• Tidak ada hasil yang ditemukan

Remote Control Inframerah Dengan Kode Keamanan Yang Berotasi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Remote Control Inframerah Dengan Kode Keamanan Yang Berotasi."

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

REMOTE CONTROL INFRARED

DENGAN KODE KEAMANAN YANG BEROTASI

Disusun Oleh :

Nama : Yoshua Wibawa Chahyadi Nrp : 0222051

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Kristen Maranatha,

Jl. Prof.Drg.Suria Sumantri, MPH no.65, Bandung, Indonesia.

Email : [email protected]

ABSTRAK

Sekarang ini media inframerah banyak digunakan untuk remote control.

Pada umumnya remote control inframerah yang digunakan tidak dilengkapi

dengan keamanan, pada tugas akhir ini dirancang suatu remote control

inframerah yang dilengkapi dengan kode keamanan yang berotasi.

Sinyal inframerah yang dikirim merupakan sinyal kendali yang terdiri dari

start bitdan data kendali. Data kendali yang dirancang ada 20, terdiri dari 10 data

kendali OFF dan 10 data kendali ON. Start bityang dirancang ada 3 jenis dengan

lebar yang berbeda - beda. Data kendali danstart bitakan berotasi satu kali setiap

pengendalian yang berhasil. Data kendali yang sama akan bisa digunakan kembali

setelah 9 kali pengendalian yang berhasil. Untuk start bit, start bit yang sama

akan bisa digunakan kembali setelah 3 kali pengendalian yang berhasil.

Dari hasil uji coba diperoleh bahwa remote control inframerah dengan

kode keamanan yang berotasi dapat berfungsi dengan baik. Jarak maksimal yang

masih bisa digunakan dengan baik untuk remote control yang dirancang adalah

7,6 m. Pada jarak 50 cm, sudut maksimal yang masih bisa digunakan dengan baik

adalah 54o, dan pada jarak 5 m sudut maksimal yang masih bisa digunakan

dengan baik adalah 35odengan kondisi tanpa penghalang.

Kata Kunci : IR – 8510, Pengendalian Peralatan Listrik, Mikrokontroler

(2)

ii Universitas Kristen Maranatha INFRARED REMOTE CONTROL WITH ROLLING SECURITY CODE

Composed by :

Name : Yoshua Wibawa Chahyadi Nrp : 0222051

Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, Maranatha

Christian University,

Jl. Prof.Drg.Suria Sumantri, MPH no.65, Bandung, Indonesia.

Email : [email protected]

ABSTRACT

At present infrared media has been widely used for remote control.

Generally, infrared remote control that commonly used is not equipped with any

security system, in this final project is designed an infrared remote control that

provided with a rolling security code.

Infrared signal that has been sent by is a control signal which consists of

start bit and control data. There are 20 control data that are designed, which

consists of 10 OFF control data and 10 ON control data. Start bit that was

designed have 3 different types of width. Control data and the start bit will rotate

once every successful controlling. The same control data can be used again after 9

times successful controlling. And the same start bit can be used again after 3 times

successful controlling.

The test results showed that the realized infrared remote control with

rolling security code can function properly. The maximum distance that can still

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR GAMBAR... ix

DAFTAR LAMPIRAN... xi

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah... 1

I.2 Perumusan Masalah ... 1

I.3 Tujuan ... 2

I.4 Pembatasan Masalah ... 2

I.5 Sistematika Penulisan ... 2

BAB II LANDASAN TEORI II.1 Mikrokontroler AVR ... 4

II.2 Cahaya Infra-Red... 12

II.2.1 Modul Infra-Red ... 13

II.3 Transceiver IR-8510 ... 14

II.3.1 Deskripsi Penerima IR-8510 ... 14

II.3.2 Kelebihan Tranceiver IR-8510 ... 15

II.3.3 Karakteristik Tranceiver IR-8510 ... 15

(4)

vi Universitas Kristen Maranatha

II.4 Format Data ... 20

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI III.1 Perancangan dan Realisasi Pengendali ... 22

