Hubungan antara Penguasaan Kosakata dan Motivasi Belajar dengan Kemampuan Membaca Cerita (Survei pada Siswa Kelas V SD Negeri di Kecamatan Jatiroto).

10 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Hubungan antara Penguasaan Kosakata dan Motivasi Belajar

dengan Kemampuan Membaca Cerita

(Survei pada Siswa Kelas V SD Negeri

di Kecamatan Jatiroto)

Siti Samsiyah, Andayani, Muhammad Rohmadi

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia

Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta

Sekolah Dasar Negeri 1 Sugihan

samsiyah_ubita@yahoo.co.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penguasaan

kosakata dengan kemampuan membaca cerita, antara motivasi belajar dengan

kemampuan membaca cerita, antara penguasaan kosakata dan motivasi belajar secara

bersama-sama dengan kemampuan membaca cerita. Metode penelitian yang digunakan

adalah metode survei korelasional. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi

regresi dengan signifikansi 0,05. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa penguasaan

kosakata dan motivasi belajar secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama terdapat

hubungan positif yang signifikan dengan kemampuan membaca cerita. bersama-sama

penguasaan kosakata dan motivasi belajar memberi sumbangan sebesar 43,5% terhadap

kemampuan membaca cerita. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel

tersebut dapat menjadi prediktor yang baik bagi kemampuan membaca cerita.

Kata Kunci: kemampuan membaca cerita, penguasaan kosakata, motivasi belajar

PENDAHULUAN

Membaca merupakan salah satu aspek

kemampuan berbahasa yang dominan,

karena dapat menunjang keempat aspek

berbahasa yang lain dalam pembelajaran

membaca. Hal ini sejalan dengan Rahim

(2011) bahwa proses belajar yang efektif

antara lain dilakukan dengan membaca.

Membaca dapat membuka wawasan

dunia yang luas serta otak akan terbiasa

beraktivitas sehingga seseorang dapat

meningkat kecerdasan dan

pengetahuannya.

Oleh karena itu kemampuan

membaca harus dapat dikuasai

sepenuhnya oleh siswa. Mengingat

pengajaran membaca di sekolah dasar

merupakan acuan untuk membaca di

(2)

ditanamkan di sekolah dasar sudah

benar, maka siswa tidak akan merasa

kesulitan memahami materi membaca di

tingkat berikutnya.

Penguasaan kosakata merupakan

faktor dominan yang menunjang

kemampuan membaca. Semakin banyak

perbendaharaan kata yang dimiliki, siswa

akan dengan mudah memahami bacaan.

Sebaliknya Semakin sedikit penguasaan

kosakata yang dimiliki siswa maka siswa

akan lebih sulit memahami bacaan. Hal

ini diperkuat dengan pernyataan

Sebagaimana dinyatakan ”Learners with

big vocabularies are more proficient in a

wide range of language skills than

learners with smaller vocabularies, and

there is some evidence to support the view

that vocabulary skills make a significant

contribution to almost all aspects of L2

proficiency” (Brown. et. all, 1996). Siswa

yang mempunyai jumlah kosakata yang

banyak akan lebih pandai dalam

berbahasa daripada siswa yang memiliki

jumlah kosakata yang lebih kecil dan ada

sejumlah fakta yang mendukung

pandangan bahwa kosakata memiliki

kontribusi yang signifikan pada hampir

semua aspek kemahiran berbahasa

(bahasa kedua).

Kemampuan menguasai kosakata

bukanlah masalah tunggal yang dihadapi

dalam pengajaran membaca. Semangat

belajar yang tidak sama pada setiap

siswa membawa dampak terhadap proses

pengajaran membaca. Siswa yang

memiliki semangat tinggi untuk belajar

akan lebih mudah memahami cerita yang

disuguhkan. Demikian sebaliknya, siswa

yang rendah semangat belajarnya akan

kesulitan dalam mengikuti pembelajaran

membaca cerita. Siswa akan lebih

termotivasi mengikuti kegiatan belajar

mengajar yang dilaksanakan dengan

suasana kelas yang menyenangkan.

