• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH FIXED DAN GROWTH MINDSET TERHADAP GRIT PADA SISWA SMA KETIKA PEMBELAJARAN JARAK JAUH SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH FIXED DAN GROWTH MINDSET TERHADAP GRIT PADA SISWA SMA KETIKA PEMBELAJARAN JARAK JAUH SKRIPSI"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH FIXED DAN GROWTH MINDSET TERHADAP GRIT PADA SISWA SMA KETIKA PEMBELAJARAN JARAK JAUH

SKRIPSI

Ihsanul Azzam Muttaqin 201710230311221

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2022

(2)

PENGARUH FIXED DAN GROWTH MINDSET TERHADAP GRIT PADA SISWA SMA KETIKA PEMBELAJARAN JARAK JAUH

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang Sebagai Salah Satu Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Oleh :

Ihsanul Azzam Muttaqin 201710230311221

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2022

(3)

i

LEMBAR PENGESAHAN

(4)

ii

SURAT PERNYATAAN

(5)

iii

KATA PENGANTAR

(6)

iv

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

SURAT PERNYATAAN ...ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

PENDAHULUAN ... 2

Grit ... 4

Mindset ... 5

Keterkaitan Fixed dan Growth Mindset terhadap Grit ... 6

Kerangka Berpikir ... 7

Hipotesis Penelitian ... 7

METODE PENELITIAN ... 7

Rancangan Penelitian ... 7

Subjek Penelitian ... 7

Variabel dan Instrumen ... 7

Prosedur dan Analisis Data ... 8

HASIL PENELITIAN ... 8

DISKUSI ... 9

SIMPULAN DAN IMPLIKASI ... 12

REFERENSI ... 13

LAMPIRAN ... 15

(7)

v

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Persamaan Regresi Linier Berganda ... 8 Tabel 2. Hasil Sumbangan Efektif dan Relatif Mindset terhadap Grit ... 9

(8)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Blueprint Instrumen dan Skala Mindset ... 16

Lampiran 2. Blueprint Instrumen dan Skala Grit ... 17

Lampiran 3. Reliabilitas Skala ... 18

Lampiran 4. Validitas Skala Mindset ... 19

Lampiran 5. Validitas Skala Grit ... 20

Lampiran 6. Mean dan Standard Deviation ... 22

Lampiran 7. Mean dan Standard Deviation ... 23

Lampiran 8. Uji Regresi Linier Berganda ... 24

Lampiran 9. Uji Verifikasi ... 26

Lampiran 10. Uji Plagiasi ... 27

(9)

1

PENGARUH FIXED DAN GROWTH MINDSET TERHADAP GRIT PADA SISWA SMA KETIKA PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Ihsanul Azzam Muttaqin

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang [email protected]

Pandemik Covid-19 yang terjadi mengakibatkan pembelajaran di Indonesia yang pada awalnya berlangsung secara tatap muka dengan guru di sekolah menjadi daring dalam beberapa platform online. Grit dan semangat menjadi hal yang sangat penting dimiliki oleh siswa untuk melewati tantangan pembelajaran jarak jauh. Mindset yang dimiliki oleh seorang siswa akan menjadi penentu bagi siswa dalam menghadapi situasi pembelajaran yang berubah. Ketika mindset siswa baik, maka bisa beradaptasi sehingga lebih bisa untuk fokus mendapatkan tujuan yang menjadi target akademiknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah fixed dan growth mindset bisa mempengaruhi grit pada siswa SMA ketika pembelajaran jarak jauh.

Subjek pada penelitian ini adalah siswa SMAIT Ummul Quro Bogor berjumlah 319 responden dan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari sebuah buku terjemahan berjudul Self Theories yang di tulis oleh Carol S. Dweck dan buku terjemahan berjudul Grit : Kekuatan Passion dan Kegigihan yang ditulis oleh Angela Lee Duckworth. Uji analisis menggunakan regresi linier berganda menunjukkan adanya pengaruh positif pada fixed dan growth mindset terhadap grit siswa SMA ketika pmbelajaran jarak jauh ( r = 0.360, R²= 0.130, p= 0,000 < 0.05).

Kata Kunci: Fixed dan Growth Mindset, Grit, Siswa SMA, Pembelajaran Jarak Jauh.

The Covid-19 pandemic that has occurred has resulted in learning in Indonesia which initially took place face-to-face with teachers at schools to be online on several online platforms. Grit and enthusiasm are very important for students to get through the challenges of distance learning. The mindset of a student will be a determinant for students in dealing with changing learning situations. When the mindset of students is good, they will be able to adapt so they are more able to focus on getting the goals that are their academic targets. The purpose of this study was to determine whether fixed and growth mindset could affect grit in high school students during distance learning. The subjects in this study were students of SMAIT Ummul Quro Bogor totaling 319 respondents and the sampling technique used was total sampling. The measuring instrument used in this study came from a translated book entitled Self Theories written by Carol S. Dweck and a translated book entitled Grit: The Strength of Passion and Persistence written by Angela Lee Duckworth. Test analysis using multiple linear regression showed a positive influence on the fixed and growth mindset on the grit of high school students when studying distance (r = 0.360, R² = 0.130, p = 0.000 <0.05).

Keywords: Fixed and Growth Mindset, Grit, High School Students, Distance Learning.

(10)

2

PENDAHULUAN

Pendidikan menjadi sebuah sarana dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sebagaimana yang dicita-citakan bangsa Indonesia dalam UUD 1945. Pendidikan pada saat ini sedang mengalami tantangan sebagai dampak dari mewabahnya virus covid-19. Virus covid- 19 yang sudah menjadi pandemi global dengan tingkat penyebaran yang tinggi, sehingga menyebabkan perubahan-perubahan dalam segala aktivitas termasuk pembelajaran. Salah satu kebijakan yang pada saat ini diterapkan akibat pandemi virus covid-19 adalah social distancing atau menjaga jarak. Akibat kebijakan menjaga jarak tersebut menimbulkan perubahan dalam proses pembelajaran yang pada semulanya berlangsung secara tatap muka di sekolah menjadi pembelajaran jarak jauh di rumah masing-masing.

Perubahan model pembelajaran dari tatap muka secara langsung kemudian menjadi online, akan memberikan dampak pada para siswa. Pada saat pembelajaran jarak jauh, siswa dituntut untuk lebih bisa belajar secara mandiri dirumah masing-masing. Kemampuan beradaptasi siswa dalam menghadapi tantangan belajar mandiri sangat diperlukan. Kecerdasan yang dimiliki siswa saja tidak cukup untuk melalui tantangan pembelajaran jarak jauh ini, diperlukan juga ketekunan dan semangat yang kuat dalam menghadapi tantangan pembelajaran jarak jauh yang sudah berlangsung kurang lebih hampir satu tahun. Siswa yang tekun dan tangguh ketika menghadapi tantangan dan kesulitan menurut Duckworth disebut memiliki Grit yang baik.

