• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Sikap Masyarakat Etnis Dayak Terhadap Masyarakat Etnis Madura Pasca Konflik Yang Terjadi di Kota Sampit (Studi Deskriptif Mengenai Sikap Etnis Pasca Konflik di Desa "X" dan Desa "Y" di Kota Sampit).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Sikap Masyarakat Etnis Dayak Terhadap Masyarakat Etnis Madura Pasca Konflik Yang Terjadi di Kota Sampit (Studi Deskriptif Mengenai Sikap Etnis Pasca Konflik di Desa "X" dan Desa "Y" di Kota Sampit)."

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

iii

Universitas Kristen Maranatha

Abstrak

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui sikap masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura pasca konflik yang terjadi di Kota Sampit (studi deskriptif mengenai sikap etnis pasca konflik di desa “x” dan desa “y” di kota Sampit). Teori yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan teori yang dikemukakan oleh oleh Krech, Crutchfield & Ballachey (1986). Populasi dari penelitian ini berjumlah 50 orang yang merupakan jumlah penduduk yang memenuhi karakteristik penelitian. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan teknik survey.

Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini merupakan alat ukur yang dirancang sendiri oleh peneliti dalam bentuk kuesioner dan terdiri dari 46 item. Uji validitas menggunakan rumus Rank Spearman dengan program SPSS 14.0 for windows diperoleh 36 item yang dinyatakan valid dengan besar validitas berkisar 0,31–0,88. Untuk uji reliabilitas menggunakan rumus Split half method dengan menggunakan program SPSS 14.0 for windows dan diperoleh data besar reliabilitas sebesar 0,824 (reliabilitas cenderung tinggi).

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat etnis Dayak memiliki sikap positif terhadap masyarakat etnis Madura di Kota Sampit.

(2)

Abstract

This research is an descriptive study to determine public attitudes toward ethnic Dayak Madura ethnic communities post-conflict which occurred in the city of Sampit (descriptive study on ethnic attitudes in post-conflict in village x and y in the town of Sampit). This theory proposed by Krech, Crutchfield & Ballachey (1986). The population of this research were 50 people which is the amount that meets the characteristics of the study population. This research method uses descriptive research method with survey techniques.

Measuring instruments used in this study is a measure designed by the researcher in the form of a questionnaire and consists of 46 items. Based on test validity using Spearman Rank formula with SPSS 14.0 for windows obtained 36 items declared invalid by the validity ranged from 0.31 to 0.88. To test Split half reliability using the formula method using SPSS 14.0 for windows and great reliability of data obtained for 0.824 (reliability tends to be high).

Based on these results it can be concluded that most of the Dayak ethnic communities have a positive in the city of Sampit.

(3)

viii

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERSEMBAHAN ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR BAGAN ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah ...1

1. 2 Identifikasi Masalah ...11

1. 3 Maksud dan Tujuan 1. 3. 1 Maksud ...11

1. 3. 2 Tujuan ...11

1. 4 Kegunaan Penelitian 1. 4. 1 Kegunaan Teoretik ...11

1. 4. 2 Kegunaan Praktis ...12

(4)

1. 6 Asumsi...21

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1 Sikap ...22

2. 1. 1 Pengertian Sikap ...22

2. 1. 2 Jenis Sikap ...22

2. 2 Objek Sikap ...23

2. 3 Komponen Sikap ...23

2.4 Sikap Terhadap Tindakan Sosial Karakteristik Primer ...24

2.5 Karakteristik Komponen Sikap ...24

2.6 Karakteristik Konsistensi dalam Sistem Sikap ...26

2.7 Saling Keterkaitan (Interkonnectedness) dalam Konstelasi Sikap...26

2. 8 Sikap dan Pembentukannya ...27

2. 9 Proposisi Tentang Sikap ...31

2. 9. 1 Proposisi Satu ...31

2. 10 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap ...32

2.11 Perubahan-Perubahan Dalam sikap...35

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. 1 Rancangan dan Prosedur Penelitian ...38

(5)

x

Universitas Kristen Maranatha

3. 2. 2 Definisi Operasional ...39

3. 3 Alat Ukur Penelitian 3. 3. 1 Kuesioner Sikap ... 40

3. 3. 2 Alat Ukur Sikap Etnik Dayak terhadap Etnik Madura...41

3. 3 .3 Data Pribadi dan Data Penunjang ...42

3.4 Pengujian Alat Ukur ...45

3. 4. 1 Uji Validitas Alat Ukur ...46

3. 4. 2 Uji Reliabilitas Alat Ukur ...47

3. 5 Populasi dan Teknik Penarikan Sampel 3. 5. 1 Populasi Sasaran...48

3. 5. 2 Karakteristik Populasi ...48

3. 5. 3 Teknik Penarikan Sampel... 49

3. 6 Teknik Analisis Data ...49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Responden 4.1.1 Gambaran Responden Berdasarkan Usia ...52

