• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "5. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

5. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

5.1. Data Order

Data order buian Nopember 2003 akan diolah menjadi data-data yang dibutuhkan untuk mengerjakan penjadwalan produksi baik dengan metode usulan dan perusahaan. Data-data yang diperlukan adalah waktu prosesjob, due datejob, bobo\ job, panjang dan lebar rol bahan, panjang dan lebar rol slitting, jumlah rol slitting yang dipesan konsumen dan jumlah rol bahan. Berikut adalah contoh data order bulan Nopember 2003 yang dapat dilihat pada Tabel 5.1 dan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1.1.

Tabel 5.1. Contoh Data Order Bulan Nopember 2003

No.

Job 1 2 3 4 5

Komposisi bahan

"NYLON15TLDPE30

"NYLON15TLDPE30

"NYLON15TLDPE30

"NYLON15TLDPE30

"NYLON15TLDPE30 Wama

3 4 3 5 5

Lbr.

bahan 990 990 990 990 930

Pig bahan

6000 6000 6000 6000 6000

Lbr.

Slitting 60 180 130 120 150

Slitting PJ9-

1000 1000 1000 1000 1000

Jmlrol Slitting 350 120 200 105 200

Jmlup lebar 16.00 5.33 7.38 8.00 6.00

Jml up panjang 6.00 6.00 6.00 6.00 6.00

Jml. rol bahan (unit)

4 4 5 3 6

Jml. rol bhn. (m) 24000 24000 30000 18000 36000

5.1.1. Jumlah Rol Bahan

Konsumen memesan barang ke perusahaan dalam jumlah rol slitting, sehingga untuk memenuhi pesanan konsumen perusahaan harus menghitung terlebih dahulu jumlah rol bahan yang diperlukan. Jumlah rol bahan didapatkan dengan persamaan (4.2).

D D_ RSxpSxlS

K.B

pBx(lB-30mm)

Misalnya, untuk menghitung jumlah rol bahan untuk job 1 dari Tabel 5.1.

Diketahui jumlah rol slitting (RS), panjang slitting (pS), lebar slitting (1S), panjang bahan (pB) dan lebar bahan (1B) adalah RS = 350 rol; pS = 1000 m ; 1S = 60 mm ; pB = 6000 m ; 1B = 990 mm.

38

(2)

Sehingga:

350 JC 1000 *60

D D — _ _ _ _ _

6000 x (990 -30) RB = 3.6*4rol

Jumlah rol bahan untuk jobs yang Iain selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 1.1.

5.1.2. Waktu Proses Job j (pj)

Waktu proses job j (pj) di tiap proses printing, laminating dan slitting dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (4.1). Untuk menghitung waktu proses di laminating dan slitting data jumlah rol bahan (RB) disesuaikan untuk 1 rol, karena rol yang keluar dari printing akan langsung diproses pada laminating begitu juga untuk rol yang keluar dari laminating menuju slitting.

RB x pB

Pj = ~ —

v

Misalnya, menghitung waktu prosesyoA 1 di mesin/?/7H//Hg 5A, laminating dry 5 dan slitting 2. Diketahui jumlah rol bahan job 1 (RB), panjang bahan (pB) dan kecepatan tiap mesin adalah RB = 4 ; pB = 6000 m ; v printing = 135 m/mnt ; v laminating dry =121 m/mnt; v slitting = 165 m/mnt.

Sehingga:

• p\printing 5A 4 x 6000

P , =

~[^

pi = 177.8 «178 menit

• pi laminating dry 5 1 x 6000

P , = =

~l2l

pi = 49.6 w 50 menit

(3)

40

• pi slitting 2

1 x 6000

P l =

~ l 6 l

pi = 36.4 * 36 menit

Waktu proses masing-masing job berdasarkan kecepatan mesin dimana job tersebut diproses. Data kecepatan mesin selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.6.

5.1.3. Due Date Job} (dj) pada Proses Printing

Data due date job j yang diperoleh dari perusahaan adalah due date slitting. Penjadwalan dengan metode ATCS dilakukan pada proses printing, sehingga perlu dihitung due date di printing dengan persamaan (4.3).

dj Printing = dj siitting " (Ct Slitting C t Laminating) ( C t Laminating " C t Printing)

Misalnya, job 1 diketahui dj slitting = 960 menit; Ct slitting = 339 menit ; Ct

laminating = 303 menit; Cxprinting = 208 menit (lihat Lampiran 1.2 ).

Sehingga:

Ul Printing 960 - (339 - 303) - (303 - 208)

= 829menit

5.1.4. Boboty'067 (WJ)

Pada penjadwalan metode ATCS diperlukan bobotyoo, dimana bobot setiapy'oo dihitung dengan menggunakan persamaan (4.4 ).

