a. Prioritas kebijakan polugri negara akreditasi bagi peningkatan hubungan negara sekitar kawasan, seperti pemberlakuan Free Trade Americans Area (FTAA) dan Caribbean Single Market & Economy (CSME), yang lebih mengutamakan perdagangan antar-negara anggota yang dapat menghambat komoditas dari luar negara-negara di luar FTAA dan CSME, termasuk Indonesia.
b. Terjadinya krisis ekonomi di kedua negara sejak akhir tahun 2015 yang diakibatkan oleh menurunnya kondisi perekonomian global dan jatuhnya harga-harga komoditi ekspor kedua negara akreditasi.
c. Kompetisi yang tinggi akibat semakin dominannya ekspansi produk-produk impor asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan harga yang cukup kompetitif, termasuk bantuan ekonomi RRT kepada Suriname dan Guyana, menjadi faktor penghambat daya saing produk-produk Indonesia.
d. Terbatasnya penyedia transportasi yang masih dimonopoli perusahaan penerbangan Belanda (KLM) dan Suriname (SLM).
e. Bahasa juga menjadi kendala utama bagi para pengusaha Indonesia yang ingin memasarkan produk Indonesia di Suriname yang umumnya menggunakan Bahasa Belanda.
f. Semakin memudarnya bahasa dan budaya Jawa, khususnya di kalangan generasi muda di Suriname.
31 Analisis SWOT KBRI Paramaribo
Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang merupakan unsur SWOT dari KBRI Paramaribo dan sangat berpengaruh. Melalui identifikasi tersebut, langkah selanjutnya yaitu menetapkan bobot dari masing-masing unsur SWOT untuk mengetahui mana yang paling dominan berpengaruh dari unsur SWOT tersebut.
Strengths
- Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung dalam pelaksanaan tugas Perwakilan RI Paramaribo.
- Secara politik, hubungan Indonesia dengan negara akreditasi sangat stabil.
- Forum dan kesepakatan kerja sama bilateral dengan negara akreditasi.
- Pada tahun 2018, Indonesia secara resmi telah terakreditasi di CARICOM sebagai salah satu Third States accredited to CARICOM.
- Persamaan historis dan budaya.
- Semakin tingginya pemahaman dan menguatnya citra serta kepercayaan Pemerintah dan masyarakat di negara akreditasi.
- Negara akreditasi secara konsisten memberikan dukungan.
Weaknesses
- Kondisi ekonomi Suriname dan Guyana yang menurun hingga mengalami krisis sejak triwulan III tahun 2015.
- Perekonomian Suriname sangat rentan terhadap ketidakpastian (volatility).
- Jarak yang cukup jauh antara Indonesia dengan Suriname serta Guyana.
- Terbatasnya konektivitas, baik melalui jalur udara maupun jalur laut antara Indonesia–Suriname dan Indonesia–Guyana.
- Impor Suriname dan Guyana terhadap komoditas ekspor nasional dari Indonesia masih relatif rendah.
- Jumlah penduduk di Suriname yaitu sekitar 581.363 jiwa dan di Guyana sekitar 782.766 jiwa menjadi salah satu faktor yang kurang menarik bagi pengusaha Indonesia karena peluang pasar yang terbatas dan kurang menjanjikan.
Opportunities
- Keberadaan dan peran Indonesia dinilai cukup penting sebagai sesama negara berkembang dan Selatan-Selatan.
- Kondisi negara akreditasi yang memiliki ketergantungan tinggi atas produk impor dan sebagai anggota Pasar Bersama CARICOM.
- Kebijakan negara akreditasi untuk meningkatkan peran dan kerja sama internasionalnya dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi nasionalnya.
- Sebagai satu-satunya Perwakilan Negara ASEAN di Suriname dan Guyana, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjembatani peluang peningkatan kerja sama regional antara ASEAN dengan organisasi CARICOM.
Threats
- Pemberlakuan Free Trade Americans Area (FTAA) dan Caribbean Single Market & Economy (CSME).
- Terjadinya krisis ekonomi di kedua negara sejak akhir tahun 2015 yang diakibatkan oleh menurunnya kondisi perekonomian global.
- Semakin dominannya ekspansi produk-produk impor asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan harga yang cukup kompetitif, termasuk bantuan ekonomi RRT kepada Suriname dan Guyana, menjadi faktor penghambat daya saing produk-produk Indonesia.
- Terbatasnya penyedia transportasi yang masih dimonopoli perusahaan penerbangan Belanda (KLM) dan Suriname (SLM).
- Bahasa juga menjadi kendala utama bagi para pengusaha Indonesia yang ingin memasarkan produk Indonesia di Suriname yang umumnya menggunakan Bahasa Belanda.
