PENGARUH PSIKOEDUKASI TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU SADARI DALAM MENDETEKSI KANKER PAYUDARA PADA REMAJA PUTRI
Yuslana*◊, Marsia*, Dwi Sulistyawati*
Poltekkes Kemenkes Pontianak
◊Corresponding Outhor: [email protected]
Kanker payudara adalah salah satu jenis kanker yang paling umum di Indonesia. Skrining kanker payudara dini dapat dilakukan dengan pemeriksaan sendiri payudara atau dikenal dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Program psikoedukasi adalah salah satu cara untuk menambah pengetahuan remaja untuk dengan cepat mendeteksi tanda-tanda kanker payudara sehingga pengobatan juga akan dilakukan dengan cepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh psikoedukasi tentang SADARI pada Sikap dan Perilaku wanita muda tentang SADARI. Metode penelitian ini adalah penelitian quasi eksperiment with control group. Sampel berjumlah 60 orang dibagi menjadi dua kelompok: 30 kelompok intervensi dan 30 kelompok kontrol. Hasil analisa data ada pengaruh psikoedukasi terhadap sikap dan perilaku pemeriksaan diri payudara remaja perempuan sebelum diberi pengobatan setelah diberi pengobatan dan ada pengaruh psikoedukasi terhadap sikap dan perilaku remaja.
Kata kunci: Psikoedukasi, SADARI, Sikap, Perilaku
PENDAHULUAN
Kanker payudara merupakan salah satu yang umum terjadi pada wanita.
Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh didalam jaringan payudara.
Menurut WHO, sekitar 8-9 % wanita berpotensi akan mengalami kanker payudara. Setiap tahun lebih dari 250.000 kasus baru kanker payudara terdiagnosa di Eropa dan kurang lebih 175.000 di Amerika Serikat (Lumban Gaol & Briani, 2014)
Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia.
Kanker payudara menempati urutan pertama dengan frekwensi 18,6 % ( Badan Registrasi Kanker Dokter Spesialis Patologi Indonesia/IAPI & Yayasan Kanker Indonesia/YKI). Diperkirakan angka kejadian 12/100.000 (Kemenkes, 2015). Menurut Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), kanker payudara merupakan penyakit dengan persentase kasus baru tertinggi yaitu 42,1
%, dengan persentase kematian akibat kanker payudara mencapai 17% (Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2015) .
Tingginya angka kematian akibat
kanker payudara disebabkan penderita kanker payudara datang ke pelayanan kesehatan dalam stadium yang sudah lanjut. Penderita kanker payudara ditemukan lebih dari 80 % kasus pada stadium lanjut yang sukar untuk disembuhkan. Oleh karena itu perlu pemahaman tentang pencegahan, diagnosis dini, pengobatan kuratif maupun paliatif serta upaya rehabilitative yang baik, agar pelayanan pada penderita dapat dilakukan secara optimal. (Septiani S, 2013)
Penderita kanker payudara telah banyak ditemukan pada usia muda bahkan tidak sedikit remaja putri usia empat belas tahun menderita tumor dipayudaranya, dimana tumor dapat berpotensi menjadi kanker bila tidak terdeteksi lebih awal (Mboi, 2014).Skrining kanker payudara sejak dini dapat dilakukan. Deteksi kanker dapat dilakukan dengan pemeriksaan payudara sendiri atau dikenal dengan SADARI. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah pemeriksaan yang mudah dan bisa dilakukan setiap wanita dan dapat dilakukan sendiri. Tindakan ini penting karena hampir 85% kelainan di payudara justru ditemukan pertama kali oleh penderita melalui pemeriksaan
PENELITIAN
payudara sendiri dengan benar (Olfah, Y., Mendri, N. K., & Badi’ah, 2013).
Banyak faktor yang menyebabkan kelambatan deteksi sehingga membuat wanita merasa ragu untuk melakukan pemeriksaan dini terhadap kanker payudaranya, antara lain tidak tahu atau kurang mengerti tentang kanker payudara, kurang memperhatikan payudara, takut operasi, lebih percaya pada dukun dan paranormal, faktor ekonomi (tidak memiliki biaya), faktor psikologis misalnya rasa malu untuk memperlihatkan payudara (Lumban Gaol & Briani, 2014).
