• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasal 1 Tugas Pekerjaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pasal 1 Tugas Pekerjaan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 SURAT PERJANJIAN

PELAKSANAAN PENELITIAN SKIM OPR INSTITUSI PIMPINAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO TAHUN AKADEMIK 2020/2021

Nomor: 013/II.AU/C/LPPM/2021

Pada hari ini Jumat tanggal dua bulan Jumadil Akhir tahun Seribu Empat ratus empat puluh dua Hijriah, bertepatan dengan hari Jumat tanggal dua puluh dua Bulan Januari Tahun dua ribu dua puluh satu, kami yang bertandatangan di bawah ini :

1. Dr. Achyani, M.Si. : Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Metro (LPPM) dalam hal ini bertindak selaku Pejabat Pembuat Komitmen di Lingkungan LPPM Universitas Muhammadiyah Metro selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA;

2. Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed. : Sebagai penerima PAGU Penelitian Skim Penelitian Institusi Pimpinan Universitas Muhammadiyah Metro dalam hal ini bertindak atas nama penerima dana Penelitian Skim Penelitian Institusi Pimpinan Universitas Muhammadiyah Metro Tahun Akademik 2020/2021, untuk selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.

Judul Penelitian : Implementasi Kurikulum Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam Membangun Karakter Mahasiswa

Kedua belah pihak berdasarkan:

Surat Keputusan Ketua LPPM UM Metro Nomor: 12/II.3.AU/C/LPPM/2021, tanggal 27 Jumadil Awwal 1442 H, / 11 Januari 2021 tentang Hasil Penetapan Biaya Usulan Skim OPR Institusi Pimpinan Universitas Muhammadiyah Metro Tahun Akademik 2020/2021

Secara bersama-sama telah sepakat mengadakan Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Instistusi Tahun Akademik 2020/2021 bagi Dosen Perguruan Tinggi Universitas Muhammadiyah Metro dengan ketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut:

Pasal 1 Tugas Pekerjaan

(1) PIHAK PERTAMA memberi tugas kepada PIHAK KEDUA, dan PIHAK KEDUA menerima tugas tersebut untuk melakukan penelitian dan PIHAK KEDUA bertanggung jawab atas terlaksananya Penelitian Institusi Pimpinan Universitas Muhammadiyah Metro Tahun Akademik 2020/2021

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (LPPM)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Jl. Ki Hajar Dewantara No. 116 IringmulyoTelp/Faks. 0725 42445 KodePos 34111

(2)

2 Pasal 2

Dasar Pelaksanaan

Pekerjaan tersebut dalam pasal 1 di atas harus dilaksanakan oleh PIHAK KEDUA atas dasar surat LPPM UM Metro Nomor: 12/II.3.AU/C/LPPM/2021, tanggal 27 Jumadil Awwal 1442 H, / 11 Januari 2021 tentang Hasil Penetapan Biaya Usulan Skim Penelitian Institusi Pimpinan Universitas Muhammadiyah Metro Tahun Akademik 2020/2021

Pasal 3

Sasaran Hasil yang Akan Dicapai

Pekerjaan sebagaimana tersebut dalam pasal 1 Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (Kontrak) ini harus dilaksanakan sesuai dengan dasar pelaksanaan pekerjaan yang merupakan rujukan tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (kontrak) ini

Pasal 4

Jangka Waktu Penelitian, Seminar Hasil, Laporan Pelaksanaan Penelitian dan Publikasi (1) PIHAK KEDUA harus menyelesaikan Seminar Hasil Penelitian Institusi Pimpinan sesuai jadwal

yang telah ditetapkan oleh LPPM Universitas Muhammadiyah Metro pada bulan Juli, Hasil draft penelitian dalam bentuk softcopy dan hardcopy sebanyak 1 (satu) eksemplar sesuai dengan penulisan ilmiah

(2) PIHAK KEDUA harus menyampaikan kepada PIHAK PERTAMA berupa Laporan Akhir Hasil Kegiatan Penelitian Institusi Pimpinan dalam bentuk Hardcopy sebanyak 2 Eksemplar dalam bentuk soft copy dan format pdf selambat-lambatnya tanggal 27 Juli 2021,

(3) PIHAK KEDUA harus menyerahkan draft artikel hasil penelitian Institusi Pimpinan pada LPPM Universitas Muhammadiyah Metro untuk diterbitkan pada Jurnal Lentera Pendidikan Pusat Penelitian LPPM UM Metro

Pasal 5

Jumlah Biaya / Nilai Kontrak Pekerjaan

Jumlah biaya/nilai Kontrak Pekerjaan tersebut dalam pasal 1 dan untuk jangka waktu seperti tersebut pasal 4 Surat berjumlah sebesar Rp.5.000.000 (Lima juta rupiah) yang dibayarkan 1 tahap 100%

sejumlah Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah)

Pasal 6

Tanggungjawab dan Kewajiban PIHAK KEDUA Kepada PIHAK PERTAMA

(1) PIHAK KEDUA bertanggungjawab terhadap pelaksanaan Kegiatan Penelitian Institusi Pimpinan terhadap ketepatan waktu penyelesaian penelitian, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

(2) PIHAK KEDUA berkewajiban menjamin bahwa pelaksanaan Penelitian Institusi Pimpinan sebagaimana disebutkan pada pasal 1 tidak terjadi duplikasi/plagiat.

(3) PIHAK KEDUA berkewajiban mempertanggungjawabkan penggunaan dana untuk Penelitian Institusi Pimpinan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku pada setiap akhir tahun anggaran.

(4) PIHAK KEDUA tidak diperkenankan melimpahkan tugas yang dibebankan dari PIHAK PERTAMA kepada pihak lain.

(5) PIHAK KEDUA berkewajiban menyetorkan kembali ke LPPM Universitas Muhammadiyah Metro dan melaporkan kepada PIHAK PERTAMA dalam hal :

1) Dana kegiatan yang tidak dapat dipergunakan sesuai peruntukannya, dan/atau karena peraturan yang berlaku atau karena hal lain tidak dipergunakan.

