REVITALISASI KOSAKATA BUDAYA BAHASA BATAK TOBA
DITANO BATAK
DISERTASI
Oleh
JUNITA FRISKA NIM: 098107009
PROGRAM DOKTOR (S3) LINGUISTIK
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
REVITALISASI KOSAKATA BUDAYA BAHASA BATAK TOBA
DITANO BATAK
DISERTASI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor dalam Program Doktor Linguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
di bawah pimpinan Rektor Sumatera Utara Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum.
untuk dipertahankan dihadapan sidang Terbuka Senat Universitas Sumatera Utara
Oleh
JUNITA FRISKA NIM: 098107009
Program Doktor (S3) Linguistik
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
Judul Disertasi : REVITALISASI KOSAKATA BUDAYA BAHASA BATAK TOBA DITANO BATAK
Nama Mahasiswa : Junita Friska Nomor Pokok : 098107009
Program Studi : Doktor (S3) Linguistik
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Rober Sibarani, M.S.) Promotor
(Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D.) (Dr. Dwi Widayati, M.Hum.) Co-Promotor Co-Promotor
Ketua Program Studi Dekan
(Prof.T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.) (Dr. Budi Agustono, M.S.)
Tanggal Lulus: 17 Oktober 2016
Diuji pada Ujian Disertasi Terbuka (Promosi) Tanggal: 17 Oktober 2016
PANITIA PENGUJI DISERTASI Pemimpin Sidang:
Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum. (Rektor USU)
Ketua : Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S. (USU Medan)
Anggota : Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D. (UNIMED Medan) Dr. Dwi Widayati, M.Hum. (USU Medan)
Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. (USU Medan) Prof. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D. (USU Medan) Dr. Syahron Lubis, M.A. (USU Medan) Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP (USU Medan)
TIM PROMOTOR
Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S.
Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D.
Dr. Dwi Widayati, M.Hum.
TIM PENGUJI LUAR KOMISI
Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.
Prof. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D.
Dr. Syahron Lubis, M.A.
Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP
PERNYATAAN
Judul Disertasi
REVITALISASI KOSAKATA BUDAYA BAHASA BATAK TOBA DITANO BATAK
Dengan ini penulis nyatakan bahwa disertasi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Doktor Linguistik pada Program Studi Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan disertasi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian disertasi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian- bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Medan, September 2016 Penulis,
Junita Friska
REVITALISASI KOSAKATA BUDAYA BATAK TOBA DI TANO BATAK
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan korelasi pemakaian kosakata budaya, sikap bahasa, dan penggunaan bahasa terhadap pemertahanan kosakata budaya Batak Toba, kedudukan kosakata arkhais budaya Batak Toba, fungsi kosakata budaya Batak Toba dalam sistem nilai budaya Batak Toba, dan pola revitalisasi pengaktifan kosakata budaya Batak Toba di Tano Batak. Dengan memperoleh data di lapangan melalui teknik angket, wawancara dan dokumentasi dari Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan, serta menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif, hasil penelitian ini menunjukkan 1a) korelasi antara sikap bahasa dengan penguasaan kosakata yaitu sebesar 0,240 atau korelasi lemah dan signifikan; 1b)korelasi antara sikap bahasa dengan penggunaan bahasa yaitu sebesar 0,230 atau korelasi lemah dan signifikan; 1c) korelasi antara sikap bahasa dengan pemertahanan bahasa yaitu sebesar 0,476 atau korelasi kuat dan signifikan; 1d) Korelasi antara sikap bahasa dengan penguasaan umpasa yaitu sebesar 0,296 atau korelasi cukup dan signifikan; 1e) korelasi antara penguasaan kosakata budaya bahasa dengan penggunaan bahasa yaitu sebesar 0,252 atau korelasi cukup dan signifikan; 1f) Korelasi antara penguasaan kosakata budaya bahasa dengan pemertahanan bahasa yaitu sebesar 0,142 atau korelasi yang lemah dan tidak signifikan; 1g) korelasi antara penguasaan kosakata budaya bahasa dengan penguasaan umpasa bahasa yaitu sebesar 0,167 atau korelasi lemah dan tidak signifikan; 1h) korelasi antara penggunaan bahasa dengan pemertahanan bahasa yaitu sebesar 0,341 atau korelasi cukup dan signifikan; 1i) Korelasi antara penguasaan umpasa dengan penggunaan bahasa sebesar 0, 220 atau korelasi lemah dan signifikan; 1j) korelasi antara penguasaan umpasa dengan pemertahanan bahasa yaitu sebesar 0,550 atau korelasi erat dan signifikan, 2) secara kuantitatif kedudukan kosakata arkhais budaya Batak Toba dalam bahasa Batak Toba di Tano Batak, hampir arkhais berjumlah 12 kosakata dari 145 kosakata atau setara dengan 8,27% yang disebabkan oleh a) terjadinya penggantian kosakata Batak Toba dengan kosakata bahasa Indonesia b) hilangnya suatu benda yang diacu, c) sudah tidak dilakukan upacara adat sehingga istilah (kosakata) tidak dipakai lagi, d) jarang digunakan atau tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, 3) peran kosakata budaya Batak Toba dalam budaya Batak Toba sangatlah memiliki nilai-nilai a) nilai-nilai kekerabatan tertuang pada Dalihan Natolu (hula-hula, boru, dongan tubu), b) nilai visi budaya yaitu: a. hamoraon (kekayaan), b. hagabeon (banyak keturunan), c. hasangapon (bersahaja/ kharisma), c) nilai identitas berupa bahasa, ulos, marga, rumah, aksara. Nilai interaksi berupa interaksi antara hula-hula, anak boru, dan dongan tubu dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Revitalisasi kosakata bahasa Batak Toba tidak terlepas pengaktifan kembali, pengelolaan, serta mewariskan kosakata budaya. Ketiga hal tersebut tidak terlepas dari peran sikap bahasa yang positif, pemakaian, pemahaman kosakata dan fungsinya. Sebagai usaha merevitalisasi kosakata budaya dapat dilakukan dalam 1. sikap bahasa yaitu a. Menggunakan bahasa Batak Toba dalam komunikasi di rumah, b.
Menggunakan bahasa Batak Toba dalam komunikiasi antar keluarga, c.
Menggunakan bahasa Batak Toba antar sesama suku Batak Toba, d.
Menggunakan bahasa Batak Toba dalam bidang perdagangan antar suku Batak Toba, e.menggunakan bahasa Batak Toba dalam pelaksanaan adat. 2. Pengaktifan yaitu dengan cara a. Mengaktifkan organisasi masyarakat seperti sijule-jule, kongsi, dan marsirupan (saling membantu), b. Mengaktifkan kerja sama bentuk kelompok kerja seperti marsiadapari (bekerja secara bergantian), mengerjakan tali air, memperbaiki sumur dan membangun
rumah. 3. Penggunaan umpasa yaitu menggunakan atau memakai umpasa dalam kegiatan adat seperti dalam adat kelahiran, perkawinan dan kematian yaitu menggunakan umpasa dalam kegiatan adat sesuai dengan umpasa yang cocok acara kegiatan adat.
Kata Kunci: Revitalisasi, Kosakata budaya batak toba
VOCABULARY REVITALIZATION OF BATAK TOBA LANGUAGE CULTURE IN TANO BATAK
ABSTRACT
This research discuss about Batak Toba language revitalization in Tano Batak as the main object of language attitudes, language usages, vocabulary culture mastery in life cycle, mastery of umpasa and retention of Batak Toba language.
The goal of this research is to describe the use correlation of culture vocabulary, language attitudes and the use of language in Batak Toba culture retention, the position of Batak Toba culture arkhais vocabulary, functions of Batak Toba culture vaocbulary in Batak Toba culture value system, and the pattern of activation of the Toba Batak revitalization of the cultural vocabulary in Tano Batak. According to the datas obtained by questionnaire, interviewing and documentation from Samosir district, Toba Samosir, north Tapanulu and Humbang Hasundutan, and also using the quantitative and qualitative qualitative analysis method, the results of this research are : 1a)correlation between language attitudes and mastery of vocabulary is 0,240 which is weak and significant; 1b) correlation between language attitude and language use is 0,230 which is weak and significant; 1c) correlation between language attitude and language retention is 0,476 which is strong and significant; 1d) correlation between language attitude and mastery of umpasa is 0,296 which is enough and significant; 1e) correlation between mastery of language culture vocabulary and language use is 0,252 which is enough and significant; 1f) correlation between mastery of language vocabulary culture and language retention is 0,142 which is weak and significant; 1g) correlation between mastery of language vocabulary culture and language umpasa is 0,162 which is weak and not significant; 1h) correlation between language use and language tetention is 0,341 which is enough and significant; 1i) correlation between mastery of umpasa and language use is 0,220 which is enough and significant 1j) correlation between mastery of umpasa and language retention is 0,550 which is strong and significant, 2) quantitatively the position od Batak Toba arkhais vocabulary in Batak Toba language in Tano Batak, it is 12 vocabularies of 145 vocabularies or equal to 8,27% which caused by a) the replacement of Batak Toba vocabulary to Indonesian vocabulary, b) disappearance of a thing referred, c) there is not traditional ceremonies anymore, so the vocabulary is no more used, d) it is rare to use the vocabulary in daily life, 3) the role of Batak Toba culture vocabulary in Batak Toba culture has great values; a) values of kinship found in Dalihan Natolu (hula-hula, boru, dongan tubu), b) values ov culture vision, they are: a. hamoraon (richness), b. hagabeon (ancertry), c. hasangapon (charisma), c) identity values such as language, ulos, family name, house, script. Interaction value such as interaction between hula-hula, anak boru, and dongan tubu in Batak Toba society life. Batak Toba vocabulary revitalization is related ro reactivation, management and inheritance of culture vocabulary. Those three things are related to the possitive role of language, use, vocabulary comprehension and function. In an effort to revitalize the cultural vocabulary can be done in a language that is a 1.