Sikap dan Perilaku seseorang terhadap stimulus yang diberikan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu karena pengetahuan, pengalaman dan lingkungan. Sikap dan Perilaku remaja dalam melakukan SADARI dapat meningkat dengan adanya pemberian informasi melalui edukasi kepada remaja tersebut (Lubis, 2017).
Menurut Data Medical Record di Rumah Sakit Abdul Aziz Singkawang pada tahun 2017 didapatkan kasus kanker payudara sebanyak 209 kasus dengan rentang umur dari 19 tahun sampai 78 tahun, Pada tahun 2018 didapatkan kasus kanker payudara sebanyak 199 kasus dengan rentang umur dari 16 tahun sampai 79 tahun. Dilihat dari kasus di RS Abdul Aziz Singkawang kanker payudara sudah mulai menyerang anak remaja putri.
Pendeteksian dini kanker payudara sendiri dapat dilakukan dengan memberikan informasi melalui edukasi kepada remaja putri. Program psikoedukasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan remaja.
Dengan pengetahuan yang meningkat mengenai SADARI remaja dapat mendeteksi secara cepat tanda-tanda kanker payudara sehingga penanganannya juga akan cepat terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh psikoedukasi tentang SADARI terhadap Sikap dan Perilaku remaja putri tentang SADARI.
METODE
Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan desain pre dan post test dengan kelompok kontrol. Sampel berjumlah 60 orang terbagi menjadi dua kelompok yaitu 30 orang kelompok intervensi dan 30 orang kelompok kontrol.
Kelompok intervensi diberi psikoedukasi dan leaflet. Kelompok kontrol hanya mendapatkan leaflet. Peneliti melakukan pre test pada kedua kelompok, kemudian memberikan perlakuan, monitoring dan evaluasi pada kedua kelompok sesuai protokol intervensi. Peneliti melakukan post test sesudah dilakukan intervensi.
HASIL
Analisis Univariat
Tabel 1: Distribusi Responden Menurut Usia dan Kelas
Karakteristik
Kelompok Intervensi
Kelompok Kontrol
n % n %
Usia (Tahun)
14 3 10 1 3,3
15 6 20 14 46,7
16 12 40 7 23,3
17 7 23,3 7 23.3
18 2 6,7 1 3,3
Kelas
10 10 33,3 13 43,3
11 8 26,7 8 26,7
12 12 40,0 9 30
Dari tabel di atas dapat dilihat frekuensi karakteristik usia responden menjadi 5 kelompok yaitu 14 tahun, 15 tahun, 16 tahun , 17 tahun, 18 tahun.Hasil distribusi frekuensi responden kelompok intervensi mayoritas 40 % usia 16 tahun, Kelompok Kontrol mayoritas 46,7 % usia 15 tahun.
Hasil karakteristik responden berdasarkan kelas dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelas 10 , kelas 11 dan kelas 12. Responden kelompok intervensi
mayoritas 40,0 % kelas 12 . Kelompok kontrol mayoritas 43,3 kelas 10.
Analisis Bivariat
Tabel 2: Nilai Sikap Pre Post Kelompok Intervensi dan Kontrol
Sikap n Min Max Mean Median SD Pre-Test
Intervensi 30 38 51 43,73 44,7 2,815 Post-Test
Intervensi 30 42 58 50,17 51,0 3,992 Pre-Test
Kontrol 30 37 49 43,37 44,0 3,316 Post-Test
Kontrol 30 39 49 44,80 43,00 3,357
Pada tabel tergambar Nilai minimum 38, nilai maksimum 51, nilai rata rata 43,73, nilai tengah 44,7 dan simpangan baku 2,815. Nilai Post test kelompok intervensi nilai minimum 42, nilai maksimum 58, nilai rata rata 50,17, nilai tengah 51,0 dan simpangan baku 3,992. Jika dihitung peningkatan rata rata perolehan nilai pada kelompok intervensi sejumlah (50,17-43,73=6,44). Pada Kelompok Kontrol dengan Jumlah sampel Valid 30 orang nilai pre test yang diperoleh Nilai minimum 37, nilai maksimum 49 , nilai rata rata 43,37, nilai tengah 44 dan simpangan baku 3,316. Nilai post test yang diperoleh nilai minimum 39, nilai maksimum 49 , nilai rata –rata 44,80 , nilai tengah 43.00 dan standar deviasi 3,357. Jika dihitung peningkatan rata rata perolehan nilai pada kelompok intervensi sejumlah (44,80-43,37= 1,43 ).