(3)

3 2) Sisa dari Dana yang sudah diterima dan tidak dipergunakan sesuai peruntukannya, dan/atau karena menurut peraturan dan ketentuan yang berlaku atau karena hal lain yang dipergunakan.

Pasal 7

Hasil Pelaksanaan Kegiatan Penelitian Institusi Pimpinan

1. Hasil kegiatan Penelitian Institusi Pimpinan adalah penelitian dosen seperti tersebut pada pasal 1 dari Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (kontrak) ini.

2. Hak cipta yang berupa paten dan dapat dinilai dengan uang, menjadi hak PIHAK PERTAMA dan Pihak Penerima Dana Penelitian Institusi Pimpinan.

Pasal 8 Sanksi

(1) Apabila batas waktu habisnya masa Pelaksanaan Penelitian Institusi Pimpinan ini PIHAK KEDUA belum menyerahkan hasil pekerjaan seluruhnya kepada PIHAK PERTAMA maka PIHAK KEDUA dikenakan denda sebesar satu permil setiap hari keterlambatan s.d. setinggi- tingginya 5% (lima persen) dari nilai Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Institusi Pimpinan, terhitung dari tanggal jatuh tempo yang telah ditetapkan sampai dengan berakhirnya batas pelaporan ke LPPM Universitas Muhammadiyah Metro

(2) Dalam hal PIHAK KEDUA tidak dapat memenuhi Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Institusi Pimpinan ini, maka PIHAK KEDUA wajib mengembalikan dana tersebut yang telah diterimanya kepada PIHAK PERTAMA untuk selanjutnya disetorkan kembali ke UM Metro.

(3) Apabila dikemudian hari terbukti bahwa Penelitian Institusi Pimpinan sebagaimana tersebut pada pasal 1 terdapat duplikasi/plagiat, maka Hasil Penelitian Institusi Pimpinan tersebut dinyatakan batal dan PIHAK KEDUA wajib mengembalikan dana tersebut yang telah diterimanya kepada PIHAK PERTAMA untuk selanjutnya disetor kembali ke UM Metro.

Pasal 9

Keadaan Memaksa (Force Majeure)

(1) Apabila terjadi keadaan memaksa (Force Majeure) PIHAK KEDUA harus memberitahukan kepada PIHAK PERTAMA secara tertulis selambat-lambatnya dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak terjadinya ”Keadaan Memaksa” antara lain bencana alam (seperti gempa bumi, tanah longsor, kekeringan, angin ribut, banjir, kebakaran, +wabah penyakit, perang, huru hara, pemogokan, pemberontakan, epidemi, dan kebijakan moneter) yang secara keseluruhan berhubungan langsung dengan pelaksanaan kegiatan ini, disertai bukti-bukti yang sah.

(2) Apabila dalam jangka waktu kegiatan seperti tersebut pada pasal 4 tidak dapat dipenuhi, maka untuk selanjutnya PIHAK PERTAMA akan mempertimbangkan usul-usul tindak lanjut dalam rangka Penyelesaian kegiatan yang menjadi tanggungjawab PIHAK KEDUA.

Pasal 10 Perselisihan

1) Apabila terjadi perselisihan antara kedua belah pihak, maka akan diselesaikan secara musyawarah dan mufakat.

2) Apabila cara tersebut pada ayat (1) pasal ini tidak mencapai kesepakatan, maka penyelesaiannya akan dimintakan kepada atasan Langsung PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.

(4)

4 Pasal 11

Ketentuan Lain-lain

Segala sesuatu yang belum cukup atau tidak diatur dalam Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (Kontrak) ini, atau di kemudian hari terjadi perubahan/ penyempurnaan (perbaikan/pertambahan/

pengurangan) yang dipandang perlu oleh kedua belah pihak, maka akan diatur lebih lanjut dalam Surat Perjanjian Tambahan (Addendum Kontrak).

Pasal 12 Penutup

Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (Kontrak) ini ditandatangani oleh Kedua Belah Pihak pada hari dan tanggal tersebut di atas, bermaterai cukup, untuk PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA dengan di ketahui oleh LPPM Universitas Muhammadiyah Metro serta dibuat dalam rangkap 2 (dua) yang masing-masing mempunyai kekuatan hukum.

PIHAK PERTAMA Ketua LPPM UM Metro,

PIHAK KEDUA

Penerima Dana Penelitian Institusi Pimpinan,

Dr. Achyani, M.Si. Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed.

NIP. 19640815 198903 1003 NIDN 0229077501

Mengetahui Rektor,

ZZ

Drs. H. Jazim Ahmad, M.Pd.

NIP. 19600101 198703 1005

(5)

IMPLEMENTASI KURIKULUM AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN (AIK) DALAM MEMBANGUN

KARAKTER MAHASISWA Muhammad Ihsan Dacholfany

Iswati

Universitas Muhammadiyah Metro

[email protected], [email protected]

ABSRACT

This study aims to determine the implementation of the Al Islam and Kemuhammadiyahan curriculum in building student character at the University of Muhammadiyah Metro (UM Metro). Character education is the main objective of providing education at the University of Muhammadiyah Metro and specifically character education in the Muhammadiyah Higher Education environment has also existed since Muhammadiyah College (PTM) was established. Character education in PTM is called Al Islam and Kemuhammadiyahan (AIK) education.

The results showed that UM Metro has developed and implemented character education through the AIK curriculum. The AIK curriculum has been formulated in such a way with systematic governance both in terms of policies, content, and organizational management. Data analysis is used in data reduction techniques, data presentation, and concluding. The results of the study show that many positive things have been achieved through the AIK curriculum implementation model. However, the implementation of the AIK curriculum has not fully achieved the expected targets to the fullest. Several things must be addressed to achieve the goal of character education at UM Metro to the maximum, especially in the content of materials and learning methods which still tend to only reach the cognitive realm of students. However, the AIK curriculum management function at UM Metro has been well structured and implemented.

