabadikan data dalam waktu yang relatif lama dan dapat

diamati secara berulang-ulang.

Dalam penelitian ini pendokumentasiannya dengan menggunakan alat

perekam suara, kamera foto, dan handycam. Alat perekam suara digunakan untuk

melakukan observasi secara langsung atau wawancara. Alat perekam ini

berfungsi untuk merekam keseluruhan hasil wawancara yang dilakukan langsung

(24)

34

Kamera foto digunakan peneliti untuk mendapatkan gambar atau foto

tentang bentuk-bentuk gerak pada Tari Sekar Keputren, foto wawancara peneliti

dengan narasumber, dan lain-lain. Handycam merupakan salah satu media untuk

merekam gambar atau kejadian yang diteliti. Alat ini digunakan untuk merekam

bentuk penyajian Tari Sekar Keputren.

F. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan pengolahan data

kualitatif, setelah data terkumpul secara lengkap baik itu data yang tersimpan

dalam media kaset rekaman, video rekaman, buku-buku literatur maupun data

catatan yang sedetail-detailnya. Kegiatan selanjutnya adalah mengklasifikasi

model teknik pengolahan data yang telah dikumpulkan.

a. Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data

yang diperoleh dari hasil wawancara dan catatan lapangan dan bahan-bahan

lain, sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan

kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data,

menjabarkannya ke dalam unit-unit melakukan sintesa, menyusun kedalam

pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat

kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain. (Bogdan dalam

Sugiyono 2012:244)

b. Reduksi Data

Dalam analisis data melalui reduksi data ini peneliti merangkum, memilih

hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang dibutuhkan oleh

peneliti, dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan

gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan

pengumpulan data selanjutnya.

c. Konsultasi Dengan Pembimbing

Proses bimbingan dengan pembimbing I dan pembimbing II adalah proses

(25)

35

selanjutnya akan direvisi oleh peneliti dan diserahkan kembali kepada

pembimbing untuk pemeriksaan selanjutnya.

d. Penyajian Data

Setelah data direduksi dan direvisi maka langkah selanjutnya adalah

penyajian data. Dalam penelitian kulitatif penyajian data ini dilakukan dalam

bentuk uraian singkat, bagan, dan sejenisnya. Dengan penyajian data maka

akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi.

G. Langkah-Langkah Penelitian

Pelaksanaan penelitian dilakukan setelah proposal disetujui, berarti

permasalahan yang yang diajukan layak untuk diteliti lebih lanjut. Maka kegiatan

selanjutnya yaitu penulisan laporan. Penulisan laporan merupakan merupakan

tahap akhir dalam penulisan skripsi yang berisiskan semua kegiatan, peristiwa,

sampai pada tahap akhir penelitian dengan susunan atau format berdasarkan

ketentuan yang berlaku dan selanjutnya dipertanggungjawabkan dalam sidang

skripsi.

1. Tahap Pra Penelitian

Tahap pra penelitian adalah tahap yang berupa persiapan sebelum

seseorang melakukan sebuah penelitian yang bertujuan agar tidak menemukan

kesulitan yang dihadapi oleh seorang peneliti baik ketika melakukan

wawancara ataupun observasi ketika dilapangan yang akan menghambat

proses penelitian

Dalam tahap pra penelitian ini, peneliti harus menyiapkan beberapa proses

yang persiapan mulai dari menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan

penelitian, mengurus perizinan, perlengkapan penelitian, menilai dan

memepelajari lapangan penelitian, persoalan etika serta memilih dan

memanfaatkan informan.

a. Menyusun Rancangan Penelitian

Proses ini sangat diperlukan karena dalam melakukan penelitian akan

lebih terencana dan sistematis, proses ini biasa disebut dengan usulan

(26)

36

Sekar Keputren Di Sanggar Sekar Pandan Di Keraton Kacirebonan” hal yang

paling utama adalah melakukan rancangan penelitian. Dengan bantuan

rancangan penelitian maka akan sangat berguna karena merupakan

sistematika yang dapat menuntun dan mempermudah seorang peneliti dalam

melakukan penelitian.

b. Memilih Lapangan Penelitian

Dalam hal ini peneliti merajuk pada objek yang akan diteliti yaitu Tari

Sekar Keputren di Sanggar Sekar Pandan di Keraton Kacirebonan, dengan hal

ini maka dapat ditentukan bahwa lapangan penelitian adalah berada di

Jalur formal yaitu pembuatan surat tugas oleh instansi terkait kepada peneliti

yang bertujuan untuk melakukan observasi. Disini peneliti meminta surat

rekomendasi penelitian kepada Jurusan Pendidikan Seni Tari Fakultas

Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia.

