2. KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Pusat Informasi
Pusat Informasi adalah area yang memiliki luasan tertentu, merupakan ruang yang fleksibel dan dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, yang difungsikan untuk memberi informasi.
2.1.1. Area Terpenting Pusat Informasi
Area pamer mempunyai fungsi sebagai tempat memasang poster / benda untuk menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan apa yang diiformasikan.
Hal yang harus diperhatikan dalam merancang area pamer adalah : a. Tata Pameran
Segala penataan yang dimulai dengan menempatkan koleksi didalam gedung untuk pameran yang bersifat periode maupun temporer harus memiliki disiplin ilmu.
b. Cahaya
Baik cahaya alam / buatan harus memenuhi persyaratan ideal dari segi koleksi, keindahan & penerangan.
c. Label
Label berupa penjelasan yang di letakkan sekitar benda koleksi.
Penjelasannya padat, ringkas dan jelas. Dalam penempatanya harus jelas dan dapat terlihat oleh semua pengunjung. Label yang nantinya digunakan adalah jenis standing label baik digital / manual.
d. Kondisi Udara
Sirkulasi udara dalam ruang pamer harus memenuhi persyaatan yang baik bagi koleksi maupun pengunjung.
e. Peralatan Audiovisual
Digunakan untuk membantu memperjelas koleksi dapat berupa sound system maupun berupa film.
f. Lukisan / diorama
Digunakan untuk menerangkan gambaran pristiwa/sejarah.
g. Keamanan
Perlakuan museum harus harus mendapatkan perlakuan yang serius, diupayakan koleksi yang peka dihindarkan dari sentuhan pengunjung dan jika diperlukan dapat meminta bantuan pihak keamanan(security museum)
h. Lalu Lintas Pengunjung
Sirkulasi searah yang di tetapkan pada pusat informasi Candi Borobudur memberikan suasana lebih teratur. Jarak sirkulasi minimum 120 mm, sehingga tidak berdesakan pengunjung yang satu dengan yang lain. Perhatian pengunjung akan berkurang apabila suasana pameran berdesak-desakan.
i. Jarak pandang dan batas pandang
Menurut ergonomi manusia, gerakan kepala yang wajar adalah 30o gerakan ke atas dan 40o gerakan ke bawah maupun ke samping. Sehingga jika gerakan kepala yang terjadi melebihi batas tersebut maka akan terjadi ketidaknyamanan.
(Direktorat Museum 15)
Menurut Tuut Patricia dan Allen David, penataan benda seni ada 3 macam, menurut benda yang dipamerkan, antara lain:
In show case
Benda yang dipamerkan termasuk kecil, maka diperlukan wadah yang tembus pandang, yang kadang juga memperkuat kesan tema dari benda yang di- display.
Free standing on the floor or plinth or support
Benda yang akan di-display mempunyai bentuk yang cukup besar, sehingga memerlukan panggung ataupun ketinggian lantai untuk batas display.
On walls or panels
Benda karya seni ditempatkan pada dinding ruangan atau dinding partisi yang dibentuk untuk membatasi ruangan.
(Tuut & Allen 289)
Standar pameran menurut Smithsonian Institution, Washington DC adalah :
Fokus pada pengunjung
Pengunjung harus merasa bahwa pengalaman pameran mereka merangsang, relevan, dan menyenangkan, pameran harus diingat, estetis indah, dan menyenangkan. Aspek kepuasan pengunjung mencakup pengalaman pendidikan, pengalaman menghibur, dan pengalaman sosial.
Pengalaman informasi
Informasi dan benda harus disajikan dalam cara yang melibatkan pengalaman pengunjung. Dampak emosional dari pameran harus mempertajam pemahaman pengunjung, pameran harus menawarkan pilihan pengunjung, umpan balik, dan indikator keberhasilan yang personalisasi kunjungan untuk mereka.
Penyampaian informasi
Informasi harus dikomunikasikan secara jelas, koheren dan melalui beberapa media. Sebuah pameran harus memungkinkan untuk sudut pandang yang berbeda pada subjek.
Hal yang dapat mempengaruhi emosi pengunjung dalam pameran yaitu : - Elemen dan organisasi spasial pameran harus mendukung dan
memberikan kontribusi yangbervariasi. Bahan yang digunakan dan kualitas harus sesuai dengan konsep desain pameran, penonton, durasi, dan anggaran.
- Bentuk visual dan spasial harus membuat arti baru.
- Jalan pameran itu sendiri harus memiliki makna.
- Desain pameran harus dapat diakses, menarik, mengundang, dan
melibatkan lingkungan baik secara fisik dan intelektual.
- Isi pameran sesuai dan didukung oleh format pameran dan baik terstruktur dan akurat. Subjek harus sesuai dengan format pameran, akurat dan terkini, mendorong minat, secara memadai didukung oleh objek, multimedia, dan interaktif komponen (jika ada) dan integritas presentasi. Konten harus terstruktur dengan baik, indah, bergerak, elegan, dan didukung olehbukti. Lapisan makna harus diungkapkan jika pengunjung mencoba.
Evaluasi
Evaluasi sebagai sarana untuk meningkatkan relevansi, fungsionalitas, dan efektivitas pameran. Harus ada mekanisme untuk umpan balik dari pengunjung tentang berbagai aspek dari pameran pada beberapa tahapan kehidupan suatu pameran.
2.1.2. Area Penunjang Pusat Informasi 2.1.2.1. Lobby
Lobby mempunyai fungsi :
- Fungsi umum : Sebagai suatu tempat / wadah seluruh karyawan pada kantor dalam melaksanakan tugas mengurus serta mengelola segala macam yang berhubungan managemen di perusahaan tersebut
- Fungsi khusus : Sebagai suatu wadah dari pihak perusahaan untuk penerimaan awal pengunjung, tempat mengelolah informasi dan melayani segala macam keperluan dari pengunjung, tempat untuk bertemu janji.
Fasilitas yang dimiliki Lobby adalah :
- Area duduk, berfungsi sebagai area tunggu
- Area komunikasi, tempat berkumpulnya orang untuk berkomunikasi - Area resepsionis, posisi dari area resepsionis harus memungkinkan untuk
dapat dilihat secara langsung oleh seseorang ketika masuk.