attitude. Toba Batak language use in communication at home, b. Using language Batak Toba in komunikiasi between family, c. Using language among fellow Toba Batak Toba Batak tribe, d. Toba Batak language use in the field of inter-tribal trade Batak Toba, Toba Batak language e.menggunakan in a custom implementation. 2. Activation is by way of a. Enabling community organizations such as sijule-Jule, partnership, and marsirupan (mutual help), b. Enabling cooperation form working groups such as marsiadapari (work interchangeably), doing rope water, repairing wells and build a house. Umpasa is used in cultural activities such as in custom birth, marriage and death. This umpasa is used in cultural activities with the match umpasa.
Keywords : Revitalization, Culture vocabulary
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang mengatur dunia seorang diri. Dia yang dalam kegelapan hatiku menyinarkan cahaya yang tiada terlihat.
Dia yang menganugerahi manusia keteguhan hati untuk berdoa dan beribadah kepada-Nya. Dia juga yang menganugerahi kepada diriku ilmu, kemudahan dan kemurahan, sehingga disertasi ini dapat terselesaikan dengan baik. Selawat beriring salam, Penulis sampaikan ke hadirat nabi Muhammad SAW beserta keluarganya yang syafa‘atnya kelak sangat diharapkan. Kepada Imam Pemilik Zaman, penulis bertawassul agar senantiasa dalam penjagaannya.
Selama dalam masa perkuliahan dan melakukan penelitian serta penulisan disertasi ini, penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D., selaku Ketua Program Studi Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai dosen penguji yang sangat besar perhatiannya memotivasi penulis hingga sampai pada penulisan disertasi ini maupun dalam kapasitas beliau sebagai sebagai dosen pengajar atau penguji.
4. Bapak Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., selaku Promotor yang telah mengajarkan banyak hal tentang revitalisasi, mitra berdiskusi selama perkuliahan dan selama penyusunan disertasi ini.
5. Bapak Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D., selaku Co-Promotor I yang telah membimbing, mengarahkan, dan memberi semangat kepada penulis.
6. Bapak Dr. Dwi Widayati, M.Hum. selaku Co-Promotor II yang telah begitu tulus membimbing dan memberikan masukan yang berharga terhadap disertasi ini. Beliau juga memberikan motivasi kepada penulis, untuk itu penulis ucapkan terima kasih.
7. Prof. Hamzon Situmorang M.S., Ph.D., Dr. Syahron Lubis, M.A., Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP., selaku penguji sekaligus staf pengajar yang banyak memberikan masukan untuk kesempurnaan disertasi ini.
8. Seluruh staff administrasi dan perpustakaan yang begitu ramah dan ringan tangan membantu penulis selama dalam masa perkuliahan.
9. Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd. selaku Rektor Universitas Negeri Medan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melanjutkan studi.
10. Ibu Dr. Isda Pramuniati, M.Hum. selaku Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan yang telah memberikan izin untuk melanjutkan studi dan juga memberikan motivasi kepada penulis.
11. Seluruh sivitas akademika Universitas Negeri Medan khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis yang telah memberikan bantuan dan motivasi kepada penulis
12. Para Informan yang dengan tulus telah membantu penulis dalam mencari data penelitian. Untuk itu penulis mengaturkan rasa terima kasih yang tiada terhingga.
13. Secara khusus, penulis sampaikan rasa terima kasih yang tiada terhingga kepada orang tua penulis Ayahanda S.T. Simangunsong (+) dan Ibunda Dra.
M. Pangaribuan, yang telah memberikan spirit dan doa yang tulus buat kelangsungan hidup dan studi penulis. Dari mereka, penulis dapat lebih mengerti akan makna kehidupan dan dapat melihat sisi kehidupan dalam berbagai atmosfir baik konsep maupun kenyataan. Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa mencurahkan kasih dan rahmad-Nya kepada mereka.
14. Abangda Johan Parulian, Amd. yang selama ini telah berperan sebagai pengganti ayah bagi kehidupan penulis. Adinda Jenny Tri Santi, S.Pd. serta pihak ipar dan seluruh kemenakan.
15. Lebih dari itu, penulis juga secara khusus berterima kasih kepada suami tercinta Andi Lesmana, S.Pd., dan Ananda terkasih Sabitha Amalya Lesmana dan Daffa Hazim Lesmana yang telah memberikan doa yang tulus, motivasi yang besar dan kekuatan mental sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini. Untuk merekalah penulis melanjutkan studi ini dan kepada mereka pulalah disertasi ini penulis persembahkan. Semoga Allah swt mencurahkan kasih dan rahmadNya kepada mereka
16. Teman-teman mahasiswa Program Studi Doktor Linguistik Angkatan 2009, khususnya buat kajian konsentrasi Linguistik yang telah banyak memberi warna dalam kehidupan penulis.
Medan, September 2016 Penulis
Junita Friska
RIWAYAT HIDUP A. Data Pribadi
Nama Lengkap : Junita Friska
Tempat Tanggal Lahir: Medan, 01 Juni 1980
Agama : Islam
Alamat : Jln. Aster 1 Blok 2 No.39 Helvetia Nama Ayah : S.T. Simangunsong (+)
Nama Ibu : Dra. M. Pangaribuan Suami : Andi Lesmana, S.Pd.
Anak : Sabitha Amalya Lesmana & Daffa Hazim Lesmana
B. Riwayat Pendidikan
1. SD Kalam Kudus Medan (tamat tahun 1992).
2. SMP Kalam Kudus Medan (tamat tahun 1995).
3. SMU Tunas Kartika 1-2 Medan (tamat tahun 1998).
4. Universitas Negeri Medan, Fakultas Bahasa dan Seni Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis (tamat tahun 2004).