Wj = C / d j

Misalnya, menghitung boboty'o^ 1 dengan menentukan konstanta penyesuaian C = 1000 dan dj Prmtmg = 829 menit.

(4)

Sehingga :

w, = 1000/829= 1.21

Karena bobot Job j berdasarkan due date printing maka selengkapnya nilai bobot seliap job dapat dilihat pada Lampiran 2.1.

5.2. Metode Penjadwalan Usulan

Metode penjadwalan usulan merupakan kombinasi antara metode Apporent Tardiness Cost With Setup (ATCS) dengan First Come First Serve (FCFS). Penerapan metode ATCS hanya pada proses printing, sedangkan FCFS untuk proses berikutnya yaitu laminating dan slitting. Kombinasi ini ditujukan untuk mengurangi idle time mesin.

5.2.1. Metode Apparent Tardiness Cost With Setups (ATCS)

Metode Apparent Tardiness Cost With Setups (ATCS) menghitung indeks dari semua order yang dijadwalkan. Indeks dengan nilai tertinggi dipilih untuk dijadwalkan terlebih dahulu kemudian sisa job yang belum dijadwalkan akan dihitung ulang indeksnya. Iterasi ini akan terus berlanjut sampai semuayoA dijadwalkan. Variabel yang dimasukan dalam perhitungan adalah waktu proses (Pj), bobot dari order (WJ), due date dari order (dj) dan waktu setup (Sj).

Penjadwalan ATCS dilakukan pada printing sedangkan laminating dan slitting penjadwalannya mengikuti penjadwalan di printing. Sehingga data-data mengenai bobot, due date, waktu proses, setup time hanya di printing. Indeks dihitung dengan persamaan (2.5).

I j ( t , l ) = ^ e x p P)

max(dj-pj-t,Qy

K\p~ exp sv

v K2S

Setelah data-data tersebut diperoleh secara lengkap maka selanjutnya menghitung indeks ATCS dengan langkah-langkah sebagai berikut:

(5)

Misalnya_/oAs di printing 10

Jobs yang diproses di printing 10 dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2. Jobs yang Diproses di Printing 10

No.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

No job 8 10 41 50 52 53 54 56 58 61 95 106 110 113 123 131

Processing time (p,) mnt 471

2212 141 894 235 706 706 329 1365

706 1482

329 471 753 376 25741

| > y =36918

Setup (Sj) mnt 50 40 10 70 70 70 70 70 70 70 50 10 40 50 60 40

s = 52.5

Due date (dj) mnt 648 2782 3662 13033

5142 4867 4557 5028 4585 4867 12068 15106 16488 16370 16618 38763

£4=164581

• Menghitung nilai estimasi C,

n __

Cmax= ^Pj + nS

y=i

diketahui: s - 52.5 ; n = 16 maka:

Cmax = 36918+ (16) (52.5) Cmax - 37757.6

(6)

• Menghitung due date rangefactors ( R )

diketahui: dmax = 38763 ; dmm = 648 38763-648

37757.6 R= 1.0

• Menghitung Ki

Ki = 4,5 + R, Jika R < 0,5 Ki - 6-2R, Jika R > 0,5

Karena R > 0.5 maka persamaan yang dipakai adalah K, = 6-2R

K, = 6-2(1) K , = 4

• Menghitung due date tightness factors ( o )

diketahui:dj= 164581 164581

" 16(37757.6) o = 0.728

• Menghitung setup time severity factors (r\)

T) = Slp

11=52.5/2307.4 TI = 0.023

• Menghitung K2

K

2

= o/(2V7)

K2 = 0.728/(2V0.023) K2 =2.412

(7)

44

• Menghitung Indeks ATCS Ij(U)= — « c p

PJ

max(fl& -pj-1,0)

v Kxp exp

1 54

Is (0.0) - -i- exp max(648-471-0,0)^

471

I8 (0,0) = 0.002167971

(4)(2307.4)

Su

Kis) exp

50 (2.412)(52.5)

Dengan cara yang sama didapatkan hasil indeks ATCS setiapyoft dalam Table 5.3.

Tabel 5.3.

