IMPLEMENTASI MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ISLAMI SISWA KELAS X
SMA NEGERI 20 MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Pada Program Studi
Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
SITTI KHADIJAH 1051 92339 15
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH MAKASSAR 1441 H / 2020 M
vii ABSTRAK
Sitti Khadijah. 105 192 339 15. 2019. Implementasi Mata Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Pembentukan Karakter Islami Siswa Kelas X SMA Negeri 20 Makassar. dibimbing oleh Dr. Hj. Maryam, M. Th.I dan Dr. K.H.M. Alwi Uddin, M.Ag.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 20 Makassar yang berlangsung selama 2 bulan mulai dari Agustus sampai dengan Oktober. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana Implementasi Mata Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Pembentukan Karakter Islami Siswa Kelas X SMA Negeri 20 Makassar.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode Observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini yaitu: Kepala Sekolah, guru Pendidikan Agama Islam dan siswa di SMA Negeri 20 Makassar.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa implementasi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada siswa kelas X SMA Negeri 20 Makassar bisa dikatakan berhasil, khususnya pembinaan-pembinaan terkait program keagamaan maupun materi-materi yang diajarkan di dalam kelas yang dilakukan oleh guru PAI itu sendiri sudah banyak membantu dalam pembentukan karakter islami pada diri siswa khususnya siswa kelas X. Seperti terlaksananya shalat berjamaah, pembacaan hadits setelah shalat berjamaah serta pembacaan Kitab Suci setiap pekannya. Serta perilaku-perilaku positif siswa terhadap guru seperti saling tegur sapa, dan saling menghormati.
Kata Kunci: Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Karakter Islami
viii
ِهِلَا ىَلَعَو َنْيِلَسْرُمْلاَو ِءاَيِبْنَلأْا ِفَرْشَأ ىَلَع ُمَلاَّسلاَوُةَلاَّصلا˓نيملاَعْلا ِّبَر ِ َّللَّ ُدْمَحْلا ُنْيِعَم ْجَأ ِهِب ْحْص َأَو
Alhamdulillah, puji syukur atas izin dan petunjuk Allah SWT, sehingga skripsi dengan judul: “ Implementasi Mata Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Pembentukan Karakter Islami Siswa Kelas X SMA Negeri 20 Makassar ” dapat diselesaikan. Pernyataan rasa syukur kepada Allah SWT atas apa yang di berikan kepada penulis dalam menyelesaikan karya ini yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata dan dituliskan dengan kalimat apapun. Taklupa juga penulis panjatkan shalawat dan salam atas junjungan Nabi Muhammad Saw. Berserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang senantiasa berada dalam panutan beliau untuk mencari kemashlahatan hingga akhir zaman.
Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terimakasih kepada suamiku tercinta dan tersayang Muh. Alwi S.Pd yang tiada henti memberi selaksa harapan, semangat, perhatian, kasih sayang, doa yang tulus serta dukungan moril tanpa pamrih. Ucapan terimakasih kepada kedua orangtuaku Mahmud dan Sugiati, serta saudara-saudaraku yang senantiasa menghibur dan memberikan semangat hingga akhir studi ini. Seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, dukungan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu.
ix Muhammadiyah Makassar.
2. Bapak Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I. selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak Drs. Abd. Samad, T, M.Pd.I., selaku WD II dan Penasehat Akademik yang telah membimbing selama perkuliahan.
4. Ibu Dr. Amirah Mawardi, S.Ag., M.Si. selaku ketua Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Ibu Nurhidaya M., S.Pd.I., M.Pd.I., selaku sekretaris Jurusan Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
6. Ibu Dr. Hj. Maryam, M. Th.I, sebagai pembimbing 1 dan Bapak Dr. K.H.M. Alwi Uddin, M.Ag, sebagai pembimbing II, yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan petunjuk serta koreksi dalam penyusunan skripsi, sejak awal hingga akhir penyusunan skripsi ini.
7. Para Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar yang merupakan sumur dan lahan ilmu pengetahuan bagi penulis, yang telah banyak memberikan pengetahuan dan pengalaman tak terhingga selama aktif mengikuti perkuliahan, hingga penulisan skripsi ini selesai.
x
9. Kepala Sekolah SMA Negeri 20 Makassar beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian, serta membantu dalam memberikan data dan informasi yang dibutuhkan.
10. Sahabat-sahabat seperjuanganku dibangku kuliah (Nurmala, Maryam, Azizah, dan semua kelas B 015 PAI). rekan-rekan seperjuangan, terimakasih atas dukungan, kerjasama dan motivasi yang telah kita bagi bersama dalam menyelesaikan skripsi ini..
Semoga Allah SWT., memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semuanya.
Demi perbaikan selanjutnya, saran dan kritik yang membangun akan penulis terima dengan senang hati. Akhirnya, hanya kepada Allah SWT. penulis serahkan segalanya muda-mudahan dapat bermanfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi kita semua.
Aamiin Yaa Robbal Alamiin.
Makassar,04 Jumadil Akhir 1441 H 29 Januari 2020 M
Penulis
xi
HALAMAN JUDUL ... ii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
BERITA ACARA MUNAQASYAH ... iv
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... v
SURAT PERSYARATAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 7
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 7
2. Dasar-dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 12
xii
B. Karakter Islami ... 26
1. Pengertian Karakter Islami ... 26
2. Macam-macam dan Nilai-nilai Karakter Islami ... 27
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter ... 29
4. Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam ... 30
BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 35
B. Lokasi Penelitian ... 35
C. Fokus Penelitian ... 35
D. Deskripsi Fokus Penelitian ... 35
E. Sumber Data ... 36
F. Instrumen Penelitian ... 37
G. Teknik Pengumpulan Data ... 37
H. Teknik Analisis Data ... 39
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Latar Belakang Berdirinya SMA Negeri 20 Makassar ... 40
1. Visi dan Misi Sekolah ... 45
2. Profil Sekolah ... 46
B. Karakter Islami Siswa Kelas X SMA Negeri 20 Makassar ... 51
xiii
Pembentukan Karakter Islami Siswa Kelas X SMA Negeri 20 Makasar ... 61
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 69
B. Saran ... 70
DAFTAR PUSTAKA ... 71
LAMPIRAN ... 74
xiv
Tabel 1. Sarana dan Prasarana Pembelajaran SMA Negeri 20 Makassar ... 50 Tabel 2. Jumlah Siswa SMA Negeri 20 Makassar... 53 Tabel 3. Nama-nama guru dan Pegawai Administrasi... 54
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia saat ini masih banyak masalah-masalah yang belum terselesaikan dengan baik, khususnya dalam dunia pendidikan, baik mutu, efektifitas, dan efesiensi pendidikan itu sendiri.Masalah-masalah tersebut banyak menimbulkan keresahan pada masyarakat, sehingga harus ditanggapi secara serius tidak hanya dari pemerintah saja namun juga dari kalangan masyarakat demi suksesnya pendidikan itu sendiri.Dampak dari globalisasi yang semakin berkembang sedikit demi sedikit telah merusak karakter pendidikan bangsa Indonesia yang mayoritas agama Islam.
Permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan di era milenium yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi dan komunikasi saat ini adalah semakin maraknya tindakan kekerasan di kalanganantar pelajar tawuran antar pelajar dan mahasiswa, tindakan bullying, persekusi, menyontek berjamaah saat ujian nasional, maraknya kasus korupsi, kenakalan remaja, hamil di luar nikah, narkoba, dan tindakan kriminal dan dedikasi moral lain sebagainya.
Beberapa kalangan menilai bahwa pendidikan agama Islam belum mampu untuk menggarap perilaku, sikap dan moral bangsa ini.1 Bahkan dianggap bahwa pendidikan agama gagal dalam menenamkan nilai-nilai Islam dan mengatasi
1Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut Pendidikan (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 35.
1
problem bangsa ini.2 KH, Sahal Mahfudz sebagaimana dikutip oleh Sutrisno, menyebutkan kegagalan ini sebagai kegagalan pendidikan agama di sekolah, yang menurutnya terlalu menekankan pada pencapaian nilai ujian (kuantitatif) sehingga mengabaikan internalisasi nilai-nilai akhlak (kualitatif). Sementara Gus Salahuddin Wahid menyatakan bahwa pendidikan agama yang mengalami kegagalan tidak hanya pendidikan agama Islam (PAI), tapi semua pendidikan agama. Buktinya para pelaku tindakan kriminal dan kebobrokan moral juga berasal dari penganut agama lain. Mochtar Buchori menilai kegagalan pendidikan agama di sekolah disebabkan karena praktik pendidikannya hanya memperhatikan aspek kognitif semata dari pada pertumbuhan kesadaran nilai-nilai (agama) dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif-volutif, yakni kemauan dan tekat untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama sehingga terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan pengalaman, antara gnois dan proxis dalam kehidupan agama. Pendidikan agama menjadi pengajaran agama sehingga tidak mampu untuk membentuk pribadi-pribadi muslim. Di samping itu, kegiatan pendidikan agama yang berlangsung selama ini lebih banyak menyendiri, kurang berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan pendidikan lainnya.3
Masalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) akibat dari pengaruh tantangan global selama ini hanya mengedepankan keberhasilan akademik saja.Maka dari itu tidak heran lagi jika banyak remaja sekolah bahkan Madrasah Aliyah yang memiliki prestasi dibidang akademik namun akhlak atau
2Sutrisno, Pendidikan Islam Berbasis Problem Sosial ( Yokyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012). 76
3Mochtar Buchori, Posisi dan Fungsi Agama Islam dalam Kurikulum Perguruan Tinggi.
Malang: IKIP Malang, 1992),24
kepribadian mereka urak-urakan atau negative. Budaya-budaya yang cenderung negative akan mempengaruhi tingkah laku mereka, misalnya kurangnya kesopanan terhadap guru dan orang tua. Bahkan selama empat dasa warsa terakhir, setiap orang baik dari kepala sekolah, penceramah, bahkan presiden telah berusaha keras untuk menangani krisis perkembangan moral /akhlak anak-anak bangsa, namun keadaan justru semakin memburuk.Oleh karena itu dikalangan remaja sebagai generasi penerus bangsa, negara dan agama haruslah memiliki pondasi yang kuat dan kokoh, terutama nilai-nilai agama agar dapat melawan dampak dari era globalisasi yang bersifat negative.
Pendidikan agama Islam (PAI) sejujurnya sampai saat ini masih belum mendapat tempat dan waktu yang proporsional, bahkan mata pelajaran PAI yang tidak dimasukkan dalam UN ini sering kali kurang mendapat perhatian, Keberhasilan peserta didik pun dalam mata pelajaran ini hanya diukur dengan seberapa banyak hafalan dan kemampuan ujian tertulis dalam kelas, penanaman kepribadian dan akhlak karimah tidak terlalu diperhatikan.4
Sekolah merupakan tempat bagaimana anak belajar berinteraksi dengan orang lain. Sekolah juga harus membangun budaya yang mengedepankan aspek moral, cinta kasih, kelembutan, nilai demokratis, menghargai perbedaan, dan sebagainya.Pendidikan maupun program yang mengarah pada pembinaan tingkah laku atau karakter benar-benar sangat diperlukan.Sebagai lembaga konservasi nilai, masyarakat menaruh harapan sepenuhnya terhadap agama untuk mengontrol dan mengantisipasi dinamika tersebut. Tugas ini menjadi semakin berat dengan adanya fenomena kemerosotan akhlak yang semakin banyak terjadi di kalangan masyarakat yang berimbas pada menurunya moral para pelajar.
4 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hal. 2.
Pentingnya PAI disekolah adalah untuk membina dana mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh.
PAI bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang ajaran agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara.5
Selain itu pihak sekolah perlu menciptakan situasi pendidikan yang bersifat keagamaan serta membawa nilai-nilai luhur.6 Jadi nilai-nilai luhur yang dimaksud adalah nilai-nilai dari pendidikan agama Islam yang dikembangkan melalui program kegiatan keagamaan yang bersifat kognitif realitas serta sebagai wujud pengembangan afektif dan psikomotor yang telah disampaikan pada kegiatan belajar dikelas ataupun yang lainnya.
Pendidikan agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran di Sekolah yang diberikan kepada siswa mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi.Pelaksanaanya selama ini masih ditekankan pada metode hafalan dan ceramah, padahal ajaran Islam sendiri penuh dengan nilai-nilai yang harus dipraktekkan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Mata pelajaran PAI sebaiknya mendapatkan waktu yang proporsional, bukan hanya dimadrasah atau sekolah yang bernuansa Islam, serta dalam peningkatan mutu pendidikan PAI harus dijadikan tolak ukur dalam membentuk watak dan kepribadian peserta didik untuk membangun moral bangsa (nation character building)7
SMA Negeri 20 Makassar memiliki peserta didik yang cukup banyak, dan lingkungan masyarakat yang kurang mendukung dalam pengembangan nilai-nilai
5 Muhaimin, dkk, Paradikma Pendidikan Islam (Upaya MengefektifkanPendidikan Agama Islam di Sekolah), (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2012), hal. 78
6 Paul Suparjo,SJ, dkk, Reformasi Pendidikan “Sebuah Rekomendasi”, (Yokyakarta:
Kanisius, 2002), hal. 76.
7Muhaimin, dkk, op. cit., hal. 3.
keagamaan, sehingga SMA Negeri 20 Makassar harus benar-benar mengontrol keadaan siswanya agar tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran. Karena itu, pendidikan agama Islam sangat berperan dalam membentuk karakter seseorang secara intensif dan continue. Dengan pentingnya pondasi agama yang kuat dan kokoh menjadi salah satu faktor utama dalam pembentukan karakter Islami pada diri siswa.
B. Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran umum karakter siswa kelas X SMA Negeri 20 Makassar ?
