JURNAL ILMIAH
Oleh :
LALU MOH FAIZUL RIFQI D1A117151
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM
2021
HALAMAN PENGESAHAN
ANALISIS YURIDIS TENTANG PUTUSAN HAKIM DALAM PEMBATALAN HIBAH (Studi Kasus Pengadilan Agama Giri Menang
Nomor: 539/pdt.G/2019/PA.GM) JURNAL ILMIAH
Oleh :
LALU MOH FAIZUL RIFQI D1A117151
ANALISIS YURIDIS TENTANG PUTUSAN HAKIM DALAM PEMBATALAN HIBAH (Studi Kasus Pengadilan Agama Giri
Menang Nomor: 539/pdt.G/2019/PA.GM) FAKULTAS HUIKUM UNIVERSITAS MATARAM
ABSTRAK
Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui ketentuan pembatalan hibah menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Hukum Islam dan juga mengetahui bagaimana dasar pertimbangan Hakim dalam memutus perkara pembatalan hibah. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis metode penelitian hukum normatif dengan menggunakan tiga macam metode pendekatan, yaitu Pendekatan perundang-undangan (Statute Approach), Pendekatan konseptual (Conceptual Approach) dan Pendekatan kasus (Case approach). Hasil penelitian ini dapat penulis simpulkan yakni pada putusan Pengadilan Agama Giri Menang Nomor 539/pdt.G/2019/PA.GM. Majelis hakim dalam amar putusannya menyatakan mengabulkan gugatan Penggugat sebagian, termasuk membatalkan hibah dari Penggugat terhadap Tergugat dengan beberapa dasar pertimbangan yakni pasal 210 ayat (1) pasal 212 dan Pasal 213 Kompilasi Hukum Islam (KHI).
Kata Kunci : Hibah, Pembatalan hibah, Kompilasi Hukum Islam
A JURIDICAL ANALYSIS OF BEQUEST ANNULMENT DECISION (A Case Study at Giri Menang Religious Court No:
539/pdt.G/2019/PA.GM)
FACULTY OF LAW, UNIVERSITY OF MATARAM ABSTRACT
This study describes the process of bequest annulment according to both the Code of Civil Law and Islamic Law. It also identifies considerations taken by the judge/s in deciding the bequest annulment. This study is a normative one, with statute, conceptual, and case approaches. Results of this study show that one of considerations taken by the judge/s before deciding the decision 539/pdt.G/2019/PA.GM The panel of judges in their decision was the fact that the bequest was a common property. Another consideration was the provisions of Islamic Law Compilations Article 210 paragraph (1), Article 212, and Article 213.
Keywords: Bequest, Bequest Annulment, Islamic Law Compilation
I. PENDAHULUAN
Hibah merupakan sebuah pemberian seseorang kepada pihak lain yang biasanya dilakukan ketika pemberi maupun penerima masih hidup.1 Di dalam hibah tidak terdapat unsur kontraprestasi, pemberi hibah menyerahkan hak miliknya atas sebagian atau seluruh harta kekayaannya kepada pihak lain tanpa ada imbalan apa-apa dari penerima hibah.
Dalam Hukum Islam, hibah berarti pemilikan sesuatu benda melalui transaksi tanpa mengharap imbalan yang telah diketahui dengan jelas ketika pemberi masih hidup.2
Dalam rumusan Pasal 171 huruf g Kompilasi Hukum Islam, menyatakan bahwa:
“Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masa hidup untuk dimiliki”.