Keywords: Curriculum, Al Islam and Kemuhammadiyahan

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kurikulum Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membangun karakter mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro). Pendidikan karakter merupakan tujuan utama penyelenggaraan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Metro dan secara spesifik pendidikan karakter di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah juga telah ada sejak Perguruab Tinggi Muhamamdiyah (PTM) berdiri. Pendidikan karakter di PTM disebut pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa UM Metro telah mengembangkan dan mengimplementasikan pendidikan karakter melalui kurikulum AIK. Kurikulum AIK ini telah diformulasikan sedemikian rupa dengan tata kelola yang sistematis

(6)

baik dari sisi kebijakan, muatan isi maupun manajemen pengorganisasiannya.

Analisis Data yang digunakan yakni teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Banyak hal positif dan telah dicapai melalui model implementasi kurikulum AIK. Namun demikian, penerapan kurikulum AIK belum sepenuhnya mencapai sasaran yang diharapkan secara maksimal. Ada beberapa hal yang harus dibenahi untuk tercapainya tujuan pendidikan karakter di UM Metro secara maksimal terutama adalah pada muatan materi dan metode pembelajaran yang masih cenderung baru mencapai ranah kognitif mahasiswa. Tetapi fungsi manajemen kurikulum AIK di UM Metro sudah disusun dan dilaksanakan dengan baik.

Kata Kunci: Kurikulum, Al Islam dan Kemuhammadiyahan

PENDAHULUAN

Pendidikan karakter dalam dunia pendidikan memiliki peran sentral bagi kemajuan baik sikap, perilaku, maupun pemikiran.

Pendidikan karakter merupakan amanah konstitusi dan termaktub dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak terbendung oleh kekuatan fisik dengan berbagai dampak baik positif maupun negatif, menjadi alasan kuat untuk menjadikan pendidikan karakter sebagai basis pertahanan moral dalam menghadapi pengaruh negatif globalisasi.

Peningkatan kualitas pendidikan karakter memiliki dampak bagi keterampilan berfikir kreatif tingkat tinggi sehingga peserta didik dapat bersaing di era globalisasi (Mulyasa, 2016: 393).

Berdasarkan pernyataan tersebut artinya pendidikan karakter merupakan ujung tombak pendidikan bagi kemajuan manusia, oleh karena itu pendidikan karakter hendaknya ada di setiap level pendidikan.

Pendidikan karakter di perguruan tinggi merupakan salah satu tugas utama perguruan tinggi sebagaimana yang kehendaki oleh Kurikulum 2012. Berdasarkan UUPT No.12/2012 dan KKNI-Perpres No.8/2012 membahas tentang kesetaraan mutu pendidikan yang meliputi kemampuan sikap dan tata nilai, kemampuan kerja, penguasaan keilmuan, kewenangan, dan tanggung jawab (Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 2014:6). Di perguruan tinggi umum baik di bawah Kemenristekdikti maupun di Kemenag pendidikan karakter termasuk dalam ranah tridarma perguruan tinggi.

Di Perguruan Tinggi Umum pendidikan karakter tidak secara spesifik ditetapkan. Berbeda dengan perguruan tinggi umum, pendidikan karakter di lembaga pendidikan Muhammadiyah secara spesifik telah diterapkan semenjak lembaga pendidikan Muhammadiyah lahir, selalu terus berusaha berinovasi dan melakukan perubahan serta pembaharuan dalam proses pendidikan dan pengajaran

(7)

(Dacholfany.2015:33). Demikian juga pendidikan karakter di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah telah ada sejak PTM berdiri.

Muhammadiyah adalah organisasi yang bercita-cita menegakkan ajaran Islam secara kaafah yang bersifat moderat (wasatiah). Sebagai sebuah organisasi Islam yang memiliki jargon Islam berkemajuan, Muhammadiyah menekankan pada amal nyata dalam gerakan membela kaum lemah dengan mendirikan Amal usaha Muhammadiyah. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) memiliki beberapa jenis usaha yang dikelola, bukan hanya usaha bidang pendidikan saja, namun juga kesehatan, perdagangan, rumah yatim piatu dan lain-lain.

Bagi Muhammadiyah, pendidikan bukan sekedar alat untuk mencetak manusia-manusia terampil dan menyiapkan masa depan mereka dalam kehidupan dunia tapi mencakup dimensi ukhrawi. K.H.

Ahmad Dahlan menyebutnya dengan model pendidikan yang utuh, yaitu pendidikan yang berkeseimbangan antara perkembangan mental dan jasmani, antara keyakinan dan intelek, antara perasaan dengan akal pikiran, serta antara dunia dengan akhirat. (Hadikusumo, 1980:5).

Pandangan Muhammadiyah terhadap pendidikan dapat dilihat dalam Tanfidz Keputusan

Mukhtamar Satu Abad

Muhammadiyah yang mengaskan bahwa visi pendidikan

muhammadiyah adalah terbentuknya manusia pembelajar yang bertaqwa, berakhlak mulia, berkemajuan dan unggul dalam Ipteks sebagai perwujudan tadjid dakwah amar makruf nahi munkar. Sedangkan misi pendidikan muhammadiyah adalah:

1) mendidik manusia memiliki kesadaran ketuhanan (spiritual makrifat), 2) membentuk manusia berkemajuan yang memiliki etos tadjid, berfikir cerdas, alternatif dan berwawasan luas.