Pada Lobby terdapat peraturan pusat informasi yang dipasang dengan jelas.
- Dilarang menggunakan kamera flash untuk melindungi artefak yang sensitif terhadap sinar.
- Dilarang membawa makanan dan minuman di dalam pusat informasi.
- Harap tenang selama berada di pusat informasi
- Dilarang menyentuh atau memindahkan koleksi museum (Hampton Perfect mix Lobby 8)
2.1.2.2. Ruang Serbaguna
Ruang serbaguna merupakan ruang yang dirancang agar dapat digunakan dengan berbagai tujuan seperti auditorium, area pelaksanaan upacara keagamaan, ruang seminar, dan ruang pertemuan.
Hal yang harus diperhatikan :
Penataan interior dibuat paling fleksibel untuk dapat menampung semua kegiatan, serta menyajikan waktu dengung ideal yang berbeda-beda.
Mengggunakan pelapis lantai, dinding plafond yang secara mudah dapat diganti antara yang memiliki kemampuan pantul yang cukup tinggi dengan yang memiliki kemampuan pantul rendah.
Model konstruksi yang dapat digunakan adalah sistem geser (sliding), gulung (rolling), buka tutup, atau cara-cara penggantian lain secara manual.
Pintu dirancang sedemikian rupa agar kebisingan yang merambat dapat diperkecil. Misalnya dengan merancang pintu rangkap yang memiliki ruang di dalamnya
2.1.2.3. Galeri Foto (Karmawibhangga Photo Gallery)
Sebuah galeri seni atau museum seni adalah bangunan atau ruang untuk pameran seni, biasanya seni visual. Lukisan / foto yang paling umum ditampilkan.
Bekerja pada bidang kertas, seperti gambar, pastel, cat air, cetakan, dan foto-foto biasanya tidak ditampilkan secara permanen untuk alasan konservasi. Catatan fotografis dari jenis-jenis seni sering ditampilkan di galeri.
Benda kaya seni ditempatkan pada dinding ruang / dinding partisi dibentuk untuk membatasi ruangan. Posisi gantungan yang terbaik untuk gambar – gambar yang kecil, titik berat penentunya adalah garis ketinggian horizontal gambar pada ketinggian mata. Untuk penataan benda berharga sebaiknya memanfaatkan lemari kaca yang penempatannya masuk dalam dinding (dilengkapi dengan perlengkapan pengunci dan pengaman, pencahyaan dari dalam dan ruangan dibuat agak gelap).
Sebuah ruang galeri memiliki beberapa faktor yang harus diperhatikan:
Pengunjung dapat bergerak melalui ruang pameran yang mana tidak boleh dipaksa untuk melihat objek dua kali.
Terdapat jarak untuk orang bergerak
Terdapat tag display, agar pengunjung dapat mengerti apa yang mereka lihat.
Pencahayaan di dalam galeri diatur sedemikian rupa dengan menggunakan lampu sorot dengan sudut penyinaran sesuai dengan pencahayaan alami.
(Chiara 231)
2.1.2.4. Ruang Audiovisual
Kriteria untuk melihat ke layar dengan baik adalah : Max. horizontal sudut lihat 300
Max. vertikal sudut lihat 350 Sudut kritikal proyektor 120
Max. jarak pandang 6 x lebar layar Min. jarak pandang 2 x lebar layar
Gambar 2.1. Dimensi Jarak Kursi Ruang Audiovisual Sumber : Chiara 314
Gambar 2.2. Dimensi Jarak Antropometri Kursi Ruang Audiovisual Sumber : Chiara 314
2.1.2.5. Workshop Area
Adalah ruangan atau gedung yang menyediakan area dan alat (atau mesin) yang mungkin diperlukan untuk pembuatan atau perbaikan barang-barang manufaktur. Terlepas dari pabrik-pabrik besar, workshop satunya tempat produksi
di hari-hari sebelum industrialisasi. Pastikan permukaan meja kerja berada pada ketinggian yang nyaman dengan banyak ruang untuk menempatkan alat-alat dan benda kerja. Sebuah kotak pertolongan pertama harus hadir dan mudah diakses di setiap bengkel.
Pencahayaan yang memadai diperlukan untuk penggunaan yang aman alat-alat yang tajam atau pengoperasian alat-alat listrik. Bayangan dan kelelahan pencahayaan redup dan meningkatkan kontribusi terhadap kesalahan pengukuran.
Pastikan bahwa stopkontak dibumikan dari arus listrik yang benar untuk alat-alat listrik yang berdekatan dengan manusia. Stopkontak ini harus di bawah tingkat meja kerja Anda sehingga setiap kabel listrik tidak akan mengganggu pekerjaan.
Jauhkan semua kabel listrik dan kabel tambahan bebas dari keterikatan dengan rongga yang membahayakan. Semua kabel listrik dipastikan tidak aus atau rusak tapi dalam kondisi yang baik. Pastikan bahwa pengunjung dapat dengan mudah dan aman bekerja di sekitar bangku tanpa sudut tajam mencuat.
a. Pakaian dan Aksesoris Perlindungan
- Berpakaian secara layak untuk perlindungan fisik. Gunakan celemek kulit, sarung tangan kulit, dan pakaian yang cukup longgar untuk kenyamanan.
- Simpan semua cincin, gelang, kalung, jauhkan rambut yang terurai panjang dari bahaya selama pekerjaan.
- Selalu memakai kacamata pelindung atau kacamata.
- Jika pekerjaan Anda adalah berisik, mengenakan sumbat telinga atau sarung.
- Pakailah masker debu untuk melindungi terhadap partikel serbuk gergaji dan mikroskopis. Beberapa debu kayu beracun dan semua yang tidak baik untuk bernapas.
b. Untuk ventilasi yang baik, ruang harus memiliki setidaknya 2 jendela, atau satu jendela dan sebuah exhaust fan. Jauhkan kipas kecil bertiup baik menemukan dan ke dalam asupan kolektor atau melewati bahu Anda dan ke dalam asupan kolektor ketika menjalankan debu yang berlebihan menghasilkan operasi.
c. Bahaya Kebakaran
Bahaya kebakaran menyajikan bahaya utama berikutnya ke daerah dimana debu tidak dikumpulkan dan dibuang. Memasang alarm asap dan pemadam kebakaran. Sebuah pertimbangan yang berpengaruh adalah:
- Motor listrik dan setiap panas atau percikan menghasilkan peralatan listrik.
