Jurnal Teknik Informatika dan Sistem Informasi ISSN 2407-4322 Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E- ISSN 2503-2933 766
Analisis Penerapan Smart City Menggunakan IT Balanced Scorecard
Adhe Ronny Julians*1, Melkior Nikolar Ngalumsine Sitokdana2
Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Dr. O. Notohamidjodjo, Blotongan, Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia e-mail: *1[email protected], 2[email protected]
Abstrak
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika terus mengeluarkan terobosan baru, terkhusus program smart city, demi mendekatkan pelayanan kepada masyarakat secara lebih tepat, efisien, efektif, responsif, dan terus meningkatkan inovasi dan adopsi teknologi yang terintegrasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa kondisi penerapan smart city yang sudah berjalan di tempat penelitian dengan menggunakan 4 perspektif yang terdapat dalam IT Balanced Scorecard. Penelitian ini menggunakan pendekatan secara deskriptif kualitatif, yang didukung dengan observasi dan wawancara untuk memperkuat penelitian. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perspektif kontribusi perusahaan, orientasi pengguna, dan orientasi masa depan sudah baik dengan memberikan kenyamanan dan kecepatan layanan yang prima, serta bagaimana layanan ini bekerja sehingga menigkatkan kepuasan warga terhadap produk layanan sistem yang cerdas. Namun dari perspektif penyempurnaan operasional, ada masalah dengan jaringan internet yang belum dioptimalkan perfomanya.
Kata kunci: Penerapan Smart City, IT Balanced Scorecard, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika.
Abstract
Mimika District Population and Civil Registration Office continues to issue new breakthroughs, especially smart city programs, in order to bring services closer to the community more precisely, efficiently, effectively, responsively, and continue to increase innovation and adoption of integrated technologies.. The purpose of this study is to analyze the conditions of smart city implementation that has been running in the research site using 4 perspectives contained in the IT Balanced Scorecard. This study uses a qualitative descriptive approach, supported by observations and interviews to strengthen the research. The results revealed that the perspective of the company's contribution, user orientation, and future orientation is good by providing excellent service comfort and speed, as well as how these services work so as to increase citizens' satisfaction with intelligent system service products. But from an operational refinement perspective, there are problems with internet networks that have not been optimized.
Keywords: Implementation of Smart City, IT Balanced Scorecard, Mimika District Population and Civil Registry Office.
767 Jatisi ISSN 2407-4322 Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E-ISSN 2503-2933
1. PENDAHULUAN
Penerapan smart city menjadi perhatian dan kajian bagi sektor publik (pemerintahan) dalam meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat, maka penerapan smart city perlu menjadi perhatian bagi sektor publik (pemerintahan). Pratama memberikan pengertian smart city sebagai konsep pengembangan, dan implementasi teknologi yang berlaku di suatu wilayah sebagai sebuah interaksi kompleks antara sistem yang berbeda di dalamnya [1]. Sedangkan, menurut Cohen, smart city adalah kota yang menggunakan TIK secara cerdas dan efisien menggunakan berbagai sumber daya, menghasilkan penghematan biaya dan energi, peningkatan layanan dan kualitas hidup, serta mendukung ke dalam inovasi layanan dan ramah lingkungan [2]. Mengacu pada pemahaman tersebut, maka smart city merupakan implementasi teknologi yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pelayanan dan kualitas hidup yang pintar dan efisien pada suatu daerah.
Dalam Peraturan Menteri dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Pedoman Nomenklatur Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di provinsi dan kabupaten/kota, ada tertulis bahwa Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau biasa disebut Disdukcapil merupakan perangkat daerah yang membidangi urusan Administrasi Kependudukan di provinsi atau kabupaten/kota [3]. Berbagai kasus yang terjadi di sektor publik (pemerintahan) terlihat seperti pelayanan yang dulu di anggap lamban dan berbelit-belit atau terlalu prosedural dalam mengurus data kependudukan, maka sektor publik (pemerintahan) harus memikirkan terobosan baru, untuk memudahkan pelayanan terhadap masyarakat. Upaya dalam meningkatkan pelayanan terkait, dengan adanya penerapan smart city yang terlihat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang berada pada Kabupaten Mimika yaitu dengan menyediakan mesin Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM) yang memiliki kemampuan untuk mencetak kartu keluarga, akte kelahiran, akte kematian, kartu identitas anak dan kartu tanda penduduk, guna memberikan keistimewaan pelayanan yang responsif dan transparan [4]. Selain itu, ada program lain seperti Lala Pu Kaka (Lahir langsung punya kartu keluarga, akta lahir dan kia) yang saat ini menjadi role smart city [5], Operator Layanan Administrasi Online [6], SI Lincah Dukcapil [7], KANDA SIP, PADUKA SIP, Jempol Adminduk, Dukcapil Siaga, PAK Dukcapil, Goes To School, JOK Married, dan Paten Dukcapil-Distrik.