Surat rekomendasi tersebut sangat berguna karena merupakan identitas

bagi peneliti saat sedang berada dilokasi penelitian dan merupakan bukti

bahwa peneliti sedang melakukan suatu kegiatan penelitian atau observasi,

selain itu juga sebagi alat unyuk mempermudah dan memperlancar

pelaksanaan penelitian.

Selain jalur formal, penelitian juga melakukan perizinan dengan car

informal yaitu perizinan secara lisan yang ditujukan kepada pemimpin atau

pemilik dari sanggar itu sendiri.

d. Menyiapkan Perlengkapan Penelitian

Perlengkapan penelitian atau observasi adalah alat-alat yang dapat

menunjang atau membantu peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian

karena dapat mendokumentasikan hasil dari observasi tersebut sehingga dapat

(27)

37

dalam observasi diantaranya pulpen, buku catatan, kamera foto, alat perekam

suara, dan handycam. Selain itu juga harus ada jadwal penelitian dan

pertanyaan penelitian.

e. Persoalan Etika

Sejumlah peraturan, nilai sosial, nilai dan hak pribadi, norma agama, adat

istiadat dan sebagainya berlaku dalam kehidupan masyarakat khususnya

kalangan seniaman dan lingkungan keraton. Untuk menghindari adanya selisih

paham dengan pihak narasumber maka peneliti harus menyesuaikan diri

dengan kondisi didalam keraton dan masyarakat sekitar keraton selama

melakukan penelitian, artinya peneliti untuk sementara waktu harus menerima

dan mengikuti nilai-nilai dan norma-norma dan tata tertib yang berlaku di

keraton, seperti berpakaian dan bertutur kata yang sopan serta harus mampu

menahan diri apabila menemukan seuatu yang dianggap tabu, hal-hal yang

tidak masuk akal dan lain sebagainya.

f. Memilih dan Memanfaatkan Informan

Memilih dan memanfaatkan informan tentu saja adalah kegiatan

wawancara. Wawancara dilakukan dengan berbagai pihak yang bertujuan

untuk dapat menggali semua informasi yang didapat agar didapatkan

informasi yang valid dan lengkap. Adapun yang menjadi narasumber adalah:

1. Elang Heri Komarahadi Arkhaningrat, beliau merupakan pendiri dan

pencipta Tari Sekar Keputren

2. Sultan Abdul Ghani Natadiningrat, beliau adalah Sultan di Keraton

Kacirebonan

3. Siti Ramadiyanti, instruktur tari disanggar Sekar Pandan Keraton

Kacirebonan bergabung tahun 2003 sebagai murid

4. Penari Tari Sekar Keputren

2. Tahap Pekerjaan Penelitian

a. Wawancara

Wawancara yaitu sebuah kegiatan tanya jawab antara peneliti dengan

narasumber menggunakan alat-alat yang diperlukan dan panduan wawancara

(28)

38

menunujukan keberadaan seniman, karya seni, organisasi seni, dll. Hal-hal

yang diperlukan peneliti sebelum melakukan wawancara yaitu membuat janji

dengan narasumber agar tidak terkesan mendadak serta daftar pertanyaan yang

nantinya akan ditanyakan pada narasumber.

b. Pengamatan

Pengamatan adalah proses dimana seseorang melakukan penelitian

dilapangan dengan melihat, mengamati dan mencatat setiap kegiatan yang

terjadi dilapangan.