Hibah memiliki fungsi sosial dalam masyarakat yang dapat diberikan kepada siapa saja tanpa memandang ras, suku, agama dan golongan, sehingga hibah dianggap sebagai solusi dalam pembagian warisan kepada keluarganya. Tetapi kenyataannya hibah bukan solusi yang tepat dalam hal pewarisan tanah, karena bisa jadi menimbulkan masalah baru misalnya penarikan kembali hibah atau pembatalan hibah.3 Apabila hibah dilakukan
1 Eman Suparman, Intisari Hukum Waris Indonesia, Bandar Maju, Bandung, 1995, hlm. 73
2 Ahmad Rofiq,Hukum Islam di Indonesia, PT Raja Grasindo Persada, Jakarta, 1995, hlm.466.
3 Putri T. L. C. Situmeang, Analisis Hukum Tentang Pembatalan Hibah, Premise Law Jurnal, Vol. 12, Maret 2015, hlm. 2. Diakses pada tanggal 9 juni 2021, Pukul 21.30 Wita.
dengan alasan yang tepat maka ini tidak akan timbul konflik, namun jika dilakukan dengan alasan maupun kondisi yang salah maka akan membawa masalah maupun kerugian bagi pihak pihak tertentu terkhusus bagi ahli waris. Ini juga salah satu alasan ketertarikan dalam mengangkat masalah hibah ini.
Menurut Kitab Undang–Undang Hukum Perdata (KUHPer) Pasal 1666 menyatakan bahwa:
“Hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah, di waktu hidupnya, dengan cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan sesuatu barang guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu”. 4
Penghibahan ini digolongkan pada apa yang dinamakan perjanjian
“dengan cuma- cuma” (bahasa Belanda: “om niet”) dimana perkataan
“dengan cuma-cuma” itu ditujukan pada hanya Prestasi dari suatu pihak Sedangkan pihak yang lainnya tidak usah memberikan kontra prestasi sebagai imbalan. Perjanjian yang demikian juga dinamakan perjanjian
“sepihak” (“unilateral”) sebagai lawan dari perjanjian “bertimbal balik”
(“bilateral”) perjanjian yang banyak tentunya adalah bertimbal balik karena yang lazim adalah bahwa orang yang menyanggupi suatu prestasi karena ia akan menerima suatu kontraprestasi.5
Dalam hal hibah ditarik kembali atau dibatalkan, menurut ketiga sistem hukum di Indonesia yang mengatur tentang hibah, yakni Hukum
4 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1666
5 R. Subekti, Aneka Perjanjian, Cetakan Ke-11, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2014, hlm. 94-95.
Islam, Hukum Adat dan Hukum Perdata, hibah yang sudah diberikan tidak dapat dibatalkan. Kecuali: hibah orang tua kepada anaknya (menurut Hukum Islam), hibah itu bertentangan dengan ketentuan adat daerah setempat (menurut Hukum Adat) dan jika pihak penerima hibah tidak memenuhi persyaratan dalam menjalankan hibah yang telah diberikan (menurut Hukum Perdata).
Dari uraian diatas maka penulis bermaksud untuk membahas permasalahan tersebut dalam sebuah skripsi dengan judul “ANALISIS YURIDIS TENTANG PUTUSAN HAKIM DALAM PEMBATALAN HIBAH” (Studi Putusan Pengadilan Agama Giri Menang nomor : 539/pdt.G/2019/PA.GM)”.
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana ketentuan pembatalan hibah menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Hukum Islam ?. 2) Bagaimana Dasar Hukum Pertimbangan Hakim dalam Putusan Pengadilan Agama Giri Menang ?
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan sebagaimana telah dirumuskan, maksud dan tujuan dari penelitian ini sebagai berikut: 1) Untuk mengetahui ketentuan pembatalan hibah menurut kitab Undang- undang Hukum Perrdata dan Hukum Islam. 2) Untuk mengetahui bagaimana dasar Hukum pertimbangan Hakim dalam memutus perkara pembatalan Hibah.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu hukum serta hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan solusi yang tepat bagi pengambil kebijakan khususnya berkaitan dengan pembatalan hibah.
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu jenis metode penelitian hukum normatif dengan menggunakan tiga macam metode pendekatan, yaitu Pendekatan perundang-undangan (Statute Approach), Pendekatan konseptual (Conceptual Approach) dan Pendekatan kasus (Case approach). Sumber dan jenis data penelitian Jenis yuridis normatif (normatif legal seach) Sumber dan jenis data dalam penelitian ini adalah bersumber dari data lapangan dan data kepustakaan dengan jenis datanya yaitu data primer dan data sekunder. Teknik Pengumpulan bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini akan dilakukan dengan Teknik atau cara studi dokumen resmi yaitu dengan menelusuri dan menghimpun putusan dari Pengadilan Giri Menang Khusunya mengenai Pembatalan Hibah.