Permasalahan yang ingin di kaji yaitu: 1) bagaimana kondisi penerapan smart city yang sudah berjalan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika terhadap pelayanan masyarakat. Dari permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan analisa terhadap kondisi penerapan smart city dengan kerangka empat perspektif dari IT Balanced Scorecard, guna bisa memberi manfaat bagi akademisi dan pemerintah sebagai basis pertimbangan mengenai pengembangan smart city. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam sektor pemerintahan terlebih khusus pada permasalahan penerapan smart city. Sedangkan bagi pemerintah, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah masukan bagi pemerintahan tentang bagaimana peran smart city dalam mengatasi permasalahan yang ada, dalam meningkatkan pelayanan yang kurang responsif, khususnya untuk peningkatan penerapan smart city pada masa yang akan datang.
Salah satu metode untuk menganalisis kondisi penerapan smart city yang sudah berjalan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika yaitu menggunakan IT Balanced Scorecard, karena dapat digunakan untuk menganalisis kondisi penerapan smart city yang sudah berjalan dengan menggunakan empat perspektif di dalam IT Balanced Scorecard, antara lain: 1) kontribusi perusahaan, 2) orientasi pengguna, 3) penyempurnaan operasional, 4) orientasi masa depan.
Adapun beberapa penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai basis dalam penelitian ini, seperti penelitian pertama yang dilakukan oleh Ferdinandus, Manuputty (2021) yaitu “Pengukuran Kinerja Pegawai Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Maluku Dalam Pemanfaatan Sistem Informasi Dengan Menggunakan IT Balanced Scorecard” yang meneliti sejauhmana kontribusi
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E- ISSN 2503- 2933 768
Adhe, et., al [Analisis Penerapan Smart City Menggunakan IT Balanced Scorecard]
dan pemanfaatan melalui aplikasi TI dalam menunjang kebutuhan kinerja pegawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi organisasi adalah 23%, orientasi pengguna 19%, operasional 21%, orientasi masa depan 85%. Pada hasil pengukuran kinerja karyawan, perspektif tertinggi adalah kontribusi organisasi, sebesar 23%, dan yang terendah adalah orientasi pengguna, sebesar 19%. Hal ini memperlihatkan bahwa karyawan sebagai pengguna masih terdapat keterbatasan dalam kemampuan karyawan dan masih banyak kendala dalam pengorganisasian sistem yang benar. Oleh karena itu, perlu untuk lebih meningkatkan kemampuan melalui pelatihan yang diberikan [8].
Penelitian kedua yang dilakukan oleh Molly, Tanaamah, dan Sitokdana (2017) yaitu
“Analisis Kinerja Sistem Informasi dan Teknologi Informasi untuk Menunjang Kinerja Karyawan Menggunakan Framework IT Balanced Scorecard (Studi Kasus pada Wi-Fi Universitas Kristen Satya Wacana)” yang melakukan pengukuran terdahap tingkat pemanfaatan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi berdasarkan kinerja karyawan Wi-Fi UKSW.
Penelitian ini dimulai dari tahap perencanaan, tahap studi kelayakan awal dan penelitian kepustakaan, tahap wawancara dan observasi, tahap analisis data, dan tahap penggunaan IT Balanced Scorecard untuk menghasilkan rekomendasi. Terdapat beberapa hal yang harus diselesaikan yaitu mengingat Wi-Fi UKSW selalu dibutuhkan oleh seluruh warga UKSW. Maka perlu dilakukan evaluasi dan upgrade sistem aplikasi monitoring Wi-Fi, karena sebagai sarana sarana penyediaan harus memberikan manfaat yang baik [9].
Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Asy’ari, Juwita dan Arifin (2020) yaitu “Analisis Kinerja Teknologi Informasi Pada Universitas Jember Menggunakan Metode IT Balanced Scorecard” yang menganalisis kinerja TI Universitas Jember dari empat persperktif pada IT Balanced Scorecard. Dari hasil pengukuran yang dilakukan, kinerja TI secara keseluruhan masih cukup baik, karena dengan mengukur 18 variabel dari pespektif IT Balanced Scorecard ditemukan 13 variabel telah mencapai target, 1 variabel belum mencapai target, dan 4 variabel lainnya masih dalam proses pencapaian target [10].
