• Tidak ada hasil yang ditemukan

Read Ebook {PDF EPUB} Winnetou II Si Pencari Jejak by Karl May

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Read Ebook {PDF EPUB} Winnetou II Si Pencari Jejak by Karl May"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Read Ebook {PDF EPUB} Winnetou II Si Pencari Jejak by Karl May

(2)

Karl May.

Karl Friedrich May (lahir di Hohenstein-Ernstthal, Chemnitzer Land, 25 Februari 1842 – meninggal di Radebeul, Meissen, 30 Maret 1912 pada umur 70 tahun) adalah penulis Jerman yang sangat populer. Ia merupakan penulis Jerman yang karyanya terlaris sepanjang masa. Buku-buku yang ia tulis bertema petualangan, seperti Winnetou, Kara Ben Nemsi, dan Raja Minyak. Karl May lahir tahun 1842. Sejak lahir, Karl kecil menderita cacat buta karena kekurangan gizi. Untungnya, saat ia berumur 5 tahun, Karl kecil dioperasi sehingga ia bisa melihat lagi. Kira-kira umur 27 tahun, Karl yang sudah remaja dipenjara selama 7 tahun karena dituduh mencuri. Hebatnya, selama di penjara, Karl banyak membaca, terutama buku geografis. Dari itulah Karl mendapat ilham untuk menulis buku petualangan. Ia pun menjadi terkenal. Antara penggemar karyanya adalah Adolf Hitler, Albert Einstein, Hermann Hesse dan Bertha von Suttner. Konon, remaja Indonesia tahun 30-an (yang kemudian dikenal sebagai perintis kemerdekaan) mengenal arti kemerdekaan setelah membaca buku-buku Karl May. Sayangnya, masa-masa kejayaan Karl May hanya sampai ia berumur 70 tahun. Karl May akhirnya meninggal karena sakit paru-paru. Buku Karl May yang paling populer adalah Winnetou (di Indonesia, diterbitkan ulang oleh Pustaka Primatama). Buku itu menceritakan orang Eropa yang ingin berpetualang. Tanpa sengaja, ia bertemu Winnetou, seorang kepala suku Indian Apache. Karena kekuatan pukulan tangan orang Eropa tersebut cukup kuat, ia disebut Old Shatterhand (yang mempunyai arti “Tangan Menghancurkan”).

Kisah perjalanan Kara Ben Nemsi I: Menjelajah Gurun dan Kara Ben Nemsi II: Penyembah Setan (*) Kara Ben Nemsi II: Penyembah Setan dan Kara Ben Nemsi III: Petualangan di Kurdistan (*) Kara Ben Nemsi IV: Kafilah Maut dan Kara Ben Nemsi V: Dari Bagdad ke Stambul (*) Kara Ben Nemsi VI: Di Pelosok Balkan (*) Kara Ben Nemsi VII: Menjelajah Negeri Skipetar (*) Kara Ben Nemsi VIII: Shut: Kepala Bandit di Albania (*) Winnetou I: Kepala Suku Apache(**) Winnetou II: Si Pencari Jejak (**) Winnetou III: Winnetou Gugur (**) Petualangan di Afrika (*) Di Tepian Lautan Teduh (***) Petualangan di Amerika Selatan: Di Tepian Rio dela Plata (***) Petualangan di Amerika Selatan: Di Pegunungan Kordillera (***) Old Surehand I: Oase di Llano Estacado (**) Old Surehand II: Kisah-kisah di Jefferson City (** dan ***) Old Surehand III: Gunung Kepala Setan (**) Di Negeri Mahdi I (*) Di Negeri Mahdi II (*) Di Negeri Mahdi III (*) Iblis dan Pengkhianat I: Gunung Karang (*) Iblis dan Pengkhianat II: Krueger Bey (*) Iblis dan Pengkhianat III: Di antara Para Pencuri (*) Di Pelosok Negeri Asing (*, **, dan

***) Malam di Rocky Mountains (**) Di Tepian Akhirat (*) Di Kawasan Singa Perak I (*) Di Kawasan Singa Perak II (*) Di Kawasan Singa Perak III (*) Di Kawasan Singa Perak IV (*) Dan Damai di Bumi! (***) Ardistan dan Jinnistan I (*) Ardistan dan Jinnistan II (*) Winnetou IV:

Ahli Waris Winnetou (**) Cerita untuk remaja[sunting | sunting sumber] Anak Pemburu Beruang dan Hantu Llano Estacado (**) Petualangan di Tiongkok (***) Kafilah Budak (***) Harta Karun di Danau Perak (**) Surat Wasiat Inka (***) Raja Minyak (**) Mustang Hitam (**) Keterangan: Tanda *: cerita yang tokohnya Kara Ben Nemsi Tanda **: cerita yang tokohnya Winnetou-Old Shatterhand Tanda ***: cerita yang tokohnya Charley, si narator (saya), atau lain-lain.