Sepanjang sejarah manusia asumsi-asumsi mayoritas berpendapat bahwa selalu merupakan hasil dari kemampuan intelektual seseorang. Hal tersebut menyebabkan keberhasilah atau kegagalan yang diderita oleh seseorang berkaitan dengan bagus atau tidak kemampuan intelektual yang dimiliki (Sethi & Shashwati, 2019). Kasus-kasus yang terjadi di masyarakat menunjukkan seseorang dengan IQ lebih rendah atau rata-rata lebih sulit untuk mecapai kualifikasi yang lebih tinggi. Selain itu, dia juga akan kesulitan dalam mendapatkan peran pekerjaan yang berpengaruh dan memperoleh gaji yang lebih tinggi. Disisi lain, penelitian yang belum lama dilakukan memberikan kontradiksi dari pendapat mayoritas tersebut. Penelitian itu mengungkapkan bahwa individu dengan IQ yang sama atau lebih rendah secara konsisten mengungguli rekan-rekan mereka yang “lebih cerdas” (Duckworth, et al., 2007).

Ketika fokus penelitian mengalami pergeseran terhadap pentingnya sifat dan faktor non- kognitif dalam memprediksi dan mengukur pencapaian dan kesuksesan (Londoner, 1972; Levy

& Dweck, 1998). Ada minat dalam mengeksplorasi faktor-faktor yang terkait dengan prestasi siswa dan ada sesuatu yang baru untuk dieksplorasi. Siswa-siswa mungkin memiliki keyakinan yang kurang tepat dan memiliki kesalahpahaman tentang pengembangan keterampilan keyakinan yang menghalangi kemampuan dalam menunjukkan kinerja. Sehingga, ketika siswa berjuang dengan tugas, mereka bisa saja mempercayai bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan oleh karena itu akhirnya menyerah. Penting bagi seorang siswa untuk memahami bahwa boleh saja merasa bingung ketika mempelajari sesuatu yang baru dan sebenarnya, itu diharapkan (Bashant, 2014).

Duckworth (2007) menyatakan bahwa dengan Grit, seseorang dapat bekerja keras dalam menghadapi tantangan, mempertahankan usaha dan minatnya sepanjang waktu walaupun

(11)

3

menjumpai kegagalan, dan kesulitan terjadi tanpa adanya tanda-tanda perubahan ke arah yang lebih baik. Duckworth (2007) memperkenalkan konsep grit yang didefinisikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan ketekunan dan semangat untuk tujuan jangka panjangnya yang menantang, yaitu individu-individu yang tetap bertahan dengan target-target yang menjadi tujuannya dalam jangka waktu yang lama sampai benar-benar mencapai tujuan- tujuan tersebut.

Angela Duckworth (2013) dalam penelitiannya menemukan bahwa, satu karakteristik muncul sebagai prediktor sukses yang konsisten, dan itu bukan kecerdasan sosial, tidak tampan, kesehatan fisik, dan bukan IQ. Duckworth menciptakan istilah grit, dan definisi grit menurut Duckworth, Peterson, Matthews, & Kelly (2007) adalah, ketekunan serta semangat untuk tujuan dengan jangka waktu yang lama, dan melalui penelitian ekstensifnya sendiri, Duckworth terus menunjukkan bahwa siswa yang memiliki grit biasanya lebih termotivasi dibandingkan dengan siswa yang tidak memiliki grit.

Grit mempunyai dua aspek penting, yaitu konsistensi pada minat dan juga ketekunan dalam berusaha. Pengertian konsistensi minat yaitu seberapa stabil usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk menuju suatu tujuan. Konsistensi minat bisa dilihat dari ketertarikan dan tujuan seseorang yang tidak mudah berubah, tidak mudah teralihkan dengan ide, minat, atau tujuan lain, dan tetap pada tujuan utamanya. Ketekunan dalam berusaha ialah seberapa kuat seseorang dalam berusaha untuk mencapai tujuan dan berapa lama seseorang bisa mempertahankan usahanya. Ketekunan dalam berusaha dapat dilihat dari perilakunya yang bersungguh-sungguh atau pekerja keras, tetap bertahan dalam menghadapi tantangan, hingga tetap bergeming pada pilihan dirinya.

Ketika menghadapi tantangan pembelajaran jarak jauh, siswa harus memiliki pola pikir atau mindset yang baik, hal tersebut bertujuan agar bisa beradaptasi dengan situasi dan tetap berusaha dengan maksimal dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan target-target yang ingin dicapai. Sebuah tulisan yang berjudul Growth Mindset, Revisited (September, 2015) karya Carol S. Dweck memberikan pandangan bahwa mindset seseorang merupakan permulaan dari timbulnya motivasi dan prestasi seseorang. Beliau juga menjelaskan yaitu jika mindset pada seseorang berubah, kedepannya prestasi dari seseorang tersebut juga dapat ditingkatkan. Ketika seseorang memiliki keyakinan yaitu kemampuan yang dia punya dapat dikembangkan (growth mindset), akan lebih maju daripada seseorang yang berkeyakinan bahwa kemampuan dalam dirinya sudah menetap (fixed mindset).

Fixed mindset yang tumbuh didalam pikiran seseorang bisa menjadikan hasil akhir yang cemerlang sebagai tolak ukur kesuksesan pada dirinya. Orang-orang yang meyakini keterampilan dan keahlian bersifat bawaan dan menetap dengan kata lain tidak dapat berubah.

Oleh karena itu, seseorang dengan pandangan fixed mindset tidak menyenangi jika dirinya mengalami kegagalan. Kegagalan ketika menggapai hasil yang bagus akan dipahami sebagai sebuah pernyataan atas lemahnya kemampuan diri. Selain itu, mereka juga memahami segala macam usaha untuk melakukan pengembangan diri merupakan perbuatan yang sia-sia dan cenderung menganggap kritik atau masukan sebagai sebuah upaya untuk menghakimi pribadi mereka.

(12)

4

Sebaliknya, seseorang dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan yang ada pada dirinya bisa untuk dikembangkan dengan cara dedikasi, usaha yang keras, dan kritik maupun saran dari orang lain. Mereka juga lebih menghargai perbaikan proses daripada semata-mata hasil akhir yang baik. Sudut pandang seperti ini membuat seseorang yang memiliki growth mindset lebih terbuka dengan tantangan. Tantangan yang dihadapi kedepannya tidak dianggap sebagai sesuatu yang mengancam, tetapi mereka justru melihat tantangan sebagai peluang untuk mengembangkan diri. Oleh karena itu, orang dengan growth mindset lebih suka mencoba pengalaman baru yang bukan berada di zona nyamannya. Tentu pada setiap tantangan mengandung risiko untuk gagal, namun orang yang berpola pikir growth mindset tidak takut untuk mengalami ketidak berhasilan atau melakukan suatu kesalahan, karena mereka memiliki pendapat bahwa akan belajar dari kesalahan dan kegagalan yang dialaminya dan berkembang menjadi pribadi yang lebih kompeten.

Duckworth dan Dweck (Duckworth, 2016) melakukan penelitian tentang keyakinan fixed belief pada seseorang terkait dengan kegagalan merupakan suatu pola pikir yang permanen dan bisa menghambat kesuksesan akademiknya. Duckworth memberi simpulan bahwa dengan memiliki growth mindset seseorang dapat mengembangkan grit (Hochanadel dan Finamore, 2015).