Iterasi 1 DIPILIH

Perhitungan Indeks ATCS Iterasi 1 di Printing 10

Job 1.(0,0) I.o(0,0) I4. (0,0) I»(0,0) I52(0,0) I53 (0,0) I«(0,0)

156(0,0) l5g(0,0) I«(0,0) I95(0,0) Il06(0,0) Ino(0,0) lm(0,0) 1123 (0,0) 1131 (0,0)

IndeksJob 0.002167971 0.000111386 0.001218176 1.3168E-05 0.000278755 0.000106458 0.000117613 0.000208247 6.47625E-05 0.000106458 1.18968E-05 3.71692E-05 1.6433E-05 9.98528E-06 1.69837E-05 1.7706E-07

Iterasi diatas menunjukkan job dengan indeks terbesar 0.002167971 yaituyoZ» 8 akan dipilih untuk dijadwalkan pertama kali di printing 10, selanjutnya iterasi dilanjutkan untuk memilih job berikutnya yang akan diproses di printing

10. Perhitungan ini menggunakan asumsi bahwa nilai Ki dan K2 tetap. Iterasi kedua dimulai pada waktu ke-521 (50 + 471 ) yaitu setup time dan waktu proses

(8)

job 8 di printing 10. Pada iterasi kedua ini jumlah jobs yang belum terjadwal menjadi 15.

Jobs Sequencing: 8

T , . - , o^ 0.359

I,o(521,8) = ^ T ^ e K p f max(2782-2212-521,0)^

2212 I,o (521,8) = 0.000118036

(4)(2430) exp

40 (2.412)(53)

Dengan cara yang sama didapatkan hasil indeks ATCS dalam Table 5.4.

Tabel 5.4.

Iterasi 2

DIPILIH

Perhitungan Indeks ATCS Iterasi 2 di Printing 10

Job I.o(521,8) I41 (521,8))

I » (521,8) 152(521,8) I » (521,8) I*. (521,8) 156(521,8) I58(521,8) U, (521,8) IM (521,8) 1,06(521,8) Iiio(521,8) 1,13(521,8) 1,23(521,8) 1.3,(521,8)

Indeks Job 0.000118036 0.001310989 1.48797E-05 0.000302735 0.000115144 0.000126993 0.000225905 6.96861E-05 0.000115144 1.33225E-05 4.25491 E-05 1.89542E-05 1.14948E-05 1.96233E-05 2.00895E-07

Iterasi diatas menunjukkan job dengan indeks terbesar 0.001310989 yaituy'oo 41 akan dipilih untuk dijadwalkan setelahy'oo 8 di printing 10, kemudian iterasi dilanjutkan untuk memilih job berikutnya yang akan diproses di printing 10. Perhitungan ini menggunakan asumsi bahwa nilai Kl dan K2 tetap. Iterasi ketiga dimulai pada waktu ke-672 ( 521 + 10 + 141 ) yaitu waktu selesainyay'oo 8 diproses ditambah dengan setup time dan waktu prosesjob 41 di printing 10. Pada iterasi ketiga ini jumlahyoo^ yang belum terjadwal menjadi 14.

(9)

46

Jobs Sequencing: 8-41

I,o(672,41) = 0.359 2212 exp

II0 (672,41) = 0.000120694

max(2782-2212-672,0) (4)(2593) exp

40 (2.412X56)

Dengan cara yang sama didapatkan hasil indeks ATCS dalam Table 5.5.

Tabel 5.5. Perhitungan Indeks ATCS Iterasi 3 di Printing 10

Iterasi 3

D I P I L I H

Jol) I,o(672,41) I» (672,41) IS2 (672,41) I53 (672,41) 154(672,41) 156(672,41) I» (672,41) 16,(672,41) 1,5(672,41) 1,06(672,41) lno(672,41) 1,13(672,41) I,23(672,41) 1,3,(672,41)

Indeks Job 0.000120694

1.6785E-05 0.000325775 0.000123307 0.000135722 0.000242769 7.41701E-05 0.000123307 1.47494E-05 4.75837E-05 2.16469E-05 1.31501E-05 2.26379E-05 2.24999E-07

Iterasi diatas menunjukkan job dengan indeks terbesar 0.000325775 yaitu job 52 akan dipilih untuk dijadwalkan setelah job 41 di printing 10, selanjutnya iterasi dilanjutkan untuk memilihy'06 berikutnya yang akan diproses di printing 10 setelahyoA 52. Iterasi akan berhenti sampai semua job dijadwalkan.

Jobs Sequencing : 8 - 41 - 52

Setelah melakukan 15 iterasi seperti diatas didapatkan jobs sequencing pada printing 10 :

8-41-52-56-54-53-61-10-106-58-123-110-50-113-95-131

(10)

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat di Lampiran 2.4 dan sebagai validasi dari program hasil penjadwalan ATCS dapat dilihat Lampiran 2.3.

Sedangkan untuk printing 5A, 5B, 6A, 6B, 7, 8, 9, 10, 11 dilakukan iterasi yang sama dan didapatkan hasil jobs seauence dalam Tabel 5.6.