Buku petualangan di atas jumlahnya 30. Jumlah buku keseluruhannya mencapai 80 buku termasuk Otobiografi (Kehidupan dan Upayaku) dan novel-novel picisan (Puri Rodriganda, Hantu Pegunungan Batu, dll). Source : Wikipedia.

Karya-Karya Karl May.

Karl May adalah penulis yang sangat produktif. Jumlah karyanya dari 80 judul, termasuk cerita bersambung, cerita pendek, roman picisan, cerita untuk remaja, dan lain-lain.

Sampul depan buku-buku karya Karl May dalam berbagai bahasa.

Beberapa di antaranya adalah : Daftar isi.

Orient Zyklus (Siklus Timur)

Durch die Wüste ( Menjelajah Gurun / Kara Ben Nemsi ) Durchs Wilde Kurdistan ( Menjelajah Kurdistan Liar / Di Kurdistan ) Von Baghdad nach Stambul ( Dari Baghdad ke Stambul ) Im Schluchten des Balkan ( Di Jurang-Jurang Balkan / Di Pelosok-Pelosok Balkan / Di Sudut-Sudut Balkan ) Durch das Land des Skipetaren ( Menjelajah Negeri Skipetar / Menjelajah Negeri Skiptar ) Der Schut ( Sang Shut / Kara Nirwan Khan di Albania )

Serial Winnetou [ sunting | sunting sumber ]

Trilogi Winnetou Winnetou I ( Winnetou Ketua Suku Apache / Winnetou Kepala Suku Apache / Winnetou I: Kepala Suku Apache ) Winnetou II ( Pemburu Binatang Berbulu Tebal dari Rio Pecos / Winnetou II: Si Pencari Jejak ) Winnetou III ( Winnetou Gugur / Winnetou III: Winnetou Gugur ) Winnetou IV ( Wasiat Winnetou / Winnetou IV: Wasiat Winnetou )

Cerita Untuk Remaja [ sunting | sunting sumber ]

Der Sohn des Bärenjägers ( Anak pemburu Beruang / Rahasia Bison Putih ) dan Der Geist des Llano estakado ( Hantu Llano Estacado ) Der Ölprinz ( Raja Minyak ) Der Schwarze Mustang ( Mustang Hitam ) Der Schatz im Silbersee ( Harta di Danau Perak / Harta Terpendam di Danau Perak ) Das Vermächtnis des Inka ( Warisan Inka / Surat Wasiat Inka ) Kong Kheu, das Ehrenwort ( Kong Kheou, Sumpah ) Die

Sklavenkarawane ( Karavan Budak / Kafilah Budak Belian ) Lain-Lain [ sunting | sunting sumber ]

(3)

Und Friede auf Erden! ( Dan Damai di Bumi! ) Lihat Juga [ sunting | sunting sumber ]

Artikel Karl May Indonesia ini belum lengkap. Anda bisa membantu melengkapi dengan mengembangkannya.

Si Pencari Jejak.

Karl May seorang pencerita yang piawai. Teknis menulisnya bisa saja berupa “cut and paste” dari tulisan terdahulu, yang kemudian ditambah dan dikurangi, direvisi, sehingga menjadi suatu karya baru.

Berikut adalah contohnya. Tulisan ini berasal dari suatu novella yang berjudul Si Pencari Jejak ( Der Scout ). Baris-baris awalnya (tentang:

Greenhorn ) kemudian diambil, dijadikan bagian awal dari Winnetou I , namun sisanya tetap dipakai dan dilanjutkan untuk kemudian dijadikan cerita baru, Winnetou II, yang bentuknya sudah berbeda walau jalan ceritanya bisa saja masih sama; dengan perubahan di sana-sini.

