iii
ABSTRAK
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh nyamuk
Aedes
aegypti
merupakan penyakit yang menimbulkan banyak kematian. Masyarakat
umumnya menggunakan insektisida dari bahan kimia yang berbahaya untuk
mencegah penyakit tersebut. Pada penelitian ini, uji aktivitas larvasida dilakukan
menggunakan ekstrak etanol dan minyak atsiri rimpang temu putih (
Curcuma
zedoaria
(Berg.) Rosc.) dan lempuyang wangi (
Zingiber aromaticum
Val.). Uji
aktivitas repelen dilakukan menggunakan ekstrak dengan konsentrasi 10%, dan
minyak atsiri dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 10%, dan 20%, serta DEET dengan
konsentrasi 12,5% yang digunakan sebagai pembanding. Minyak atsiri dianalisis
dengan menggunakan kromatografi gas-spektroskopi massa (KG-SM)
.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rimpang temu putih tidak memberikan
aktivitas larvasida yang signifikan, sedangkan minyak atsirinya memberikan
aktivitas larvasida yang signifikan dengan nilai
LC50
sebesar 30,40
μg/mL
,
sedangkan ekstrak rimpang lempuyang wangi memberikan aktivitas larvasida
yang signifikan dengan nilai
LC50
16,04 μg/mL, minyak atsirinya pun
memberikan aktivitas larvasida yang signifikan dengan nilai
LC50
sebesar 21,08
μg/mL. Berdasarkan
pengujian repelen rimpang temu putih dan lempuyang wangi,
hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak dan minyak atsiri kedua tanaman tersebut
memiliki aktivitas repelen. Pada rimpang temu putih, aktivitas repelen tertinggi
ditunjukan oleh minyak atsiri dengan konsentrasi 20% dengan nilai rata-rata daya
proteksi 73,99%, sedangkan pada rimpang lempuyang wangi aktivitas repelen
tertinggi ditunjukan oleh ekstrak dengan konsentrasi 10% dengan nilai rata-rata
daya proteksi 68,86% dibandingkan dengan DEET 12,5%. Hasil pemeriksaan
minyak atsiri rimpang temu putih dengan KG-SM menunjukkan sedikitnya 47
puncak terpisahkan dengan 16 komponen yang telah teridentifikasi dengan dua
komponen terbesar yaitu
β
-eudesmol (
3,7%) dan
Beta-Elemenone
(4,26%),
sedangkan hasil pemeriksaan rimpang lempuyang wangi menunjukkan sedikitnya
40 puncak terpisahkan dengan 21 Komponen yang telah teridentifikasi dengan
dua komponen terbesar yaitu
camphor
(7,67%) dan
Zerumbone
(5,29%).
iv
ABSTRACT
Dengue hemorrhagic fever
(DHF)
caused by Aedes aegypti
is a disease that
causes many deaths
.
People
generally used harmful chemical larvicidal and
repellent to prevent the disease. in this study, larvicidal activity assay was
performed using ethanol extract and essential oil of white turmeric rhizome
(
Curcuma zedoaria
(Berg.) Rosc.)
and
lempuyang wangi
(
Zingiber aromaticum
Val.).
Repellent activity assay was performed using extract with concentration of
10%, and essential oils with concentration of 2.5%, 5%, 10%, and 20%, and also
DEET with concentration of
12.5% used as a comparison.
Essential oils were
analyzed using gas chromatography-mass spectroscopy
(GC-MS).
The results
showed that the extract of the white turmeric rhizome did not perform significant
larvicidal activity, while the essential oil performed significant larvicidal activity
with
LC50
value
of 30.40 μg/mL
,
while the extract of lempuyang wangi rhizome
performed significant larvicidal activity with
LC50 value
of 16.04 μg/mL. Essential
oil also performed significant larvicidal activity with LC50 value
of 21.08 μg/mL.
The results of the repellent activity of white turmeric and lempuyang wangi
rhizomes showed that extracts and essential oils from both plants performed
repellent activity. Essential oil at concentration of 20% of white turmeric rhizome
showed the highest repellent activity with the average of protection ability was
73.99%, while in lempuyang wangi rhizome, extract of 10% showed the highest
repellent activity with the average of protection ability was 68.86% compared
with 12.5% of DEET. The analisys result of essential oil of white turmeric using
GC-MS showed 47 peaks separated and at least 16 components have been
identified with the two largest components were
β
-eudesmol (3.7%) and
Beta-Elemenone (4.26%), while essential oil of lempuyang wangi rhizome showed at
least 40 peaks separated and at least 21 components have been identified with
the two largest components were camphor (7.67%) and Zerumbone (5.29%).