4.1.2 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ...52

4.1.3 Gambaran Responden Berdasarkan Lamanya Tinggal Sampit ...53

4.2 Pembahasan Hasil………..53

4.2.1 Uji Validitas………54

(6)

4.2.2.1 Pernyataan Sikap Berdasarkan Komponen Kognitif... …….55

4.2.2.2 Pernyataan Sikap Berdasarkan Komponen Afektif... …….56

4.2.2.3 Pernyataan Sikap Berdasarkan Komponen Konatif ... 57

4.2.3 Hasil Penelitian Mengenai Sikap Masyarakat Etnis Dayak………59

4.2.4 Tabulasi Silang Antara Sikap dengan Komponen-komponen Sikap ... 60

4.2.4.1 Tabulasi Silang Antara Sikap Masyarakat Etnis Dayak Terhadap Masyarakat Etnis Madura dengan Komponen Kognitif ... 60

4.2.4.2 Tabulasi Silang antara Sikap Masyarakat Etnis Dayak Terhadap Masyarakat Etnis Madura dengan Komponen Afektif... 62

4.2.4.3 Tabulasi Silang Antara Sikap Masyarakat Etnis Dayak Terhadap Masyarakat Etnis Madura dengan Komponen Konatif ... 64

4.2.5 Tabulasi Silang Antara Sikap dengan Data Pribadi 4.2.5.1 Tabulasi Silang antara Sikap Masyarakat Etnis Dayak Terhadap Masyarakat Etnis Madura dengan Usia………....65

4.2.5.2 Tabulasi Silang antara Sikap Masyarakat Etnis Dayak Terhadap Masyarakat Etnis Madura dengan Jenis Kelamin……….67

4.2.5.3 Tabulasi Silang antara Sikap Masyarakat Etnis Dayak Terhadap Masyarakat Etnis Madura dengan Lamanya Tinggal di Sampit………68

(7)

xii

Universitas Kristen Maranatha BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 74

5.2 Saran ... 75

5.2.1 Saran Teoretis... 75

5.2.2 Saran Praktis... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 77

DAFTAR RUJUKAN... 79

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Bobot Setiap Jawaban ... 41

Tabel 3.2 Kisi-kisi Alat Ukur ... 41

Tabel 3.3 Tabel Data Penunjang ... 43

Tabel 4.1 Responden Berdasarkan Usia... 52

Tabel 4.2 Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 53

Tabel 4.3 Banyaknya Responden Berdasarkan Lama Tinggal di Sampit ... 57

Tabel 4.4 Sikap Responden Terhadap Masyarakat Etnis Madura ... 59

Tabel.4.5 Tabulasi Silang Sikap Responden Terhadap Etnis Madura dengan Komponen Kognitif ... 61

Tabel.4.6 Tabulasi Silang Sikap Responden Terhadap Etnis Madura dengan Komponen Afektif ... 62

Tabel.4.7 Tabulasi Silang Sikap Responden Terhadap Etnis Madura dengan Komponen Konatif ... 64

Tabel 4.8 Tabulasi Silang Sikap Responden Terhadap Masyarakat Etnis Madura dengan Usia ... 65

Tabel 4.9 Tabulasi Silang Sikap Responden Terhadap Etnis Madura dengan Jenis Kelamin ... 67

(9)

xiv

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1 Skema Kerangka Pemikiran ...20

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1. Alat Ukur

LAMPIRAN 2. Data Penunjang dan Data Pribadi Data Penunjang LAMPIRAN 3. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Sikap

LAMPIRAN 4. Hasil Data dan Tabulasi Silang

(11)

1

Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang sangat majemuk dilihat dari berbagai dimensi. Salah satu dimensi menonjol dari kemajemukan itu adalah keragaman etnis atau suku bangsa yang dimilikinya. Dalam sejarahnya, kelompok etnis tertentu biasanya mendiami atau tinggal di sebuah pulau sehingga tiap pulau seringkali identik dengan etnis tertentu. Keragaman etnis di satu sisi dipandang sebagai kekayaan dari suatu bangsa yang tidak ternilai harganya, tetapi di sisi lain kemajemukan tersebut memiliki potensi yang cukup besar bagi munculnya konflik antar etnis.