- Switch, outlet, dan bola lampu.
- Bunga api yang dihasilkan dari penggilingan logam ketika penajaman alat.
- Perakitan armatures logam, kaki burung dan mendukung dengan besi solder atau obor.
- Pembakaran spontan dari benar dibuang atau un-merawat kain selesai, kuas, lap, dan bahaya perokok.
2.1.2.6. Kantor
Kantor adalah balai (gedung, rumah, ruang) tempat mengurus suatu pekerjaan (perusahaan dsb) / tempat bekerja. Tata ruang kantor disusun berdasarkan aliran pekerjaan kantor sehingga perencanaan ruangan kantor dapat membantu para pekerja dalam meningkatkan produktifitas. Selain itu pengaturan tata ruang kantor yang baik akan memberikan keuntungan-keuntungan, diantaranya :
1. Mencegah penghamburan tenaga dan waktu para pegawai, karena berjalan mondar-mandir yang sebetulnya tidak perlu.
2. Menjamin kelancaran proses pekerjaan yang bersangkutan.
3. Memungkinkan pemakaian ruang kerja secara efisien, yaitu suatu luas lantai tertentu dapat dipergunakan untuk keperluan yang sebanyak-banyaknya.
4. Mencegah para pegawai di bagian lain terganggu oleh publik yang akan memenuhi suatu bagian tertentu.
Ruang Kantor biasanya berisikan ruang : - Ruang/area Karyawan
Yang perlu diperhatikan apa nama tiap bagian/divisi, bagaimana hubungan antar bagian/divisi, bagaimana jalur sirkulasinya, apakah perlu berdekatan dengan area resepsionis, apa jabatan dalam divisi, siapa saja yang memerlukan area pribadi dalam area divisinya, apakah perlu adanya sekretaris dalam tiap divisi, berapa banyak orang/pegawai yang diperlukan dalam tiap divisi, perlukah tiap pegawai mendapatkan area khusus, peralatan dan perabotan apa saja yang dibutuhkan,
apakah ada divisi khusus yang membutuhkan peralatan khusus dalam areanya atau tidak
- Ruang Rapat
Ruang ini berkaitan dengan ruang rapat yang terdapat di area executive. Perlu diketahui juga, tipe ruang rapat seperti apa yang dibutuhkan dalam kantor, siapa saja yang nantinya akan menggunakan ruang rapat tersebut dan bagaimana frekuensi keseringan pengadaan rapat, jenis rapat yang seperti apa yang akan diterapkan pada ruang.
- Ruang/area servis
Area cetak, kamar Mandi-Toilet, pantry, ruang alat kebersihan, ruang Mekanikal, ruang kontrol CCTV
- Guide course room
Sebuah ruang yang digunakan untuk memberdayakan pedagang yang ingin belajar untuk menjadi guide pemula berstandart internasional.
(The Liang Gie 162)
Terdapat enam macam penataan ruang kantor : - Cellular
Merupakan bentuk tradisional
Menempati gedung yang sempit
Ditandai dengan adanya koridor
Ruang – ruang yang berukuran kecil
Lampu artifisial yang permanen - Group space
Kantor berukuran sedang
Menampung 5-15 orang yang bekerja secaara bersama - Open plan
Cara tradisional pada layout yang lebih luas
Terdiri dari beberapa bentuk subdivisi yang lebih lengkap
Tempat bekerja disusun secara geometris - Office landscaping
Banyak dipakai pada dekade 15 tahun terakhir
Layout terkontrol oleh pengolahan yang artifisial
Layout area kerja mencerminkan struktur dan metode dari organisasi kerja
Menggunakan tirai, tanaman, perabot penyimpanan untuk menandai rute sirkulasi dan memberikan batas wialyah dan identitas pengelompokan kerja
(Saphier 37)
2.2. Elemen Interior 2.2.1. Lantai
Marmer
Terdapat empat penggolongan produk berdasarkan finishingnya, yaitu:
- Polish, yaitu marmer yang sudah mengalami proses pemolesan (sudah mengkilap).
- Unpolish, yaitu belum dilakukan pemolesan terhadap marmer sehingga keadaannya masih kusam.
- Honed, yaitu mengalami proses pemolesan namun tidak maksimal, tidak terlalu kusam namun juga belum mengkilap secara maksimal.
- Hammer, yaitu marmer yang dicacah untuk membentuk tekstur tertentu.
Bagi yang ingin mengubah tekstur asli dapat melalui pesanan khusus.
Beberapa produsen menyebutnya antique, yaitu marmer yang diubah teksturnya namun urat dan warnanya tetap sama seperti aslinya.
Parket
Parket tidak hanya berupa kayu solid, kini ada pilihan lain yaitu laminate dan engineered.
- Parket kayu solid
Parket dari bahan kayu solid memiliki kualitas/daya tahan yang tidak tertandingi dan memiliki corak yang alami. Saat ini, lantai parket kayu solid yang terdapat di pasaran sudah dilengkapi dengan lidah (tounge) dan celah (groove) pada bagian tepi kiri-kanan dan atas-bawah. Sistem ini memudahkan konsumen untuk melakukan pemasangan sendiri serta kuat dan dapat mencegah air yang jatuh ke permukaan masuk ke celah sambungan.
- Parket laminate / HDF
Sebutan laminate mengacu pada konstruksi parket yang terdiri dari beberapa lapis. Dua jenis parket laminate adalah HDF (High Density Fiber) dan MDF (Mediun Density Fiber) yang masing-masing terdiri dari 4 lapisan.
HDF dan MDF berbeda dalam kerapatan serbuk kayunya. Kerapatan HDF lebih tinggi sehingga lebih kuat dibanding MDF.