- Semakin memudarnya bahasa dan budaya Jawa, khususnya di kalangan generasi muda di Suriname.
32 Kesimpulan Analisa Faktor Internal (KAFI)
No. Faktor Internal Bobot Rating Score
1 Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung dalam pelaksanaan tugas Perwakilan RI Paramaribo.
30 4 120 I
2 Secara politik, hubungan Indonesia dengan negara akreditasi sangat stabil.
10 3 30 IV
3 Forum dan kesepakatan kerja sama bilateral dengan negara akreditasi.
5 3 15 V
4 Pada tahun 2018, Indonesia secara resmi telah terakreditasi di CARICOM sebagai salah satu Third States accredited to CARICOM.
20 3 60 II
5 Persamaan historis dan budaya. 10 3 30 VII
6 Semakin tingginya pemahaman dan menguatnya citra serta kepercayaan Pemerintah dan masyarakat di negara akreditasi.
20 3 60 III
7 Negara akreditasi secara konsisten memberikan dukungan.
5 3 15 VI
Kelemahan (Weakness)
1 Kondisi ekonomi Suriname dan Guyana yang menurun hingga mengalami krisis sejak triwulan III tahun 2015.
20 3 60 III
2 Perekonomian Suriname sangat rentan terhadap ketidakpastian (volatility).
20 3 60 IV
3 Jarak yang cukup jauh antara Indonesia dengan Suriname serta Guyana.
20 4 80 I
4 Terbatasnya konektivitas, baik melalui jalur udara maupun jalur laut antara Indonesia–
Suriname dan Indonesia–Guyana.
20 4 80 II
5 Impor Suriname dan Guyana terhadap komoditas ekspor nasional dari Indonesia masih relatif rendah.
10 3 30 V
6 Jumlah penduduk di Suriname yaitu sekitar 581.363 jiwa dan di Guyana sekitar 782.766 jiwa menjadi salah satu faktor yang kurang menarik bagi pengusaha Indonesia karena peluang pasar yang terbatas dan kurang menjanjikan.
10 3 30 VI
Kesimpulan Analisa Faktor Eksternal (KAFE)
No. Faktor Eksternal Bobot Rating Score
(3x4) penting sebagai sesama negara berkembang dan Selatan-Selatan.
30 4 120 I
2 Kondisi negara akreditasi yang memiliki ketergantungan tinggi atas produk impor dan sebagai anggota Pasar Bersama CARICOM.
10 3 30 IV
33 3 Kebijakan negara akreditasi untuk
meningkatkan peran dan kerja sama internasionalnya dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi nasionalnya.
10 3 30 III
4 Sebagai satu-satunya Perwakilan Negara ASEAN di Suriname dan Guyana, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjembatani peluang peningkatan kerja sama regional antara ASEAN dengan organisasi CARICOM.
20 3 60 II
2 Terjadinya krisis ekonomi di kedua negara sejak akhir tahun 2015 yang diakibatkan oleh menurunnya kondisi perekonomian global.
20 4 80 II
3 Semakin dominannya ekspansi produk-produk impor asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan harga yang cukup kompetitif, termasuk bantuan ekonomi RRT kepada Suriname dan Guyana, menjadi faktor penghambat daya saing produk-produk Indonesia.
20 4 80 I
4 Terbatasnya penyedia transportasi yang masih dimonopoli perusahaan penerbangan Belanda (KLM) dan Suriname (SLM).
10 3 30 IV
5 Bahasa juga menjadi kendala utama bagi para pengusaha Indonesia yang ingin memasarkan produk Indonesia di Suriname yang umumnya menggunakan Bahasa Belanda.
10 3 30 V
6 Semakin memudarnya bahasa dan budaya Jawa, khususnya di kalangan generasi muda di Suriname.
10 3 30 VI
Keterangan:
Bobot didasarkan pada dampak yang ditimbulkan pada keberhasilan kini dan kedepan dengan nilai total 100.
Rating adalah setiap faktor yang menggunakan pendekatan skala 1 sampai dengan 4 dengan keterangan 1 (paling tidak menonjol), 2 (tidak menonjol), 3 (menonjol), 4 (sangat menonjol).
34 mendukung dalam pelaksanaan tugas Perwakilan RI Paramaribo.
2. Pada tahun 2018, Indonesia secara resmi telah terakreditasi di CARICOM sebagai salah satu Third States accredited to CARICOM.