III.1.1 Fungsi Port Input/Output Mikrokontroler pada Perancangan Hardware ... 23

III.1.2 Diagram Blok ReceiverIR8510 ... 24

III.2 Perancangan dan Realisasi Perangkat Lunak ... 26

III.2.1 Diagram Alir Pengirim... 29

III.2.2 Diagram Alir Penerima ... 31

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA IV.1 Pengujian Bentuk Sinyal ... 33

IV.2 Pengujian Jarak Pada Lokasi indoor... 39

IV.3 Pengujian Sudut Kerja Pada Lokasi indoor ... 47

IV.4 Analisis ... 59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan ... 60

V.2 Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA... 61

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Pengendalian Lampu LED Berdasarkan Tombol yang Ditekan pada Tranmitter Remote Control... 27

Tabel IV.1 Data Kendali yang Digunakan dan Kategori Perintahnya .. 38

Tabel IV.2 Hasil Pengujian Perintah On dan Off dan Rotasi Start Bit dan Data ... 39

Tabel IV.3 Hasil Pengujian pada Jarak 2m ... 41

Tabel IV.4 Hasil Pengujian pada Jarak 3m ... 42

Tabel IV.5 Hasil Pengujian pada Jarak 4m ... 43

Tabel IV.6 Hasil Pengujian pada Jarak 6,2m ... 43

Tabel IV.7 Hasil Pengujian pada Jarak 6,9m ... 44

Tabel IV.8 Hasil Pengujian pada Jarak 7,2m ... 45

Tabel IV.9 Hasil Pengujian pada Jarak 7,6m ... 45

Tabel IV.10 Hasil Pengujian pada Jarak 7,9m ... 46

Tabel IV.11 Hasil Pengujian pada Jarak 8m ... 47

Tabel IV.12 Hasil Percobaan pada x = 50cm dengan Sudut 10° ... 48

Tabel IV.13 Hasil Percobaan pada x = 50cm dengan Sudut 20° ... 49

Tabel IV.14 Hasil Percobaan pada x = 50cm dengan Sudut 30° ... 50

Tabel IV.15 Hasil Percobaan pada x = 50cm dengan Sudut 40° ... 50

Tabel IV.16 Hasil Percobaan pada x = 50cm dengan Sudut 50° ... 51

Tabel IV.17 Hasil Percobaan pada x = 50cm dengan Sudut 54° ... 52

Tabel IV.18 Hasil Percobaan pada x = 50cm dengan Sudut 55° ... 52

Tabel IV.19 Hasil Percobaan pada x = 5 m dengan Sudut 10° ... 53

Tabel IV.20 Hasil Percobaan pada x = 5 m dengan Sudut 20° ... 54

(6)

viii Universitas Kristen Maranatha

Tabel IV.22 Hasil Percobaan pada x = 5 m dengan Sudut 35° ... 55

Tabel IV.23 Hasil Percobaan pada x = 5 m dengan Sudut 36° ... 56

Tabel IV.24 Hasil Percobaan pada Jarak 5,3 m ... 57

Tabel IV.25 Hasil Percobaan pada Jarak 5,4 m ... 58

(7)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Konfigurasi Pin ATmega16 ... 7