2. Bagaimana penerapan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter Islami siswa kelas X SMA Negeri 20 Makassar ? 3. Bagaimana hasil implementasi mata pelajaran pendidikan agama Islam
dalam pembentukan karakter Islami siswa kelas X SMA Negeri 20 Makassar ?
C.Tujuan Penelitian
Berkaitan dengan permasalahan yang penulis angkat sebagaimana tersebut di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini, adalah sebagai berikut:
1. memahami gambaran umum karakter siswa kelas X SMA Negeri 20 Makassar.
2. Untuk memahami bagaimana penerapan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter Islami siswa kelas X SMA Negeri 20 Makassar.
3. Untuk mengetahui bagaimana hasil implementasi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter Islami siswa kelas X SMA Negeri 20 Makassar.
D. Manfaat Penelitian 1. Secara teoritis
Penelitian ini sebagai pengembangan untuk menambah dan memperkaya khasanah keilmuwan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Secara praktis
a. Bagi Guru
Sebagai masukan dalam membangun pikiran dan khasanah ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan pembinaan akhlakul karimah terhadap Allah dan sesama manusia.
b. Bagi SMA NEGERI 20 Makasssar
Dapat digunakan sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan terhadap Karakter siswa.
c. Bagi penulis
Dapat pemahaman dan serta pengetahuan terhadap karakter siswa dan menanamkan nilai-nilai keagamaan pada siswa di sekolah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam atau dalam mata pelajaran SMA menjadi pendidikan Islam dan budi pekerti yang artinya adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan, dan bentuk sikap, kepribadian dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam, yang dilaksanakan sekurang- kurangnya melalui mata pelajaran pada semua jenjang pendidikan8.
Pengertian PAI seperti yang dijelaskan oleh pemerintah melalui kurikulum 2013 diatas menekankan pada konsep penddikan yang mengarah pada pembentukan kepribadian atau karakter peserta didiknya.
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertakwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Islam dari sember utamanya kitab suci Al-Quran dan Al-Hadist, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.9
Menurut pendapat Drs. Ahmad D. Marimba bahwa “Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani, rohani, berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran
8 KEMENDIKBUD, Pengantar Umum SILABUS PAI Kurikulum 2013, ( Jakarta:2012)
9 Abdul Majid, Op.Cit., hal.11
7
Islam”10.Sehingga dapat dikatakan bahwa Pendidikan Agama Islam itu adalah pendidikan yang membentuk kepribadian individual sesuai dengan agama Islam dan menjadikan mereka makhluk yang memiliki derajat tinggi di mata manusia dan juga di mata Allah SWT.
Secara umum konsep pendidikan Islam mengacu kepada makna dan asal kata yang membentuknya, kata pendidikan itu sendiri dalam hubungannya dengan Islam. Dalam konteks ini, dijelaskan secara umum sejumlah istilah yang umum dikenal dan digunakan para pakar dalam dunia pendidikan Islam.
Ada tiga istilah yang umum digunakan dalam pendidikan Islam yakni, al- ta’lim, al-tarbiyah dan al-ta’dib.Namun demikian, ketiga istilah tersebut
mempunyai pengertian tersendiri dalam pendidikan.
Ahmad Tafsir dalam Hasniyanti Gani menjelaskan bahwa “ Pengertian al- tarbiyah mengandung arti memelihara, membesarkan dan mendidik yang didalamnya sudah termasuk makna mengajar.”11 Dalam hal ini al-tarbiyah juga sering dikaitkan dengan proses mendidik seseorang menuju kedewasaan melalui segala aspek yang ada pada diri manusia itu sendiri baik secara jasmani maupun rohani. Bahkan pengembangan seluruh potensi manusia menuju pada kebaikan yang diinginkannya ada pada konsep al-tarbiyah ini.
Adapun tokoh yang menggunakan tema ta’lim, adalah Abdul Fattah Jalal yang menjelaskan bahwa “ta’lim secara implisit juga menanamkan aspek efektif, karena pengertian ta’lim sangat ditekankan pada perilaku yang baik (akhlak al
10 M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam ( Jilid 1), Jakarta : Rineka Cipta 2009, h.7
11 Ibid, Hasniyanti Gani Ali, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Quantum Teaching, 2008),hal. 14
karimah)”.12Konsep ta’lim sebenarnya merupakan bagian kecil dari al-tarbiyah, namun di dalamnya lebih mengandung ilmu pengetahuan yang lebih khusus atau mengacu pada aspek-aspek tertentu.
Tokoh yang memakai istilah ta’dib yaitu Syed Naquid al-Attas yang memberikan rujukan mengenai konsep pendidikan dengan memakai istilah ta’dib yang bearti adab atau menanamkan adab pada diri manusia di dalam proses pendidikan.13
Dalam ta’dib sendiri sudah mencakup unsur-unsur pengetahuan, pengajaran (ta’lim), pengasuhan atau mendidik (tarbiyah) sehingga kata ta’dib sendiri sudah mendiskipsikan proses pendidikan Islam secara utuh, dan dengan proses tersebut diharapkan dapat melahirkan insane - insan yang memiliki kepribadian unggul.
Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam secara keseluruha terdapat pada lingkup Al-Quran dan Hadist, keimanan, akhlak, fiqih/ibadah, sejarah serta mencakup keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah swt, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya.
Sedangkan dalam Kurikulum 2013 dijelaskan bahwa:
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti menetapkan aqidah yang berisikan tentang ke-Maha-Esaan Tuhan sebagai sumber utama nilai-nilai kehidupan bagi manusia dan alam semesta.Sumber utama lainnya adalah akhlak yang merupakan manifestasi dari aqidah.Selain itu, akhlak juga merupakan
12 Samsul Nizar, pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam,(Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), hal 86
13 Syed Naquib al-Attas dalam Hasnuyanti Gani Ali, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:
Quantum Teaching,2008), hal 16-17
landasan pengembangan nilai-nilai karakter bangsa Indonesia.Karakter bangsa Indonesia didasarkan kepada nilai-nilai ke-Tuhanan Yang Maha Esa, yang merupakan inti dari sila-sila lain yang ada dalam Pancasila. Sila ketuhanan Yang Maha Esa dapat mewujudkan nilai-nilai: kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan dan permusyawaratan, serta keadilan sosial bagi seluruh Indonesia.14
Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah pendidikan yang ditujukan untuk dapat menserasikan, menselaraskan dan menyeimbangkan antara Iman, Islam, dan Ihsan yang dapat diwujdkan dalam beberapa hal seperti dibawah ini:
1) Hubungan Manusia dengan Tuhan
Membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur.15 Dengan adanya pembelajaran Pendidikan Agama Islam, mampu mengantarkan peserta didik untuk lebih dekat kepada Allah SWT sebagai sang pencipta semesta alam ini.
