• Tidak ada hasil yang ditemukan

REALISASI ANGGARAN KBRI PARAMARIBO

Dalam dokumen RENSTRA KBRI Paramaribo (Halaman 26-30)

27

Adapun analisis SWOT (strengths, weakness, opportunity and threat) KBRI Paramaribo yaitu sebagai berikut:

KEKUATAN-KEKUATAN (STRENGTHS)

a. Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung dalam pelaksanaan tugas Perwakilan RI Paramaribo, khususnya dari komposisi dan kompetensi yang dimiliki. Saat ini, tercatat jumlah Home Staff (HS) KBRI Paramaribo sebanyak 7 (tujuh) orang yang sesuai dengan ketentuan besetting Pusat.

b. Secara politik, hubungan Indonesia dengan negara akreditasi sangat stabil. Indonesia dipandang sebagai negara sahabat yang menghormati kedaulatan negara setempat dan sebagai mitra yang memperjuangkan kepentingan serta pembangunan negara berkembang.

c. Forum dan kesepakatan kerja sama bilateral dengan negara akreditasi, antara lain:

 Komisi Bersama (Joint Commission) Indonesia-Suriname, yang didasarkan pada Perjanjian mengenai kerja sama ekonomi dan perdagangan, yang ditandatangani oleh kedua negara pada 18 Mei 1992 di Jakarta. Sidang ke-1 Komisi Bersama (SKB I) telah diselenggarakan di Paramaribo-Suriname, pada 23 April 2003; SKB II pada 22 November 2004 di Yogyakarta-Indonesia; SKB III pada 15 Mei 2007 di Paramaribo-Suriname; SKB IV pada 9-10 November 2009 di Solo-Indonesia; dan SKB V pada 17-18 September 2017-18 di Paramaribo-Suriname.

 Memorandum Saling Pengertian mengenai Aktivitas Bersama untuk Penguatan Konsultasi dan Komunikasi Bilateral oleh Menlu RI-Suriname pada saat kunjungan Menlu Lackin ke Indonesia, 17-20 Maret 2013.

 Kerja sama Visa on Arrival (VoA) Indonesia dan Suriname dalam mendukung peningkatan people-to-people contact.

 Pengangkatan Mr. Sheik Shakkur Niamatali sebagai Konsul Kehormatan RI di Georgetown, Republik Kooperatif Guyana, dalam rangka mendukung pelayanan kekonsuleran bagi WNI di Guyana.

 Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Suriname mengenai Pembebasan Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik, Paspor Dinas dan Paspor Biasa untuk memperkuat hubungan persahabatan, ikatan erat antara RI-Suriname serta untuk memfasilitasi saling kunjung warga negara dari Indonesia dan Suriname pemegang paspor diplomatik, paspor dinas dan paspor biasa, yang ditandatangani oleh Menlu RI dan Menlu Suriname pada 20 Mei 2019.

d. Pada tahun 2018, Indonesia secara resmi telah terakreditasi di CARICOM sebagai salah satu Third States accredited to CARICOM.

e. Persamaan historis dan budaya antara Indonesia dengan Suriname sebagai negara bekas jajahan Belanda dan tingginya populasi masyarakat Suriname keturunan Indonesia (etnis Jawa) yang tinggal di Suriname (14%). Kondisi tersebut cukup menguntungkan mengingat:

28

 Suriname saat ini memiliki sejumlah pejabat tinggi dan tokoh masyarakat keturunan Jawa Suriname yang menduduki posisi penting di pemerintahan, parlemen dan sektor swasta di Suriname.

 Keberadaan masyarakat keturunan Jawa di Suriname menjadikan soft power sebagai instrumen diplomasi yang kuat dalam meningkatkan hubungan bilateral RI dan Suriname.

 Kemudahan akses dan diseminasi informasi melalui media masa berbahasa Jawa di Suriname seperti TV dan Radio Garuda, TV dan Radio Mustika, TV dan Radio Pertjaja serta Radio Bersama yang banyak menampilkan budaya Indonesia.

f. Semakin tingginya pemahaman dan menguatnya citra serta kepercayaan Pemerintah dan masyarakat di negara akreditasi tentang Indonesia mendorong peningkatan kegiatan saling kunjung pejabat kedua negara.

g. Negara akreditasi secara konsisten memberikan dukungan untuk merealisasikan kerja sama bilateral di berbagai bidang, meskipun negara akreditasi cenderung menempatkan posisinya sebagai penerima bantuan atau program capacity building.