Dari ketiga penelitian terkait terdapat kesamaan yaitu, ketiga penelitian tersebut membahas tentang analisis kinerja teknologi informasi serta pengukuran kinerja teknologi informasi dan menggunakan IT Balanced Scorecard. Peneliti berpendapat bahwa literature review yang memiliki relevansi yang sama dengan penelitian ini adalah literature review kedua, karena ditinjau dari judul, tujuan penelitian, proses pengumpulan data (wawancara) dan diperkuat dengan observasi serta menggunakan data-data instansi. Namun, yang membedakan ketiga penelitian seperti objek studi kasus dan hasil penelitian.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini ingin mengkaji mengenai kondisi penerapan smart city berdasarkan kerangka IT Balanced Scorecard dalam menghindarkan sektor publik (pemerintahan) dari permasalahan smart city dalam pelayanan terhadap masyarakat. Tentunya dalam penelitian ini, ingin melihat mengenai peran pemerintah dalam mengembangkan produk-produk smart city sebagai basis antisipasi permasalahan smart city yang ada. Adapun objek penelitian dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika. Alasan dipilihnya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika, disebabkan karena objek ini merupakan salah satu garda terdepan yang mengimplementasikan smart city, terkhususnya di Kabupaten Mimika.
2. LANDASAN TEORI
2.1 Smart Governance
Menurut Model Smart City Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Smart Governance sebagai salah satu dari enam dimensi smart city yang dapat dilihat pada gambar 1.
769 Jatisi ISSN 2407-4322 Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E-ISSN 2503-2933
Gambar 1. 6 Dimensi Smart City [11]
Smart Governance atau tata kelola pemerintahan yang cerdas menjadi rencana dalam mengelola manajemen dan tata kelola pemerintahan serta layanan publik secara lebih cepat, efisien, efektif, responsif, komunikatif, serta terus menerus ditingkatkan melalui inovasi dan adopsi teknologi yang terintegrasi. Salah satu cirinya seperti proses bisnis birokrasi internal pemerintah dan layanan publik yang menjadi lebih mudah, responsif dan komunikatif, serta efisien waktu, dan hemat. Smart Governance menjadi basis bagi keberhasilan pembangunan dimensi smart city lainnya. Konsep Smart Governance harus diterapkan sekaligus diukur dalam tiga sub-dimensi, yakni: Layanan publik (Service), Birokrasi (Bureaucracy), dan Kebijakan publik (Policy) [11].
2.2 Balanced Scorecard
Balanced Scorecard (BSC) adalah sistem perencanaan dan manajemen strategis.
Organisasi menggunakan BSC untuk: 1) Mencapai apa yang ingin mereka capai . 2) Menyelaraskan pekerjaan sehari-hari setiap orang dengan strategi . 3) Memprioritaskan proyek, produk, dan layanan . 4) Mengukur dan memantau kemajuan menuju tujuan strategis [12].
Balanced Scorecard memiliki empat perspektif yang dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Kerangka Kerja Balanced Scorecard [13]
2.3 IT Balanced Scorecard
Van Grembergen dan De Haes (2005) memberi pengertian mengenai konsep Balanced Scorecard yang dikemukakan oleh Kaplan dan Norton dapat digunakan menjadi fungsi IT, maka terjadi perubahan konsep menjadi IT Balanced Scorecard[14]. Dalam IT Balanced
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E- ISSN 2503- 2933 770
Adhe, et., al [Analisis Penerapan Smart City Menggunakan IT Balanced Scorecard]
Scorecard terdapat empat perspektif, diantaranya yaitu perspektif orientasi penguna, perspektif kontribusi bisnis, perspektif keunggulan operasional, dan perspektif orientasi masa depan.
Gambar 3. Perubahan Perspektif BSC Tradisional menjadi IT Balanced Scorecard [15]
Dari empat perspektif dalam IT Balanced Scorecard dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Perspektif Kontribusi Perusahaan, mengevaluasi kinerja Divisi IT berdasarkan pandangan dari manajemen eksekutif, direktur dan stakeholder. Merupakan nilai bisnis yang dibangun berkat investasi IT.