Parket HDF memiliki kekuatan dan ketahanan yang tidak kalah dibanding kayu solid dan memiliki daya tahan hingga 10 tahun lebih dan dapat menahan beban 500-1.000 kg per m2 tergantung ketebalannya.
- Parket engineered
Parket engineered merupakan jenis parket yang mengoptimalkan penggunaan kayu asli dengan sistem layer (lapis), yaitu beberapa lembaran tipis kayu dijadikan satu. Ada yang menggunakan dua lapis atau tiga lapis dan kemudian direkatkan menjadi bilah parket dengan lem khusus.
Sebagai perlindungan pada panel parket engineered, bagian paling atas telah diberi coating akrilik anti gores. Lapisan ini melindungi parket dari tumpahan air sehingga tidak merembes ke dalam panel.
Granit
Granit dibagi dua jenis, yaitu granit alam dan granit buatan.
- Granit alam
Ada beberapa finishing umum yang dilakukan pada granit alam, yaitu polish, unpolish, burn. Polish dilakukan untuk menghasilkan granit yang permukaannya halus. Unpolish menghasilkan granit dengan permukaan kasar atau bertekstur. Sedangkan proses burn (bakar) dilakkukan untuk mendapatkan granit dengan tekstur yang lebih menonjol (unpolish).
Batu Alam
Material batu alam yang sering digunakan adalah kali lempang dan batu salagedang. Kedua batu ini meskipun warnanya cenderung homogen, banyak dipakai untuk pijakan di taman atau ditempel di pagar, dinding atau pun lantai pada interior rumah.
Kedua batu ini cukup tahan terhadap cuaca.Namun tidak mudah memperoleh batu dengan tekstur yang kurang lebih seragam.
(Wilhide, 23)
2.2.2. Dinding
Dinding mencerminkan suatu ruang dari rangkaian pergerakan interior.
Karena dalam banyak hal, finishing dari sebuah dinding merupakan hal yang sangat penting. Keragaman finishing tersedia untuk berbagai jenis permukaan dinding mulai dari cat dinding sederhana yang nampak biasa sampai menggunakan panel atau difinish dengan batu.
Cat
Cat digunakan untuk menambahkan warna, ketahanan, dan dekorasi pada banyak elemen interior, tetapi biasanya diperuntukkan bagi dinding karena cat memiliki dampak yang besar namun tidak membutuhkan dana yang terlalu besar.
Tabel 2.1.Jenis – Jenis Cat dan Deskripsinya Tipe Cat Deskripsi
Cat primer Dari seluruh finishing cat, hasil yang baik yang didapat pada permukaan dinding tergantung pada persiapan bidang yang akan dicat.
Cat primer seharusnya digunakan pada kondisi tertentu, seperti:
permukaan yang belum dicat, wallpaper, panel, area yang akan dibuat lebih dramatis.
Cat latex Cat latex dibuat dari polyvinyl sintetis yang dapat dicampur dengan air sehingga mudah dibersihkan. Cat latex lebih cepat kering daripada cat yang berbahan dasar minyak dan menimbulkan lebih sedikit bau gas saat kering. Cat latex juga memiliki elastisitas lebih dibanding cat berbahan dasar minyak.
Cat alkyd Cat minyak cenderung lebih tahan lama digunakan dan tidak rapuh.
Dibuat dengan dasar alkyd dan lebih lama kering dibanding cat latex.
Namun, produk ini menghasilkan finishing yang lebih halus dan tekstur kuas itu sendiri tidak nampak.
Cat enamel Saat cat enamel mengering, cat ini menjadi sangat keras namun tahan lama. Cat ini biasanya dicampur dengan menambahkan pengeras (hardener) pada cat dasar. Cat ini biasanya digunakan pada dinding, tapi juga diaplikasikan pada petunjuk (signage), dan barang lain yang memerlukan lapisan tahan air.
Cat transparan
Cat transparan merupakan alternatif cat, cat ini akan menyerap pada material yang diaplikasikan-pada umumnya kayu. Cat transparan
(stains) dan pernis
biasanya dipalikasikan bersama dengan pernis untuk menciptakan permukaan yang tahan lama.
Sumber : Grimley 154
Tabel 2.2. Jenis-Jenis Tekstur Cat dan Deskripsinya Tekstur Cat Deskripsi
Kulit telur (eggshell)
Lebih memantul daripada tekstur cat datar, menutupi permukaan yang kurang sempurna, mudah untuk dibersihkan.
Satin Cukup kilap tetapi lebih memantul daripada tekstur kulit telur, lebih mudah dibersihkan dibanding cat tekstur datar dan kulit telur.
Semi kilap (semigloss)
Sedikit kilap, sangat tahan lama dan mudah dibersihkan, sesuai untuk area basah.
Kilap (gloss) Sangat mengkilap, cocok untuk menonjolkan detail seperti hiasan dan ukiran.Dapat juga digunakan untuk pintu dan kabinet.
Sumber : Grimley 156
Material untuk dinding, antara lain:
- Wallpaper
Wallpaper menawarkan berbagai jenis tekstur, pola, dan motif.
Wallpaper memiliki tingkat konsistensi warna dan motif yang stabil hingga suasana ruang dapat menjadi berubah total. Tidak hanya dari kertas, tetapi juga ada yang terbuat dari vinyl, kain, plastik, bahkan jerami.
Tiap bahan memiliki spesifikasi yang berbeda, dan diperuntukan untuk berbagai kondisi dinding.
- Batu alam, batu bata, marmer
Teknik pemasangan tak jauh beda dengan keramik. Gunakan semen sebagai perekat. Batu alam biasa di coating agar tidak berlumut.Coating dengan warna doff ataupun glossy.Untuk penggunaan pada dinding, ragam dan jenis batu bisa lebih banyak. Jenis batu yang digunakan untuk lantai, juga bisa digunakan untuk dinding.
- Bata dan batako
Merupakan material dinding paling populer. Keduanya dirangkai menjadi dinding setelah ditempel pakai adonan semen-pasir. Bata dan batako dipasang dengan susunan tumpuk berseling. Perlu diplester agar menjadi lebih kuat. Pada rumah sederhana, bata atau batako cukup dipasang sebagai dinding tembok bawah. Tujuan pemasangan demi hebat biaya dan demi keamanan. Untuk rumah yang keseluruhan dindingnya dari bata/batako, maka dinding ini perlu diperkuat dengan fondasi, sloof, kolom, dan ring.