Tabel 5.6. Hasil Jobs Seguence pada Printing

Printing 5A 5B 6A 6B 7 8 9 10 11

Jobs Sequence 1-34-31-29-13-69-121-82-118-154

2-19-12-38-36-28-25-30-79-86-67-126-133-156

3-11-27-18-42-43-44-66-85-104-134-129-132-130-148-160 62-4-9-20-23-37-64-15-68-117-116-150-124-111-90-83-151

5-55-57-59-60-76-51 -48-49-144-147-155-143-142-141 -145-146-136-139-140-138-135-137 6-39-32-24-14-46-65-74-71 -84-92-127-101 -94-103-99-115-108-153-120-89

7-35-21 -16-45-22-47-70-73-77-80-91 -87-96-97-102-105-98-109-114-119-128-152 8-41 -52-56-54-53-61 -10-106-58-123-110-50-113-95-131

40-33-63-100-107-93-17-72-26-125-149-78-122-75-112-88-81-157-159-158

Setelah semuay'oo terjadwal pada masing-masing mesin printing dengan sequence dalam Tabel 5.6, maka langkah selanjutnya adalah menjadwalkan jobs pada laminating dry, laminating extruder dan slitting.

5.2.2. Metode First Come First Serve (FCFS)

Penjadwalan jobs pada laminating dry, laminating extruder dan slitting menggunakan metode FCFS.

• Laminating Dry

Proses penjadwalany'ofo pada laminating dry terlebih dahulu dilakukan dengan mengelompokkan/ofe sesuai dengan karakteristik mesin laminating dry.

Data-data mengenai pengelompokkan/oZw dapat dilihat pada Tabel 4.3. Job yang akan dijadwalkan pada laminating dry berasal dari jobs seauence penjadwalan metode ATCS di printing. Penjadwalannya dilakukan per rol dengan tujuan untuk mengurangi idle time mesin yang lama. Sehingga setiap rol/oo j yang keluar dari printing langsung dijadwalkan pada mesin laminating dry yang sesuai.

(11)

48

Contohnya adalah jobs yang telah dijadwalkan pada printing 10 selanjutnya akan dikelompokkan pada laminating dry menurut kesesuaian karakteristiky'o&s dengan mesin seperti dalam Tabel 5.7. Hasil penjadwalan pada laminating dry dapat dilihat pada Tabel 5.8. Pada laminating dry 3 terdiri dari jobs 95 dan 123, job tersebut akan dijadwalkan dengan metode FCFS yaitu waktu

penyelesaian job terkecil di printing akan dijadwalkan lebih dulu.Waktu penyelesaian 1 rol pertama_/oA 95 dan job 123 adalah 10565 menit dan 7837 menit, sehingga yang dijadwalkan terlebih dahulu adalah job 123 begitu juga dsnganjobs lain.

Tabel 5.7 Hasil Pengelompokkan Jobs Printing 10 pada Laminating Dry

Dry2 -

Dry3 95, 123

Dry4 41

Dry5 106, 113

Dry6 52

Tabel 5.8. Hasil Jobs Seguence pada Laminating Dry

Dry 2 3 4 5 6

Jobs Sequence 6-62-4-33-39-42-43-76-82-125-96-83-157-99-159-120-128-158

5-35-100-21-107-93-25-45-22-86-126-117-116-124-92-127-123-101-102-95-129 2-41-31-32-70-156-26-81

1-20-63-27-38-44-47-118-84-150-80-91-106-149-122-75-94-103-113-130-119-160 3-34-9-52-23-24-64-79-65-74-77-154-78

• Laminating Extruder

Proses penjadwalanv'ofe pada laminating extruder sama dengan proses penjadwalan pada laminating dry. Pengelompokkan jobs sesuai dengan karakteristik mesin laminating extruder dapat dilihat pada Tabel 4.4. Job yang akan dijadwalkan pada laminating extruder berasal dari jobs seauence penjadwalan metode ATCS di printing.

Contohnya adalah jobs yang telah dijadwalkan pada printing 10 selanjutnya akan dikelompokkan pada laminating extruder menurut kesesuaian karakteristik jobs dengan mesin seperti dalam Tabel 5.9. Hasil penjadwalan pada laminating extruder dapat dilihat pada Tabel 5.10. Pada laminating extruder 1

(12)

terdiri dari jobs 61 dan 13\,job tersebut akan dijadwalkan dengan metode FCFS yaitu waktu penyelesaian job terkecil di printing akan dijadwalkan lebih dulu.

Waktu penyelesaian 1 rol pertamajob 61 danjob 131 adalah 3045 menit dan 12064 menit, sehingga yang dijadwalkan terlebih dahulu adalahy'oo 61 begitu juga dengan jobs lain.