Karena semasa itu belum ada mesin ketik, dan penulisan naskah dilakukan dengan tulis tangan, tidak jelas bagaimana pemotongan model begini ini dilakukan. Besar kemungkinan dilakukan dengan tulis ulang, yang notabene ada beberapa ratus halaman.

Karena belum ada terjemahan bahasa Indonesianya, yang dicantumkan di sini adalah versi Inggrinya, The Scout , terjemahan dari Herbert Windolf, seorang penggemar Karl May yang tinggal di Arizona, Amerika Serikat.

Untuk penggemar Karl May kelas berat, cuplikan tentang si Greenhorn ini pasti dengan mudah bisa dikenali, walau tidak 100% sama dengan yang pernah dibaca.

Selamat Datang di Dunia Karl May.[]

1. A Poem.

Greenhorn – it is an annoying and disrespectful designation for a person to whom the word is applied. ‘Green’ implies immaturity and ‘horn’ refers to the young buds on certain ungulates, used more for feeling obstacles, etc., than for defence or combat. Hence, a greenhorn is a person who is new, and thus still inexperienced in the ways of a country, and ought to act circumspectly if he does not wish to expose himself to ridicule. The term is widely used by Yankees, but even more so by the residents of the Wild West: the frontiersman, the trapper, the cowboy and others who are well-versed in the ways of the West.

To clarify the concept: a greenhorn is a person, who does not rise from his chair when a lady comes to stand nearby; who greets the master of the house before he has bowed to the ladies; who knows nothing of firearms and who puts the cartridge into the chamber the wrong way ‘round, or first pushes in the stopper, then the bullet and lastly the powder. A greenhorn speaks either no English at all, or conversely, a very stilted and affected form; to him Yankee-English is an abomination, which wouldn’t come to his mind nor cross his tongue. A greenhorn thinks a raccoon to be an opossum, and considers a fairly attractive mulatto a charming quadroon [1]. A greenhorn smokes cigarettes and detests the tobacco-juice- spitting gentleman, and after having his ears boxed by a Paddy [2], runs to the justice of the peace, instead of simply gunning down the fellow like a true Yankee. A greenhorn thinks the footprints of a turkey to be the tracks of a bear and takes a sports yacht for a Mississippi steamer. A greenhorn is much too shy to put his dirty boots on the knees of a fellow-passenger, and to slurp his soup like it were the panting of a dying buffalo. For cleanliness, a greenhorn lugs a washing sponge the size of a pumpkin and ten pounds of soap onto the prairie, and packs a compass that keeps turning into every direction except to point north. A greenhorn writes down eight hundred Indian expressions, but when he comes across the first redskin, he finds that he sent his notes home in his last envelope, when he actually tossed the letter into a fire. A greenhorn – well, a greenhorn is simply a greenhorn, and once, I too, was one.

But one ought not think that I was convinced, or at least had an idea that this insulting designation would apply to me! Oh no, for, isn’t it the outstanding characteristic of a greenhorn to think that everyone else, but never he himself is green ?

And so it was with me. I was of the self-serving opinion that, despite my youth, I had experienced and learned much, very much even. I rubbed well-scented oils in my hair and delighted in the nice, small foot in my tight, lacquered, shiny little boots. I wore rubber stirrups on my pants and carried three kinds of beard wax in my toiletry bag. From my chest hung a conspicuously wide golden watch chain – but let me tell you in private, it was only a cheap imitation and had cost me just one taler and ten silver groschen in Bremen. Added to this was a chapeau claque and a silken umbrella with a heavy, elegant ivory handle – except that the latter was only bleached bone – in this way I was putting my century and thus also the United States in its place.

Karl Friedrich May.

Karl Friedrich May (1842-1912) adalah salah seorang pengarang fiksi dari Jerman yang paling termasyhur. Jumlah seluruh karyanya lebih dari 80 judul dan sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa.

Daftar isi.

Riwayat Hidup [ sunting | sunting sumber ] Masa Kecil [ sunting | sunting sumber ]

Karl May lahir pada 25 Februari 1842 di Hohenstein-Ernstthal, Saxony, Jerman, dalam keluarga penenun miskin Heinrich August May dan

(4)

Christiane Wilhemine Weise. Ia adalah satu-satunya putra dari empatbelas anak yang dilahirkan Christiane. Dari keempatbelas anak itu, hanya lima orang yang bertahan hidup. Tak lama setelah lahir, Karl May menderita kebutaan karena kekurangan gizi.