Suasana kelas yang dirancang menarik

mampu membangkitkan semangat

belajar siswa sehingga mudah menyerap

materi yang disampaikan. Sebagaimana

pendapat ahli, karena dengan

menciptakan kondisi-kondisi tertentu

dapat membangkitkan motivasi belajar

(Slameto, 2010).

Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui hubungan antara penguasaan

kosakata dengan kemampuan membaca

cerita, mengetahui hubungan antara

motivasi belajar dengan kemampuan

membaca cerita, mengetahui hubungan

antara penguasaan kosakata dan motivasi

belajar secara bersama-sama dengan

kemampuan membaca cerita.

Tinjauan Pustaka

“Belajar ialah suatu proses usaha

yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah

laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalamannya sendiri

dalam interaksi dengan lingkungannya”

(Slameto, 2010). Hal senada diungkapkan

bahwa belajar adalah modifikasi atau

memperteguh kelakuan melalui

(3)

modification or strengthening of

behaviour through experiencing)

(Hamalik, 2011). Pendapat lain

mengungkapkan “factors affecting

learners and learning: (1) cognitif and

metakognitif; (2) motivational and

affective; (3) developmental and social; (4)

individual differences” Combs and Miller

(2007). Faktor yang mempengaruhi

peserta didik dan pembelajaran: (1)

kognitif dan metakognitif, (2) motivasi

dan afektif, (3) perkembangan dan sosial,

(4) perbedaan individual.

Bahasa pada dasarnya merupakan

sistem simbol yang ada di dunia ini

(Hidayat, 2006: 23). Keterampilan

berbahasa (language arts, language skills)

dalam kurikulum di sekolah mencakup

empat segi, yaitu: (1) keterampilan

menyimak (listening skills); (2)

keterampilan berbicara (speaking skills);

(3) keterampilan membaca (reading

skills); dan (4) keterampilan menulis

(writing skiils) (Tarigan, 1980). Ahmadi

dan Supriyono (1991) mengemukakan

faktor-faktor penyebab kesulitan belajar

bahasa digolongkan ke dalam dua

golongan, yaitu faktor intern dan faktor

ekstern. Faktor intern dibagi menjadi dua

yaitu faktor fisiologi dan faktor psikologi.

Faktor fisiologi misalnya sakit, cacat

tubuh, mudah lelah, mengantuk, dan

lain-lain. Faktor psikologi meliputi inteligensi,

bakat, minat, motivasi, kesehatan mental,

tipe-tipe khusus seorang pelajar. Selain

faktor intern terdapat faktor ekstern

yang meliputi faktor-faktor nonsosial dan

faktor-faktor sosial.

Kemampuan merupakan penampilan

maksimum (maximum performance) yang

dilakukan seseorang dalam beberapa

pekerjaan. Apabila penampilan maksimal

tersebut diukur, orang tersebut ada

kecenderungan untuk melakukan

pekerjaan itu sebaik-baiknya dengan

harapan akan mencapai hasil yang paling

besar (Cronbach, 1984).

Membaca sebagai sebuah interaksi

berfungsi untuk melakukan komunikasi.

Tarigan (2008) menyatakan “membaca

adalah suatu metode yang kita

pergunakan untuk berkomunikasi dengan

diri kita sendiri dan kadang-kadang

dengan orang lain yaitu

mengkomunikasikan makna yang

terkandung atau tersirat dalam

lambang-lambang tertulis”. Membaca merupakan

kegiatan yang aktif produktif. Hal

tersebut ditegaskan oleh Brown and

Attardo (2009) “Reading is an active

process, a meaning-making activity.

Readers bring to reading a lot of

experience and background knowledge”.

Membaca adalah proses aktif, dalam arti

aktivitas produktif. Pembaca dibawa ke

membaca banyak pengalaman dan

kekayaan pengetahuan. Membaca sebagai

kegiatan yang aktif produktif menuntut

siswa untuk kreatif. Kegiatan membaca

yang berlangsung menuntut siswa secara

aktif merespon tugas yang diberikan

kepadanya. Tugas tersebut dapat disikapi

(4)

Langkah kegiatan atau rumusan kegiatan

membaca yang sistematis dapat

menunjang kegiatan membaca siswa agar

berlangsung dengan baik.