Etnis adalah tiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat yang dapat berwujud sebagai komunitas desa, kota, kelompok kekerabatan atau adat yang lain, bisa menampilkan suatu corak khas yang terutama terlihat oleh orang luar yang bukan warga masyarakat bersangkutan. Etnis juga merupakan suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan “kesatuan kebudayaan”, sedangkan kesadaran dan identitas tadi

(12)

akan ciri khas kelompok tersebut juga adanya kesamaan budaya, bahasa, agama perilaku atau ciri-ciri biologis (Wikipedia,

http://id.m.wikipedia.org/wiki/kelompok_etnik yang diakses pada tanggal 9

April 2013).

Di Indonesia, bahwa sejak kemerdekaan pada tahun 1945 hingga dasawarsa 1980an tidak kurang ada delapan perang dan pertentangan antar etnis telah terjadi (Ec. Amu Lanu A. Lingu) Pulau Kalimantan misalnya, khususnya wilayah Kalimantan Tengah yang sebagian wilayahnya merupakan tanah datar dan sebagian merupakan daerah berbukit dan bergunung. Disamping orang Dayak yang merupakan penduduk asli, ada pula keturunan pendatang yang mendiami wilayah tersebut yang terdiri dari orang Melayu, Banjar, Bugis, Jawa, Sunda, Madura, Arab dan Cina.

Dalam kenyataannya, hubungan antar etnis tidak selalu berjalan mulus dan tidak selalu terjadi kerjasama yang baik, ada kalanya mereka berbenturan (konflik) karena berbagai sebab, baik yang bersifat biasa maupun yang serius. Menurut Soemardjan (2001) dimana ada dua atau beberapa suku hidup sebagai tetangga dekat yang memiliki kebudayaan berbeda dan selama hubungan antar mereka itu terjalin maka tidak dapat dihindarkan akan tumbuhnya bibit-bibit konflik sosial dan konflik budaya.

(13)

3

Universitas Kristen Maranatha Konflik etnis adalah konflik yang terkait dengan permasalahan-permasalahan mendesak mengenai politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teritorial antara dua komunitas etnis atau lebih (Brown, 1997). Konflik budaya adalah pertarungan antara dua prinsip dan pandangan hidup tentang apa yang bisa membawa manusia pada kemakmuran (Anne Ahira,

http://AnneAhira.com/perang-sampit.htm, diakses pada tanggal 20 Oktober 2011).

Kota sampit merupakan salah satu kota yang ada di Propinsi Kalimantan Tengah. Sampit adalah ibukota Kotawaringin Timur dan terletak di tepi sungai Mentaya. Kota Sampit termasuk pusat perekonomian Kalimantan Tengah, sehingga banyak pendatang dari etnis lain yang mengadu nasib di kota ini dan salah satunya adalah etnis Madura. Dalam sejarah masyarakat dan masalah etnisitas di Kota Sampit hubungan antar etnis yang satu dengan etnis lain berlangsung dengan baik. Terjadi pembauran dan saling menghargai bahkan perkawinan antar etnis pun sudah biasa dijumpai dalam kehidupan masyarakat di Kota Sampit.

(14)

menyatakan bahwa masyarakat atau individu dimanapun di dunia ini selalu terjadi hubungan-hubungan yang tidak harmonis atau serasi atau bermusuhan antar kelompok warganya. Konsekuensi atas hubungan tersebut pada akhirnya tidak jarang menimbulkan pertentangan diantara sesama warga masyarakat yang menjurus kearah konflik sosial.

Konflik antar etnis di Kota Sampit khususnya antara masyarakat etnis Dayak dengan masyarakat etnis Madura, Arafat (1998) mencatat bahwa sejak 1993 sampai dengan 1997 telah terjadi setidaknya 10 kali konflik kekerasan. Dari sekian banyak konflik antar etnis yang terjadi di Kota Sampit, konflik antara masyarakat etnis Dayak dengan masyarakat etnis Madura yang paling mencekam dan menakutkan karena selalu memakan korban yang sangat banyak dan meninggalkan kesan traumatik bagi semua pihak. Konflik itu diikuti dengan tindak kekerasan yang melampaui batas nilai kemanusiaan berupa pembakaran rumah dan harta milik, pengusiran tempat tinggal, bahkan pemenggalan kepala korban diikuti dengan memakan daging dan meminum darahnya hidup-hidup (Alqadrie dalam Andasputra, 1999; Petebang et al; 2000; Bahari, 2005).

(15)

5

Universitas Kristen Maranatha waktu, menjadikan konflik laten ini cukup kuat untuk meledak menjadi konflik manifest (terbuka) yang diwujudkan dengan permusuhan disertai kekerasan yang tidak terkendalikan.

