1 BAB I PENDAHULUAN
Di era globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan teknologi informasi sangat pesat. Teknologi tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga manfaat di berbagai bidang. Keberhasilan suatu organisasi tergantung pada keputusan manajemen dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Oleh karena itu, teknologi memegang peranan yang sangat penting dalam pekerjaan.
Perkembangan teknologi mendapat respon positif dari lembaga pendidikan.
Salah satu teknologi yang digunakan di lembaga pendidikan adalah BRIVA (BRI Virtual Account). BRIVA memfasilitasi penggunaan sistem layanan perbankan yang cepat, nyaman, modern dan terpercaya.
Universitas Kristen Satya Wacana merupakan salah satu universitas yang menerapkan teknologi dalam transaksi pembayaran uang kuliah dan pembangunan. Sebagai perguruan tinggi swasta terbaik di Jawa Tengah, UKSW terus berupaya keras meningkatkan pelayanannya. Fasilitas yang diberikan oleh pihak universitas adalah sistem pembayaran BRIVA, yang dapat mencatat setiap transaksi pembayaran biaya kuliah dan pembangunan. Sistem layanan BRIVA merupakan bentuk kerjasama UKSW dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Kerja sama tersebut telah disahkan pada 15 November 2019 dan berlanjut hingga saat ini.
Sebelum bekerja sama dengan BRIVA, UKSW memiliki berbagai jenis transaksi pembayaran uang kuliah & pembangunan. Pertama, transaksi pembayaran melalui Bank dan Kantor Pos yang berada di lingkungan UKSW.
Transaksi ini cukup efisien karena tidak perlu melakukan verifikasi namun mengharuskan mengantri. Kedua, transaksi melalui ATM namun tetap melakukan verifikasi di Bagian Akuntansi Keuangan (BAK) dengan membawa bukti pembayaran. Ketiga, transaksi melalui Bank di luar UKSW tetapi transaksi ini sangat tidak efisien dikarenakan mengharuskan mahasiswa mengantri dan melakukan verifikasi di BAK.
2
Berdasarkan ketiga transaksi di atas, dapat disimpulkan bahwa sebelum menggunakan BRIVA mahasiswa perlu bertransaksi pada jam kerja dan dengan menunjukkan bukti pembayaran serta meminta mahasiswa mengantri untuk verifikasi. Sistem pembayaran BRIVA kini mengubah jenis transaksi, dan setiap transaksi otomatis tercatat di Bagian Akuntansi dan Keuangan (BAK).
Siswa dapat membayar melalui sistem pembayaran BRIVA kapan saja, di mana saja. Bentuk kerjasama ini diharapkan dapat berjalan dengan lancar dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Namun, sistem pembayaran BRIVA yang disediakan UKSW tidak mendapat respon positif dari mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa tidak menggunakan sistem BRIVA, dan hanya sedikit mahasiswa yang menggunakan sistem pembayaran BRIVA untuk transaksi pembayaran biaya kuliah dan pembangunan.
Jogiyanto (2007) menjelaskan bahwa berhasil tidaknya suatu sistem dipengaruhi oleh perilaku (behavior). Pengguna seringkali tidak dapat menerima suatu sistem sehingga mengalami kegagalan. Untuk mengubah perilaku penolakan menjadi perilaku penerimaan, sistem harus benar-benar siap. Langkah yang harus dilakukan untuk mencapai penerimaan adalah memahami apa yang menyebabkan penolakan sistem. Ada berbagai model yang dapat digunakan untuk mengetahui penerimaan mahasiswa dalam menggunakan sistem pembayaran BRIVA, antara lain Theory of Reasoned Action (TRA), Theory of Planned Behavior (TPB), dan Technology Acceptance Model (TAM) (Jogiyanto 2008). Technology Acceptance Model (TAM) merupakan model yang paling sesuai yang dapat digunakan untuk menentukan atau menjelaskan pandangan individu terhadap penggunaan sistem dan teknologi.
Bagozzi, Davis dan Warshaw (1989) menyatakan bahwa TAM memiliki ciri-ciri teori yang baik sederhana dan oleh data dapat diterapkan dalam memprediksi penggunaan sebuah hasil inovasi dalam berbagai bidang. Pada periode penelitian yang samadilakukan perbandingan model penerimaan teknologi (TAM) ini dengan teori tindakan terencana (TRA). Bagozzi, Davis dan Warshaw (1989) mencetuskan bahwa TAM lebih baik dalam menjelaskan
3
keinginan seseorang untuk menerima teknologi dibandingkan dengan TRA.