5. Sekolah Pascasarjana UPI Bandung Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis (tamat tahun 2008).
C. Pengamalan Pekerjaan
1. Dosen Universitas Negeri Medan (2005 – sekarang)
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Batasan Penelitian ... 16
1.3 Rumusan Masalah ... 16
1.4 Tujuan Penelitian ... 17
1.5 Manfaat Penelitian ... 17
1.5.1 Manfaat Teoretis ... 17
1.5.2 Manfaat Praktis ... 18
1.6 Klarifikasi Istilah ... 19
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS ... 22
2.1 Kajian Pustaka ... 22
2.2 Kerangka Teoretis ... 32
2.2.1 Teori Fungsional ... 33
2.2.2 Teori Sikap Bahasa ... 37
2.2.3 Teori Pemertahanan Bahasa ... 41
2.2.4 Kearifan Lokal ... 46
2.2.5 Teori Revitalisasi Bahasa ... 49
2.3 Penelitian Terdahulu ... 62
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 73
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 73
3.2 Metode Penelitian ... 74
3.3 Populasi dan Sampel ... 85
3.4 Variabel dan Hipotesis Penelitian ... 87
3.5 Informan Penelitian ... 88
3.6 Intrumen Penelitian ... 89
3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 91
3.8 Teknik Analisis Data ... 92
3.9 Alur Penelitian ... 94
BAB IV KORELASI VARIABEL SIKAP BAHASA, PENGUASAAN KOSAKATA BUDAYA, PEMAKAIAN BAHASA, PERMERTAHANAN BAHASA DAN PENGUASAN UMPASA ... 98 4.1 Deskripsi Hasil Angket Sikap Bahasa, Penguasan Kosakata Budaya,
Pemakaian Bahasa, Pemertahanan Bahasa dan Penguasan Umpasa 98
4.2 Deskripsi Hasil Angket Sikap Bahasa, Penguasan Kosakata Budaya, Pemakaian Bahasa, Pemertahanan Bahasa dan Penguasan Umpasa di
Tinjau dari Wilayah ... 101
4.3 Analisis Peran Tingkat Sosial terhadap Sikap Bahasa, Penguasaan Kosakata Budaya, Pemakaian Bahasa, Pemertahanan Bahasa, dan Penguasaan Umpasa ... 109
4.3.1 Analisis Means Tingkat Sosial terhadap Sikap Bahasa ... 110
4.3.2 Analisis Means Tingkat Sosial terhadap Penguasaan Kosakata 120 4.3.3 Analisis Means Tingkat Sosial terhadap Penggunaan Bahasa 128 4.3.4 Analisis Means Tingkat Sosial terhadap Pemertahanan Bahasa 137 4.3.5 Analisis Means Tingkat Sosial terhadap Penguasaan Umpasa 146 4.4 Uji Korelasi ... 155
BAB V KOSAKATA ARKHAIS BUDAYA BATAK TOBA DALAM BAHASA BATAK TOBA DI TANO BATAK ... 166
5.1 Kosakata Arkhais Budaya Kelahiran Batak Toba dalam Bahasa Batak Toba di Tano Batak ... 166
5.2 Kosakata Arkhais Budaya Perkawinan Batak Toba dalam Bahasa Batak Toba di Tano Batak ... 169
5.3 Kosakata Arkhais Budaya Kematian Batak Toba dalam Bahasa Batak Toba di Tano Batak ... 171
BAB VI FUNGSI DAN REVITALISASI KOSAKATA BUDAYA BATAK TOBA DALAM SISTEM NILAI BUDAYA BATAK TOBA DI TANO BATAK ... 177
6.1 Fungsi dan Revitalisasi Kosakata Budaya Bahasa Batak Toba ... 177
6.1.1 Pemaknaan Kosakata Budaya Batak Toba dalam Budaya Batak Toba ... 177
6.1.2 Kosakata Budaya dalam Siklus Kehidupan serta Kebertahanannya ... 213
6.1.3 Fungsi Budaya ... 215
6.2 Revitalisasi Kosakata Budaya Batak Toba ... 227
6.2.1 Mengaktifkan Kembali Kosakata Budaya Batak Toba ... 231
6.2.2 Mengelolaan Kosakata Budaya Batak Toba ... 238
6.2.3 Pewarisan Kosakata Budaya Batak Toba ... 243
6.3 Jenis-Jenis Perkawinan Masyarakat Batak Toba ... 249
BAB VII TEMUAN PENELITIAN ... 260
7.1 Korelasi antar Variabel ... 260
7.2 Kosakata Arkais dalam Siklus Kehidupan ... 268
7.3 Fungsi Kosakata Budaya Batak Toba dalam Budaya Batak Toba ... 271
7.4 Revitalisasi Kosakata Budaya Batak Toba ... 277
BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN ... 284
8.1 Simpulan ... 284
8.2 Saran ... 288
DAFTAR PUSTAKA ... 290 LAMPIRAN 1: Kuesioner Penelitia Revitalisasi Bahasa Batak Toba Melalui
Dokumentasi Etnografi Kosakata Budaya Batak Toba di Tano
Batak ... 296 LAMPIRAN 2: Daftar Informan Penelitian Kosakata Budaya... 351
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman 3.1 Jadwal Penelitian Menurut Kegiatan, Lokasi dan Waktu Penelitian... 73 3.2 Populasi Etnik Batak Toba Menurut Nama Kabupaten, Penduduk Menurut
Gender, dan Jumlah Penduduk…………... 85
4.1 Deskripsi Hasil Analisis Angket Variabel………... 98 4.2 Sikap Bahasa di Tinjau dari Wilayah Penelitian 101 4.3 Penguasaan Kosakata di Tinjau dari Wilayah Penelitian… 103 4.4 Penggunaan Bahasa di Tinjau dari Wilayah Penelitian ……….. 104 4.5 Pemertahanan Bahasa di Tinjau dari Wilayah Penelitian……… 106 4.6 Penguasaan Umpasa di Tinjau dari Wilayah Penelitian… 107 4.7 Analisis Jumlah Data Sikap Bahasa dengan Usia yang Diproses………….. 110 4.8 Analisis Rata-Rata Sikap Bahasa Berdasarkan Usia……… 110
4.9 Anova Sikap Bahasa Berdasarkan Usia … 111
4.10 Analisis Jumlah Data Sikap Bahasa dengan Jenis Kelamin yang Diproses.. 113 4.11 Analisis Rata-Rata Sikap Bahasa berdasarkan Jenis Kelamin……… 113
4.12 Anova Sikap Bahasa Berdasarkan Jenis Kelamin… 114
4.13 Analisis Jumlah Data Sikap Bahasa dengan Pekerjaan yang Diproses….. 114 4.14 Analisis Rata-Rata Sikap Bahasa Berdasarkan Pekerjaan……… 115
4.15 Anova Sikap Bahasa Berdasarkan Usia… 115
4.16 Analisis Jumlah Data Sikap Bahasa dengan Pendidikan yang Diproses…….. 116 4.17 Analisis Rata-Rata Sikap Bahasa Berdasarkan Usia Pendidikan……… 116
4.18 Anova Sikap Bahasa Berdasarkan Pendidikan… 117
4.19 Analisis Jumlah Data Sikap Bahasa dengan Tempat Tinggal yang
Diproses………….. 118
4.20 Analisis Rata-Rata Sikap Bahasa Berdasarkan Tempat Tinggal……… 118 4.21 Anova Sikap Bahasa Berdasarkan Tempat Tinggal… 119 4.22 Analisis Jumlah Data Penguasaan Kosakata dengan Usia yang Diproses….. 120 4.23 Analisis Rata-Rata Penguasaan Kosakata Berdasarkan Usia ……… 120 4.24 Anova Penguasaan Kosakata Berdasarkan Usia……….. 121 4.25 Analisis Jumlah Data Penguasaan Kosakata dengan Jenis Kelamin yang
Diproses……… 121
4.26 Analisis Rata-Rata Penguasaan Kosakata Berdasarkan Jenis Kelami…….. 122 4.27 Anova Penguasaan Kosakata Berdasarkan Jenis Kelamin……… 123 4.28 Analisis Jumlah Data Penguasaan Kosakata dengan Pekerjaan yang
Diproses………….. 123
4.29 Analisis Rata-Rata Penguasaan Kosakata Berdasarkan Pekerjaan………… 124 4.30 Anova Penguasaan Kosakata Berdasarkan Pekerjaan……….. 124
4.31 Analisis Jumlah Data Penguasaan Kosakata dengan Pendidikan yang
Diproses……… 125
4.32 Analisis Rata-Rata Penguasaan Kosakata Berdasarkan Pendidikan…….. 125 4.33 Anova Penguasaan Kosakata Berdasarkan Pendidikan…… 126 4.34 Analisis Jumlah Data Penguasaan Kosakata dengan Tempat Tinggal yang
Diproses……… 126
4.35 Analisis Rata-Rata Penguasaan Kosakata Berdasarkan Tempat
Tinggal……… 127
4.36 Anova Penguasaan Kosakata Berdasarkan Tempat Tinggal……….. 128 4.37 Analisis Jumlah Data Penggunaan Bahasa dengan Usia yang Diproses…… 129 4.38 Analisis Rata-Rata Penggunaan Bahasa Berdasarkan Usia……… 129 4.39 Anova Penggunaan Bahasa Berdasarkan Usia……….. 130 4.40 Analisis Jumlah Data Penggunaan Bahasa dengan Jenis Kelamin yang
Diproses…… 130
4.41 Analisis Rata-Rata Penguasaan Kosakata Berdasarkan Jenis Kelamin……… 131 4.42 Anova Penggunaan Bahasa Berdasarkan Jenis Kelamin……….. 131 4.43 Analisis Jumlah Data Penggunaan Bahasa dengan Pekerjaan yang
Diproses…… 132
4.44 Analisis Rata-Rata Penguasaan Kosakata Berdasarkan Pekerjaan……… 132 4.45 Anova Penggunaan Bahasa Berdasarkan Pekerjaan……….. 133 4.46 Analisis Jumlah Data Penggunaan Bahasa dengan Pendidikan yang
Diproses…… 133
4.47 Analisis Rata-Rata Penggunaan Bahasa Berdasarkan Pendidikan……… 134 4.48 Anova Penggunaan Bahasa Berdasarkan Pendidikan……….. 134 4.49 Analisis Jumlah Data Penggunaan Bahasa dengan Tempat Tinggal yang
Diproses…… 135
4.50 Analisis Rata-Rata Penggunaan Bahasa Berdasarkan Tempat Tinggal……… 136 4.51 Anova Penggunaan Bahasa Berdasarkan Tempat Tinggal……….. 136 4.52 Analisis Jumlah Data Pemertahanan Bahasa dengan Usia yang Diproses 137 4.53 Analisis Rata-Rata Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Usia…… 138 4.54 Anova Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Usia……….. 138 4.55 Analisis Jumlah Data Pemertahanan Bahasa dengan Jenis Kelamin yang
Diproses…… 139
4.56 Analisis Rata-Rata Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Jenis Kelamin… 140 4.57 Anova Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Jenis Kelamin……….. 140 4.58 Analisis Jumlah Data Pemertahanan Bahasa dengan Pekerjaan yang