Gambar 2.2 Diagram Blok ATmega16 ... 9

Gambar 2.3 General Purpose Register ATmega16 ... 10

Gambar 2.4 Peta Memori Program ATmega16 ... 11

Gambar 2.5 Peta Memori Data ... 11

Gambar 2.6 Sistem Penerima... 13

Gambar 2.7 Modul Penerima Infrared... 14

Gambar 2.8 Konfigurasi IR-8510 ... 14

Gambar 2.9 Daerah Sudut Kerja Receiver ... 16

Gambar 2.10 Output Sinyal Transmitter dan Output Pulse of Device.... 16

Gambar 2.11 Blok Diagram Pemancar... 16

Gambar 2.12 Rangkaian Modulator ... 17

Gambar 2.13 Saat Pin 6 IC 74HC132 Logic 1 atau idle ... 17

Gambar 2.14 Saat Pin 6 IC 74HC132Logic 0 ... 18

Gambar 2.15 Bagian Driver LED Infrared ... 20

Gambar 2.16 Timing Diagram Pengirim Inframerah... 20

Gambar 2.17 Space Width Coded Signal ... 21

Gambar 2.18 Bentuk Sinyal yang Dikirim dan Diterima dari Remote ... 21

Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem Pengendalian Lampu LED ... 22

Gambar 3.2 Diagram Blok Receiver IR-8510 ... 24

Gambar 3.3 Rangkaian Skematik Pengirim Remote Control Infrared.. 25

Gambar 3.4 Rangkaian Skematik Penerima Remote Control Infrared . 26 Gambar 3.5 Diagram Alir Pengirim ... 27

Gambar 3.6 Diagram Alir Penerima... 28

Gambar 3.7 Space Coded Signal... 31

(8)

x Universitas Kristen Maranatha Transmitter ... 33

Gambar 4.2 Bentuk Sinyal yang Dikirim oleh Transmitter... 34 Gambar 4.3 Bentuk sinyal yang diterima olehreceiver... 35 Gambar 4.4 Gambar Bentuk Sinyal pada Oscilloscope dengan startbit

3,6 ms ... 36 Gambar 4.5 Tampilan pada Layar LCD ... 36

Gambar 4.6 Gambar Bentuk Sinyal pada Oscilloscope dengan startbit

4,8 ms ... 37 Gambar 4.7 Bentuk gelombang tegangan LED inframerah pada

IR-8510... 38 Gambar 4.8 Posisi Pengirim dan Penerima untuk Uji Coba Sudut

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

LAMPIRAN A : PROGRAM PADA PENGONTROL MIKRO

(10)

LAMPIRAN A

(11)
(12)

A - 1

/*****************************************************

This program was produced by the

CodeWizardAVR V1.25.3 Standard

Automatic Program Generator

© Copyright 1998-2007 Pavel Haiduc, HP InfoTech s.r.l.

http://www.hpinfotech.com

// Alphanumeric LCD Module functions

#asm

.equ __lcd_port=0x15 ;PORTC

#endasm

(13)

unsigned int n,indexON,indexOFF,start,e,awal,nostart;

// External Interrupt 2 service routine

interrupt [EXT_INT2] void ext_int2_isr(void)

{

// Place your code here

if (error==1)

sprintf(startbitLCD,"Start=%d",start);

sprintf(dataLCD,"DataON=%d",dataON[flagON]);

lcd_clear();

lcd_gotoxy(0,0);

lcd_puts(startbitLCD);

lcd_gotoxy(0,1);

lcd_puts(dataLCD);

if(indexON==10)indexON=0;

}

(14)

A - 3 {

flagOFF=indexOFF;

sprintf(startbitLCD,"Start=%d",start);

sprintf(dataLCD,"DataOFF=%d",dataOFF[flagOFF]);

lcd_clear();

sprintf(startbitLCD,"Start=%d",start);

sprintf(dataLCD,"DataON=%d",dataON[flagON]);

lcd_clear();

lcd_gotoxy(0,0);

lcd_puts(startbitLCD);

(15)

lcd_puts(dataLCD);

if(indexON==10)indexON=0;

}

sprintf(dataLCD,"DataOFF=%d",dataOFF[flagOFF]);

lcd_clear();

// Declare your global variables here

unsigned int

(16)
(17)
(18)
(19)

data10=data9/2;

// Declare your local variables here

// Input/Output Ports initialization

// Port A initialization

// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In

Func0=In

// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T

PORTA=0x33;