Tabel 5.9. Hasil Pengelompokkan Jobs Printing 10 pada Laminating Extruder

Extruder 1 61,131

Extruder 2 8,110

Extruder4 10,53

Kx truder 6 -

Extruder 7 56,58

Extruder 8 50,54

Tabel 5.10. Hasil Jobs Seguence pada Laminating Extruder

Extruder 1 2 4 6 7 8

Jobs Sequence 7-57-29-59-68-61-73-17-72-112-87-105-136-114-131 8-18-36-60-15-51-49-110-104-151-135

12-53-71-10-133-141-145-109-89-138 40-13-14-30-66-85-155-142-115-140

19-11 -55-56-16-37-28-69-46-121-67-111 -58-144-88-97-98-146-153-132-148-139-137 54-48-90-147-143-50-108-134-152

• Slitting

Proses penjadwalan jobs pada slitting sama dengan proses penjadwalan pada laminating dry dan extruder. Pengelompokkan jobs sesuai dengan karakteristik mesin slitting dapat dilihat pada Tabel 4.5. Job yang akan dijadwalkan pada slitting berasal danjobs seauence penjadwalan metode FCFS di laminating.

Contohnya adalah jobs yang telah dijadwalkan pada laminating selanjutnya akan dikelompokkan pada slitting menurut kesesuaian karakteristik jobs dengan mesin seperti dalam Tabel 5.11. Sedangkan hasil penjadwalan pada slitting dapat dilihat pada Tabel 5.12. Pada slitting 11 terdiri dar\ jobs 95 dan 123, job tersebut akan dijadwalkan dengan metode FCFS yaitu waktu penyelesaian yoo

terkecil di laminating akan dijadwalkan lebih dulu. Waktu penyelesaian 1 rol pertamay'oo 95 di laminating dry 3 danjob 123 di laminating dry 3 adalah 10647

(13)

50

menit dan 8726 menit, sehingga yang dijadwalkan terlebih dahulu ada\ah job 123 begitu juga dengan jobs lain.

Tabel 5.11. Hasil Pengelompokkan Jobs Laminating pada Slitting

Slitting 1 Slitting 2 Slitting 3 Slitting 4 Slitting 5 Slitting 6 Slitting 7 Slitting 8 Slltting 9 Slitting 10 Slittingll Slitting 12 Slitting 13 Slitting 14 Slitting 15 Slitting 16 Slitting 17 Slitting 18 Slitting 19 Slitting 20 Slitting 21

106 41

- 58 52 110

8 53

- - 95,123

50 113

- 61 10 - - - 54, 131

56

Tabel 5.12. Hasil Job Seguence pada Slitting

Slitting 1 2 3 4 5 6 7 8

3-19-38-24-60-77-86-92-106-145 1-41-43-25-85-147-138 5-33-44-67-91-159-143 2-23-74-69-124-58-157-160-115 34-52-4-101-89-78-26

7-21-64-71-110-96-87-132-120 8-31-39-107-70-80-151-158

12-100-53-30-46-117-127-149-134

Job Sequence

(14)

Slitting 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

6-57-35-28-118-144-122-152-137 11-42-59-66-73-125-104-142-128 63-55-13-68-123-95-103 9-62-27-154-50

82-48-84-141-113-148-135 40-93-15-49-136-130-108 37-51-61-111-17-129-99-155 76-10-88-102-94-109-146 16-47-156-75

20-79-121-22-150-90-139 36-14-83-98-114-140-81 18-32-54-65-126-112-105-131 29-56-45-116-72-133-97-153-119

Job Sequence

Setelah didapatkan jobs sequence diatas, maka langkah selanjutnya adalah menghitung mean tardiness dan number oftardyjob pada proses akhir yaitu di slitting.

Tabel 5.13. Perhitungan Number ofTardy dan Tardiness Metode Usulan

No. job

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Due date sliting 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 4/12/03 0:00

Comp.time slitting metode kombinasi menit

339 345 331 1245

398 851 832 833 879 7855

Tanggal 1/12/03 13:39 1/12/03 13:44 1/12/03 13:31 2/12/03 4:45 1/12/03 14:38 1/12/03 22:10 1/12/03 21:52 1/12/03 21:52 1/12/03 22:38 6/12/03 18:55

Number of tardy

0 0 0 1 0 0 0 0 0 1

Tardiness

0,00 0,00 0,00 0,20 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,79

Perhitungan mean tardiness (Ts) sebagai berikut:

n adalah jumlah seluruh jobs yang diproses, Ti adalah tardiness yang nilainya diperoleh dari Tabel 5.13 hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.2.

fs= - I Ti n

(15)

52

Ts= — x l 41,96 (hari) 160

fs = 0,89 hari = 1277,68 menit

Perhitungan number of tardyjob (Na ) sebagai berikut:

Na = S 5j Ns =47jobs

5.3. Metode Penjadwalan Perusahaan dengan First Come FirstServe (FCFS) Metode FCFS adalah metode penjadwalan yang digunakan oleh perusahaan. Pada metode ini penjadwalan berdasarkan urutan kedatangan order.