Merealisasikan visi dan misi tersebut, di setiap lembaga pendidikan Muhammadiyah, selain memasukkan kurikulum pada umumnya juga wajib diadakan materi yang berkenaan dengan pembinaan keimanan yang dinamakan dengan “Al Islam- Kemuhammadiyahan (AIK)”(PP Muh bab. III, Pasal 2). Ini merupakan materi fardhu a’in, dimana setiap mahasiwa wajib mengambil materi ini. Materi inilah yang menjadi ruh pendidikan muhammadiyah. Inilah model islamisasi kampus yang dilakukan dalam institusi pendidikan

muhammadiyah untuk

mengintegrasikan keilmuan antara pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Secara umum dapat disimpulkan bahwa tujuan utama pendidikan muhammadiyah dengan kurikulum AIKnya adalah pembinaan karakter (character building) peserta didik dimana materi AIK menjadi sarana utamanya, dalam usaha pada pembinaan karakter kepribadian yang islami

(8)

(Dacholfany.2015:30) Tidak berbeda dengan PTM lainnya, AIK di UM Metro menempati posisi strategis.

bahkan, menjadi ruh penggerak dan menjadi misi utama penyelenggaraan perguruan tinggi. Pendidikan Al- Islam dan Kemuhamadiyahan (AIK) juga menjadi Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa tanpa kecuali.

Pendidikan AIK juga sebagai identitas karakter civitas akademika, menjadi basis kekuatan spiritual, moral dan intelektual serta daya gerak bagi seluruh civitas akademika, hal ini sesuai dengan visi-Misi UM metro tahun 2020- 2030 yaitu Visinya adalah “Pusat Keunggulan Profetik Profesional, Modern dan Mencerahkan”, sedangkan Misinya adalah: :a

.Bidang Pendidikan

: Mengembangkan sistem akademik yang prima, modern, dan unggul untuk menghasilkan SDM yang memiliki keilmuan profetik profesional melalui kajian keIslaman tematik yang berorientasi pada IPTEKS dan berwawasan lingkungan; b.Bidang Penelitian : Mengembangkan Sistem Kelembagaan Penelitian dan SDM yang Prima untuk menghasilkan Riset Keilmuan berbasis nilai-nilai al Islam, Kemuhammadiyahan yang aplikatif dengan dunia usaha dan industri;c. Bidang Pengabdian

kepada Masyarakat

: Mengembangakan Sistem kelembagaan dan SDM yang Prima melalui peningkatan Komitmen dan Kompetensi Pengabdi dalam

membangun jejaring untuk menghasilkan teknologi tepatguna yang memberikan solusi terhadap kebutuhan Masyarakat; d.Bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan dan Kerja Sama : Mewujudkan atmosfer kampus yang bercitra Islami melalui riset dan aktualisasi keislaman dan kemuhammadiyahan untuk membangun insan kamil dan Mengembangkan kelembagaan Kerjasama Nasional dan Internasional untuk memperluas Jejaring Mitra yang produktif dan Berkelanjutkan.(https://ummetro.ac.i d/visi-dan-misi-um-metro/)

Bagi UM Metro pembelajaran AIK memegang peranan yang sangat penting untuk membentuk insan akademis yang berakhlak tetap bersumberkan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber ajarannya (Dacholfany.2015:173), karena itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan matakuliah AIK yang paling pokok adalah terletak pada perubahan sikap (attitude), mental dan tingkah laku mahasiswa. Walaupun UM Metro lebih khusus AIK sudah jelas bahwasanya lembaga yang bernafaskan Islam, akan tetapi tidak membatasi hanya mahasiswa muslim saja, mahasiswa non muslim juga berhak untuk menjadi akademisi yang berakhlak dan berkarakter serta mampu membatu memberi solusi yang tepat sesuai dengan harapan mahasiswa (Harum.2021: 431)

Apabila melihat keadaan mahasiswa yang menjadi input di UM Metro, tampaknya pihak kampus memerlukan kerja keras untuk

(9)

mewujudkan visi dari UM Metro.

Hal itu tampak dari hasil observasi perilaku sehari-hari mahasiswa di kampus. Perilaku dari mahasiswa yang sering terlihat adalah perilaku yang kurang baik atau kurang terpuji seperti mudah mengeluarkan kata- kata kotor tabu atau porno, merokok di kampus, kurangnya tata krama, serta masih kurang beretika dalam berkomunikasi, tidak jarang ketertarikan mereka pada gadget yang begitu kuat sehingga menghilangkan rasa empati pada lingkungan sekitar. Selain itu kesadaran mahasiswa dalam mengamalkan ajaran agama seperti shalat berjamaah masih rendah, sedangkan pengamalan agama merupakan cermin dari tingkatan kualitas keimanan dari seseorang.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa tantangan yang dihadapi oleh UM Metro dalam mewujudkan visinya bisa dikatakan masih dalam proses yang panjang, karena tidak mudah mengubah karakter mahasiswa dalam waktu singkat.

Pendidikan AIK sebagai Pendidikan Agama Islam di PTM diharapkan dapat manjadi sarana utama untuk meningkatkan kadar religiusitas mahasiswa. Dengan demikian diharapkan karakter atau akhlak dan kesadaran agama mahasiswa yang rendah dapat berubah ke arah yang lebih baik.

METODE Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini termasuk kategori penelitian

kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif menurut Moleong (2005) adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Adapun materi dalam penelitian ini adalah membahas implementasi kurikulum Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membangun karakter mahasiswa.

Adapun yang menjadi fokus penelitian ini adalah implementasi kurikulum AIK dan Pendidikan karakter mahasiswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Kurikulum AIK yang

diberlakukan di UM Metro

Kurikulum AIK

merupakan inti pembinaan karakter di PTM/A Melalui mata kuliah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menghayati ajaran-ajaran Islam sehingga membentuk sikap dan kepribadian dalam kehidupan mereka.

Kurikulum AIK inilah yang menjadi model atau katakanlah kiblat pembinaan karakter di PTMA.

Berdasar pada Visi dari Perguruan tinggi Muhammadiyah yaitu Mewujudkan insan yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri, maka melalui visi umum tersebut tersirat jelas bahwa pendidikan

(10)

karakter pun merupakan tujuan utama penyelenggaraan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Metro. Di UM Metro pembelajaran AIK memegang peranan yang sangat penting untuk membentuk insan akademis yang susila, karena itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan matakuliah AIK yang paling pokok adalah terletak pada perubahan sikap (attitude), mental dan tingkah laku mahasiswa, akan tetapi tidak membatasi hanya mahasiswa muslim saja, mahasiswa non muslim juga berhak untuk menjadi akademisi yang mulia dan berkarakter.