Diproses…… 141
4.59 Analisis Rata-Rata Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Pekerjaan……… 141 4.60 Anova Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Pekerjaan……….. 142 4.61 Analisis Jumlah Data Pemertahanan Bahasa dengan Pendidikan yang
Diproses…… 142
4.62 Analisis Rata-Rata Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Pendidikan………
4.63 Anova Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Pendidikan……….. 144 4.64 Analisis Jumlah Data Pemertahanan Bahasa dengan Tempat Tinggal yang
Diproses…… 144
4.65 Analisis Rata-Rata Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Tempat
Tinggal……… 145
4.66 Anova Pemertahanan Bahasa Berdasarkan Tempat Tinggal……….. 145 4.67 Analisis Jumlah Data Penguasaan Umpasa dengan Usia yang Diproses…… 146 4.68 Analisis Rata-Rata Penguasaan Umpasa Berdasarkan Usia……… 147 4.69 Anova Penguasaan Umpasa Berdasarkan Usia……….. 147 4.70 Analisis Jumlah Data Penguasaan Umpasa dengan Jenis Kelamin yang
Diproses…… 148
4.71 Analisis Rata-Rata Penguasaan Umpasa Berdasarkan Jenis Kelamin ……… 148 4.72 Anova Penguasaan Umpasa Berdasarkan Jenis Kelamin……….. 149 4.73 Analisis Jumlah Data Penguasaan Umpasa dengan Pekerjaan yang
Diproses…… 149
4.74 Analisis Rata-Rata Penguasaan Umpasa Berdasarkan Pekerjaan……… 150 4.75 Anova Penguasaan Umpasa Berdasarkan Pekerjaan……….. 150 4.76 Analisis Jumlah Data Penguasaan Umpasa dengan Usia yang Diproses…… 151 4.77 Analisis Rata-Rata Penguasaan Umpasa Berdasarkan Pendidikan……… 151 4.78 Anova Penguasaan Umpasa Berdasarkan Pendidikan……….. 152 4.79 Analisis Jumlah Data Penguasaan Umpasa dengan Usia yang Diproses…… 153 4.80 Analisis Rata-Rata Penguasaan Umpasa Berdasarkan Tempat Tinggal… 153 4.81 Anova Penguasaan Umpasa Berdasarkan Tempat Tinggal……….. 154 4.82 Korelasi Sikap Bahasa dengan Pemahaman Kosakata Budaya …… 156 4.83 Korelasi Sikap Bahasa dengan Penggunaan Bahasa……… 157 4.84 Korelasi Sikap Bahsa dengan Pemertahanan Bahasa……….. 158 4.85 Korelasi Sikap Bahasa dengan Penguasaan Umpasa…… 159 4.86 Korelasi Pemahaman Kosakata Budayad dengan Penggunaan Bahasa……… 160 4.87 Korelasi Pemahaman Kosakata Budaya dengan Pemertahanan Bahasa .. 161 4.88 Korelasi Pemahaman Kosakata Budaya dengan Pemahaman Umpasa…… 162 4.89 Korelasi Penggunaan Bahasa dengan Pemertahanan Bahasa……… 163 4.90 Korelasi Penggunaan Bahasa dengan Penguasaan Umpasa……….. 164 4.91 Korelasi Pemertahanan Bahasa dengan Penguasaan Umpasa…… 165 5.1 Kosakata Arkhais Budaya Kelahiran Batak Toba dalam Bahasa Batak Toba
di Tano Batak……….. 167
5.2 Kosakata Arkhais Budaya Perkawinan Batak Toba dalam Bahasa Batak
Toba di Tano Batak……… 170
5.3 Kosakata Arkhais Budaya Kelahiran Batak Toba dalam Bahasa Batak Toba
di Tano Batak……….. 172
7.1 Korelasi antar Variabel……… 260
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Peta Wilayah Suku Batak di Provinsi Sumatera Utara... 24
2.2 Peta Kabupaten Toba Samosir... 25
2.3 Peta Kabupaten Samosir... 26
2.4 Peta Kabupaten Humbang Hasundutan... 28
2.5 Peta Kabupaten Tapanuli Utara... 29
2.6 Model Kebutuhan Fungsional Malinowski... 35
2.7 Bagan Kearifan Lokal…………... 48
2.8 Faktor Penentu Vitalitas Bahasa………... 53
3.1 Bagan Hipotesis Variabel Penelitian... 88
3.2 Alur Penelitian Maju Terhadap Revitalisasi Bahasa Batak Toba di Tano Batak... 95
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai etnik dipandang sebagai objek selalu berada dalam suatu proses. Proses tersebut ditandai oleh dinamika sosial disebabkan keragaman etnik, sehingga bangsa Indonesia memiliki keterampilan dua bahasa, yang dikenal sebagai bahasa Nasional dan bahasa daerah. Bahkan, anak-anak dan remaja Indonesia mengalami proses pembelajaran di sekolah memiliki keterampilan tiga bahasa, yakni bahasa nasional, bahasa daerah, dan bahasa asing. Bahasa Indonesia menjadi lingua franca, berfungsi sebagai alat komunikasi antaretnik dan berkedudukan sebagai bahasa Nasional dan bahasa Negara. Sebaliknya, bahasa daerah dikenal juga sebagai bahasa ibu dan bahasa etnik berfungsi sebagai alat komunikasi intraetnik. Di antara bahasa Nasional dan bahasa ibu terdapat bahasa asing, yakni bahasa Inggris menjadi mata pelajaran sekolah menengah umum. Bahasa ibu menjadi bahasa yang dilematis dalam dinamika sosial masyarakat multietnik. Hal ini disebabkan bahasa ibu berfungsi dalam komunikasi intraetnik, seperti dalam lingkungan keluarga dan dengan penutur berbahasa sejenis. Oleh karena itu, bahasa ibu berperan penting dalam membentuk dan mempertahankan identitas etnik. Dilatarbelakangi oleh proses pemerolehan bahasa, saat dilahirkan ke dunia, manusia mulai belajar bahasa.
Sedikit demi sedikit, bahasa yang dipelajarinya sejak kecil semakin dikuasainya, sehingga jadilah bahasa serta dipelajari sejak kecil sebagai bahasa pertamanya.
Beranjak remaja, manusia sudah menguasai dua bahasa. Bahasa tersebut diperoleh ketika berinteraksi dengan masyarakat penutur bahasanya dan ketika
belajar di sekolah. Hal ini menyebabkan manusia menjadi dwibahasawan dan multibahasawan. Ketika menjadi dwibahasawan dan multibahasawan, manusia dihadapkan pada pertanyaan, ―Manakah di antara bahasa yang saya kuasai merupakan bahasa yang paling penting?” Kondisi inilah yang terjadi dalam dinamika sosial etnik Batak Toba yang bertempat tinggal di Tano Batak, terutama di Kawasan Danau Toba. Hal itu disebabkan oleh faktor politik industri kepariwisataan dan politik bahasa nasional. Industri kepariwisataan menjadikan Kawasan Danau Toba sebagai wilayah pertemuan bahasa-bahasa dunia yang berakibat pada pilihan-pilihan bahasa yang paling penting untuk keberhasilan pariwisata, Bahasa Batak Toba atau Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggriskah yang paling penting. Di dalam proses pilihan bahasa, penutur Bahasa Batak Toba di Tano Batak sebagai dampak politik Bahasa Nasional dalam penggunaan Bahasa Indonesia, terutama dalam proses pembelajaran di sekolah dan kampus. Dengan demikian, bahasa dijadikan sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan sebagai kebanggaan yang mampu mengendalikan kepunahan bahasa.
Proses pemerolehan bahasa yang mengancam kepunahan bahasa bermula sejak anak-anak hingga dewasa. Sebagai ilustrasi, seorang anak yang bahasa pertamanya bahasa A, ketika sekolah, dia menguasai bahasa B. Lambat laun, dia menyadari bahwa bahasa B lebih penting atau membawa manfaat yang sangat besar baginya. Hal ini membuat dia lebih memilih bahasa B dari pada bahasa A dalam berinteraksi. Posisi bahasa A sebagai bahasa yang utama bagi si anak menjadi ‗termarginalkan‘ atau dinomor duakan dalam proses komunikasinya.
Dengan demikian, komunitas bahasa A terancam kepunahan akibat ketertarikan penutur bahasa A terhadap bahasa etnis lainnya. Apabila hal ini dibiarkan tanpa
adanya revitalisasi bahasa maka bahasa A, bahasa ibu akan mengalami kepunahan.
Sugono (2007) mengatakan bahwa sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedangkan puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini dalam keadaan terancam punah. Sepuluh bahasa daerah yang telah punah itu berada di Indonesia bagian timur, yakni di Papua sebanyak sembilan bahasa dan di Maluku Utara satu bahasa. Salah satu penyebab lunturnya bahasa daerah adalah fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Mereka juga enggan untuk menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian.
Secara historis, kepunahan bahasa mengancam bahasa-bahasa dunia yang tidak memiliki pola pemertahanan dan revitalisasi bahasa, terutama pada masyarakat perkotaan. Menurut Taha (2007), pada abad ini diperkirakan 50 persen dari 5.000 bahasa di dunia terancam punah, atau setiap dua pekan hilang satu bahasa. Kepunahan tersebut bukan karena bahasa itu hilang atau lenyap dari lingkungan peradaban, melainkan para penuturnya meninggalkannya dan bergeser ke penggunaan bahasa lain yang dianggap lebih menguntungkan dari segi ekonomi, sosial, politik atau psikologis. Di Indonesia sendiri, katanya, kepunahan bahasa semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan keluarga yang tinggal di perkotaan.