3. Semakin tingginya pemahaman dan menguatnya citra serta kepercayaan Pemerintah dan masyarakat di negara akreditasi.
4. Secara politik, hubungan Indonesia dengan negara akreditasi sangat stabil.
5. Forum dan kesepakatan kerja sama bilateral dengan negara akreditasi.
6. Negara akreditasi secara konsisten memberikan dukungan.
7. Persamaan historis dan budaya.
Kelemahan (Weakness) Susunan berdasarkan ranking
1. Jarak yang cukup jauh antara Indonesia dengan Suriname serta Guyana.
2. Terbatasnya konektivitas, baik melalui jalur udara maupun jalur laut antara Indonesia–
Suriname dan Indonesia–Guyana.
3. Kondisi ekonomi Suriname dan Guyana yang menurun hingga mengalami krisis sejak triwulan III tahun 2015.
4. Perekonomian Suriname sangat rentan terhadap ketidakpastian (volatility).
5. Impor Suriname dan Guyana terhadap komoditas ekspor nasional dari Indonesia masih relatif rendah.
6. Jumlah penduduk di Suriname yaitu sekitar 581.363 jiwa dan di Guyana sekitar 782.766 jiwa menjadi salah satu faktor yang kurang menarik bagi pengusaha Indonesia karena peluang pasar yang terbatas dan kurang menjanjikan.
Peluang (Opportunity) Susunan berdasarkan ranking
1. Keberadaan dan peran Indonesia dinilai cukup penting sebagai sesama negara berkembang dan Selatan-Selatan.
2. Sebagai satu-satunya Perwakilan Negara ASEAN di Suriname dan Guyana, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjembatani peluang peningkatan kerja sama regional antara ASEAN dengan organisasi CARICOM.
3. Kebijakan negara akreditasi untuk meningkatkan peran dan kerja sama internasionalnya dalam rangka
Asumsi Strategi
Strength VS Opportunity
1. Penggunaan SDM dalam mendukung pelaksanaan tugas Perwakilan RI Paramaribo serta memanfaatkan kebijakan negara akreditasi dapat semakin meningkatkan keberadaan Indonesia di negara akreditasi sebagai sesama negara berkembang dan Selatan-Selatan.
2. Indonesia yang secara resmi telah terakreditasi di CARICOM dapat meningkatkan peran strategis Indonesia dalam menjembatani peluang peningkatan kerja sama regional antara ASEAN dengan organisasi CARICOM.
Asumsi Strategi
Weakness VS Opportunity
Memanfaatkan keberadaan dan peran Indonesia di wilayah akreditasi untuk peningkatan kerja sama internasional serta peningkatan pemasaran produk Indonesia di Suriname, Guyana maupun kawasan CARICOM.
35 mendukung pembangunan ekonomi
nasionalnya.
4. Kondisi negara akreditasi yang memiliki ketergantungan tinggi atas produk impor dan sebagai anggota Pasar Bersama CARICOM.
3. Menempatkan peran dan posisi Indonesia secara tepat dalam rangka memanfaatkan maksimal peluang kerja sama bagi kepentingan nasional.
Tantangan (Threats) Susunan berdasarkan ranking
1. Semakin dominannya ekspansi produk-produk impor asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan harga yang cukup kompetitif, termasuk bantuan ekonomi RRT kepada Suriname dan Guyana, menjadi faktor penghambat daya saing produk-produk Indonesia.
2. Terjadinya krisis ekonomi di kedua negara sejak akhir tahun 2015 yang diakibatkan oleh menurunnya kondisi perekonomian global.
3. Pemberlakuan Free Trade Americans Area (FTAA) dan Caribbean Single Market &
Economy (CSME).
4. Terbatasnya penyedia transportasi yang masih dimonopoli perusahaan penerbangan Belanda (KLM) dan Suriname (SLM).
5. Bahasa juga menjadi kendala utama bagi para pengusaha Indonesia yang ingin memasarkan produk Indonesia di Suriname yang umumnya menggunakan Bahasa Belanda.
6. Semakin memudarnya bahasa dan budaya Jawa, khususnya di kalangan generasi muda di Suriname.
Asumsi Strategi Strength VS Threats
1. Penguatan SDM dan penyesuaian strategi diplomasi ekonomi.
2. Meningkatkan strategi promosi ekonomi ke berbagai kalangan pengusaha di negara akreditasi maupun kawasan CARICOM untuk mengantisipasi dampak negatif dari krisis ekonomi serta kebijakan negara akreditasi.
3. Meningkatkan strategi promosi budaya ke berbagai kalangan masyarakat di negara akreditasi.
Asumsi Strategi Weakness VS Threats
1. Membangun strategi dan koordinasi yang efektif bersama dengan seluruh pemangku kepentingan dalam mengantisipasi dampak negatif dari krisis ekonomi serta kebijakan negara akreditasi.
2. Memperkuat kerja sama dengan negara akreditasi maupun CARICOM dalam meningkatkan kerja sama ekonomi.
3. Memperkuat kerja sama dengan media masa setempat dalam rangka diseminasi informasi.
36