2) Perspektif Orientasi Pengguna, mengevaluasi kinerja IT berdasakarkan cara pandang pengguna (user) yang menggunakan. Lebih ke arah evaluasi user terhadap kinerja IT.
3. Perspektif Penyempurnaan Operasional, menilai kinerja IT menurut efektivitas dan efisiensi proses IT yang dinilai oleh pihak manajemen.
4. Perspektif Orientasi Masa Depan, menilai kinerja IT berdasarkan cara pandang Divisi IT itu sendiri terhadap tantangan di masa depan. Pada perspektif ini menunjukkan teknologi dan SDM sangat diperlukan Divisi IT untuk memberikan layanan tepat waktu [16].
3. METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini dilakukan pendekatan secara deskriptif kualitatif, dimana dilakukan penelitian dengan beberapa tahap yang dapat dilihat pada gambar 4.
Gambar 4. Tahapan Penelitian 1) Studi Literatur
Tahap ini, peneliti melakukan tinjauan pustaka terhadap penelitian terdahulu dan landasan teori yang relevan sebagai basis penggunaan metode dalam penelitian ini.
2) Pengumpulan data
Tahap ini, peneliti mendapatkan data langsung di lokasi studi kasus meliputi wawancara, observasi, dan data-data instansi. Hasil wawancara yang diperoleh dari beberapa pihak yaitu Kepala Dinas, Sekretaris, Kasubag Program, Kepala Bidang Inovasi Pelayanan dan Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administasi Kependudukan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika yang akan disesuaikan dengan empat perspektif yang terdapat dalam IT Balanced Scorecard sebagai bahan pendukung analisa. Observasi dan data-data instansi yang berkaitan dengan penerapan smart city sebagai basis untuk memperkuat beberapa tahap penelitian.
771 Jatisi ISSN 2407-4322 Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E-ISSN 2503-2933
3) Analisis data
Tahap ini, peneliti mendeskripsikan mengenai penerapan smart city pada lokasi studi kasus berdasarkan kerangka empat perspektif dari IT Balanced Scorecard melalui hasil yang didapatkan dari pengumpulan data.
4) Hasil analisis
Tahap ini menjadi tahap terakhir yang memberikan gambaran dan usulan dari empat perspektif yang terdapat di IT Balanced Scorecard untuk peningkatan penerapan smart city di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Struktur Organisasi
Gambar 5. Struktur Organisasi 3.2. Perspektif IT Balanced Scorecard
1. Perspektif Kontribusi Perusahaan
Pada perspektif ini harus menyatukan komitmen bersama untuk mewujudkan Visi dan Misi instansi terkait, agar mampu menggerakan seluruh pihak yang berkepentingan dan apa yang dihasilkan diperoleh seoptimal mungkin. Visi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika, sebagai berikut: “Mewujudkan sistem administrasi kependudukan yang tertib, akurat, professional dan inovatif”. Untuk mewujudkan visi tersebut, maka menjabarkannya kedalam misi yaitu: 1) Meningkatkan profesionalisme aparat pelayanan. 2) Meningkatkan kualitas layanan administrasi kependudukan. 3) Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memiliki dokumen kependudukan dan catatan sipil. 4) Pemutahiran database kependudukan dan catatan sipil. 5) Meningkatkan sarana dan prasaran aparatur pelayanan. 6) Membangun sistem dan jaringan informasi kependudukan terpadu serta inovasi-inovasi layanan adminduk.
