commit to user 16 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. New Public Management (NPM) 1. Definisi, Sejarah dan Karakteristik NPM
Istilah 'New Public Management' (NPM) merupakan deskripsi ringkas dari suatu cara menata kembali lembaga sektor publik yang mengarah pada pengelolaan, pelaporan, dan pendekatan akuntansi sebagaimana (persepsi tertentu dari) metode bisnis (Dunleavy dan Hood, 1994). Diefenbach (2009) berpendapat bahwa NPM adalah seperangkat asumsi dan pernyataan nilai tentang bagaimana organisasi sektor publik seharusnya dirancang, diatur, dikelola dan bagaimana - dengan cara kuasi-bisnis- mereka seharusnya berfungsi. Adapun Hood (1995) berpendapat bahwa New Public Management (NPM) merupakan istilah yang menggambarkan kebijakan penerapan teknik manajemen dari sektor privat sebagai suatu upaya untuk mengurangi belanja pemerintah. Christopher Hood, yang dikenal luas sebagai pencipta istilah NPM, mengakui bahwa istilah ini telah digunakan secara berlebihan sampai pada tahap pelebaran konsep (Hood dan Peters, 2004).
Secara teoritis, NPM dipengaruhi oleh berbagai ide eklektik dari berbagai disiplin ilmu (Gruening, 2001) yang dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori:
administrasi publik neo-klasik dan manajemen publik yang berorientasi utama pada penataan negara yang tertib, penerapan prinsip-prinsip ilmiah pada lembaga negara dan pengambilan keputusan kolektif; ilmu manajemen yang mendorong
commit to user
pengenalan gagasan dan teknik manajemen sektor privat pada sektor publik; dan ekonomika kelembagaan baru yang memandang pengambil kebijakan pemerintah sebagai subyek dengan kepentingan pribadi yang bekerja dalam lingkungan dimana asimetri informasi, rasionalisasi yang dibatasi dan oportunisme mendorong terjadinya transaction costs dan agency costs.
Secara umum, NPM bertujuan untuk meluruskan anggapan negatif mengenai sektor publik, terutama pendapat yang menyatakan bahwa sektor publik tidak efisien dan terlalu gemuk. Seiring semakin meluasnya doktrin NPM, para pendukungnya menekankan strategi untuk memperkecil dan merampingkan ukuran (Pollitt dan Bouckaert 2003: 21; Van de Walle dan Hammerschmid 2011:
24 dalam(Alonso et al., 2015). Ide dasar NPM adalah membuat organisasi sektor publik dan mereka yang bekerja di dalamnya menjadi lebih “business-like” dan
“market-oriented”, dalam hal kinerja, efisiensi biaya, dan orientasi audit (Cohen et al., 1999; Deem, 2004). Walaupun NPM dikatakan memiliki keunggulan diatas manajemen publik tradisional, yaitu mendukung peningkatan teknik-teknik pengukuran untuk mengevaluasi kinerja sektor publik dengan lebih baik, baik kalangan akademisi maupun lembaga pemerintah hanya memiliki sedikit cara untuk mengevaluasi NPM itu sendiri (Clifton et al., 2005).
NPM diperkenalkan kepada organisasi sektor publik pada akhir 1970-an (Cohen et al., 1999; Dent dan Barry, 2004) dan awal 1980-an di UK dan beberapa pemerintah kota di US yang mengalami resesi ekonomi dan penantangan pajak (Gruening, 2001), selanjutnya diikuti New Zealand dan Australia.
Kesuksesan dua negara tersebut menempatkan reformasi NPM sebagai agenda di
commit to user
negara-negara lain. Hal ini menjadikan NPM terutama sebagai sebuah gerakan yang didorong oleh para praktisi dengan tujuan meningkatkan tata kelola dan praktik administrasi publik.
NPM sangat dikenal pada 1980-an dan 1990-an, menjadi suatu fenomena yang mulai terjadi di negara-negara Anglo-Saxon dan kemudian ditiru, diadaptasi, dan disebarluaskan secara global oleh organisasi internasional, terutama OECD (Clifton dan Díaz-Fuentes, 2011). OECD merangkum upaya ini sebagai tujuan untuk membuat sektor publik “ramping dan lebih kompetitif sementara, pada saat yang sama, mencoba untuk membuat administrasi publik lebih responsif terhadap kebutuhan warga dengan menawarkan value for money, fleksibilitas pilihan, dan transparansi” (OECD, 1994 dalam(Groot dan Budding, 2008).
Walau saat ini popularitas NPM sudah berkurang, akan tetapi hubungan antara praktik-praktik NPM dan kinerja organisasi publik tetap penting, terutama karena pemerintah terus mencari cara untuk mengurangi anggaran sektor publik ditengah krisis yang terjadi (Andrews dan Van de Walle, 2013). Alonso et al.
(2015) mengutip dari Haynes (2003) dan Pollitt (2007), bahwa NPM melibatkan suatu upaya untuk menerapkan ide manajemen dari bisnis dan sektor swasta ke dalam pelayanan publik. Selanjutnya dikatakan bahwa NPM merupakan fenomena yang terdiri dari dua tingkatan, yaitu motivasi untuk memperbaiki sektor publik, di lapisan atas, dan lapisan selanjutnya adalah suatu konsep, kebijakan, dan praktik yang spesifik bertujuan untuk mereformasi sektor publik.
Tujuan utama NPM adalah memberikan organisasi sektor publik orientasi baru dan, sambil melakukannya, merubah cara mereka beroperasi (Diefenbach,
commit to user
2009). Tiga orientasi eksternal strategis adalah: orientasi pasar; orientasi pemangku kepentingan; dan orientasi pelanggan. Mengenai orientasi internal, terdapat dua tujuan strategis yang secara khusus disebutkan lagi dan lagi dalam pembahasan mengenai NPM, yaitu: peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas, serta efektivitas biaya.
2. NPM dan Reformasi Sektor Publik
Reformasi NPM diterapkan berbeda-beda pada tiap negara. New Zealand mengambil ide-ide manajerial tentang pengendalian dan akuntabilitas, penggunaan kontrak kerja jangka tetap untuk posisi manajemen senior, dan memberlakukan gagasan ekonomi kelembagaan baru dalam mendefinisikan hubungan kontraktual antara pelaku yang berbeda, sedangkan reformasi NPM Australia sebagian didasarkan pada penilaian kembali nilai-nilai pelayanan publik Australia dan hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Selain itu, dalam proses pengembangan NPM sendiri, beberapa negara menerapkannya secara terpusat/sentralistik seperti misalnya New Zealand, dan beberapa lainnya mengembangkannya pada tingkat pemerintah kota/desentralisasi seperti misalnya Swedia (Groot dan Budding, 2008).