DDRA=0x02;

// Port B initialization

// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In

Func0=In

// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T

PORTB=0x45;

DDRB=0x00;

// Port C initialization

// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In

Func0=In

// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T

PORTC=0x00;

DDRC=0x00;

(20)

A - 9

// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In

Func0=In

// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T

PORTD=0x00;

DDRD=0x00;

// Timer/Counter 0 initialization

// Clock source: System Clock

// Clock value: Timer 0 Stopped

// Mode: Normal top=FFh

// OC0 output: Disconnected

TCCR0=0x00;

TCNT0=0x00;

OCR0=0x00;

// Timer/Counter 1 initialization

// Clock source: System Clock

// Clock value: Timer 1 Stopped

// Mode: Normal top=FFFFh

// OC1A output: Discon.

// OC1B output: Discon.

// Noise Canceler: Off

// Input Capture on Falling Edge

// Timer 1 Overflow Interrupt: Off

// Input Capture Interrupt: Off

// Compare A Match Interrupt: Off

// Compare B Match Interrupt: Off

TCCR1A=0x00;

TCCR1B=0x00;

TCNT1H=0x00;

TCNT1L=0x00;

(21)

ICR1L=0x00;

OCR1AH=0x00;

OCR1AL=0x00;

OCR1BH=0x00;

OCR1BL=0x00;

// Timer/Counter 2 initialization

// Clock source: System Clock

// Clock value: Timer 2 Stopped

// Mode: Normal top=FFh

// OC2 output: Disconnected

ASSR=0x00;

TCCR2=0x00;

TCNT2=0x00;

OCR2=0x00;

// External Interrupt(s) initialization

// INT0: Off

// Timer(s)/Counter(s) Interrupt(s) initialization

TIMSK=0x00;

// Analog Comparator initialization

// Analog Comparator: Off

// Analog Comparator Input Capture by Timer/Counter 1: Off

(22)

A - 11 SFIOR=0x00;

// LCD module initialization

(23)
(24)
(25)
(26)

A - 15

if ((start>=24 && start<=27)||(start>=36 && start<=39)||(start>=48 &&

(27)
(28)
(29)

while (PINA.0==0)

datar1=((deteksi1/5)-1)*1;//data hasil deteksi pulsa dibagi 5 dikurangi 1

datar2=((deteksi2/5)-1)*2;//jadi jika datanya 6 maka outputnya akan = 0

datar3=((deteksi3/5)-1)*4;//sedangkan jika datanya 12 maka outputnya akan =

1

datar4=((deteksi4/5)-1)*8;//lalu hasil tersebut dikalikan dengan nilai2 bit

datar5=((deteksi5/5)-1)*16;

datar6=((deteksi6/5)-1)*32;

datar7=((deteksi7/5)-1)*64;

datar8=((deteksi8/5)-1)*128;

datar9=((deteksi9/5)-1)*256;

datar10=((deteksi10/5)-1)*512;

datar11=((deteksi11/5)-1)*1024;

datar12=((deteksi12/5)-1)*2048;

(30)

A - 19

if(start>=24 && start<=27){start=24;nostartR=0;}

if(start>=36 && start<=39){start=36;nostartR=1;}

if(start>=48 && start<=51){start=48;nostartR=2;}

if(flag==1)

{

flag=0;

if(index1==dataON[indexON] && nostart==nostartR)

{

if(e==1){e=0;goto ulang;}

sprintf(startbitLCD,"Start=%d",start);

sprintf(dataLCD,"DataON=%d",dataON[indexON]);

lcd_clear();

{nostart=nostart+1;indexON=indexON+1;flagON=indexON;}

if (indexON==10)indexON=0;

(31)

{

sprintf(startbitLCD,"Start=%d",start);

sprintf(dataLCD,"DataOFF=%d",dataOFF[indexOFF]);

lcd_clear();