2) Hubungan Manusia dengan Diri Sendiri
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti juga menyangkut beberapa materi yang dapat memberikan pembelajaran kepada peserta didik agar mereka mampu menghargai dan menghormati diri sendiri yang berlandaskan pada nilai- nilai keimanan dan ketakwaan, dan tidak lepas dari syariat-syariat Islam.
14 Kemendikbud, op.cit.,
15 Ibid, Kemendikbud
3) Hubungan Manusia dengan Sesama
Menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama juga dituangkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, agar mereka bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain, dan juga untuk menghindari pertikaian ataupun peperagan yang sering terjadi di daerah-daerah di pelosok negeri ini.
4) Hubungan Manusia dengan Lingkungan Alam
Sebagai khalifah di muka bumi ini, manusia mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk menjaga kelestarian lingkungan alam di sekitarnya.Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti memberikan pengajaran kepada mereka agar mampu melakukan penyesuaian mental keIslaman terhadap lingkungan fisik dan sosial.
Adapun ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan adanya pendidikan agama adalah Q.S. An-Nahl ayat 125, yang berbunyi:
Terjemahnya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.16
16 Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang : CV. Taha Putra 1989), hal. 282
Dari ayat tersebut, dapat dipaparkan bahwa dalam syariat Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu kejalan yang di ridhoi oleh Allah dengan cara yang baik guna memperoleh landasan kehidupan yang mulia baik itu di dunia maupun di akhirat. Bentuk dari menuntut ilmu yang dianjurkan dalam syariat tersebut diantaranya adalah mempelajari pendidikan Islam.
2. Dasar-dasar Dan Tujuan Pendidikan Agama Islam a. Dasar Pendidikan Islam
Dalam menetapkan sumber Pendidikan Islam dikemukakan tiga dasar utama dalam Pendidikan Islam adalah:
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an sebagai kalam Allah telah diriwayatkan kepada Nabi Muhammad SAW bagi pedoman masing-masing merupakan petunjuk yang lengkap mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang Universal yang mana ruang lingkupnya mencakup ilmu pengetahuan luas dan nilai ibadah bagi yang membacanya, yang isinya tidak dapat dimengerti kecuali dengan dipelajari kandungan yang Mulia itu.
Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan oleh malaikat jibril kepada Rasulullah SAW dengan menggunakan lafadz arab dan makna yang benar.
Agar menjadi hujjah bagi Nabi Muhammad bahwa ia benar-benar Rasulullah SAW, menjadi undang-undang manusia sebagi petunjuk dan sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah bagi pembaca.
2. As sunnah (Hadist)
Hadist adalah segala bentuk perilaku, perkataan Nabi yang merupakan cara yang diteladani dalam dakwah Islam yang termasuk dalam tiga dimensi yaitu;
berisi ucapan. Pertanyaan dan persetujuan Nabi atas peristiwa yang terjadi. Semua contoh yang ditunjukkan Nabi merupakan arah yang dapat diteladani oleh manusia demi aspek kehidupan.
Posisi hadist sebagai sumber Pendidikan utama bagi pelaksanaanya Pendidikan Islam yang dijadikan referensi teoritis maupun praktis. Acuan tersebut dilihat dari dua bentuk yaitu;
a) Sebagai acuan syari’ah yang meliputi muatan-muatan pokok ajaran islam secara teoritis.
b) Sebagai acuan oprasional aplikatif yang meliputi cara Nabi memerankan perannya sebagai pendidik yang professional, adil dan menjujung tinggi nilai-nilai ajaran islam.
3. Ijtihad
Melakukan Ijtihad dalam pendidikan islam sangatlah perlu, karena media pendidikan merupakan srana utama dalam membangun pranata kehidupan sosial dalam arti majau mundurnya kebudayaan manusia berkembang secara dinamis sangat ditentukan dari dinamika system pendidikan yang dilaksanakan.
Dalam dunia pendidikan sumbangan ijtihad dalam keikut sertaanya menata system pendidikan yang ingin di capai, sedangkan untuk perumusan system pendidikan yang dialogis dan adaptik, baik karena pertimbangan perkembangan zaman maupun kebutuhan manusia dengan berbagai potensi diperlukan upaya
maksimal. Proses ijtihad harus merupakan kerja sama yang utuh di antara Mujtahid.17
Dasar pendidikan Islam dimulai dari pengetahuan dalam masyarakat atau lingkungan sehari-hari dengan itu akan timbul ilmu pengetahuan pada diri seseorang. Salah satu penopang keberhasilan Negara yaitu dengan adanya Pendidikan dalam hak ini pendidikan islam sangat berperan bagi kemajuan suatu Negara. Melihat sangat pentingnya sebuah pendidikan bahkan diriwayatkan suatu hadist Nabi, yang mebganjurkan kita untuk menuntut ilmu dengan ilmu pengetahua. Sebab dengan kita memiliki ilmu seseorang akan dapat mengetahui barang yang benar dan salah, dapat mengetahui perintah dan larangan Allah, sehingga dapat melakukan perintah-perintah Allah dengan baik, benar dan sempurna, menjadikan amal perbuatannya diterima oleh Allah dan diberikan pahala disurga.
b. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan Pendidikan Islam ditinjau dari segi historis memiliki dinamika seirama dengan kepentingan dan perkembangan masyarakat dan pendidikan out dilaksanakan.Contoh sederhana bahwa tujuan Pendidikan Islam pada masa Rosulullah Saw berbeda jauh dengan tujuan Pendidikan Islam masa sekarang.Perkembangan inilah yang menyebabkan tujuan pendidikan Islam secara khusus mengalami dinamika seirama dengn perkembangan zaman namun tanpa melepaskan diri pada nilai-nilai Ilahiah dan tujuan umumnya yaitu sebagai ibadat.
17Syaiful Anwar, Relevansi Pendidikan K.H Hasyim & K.H Dahlam pada masa sekarang, UIN Jogja,2015, hal 10-11
Tujuan pendidikan dalam konsep Islam harus mengarah pada hakikat pendidikan yang meliputi beberapa aspeknya yaitu tujuan dan tugas hidup manusia, memperlihatkan sifat-sifat dasar manusia, tuntutan masyarakat, dan dimensi-dimensi ideal Islam.18Tujuan diatas menunjukkan bahwa pendidikan itu dilakukan semata-mata agar tujuan diciptakannya manusia maupun tujuan hidup mereka dapat tercapai dengan sempurna baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.
Di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang maksud dan tujuan manusia diciptakan oleh Allah, antara lain :
a. Surah Al-Baqarah ayat 132
Terjemahnya :
“Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku!
Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".19
b. Surah Adz-Dzariyat ayat 56
Terjemahnya:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.20
18Rois Mahd, Al-Islam (Penddikan Agama Islam), (Jakarta: Erlangga, 2010, hal. 145
19Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Op.Cit., hal.21
20Ibid, Depag RI, Al-Qur’an Terjemahannya, hal. 524
Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa tujuan pendidikan Islam adalah sama dengan tujuan manusia diciptakan yakni untuk berbakti kepada Allah sebenar-benarnya bakti atau dengan kata lain untuk membentuk ,manusia bertaqwa yang berbudi luhur serta memahami, meyakini dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Islam.