Tabel 3: Nilai Perilaku Pre Post pada Kelompok Intervensi dan Kontrol
Perilaku n Min Max Mean Median SD Pre-Test
Intervensi 30 5 13 9,13 9,0 1,978 Post-Test
Intervensi 30 8 13 10,70 11,0 1,489 Pre-Test
Kontrol 30 5 13 8,80 8,5 2,280 Post-Test
Kontrol 30 8 14 11,03 10,0 1,608
Pada tabel di atas terdapat hasil perhitungan perolehan nilai masing masing kelompok pada sampel valid sejumlah 30 orang yaitu nilai pre test kelompok Intervensi Nilai minimum 5 , nilai maksimum 13 , nilai rata rata 9,13 , nilai tengah 9 dan simpangan baku 1,978. Nilai Post test kelompok intervensi nilai minimum 8 , nilai maksimum 13 , nilai rata rata 10,70 , nilai tengah 11,00 dan simpangan baku 1,489. Jika dihitung peningkatan rata rata perolehan nilai pada kelompok intervensi sejumlah (10-70- 9,13= 1,57). Pada Kelompok Kontrol dengan Jumlah sampel Valid 30 orang nilai pre test yang diperoleh Nilai minimum 5, nilai maksimum 13 , nilai rata rata 8,80, nilai tengah 8,5 dan simpangan baku 2,280. Nilai post test yang diperoleh nilai minimum 8, nilai maksimum 14 , nilai rata –rata 11,03, nilai tengah 10,00 dan standar deviasi 1,608. Jika dihitung peningkatan rata rata perolehan nilai pada kelompok intervensi sejumlah (11,03- 8,80= 2,23 ).
Tabel 4: Hasil Uji Efektifitas Psikoedukasi Terhadap Sikap SADARI Sebelum dan Setelah Diberikan Perlakuan pada Kelompok Intervensi dan Kontrol
Sikap Pengukuran Mean±SD p-value Intervensi Pre-test 43,73±2,81
0,000 Post-test 50,16±3,99
Kontrol Pre-test 43,36±3,31
0,889 Post-test 43,30±2,64
Tabel di atas menjelaskan bahwa pada kelompok intervensi rata-rata sikap adalah 43,73 (SD= 2,81) sebelum diberikan perlakuan. Sedangkan setelah diberikan perlakuan nilai rata-rata sikap sebesar 50,16 (SD= 3,99). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata selisih nilai Antara sebelum dan setelah perlakuan adalah -6,43 (SD= 4,36) dengan nilai p-value = 0,000 (< 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna Antara sebelum diberikan perlakuan dengan setelah diberikan perlakuan.
Pada kelompok kontrol, rata-rata sikap adalah 43,36 (SD= 3,31) sebelum diberikan perlakuan. Sedangkan setelah diberikan perlakuan nilai rata-rata sikap sebesar 43,30 (SD= 2,64). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata selisih nilai Antara sebelum dan setelah perlakuan adalah 0,006 (SD= 2,58) dengan nilai p-value = 0,889 (> 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna Antara sebelum diberikan perlakuan dengan setelah diberikan perlakuan.
Tabel 5: Hasil Uji Efektifitas Psikoedukasi Terhadap Perilaku SADARI Sebelum dan Setelah Diberikan Perlakuan pada Kelompok Intervensi dan Kontrol
Perilaku Pengukuran Mean±SD p-value Intervensi Pre-test 43,73±2,81
0,000 Post-test 50,16±3,99
Kontrol Pre-test 43,36±3,31
0,889 Post-test 43,30±2,64
Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi rata-rata nilai perilaku adalah 9,13 (SD= 1,97) sebelum diberikan perlakuan. Sedangkan setelah diberikan perlakuan nilai rata-rata sebesar 10,7 (SD=1,48). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p-value = 0,001 (< 0,05) dengan nilai Z= -3,305 yang menjelaskan bahwa secara statistic terdapat perbedaan yang bermakna Antara sebelum diberikan perlakuan dengan setelah diberikan perlakuan.