(Wilhide 87)
2.2.3. Plafon
Plafon atau penutup langit-langit berfungsi sebagai penutup struktur atap dan berbagai instalasi yang ada di bawahnya. Material yang dapat digunakan antara lain asbes, tripleks, dan gipsum.
Material untuk plafon antara lain:
- Gypsum
Kelebihan bahan ini adalah ekonomis, ramah lingkungan, dan pemasangannya relatif singkat.
- Papan semen
Terbuat dari campuran semen, serat fiber, dan mineral. Papan semen memiliki banyak kelebihan sebagai plafon, partisi, pelapis tembok, dan elemen dekoratif lain. Fisiknya hampir sama dengan beton. Bedanya, kalau beton biasa memiliki tulangan baja di dalamnya, papan semen menggunakan campuran serat, semen, dan mineral.Papan semen tercipta sebagai material alternatif pendamping gipsum dan multipleks.
(Wilhide 35)
2.3. Sirkulasi
Sirkulasi / organisasi ruang yang ditentukan berdasarkan tuntutan program bangunan, ditentukan dengan memperhatikan pengelompokan fungsi, hierarki ruang, kebutuhan pencapaian, pencahayan, dan arah pandang. Bentuk organisasi dapat dibedakan antara lain sebagai berikut:
a. Organisasi Area Terpusat
Sebuah area besar dan dominant sebagai pusat area - area di sekitarnya
Area sekitar mempunyai bentuk, ukuran, dan fungsi sama dengan ruang lain
Area sekitar berbeda satu dengan yang lain, baik bentuk, ukuran, dan fungsi
Organisasi Area Terpusat b. Organisasi Area Linear
Merupakan deretan area - area
Masing-masing area berhubungan secara langsung
Ruang mempunyai bentuk dan ukuran berbeda, tapi yang berfungsi penting diletakkan pada deretan area
Organisasi Area Linear
c. Organisasi Area Secara Radikal
Kombinasi dari organisasi yang terpusat dan linear
Organisasi terpusat mengarah ke dalam sedangkan organisasi radial mengarah keluar
Lengan radial dapat berbeda satu sama lain, tergantung pada kebutuhan dan fungsi area
Organisasi Area Radikal
d. Organisasi Area Mengelompok
Organisasi ini merupakan pengulangan bentuk fungsi yang sama, tetapi kombinasinya dari area - area yang berbeda ukuran, bentuk, dan fungsi.
Pembuatan sumbu membantu susunan organisasi
Organisasi Area Mengelompok
e. Organisasi Area Secara Grid
Terdiri dari beberapa area yang posisi ruangnya tersusun dengan pola grid (3 dimensi)
Organisasi area membentuk hubungan antar ruang dari seluruh fungsi posisi dan sirkulasi
Organisasi Area Secara Grid
2.4. Efek Psikologi Warna
Warna memiliki dampak yang berpengaruh pada emosi manusia. Namun beberapa mood juga dapat dirubah dengan kehadiran warna. Berikut ini beberapa warna yang akan dipakai di pusat informasi Candi Borobudur, yaitu :
Cokelat
Warna cokelat juga merupakan warna hangat dan memiliki dampak yang berasal dari warna asalnya seperti merah, kuning, dan oranye. Warna ini memiliki efek psikologis hangat dan menyenangkan tetapi juga berhubungan dengan tanah dan lumpur. Namun perlu diwaspadai jika mengunakan warna cokelat teralu banyak dan tidak dipadukan dengan warna lain yang memberi kesan semangat maka akan memberi efek depresi dan menjemukan.
Putih
Sering diartikan tidak berwarna. Memiliki makna murni, bersih, kesederhanaan, dan kejernihan. Namun juga dapat terlihat sebagai kekosongan dan kebosanan. Penggunaan warna putih yang meluas dalam desain telah membuat warna ini sebagai simbol pergerakan modern untuk menyokong atau melawan prinsip-prinsip modernitas.
Hitam
Merupakan warna yang bertentangan dengan warna putih. Warna hitam adalah warna yang kuat dengan efek yang sangat kuat dari kekuatan, keseriusan, martabat, dan formalitas. Hitam dapat mencerminkan kekosongan dan kebosanannamun dengan dampak yang lebih berat dan suram dibanding warna putih. Warna hitam menggambarkan depresi, ketakutan, dan kematian. Warna hitam dapat tergolong warna hangat atau dingin tergantung pada warna lain yang dipadukan.
(Pile 142)
2.5. Pencahayaan
Pencahayaan merupakan peran yang sangat penting dalam penataan pameran dalam museum. Berbagai sistem pencahayaan yang bervariasi diaplikasikan didalam museum. Penghematan energi dalam penggunaan sistem cahaya juga merupakan peran yang penting dalam sebuah organinsasi museum untuk efisiensi dan efektifitas.
2.5.1. Sistem Efisien Energi Pencahayaan
Perbaikan dalam efisiensi energi sistem pencahayaan telah memberikan beberapa kesempatan untuk mengurangi energi listrik digunakan di gedung
gedung. Bagian ini membahas perhitungan penghematan energi untuk teknologi hal-hal berikut:
• lampu neon Compact
• Compact lampu halogen
• Elektronik ballast
2.5.1.1. Peletakan Downlight
Semakin besar sudut cut-off, semakin besar kenyamanan visual yang disediakan oleh luminer karena silau dikontrol dengan baik. Tata letak pencahayaan akan menghasilkan distribusi cahaya yang berbeda pada dinding..
Gambar 2.3. Sudut Cut Off Penyebaran Cahaya adalah 30°
Jarak ke dinding harus sekitar setengah jarak antara downlight. Dalam kasus wallwasher yang disarankan jarak ke dinding adalah sekitar satu sepertiga dari ketinggian ruangan, jarak antara wallwasher tidak boleh melebihi satu setengah kali jarak ke dinding. Ketika menerangi lukisan atau patung menggunakan lampu sorot, luminair harus diatur sedemikian rupa sehingga sudut insiden cahaya adalah sekitar 30 °, yang disebut "sudut museum"; ini menghasilkan pencahayaan vertikal maksimum dan menghindari silau karena pantulan cahaya yang dapat mengganggu pengamat.