KELEMAHAN-KELEMAHAN (WEAKNESSES)

a. Kondisi ekonomi Suriname dan Guyana yang menurun hingga mengalami krisis sejak triwulan III tahun 2015. Pada tahun 2019 kedua negara telah menunjukkan perbaikan di bidang ekonomi namun masih belum cukup pulih dari krisis.

b. Perekonomian Suriname sangat rentan terhadap ketidakpastian (volatility) harga komoditi tambang dan mineral dunia.

c. Jarak yang cukup jauh antara Indonesia dengan Suriname serta Guyana (kawasan Amerika Selatan), termasuk perbedaan waktu yang cukup signifikan antara Indonesia dengan Suriname (10 jam) dan Indonesia dengan Guyana (11 jam).

d. Terbatasnya konektivitas, baik melalui jalur udara maupun jalur laut antara Indonesia–

Suriname dan Indonesia–Guyana serta mahalnya biaya penerbangan dari Indonesia menuju negara akreditasi menjadi tantangan bagi kegiatan perdagangan dan upaya peningkatan people-to-people contact antara Indonesia dengan negara akreditasi.

e. Impor Suriname dan Guyana terhadap komoditas ekspor nasional dari Indonesia masih relatif rendah yang disebabkan biaya pengiriman produk-produk Indonesia ke negara akreditasi menjadi lebih mahal dan sulit bersaing dengan produk-produk dari Republik Rakyat Tiongkok, Brasil, Trinidad & Tobago, Jamaika, Amerika Serikat dan Belanda, meskipun kualitas produk-produk Indonesia lebih baik.

f. Jumlah penduduk di Suriname yaitu sekitar 581.363 jiwa dan di Guyana sekitar 782.766 jiwa (World Bank 2019, https://data.worldbank.org/?locations=SR-GY) menjadi salah satu faktor yang kurang menarik bagi pengusaha Indonesia karena peluang pasar yang terbatas dan kurang menjanjikan.

29 PELUANG-PELUANG (OPPORTUNITIES)

a. Keberadaan dan peran Indonesia dinilai cukup penting sebagai sesama negara berkembang dan Selatan-Selatan. Hal ini tercermin dengan:

 Saling kunjung pejabat tinggi kedua negara antara lain: kunjungan Presiden Suriname Runaldo Ronald Venetiaan ke Indonesia (1994) dan Presiden RI Soeharto ke Suriname (1995), kunjungan Menteri kedua negara diantaranya kunjungan Menlu RI Retno L.P Marsudi dan bertemu dengan Menlu Suriname, Yldiz-Pollack Beighle serta mengadakan kunjungan kehormatan kepada Presiden Suriname (2019), kunjungan Menlu Suriname ke Indonesia dalam rangka menghadiri Bali Democracy Forum (BDF) ke-11 (2018), kunjungan Menpora RI Imam Nahrawi ke Suriname (2016), kunjungan Menpora Suriname Bambang Ismanto Adna ke Indonesia (2015), kunjungan delegasi pemerintahan kedua negara, kunjungan delegasi/misi kesenian, kunjungan dagang Suriname ke TEI, dsb.

 Dukungan dari pemerintah Suriname dan Guyana terhadap pencalonan keanggotaan Indonesia di fora internasional. Selama periode tahun 2015-2019, tercatat saling dukung antara Indonesia dengan negara akreditasi diantaranya pemberian suara dari Suriname dan Guyana pada pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB 2020-2022 dan International Maritime Organization (IMO) kategori “C” 2020-2021, pernyataan dukungan pencalonan keanggotaan Indonesia dari Suriname dan Guyana pada Keanggotaan Tidak Tetap di DK PBB periode 2019-2020 dan pada International Telecommunication Union (ITU) periode 2018-2019-2020, Pemerintah Suriname juga memberikan dukungan kepada pencalonan Indonesia pada Dewan Arsip Internasional (ICA), dukungan pencalonan keanggotaan RI dari Suriname pada Council of the International Maritime Organization (IMO) Category C periode 2018-2019, Guyana memberikan dukungan pada pencalonan Indonesia pada forum Council of the International Maritime Organization (IMO) kategori “C” periode 2018-2019, di Council of International Tribunal on the Law of the Sea periode 2017-2026, Committe on the Eliminations of Discrimination Against Woman (CEDAW) periode 2017-2020 dan keanggotaan Indonesia di Executive Board UNESCO 2018-2019 serta dukungan terhadap pencalonan Mrs. Margo Waterval dari Suriname pada Komite HAM periode 2015-2016.

 Kesamaan sikap dan kebijakan Indonesia dengan kedua negara akreditasi serta CARICOM dalam berbagai forum internasional seperti PBB, G-77 (Non-Blok), FEALAC, dsb pada isu-isu seperti perubahan iklim global, ketahanan pangan, energy, pengentasan kemiskinan, penyakit menular, terorisme, gerakan separatisme, perdagangan manusia, dsb.

 Saling perhatian dan kepedulian jika salah satu negara mengalami musibah/bencana alam.

b. Kondisi negara akreditasi yang memiliki ketergantungan tinggi atas produk impor dan sebagai anggota Pasar Bersama CARICOM.

c. Kebijakan negara akreditasi untuk meningkatkan peran dan kerja sama internasionalnya dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi nasionalnya.

30

d. Sebagai satu-satunya Perwakilan Negara ASEAN di Suriname dan Guyana, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjembatani peluang peningkatan kerja sama regional antara ASEAN dengan organisasi CARICOM.

Dalam dokumen RENSTRA KBRI Paramaribo (Halaman 26-30)

Dokumen terkait