Menurut Ahmad Dahlan dalam karyanya menyatakan bahwa suatu usaha tanpa tujuan tidak akan berarti apa-apa. Oleh karenanya, setiap usaha pasti ada tujuan dan begitu pula dalam pendidikan Islam sangat penting adanya tujuan pendidikan yang dilaksanakan. Ada empat fungsi tujuan dalam pendidikan Islam, yaitu:
1) Tujuan berfungsi mengakhiri usaha, dalam hal ini perlu sekali antisipasi ke depan dan efesiensi dalam tujuan agar tidak terjadi penyimpangan.
2) Tujuan berfungsi mengesahkan usaha, dalam hal ini tujuan dapat menjadi pedoman sebagai arah kegiatan.
3) Tujuan dapat merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan lainnya, baik merupakan kelanjutan tujuan sebelumnya maupun bagi tujuan baru.
4) Tujuan berfungsi memberikan nilai (sifat) pada usaha itu, dalam hal ini ada tujuan yang lebih luhur, mulia dari pada usaha lainnya (bisa juga tujuan dekat, jauh atau tujuan sementara dan tujuan akhir).
3. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Islam adalah suatu agama yang berisi suatu jaran tentang tata cara hidup yang dituangkan Allah kepada umat manusia melalui para Rasulnya sejak dari Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad saw. Kalau para Rasul sebelum
Nabi Muhammad Saw, pendidikan itu berwujud prinsif atau pokok-pokok ajaran yang disesuaikan menurut kedaan dan kebutuhan pada waktu itu, bahkan disesuaikan menurut lokasi atau golongan tertentu, maka pada Nabi Muhammad saw. Prinsip pokok ajaran itu disesuaikan dengan kebutuhan umat manusia secara keseluruhan, yang dapat berlaku pada segala masa dan tempat.Ini berarti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Rasul merupakan ajaran yang melengkapi atau menyempurnakan ajaran yang dibawa oleh Nabi sebelumnya.21
Dengan demikian berarti ruang lingkup dan kajian pendidikan Islam sangat luas sekali karena didalamnya banyak segi atau pihak yang ikut terlibat baik langsung maupun tidak langsung. Adapun ruang lingkup pendidikan Islam adalah :
1. Perbuatan mendidik
Perbuatan mendidik ialah seluruh kegiatan, tindakan dan sikap pendidik sewaktu menghadapi peserta didiknya.Dalam perbuatan mendidik ini sering disebut dengan tahzib.Karena in sebagai pengajar, guru bertugas membina perkembangan pengetahuan, sikap dan keterampila muridnya.22 2. Peserta didik
Peserta didik adalah merupakan pihak yang paling penting dalam pendidikan.Hal ini disebabkan karena semua upaya yang dilakukan adalah demi untuk menggiring anak didik kerah yang lebih sempurna.Sebab itu maka disamping peserta didik mendapatkan pelajaran di dalam ruangan kelas seorang guru juga secara khusus menyediakan waktu khusus untuk
21 Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 59-60
22 Lihat ibid., hal. 256
memberikan bimbingan atau penyuluhan kepada peserta didik agar target yang hendak dicapai dapat terlaksana dengan baik.
3. Dasar dan Tujuan Pendidikan
Landasan yang menjadi fundamental serta sumber dari segala kegiatan pendidikan adalah untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya dengan pribadi yang ideal menurut Islam yang meliputi aspek-aspek individual, sosial dan intelektual. Atau dengan kata lain untuk membentuk pribadi muslim yang mampu meraih kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat dengan menghambakan diri kepada Allah memperkuat iman dan melayani masyarakat Islam serta terwujudnya akhlaq yang mulia.
4. Pendidik
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan Islam, berhasil atau tidaknya proses pendidikan adalah lebih banyak ditentukan oleh mereka.
Sikap dan teladan seorang guru dan pesertadidik merupakan unsur yang paling penting menunjang keberhasilan pendidikan.Karena sikap inilah yang paling pertama dilihat baik dipihak yang mengajar maupun diajar. Sebab itu dengan melalui akhlaq dan keteladanan para guru, maka keberhasilan pendidikan akan lebih cepat tercapai.
5. Materi Pendidikan Islam
Dalam pendidikan Islam tujuan dan materinya adalah merupakan dua hal yang tidak boleh dipisahkan dan Al-Qur’an harus selalu dijadikan rujukan
dalam membangun materi atau teori pendidikan, sebab itu maka materi yang disampaikan tidak hanya terfokus kepada ilmu agama, tetapi dijarkan juga ilmu alam yang dihubungkan dengan Islam, sehingga tidak ada lagi sekularisasi dalam pendidikan.
6. Metode Pendidikan
Peranan metode pendidikan berasal dari kenyataan yang menunjukkan bahwa materi kurikulum pendidikan Islam tidak mungkin akan dapat diajarkan secara keseluruhan, melainkan diberikan dengan cara khusus.
Penerapan metode bertahap, mulai dari metode yang paling sederhana menuju yang kompleks merupakan prosedur pendidikan yang diperintahkan Al- Qur’an.
Variasi metode yang digunakan dalam proses belajar adalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Mengajar seorang murid untuk menulis sebuah kalimat secara cermat dan baik, haus merupakan tuntunan pengajaran manulis di papan tulis maupun di buku tulisnya atau melalui tugas untuk melihat keterampilan kepada peserta didik seperti metode cerita, ceramah, diskusi, metafora, simbolisme verbal, hukum dan ganjaran.23 7. Alat Pendidikan
Alat pendidikan adalah suatu benda yang dapat diindrai, khususnya penglihatan dan pendengaran (alat peraga pengajaran) baik yang terdapat didalam maupun diluar kelas, yang digunakan sebagai alat bantu penghubung
23 Abdurrahman Shaleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Alquran (Cet. II:
Jakarta Rineka Cipta, 1994), hal. 205
(medium komunikasi) dalam proses interaksi belajar mengajar untuk meningkatkan efektifitas hasil belajar siswa.24
8. Evaluasi pendidikan
Semua hasil belajar pada dasarnya harus dievaluasi, untuk melihat sejauh mana tingkat kecerdasan peserta didik dan kekurangannya. Dengan adanya evaluasi, seorang guru diharapkan mampu melihat perkembangan pendidikan siswanya, apakah pelajaran yang sudah diajarkan dimengerti atau tidak.
9. Lingkungan Pendidikan
Pada umumnya telah diketahui bahwa anak-anak semenjak dilahirkan sampai menjadi dewasa, menjadi orang yang dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab sediri dalam masyarakat, harus mengalami perkembangan.Baik atau buruknya hasil perkembangan anak itu terutama bergantung kepada pendidikan (pengaruh-pengaruh) yang diterima oleh anak itu dari berbagai lingkungan pendidikan yang dialaminya.