Jadwal perusahaan ini diperoleh dari pihak perusahaan, dengan maksud untuk membandingkan antara hasil penjadwalan usulan dengan jadwal yang sebenarnya diterapkan oleh perusahaan terutama mean tardiness dan number oj'tardy job-nya, sehingga nantinya diperoleh suatu kesimpulan jadwal mana yang lebih optimal untuk diterapkan di perusahaan.

Penjadwalan FCFS dilakukan sesuai dengan urutan order konsumen (lihat Lampiran 1.1) yang masuk ke perusahaan. Sama seperti metode usulan sebelum menjadwalkan jobs dilakukan pengelompokkan sesuai dengan karakteristik mesin. Setelah melakukan pengelompokkan maka langkah selanjutnya adalah menjadwalkan jobs pada mesin yang sesuai dengan aturan order yang pertama masuk akan dijadwalkan pertama. Proses penjadwalan FCFS selengkapnya dapat dilihat pada beberapa lampiran berikut, penjadwalan printing pada Lampiran 3.1.1, penjadwalan laminating dry pada Lampiran 3.1.2, penjadwalan laminating extruder pada Lampiran 3.1.3 dan penjawalan slitting pada Lampiran 3.1.4.

Sequence jobs tiap mesin dapat dilihat pada Tabel 5.14, Tabel 5.15, Tabel 5.16 danTabe!5.17.

(16)

Tabel 5.14.Hasil Job Seguence FCFS pada Printing

Printing 5A 5B 6A 6B 7 8 9 10 11

Job Sequence 1 -13-29-31 -34-69-82-118-121 -154

2-12-19-25-28-30-36-38-67-79-86-126-133-156

3-11-18-27-42-43-44-66-85-104-129-130-132-134-148-160 4-9-15-20-23-37-62-64-68-83-90-111-116-117-124-150-151

5-48-49-51-55-57-59-60-76-135-136-137-138-139-140-141-142-143-144-145-146-147-155 6-14-24-32-39-46-65-71-74-84-89-92-94-99-101-103-108-115-120-127-153

7-16-21 -22-35-45-47-70-73-77-80-87-91 -96-97-98-102-105-109-114-119-128-152 8-10-41-50-52-53-54-56-58-61-95-106-110-113-123-131

17-26-33-40-63-72-75-78-81 -88-93-100-107-112-122-125-149-157-158-159

Tabel 5.15. Hasil Job Seguence FCFS pada Laminating Dry

Dry 2 3 4 5 6

Job Sequence 4-6-33-42-43-62-39-82-83-76-96-125-157-158-159-128-99-120

5-25-21 -22-35-45-86-126-93-100-107-95-102-116-117-124-123-129-92-101-127 2-26-31-32-41-81-70-156

1 -20-27-63-44-38-75-47-118-84-80-91 -122-149-106-113-150-130-119-160-94-103 3-9-23-24-34-64-78-65-79-52-74-77-154

Tabel 5.16. Hasil Job Seguence FCFS pada Laminating Extruder

Extruder 1 2 4 6 7 8

Job Sequence 7-17-29-72-68-73-87-57-59-61-112-136-105-114-131 8-15-18-36-49-51-60-135-110-104-151

12-10-71-133-53-89-109-138-141-145 13-14-40-30-66-85-140-115-142-155

11-16-19-28-37-69-46-67-88-121-55-56-58-97-98-111- 48-50-54-90-134-152-108-143-147

137-132-148-139-153-144-146

Tabel 5.17. Hasil Job Seguence FCFS pada Slitting

Slitting 1 2 3 4 5

3-19-24-38-86-77-60-106-92-145 1-25-43-41-85-138-147 5-33-44-67-91-159-143 2-23-69-74-58-157-124-160-115 4-26-34-78-52-89-101

Job Sequence

(17)

54

Slitting 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

7-21-64-71-87-96-110-132-120 8-31-39-70-80-107-158-151 12-30-46-53-100-149-117-134-127 6-28-35-118-57-122-137-152-144 11 -42-66-73-59-125-104-128-142 13-63-68-55-95-123-103 9-27-62-50-154

48-82-84-135-113-148-141 15-40-49-93-136-130-108 17-37-51-61-111-129-99-155 10-88-76-102-109-94-146 16-75-47-156

20-22-79-121-90-150-139 14-36-81-83-98-114-140 18-32-65-126-54-112-105-131 29-72-45-133-56-97-116-119-153

Job Sequence

Setelah didapatkan job sequence dari setiap mesin, langkah selanjutnya adalah menghitung mean tardiness dan number oftardyjob di proses akhir yaitu slitting.