Di UM Metro,

Universitas Muhammadiyah Metro memiliki kebijakan tertentu dalam penyelenggaraan perkuliahan Kajian Al-Islam dan Muhammadiyah (AIK) yang merupakan salah satu Karakteristik Perguruan Tinggi Muhammadiyah (Dacholfany, 2020:56), karena AIK merupakan kategori mata kuliah wajib umum (MKWU). Sesuai Pedoman Pendidikan AIK Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang dirumuskan oleh tim Majlis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah bahwa jumlah jam pembelajaran dan SKS kuliah AIK minimal 8 SKS dan maksimal 12 SKS (Majlis Dikti PP Muhammadiyah, 2013). Di UM Metro beban ajar mata kuliahAIK yang ditetapkan yakni 8 SKS. Yaitu AIK I, AIK II,

AIK III dan AIK IV. Sks tersebut wajib di tempuh oleh mahasiswa mulai dari semester satu sampai dengan semester empat. Pokok pembahasan AIK sesuai dengan meliputi: AIK I (Kemanusiaan dan Keimanan), AIK II (Ibadah, Akhlak dan Muamalah). AIK III (Kemuhammadiyahan), AIK IV (Islam dan Ilmu Pengetahuan).

Dalam implementasi kurikulum ini, UM Metro membentuk perangkat struktural mulai dari tingkat rektorat sampai pelaksanaan di kelas. Susunan struktural tersebut secara berurutan dari yang tertinggi sampai urutan paling bawah adalah: Rektor, Wakil Rektor IV, Unit Pelaksana Teknis (UPT) AIK, Wakil Dekan Bidang Akademik, dan Dosen AIK.

Rektor bertindak sebagai pemegang otoritas dan penanggungjawab tertinggi.

sehingga semua kebijakan AIK harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari rector, kemudian wakil rektor IV bidang AIK bertindak mewakili rektor dalam bidang AIK. Wakil Rektor IV inilah yang bertindak sebagai perumus kebijakan dan pengendali pelaksanaan AIK. jadi warek IV adalah top leader yang berhak menentukan arah dan kebijakan sekaligus melakukan monitoring pelaksanaan AIK.

selanjutnya UPT AIK bertindak sebagai pelaksana lapangan. UPT AIK bertugas membantu warek IV baik dalam hal perumusan arah

(11)

dan misi, pelaksanaan, maupun monitoring di lapangan. Dengan demikian, UPT AIK adalah penanggungjawab lapangan pelaksanaan program AIK tingkat universitas. Keempat, wakil Dekan bidang akademik dalah penanggung jawab pelaksanan AIK di tingkat fakultas. berbagai kebijakan AIK yang telah dirumuskan kemudian diteruskan kepada Dekan diteruskan ke wakil Dekan lalu ke program studi di masing-masing fakultas. Kelima,

Dosen AIK adalah

penanggungjawab mata kuliah AIK, sekaligus sebagai penanggungjawab pelaksanaan program AIK.

Jenjang struktural dari puncak sampai bawah ini

menggambarkan bahwa

pembinaan karakter di UM Metro sudah menjadi perhatian bahkan menjadi bagian integral dari manajemen UM Metro. Struktur tanggungjawab ini memungkin kan adanya konsentrasi tersendiri dalam hal pembinaan karakter.

Berdasarkan wawancara dengan kepala UPT AIK, Garianto bahwa didapatkan informasi bahwa meskipun kurikulum dan materi AIK I sampai dengan IV sudah jelas, namun di beberapa fakultas, semuanya belum berjalan maksimal. Dari internal dosen dan pejabat berwenang di fakultas terkadang masih belum sadar sepenuhnya atas tugas pembinaan karakter ini, sehingga sinergitas

internalisasi karakter mahasiswa menjadi sedikit sulit sebab daya dukung tidak berjalan beriringan.

Umumnya AIK hanya dipahami sebagai serangkaian mata kuliah yang harus didistribusikan kepada mahasiswa. jadi terkesan tugas utama yang dipahami adalah membagi jadwal perkuliahan AIK.

Adanya simplifikasi pemahaman bahwa AIK adalah pendidikan agama yang konotasinya hanya masalah ibadah. Padahal kurikulum AIK tujuannya adalah pendidikan karakter. Secara substansial, pemilahan atau pun pembebanan khusus tanggungjawab AIK ini memang bisa saja menjadi nilai lebih. Nilai lebihnya adalah untuk menfokuskan tanggungjawab sehingga program pelaksanaan dan pengembangan AIK dapat dilaksanakan dengan baik

Kurikulum AIK adalah satuan pembelajaran yang sudah tersusun dan terencana secara formal dan sistematis. bahkan kurikulum ini mempunyai payung hukum yang kuat, baik di aturan- aturan internal di lingkungan UM Metro maupun dalam kebijakan PP Muhammadiyah, karenanya, jika ingin melihat model pembinaan karakter di UM Metro, maka kurikulum AIK adalah objek utama kajiannya yang sangat selaras dengan visi misi UM Metro 2020-2030 yakni sebagai pusat keunggulan profetik profesional, modern dan

(12)

mencerahkan. Kurikulum AIK merupakan inti kurikulum yang dijadikan sarana pembinaan karakter bagi mahasiswa. materi ini meliputi: Pendidikan Agama, Akidah, muamalah, Ibadah- Akhlak, dan Islam untuk disiplin Ilmu.

AIK merupakan inti (core) kurikulum yang harus diambil oleh setiap mahasiswa, bahkan mahasiswa non muslim. Mata kuliah AIK juga sering disebut dengan mata kuliah misi, maksudnya, mata kuliah ini adalah mata kuliah yang punya misi untuk mendakwahkan ajaran Islam. melaksanakan kurikulum ini, UM Metro membentuk perangkat struktural mulai dari tingkat rektorat sampai pelaksanaan di kelas.

2. Karakter mahasiswa UM Metro

UM Metro telah

menetapkan beberapa nilai karakter yang dijadikan standar pembinaan. nilai-nilai karakter ini dapat dilihat dalam visi misi

UM Metro yakni sebagai pusat keunggulan profetik, profesional, modern dan mencerahkan. Nilai-nilai inilah yang pada tahap selanjutnya akan menjelma menjadi budaya di lingkungan UM Metro.

Sesuai visi misi di atas, UM Metro menetapkan beberapa nilai dasar yang harus dianut dan dijadikan pedoman bagi seluruh keluarga besar UM Metro, yaitu:

Siddiq, Amanah, Fathonah dan

Tabligh sebagaiamana telah dijelaskan di atas, UM Metro adalah kampus kepanjangan dakwah Muhammadiyah ( Pengikut Nabi Muhammad SAW). Penyebaran dan internalisasi ajaran Islam kepada para mahasiswa menjadi target dan sasaran utama visi UM Metro.

Untuk menajamkan visi ini, kepala UPT AIK sering menyebut UM Metro sebagai kampus bernuansa Islami. Islami maksudnya kampus yang dijiwai dan menjadikan ajaran Islam sebagai landasan utama gerakan.

muhammadiyah artinya kampus yang dijiwai dengan semangat dan nilai-nilai kemuhammadiyahan.

Internalisasi nilai-nilai ajaran Islam inilah yang pada gilirannya diharapan menjadi starting point untuk membina karakter mahasiswa.

Secara sederhana, ada asumsi umum bahwa ketika

seseorang mempunyai

pengamalan dan penghayatan spiritual yang baik maka akhlak (karakter)-nya juga akan baik.

Dalam konteks inilah materi AIK menjadi ruh dan harga mati yang harus diberikan kepada seluruh mahasiswa, sbab materi inilah perwujudan teknis dari pembinaan jiwa spiritual tersebut. Karenanya, sangat logis, bahkan menjadi sebuah keharusan jika pembinaan keagamaan melalui kurikulum AIK menjadi penekanan utama bagi pembinaan karakter di UM Metro.

(13)

AIK dianggap sebagai pioner dan titik perhatian pembinaan karakter di UM Metro, oleh sebab itu, AIK juga menjadi obyek yang seakan-akan harus bertanggung jawab jika ada pelanggaran-pelanggaran yang tidak diharapkan terjadi. namun demikian realisasi AIK belum sepenuhnya memenuhi harapan sebagai design kurikulum yang terfokus sebagai kurikulum pembinaan karakter. Materi- materi AIK banyak di antaranya yang arahan kompetensinya justru kognitif, tidak ada bedanya dengan mata kuliah lain.

Melihat nilai-nilai karakter yang tertulis dalam visi misi UM Metro seharusnya menjadi tugas dan dibebankan secara proporsional kepada setiap dosen dan mata kuliah yang ada, namun umumnya menganggap bahwa hanya AIK-lah yang bertugas membina karakter mahasiswa.

Kedua, anggapan pertama ini mengarahkan satu kesimpulan bahwa pendidikan karakter di UM metro diajarkan terpisah dari mata kuliah lain, tapi terintegrasi dalam mata kuliah AIK. Ketiga, silabus mata kuliah dan buku ajar masih lebih banyak mencerminkan sasaran kompetensi kognitif, ketimbangan pembentukan karakter. Dalam konteks ini, dosen memegang peran kunci dalam pembinaan karakter.

Mereka dituntut dapat berimprofisasi agar membina dan mengarahkan materi dan

melakukan internalisasi nilai-nilai keislaman terhadap mahasiswa.

Keempat, pemahaman dan komitmen beragama menjadi satu- satunya nilai andalan yang menjadi sasaran pembinaan karakter di UM Metro. Anggapan utamanya adalah, jika orang sudah baik agamanya pastilah akan baik karakternya. Pernyataan tersebut tentu saja ini tidak sepenuhnya salah, tapi setidaknya anggapan ini tentu terlalu simplistis dan mereduksi banyak hal. Faktanya, dalam tataran praksis anggapan ini masih mengundang banyak problem.

3. Implementasi kurikulum AIK dalam membangun karakter mahasiswa di UM Metro

Pembinaan karakter di UM Metro sudah diberikan sejak mahasiswa baru masuk, sebelum perkuliahan dimulai, mahasiswa baru wajib mengikuti serangkaian kegiatan orientasi kampus yang biasa di sebut sebagai masa ta’aruf mahasiswa atau yang biasa di singkat dengan mastama.

Dengan materi di dalamnya salah satunya yaitu tentang perilaku hidup Islami atau pengenalan Al Islam kemuhammadiyahan (AIK).

Semua mahasiswa harus mengikuti kegiatan ini dan sertifikatnya nantinya dijadikan syarat untuk mengikuti ujian akhir. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masa orientasi adalah pintu masuk untuk mata kuliah AIK sehingga pengetahuan

(14)

mereka tentang Islam berkembang, dan memahami bahwa segala sesuatu dalam Islam (Dacholfany, 2020:57).

Mastama merupakan orientasi mahasiswa baru pada umumnya, tapi dengan muatan dan penekanan keislaman atau menjadi semacam islamisasi orientasi kampus, setelah rangkaian mastama selesai, pembinaan karakter melalui AIK dilakukan dalam proses perkuliahan melalui materi-materi AIK. Perkuliahan AIK dilaksanakan sesuai dengan jadwal perkuliahan. Metode yang digunakan dalam perkuliahan ini umumnya adalah ceramah dan diskusi, kecuali materi praktik ibadah, membaca kitab suci al- Qur’an. Mahasiswa diberi tugas untuk membuat makalah secara berkelompok kemudian mempresentasikan dan mendikusikannya di depan kelas yang bermanfaat untuk perkembangan wawasan dan pengetahuan (Dacholfany, Ihsan dan Hasanah. 2018: 27).

Materi pengajaran AIK disesuaikan dengan silabus untuk masing-masing mata kuliah.