Pada tahap ini peneliti melakukan observasi atau penelitian dengan terjun

langsung ke lapangan yaitu dengan mengunjungi sanggar Sekar Pandan

Keraton Kacirebonan dengan mengamati langsung proses pembelajaran tari

Sekar Keputren dan mangapresiasi penampilan Tari Sekar Keputren pada

acara Pentas Bulanan yang selalu di selenggarakan di alun-alun Keraton

Kacirebonan, serta wawancara langsung dengan narasumber yaitu Elang Hery

Komarahadi selaku pencipta Tari Sekar Keputren.

c. Pendokumentasian

Pendokumentasian yaitu penyimpanan data hasil penelaitian dilapangan

(pengamatan dan wawancara), denagn bentuk tulisan maupun berupa bentuk

soft file di media elektronik. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan

pendokumentasian dengan menggunakan media elektronik seperti tape

recorder dan video recorder untuk merekam semua hasil wawancara dan

pengamatan.

Media elektronik memberi kemudahan dengan memudahkan peneliti

dalam melakukan proses pengamatan atau penganalisaan data yang diperoleh

dari lapangan dalam pengolahan data yang daat dilakukan berulang-ulang.

Pemotretan yang nantinya akan digunakan sebagai pelengkap dalam laporan

hasil penelitianpun dilakukan dalam bentuk gambar.

d. Menulis Laporan

Setelah melewati tahapan observasi, analisis data dan pengolahan data

maka penulisan baru bisa dilakukan karena penulisan laporan merupakan

(29)

39

penelitian, dan penulisan laporan tidak akan lepas dari keseluruhan kegiatan

dan unsur-unsur penelitian.

Dalam tahap penulisan laporan hasil observasi, peneliti juga

mengguanakan teori-teori para ahli yang didapat dari sumber-sumber terkait

sebagai penunjang dan memeperkuat setiap bahasan materi yang akan dibahas.

Adapun langkah-langkah dalam penulisan yang terbagi dalam emapat bagian

diantaranya:

1. Peneliti menyusun data yang terlebih dahulu dianalisis dan diolah agar

tidak kekurangan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam melakukan proses

penyusunan agar dapat secepatnya tersedianya skripsi.

2. Peneliti menggunakan sistematika penulisan dalam menyusun laporan

penelitian yang telah disusun sebelumnya agar data-data yang diperoleh

dari lapangan, dokumentasi, ataupun kepustakaan dapat diformulasikan

secara cermat dan permasalahan-permasalahan yang diajukan akan sesuai.

3. Masalah yang kadang ditemukan adalah tidak adanya daftar pustaka dalam

skripsi, hal ini tentu saja tidak boleh terlewat, menyusun daftar pustaka

baik dari buku cetak, koran/majalah, dan narasumber benar-benar harus

digunakan sebagai sumber data.

4. Skripsi harus dilengkapi baik bagian depan diantaranaya cover judul

penelitian, lembar pengesahan pembimbing 1 dan pembimbing 2 serta

ketua jurusan, pernyataan, abstraksi, kata pengantar dan ucapan

terimakasih, daftar isi dan daftar gambar. Sedangakan bagian belakang

(30)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan interpretasi peneliti, dapat dikaji konsep, proses dan hasil

pembelajaran Tari Sekar Keputren di sanggar Sekar Pandan Keraton Kacirebonan,

dapat disimpulkan bahwa:

Proses transmisi tari sekar Keputren di sanggar Sekar Pandan Keraton

Kacirebonan transmisi dapat dipersepsikan sebagai proses pewarisan dari pelatih

kepada muridnya. Sistem transmisi bisa dilakukan dengan sengaja atau tidak

sengaja dengan menjalani tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun

seperti yang tuturkan oleh pewarisan kesenian dapat dilakukan dengan cara formal

ataupun nonformal, dengan sadar ataupun tidak sadar, begitu juga dengan Tari

Sekar Keputren yang dalam cara pewarisannya dilakukan dengan cara

dibelajarkan di sanggar sebagai saran pendidikan nonformal dan dilakukan

dengan sadar tentunya, pemebelajaran dilakukan oleh pelatih kepada para Putri

Keraton dan peserta didik di sanggar Sekar Pandan Keraton Kacirebonan

Meskipun bukan lembaga pendidikan formal akan tetapi sanggar Sekar

Pandan juga mempunyai komponen pembelajaran tari yaitu: (1) Tujuan

Pembelajaran, tujuan pemebelajarannya yaitu untuk membelajarkan tari,

khususnya Tari Sekar Keputren dengan maksud untuk melestarikan tarian

tersebut, serta mengacu pada kompetensi atau kemampuan yang diharapkan

dimiliki setelah mengikuti suatu pembelajaran tertentu oleh para peserta didik,

yang nantinya mampu mengembangkan serta sebagai pelestari seni tradisional,

karena lebih menekankan pada penguasaan keterampilan yang mengarah pada

keahlian. (2) Bahan Pembelajaran, bahan pembelajarannya yaitu tentu saja materi

tentang Tari Sekar Keputren, (3) Metode Pembelajaran, metode pembelajaran

yang digunakan adalah dengan metode behavioristik yaitu suatu model

pembelajaran yang bertujuan untuk mentrasferkan ilmu, keterampilan, peniruan

dan pengulangan, disini pelatih dalam mentransferkan ilmunya melakukan

demonstrasi didepan para peserta didik, kemudian peserta didik menirukan

(31)

70

Pandan menggunakan fasilitas dari keraton yaitu bangunan Kaputren yang

digunakan sebagai tempat latihan, dan menggunakan alat penunjang seperti tape

dan kaset atau CD, (5) Evaluasi, sanggar Sekar Pandan menggunakan kriteria

penilalian wiraga (badan), wirahma (musik), wirasa (penhayatan), dan

harmonisasi (gabungan ketiga unsur tersebut), serta tampil pada

pagelaran-pagelaran didalam kawasan Keraton ataupun diluar Keraton.

Peneliti setelah melakukan penelitian berpendapat bahwa proses transmisi

ini dianggap perlu dilakukan karena atas dasar fungsi dari tari itu sendiri yaitu

sebagai tari penyambutan tamu dilihat dari sejarahnya bahwa dilingkungan

Keraton Kacirebonan, sejak masa lalu budaya menyambut tamu telah melekat

menjadi sebuah tradisi, berbagai ritual diselenggarakannya dan dipersiapakan

sebaik mungkin agar meninggalkan kesan yang baik untuk menjamu para tamu

yang datang. Kondisi ini dipengaruhi oleh lingkungan keraton, karena terdapat

adanya ciri kehidupan kaum menak (bangsawan), dimana terdapat berbagai

kebiasaan yang menjadi budaya melekat pada kehidupan keraton, hingga akhirnya

menjadi sebuah tradisi yang dan menjadi identitas sebuah keraton khususnya

ritual adat. Dengan demikian hasilnya akan bertujuan untuk menciptakan generasi

muda yang mahir menarikan Tari Sekar Keputren dan juga menciptkan bibit-bibit

baru yang berprestasi di dalam dan diluar sanggar seperti sekolah formal dan

perguruan tinggi jurusan tari

B. Rekomendasi

Dari hasil penelitian selama berada dilapangan, peneliti hendaknya ingin

memberikan saran yang bertujuan untuk memotivasi kepada pihak-pihak terkait,

diantaranya:

1. Bagi Pihak Keraton

Sebagai identitas dari kehidupan para menak yang selalu menampilkan tari

penyambutan tamu untuk dapat dipertahankan karena akan menjadi ciri khas

kehidupan keraton yang membedakan dengan masyarakat pada umumnya dan

(32)

71

2. Bagi Sanggar Sekar Pandan

Sebagai wadah untuk pelestarian tarian tradisional untuk tetap dapat

dipertahankan kelestariannya dengan terus membelajarkan tarian tradisional

terutama Tari Sekar Keputren pada generasi muda, selain untuk menyambut

tamu, ada baiknya jika tari ini lebih sering juga dipentaskan diluar keraton

agar masyarakat banyak dapat mengetahui dan tertarik untuk mempelajari tari

ini

3. Masyarakat

Dapat memberi dukungan terhadap dengan memasukan putra-putrinya

agar dapat pemebalajaran dan pengalaman, guna menciptakan generasi

penerus sekaligus melestarikan tarian tradisional khususnya Sekar Keputren.