Pada kebanyakan negara, reformasi NPM didukung oleh desentralisasi tugas eksekutif dari kementerian pada entitas semi-independen, misalnya dalam hal penerbitan (sebagian) regulasi, tata kelola, penyediaan layanan dan saran kebijakan (Pollitt dan Bouckaert, 2000; van Thiel, 2004 dalam(Groot dan Budding, 2008) . Sesuai dengan tema-tema NPM yang diidentifikasi oleh OECD, terdapat tiga tema yang muncul dalam tiap reformasi NPM, yaitu: desentralisasi;
commit to user
peningkatan daya saing melalui peningkatan efisiensi dan efektifitas; dan akuntabilitas kinerja. Penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan dalam rangka reformasi NPM dipandang sebagai cara untuk meningkatkan akuntabilitas organisasi sektor publik, dan pembuatan keputusan dalam lembaga sektor publik, dan telah menghasilkan sistem akuntansi, penganggaran, dan pengukuran kinerja yang baru (Hyndman et al., 2007; Lapsley, 2008).
Reformasi NPM telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari negara berkembang selama tahun 1990-an (Rahshanjani dan Alam, 1997; Larbi, 1998;
Common, 1999; Samaratunge dan Hughes, 2001; Samaratunge dan Bennington, 2002; ADB, 2004 dalam(Samaratunge et al., 2008). Apabila reformasi NPM di negara-negara barat dipengaruhi secara signifikan oleh empat faktor: sistem politik, politik partai, pertimbangan makroekonomi, dan tradisi yang berlaku (Lee dan Haque, 2006) maka pada kasus negara Asia Selatan dan Tenggara terdapat dua faktor yang harus ditambahkan, yaitu peran lembaga pembangunan internasional dan kondisi masyarakat sipil (Samaratunge et al., 2008).
Lembaga pembangunan internasional menempatkan reformasi NPM sebagai prekondisi yang diperlukan untuk memperoleh bantuan asing karena model ini dipercaya meningkatkan fleksibilitas dan dinamika sektor publik yang bertujuan untuk meraup manfaat globalisasi dan untuk menarik investasi asing. Dalam hal ini, manajemen sektor publik yang efisien memiliki peran utama dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi investor asing. Diatas segalanya, komitmen politik dan kepemimpinan menjadi faktor yang paling berpengaruh. Di kawasan Asia Tenggara, misalnya, Singapura dan Malaysia yang dapat
commit to user
dikategorikan sebagai contoh sukses dengan reformasinya, memiliki kepemimpinan politik yang kuat. Sebaliknya, praktik reformasi NPM di Sri Lanka dan Bangladesh menunjukkan bahwa pendorong utama adalah untuk memperkenalkan perubahan struktural dalam sistem administrasi publik. Tidak ada inisiatif besar yang diambil dalam memperkenalkan rule-based government dan infrastruktur kelembagaan yang diperlukan untuk mendukung praktik NPM, karenanya Bangladesh dan Sri Lanka mengalami transisi yang sangat kompleks dan beresiko secara politik. Hal ini mengarah pada kesimpulan bahwa negara- negara tanpa kepemimpinan yang kuat dan sistem akuntabilitas memadai, tidak dapat mengharapkan hasil yang sukses dari agenda reformasi NPM mereka (Samaratunge et al., 2008).
3. NPM dan Akuntansi Akrual
Dalam bidang akuntansi, banyak pemerintahan yang telah mengadopsi gagasan NPM juga menerapkan basis akuntansi akrual (sebagai lawan basis kas), laporan keuangan gaya privat (vs laporan anggaran terkait pengeluaran kas), anggaran terdesentralisasi (vs pengendalian anggaran pusat), fleksibilitas dalam pelaksanaan anggaran (menggantikan annualitas yang kuat) dan fokus pada pelaporan kinerja terkait pengeluaran atas output dan prestasi (menggantikan fokus terhadap pengendalian input). Tujuan, target dan identifikasi biaya layanan individu untuk memungkinkan pilihan yang rasional juga cenderung menonjol dalam sistem akuntansi yang mendukung reformasi NPM (Hyndman dan Liguori, 2016).
commit to user
B. Akuntansi Akrual dan Penerapannya pada Sektor Publik 1. Definisi Akuntansi Berbasis Akrual
Perbedaan utama antara akuntansi kas dan akrual terletak pada waktu pengakuan transaksi. Apabila pada akuntansi berbasis kas transaksi diakui pada saat kas diterima atau dikeluarkan, maka pada akuntansi berbasis akrual transaksi diakui pada saat terjadinya yaitu pendapatan diakui pada saat hak telah diperoleh (earned) dan beban (belanja) diakui pada saat kewajiban timbul atau sumber daya dikonsumsi (RI, 2010). Dengan kata lain, akuntansi kas berfokus pada penerimaan kas, pembayaran kas dan surplus atau defisit kas, sedangkan akuntansi akrual berfokus pada pendapatan, beban dan laba atau rugi.
OECD sebagai organisasi internasional yang mempromotori penerapan akuntansi akrual pada sektor publik, dalam laporan sintesisnya dengan tema nilai akuntansi akrual bagi sektor publik (OECD, 1993), mengibaratkan akuntansi kas dan akrual mewakili dua titik akhir dari sebuah spektrum basis akuntansi dan pelaporan keuangan. Akuntansi kas mengakui transaksi ketika kas dibayarkan atau diterima tanpa memperhatikan bilamana jasa disediakan atau manfaat diterima atas suatu transaksi. Hasil keuangan dilaporkan berdasarkan perbedaan antara kas yang diterima dan dibayarkan. Informasi disediakan dengan didasari bukti penerimaan dan penggunaan kas atas dana tertentu selama satu periode akuntansi. Akuntansi kas secara tradisonal telah menjadi basis yang digunakan hampir seluruh entitas sektor publik dalam pertanggungjawaban dan pelaporan, terutama merefleksikan manfaat metode ini dalam kesesuaiannya dengan batas pembelanjaan (kas). Akuntansi kas telah menjadi basis penganggaran dana
commit to user
pemerintah secara tradisional dan pertanggungjawaban entitas sektor publik pada umumnya.
Akuntansi akrual (atau komprehensif) mengakui transaksi atau peristiwa pada saat terjadinya, tanpa memperhatikan ketika kas dibayarkan atau diterima, dengan tujuan menyandingkan biaya yang timbul selama satu periode akuntansi tertentu dengan manfaat yang dihasilkan (earned), serta pendapatan dengan barang atau jasa yang diberikan. Transaksi-transaksi ini bisa berdiri sendiri, tidak melibatkan transaksi kas, namun dapat juga melibatkan transaksi kas. Elemen akuntansi dan pelaporan berbasis akrual mencakup:
a. pendapatan, mewakili jumlah yang dihasilkan selama periode dengan atau tanpa penerimaan kas;
b. beban, mencakup barang atau jasa yang dikonsumsi selama satu periode baik yang telah dibayar atau belum;
c. aset, yang mewakili sumber daya yang dikuasai suatu entitas sebagai hasil dari transaksi masa lalu dan darimana aliran manfaat ekonomi masa depan diharapkan;
d. kewajiban, mewakili kewajiban entitas di masa mendatang sebagai hasil dari perjanjian di masa lalu yang berakibat pada aliran keluar sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi di masa mendatang; dan
e. ekuitas, yaitu kepentingan residual atas aset entitas setelah dikurangi dengan seluruh kewajiban.