Selama masa ini, neneknya sering menceritakan kisah-kisah Seribu Satu Malam . Menurut Karl May, sang nenek begitu hapal dengan kisah-kisah ini hingga ia tak perlu pergi ke perpustakaan untuk mencari "buku kuno" itu. Dikemudian hari, kisah-kisah ini sangat mempengaruhi karirnya sebagai pengarang.

Ketika Karl May berusia empat tahun, keadaan ekonomi keluarganya agak membaik setelah ibunya diterima mengikuti kursus bidan dan lulus dengan nilai baik. Karena hubungan ibunya dengan dua orang dokter, Profesor Grenzer dan Profesor Haase, Karl May bisa melihat kembali setelah dioperasi oleh kedua orang profesor itu.

Seminari [ sunting | sunting sumber ]

Setelah menyelesaikan sekolah dasar pada 1856, Karl May tak bisa meneruskan ke sekolah menengah karena keadaan ekonomi keluarganya yang tak mengizinkan. Oleh karena itu, ia masuk ke sekolah guru (seminari) di Waldenburg. Itu pun atas sponsor seorang bangsawan.

Pada tahun ketiga di sekolah itu, terjadilah "kecelakaan". Rekan sekelas Karl May melaporkan bahwa ia mencuri lilin. Karl May sendiri membela diri dengan mengatakan bahwa ketika bertugas mengganti lilin-lilin di sekolah, ia hanya mengumpulkan lilin-lilin bekas dari tempat-tempat lilin dan hendak dibawanya pulang ketika liburan natal, sebagai oleh-oleh untuk keluarganya yang miskin. Belakangan diketahui dari buku laporan sekolah bahwa dalam loker Karl May ditemukan lilin yang masih baru.

Menjadi Guru [ sunting | sunting sumber ]

Setelah lulus seminari, Karl May diterima mengajar di sekolah untuk anak-anak miskin di Glachau, namun keluar setelah dua minggu karena tak cocok dengan aturan-aturan sekolah yang sangat ketat. Namun ada juga yang mengatakan bahwa ia keluar karena bermasalah dengan istri dari keluarga tempat ia menumpang tinggal.

Setelah menganggur beberapa lama, akhirnya ia diterima mengajar di sekolah untuk anak-anak karyawan pabrik di Altchemnitz pada November 1861. Ia tinggal di pondokan yang disediakan oleh sekolah. Kamar yang disediakan adalah untuk dua orang dan di sana sudah ada seorang lain yang tinggal. Di tempat ini pun terjadi insiden yang disebabkan oleh jam tangan.

Pada masa itu, dianggap tidak pantas bila seorang guru tak memiliki jam tangan. Oleh karena itu, teman sekamar Karl May menawarkan jam tangan lamanya kepada Karl May. Ia menolak dengan alasan belum memiliki tabungan dan sudah merencanakan bahwa suatu hari nanti hendak membeli jam tangan baru. Namun teman sekamar Karl May tetap meminjamkan jam tangan itu kepada Karl May, yang harus dikembalikan setiap kali pulang mengajar dengan cara menggantungnya di dinding.

Keluar Masuk Penjara dan Menderita DID [ sunting | sunting sumber ]

Setelah beberapa hari, Karl May tak lagi menggantungnya di dinding tetapi tetap menyimpannya. Ketika liburan Natal, jam tangan itu terbawa pulang. Setelah beberapa lama berlibur di kampung halaman, datanglah petugas polisi menangkapnya dengan tuduhan mencuri jam tangan. Ia dihukum selama enam minggu, yaitu sejak 8 September hingga 20 Oktober 1862. Karl May sendiri baru bekerja sebagai guru di sekolah itu selama dua bulan.

Karl May menjadi sangat kecewa mengingat keluarganya, terutama ayahnya sangat mengharapkan ia menjadi guru untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya. Hal ini begitu mengguncang jiwanya karena sebagai seorang yang pernah dipenjara, ia tak lagi diperbolehkan menjadi guru.

Guncangan jiwa ini, dan karena menjadi pengangguran meskipun sempat menjadi guru privat dan pemimpin koor, menyebabkannya menderita penyakit kejiwaan yang disebut Dissociative Identity Disorder (DID) , yang menyebabkan penderitanya memiliki kepribadian ganda. Ia sering menyamar menjadi orang lain, seperti dokter mata yang membuat resep dalam Bahasa Latin, guru seminari yang membeli mantel bulu tanpa membayar, dan berbagai macam kejahatan kecil lainnya. Oleh karena itu, ia pun kembali dihukum selama empat tahun di penjara Zwickau, namun hanya menjalaninya selama tiga tahun empat bulan (Juni 1865-November 1868) karena berkelakuan baik.