II. PEMBAHASAN
Ketentuan pembatalan hibah menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Hukum Islam
Pembatalan Hibah Menurut Kompilasi Hukum Islam
Pembatalan atau penarikan kembali atas suatu pemberian (hibah) merupakan perbuatan yang diharamkan, meskipun hibah tersebut terjadi antara dua orang yang bersaudara atau suami isteri. Adapun hibah yang boleh ditarik kembali hanyalah hibah yang dilakukan atau diberikan orang tua kepada anaknya.
Menurut hadist Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda:
“Bahwa orang yang meminta kembali hibahnya adalah laksana anjing yang muntah kemudian dia memakan kembali muntahnya itu, hadist ini diriwayatkan oleh Mutafaq’alaih. Dalam riwayat yang lain, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas mengemukakan bahwa Rasulullah pernah berkata, tidak halal bagi seorang muslim yang memberikan suatu pemberian kemudian ia meminta kembali pemberiannya itu, kecuali orang tua dalam suatu pemberian yang ia berikan kepada anaknya. Hadist ini dinilai sahih oleh At Tarmizi, Ibnu Hibban dan Al Hakim, An Nasa’ dan Ibnu Maja”
Hibah yang sudah diberikan dapat dimungkinkan untuk menarik kembali suatu barang yang telah dihibahkan (menurut sebagian pendapat kecuali hibah yang diberikan terhadap anak), penarikan itu dapat juga dilakukan seandainya hibah yang diberikan tersebut guna mendapatkan imbalan dan balasan atas hibah yang diberikannya.
Di dalam Kompilasi Hukum Islam bahwa pada prinsip hibah hanya boleh dilakukan 1/3 dari harta yang dimilikinya, hibah orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai waris. Apabila hibah akan dilaksanakan menyimpang dari ketentuan tersebut, diharapkan agar tidak terjadi perpecahan diantara keluarga. Prinsip yang dianut oleh hukum Islam adalah sesuai dengan kultur bangsa Indonesia dan sesuai pula dengan apa yang dikemukakan oleh Muhammad Ibnul Hasan, bahwa orang yang menghibahkan semua hartanya itu adalah orang yang dungu dan tidak layak bertindak hukum. Oleh karena orang yang menghibahkan harta dianggap tidak cakap bertindak hukum, maka hibah yang dilaksanakan dianggap batal, sebab ia tidak memenuhi syarat untuk melakukan penghibahan.6
Sehubungan dengan uraian tersebut di atas dapat simpulkan bahwa pada dasarnya hibah tidak dapat dibatalkan atau ditarik kembali.
Namun apabila hibah yang diberikan seseorang pemberi hibah yang melebihi 1/3 dari harta kekayaannya dapat dibatalkan, karena tidak memenuhi syarat dalam penghibahan serta melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 210 Kompilasi Hukum Islam.
Pembatalan Hibah menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pada dasarnya hibah yang telah diberikan oleh seseorang kepada orang lain tidak dapat dicabut atau dibatalkan. Pembatalan terhadap
6 Abdul manan, Aneka masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia , Kencana Media Preneda Group, Jakarta , 2006 hal 138
suatu hibah hanyalah dimungkinkan dalam hal-hal sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Pasal 1688 KUHPerdata, yaitu:
1. Jika syarat-syarat penghibahan itu tidak dipenuhi oleh penerima hibah. Dalam hal ini barang yang dihibahkan tetap tinggal pada penghibah, atau ia boleh meminta kembali barang itu, bebas dari semua beban dan hipotek yang mungkin diletakkan atas barang itu oleh penerima hibah serta hasil dan buah yang telah dinikmati oleh penerima hibah sejak ia alpa dalam memenuhi syarat-syarat penghibahan itu. Dalam hal demikian penghibah boleh menjalankan hak-haknya terhadap pihak ketiga yang memegang barang tak bergerak yang telah dihibahkan sebagaimana terhadap penerima hibah sendiri.