Tabel 5.18. Perhitungan Number ofTardy dan Tardiness Metode Perusahaan

No. job

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Due date sliting 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 2/12/03 0:00 4/12/03 0:00

Comp.time slitting metode kombinasi Menit

339 345 331 300 398 995 832 833 625 4189

tanggal 1/12/03 13:39 1/12/03 13:44 1/12/03 13:31 1/12/03 13:00 1/12/03 14:38 2/12/03 0:34 1/12/03 21:52 1/12/03 21:52 1/12/03 18:25 4/12/03 5:48

Number of tardy

0 0 0 0 0 1 0 0 0 1

Tardiness

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,02 0,00 0,00 0,00 0,24

Perhitungannya mean tardiness (Ts) sebagai berikut:

n adalah jumlah seluruh jobs yang diproses, Ti adalah tardiness yang nilainya diperoleh dari Tabel 5.18 hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.2.

Ts=-T. Tt n

(18)

Ts = x 169,97 (hari)

160 ' V *

Ts = 1,06 (hari) = 1529,70 menit

Perhitungannya number of tardyjob ( Na) sebagai berikut:

N5 = I Sj N3 = 79 jobs

5.4. Perbaodingan Hasil Penjadwalan Metode Usulan Dengan Perusahaan Setelah melakukan perhitungan dari metode usulan dan perusahaan, maka hasilnya dapat diperbandingkan untuk mengetahui metode mana yang lebih optimal. Perbandingan kedua metode penjadwalan dapat dilihat pada Tabel 5.19 selengkapnya hasil perhitungan pada printing dapat dilihat pada Lampiran 4.1.

Tabel 5.19. Hasil Penjadwalan Proses Printing Metode Perusahaan dengan Usulan

Obyektif

Mean tardiness (Ts) Number of tardy (Na)

Printing Metode Perusahaan

269 menit 47

Printing MetodeUsulan

117menit 18

Berdasarkan perbandingan pada Tabel 5.19 diatas, maka terjadi penurunan mean tardiness dari 269 menit menjadi 117 menit atau turun 56,5%.

Selain itu juga terdapat penurunan dari number oftardyjob dari 47 job menjadi 18 job atau berkurang 61,7%. Hal tersebut dikarenakan perusahaan dalam

menjadwalkan order yang diterima menggunakan metode FCFS yaitu jika terdapat antrian produk, maka jobs dijadwalkan hanya berdasarkan waktu kedatangan order. Sedangkan pada metode usulan penjadwalan order dilakukan dengan memperhatikan due date, waktu proses, bobot dan waktu set up. Pada dasarnya metode ATCS merupakan gabungan dari beberapa metode yaitu :

1. Weighted Shortest Processing Time (WSPT) 2. Minimum Slack (MS)

3. Shortest Setup Time (SST)

(19)

56

Sehingga metode usulan ini dapat meminimumkan mean tardiness dan number of tardy hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.1 dan 4.2.

Tabel 5.20. Hasil Akhir Penjadwalan Metode Perusahaan dengan Usulan

Obyektif

Mean tardiness (Ts) Number of tardy (NB)

Slitting Metode Perusahaan 1,06 hari

1529,70 menit 79

Slitting Metode Usulan 0,89 hari 1277,68 menit

47

Selanjutnya dari hasil akhir proses slitting dapat dilihat pada Tabel 5.20 yang menunjukkan penurunan number oftardy job dari 79 jobs menjadi 47 jobs atau mengalami penurunan sebesar 40,5 %. Sedangkan mean tardiness dari kedua metode berkurang dari 1,06 hari menjadi 0,89 hari atau berkurang 16,03 %.

5.5. Uji Hipotesis Hasil Penjadwalan

Hasil penjadwalan yang telah didapatkan perlu diuji secara statistik untuk meyakinkan bahwa hasil tersebut memberikan penurunan mean tardiness dan number of tardy job secara signifikan. Uji statistik ini menggunakan uji kesamaan beberapa variansi, uji selisih dua rataan dan uji selisih dua proporsi (Walpole, 1995).

Pada uji kesamaan beberapa variansi digunakan uji Cochran. Pengujian ini lebih mudah perhitungannya, tetapi terbatas hanya untuk sampel yang sama ukurannya. Uji Cochran terutama sekali berguna untuk menentukan apakah suatu variansi jauh lebih besar daripada yang lainnya. Hipotesis kesamaan variansi ditolak bila g > ga, nilai g« diperoleh dari tabel Cochran.