Mengembangkan Minat Menulis [ sunting | sunting sumber ]

Selama dipenjara, ia memperoleh hak khusus untuk meminjam naskah atau buku-buku milik perpustakaan penjara. Minatnya terhadap dunia tulis- menulis pun mulai tumbuh. Di penjara ini, ia merancang banyak gagasan-gagasan awal yang kelak akan dikembangkannya menjadi berbagai kisah- kisah termasyhur. Rancangan-rancangan ini di kemudian hari dikenal sebagai Repertorium C. May .

Bersembunyi Di Gua dan Kembali Dipenjara [ sunting | sunting sumber ] Gua yang konon tempat Karl May bersembunyi.

Setelah keluar dari penjara, penyakitnya belum juga sembuh. Ia kembali menyamar sebagai polisi yang menangkap orang dengan tuduhan

mengedarkan uang palsu, atau menjadi agen rahasia, karyawan kantor pengacara. Ia juga melakukan bebagai kejahatan seperti mencuri bola biliar, kuda, bahkan membawa barang-barang curian dalam kereta bayi. Ketika hendak ditangkap, ia melarikan diri ke Bohemia yang waktu itu

merupakan bagian Kekaisaran Austria (sekarang merupakan bagian Republik Ceko). Konon ia bersembunyi dalam suatu gua bekas tambang. Gua itu kini menjadi objek wisata yang dikenal sebagai Gua Karl May . Pada Juli 1869, ia kembali tertangkap dan dimasukkan ke penjara Waldheim dengan masa hukuman selama empat tahun.

(5)

Selama menjalani hukuman dipenjara ini, Karl mulai merintis hubungan dengan penerbit Münchmeyer, dengan bantuan ayahnya. Heinrich Gotthold Münchmeyer tertarik dengan rancangan-rancangan yang dibuatnya selama di penjara Zwickau.

Masa Penyembuhan [ sunting | sunting sumber ]

Selama berada di penjara Waldhiem, Karl May memperoleh terapi yang lebih efektif terhadap penyakitnya. Oleh seorang biarawan Katolik bernama Johannes Kochta yang bertugas di penjara itu, Karl May diberikan buku-buku yang menyadarkannya akan penyakitnya. Ia juga diberi konsultasi-konsultasi dan terapi musik yang berhasil menyembuhkan penyakitnya.

Pada 2 Mei 1874, ia keluar dari penjara. Jadi, secara keseluruhan, Karl May mengalami masa hukuman selama tujuh tahun empat bulan.

Menjadi Editor [ sunting | sunting sumber ]

Pada 1875, setelah keluar dari penjara, Karl May diangkat menjadi editor muda pada penerbit Münchmeyer. Pada masa ini, ia menulis kisah- kisah dalam bentuk kolportage roman (cerita bersambung atau roman picisan), yang diterbitkan secara berkala dalam bentuk selebaran dan dijual dari rumah ke rumah dengan harga murah. Baru empat tahun kemudian karya-karyanya ini diterbitkan dalam bentuk buku, itu pun digabungkan dengan karya penulis lain yang bernama Fr. C,v, Wickede. Buku pertama berjudul Im Fernen Westen ( Di Barat Jauh , 1879).

Ia mulai mengembangkan gagasan-gagasannya selama dipenjara, yang digabungkannya dengan fakta bahwa "pembangkangan" suku-suku Indian Amerika sedang ramai-ramainya berlangsung. Ia mulai menulis kisah-kisah dalam genre yang waktu itu menjadi aliran baru dalam dunia literatur, yaitu reiseerzählungen (kisah perjalanan).

Pada masa ini pula ia menciptakan tokoh Indian Amerika bernama Inn-nu-woh (1875). Di kemudian hari, tokoh ini dikembangkan menjadi tokoh Indian Amerika dari suku Apache Mescalero bernama Winnetou yang menjadi sangat termasyhur.