Gambar 2.4. Sudut Lampu Optimum untuk Iluminasi Objek adalah 30°
2.5.1.2. Pencahayaan di Ruang Audiovisual
Ruang Audiovisual adalah ruang yang dapat digunakan sebagai tempat untuk diselenggarakan berbagai pemutaran film atau bahkan presentasi yang didukung oleh slide, film, video proyektor, atau proyektor overhead, untuk percobaan demonstrasi dan pemutaran film atau untuk produk presentasi.
Pencahayaan untuk audiovisual didasarkan pada multi-fungsional konsep yang memungkinkan pencahayaan dapat disesuaikan untuk memenuhi berbagai kondisi yang berbeda. Fitur utama dari pencahayaan di audiovisual adalah pemisahan fungsional pencahyaan untuk pembicara dan penonton. Pada pencahayaan untuk pembicara, difokuskan pada pembicara, atau pada benda atau percobaan disajikan. Ketika slide, film dan video akan ditampilkan, maka pencahayaan harus dikurangi – terutama pencahayaan vertikal di dinding akhir sehingga tidak mengganggu pencahayaan terhadap proyeksi. Daerah di mana penonton yang duduk pencahayaan digunakan terutama untuk melayani tujuan orientasi dan memungkinkan orang untuk mengambil catatan. Pencahayaan harus memungkinkan kontak mata di antara speaker dan penonton, untuk memungkinkan adanya interaksi dan umpan balik
Dua jalur track pencahayaan diletakkan di atas wilayah pembicara untuk menciptakan pencahayaan bersifat wallwasher sebagai penerangan dari ujung dinding, dan lampu sorot untuk aksen pencahayaan pembicara / benda yang sedang dipamerkan. Washlight lantai diposisikan sepanjang satu sisi dinding di bagian audiovisual memberikan pencahayaan untuk arah orientasi. Pencahayaan utama disediakan oleh cahaya ditangguhkan struktur dengan langsung-tidak langsung luminair untuk lampu neon dan dimmable downlight halogen yang bertegangan rendah.
Gambar 2.5. Arah Pencahayaan pada Ruang Audiovisual
Gambar 2.6. Dari kiri ke kanan : Track with Halogen Spotlights and Wallwashers, Fluoresent Lamp, Integral Downlights for Lowvoltage halogen lamps.
2.6. Dimensi dan Ergonomi Lobby dan Resepsionist
Gambar 2.7. Tempat Duduk Lobby dengan Sirkulasi
Gambar 2.8. Tempat Duduk Lobby dengan Jarak Bersih
Ruang Serbaguna
Gambar 2.9. Tingkat Kepadatan Tinggi Tempat Duduk
Gambar 2.10. Dimensi Meja Kerja Eksekutif dengan Tempat Duduk Tamu
Gambar 2.11. Dimensi Meja Kerja Karyawan Pria dan Wanita
Universal Toilet
Gambar 2.12 Dimensi dan Sirkulasi Toilet Pemakai Kursi Roda
2.7. Candi Borobudur
2.7.1. Sejarah Candi Borobudur
Secara astronomis Candi Borobudur terletak di 70.361.2811 LS dan 1100.121.1311 BT. Lingkungan geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah Utara, dan pegunungan Menoreh di sebelah Selatan, serta terletak di antara Sungai Progo dan Elo. Candi Borobudur didirikan di atas bukit yang telah dimodifikasi, dengan ketinggian 265 dpl. Didirikan oleh penganut agama Budha Mahayana ini memiliki 1460 relief dan 504 arca dan 72 buah stupa. Berdasarkan prasasti yang ditemukan, candi Borobudur ini dibuat pada masa Wangsa Syailendra di bawah kepemimpinan Raja Samaratungga pada tahun 824, dengan memakan waktu pembangunan selama setengah abad.
Berasal dari kata Bara dan Budur, Bara yang dalam bahasa Sansekerta berarti kompleks candi atau biara, dan Budur berasal dari kata Beduhur yang berarti di atas. Sehingga nama Borobudur diartikan sebagai Biara di atas bukit.
Secara filosofis candi Borobudur merupakan refleksi alam semesta yang menurut ajaran agama Budha Mahayana terdiri dari 10 tingkatan (Dasa Bodhisatwa Bhumi). Sekaligus menjadi perlambang 10 proses perjalanan kejiwaan anak manusia untuk sampai ketingkat Bodhisatwa. (Berbeda dengan aliran Hinayana, aliran Mahayana mengenal dewa – dewi Bodhisatwadan Dewi Tara yang membantu manusia meraih tingkat ke-budha-an.). Berpedoman falsafah dan ajaran Budha, maka ketiga bagian candi (kepala-badan-kaki) terdiri atas 10 tingkat. Kesepuluh tingkat Candi Borobudur, meliputi :
Kaki candi disebut Kamadhatu – 1 tingkat : refleksi alam bawah, dengan relief yang melukiskan cerita Karmawibangga, tentang karma manusia yang hidupnya bergelimang dosa
Badan candi disebut Rupadhatu – 5 tingkat : refleksi nikmat kehidupan duniawi, yang dipenuhi relief tentang ajaran Budha, yaitu Lalitawistara, Awadana, Gandawyuha, dan Jataka.
Kepala candi disebut Arupadhatu – 4 tingkat (3 teras dan 1 stupa mahligai) : refleksi dari „nirwana‟, dimana tak ada relief ukiran atau hiasan. Semua bersih suci, hanya ada stupa dan arca Budha. Borobudur khusus dipersembahkan bagi
dalam berbagai sikap. Terungkap pula kemuliaan tri tunggal Mendut Pawon Borobudur sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ketiga candi itu berada pada satu garis lurus dari Timur ke Barat, menggambarkan perjalanan kejiwaan seorang biksu untuk mencapai tingkat ke-Budha-an yang sempurna.
