• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN PROGRAM KEWIRAUSAHAAN DALAM PENINGKATAN LIFE SKILL SANTRI DI PESANTREN AR-RISALAH KRUENG SABEE ACEH JAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGELOLAAN PROGRAM KEWIRAUSAHAAN DALAM PENINGKATAN LIFE SKILL SANTRI DI PESANTREN AR-RISALAH KRUENG SABEE ACEH JAYA"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

PENGELOLAAN PROGRAM KEWIRAUSAHAAN DALAM PENINGKATAN LIFE SKILL SANTRI DI PESANTREN

AR-RISALAH KRUENG SABEE ACEH JAYA

SKRIPSI

Diajukan oleh

ALISNAWATI NIM. 160206003

Mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prodi Manajemen Pendidikan Islam

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY

DARUSSALAM, BANDA ACEH

1442/2020 M

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v ABSTRAK

Nama : Alisnawati

NIM : 160206003

Fakultas/Prodi : Tarbiyah dan Keguruan / Manajemen Pendidikan Islam Judul : Pengelolaan Program Kewirausahaan dalam Peningkatan

Life Skill Santri di Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabee Aceh Jaya.

Tanggal Sidang : 13 Januari 2021 Tebal Skripsi : 115 Halaman

Pembimbing I : Drs. Yusri M Daud, M.Pd Pembimbing II : Ainul Mardhiah, MA.Pd

Kata Kunci : Pengelolaan, Kewirausahan, Life Skill

Dalam menghadapi dunia globalisasi, pesantren saat ini dituntut untuk dapat bersaing dalam dunia pekerjaan, oleh karena itu manajemen pondok pesantren harus mampu menjadikan santri agar menjadi pribadi mandiri yang memiliki potensi, bakat, pribadi yang berani dan memiliki ide-ide yang kreatif dan inovatif, maka dari itu pondok pesantren harus mempunyai program-program atau nilai- nilai kewirausahaan yang harus diterapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan program kewirausahan di Pondok Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabee Aceh Jaya.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian yaitu Wakil Pimpinan Pesantren, Ustadz/Ustazah dan Santri. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengelolaan terhadap program kewirausahan di Pesantren Ar-Risalah sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari: (1) perencanaan program kewirausahaan yang telah dilaksanakan dengan baik. baik dari menyusun jenis program kewirausahaan yang akan diterapkan, meninjau kembali kapasitas SDM dan dana awal yang diperoleh untuk menjalankan program-program kewirausahaan tersebut. Kemudian penentuan penanggung jawab dari masing-masing program kewirausahan yang telah diterapkan, agar tujuan yang ingin dicapai sesuai yang diharapkan. (2) pelaksanaan kegiatan program kewirausahan dilaksanakan setiap hari pada jam yang telah ditentukan yang tidak mengganggu aktivitas belajar lainnya. Santri diajarkankan praktek secara langsung dan diberikan tanggung jawab penuh terhadap pengelolaan program kewirausahaan. (3) evaluasi program kewirausahaan dilakukan oleh pimpinan dengan cara melihat perkembangan atau keberhasilannya yang dicapai serta melihat laporan dari keuangan yang diperoleh dan juga memberikan arahan dan motivasi kepada santri.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah dengan Taufik dan Hidayah-Nya penulis telah dapat menyusun sebuah skripsi dalam rangka menyelesaikan studi pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar- Raniry, untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar sarjana lengkap dalam ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Adapun judul skripsi ini yaitu: “PENGELOLAAN PROGRAM KEWIRAUSAHAN DALAM PENINGKATAN LIFE SKILL SANTRI DI PESANTREN AR-RISALAH KRUENG SABEE ACEH JAYA”.

Shalawat beserta salam tidak lupa disanjungkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat beliau yang telah berjuang dalam menegakkan Agama Allah di muka bumi ini.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak dibantu oleh pihak akademis dan pihak non akademis. Dalam hal ini penulis mengucapkan terima kasih yang setulus hati kepada:

1. Dr. Muslim Razali, S.H., M.Ag selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan beserta jajarannya.

2. Mumtazul Fikri, M.A selaku Ketua Prodi MPI UIN Ar-Raniry Banda Aceh beserta jajarannya.

3. Drs. Yusri M Daud, M.Pd selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktu dalam membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

(7)

vii

4. Ainul Mardhiah, MA.Pd selaku pembimbing II, yang telah banyak membantu penulis sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.

5. Penasehat Ademik (PA) bapak Dr. Mujiburrahman M.Ag. yang telah membantu penulis untuk mengadakan penelitian dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Pihak perpustakaan yang telah memberi kemudahan bagi penulis untuk mendapatkan buku-buku sebagai sumber rujukan dalam skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa skripsi ini masih banyak kekurangannya. Untuk itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca lain pada umumnya.

Banda Aceh, 12 Januari 2021 Penulis,

Alisnawati NIM. 160206003

(8)

viii

PERSEMBAHAN

“Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, atas berkah rahmat dan hidayah- Nya, dan shalawat serta salam yang selalu disanjungkan kepada baginda

Nabi Muhammad SWA.”

“Alhamdulillah penulis telah menyelesaikan skripsi ini, dan skripsi ini penulispersembahkan kepada:”

“Ayahanda tercinta Aidarus, terimakasih atas pengorbanan, doa, nasehat, motivasi serta bekal moral maupun material yang tidak pernah henti engkau berikan untuk mendukung semangat dan demi tercapainya cita-citaku. Sampai detik nafas terahirmu, engkau masih mampu tersenyum, engkau memeberikan isyarat untuk menguatkanku agar semangatku tidak

patah karena kepergianmu, terimakasih ayah untuk senyum terahirmu.”

“Ibundaku tercinta Syarwani, yang begitu tulus dan ikhlas dalam memberikan cinta dan kasih sayngnya, yang begitu sabar dalam membimbing duniaku agar aku tidak tejermus kedalam hal-hal yang tidak baik, yang selalu memberikan doa-doa terbaiknya untuk ku,

terimakasih ibu atas semua tetesan air mata dan pengorbananmu kepada ku.”

“Adikku tersayang Syifa Maulida, terimakasih sudah jadi penawar untuk segala kesedihan dan rasa lelahku.”

“serta seluruh keluarga besar yang selalu mendukung perjuanganku.”

“terimakasih buat sahabat, kawan-kawan seperjuangan yang selalu menjadi motivasi.”

“Alisnawati”

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN SIDANG ... iii

LEMBAR PENGESAHAN KEASLIAN... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

PERSEMBAHAN ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Definisi Operasional ... 6

F. Kajian Terdahulu Yang Relavan ... 10

G. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II KAJIAN TEORITIS ... 15

A. Konsep Pengelolaan ... 15

1. Pengertian Pengelolaan ... 15

B. Program Kewirausahaan ... 19

2. Pengertian Program ... 19

3. Pengertian Kewirausahaan ... 21

4. Program Kewirausahaan ... 25

C. Peningkatan Life skill (kecakapan hidup) ... 28

D. Santri di Pesantren ... 31

1. Pengertian Santri ... 31

2. Pengertian Pesantren ... 32

3. Tujuan Pesantren ... 34

E. Pengelolaan Program Kewirausahaan dalam Peningkatan Life Skill Santri ... 35

BAB III METODE PENELITIAN ... 36

A. Jenis Penelitian ... 36

B. Kehadiran Peneliti di Lapangan ... 36

C. Lokasi Penelitian ... 37

D. Subjek Penelitian ... 37

E. Instrumen Pengumpulan Data ... 37

(10)

x

F. Teknik Pengumpulan Data ... 38

G. Teknik Analisis Data ... 39

H. Penoman Penelisan ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41

A. Gambaran Umun Lokasi Penelitian ... 41

B. Hasil Penelitia ... 47

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 69

BAB V PENUTUP ... 77

A. KESIMPULAN ... 77

B. SARAN ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 78 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(11)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat Keterangan Pembimbing Skripsi

Lampiran 2 : Surat Izin Penelitian dari Dekan FTK UIN Ar-Raniry Lampiran 3 : Surat Keterangan Selesai Penelitian

Lampiran 4 : Daftar Wawancara dengan Wakil Pimpinan Pesantren Lampiran 5 : Daftar Wawancara dengan Ustadz/Ustazah Pesantren Lampiran 6 : Daftar Wawancara dengan Santriwan/Santriwati Pesantren Lampiran 7 : Dokumentasi Kegiatan Penelitian

Lampiran 8 : Daftar Riwayat Hidup Penulis

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Seperti yang diketahui bersama, di negeri ini pesantren telah berperan besar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umat, dengan memberikan pelayanan kepada ummat dalam berbagai kebutuh hidupnya, baik bidang jasmani maupun rohani, begitu juga berkaitan dengan urusan material dan dan spiritual, sampai ahirnya pesantren menjadi lembaga pelayanan masyarakat.1Pondok pesantren juga telah mengalami berbagai pengembangan internal yang memungkinkan besarnya peluang pondok pesantren untuk berperan dalam rangka mnejembatani dan memecahkan persoalan sosial ekonomi masyarakat pendesaan melalui pengembangan kewirausahaan.2

Memang dalam pembentukan calon wirausahawan baru sangat tidaklah gampang, karena jiwa kewirausahaan ini ada pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan dan tentang resiko, sekarang ini pengembangan kewirausahaan di lingkungan pesantren memang sudah menjadi keniscayaan atau kebutuhan apalagi jika hal ini dikaitkan dengan pendidikan pesantren yang mengedepankan kemandirian, kerja keras, disiplin dan jujur. Semua nilai-nilai pendidikan yang dikembangkan pesantren tersebut merupakan jiwa dalam berwirausaha.3

1 Abdul Muchit, Nu Dalam Perspektif Sejarah Dan Ajaran (Refleksi 65 Th. Ikut Nu), (Surabaya: Khalista, 2006). H. 104.

2 Asrori Karni, Etos. Study Kaum Santri: Wajah Baru Pendidikan Islam(Bandung: Mizan Pustaka, 2009). H. 22-222.

3 A. Rofiq, Dkk, pemerdayaan pesantren.(Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 1996). H. 52

(13)

Seperti halnyapesantren juga mengalami pegeseran nilai yang luar biasa khususnya berkaitan dengan dunia pekerjaan, maka dari itu pendidikan islam harus mampu membentuk peserta didik untuk membangun dirinya sendiri, dengan membekali peserta didik agar mampu hidup dengan kemampuan masing-masing.4Dalam menerapkan kecakapan diri atau kemandirian pada santri, memang tidak cukup dengan mengandalkan ceramah dan pengarahan saja, namun juga dapat dikuatkan dengan penyiapan atau penanaman jiwa kewirausahaan, dengan cara praktek, tujuannya agar santri terbiasa berwirausaha dan tertanam ilmu-ilmu yang dipraktekannya di dalam dirinya.

Seperti yang telah disebutkan dalam Undang-Undang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya agar memiliki kekuatan keagamaan,mengendalikan diri, mempunya kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang di perlukan dalam dirinya, serta berguna bagi bangsa dan Negara.5Berdasarkan pengertian Undanng-Undang ini, jelas membuktikan bahwa kecakapan diri dan kemandirian sangatlah penting untuk dimiliki oleh santri di pondok pesantren agar santri mampu berdiri sendidri tanpa bantuan orang lain dalam menghadapi segala rintangan problematika kehidupannya sehari-hari,

4http://digilib.uinsby.ac.id/6976/1/Executive%20Summary%20Noor%20Ahmady.pdf diakses pada 21 juni 2020.

5 Nur Khamidah. Pendidikan Kewirausahaan Untuk Meningkatkan Life Skill Santri di Yayasan Pondok Pesantren Modern Yatim Dan Dhuafa madania (yokyakarta: 2018). Diakses pada 21 juni 2020.

(14)

membentuk kepribadian mandiri, percaya pada kemampuan dan potensi diri sendiri, sehingga mandiri dalam belajar, berfikir dan pengembangan dirinya sendiri.

Oleh karena itu program kewirausahaan sangatlah mendukung dalam menumbuhkanjiwa berwirausaha pada santri di pondok pesantren, sehingga dapat mengatasi dan membuktikan tentang pandangan masyarakat yang berpendapat mengenai generasi-generasi penerus yang memondok atau lulusan dari pesantren, selain mengabdi di pesantren nya, yaitu menjadi penceramah, atau menjadi tengku-tengku di TPA. Masyarakat berpendapat hal itu bukanlah suatu usaha yang luar biasa karena dianggap itu memang sudah kodrat alumni pesantren tidak bekerja atau memiliki usaha, dan itu masih dianggap pengangguran.

Dikarenkan permasalahan tersebut, maka peran manajemen pondok pesantren adalah menjadikan santri-santri pribadi yang mandiri, yang memiliki potensi, bakat pribadi yang berani dan memiliki ide-ide yang kreatif dan inovatif. Dengan demikian sebuah pondok pesantren harus mempunyai nilai-nilai kewirausahan yang harus diterapkan agar alummni-alumni dari pesantren dapat memiliki jiwa wirausahawan. Sehingga dengan ilmu-ilmu yang di dapatkan di pondok pesantren dapat membuat pribadi mereka berani dalam membuka usaha sendidri, dan mereka dapat berdiri di atas kaki nya sendiri dalam menghadapi tantangan global. Sehingga pola pikir masyarakat akan berubah tentang pandangannya terhadap pndok pesantren atau alumninya, yang bukan hanya akan menjadi penceramah dan tengku-tengku

(15)

TPA, tapi juga bisa menjadi wirausaha yang sukses dan wirausahawan yang berpondasi islami.

Satu diantara beberapa pesantren yang telah menerpakan program kewirausahaan adalah Pesantren Ar-Risalah beralamat di Datar Luas Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, Provisnsi Aceh.Pesantren Ar-Risalah mempunyai potensi dibidang peternakan (sapi, bebek dan ayam), agribisnis, koperasi, dan perkebunan.

Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam tenntang Pengelolaan Program Kewirausaan dalam Peningkatan Life Skill Santri di Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabe Aceh Jaya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah perencanaan program kewirausahaan di Pesantren Ar- Risalah krueng sabee Aceh Jaya?

2. Bagaimanakah pelaksanaan program kewirausahaan di Pesantren Ar- Risalah krueng sabee Aceh Jaya?

3. Bagaimanakah evaluasi dan pengembangan program kewirausahaan dalam peningkatan life skill santri di Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabee Aceh Jaya?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

(16)

1. Untuk mengetahui perencanaan program kewirausahaan di Pesantren Ar- Risalah krueng sabee Aceh Jaya?

2. Untuk mengetahui pelaksanaan program kewirausahaan di Pesantren Ar- Risalah krueng sabee Aceh Jaya?

3. Untuk mengetahui evaluasi dan pengembangan program kewirausahaan dalam peningkatan life skill santri di Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabee Aceh Jaya?

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan memberikan kegunaan, baik dari segi teoritis maupun praktis, yaitu sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan tentang kewirausahaan bagi pembaca dan santri di pondok pesantren.

b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan sebagai referensi untuk peneliti-peneliti lain yang akan mengadakan penelitian serupa di masa yang akan datang.

2. Manfaat praktis a. Bagi pesantren

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pesantren dan pendidik mengenai program kewirausahaan.

(17)

b. Bagi penulis

1) Menambah wawasan penulis terhadap ilmu pengelolaan program kewirausahaan.

2) Peneliti dapat memperoleh pengalaman secara langsung tentang kegiatan kewirausahan yang ada di tempat penelitian.

c. Bagi santri

Manfaat bagi santri adalah dapat mengasah langsung kecakapan hidup dengan ilmu kewirausaan yang di pelajari dan dipraktekan.

E. Definisi Operasional 1. Pengelolaan/Manajemen

Dalam kamus ilmiah populer pengertian manjemen adalah pengeloloaan usaha, kepengurusan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang di inginkan.6Jadi manajemen/pengelolaan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalahsebuah rencana kegiatan yang akan dijalankanuntuk mengasah, mengeluarkan potensi/bakat yang ada dalam diri santri khususnyadibidang kewirausahaan, yang akan berguna bagi santri setelah lulus atau keluar dari pesantren tersebut.

Pengelolaan/manajemen dalam sebuah pesantren harus dilaksanakan agar pesantren bisa bersaing dengan arus perkembangan zaman yang semakin pesat. Selain itu, agar tujuan-tujuan yang direncanakan bisa terlaksana sesuai dengan apa yang diharapkan.

6 M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: ARLOKA, 2001). H. 440

(18)

2. Kewirausahan

Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalului berfikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang.7 Jadi kewirausahaan dalam pondok pesantren adalah sebuah program atau kegiatan yang dijalankan berdasarkan hasil dari ide atau pemikiran manusia yang dituangkan untuk mengasah atau melatih para santri dalam penyiapan wirausaha pada santri, sehingga dapat berpengaruh pada peningkatanlife skillpada diri santri.

3. Peningkatan Life skill(kecakapan hidup)

Peningkatan life skill adalah pengembangan kecakapan yang dibutuhkan untuk bekerja selain kecakapan dalam bidang kademik.8 Sedangkan Life skill itu sendiri merupakan kecakapan dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mampu dan berani menghadapi permasalahan dalam hidup dengan aktif dan produktif sehingga permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan baik, dan dapat menjalani kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan menjalani hidup.9

WHO bemberikan penjelasan bahwa life skll adalah sebagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradap dasi dan berperilaku

7Yuyus Suryana dan Kartib Bayu. Kewirausahaan: Pendekatan Karakteristik Kewirausahaan Sukses Ed 2. (Jakarta: Kencana, 2011). H. 24.

8Moh Sholeh. Peningkatan Life Skill Siswa Melalui Program Pendidikan Keterampilan Tata Rias Kecantikan di Sekolah Menengah Pertama Terbuka 25 Sukomanunggal (Surabaya:

2014). Diakses pada 21 juni 2020.

9 Mislaini. Pendidikan Dan Bimbingan Kecakapan Hidup (Life Skill) Peserta Didik.

TARBAWIYAH. Vol. 01 No. 1. Juni 2017. Diakses pada 21 juni 2020.

(19)

positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tuntunan dan tatangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif.10

Jadi mrnurut peneliti life skill (kecakapan hidup) pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk berjuang dan berani hidup. Untuk itu dalam meningkatan life skillpada seseorang perlu proses pendidikan dan latihan yang pada dasarnya bertujuan untuk memperoleh kemampuan dasar, karena tanpa bekal kemampuan dasar, seseorang akan sulit untuk mengembangkan kecakapan hidupnya.

3. Santri

Santri secara singkat diartikan sebagai siswa yang mempunyai dedikasi peduh di lembaga pesantren. Santri juga bisa dimaknai sebagai orang-orang yang belajar di pondok pesantren atau orang yang mendalami ilmu agama islam. Santri dalam arti luas dan sempit.Santri dalam arti luas yaitu orang yang memegang teguh ajaran-ajaran islam, seperti sholat dan amal-amal lai yang menunjukan kesalehan. Sedangkan santri dalam arti sempit yaitu sebagai murid yang belajar dalam institusi agama, yaitu pondok pesantren.

Santri juga merupakan elemen penting dalam suatu lembaga pendidikan pesantren. Santri itu sendiri merupakan sekelompok agama Islam yang meneerima ajaran-ajaran agama Islam dari para kyai. Menurut

10 Depdiknas, Pedoman Penyelenggaraan Program Kecakapan Hidup (Life Skills) Pendidikan Nonformal. (Jakarta: Ditjen Diklusepa, 2004). H. 6.

(20)

KH. Hasani Nawawie, santri adalah orang yang berpegang teguh pada Al- Qur’an dan mengikuti sunah rasul (hadis) serta teguh pendirian.11

4. Pesantren

Pesantren menurut pengertian dasarnya merupakan tempat belajar santri. Pesantren berasal dari kata santri yang mendapat awalan ‘pe” dan akhiran “an”, yang berarti suatu tempat tinggal para santri. Menurut Wahjoetomo kata santri ini merupakan gabungan dari kata sant yang berarti manusia baik dan suku kata tra yang berarti suka menolong, sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.12

Dalam peraturan pemerintah nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, pesantren atau pondok pesantren diartikan sebagai lembaga pendidikan keagamaan islam yang berbasis masyarakat yang menyelengarakan pendidikan diniyah atau jenis pendidikan lainya.

Tujuan dari pendidikan keagamaan yang ada di pesantren itu sendiri adalah untuk terbentuknya para santri yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, mengembangkan potensi santri agar mempunyai kemampuan, pengetahuan, sikap dan keterampilan agar menjadi muslim yang dapat mengamalkan ajaran agama islam dalam kehidupan

11 Nasrullah Nurdin. Generasi Emas Santri Zaman Now. (Jakarta: 2019). H. 3-6.

12 Muhammad Agus Windiyanto. Life Skill Dalam Pendidikan Pesantren (Telaah Model Life Skill di Pesantren Agro Nuur El-Falah Pulutan Sidorejo, (Salatiga:2006). Diakses pada 21 juni 2020.

(21)

sehari-hari, serta bewawasan luas, kritis, kratif dan inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.13

F. Kajian Terdahulu Yang Relafan

Ahmad Fauzi Dkk.“Pengelolaan Pendidikan Life Skills di Pondok Pesantren Kabupaten Pandeglang”. Hasil penelitiannya adalah dalam mengembangkan life slill santri di pesantren ini, yaitudengan cara memberikan bekal dengan latihan dasar tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dengan melalui pembelajaran vokasional skills seperti pelajaran masak, menjahit dan kerajinan tangan yang langsung dipraktekan.14

Persamaan dan perbedaan penelian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah sama-sama dalam memberikan pengajaran secara praktek langsung. Perbedaannya, penelitian ini memfokuskan tentang kedua-duanya yaitu pendidikan dengan cara memberikan materi dan latihan dengan cara praktek langsung. Sedangkan yang peneliti lakukan lebih memfokuskan hanya pada latihan secara prakteknya saja.

Tesis bayu Dwi Cahyono “Manajemen Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan Guna Peningkatan Kecakapan Hidup Bagi Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2 Ponorogo”. Hasil penelitiannya adalah penelitian ini lebih memfokuskan pada bidang kewirausahaan yang dikembangkan, sasaran kecakapan hidup yang ingin dicapai, pola yang digunakan dan efektifitas manajemen pendidikan kewirausahaan guna

13 Ahmad Dayadi dkk. Buku Putih Pesantren Muadalah. (Pesantren Muadalah: 2020). H.

17-18.

14 Ahmad Fauzi Dkk. Pengelolaan Pendidikan Life Skills di Pondok Pesantren Kabupaten Pandeglang.(JurnalVol. No 2. 2017). Diakses pada 21 juni 2020.

(22)

meningkatkan kecakapan hidup bagi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2 Ponorogo.15

Letak perbedaan penelian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah penelian ini berfokus pada kewirausahaan yang dikembangkan, sasaran kecakapan hidup yang ingin dicapai, pola yang digunakan dan efektifitas manajemen pendidikan kewirausahaan. Sedangkan penulis sendiri lebih memfokuskan penelitian terhadap, rencana kegiatan program kewirausahaan, pelaksanaan dan evaluasi. Guna untuk meningkatkan life skill santri di Pondok Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabee Aceh Jaya.

Jurnal Muhammad Alifuddin. “Penguatan Kemandirian Santri Anak Jalanan Melalui Usaha Pembuatan Sapu Ijuk Berbasis Enterpreneurship di Pondok Pesantren Darul Muhlisin” hasil penelitiannya adalah proses pelaksanaan program penguatan kemandirian santri dengan usaha pembuatan sapu ijuk, dilakukan melalui kaji tindak (Actio n Research) berbasis enterpeneurship, kemudian dijalankan secara bertahap dengan mengunakan pendekatan PAR yang dimulai dari tahap perencanaan, tindakan, obsevasi dan refleksi.16

Letak perbedaan penelian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah penelian ini berfokus pada program penguatan kemandirian santri

“anak jalanan” melalui usaha pembuatan sapu ijuk. Penguatan kemandirian

15Bayu Dwi Cahyono. Manajemen Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan Guna Meningkatkan Kecakapan Hidup Bagi Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2 Ponorogo. (Yokyakarta: 2017). Diakses pada 21 juni 2020.

16Muhammad Alifuddin. Penguatan Kemandirian Santri Anak Jalanan Melalui Usaha Pembuatan Sapu Ijuk Berbasis Enterpreneurship di Pondok Pesantren Darul Muhlisin. (Jurnal Vol. 8 No, 2. 2013). Diakses pada 21 juni 2020.

(23)

ini dilakukan dengan cara memberikan pelatihan life skill (kecakapan hidup) pada santri berupa teknik dan model pembuatan sapu ijuk. Sedangkan penulis sendiri lebih memfokuskan penelitian terhadap, rencana kegiatan program kewirausahaan, pelaksanaan dan evaluasi. Guna untuk meningkatkan life skill santri di Pondok Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabee Aceh Jaya.

Chusnul Chotimah. Vol. 8 No. 1. “Pendidikan Kewirausahaan di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan”. Penelitian Sosial Keagamaan. Hasil penelitiannya adalah Proses pendidikan kewirausahaan yang dilaksanakan di pondok pesantren Sidogiri adalah santri dilatih untuk mengelola lembaga ekonomi yang ada di pondok pesantren Sidogiri.17

Letak perbedaan penelian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah penelian ini berfokus pada proses pendidikan kewirausahaan nya dan nilai-nilai kewirausahaan yang berbasis ibadah. Sedangkan penulis sendiri lebih memfokuskan penelitian terhadap, rencana kegiatan program kewirausahaan, pelaksanaan dan evaluasi. Guna untuk meningkatkan life skill santri dipondok Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabee Aceh Jaya.

Mukni’ah. Vol. 11 No, 2.“Manajemen Pendidikan Life Skill Untuk Meningkatkan Kemandirian Santri Di Pondok Pesantren Nurul Qarain Jember” Penelitian Keislaman. hasil penelitian ini adalah pelaksanaan kegiatan entrepreneur di Pondok Pesantren Nurul Qurnain dilaksanakan melalaui dua kegiatan: (1)kegiatan murni pondok pesantren yang meliputi aktifitas murni pondok pesantren meliputi sholat berjamaah, ngaji, sholat

17Chusnul Chotimah. Pendidikan Kewirausahaan di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.(Jurnal Vol. 8 No. 1.2014). Diakses pada 21 juni 2020.

(24)

sunah dan aktiftas yang mencerminkan nilai entrepreneur, (2)aktifitas ekstra pondok yang meluputi kegiatan agrobisnis, pertanian, menjahit, koperasi dan keterampilan elektro. Sedangkan model pembelajaran life skil dalam penelitian ini menggunakan penedaktan klasikal dan non klasikal.18

Sedangkan penulis sendiri lebih memfokuskan penelitian terhadap, rencana kegiatan program kewirausahaan, pelaksanaan dan evaluasi. Guna untuk meningkatkan life skill santri di Pondok Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabee Aceh Jaya.

Dari beberapa kajian terdahulu di atas terdapat kesamaan judul dan beberapa kesamaan dalam pembahasan, agar tidak terjadi kesamaan sangat menarik bagi penulis untuk mengupas dan membahas tentang Pengelolaan Program Kewirausaan Dalam Peningkatan Life Skill Santri. Sehingga penulis akan berusaha dalam penyempurnaan pembahasan yang tidak terdapat dari kajian-kajian di atas. Demi mengembangkan pengetahuan tentang Pengelolaan Program Kewirausaan Dalam Peningkatan Life Skill Santri di Pondok Pesantren Ar-Risalah Latar Luas Krueng Sabe Aceh Jaya.

G. Sistematika Penulisan

Agar memudahkan pembaca dalam memahami isi ringkasan yang terkandung dalam penelitian ini, maka penulis akan menguraikan sistematika penulisan secara garis besar, yaitu sebagai berikut :

18 Mukni’ah. Manajemen Pendidikan Life Skill untuk Meningkatkan Kemandirian Santri di Pondok Pesantren Nurul Qarain Jember.(Jurnal Vol. 11 No, 2. 2015). Diakses pada juni 2020.

(25)

Bab I merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari :latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penelitian operasional, penelitian yang relafan, dan yang terahir sistematika penulisan.

Bab II merupakan bab yang menjelaskan tentang landasan teori, yaitu:

konsep pengelolaan, pengertian program kewirausahaan, pengertianlife skill,pengertian santri dan pengertian pesantren.

Bab III yaitu: Metode Penelitian A. Jenis an Pendekatan Penelitian B. Kehadiran Peneliti di Lapangan C. Lokasi Penelitian

D. Subjek Penelitian

E. Instrumen Pengumpulan Data F. Teknik Pengumpulan Data G. Teknik Analisis Data H. Pedoman Penelitian

Bab IV merupakan bab yang menjelaskan tentang hasil penelitia dan pembahasan, data-data yang sudah dikumpulkan akan disajikan dalam bab hasil penelitian serta diajukan dengan pembahasan untuk dapat menarik kesimpulan sehingga permasalahan yang telah dirumuskan akan terjawab.

Bab V merupakan bab yang menjelaskan tentang kesimpulan dan saran, yang berdasarkan dari hasil penelitian yang penulis teliti, yaitu tentang, Pengelolaan Program Kewirausahan dalam Peningkatan Life Skill Santrii di Pesantren Ar-Risalah Krueng Sabee Aceh Jaya.

(26)

15 BAB II

KAJIAN TEORITIS A. Konsep Pengelolaan

1. Pengertian Pengelolaan

Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata manajemen, yang berasal dari kata to manege yang bearti mengelola.19 Dalam kamus bahasa Indonesia lengkap disebutkan bahawa pengelolaan adalah proses atau cara perbuatan mengelola atau proses melakukan kegiatan tertentudengan menggerakan tenaga orang lain, proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan organisasi atau proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapai tujuan.20

Beberapa pendapat para ahli mengenai definisi pengelolaan, yaitu:

a) Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran, secara efektif dan efesien, efektif bearti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efesien bearti tugas dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.21

b) Engkoswara mendefinisikan manajemen merupakan suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang etlah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama.

c) Oteng Sutisna mendefinisikan manajemen merupakan keseluruhan proses yang membuat sumber-sumber personil dan material sesuai yang tersedia dan efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan bersama.

d) Djam’an mendefinisikan manajemen merupakan keseluruhan proses kerjasama dengan memamfaatkan semua sumber personildan material

19Kholifah. Manajemen Pendidikan Kewirausahaan di Pondok Pesantren Al-Ma’rufiyyah Semarang. (Semarang: 2019). Diakses pada 23 juni 2020.

20http://digilib.uinsby.ac.id/10838/5/bab%202.pdf diakses pada 23 juni 2020.

21 Robert J. & Roestam Sjajief. Tata Ruang Air.(Yogyakarta: 2010). H. 347.

(27)

yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikannya yang telah diterapkan secara efektif dan efesien.

e) Syaiful Sagala mendefinisikan manajemen merupakan penerapan ilmu manjemen dalam dunia pendidikan atau sebagai penerapan manajemen dalam pembinaan, pengembangan, dan pengendalian usaha dan praktek-praktek pendidikan.22

Fungsi dari manajemen itu sendiriadalah untuk mengatur suatu rencana agar terarah dan sesuai yang di inginkan. Fungsi-fungsi manajemen yang bisa di singkat dengan POAC di antaranya:

a. Perencanaan (planning)

Perencanaan merupakan proses kegiatan yang menyiapkan secara sistematis kegiatan-kegiatan yang akan di lakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu dengan menetapkan langkah-langkah dan tahapan terlebih dahulu agar hasil yang dininginkan sesuai dengan target yang diharapkan. Aspek perenanaan meliputi (1) apa yang dilakukan, (2) siapa yang melakukan, (3) kapan dilakukan, (4) dimana dilakukan, (5) bagaimana melakukannya, (6) apa saja yang perlu dilakukan agar tercapai tujuan secara maksimsl.23

b. Pengorganisasian (organizing)

Organizing atau pengorganisasian nerupakan keseluruhan dari aktifitas manajemen dalam mengelompokkan orang-orang serta penetapan tugas, wewenang, funfsi serta tanggung jawab masing-masing dengan tujuan terciptanya aktivitas-aktivutas yang berdaya guna dan

22 Cucun Sunaengsih.Pengelolaan Pendidikan, (Sumedang: UPI Sumedang Pres, 2017).

H. l4.

23 Kholifah. Manajemen Pendidikan Kewirausahaan di ...2019.

(28)

berhasil guna dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu.24

Untuk mencapai tujuan usaha dengan baik, maka sebuah organisasi harus memenuhi beberapa prinsip yaitu:

a) Memiliki tujuan yang jelas yang dipahami dan diterima oleh seluruh anggota sehingga dam sebuah organisasi mempunyai satu kesatuan arah. tujuan seperti ini sering disebut dengan visi yang berasal dari bahasa inggris vision, yaitu hasil yang dicita-citaka. Ada juga yang mengatakan rumusan visi ini harus yang umum dan absrak. Dapat disimpulkan bahwa visi ini adalah hasil yang akan di capai, maka wujudnya harus jelas, dipahami oleh semua anggota yang akan ikut bersama-sama dalam mencapai tujuan.

b) Memiliki strukrtur organisasi yaitu:

(1) Menggambarkan adanya suatu perintah dan kesinambungan tugas, wewenang dan tanggung jawab.

(2) Sederhana agar mempermudah jalur dan tidak terlalu banyak orang yang terlibat dalam tanggung jawab tersebut.

(3) Semua kegiatan habis terbagi sehingga tidak ada satupun kegiatan yang tidak tertangani, dan sebaliknya tidak ada satu kegiatan yang mendapat penanganan rangkap.

c. Penggerakan (actuating)

Penggerakan (actuating) merupakan salah satu fungsi untuk merealisasikan hasil perencanaan dan dan pengorganisasian. Pengerakan merupakan upaya untuk mengerakan atau mengarahkan tenaga kerja serta mendayagunakan fasilitas yang ada untuk melaksanakan pekerjaan bersama.

Fungsi pengerakan dalam manajemen mencangkup, kepemimpinan, komunikasi, motivasi dan bentuk-bentuk lain dalam rangka memengaruhi sesuatu yang berguna untyuk mencapai tujuan

24 M. Anang firmansyah dan budi W. Mahardhika. Pengantar manajemen. (Yogyakarta:

2018. Hlm. 11.

(29)

organissai. Kepemimpinan berfungsi sebaga pemberi arahan serta pengambilan keputusan organisasi. Kemudian motivasi berguna untuk mengerakan agar tujuan organisasi tercapai sedangkan komunikasi berfungsib sebagai alat untuk menjalin hubungan dalam rangka dalam rangka fungsi pengerakan dalam organisasi.

d. Pengawasan (controling)

Menurut Murdick pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi. Proses dasarnya terdiri dari tiga tahap yaitu:

1) Menetapkan standar pelaksanaan

Penentuan standar mencangkup kriteria untuk semua lapisan pekerjaan yang terdapat dalam suatu organisasi. Standar ini merupakan kriteria-kriteria untuk mengukur pelaksanaan pekerjaan, kriteria tersebut dapat dalam bentuk kualitatif atau kuantitatif. Kemudian sntadar pelaksanaa adalah suatu pernyataan mengenai kondisi-kondisi yang terjadi bila suatu pekerjaan dikerjakan secara memuaskan.

2) Pengukuran standar pelaksanaan

Tahap kedua proses pengawasan yaitu pengukuran hasil atau pelaksanaan. metode dan teknik dalam mengkoreksi dapat dilihat atau dijelaskan klafikasi fungsi-fungsi manajemen yaitu:

a) Perencanaan yaitu garis umpan balik proses manajemen dapat berwujud meninjau kembali rencana mengubah tujuan atau mengubah standar.

b) Pengorganisasian yaitu memeriksa apakah struktur organisasi yang ada cukup sesuai dengan standar dan tugas kewajiban apa sudah dimengerti dengan baik, apakah perlu penataan kembali SDM.

c) Penataan staf yaitu memperbaiki sistem seleksi, sistem latihan dan menata kembali tugas-tugas.

d) Pengarahan yaitu mengembangkan kepemimpinan yang lebih baik, meningkatkan motivasi, menjelaskan pekerjaan yang sukses, penyadaran akan tukuan yang secara keseluruhan apakah kerja sama antara pimpinan dan bawahan berada dalam standar.

3) Menentukan kesenjangan antara pelaksanaan dengan standar dan rencana.

(30)

Tahap ketiga dari pengawasa ini adalah mencari ketidak sesuai atau penyelewengan antara pelaksanaan dengan standar dan rencana.Beberapa alasan secara umum kenapa sebuah organisasi memerlukan pengawasan yaitu:

a. Agar kualitas output yang dihasikan menjadi lebih baik dan sesuai dengan yang diinginkan, khususnya pengguna produk.

b. Terbentuknya konsep manajemen sesuai yang diinginkan.

c. Dengan adanya pengawasan maksimal diharapkan harapan tujuan dan harapan dapat di wujudkan.25

B. Program Kewirausahaan 1. Pengertian Program

Program menurut istilah ada dua pengertian, yaitu pengertian secara umum dan pengertian secara khusus. Secara umum pengertian program ialah sebagai “rencana” atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang untuk kedepan. Sedangkan pengertian secara khusus ialah program sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, yang berlangsung dalam proses yang berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan banyak orang.26

Menurut McDavid J.C dan Hawthorn, L.R.L. Program sebagai hubungan makna yang dirancang dan di terapkan dengan porposive.

Sebuah program dapat dipahami sebagai sebuah kelompok dari aktivitas yang dimksudkan untuk mencapai satu atau terkait beberapa sasaran

25 Bayu Dwi Cahyono. Manajemen Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan Guna Meningkatkan Kecakapan Hidup Bagi Santri Di ...2017.

26Muhardi. Implementasi Program Kewirausahaan di Ma’had Izzatuna Palembang.

(Palembang: 2018). Diakses pada 10 juli 2020.

(31)

hasil.27 Program merupakan rangkaian kegiatan yang bersinambungan karena merupakn suatu kebijakn yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, oleh karena itu program dapat berlangsung dalam kurun waktu yang lama, pelaksanaan program selalu terjadi didalam sebuah organisasi dimna program tersebut melibatkan banyak orang. Program itu sendiri merupakan sebuah unsur pertama yang diharuskan ada dalam untuk terciptanya suatu kegiatan. Sebuah program mempunyai beberapa aspek sebagai rincian pelaksanaan sebuah program, yaitu sebagai berikut:

a. Tujuan kegiatan yang akan dicapai.

b. Kegiatan yang diambil dalam mencapai tujuan.

c. Aturan yang harus dipegang dan prosedur yang harus dilalui.

d. Perkiraan anggaran yang dibutuhkan.

Dengan adanyanya program maka akan mudah untuk terbentuknya segala rencana dan lebih terstruktur. Seperti halnya dengan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah program merupakan serangkaian kegiata yang dilaksanakan secara berkesinambungan dalam waktu yang panjang. Kemudian sebuah program tidak dapat berdiri dari suatu kegiatan melainkan kegiatan yang dirangkai terbentuk dalam satu sistem yang saling terkait satu dengan yang lainnya dan melibatkan lebih dari satu orang dalam pelaksanaannya.28

27 Endah Patmawati. Pelaksanaan Program Pendidikan Islamic Entrepreneur Di Boarding School Man 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017. (Surakarta: 2017). Diakses pada 10 juli 2020.

28Muhardi. Implementasi Program Kewirausahaan di Ma’had Izzatuna Palembang ...2018.

(32)

2. Pengertian kewirausahaan

Kewirausahaan merupakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda, yang maksudnya itu bahwa seorang wirausahawan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, yang belum pernah ada atau mampu menciptaka sesuatu yang berbeda dari yang sudah pernah ada sebelumnya, adapun wirausahaan itu sendiri merupakan orang yang menjalankan usaha dengan keberanian atas segala kemungkinan terjadinya resiko, oleh karena itu wirausaha harus memiliki kesiapan mental baik dalam menghadapi keadaan yang merugikan ataupun untung besar-besaran.29

Bebera pengertian kewirausahaan menurut para ahli:

a. Menurut richard cantillon

Kewirausahan sebagai pekerjaan seorang pengusaha yang membeli barang dengan harga tertentu kemudian menjual kembali tetapi dengan harga yang belum pasti.

b. Menurut penrose

Kewirausahaan adalah kegiatan yang indenfikasi peluang dalam sistem ekonomi.

c. Menurut kasmir

Kewirausahaan adalah jiwa pemberani dalam mengambil resiko untuk memulai bisnis di semua kesempatan.

d. Menurut joseph schumeter

Kewirausahaan adalah cara untuk mendapat kesempatan dan menciptakan organisi untuk mengejar kesempatan.

e. Menurut Drs. Jko Utoro

Kewirausahaan adalah keberanian untuk melakukan upaya-upaya memenuhi kebutuhan hidup yang dilakukan oleh seseorang, atas dasar kemampuan dengan cara memanfaatkan segala potensi yang dimiliki untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.30

29Muhammad Anwar. Pengantar Kewirausahaan Teori Dan Aplikasi. (Jakarta: 2014). H.

10-11.

30Kurnia Dewi Dkk. Manajemen Kewirausahaan. (Yogyakarta: Budi Utama 2020). H. 1- 2.

(33)

f. Raymond W. Kao menyebutkan kewirausahaan sebagai suatu proses, yaitu proses penciptaan sesuatu yang baru (kreasi baru) dan membuat sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada (inovasi).31 Dapat disimpulkan bahwa berkembangnya suatu kewirausahan diawali dengan adanyan inovatif dan ide-ide kreatif yang keluar dari pikiran manusia itu sendiri.

Kewirausahaan dari segi etimologi berasal dari kata wira dan usaha, wira bearti manusia, penjuang, pahlawan unggul, gagah berani dan berwatak agung. Sedangkan usaha bearti bekerja, perbuatan, dan berbuat sesuatu. Jadi wirausaha merupakan seorang penjuang dalam sebuah usaha atau pekerjaan. Menurut kamus besar bahasa indonesia wirausaha merupakan orang yang pandai atau yang mempunyai bakat dalam mengenali produk baru, menciptakan produk baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur masalah dana serta memasarkannya.

Adapun definisi wirausaha menurut beberapa ahli, yaitu:

a. Raymond W.Y. Kao, wirausaha merupakan orang yang mampu menciptakan dan merancang suatu gagasan menjadi realita.

b. Richart Cantillon, wirausaha merupakan seseorang yang mampu memindahkan atau mengonfirmasikan sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ketingkat produktivitas lebih tinggi.

c. Prawirokusumo, wirausaha merupakan mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatiof dengan jalan mengembangkan ide dan mengkaji sumberdaya untuk menemukan peluang dan perbaikan hidup.

d. Schumpeter, wirausaha merupakan inovator yang tidak selalu menjadi inventor (penemu).

31 Deden Fajar Badruzzaman. Pemerdayaan kewirausahaan terhadap santri di pondok pesantrenStudi kasus: pondok pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung, Bogor. (Jakarta: 2009).

Diakses pada 10 juli 2020.

(34)

Dalam lampiran keputusan menteri koperasi binaan pengusahaan kecil no: 961/KEP/M/XI/1995, dicantumkan bahwa:

a. Wirausaha adalah orang yang mempunya semangat, sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan.

b. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari menciptakan serta menciptakan cara kerja.32

Secara konseptual, wirausaha dapat didefinisikan dari berbagai sudut pandang, beberapa diantaranya:

a. Pandangan ahli ekonomi mengemukakan bahwa wirausaha adalah orang yang mengkombinasikan faktor-faktor produksi untuk tujuan memproduksi barang dan jasa.

b. Pandangan ahli manajemen mengemukakan wirausaha adalah seseorang yang memiliki unsur-unsur internal yang mencangkup, motivasi, visi, obtimisme, komunikasi, semngat, dorongan, dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang yang usaha.

c. Pandangan pelaku bisnis mengumukakan bahwa wirausaha adalah seorang pengusaha yang merupakan pelapor dalam bisnis, inovator, penanggung resiko yang mempunya visi kedepan dan mempunya keunggulan dalam berprestasi di bidang usaha.

Dengan demikian dapat disimpulkan kewirausahaan adalah kemampuan kreatif, inovatif, komitmen, jiwa memimpin dan mengukur resiko yang akan dijadikan dasar dan sumber daya untuk mencari peluang dalam menciptakan usaha.

Ada empat fase khusus dalam proses kewirausahaan antara lain:

a. Mengindenfikasi dan evaluasi peluang yang ada

Evaluasi peluang merupakan suatu elemen yang sangat kritikal dalam proses kewirausahaan untuk menentukan suatu produk sangat diperlukan oleh sumber daya manusia dan apa bisa bermanfaat bagi seorang wirausaha, guna untuk mengindenfikasi peluang-peluang yang ada.

32 Muhammad Anwar. Pengantar Kewirausahaan....H. 8-9.

(35)

b. Kembangkan rencana bisnis

Dalam mempersiapkan rencana bisnis sangatlah penting untuk memahami persoalan-persoalan yang ada di dalamnya.

c. Sumber-sumber daya yang diperlukan

Untuk mewujutkan peluang yang ada perlu kita ketahui proses tersebut diawali dengan tindakan penilaian sumber daya yang dimiliki.

d. Laksanakan manajemen usaha

Setelah sumberdaya yang diperlukan sudah ada, maka perlu mengimplementasikan rencana bisnis yang sudah dirancang sebelumnya.33

Adapun tujuan dan manfaat kewirausahaan:

a. Untuk memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikankan nasib sendiri

b. Untuk memberi peluang untuk melakukan perubahan c. Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya d. Memiliki peluang untuk meraih keuntungan seoptimal mungkin e. Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat dan dapat

pengakuan atas usahanya

f. Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan menumbuhkan rasa senang dalam mengerjakannya.34

Ada tiga ciri-ciri kewirausahaan menurut Zimmerer yaitu:

a. Desire for responbility yaitu: hastrat bertanggung jawab terhadap usaha-usaha yang tengah dirintisnya yang diaktualisasikan melalui sikap hati-hati dalam bertindak.

b. Preferense for moderate risk yaitu: kecendrungan untuk senantiasa mengambil resiko kembali yang direlaksasikan oleh pilihan keputusannya yang selalu menghindari tingkat resiko yang terlalu tinggi maupun yang terlalu rendah.

c. Cofidence in their ability to succes yaitu: memiliki keyakinan atas kemampuan dirinya uuntuk sukses yang direlaksasikan melalui moto bahwa kegagalan itu tidak lain adalah kesuksesan yang tertunda.35

33 Kholifah. Manajemen Pendidikan.... 2019

34 Puji Hastuti, dkk. Kewirausahan dan UMKM. (Yayasan kita Menulis: 2020). H. 5-7

35 Khoiria Rizky Tanjung. Pengaruh Perilaku Kewirausahaan Dan Pemasaran Terhadap Pendapatan Usaha Foto Copy Palano Jaya Medan Helvetia. (Medan: 2018). Diakses pada 10 juli 2020.

(36)

3. Program Kewirausahan

Program kewirausahaan merupakan suatu pelaksanaan dalam rangkaain kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu.

Oleh karena itu maka kewirausahaan sangatlah berperan penting untuk menunjang kreatifitas dan keaktifan peserta didik untuk menyalurkan bakat dan potensi mereka dalam berwirausaha, mengelola dan menerapkan apa yang telah diberikan dan di ajarkan. Agar sebuah program atau kegiatan itu berjalan dengan baik, maka perlu diatur dan dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan dan pengawasan. Dan itu terkait dengan kegiatan manajemen, dimana manajemen adalah proses menginteraksikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan.36

Dalam pengelolaan program kewirausahaan maka dibutuhkan beberapa sistem manajemen, diantaranya:

a. Perencanaan (planning)

Perencanaan merupakan proses kegiatan yang menyiapkan secara sistematis kegiatan-kegiatan yang akan di lakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu dengan menetapkan langkah-langkah dan tahapan terlebih dahulu agar hasil yang dininginkan sesuai dengan target yang diharapkan. Aspek perenanaan meliputi (1) apa yang dilakukan, (2) siapa yang melakukan, (3) kapan dilakukan, (4) dimana dilakukan, (5)

36Muhardi. Implementasi Program Kewirausahaan...2018.

(37)

bagaimana melakukannya, (6) apa saja yang perlu dilakukan agar tyercapai tujuan secara maksimal.37

Horld Kontz dan Cyril O’Donnel menyatakan “planning is the function of a maneger which involves the selection from artinatives of objectives, policies, prosedures and programme”, artinya perencanaan adalah fungsi seseorang manejer yang berhubungan dengan pilihan tujuan-tujuan, kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur dan program- program dari beberapa alternative yang ada.38

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan atau penggerakan (actuating) merupakan salah satu fungsi untuk merealisasikan hasil perencanaan dan dan pengorganisasian.

Pengerakan merupakan upaya untuk mengerakan atau mengarahkan tenaga kerja serta mendayagunakan fasilitas yang ada untuk melaksanakan pekerjaan bersama.

pengerakan menurut Munur dan Ilahi adalah seluruh proses pemberian motivasi kerja kepaa pada bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mampu bekerja dengan ikhlas secara emplisit yang bearti bahwa pimpinan organisasi di tengah bawahannya dapat memberikan sebuah bimbingan, intruksi, nasehat, dan koreksi jika diperlukan.39

37 Kholifah. Manajemen Pendidikan...2019.

38Syarhrul Ibad. Manajemen Tata Ruang Kota (Konteks Kewenangan Badan Perencanaan, Kordinasi, Dan Pengendalian Tata Ruang Koto). (Makasar: Yayasan Barkode, 2020). H. 10-11.

39https://www.google.com/url?sa=ts&source=web&rct=j&url=http://digilib.iainkendari.ac .id/2708/3/. Diakses pada 26 januari 2020.

(38)

Dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya penggerakan atau pelaksanaan memiliki beberapa langkah yaitu:

1) Memberikan motivasi

2) Pengarahan dan pembimbingan 3) Menjalin komunikasi

Maka dengan langkah-langkah tersebut diharapkan para pelaksana mampu mendukung semua program yang telah diterapkan dan mau bekerja dengan penuh keikhlasan tanpa ada unsur keterpaksaan.40 c. Evaluasi

Evaluasi adalah suatu pemeriksaan terhadap pelaksanaan suatu program yang telah dilakukan dan yang yang akan dilakukan untuk meramalkan, memperhitungkan, dan mengendalikan pelaksanaan program kedepannya supaya lebih baik. Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemennya itu perencanaan organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Oleh karena itu tanpa evaluasi tidak akan diketahui bagaimana kondisi objek evaluasi tersebut dalam perencanaan, pelaksanaan dan hasil nya.41

40https://www.google.com/url?sa=ts&source=web&rct=j&url=http://digilib.iainkendari.ac .id/2708/3/. Diakses pada 26 januari 2020.

41Irjus Indrawan dkk. Manajemen Personalia Dan Kearsipan Sekolah. (Pucangmiliran, Tulung, Jateng: Lakeisa, 2020). H. 60.

(39)

Adapun pengertian evaluasi menurut para ahli:42

1) Yusuf mengatakan evaluasi adalah suatu usaha untuk mengukur dan sumber nilai secara objektif dari pencapaian hasil-hasil yang direncanakan sebelumnya, dimana evaluasi tersebut dimaksudkan menjadi umpan balik untuk perencanaan yang akan dilakukan kedepan.

2) Junes mengatakan evaluasi adalah suatu aktivitas yang dirancang untuk menimbang manfaat program dalam spesifikasi 24 kriteria, teknik pengukuran, metode analisis dan bentuk rekomendasi.

Jadi evaluasi merupakan proses dalam menentukan kesesuai pada suatu produk, prosedur, tujuan, program pendekatan dan fungsi. Evaluasi ini merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap suatu kegiatan.

Kegiatan dapat berupa suatu program yang sudah direncanakan sehingga untuk mengetahui keberhasilan dan manfaatnya dilakukan proses penilaian.

C. PeningkatanLife Skil(kecakapan hidup)

Peningkatan life skill adalah pengembangan kecakapan yang dibutuhkan untuk bekerja selain kecakapan dalam bidang kademik.43 Sedangkan Life skill itu sendiri merupakan kecakapan dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mampu dan berani menghadapi permasalahan dalam hidup dengan aktif dan produktif sehingga permasalahan yang ada

42Irjus Indrawan dkk. Manajemen Personalia... H. 64

43Moh Sholeh. Peningkatan Life Skill Siswa Melalui Program Pendidikan.... 2014

(40)

dapat diselesaikan dengan baik, dan dapat menjalani kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan menjalani hidup.44

Life Skill berasal dari bahasa inggris yang terdiri dari dua suku kata yaitu life artinya kehidupan dan skill artinya keahlian, kecakapan, kemampuan. Secara umum skill artinya adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kapadanya.

Adapun indikator life skill (kecakapan hidup)yaitu meliput:

a. Berpikir positif dalam segala hal.

b. Dapat bersosialisasi dengan orang lain.

c. Dapat memecahkan yang dihadapi.

d. Pandai menggali informasi.

e. Dapat mengolah informasi dan mengambil keputusan secara cerdas.45 life skillsjuga dapat diartikan sebagai kecakapan untuk hidup, kecakapan hidup merupakan kecakapan yang secara praktis dapat membekali seseorang remaja dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan, yaitu yang menyangkut dengan aspek pengetahuan sikap, didalamnya termasuk fisik dan mental, serta kecakapan kejuruan yang berkaitan dengan pengembangan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupannya. Oleh sebab itu lembaga pendidikan formal maupun non formal wajib memberikan keterampilan pilihan life skills oleh nara sumber teknis, dengan harapan

44 Mislaini. Pendidikan Dan Bi mbingan Kecakapan Hidup.... 2017.

45 Muhammad Agus Windiyanto. Life Skill Dalam Pendidikan Pesantren.... 2006.

(41)

peserta didik mempunyai bekal untuk bekerja dan berusaha yang dapat mendukung pencapaian taraf hidup yang lebih baik.46

WHO bemberikan penjelasan bahwa life skll adalah sebagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradap dasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tuntunan dan tatangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif.47

Anwar memberikan pengertian life skill (kecakapan hidup) sebagai pendidikan yang dapat memberikan bekal keterampilan yang praktis, terpakai, terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di masyarakat.48 Jadi, life skill(kecakapan hidup) dapat diartikan sebagai unsur penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari untuk lebih mandiri, sehingga dalam proses menuju kebahagian hidup lebih terarah.

Konsep life skill mengatakan bahwa seeorang idealnya memenuhi beberapa kecakapan hidup dalam dirinya, antara lain kecakapan personal, kecakapan sosial, dan kecakapan akademik, jika kecakapan akademik ditunjang dengan kecakapan personal maka seseorang akan lebih baik dalam menjalani kehidupannya.49

46 Sukron Hidayatulloh. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Dalam Meningkatkan Life Skill Santri Studi Kasus Pondok Pesantren Al-Falah Gunung Kasih Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus. (Raden Intan Lampung: 2018). Diakses pada 12 juli 2020.

47 Depdiknas, Pedoman Penyelenggaraan Program...H. 6.

48Ulfah Hsanah. Upaya Pondok Pesantren Dalam Mengembangkan Life Skill Santri Di Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah Ponorogo. (Surabaya: 2019). H. 40. Diakses Pada 25 Januari 2021.

49Hana Makmun. Life Skill Personal Self Awareness (Kecakapan Mengenal Diri), (Yogyakarta: 2017). H. 39.

(42)

a. Kecakapan personal (personal skill), merupakan kecakapan yang diperlukan bagi seseorang untuk mengenal dirinya secara sempurna, yang mencangkup kecakapan akan kesadaran diri atau memahami dirinya sendiri dan kecakapan untuk berpikir.

b. Kecakapan sosial (social skill), mencangkup kecakapan komunikasi dengan empeti dan kecakapan kerja sama. Sebagai makhluk sosial manusia merupakan bagian dari masyrakat yang selalu membuthkan keterlibatan menjalin hubungan dengan sesamanya atau disebut silahturahmi.

c. Kecapan akademic (academic skill), merupakan suatu kegiatan yang bersifat akademik/keilmuan. Kecakapan akademik mencangkup antara lain kecakapan melalui indenfikasi variabel dan menjelaskan hubungannya pada suatu fenomena tertentu, merumuskan hipotesis terhadap suatu rangkaian kegiatan, serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk membuktikan suatu gagasan atau keingintahuan.50 Adapun program-program dalam peningkatan life skill di antaranya:51

1) Kejuruan kerajinan dan pertukangan 2) Kejuruan pembengkelan

3) Kejuruan pertanian, pertenakan, perikanan dan perkebunan 4) Kejuruan koperasi

D. Santri di Pesantren 1. Pengertian Santri

Santri secara singkat diartikan sebagai siswa yang mempunyai dedikasi peduh di lembaga pesantren. Santri juga bisa dimaknai sebagai orang orang yang belajar di pondok pesantren atau orang yang mendalami ilmu agama islam. Santri dalam arti luas dan sempit. Santri dalam arti luas yaitu orang yang memegang teguh ajaran-ajaran islam, seperti sholat dan amal- amal lain yang menunjukkan kesalehan. Sedangkan santri dalam arti sempit yaitu sebagai murid yang belajar dalam institusi agama, yaitu pondok pesantren.Santri juga merupakan elemen penting dalam suatu lembaga

50 Sukron Hidayatulloh. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren... 2018.

51Nur Khamidah. Pendidikan Kewirausahaan...2018

(43)

pendidikan pesantren. Santri itu sendiri merupakan sekelompok agama islam yang menerima ajaran-ajaran agama islam dari para kyai. Menurut KH.

Hasani Nawawie, santri adalah orang yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan mengikuti sunah rasul (hadis) serta teguh pendirian.52

Adanya saantri merupakan unsur penting, karena tidak mungkin dapat berlangsung kehidupan pesantren tanpa adanya santri. Seorang alim tidak dapat disebut sebagai kyai jika tidak memiliki santri. Biasanya terdapat dua jenis santri yaitu:

a. Santri Mukim, yaitu santri yang datang dari jauh dan menetap di lingkungan pesantren. Santri mukim yang paling lama biasanya diberi tanggung jawab untuk mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari dan membantu kyai untuk mengajar santri-santri muda tentang kitab- kitab dasar dan menengah.

b. Santri Kalong, yaitu santri yang berasal dari desa-desa sekitar pesantren dan tidak menetap di pesantren, mereka mengikuti pelajaran dengan berangkat dari rumahnya dan pulang kerumahnya masing- masing sesuai pelajaran yang diberikan.53

2. Pengertian Pesantren

Di Indonesia istilah pesantren lebih populer disebut pondok pesantren, dan secara kultural berasal dari budaya pra-islam. Ini dibuktikan dengan adanya pendidikan jawa kuno yang praktik pendidikannya identik dengan pondok pesantren. Lembaga pendidikan tersebut bernama Prawiyatan. Secara historis, pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman, tetapi juga makna keindonesiaan. Lembaga pesantren sebenarnarnya sudah ada pada

52 Nasrullah Nurdin. Generasi Emas.... H. 3-6

53 Sukron Hidayatulloh. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Dalam Meningkatkan Life Skill Santri (Studi Kasus Pondok Pesantren Al-Falah Gunung Kasih Kecamatan Pugung Kabupaten Tangrang. (Tangrang: 2018). Diakses pada 12 juli 2020.

(44)

masa hindu-budha. Setelah islam masuk ke pulau jawa, lembaga pendidikan itu dilanjutkan dan diislamkan.54

Umumnya keberadaan pesantren di masyarakat diawali dengan adanya pengakuan masyarakat akan keunggulan dan ketinggian ilmu seorang guru atau kyai. Karena adanya keinginan untuk menuntut ilmu dari ketinggian ilmu kyai tersebut maka masyarakat sekitar bahkan dari luar daerah datang kepadanya untuk belajar. dan kemudian mereka membangun tempat tinggal yang sederhana disekitar tempat tinggal guru atau kyai tersebut. Warjoetomo berpandangan bahwa pesantren berdiri di tanah air khususnya di jawa dimulai dan dibawa oleh Wali Songo dan inilah awal mula pertama pondok pesantren yang didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim tanggal 8 April 1419 di gresik.55

Pesantren sudah banyak mengalami perkembangan terutama dari sisi subtansi pelajaran yang awalnya hanya mengajarkan mata pejarab agama melalui kitab klasik lalu ditambah dengan pelajaran non agama seperti matematika seperti dyang terjadi di pesantren Mambaul Ulum surakarta.

Kemudian, di masa berikutnya pesantren secara kelembagaan mengalami perkembangan dimana di pesantren juga didirikan sekolah formal seperti SMP/SMA dan bahkan Perguruan Tinggi Sslam.56

54Samsul Nizar. Sejarah Sosial & Dinamika Intelektual Pendidikan Islam Di Nusantara.

(Jakarta: Kencana, 2013). H. 113.

55 Hasbi Indra. Pendidikan Pesantren Dan Perkembangan Sosial Kemasyarakatan (Studi Atas Pemikiran K.H. Abdullah Syafi’ie). (Yokyakarta: Deepublish, 2018). H. 17.

56Hasbi Indra. Pendidikan Pesantren Dan... H. 20.

(45)

Pesantren menurut pengertian dasarnya merupakan tempat belajar santri. Pesantren berasal dari kata santri yang mendapat awalan ‘pe” dan akhiran “an”, yang berarti suatu tempat tinggal para santri. Menurut Wahjoetomo kata santri ini merupakan gabungan dari kata sant yang berarti manusia baik dan suku kata tra yang berarti suka menolong, sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.57

Pengertian pesantren menurut beberapa para ahli yaitu:

a. Menurut Manfred Ziemek Pesantren adalah gabungan kata “Sant”

(Manusia Baik), dihubungkan dengan suku kata “tra” (Suka Menolong), sehingga kata Pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.

b. Menurut Nurcholish madjid pesantren atau pondok adalah lembaga yang mewujudkan proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional. Dari segi historis, pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman, tetapi juga keaslian Indonesia karena lembaga yang serupa, sudah terdapat pada masa kekuasaan hindu-budha, sedangkan islam meneruskan dan mengislamkanya.

3. Tujuan Pesantren

Pada dasarnya tujuan dari pesantren adalah sebagai lembaga pendidikan islam yang mengajarkan tentang ilmu-ilmu agama yang bertujuan membentuk manusia bertaqwa, mampu untuk hidup mandiri, ikhlas dalam melakukan suatu perbuatan, berijtihad membela kebenaran agama islam serta menjungjung tinggi syariah islam.

Pesantren didirikan berdasarkan dua tujuan yaitu tujuan khusus dan tujuan umum: (1) tujuan khusus, mempersiapkan para santri untuk menjadi orang yang mempunyai ilmu agama yang diajarkan oleh kyai atau ustaz yang

57 Muhammad Agus Windiyanto. Life Skill Dalam...2006.

Referensi

Dokumen terkait