Selanjutnya oleh Mathieson (1991) melakukan penelitian untuk membandingkan antara TAM dan TPB, hasil yang diperoleh bahwa TAM lebih baik dalam menjelaskan sikap dari pada TPB. Namun Mathieson (1991) mengemukakan bahwa secara umum model satu tidak dapat begitu saja dikatakan lebih baik dari model lainnya. Hubona dan Cheney (1994) berpendapat bahwa penggunaan TAM lebih mudah dan sederhana untuk menjelaskan penerimaan teknologi.
Davis (1986) mengembangkan model penerimaan teknologi atau Technology Acceptance Model (TAM) berdasarkan model TRA. Teori tindakan beralasan (TRA) pertama kali dicetuskan oleh Ajzen pada tahun 1980 (Jogiyanto 2007). TRA merupakan teori tindakan beralasan dengan satu keyakinan bahwa sikap dan perilaku seseorang ditentukan oleh adanya reaksi dan persepsi seseorang terhadap suatu hal. Niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku dalam TRA menentukan seseorang dalam melakukan perilaku tersebut atau tidak. Lebih lanjut, Ajzen mengemukakan bahwa niat melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu dipengaruhi oleh dua penentu dasar, yang pertama berhubungan dengan sikap terhadap perilaku dan yang lain berhubungan dengan pengaruh sosial yaitu norma subjektif. Ajzen melengkapi TRA dengan keyakinan, tujuannya adalah untuk mengungkapkan pengaruh sikap dan norma subjektif terhadap niat untuk dilakukan atau tidak dilakukannya suatu perilaku. Sikap terbentuk dari beberapa keyakinan individu mengenai perilaku, sedangkan norma subjektif terbentuk dari keyakinan- keyakinan normatif yang berasal dari orang‐orang yang berpengaruh bagi kehidupan individu.
Davis (1986) mengembangkan model TRA kedalam Technology Acceptance Model (TAM) namun tidak mengakomodasikan semua komponen yang terdapat dalam TRA. Komponen yang dimanfaatkan dalam TAM adalah komponen keyakinan dan sikap saja, sedangkan keyakinan normatif dan norma subjektif tidak digunakannya. Menurut Davis (1986) perilaku menggunakan teknologi diawali karena adanya manfaat dan persepsi mengenai kemudahan
4
penggunaan teknologi. Jika dikaitkan dengan TRA kedua komponen ini merupakan bagian dari keyakinan. Menurut Davis (1986), persepsi mengenai kegunaan berdasarkan definisi kata manfaat (useful) yaitu capable of being used advantageously yang artinya dapat digunakan untuk tujuan yang menguntungkan. Persepsi terhadap manfaat adalah keuntungan yang diyakini individu dapat diperoleh apabila menggunakan teknologi. Variabel lain yang mempengaruhi niat yaitu persepsi terhadap kemudahan dalam penggunaan memiliki pengertian yang agak sedikit berbeda dari persepsi terhadap manfaat.
Menurut Davis (1986), kemudahan (ease) dapat dimaknai bahwa tidak terdapat atau terbebaskan dari kesulitan atau tidak perlu berusaha keras. Persepsi mengenai kemudahan menggunakan merujuk pada keyakinan individu bahwa sistem yang akan digunakan tidak merepotkan atau tidak membutuhkan usaha yang besar dalam penggunaannya.
Persepsi terhadap manfaat dan persepsi terhadap kemudahan penggunaan mempengaruhi sikap individu terhadap penggunaan sistem atau teknologi, yang selanjutnya akan menentukan apakah individu tersebut berniat untuk menggunakan sistem. Seseorang dapat menjadikan kemudahan dan manfaat menggunakan teknologi sebagai alasan dalam berperilaku atau bertindak yang nantinya sebagai tolak ukur penerimaan suatu teknologi. Penerimaan yang dimaksudkan adalah apakah dengan kemudahan dan manfaat yang ada pada sistem tersebut, dapat menjadikan sistem tersebut menjadi sistem yang andal dalam melakukan pembayaran uang kuliah dan pembangunan sehingga mahasiswa bersedia menggunakan sistem pembayaran BRIVA ini tanpa adanya paksaan dari lain.
Menurut Wibowo (2008) menyatakan bahwa intention to use merupakan kecenderungan perilaku untuk tetap menggunakan suatu sistem atau teknologi.
