Ltlo
tjlt
Tll ls:61
WACANA
BERNAS
JOGJA
Rabu Pon, 18
Jurii*201,HALAMAN
_**__**l*1"T5Pr.::1 Y.rl
Oleh:
Hendra Kurniawan
MASA kampanye calon presiden
dan calon
wakil
presiden
sudahdirnulai sejak tanggal
4
Juni 2014.Meskipun tidak
seramai
hingar-bingar kalnpanyepemilu
legislatif, namun kampanye pemilihan presiden lebih menarik untuk disirlak. Melalui pilpres rakyat akan mernilih pernirnpintertinggi yang
akan
menentukannasib ban-esa
untuk
lima
tahun kedepan.
Artinya
hasil pilpres
akan memberi pengaruh yan_e .jauh lebihsignifikan
daripada pile-e. Dalam pilpres kali ini rakyat hanya dihadap-kan pada dua pilihan yaitu pasangan nomorurut I habowo Subianto-Hatta Rajasa atau pasangan nornor urut 2Joko Wdodo-Jusuf Kalla.
Meskipun hanya dua
pilihan,namun untuk memilih salah satunya memang bukanlah hal yang rnudah.
Kedua
pasangan
irri
sarna-samrmemiliki
kemungkinan besar untuk menang. Keduanya sarna-salname-miliki
basis massa yang kuat. Harusdiakui
sebagai manusia biasa tentumereka
memiliki
kelebihan
dan kekurangan masing-masing. Hal iniseharusnya
disikapi
dengan bijakoleh masyarakat sebagai bahan per-timbangan dalam menentukan pilih-an. Jadi patut disayan-ekan apabila sampai saat ini berbagai bentuk kam-panye negatif terus menerpa kedua
pasangan
ini
meskipun
dengankadar yang berbeda. Rasa-rasanya sungguh sulit membuat masyarakat
kita
benar-benar cerdas dalamber-politik
dan berdemokrasi.Kampanye merupakan kegiatan
untuk
meyakinkan para
pemilihdengan menawarkan
visi,
misi, danprogram kerja
dari
calon yangdi-usung. Kampanye bukan ajang
urr-tuk
menjelek-jelekkan daa nggre-nengi plhak lain den_ean tujuanmen-jatuhkan. Salah satu cara .karnpanye
capres-cawapres
yang
efektif
me-rnang
dengan
menyeleng-{arakandebat.
Tidak perlu lagi
grenang-greneng tidak tentu arah dan mem-bicarakan berbagaihal
yangkebe-narannya
masih
dipertanyakan.
Dalam ajan-e debat semua hal yang belurnjelas
dapat diperjelas, yangperlu diketahui
dapat ditanyakan,dan yang
dianggap
tidak
benardapat diluruskan.
Untuk iru, rakyat perlu dilibatkan secara aktif dalam acara debat capres-cawapres, misalnya dengan mem-buka dialo-e interaktif yang melibat-kan pemirsa di rumah untuk bertanya secara langsung. Melalui debat yang baik dan mengena maka rakyat yang rnenyaksikan akan memperoleh pan-dangan
yang
lebih
gamblang me-ngenai sosok, gagasan, dan program kerja capres-cawapres yang berlaga.Gagaldebat
Ilari
Senin 9 Juni 2Ol4 di BalaiSarbini, Jakarta,
Komisi
Pemilihan Umum (KPU) telah menyelenggara-kan debat perdana capres-cawapres dengan terna Pe.mbangunanDemo-krasi,
PemerintahanBersih,
dan Penegakan Hukum. Juga pada hari Minggu 15 Juni 2014 kemarin di HotelGrand
Melia, Kuningaq
Jakarta diselenggarakan debat kedua yangdiikuti
oleh capres tanpa cawapres.Tema debat kedua
ini
yaitu
Pem-bangunan Ekonomi
dan
Kesejah-teraan
Sosial.Dari
kedua debat yang telahdi-laksanakan
itujika
diamati dari segi komunikasi, ada capres yang terlihatpandai berbicara dan
berpidatolayaknya seorang demagog, namun ada pula yang tampil dengan bahasa
sederhana
dan
cenderung hematdalam berbicara. Akan tetapi bukan
persoalan
komunikasi saja,
yangjauh lebih penting ialah esensi dari
gagasan-gagasan
yang
merekasampaikan. Jangan sampai
pemapar-an
visi misi
hanya berkutat pada tataran konseptual belaka yang ber-sifat normatif dan belum menyentuh hal-hal konkret yang implementatif terkait dengan solusi atas berbagaipersoalan bangsa.
Dalam dua kali debat yang telah
diselenggarakan tersebut ada hal mendasar yang perlu
dikritisi
pula.Menurut Kamus Besar Bahasa
In-donesia
(KBBf)
disebutkan bahwa pengeitian debat ialah pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatuhal
den_eansaling
memberialasan
ufltuk
mempertahankan pendapatmasing-masing.
Debat mengedepankandialog yang
baik dan saltun. Tanpa dialog maka tidak dapat disebut sebagai debat. Selainitu
dalam perdebatanjuga
semesti-nya ada upaya uqtuk berargumen-tasi guna meyakinkan bahwa
opini-nya yang lebih baik. Menjadi keliru
jika
yang terjadijustru
pemberiandukungan
dan
persetujuan
yang memperkuat pendapat lawan sepertiyang
terjadi baik
dalam
debatpertama maupun kedua kemarin. Debatjuga bukan diskusi karena
tidak
menghasilkan kompromi.
Peserta debat harus berbicara
se-cara meyakinkan,
mendengarkanberbagai pendapat
yang
berbeda,dan
di
akhir
debat dapat
saling menghargai perbedaanyang
ada-.Untuk
itu,
penyampaian argumen harus didasarioleh
data dan faktayang logis, benar, dan akurat.
Se-bagai
capres maupun
cawaprestentu akan menjadi sorotan, tampa
konyol apabila
gagasan-gagasa yang disampaikan j ustru kontradi krdengan kenyataan
sebenarnye Jangan sampai pernyataan-pernyiltaan
itu
menjadi
sebuahretqrik
belaka yang bombastis dan bertola belakang dengan fakta.
Hal lain yang patut disayangka
ialah penampilan moderator dalar debat pertama maupun kedua yan
tidak maksimal. Padahal peran da performa moderator sangat pentin
dalam
mengaturjalannya
diskusModerator harus netral,
tidak
me mihak, luwes, terampil, dan mampmembangkitkan
gairah
debat. Barangkali
presenter acara
televis sepertiNajwa
Shihab,Karni
Ilyas bahkan Denny Chandrajustru dapelebih
menghidupkan suasana da membawa perdebatan lebih gayenapabila
mereka dipasang sebaga moderator. Sekiranya perluj uga KPImempertimbangkan usulan ini.
Sasaran debat capres-cawapre
untuk
menggaetswing
voter
agadapat menentukan
pilihannya
secara mantap terancam gagal. Dalar dua
kali
debatyang terjadi
bukar dialog dan perdebatan namun monolog yang
kompromistis.
Padaha debat merupakan kesempatan untul adu visi misi dan program kerja agamasyarakat semakin
yakin
dalanmenentukan
pilihan, yang
tepamenurut
hati
nuraninya dan bukat atas dasar emosional belaka. Masil ada tigajiljd
debat capres-cawapre yang akan diselenggarakan. Semog,menjadi
perdebatan
yang
lebil
mengena
dan
bermakna,
bukarformalitas kampanye belaka. **:*
Hendra
Kurniawan MPd,
DosetPendidikan'
Sejarah
Unive rs ita,