Hochanadel dan Finamore (2015) dalam penelitiannya juga memberikan simpulan yaitu dengan mengajarkan growth mindset dan grit pada mahasiswa akan mengakomodasi tujuan jangka panjang dan usaha-usaha untuk meraihnya.

Berlandaskan pemaparan yang sudah dijelaskan di atas, penelitian yang dilakukan bertujuan untuk melihat apakah fixed dan growth mindset bisa mempengaruhi grit pada siswa SMA ketika pembelajaran jarak jauh. Manfaat teoritis penelitian ini adalah untuk memperkaya kajian psikologi pendidikan terkait fixed dan growth mindset dengan grit, sehingga selanjutnya dapat digunakan sebagai tambahan informasi dan juga rujukan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.

Selain itu, manfaat praktis penelitian ini adalah diharapkan dapat digunakan oleh instansi pendidikan sebagai esensi dalam menyusun intervensi untuk meningkatkan kompetensi pada siswa.

Grit

Grit didefinisikan sebagai kecenderungan seseorang untuk mengejar tujuan jangka panjang dengan ketekunan dan semangat yang berkelanjutan. Selain itu, grit juga memainkan peran penting dalam prestasi siswa (Wang, et al., 2017). Robert (2009) memberikan makna yaitu grit merupakan kegighan yang ada pada dalam diri seseorang lalu digunakan untuk mendorong dirinya mencapai keinginan-keinginannya. Hal tersebut ditandai oleh meningkatnya berbagai macam keterampilan diri yang bertujuan agar tecapainya hasil yang optimal. Hasil-sail yang optimal tersebut bisa digunakan seseorang untuk menuju pada keberhasilan meraih keinginan yang sudah ditetapkan masing-masing.

Menurut Duckworth (2007) grit adalah kecenderungan untuk mempertahankan ketekunan dan semangat untuk tujuan jangka panjang yang menantang. Grit menguatkan seseorang untuk bekerja keras dan selalu gigih dalam menerima setiap tantangan, mempertahankan usaha yang telah dilakukan, dan juga minat di dalam diri selama sepanjang tahun meskipun terdapat

(13)

5

kegagalan, kesulitan, dan atau tanpa adanya kemajuan. Di dalam grit terdapat dua aspek yaitu konsistensi minat dan ketekunan usaha.

Duckworth, Peterson, Matthews, dan Kelly (2007) berpandangan bahwa konsistensi minat adalah individu yang mampu mempertahankan tujuannya dan tidak berubah-ubah, tidak mengalihkan perhatian dan mempertahankan minat jangka panjangnya. Seseorang yang ‘gritty’

merupakan individu yang memiliki konsistensi pada minat yang tinggi. Sementara itu, ketekunan dalam berusaha bisa dilihat dari hasil yang didapat dalam proses yang telah dilakukan seseorang. Duckworth mennyatakan jika usaha yang tinggi menunjukkan adanya kemampuan untuk bertahan dalam menyelesaikan pekerjaan yang sedang dilakukannya.

Seseorang yang gigih ketika melakukan sesuatu yang diinginkannya tidak akan takut menghadapi tantangan dan rintangan. Mereka yang tekun akan mempunyai sifat rajin, pekerja keras, dan berusaha mencapai tujuan jangka panjangnya.

Duckworth (2016) berpendapat, keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi grit dalam diri seseorang diantaranya interest (minat), practice (latihan), purpose (tujuan), hope (harapan), dan passion. Duckworth (2016) memaparkan bahwa minat berawal dari bagaimana cara individu menikmati apa yang dilakukannya. Hasil riset yang dikerjakan oleh Duckworth (2016) menyatakan bahwa seseorang dengan grit yang tinggi akan lebih banyak melakukan latihan dibandingkan grit yang rendah. Setiap individu juga memerlukan adanya tujuan untuk memperkuat motivasinya agar dapat mendorong dirinya untuk melakukan sesuatu. Individu dengan grit yang tinggi juga memerlukan harapan terhadap masa depannya yaitu berupa perubahan dan juga pembelajaran yang didapatkannya selama hidup. Duckworth (2016) juga menjelaskan bahwa awal dari grit adalah ketertarikan. Individu yang tertarik dengan aktivitas yang dilakukannya adalah modal awal agar aktivitasnya berjalan dengan baik.

Mindset

Mindset merupakan pola pikir yang digunakan untuk memandang dan menilai dunia, yang melingkupi sikap, nilai, disposisi, keyakinan dasar dan cara mempersepsikan diri (Dweck, 2006). Teori mindset dikembangkan oleh Carol Dweck dimana terdapat dua jenis mindset menurut Dweck (2006) yaitu fixed mindset dan growth mindset.

Fixed mindset berkeyakinan bahwa potensi yang dimiliki adalah berasal dari fungsi hereditas dan tidak dapat diubah (Nutt, 2015). Mereka meyakini bahwa dirinya tidak cukup pintar, ia merupakan pribadi yang tidak yakin dapat sukses, ketika mendapat kegagalan mereka mudah menyerah, curang, defensif, tidak bekerja keras. Sementara itu, siswa yang meyakini dirinya pintar, dia pribadi yang selalu berusaha terlihat pintar dan membanggakan peringkat dan kemampuannya. Seringkali menghindari tantangan dan kesulitan. Seseorang yang memiliki fixed mindset ragu bahwa mereka dapat meningkatkan kemampuannya dengan berusaha (Huang, Zhang, & Hudson, 2019). Hal ini karena mereka meyakini bahwa kemampuan dan intelegensi mereka bersifat menetap dan tidak terdapat banyak hal yang mampu mereka lakukan untuk mengubah hal ini (Dweck & Molden, 2017).

Pada lain hal, seseorang dengan pola pikir growth mindset berkeyakinan bahwa dia dapat meningkatkan kemampuannya dengan berusaha (Dweck & Molden, 2017). Seseorang dengan

(14)

6

growth mindset menyadari bahwa menguasai materi baru merupakan hal yang sukar dan wajar terjadi dalam suatu proses pembelajaran (Bedford, 2017). Oleh karena itu, mereka cenderung gigih berusaha dan tidak mudah menyerah saat mengalami kesulitan dalam menekuni sesuatu (Bedford, 2017; Dweck & Molden, 2017). Disimpulkan bahwa growth mindset merupakan pola pikir yang meyakini bahwa potensi dan atribut psikologi dapat dikembangkan melalui latihan dan usaha lebih dalam menghadapi tantangan yang semakin sulit.

Indikator fixed mindset adalah memiliki keyakinan bahwa intelegensi, bakat, dan sifat adalah sebagai fungsi hereditas atau keturunan yang tidak bisa berubah, menghindari adanya tantangan, mudah menyerah, menganggap usaha tidak ada akan merubah keadaan, dan tidak mengambil manfaat dari kritik orang lain. Indikator Growth Mindset diantaranya yaitu memiliki keyakinan bahwa intelegensi, bakat, dan sifat bukan merupakan fungsi hereditas atau keturunan, menerima tantangan dan bersungguh-sungguh menjalankannya, tetap berpandangan ke depan dari kegagalan, berpandangan positif terhadap usaha, dan belajar dari kritik.