“Menurut pak Slamet selaku Kepala Dinas, terkait visi misi kita mengacu pada visi misi kabupaten mimika, mimika cerdas, cerdas itu implementasi dari smart city dan kita sebagai organisasi perangkat daerah, dinas teknis yang berhubungan pelayanan publik harus
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E- ISSN 2503- 2933 772
Adhe, et., al [Analisis Penerapan Smart City Menggunakan IT Balanced Scorecard]
menerapkan hal itu. Kalau menurut saya sampai saat ini sudah maksimal tapi memang perlu perbaikan dan terus berbenah jadi tidak bisa kita merasa puas hari ini, karena dunia dan perkembangan teknologi terus bergerak. Jadi kita memang harus benar-benar bisa mencari solusi dari problem masyarakat dan tentunya juga perpedoman pada peraturan perundang- undangan yang berlaku. Disamping itu, kalau dari smart city ini Kabupaten Mimika sekitar tahun 2016 atau 2017 termasuk dalam 100 kabupaten/kota smart city se-Indonesia, dan istilahnya di kami itu Dukcapil Go Digital, artinya digitalisasi layanan adminduk yang merupakan bagian dari konsep smart city pada prinsipnya adalah bagaimana menciptakan kemudahan, kecepatan untuk kebaikan pelayanan sehingga pelayanan kepada masyarakat semakin baik, semakin meningkat kualitasnya dan akhirnya pelayanan ini meningkatkan pelayanan dapat membahagiakan warga terhadap produk-produk layanan yang diterima oleh Dukcapil. Untuk sistemnya sudah sangat smart karena Dukcapil itu digitalisasinya dimulai dengan SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan) dampaknya sangat dirasakan sekali, kalau yang dulu semua pelayanan terpusat di kantor Dukcapil yang berada di pusat pemerintahan sekarang sudah tersebar di beberapa kecamatan, distrik dengan program Paten Distrik, rumah sakit dan puskesmas dengan program Lala Pu Kaka, kemudian layanan online berbasis WhatsApp dengan program Orlando dan SI Lincah Dukcapil yang dokumennya diantarkan door to door kerumah warga dan file elektroniknya dikirimkan dalam bentuk PDF melalui email atau WhatsApp, terkadang masyarakat di buatkan pdf masih ada kendala dengan dokumen yang harus dicetak, maka petugas membantu untuk cetak dan diantarkan ke rumah door to door secara gratis, bebas ongkir, dan no tipping. Artinya semata-mata kita benar-benar ingin mewujudkan ekspetasi masyarakat tentang pelayanan adminduk yang eranya sudah seperti ini, kita harus benar-benar terus berbenah, terus memperbaiki sistem, terus meningkatkan kualitas kemampuan personil sehingga pelayanan itu semakin cepat dirasakan masyarakat dan juga ada layanan jempol adminduk yang di saat weekend biasa sebulan sekali atau disaat orang lagi libur itu kita turun lapangan untuk pelayanan. Hal tersebut bagaimana ingin memudahkan pelayanan adminduk, jadi yang dulu sulit dan sekarang menjadi mudah.
Terus kemarin ada buka program baru yang Pos Adminduk Kampung dan Kelurahan (PAK Dukcapil) dan program tersebut adalah yang pertama dilakukan di propinsi papua dan papua barat, untuk proses layanannya semua bisa dicetak di tempat artinya sama kualitas layanannya dengan yang ada di kantor pusat pemerintahan. Jadi dari itu semua, kami ingin punya layanan semakin dekat dengan masyarakat sehingga mereka waktunya efektif dan kita terus mendorong mereka untuk akses layanan online karena kalau online, mulai dari pemberkasan, prosesnya online bahkan diantarkan juga, sehingga lebih praktis dan semakin terbantu dengan adanya inovasi-inovasi pelayanan Dukcapil Kabupaten Mimika. Dari layanan online itu bisa kurangi sampai 20-24 % belum lagi mesin ADM (Anjungan Dukcapil Mandiri) tapi memang masih ada kendala dan belum terinstalasi atau terkoneksi dengan SIAK Terpusat. Selain itu, adanya kerjasama dengan pengadilan agama, kementrian agama yang memang digitalisasinya bagus artinya semuanya online dan tersistem dari berkas yang diterima juga valid kemudian kita proses dan antarkan juga.”
2. Perspektif Orientasi Pengguna
Pada perspektif ini, pengguna yang dimaksud adalah pegawai dan karyawan honorer di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika. Aplikasi yang digunakan saat ini adalah SIAK Terpusat, BRoller dan BCard.
“Menurut pak Amir selaku Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan, dari segi kemampuan yang namanya manusia pasti ada kesalahan saat dalam input data, terkadang ada yang kurang atau yang lebih seperti nama penduduk, namun mereka sudah agak familiar menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada sesuai dengan hak-hak akses yang sudah diberikan. Untuk hak akses yang diberikan untuk mengoperasikan aplikasi-aplikasi, ada 34
773 Jatisi ISSN 2407-4322 Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E-ISSN 2503-2933
orang, namun tetap ada batasan akses yang diberikan agar mereka juga tidak serta merta menggunakannya. Untuk aplikasi SIAK pernah melakukan pelatihan namun itu sudah lama sekali, karena aplikasi SIAK ini selalu terupdate mulai dari versi awal sampai masuk ke aplikasi SIAK Terpusat, ketika ada perubahan begitu memang petugas atau operator mengalami kendala, namun seiring dengan berjalannya waktu mereka bisa menyesuaikan dengan sistem yang baru. Selain itu, dari hasil observasi dan turut ikut serta sebagai peserta dalam kegiatan pelatihan teknis operator, telah dilakukan pelatihan teknis untuk operator SIAK Terpusat, tidak hanya teori namun praktek untuk mengoperasikan sistem tersebut dilakukan saat pelatihan. Kalau aplikasi BRoller (untuk perekaman e-KTP) dengan sendirinya mereka bisa mengerti, diajarin dengan teman-teman yang sudah mahir, paling sehari atau dua hari meraka bisa mengoperasikannya, begitu juga untuk aplikasi BCard atau pencetakan e-KTP tidak semua bisa diberikan akses untuk cetak, petugas/operator tertentu saja kita bisa kasih akses untuk melakukan pencetakan.”