Secara konstitusional, Seminar Politik Bahasa di Cisarua, Bogor, 8–12 November 1999 memberi fungsi perlindungan terhadap bahasa daerah. Menurut Alwi dan Sugono (2003:6), ―Bahasa daerah berfungsi sebagai (1) lambang kebanggan daerah, (2) lambang identitas daerah, (3) alat perhubungan di dalam
keluarga dan masyarakat daerah, (4) sarana pendukung budaya daerah dan Bahasa Indonesia, serta (5) pendukung sastra daerah dan sastra Indonesia‖. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa daerah digunakan oleh masyarakat sebagai sarana perhubungan dan pendukung kebudayaan di daerah atau di dalam masyarakat etnik tertentu di Indonesia. Kemudian, di dalam keadaan tertentu, bahasa daerah dapat berfungsi sebagai pelengkap bahasa Indonesia di dalam penyelenggaraan pemerintahan pada tingkat daerah. Oleh karena itu, bahasa daerah tertentu dipilih oleh pemerintahan daerah yang daerahnya didominasi etnik tertentu, misalnya Batak Toba, Aceh, Jawa, dan lain-lain.
Perlindungan terhadap bahasa daerah mencapai puncaknya dengan pengesahan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Pada Pasal 42 ayat (1) tertulis, ―Pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia‖. Substansi pasal ini memberi perlindungan yang bertahap, sistematis, dan berkelanjutan terhadap bahasa daerah tanpa mengabaikan penasionalan bahasa Indonesia atau penginternasionalan, misalnya, bahasa Inggris. Dengan politik bahasa nasional ini, maka usaha revitalisasi bahasa menjadi topik strategis untuk melindungi, membina, dan mengembangkan bahasa daerah yang terancam kepunahan.
Ancaman kepunahan bahasa daerah tetap terjadi dalam fungsi bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada tingkat permulaan sekolah dasar di daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan/atau pelajaran lain.
Fungsi bahasa daerah dalam mendukung fungsi bahasa Indonesia berdampak pada sikap bahasa yang negatif terhadap penutur bahasa daerah. Mahsun (2000:40) mengatakan, ―Kebijakan ini secara psikologis telah membentuk persepsi anak didik akan kurang pentingnya bahasa dan kultur yang mereka miliki yang terekam dalam bahasa ibu mereka‖. Kondisi ini dikhawatirkan akan menghilangkan kosakata budaya dalam karakter penutur bahasa daerah, terutama dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, revitalisasi terhadap kosakata budaya dalam bahasa Batak Toba semakin penting dilakukan dalam bentuk dokumentasi etnografi kosakata budaya pada etnik Batak Toba di Tano Batak, khususnya di Kawasan Danau Toba dan perkotaan di empat kabupaten berpenduduk mayoritas Batak Toba, yakni Kabupaten Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara.
Ancaman kepunahan bahasa Batak Toba mulai meresahkan masyarakat penutur bahasa Batak Toba itu sendiri. Menurut Pasaribu (2013:7), telah terjadi kontak bahasa Batak Toba dengan bahasa asing, sehingga muncul ungkapan,
―mauliate thank you‖. Demikian juga, Pasaribu (2014a:7) menemukan fakta telah terjadi pergeseran makna kosakata budaya pakter tuak. Pakter tuak yang semula bermakna pondok tempat berkumpul di bawah pohon rindang di tepi danau tempat orang sepulang dari ladang/sawah/kebun untuk berdiskusi atau martungko, sekarang berubah menjadi lapo/lepau/kedai yang bermakna tempat jual-beli.
Bahkan, secara sistemik telah terjadi kepunahan dalam penggunaan kosakata budaya Batak Toba. Irwansyah Harahap dalam Pasaribu (2014b:7) mengungkapkan punahnya alat musik Batak Toba, seperti mengmung, talatoit, saga-saga, sordam, dan arbab. Kepunahan kosakata budaya tersebut secara
fungsional dalam musik Batak Toba disebabkan dua faktor, yakni semakin sedikit masyarakat pemakainya dan keterkaitan pemakaian peralatan musik itu dengan animisme, sehingga tidak diperkenankan dipakai oleh pemeluk agama Kristen dan Islam di Tano Batak.
Kebertahanan bahasa Batak Toba dalam memungsikan kosakata budaya Batak Toba menjadi pertaruhan masa depan bahasa Batak Toba. Hal ini terungkap dalam wawancara penulis dengan Romulus ZI Siahaan –sastrawan dan pendeta- di Medan, 14 Mei 2014. Di dalam wawancara terungkap bahwa terjadi penyederhanaan di satu sisi sekaligus perumitan di sisi lain terhadap pemaknaan kosakata budaya Batak Toba. Misalnya, acara penyambutan kelahiran anak pada masa lalu cukup dengan mengabarkan kelahiran anak itu pada tetangga, maka tetangga yang lain akan menerima kabar, sehingga berdatanganlah tetangga tersebut ke rumah orang yang melahirkan anak. Kesederhanaan acara penyambutan kelahiran anak tersebut sekarang berubah dengan serangkaian acara adat dan agama yang cenderung memerlukan waktu yang cukup dan biaya yang relatif besar untuk mengundang tetangga dan kerabat, terutama yang termasuk dalam tarombo dalihan na tolu.
Sejalan dengan pendapat di atas, Sianipar (2008) mengidentifikasi 17 indikator yang berperan memusnahkan bahasa dan kosakata budaya Batak Toba.
Ketujuhbelas indikator itu adalah (1) karena orangtua (Ayah/Ibu) sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi; (2) bila bahasa Batak bukan lagi bahasa yang dominan di rumah (punahnya bahasa daerah, dimulai dari rumah pemilik bahasa daerah itu);
(3) bila orangtua tidak mengajarkan anaknya bahasa Batak. Orang tua tidak menyampaikan kepada si anak bila mereka berbahasa Batak dijawablah dalam
bahasa Batak dan bila mereka berbahasa asing dijawablah dalam bahasa asing tersebut; (4) bila ompung naburjui berkomunikasi dengan pahompu harus menggunakan bahasa sileban (Indonesia atau Inggris), agar pahompu mengerti apa yang dibicarakan; (5) bila si anak mengatakan dengan bangga, ―Saya sudah lahir, besar di Medan, Jakarta, Bandung, Jogja- sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi.‖: (6) bila si anak ditanya dalam bahasa Batak, Di dia hutam, Aha Margamu?
Ise Goarmu? langsung tidak nyambung. Akan tetapi bila ditanya, ―Kamu orang apa?‖ Maka, dia akan menjawab dengan mantap, ―Orang Batak!‖; (7) bila anak- anak di rumah lebih fasih berbahasa asing (Inggris, Mandarin, atau bahasa daerah yang lain) dibanding berbahasa Batak; (8) jika keponakan –bere, paraman, maen, anak kakak, dan anaknya adik- tidak mampu juga berbahasa Batak dengan fasih;
(9) bila naposo mengatakan, ―Ngerti seh … tapi nggak bisa ngomongnya.‖; (10) ketika orang-orang muda berkata, ―Proud to be Batak‖ tapi tidak bisa berbahasa Batak; (11) bila kita beranggapan, kalau libur sekolah, anak-anak mau dikirim ke kampung untuk belajar bahasa Batak (kenyataan: di kampung, anak-anak sekarang sudah tidak berbahasa Batak lagi); (12) bila orang tua menganggap,
―Hare gini…, anak anak diajari bahasa Batak?‖; (13) bila kita mandok hata (berbicara) dalam acara keluarga/pesta, ada yang berteriak, ―Pake bahasa Indonesia saja, biar anak-anak pada ngerti.‖; (14) bila anaknya tokoh adat, raja parhata, yang rajin ke pesta dan peduli dengan urusan adat, tetapi anak-anaknya tidak mampu berbahasa Batak dengan baik; (15) saat kita berkomunikasi dengan lawan bicara kita yang halak hita (orang kita Batak), dia mengulangi dalam bahasa lain yang lebih dominan; (16) ketika orang Batak merasa malu berbicara dalam bahasa Batak di keramaian, tempat umum saat bertemu dengan halak hita;
dan, (17) kesulitan membaca tulisan dan banyak tidak mengerti arti tulisan dalam Bahasa Batak, terutama aksara Batak Toba.
Ancaman kepunahan tidak hanya dialami oleh bahasa Batak Toba, melainkan juga bahasa yang lain. Menurut Mustakin dalam Kompasiana (2013), ancaman kepunahan itu terindeteksi dari laju kepunahan beberapa bahasa daerah dengan pengguna terbesar di Indonesia. Laju kepunahan bahasa Batak (9,8%), bahasa Bugis (8,8%), bahasa Minangkabau (7,6%), bahasa Jawa (4,1%), bahasa Sunda (3,9%), bahasa Banjar (2,5%), bahasa Madura (2,2%), dan bahasa Bali (2,1%). Persentase itu menunjukkan penutur bahasa etnik semakin banyak yang tidak lagi menggunakan bahasa ibunya. Dengan demikian, semakin tinggi persentase penutur tidak lagi menggunakan bahasa daerahnya, maka semakin tinggi laju kepunahannya.