Hubungan antara pendapatan dan beban memungkinkan penentuan laba –aktivitas business oriented- atau memungkinkan penilaian biaya neto penyediaan jasa –
commit to user
organisasi nirlaba. Perbedaan antara waktu pengakuan pendapatan dan beban serta transaksi kas menimbulkan aset (manfaat ekonomi di masa depan) serta kewajiban (aliran keluar manfaat ekonomi di masa depan) yang dikapitalisasi sebagai pendapatan dan beban pada periode terjadinya. Contoh yang paling umum adalah depresiasi yang timbul akibat penggunaan aset modal. Hubungan antara aset dan kewajiban memungkinkan penilaian terhadap posisi keuangan entitas.
Secara umum, basis akrual pada akuntansi dan pelaporan diakui kemanfaatannya dalam menyediakan informasi mengenai hal-hal seperti sumber daya yang dikendalikan oleh entitas, biaya penuh operasi atau penyediaan jasa, dan penilaian ekonomi dan efisiensi operasi. Tersirat dari pengenalan akuntansi akrual pada berbagai negara adalah pemahaman bahwa terdapat peningkatan manfaat yang diperoleh dari akuntansi akrual dibandingkan dengan kas, diantaranya berikut ini.
a. Mencerminkan dan memberikan dasar akuntabilitas sebagai fleksibilitas tambahan yang diberikan pada manajer sektor publik.
b. Melandasi tujuan untuk pendekatan yang lebih kompetitif untuk penyediaan layanan sektor publik.
c. Memfasilitasi pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan efektif.
d. Meningkatkan akuntabilitas.
e. Memberikan fokus pandangan yang lebih berjangka panjang atas dampak dari keputusan pemerintah atau manajemen.
Menurut International Public Sector Accounting Standards Board (IPSASB), informasi yang terkandung dalam laporan keuangan yang disusun
commit to user
dengan basis akrual bermanfaat bagi akuntabilitas dan pembuatan keputusan (IPSASB, 2011). Terlebih, akuntansi akrual menyediakan informasi mengenai kinerja dan posisi keuangan sumber daya publik yang tidak diperoleh dari akuntansi kas (Rowles, 2004). Akuntansi akrual menyediakan informasi mengenai pendapatan dan beban, termasuk pengaruh transaksi yang belum melibatkan penerimaan maupun pengeluaran kas (IPSASB, 2011). Standar akuntansi akrual memaksa pemerintah untuk mengetahui dan merencanakan pembayaran atas semua kewajiban yang diakui, bukan hanya pinjaman. Dengan demikian, akuntansi akrual memungkinkan pemerintah untuk membuat komitmen dan tanggung jawab yang jauh ke depan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa akuntansi akrual dikatakan memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat.
2. Penerapan Akuntansi Akrual pada Sektor Publik
Aspek penting dari NPM adalah gagasan untuk menggantikan akuntansi kas tradisional dengan prinsip akuntansi akrual untuk keperluan pelaporan keuangan, atau dengan kata lain adopsi akuntansi akrual merupakan bagian integral dari reformasi manajemen (keuangan) sektor publik (Barton, 2009). Pengenalan akuntansi akrual pada sektor publik dipandang sebagai sarana dan bukan sebagai tujuan, yaitu bahwa akuntansi akrual adalah cara yang lebih baik untuk mengukur kinerja (Lye et al., 2005). Akuntansi akrual merupakan basis akuntansi yang mengakui transaksi dan peristiwa lainnya pada saat terjadinya tanpa memperhatikan ketika kas atau setara kas diterima atau dibayarkan. Elemen yang
commit to user
diakui dengan basis akrual adalah aset, kewajiban, aset bersih/ekuitas, pendapatan dan beban.
Dua alasan yang mendasari penerapan akuntansi akrual adalah berikut ini.
1. Akuntansi akrual meningkatkan transparansi internal dan eksternal, meningkatkan akuntabilitas negara dan entitas nirlaba. Sampai pada tingkat bahwa reformasi akuntansi akrual pemerintah mencakup standar yang serupa dengan standar akuntansi keuangan sektor komersial, memperkenalkan akuntansi akrual juga dapat memfasilitasi perbandingan antara biaya penyediaan layanan publik dengan biaya jasa yang dibeli langsung dari sumber non-pemerintah (IFAC, 2003; Newberry dan Pallot, 2005 dalam(Groot dan Budding, 2008).
2. Akuntansi akrual membantu dalam mengidentifikasi biaya keseluruhan kegiatan, memungkinkan peningkatan pembuatan keputusan dalam hal alokasi sumberdaya, koordinasi dan pengendalian (Webster dan Kruglanski, 1994; Wong, 1998; Likierman, 2000; Bac, 2003 dalam(Groot dan Budding, 2008). Pembuatan keputusan yang lebih baik dipercaya akan meningkatkan kinerja.
Beberapa dari kalangan cendekiawan mengklaim bahwa metode akuntansi akrual sektor komersial tidak dapat diterapkan pada sektor publik tanpa modifikasi. Mereka menyatakan bahwa akuntansi akrual tidaklah netral bagi segala sektor. Hal inilah yang mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa terdapat perbedaan pengenalan akuntansi akrual pada berbagai negara (Carlin, 2006 dalam(Groot dan Budding, 2008). Di New Zealand, biaya modal pada
commit to user
entitas pemerintah menunjukkan bias yang lebih tinggi daripada organisasi sektor privat. Hal ini menempatkan entitas pelayanan pemerintah pada kelemahan daya saing sehingga usulan privatisasi menjadi lebih menarik (Newberry dan Pallot, 2005 dalam(Groot dan Budding, 2008). Informasi akuntansi akrual lebih digunakan dalam menentukan informasi suatu produk dan biaya jasanya daripada untuk kegunaan umum laporan keuangan. Secara umum, informasi akuntansi akrual kurang dapat digunakan dalam keputusan penganggaran dan pembuatan kebijakan, tetapi lebih pada manajemen kinerja dan pengendalian manakala penganggaran masih disusun berdasarkan prinsip kas (Paulsson, 2006).
Pengenalan akuntansi akrual pada sektor publik bukanlah suatu revolusi yang damai, banyak literatur-literatur baik yang pro maupun kontra. Para pendukung penerapan akuntansi akrual di sektor publik terutama ditandai dengan pengagungan terhadap konsep tersebut tanpa dilandasi bukti empiris untuk mendukung pernyataannya (Potter, 1999). Beberapa tema terlihat dari tulisan- tulisan tersebut.