Menurut Bahari (2005) konflik yang dialami oleh masyarakat etnis Dayak dengan masyarakat etnis Madura itu bermacam-macam, misalnya pihak pemerintah termasuk aparat keamanan menduga terjadinya konflik sosial dengan kekerasan antar etnis itu disebabkan oleh adanya dalang yang menggunakan unsur SARA sebagai pemicunya. Tujuannya adalah untuk mengacaukan stabilitas politik nasional dan mengganggu dinamika pembangunan. Kesenjangan ekonomi dan budaya, konflik yang muncul sebagai reaksi emosional masyarakat akibat dari ketidakmampuan pemerintah menyelesaikan konflik sebelumnya. Hal tersebutlah sehingga sangat mudahnya masyarakat etnis Dayak dengan masyarakat etnis Madura melakukan pertikaian.

(16)

kemarahan komunal (Alif, 1993). Keadaan ini yang membuat masyarakat etnis Dayak selalu tertinggal dalam segala aspek kehidupan.

Masyarakat etnis Madura yang datang ke Kota Sampit dengan maksud untuk mencari lahan-lahan yang lebih subur dibandingkan dengan daerah asalnya di pulau Madura (Achadiyat, 1989). Karakteristik dan kepribadian masyarakat etnis Madura ini antara lain berani, kuat secara fisik, kerja keras, ulet, percaya diri, sederhana, hemat, tidak memilih jenis pekerjaan, bersedia diupah rendah dan patuh pada pimpinan tradisional dan agama (Alqadrie, 1999). Disamping karakter tersebut, terdapat beberapa karakter miring yaitu keras kepala, mau menang sendiri, cenderung memaksa kehendak, sombong, menyelesaikan masalah dengan kekerasan, kurang tertarik pada tradisi dan adat istiadat setempat. Dengan karakter tersebut masyarakat etnis Madura ini cenderung tidak mematuhi prinsip budaya dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

(17)

7

Universitas Kristen Maranatha terjadi pengeroyokan oleh sekelompok orang Madura terhadap seorang warga Dayak bernama Sendung di sebuah lokalisasi kilometer 19 Katingan. Sendung tewas dengan kondisi mengenaskan. Merasa marah, suku Dayak akhirnya melakukan sweeping terhadap suku Madura, kali ini kuantitas korban jauh lebih besar daripada tahun 1999.

Keadaanpun mulai mereda, namun hal itu hanya berselang selama empat bulan. Tepatnya pada tanggal 18 Februari 2001, pertikaian dengan skala besar pun terjadi di Kota Sampit. Pada Minggu subuh masyarakat etnis Madura melakukan pembalasan dengan mengepung rumah Sehan yang bertempat tinggal di Kelurahan Ketapang dan Dahur di Kelurahan Mentawa Baru Hilir. Kelurahan Ketapang dan Kelurahan Mentawa Hilir merupakan pusat lokasi dimana terjadinya konflik antar etnis di Kota Sampit. Keduanya merupakan masyarakat etnis Dayak. Sehan adalah purnawirawan TNI pada saat itu. Pengepungan itu berakhir dengan dibakarnya rumah Sehan dan Dahur, keduanya (beserta keluarga) tewas terbakar. Total sepuluh orang tewas pada pagi itu. Konflik pun pecah, pembakaran, pembantaian terjadi sepanjang hari itu. Polres dan TNI bekerjasama mengungsikan masyarakat etnis Dayak ke Palangkaraya.

(18)

masyarakat etnis Madurapun diungsikan. Jumlah total warga yang mengungsi

mencapai 57.000 jiwa (Herlan Artono,

http://sosbud.kompasiana.com/mengenang-kerusuhan-sampit 2001 diakses

pada tanggal 19 September 2012).

Permasalahan-permasalahan tersebut yang menjadi pemicu dan penyebab utama konflik antar masyarakat etnis Dayak dan masyarakat etnis Madura di Kota Sampit. Hal itu memberikan dampak yang cukup besar juga bagi wilayah-wilayah di sekitarnya antara lain adalah kota Palangkaraya. Hal yang ditunjukkan oleh masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura memang sangat ekstrim sehingga masyarakat etnis Dayak berupaya untuk mengusir masyarakat etnis Madura dari bumi Kalimantan Tengah dan masyarakat etnis Dayak tidak memberikan sedikitpun peluang bagi masyarakat etnis Madura untuk kembali ke Kota Sampit (Bahing Djimat, LMMDD-KT Jilid I 2001).

(19)

9

Universitas Kristen Maranatha memberikan perlindungan kepada masyarakat etnis Madura apabila suatu saat nanti mereka kembali ke Kalimantan Tengah dan mengutuk sekeras-kerasnya bahwa tindakan pengusiran terhadap masyarakat etnis Madura keluar dari Kota Sampit merupakan tindakan yang disengaja untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Cara seperti itu bukan ciri moral bangsa Indonesia yang bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika (Usop, LMMDD-KT Jilid II 2001).