4. Pemerintah Setempat

Lebih memeperhatikan lagi tentang keberadaan sanggar sebagai

pendukung program pendidikan nonformal agar mendapat dukungan moril

dan materil supaya tarian tradisional khususnya Sekar Keputren agar dapat

terus tetap eksis dimasa sekarang dan masa yang akan datang, memeberikan

banyak informasi kepada masyarakat tentang keberadaan tarian tradisional

yang ada di Cirebon dengan berbagai cara antara lain untuk mengadakan

pertunjukan dalam memperingati hari-hari besar mengadakan lomba dan

event-event secara jujur dan transparan sehingga tidak ada yang dirugikan.

5. Generasi Muda

Untuk generasi muda untuk bisa menghargai dan melestarikan tarian

tradisional karena kalau bukan generasi muda yang menjadi pewarisnya siapa

lagi yang akan melestarikannya dengan cara mempelajari tarian tersebut agar

dapat tetap eksis di jaman modern, sehingga tidak akan ada bangsa lain yang

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Kahfi, Dwi. 2011. Pengelolaan Pembelajaran Tari Topeng Cirebon Gaya Slangit di

Sanggar Adiningrum Desa Slangit Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon,

Bandung. Skripsi UPI.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT.

Rineka Cipta.

Caturwati, Endang. 1998. Rias dan Busana Tari Sunda. STSI Press. Bandung

Caturwati, Endang. 2007. Tari Di Tatar Sunda. Bandung. Sunan Ambu Press STSI Bandung.

Fathoni, Abdurrahman. 2006. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi.

Jakarta: PT Rineka Cipta

Ghani, Abdul. 2012. Proposal Konservasi Keraton Kacirebonan. Tidak di terbitkan

Ibrahim. 2007. Penelitian dan dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Joeseof, Soelaiman. 1979. Pendidikan Luar Sekolah, Surabaya: Usana Offset Printing

Surabaya-Indonesia

Komalasari, Kokom. 2010. Pemebelajaran Konstektual Konsep dan Aplikasi. PT. Reflika

Aditama. Bandung.

Kussudiardjo, Bagong. 1981. Tentang Tari. Yogyakarta: Cv Nur Cahya

Moleong, L. J. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mustofa, Kamil. 2009. Pendidikan Nonformal. Alfabeta. Bandung.

Nuraeni, Rini. 2008. Model Matery Learning Dengan Materi Gera Dasar Tari PutraPada

Kelas V Di SDN Rancamanyar VI Bandung. Bandung. Skripsi UPI

Pebrianti, Iceu. 2010. Transmisi Kesenian Tarawangsa Di Daerah Rancakalong Sumedang.

Bandung. Skripsi UPI.

Rohayani, Heny. 2007. Pendidikan Tari Drama. Bandung. UPI

Rosala, dkk. 1999. Bunga Rampai Tarian Khas Jawa Barat. Bandung Humaniora Utama

Press

Ruhimat, Toto. 2009. Kurikulum Pembelajaran. Bandung. Tidak di terbitkan.

Rusliana, Iyus. 2002. Wayang Wong Priangan. PT Kiblat Utama. Bandung

Salmurgianto. 2002. Kritik Tari Bekal dan Kemampuan Dasar. MSPI. Jakarta.

Sedyawati, Edi. “Menimbang Praktek Pertukaran Budaya”, Jakarta. Masyarakat Seni

(34)

Sudarsono. 1997. Tari-Tarian Indonesia I. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta

Sumartini, Tati. 2010. Pembelajaran Topeng Cirebon Di Sanggar Weninggalih Desa Kedung

Bunder Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon. Bandung. Skripsi UPI

Wiranataputra, Udin. S. Et al. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Universitas Terbuka.

(35)

Referensi

Dokumen terkait