Dari yang paling sederhana, beberapa literatur membenarkan penerapan akuntansi akrual pada sektor publik dengan dasar bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang tak terhindarkan (OECD, 1993; Carter, 1994; McPhee, 1994 dalam(Carlin, 2005). Penulis lain telah membenarkan pernyataan mereka bahwa organisasi sektor publik harus mengadopsi akuntansi dan pelaporan akrual dengan mengacu pada pernyataan bahwa sistem pelaporan berbasis akrual adalah
“superior” dibandingkan sistem lainnya (Mellor, 1996; Carlin, 2005). Tulisan- tulisan tersebut menyatakan bahwa akuntansi akrual merupakan “hal baik” bagi
commit to user
manajemen publik, menjelaskan alasan-alasan “mengapa” sektor publik harus mengadopsi struktur akuntansi dan pelaporan baru, tanpa disertai penjelasan
“bagaimana” hal ini dijalankan dalam praktiknya ataupun “apa” dampak yang akan diperoleh apabila proses penerapan telah selesai (Carlin, 2005).
Pada tingkat yang lebih rumit, terdapat tiga tema saling terkait yang dapat ditemukan dalam literatur-literatur pendukung akuntansi akrual pada sektor publik yang menjelaskan elemen kunci “apa”. Pertama, seringkali dinyatakan bahwa akuntansi akrual akan meningkatkan transparansi baik internal maupun eksternal.
Kedua, seringkali dinyatakan bahwa peningkatan transparansi internal dan eksternal merupakan dasar yang memadai untuk merekomendasikan adopsi akuntansi akrual di atas sistem alternatif lainnya. Selanjutnya, dikatakan bahwa peningkatan transparansi, terutama internal, pada gilirannya akan menggerakkan kinerja organisasi melalui alokasi sumber daya yang lebih baik. Ketiga, bahwa akuntansi akrual memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi biaya penuh kegiatan. Hal ini mengarah pada efisiensi yang lebih besar, alokasi sumber daya yang lebih baik, serta peningkatan kinerja.
Tidak banyak bukti empiris terpublikasi mengenai pengaruh penerapan akuntansi akrual pada sektor publik, dalam hal efisiensi misalnya (Ahn et al., 2014). Akan tetapi pada penelitian di Universitas Ilmu Kedokteran di Iran dengan menggunakan mixed method, Abolhalaje et al. (2012) memperoleh hasil bahwa penerapan akuntansi akrual berdampak pada pengelolaan sumber daya yang lebih optimal dan meningkatkan sensitivitas unit atas konsumsi sumber daya. Hal ini dianggap sebagai tanda bahwa penerapan akuntansi akrual meningkatkan efisiensi
commit to user
pengelolaan sumber daya. Penelitian lainnya mengindikasikan bahwa akuntansi akrual efektif dalam melaporkan transparansi, meningkatkan akuntabilitas dan menentukan total biaya jasa serta kegiatan sektor publik (Bastani et al., 2012).
Terlepas dari masih terdapat pro kontra mengenai penerapan akuntansi berbasis akrual pada sektor publik, pada prinsipnya isu tersebut bukan terletak pada pilihan antara mengadopsi atau tidak melainkan menemukan model yang tepat untuk kebutuhan pemerintah (Barton, 2009). Selama lebih dari dua dekade terakhir, telah banyak negara beralih dari akuntansi berbasis kas menjadi akuntansi berbasis akrual. Diawali oleh New Zealand dan Australia, dan diikuti oleh beberapa negara Eropa seperti Spanyol, Swedia, dan UK. Migrasi dari basis kas menuju basis akrual ini terutama dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan akuntabilitas dan transparansi.
Dewan Standar Akuntansi Sektor Publik Internasional (IPSASB) yang merupakan bagian dari Federasi Akuntan Internasional (IFAC) yang menerbitkan Standar Akuntansi Publik Sektor Internasional (IPSAS) dan giat mendorong pemerintahan dalam segala tingkatan untuk beralih pada akuntansi akrual dan mengadopsi Standar Akuntansi Publik Sektor Internasional (IPSAS) menyatakan bahwa lebih dari laporan keuangan berbasis kas, laporan keuangan berbasis akrual memberikan informasi yang lebih relevan, andal, dapat diperbandingkan, dan bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan (IPSASB, 2011). Pentingnya pemerintah meningkatkan pelaporan keuangannya juga menjadi perhatian institusi keuangan internasional maupun regional seperti Bank Dunia, IMF, ADB dan UNDP (Hepworth, 2003). Institusi-institusi tersebut juga secara kuat mendorong
commit to user
negara-negara berkembang untuk beralih pada akuntansi berbasis akrual (Adhikari dan Mellemvik, 2011; Ahn et al., 2014). Bahkan seringkali, bantuan keuangan yang diluncurkan oleh institusi-institusi keuangan tersebut bergantung pada bagaimana negara-negara tersebut meningkatkan sistem informasi akuntansinya dan mengadopsi akuntansi akrual (Tickell, 2010).
Upaya untuk menerapkan akuntansi akrual pada sektor publik tidak didasarkan pada keyakinan bahwa metode ini superior dibandingkan metode lainnya, tetapi bertujuan untuk mencapai kombinasi terbaik informasi keuangan berbasis kas dan akrual. Informasi tersebut digunakan sebagai alat tambahan bagi manajemen untuk menstimuli dan mencerminkan kinerja sektor publik yang lebih baik dan lebih berorientasi pada hasil. Dengan demikian, akuntansi akrual haruslah dipandang sebagai sarana dan bukan tujuan akhir (OECD, 1993).
Peralihan basis akuntansi ini merupakan tugas yang sangat besar bagi pemerintah, karenanya bagi negara berkembang dengan sumber daya aparatur pemerintah dan infrastruktur yang kurang memadai akan mengalami kesulitan dalam penerapannya. Proses tahapan penerapan yang berhasil dilakukan di negara-negara lain dengan sumber daya aparatur berkeahlian tinggi mungkin tidak dapat diterapkan, sehingga metode penerapan alternatif harus dieksplorasi.
Akuntansi akrual, walaupun dikatakan telah berhasil diterapkan di negara maju, belum berhasil diintegrasikan ke dalam sistem akuntansi pada banyak negara berkembang. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sifat dan kecepatan peralihan menuju akuntansi akrual mencakup hal-hal berikut ini (IPSASB, 2011).
a. Sistem pemerintahan dan kondisi politik suatu negara.
commit to user
b. Bilamana reformasi hanya berfokus pada perubahan kerangka kerja pelaporan atau meliputi skala reformasi yang lebih luas.
c. Bilamana perubahan digerakkan dari atas/“top down” atau bawah/“bottom up”.
d. Basis akuntansi yang digunakan saat ini, kemampuan sistem informasi yang telah ada, dan kelengkapan serta ketepatan informasi, terutama terkait aset dan kewajiban.
e. Basis akuntansi yang digunakan dalam penyusunan dokumen anggaran.
f. Tingkat komitmen politik terhadap adopsi akuntansi akrual.
g. Kemampuan dan keterampilan SDM serta tanggung jawab organisasi untuk menerapkan perubahan tersebut.
Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan bahwa pengenalan akuntansi akrual menyiratkan persyaratan untuk investasi yang besar dalam sistem informasi manajemen untuk mendukung kebutuhan anggaran ex-ante dan praktek manajemen yang lebih baik. Hal ini membutuhkan perubahan budaya oleh manajer dalam departemen dan lembaga melalui pemahaman dan penerimaan tentang bagaimana menggunakan informasi tambahan dan mengenai manfaat potensial yang dihasilkan, serta komitmen untuk berubah (OECD, 1993). Kebutuhan untuk pengeluaran yang besar atas infrastruktur dan perubahan institusional yang diperlukan menjadi hambatan besar bagi negara ekonomi berkembang. Fellow dan Kelaher (1991) berpendapat bahwa konsep akuntansi akrual adalah sederhana untuk dipahami, akan tetapi sulit untuk diterapkan. Terlebih lagi, tugas untuk menerapkan akuntansi keuangan akrual
commit to user
seringkali diremehkan dalam proses komersialisasi. The Treasury Board of Canada (IPSASB, 2011) telah mengidentifikasi beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari organisasi pemerintahan yang telah beralih ke sistem akuntansi akrual, yaitu berikut ini.
a. Adalah hampir mustahil untuk memiliki ekspektasi terlalu tinggi terhadap jumlah pelatihan yang dibutuhkan.
b. Rotasi staf akan timbul selama penerapan.
c. Pelatihan akan memberikan hasil terbaik dengan menggunakan data aktual karena lebih berarti bagi personel yang mengikutinya.
Fokus awal terhadap kebijakan dan standar akuntansi adalah tepat karena dapat berdampak pada kebutuhan sistem informasi, strategi pelatihan dan strategi komunikasi berikutnya.
Memperkenalkan akuntansi akrual bukanlah jaminan bahwa manfaat potensial yang dijelaskan sebelumnya akan muncul atau terjadi. Manifestasinya akan sangat bergantung pada penerapan yang cermat termasuk pertimbangan terkait desain dan cara penerapannya dalam lingkungan reformasi sektor publik.
Pencapaian manfaat penerapan akuntansi akrual bergantung pada beberapa kondisi berikut ini.
a. Informasi akrual harusnya meningkatkan atau ditingkatkan dengan informasi mengenai output, kualitas layanan, efisiensi, efektivitas, serta kas (jika akan ada sinergi yang tercipta).
commit to user
b. Strategi penerapan tingkat tinggi diperlukan untuk merangkul kepentingan dari semua pihak dalam pemerintahan serta menyakinkan bahwa semua kebutuhan pengguna telah diakomodir.
c. Basis akuntabilitas harus didefinisikan dengan jelas (dan lengkap). Manajer harus diberikan insentif, fleksibilitas dan informasi untuk memungkinkan mereka membuat keputusan alokasi sumber daya konsisten dengan basis akuntabilitas. Jika perubahan hanya terbatas pada pelaporan akrual sementara manajer terus beroperasi dan diminta pertanggungjawabannya pada basis anggaran kas, maka resiko akuntansi akrual menjadi bentuk lain dari pelaporan kepatuhan dan manfaat penuhnya tidak akan terealisasi.
d. Pengenalan akuntansi akrual mengimplikasikan kebutuhan investasi yang besar atas sistem informasi manajemen dalam rangka mendukung keperluan penganggaran ex ante dan meningkatkan praktik manajemen. Diperlukan perubahan budaya manajer dalam departemen dan lembaga melalui pengertian dan pemahaman mengenai bagaimana menggunakan informasi tambahan tersebut dan manfaat potensial yang diberikannya, serta komitmen untuk berubah. Pada akhirnya, hal ini membutuhkan investasi dalam masing- masing departemen dan lembaga dalam re-skilling baik melalui rekrutmen atau pelatihan, dan oleh pemerintah pusat dalam menentukan praktik terbaik.
e. Proses peralihan dari akuntansi dan pelaporan berbasis kas menuju basis akrual melibatkan peningkatan kerumitan sistem akuntansi yang berimbas pada peningkatan biaya, karenanya harus diimbangi dengan pertimbangan manfaat yang dirasakan.
commit to user
f. Terdapat banyak cara untuk menyajikan informasi keuangan berbasis akrual pada laporan keuangan. Keputusan untuk menentukan model pelaporan yang diambil harus mencerminkan keseimbangan antara tujuan pelaporan keuangan dan biayanya.
g. Sudah jelas bahwa norma-norma dalam sektor privat tidak dapat diharapkan untuk memenuhi kebutuhan lingkungan sektor publik. Akan selalu terdapat kebutuhan untuk mengembangkan kebijakan akuntansi baru khusus bagi sektor publik, kendatipun terdapat keuntungan yang dirasakan dari harmonisasi pelaporan keuangan antara sektor publik dan privat.
h. Pertimbangan mengenai bilamana dan bagaimana informasi berbasis akrual seharusnya dikonsolidasikan untuk menghasilkan laporan keuangan pemerintah secara utuh.
C. Penelitian Terdahulu
Telah banyak penelitian mengenai adopsi akuntansi akrual pada sektor publik, akan tetapi pada penelitian ini diambil beberapa yang lebih mengkhususkan pada tema implementasi atau penerapan akuntansi berbasis akrual pada sektor publik maupun organisasi nirlaba, terutama mengenai isu serta tantangan atau hambatan yang dihadapi dalam pergeseran sistem akuntansi berbasis kas menuju basis akrual. Athukorala dan Reid (2003) dalam penelitiannya untuk Asian Development Bank (ADB) memeriksa relevansi penganggaran dan akuntansi akrual bagi negara berkembang –khususnya anggota ADB. Berbeda dengan negara maju, negara berkembang menghadapi
commit to user
permasalahan khusus sehubungan dengan sumber daya yang sangat terbatas seperti infrastruktur, keterampilan yang tidak memadai terutama dalam hal personel akuntansi baik dalam institusi pemerintahan maupun institusi audit, dan informasi. Penerapan akuntansi akrual sebagai upaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah dapat mengalami kegagalan dihadapkan pada kepentingan pribadi atau korupsi.
Lye et al. (2005) meneliti laporan keuangan pemerintah pusat New Zealand dengan menggunakan strategi penelitian grounded theory. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengilustrasikan bagaimana perubahan dari akuntansi berbasis kas menuju akuntansi berbasis akrual pada sektor publik di New Zealand.
Kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa terdapat enam hal yang harus mendahului perubahan, yaitu key people (aktor kunci), axial principles (prinsip utama), communicating ideas (mengkomunikasikan gagasan), contextual determinants (penentu kontekstual), ethos (etos), dan knowledge (pengetahuan).