Misalkan:

c2i = variansi tardiness metode perusahaan = 9,37 hari a22 = variansi tardiness metode usulan = 8,15 hari

ni = n2= \60job

(20)

Hipotesisnya adalah sebagai berikut:

1. Ho :a,2 = a22

2. H, : a,2 * a22

3. a = 0,05

4. Daerah kritis : dengan n = 160, k = 2 maka go.os = 0,5 (tabel Cochran ) 5. Perhitungan :

S,2= 9,37; S22 = 8,15 Sfterbesar

G = i

(«1

9 37

G = -^- = 0,53 9,37 + 8,15

Bila g > ga, tolak Ho

6. Kesimpulan : tolak Ho, sehingga variansi metode perusahaan berbeda dengan variansi metode usulan.

Pada uji selisih dua rataan yang akan diperbandingkan adalah mean tardiness yang berasal dari dua populasi yaitu metode usulan dan metode perusahaan yang masing-masing berukuran ni dan n2 dengan rataan X\ , Xi dan variansi a i , a2.

Misalkan :

X\ - mean tardiness metode perusahaan = 1,06 hari Xi = mean tardiness metode usulan =0,89 hari ni = jumlah sampel metode perusahaan = \60job n2 = jumlah sampel metode usulan = \60 job a2i = variansi metode perusahaan = 9,37 hari

a22 = variansi metode usulan = 8,15 hari

(21)

58

Hipotesisnya adalah sebagai berikut:

1. Ho: Y\

-Y=0

2. H, :Y

-Y>0

3. a = 0,05

4. Daerah kritis : Z > Z a dimana Z a = 1,645 5. Perhitungan :

z

_ (Y-Y)-do

yjaf ln\ + a\ Im

^_ (1,06 - 0,89)-0

^9,37/160 + 8,15/160 Z = 0,51

Bila Z < 1,645 maka gagal tolak Ho

6. Kesimpulan : gagal tolak Ho, sehingga mean tardines metode perusahaan tidak berbeda secara signifikan dengan mean tardiness metode usulan.

Untuk menguji number oftardyjob digunakan uji selisih dua proporsi.

Pada uji ini diambil sampel ni dan n2 diambil dari suatu populasi p\ danpi pada kedua sampel dapat dihitung.

Misalkan :

p\ = proporsi number of tardy job metode perusahaan = 79/160 = 0.49 pi = proporsi number oftardyjob metode usulan = 47/160 = 0.29 ni = n2 = jumlah populasi = 160 job

Hipotesisnya adalah sebagai berikut:

1. Ho : p\ - pj = 0 2. Hi : p\ - pi>0 3. a = 0.05

4. Daerah kritis : Z > Z a a dimana Zan= 1,96

(22)

5. Perhitungan:

A

p\ =x,/ni = 79/160 = 0.49 pi = x2/n2 = 47/160 = 0.29

A JC. + JC2 7 9 + 4 7 . _ _

p= = = 0.39 m + m 160 + 160

q = \- p= 1-0.39 = 0,61 Jadi,

A A

Z - P' ~ Pi F~ * (l/m + l/m)

(0,49-0,29)

^(0,39) x (0,6 l)x (1/160 +1/160) Z = 3,67

6. Kesimpulan : Tolak Ho, sehingga perusahaan berbeda secara signifiki usulan.

proporsi number of tardy job metode n dengan number of tardy job metode

Gambar

Tabel 5.2. Jobs yang Diproses di Printing 10
Tabel 5.5. Perhitungan Indeks ATCS Iterasi 3 di Printing 10
Tabel 5.6. Hasil Jobs Seguence pada Printing
Tabel 5.7 Hasil Pengelompokkan Jobs Printing 10 pada Laminating Dry
+7

Referensi

Dokumen terkait

GiriĢ kontrol kartına; parçanın adı, numarası, firma adı, irsaliye GiriĢ kontrol kartına; parçanın adı, numarası, firma adı, irsaliye numarası ve

Kenyataan bahwa sampai saat ini tingkat konsumsi beras masih tinggi, walaupun mengalami penurunan dari tahun ke tahun namun penurunannya sangat kecil. Masyarakat yang

Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun pegagan berpengaruh menambah waktu fase proestrus dan estrus adalah pada perlakuan P1 (Dosis 2 mg/10 g BB),

Tujuan khusus penelitian ini adalah (1) Mengetahui proses sistem penyelenggaraan makan di SMA Negeri Ragunan Jakarta, (2) Mengetahui susunan menu yang diberikan

flora yang jarang, langka, dan terancam punah, serta endemik yang dilaksanakan yaitu kegiatan identifikasi, inventarisasi, pemantauan, dan pembinaan habitat dan

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Tarigan (1997:29) bahwa kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa secara lisan maupun tulisan yang menyimpang dari faktor-

Kesulitan belajar pada siswa merupakan suatu keadaan di saat peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan dan harus

Sehingga San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes memiliki areal kawasan pemakaman pertama di dunia yang menawarkan kelengkapan fasilitas dan layanan berkualitas: