• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENSTRA KBRI Paramaribo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RENSTRA KBRI Paramaribo"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

2

(3)

3

(4)

4

(5)

5

(6)

6

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, KBRI Paramaribo dapat menyusun dan menerbitkan Rencana Strategis (RENSTRA) Tahun 2020 – 2024 sebagai wujud manajemen pemerintahan efektif, transparan dan akuntabel KBRI Paramaribo.

Penyusunan Rencana Strategis KBRI Paramaribo Tahun 2020 - 2024 mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Luar Negeri 2020 – 2024 yang berdasarkan pada Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Penyusunan dan Penelahaan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra K/L) Tahun 2020 – 2024.

RENSTRA KBRI Paramaribo ini juga menjabarkan perkembangan, tantangan dan upaya yang dilakukan bagi peningkatan kerja sama antara Indonesia dengan Republik Suriname, Republik Kooperatif Guyana dan Caribbean Community (CARICOM).

RENSTRA KBRI Paramaribo Tahun 2020 – 2024 ini berisi informasi mengenai visi, misi, sasaran strategis dan arah kebijakan yang akan dilaksanakan KBRI Paramaribo selama 5 (lima) tahun ke depan. Dengan visi yang ingin dicapai KBRI Paramaribo yaitu “Mewujudkan Indonesia Maju melalui Penyelenggaraan Diplomasi yang Aktif dan Efektif di Negara Akreditasi: Suriname, Guyana dan CARICOM”, RENSTRA KBRI Paramaribo ini terdiri atas 4 (empat) misi, 6 (enam) tujuan/sasaran strategis dan 8 (delapan) arah kebijakan serta strategi yang akan dicapai.

Akhir kata, diharapkan agar penyusunan RENSTRA KBRI Paramaribo Tahun 2020 – 2024 ini dapat digunakan oleh Perwakilan RI, Kementerian Luar Negeri RI dan instansi pemerintah terkait lainnya sebagai pedoman dalam mengukur dan menilai kinerja KBRI Paramaribo secara transparan dan objektif.

Paramaribo, Januari 2021 Kepala Perwakilan RI,

Julang Pujianto Duta Besar RI Paramaribo

(7)

7

DAFTAR ISI

SURAT KEPUTUSAN KEPALA PERWAKILAN RI PARAMARIBO

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

RINGKASAN EKSEKUTIF ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 3

1.1 Kondisi Umum ... 3

1.1.1. Capaian RENSTRA KBRI Paramaribo 2015-2019 ... 3

1.2 Potensi dan Permasalahan ... 21

BAB II VISI, MISI DAN TUJUAN ... 30

2.1. Visi Perwakilan RI ... 30

2.2. Misi Perwakilan RI ... 30

2.3. Tujuan dan Sasaran Strategis Perwakilan RI ... 30

BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI ... 33

3.1. Arah Kebijakan dan Strategi Perwakilan RI ... 33

BAB IV TARGET KINERJA KBRI PARAMARIBO TAHUN 2020 S.D. 2024 ... 39

BAB V PENUTUP ... 40

LAMPIRAN ... 41

Lampiran 1 ... 41

(8)

8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. KONDISI UMUM

Dalam kurun waktu 2015 hingga 2019, perkembangan dinamika situasi global ditandai oleh berbagai tantangan dan ancaman yang bersifat multidimensional dan kompleks. Perkembangan politik dan ekonomi global dewasa ini diwarnai dengan ketegangan-ketegangan akibat berlangsungnya “perang dagang” antara negara-negara besar di dunia. Sementara pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan mengalami penurunan yang signifikan. Pada periode tahun 2020 hingga 2024, diperkirakan perkembangan situasi dunia masih merupakan kelanjutan dari tantangan-tantangan yang muncul pada beberapa tahun belakangan.

Munculnya wabah virus COVID-19 di awal tahun 2020, telah memberikan tantangan baru bagi negara-negara di dunia. Semua negara termasuk Indonesia dan negara-negara di kawasan Amerika Selatan dan Karibia seperti Suriname maupun Guyana perlu mengadaptasi kebijakan nasional maupun kebijakan luar negerinya dalam rangka mengatasi pandemi maupun dalam upaya memperjuangkan kesejahteraan rakyat masing-masing negara. Fakta ini telah mengharuskan negara-negara di dunia untuk semakin menggalang kerja sama secara bilateral, regional maupun multilateral dalam mengatasi pandemi global yang pada gillirannya dapat memberikan peluang bagi negara-negara di dunia untuk melanjutkan perkembangan ekonominya.

Situasi pandemi global ini dengan sendirinya mengharuskan KBRI Paramaribo untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam rangka memberikan kontribusi untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia. Namun demikian, pada dasarnya berbagai kegiatan KBRI Paramaribo tahun 2020 – 2024 merupakan kelanjutan dari kegiatan-kegiatan di periode sebelumnya. Sementara itu, pada periode 2015 – 2019, dengan mendasarkan pada Rencana Strategis (RENSTRA) selama tahun 2015 - 2019, KBRI Paramaribo telah melaksanakan berbagai program kegiatan prioritas yang mendukung misi pemerintah Republik Indonesia. Berbagai aktivitas yang dilakukan merupakan perwujudan dari visi sesuai RENSTRA tahun 2015 – 2019 yaitu “Menjadi Ujung Tombak dalam Mewujudkan Wibawa Diplomasi Indonesia di Negara Akreditasi Suriname dan Guyana”.

Sebagai catatan, hingga akhir tahun 2019, KBRI Paramaribo telah berhasil melaksanakan 11 tujuan dan sasaran dengan rata-rata capaian kinerja sebesar 169, 89% yang dijabarkan ke dalam 18 indikator kinerja.

1.1.1. CAPAIAN RENSTRA 2015 - 2019

BIDANG POLITIK

Hubungan bilateral Indonesia dengan Republik Suriname dan Republik Kooperatif Guyana pada tataran politik berkembang dengan baik selama periode tahun 2015 - 2019. Republik Suriname dan Republik Kooperatif Guyana senantiasa mendukung keutuhan dan integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Indonesia, Suriname dan Guyana merupakan sesama

(9)

9

negara anggota PBB, Non-Blok, OKI yang secara prinsip menganut kebijakan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain merupakan fundamental kebijakan luar negeri Indonesia dan negara akreditasi. Dengan prinsip demikian, maka hubungan dan kerja sama bilateral Indonesia dengan negara-negara akreditasi berlangsung dengan baik dan berkembang.

Hubungan dan kerja sama bilateral yang baik tersebut antara lain tercermin dari hal-hal sebagai berikut:

a. Suriname dan Guyana senantiasa mendukung keutuhan wilayah dan kedaulatan NKRI;

b. Suriname dan Guyana mendukung pencalonan Indonesia di Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB periode 2019;

c. Suriname dan Guyana mendukung pencalonan Indonesia sebagai Presiden Inter- Parliamentary Union (IPU) periode tahun 2014-2016;

d. Suriname dan Guyana mendukung pencalonan Indonesia pada Dewan International Telecommunication Union (ITU) periode tahun 2014-2018;

e. Suriname dan Guyana mendukung pencalonan Indonesia pada Komite HAM periode tahun 2015-2016;

f. Suriname dan Guyana mendukung pencalonan Indonesia pada Anggota Dewan HAM PBB periode tahun 2020-2022;

g. Suriname dan Guyana mendukung pencalonan Indonesia pada keanggotaan Indonesia sebagai pada International Maritime Organization (IMO) kategori “C” periode tahun 2020- 2021.

Hubungan bilateral Indonesia dengan Republik Suriname, Republik Kooperatif Guyana dan CARICOM terus berkembang dari waktu ke waktu. Pada 10 April 2019, Duta Besar RI Paramaribo, Y.M. Julang Pujianto menyerahkan Surat-surat Kepercayaan kepada Presiden Suriname Y.M. Desire Delano Bouterse. Pada 29 Mei 2019, Duta Besar RI Paramaribo, Y.M.

Julang Pujianto menyerahkan Surat-surat Kepercayaan kepada Presiden Republik Kooperatif Guyana Y.M. David Arthur Granger. Pada 31 Mei 2019, Duta Besar RI Paramaribo, Y.M. Julang Pujianto menyerahkan Surat-surat Kepercayaan kepada Sekretaris Jenderal Caribbean Community (CARICOM), Y.M. Duta Besar Irwin LaRoque.

Foto: Penyerahan Surat-surat Kepercayaan

Duta Besar RI Paramaribo, Y.M. Julang Pujianto, kepada Presiden Suriname, Y.M. Desire Delano Bouterse (sebelah kiri) dan Presiden Republik Kooperatif Guyana, Y.M. David A. Granger (sebelah kanan)

(10)

10

Meningkatnya hubungan Indonesia dengan Suriname, Guyana dan CARICOM juga ditandai dengan kunjungan para pejabat tinggi RI ke negara-negara akreditasi sepanjang periode 2015- 2019, antara lain:

1. Kunjungan Menlu RI Y.M. Retno L.P Marsudi ke Suriname pada 20 Mei 2019. Kunjungan ini menghasilkan dukungan unilateral Suriname atas pencalonan Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB periode 2020-2022.

2. Kunjungan kerja Menlu RI Y.M. Retno L.P Marsudi ke Suriname juga menghasilkan penandatanganan perjanjian Bebas Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik, Dinas dan Biasa antara Indonesia-Suriname (PBVPDDB).

3. Kunjungan Muhibah Delegasi DPR RI yang dipimpin oleh Wakil Ketua Drs. Utut Adianto ke Suriname tanggal 18-22 Agustus 2019. Pada kesempatan tersebut delegasi telah bertemu dengan Ketua Parlemen Suriname Y.M. Jennifer Geerlings Simmon, Menteri Dalam Negeri Y.M. Faizal Muhammad Noersalim, Menteri Urusan Pemuda dan Olahraga yang diwakili oleh Menteri Pembangunan Regional Y.M. Edgar Dikan, Menteri Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Suriname Y.M. Lilian Ferrier, dan Menteri Luar Negeri Y.M. Yldiz Pollack- Beighle. Pada kunjungan tersebut, telah direncanakan untuk menjajaki kerja sama antara

Foto: Pertemuan Menlu RI dengan Presiden Republik Suriname, Y.M.

Desire Delano Bouterse di Istana Kepresidenan Suriname pada tanggal 20 Mei 2019

Foto: Menlu RI dan Menlu Suriname berjabat tangan setelah menyampaikan pidato singkat sebelum menandatangani Perjanjian Bebas Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik, Dinas dan Biasa RI-Suriname

(11)

11

Parlemen Indonesia dengan Parlemen Suriname ke depan, pengiriman pelatih catur, bulu tangkis dan pencak silat ke Suriname.

Foto bersama Wakil Ketua DPR RI dengan Ketua Parlemen Suriname, Dubes RI Paramaribo, dan beberapa anggota parlemen Indonesia dan Suriname

4. Kunjungan Menlu RI Y.M. Retno L.P Marsudi ke Guyana pada 18 Mei 2018. Pada kunjungan tersebut, Menlu RI mengadakan pertemuan dengan Presiden Guyana, Y.M. David A. Granger dan Menlu Guyana Y.M. Carl B. Greenidge. Pada pertemuan dimaksud, pemerintah Guyana menyatakan dukungan terhadap kedaulatan NKRI atas isu Papua.

5. Dalam hal kerja sama parlemen, 13 orang delegasi Komisi I DPR RI melakukan kunjungan ke Suriname pada 11-15 Mei 2017. Pertemuan dimaksud

menghasilkan kesepakatan untuk lebih meningkatkan kerja sama antar parlemen secara bilateral maupun dalam forum Inter Parliamentary Union (IPU). Selanjutnya pada 6-7 September 2017, 3 anggota parlemen Suriname yaitu Mrs. Inggrid Karta Bink, Mr. Hans Sanjon dan Mr. Guilliano Snip menghadiri World Parliamentary Forum on Sustainable Development di Bali, Indonesia.

6. Pada September 2015, delegasi MPR yang dipimpin Wakil Ketua Bpk. Hidayat Nur Wahid melakukan kunjungan ke Suriname dan mengadakan pertemuan dengan Parlemen Suriname. Pertemuan menyepakati peningkatan kerja sama kedua parlemen di forum internasional termasuk pada Sidang IPU.

(12)

12 Caribbean Community (CARICOM)

Pada 2 Mei 2018, Indonesia secara resmi telah terakreditasi di CARICOM sebagai salah satu Third States accredited to CARICOM dengan ditandai penyerahan surat-surat kepercayaan Duta Besar RI Paramaribo Y.M. Drs. Dominicus Supratikto sebagai Plenipotentiary Representative Republik Indonesia untuk CARICOM.

Akreditasi Indonesia di CARICOM akan memberikan peluang bagi Indonesia untuk melakukan kerja sama yang lebih luas di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, isu perubahan iklim dan sebagainya.

Akreditasi Indonesia di CARICOM menjadi sarana bagi KBRI Paramaribo untuk memperkuat lobi Indonesia dengan negara-negara di kawasan Karibia, dalam rangka menggalang dukungan atas kedaulatan NKRI di kawasan Karibia, serta untuk mendukung diplomasi ekonomi melalui penguatan pasar-pasar non tradisional dan diversifikasi pasar ekspor.

Pada Mei 2018, Menlu RI Y.M. Retno L.P. Marsudi didampingi Duta Besar RI Paramaribo Y.M.

Drs. Dominicus Supratikto melakukan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal CARICOM, Duta Besar Y.M. Irwin LaRocque.

Foto:

Pertemuan delegasi MPR dengan Ketua Parlemen Suriname, September 2015

Foto:

Pertemuan Menlu RI dengan Sekjen CARICOM pada 2 Mei 2018. Menlu RI didampingi oleh Duta Besar RI Paramaribo dan Direktur Amerika Selatan dan Karibia, Ditjen Amerika dan Eropa, Kemlu RI.

(13)

13 BIDANG EKONOMI

Indonesia memandang Suriname dan Guyana sebagai negara yang memiliki potensi kerja sama ekonomi yang menjanjikan bagi pemasaran produk ekspor Indonesia.

Suriname

merupakan salah satu negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia dengan pasar potensial yang dapat dimanfaatkan Indonesia. Beberapa komoditas ekspor utama Suriname meliputi Emas (66,6%), Kayu (4,1%), Aprikot (2,3%), Beras Merah (0,5%) dan Gabah (0,5%).

Emas merupakan komoditas terpenting bagi Suriname dan memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian. Sebagian besar deposit emas terletak di bagian timur Suriname.

Ekspor emas dari Suriname ke seluruh dunia pada 2019 mencapai USD 1 miliar atau mencapai 66,6% dari total ekspor Suriname. Swiss menjadi tujuan ekspor utama emas Suriname. Tambang emas terbesar di Suriname adalah Rosebel Gold Mine yang 95% kepemilikannya oleh Iamgold dan 5% Pemerintah Suriname.

Tambang emas seluas 170 kilometer persegi tersebut berlokasi di Distrik Brokopondo, sekitar 85 kilometer dari Paramaribo. Suriname tercatat sebagai negara net-importer, di mana 80%

kebutuhan masyarakat Suriname diimpor dari luar negeri. Sementara produk ekspor pertambangan emas, minyak bumi dan bauksit memegang porsi terbesar hingga 80% dari pendapatan ekspor Suriname.

Pada 2019, total perdagangan antara Indonesia dan Suriname tercatat sebesar US$9,2 juta atau meningkat 37,6% dari tahun sebelumnya. Surplus di pihak Indonesia pada 2019 mencapai US$19,24 juta. Dalam periode 2014-2018, tren perdagangan bilateral RI-Suriname cenderung menurun dengan rata-rata -7,42% per tahun.

Jumlah wisatawan dari Suriname yang ke Indonesia juga mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2019 tercatat 351 wisatawan dari Suriname yang melakukan wisata ke Indonesia. Di tahun 2018 tercatat 341 orang sedangkan tahun 2017 tercatat 325 orang.

7.5

5 5.2

6.7

9.2

1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000 7.000.000 8.000.000 9.000.000 10.000.000

Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019

Nilai Perdagangan Indonesia - Suriname (dalam Juta USD)

(14)

14

Guyana

merupakan salah satu negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia dengan pasar potensial yang juga dapat dimanfaatkan Indonesia. Beberapa komoditas ekspor Guyana yaitu Emas (41%), Kontainer (12%), Aluminium (11%), Beras (10%) dan Gula (4%). Sumber ekonomi Guyana berasal dari kegiatan di sektor pertanian dan sumber daya alam.

Guyana menganut sistem perdagangan bebas seiring masuknya negara tersebut ke dalam keanggotaan WTO dan CARICOM Single Market and Economy (CSME).

Dalam hal pariwisata, jumlah wisatawan asal Guyana yang bepergian ke Indonesia masih sangat kecil yaitu 94 orang di tahun 2017 dan 51 orang di tahun 2016.

Berdasarkan RENSTRA KBRI Paramaribo Tahun 2015 - 2019, salah satu tujuan dan sasaran strategis yang ingin dicapai yaitu nilai manfaat ekonomi dan pembangunan yang optimal dalam kerja sama bilateral negara akreditasi serta peningkatan peran KBRI Paramaribo bagi peningkatan nilai manfaat ekonomi dan pembangunan. Dalam mencapai tujuan dan sasaran strategis dimaksud, KBRI Paramaribo telah melaksanakan beberapa kegiatan diantaranya:

1. INDOFAIR 2019 yang

diselenggarakan di Sana Budaya Paramaribo-Suriname, bekerja sama dengan organisasi keturunan Jawa di Suriname yaitu VHJI (Vereniging Herdenking Javaanse Imigratie) pada tanggal 25-29 September 2019. Kegiatan ini dibuka oleh Menteri Perdagangan, Industri dan Pariwisata Suriname, Y.M. Mr. Stephen Tsang. Terdapat sekitar 35 pengusaha/perusahaan Suriname dan 1 pengusaha Indonesia yang berpartisipasi dan menempati 65 booth yaitu 45 stand

1.7

2.3

2.7 3

3.6

1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000 3.500.000 4.000.000 4.500.000 5.000.000

Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Nilai Perdagangan Indonesia - Guyana (dalam Juta USD)

Pada 2019 nilai total perdagangan kedua negara mengalami peningkatan sebesar 54%

dibandingkan tahun sebelumnya

(15)

15

non-food dan 20 stand food. Nilai transaksi yang dicapai pada INDOFAIR 2019 sebesar SRD 1.508.500,00 (eqv USD 177.470,00). Produk Indonesia yang cukup banyak diminati adalah ban serta baterai kendaraan roda empat, produk batik, kerajinan tangan, makanan dan minuman, aksesoris serta alat rumah tangga.

2. Di bidang capacity building, pada tanggal 16-18 September 2019, KBRI Paramaribo bekerja sama dengan Direktorat Kerja Sama Teknik (KST), Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral dan Kementerian KUKM RI telah menyelenggarakan kegiatan International Workshop on Small and Medium Size Enterprises (SMEs) Empowerment: Working Together to Achieve Sustainable Development di Paramaribo, Suriname. Workshop tersebut dibuka oleh Menteri Luar Negeri Suriname, Y.M. Yldiz Pollack-Beighle dan mendapat kehormatan diikuti pula oleh Ibu Negara Suriname, Mme. Ingrid Bouterse-Waldring. Workshop ini diikuti oleh 30 orang peserta dan 5 orang peninjau. Melalui pelaksanaan kegiatan ini, Pemerintah Indonesia berupaya untuk membangun kapasitas, pengetahuan dan keahlian yang memadai bagi pemangku kepentingan di Suriname guna mendorong pemajuan usaha kecil dan menengah yang dapat berkontribusi pada pengembangan perekonomian di tingkat lokal.

3. KBRI Paramaribo telah menghadirkan sebanyak 14 pengusaha Suriname pada Trade Expo Indonesia tanggal 16-19 Oktober 2019, dengan total transaksi perdagangan langsung sebesar USD 5.950.000. KBRI Paramaribo juga telah memfasilitasi delegasi bisnis Suriname pada kegiatan Indonesia-Latin American and Caribbean (INA-LAC) Business Forum yang diselenggarakan di Serpong, Tangerang, tanggal 14-15 Oktober 2019.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 270 peserta dari kalangan swasta (pengusaha, kamar dagang), pemerintah, media asing, dan akademisi dari Amerika Latin dan Karibia (Amlatkar),

Foto:

Peserta Workshop Foto Bersama First Lady, Menlu Suriname, Duta Besar RI Paramaribo, Ketua Delri dan tim penyelenggara dari Dit. KST, Kemlu RI

(16)

16

termasuk Suriname yang berperan aktif untuk mendapatkan informasi potensi perdagangan sebanyak-banyaknya.

4. Dalam rangka meningkatkan jumlah wisatawan Guyana ke Indonesia, KBRI Paramaribo telah melakukan pertemuan dengan 3 travel agent ternama di Georgetown, Guyana, pada tanggal 19 Desember 2019. Ketiga travel agent tersebut merupakan perwakilan dari Muneshwer Travel, Somwaru Travel dan Universal Travel, sangat tertarik dengan upaya KBRI Paramaribo untuk membangun kerja sama antara travel agent di Indonesia dan di Guyana.

Foto: Duta Besar RI Melakukan Penjajakan Kerja Sama Pariwisata dengan

Perwakilan dari Muneshwer Travel, Somwaru Travel dan Universal Travel di Georgetown, Guyana.

5. Pada tahun 2018, di bidang perdagangan, KBRI telah menghadirkan sebanyak 28 pengusaha Suriname pada Trade Expo Indonesia tanggal 24-28 Oktober 2018, dengan total transaksi perdagangan langsung sebesar USD 390.000 dan diikuti dengan pemesanan barang melalui kontainer antara lain oleh Gulson Trading N.V. untuk produk furnitur serta beberapa perusahaan lainnya telah memesan sejumlah pakaian dan garmen serta kerajinan tas kulit dari Yogyakarta. Pada kesempatan tersebut juga disepakati antara lain: penjajakan kerja sama PT Sritex dengan Dream House N.V. selaku perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah Suriname untuk pengadaan pakaian dan aksesoris militer.

6. Pelaksanaan program Family Trip pada tanggal 21 Oktober-11 November 2018 yang membawa 21 orang wisatawan Suriname ke Indonesia. Selama 19 hari, rombongan Family Trip mengunjungi Jakarta, Bogor, Bandung, Bali, Surabaya, Solo, Yogyakarta, Ambarawa, dan Semarang sebelum kembali ke Jakarta. Kegiatan Family Trip telah diselenggarakan secara rutin setiap tahun sejak tahun 2016 melalui kerja sama dengan maskapai penerbangan KLM dan tour operator di Indonesia. Program Family Trip ini dapat menarik tingkat partisipasi peserta yang tinggi setiap tahunnya mengingat salah satu kendala yang dihadapi untuk meningkatkan jumlah wisatawan Suriname ke Indonesia adalah harga tiket penerbangan internasional yang cukup tinggi.

(17)

17

7. Di tahun 2017, KBRI Paramaribo telah menyelenggarakan dan berpartisipasi pada 2 kegiatan Pameran Dagang Internasional. Dalam kaitan ini, KBRI Paramaribo telah menyelenggarakan pameran INDOFAIR 2017 di Suriname, sedangkan untuk keikutsertaan pada pameran Jaarbeurs pada tahun 2017 terpaksa tidak dilaksanakan dikarenakan adanya penghematan anggaran sesuai Instruksi Presiden No. 4 Tahun 2017. Pameran INDOFAIR 2017 diselenggarakan oleh KBRI Paramaribo bekerja sama dengan organisasi keturunan Jawa di Suriname yaitu VHJI (Vereniging Herdenking Javaanse Imigratie), pada tanggal 1 s/d 5 November 2017 bertempat di Komplek Sana Budaya, Paramaribo. Pameran INDOFAIR 2017 menghasilkan nilai transaksi sebesar SRD 1.342.563,00 (eqv. USD 179.008,40).

Produk Indonesia yang cukup banyak diminati adalah meubel/furniture, pakaian batik, kerajinan tangan, makanan dan minuman Indonesia, aksesories dan alat rumah tangga.

8. KBRI Paramaribo telah memfasilitasi 2 pertemuan bisnis dengan pengusaha dan pejabat Suriname. Pertemuan antara para pengusaha Suriname dengan pengusaha Indonesia dalam rangka penjajakan bisnis di bidang perdagangan maupun investasi, baik di Suriname maupun di Indonesia. Pertemuan yang diadakan yaitu pertemuan rombongan pengusaha Suriname dengan beberapa BUMN di bidang telekomunikasi pada tanggal 15-29 Mei 2017 di Jakarta dan pertemuan kelompok pengusaha furniture yang tergabung dalam HIMKI Solo dengan pengusaha-pengusaha di bidang perkayuan Suriname pada tanggal 31 Oktober-4 November 2017.

9. Di tahun 2016, KBRI Paramaribo telah berpartisipasi dalam Pameran GUYEXPO 2016 pada 12-15 Mei 2016 bertempat di National Exhibition Center, Georgetown-Guyana. GUYEXPO 2016 merupakan event yang spesial karena digelar bertepatan dengan perayaan 50 tahun kemerdekaan Republik Kooperatif Guyana. Pameran kali ini diikuti lebih 500 peserta pameran dari 5 negara asing, antara lain Amerika Serikat,

Chile, Indonesia, Trinidad dan Tobago serta Suriname. Diperkirakan 80 ribu pengunjung dari dalam dan luar negeri memadati pameran tersebut. KBRI Paramaribo berpartisipasi dengan membuka dua stand, yaitu stand “Wonderful Indonesia” yang mempromosikan berbagai sampel produk Indonesia dan berbagai film tentang keindahan alam, budaya dan tradisi Indonesia. Sedangkan stand “Warung Indonesia” memperkenalkan berbagai makanan dan minuman Indonesia yang menarik minat banyak pengunjung.

(18)

18 10. Pendampingan Misi Bisnis 7

orang CEO Suriname keturunan Jawa ke Indonesia tanggal 15-17 Maret 2016 yang menghasilkan kesepakatan bisnis jangka panjang antara lain rencana kerja sama di bidang teknologi informasi, perbankan syariah dan hak self labelling serta kerja sama pembuatan pabrik pengemasan (packaging Borobudur dan Sido Muncul) di Suriname guna memperluas pasar produk jamu ke negara- negara Karibia. Misi dagang TEI

bertujuan meningkatkan kontak bisnis pengusaha kedua negara.

11. Pada tahun 2015, KBRI Paramaribo secara resmi membuka Business Center (BC) KBRI Paramaribo. Business Center KBRI Paramaribo dibuka oleh Ibu Negara, Mdm. Ingrid Bouterse, pada tanggal 2 Agustus 2015, bertepatan dengan peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI dan 125 tahun Imigrasi Jawa ke Suriname. Tujuan BC sebagai pusat data dan informasi produk Indonesia.

BC KBRI Paramaribo menampilkan produk sampel dan informasi produk unggulan Indonesia serta data eksportir Indonesia (brosur, flyer, CD dsb). BC juga memfasilitasi pengusaha setempat terkait kontak bisnis pengusaha Indonesia.

BIDANG SOSIAL BUDAYA

KBRI Paramaribo berkomitmen untuk terus memajukan potensi sosial dan budaya nasional dalam kerangka bilateral dengan kedua negara akreditasi yaitu Suriname dan Guyana. Dalam hal ini, selama periode tahun 2015-2019, KBRI Paramaribo telah memfasilitasi program kerja sama dari Indonesia maupun menyelenggarakan berbagai program promosi seni budaya Indonesia dalam upaya meningkatkan citra positif Indonesia di negara akreditasi.

Ibu Negara

Republik Suriname, Mdm. Ingrid Bouterse pada pembukaan Business Center KBRI Paramaribo, 2 Agustus 2015

(19)

19 1. Kegiatan-kegiatan promosi terpadu mengenai

Indonesia seperti Indonesian Day dan INDOFAIR memperoleh apresiasi tinggi dari masyarakat Suriname yang selalu menantikan penyelenggaraan kegiatan tersebut setiap tahunnya. Event-event tersebut berhasil menarik banyak warga setempat maupun internasional serta menggerakkan diaspora Indonesia dan menjadi ajang promosi ekonomi dan kebudayaan yang efektif sebagai wahana showcase Indonesia.

2. Pada tahun 2019, program pelatihan kebudayaan yang diadakan secara reguler oleh KBRI Paramaribo yaitu kursus tari, kursus bahasa Jawa dan kursus bahasa Indonesia, serta pelatihan musik karawitan/gamelan menjaring lebih dari 100 peserta yang berasal dari warga negara setempat. Secara umum, peserta kursus tari dan gamelan secara konsisten mengikuti program kegiatan. Lain halnya dengan kursus Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia yang animo pesertanya mengalami fluktuasi seiring program kegiatan berjalan.

Upaya yang dilakukan adalah dengan semakin menggalakkan metode-metode pengajaran yang menarik dan inovatif sehingga dapat terus memotivasi peserta untuk mengikuti kursus hingga tuntas.

3. Pada tahun 2019, sebagai implementasi tindak lanjut Memorandum of Understanding Kerja Sama Pendidikan dan Pelatihan Diplomatik antara RI dan Suriname yang ditandatangani di Bali pada Desember 2018 lalu, delegasi Pusdiklat Kemlu RI yang dipimpin oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Kapusdiklat) telah melakukan

Foto:

Kegiatan Latihan Rutin Gamelan Jawa di KBRI Paramaribo setiap Hari Kamis yang diikuti oleh anak- anak Suriname

(20)

20

kunjungan kerja ke Suriname pada tanggal 23 – 31 Maret 2019. Kunjungan kerja bertujuan untuk berbagi pengalaman pengelolaan pendidikan dan pelatihan diplomatik dengan Suriname Diplomatic Institute (SDI) Kemlu Suriname yang masih dalam proses pengembangan sangat awal. Kegiatan ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak Pemerintah Suriname.

4. Kegiatan capacity building lainnya yang diselenggarakan pada tahun 2019 adalah pelatihan kerajinan tempurung kelapa dan kerajinan gerabah dalam kerangka Kemitraan Kota Kembar (Sister City Partnership) antara Kabupaten Bantul dan Kota Paramaribo yang diselenggarakan sebagai tindak lanjut hasil Sidang Komisi Bersama ke-5 RI-Suriname.

Pelatihan berlangsung selama hampir 1 (satu) bulan sejak tanggal 13 September hingga 11 Oktober 2019. Pada akhir pelatihan, sejumlah 28 (dua puluh delapan) peserta pelatihan kerajinan tempurung kelapa dan 37 (tiga puluh tujuh) peserta pelatihan kerajinan gerabah dipandang layak untuk mendapat sertifikat pelatihan. Apresiasi dan antusiasme yang tinggi terhadap pelatihan ini tidak hanya berasal dari Pemerintah Suriname namun juga masyarakat Suriname. Hal ini terlihat antara lain dengan partisipasi peserta yang berasal dari berbagai kelompok etnis di Suriname (tidak hanya keturunan Jawa namun juga etnis Hindustani, Cina, dan Creole/warga keturunan Afrika).

Foto: Penyerahan sertifikat pelatihan kerajinan tempurung kelapa dan gerabah kepada peserta oleh Menteri Pembangunan Wilayah Suriname, Edgar Dikan; dan Menteri Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Suriname, Lilian Ferrier; dengan didampingi oleh Duta Besar RI di Paramaribo

(21)

21 5. Keberadaan masyarakat

keturunan Jawa di Suriname menjadikan soft power sebagai instrumen diplomasi yang kuat dalam meningkatkan hubungan bilateral RI dan Suriname.

Kegiatan sosial budaya yang secara rutin diselenggarakan KBRI Paramaribo yaitu kursus bahasa Jawa, kursus bahasa Indonesia, kelas seni tari, dan

kelas gamelan selalu mendapat sambutan yang antusias dari kalangan masyarakat maupun Pemerintah Suriname. Kebudayaan Jawa telah menjadi bagian dari kebudayaan Suriname yang multikultural sehingga kerja sama dalam bidang sosial kebudayaan telah terjalin sangat baik dengan Pemerintah Suriname, organisasi non pemerintah seperti Yayasan Peringatan Imigrasi Jawa (Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie/VHJI), kelompok masyarakat, dan media Suriname.

6. Di tahun 2018, KBRI Paramaribo menyelenggarakan Indonesian Day di KBRI pada tanggal 29 April 2018 dalam rangka meningkatkan promosi budaya, kuliner dan produk-produk Indonesia. Pembukaan acara Indonesian Day dilakukan oleh Ibu Negara Suriname, Mme.

Ingrid Bouterse, yang didampingi istri Wakil Presiden Suriname, Mme. Gracella Adhin- Mahabier. Kegiatan tersebut juga

dihadiri oleh Menteri Luar Negeri, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Pendidikan dan Menteri Olahraga dan Urusan Pemuda Suriname, undangan kalangan diplomatik, anggota parlemen dan pejabat pemerintahan di Suriname.

Pertunjukan yang ditampilkan yaitu angklung, tari-tari tradisional Indonesia (Yapong dan Sampur

Urban), peragaan busana Jumputan, pertunjukan badut, ludruk, dan musik antara lain kolaborasi Gafarock asal Lamongan, Indonesia, dan Wong Jowo Band dari Suriname yang menggabungkan music rock dan gamelan yang meramaikan panggung. Selain itu, produk- produk Indonesia yang dipromosikan di booth-booth peserta Indonesian Day antara lain batik dan produk fashion, jamu, kerajinan tangan, dan kuliner seperti tahu lontong, gulai, sop buntut, bakso, soto, es teler, dan sebagainya.

7. Di tahun 2017, KBRI Paramaribo juga telah merintis pendirian Rumah Budaya Indonesia (RBI) di Suriname dengan kegiatan studi kelayakan yang dilakukan oleh tim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri dan Universitas

(22)

22

Indonesia pada tanggal 7-14 Agustus 2017. Kegiatan studi kelayakan diisi dengan kunjungan ke daerah-daerah yang menjadi kantong-kantong masyarakat keturunan Jawa di Suriname seperti distrik Paramaribo, Commewijne, Moengo dan Nickerie, pertemuan dengan tokoh- tokoh pejabat dan masyarakat serta rektor Universitas Anton De Kom, mengadakan pagelaran Wayang pada tanggal 12 Agustus 2017 serta Seminar bertema “Seko Budoyo Mbangun Bongso” pada tanggal 13 Agustus 2017.

8. Pada tahun 2016, pada perayaan 50 tahun kemerdekaan Republik Kooperatif Guyana, KBRI Paramaribo bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Guyana, telah berpartisipasi dalam malam budaya Peringatan 50 Tahun Kemerdekaan Guyana yang diselenggarakan di Indian Monument

Garden, 14 Mei 2016. Dalam kesempatan tersebut, Sanggar Tari KBRI Paramaribo menampilkan tari-tarian adat Bali dan Jawa, serta melakukan kolaborasi tari-tarian Indonesia dengan tari India dari Indian Cultural Center Guyana. Acara dimaksud turut dihadiri oleh Perdana Menteri Guyana, Hon. Mr. Moses Nagamootoo dan Menteri Muda Pendidikan Guyana, Hon. Mdm. Nicolette Henry.

9. Pada tahun 2015, KBRI Paramaribo telah menyelenggarakan promosi kuliner melalui program reguler di TV Lokal yaitu "Dapur Indonesia" sebulan sekali melalui kerja sama dengan Stasiun Televisi “Mustika” di Suriname. Program siaran kuliner tersebut bertujuan memperkenalkan masakan-masakan dari berbagai daerah di Indonesia serta cara memasaknya. Program Dapur Indonesia memperoleh sambutan yang cukup baik dari seluruh lapisan masyarakat Suriname, bukan hanya dari masyarakat keturunan Indonesia.

BIDANG KEKONSULERAN DAN PERLINDUNGAN WNI/BHI KBRI Paramaribo telah menerapkan sejumlah

terobosan dalam rangka meningkatkan pelayanan dan perlindungan WNI/BHI, misalnya sejak tahun 2016 KBRI Paramaribo telah menggunakan media sosial seperti Facebook dan Whatsapp untuk meningkatkan kecepatan respon penanganan permasalahan WNI. KBRI Paramaribo juga memanfaatkan penggunaan website KBRI Paramaribo, Lapor Diri maupun Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR!) sebagai sarana interaktif WNI dengan KBRI Paramaribo.

(23)

23

Selain itu, KBRI juga secara rutin melakukan kegiatan olah raga bersama seperti sepak bola dan badminton sebagai sarana untuk menjangkau para WNI serta untuk berkomunikasi/konsultasi apabila terdapat permasalahan WNI. Selain itu, dalam meningkatkan pelayanan dan WNI di negara akreditasi, KBRI juga melakukan kunjungan/sosialisasi kekonsuleran ke kantong-kantong WNI di Suriname dan Guyana.

Pada tanggal 3 November 2019, KBRI Paramaribo telah menyelenggarakan Sosialisasi Portal Peduli WNI dan Penerbitan Dokumen Imigrasi serta Dokumen Terkait Lainnya pada KBRI Paramaribo di Hotel Torarica, Suriname. Sosialisasi tersebut dibuka oleh Duta Besar RI Paramaribo dengan dihadiri sekitar 127 orang WNI yang terdiri dari Home Staff dan Local Staff KBRI Paramaribo, para tokoh agama, WNI yang menikah dengan warga negara setempat, serta Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari beberapa perusahaan kayu dan Anak Buah Kapal (ABK) yang berada di Suriname.

Para peserta aktif dan antusias dalam mengikuti kegiatan sosialisasi dimaksud melalui sesi tanya jawab mengenai pelayanan dan perlindungan WNI di luar negeri, khususnya wilayah Suriname dan Guyana. Setelah penyampaian materi terkait Portal Peduli WNI dan Safe Travel, para peserta diajak untuk melaporkan diri secara langsung pada portal dan aplikasi tersebut.

(24)

24 Dalam bidang kekonsuleran, KBRI Paramaribo berupaya memberikan pelayanan dan fasilitasi kepada warga negara Indonesia, dalam hal ini, bentuk pelayanan yang diberikan kepada WNI/BHI berupa pelayanan kekonsuleran. KBRI Paramaribo telah menggunakan pelayanan berbasis Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM) yang telah dioperasikan sejak April 2019 untuk menerbitkan paspor, SPLP dan visa.

Sementara itu, jumlah WNI di negara akreditasi KBRI Paramaribo mengalami peningkatan. Berdasarkan catatan, jumlah total WNI di Suriname dan Guyana pada tahun 2017 tercatat sekitar 563 orang. Pada tahun 2018 tercatat jumlah WNI di wilayah akreditasi yang berjumlah sekitar 777 orang. Terhitung Desember 2019 tercatat sekitar 722 WNI berdomisili di Suriname dan Guyana.

Sebagian besar para WNI tersebut berprofesi sebagai PMI ABK di sektor perikanan, pekerja di sektor kehutanan, tokoh agama, tenaga profesional, pekerja tambang, pelajar maupun WNI yang telah menikah dengan WNA.

Sebagaimana Program Prioritas KBRI Paramaribo adalah memberikan pelayanan dan perlindungan kepada WNI di wilayah akreditasi yaitu Suriname dan Guyana. Dalam kaitan ini, bentuk pelayanan dan perlindungan yang diberikan kepada WNI maupun Badan Hukum Indonesia (BHI) antara lain berupa pelayanan kekonsuleran dan mendampingi apabila terjadi permasalahan yang dihadapi oleh setiap WNI di Suriname maupun Guyana.

Selama tahun 2015-2019, KBRI Paramaribo telah menangani sejumlah kasus yang dialami oleh WNI (PMI/PMI ABK) yang berada di Suriname dan Guyana. Berikut beberapa contoh kasus yang telah dirangkum KBRI Paramaribo, antara lain:

 Tahun 2016-2017, KBRI Paramaribo telah membantu penyelesaian sejumlah kasus WNI diantaranya:

(25)

25

 Permasalahan 11 WNI asal perusahaan Hadco yang terlantar di Guyana akibat pemilik perusahaan meninggal dunia. Masalah tersebut dapat diselesaikan dengan dipulangkannya 7 WNI, sedangkan 5 lainnya perlu menyelesaikan sisa pekerjaan yang ada;

 Permasalahan 3 WNI (a.n. Mahdi, Robi dan, Gunardi) asal perusahaan Carib Fisheries A.V.V. Suriname yang diperlakukan secara tidak wajar sehingga dipulangkan ke Indonesia;

 Permasalahan 2 WNI (a.n. Muktar dan Akbar) asal perusahaan Everwood N.V. yang melarikan diri dari perusahaan kemudian keduanya dipulangkan ke Indonesia;

 Kasus pengeroyokan yang dilakukan oleh 14 WNI (PMI ABK) Indonesia kepada rekan sesama 1 WNI (PMI ABK) Indonesia yang bekerja pada perusahaan Gilontas Ocean Panama di Suriname.

 Tahun 2018, KBRI Paramaribo telah membantu penyelesaian permasalahan 26 WNI (PMI ABK) asal perusahaan Pritipaul Singh Investment di Guyana yang terlantar selama kurang lebih 1 minggu dikarenakan mogok kerja akibat gaji dan bonus kerja mereka yang tidak dibayar sesuai kontrak kerja. Pada akhirnya KBRI Paramaribo melakukan mediasi dengan perusahaan sehingga mereka bersedia untuk memulangkan 26 WNI tersebut.

 Tahun 2019, KBRI Paramaribo telah membantu penyelesaian kasus WNI diantaranya:

 Pemulangan 2 (dua) jenazah WNI (PMI) yang bekerja di perusahaan kayu dan perusahaan ikan atas nama Iin Dyah Wati yang bekerja di perusahaan Eversur dan Abdul Rosyid yang bekerja di perusahaan Carib Fisheries A.V.V. Kedua PMI dimaksud meninggal karena mengalami kecelakaan kerja;

 Di wilayah Guyana, pada April 2019, seorang WNI (PMI) atas nama Daniel Sambara asal perusahaan Demerara Timber Limited (DTL) mengalami kecelakaan saat bekerja yang menyebabkan ybs meninggal dunia pada saat kejadian. Setelah menerima informasi dimaksud, pihak KBRI Paramaribo datang secara langsung ke rumah sakit untuk melihat kondisi jenazah, serta mengupayakan kepulangan jenazah dari Guyana ke kampung halamannya di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pihak KBRI Paramaribo juga membantu untuk mengurus hak-hal keuangan almarhum dan sudah diterima oleh istrinya secara langsung;

 2 (dua) orang WNI (PMI) asal perusahaan Toolsie Persaud Ltd (a.n. Dolah Saleh dan Baba) mengalami permasalahan ketika mereka telah bekerja sesuai dengan kontrak selama 2 (dua) tahun dan tidak dipulangkan setelah selesainya kontrak. Pihak KBRI Paramaribo telah menghubungi pihak perusahaan melalui Konsul Kehormatan di Guyana dan berhasil melakukan negosiasi sehingga gaji PMI tersebut dibayarkan. Sdr. Baba telah dipulangkan ke Indonesia, sedangkan Sdr. Dolah Saleh memilih untuk tinggal dan bekerja di perusahaan lain yaitu Variety Woods & Greenheart Guyana hingga saat ini.

BIDANG MANAJEMEN DAN ADMINISTRASI

Dari segi manajemen kinerja, berdasarkan hasil evaluasi AKIP Tahun 2019 menunjukkan bahwa KBRI Paramaribo memperoleh nilai 73,86 atau predikat “BB” yang berarti bahwa KBRI Paramaribo telah memiliki sistem kinerja yang sangat baik, akuntabel, berkinerja baik serta memiliki sistem manajemen kinerja yang andal.

Nilai evaluasi AKIP KBRI Paramaribo mengalami peningkatan dari tahun 2018, yaitu 73,73 atau predikat “BB”. Kenaikan nilai evaluasi AKIP tersebut terdapat pada 3 komponen yang dinilai yaitu Perencanaan Kinerja, Evaluasi Internal dan Capaian Kinerja.

(26)

26

Selama periode tahun 2015-2019, KBRI Paramaribo berkomitmen untuk dapat meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan sesuai dengan Standar Akuntasi Pemerintahan. Pengelolaan keuangan terhadap anggaran yang efektif dan efisien tercermin dari penyerapan yang ditunjukkan dari besarnya realisasi anggaran yang telah dicapai dari tahun 2015-2019. Besaran tersebut merupakan cerminan bahwa kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan KBRI Paramaribo dapat terealisasi sesuai dengan alokasi anggaran yang telah disusun kemudian dianalisa agar periode berikutnya dapat berjalan dengan lebih baik lagi. Realisasi anggaran KBRI Paramaribo periode 2015-2019 adalah:

Pada Tahun 2019, KBRI Paramaribo telah melakukan realisasi anggaran sebesar Rp.

20.206.772.672 (dua puluh milyar dua ratus enam juta tujuh ratus tujuh puluh dua ribu enam ratus tujuh puluh dua rupiah) atau 95,92% (sembilan puluh lima koma sembilan puluh dua persen).

Meskipun demikian, masih terdapat beberapa capaian kinerja administrasi dan anggaran KBRI Paramaribo pada periode tahun 2015-2019 yang belum mencapai hasil maksimal, khususnya terkait keterbatasan anggaran DIPA, tingginya nilai kurs/adanya perbedaan kurs sehingga Rupiah menguat terhadap mata uang Dollar Amerika Serikat, dsb. Namun, KBRI Paramaribo terus mengupayakan agar berbagai program kinerja yang belum dapat dicapai di tahun sebelumnya, akan diupayakan untuk dapat direalisasikan pada tahun berikutnya.

1.2. POTENSI DAN PERMASALAHAN

Mengawali tahun 2020, lebih dari 200 negara dan wilayah mengalami tantangan dengan adanya virus Corona (COVID-19) yang mengakibatkan pandemi. Pandemi COVID-19 telah menyebabkan ketidakpastian dan berdampak signifikan pada pelaksanaan politik luar negeri Indonesia termasuk bagi KBRI Paramaribo dengan negara akreditasi: Suriname dan Guyana serta CARICOM. Pandemi COVID-19 juga berimbas pada pelaksanaan hubungan politik, ekonomi, sosial budaya serta interaksi dan perlindungan WNI dari KBRI Paramaribo di Suriname dan Guyana. Dampak dari pandemi tersebut tidak hanya akan dirasakan pada tahun berjalan, namun diprediksi masih tetap akan terbawa hingga tahun mendatang.

Dalam rangka melaksanakan tugas yang diamanatkan sesuai dengan RENSTRA Kementerian Luar Negeri tahun 2020-2024, KBRI Paramaribo memiliki sejumlah potensi/kekuatan-kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan ancaman/hambatan (threat).

10%0%

20%30%

40%50%

60%70%

80%90%

100%

TA 2015

TA 2016

TA 2017

TA 2018

TA 2019 Tahun 2015-2019 95% 71.77% 88.90% 94.65% 95.92%

REALISASI ANGGARAN KBRI PARAMARIBO

(27)

27

Adapun analisis SWOT (strengths, weakness, opportunity and threat) KBRI Paramaribo yaitu sebagai berikut:

KEKUATAN-KEKUATAN (STRENGTHS)

a. Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung dalam pelaksanaan tugas Perwakilan RI Paramaribo, khususnya dari komposisi dan kompetensi yang dimiliki. Saat ini, tercatat jumlah Home Staff (HS) KBRI Paramaribo sebanyak 7 (tujuh) orang yang sesuai dengan ketentuan besetting Pusat.

b. Secara politik, hubungan Indonesia dengan negara akreditasi sangat stabil. Indonesia dipandang sebagai negara sahabat yang menghormati kedaulatan negara setempat dan sebagai mitra yang memperjuangkan kepentingan serta pembangunan negara berkembang.

c. Forum dan kesepakatan kerja sama bilateral dengan negara akreditasi, antara lain:

 Komisi Bersama (Joint Commission) Indonesia-Suriname, yang didasarkan pada Perjanjian mengenai kerja sama ekonomi dan perdagangan, yang ditandatangani oleh kedua negara pada 18 Mei 1992 di Jakarta. Sidang ke-1 Komisi Bersama (SKB I) telah diselenggarakan di Paramaribo-Suriname, pada 23 April 2003; SKB II pada 22 November 2004 di Yogyakarta-Indonesia; SKB III pada 15 Mei 2007 di Paramaribo- Suriname; SKB IV pada 9-10 November 2009 di Solo-Indonesia; dan SKB V pada 17- 18 September 2018 di Paramaribo-Suriname.

 Memorandum Saling Pengertian mengenai Aktivitas Bersama untuk Penguatan Konsultasi dan Komunikasi Bilateral oleh Menlu RI-Suriname pada saat kunjungan Menlu Lackin ke Indonesia, 17-20 Maret 2013.

 Kerja sama Visa on Arrival (VoA) Indonesia dan Suriname dalam mendukung peningkatan people-to-people contact.

 Pengangkatan Mr. Sheik Shakkur Niamatali sebagai Konsul Kehormatan RI di Georgetown, Republik Kooperatif Guyana, dalam rangka mendukung pelayanan kekonsuleran bagi WNI di Guyana.

 Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Suriname mengenai Pembebasan Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik, Paspor Dinas dan Paspor Biasa untuk memperkuat hubungan persahabatan, ikatan erat antara RI-Suriname serta untuk memfasilitasi saling kunjung warga negara dari Indonesia dan Suriname pemegang paspor diplomatik, paspor dinas dan paspor biasa, yang ditandatangani oleh Menlu RI dan Menlu Suriname pada 20 Mei 2019.

d. Pada tahun 2018, Indonesia secara resmi telah terakreditasi di CARICOM sebagai salah satu Third States accredited to CARICOM.

e. Persamaan historis dan budaya antara Indonesia dengan Suriname sebagai negara bekas jajahan Belanda dan tingginya populasi masyarakat Suriname keturunan Indonesia (etnis Jawa) yang tinggal di Suriname (14%). Kondisi tersebut cukup menguntungkan mengingat:

(28)

28

 Suriname saat ini memiliki sejumlah pejabat tinggi dan tokoh masyarakat keturunan Jawa Suriname yang menduduki posisi penting di pemerintahan, parlemen dan sektor swasta di Suriname.

 Keberadaan masyarakat keturunan Jawa di Suriname menjadikan soft power sebagai instrumen diplomasi yang kuat dalam meningkatkan hubungan bilateral RI dan Suriname.

 Kemudahan akses dan diseminasi informasi melalui media masa berbahasa Jawa di Suriname seperti TV dan Radio Garuda, TV dan Radio Mustika, TV dan Radio Pertjaja serta Radio Bersama yang banyak menampilkan budaya Indonesia.

f. Semakin tingginya pemahaman dan menguatnya citra serta kepercayaan Pemerintah dan masyarakat di negara akreditasi tentang Indonesia mendorong peningkatan kegiatan saling kunjung pejabat kedua negara.

g. Negara akreditasi secara konsisten memberikan dukungan untuk merealisasikan kerja sama bilateral di berbagai bidang, meskipun negara akreditasi cenderung menempatkan posisinya sebagai penerima bantuan atau program capacity building.

KELEMAHAN-KELEMAHAN (WEAKNESSES)

a. Kondisi ekonomi Suriname dan Guyana yang menurun hingga mengalami krisis sejak triwulan III tahun 2015. Pada tahun 2019 kedua negara telah menunjukkan perbaikan di bidang ekonomi namun masih belum cukup pulih dari krisis.

b. Perekonomian Suriname sangat rentan terhadap ketidakpastian (volatility) harga komoditi tambang dan mineral dunia.

c. Jarak yang cukup jauh antara Indonesia dengan Suriname serta Guyana (kawasan Amerika Selatan), termasuk perbedaan waktu yang cukup signifikan antara Indonesia dengan Suriname (10 jam) dan Indonesia dengan Guyana (11 jam).

d. Terbatasnya konektivitas, baik melalui jalur udara maupun jalur laut antara Indonesia–

Suriname dan Indonesia–Guyana serta mahalnya biaya penerbangan dari Indonesia menuju negara akreditasi menjadi tantangan bagi kegiatan perdagangan dan upaya peningkatan people-to-people contact antara Indonesia dengan negara akreditasi.

e. Impor Suriname dan Guyana terhadap komoditas ekspor nasional dari Indonesia masih relatif rendah yang disebabkan biaya pengiriman produk-produk Indonesia ke negara akreditasi menjadi lebih mahal dan sulit bersaing dengan produk-produk dari Republik Rakyat Tiongkok, Brasil, Trinidad & Tobago, Jamaika, Amerika Serikat dan Belanda, meskipun kualitas produk-produk Indonesia lebih baik.

f. Jumlah penduduk di Suriname yaitu sekitar 581.363 jiwa dan di Guyana sekitar 782.766 jiwa (World Bank 2019, https://data.worldbank.org/?locations=SR-GY) menjadi salah satu faktor yang kurang menarik bagi pengusaha Indonesia karena peluang pasar yang terbatas dan kurang menjanjikan.

(29)

29 PELUANG-PELUANG (OPPORTUNITIES)

a. Keberadaan dan peran Indonesia dinilai cukup penting sebagai sesama negara berkembang dan Selatan-Selatan. Hal ini tercermin dengan:

 Saling kunjung pejabat tinggi kedua negara antara lain: kunjungan Presiden Suriname Runaldo Ronald Venetiaan ke Indonesia (1994) dan Presiden RI Soeharto ke Suriname (1995), kunjungan Menteri kedua negara diantaranya kunjungan Menlu RI Retno L.P Marsudi dan bertemu dengan Menlu Suriname, Yldiz-Pollack Beighle serta mengadakan kunjungan kehormatan kepada Presiden Suriname (2019), kunjungan Menlu Suriname ke Indonesia dalam rangka menghadiri Bali Democracy Forum (BDF) ke-11 (2018), kunjungan Menpora RI Imam Nahrawi ke Suriname (2016), kunjungan Menpora Suriname Bambang Ismanto Adna ke Indonesia (2015), kunjungan delegasi pemerintahan kedua negara, kunjungan delegasi/misi kesenian, kunjungan dagang Suriname ke TEI, dsb.

 Dukungan dari pemerintah Suriname dan Guyana terhadap pencalonan keanggotaan Indonesia di fora internasional. Selama periode tahun 2015-2019, tercatat saling dukung antara Indonesia dengan negara akreditasi diantaranya pemberian suara dari Suriname dan Guyana pada pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB 2020-2022 dan International Maritime Organization (IMO) kategori “C” 2020-2021, pernyataan dukungan pencalonan keanggotaan Indonesia dari Suriname dan Guyana pada Keanggotaan Tidak Tetap di DK PBB periode 2019- 2020 dan pada International Telecommunication Union (ITU) periode 2018-2020, Pemerintah Suriname juga memberikan dukungan kepada pencalonan Indonesia pada Dewan Arsip Internasional (ICA), dukungan pencalonan keanggotaan RI dari Suriname pada Council of the International Maritime Organization (IMO) Category C periode 2018-2019, Guyana memberikan dukungan pada pencalonan Indonesia pada forum Council of the International Maritime Organization (IMO) kategori “C” periode 2018-2019, di Council of International Tribunal on the Law of the Sea periode 2017- 2026, Committe on the Eliminations of Discrimination Against Woman (CEDAW) periode 2017-2020 dan keanggotaan Indonesia di Executive Board UNESCO 2018- 2019 serta dukungan terhadap pencalonan Mrs. Margo Waterval dari Suriname pada Komite HAM periode 2015-2016.

 Kesamaan sikap dan kebijakan Indonesia dengan kedua negara akreditasi serta CARICOM dalam berbagai forum internasional seperti PBB, G-77 (Non-Blok), FEALAC, dsb pada isu-isu seperti perubahan iklim global, ketahanan pangan, energy, pengentasan kemiskinan, penyakit menular, terorisme, gerakan separatisme, perdagangan manusia, dsb.

 Saling perhatian dan kepedulian jika salah satu negara mengalami musibah/bencana alam.

b. Kondisi negara akreditasi yang memiliki ketergantungan tinggi atas produk impor dan sebagai anggota Pasar Bersama CARICOM.

c. Kebijakan negara akreditasi untuk meningkatkan peran dan kerja sama internasionalnya dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi nasionalnya.

(30)

30

d. Sebagai satu-satunya Perwakilan Negara ASEAN di Suriname dan Guyana, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjembatani peluang peningkatan kerja sama regional antara ASEAN dengan organisasi CARICOM.

ANCAMAN/HAMBATAN (THREATS)

a. Prioritas kebijakan polugri negara akreditasi bagi peningkatan hubungan negara sekitar kawasan, seperti pemberlakuan Free Trade Americans Area (FTAA) dan Caribbean Single Market & Economy (CSME), yang lebih mengutamakan perdagangan antar-negara anggota yang dapat menghambat komoditas dari luar negara-negara di luar FTAA dan CSME, termasuk Indonesia.

b. Terjadinya krisis ekonomi di kedua negara sejak akhir tahun 2015 yang diakibatkan oleh menurunnya kondisi perekonomian global dan jatuhnya harga-harga komoditi ekspor kedua negara akreditasi.

c. Kompetisi yang tinggi akibat semakin dominannya ekspansi produk-produk impor asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan harga yang cukup kompetitif, termasuk bantuan ekonomi RRT kepada Suriname dan Guyana, menjadi faktor penghambat daya saing produk-produk Indonesia.

d. Terbatasnya penyedia transportasi yang masih dimonopoli perusahaan penerbangan Belanda (KLM) dan Suriname (SLM).

e. Bahasa juga menjadi kendala utama bagi para pengusaha Indonesia yang ingin memasarkan produk Indonesia di Suriname yang umumnya menggunakan Bahasa Belanda.

f. Semakin memudarnya bahasa dan budaya Jawa, khususnya di kalangan generasi muda di Suriname.

(31)

31 Analisis SWOT KBRI Paramaribo

Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang merupakan unsur SWOT dari KBRI Paramaribo dan sangat berpengaruh. Melalui identifikasi tersebut, langkah selanjutnya yaitu menetapkan bobot dari masing-masing unsur SWOT untuk mengetahui mana yang paling dominan berpengaruh dari unsur SWOT tersebut.

Strengths

- Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung dalam pelaksanaan tugas Perwakilan RI Paramaribo.

- Secara politik, hubungan Indonesia dengan negara akreditasi sangat stabil.

- Forum dan kesepakatan kerja sama bilateral dengan negara akreditasi.

- Pada tahun 2018, Indonesia secara resmi telah terakreditasi di CARICOM sebagai salah satu Third States accredited to CARICOM.

- Persamaan historis dan budaya.

- Semakin tingginya pemahaman dan menguatnya citra serta kepercayaan Pemerintah dan masyarakat di negara akreditasi.

- Negara akreditasi secara konsisten memberikan dukungan.

Weaknesses

- Kondisi ekonomi Suriname dan Guyana yang menurun hingga mengalami krisis sejak triwulan III tahun 2015.

- Perekonomian Suriname sangat rentan terhadap ketidakpastian (volatility).

- Jarak yang cukup jauh antara Indonesia dengan Suriname serta Guyana.

- Terbatasnya konektivitas, baik melalui jalur udara maupun jalur laut antara Indonesia–Suriname dan Indonesia–Guyana.

- Impor Suriname dan Guyana terhadap komoditas ekspor nasional dari Indonesia masih relatif rendah.

- Jumlah penduduk di Suriname yaitu sekitar 581.363 jiwa dan di Guyana sekitar 782.766 jiwa menjadi salah satu faktor yang kurang menarik bagi pengusaha Indonesia karena peluang pasar yang terbatas dan kurang menjanjikan.

Opportunities

- Keberadaan dan peran Indonesia dinilai cukup penting sebagai sesama negara berkembang dan Selatan-Selatan.

- Kondisi negara akreditasi yang memiliki ketergantungan tinggi atas produk impor dan sebagai anggota Pasar Bersama CARICOM.

- Kebijakan negara akreditasi untuk meningkatkan peran dan kerja sama internasionalnya dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi nasionalnya.

- Sebagai satu-satunya Perwakilan Negara ASEAN di Suriname dan Guyana, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjembatani peluang peningkatan kerja sama regional antara ASEAN dengan organisasi CARICOM.

Threats

- Pemberlakuan Free Trade Americans Area (FTAA) dan Caribbean Single Market & Economy (CSME).

- Terjadinya krisis ekonomi di kedua negara sejak akhir tahun 2015 yang diakibatkan oleh menurunnya kondisi perekonomian global.

- Semakin dominannya ekspansi produk-produk impor asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan harga yang cukup kompetitif, termasuk bantuan ekonomi RRT kepada Suriname dan Guyana, menjadi faktor penghambat daya saing produk-produk Indonesia.

- Terbatasnya penyedia transportasi yang masih dimonopoli perusahaan penerbangan Belanda (KLM) dan Suriname (SLM).

- Bahasa juga menjadi kendala utama bagi para pengusaha Indonesia yang ingin memasarkan produk Indonesia di Suriname yang umumnya menggunakan Bahasa Belanda.

- Semakin memudarnya bahasa dan budaya Jawa, khususnya di kalangan generasi muda di Suriname.

(32)

32 Kesimpulan Analisa Faktor Internal (KAFI)

No. Faktor Internal Bobot Rating Score

(3x4)

Kesimpulan (Prioritas)

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kekuatan (Strength)

1 Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung dalam pelaksanaan tugas Perwakilan RI Paramaribo.

30 4 120 I

2 Secara politik, hubungan Indonesia dengan negara akreditasi sangat stabil.

10 3 30 IV

3 Forum dan kesepakatan kerja sama bilateral dengan negara akreditasi.

5 3 15 V

4 Pada tahun 2018, Indonesia secara resmi telah terakreditasi di CARICOM sebagai salah satu Third States accredited to CARICOM.

20 3 60 II

5 Persamaan historis dan budaya. 10 3 30 VII

6 Semakin tingginya pemahaman dan menguatnya citra serta kepercayaan Pemerintah dan masyarakat di negara akreditasi.

20 3 60 III

7 Negara akreditasi secara konsisten memberikan dukungan.

5 3 15 VI

Kelemahan (Weakness)

1 Kondisi ekonomi Suriname dan Guyana yang menurun hingga mengalami krisis sejak triwulan III tahun 2015.

20 3 60 III

2 Perekonomian Suriname sangat rentan terhadap ketidakpastian (volatility).

20 3 60 IV

3 Jarak yang cukup jauh antara Indonesia dengan Suriname serta Guyana.

20 4 80 I

4 Terbatasnya konektivitas, baik melalui jalur udara maupun jalur laut antara Indonesia–

Suriname dan Indonesia–Guyana.

20 4 80 II

5 Impor Suriname dan Guyana terhadap komoditas ekspor nasional dari Indonesia masih relatif rendah.

10 3 30 V

6 Jumlah penduduk di Suriname yaitu sekitar 581.363 jiwa dan di Guyana sekitar 782.766 jiwa menjadi salah satu faktor yang kurang menarik bagi pengusaha Indonesia karena peluang pasar yang terbatas dan kurang menjanjikan.

10 3 30 VI

Kesimpulan Analisa Faktor Eksternal (KAFE)

No. Faktor Eksternal Bobot Rating Score

(3x4)

Kesimpulan (Prioritas)

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Peluang (Opportunity)

1 Keberadaan dan peran Indonesia dinilai cukup penting sebagai sesama negara berkembang dan Selatan-Selatan.

30 4 120 I

2 Kondisi negara akreditasi yang memiliki ketergantungan tinggi atas produk impor dan sebagai anggota Pasar Bersama CARICOM.

10 3 30 IV

(33)

33 3 Kebijakan negara akreditasi untuk

meningkatkan peran dan kerja sama internasionalnya dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi nasionalnya.

10 3 30 III

4 Sebagai satu-satunya Perwakilan Negara ASEAN di Suriname dan Guyana, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjembatani peluang peningkatan kerja sama regional antara ASEAN dengan organisasi CARICOM.

20 3 60 II

Tantangan (Threats)

1 Pemberlakuan Free Trade Americans Area (FTAA) dan Caribbean Single Market &

Economy (CSME).

20 3 60 III

2 Terjadinya krisis ekonomi di kedua negara sejak akhir tahun 2015 yang diakibatkan oleh menurunnya kondisi perekonomian global.

20 4 80 II

3 Semakin dominannya ekspansi produk-produk impor asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan harga yang cukup kompetitif, termasuk bantuan ekonomi RRT kepada Suriname dan Guyana, menjadi faktor penghambat daya saing produk-produk Indonesia.

20 4 80 I

4 Terbatasnya penyedia transportasi yang masih dimonopoli perusahaan penerbangan Belanda (KLM) dan Suriname (SLM).

10 3 30 IV

5 Bahasa juga menjadi kendala utama bagi para pengusaha Indonesia yang ingin memasarkan produk Indonesia di Suriname yang umumnya menggunakan Bahasa Belanda.

10 3 30 V

6 Semakin memudarnya bahasa dan budaya Jawa, khususnya di kalangan generasi muda di Suriname.

10 3 30 VI

Keterangan:

Bobot didasarkan pada dampak yang ditimbulkan pada keberhasilan kini dan kedepan dengan nilai total 100.

Rating adalah setiap faktor yang menggunakan pendekatan skala 1 sampai dengan 4 dengan keterangan 1 (paling tidak menonjol), 2 (tidak menonjol), 3 (menonjol), 4 (sangat menonjol).

Referensi

Dokumen terkait