Sebelum perkuliahan dimulai, selama 10 (sepuluh) menit dilakukan tadarus al-Quran terlebih dahulu. Dosen menunjuk mahasiswa bergiliran untuk membaca ayat suci al-Qur’an.

Setelah itu kemudian dosen atau mahasiswa yang ditunjuk membacakan arti ayat dan

mengulas secara ringkas. tadarus al-Qur’an di awal perkuliahan ini, selain untuk memetakan sekaligus memotifasti mahasiswa mengenai kemampuan membaca kitab suci al-Qur’an, tujuan utamanya sebenarnya untuk memberikan injeksi dan men-charger spiritual melalui keutamaan membaca al- Qur’an.

Mata kuliah AIK juga sudah dilengkapi dengan buku ajar yang menjadi referensi utama mata kuliah terkait. buku ajar ini ada ynag ditulis langsung oleh dosen-dosen AIK yang kompeten di bidangnya. buku ajar ini menjadi acuan utama dan bacaan wajib bagi mahasiswa, dikarenakan materi AIK adalah materi sama yang diajarkan oleh dosen yang berbeda-beda, maka untuk menghindari ketimpangan diadakan pertemuan rutin setiap seminggu sekali bagi dosen pengampu mata kuliah yang sama.

melihat ini tentunya lebih cenderung ke arah pemahaman kognitif. Di sinilah peran indoktrinasi yang sifatnya afektif sangat ditentukan oleh dosen yang bersangkutan. Umumnya para dosen ini adalah para penceramah yang bisa diandalkan untuk melakukan tugas ini.

Dosen AIK harus mempunyai pengkhususan nilai dan menanamkan nilai itu kepada mahasiswa, namun hal ini belum menjadi kebijakan yang sistematis atau setidaknya arahan khusus sehingga semua itu berjalan

(15)

menurut selera masing-masing dosen. jika kesadaran dari dosen yang bersangkutan tak ada, maka dapat dipastikan proses penanaman nilai-nilai karakter tidak sampai sasaran. Perkuliahan AIK berjalan sebagaimana materi- materi lain yang diajarkan, diterima, dann dipahami secara kognitif. Di sinilah kemudian arah indoktrinasi untuk menanamkan nilai-nilai karakter islami harus disistematisasikan dalam proses pembelajaran. Semuanya harus diskenariokan dan dikemas sedemikian rupa mulai dari hal- hal yang bersifat simbolik sampai yang substansial. harus ada semacam SoP (standar operational procedure) tersendiri bagi dosen- dosen AIK..

Pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) Dosen AIK diibaratkan penjaga moral yang menjadi suritauladan dan rule model bagi seluruh sivitas akademika, tuntutan yang besar ini tentunya harus dibarengi dengan tingkat perhatian yang besar pula terhadap dosen- dosen AIK. Pada konteks ini, dosen AIK memagang peran penting dalam pembinaan karakter di UM Metro. hal ini terutama dilatarbelakangi oleh dua hal penting: pertama, secara konseptual, kurikulum AIK belum mengarah sepenuhnya pada pembinaan karakter. Kedua, tugas dosen AIK tidak hanya mentransfer pengetahuan), akan tetapi yang terutama melakukan

internalisasi nilai kepada mahasiswa. hal kedua inilah yang membedakan dengan mata kuliah lain yang sekaligus juga memberikan beban ganda yang berat bagi dosen-dosen AIK.

Menelaah silabus, buku referensi dan metode pembelajaran semuanya adalah metode-metode yang berbasis kognitif. Dengan kata lain, semuanya kurang mendukung sebagai instrumen untuk internalisasi nilai. Inilah masalah utama yang harus dipecahkan oleh para dosen AIK. Apalagi jika mengingat jarak tempuh studi yang tidak terlalu lama. Padahal, mengubah sikap, menanamkan nilai, dan membentuk karakter bukanlah persoalan mudah yang membutuhkan pembinaan simultan dalam waktu yang panjang dan mendapatkan pembelajaran yang berkualitas (Surya. 2020:189)

Evaluasi materi AIK meliputi dua hal: ujian praktik dan ujian tertulis. Ujian praktik diberlakukan untuk mata kuliah ibadah, membaca al-Quran, dan kemuhammadiyahan. materi ibadah yang diujikan terutama adalah shalat dan bacaannya.

Secara umum, penekanan evaluasi terletak pada sesuai dan tidaknya praktik shalat yang mereka jalankan dengan standar standar muhammadiyah, sedangkan materi baca al-Quran penekanannya adalah kesesuaian

(16)

bacaan dengan kaidah ilmu tajwid. Selanjutnya, untuk materi kemuhammadiyahan materi praktiknya adalah dakwah lapangan. maksud utama dakwah lapangan ini adalah untuk mengasah kepedulian sosial mahasiswa. Selain ketiga materi di atas, evaluasinya dengan cara tertulis adapun materi kemuhammadiyahan, kendati ada praktik lapangan juga tetap ada ujian tertulis. bahkan yang menjadi dasar kelulusan pada akhirnya adalah materi tertulis.

Ujian tertulis ini dilaksanakan sesuai dengan jadwal regular kampus melalui penugasan, ujian tengah semester (UTS), dan ujian akhir semester (UAS). Ujian tertulis inilah yang nantinya akan menentukan kelulusan mahasiswa untuk setiap materi AIK. Sistem penilaian untuk mata kuliah AIK sama dengan mata kuliah lain, meliputi: Tugas/Quis 30%, Nilai Uujian Tengah Semester (UTS) 30%, dan Nilai Ujian Akhir Semester (UAS) 40%. bobot penilian ini bisa diubah oleh dosen yang bersangkutan dengan tidak melampaui ketentuan yang telah ditetapkan oleh bagian akademik dan kemahasiswaan (BAAK).