Tarigan (2008) secara lebih rinci

mengemukakan, tujuan membaca yaitu

(1) membaca untuk menemukan atau

mengetahui penemuan-penemuan yang

telah dilakukan oleh tokoh. Ini disebut

membaca untuk memperoleh

perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for

details for facts); (2) membaca untuk

mengetahui mengapa hal itu merupakan

topik yang baik dan menarik. Ini disebut

membaca untuk memperoleh ide-ide

utama (reading for main ideas); (3)

membaca untuk menemukan atau

mengetahui apa yang terjadi pada setiap

bagian cerita. Ini disebut membaca untuk

mengetahui urutan atau susunan

organisasi cerita (reading for inference);

(4) membaca untuk menemukan serta

mengetahui mengapa para tokoh

merasakan seperti cara mereka itu. Ini

disebut membaca untuk menyimpulkan

(reading for inference); (5) membaca

untuk menemukan serta mengetahui

apa-apa yang tidak biasa mengenai tokoh. Ini

disebut membaca untuk

mengelompokkan, membaca untuk

mengklasifikasikan (reading tocalssify);

(6) membaca untuk menemukan apakah

tokoh berhasil atau hidup dengan

ukuran-ukuran tertentu, apakah kita

ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh

tokoh. Ini disebut membaca menilai,

membaca mengevaluasi (reading to

evaluate); (7) membaca untuk

menemukan bagaimana caranya tokoh

berubah. Ini disebut membaca untuk

memperbandingkan atau

mempertentangkan (reading to compare

or contrast).

Wellek dan Warren (1990) sastra

adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah

karya seni. Pendapat serupa

dikemukakan Fanani (2000: 6) bahwa

sastra adalah karya fiksi yang merupakan

hasil kreasi berdasarkan luapan emosi

yang spontan yang mampu

mengungkapkan aspek estetika baik yang

didasarkan aspek kebahasaan maupun

aspek makna. Sudjiman (1988)

mengemukakan karya sastra menurut

ragamnya dibedakan atas prosa, puisi,

dan drama. Lebih rinci diungkapkan

cerpen, novela, dan novel pada

hakikatnya merupakan kategori-kategori

fiksi yang bersifat formal. Musfiroh

(2008) bahwa unsur-unsur yang terdapat

dalam cerita meliputi tema, amanat, plot

atau alur cerita, tokoh atau penokohan,

sudut pandang, latar, dan sarana

kebahasaan.

Memahami bacaan pada dasarnya

meliputi kemampuan yang terdiri atas

kemampuan untuk (1) memahami arti

kata-kata sesuai penggunaannya dalam

bacaan; (2) mengenali susunan organisasi

wacana dan antar hubungan

bagian-bagiannya; (3) mengenali pokok-pokok

pikiran yang terungkapkan; (4) mampu

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang

(5)

dalam wacana; (5) mampu menjawab

pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya

terdapat dalam wacana meskipun

diungkapkan dengan kata-kata yang

berbeda; (6) mampu menarik inferensi

tentang isi wacana; (7) mampu mengenali

dan memahami kata-kata dan

ungkapan-ungkapan untuk memahami nuansa

sastra; (8) mampu mengenali dan

memahami maksud dan pesan penulis

sebagai bagian dari pemahaman tentang

penulis (Djiwandono, 2011).

Kata adalah unsur bahasa yang

diucapkan atau dituliskan yang

merupakan perwujudan kesatuan

perasaan dan pikiran yang dapat

digunakan dalam berbahasa (Alwi, 2001).

Seperti diungkapkan bahwa “Vocabulary

is central to language and of critical

importance to the typical language

learner” (Coady dan Huckin, 1997).

Kosakata adalah pusat bahasa dan

bersifat sangat penting sehingga menjadi

bahasa siswa yang khas.