3. Perspektif Penyempurnaan Operasional
Pada perspektif ini terdapat beberapa sistem informasi yang di pergunakan untuk melakukan pelayanan seperti BRoller untuk melakukan perekaman e-KTP, BCard untuk melakukan pencetakan e-KTP, dan SIAK Terpusat untuk melakukan penginputan biodata dan memproses dokumen kependudukan. Di kantor ini terdapat 80 orang termasuk pegawai dan karyawan honorer, namun untuk hak akses yang diberikan untuk mengoperasikan sistem yang tersedia, yaitu 34 orang, tentunya tetap ada batasan akses yang diberikan agar tidak serta merta melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Kendala yang dirasakan sampai saat ini adalah masalah jaringan, dan vpn lokal yang sering terjadi disconnect atau terputus tiba-tiba, karena sistem yang tersedia harus didukung dengan adanya jaringan yang baik, dan hal tersebut menghambat pekerjaan. Selain itu, pada mesin ADM (Anjungan Dukcapil Mandiri) terdapat kendala pada proses cetak e-KTP dan penempatan di tempat yang ramai, namun telah dipersiapkan untuk memproses perbaikan itu. Untuk alat-alat sudah semakin tua artinya butuh yang baru tetapi sampai saat ini belum ada, namun dengan yang ada ini kita selalu pelihara dan menjaga. Disamping itu, untuk kerusakan parah itu tidak ada, cuma yang sedikit kerusakan maka diatasi dan diperbaiki, tentunya minta petunjuk dari pusat supaya mendapat solusi agar bisa berjalan bagus.
4. Perspektif Orientasi Masa Depan
Pada perspektif ini kualitas sumber daya manusia, baik pegawai maupun pegawai honorer, dan sistem aplikasi yang tersedia sangat diperlukan, demi menciptakan kader-kader yang bisa mengeksekusi dan bisa mengikuti perkembangan teknologi yang terus bergerak, karena sistem aplikasi di kantor ini selalu update. Untuk pelatihan saat ini tidak semua operator di ikut sertakan, karena keterbatasan anggaran. Namun dari keterbatasan yang ada, operator yang di ikutkan membagikan ilmu yang diterima dan memberi pelatihan kepada operator yang tidak memiliki kesempatan untuk ikut, sehingga operator yang berada di lingkup kantor hampir semua mampu untuk mengoperasikan sistem aplikasi yang tersedia.
“Menurut pak Slamet selaku Kepala Dinas menjelaskan tujuan dari smart city itu bagaimana kita semakin smart, orangnya harus smart, sistemnya smart, publiknya juga harus smart.
Sedangkan pak Lucas selaku Sekretaris Dinas menjelaskan dinas ini sebagai salah satu ikon yang paling bagus dalam menerapkan smart city, apalagi dengan inovasi pelayanan Lala Pu Kaka artinya lahir langsung punya kartu keluarga, akta lahir dan kartu identitas anak dan juga menjadi model role smart city yang akan di ikuti dan terapkan seluruh Indonesia pada masa yang mendatang.”
Untuk keamanan data telah di atur sedemikian rupa, makanya akses aplikasi yang diberikan kepada operator, mempunyai batasan akses, karena ada beberapa hal yang tidak boleh buka dan diketahui.