Cohen et al. (2007) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mendasari dan berkontribusi terhadap kegagalan teknologi informasi (TI) yang disebabkan ketidaklayakan dan ketidakmampuan perangkat lunak yang telah dikembangkan untuk mendukung reformasi akuntansi sektor publik di Yunani dan, akhirnya, mengakibatkan keterlambatan penerapan akuntansi akrual pada sektor publik di Yunani. Bukti empiris menunjukkan kurangnya sumber daya yang memadai untuk pelatihan bersama dengan kekurangan keterampilan dan keahlian; tidak adanya insentif untuk adopsi akuntansi akrual; kurangnya staf dan perangkat lunak yang
commit to user
sesuai untuk melaksanakan akuntansi akrual atau menggunakan informasi yang diberikan dengan cara yang tepat dan berguna; dukungan akuntansi atau audit profesional tidak cukup; dan incommunicability informasi berkualitas lebih tinggi yang berasal dari laporan keuangan berbasis akrual, telah secara sistematis dilaporkan sebagai hambatan terhadap modernisasi sistem akuntansi publik.
Arnaboldi dan Lapsley (2009) melakukan studi implementasi akuntansi akrual pada pemerintah lokal di UK dengan menggunakan pendekatan metode kombinasi yang memiliki manfaat utama meningkatkan validitas hasil dengan menarik kesimpulan berdasar bukti dari beberapa sumber. Berfokus pada akuntansi aset yang pengakuan dan penilaiannya menjadi kesulitan utama pada implementasi akuntansi akrual pada sektor publik. Dari tiga kota yang menjadi obyek penelitian diperoleh temuan bahwa pada tingkat manajemen puncak terdapat skeptimisme mengenai penggunaan informasi akuntansi aset/barang modal dalam proses pengambilan keputusan, walaupun diakui memiliki peran penting dalam melengkapi kewajiban.
Eriotis et al. (2011) melakukan penelitian survei pada tahun 2009 terhadap Chief Financial Officers 132 rumah sakit umum di Yunani dengan tujuan untuk memberikan bukti empiris terkait tingkat adopsi standar akuntansi akrual pada sektor kesehatan publik di Yunani yang mulai diperkenalkan pada tahun 2003.
Secara umum, hasil survei menunjukkan bahwa tingkat adopsi akuntansi akrual di rumah sakit umum Yunani khususnya adopsi akuntansi biaya hanya terwujud sampai batas tertentu khusus, rata-rata sebesar 50,99% kepatuhan. Secara khusus, tingkat adopsi berkaitan secara positif dengan kualitas IT, pelatihan terkait,
commit to user
tingkat pendidikan staf akuntansi, dan dukungan profesional. Hasil penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara tingkat adopsi dengan ukuran rumah sakit, biaya implementasi reformasi, latar belakang pendidikan CEO, pengaruh pengalaman menjalankan akrual, dan ketiadaan konflik hubungan antara pihak manajemen-tenaga medis.
Irvine (2011) meneliti proses perubahan dari sistem akuntansi berbasis kas menjadi sistem akuntansi berbasis akrual pada organisasi nirlaba di Australia dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem akuntansi berbasis akrual dihambat oleh strategi implementasi yang buruk, sumber daya yang tidak memadai, struktur organisasi yang otoriter yang mengabaikan kompetensi teknis serta pelatihan yang diperlukan oleh tenaga akuntansi. Berbagai hambatan tersebut menghasilkan sistem akuntansi setengah jalan, antara kas dan akrual, serta sangat berbeda dari gambaran yang diharapkan.
Lande dan Rocher (2011) menjelaskan hal-hal apakah yang harus dipertimbangkan dalam meraih kesuksesan menerapkan akuntansi akrual pada sektor publik. Sebelum menerapkan sistem akuntansi baru, yaitu berbasis akrual, adalah penting untuk memiliki budaya, material dan lingkungan organisasional yang kondusif; juga kapasitas untuk menghadapi kesulitan teknis dan konseptual.
Terkait dengan faktor lingkungan, tahapan implementasi akuntansi akrual dibagi kedalam tiga tahap: pertama, pembuat keputusan (decision-maker) harus menentukan informasi seperti apakah yang diperlukan dan tujuan apa yang ingin dicapai; kedua, redefinisi kerangka konseptual organisasi untuk mendukung reformasi sistem akuntansi yang diinginkan; dan ketiga, mengevaluasi sumber
commit to user
daya teknis dan manusia yang diperlukan untuk mensukseskan reformasi (misalnya pelatihan staf). Adapun resiko terbesar dari penerapan sistem akuntansi akrual menurut Lande dan Rocher (2011) adalah bilamana penerapan tersebut tidak diikuti dengan pemahaman yang baik mengenai tujuannya. Oleh karena itu, permasalahan teknis dan konseptual haruslah mendapat perhatian yang cukup mengingat ketidaklengkapan standar akan mengarah pada penerapan yang parsial.
Pollanen dan Loiselle-Lapointe (2012) meneliti adopsi akuntansi akrual pada pemerintah Kanada dengan menggunakan metode kualitatif exploratory.
Pendekatan implementasi yang digunakan sangat bergantung pada konsultan.
Kekurangan ahli akuntansi akrual dan sistem, bersama dengan tingginya perputaran staf dengan keterampilan yang diperlukan mengakibatkan tingginya kebutuhan akan konsultan luar. Temuan penelitian juga mengindikasikan bahwa teknologi informasi menjadi pusat dalam implementasi akuntansi akrual pada pemerintah Kanada.
Ahn et al. (2014) meneliti mengenai kekuatan institusional (institutional forces), agen kunci perubahan (key change agents), dan keadaan politik lokal (local political fields) dalam adopsi akuntansi akrual di Korea Selatan, dengan mengambil dua kota yang dianggap berhasil dalam penerapan akuntansi akrual sebagai obyek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun terdapat kekurangan dalam hal pengetahuan akuntansi secara spesifik, akan tetapi reformasi administratif di dua kota tersebut, dalam hal ini akuntansi akrual, terbilang sukses dengan digerakkan oleh unsur politik (political drivers) serta dorongan mencapai keuntungan simbolis (symbolic capital benefits) bagi individu
commit to user
dan institusi. Political drivers dan benefits yang dimaksud adalah bahwa keberhasilan penerapan akuntansi akrual memiliki manfaat politis yang penting bagi aktor kunci yang terlibat di dalamnya.
Kehendak politik yang kuat dari walikota menjadi hal yang utama.
Selanjutnya, strategi menuju sukses yang digunakan adalah membangun jaringan (network building) dengan institusi profesional di luar pemerintahan, parlemen, dan dalam lingkup pemerintahan kota sendiri untuk bersama-sama mendukung proyek implementasi akuntansi akrual. Selain itu, strategi lainnya adalah mengambil langkah-langkah dalam rangka proses perubahan perilaku menuju akuntansi akrual (value change) dan pembangunan keahlian (building expertise) dalam lingkup pemerintahan kota. Tanpa adanya strategi network building atau value change, adopsi akuntansi akrual tidak akan efektif. Dengan kata lain, perubahan menuju akuntansi akrual harus dipahami dalam lingkup konteks politik dan tindakan individu sebagai agen perubahan.