Karl May Sang Pengarang [ sunting | sunting sumber ]

Sebagai pengarang, Karl May sangat produktif. Ia telah menulis lebih dari 80 judul karya. Hampir semua karyanya ditulis dalam bentuk cerita bersambung yang diterbitkan dalam beberapa majalah. Baru pada 1890, tujuh karyanya yang berupa cerita untuk remaja diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Union Deutsche Verlagsantalt. Ketujuh karya itu adalah: Der Sohn des Bärenjägers ( Anak Pemburu Beruang / Rahasia Bison Putih ) yang diterbitkan bersama kisah Der Geist des Llano estakado ( Hantu Llano Estacado ) dalam satu buku, Der Ölprinz ( Raja Minyak ), Der Schwarze Mustang ( Mustang Hitam ), Der Schatz im Silbersee ( Harta di Danau Perak / Harta Terpendam di Danau Perak ), Das Vermächtnis des Inka ( Warisan Inka / Surat Wasiat Inka ), Kong Kheu, das Ehrenwort ( Kong Kheou, Sumpah ), dan Die Sklavenkarawane ( Karavan Budak / Kafilah Budak Belian ).

Prestasi terbesarnya adalah ketika penerbit Friedrich Ernst Fehsenfeld dari Freiburg menerbitkan karyanya serialnya yang berjudul Orient Zyklus ( Siklus Timur , 1892), dalam bentuk buku bersampul tebal ( Hardcover ), atau yang lebih dikenal dengan nama Serial Kara Ben Nemsi , sebanyak enam buku. Tahun berikutnya terbitlah maha-karyanya yang berjudul Trilogi Winnetou (1893).Jumlah seluruh karyanya yang bergenre "Kisah Perjalanan" berjumlah 33 buku yang diterbitkan hingga 1910. Jumlah ini masih ditambah dengan satu buku lagi yang terbit pada 1910, yaitu Mein Leben und Streben ( Kehidupan dan Upayaku ), yang berupa karya otobiografi.

Menjadi Kaya-Raya dan Menikah [ sunting | sunting sumber ] Villa Shatterhand , rumah Karl May di Radebeul.

Karena penerbitan buku-bukunya, ia menjadi kaya raya. Ia membeli rumah mewah di luar kota Dresden, Radebeul, yang diberi nama Vila Shatterhand dan ditempatinya hingga akhir hayatnya, dan menikahi Emma Polmer pada 17 Agustus 1880, yang lebih muda 15 tahun daripadanya.

Pernikahan ini tak berlangsung lama karena mereka berdua tak cocok satu sama lain dan segera bercerai. Setahun kemudian, ia menikahi seorang janda bernama Klara Plöhn, janda sahabatnya yang bernama Richard Plöhn. Meskipun menikah dua kali, Karl May tak memiliki anak.

Di rumahnya, ia memiliki perpustakaan pribadi yang cukup lengkap. Dalam perpustakaan ini, ia memiliki berbagai referensi, kamus, buku panduan, serta peta-peta yang digunakannya untuk melakukan riset akan bahan-bahan tulisannya.

Di Masa Tua [ sunting | sunting sumber ] Makam Karl May di Radebeul.

Meskipun sudah berusia lanjut, Karl May tetap produktif dalam menulis. Salah satu bukunya Ardistan und Dschinnistan I-II ( Ardistan dan Jinnistan I-II , 1907-09), yang dianggap karya terbaiknya, ditulis ketika ia berusia 65 hingga 67 tahun.

Pada 22 Maret 1912, ia diundang sebagai pembicara di Wina, Austria, untuk mempertahankan tesisnya dengan pidato yang berjudul Empor Ins Reich Der Edelmenschen ( Membumbung Menuju Kawasan Manusia yang Mulia ) di hadapan masyarakat literatur, yang dihadiri duaribu orang.

Acara itu diadakan oleh Perkumpulan Akademi Literatur dan Musik Wina. Di antara yang hadir, tampak Bertha von Suttner, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1905. Karl May merasa sangat tersanjung akan kehadiran von Suttner. Konon, acara ini juga dihadiri oleh seorang seniman gagal bernama Adolf Hitler, yang dikemudian hari menjadi diktator dan pemimpin NAZI, yang mencetuskan Perang Dunia II.

Karl May sangat gemar merokok dan di masa tuanya, ia mengalami gangguan saluran pernapasan dan gangguan jantung. Karena hal ini, dokter melarangnya pergi ke Wina tetapi ia tetap pergi. Delapan hari kemudian, pada 30 Maret 1912 pukul 10 malam, Karl May meninggal dunia.