Secara universal, ancaman kepunahan bahasa menjadi topik strategis dalam proses revitalisasi bahasa. Globalisasi bahasa yang didukung oleh percepatan kualitas dan kuantitas teknologi komunikasi dan transportasi menjadikan penutur bahasa berpotensi melakukan pergeseran bahasa dengan cara memakai bahasa yang popular dan dapat menaikkan prestise. Bahkan, Spolsky (2008:5-6) menyimpulkan bahwa, ―Topik yang paling tragis dalam studi pergeseran bahasa adalah kematian bahasa. Sebaliknya, yang paling menyenangkan adalah kebangkitan bahasa yang semula tampak sekarat.‖ Proses ini umumya bersifat pelan dan bertahap dalam jangka waktu yang relatif lama (gradual) pada situasi diglosia ke arah bahasa yang lebih berprestise. Oleh karena itu, Spolsky (2008:4-5) menempatkan bahasa yang terancam kehilangan bahasa (language loss) atau kematian bahasa (language death) dalam program revitalisasi
bahasa. Revitalisasi bahasa tersebut dapat berupa hal baru atau bisa juga pembangkitan yang sudah ada yang mungkin sudah ditinggalkan atau menyusut intensitas penggunaanya. Oleh karena itu, program revitalisasi bahasa dapat dilakukan di mana saja, termasuk penggunaan sistem bahasa oleh sekelompok penutur asli yang tidak terisolengan demikian, revitalisasi bahasa merupakan proses pembangkitan vitalitas dari bahasa yang terancam sehingga penggunaan bahasa oleh penutur aslinya bisa berkelanjutan.
Fenomena kepunahan bahasa disebabkan tidak adanya sikap bahasa yang positif, terutama pada masyarakat etnik yang bermigrasi ke perkotaan. Hal ini dapat dilihat pada masyarakat Batak Toba yang bertempat tinggal di Kawasan Danau Toba. Kedatangan bangsa-bangsa asing ke Tano Toba memberi pandangan hidup tertentu sesuai dengan keyakinan dan kebudayaan pendatang tersebut.
Pandangan hidup tersebut mengalami penyaringan dalam sistem nilai budaya Batak Toba. Proses penyaringan bahasa dan budaya asing tersebut berpotensi mengubah pandangan hidup sehingga bahasa dan budaya Batak Toba memerlukan revitalisasi kosakata budaya dalam bentuk dokumentasi istilah budaya untuk pewarisan nilai-nilai budaya Batak Toba sepanjang zaman.
Sebagai contoh kasus perubahan pandangan hidup di atas, Kotkin dan Tseng dalam Samovar, dkk. (2010:201) berpendapat, .‖..di Amerika Serikat tidak hanya ada pertumbuhan keinginan dan kemampuan untuk melintasi budaya, namun juga evolusi dalam suatu negara di mana identitas pribadinya lebih dibentuk oleh pilihan budaya dibandingkan oleh warna kulit atau warisan etnisnya.‖ Dengan kata lain, sebagaimana dikatakan oleh Hitts dalam Samovar, dkk. (2010:201), ―...semakin banyak orang Amerika yang merasa nyaman untuk
mengganti identitas yang mereka bawa sejak lahir dan menggunakan identitas baru yang dirasa lebih nyaman‖ Hal ini memberi gambaran yang konkret terhadap keberlangsungan bahasa Batak Toba yang menjadi fokus penelitian ini karena pola budaya multikultur masyarakat perkotaan lebih mengutamakan pilihan berdasarkan kepentingan bersama. Akibat keadaan itu, penutur bahasa Batak Toba terdampak sikap bahasa yang negatif sehingga memerlukan pola revitalisasi yang andal, terutama dalam komunikasi antarbudaya masyarakat perkotaan dan pedesaan di Kawasan Danau Toba.
Berdasarkan penjelasan di atas, etnik Batak Toba di Tano Batak mengalami proses pembelajaran bahasa dan proses komunikasi antarbudaya yang memberi pilihan-pilihan bahasa dalam komunikasi kesehariannya. Berdasarkan hasil observasi peneliti, sebagian besar komunitas remaja ini tidak memiliki pola pemertahanan bahasa yang positif. Akibatnya, mereka tidak lagi mengenal berbagai kosakata yang berhubungan dengan unsur alam dan unsur kebudayan.
Penyusutan atau kepunahan unsur-unsur alam maupun unsur-unsur sosial budaya diduga berdampak pada konsepsi penutur bahasa tersebut. Oleh sebab itu, perlu diselidiki kosakata budaya Batak Toba, seperti kata sakkak ‗songkok ayam dibuat dari bambu, untuk tempat ayam bertelur dan mengeram‘, harpe ‗alas periuk tanah dibuat dari jalinan rotan‘, ‗solup‘ terbuat dari bambu, sebagai takaran padi, atau beras ukuran isi sekitar 2 liter‘, dan sebagainya. Kosakata seperti ini sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat perkotaan sehingga pendokumentasian kosakata budaya tersebut menjadi model revitalisasi bahasa yang layak dikedepankan dalam pelestarian, pembinaan, dan pengembangan bahasa Batak Toba.
Menghadapi risiko kepunahan bahasa, Grenoble dan Whaley (2006:20) merancang program revitalisasi bahasa dengan prinsip harus berbasis masyarakat, bottom-up. Hal ini disebabkan keberhasilan revitalisasi bahasa tergantung pada motivasi penutur bahasa yang sedang direvitalisasi, dan bukan bergantung dari perevitalisasi atau pejabat pemerintah. Oleh karena itu, menurut Grenoble dan Whaley (2006:21-22), aspek penting sebelum revitalisasi adalah mengidentifikasi masalah, mengenali bagaimana masyarakat saling berhubungan, menilai bagaimana masyarakat akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh upaya untuk mengubah pola penggunaan bahasanya.
Pengidentifikasian masalah kebahasaan yang dihadapi oleh masyarakat dijadikan prinsip utama perevitalisasian bahasa. Perevitalisasian bahasa itu menjadi sulit apabila penutur bahasa semakin berkurang jumlahnya. Ketiadaan penutur asli suatu bahasa akan menghambat proses pewarisan tuturan yang benar.
Oleh karena itu, Sugono (2007) menegaskan bahwa proses, ―Revitalisasi dilakukan dengan mengumpulkan generasi tua sebagai penutur dan generasi muda sebagai pewaris bahasa daerah, untuk membahas pelestarian bahasa daerah‖. Hal ini untuk menghindarkan krisis generasi muda penutur asli suatu bahasa seperti yang dikatakan oleh Lauder dalam Sugono (2007), ―Penyebab punahnya bahasa daerah adalah jumlah penuturnya yang sedikit, dan kurangnya minat generasi muda menggunakan bahasa daerah dalam bertutur‖.
Malinowski dalam teori fungsional tentang kebudayaan atau ―a functional theory of cultural‖. Malinowski berpendapat bahwa pada dasarnya kebutuhan manusia sama, baik itu kebutuhan biologis maupun yang bersifat psisikologis dan kebudayaan pada pokoknya memenuhi kebutuhan tersebut.
Ada tiga tingkatan oleh Malinowski yang harus terekayasa dalam kebudayaan yakni:
1. Kebudayaan harus memenuhi kebutuhan biologis, seperti kebutuhan akan pangan dan prokreasi.
2. Kebudayaan harus memenuhi kebutuhan instrumental, seperti akan kebutuhan akan hukum dan pendidikan.
3. Kebudayaan harus memenuhi kebutuhan integratif, seperti agama dan kesenian.
Selanjutnya Arnold Van Gennep (1960; 3), transition from group to group and from one social situasion to the next are looked on as implicit in the very fact of existense, so that a man‘s life comes to be made up of a succession of stages with similar ends and beginnings; birth, marriage, and death. ‗transisi dari satu kelompok ke kelompok dan dari satu situasi sosial terlihat secara eksplisit dlam faktadari satu eksistensi, sehingga kewhidupan manusia yang akan datang terdiri dari tahap dengan awal dan akhir yang sama: kelahiran, pernikahan, dan kematian‘.
Jadi dengan demikian, dalam penelitian ini yang dibahas adalah kosakata kelahiran, pernikahan, dan kematian yang ada dalam kosakata Batak Toba.
Berdasarkan program revitalisasi Grenoble dan Whaley (2006) dan kesaksian masyarakat terdahap ancaman kepunahan bahasa Batak Toba, terutama ancaman kepunahan terhadap makna kosakata budaya Batak Toba, maka bahasa Batak Toba memerlukan pola revitalisasi bahasa yang tepat sasaran. Hal ini disebabkan penggunaan kosakata Batak Toba yang menyimpang dari makna dasarnya telah menjadi bagian dari pola komunikasi antaretnik. Misalnya, istilah
yang berkaitan dengan sistem kekerabatan telah mengalami perluasan makna.