Wujud kata yang menjadi dasar

untuk pembicaraan kosakata adalah (1)

bentuk dasar; (2) bentuk berimbuhan

atau bentuk turunan; (3) bentuk berulang

atau reduplikasi; (4) bentuk majemuk

atau komposisi; (5) bentuk terikat

konteks; (6) bentuk paduan leksem

(Pateda, 1995). Afiksasi adalah proses

pembubuhan afiks pada sebuah dasar

atau bentuk dasar. Proses ini melibatkan

unsur-unsur (1) dasar atau bentuk dasar;

(2) afiks; (3) makna gramatikal yang

dihasilkan (Chaer, 2007). Dilihat dari

posisi melekatnya pada bentuk dasar

biasanya dibedakan adanya prefiks,

infiks, sufiks, konfiks, interfiks, dan

transfiks.

Chaer (2007) mengemukakan

menurut tata bahasawan tradisional

klasifikasi kata menggunakan kriteria

makna dan kriteria fungsi. Kriteria

makna digunakan untuk mengidentifikasi

kelas verba, nomina, dan adjektiva;

sedangkan kriteria fungsi digunakan

untuk mengidentifikasi preposisi,

konjungsi, adverbia, pronomina, dan

lain-lain. Pendapat lain mengungkapkan

pembagian kelas kata yang disingkat

Papan Caniv, terdiri dari: (1) pronomina

(kata ganti); (2) ajektiva (kata sifat); (3)

preposisi (kata depan); (4) artikel (kata

sandang); (5) nomina (kata benda); (6)

konjungsi (kata sandang); (7) adverbia

(kata keterangan); (8) numeralia (kata

bilangan); (9) interjeksi (kata seru); dan

(10) verba (kata kerja) (Pateda, 1995).

Parera (2004) secara umum hubungan

antara satu makna dan makna yang lain

secara klasikal dibedakan atas sinonim/

sinonimi, antonim/ antonimi, penjaminan

makna, hipernimi dan hiponimi

(superordinat atau subordinat),

homonimi, dan polisemi. Pateda (1995)

mendefinisikan kosakata terdiri atas (1)

kosakata dasar; (2) kosakata umum; (3)

kosakata khusus; (4) kosakata khusus; (5)

kosakata konkret; (6) kosakata abstrak;

(7) kosakata populer; (8) kosakata asli; (9)

kosakata serapan; (10) kosakata baku dan

(6)

kosakata menurut bidang; (13) kosakata

menurut jenis kata.

Penguasaan kosakata dapat

dibedakan dalam penguasaan yang aktif

produktif dan penguasaan yang pasif

reseptif. Selanjutnya dijelaskan bahwa

kosakata yang merupakan bagian dari

penguasaan aktif produktif sering

dikenal dengan kosakata aktif, yaitu

kosakata yang dapat digunakan seorang

pemakai bahasa secara wajar, dan tanpa

banyak kesulitan dalam mengungkapkan

dirinya. Sebaliknya kosakata yang

merupakan bagian dari penguasaan pasif

reseptif atau kosakata pasif, adalah

seorang pemakai bahasa orang lain,

tanpa mampu menggunakannya sendiri

secara wajar dalam

ungkapan-ungkapannya (Djiwandono, 1996).

Tes kosakata menurut Djiwandono

(2011) adalah tes tentang penguasaan arti

kosakata yang dapat dibedakan menjadi

penguasaan yang bersifat pasif reseptif

dan penguasaan yang bersifat aktif

produktif.

Motivasi menunjuk kepada seluruh

proses gerakan, termasuk situasi yang

mendorong, dorongan yang timbul dalam

diri individu, tingkah laku yang

ditimbulkan oleh situasi tersebut, dan

tujuan atau akhir dari gerakan atau

perbuatan (Fauzi, 2008). Seiring dengan

pendapat tersebut menurut Mappa (1977)

motivasi berasal dari kata lain yaitu

“movere” yang artinya menggerakkan

atau sesuatu yang mendorong seseorang

melakukan sesuatu. Kekuatan motivasi

mendorong pada sejumlah urusan atau

bentuk perilaku, dan harus diarahkan

sampai akhir (Maslow: 1992).