(20)

Sebanyak 40% responden berpendapat bahwa pada saat terjadinya konflik mereka begitu membenci masyarakat etnis Madura karena menurut mereka masyarakat etnis Madura yang pertama kali menyebabkan permasalahan dengan masyarakat etnis Dayak dan tidak menyadari akan keberadaan mereka di Kota Sampit, tetapi saat ini mereka berpikir bahwa hal itu hanyalah sebuah masa lalu yang tidak perlu kembali diungkit dan dipermasalahkan. Masyarakat etnis Dayak percaya bahwa masyarakat etnis Madura tidak memilih jenis pekerjaan apapun dan pekerja keras sehingga tidak heran jika masyarakat etnis Madura akan lebih sukses dibandingkan dengan masyarakat etnis Dayak. Masyarakat etnis Dayak menyukai rasa percaya diri yang dimiliki oleh masyarakat etnis Madura sehingga mampu juga memotivasi masyarakat etnis Dayak yang ada di Kota Sampit untuk dapat lebih memajukan kota Sampit agar tidak terjadi konflik kembali di Kota Sampit.

(21)

11

Universitas Kristen Maranatha 1.2Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah pada penelitian ini adalah bagaimana sikap masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura pasca konflik yang terjadi di Kota Sampit.

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1. Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran dari sikap masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura pasca konflik yang terjadi di Kota Sampit.

1.3.2. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap masyarakat etnis Dayak yang ada di Kota Sampit terhadap masyarakat etnis Madura pasca konflik yang terjadi di Kota Sampit berdasarkan pada komponen-komponen sikap yaitu kognitif, afektif dan konatif.

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoretis

(22)

b. Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain bila ingin meneliti lebih lanjut mengenai hal-hal yang berhubungan dengan sikap masyarakat etnis Dayak terhadap kembalinya masyarakat etnis Madura pasca konflik yang terjadi di Kota Sampit.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Adapun kegunaan secara praktis dari hasil penelitian sikap etnik Dayak terhadap etnik Madura pasca konflik diharapkan untuk :

a. Memberikan informasi kepada masyarakat etnis Dayak di Kota Sampit mengenai sikap mereka terhadap masyarakat etnis Madura sebagai bahan evaluasi mengenai permasalahan dan dampak yang ditimbulkan oleh konflik antara kedua etnis.

b. Memberikan gambaran kepada Lembaga Adat Dayak di Propinsi Kalimantan Tengah untuk mengetahui hal-hal yang bisa memunculkan kembalinya konflik antar masyarakat etnis Madura di Kalimantan Tengah khususnya Kota Sampit.

(23)

13

Universitas Kristen Maranatha 1. 5 Kerangka Pemikiran

Menurut Soerjono Soekanto, 2002 mendefenisikan konflik adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan. Konflik terjadi ketika tujuan dari masyarakatnya tidak sejalan (Fisher, 2001).

Konflik bisa terjadi dalam berbagai situasi, konflik yang terjadi antar individu atau konflik antar kelompok. Konflik yang terjadi tersebut awalnya hanya bersifat tertutup (laten) namun apabila tidak dicari penyelesaian dengan cepat akan mengubah konflik itu menjadi konflik yang dapat secara bertahap menjadi konflik yang terbuka (manifest) dan berkepanjangan sehingga tidak jarang akan menimbulkan pertikaian dengan kekerasan menggunakan senjata tajam (Fisher, 2001).

(24)

bertindak untuk mendukung atau menentang suatu objek sosial (Krech, Crutchfield & Ballachey, 1986).

Krech, Crutchfield & Ballachey (1986), menjelaskan dalam sikap terdiri atas tiga komponen yaitu komponen kognitif, afektif dan konatif. Komponen kognitif dari suatu sikap terdiri dari beliefs masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura. Hal yang paling penting dalam komponen kognitif sikap adalah aspek evaluatif, yang meliputi kualitas-kualitas favorable (menyenangkan) atau unfavorable (tidak menyenangkan), baik atau buruk berdasarkan penilaian individu dan beliefs individu tentang cara memberikan respon terhadap yang sesuai atau tidak sesuai.

Masyarakat etnis Dayak percaya bahwa kebiasaan masyarakat etnis Madura yang selalu membawa senjata tajam di tempat umum sekalipun dia hanya bertamu, akan dianggap sebagai ancaman untuk berkelahi sehingga menyebabkan kualitas unfavorable pada masyarakat etnis Madura (Djimat, LMMDD-KT Jilid I 2001).