Niat menggunakan oleh seseorang dapat dilihat dari tingkat penggunaan sebuah sistem atau teknologi yang nantinya dapat diprediksi dari sikap perhatiannya terhadap sistem tersebut. Actual system use merupakan kondisi nyata penggunaan sistem. Dalam konteks penggunaan sistem, perilaku dikonsepkan dalam penggunaan sesungguhnya (actual use). Penggunaan sesungguhnya
5
diukur sebagai jumlah waktu yang digunakan untuk berinteraksi dengan suatu teknologi dan besarnya frekuensi penggunaannya.
Berdasarkan fenomena dan teori diatas dalam menganalisis penggunaan BRIVA, penelitian ini menggunakan TAM sehingga fokus utama penelitian adalah pada penggunaan sistem pembayaran BRIVA yang disediakan oleh UKSW. Persepsi terhadap manfaat dan persepsi terhadap kemudahan penggunaan sistem atau teknologi mempengaruhi sikap individu terhadap penggunaan teknologi atau sistem, yang selanjutnya akanmenentukan apakah orang berniat untuk menggunakan. Niat untuk menggunakan sistem atau teknologi akan menentukan apakah orang akan menggunakan sistem atau teknologi.
Penelitian ini tidak menggunakan seluruh elemen dalam TAM untuk mengetahui pengaruh setiap elemen terhadap elemen lainnya. Penelitian hanya berfokus pada intention to use sistem pembayaran BRIVA bukan actual system use. Penelitian ini juga tidak meneliti pengaruh perceived ease of use terhadap perceived usefulness. Namun penelitian ini ingin mengetahui pengaruh langsung perceived ease of use terhadap intention to use yang tidak terdapat dalam model TAM.
Universitas memberikan kebebasan dalam penggunaan sistem pembayaran, namun dalam kondisi tertentu mungkin saja terjadi sesuatu hal yang membuat pengguna tidak bisa menggunakan fasilitas tersebut karena adanya beberapa faktor yang menjadi penghambat. Oleh sebab itu teori penerimaan teknologi yang paling cocok digunakan untuk menganalisis faktor-faktor niat penggunaan sistem pembayaran BRIVA dikalangan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) adalah Technology Acceptance Model (TAM).
Rumusah masalah adalah persoalan yang perlu dipecahkan dalam sebuah penelitian adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah persepsi kegunaan (perceived usefulness) berpengaruh terhadap sikap terhadap penggunaan (attitude toward use)?
6
2. Apakah persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) berpengaruh terhadap sikap terhadap penggunaan (attitude toward use)?
3. Apakah persepsi kegunaan (perceived usefulness) berpengaruh terhadap niat penggunaan (intention to use)?
4. Apakah persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) berpengaruh terhadap niat penggunaan (intention to use)?
5. Apakah sikap terhadap penggunaan (attitude toward use) berpengaruh terhadap niat penggunaan (intention to use)?
6. Apakah persepsi kegunaan (perceived usefulness) berpengaruh terhadap niat penggunaan (intention to use) melalui sikap terhadap penggunaan (attitude toward use)?
7. Apakah persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) berpengaruh terhadap niat penggunaan (intention to use) melalui sikap terhadap penggunaan (attitude toward use)?
Tujuan dari penelitian adalah untuk menjawab rumusan masalah, adapun tujuan dari penelitian adalah:
1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh persepsi kegunaan (perceived usefulness) terhadap sikap terhadap penggunaan (attitude toward use).
2. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) terhadap sikap terhadap penggunaan (attitude toward use).
3. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh persepsi kegunaan (perceived usefulness) terhadap niat penggunaan (intention to use).
4. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) terhadap niat penggunaan (intention to use).
5. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh (attitude toward use) terhadap niat penggunaan (intention to use).
7
6. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh persepsi kegunaan (perceived usefulness) terhadap niat penggunaan (intention to use) melalui sikap terhadap penggunaan (attitude toward use).
7. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease to use) terhadap niat penggunaan (intention to use) melalui sikap terhadap penggunaan (attitude toward use).
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca, oleh sebab itu penelitian ini memiliki manfaat diantaranya:
1. Latar belakang studi adalah niat perilaku menggunakan sistem atau teknologi sehingga dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang berbeda dalam studi penerimaan sistem atau teknologi dan dapat memberikan manfaat referensi bagi studi yang akan datang.
2. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan terhadap pihak Universitas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi niat penggunaan sistem BRIVA yang nantinya dapat meningkatkan pengguna sistem pembayaran BRIVA.
3. Dapat memberikan pengetahuan bagi penulis mengenai teori penerimaan teknologi atau sistem dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.