(Wickert 5)
2.7.2. Pemilihan Lokasi Candi Borobudur
Lokasi Borobudur dipilih berdasarkan pemikiran yang rasional dan tidak rasional. Kalimat suci mendeskripsikan lokasi yang berpotensi , adalah tempat dimana kehadirannya dirasa nyaman untuk didiami. Kehadiran air merupakan hal yang penting dalam pemilihan lokasi. Disebutkan bahwa sungai adalah tempat yang paling suci, dimana “Dewa – dewa selalu bermain, sungai – sungai sebagai kalung mereka, suara dari aliran yang melengkung dan suara dari angsa – angsa sebagai pidatonya, air sebagai kainnya, ikan – ikan wilayahnya, tumbuhan berbunga bagai antingnya, pertemuan sungi bagai pinggulnya, gundukan pasir bak dadanya, dan bulu angsa sebagai mantelnya” (Soekmono 14).
Dataran kedu yang mengelilingi candi sering disebut sebagai “Taman yang berada di Jawa”, tanahnya sangat subur dan populasi manusianya pun banyak.
Dikelilingi oleh peandangan gunung di sekitarnya yaitu Sumbing (3371m), Sindoro (3135 m) kea rah Barat Laut, Merbabu (3142 m), dan Merapi, satu – satunya gunung yang aktif (2911 m) lebih dekat ke arah Timur Laut.
Para penduduk bercerita bahwa dahulu kala para pencari melihat gambaran di atas monument itu sendiri seperti sang arsitek yang disebut Gunadharma. Dimana dibatasi oleh Gunung Monreh yang terbentang dari Barat ke Timur dan melengkung ke arah Selatan dan dihubungkan dengan lembut oleh kaki gunung Merapi di Tenggara ujung dari dataran Kedu. 2 sungai utama sejajar dari Utara ke Selatan yang mengalir di dataran Kedu, berbentuk seperti seorang laki – laki yang terlentang, 3 km kearah Timur candi, kedua sungai bertemu dan akhirnya mengalir ke samudra Hindia.
Di sebelah Timur candi Borobudur, dua candi Budha ditemukan yang sangat kecil yaitu Candi Pawon (permata seni arsitektural) dan Candi Mendut yang mana mengabadikan 3 patung terbesar dari keahlian pemahat. Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut berada dalam satu garis lurus.
Dimana masing – masing candi hanya berjarak sekitar 5 km dari candi Borobudur.
Candi Pawon dan Candi Mendut diasumsikan berada di periode yang sama dengan Borobudur, juga mempunyai bahan yang sama yaitu batu andesit. Belukar pohon palem diikuti hamparan sawah padi menciptakan perasaan damai yang berbeda, sebuah aliran yang abadi (Soekmono 22).
2.7.3. Arsitektur Candi Borobudur
Borobudur mewakili gaya arsitektur Budha Mahayana. Sang arsitek Gunadharma, secara gemilang menterjemahkan filosogi ajaran Budha (‟dasa bodhisatwa bumi‟) kedalam bentuk arsitektur candi. Diseluruh dunia tak satupun candi Budha yang dicaiptakan dalam paduan arsitektur dan filosofi yang begitu sempurna.
Borobudur tersusun atas 1.600.000 balok batu andesit. Borobudur termasuk jenis candi tanpa bilik yang memiliki ratusan relung – relung. Denahnya bujursangkar berukuran 123 x 123 m dan tinggi 13,50 m. Pada pemugaran pertama tingginya 42 m, karena puncak stupa masih utuh. Pada dinding lorong rupadhatu terdapat 432 relung berisi arca – arca Budha yang terbagi atas 5 langkah. Relung – relung di tingkat pertama bermahkotakan ratna, sedang di 4 tingkat lainnya dihiasi bentuk stupa. Di tingkat A-ruphadaru terdapat 72 stupa berisi arca Budha. Stupa pusat berisi arca Adhi Budha. Seluruh arca Budha dalam posisi duduk di atas padma (teratai merah) dan hanya berbeda pada sikap tangan (mudra) menurut tingkat candi dan mata angin. Berikut candi dan nama Budha :
Tingkat 2 – 5 Barat – Amitabha (penguasa Barat) : sikap tangan bersemedhi (dyanamudra)
Tingkat 2 – 5 Timur – Akshobya (Pengusasa Timur) : sikap tangan memanggil bumi (Bhumispawsamudra)
Tingkat 2 – 5 Utara - Amoghasidhi (Penguasa Utara) : sikap tangan menentramkan (abhayamudra)
Tingkat 2 – 5 Selatan – Ratnasambhawa (Penguasa Selatan) : sikap tangan memberi anugrah (waramudra)
Tingkat 6 – Wairocana (Penguasa Zeninth) : sikap tangan mengajar (Witakamudra) pada arca Budha di tingkar tertinggi Rupadhatu sebelum naik ketingkat suci Arupadhatu
Tingkat 7 - 9 – Wajradhara : sikap tangan memutar roda dharma (dharmacakramuda) pada arca di ketiga tingkatan Arupadhatu
Tingkat 10 - Adhi Budha yang belum selesai yang terdapat di stupa pusat.
Dari selutuh bangunan candi Budha yang masih tersisa di Indonesia, hanya di candi Borobudur saja ditemukan 7 sikap tangan (mudra) dhyani Budha tersebut di atas.
(Soekmono 22)
2.7.4. Perkembangan Candi Borobudur
Upaya pemugaran Candi Borobudur dilakukan sebanyak dua kali yaitu pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dibawah pimpinan Van Erp dan yang kedua dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang diketuai oleh Soekmono (alm). Berikut adalah informasi mengenai pemugaran dalam 2 tahap:
Pemugaran I tahun 1907 – 1911, Pemugaran I sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah Hindia Belanda. Sasaran pemugaran lebih banyak ditujukan pada bagian puncak candi yaitu tiga teras bundar dan stupa pusatnya. Namun oleh karena beberapa batunya tidak diketemukan kembali, bagian puncak (catra) stupa, tidak bisa dipasang kembali. Pemugaran bagian bawahnya lebih bersifat tambal sulam seperti perbaikan/pemerataan lorong, perbaikan dinding dan langkan tanpa pembongkaran sehingga masih terlihat miring. Usaha-usaha konservasi telah dilakukan sejak pemugaran pertama oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan terus menerus mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap Candi Borobudur, sementara proses kerusakan dan pelapukan batu- batu Candi Borobudur yang disebabkan oleh berbagai faktor terus berlangsung.