Pada kelompok kontrol rata-rata nilai perilaku adalah 8,96 (SD= 2,07) sebelum diberikan perlakuan. Sedangkan setelah diberikan perlakuan nilai rata-rata pengetahuan sebesar 9,63 (SD=1,65). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p- value = 0,164 (> 0,05) dengan nilai Z= - 1,392 yang menjelaskan bahwa secara statistic tidak terdapat perbedaan yang bermakna Antara sebelum diberikan perlakuan
Tabel 6: Hasil Uji Statistik Efektifitas Psikoedukasi Terhadap Sikap SADARI pada Kelompok Intervesi dan Kontrol
Sikap Pengukuran Mean±SD
Selisih (Mean±
SD) p- value Sebelum
Perlakuan
Intervensi 43,73±2,81 0,367±0, 79
0,646 Kontrol 43,36±3,31
Setelah perlakuan
Intervensi 50,16±3,99 6,86±0,8 7
0,000 Kontrol 43,30±2,64
Tabel di atas menjelaskan bahwa rata-rata selisih pengukuran pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum diberikan perlakuan adalah 0,367 (SD= 0,79) dengan nilai p-value = 0,646 (>
0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol sebelum perlakuan. Rata-rata selisih pengukuran pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol Setelah diberikan perlakuan adalah 6,86 (SD= 0,87) dengan nilai p-value = 0,00 (<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol sebelum perlakuan.
Tabel 7: Hasil Uji Statistik Efektifitas Psikoedukasi Terhadap Perilaku SADARI pada Kelompok Intervesi dan Kontrol
Perilaku Pengukuran Mean±SD
Selisih (Mean±
SD) p- value Sebelum
Perlakuan
Intervensi 9,13±1,97 0,167±0, 52
0,751 Kontrol 8,96±2,07
Setelah perlakuan
Intervensi 10,07±1,48 1,06±0,4 0
0,011 Kontrol 9,63±1,65
Tabel di atas menjelaskan bahwa rata-rata selisih pengukuran pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum diberikan perlakuan adalah 0,167 (SD= 0,52) dengan nilai p-value = 0,751 (>
0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol sebelum perlakuan. Rata-rata selisih pengukuran pada kelompok intervensi dan kelompok
kontrol Setelah diberikan perlakuan adalah 1,06 (SD= 0,40) dengan nilai p-value = 0,011 (<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol sebelum perlakuan
PEMBAHASAN
Deteksi dini dan peningkatan kewaspadaan disertai pengobatan yang sesuai pada kasus kanker payudara dipercaya dapat menurunkan jumlah kematian karena kanker payudara, tingginya kasus kanker payudara yang disebabkan minimnya informasi dan rendahnya kesadaran wanita Indonesia untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker ini. Kemampuan danperilaku deteksi dini sebaiknya dimulai sejak usia remaja. Psikoedukasi adalah Tindakan sederhana yang dilaksanakan secara langsung atau aktif yaitu dalam bentuk ceramah, dan pemberian penjelasan secara lisan dan tidak langsung. Tahapan Psikoedukasi bisa dalam bentuk pelatihan dan tanpa pelatihan.
Efektifitas Psikoedukasi terhadap Sikap SADARI
Penelitian ini menunjukkan bahwa pada sikap SADARI terdapat nilai yang signifikan antara sebelum diberikan perlakuan dan setelah diberikan perlakuan (p-value= 0,000), bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (p-value=
0,889). Menurut Notoatmodjo 2010, sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat, dan emosi yang bersangkutan : senang atau tidak senag, stuju-tidak setuju , baik tidak baik dan sebagainya (Notoadmodjo, 1985).
Newcomb , salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu (Miller & Miller, 2014).