Lingkungan pendidikan yang dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik menurut M. Ngalin Purwanto ada tiga golongan besar, yaitu :
a. Lingkungan keluarga, yang disebut juga lingkungan pertama;
b. Lingkungan sekolah, yang disebut juga lingkungan kedua; dan c. Lingkungan masyarakat, yang disebut juga lingkungan ke tiga.25 4. Fungsi Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
24 Zakiah Daradjat, op. cit., hal. 226
25 M. Ngalin Purwanto, Ilmu Pendidikan Teori dan Praktis, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hal.123
Dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat tentu memiliki beberapah fungsi yang sangat penting bagi kehidupan.
Menurut Muhaimin:
Fungsi pendidikan Islam yaitu dapat mengembangkan dan mengarahkan manusia agar mampu mengembangkan amanah dari Allah SWT, yakni menjalankan tugas-tugas hidupnya di muka bumi ini, baik sebagai hamba Allah SWT yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan maupun sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini, yang menyangkut tugas kekhalifaan terhadap diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, serta alam sekitarnya.26
Pendidikan Islam diberikan kepada manusia sejak dini, agar mereka mengetahui amanah serta tugas-tugas yang harus dilakukan sebagai hamba Allah SWT di muka bumi ini.Oleh karena itu fungsi pendidikan Islam maupun diberlakukannya pendidikan Islam itu sendiri diharapkan tidak menyimpang dari syariat-syariat yang telah ditentukan agar pendidikan itu sendiri dapat tersampaikan sesui dengan tujuan yang diinginkan.
Sedangkan manurut Soleha dan Rada fungsi pendidikan Islam itu meliputi tiga hal, yaitu sebagai berikut:
a. Menumbuhkembangkan peserta didik ketingkat yang normative yang lebih baik, dengan kata lain fungsi pendidikan Islam merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam landasan dasar pendidikan Islam tersebut.
b. Melestarikan ajaran Islam dalam berbagai aspek, dalam hal ini berarti ajaran Islam itu dijadikan tetap tidak berubah dibiarkan murni seperti keadaan semula, sekaligus dijaga, dipertahankan kelangsungan eksistensinya hingga waktu yang tak terbatas. Hal ini khususnya yang menyangkut tekstual Al- Quran dan Hadist adapun mengenai interpretasi dan pemahaman harus senantiasa dinamis disesuaikan sesuai dengan tuntutan zaman dan kondisi masyarakat.
c. Melestarikan kebudayaan dan peradaban Islam, dalam arti buah budi dan kemajuaan yang dicapai ummat Islam secara keseluruhanya, mencakup
26 Muhaimin, dkk, op.cit., hal. 24
pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat serta prestasi yang mereka capai.27
Masa depan kehidupan ummat manusia yang terus berkembang tentu sangat bergantung pada lembaga pendidikan yang berperan sebagain penyalur ilmu pengetahuan. Mereka akan tetap mengandalkan lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal sebagai pusat perkembangan dan pengendalian dari pengaruh perkembangan zaman. Pendidikan Agama Islam yang memiliki fungsi sebagai pengendali dan pengontrol terhadap hal-hal negatif dari perkembangan zaman memiliki peran yang sangat akan keadaan tersebut.
Namun pada segi-segi penggambaran masa depan di atas sesungguhnya sangat ideal jika pendidikan Islam dapat menjadi kekuatan moral serta mampu memberi solusi pada manusia modern di bawah payung agama, ini sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam al-Qur’an surah An-Nisa (4) Ayat 9.28
Terjemahnya :
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar”.29
27 Soleha dan Rada, Ilmu Pendidikan Islam,( Bandung: Alfabeta, 2011). Hal. 46
28 Ibid, Soleha dan Rada, h. 48
29 Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Op.Cit., hal.79
Dalam sumber lain dijelaskan bahwa pendidikan Islam mempunyai fungsi yang bermacam-macam, antara lain.30
a. Menumbuhkan dan memelihara keimanan
Mengingat dalam pertumbuhannya anak sering mendapatkan pengaruh positf maupun negative, maka diperlukan usaha pemeliharaan agar keimanan yang telah dimiliki anak tidak terbawa kearah pengaruh negative. Oleh karena itu, pendidikan Islam mempunyai peranan penting untuk memelihara agar keimanan anak tetap lurus.
b. Membina dan menumbuhkan akhlak mulia
Dewasa ini pengaruh kebudayaaan nonIslam yang negative berkembang pesat melalui berbagai macam cara. Maka pendidikan Islam mempunyai tugas dan tanggung jawab agar anak didik tetap memiliki akhlak mulia dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan asing yang tertentangan nilai dan norma Islam.
c. Membina dan meluruskan ibadah
Banyak anak didik yang belum betul secara baik dalam melaksanakan ibadah, karena biasanya melakukan ibadah sesuai dengan yang dicontohkan orang tuannya, sehingga kebanyakan dari mereka belum tertib dan rutin dalam melaksanakan ibadah.Maka pendidikan Islam mempunyai fungsi yang penting untuk membina anak didik agar dapat melaksanakan ibadah secara tertib dan rutin secara dapat meluruskan kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan baik dari segi teori maupun praktek.
5. Karasteristik Pendidikan Agama Islam
30 M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam (Jilid I), (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hal.12-14
Pendidikan yang unggul bagi peserta didik harus sejalan dengan asas dan prinsip pendidikan, khususnya pada Pendidikan Agama Islam yang mempunyai bentuk pendidikan yang bersifat menyeluruh dan utuh. Karasteristik pendidikan yang unggul dapat digambarkan melalui hal-hal sebagai berikut :
a. Visi dan Misi Pendidikan Terpadu
Pendidikan ini dikembangkan dalam rangka merealisasikan maksud diciptakannya manusia itu sendiri dan sejalan dengan visi dan misi Anbiya’ wal Mursalin yakni agar manusia (anak didik) beribadah kepada Allah SWT saja dan menjauhi thogut.Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl (16) Ayat 36:
Terjemahnya :
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.31
b. Pendidikan ini tidak memandang adanya dikotomi ilmu pengetahuan (yakni membedakan antara ilmu agama dan IPTEK).
31 Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya,Op.Cit., hal.272
c. Menuntut adanya model pengembangan kurikulum terpadu.
d. Proses pembelajaran yang terpadu
e. Semua standar pendidikan berbasis Islam, yakni memiliki dasar yang jelas atau rujukan terpercaya (Al-Qur’an, As-Sunnah shahihah,Ijma sahabat, dan Ijtihad).
f. Terjalin kerjasama yang harmonis antara ketiga penanggung jawab keberhasilan pendidikan Islam yaitu, orangtua, da’i, dan guru.32
Secara implisit PAI memang diarahkan ke dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam praktik dan ritual keagamaan. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapah indicator yang menjadi karasteristik PAI sebagai berikut :
a. PAI mempunyai dua sisi kandungan yakni sisi keyakinan dan sisi pengetahuan
b. PAI bersifat doctrinal, memihak, dan tidak netral
c. PAI merupakan pembentukan akhlak yang menekankan pada pembentukan hati nurani dan penanaman sifat-sifat ilahiah yang jelas dan pasti
d. PAI bersifat fungsional
e. PAI diarahkan untuk menyempurnakan bekal keagamaan peserta didik f. PAI diberikan secara komprensif
Sebagai pendidikan yang berbasis agama Pendidikan Agama Islam yang diajarkan di sekolah harus dilaksanakan sesuai dengan syariat yang ada, dan juga berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist. Materi-materi pendidikan yang
32 Suroso Abdussalam, Arah & Asas Pendidikan Islam, (Bekasi Barat: Sukses Publishing, 2011), hal. 122-126
disampaikan pun jga tidak jauh dari proses pembentukan kepribadian sebagai seorang muslim yang taat dan patuh.