Kemauan pada setiap diri manusia

terbetuk melalui empat momen, yaitu: (1)

momen timbulnya alasan; (2) momen

pilih; (3) momen putusan; (4) momen

terbentuknya kemauan. Motivasi terdiri

atas motivasi intrinsik dan motivasi

ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah

motif-motif yang menjadi aktif atau

berfungsinya tidak perlu dirangsang dari

luar, karena dalam diri manusia sudah

ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

Motivasi ekstrinsik yaitu motif-motif

yang aktif dan berfungsinya karena

adanya perangsang dari luar (Sardiman,

2011).

Hamalik (2011) menjelaskan

motivasi intrinsik adalah motivasi yang

hidup dalam diri peserta didik dan

berguna dalam situasi belajar yang

funsional. Motivasi intrinsik atau

motivasi murni atau motivasi sebenarnya,

misalnya keinginan untuk mendapat

keterampilan tertentu, memperoleh

informasi dan pemahaman,

mengembangkan sikap untuk berhasil,

menikmati kehidupan, secara sadar

memberikan sumbangan kepada

kelompok, keinginan untuk diterima oleh

orang lain, dan sebagainya. Motivasi

ekstrinsik adalah motivasi yang

disebabkan oleh faktor-faktor dari luar

situasi belajar, seperti: angka kredit,

ijazah, tingkatan, hadiah, medali,

(7)

bersifat negatif adalah sarkasme, ejekan

(ridicule), dan hukuman.

Asdam (2007) motivasi belajar

adalah keseluruhan atau sesuatu yang

mendorong siswa untuk melakukan

aktivitas belajar, baik yang berasal dari

dalam diri maupun yang disebabkan oleh

rangsangan dari luar sehingga dapat

mencapai tujuan yang diinginkan.

Hipotesis penelitian ini adalah

sebagai berikut pertama, terdapat

hubungan positif antara penguasaan

kosakata dan kemampuan membaca

cerita, kedua terdapat hubungan positif

antara motivasi belajar dan kemampuan

membaca cerita,ketiga terdapat

hubungan positif antara penguasaan

kosakata dan motivasi belajar secara

bersama-sama dengan kemampuan

membaca cerita.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan selama

enam bulan mulai bulan Juni sampai

dengan bulan November dalam tahun

2012 di SD negeri di Kecamatan Jatiroto

Kabupaten Wonogiri. Metode penelitian

yang digunakan dalam penelitian ini

adalah metode survei dengan teknik

korelasional. Jumlah populasi dalam

penelitian ini adalah 600 siswa dari 33 SD

negeri di Kecamatan Jatiroto. Sampel

dalam penelitian ini ditetapkan sejumlah

63 siswa yang diambil secara acak dari

keseluruhan populasi.

Penelitian ini terdiri dari tiga variabel

yaitu penguasaan kosakata dan motivasi

belajar sebagai variabel bebas, sedangkan

kemampuan membaca cerita sebagai

variabel terikat Tes kemampuan

membaca cerita menggunakan tes

objektif dalam pemerolehan datanya. Tes

penguasaan kosakata menggunakan tes

objektif dalam pemerolehan datanya.

Untuk memperoleh data mengenai

motivasi belajar menggunakan angket

yang berupa pertanyaan untuk dijawab

siswa

Validitas instrumen tes kemampuan

membaca cerita dan tes penguasaan

kosakata menggunakan rumus Korelasi

Point Biserial sedangkan instrumen

motivasi belajar menggunakan rumus

Korelasi Product Moment. Reliabilitas

instrumen tes kemampuan membaca

cerita dan tes penguasaan kosakata

menggunakan rumus

Kuder-Richardson~20 atau KR~20sedangkan uji

reliabilitas instrumen angket motivasi

belajar menggunakan rumus alpha

cronbach.