Masing-masing kelompok
mendapatkan informasi kesehatan tentang
SADARI, pada kelompok Intervensi pengukuran sikap dilakukan sebelum psikoedukasi, kemudian diberikan psioedukasi berupa penyuluhan menggunakan buku panduan (modul) serta alat peraga phantom. Pada saat pelaksanaan psikoedukasi , responden diberikan kesempatan untuk bertanya seputaran masalah kanker payudara, deteksi dini dan topik lainya seputaran kanker payudara.Setelah dipastikan responden merasa faham dan puas terkait pelaksanaan SADARI responden diberikan angket yang sama pada saat pre test untuk mengukur kembali sikap yang dimiliki responden.
Kelompok kontrol sebelum diberikan informasi, juga diberikan pre test kemudian informasi SADARI diberikan dengan cara memberikan leaflet untuk dibaca, diberikan kesempatan apabila ada bagian yang belum dipahami. Setelah responden menyatakan cukup , langkah selanjutnya responden diberikan postest dengan angket yang sama pada saat pre test.
Perolehan selisih nilai rata-rata pada kelompok intervensi dan kontrol sebelum diberikan perlakuan sebesar 0,367 (SD=0,79) dengan nilai signifikansi (p- value= 0,646) menunjukkan bahwa sebelum dilakukan perlakuan nilai masing- masing kelompok memiliki persamaan.
Sedangkan pada kelompok intervensi, nilai rata-rata sebesar 6,86 (SD=0,87) dengan nilai signifikansi (p-value= 0,000) yang menunjukkan adanya peningkatan nilai sikap pada kedua kelompok. Peningkatan nilai rata –rata pada kelompok intervensi lebih besar dari kelompok kontrol. Hal ini bisa terjadi dikarenakan tingkat pemahaman pada saat menerima informasi pada kelompok intervensi lebih intens.
Karena pada saat melaksanakan psikoedukasi tentang SADARI responden terlihat antusias pada saat menyimak penjelasan dangan memperhatikan, bertanya dan mencoba dengan menggunakan pantom sedangkan pada kelompok kontrol informasi hanya diterima satu arah dan kesempatan
bertanya sesuai dengan kemauan responden saja.
Peningkatan perolehan nilai rata rata pada kelompok intervensi ini sejalan dengan penelitian yang Andy surya putra tentang psikoedukasi , bahwa disimpulkan dari hasil kuisioner pre post kuisioner ditemukan masing-masing mengalami peningkatan hasil mengenai cara pandang mereka terhadap achievement goals, karena melalui beberapa keterampilan seperti penetapan tujuan, pembuatan perencanaan dan evaluasi diri (Putra &
Soetikno, 2018).
Peningkatan sikap yang terdapat pada penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Harniati dengan hasil analisis yang menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap yang positif dalam upaya pemeriksaan SADARI. Sikap yang dimiliki seseorang adalah suatu jalinan atau suatu kesatuan dari berbagai komponen yang bersifat evaluasi. Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecendrungan untuk berespon (secara positif atau negatif), terhadap orang, objek atau situasi tertentu, Selain bersifat positif atau negatif, sikap memiliki tingkat kedalaman yang berbeda beda. Sifat seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut, melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya (Harniati, Sakka, & Saptaputra, 2016).
Efektifitas Psikoedukasi terhadap Perilaku SADARI
Penelitian ini menunjukkan bahwa pada perilaku SADARI terdapat nilai yang signifikan antara sebelum diberikan perlakuan dan setelah diberikan perlakuan (p-value= 0,001), bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (p-value=
0,164). Bentuk perilaku tidak hanya bisa dilihat dari tindakan saja, perilaku dapat pula bersifat potensial , yakni dalam bentuk pengetahuan, motivasi dan persepsi. Proses pembentukan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam individu itu sendiri.
Kedua kelompok baik intervensi maupun
kelompok kontrol, sama sama mendapatkan informasi tentang sadari.
Kelompok intervensi dengan psikoedukasi dan kelompok kontrol dengan leaflet,.
Sebelum dan sesudah pemberian informasi kedua kelompok diberikan pre test dan post test dengan kuisioner yang sama sebagai instrument.
Perolehan selisih nilai rata-rata pada kelompok intervensi dan kontrol sebelum diberikan perlakuan sebesar 0,167 (SD=0,52) dengan nilai signifikansi (p- value= 0,751) menunjukkan bahwa sebelum dilakukan perlakuan nilai masing- masing kelompok memiliki persamaan.