Azmi dan Mohamed (2014) meneliti kesiapan pekerja sektor publik pada Kementerian Pendidikan (Ministry of Education) Malaysia untuk penerapan akuntansi akrual. Hasilnya adalah terdapat kekhawatiran dalam menyongsong akuntansi akrual, yaitu bahwa tenaga akuntansi yang ada saat ini tidak cukup berkualitas dan terampil dalam menangani pelaksanaan akuntansi akrual - kebanyakan tidak memahami laporan keuangan sektor privat yang berbasis akrual sebagaimana telah diajarkan dalam pelatihan-, ketidakcukupan pelatihan in-house yang diselenggarakan serta pendekatan manajemen puncak yang dirasa kurang.
Terlebih, ketergantungan terhadap konsultan eksternal menjadi kekhawatiran
commit to user
utama mengingat biaya yang ditimbulkannya. Walaupun para tenaga akuntansi tersebut menyatakan kesiapan menghadapi implementasi akuntansi akrual, terdapat tantangan yang akan menghambat proses tersebut, antara lain kurangnya pelatihan yang dilakukan, kurangnya pengetahuan, kesulitan dalam pengumpulan data aset, kemungkinan kegagalan integrasi sistem yang ada dengan yang baru, kurangnya dukungan dari manajemen puncak, serta waktu yang tidak mencukupi.
Mahadi et al. (2014) melakukan revisi literatur, meneliti isu dan tantangan yang dihadapi oleh New Zealand, Australia, dan UK dalam penerapan akuntansi akrual pada sektor publik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pergeseran menuju akuntansi akrual menghadapi beberapa kesulitan dalam penerapannya seperti pengakuan dan penilaian aset dan kewajiban, kompetensi sumber daya manusia, dan biaya implementasi yang tinggi.
Sementara untuk kasus Indonesia, terdapat beberapa penelitian terpublikasi yang membahas mengenai tema ini, antara lain Harun dan Robinson (2010) meneliti tentang adopsi akuntansi akrual pada sektor publik di Indonesia dengan metode historically informed study berdasarkan versi modifikasi dari Luder’s Contingency Model (LCM) (Lüder, 1992). Penelitian tersebut selain menggunakan data berupa dokumen resmi pemerintah Indonesia mengenai sistem pelaporan sektor publik dan wawancara dengan figur kunci yang terlibat dalam reformasi sektor publik di Indonesia, juga menggunakan data berupa informasi lainnya mengenai perkembangan implementasi sistem akuntansi akrual pada sektor publik di Indonesia. Penelitian awal oleh Lüder (1992) menyimpulkan bahwa kebijakan desentralisasi pemerintah, sistem undang-undang sipil (misalnya
commit to user
sistem non Anglo-Saxon), dan kekurangan akuntan berkualifikasi adalah hambatan penting bagi reformasi akuntansi sektor publik. Pada kasus Indonesia, dengan menggunakan model kontijensi sebagaimana Lüder (1992), Harun dan Robinson (2010) menyimpulkan bahwa pemerintah Indonesia masih berhadapan dengan hambatan penerapan atau adopsi akuntansi akrual yang signifikan, yaitu isu hukum, kurangnya kehendak politik dan dukungan dari parlemen (DPR), serta kekurangan sumber daya manusia yang ahli.
Harun et al. (2013) mengeksplorasi latar belakang serta hambatan reformasi dan kondisi sistem akuntansi akrual yang diadopsi oleh pemerintah daerah di Indonesia. Penelitian dengan metode kualitatif tersebut memperoleh kesimpulan bahwa permasalahan yang paling serius dan mencegah terjadinya reformasi sektor publik di Indonesia adalah korupsi. Selanjutnya, mengenai penerapan akuntansi akrual di Indonesia, Harun et al. (2013) mengangkat dua permasalahan, yaitu sistem manajemen sumber daya manusia yang mendefinisikan struktur birokrasi pemerintah dengan sangat kaku yang membatasi kapasitas birokrasi untuk fleksibel dalam rangka mencapai efisiensi. Permasalahan kedua adalah seringnya muncul perubahan peraturan mengenai pelaporan oleh instansi pusat, yaitu peraturan yang berlawanan dan tidak stabil atas sistem pelaporan pemerintah daerah yang diterbitkan pemerintah pusat. Kesimpulan akhir dari Harun et al.
(2013) bahwa adalah penting bagi Indonesia dan negara ekonomi berkembang lainnya yang berupaya menerapkan akuntansi dan anggaran akrual dengan sukses untuk mengetahui kebutuhan sistem manajemen sumber daya manusia modern.
commit to user
Bertujuan untuk memahami reformasi akuntansi sektor publik di Indonesia termasuk tantangan yang dihadapi pemerintah dalam penerapannya, McLeod dan Harun (2014) mengumpulkan informasi dari pemerintah Kota Tangerang, Palu, dan Kabupaten Bima untuk memperoleh apresiasi praktis seputar permasalahan penerapan di tingkat lokal, sebagai tambahan atas informasi yang diperoleh dari berbagai dokumen resmi pemerintah serta wawancara dengan perumus kebijakan di tingkat pusat. Hasilnya, terdapat dua permasalahan utama dalam penerapan reformasi akuntansi sektor publik pada tingkat lokal di Indonesia, yaitu kekurangan tenaga akuntansi dan kurangnya konsistensi pemerintah pusat terkait dengan aturan-aturan penerapan yang diterbitkan. Dua konsekuensi langsung dari kurangnya akuntan yang memenuhi syarat dan konflik aturan yang dihadapi oleh pemerintah daerah adalah rendahnya tingkat kepatuhan terhadap SAP (Standar Akuntansi Pemerintahan) dan ketidakbermanfaatan laporan berbasis akrual dalam pengambilan keputusan.
Suparman et al. (2015) melakukan penelitian dengan menggabungkan metode deskriptif dan analitis dengan mengadopsi kerangka kerja yang diadopsi oleh pemerintah New Zealand (Ouda, 2008). Data yang digunakan berupa data sekunder dan informasi untuk mengulas strategi akuntansi akrual yang diadopsi di Indonesia. Data sekunder yang digunakan adalah berbagai peraturan atau dokumen yang diterbitkan dari tahun 1975 sampai dengan 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan paling signifikan bagi sistem berbasis akrual adalah resistensi dari mereka yang tidak mau merubah kebiasaan dan praktik lama –dinyatakan pula oleh Becker et al. (2014)-, karenanya perubahan mensyaratkan
commit to user
dukungan politik dan kepemimpinan yang kuat. Berpijak dari hal tersebut, adopsi sistem akuntansi baru akan menghadapi masalah, kecuali apabila isu mengenai pelatihan staf, akuntansi profesional, sumber daya manusia, dan sistem manajemen perubahan yang baik dapat diselesaikan. Terdapat kebutuhan mutlak untuk memperbaiki strategi komunikasi –sebagaimana dinyatakan pula oleh Harun et al. (2013)-, lebih banyak pelatihan serta workshop. Sistem insentif harus ditingkatkan sehingga sektor publik mampu menarik minat akuntan profesional serta disisi lain meningkatkan motivasi staf. Faktor lain yang harus diselesaikan adalah memastikan kapasitas dan kapabilitas sistem TI terintegrasi, meningkatkan prosedur pengendalian internal, dan mengintegrasikan sistem penganggaran dan akuntansi.