(25)

15

Universitas Kristen Maranatha masyarakat etnis Dayak tempati dari etnis pendatang yaitu masyarakat etnis Madura (Djimat, LMMDD-KT Jilid I 2001).

Komponen konatif berkenaan dengan keinginan individu untuk melakukan perbuatan sesuai dengan keinginannya. Manifestasi sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau subyek tersebut. Suparlan (2000) masyarakat etnis dayak menolak masyarakat etnis Madura yang ada di Kota Sampit namun masyarakat etnis Madura ingin terus berada di Kota Sampit sehingga masyarakat etnis Dayak melakukan tindakan penolakan dengan membuat kerusuhan di Kota Sampit.

Pembentukan sikap yang ada pada masyarakat etnis Dayak ini juga dipengaruhi oleh faktor ekternal dan faktor internal. Faktor eksternal yaitu keluarga, teman-teman dan masyarakat (media massa) dan faktor internal yaitu pengalaman, motivasi, insentif dan kepribadian yang dimiliki masyarakat etnis Dayak terhadap etnis Madura di Kota Sampit (McWalters, 1990).

(26)

Sikap masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura dapat ditentukan oleh motivasi. Masyarakat etnis Dayak memiliki karakteristik yang kurang memiliki jiwa untuk berkompetisi sehingga ketika melihat masyarakat etnis Madura yang pekerja keras bahkan lebih sukses dibandingkan dengan masyarakat etnis Dayak di Kota Sampit, masyarakat etnis Dayak tidak menerima hal itu sehingga memotivasi masyarakat etnis Dayak untuk mengusir masyarakat etnis Madura dari Kota Sampit (Alif, 1993).

Masyarakat etnis Dayak juga dapat mempertahankan sikapnya jika adanya faktor insentif. Masyarakat etnis Dayak melihat masyarakat etnis Madura yang ada di Kota Sampit memang sukses khususnya dalam hal perekonomian sehingga masyarakat etnis Dayak didorong untuk mengusir masyarakat etnis Madura dari kota Sampit agar lahan, rumah dan perdagangan yang dulunya dimiliki oleh masyarakat etnis Madura menjadi milik masyarakat etnis Dayak (Usop, LMMDDKT Jilid II 2001).

(27)

17

Universitas Kristen Maranatha mendapatkan atau mempertahankan sesuatu mereka cenderung lemah, kurang ingin berusaha. Hal ini tentu sangat berbeda dengan kebudayaan yang ada pada masyarakat etnis Madura sehingga menyebabkan konflik terjadi di Kota Sampit (Amu Lanu A. Lingu, 2001).

Faktor eksternal yaitu berasal dari keluarga, teman-teman dan masyarakat (media massa). Keluarga membentuk peranan penting dari sikap individu. Dalam setiap keluarga masyarakat etnis Dayak sudah diajarkan mengenai kebudayaan untuk saling menghormati dan tolong-menolong antar sesama manusia khususnya sesama etnis Dayak. Dalam keluarga juga mengajarkan agar tetap mengutamakan tradisi nenek moyang, sehingga apabila ada salah satu masyarakat etnis Dayak yang menjadi korban dan disakiti oleh masyarakat etnis Madura, maka mereka tidak akan segan untuk membalaskan perbuatan masyarakat etnis Madura tersebut (Amu Lanu A lingu, 2001).

(28)

mereka diperlakukan tidak baik oleh masyarakat etnis Madura, masyarakat etnis Dayak akan melakukan pembalasan dendam dengan membawa teman-teman masyarakat etnis Madura yang lainnya sehingga membuat konflik semakin besar (Djimat, LMMDD-KT Jilid I 2001).

Faktor eksternal yang terakhir adalah berasal dari masyarakat (media massa) seperti koran, berita di televisi dan internet. Pengaruh dari media massa akan sangat luas sekali sehingga masyarakat harus sangat waspada akan hal ini (McWalters, 1990). Hal ini terbukti dengan adanya pengaruh dari media massa, maka emosi dari masyarakat etnis Dayak yang ada di Sampit dibuat semakin membenci masyarakat etnis Madura bahkan semakin meluas hingga wilayah lainnya seperti di Palangkaraya yang mengubah sikap masyarakat etnis Dayak yang pada awalnya bisa saja positif menjadi negatif (Djimat, LMMDD-KT Jilid I 2001).