Konon, kalimat terakhirnya adalah: "Kejayaan! Kejayaan besar! Saya melihat (warna) mawar merah!". Ia dimakamkan di pemakaman umum

(6)

Radebeul dengan makam bergaya arsitektur Yunani yang menyerupai Kuil Apollo.

Setelah ia meninggal, rumah kelahirannya di Hohenstein-Ernstthal dijadikan museum yang memamerkan kehidupan masa kecilnya. Villa Shatterhand pun dijadikan museum yang memamerkan segala hal yang telah dicapainya selama hidup.

Karya-Karya [ sunting | sunting sumber ] Orient Zyklus (Siklus Timur)

Durch die Wüste ( Menjelajah Gurun / Kara Ben Nemsi ) Durchs Wilde Kurdistan ( Menjelajah Kurdistan Liar / Di Kurdistan ) Von Baghdad nach Stambul ( Dari Baghdad ke Stambul ) Im Schluchten des Balkan ( Di Jurang-Jurang Balkan / Di Pelosok-Pelosok Balkan / Di Sudut-Sudut Balkan ) Durch das Land des Skipetaren ( Menjelajah Negeri Skipetar / Menjelajah Negeri Skiptar ) Der Schut ( Sang Shut / Kara Nirwan Khan di Albania )

Serial Winnetou [ sunting | sunting sumber ]

Trilogi Winnetou Winnetou I ( Winnetou Ketua Suku Apache / Winnetou Kepala Suku Apache / Winnetou I: Kepala Suku Apache ) Winnetou II ( Pemburu Binatang Berbulu Tebal dari Rio Pecos / Winnetou II: Si Pencari Jejak ) Winnetou III ( Winnetou Gugur / Winnetou III: Winnetou Gugur ) Winnetou IV ( Wasiat Winnetou / Winnetou IV: Wasiat Winnetou )

Cerita Untuk Remaja [ sunting | sunting sumber ]

Der Sohn des Bärenjägers ( Anak pemburu Beruang / Rahasia Bison Putih ) dan Der Geist des Llano estakado ( Hantu Llano Estacado ) Der Ölprinz ( Raja Minyak ) Der Schwarze Mustang ( Mustang Hitam ) Der Schatz im Silbersee ( Harta di Danau Perak / Harta Terpendam di Danau Perak ) Das Vermächtnis des Inka ( Warisan Inka / Surat Wasiat Inka ) Kong Kheu, das Ehrenwort ( Kong Kheou, Sumpah ) Die

Sklavenkarawane ( Karavan Budak / Kafilah Budak Belian ) Lain-Lain [ sunting | sunting sumber ]

Und Friede auf Erden! ( Dan Damai di Bumi! )

Artikel Karl May Indonesia ini belum lengkap. Anda bisa membantu melengkapi dengan mengembangkannya.

Winnetou II: Si Pencari Jejak by Karl May.

Keranjang Belanja Kosong.

Ketersediaan : Stock tidak tersedia Format : Soft Cover ISBN : 9790651929 ISBN13 : 9789790651920 Tanggal Terbit : September 2013 Bahasa : Indonesia Penerbit : Visi Media.

Seorang pemuda Jerman bernama Charlie bertualang ke benua Amerika dan menuju ke Wild West. Dia menemukan banyak hal menarik di daerah perbatasan Amerika yang belum ditaklukkan bangsa kulit putih. Banyak tantangan yang harus ia hadapi, seperti ancaman beruang grizzly, orang Indian yang memusuhinya, dan orang kulit putih yang tidak jujur. Dia selalu berhasil dan menang. Dia selamat dari satu demi satu situasi berbahaya berkat kecerdikan, kamahirannya mengangkat senjata, dan kekuatannya yang luar biasa (sehingga dia dijuluki "Old Shatterhand").

Dalam perjalanan, dia berteman dengan seorang pemuda Indian yang sama hebatnya, Winnetou. Keinginan Charlie untuk bersahabat dengan Winnetou terhalang oleh perbedaan mereka. Bangsa Indian sudah terlalu banyak dirugikan oleh orang-orang kulit putih dan perbuatan Charlie di Wild West membuat mereka marah. Bagaimanakah charlie memperoleh kepercayaan Winnetou dan Suku Apache, padahal nyawa taruhannya?

Referensi

Dokumen terkait