{nostart=nostart+1;indexOFF=indexOFF+1;flagOFF=indexOFF;}

(32)
(33)

/*****************************************************

This program was produced by the

CodeWizardAVR V1.25.3 Standard

Automatic Program Generator

© Copyright 1998-2007 Pavel Haiduc, HP InfoTech s.r.l.

http://www.hpinfotech.com

// Alphanumeric LCD Module functions

#asm

(34)

A - 22 #endasm

#include <lcd.h>

// Declare your global variables here

(35)
(36)

A - 24

(37)

// Input/Output Ports initialization

// Port A initialization

// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In

Func0=In

// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T

PORTA=0x33;

DDRA=0x02;

// Port B initialization

// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In

Func0=In

// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T

PORTB=0x00;

DDRB=0x00;

// Port C initialization

// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In

Func0=In

// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T

PORTC=0x00;

DDRC=0x00;

// Port D initialization

// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In

Func0=In

// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T

PORTD=0x00;

DDRD=0x88;

// Timer/Counter 0 initialization

// Clock source: System Clock

(38)

A - 26 // Mode: Normal top=FFh

// OC0 output: Disconnected

TCCR0=0x00;

TCNT0=0x00;

OCR0=0x00;

// Timer/Counter 1 initialization

// Clock source: System Clock

// Clock value: Timer 1 Stopped

// Mode: Normal top=FFFFh

// OC1A output: Discon.

// OC1B output: Discon.

// Noise Canceler: Off

// Input Capture on Falling Edge

// Timer 1 Overflow Interrupt: Off

// Input Capture Interrupt: Off

// Compare A Match Interrupt: Off

// Compare B Match Interrupt: Off

TCCR1A=0x00;

// Timer/Counter 2 initialization

// Clock source: System Clock

(39)

// Mode: Normal top=FFh

// OC2 output: Disconnected

ASSR=0x00;

TCCR2=0x00;

TCNT2=0x00;

OCR2=0x00;

// External Interrupt(s) initialization

// INT0: Off

// INT1: Off

// INT2: Off

MCUCR=0x00;

MCUCSR=0x00;

// Timer(s)/Counter(s) Interrupt(s) initialization

TIMSK=0x00;

// Analog Comparator initialization

// Analog Comparator: Off

// Analog Comparator Input Capture by Timer/Counter 1: Off

ACSR=0x80;

SFIOR=0x00;

// LCD module initialization

(40)

A - 28

if ((start>=24 && start<=27)||(start>=36 && start<=39)||(start>=48 &&

(41)
(42)
(43)

while (PINA.0==0)

datar1=((deteksi1/5)-1)*1;//data hasil deteksi pulsa dibagi 5 dikurangi 1

datar2=((deteksi2/5)-1)*2;//jadi jika datanya 6 maka outputnya akan = 0

datar3=((deteksi3/5)-1)*4;//sedangkan jika datanya 12 maka outputnya akan =

1

datar4=((deteksi4/5)-1)*8;//lalu hasil tersebut dikalikan dengan nilai2 bit

datar5=((deteksi5/5)-1)*16;

datar6=((deteksi6/5)-1)*32;

datar7=((deteksi7/5)-1)*64;

datar8=((deteksi8/5)-1)*128;

datar9=((deteksi9/5)-1)*256;

datar10=((deteksi10/5)-1)*512;

datar11=((deteksi11/5)-1)*1024;

datar12=((deteksi12/5)-1)*2048;

(44)

A - 32

index=datar12+datar11+datar10+datar9+datar8+datar7+datar6+datar5+datar4+dat

ar3+datar2+datar1;

index=index^255;

if(start>=24 && start<=27)start=24;

if(start>=36 && start<=39)start=36;

if(start>=48 && start<=51)start=48;

if(index>=128 && index<=137)

{

if (index==dataON[nomorON] && start==startBit[nomorStart])