Teknik analisis data meliputi dua hal

yaitu Analisis data deskriptif dan analisis

data inferensial. Analisis data inferensial

digunakan untuk menguji hipotesis atau

penarikan kesimpulan. Analisis data

inferensial menggunakan teknik analisis

regresi dan korelasi (korelasi sederhana

dan korelasi berganda).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Penelitian ini terdiri dari dua variabel

(8)

bebas dalam penelitian ini adalah

penguasaan kosakata dan motivasi

belajar sedangkan variabel terikatnya

adalah kemampuan membaca cerita.

Statistics Median 16.0000 58.0000 14.0000 Mode 16.00a 65.00 15.00

Std. Deviation 3.06643 9.22429 2.77728 Variance 9.403 85.088 7.713

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

Uji Persyaratan

Uji persyaratan analisis dalam

penelitian ini meliputi uji normalitas, uji

signifikansi (keberartian), dan uji

linieritas. Pengujian normalitas terhadap

data motivasi belajar (X2) menghasilkan

nilai signifikansi sebesar 0,92. Hasil

tersebut menunjukkan bahwa nilai nilai

signifikansi yang diperoleh lebih besar

daripada nilai α. Uji linieritas

menunjukkan bahwa taraf signifikansi

yang diperoleh adalah 0,000. Hasil

tersebut berarti kelinieran dipenuhi

untuk taraf signifikansi 0,05. Hasil uji

signifikansi antara penguasaan kosakata

dan kemampuan membaca cerita

diperoleh nilai sig. sebesar 0,000. Hasil

itu menunjukkan bahwa nilai sig. kurang

dari α (0,000<0,05).

Tabel 5. Tabel Anava Ŷ = 6,52+0,46X1

Hasil tersebut dapat dijelaskan

bahwa r hitung sebesar 0,51 lebih besar

dari r tabel 0, 250, taraf signifikansi

0,05%. Harga F0 sebesar 21,19 lebih kecil

daripadaFt sebesar 3,398 hasil uji t

sebesar 4,60 lebih besar daripada t tabel

1,67, kontribusi sebesar 25,8%.

Tabel 6. Tabel AnavaUntuk Regresi linier Ŷ

=5,89+0,14X2

Sumber

variasi dk JK KT F

Total 63 12.631,00

Koefisien (a)

Regresi(b/a)

Tuna Cocok

Galat

Berdasarkan tabel tersebut dapat

dijabarkan sebagai berikut r hitung

sebesar 0,46 lebih besar dari r tabel 0,

250, taraf signifikansi 0,05%. Harga F0

sebesar 16,36 lebih kecil daripada Ft

sebesar 3,398 t hasil =4,04 lebih besar

daripada t tabel 1,66, kontribusi sebesar

21,1%.

Tabel 7. Tabel Anava Untuk regresi X1

dan X2 terhadap Y Koefisien (a)

Regresi(b/a) Tuna Cocok

(9)

Menurut hasil di atas dapat

dijelaskan bahwa r hitung sebesar 0,66

lebih besar dari r tabel 0, 250, taraf

signifikansi 0,05%. Harga F0 = 23,11 lebih

besar daripada Ft = 3,15 hasil uji t

sebesar 4,60 lebih besar daripada t tabel

1,67 kontribusi sebesar 43,5%.

Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data dan

pengujian hipotesis secara rinci dengan

bantuan SPSS 17.0 for window diperoleh

bahwa semua hipotesis yang diajukan

diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa

temuan ini bermakna secara umum, bagi

siswa sekolah dasar kelas V di UPT Dinas

Pendidikan Kecamatan Jatiroto Kabupaten

Wonogiri. Pertama, ipotesis bahwa

terdapat hubungan positif antara

penguasaan kosakata dan kemampuan

membaca cerita dinyatakan diterima.