(29)

19

(30)

Bagan Kerangka Pemikiran

Bagan 1. 1 Skema Kerangka Pemikiran Konflik antar

masyarakat etnis Dayak dan etnis Madura di Kota Sampit

Sikap masyarakat Etnis Dayak Terhadap masyarakat Etnis Madura Faktor yang mempengaruhi

Internal : Eksternal : 1. Pengalaman 1. Keluarga 2. Motivasi 2. Teman-teman

3. Insentif 3.Masyarakat (media massa) 4. Kepribadian

Komponen : 1. Kognitif 2. Afektif 3. Konatif

Positif

(31)

21

Universitas Kristen Maranatha 1.6 Asumsi

1. Konflik yang terjadi antar masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura yang akan menentukan sikap masyarakat etnis Dayak terhadap etnis Madura yang ada di Kota Sampit.

2. Sikap terdiri dari tiga komponen yaitu kognitif, afektif dan konatif. Ketiga komponen ini akan menghasilkan sikap dari masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura.

3. Sikap positif atau sikap negatif yang dimunculkan oleh masyarakat etnis Dayak terhadap etnis Madura memiliki faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu terdiri faktor internal yaitu pengalaman, motivasi, insentif, kepribadian dan faktor eksternal yaitu keluarga, teman-teman, masyarakat (media masaa).

(32)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Dari hasil analisa dan pengolahan data pada penelitian tentang “Sikap Masyarakat etnik Dayak Terhadap Masyarakat Etnik Madura di Kota Sampit (Sikap etnis pasca konflik di Desa “X” dan Desa “Y” di Kota Sampit)”, maka

dapat disimpulkan sebagai berikut :

-Masyarakat etnis Dayak memiliki sikap positif terhadap masyarakat etnis Madura. Masyarakat etnis Dayak yang menunjukan sikap positif yang dimiliki oleh komponen kognitif. Mereka memiliki keyakinan bahwa masyarakat etnis Madura sudah mampu untuk menghormati kebudayaan dari masyarakat etnis Dayak.

-Masyarakat etnis Dayak yang menunjukan sikap negatif terhadap masyarakat etnis Madura dimiliki oleh komponen afektif. Masyarakat etnis Dayak sudah mampu menerima masyarakat etnis Madura di Kota Sampit, namun perasaan tidak menyukai dengan tulus masih ada. -Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap masyarakat etnis Dayak

(33)

75

Universitas Kristen Maranatha adalah faktor pengalaman, keluarga, kepribadian dan insentif sedangkan yang menunjukan sikap negatif adalah faktor motivasi dan teman-teman. 5.2 Saran

5.3 5.2.1 Saran Teoretis

- Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan untuk memperkaya ilmu Psikologi khususnya pada bidang Psikologi Sosial dengan melakukan penelitian lanjutan mengenai penambahan responden penelitian dan lokasi penelitiannya pada masyarakat etnis Dayak yang ada di Kota Sampit.

- Peneliti selanjutnya diajukan agar melakukan penelitian dengan menggali lebih jauh faktor-faktor yang mempengaruhi sikap masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura di Kota Sampit selain dari faktor yang sudah diteliti oleh peneliti.

- Peneliti selanjutnya juga dapat melakukan penelitian dengan secara khusus menetapkan responden yang terlibat langsung maupun yang tidak terlibat langsung dalam konflik.

Diskusi

(34)

- Jumlah responden yang diteliti masih kurang mampu menggali sikap masyarakat etnis Dayak terhadap masyarakat etnis Madura.

- Penambahan sub judul pada judul mengenai lokasi penelitian, agar lokasi pengambilan sampel penelitian menjadi lebih spesifik.

5.2.2 Saran Praktis

- Bagi masyarakat etnis Dayak yang ada di Kota Sampit agar dapat terus mempertahankan sikap positif terhadap masyarakat etnis Madura dengan cara menjaga kerukunan, dapat saling memahami budaya masyarakat etnis Madura dan mampu menerima masyarakat etnis Madura apa-adanya.

(35)

77

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Achadiyat, Anto. 1989. Hubungan Antar Golongan Etnik di Indonesia: Studi Kasus di Kalimantan Barat, dalam: Interaksi Antar Etnik Di Berbagai Provinsi di Indonesia, Dirjen Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Proyek IPNB, Jakarta:Depdikbud.

Alif, M.J. Akien. 1993.Kehidupan Sosial Ekonomi Orang Dayak, Dalam: Kalimantan Review, Nomor 03 Tahun II, Januari-April, Pontianak:LP3ES-Institut of Dayakology Research Research and Development.

Collins, T. 2003. Komentar Luar Tentang Kerusuhan Tidak Memuaskan: Karena Kekurangan Sumber Informasi Ilmiah, Harian Equator, Pontianak: Terbitan Sabtu, 15 Maret 2003.

Fisher, 2000. Mengelola Konflik. Keterampilan dan Strategi Untuk Bertindak. London, New York : Zed Books Ltd.