Keterkaitan Fixed dan Growth Mindset terhadap Grit

Psikolog dan peneliti dari Stanford University Carol S. Dweck telah menjelaskan tentang apa dan bagaimana pola pikir yang tetap akan berkontribusi pada kurangnya pembelajaran dan kesuksesan. Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dweck bekerjasama dengan mahasiswa pascasarjana menunjukkan bahwa keyakinan siswa terhadap kemampuan otak mereka sehingga membentuk pola berpikir tetap atau berkembang, akan memiliki efek yang mendalam pada motivasi, pembelajaran, dan prestasi di sekolah.

Pada lingkungan pembelajaran online, kebanyakan siswa mengalami kesulitan untuk beradaptasi sehingga lebih cenderung kepada sikap menyerah untuk mencoba, bahkan sampai memutuskan untuk berhenti sekolah karena tidak bisa beradaptasi dengan kondisi yang baru.

Situasi seperti ini membuat para pengajar harus bisa menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif untuk pola pikir dapat berkembang serta ketekunan bisa ditingkatkan. Pengajar dapat membantu siswa mengembangkan mindset dan grit mereka untuk mencapai tujuan jangka panjangnya dengan menginternalisasikan motivasi agar bisa bertahan (Duckworth, Peterson, Matthews, & Kelly, 2007). Grit merupakan salah satu karakteristik yang dapat dikembangkan untuk membantu siswa mengubah persepsinya.

Dweck (2010) membuat sebuah lokakarya tentang pola pikir berkembang untuk siswa kelas tujuh dan secara acak menugaskan peserta untuk bergabung ke salah satu dari dua kelompok.

Satu kelompok diminta untuk membaca sebuah artikel yang berfokus pada kemampuan untuk meningkatkan kecerdasan seperti otot dan yang lainnya dianggap sebagai kelompok growth mindset. Siswa harus mengembangkan kualitas psikologis dari ketabahan dan keuletan dengan metode menginternalisasi pola pikir yang mencakup ketekunan serta didukung oleh lingkungan pembelajaran. Ketika guru mengajarkan siswa bagaimana menjaga kegigihannya dan pola pikir yang berkembang, maka siswa dapat meningkatkan grit dalam diri nya untuk menghadapi berbagai tantangan.

(15)

7

Kerangka Berpikir

Hipotesis Penelitian

Terdapat pengaruh antara fixed dan growth mindset terhadap grit pada siswa SMA ketika pembelajaran jarak jauh.

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang mana pendekatan penelitian ini dalam proses pengumpulan data, pemrosesan data, hingga tampilan hasil akhirnya banyak dalam penggunaan angka (Sugiyono, 2012). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif regresional untuk melihat pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikatnya.

Subjek Penelitian

Menurut Sugiyono (2015) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMAIT Ummul Quro Bogor yang berjumlah 319 siswa dengan jumlah siswa laki-laki 148 orang dan siswa perempuan 171 orang. Pembagian usia subjek penelitian diantaranya adalah usia 14 tahun 5 orang, 15 tahun 154 orang, 16 tahun 133 orang, dan 17 tahun 38 orang. Selain itu, subjek juga terbagi menjadi 3 angkatan yaitu kelas 10 berjumlah 145 orang, kelas 11 dengan 141 orang, dan kelas 12 total 33 orang. Metode pengambilan sampel yang dipakai yaitu total sampling. Total sampling adalah metode pengumpulan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi.

Variabel dan Instrumen

Pada penelitian ini variabel-variabel yang diukur adalah fixed dan growth mindset sebagai variabel bebas atau independen. Grit yaitu perilaku untuk mempertahankan ketekunan dan semangat untuk tujuan jangka panjang yang diharapkan (Duckworth, 2007) sebagai variabel terikat atau dependen. Instrumen ukur mindset yang diterapkan dalam penelitian ini berasal dari sebuah buku terjemahan berjudul Self Theories yang ditulis oleh Carol S. Dweck. Instrumen ukur ini terdiri atas 8 item kuesioner (Self report) dengan skala likert. Angka validitas item- item instrumen ukur mindset sebesar 0,486 - 0,717. Selanjutnya, nilai koefisien reliabilitasnya item-item mindset adalah 0,770.

Instrumen ukur grit yang digunakan pada penelitian ini berasal dari sebuah buku terjemahan berjudul Grit : Kekuatan Passion dan Kegigihan yang ditulis oleh Angela Lee Duckworth.

Instrumen ukur ini berbentuk kuesioner (self report) dengan skala likert yang terdiri dari 10 item. Item-item dalam kuesioner tersebut didasarkan pada dua aspek Grit yaitu konsistensi pada minat dan ketekunan dalam berusaha. Angka validitas dari item-item instrumen ukur Grit berada pada angka 0,332 – 0,591 dan nilai koefisien reliabilitasnya sebesar 0,609.

Siswa SMA Pembelajaran

Jarak Jauh

Growth Mindset

Fixed Mindset

Grit

(16)

8

Prosedur dan Analisis Data

Terdapat 3 tahapan prosedur yang telah dilaksanakan pada penelitian ini diantaranya yakni persiapan, pelaksanaan, serta analisis data. Peneliti memasukkan kedua skala tersebut beserta lembar data diri subjek ke dalam tautan google form karena pendistribusian skala dilakukan secara daring atau online. Kemudian, pelaksanaan dilakukan dengan cara, peneliti menyebar skala dalam bentuk google form. Informasi yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan metode analisis regresi berganda. Alasan peneliti menggunakan metode analisis regresi berganda karena untuk mengetahui hubungan fungsional antara variabel dependen dengan dua atau lebih variabel independen (Sugiyono, 2007). Penghitungan analisis data menggunakan software penghitungan statistik yakni SPSS for windows versi 25.

HASIL PENELITIAN

Bersumber pada penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, memperoleh hasil seperti berikut:

Proses uji kenormalan data menggunakan Kolmogorov-smirnov test didapatkan hasil bahwa data penelitian yang terdiri dari 319 subjek memiliki nilai asymp (sig) 0.200 > 0.05 berarti dapat disimpulkan bahwa data yang didapat terdistribusi dengan normal. Selanjutnya dilakukan uji linieritas, nilai deviation from linearity adalah (sig) 0.430 > 0,05, hasil tersebut menunjukkan bahwa data yang didapatkan bersifat linier.

Pada lain hal, hasil uji descriptive statistics pada 2 variabel yakni mindset dan grit dengan total responden 319 sehingga mendapatkan hasil sebagai berikut. Untuk variabel mindset mempunyai angka minimum 18, maksimum 48 serta mean 32,61, dan standar deviasi sejumlah 5,461. Sementara untuk variabel grit mempunyai angka minimum 21, maksimum 46 serta mean 32,24, dan standar deviasi sejumlah 4,462.