B. Karakter Islami
1. Pengertian Karakter Islami
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Karakter memiliki arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak tau budi pekerti yang membedakan sesorang dari orang lain.
Istilah karakter juga disamakan dengan kepribadian sebab ilmu pengetahuan yang mempelajari kepribadian juga disebut karakteologi.Adapun kaitannya dengan karakteologi, karakter dapat diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang tampak dalam tingah laku dan perbuatan sebagai akibat pengaruh pembawaan dan lingkungan.
Menurut istilah lain karakter tergantung pada kakuatan dari luar, jadi lingkungan dan pembawaan dapat mempengaruhi karakter individu atau dapat dikatakan bahwa karakter dapat diubah atau dididik dengan membutuhkan terapi panjang, butuh konsetrasi, butuh biaya, butuh waktu, butuh pikiran serta energy yang sangat banyak.33
Hakekat karakter menurut Winnie, memahami bahwa :
Istilah karakter memiliki dua pengertian yaitu pertama, ia menunjukkan bahwa seseorang bertingkah laku, apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk.
Sebaliknya apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang
33 Abdullah Munir, Pendidikan Karakter Membangun Karakter Anak Sejak Dari Rumah, (Yogyakarta: Pedagogia, 2010), hal.10
tersebut memanifestasikan perilaku yang baik.Kedua, istilah karakter erat kaitanya dengan personality.Seseorang bisa dikatakan orang yang berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.34
Karakter cenderung disamakan dengan kepribadian.Orang yang memiliki karakter berarti memiliki kepribadian.Keduanya diartikan sebagai totalitas nilai yang dimiliki seseorang yang mengarahkan manusia dalam menjalani kehidupannya.Totalitas nilai meliputi tabiat, akhlak, budi pekerti dan sifat-sifat kejiwaanya lainya.
Sedangkan karakter Islami lebih cenderung mengarah pada akhlak atau perilaku yang baik.
Menurut Abudin Nata secara sederhana akhlak Islami dapat diartikan sebagi akhlak yang berdasarkan ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami.35Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging, dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islami.
2. Macam-macam dan Nilai-nilai Karakter
Esensi dan makna karakter, moral dan akhlak sama dengan budi pekerti.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia pendidikan budi pekerti adalah pendidikan nilai. Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai satuan pendidikan masing-masing.
34 Zainuddin, pendidikan Karakter Islami, (http://tarbiyahiainib.ac.id/artikel/194mendidikan)
35 Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Press, 2010), hal. 147
Ada banyak sekali karakter yang dimiliki oleh manusia, namun disini penulis akan menjelaskan 5 macam karakter yang paling sering terlihat pada manusia, diantaranya adalah sebagai berikut:36
a. Pemalu
Malu adalah perasaan yang timbul dalam diri seseorang yang ia merasa minder dan berharap orang lain tidak menegetahui tentang yang ia alami, dalam Islam, sifat malu meruoakan bagian dari cabang keimanan. Karena ketika sesorang merasa malu, maka ia akan berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik dan menghindari hal buruk yang tentunya hal buruk inilah yang akan membuat harga dirinya jatuh baik dimata Rabbnya maupun dimata manusia secara umum.
b. Pendiam
Secara umum pendiam adalah orang yang jarang bicara dan senangnya berdiam.Sifat pendiam tidak selamanya negative ada banyak hal positif yang bisa dilakukan oleh orang yang pendiam.
c. Pemarah
Orang pemarah adalah orang yang kalah. Karena ia tidak bisa melawan perasaan yang ada dalam dirinya sendiri. Dalam Islam pun diatur bagaimana sebaiknya sikap seseorang yang sedang marah, yakni jika ia marah ketika berdiri hendaknya ia duduk dan jika masih juga terasa, hendaknya ia berbaring.
d. Penyabar
36Sulaiman, Macam-macam Karakter Pada Manusia,
(http://prinal13.wordpress.com/2013/05/02/5-macam-karakter-manusia/,diakses tanggal 28 Maret 2018 jam 10.45 WIB)
Orang penyabar adalah orang yang bisa menghadapi masalahnya dengan lapang dada.Sabar adalah sifat yang relative, bergantung pada seberapa bijak seseorang menghadapi masalahnya.
e. Pemaaf
Pemaaf adalah salah satu karakter mulia yang dimiliki manusis.Walaupun dalam prakteknya sangat sulit.Bahkan Allah SWT adalah Zat yang Maha Pemaaf kepada setiap hambanya.
Manusia diciptakan tentunya dengan berbagai macam perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya baik dari segi fisik ataupun karakternya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter
Ketika seseorang melakukan pembentukan karakter dalam hidupnya, baik itu karakter positif maupun negative pasti ada faktor-faktor yang mempengaruhinya.Meskipun karakter seseorang bisa dibentuk namun juga ada beberapa faktor yang memang sudah menjadi sifat bawaan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter atau kepribadian, antara lain:37
a. Warisan biologis (misalnya bentuk tubuh, apakah endomorph/gemuk bulat, ectomorph/kurus tinggi, dan mrsomorph/atletis. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa mesomorph lebih berpeluang melakukan tindakan-tindakan, termasuk berperilaku menyimpang dan melakukan kejahatan).
b. Lingkungan fisik/alam (tempat kediaman seseorang, seseorang berdiam di pegunungan, dataran rendah, pesisir/pantai, dan sebagainya aka mempengaruhi kepribadiannya)
c. Faktor lingkungan kultural (Kebudayaan masyarakat), dapat berupa:
1) Kebudayaan khusus kedaerahan atau etnis (Jawa, Sunda, Madura, Batak, dts.)
37 Ratnaning Eka astute, Pembentukan Karakter Siswa Berbasis Agama (Studi kasus Di MAN Kediri II Kota Kediri,) Skripsi, (UIN Malang,2012), hal.37-38
2) Cara hidup yang berbeda antara desa satu dengan desa yang lain (daerah agraris tradisional) denga kota (daerah industry-modern) 3) Kebudayaan khusus karena perbedaan agama (Islam, Kristen,
Khatolik, Hindu, Budha, dan lain-lain)
4) Kebudayaan khusus kelas sosial ( kelas sosial bukan sekedar kumpulan dari orang-orang yang tingkat ekonomi, pendidikan atau derajat sosial yang sama, tetapi lebih merupakan gaya hidup)
5) Pekerjaan atau keahlian (guru, dosen,birokrat, politisi, tentara, pedagang, petani, dan lain-lain.38
Dari faktor diatas menjelaskan bahwa pembentukan karakter dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan faktor dari luar yang dapat dipengaruhi oleh warisan biologis, lingkungan, dan faktor kultural memiliki peran penting terhadap kepribadian seseorang dalam pembentukan karakter.
4. Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam
Etika dalam islam sangat erat hubunganya dengan akhlak, yang dalam hal ini tidak jauh hubungnnya dengan pendidikan karakter sebagai wujud pembinaan terhadap akhlak seorang muslim.Pendidikan karakter berarti sebagai usaha sengaja untuk mewujudkan kebajikan39, yaitu kualitas kemanusiaan yang baik secara objektif, bukan hanya untuk individu perseorangan tapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan. Raharjo memaknai pendidikan karakter sebagai :
Suatu proses pendidikan secara holistic yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagi pondasi bagi
38 Ratnaning Eka astuti, Pembentukan Karakter Siswa Berbasis Agama (Studi kasus Di MAN Kediri II Kota Kediri,) Skripsi, (UIN Malang,2012), hal.37-38
39 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter Konsep dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan,(Jakarta: Kencana, 2011), hal.15
terbentuknya generasi yang berkualitas yan mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan.40
Selain sebagai wujud pembinaan terhadap akhlak seorang muslim, pendidikan karakter secara terperinci memiliki lima tujuan sebagai berikut :
a. Pertama, mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga Negara yang memiliki karakter bangsa.
b. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious.
c. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik sebagai penerus bangsa.
d. Keempat, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan.
e. Kelima, mengembangkan lngkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.41
Pendidikan karakter dalam islam mencakup penekanan terhadap prinsip- prinsip agama yang abadi, aturan dan hukum memperkuat moralitas, perbedaan tentang kebenaran dan penekanan pahala di akhirat sebagai motivasi perilaku
40 Raharjo, “Pendidikan Karakter sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia” Jurnal Pendidika dan Kebudayaan, (Jakarta: Balitbang Kementrian Pendidikan Nasional, Vol.16 No.3 Mei 2010)
41Said Hamid Hasan, dkk. “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa”
Pelatihan Penguatan Metode Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Bangsa, (Jakarta: Balitbang Kemendiknas,2010), hal.7
bermoral. Sudah jelas bahwa pendidikkan karakter dalam islam ditujukan agar manusia memiliki perilaku yang baik, tidak menyimpang dan sesuai dengan ajaran-ajaran dalam Al-Qur’an maupun Hadist. Pendidikan karakter tidak hanya mendidik manusia untuk menjadi cerdas, tetapi juga untuk membangun kepribadiannya agar memiliki akhlak yang mulia.
Dari Abullah bin Amr Radhiyallahuanhu ia berkata Rasulullah SAW bersabda :
َو اهْيَلَع ْمُهْوُبِرْضاَو َنيِنِس ِعْبَس ُءأنْبَأ ْمُهَو ِة َلََّصلاِب ْمُكَد َلَْوَأ اْوُرُم ْوُقَّرَفَو َنْيِنِس ِرْشَع ُءأنْبأ ْمُه
ا
.ْعِجاَضَملا يِف ْمُهَنْيَب
Terjemahnya:
Seruhlah anak kalian sholat ketika berumur 7 tahun dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggalkan sholat maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).HR. Abu Daud (no 495.)42 Hadist diatas menceritakan tentang intruksi Rasulullah SAW kepada ummat Islam agar memerintahkan anaknya untuk melaksanakan ibadah sholat ketika usia 7 tahun apabila usia 10 tahun si anak tidak mau melaksanakan ibadah sholat, maka orang tua boleh memukul anaknya tersebut. Pukulan yang dimaksud adalah pukulan yang bersifat mendidik, agar si anak mau melaksanakan sholat.Pukulan yang dimaksud bukan pukulan yang menyakit, tetapi untuk mendidik anak agar memiliki karakter keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
42Shahih: HR. Abu Dawud,No.494;At-Tirmidzi,no,407;Ad-Darimi,I/333;Al-Hakim,I/201 dan lainnya,dari Sahabat Sabrah bin Ma’had al Juhani Z. Dishahikan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih al-Jamiah Shaghir,no.5867dan Irwa-ul Ghalil no.247
Pendidikan karakter yang berbasis Al-Qur’an dan as-Sunnah atau gabungan antara keduanya yaitu menenamkan karakter tertentu sekaligus memberi beni agar peserta didik mampu menmbuhkan karakter khasnya pada saat menjalani kehidupan.43
Kehidupan muslim yang baik adalah yang dapat menyempurnakan skhlaknya sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi Saw. Sebagai sumber suri tauladan kehidupan.
Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah al- Ahzab (33) ayat 21 :
Terjemahnya :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”44
Prinsip akhlak Islam termanifestasi dalam aspek kehidupan yang diwarnai keseimbangan, realistis, efektif, efesian, disiplin dan terencana serta memiliki dasar analisis yang cermat Abdul Majid mengutip perkataan Mubarok, bahwa kualitas akhlak seseorang dinilai melalui tiga indicator.Pertama, konsistensi antara yang dikatakan dengan yang dilakukan, dengan kata lain adanya kesesuaian
43 Nikita Wachdah, Pendidikan Karakter Menurut Pham Ahlussunnah Wal Jama’ah, Skripsi, (UIN Malang, 2012), hal.55
44 Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya,Op.Cit., hal.421
antara perkataan dan perbuatan. Kedua, konsistensi orientasi, yakni adanya kesesuaian antara pandangan dalam satu hal dengan pandangannya dalam bidang yang lain. Ketiga, konsistensi pola hidup sederhana.Dalam tasawuf misalnya sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap kebajikan pada hakikatnya adalah cerminan dari akhlak yang mulia.45
Mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan karakter, Allah SWT menganjurkan kepada manusia agar memiliki sifat-sifat yang mulia, seperti sifat sabar, pandai bersyukur, bertawakkal dn seterunya. Karena selain sifat-sifat tersebut mulia, juga pada sifat-sifat tersebut memiliki (potensi) yang besar, kekuatan tersebuat tidak dapat dimiliki kecuali dengan memiliki sifat- sifat mulia tersebut, Misalnya, potensi untuk memahami suatu fenomena alam yang dianugerahkan oleh allah SWT kepada orang-orang yang sabar dan pandai bersyukur.46 Diisyaratkan dalam al-Qur’an Surah Luqman (31) ayat 31:
Terjemahnya :
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”47.
45 Abdul Majid, op.cit., hal 60
46 M. Samsul ulum, Menangkap Cahaya Al-Qur’an, (Malang: UIN-Malang Press,2007), hal. 39
47 Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Op.Cit., hal 415