Sedangkan pada kelompok intervensi, nilai rata-rata sebesar 1,06 (SD=0,40) dengan nilai signifikansi (p-value= 0,011) yang menunjukkan adanya peningkatan nilai perilaku pada kedua kelompok. Hasil tersebut menjelaskan bahwa responden beranggapan bahwa SADARI sangat penting dilakukan sebagai deteksi dini kanker payudara. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lubis yaitu terdapat hubungan antara pengetahuan Remaja Putri tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri dan Prilaku SADARI pada siswi kelas XI MA Al Fatah Natar Tahun 2017(Lubis, 2017).
Pelaksanaan SADARI Tidak dilakukan rutin setiap bulannya pada responden dimungkinkan karena belum terkena paparan kasus kanker payudara secara nyata yaitu kemungkinan tidak ada anggota keluarga, kerabat atau orang lain yang pernah responden lihat mengalami kanker payudara. Pengalaman tersebut membentuk perasaan simpati, kecemasan maupun ketakutan sehingga menginduksi prilaku melakukan pemeriksaan payudara sendiri.
Pelaksanaan Psikoedukasi yang berkaitan tentang upaya peningkatan prilaku SADARI dilakukan dengan menekankan bahwa SADARI dapat dilakukan sendiri, tidak memerlukan biaya serta baik dilakukan secara rutin sebulan sekali pada waktu satu minggu setelah haid selesai. Responden pada kelompok psikoedukasi sangat antusias dalam
menggali informasi bagaimana melakukan SADARI yang benar dan kapan pelaksanaannya dengan bertanya. Pada salah satu responden sempat bercerita bahwa memiliki saudara yang terkena kanker payudara sehingga dapat dijadikan sumber motivasi untuk yang bersangkutan danteman teman yang lain.
KESIMPULAN
Terdapat pengaruh psikoedukasi terhadap sikap dan perilaku SADARI remaja putri sebelum diberikan perlakuan dengan setelah diberikan perlakuan dan terdapat pengaruh psikoedukasi terhadap sikap dan perilaku SADARI remaja putri jika dibandingkan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Sehingga peneliti merekomendasikan untuk membentuk kelompok siswa belajar secara intensif tentang SADARI melalui Psikoedukasi diawali dengan perencanaan yang lebih spesifik, waktu yang lebih terjadwal dan evaluasi yang lebih terukur dan media yang lebih menarik sehingga peserta yang menerima materi lebih merasa tertarik dan antusias.
DAFTAR PUSTAKA
Harniati, Sakka, A., & Saptaputra, S. K.
(2016). Studi Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Pada Mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo Tahun 2016. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat.
Kemenkes. (2015). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2015.
In Profil Kesehatan Indonesia 2014.
Komite Penanggulangan Kanker Nasional.
(2015). Panduan Penatalaksanaan
Kanker Payudara.
Https://Doi.Org/10.1111/Evo.12990 Lubis, U. L. (2017). Pengetahuan Remaja
Putri Tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Dengan Perilaku Sadari. Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan.
Https://Doi.Org/10.30604/Jika.V2i1.
36
Lumban Gaol, H., & Briani, F. (2014).
Kanker Payudara. Kapita Selekta Kedokteran.
Mboi, N. (2014). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Miller, H. L., & Miller, H. L. (2014).
Group Decision And Social Change.
In Understanding Group Behavior:
A Discussion Guide.
Https://Doi.Org/10.1037/14557-003 Notoadmodjo. (1985). Pengantar Ilmu
Perilaku Kesehatan. In Jakarta:
Rineka Cipta.
Olfah, Y., Mendri, N. K., & Badi’ah, A.
(2013). Kanker Payudara & Sadari.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Putra, A. S., & Soetikno, N. (2018).
Pengaruh Intervensi Psikoedukasi Untuk Meningkatkan Achievement Goal Pada Kelompok Siswi Underachiever. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, Dan Seni.
Https://Doi.Org/10.24912/Jmishums en.V2i1.1514
Septiani S, S. M. (2013). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Pada Siswa Sman 62 Jakarta. Jurnal Ilmiah Kesehatan., 5(1), 31.