Berlandaskan hasil uji analisis regresi berganda yang telah dilaksanakan, angka korelasi atau hubungan (r) didapat sebesar 0.360 dan bagian pengaruh mindset kepada grit menunjukkan koefisien determinasi (R²) sebesar 0.130, yang mengandung pengertian bahwa variasi yang terdapat dalam mindset terhadap grit adalah sebesar 13%. Sedangkan 87% disebabkan oleh faktor yang lainnya. Dengan nilai 23.510 (F hitung) > 3.91 (F tabel) dan angka signifikan (Sig) 0.000 < 0.05 yang memuat simpulan bahwa hipotesis yang diajukan oleh peneliti diterima sehingga memiliki arti yaitu adanya pengaruh positif antara mindset kepada grit pada siswa SMA ketika pembelajaran jarak jauh.

Tabel 1.Persamaan Regresi Linier Berganda

Rumus Persamaan Regresi Linier Berganda

Hasil Persamaan Regresi linier Berganda

Y = a + b1X1 + b2X2 Y = 21,490 + 0,106X1 + 0,495X2

(17)

9

Persamaan regresi linier berganda diatas dapat diartikan dalam beberapa hal diantaranya adalah nilai konstanta positif menunjukkan bahwa pengaruh positif antara variabel independen (X1 dan X2). 0,106 (X1) merupakan nilai koefisien regresi variabel X1 terhadap Y, angka tersebut memberikan arti yaitu jika variabel X1 mengalami kenaikan satu satuan, maka Y akan mengalami peningkatan sebesar 0,106 atau 10,6%. 0,495 (X2) merupakan nilai koefisien regresi variabel X2 terhadap Y, hal tersebut berarti jika variabel X2 mengalami kenaikan satu satuan, maka Y akan mengalami peningkatan sebesar 0,495 atau 49,5 %.

Tabel 2.Hasil Sumbangan Efektif dan Relatif Mindset terhadap Grit

ASPEK CORRELATION BETA R Square

SUMBANGAN EFEKTIF

SUMBANGAN RELATIF

FIXED 0.179 0.093

0.130

1.66 13 %

GROWTH 0.349 0.324 11.30 87 %

Merujuk pada tabel tersebut bisa dilihat penyaluran sumbangan efektif dan relatif pada masing- masing aspek dari variabel mindset yang kepada grit, mengenai rinciannya adalah menjadi berikut, pada aspek fixed mindset memberikan sumbangan sebesar 1.66 (13 %) dan aspek growth mindset memberikan sumbangan sebesar 11.30 (87%)

DISKUSI

Pendidikan di Indonesia secara sistem lebih cenderung pada kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh seseorang, serta bagaimana bisa menghafal sesuatu yang dipelajarinya dengan baik. Penelitian-penelitian sebelumnya banyak yang menunjukkan bahwa kemampuan seperti bakat, kecerdasan, dan IQ bukan menjadi prediktor yang signifikan dari sebuah kesuksesan atau keberhasilan pada masa yang akan datang (De Vera, Gavino & Portugal, 2015; Dukcworth et.

Al., 2007; Duckworth & Seligman, 2005; Dweck, 2007). Siswa yang memiliki kemampuan akademik kurang tetapi memiliki kinerja yang lebih baik daripada siswa dengan akademik tinggi, maka mungkin ada ukuran untuk prestasi akademik atau kegigihan yang dapat diandalkan ketika di perguruan tinggi.

Grit merupakan ketekunan dan semangat yang sangat diperlukan untuk menggapai tujuan jangka panjang, selain itu, diperlukan juga kerja keras sebagai pendukung untuk menghadapi tantangan kedepannya serta mempertahankan usaha dan minat yang ada selama bertahun-tahun terlepas dari kesulitan, kekecewaan, dan atau kemunduran yang diterima oleh seseorang (Duckworth, Peterson, Matthews & Kelly, 2007).

(18)

10

Bersumber hasil penelitian yang telah dilaksanakan, hipotesis yang diajukan oleh peneliti bisa diterima yaitu terdapat pengaruh positif antara fixed dan growth mindset terhadap grit pada siswa SMA ketika pembelajaran jarak jauh. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa, cara berpikir siswa SMA akan mempengaruhi ketekunan mereka dalam menghadapi tantang pembelajaran jauh yang sudah berlangsung kurang lebih selama satu tahun. Ketika seorang siswa memiliki cara berpikir growth mindset, maka grit siswa tersebut akan tinggi atau biasa disebut sebagai seseorang yang memiliki “gritty”. Sebaliknya, seorang siswa yang memiliki cara berpikir fixed mindset, maka grit pada siswa tersebut juga akan rendah sehingga berpengaruh pada cara mereka menghadapi tantangan pembelajaran jarak jauh.

Adapun pengaruh variabel mindset yang terbagi dua menjadi fixed dan growth mindset terhadap grit memiliki angka yang berbeda. Rincian sumbangan aspek sebagai berikut, pada aspek fixed mindset memberikan sumbangan sebesar 1,66 (13 %) dan aspek growth mindset sebesar 11,30 (87%). Growth mindset menghasilkan sumbangan nilai terbesar sehingga menjadi pengaruh terhadap grit. Growth mindset membantu mengubah cara berpikir seorang siswa bahwa tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang tidaklah menetap dengan kata lain bisa berubah dengan melakukan usaha-usaha tertentu, sehingga dengan cara berpikir yang berkembang akan meningkatkan ketekunan seorang siswa untuk mencapai tujuan-tujuan jangka panjangnya terlepas dari hasil positif atau negatif yang didapatkannya selama proses pembelajaran.

Duckworth (2016) mengatakan pola pikir terbukti bisa membuat perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan sebagaimana optimisme. Ketika seseorang memiliki growth mindset, kemungkinan besar dapat berprestasi baik di sekolah, menikmati kesehatan emosional dan fisik yang lebih baik, serta memiliki relasi sosial yang kuat dan lebih positif dengan orang lain. Hal sebaliknya, menurut Duckworth ketika seseorang memiliki fixed mindset didalam dirinya, apabila dihadapkan pada tantangan-tantangan yang menghambat berbagai tujuannya dalam kehidupan akan menjadi beban yang luar biasa.

Carol Dweck dan Angela Duckworth melakukan penelitian bersama kepada lebih dari dua ribu orang siswa sekolah menengah atas. Siswa-siswa tersebut diminta untuk mengisi kuesioner tentang pola pikir berkembang. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa siswa yang memiliki pola pikir berkembang akan lebih tekun secara signifikan daripada siswa yang memiliki pola pikir tetap. Selain itu, siswa yang lebih tekun memiliki nilai rapor yang lebih tinggi dan setelah lulus lebih besar kemungkinan untuk mendaftarkan diri dan bertahan di universitas. Setelah penelitian bersamanya dengan Dweck, Duckworth mengukur pola pikir berkembang dan ketekunan pada anak-anak dan orang dewasa. Hasilnya, pada setiap sampel ditemukan bahwa pola pikir berkembang dan ketekunan adalah variabel yang berkaitan.