{

if (errorOFF==1){PORTD.3=0;goto lanjut;}

PORTD.3=1;

nomorON=nomorON+1;

nomorStart=nomorStart+1;

if(nomorStart==3)nomorStart=0;

if (nomorON==10) nomorON=0;

}

else errorON=1;

}

else if(index>=138 && index<=147)

{

if(index==dataOFF[nomorOFF] && start==startBit[nomorStart])

{

if (errorON==1){PORTD.3=1;goto lanjut;}

PORTD.3=0;

nomorOFF=nomorOFF+1;

nomorStart=nomorStart+1;

if(nomorStart==3)nomorStart=0;

if(nomorOFF==10)nomorOFF=0;

}

(45)

}

lanjut:

sprintf(startbitLCD,"StartBit=%d",start);

sprintf(dataLCD,"Data=%d",index);

(46)
(47)

{

logic0();

}

else logic1();

if(bit11==0)

{

logic0();

}

else logic1();

}

};

(48)

LAMPIRAN B

(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)
(80)
(81)
(82)
(83)
(84)
(85)
(86)
(87)
(88)
(89)
(90)
(91)
(92)
(93)
(94)
(95)
(96)
(97)
(98)
(99)
(100)
(101)
(102)
(103)
(104)
(105)
(106)
(107)
(108)
(109)
(110)
(111)

Bab I Pendahuluan 1

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan diuraikan mengenai latar belakang, identifikasi masalah,

tujuan, pembatasan masalah, dan sistematika penulisan.

I.1. Latar Belakang Masalah

Dengan semakin berkembangnya teknologi, mendorong manusia untuk

menciptakan perangkat yang dapat mendukung kinerja manusia dalam

melakukan proses pekerjaan agar lebih praktis dan efisien. Salah satu aplikasi

nyata adalah pengendalian perangkat yang membantu pekerjaan manusia. Untuk

mengendalikan perangkat dapat digunakan mikrokontroler sebagai pengendali

dari sistem tersebut. Pengendalian dapat dilakukan melalui media non-fisik.

Penggunaan media non-fisik (tanpa kabel/wireless) dapat menjadi pilihan yang

lebih efektif. Untuk mengontrol suatu objek secara jarak jauh dengan media

wireless diperlukan suatu modul interface sehingga terjadi komunikasi dua arah.

Pada tugas akhir ini, dibuat sistem yang berguna untuk mengendalikan

perangkat dengan menggunakan mikrokontroler dan modul infrared. Karena

keamanan pada sistem komunikasi dengan infrared cukup rendah maka

digunakanlah kode keamanan yang berotasi untuk meningkatkan keamanannya.

Adapun interface yang dibuat menggunakan modul infrared transmitter sebagai

pengirim dan modulinfrared receiversebagai penerima.

I.2. Perumusan Masalah

Bagaimana merealisasikan suatu sistem pengendalian dengan kode

keamanan yang berotasi yang dapat melakukan fungsi on dan off sesuai instruksi

(112)

Bab I Pendahuluan 2

Universitas Kristen Maranatha

I.3. Tujuan

Tujuan Tugas Akhir ini adalah membuat infrared remote controlberbasis

mikrokontroler untuk mengirim dan menerima sinyal kendali ON/OFF dengan

kode keamanan yang berotasi.

I.4. Pembatasan Masalah

Tugas Akhir ini dibatasi oleh beberapa hal di bawah ini :

 Alat yang dibuat hanya untuk komunikasi satu pasang transmiter

infrared dan receiver infrared.

 Alat yang dibuat hanya untuk mengendalikan kondisi on dan off.

 Perangkat wireless yang digunakan adalah modul infrared transmitter

8510 sebagai pengirim sinyal dan modul Infrared Receiver 8510

sebagai penerima sinyal.

 Output dari mikrokontroler ke perangkat disimulasikan dengan

menggunakan sebuah lampu LED.

 Dalam tugas akhir ini digunakan mikrokontroler AVR ATMEGA16.