2. Jika orang yang diberi hibah bersalah dengan melakukan atau ikut melakukan suatu usaha pembunuhan atau suatu kejahatan lain atas diri penghibah.
Maksud dari penjelsan diatas bahwa suatu hibah dapat dibatalkan oleh pemberi hibah, apabila penerima hibah telah melakukan perbuatan-perbuatan ataupun memberikan bantuan dalam hal perbuatan yang dapat mengancam jiwa dan keselamatan dari pemberi hibah, atau perbuatan-perbuatan lain yang melanggar undang-undang dan dapat diancam dengan hukuman pidana
3. Jika penghibah jatuh miskin sedang yang diberi hibah menolak untuk memberi nafkah kepadanya. Dalam hal ini barang yang telah
diserahkan kepada penghibah akan tetapi penerima hibah tidak memberikan nafkah, sehingga hibah yang telah diberikan dapat dicabut atau ditarik kembali karena tidak dilakukannya pemberian nafkah.
Dasar Hukum Pertimbangan Hakim dalam Putusan Pengadilan Agama Giri Menang
Hakim Pengadilan Agama mempunyai tugas pokok untuk menerima, memeriksa serta menyelesaikan perkara dengan melakukan persidangaan. Penyelesaian perkara tersebut tercapai dengan adanya putusan dari hakim. Dalam membuat putusan, hakim harus bersumber dari hasil pemeriksaan dalam persidangan yang dicatat secara lengkap dalam Berita Acara Persidangan (BAP). Putusan harus memuat tentang pertimbangan hukum yang menggambarkan pokok pikiran hakim dalam mengkualifisir fakta-fakta yang telah terbukti dalam persidangan serta menemukan hukumnya bagi peristiwa tersebut. Disini hakim harus merumuskan secara rinci, kronologis, dan hubungan satu sama lain dengan didasarkan pada hukum atau peraturan perundang-undangan yang secara tegas disebutkan hakim.
Dalam pertimbangan hukum ini hakim akan mempertimbangkan dalil gugatan mengenai hal-hal yang diakui dan yang dibantah oleh para pihak. Pertimbangan hukum memuat hal-hal yang menjadi pokok persoalan, analisis yuridis tentang segala fakta yang terjadi dalam persidangan mengenai alat bukti dan penerapan ketentuan hukum pada
peristiwa yang telah dikemukakan para pihak atau dengan kata lain yaitu pertimbangan hukum yang dapat diterapkan dalam kasus tersebut.
Alasan pertimbangan hukum tersebut harus dimuat atau disusun secara logis (objektif), sistematis dan saling berhubungan. Semua bagian tuntutan atau petitum harus dipertimbangkan satu demi satu dengan sehingga hakim dapat menarik kesimpulan tentang terbukti atau tidaknya gugatan tersebut. Disinilah tugas pokok hakim untuk mengkonstatir segala peristiwa yang terjadi dalam persidangan. Harus dimuat juga dasar dan alasan dari pada putusan tersebut, Pasal-Pasal serta hukum tidak tertulis dalam pokok perkara dan mewajibkan kepada hakim karena jabatannya melengkapi semua alasan hukum yang tidak dikemukakan oleh para pihak. Hakim dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut atau meluluskan lebih dari pada apa yang dituntut. Hal ini diatur dalam Pasal 178 ayat (1) dan Pasal 184 HIR, Pasal 189 ayat (1) RBg serta Pasal 25 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
Berdasarkan dari putusan hakim dalam kasus tersebut dapat dilihat bahwa pertimbangan hakim bahwa majelis Hakim mempertimbangkan kebolehan penarikan/pemcabutan hibah orang tua kepada anak