Gulo, W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. Grasindo.

Koentjaraningrat, 1985. Masyarakat Desa Di Indonesia Masa Kini, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.

Krech, Crutchfield, Ballanchey. 1986. Individual in Society: A Textbook of Social Psychology. Auckland: McGraw-Hill Book Company.

Kumar, Ranjit. 2010. Research Methodology : a step-by-step guide for beginners third edition. New Delhi : SAGE Publication Inc.

Lingu, Amu Lanu. A. 2001. Menjawab Tantangan Terjadinya kerusuhan di Kalimantan Tengah. Majelis Adat Dayak Kalteng. Palangkaraya : PT. Tunjung Nyaho Mitra Jaya.

McWalters, Malcolm. 1990. Understanding Psychology. Australia: McGraw-Hill Book Company.

Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

(36)

Ruslikan, Konflik Dayak-Madura di Kalimantan Tengah: Melacak Akar Mssalah dan

Tawaran Solusi.” Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik. TahunXIV, No

4, Oktober 2001, 1-12.

Santrock, John W. 2002. Edisi kelima Life-Span Development Jilid 2. Jakarta : Erlangga

(37)

79

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR RUJUKAN

Arafat.1998.Konflik Dayak–Madura di Kalimantan Barat, Yogyakarta: Tesis Program Pascasarjana UGM.

Arkanudin. 2005. Perubahan Sosial Masyarakat Peladang Berpindah, Studi Kasus Pada Orang Dayak Ribun yang Berada di Sekitar PIR-Bun Kelapa Sawit Parindu Sanggau, Bandung: Disertasi Program Pascasarjana Universitas Padjajaran.

Anne Ahira, Perang Sampit. (http://anneAhira.com/, diakses 20 Oktober 2011). Djimat, Bahing dkk. LMMDD-KT. Jilid I., 2001. Konflik Etnik Sampit: Kronologi,

Kesepakatan Aspirasi Masyarakat, Analisis, dan Saran. Palangkaraya: PT. Tunjung Nyaho Mitra Jaya.

Herlan Artono, Mengenang Kerusuhan Sampit. 21 Januari 2001 (http://sosbud.kompasiana.com, diakses pada tanggal 19 September 2012). Jilly, 2008. Studi Penelitian mengenai Sikap Terhadap Metode Mengajar Ceramah

Dosen pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas “X” Bandung.

Metodologi Penelitian Lanjutan. Bandung : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

Subhari, Hardian. 2010. Studi Deskriptif Mengenai Sikap Terhadap Perilaku Fanatik Pada Suporter Kesebelasan Persib Bandung. Skripsi. Bandung : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

Usop, dkk. LMMDD-KT. Jilid II., 2001. Usulan Penyelesaian Jalan Tengah Is-lah/Rekonsiliasi Dari Masyarakat Daerah Kalimantan Tengah. Palangkaraya: LMMDD-KT

Lingu, Amu Lanu A, 2001. Majelis Adat Dayak Kalimantan Tengah. Menjawab Tantangan Terjadinya Kerusuhan di Kalimantan Tengah. Palangkaraya : Universitas Palangkara Raya.

Referensi

Dokumen terkait

Pasca pemberitaan konflik sengketa wilayah antara Indonesia dengan Malaysia di media massa banyak terjadi demonstrasi, masyarakat kecewa dan marah karena sikap Malaysia yang

1. Secara teoritis hasil penelitian ini mendeksripsikan stereotip budaya Melayu malas dan etos kerja Etnis Melayu sebagai wujud dari keberagaman etnis yang ada di

komitmen berkelanjutan yang di harapkan oleh masyarakat dayak kenyah dalam pembuatan kerajinan manik adalah melakukan Promosi wisata budaya pampang yang mengenalkan

Sikap tidak suka menjadi karyawan yang dimiliki oleh masyarakat etnis Tionghoa mempunyai hubungan sangat erat dengan budaya kerja etnis Tionghoa dalam

Masyarakat Tuban (Studi Mengenai Kohesivitas Sosial Etnis Jawa.. ADLN Perpustakaan

Inti dari teori tersebut untuk menetukan opini yang muncul dari masyarakat Surabaya setelah menerima, memperhatikan, dan mengerti stimulus berupa pesan yaitu berita tentang

Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa sikap 100 responden masyarakat Surabaya mengenai pemberitaan “Penyebaran dan Penggunaan Vaksin Palsu Terhadap Balita” di

ii PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING Judul Skripsi : Masyarakat Jawa Di Tanah Mandar Studi Etnis Sosial Budaya Islam Di Desa Sumberjo Kecamatan Wonomulyo Nama Mahasiswa : Evi