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E- ISSN 2503- 2933 774
Adhe, et., al [Analisis Penerapan Smart City Menggunakan IT Balanced Scorecard]
3.3. Hasil Analisis
Perspektif Kontribusi Perusahaan terbilang cukup baik, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika telah menerapkan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dan saat ini sistemnya sudah terpusat artinya semua aktifitas yang dilakukan pada sistem di kontrol dari pusat. Tidak hanya itu, dengan adanya sistem tersebut, dinas terkait memiliki banyak program inovasi pelayanan dengan kualitas pelayanan yang sama seperti di kantor utama, sehingga memberikan kemudahan, kecepatan kepada masyarakat dalam mengurus dokumen kependudukan. Perspektif Orientasi Pengguna terbilang cukup baik, karena sistem yang digunakan terus update dengan versi terbaru, maka perlu dilakukan pelatihan teknis untuk sistem yang telah diperbarui dan penguatan kemampuan operator agar perfoma pelayanan tidak terganggu. Perspektif Penyempurnaan Opersional terbilang masih harus dibenahi, karena sistem yang ada tergantung dengan jaringan dan jika terkendala pada jaringan, tidak bisa bekerja secara optimal, maka perlu ada komunikasi kepada layanan support yang menyediakan jaringan untuk melakukan peningkatan kecepatan koneksi internet yang disesuaikan dengan kapasitas user yang menggunakan jaringan. Alasan perlu ada peningkatan kecepatan koneksi internet agar memiliki performa terbaik saat mengoperasikan sistem yang tersedia dan tidak ada keluhan dari petugas yang melakukan pelayanan. Dan melakukan penyetelan protokol VPN agar kestabilannya dirasakan. Selain itu, memastikan jaringan intenet yang digunakan dan kalau perlu melakukan PING di command promt agar jaringan internet terus berjalan. Alasan perlu di lakukan hal yang telah dijelaskan diatas agar kestabilan koneksi VPN terus dalam keadaan connect dan menghindari jaringan yang terputus. Untuk alat yang digunakan saat pelayanan sudah baik, namun perlu pembaruan spesifikasi alat tentunya sesuai dengan sistem yang akan di instalasi, demi menghindari bug terhadap sistem artinya terlalu dipaksakan untuk menjalankan prosesnya, sementara spesifikasi tidak mendukung. Perspektif Orientasi Masa Depan sudah terbilang cukup baik, karena setiap pegawai dan karyawan honorer terus di upgrade kemampuan mengoperasikan sistem dengan pelatihan teknis, ketika ada sistem yang baru dan tentunya langsung praktek pelayanan di lapangan agar familiar dan saling melengkapi jika ada yang masih belum di ketahui dengan sistem tersebut. Untuk keamanan data sudah di manajemen dengan baik, yaitu ada batasan akses pada setiap user yang di atur oleh bagian PIAK dengan alasan ada akses tertentu yang tidak boleh diketahui.
4. KESIMPULAN
Hasil penelitian di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika dari 4 perspektif yang terdapat pada IT Balanced Scorecard, untuk perpektif kontribusi perusahaan, orientasi pengguna, dan orientasi masa depan sudah baik, dimana memberi kemudahan dan kecepatan untuk pelayanan yang baik dan menjadikan pelayanan masyarakat semakin baik dan berkualitas, yang terpenting bagaimana pelayanan ini dapat meningkatkan kepuasan masyarakat dan membuat warga puas dengan produk pelayanan yang diberikan dengan sistemnya yang cerdas. Namun pada perspektif penyempurnaan operasional masih ada masalah pada jaringan yang belum optimal.
5. SARAN
Untuk penelitian lebih lanjut, diharapkan untuk menyelidiki penerapan smart city, terkhusus pada sistem aplikasi lebih detail yang digunakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika dan dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut.
775 Jatisi ISSN 2407-4322 Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E-ISSN 2503-2933
DAFTAR PUSTAKA
[1] S. Rizaldi, A. K. Nugroho, J. Informatika, F. Teknik, U. J. Soedirman, dan K. Kominfo,
“System of Master Plan Smart City,” Vol. 1, No. 1, Hal. 45–51, 2020.
[2] M. M. Muhammad Naufaldhia R.W., Damayanti Octavia, S.E., “Analisa Kualitas Layanan Elektronik Pemerintah (Electronic Government Serv. Qual) pada Website Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bandung (Electronic Government Serv.
Qual) On Website Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bandung,” Vol. 5, No. 1, Hal. 1–10, 2018.
[3] JDIH di lingkungan BPK RI, “Pedoman Nomenklatur Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Provinsi dan Kabupaten/Kota,” JDIH BPK RI DATABASE PERATURAN, 2020. https://peraturan.bpk.go.id (diakses Jun 01, 2021).