Kedua, hipotesis bahwa terdapat

hubungan positif antara motivasi belajar

dan kemampuan membaca cerita

dinyatakan diterima. Ketiga, hipotesis

bahwa terdapat hubungan positif antara

hubungan antara penguasaan kosakata

dan motivasi belajar secara bersama-sama

dengan kemampuan membaca cerita

dinyatakan diterima

SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan hasil penelitian adalah

sebagai berikut. Pertama, terdapat

hubungan positif yang signifikan antara

penguasaan kosakata dan kemampuan

membaca cerita pada siswa kelas V SD

Negeri UPT Disdik Kecamatan Jatiroto

Kabupaten Wonogiri. Kedua, terdapat

hubungan positif yang signifikan antara

motivasi belajar dan kemampuan

membaca cerita pada siswa kelas V SD

Negeri UPT Disdik Kecamatan Jatiroto

Kabupaten Wonogiri. Ketiga terdapat

hubungan positif yang signifikan antara

penguasaan kosakata dan motivasi belajar

secara bersama-sama dengan kemampuan

membaca cerita pada siswa kelas V SD

Negeri UPT Disdik Kecamatan Jatiroto

Kabupaten Wonogiri.

Saran yang dapat diberikan antara

lain adalah pertama, siswa sebagai subyek

secara langsung diharapkan menggunakan

sarana perpustakaan yang ada di sekolah

maupun di rumah. Kedua, guru sebagai

pendidik yang berhadapan secara

langsung dengan siswa di sekolah untuk

lebih variatif dalam pemilihan metode

mengajar. Ketiga, kepala sekolah yang

berkedudukan sebagai pemimpin di

sekolah diupayakan untuk selalu

memantau perkembangan pembelajaran

di sekolah. Keempat, orang tua siswa

sebagai lingkungan terdekat siswa

diharapkan dapat bekerjasama

memberikan dukungan. Kelima, peneliti

lain diharapkan terdorong untuk

mengadakan penelitian sejenis lebih

(10)

DAFTAR REFERENSI

Ahmadi, Abu dan Supriyono, Widodo. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Alwi, Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Asdam, Muhammad. 2007. “Pengaruh Pemberian Evaluasi Ulangan Harian terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Bahasa Indonesia pada Siswa Tingkat SMP Kabupaten Maros”. Thesis. Jakarta: Depdiknas.

Brown, Steve, Attardo, Salvatore. 2009. Understanding Language Structure, Interaction, and Variation. USA: University of Machigan.

Chaer, Abdul. 2007 b. Linguistik Umum. Jakarta: Rineke Cipta.

Coady, James and Huckin, Thomas. 1997. Second Language Vovabulary Acquisition A Rational for Pedagogy. Cambridge: Cambridge University Press.

Combs, Barbara L. Mc., Miller, Linda. 2007. Learner Centered Classroom Practiced and Assessments. California: Corwin Press.

Cronbach, L. 1984. Essentials of Psychological Testing. New York: Harper&Row.

Djiwandono, Soenardi. 2011. Tes Bahasa Pegangan bagi Pengajar Bahasa. Jakarta: Indeks.

Fanani, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhamadiyah University Press.

Fauzi, Ahmad. 2008. Psikologi Umum. Cetakan ke- IV. Bandung: Pustaka Setia.

Hamalik, Oemar. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Cetakan ke-11. Jakarta: Bumi Aksara.

Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa (Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna, dan Tanda). Bandung: Rosda.

Mappa, Syamsu. 1977. Psikologi Pendidikan. Ujung Pandang: FIP IKIP Ujung Pandang.

Maslow, A, Likert, R, McGregor, D.M, Hersberg, F, Clark, J.V. 1992. Motivasi dan Perilaku. Semarang: Dahara Prize.

Musfiroh, Takdiroatun. 2008. Memilih, Menyusun, dan Menyajikan Cerita untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Pateda, Mansoer. 1995. Kosakata dan Pengajarannya. Flores: Nusa Indah.

Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Cetakan ke-V. Jakarta: rineke Cipta.

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita rekaan. Jakarta: Pustaka jaya.

Tarigan, Henry Guntur. 1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Figur

Tabel 6. Tabel AnavaUntuk Regresi linier Ŷ
Tabel 6 Tabel AnavaUntuk Regresi linier . View in document p.8
Tabel 5. Tabel Anava Ŷ = 6,52+0,46X1
Tabel 5 Tabel Anava 6 52 0 46X1 . View in document p.8

Referensi

Memperbarui...