Psikolog Carol Dweck menunjukkan bahwa siswa dengan fixed mindset percaya bahwa kecerdasan mereka adalah sifat yang ditetapkan sehingga dengan usaha apapun yang dilakukan tidak dapat meningkatkan, dan karena itu mereka sering tidak akan mencoba karena takut akan kegagalan atau tidak terlihat pintar. Siswa dengan mindset berkembang memahami kecerdasan dapat ditingkatkan melalui upaya berkelanjutan mereka, belajar dari sebuah kegagalan, dan menunjukkan ketekunan meskipun ada hambatan (Dweck, 2013). Dweck menunjukkan melalui

(19)

11

penelitiannya yang ekstensif bahwa siswa yang memiliki mindset berkembang biasanya lebih termotivasi dibandingkan dengan siswa yang memiliki pola pikir tetap.

Konsep growth mindset dikembangkan dari temuan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Carol Dweck dan lainnya selama tiga dekade. Mencerminkan temuan self-efficacy Bandura, Dweck menyadari prestasi siswa menunjukkan peningkatan ketika siswa percaya kecerdasan mereka tidak tetap, tapi sebaliknya bisa meningkat melalui usaha dan pembelajaran (Dweck, 1999, 2007, 2010a; Blackwell, Trzesniewski, & Dweck, 2007, Dweck & Leggett, 1998). Setelah dia mengidentifikasi teori growth mindset, Dweck melanjutkan penelitiannya dengan memfokuskan tentang bagaimana mengembangkan growth mindset pada siswa. Dia juga memperluas penelitiannya ke intervensi kelas untuk menentukan apakah growth mindset dapat dipupuk untuk mempromosikan ketahanan dalam menghadapi rintangan (Dweck, 2010b).

Siswa dengan growth mindset melihat nilai dalam menghadapi tantangan dan bertahan dengan upaya untuk mengatasi hambatan sehingga mereka dapat meningkatkan kecerdasan dan menyelesaikan tugas (Dweck, 2006). Bahkan apabila seorang guru itu bisa seperti self-fulfilling prophecy dikarenakan guru tersebut memiliki growth mindset bisa membantu banyak siswa berprestasi rendah mengadopsi growth mindset juga (Dweck, 2007). Dweck menunjukkan alasannya adalah karena growth mindset yang dimiliki oleh siswa dapat membantu siswa untuk memahami pembelajaran, mencintai pembelajaran, dan belajar secara efektif. Oleh karena itu, dalam situasi pembelajaran jarak jauh yang pada faktanya sangat berbeda kondisinya dengan pembelajaran secara langsung diperlukan mindset yang tepat untuk seorang siswa mencapai yang disebut “gritty’.

Sifat kepribadian ini adalah karakteristik yang berhubungan baik dengan pertumbuhan pola pikir karena sebagaimana yang dikatakan oleh Duckworth et al. (2007) merujuk pada temuan mereka yaitu grit yang hasilnya menyatakan bahwa berkaitan dengan ketekunan dan semangat siswa untuk tujuan jangka panjang. Para peneliti telah menemukan bahwa aspek disiplin diri dari grit lebih baik daripada skor IQ seseorang dalam menentukan nilai yang akan didapatkannya (Duckworth & Seligman, 2005, hlm. 942). Siswa yang lebih tangguh atau

“gritty” akan mencapai tingkat yang lebih tinggi dari pendidikan serta IPK yang lebih baik meskipun mereka memiliki skor SAT lebih rendah daripada individu yang “grittier“

(Duckworth et al., 2007, hal. 1098).

John Dewey (1934) mengatakan, “Tujuan pendidikan selalu untuk setiap orang, sehingga pada intinya, sama-sama memberi anak muda pengalaman dan pembelajaran yang mereka butuhkan untuk berkembang dengan cara yang teratur dan berurutan ke dalam anggota masyarakat.” (hal.

1). Tepat sebelum titik tengah abad ke-20, Martin Luther King, Jr. (1947) menulis dalam karyanya yaitu koran perguruan tinggi, “Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup.

Kecerdasan ditambah dengan karakter pada seseorang adalah tujuan pendidikan sejati”

(paragraf 7). Kemudian landasan keyakinan yang diterbitkan oleh Association for Supervision and Curriculum Development (1957) menyatakan, “Tujuan utama sekolah Amerika adalah untuk memberikan perkembangan yang semaksimal mungkin bagi setiap peserta didik untuk hidup secara moral, kreatif, dan produktif dalam masyarakat demokratis” (hal. 232).

(20)

12

Ketiga definisi di atas terdapat penekanan pada tujuan pendidikan menjadi lebih dari sekedar menyediakan akuisisi kognitif keterampilan dan pengetahuan. Farrington, Roderick, Allensworth, Nagaoka, Keyes, Johnson, & Beechum, (2012) setuju dengan tujuan pendidikan yang luas ketika mereka menekankan bahwa, “selain pengetahuan dan keterampilan akademik, siswa harus mengembangkan seperangkat perilaku, keterampilan, sikap, dan strategi yang penting untuk prestasi akademik di kelas mereka, tetapi itu mungkin tidak tercermin dalam skor pada tes kognitif”. Tinjauan literatur sebelumnya menekankan bahwa untuk benar-benar membuat suatu pembelajaran siswa yang semakin baik kedepannya, guru harus memperhatikan pola pikir, keterampilan, strategi, dan perilaku siswa.

Pembelajaran jarak jauh yang membuat situasi belajar siswa berubah memberikan pengaruh kepada para tenaga pendidik serta orangtua untuk bisa lebih memperhatikan faktor lain yang berkembang pada peserta didik dan putra-putri mereka. Penanaman pola pikir yang sesuai sangat penting untuk dilakukan baik melalui pembelajaran di sekolah oleh tenaga pendidik dan terutama oleh orangtua di rumah. Berawal dari pola pikir seseorang akan menentukan seperti apa dia akan menjalankan kehidupan kedepannya, dan dengan awal pikiran yang baik seorang siswa bisa menghadapi segala macam tantangan selama proses pembelajaran sehingga bisa mendapatkan kesempatan lebih baik untuk menggapai cita-citanya.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI

Berdasarkan riset yang sudah dilakukan oleh peneliti, memperoleh hasil bahwa hipotesis yang diajukan bisa diterima. Hal tersebut berarti terdapat pengaruh yang positif antara fixed dan growth mindset terhadap grit pada siswa SMA ketika pembelajaran jarak jauh. Nilai F hitung yang didapat sebesar 23.510 > 3.91 ( F tabel) dan angka signifikan (Sig) 0.000 < 0.05. Selain itu, koefisien determinan (R²) sebesar 0.130 yang menggambarkan bahwa fixed dan growth mindset memiliki pengaruh terhadap grit pada siswa SMA ketika pembelajaran jarak jauh sebesar 13 % sementara sisanya 87 % disebabkan oleh faktor lainnya.