 Jumlah tombol yang dipakai terbatas 2 saja yaitu untuk fungsi on dan

off.

I.5. Sistematika Penulisan

Laporan terdiri dari beberapa bab dengan garis besar sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan

Bab ini berisi latar belakang penelitian, identifikasi masalah, tujuan

penelitian, pembatasan masalah, dan sistematika penulisan.

Bab II Landasan Teori

Bab ini berisi teori-teori yang berkaitan dengan mikrokontroler AVR, remote

control infra - red, IR – 8510.  Bab III Perancangan dan Realisasi

Bab ini berisi cara kerja dan perancanganhardwaredan software pengendali

(113)

Bab I Pendahuluan 3

Bab ini berisikan data hasil pengujian dan analisa data. Ada pun jenis

pengujian yang dilakukan adalah pengujian bentuk sinyal di tranceiver dan

receiver, pengujian rotasi dari kode keamanan yang telah dibuat, pengujian

jarak dan pengujian sudut pada lokasi indoor.

Bab V Kesimpulan dan Saran

Berisi kesimpulan dari hasil penelitian serta saran-saran untuk pengembangan

(114)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

kesimpulan sebagai berikut :

Remote control inframerah dengan kode keamanan yang berotasi berhasil

direalisasikan.

 Jarak maksimal yang masih bisa digunakan dengan cukup baik (persentase keberhasilan >= 70%) untuk remote control yang dirancang adalah 7,6 m

dengan kondisi tanpa penghalang.

 Pada jarak 50 cm, sudut maksimal yang masih bisa digunakan dengan baik

(persentase keberhasilan >= 70%) adalah 54o dengan kondisi tanpa

penghalang, dan pada jarak 5 m sudut maksimal yang masih bisa digunakan

dengan baik (persentase keberhasilan >= 70%) adalah 35o.

V.2. Saran

Pada Tugas Akhir ini masih terdapat beberapa kekurangan sehingga perlu

dilakukan pengembangan. Beberapa saran tentang Tugas Akhir ini adalah :

 Untuk pengembangan dapat dipakai data perintah yang tidak berurutan.  Untuk pengembangan dapat digunakan kombinasi data dan startbit yang

lebih banyak untuk meningkatkan keamanan.

 Untuk pengembangan dapat dikembangkan pengendalian ON/OFF untuk

(115)

DAFTAR PUSTAKA

1. Andrianto Heri, ST, MT, Pemrograman

Mikrokontroler AVR ATMega16

Menggunakan Bahasa C ( Code Vision AVR ), Informatika, Bandung,

2008.

2. Budiharto Widodo, Rizal Gamayel, Belajar Sendiri 12 Proyek Mikrokontroler

untuk Pemula, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2006.

3.

http://elkaubisa.blogspot.com/2008/09/infra-merah-sebuah-media-komunikasi.html, 29 September 2008.

4. http://www.sbprojects.com/knowledge/ir/ir.htm, 27Agustus 2010.

5. http://www.atmel.com/dyn/resources/prod_documents/doc2466.pdf,

28Agustus 2010.

6. http://delta-electronic.com/article/wp-content/uploads/2008/09/an0021.pdf,

27Agustus 2010.

7. http://www.avrfreaks.net/modules/FreaksFiles/files/3269/IRM-8510N.pdf,

30Agustus 2010.

Referensi

Dokumen terkait

yang diperlukan dalam ruangan dapat diatur dengan menggunakan remote control..

“ Aplikasi Berbasis Android Secara Wireless Dengan Arduino Untuk Studi Kasus Pengendalian Keamanan Jarak Jauh ” dapat diselesaikan dengan baik. Selama pelaksanaan

Ciri-ciri ini secara konseptual menunjukan bahwa komunikasi antarpribadi dapat dilakukan dengan jarak yang cukup dekat yang memungkinkan para pihak yang terlibat bisa

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,