KESIMPULAN

Pendidikan karakter di UM Metro dipahami sebagai penanaman nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan sehingga menjadi watak dan kepribadian

mahasiswa. Selanjutnya nilai-nilai ini terwadahi dalam sebuah kurikulum yang disebut dengan kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). AIK merupakan inti (core) kurikulum yang harus diambil oleh setiap mahasiswa, bahkan mahasiswa non muslim. Kurikulum ini terdiri dari beberapa mata kuliah khusus yang terdiri dari: Akidah, Ibadah, Akhlak, Kemuhammadiyahan, membaca al-Qur’an, dan Ipteks

Impelementasi kurikulum AIK diorganisir melalui perangkat struktural mulai dari wakil rektor IV bidang AIK sebagai penanggung jawab utama dan perumus kebijakan di tingkat rektorat, Kemudian UPT AIK sebagai pusat pengkajian dan koordinasi AIK di tingkat pusat, Wakil Dekan bidang akademik sebagai penanggung jawab pelaksanaan program AIK di tingkat fakultas, dan dosen AIK sebagai penanggung jawab pelaksanaan kurikulum AIK di kelas.

Jenjang struktural dari puncak sampai bawah ini

menggambarkan bahwa

pembinaan karakter di UM Metro sudah menjadi perhatian bahkan menjadi bagian integral dari manajemen UM Metro. Struktur

tanggungjawab ini

memungkinkan adanya

konsentrasi tersendiri dalam hal pembinaan karakter.

(17)

UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini terlaksana dengan bantuan anggaran dari Universitas Muhammadiyah Metro melalui Program dan Anggaran Wakil Rektor 1 bagian Akademik tahun 2020. Dalam kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rektor Universitas Muhammadiyah Metro, Bapak Wakil Rektor 1 dan Ketua LPPM Universitas Muhammadiyah Metro

DAFTAR PUSTAKA

Djarnawi hadikusumo. 1980. Ilmu Akhlaq. yogyakarta:

Persatuan,

Dacholfany, Muhammad Ihsan, Iswati, Renci, Perception of Non-Muslim Students of Muhammadiyah Metro University on Islamic Education Programs, Al- Islam, and Muhammadiyah Studies (AIK) Ala Mondok ,Journal of Al-Islam and Muhammadiyah Studies (JAIMS) Vol. 01 No. 02 – 2020, pp. 56-68 https://doi.org/10.32506/jai ms.v1i2.629

Dacholfany, M Ihsan, Pendidikan Karakter Belajar ala Pesantren Gontor, (CV Wali Media Utama, Tangerang), 2015.

Dacholfany, M. Ihsan & Uswatun Hasanah, 2018. Pendidikan Anak Usia Dini menurut Konsep Islam. Jakarta:

Amzah.

Dacholfany, M. Ihsan Pendidikan Tasawuf Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Jurnal Nizham, Vol. 4, No. 2 Juli - Desember 2015

Dacholfany, M. Ihsan, Reformasi pendidikan Islam dalam

Menghadapi Era

Globalisasi: Sebuah Tantangan dan Harapan, Jurnal Akademika, Vol. 20, No. 01 Januari – Juni 2015.

Harum, Dwi Puspa Sari, Suharto, M. Ihsan Dacholfany, Pengaruh Kualitas Pelayanan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro Lampung terhadap LoyalitasMahasiswa Kuliah di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro, Jurnal Manajemen Diversifikasi. Vol.1. No. 2 (2021) FEB UM Metro.

Lexy J Moleong. 2005.

Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E.2016. Improved Quality Management Based Learning for preparing The Character of Graduate in Response Globalisazion Era, International Journal of Education and Research Vol. 4 No. 11 November hal 385-394 , www. Ijern.Com Pedoman Pimpinan Pusat

muhammadiyah nomor 02/PED/1.0/b/2012 tentang

(18)

Perguruan tinggi muhammadiyah, bab. III, Pasal 2.

Surya, Nining Ningsih, M. Ihsan Dacholfany, Sudirman Aminin, Implementasi Supervisi Akademik Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di SMA dan SMK Se-Kecamatan Abung Semuli Lampung Indonesia, Jurnal el-Ghiroh. Vol.

XVIII, No. 02. September 2020.

Tim Kurikulum dan Pembelajaran Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. 2014.

Buku Penduan Kurikulum Pendidikan Tinggi.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tim Pedoman AIK Majlis Dikti PP Muhammadiyah, Pedoman Pendidikan Al

Islam dan

Kemuhammadiyahan

Perguruan Tinggi Muhammadiyah, (Majlis Dikti PP Muhammadiyah:

Yogyakarta, 2013

https://ummetro.ac.id/visi-dan- misi-um-metro, diakses tanggal 16/06/2021

Referensi

Dokumen terkait

2) asosiasi profesi, institusi pendidikan dan pelatihan untuk membantu Lembaga.. dalam rangka penyelenggaraan sertifikasi keterampilan kerja dan keahlian kerja. memberikan

Sehingga dapat dilihat jumlah dari kerusakan penyimpangan kualitas yang terjadi paling dominan meliputi pada kerusakan warna, terdapat kotoran, ukuran, dan tekstur.Data

Dalam penelitian ini, berarti uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel independen yang terdiri atas struktur aktiva dan profitabilitas

12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 4 ayat 1 dan 2, Pengabdian kepada Masyarakat merupakan kegiatan Sivitas Akademika dalam mengamalkan dan

Konteks pada masyarakat Surabaya akan perbedaan budaya dan agama dapat ditanggulangi dengan berbagai tahap dalam komunikasi intercultural.. Esensi evalusi kontekstual

Perpustakaan perguruan tinggi bertugas menghimpuIl, mengolah dan menyebarluaskan inforrnasi serta memberi layanan kepada segenap warga sivitas akademika perguruan

Renstra ini akan menjadi pedoman dan arahan bagi seluruh civitas akademika di Poltekkes Kemenkes Kupang dalam penyelenggraan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam

Densitogram hasil eluasi sildenafil sitrat dan matriks permen karet dengan fase gerak kloroform : metanol : asam asetat glasial (70:2:0,2, v/v/v,