Implikasi dari riset yang telah dilakukan ini adalah bagi lembaga pendidikan seperti sekolah ataupun pihak-pihak terkait yang berfungsi sebagai pendidik agar memperhatikan pola pikir siswa-siswanya. Hal tersebut dikarenakan pengaruh pola pikir siswa memiliki dampak terhadap cara mereka untuk beradaptasi dengan berbagai situasi yang menjadi tantangan dalam suatu pembelajaran. Siswa dengan pola pikir yang baik akan lebih bisa menghadapi tantangan selama pembelajaran, sehingga ketekunan yang dimiliki akan tetap konsisten untuk mengejar tujuan siswa tersebut kedepannya.

Langkah aplikatif yang disarankan peneliti bagi pihak-pihak yang berada di dalam lingkungan pendidikan adalah sebisa mungkin membuat sistem pembelajaran yang dapat membangun dan meningkatkan pola pikir para peserta didik, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas bahkan jika bisa hingga tingkat perguruan tinggi. Sistem yang dibangun tersebut dimaksudkan agar bisa menghasilkan generasi penerus yang semakin baik dan berkualitas.

Peneliti-peneliti selanjutnya yang tertarik dengan penelitian terkait mindset dan juga grit bisa menjadikan penelitian ini menjadi salah satu referensinya. Di sisi lain peneliti juga

(21)

13

merekomendasikan agar peneliti selanjutnya bisa memperhatikan variabel-variabel lainnya baik yang berhubungan dengan mindset ataupun grit, sehingga penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan mindset dan grit akan semakin berkembang dan menjadi manfaat yang bisa dirasakan oleh banyak pihak.

REFERENSI

Hochanadel, A, & Finamore, D. (2015). Fixed and growth mindset in education and how grit helps student persist in the face of adversity. Journal of International Education Research (JIER).

Duckworth, A. L., & Seligman, M. E. P. (2005). Self-discipline outdoes IQ in predicting academic performance of adolescents. Psychological Science, 16(12), 939-944.

Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly , D. R. (2007). Grit: Perseverance and passion for long-term goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92 (6), 1087-1101.

Duckworth, A.L., & Quinn, P.D., (2009) Development and validation of the Short Grit Scale (Grit- S). Journal of Personality Assessment, 91, 166-174.

Dweck, C. S., Walton, G. M., Cohen, G. L. (2011). Academic tenacity: Mindsets and skills that promote long-term learning. Paper prepared for the Gates Foundation.

Rhew, E., Piro, S. J., Goolkasian, P., & Cosentino, P.. (2018). The effects of a growth mindset on self-efficacy and motivation. Cogent Education, 5:1.

Frontini, R., Sigmundsson, H., Antunes, R., Silva Filipa, A., Lima, R., Clemente Manuel, F.

(2021). Passion, grit, and mindset in undergraduate sport sciences students. ELSEVIER: New Ideas in Psychology. 1-5.

McClendon, C., Neugebauer Massey, R., King, A. (2017). Grit, growth mindset, and deliberate practice in online learning. Journal of Instructional Research. 6: 8-17.

McClure, L., Yonezawa, S., & Jones, M. (2010). Can school structures improve teacher-student relationships? The relationship between advisory programs, personalization and students’

academic achievement. Education Policy Analysis Archives, 18(17), 1-21.

Garofolo, A.E., (2016). Teaching the Character Competencies of Growth Mindset and Grit To Increase Student Motivation in the Classroom. Dissertation. New England Collage. New Hampshire.

Chrisantiana, T. G., & Sembiring, T. (2017). Pengaruh Growth dan Fixed Mindset terhadap Grit pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas “X” Bandung. Humanitas (Jurnal Psikologi), 1(2), 133.

Pratiwi, N. B., & Royanto, R. M. L.. (2020). Mindset dan task value: Dapatkah memprediksi kinerja siswa Sekolah Dasar (SD) pada bidang matematika?. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia. 9 (1), Hal. 35-50.

(22)

14

Vivekananda, A. L. N. (2017). Studi deskriptif mengenai grit pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung. Humanitas (Jurnal Psikologi). 1 (3), Hal, 183-196.

Sembiring, T. (2017). Konstruksi alat ukur mindset. Humanitas (Jurnal Psikologi). 1 (1), Hal. 53- 60.

Wahidah, R. F., Royanto, R. M. L. (2019). Peran kegigihan dalam hubungan growth mindset dan school well-being siswa sekolah menengah. Jurnal Psikologi Talenta. Volume 4 No. 2.

Rosyadi, A. K., Laksmiwati, H. (2018). Hubungan Antara Grit dengan Subjective Well-Being Pada Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Surabaya Angkatan 2017. Character: Jurnal Psikologi. 5 (2), 1-6.

Mas’udah, I. (2019). Pengaruh growth mindset terhadap grit akademik pada mahasiswa yang mengikuti organisasi. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

Dweck, Carol S. 2021. Self Theories: Wawasan Psikologi tentang Motivasi, Kepribadian, dan Pengembangan Diri. Tangerang Selatan: Bentara Aksara Cahaya.

Dweck, Carol S. 2021. Mindset: Mengubah Pola Berpikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda. Tangerang Selatan: Bentara Aksara Cahaya.

Duckworth, Angela. 2019. GRIT: Kekuatan Passion dan Kegigiham. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

(23)

15

LAMPIRAN

(24)

16

Lampiran 1.Blueprint Instrumen dan Skala Mindset

Blueprint Skala Mindset

Skala Mindset

No. Aspek Nomor Item Jumlah

Favorable Unfavorable

1. Growth Mindset 3, 5, 7, 8 4

2. Fixed Mindset 1, 2, 4, 6 4

Total 4 4 8

Pertanyaan 1 2 3 4 5 6

1. Anda memiliki tingkat kecerdasan tertentu, dan tidak bisa berbuat banyak untuk mengubahnya (FM)

2. Kecerdasan anda adalah sesuatu yang tidak bisa terlalu anda ubah (FM)

3. Tak peduli siapa pun diri anda, Anda bisa mengubah tingkat kecerdasan anda secara signifikan (GM)

4. Sejujunya, Anda tidak terlalu bisa mengubah secerdas apa diri anda (FM)

5. Anda meyakini bahwa bisa mengubah kecerdasan yang dimiliki menjadi lebih pandai dari sebelumnya GM)

6. Anda bisa mempelajari hal-hal baru, tetapi tidak bisa benar-benar mengubah kecerdasan dasar pada diri anda (FM)

7. Tak peduli secerdas apa anda, Anda meyakini bahwa selalu bisa mengubahnya walaupun hanya sedikit (GM)

8. Anda bisa mengubah kecerdasan anda, bahkan yang tingkat dasar sekalipun, dengan cukup drastis (GM)

(25)