[4] Irsul Panca Aditra, “Mimika Miliki Mesin ADM Seperti ATM, Sekali Sentuh Surat
Kependudukan Keluar,” Kompas.com, 2020.
https://regional.kompas.com/read/2020/10/08/18444061/mimika-miliki-mesin-adm- seperti-atm-sekali-sentuh-surat-kependudukan-keluar.
[5] Mujiono, “‘Lala Pu Kaka’ Akan Jadi Model Pelayanan Kependudukan di Indonesia,”
Seputarpapua.com, 2021. https://seputarpapua.com/view/lala-pu-kaka-akan-jadi-model- pelayanan-kependudukan-di-indonesia.html (diakses Sep 02, 2021).
[6] Writer APN-01, “Progres Layanan Online Adminduk Disdukcapil Mimika Meningkat,”
antarpapuanews.com, 2021. https://antarpapuanews.com/2021/08/06/progres-layanan- online-adminduk-disdukcapil-mimika-meningkat/ (diakses Agu 08, 2021).
[7] Fajarpapua.com, “Dalam Seminggu, Disdukcapil Mimika Terbitkan 755 Dokumen Adminduk, Slamet: Masyarakat Manfaatkan Orlando dan Silincah,” Fajarpapua.com, 2021. https://fajarpapua.com/2021/08/07/dalam-seminggu-disdukcapil-mimika- terbitkan-755-dokumen-adminduk-slamet-masyarakat-manfaatkan-orlando-dan-silincah/
(diakses Agu 08, 2021).
[8] S. N. Ferdinandus dan A. D. Manuputty, “Pengukuran Kinerja Pegawai Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Maluku Dalam Pemanfaatan Sistem Informasi Dengan Menggunakan IT Balanced Scorecard,” J. Sist. …, Vol. 2, Hal. 221–231, 2021, doi:
10.30865/json.v2i3.2465.
[9] B. Molly, A. R. Tanaamah, dan M. N. N. Sitokdana, “Analisis Kinerja Sistem Informasi dan Teknologi Informasi untuk Menunjang Kinerja Karyawan Menggunakan Framework IT Balanced Scorecard (Studi Kasus pada Wi-Fi Universitas Kristen Satya Wacana),” J. Teknol. Inf. dan Ilmu Komput., Vol. 4, No. 4, Hal. 318–332, 2017, doi:
10.25126/jtiik.201744499.
[10] F. N. Arifin, M. J. Asy’ari, dan O. Juwita, “Analisis Kinerja Teknologi Informasi pada Universitas Jember Menggunakan Metode IT Balanced Scorecard,” J. Appl. Comput.
Sci. Technol., Vol. 1, No. 1, Hal. 44–49, 2020, doi: 10.52158/jacost.v1i1.7.
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 766-776 E- ISSN 2503- 2933 776
Adhe, et., al [Analisis Penerapan Smart City Menggunakan IT Balanced Scorecard]
[11] T.D. Susanto, “Smart City Butuh Smart Governance Dijalankan Oleh Smart
Government,” notes.its.ac.id, 2020.
https://notes.its.ac.id/tonydwisusanto/2020/08/03/smart-city-butuh-smart-governance- dijalankan-oleh-smart-government/ (diakses Jul 09, 2021).
[12] BSI, “Balanced Scorecard Basics,” balancedscorecard.org.
https://balancedscorecard.org/bsc-basics-overview/ (diakses Jul 09, 2021).
[13] Finbrain ITC, “Balanced Scorecard,” Finbrain ITC. http://www.finbrain-itc.be/balance- scorecard/ (diakses Jul 09, 2021).
[14] V. Sanjaya, A. R. Tanaamah, dan M. N. N. Sitokdana, “Evaluasi Tata Kelola Teknologi Informasi di Perpustakaan Daerah Kota Salatiga Dengan Menggunakan IT Balanced Scorecard,” Sebatik, Vol. 23, No. 2, Hal. 374–380, 2019, doi:
10.46984/sebatik.v23i2.785.
[15] N. A. Syafitri dan M. I. Herdiansyah, “Peningkatan Kinerja Sistem E-Learning Dalam Perspektif Universitas 4.0 Menggunakan Kerangka IT Balanced Scorecard,” Vol. 21, No. 1, Hal. 42–48, 2020.
[16] E. Gunawan, “Analisis Pengukuran Kinerja Divisi IT Menggunakan IT Balanced Scorecard pada PT. Xyz,” J. Manaj. Bisnis dan Kewirausahaan, Vol. 3, No. 2, Hal.
103–110, 2019, doi: 10.24912/jmbk.v3i2.4966.