Kata lae yang bermakna ‗putra saudara perempuan ayah‘ sekarang digunakan untuk sapaan semua laki-laki yang kira-kira sebaya padahal tidak ada hubungan geneologis. Kata ito sebagai kata sapaan untuk saudara perempuan atau laki-laki sekarang digunakan untuk sapaan semua orang yang kira-kira sebaya dengan penyapa. Bahkan, seorang remaja Batak Toba telah mengganti panggilan adik atau abang sebagai pengganti ito dan memanggil orang tua dengan bapak atau ibu atau mama dan papa menggantikan panggilan khas Batak Toba, amang dan inang.
Demikian juga dengan istilah kekerabatan yang lain, seperti tulang, ompung, pariban telah mengalami perluasan makna yang mengakibatkan makna asalnya menjadi kabur dan membingungkan penutur bahasa yang kurang mendalami bahasa Batak Toba. Kekaburan makna dan kebingungan penutur bahasa ini disebabkan makna dasar dan makna meluas istilah kekerabatan tersebut masih digunakan masyarakat perkotaan dengan makna berbeda sesuai konteks penuturannya.
Pemaknaan kosakata budaya yang berbeda pada penutur bahasa Batak Toba memberi bukti telah terjadi proses pemertahanan bahasa yang negatif. Hal ini tidak hanya terjadi pada bahasa Batak Toba, melainkan pada bahasa-bahasa yang berkembang di Indonesia. Menurut Mbete (2010:2), ―Dalam kaitan dengan pemertahanan bahasa-bahasa Nusantara, patut disadari bahwa sesungguhnya semua bahasa Nusantara berada dalam kondisi terancam‖. Bahkan, bahasa-bahasa besar yang bangga karena memiliki tradisi tulis masa lalu dan dukungan penutur berjumlah besar maupun bahasa-bahasa kecil yang tidak memiliki tradisi tulis dan dukungan penutur yang kecil, umumnya berada dalam kondisi keterancaman yang
nyaris sama, meski kualitas ancamannya berbeda-beda. Hal itu berpangkal pada sikap kurangnya dan rendahnya mutu penggunaan bahasa lokal yang berdampak pada pengalihan bahasa dengan kandungan nilai tradisi lokal dari generasi tua kepada generasi muda tersendat-sendat, bahkan tidak jelas. Oleh karena itu, menurut Alwasilah (2009:9), revitalisasi bahasa daerah difokuskan pada (1) dokumentasi, interpretasi, dan sosialisasi; (2) penggunaan bahasa daerah dalam ramah-tamah; (3) penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa tulis ilmiah; (4) penerjemahan karya sastra (budaya) daerah ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing; dan, (5) penerjemahan karya sastra asing ke dalam bahasa daerah. Pendapat tersebut relevan bagi penelitian revitalisasi bahasa Batak Toba melalui dokumentasi kosakata budaya Batak Toba yang akan dilaksanakan di Tano Batak, tempat bermula bahasa Batak Toba.
Berdasarkan fenomena kebahasaan yang terjadi dalam komunikasi lintas budaya, maka ancaman kepunahan bahasa Batak Toba terjadi dalam kehidupan masyarakat Batak Toba di Tano Batak, terutama di perkotaan dan kawasan Danau Toba. Kepunahan bahasa ini dapat diantisipasi dengan penelitian yang ilmiah terhadap frekuensi penggunaan kosakata budaya Batak Toba dan fungsi kosakata budaya Batak Toba tersebut dalam kehidupan masyarakat sekarang, baik kosakata yang memberikan kebutuhan organis untuk menciptakan simbolisasi dunia maupun menciptakan struktur sosial. Di samping itu, sikap bahasa penutur bahasa Batak Toba di Tano Batak memerlukan penyurveian sehingga dapat diidentifikasi seberapa penting kosakata budaya Batak Toba bagi etnik Batak Toba itu sendiri di kampung halamannya, Tano Batak. Dengan pengidentifikasian frekuensi dan fungsi kosakata budaya serta sikap bahasa penutur bahasa Batak Toba maka
proses penelitian ini akan diproyeksikan pada analisis domain dan taksonomik dari kosakata budaya yang fungsional untuk dicatat dalam dokumentasi sebagai sebuah karya etnografi.
Sikap bahasa, penggunaan bahasa, pemertahanan bahasa, serta pemahaman fungsi kosakata budaya bahasa Batak Toba sebagai pemicu punahnya bahasa. Sikap bahasa yang positif dan penggunaan bahasa pada bahasa Batak Toba dapat menghambat kepunahan suatu bahasa. Pemertahanan bahasa pada setiap ranah penggunaan bahasa akan dapat mengatasi punahnya bahasa. Begitu pula halnya dengan pemahaman terhadap fungsi kosakata budaya dalam kehidupan akan menjaga sistem kekerabatan dan pola kehidupan dapat tertata dengan baik.
Pada kenyataannya sikap bahasa, penggunaan bahasa, pemertahanan bahasa serta pemahaman fungsi kosakata budaya Batak Toba telah mengalami pergeseran. Pergerseran tersebut terlihat dari pemakaian bahasa Batak Toba yang dicampur dengan bahasa Indonesia. Di samping itu, banyak masyarakat Batak Toba kurang memahami fungsi kosakata budaya yang terdapat pada umpasa batak Toba. Pemertahanan bahasa akan dapat dilakukan jika adanya keseimbangan antara sikap positif, pemakaian serta pemahaman fungsi kosakata budaya dalam tatanan kehidupan masyarakat Batak Toba di Tano Batak. Oleh karena itu, penelitian tentang revitalisasi kosakata budaya Batak Toba perlu dilakukan sebagai langkah penghambat punahnya bahasa Batak Toba di Tano Batak.
1.2 Batasan Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada kosakata budaya Batak Toba di Tano Batak secara sinkronis. Kosakata budaya merujuk pada istilah penting yang berlaku dalam nilai budaya Batak Toba dengan indikator berkesesuaian dengan kosmologi Dalihan Na Tolu. Kosakata budaya Batak Toba tersebut dideskripsikan dan dianalisis sesuai dengan teori fungsional dan revitalisasi bahasa. Berdasarkan hal ini, maka pembahasan difokuskan pada temuan penelitian berbentuk model dokumentasi kosakata budaya sebagai revitalisasi bahasa Batak Toba di Tano Batak. Peran sikap bahasa, penggunaan bahasa, pemertahanan bahasa serta pemahaman fungsi kosakata budaya bahasa Batak Toba adalah objek kajian revitalisasi bahasa.
1.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian terdiri atas empat pertanyaan, keempat pertanyaan berikut diteliti secara kualitatif dan kuantitatif. Khusus untuk pertanyaan pertama, kedua, didukung oleh data kuantitatif, pertanyaan ketiga dan keempat menggunakan data kualitatif.
1. Bagaimanakah korelasi pemakaian kosakata budaya, sikap bahasa, dan penggunaan bahasa penutur bahasa Batak Toba di Tano Batak terhadap pemertahanan kosakata budaya Batak Toba di Tano Batak?
2. Bagaimanakah kedudukan kosakata arkhais budaya Batak Toba dalam bahasa Batak Toba di Tano Batak?
3. Bagaimanakah fungsi kosakata budaya Batak Toba dalam sistem nilai budaya Batak Toba di Tano Batak?
4. Bagaimanakah pola revitalisasi pengaktifan kosakata budaya Batak Toba di Tano Batak?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut.
1. Menganalisis korelasi pemakaian kosakata budaya, sikap bahasa, dan penggunaan bahasa penutur bahasa Batak Toba di Tano Batak dengan pemertahanan kosakata budaya Batak Toba di Tano Batak.
2. Menganalisis kedudukan kosakata arkhais budaya Batak Toba dalam bahasa Batak Toba di Tano Batak.
3. Menganalisis fungsi kosakata budaya Batak Toba dalam sistem nilai budaya Batak Toba di Tano Batak.
4. Menemukan pola revitalisasi pengaktivan kosakata budaya Batak Toba di Tano Batak.
1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini diproyeksikan kebermanfaatannya dalam program revitalisasi kosakata budaya dalam bahasa Batak Toba di Tano Batak.
Revitalisasi yang mengambil model dokumentasi sebagai revitalisasi dilakukan dengan dasar aplikasi teori fungsionalisme, teori revitalisasi bahasa, dan metode etnografi. Secara jangka pendek akan diteliti dengan metode etnografis dan dianalisis dengan teori fungsional, sehingga diperoleh kosakata budaya yang
fungsional untuk pengaktivan dan pewarisan Bahasa Batak Toba dalam kehidupan etnik Batak Toba di Tano Batak. Sebaliknya, secara jangka panjang diperoleh etnografi kosakata budaya Batak Toba yang dijadikan rujukan penyusunan Kamus Kosakata Budaya Batak Toba, Ensiklopedia Budaya Batak Toba, dan Etnografi Batak Toba.