Menimbang, bahwa terkait dengan permasalahan hibah para ulama Fiqh (Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Hanafi) mengemukakan pembahasan tentang stus hukum yang terkait
pemberian ayah/ibu kepada anaknya dan para ulama Fiqh sepakat mengatakan bahwa seorang ayah/ ibu harus berusaha memperlakukan anak-anaknya dengan perlakuan yang adil, para ulama mengatakan bahwa makruh hukumnya memberikan harta yang kualitas dan kuantitasnya berbeda kepada satu anak dengan anak yang lainnya apabila sifatnya pemberian menurut Jumhur Ulama tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dengan anak perempuan seorang ayah/ibu haruslah bersikap adil.7
Menimbang, bahwa Jumhur ulama berpendapat pencabutan di dalam hibah adalah haram sekalipun hibah itu terjadi diantara saudara atau suami isteri kecuali bila hibah orang tua kepada anaknya sebagaimana yang telah ditegaskan dalam ketentuan Pasal 212 Kompilasi Hukum Islam dengan tegas menyatakan bahwa
“hibah tidak dapat ditarik kembali kecuali hibah orang tua kepada anaknya”
Menimbang, bahwa sejalan dengan Hadist Rasulullah Saw, pendapat para fuqoha dan jumhur ulama yang selanjutnya diambil alih oleh Majelis Hakim Dan ketentuan dalam Pasal 212 Kompilasi Hukum Islam dan Pasal 1672 KUHPerdata sebagaimana pertimbangan tersebut diatas maka telah beralasan dan berdasar hukum terkait kebolehan penarikan hibah yang hendak dilakukan Penggugat kepada Tergugat terhadap obyek sengketa 2.a dan 2. b yang ditunjuk sebagaimana dalam Sertifikat Hak Milik No. 2496, Luas 18.792 M2 dan Sertifikat Hak Milik
7 Salinan Putusan
No. 2949, Luas 1881 M2 atas nama Drs Sabir Husein.8
Maka berdasarkan pasal 212 Kompilasi Hukum Islam dan pasal 1672 KUHPerdata tersebut dan sejalan dengan pendapat Jumhur Ulama bahwa pencabuatan didalam hibah adalah haram sekalipun hibah itu terjadi diantara saudara atau suami istri kecuali bila hibah orang tua kepada anaknya sebagaimana yang telah ditegaskan dalam ketentuan Pasal 212 Kompilasi Hukum Islam dengan tegas menyatakan bahwa hibah tidak dapat ditarik kembali kecuali hibah orang tua kepada anaknya. Hibah yang telah diberikan kepada tergugat, patut untuk dikabulkan karena telah sesuai dengan pasal 212 Kompilasi Hukum Islam yang merupakan rangkuman dari pendapat Ulama Fiqih Islam.
Pada kasus Gugatan pembatalan hibah ini, hakim juga mempertimbangkankan dari segi keadilan. Hal ini dapat dilihat bahwa sebagaimana fakta hukum Tergugat telah beberapakali terlibat dalam konflik dan pertengkaran pada saat melakukan pertemuan mediasi di Kantor BPN hingga adanya dugaan pengancaman dan hendak menjual tanah hibah secara sepihak, maka atas dasar fakta tersebut Majelis Hakim menilai penerima hibah telah bersalah melakukan atau membantu melakukan kejahatan yaitu mengancam jiwa penghibah.
Berdasarkan kasus perihal permasalahan penarikan hibah berdasarkan KHI dan KUH PERDATA ini, dapat diambil kesimpulan bahwa Hakim memberikan putusan berdasarkan peristiwa atau kasus
8 Salinan Putusan
yang terjadi dengan meninjau alasan yang dijadikan dasar dalam penarikan kembali hibah yang dilakukan oleh orang tua.
III. PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah penulis paparkan di muka, maka dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut:
1. Pembatalan Hibah menurut Kompilasi Hukum Islam, bahwa pada dasarnya hibah tidak dapat dibatalkan atau ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya. Begitu pula menurut Pasal 1688 KUHPerdata bahwa hibah yang telah diberikan oleh seseorang kepada orang lain tidak dapat ditarik kembali atau dibatalkan, kecuali: (a) Jika syarat-syarat penghibahan itu tidak dipenuhi oleh penerima hibah, (b) Jika orang yang diberi hibah bersalah dengan melakukan atau ikut melakukan suatu usaha pembunuhan atau suatu kejahatan lain atas diri penghibah, (c) Jika penghibah jatuh miskin sedang yang diberi hibah menolak untuk memberi nafkah kepadanya.
2. Dasar Pertimbangan Hukum hakim dalam perkara pembatalan hibah Pada putusan Pengadilan Agama Giri Menang Nomor 539/pdt.G/2019/PA.GM tentang pembatalan hibah ini telah ditemukan fakta hukum bahwa objek sengketa tanah hibah tersebut adalah merupakan harta bersama yang diperoleh dari Penggugat secara mutlak karena telah dibuktikan saat persidangan berlangsung. Sehingga Majelis hakim dalam amarnya menyatakan mengabulkan gugatan Penggugat sebagian, termasuk membatalkan hibah dari Penggugat terhadap Tergugat dengan beberapa dasar pertimbangan yakni.
Pertama, hadist Rasulullah yaitu “orang tua boleh menarik kembali harta yang dihibahkannya”, juga terdapat didalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 212, “Hibah tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya.”Kedua, hibah dapat dibatalakan sebagian yang melebihi dari 1/3 (sepertiga) harta ahli waris. ketiga, bahwa penarikan atau pembatalan hibah dari orang tua kepada anaknya dikarenakan sang anak dirasa telah melakukan kesalahan (menyakiti dan melukai perasaan dan tidak sopan kepada orang tuanya), dan hal inilah yang mengakibatkan hibah itu bisa ditarik kembali atau dibatalkan.
Saran
Bertitik tolak kepada permasalahan yang ada dan dikaitkan dengan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat saya berikan saran sebagai berikut :
1. Kepada para pihak dalam pelaksanaan hibah, hendaknya hibah dilakukan dihadapan notaris, karena hibah dengan akta notaris mengandung unsur positif manakala di kemudian hari ada persengketaan menyangkut objek hibah yang dituntut oleh pihak lain.
Sengketa tersebut biasanya terjadi karena ada pihak-pihak yang keberatan atau akan mengganggu keberadaan harta atau benda hibah tersebut. Keberadaan akta notaris dalam hal ini bermanfaat dalam mencegah adanya sengketa melalui bukti otentik.
2. Kepada masyarakat, hendaknya keberadaan dan pelaksanaan hibah sebagai bentuk amal harus senantiasa dilestarikan dalam kehidupan masyarakat untuk kemaslahatan bersama. keberadaan hibah saat ini hendaknya dilakukan secara prosedur yang berlaku dalam hukum karena mengandung unsur positif dalam mencegah adanya sengketa atau permusuhan di kemudian hari karena adanya perselisihan menyangkut benda yang dihibahkan oleh si penghibah yang meninggal suatu saat.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ahmad Rofiq, 1995, Hukum Islam di Indonesia, PT Raja Grasindo Persada, Jakarta.
Abdul manan, 2006, Aneka masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia , Kencana Media Preneda Group, Jakarta.
Eman Suparman, 1995, Intisari Hukum Waris Indonesia, Bandar Maju, Bandung.
R. Subekti, 2014, Aneka Perjanjian, Cet Ke-11, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Indonesia, Undang-Undang no 4 Pasal 25 ayat (1) tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
Indonesia, Peraturan Pemerintah pasal 37 ayat (1) tahun 1997 tentang pendaftaran Tanah
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1666
Kompilasi Hukum Islam Pasal 171 huruf G , 210, 212, 213 JURNAL
Putri T. L. C. Situmeang, Analisis Hukum Tentang Pembatalan Hibah, Premise Law Jurnal, Vol. 12, Maret 2015
Putusan
Putusan Nomor: 539/pdt.G/2019/PA.GM