Dan hasil penelitian yang diadakan oleh suatu panitia yang dibentuk dalam tahun 1924 diketahui bahwa sebab-sebab kerusakan itu ada 3 macam, yaitu korosi, kerja mekanis dan kekuatan tekanan dan tegangan di dalam batu-batu itu sendiri (Soekmono, 24 - 26).
Pemugaran II tahun 1973 – 1983, Sesudah usaha pemugaran Van Erp berhasil diselesaikan pada tahun 1911, pemeliharaan terhadap Candi Borobudur terus dilakukan. Berdasarkan perbandingan antara kondisi saat itu dengan foto-foto yang dibuat Van Erp 10 tahun sebelumnya, diketahui ternyata proses kerusakan pada Candi Borobudur terus terjadi dan semakin parah, terutama pada dinding relief batu-batunya rusak akibat pengaruh iklim. Selain itu bangunan candinya juga terancam oleh kerusakan. Dengan masuknya Indonesia menjadi anggota PBB, maka secara otomatis Indonesia menjadi anggota UNESCO. Melalui lembaga UNECO tersebut, Indonesia mulai mengimbau kepada dunia internasional untuk ikut menyelamatkan bangunan yang sangat bersejarah tersebut. Usaha tersebut berhasil, dengan dana dari Pelita dan dana UNESCO, pada tahun 1975 mulailah dilakukan pemugaran secara total. Oleh karena pada tingkat Arupadhatu keadaannya masih baik, maka hanya tingkat bawahnya saja yang dibongkar. Dalam pembongkaran tersebut ada tiga macam pekerjaan, yaitu tekno arkeologi yang terdiri atas pembongkaran seluruh bagian Rupadhatu, yaitu empat tingkat segi empat di atas kaki candi, pekerjaan teknik sipil yaitu pemasangan pondasi beton bertulang untuk mendukung Candi Borobudur untuk setiap tingkatnya dengan diberi saluran air dan lapisan kedap air di dalam konstruksinya, dan pekerjaan kemiko arkeologis yaitu pembersihan dan pengawetan batu-batunya, dan akhirnya penyusunan kembali batu-batu yang sudah bersih dari jasad renik (lumut, cendawan, dan mikroorganisme lainnya) ke bentuk semula.
(Soekmono 28)
2.7.5. Pengabadian Borobudur Melalui Dunia Fotografi
Monumen ini adalah sebuah obyek yang sangat awal bagi dunia fotografi.
Pada tahun 1841, seorang fotografer yang bernama Munnich ditunjuk sebagai komisi fotografi oleh pemerintah mengenai bidang arkeologi. Namun hasilnya kurang memuaskan. Dan akhirnya digantikan oleh Adolph Schaefer yang membuat 58 plat mengenai Borobudur pada tahun 1845. Namun rencana tinggal rencana karena untuk memfoto seluruh bagian Candi memerlukan waktu 4-5 tahun dan dengan biaya yang cukup besar.
Tahun 1873, seoarang fotografer bernama Van Kingsbergen memulai mendokumentasikan Candi Borobudur. Hasilnya pun dinilai memuaskan bagi pemerintah. Dan akhirnya ia melanjutkan pekerjaannya dan mendokumentasi relif pada galeri tingkat pertama pada tahun 1974
Tahun 1890, Chepas seorang berkebangsaan Indonesia pertama yang mendokumentasikan mengenai relif pada kaki candi yang tertutup pondasi tambahan pada saat perbaikan Van Erp pada tahun 1907 – 1911. Dibantu oleh fotografer lain bernama Jean – Jacques De Vink mendokumentasikan mengenai pengerjaan perbaikan lebih dari 2000 foto pada saat itu. Chepas, De Vink, dan seorang temannya bernama H.L. Leydie-Menville menorehkan sejenis pewarna kuning tua pada relief untuk meningkatkan reflektifitas dan agar mendapatkan hasil fisual yang baik. Namun diluar dugaan, dampak tersebut berakibat pada material relif. Batu relif berubah warna menjadi kuning keemasan dan membentuk lapisan yang tidak dapat ditembus oleh air. Air pada permukaan batu tidak dapat mengalir dengan normal dan meresap kedalam nya, sehingga menimbulkan lubang karena tetesan air dan bercak.
(Soekmono 171)
2.7.6. Perlindungan Candi Borobudur
Usaha perlindungan dilakukan dengan membuat mintakat (zoning) pada situs Candi Borobudur yaitu:
Zona I Area suci, untuk perlindungan monumen dan lingkungan arkeologis dengn jarak 200 m dari situs Candi Borobudur itu sendiri.
Zona II Zona taman wisata arkeologi, untuk menyediakan fasilitas taman dan perlindungan lingkungan sejarah (radius 500 m). Pusat informasi di Zona ini.
Zona III Zona penggunaan tanah dengan aturan khusus, untuk mengontrol pengembangan daerah di sekitar taman wisata (radius 2 km)
Zona IV Zona Perlindungan daerah bersejarah, untuk perawatan dan pencegahan kerusakan daerah sejarah (radius 5 km)
Zona V Zona taman arkeologi nasional, digunakan untuk survei arkeologi pada daerah yang luas dan pencegahan kerusakan monumen yang masih terpendam (radius 10 km)
Zona I dan zona II dimiliki oleh pemerintah. Zona I dikelola oleh Balai Studi dan Konservasi Borobudur, zona II dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Pada zona II juga tersedia fasilitas turis : parkir mobil, loket tiket, pusat informasi, museum, kios-kios, dan lain-lain. Zona III, IV, dan V dimiliki oleh masyarakat, tetapi pemanfaatannya dikontrol oleh pemerintah daerah. (Data PT Taman Wisata Candi Borobudur)