Ibrahim dan Akbar (2015) melakukan penelitian mengenai penerapan akuntansi akrual pada pemerintah daerah di Indonesia dengan membandingkan penerapan akuntansi akrual di Kota Semarang (telah menerapkan akrual penuh) dan Kota Palopo (masih menggunakan basis cash toward accrual). Menggunakan metode yang berbeda, yaitu metode campuran sequential exploratory. Hasil fase kualitatif menunjukkan bahwa kunci kesuksesan Kota Semarang dalam menerapkan akrual adalah kemauan berinovasi, sementara Kota Palopo – sebagaimana terjadi pada kebanyakan pemerintah daerah di Indonesia- terjebak pada fenomena prokrastinasi. Pada fase selanjutnya, yaitu kuantitatif, berhasil ditemukan 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penerapan akuntansi akrual, yaitu faktor aturan, faktor sumber daya manusia, faktor komitmen pimpinan, faktor strategi implementasi, dan faktor karakteristik organisasi.
commit to user
D. Sintesis Kajian Pustaka
Dari berbagai literatur serta penelitian terdahulu sebagaimana pembahasan di atas, berikut sintesis mengenai faktor-faktor yang –mungkin- mempengaruhi penerapan akuntansi akrual pada Pemerintah Kabupaten Magetan.
Tabel 2
Elemen yang Mempengaruhi Penerapan Akuntansi Akrual pada Pemerintah
Elemen Penulis
- SDM -tenaga akuntansi- berlatar belakang akuntansi; penempatan SDM yang keliru;
tingkat pendidikan
Cohen et al. (2007); Harun et al.
(2013); Sitorus et al. (2015); Eriotis et al. (2011); Irvine (2011); Pollanen dan Loiselle-Lapointe (2012); McLeod dan Harun (2014); Suparman et al. (2015);
Ibrahim dan Akbar (2015) - Kompetensi teknis, re-skilling (misalnya
dengan pemberian pelatihan)
Cohen et al. (2007); Harun et al.
(2013); Kementerian Dalam Negeri (2014); IPSASB (2011); Athukorala dan Reid (2003); Eriotis et al. (2011);
Irvine (2011); Lande dan Rocher (2011); Ahn et al. (2014); Azmi dan Mohamed (2014); Mahadi et al.
(2014); Suparman et al. (2015);
Ibrahim dan Akbar (2015)
- Pemahaman mengenai akuntansi akrual Harun et al. (2013); IPSASB (2011);
Lye et al. (2005); Lande dan Rocher (2011); Azmi dan Mohamed (2014)
- Resistensi Suparman et al. (2015); Becker et al.
(2014) - Unsur motivasi dan sistem insentif (reward
system) yang tidak tepat
Cohen et al. (2007); Harun et al.
(2013); Azmi dan Mohamed (2014);
Suparman et al. (2015); Ibrahim dan Akbar (2015)
- Penataan SOTK terkait dengan tugas dan fungsi akuntansi
Kementerian Dalam Negeri (2014) - SOP penerapan SAP berbasis Akrual Kementerian Dalam Negeri (2014)
- Kelancaran arus informasi;
pengkomunikasian gagasan
Athukorala dan Reid (2003); Lye et al. (2005); Suparman et al. (2015) - Struktur organisasi Irvine (2011); Ibrahim dan Akbar
(2015)
- Budaya organisasi, etos kerja Kementerian Dalam Negeri (2014), Lye et al. (2005); Lande dan Rocher (2011); Ahn et al. (2014)
- Software (Sistem Informasi Manajemen) yang memadai; penyesuaian aplikasi;
integrasi sistem
Cohen et al. (2007); Kementerian Dalam Negeri (2014); IPSASB (2011); Eriotis et al. (2011); Pollanen
commit to user
Elemen Penulis
dan Loiselle-Lapointe (2012); Azmi dan Mohamed (2014); Suparman et al. (2015); Ibrahim dan Akbar (2015) - Dukungan memadai dari profesi akuntansi
dan audit
Cohen et al. (2007); Eriotis et al.
(2011); Ahn et al. (2014); Suparman et al. (2015); Ibrahim dan Akbar (2015) - Sarana dan prasarana serta proses
pendidikan di perguruan tinggi untuk mendukung pengembangan akuntansi sektor publik
Harun et al. (2013)
- Kehendak politik dan kepemimpinan Harun dan Robinson (2010);
Kementerian Dalam Negeri (2014);
Samaratunge et al. (2008); IPSASB (2011); Lye et al. (2005); Arnaboldi dan Lapsley (2009); Ahn et al.
(2014); Suparman et al. (2015);
Ibrahim dan Akbar (2015)
- Kemauan berinovasi Ibrahim dan Akbar (2015); Ahn et al.
(2014)
- Peraturan pelaksanaan Kementerian Dalam Negeri (2014);
Ibrahim dan Akbar (2015) - Inkonsistensi pemerintah pusat yang
ditunjukkan dengan konflik regulasi serta penerbitan dan pergantian peraturan yang terlalu sering
McLeod dan Harun (2014)
- Pengakuan dan penilaian aset Arnaboldi dan Lapsley (2009);
Mahadi et al. (2014)
- Pengumpulan data aset Azmi dan Mohamed (2014)
- Kebutuhan yang tinggi akan konsultan luar Pollanen dan Loiselle-Lapointe (2012)
- Waktu yang tidak mencukupi Azmi dan Mohamed (2014) - Biaya implementasi yang tinggi Mahadi et al. (2014)
Sumber: dikembangkan untuk penelitian ini, 2016
Penelitian-penelitian mengenai penerapan akuntansi berbasis akrual tersebut pada umumnya dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan berupa data primer berupa hasil wawancara dan data sekunder berupa dokumen-dokumen resmi. Hasil penelitian-penelitian tersebut berfokus pada beberapa isu seputar penerapan akuntansi berbasis akrual pada sektor publik terutama mengenai sumber daya manusia, sistem
commit to user
informasi/teknologi, serta kehendak politik. Dengan penggunaan pendekatan mixed method dan menggabungkan indikator-indikator atau variabel-variabel tersebut dalam satu penelitian untuk kemudian mendalaminya, diharapkan penelitian ini akan mampu untuk menangkap dan mengungkap lebih banyak hal terkait penerapan akuntansi berbasis akrual pada pemerintah daerah terutama ditinjau dari perspektif pengelola keuangan/penyusun laporan keuangan entitas pemerintah daerah.
Faktor-faktor hasil penelitian sebelumnya sebagaimana Tabel 2 diatas akan dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan indikator-indikator atau pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner yang akan digunakan sebagai instrumen pengumpulan data dalam tahap kuantitatif penelitian ini. Pengumpulan data melalui metode survei pada tahap kuantitatif dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang pertama, yaitu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan akuntansi berbasis akrual pada Pemerintah Kabupaten Magetan.