17

Lampiran 2.Blueprint Instrumen dan Skala Grit

Blueprint Skala Grit

No. Aspek Nomor Item Jumlah

Favorable Unfavorable

1. Ketekunan Usaha 2, 4, 6, 8, 10 - 5

2. Konsistensi Minat - 1, 3, 5, 7, 9 5

Total 5 5 10

Skala Grit

Pertanyaan 1 2 3 4 5

1. Gagasan dan proyek baru terkadang

mengalihkan perhatian saya dari gagasan atau proyek sebelumnya

2. Kemunduran tidak mematahkan semangat saya, Saya tidak pantang menyerah

3. Saya sering menetapkan tujuan, tapi kemudian memilih mengejar tujuan berbeda 4. Saya pekerja keras

5. Saya sulit mempertahankan focus pada proyek yang membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan

6. Saya menyelesaikan apapun yang saya mulai 7. Minat saya berubah dari tahun ke tahun 8. Saya rajin, Saya tidak pernah menyerah 9. Saya pernah terobsesi pada gagasan atau

proyek tertentu selama sesaat tapi kemudian minat saya hilang

10. Saya pernah mengatasi kemunduran untuk menaklukan tantangan yang penting

(26)

18

Lampiran 3. Reliabilitas Skala

Reliabilitas Skala Mindset

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

.770 8

Reliabilitas Skala Grit

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

.608 10

(27)

19

Lampiran 4.Validitas Skala Mindset

Correlations

A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 TOTAL

A1 Pearson Correlation 1 .668** .178** .489** .099 .429** .035 .087 .649**

Sig. (2-tailed) .000 .001 .000 .078 .000 .531 .120 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A2 Pearson Correlation .668** 1 .303** .545** .077 .478** .073 .149** .713**

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .172 .000 .192 .008 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A3 Pearson Correlation .178** .303** 1 .274** .343** .211** .380*

*

.431** .601**

Sig. (2-tailed) .001 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A4 Pearson Correlation .489** .545** .274** 1 .184** .484** .145*

*

.249** .717**

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .001 .000 .009 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A5 Pearson Correlation .099 .077 .343** .184** 1 .089 .475*

*

.456** .496**

Sig. (2-tailed) .078 .172 .000 .001 .111 .000 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A6 Pearson Correlation .429** .478** .211** .484** .089 1 .098 .248** .654**

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .111 .079 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A7 Pearson Correlation .035 .073 .380** .145** .475** .098 1 .480** .486**

Sig. (2-tailed) .531 .192 .000 .009 .000 .079 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A8 Pearson Correlation .087 .149** .431** .249** .456** .248** .480*

*

1 .594**

Sig. (2-tailed) .120 .008 .000 .000 .000 .000 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320

TOTAL Pearson Correlation .649** .713** .601** .717** .496** .654** .486*

*

.594** 1

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

(28)

20

Lampiran 5.Validitas Skala Grit

Correlations

A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10

TOTA L A1 Pearson

Correlation

1 -.023 .225** .150** .266** -.025 .096 .139* .256** -.103 .425**

Sig. (2-tailed) .686 .000 .007 .000 .650 .086 .013 .000 .066 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A2 Pearson Correlation

-.023 1 -.035 .418** .045 .315** -.032 .482** -.014 .241** .463**

Sig. (2-tailed) .686 .532 .000 .418 .000 .570 .000 .804 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A3 Pearson Correlation

.225** -.035 1 .109 .282** .003 .261** .084 .305** .033 .515**

Sig. (2-tailed) .000 .532 .052 .000 .962 .000 .134 .000 .560 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A4 Pearson Correlation

.150** .418** .109 1 .083 .380** -.025 .568** -.004 .265** .570**

Sig. (2-tailed) .007 .000 .052 .139 .000 .657 .000 .948 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A5 Pearson Correlation

.266** .045 .282** .083 1 .005 .064 .085 .258** -.065 .465**

Sig. (2-tailed) .000 .418 .000 .139 .926 .251 .131 .000 .245 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A6 Pearson Correlation

-.025 .315** .003 .380** .005 1 -.009 .362** .047 .329** .467**

Sig. (2-tailed) .650 .000 .962 .000 .926 .870 .000 .402 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A7 Pearson Correlation

.096 -.032 .261** -.025 .064 -.009 1 -.002 .315** .034 .416**

Sig. (2-tailed) .086 .570 .000 .657 .251 .870 .979 .000 .546 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A8 Pearson Correlation

.139* .482** .084 .568** .085 .362** -.002 1 .076 .214** .591**

Sig. (2-tailed) .013 .000 .134 .000 .131 .000 .979 .173 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

A9 Pearson Correlation

.256** -.014 .305** -.004 .258** .047 .315** .076 1 -.135* .492**

Sig. (2-tailed) .000 .804 .000 .948 .000 .402 .000 .173 .016 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

(29)

21

A10 Pearson Correlation

-.103 .241** .033 .265** -.065 .329** .034 .214** -.135* 1 .332**

Sig. (2-tailed) .066 .000 .560 .000 .245 .000 .546 .000 .016 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

TOT AL

Pearson Correlation

.425** .463** .515** .570** .465** .467** .416** .591** .492** .332** 1

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000

N 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320 320

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

(30)

22

Lampiran 6. Mean dan Standard Deviation Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

MINDSET 319 18 48 32.61 5.461

GRIT 319 21 46 32.24 4.462

Valid N (listwise) 319

(31)

23

Lampiran 7. Mean dan Standard Deviation Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 319

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation 4.23545642

Most Extreme Differences Absolute .023

Positive .023

Negative -.022

Test Statistic .023

Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Uji Linieritas

ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

GRIT * MINDSET Between Groups

(Combined) 1142.694 29 39.403 2.195 .001

Linearity 625.783 1 625.783 34.861 .000

Deviation from Linearity 516.912 28 18.461 1.028 .430

Within Groups 5187.719 289 17.951

Total 6330.414 318

Gambar

Tabel 1. Persamaan Regresi Linier Berganda ...........................................................................
Tabel 1. Persamaan Regresi Linier Berganda
Tabel 2. Hasil Sumbangan Efektif dan Relatif Mindset terhadap Grit

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan jika keenam subjek memiliki kemampuan resiliensi dalam menghadapi keadaan yang menyulitkan ketika menjalani pernikahan jarak jauh dengan

Dalam pembalajaran jarak jauh pada masa pandemic covid-19 ini, seluruh keterlibatan baik pemerintah, sekolah, guru, orang tua, maupun siswa sendiri agar

“Pembelajaran jarak jauh dilaksanakan dengan menggunakan kombinasi daring dan luring, dan dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh terdapat kendala bagi guru yakni

Pada pelaksanaanya ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan agar sistem pendidikan (pembelajaran) jarak jauh dapat berjalan dengan baik yaitu tingkat perhatian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1 Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh di MA Kholafiyah Hasaniyah dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pembekalan, pembelajaran tatap-muka,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran jarak jauh pada kuesioner Guru Kimia di lima sekolah Kabupaten Serang memiliki persentase 86,51 dengan kategori sangat

Pembelajaran Jarak Jauh X1 adalah“pembelajaran yang memanfaatkan teknologi multimedia,”video,”kelas virtual,”teks online animasi,”pesan suara,” email,”telepon konferensi dan video

Namun, untuk melakukan belajar jarak jauh dengan menggunakan teknologi handphone atau laptop dan sejenisnya, para siswa memiliki permasalahan dalam memahami pelajaran, sehingga hal ini