1.5.2 Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam komunikasi intraetnis dan antaretnis yang menganggap penting kosakata budaya Batak Toba, terutama berkaitan dengan hal-hal berikut ini.
1. Hasil penelitian ini memberikan model dokumentasi sebagai revitalisasi dalam perevitalisasian bahasa Batak Toba yang sesuai dengan frekuensi dan fungsi kosakata budaya Batak Toba di Tano Batak dalam kehidupan etnik Batak Toba sekarang, terutama di Kawasan Danau Toba. Dokumentasi ini dapat digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran, pemerintah dalam pengambilan kebijakan, pengusaha dalam industri wisata, dan masyarakat dalam memajukan kehidupan yang beradat dan berbudaya.
2. Hasil penelitian menyediakan model penulisan etnografi kosakata budaya Batak Toba di Tano Batak yang meliputi Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Kabupaten Tapanuli Utara. Model ini dapat digunakan oleh peneliti lain untuk menemukan hal baru, memperkuat hasil penelitian, atau memberi bandingan yang signifikan dengan penelitian ini.
3. Hasil penelitian ini menghasilkan bahan yang diperlukan dalam pembuatan Kamus Kosakata Budaya Batak Toba, Ensiklopedia Budaya Batak Toba, dan Etnografi Batak Toba.
1.6 Klarifikasi Istilah
Penelitian ini menggunakan beberapa istilah yang berhubungan dengan rumusan masalah. Istilah tersebut terdapat pada klarifikasi berikut ini.
1. Kosakata budaya dalam penelitian, merujuk pada istilah yang digunakan oleh penutur bahasa Batak Toba untuk menandai aktivitas kebudayaannya. Istilah itu mencakup beberapa kosakata yang melengkapi kosakata budaya. Adapun kosakata yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini yaitu kosakata budaya yang berkaitan dengan siklus kehidupan (kelahiran, perkawinan dan kematian) misalnya, dalam istilah dalihan na tolu tercakup kosakata budaya yang lain, seperti hula-hula, anak boru, dan dongan sabutuha.
2. Sikap bahasa adalah kepercayaan, penilaian, dan pandangan terhadap bahasa, penutur atau masyarakatnya serta kecenderungan untuk berperilaku terhadap bahasa, penutur bahasa atau masyarakat dengan cara-cara tertentu, baik secara positif maupun negatif.
3. Penggunaan bahasa merupakan pemakaian bahasa sehari-hari yang dituturkan oleh masyarakat pada ranah keluarga, hubungan peran dalam sistem kekerabatan, dan peristiwa bahasa.
4. Pemertahanan bahasa merupakan upaya memelihara suatu bahasa dari ancaman pergeseran bahasa atau kepunahan bahasa, misalnya usaha
pemertahanan bahasa Batak Toba pada ranah keluarga, hubungan peran dalam sistem kekerabatan, dan peristiwa bahasa.
5. Kepunahan bahasa adalah suatu keadaan di mana tidak terdapat penutur bahasa yang tersisa pada suatu etnik. Keadaan tersebut terjadi secara bertahap yang dimulai dengan pergeseran bahasa yang berakibat pada tersendatnya transmisi bahasa dari generasi tua kepada generasi muda, sehingga bahasa tersebut menjadi hilang, sekarat, hampir punah, hingga benar-benar punah.
6. Fungsionalisme adalah paham yang menekankan bahwa unsur-unsur di dalam suatu masyarakat saling bergantung dan menjadi kesatuan yang menekankan kepraktisan atau hubungan fungsional, misalnya, dengan memvisualisasikan kosakata budaya masyarakat tanpa mengacu kepada masa silamnya, sehingga mengutamakan pola-pola budaya yang masih berlangsung atau fungsional dalam kehidupan masyarakat tersebut.
7. Revitalisasi bahasa adalah usaha atau upaya memunculkan kembali kosakata budaya yang dianggap hampir punah. Memunculkan kembali dilakukan dengan cara mengaktifkan, mengelola, serta mewariskan kosakata yang hampir punah. Sehingga masyarakat menjadikan penting suatu bahasa dalam kehidupan masyarakat meskipun sebagian dan atau seluruh penutur bahasa yang bersangkutan tidak menganggap penting bahasa tersebut.
8. Etnografi adalah deskripsi tentang kebudayaan suku bangsa yang masih hidup, misalnya, etnografi kosakata budaya Batak Toba berarti deskripsi tentang kosakata budaya Batak Toba yang masih digunakan oleh masyarakat Batak Toba, terutama di Tano Batak.
9. Kearifan lokal adalah kematangan masyarakat di tingkat komunitas lokal yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan cara pandang masyarakat yang kondusif di dalam mengembangkan potensi dan sumber lokal yang dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk mewujudkan perubahan kearah yang lebih baik atau positif.
10. Tano Batak bermakna Tanah Batak sebagai wilayah asal etnik Batak Toba yang sekarang terdiri atas empat kabupaten, yaitu Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir, dan Humbang Hasundutan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIK
Bagian ini berisi penjelasan konsep-konsep yang relevan dengan teori yang digunakan dalam penelitian. Konsep pertama berkaitan dengan konsep peristilahan Tano Batak, Bahasa Batak Toba, dan budaya Batak Toba. Konsep kedua berkaitan dengan teori yang digunakan, yaitu teori fungsional, sikap bahasa, penggunaan bahasa, pemertahanan bahasa, revitalisasi bahasa, dan kearifan lokal.
Konsep ketiga berkaitan dengan konsep-konsep yang digunakan oleh peneliti lain dalam penelitian Bahasa Batak Toba.
2.1 Kajian Pustaka
Batak dalam penelitian ini merujuk pada orang-orang yang berasal dan atau bertempat tinggal di Kawasan Pegunungan Bukit Barisan, Provinsi Sumatera Utara. Kawasan ini membentang dari Kabupaten Karo hingga Kabupaten Mandailing Natal. Secara etimologis, Macdonell dan Zoetmulder dalam Nainggolan (2006:58) mengatakan kata batak berasal dari bahasa Sanskrit yang masuk ke dalam bahasa Jawa Kuno, bhata atau bhrta yang bermakna ‗penjaga bayaran, serdadu, pengawas, sewaan, pelayan‘. Di dalam perkembangannya, menurut Sarumpaet (1994:85), kata batak memiliki dua makna. Pertama, sebagai kata sifat bermakna kukuh; mantap. Kata ini menurunkan batakan yang bermakna inti, kesimpulan: batak ni hata bermakna kesimpulan pembicaraan. Makna kedua menurunkan kata mamatak memacu kuda, halak Batak orang Batak, dan habatakon adat dan hukum suku Batak.
Sejalan dengan pendapat di atas, Warneck (2003:39) mengatakan bahwa kata batak lebih diartikan sebagai nama suku di Sumatera Utara. Kata ini menurunkan kata habatakon bermakna masalah Batak, adat, dan hukum suku Batak; mambatakhon bermakna menerjemahkan ke dalam bahasa Batak.
Pemaknaan batak sebagai nama suku ini bersandingan dengan karakter orang Batak yang pada masa lalu suka menunggang kuda. Oleh karena itu, terdapat kalimat batak hodami yang bermakna larikan kudamu itu; mamatak bermakna menunggang kuda sambil memacunya untuk jalan cepat; dan, batahonmu atau piga batahan bermakna berapa lama kau tempuh dengan menunggang kuda?
Berdasarkan pendapat di atas, etnik Batak Toba sebagai fokus penelitian ini telah menjadi bagian dari masyarakat multietnik Indonesia. Istilah etnik dalam penelitian etnik Batak Toba ini mengacu pada istilah kelompok etnik sebagaimana pendapat Brass (2005:8-9) berikut ini.
Istilah ‗kelompok etnis‘ akan digunakan bersinonim dengan istilah ‗orang- orang‘ untuk menyatakan secara luas ‗kelompok orang-orang yang mempunyai beberapa ciri tujuan bersama‘ diluar tempat semata mereka dalam pembagian kerja masyarakat. Untuk itu, pekerja pabrik bukan merupakan kelompok etnis. Ciri-ciri etnis lebih berkenaan dengan bahasa, budaya, daerah, pangan, dan sandang daripada peranan dalam pembagian kerja, walaupun ciri-ciri etnis sedemikian ada kalanya bisa dikuatkan oleh peran kerja bersama.
Etnik Batak Toba merupakan bagian dari bangso Batak, yang dikenal di Indonesia sebagai suku bangsa Batak. Batak dalam pengertian ini terdiri atas enam etnik, yaitu Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Toba,
Batak Angkola, dan Batak Mandailing. (Lihat Gambar 2.1) Secara administratif, keenam etnik Batak tersebut menjadi penduduk mayoritas di Kabupaten Karo (Batak Karo), Dairi dan Pakpak Bharat (Batak Pakpak), Simalungun (Batak Simalungun), Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir, dan Humbang Hasundutan (Batak Toba), Tapanuli Selatan (Batak Angkola), Mandailing Natal, (Batak Mandailing). Di samping itu, Batak Toba juga bermigrasi ke Tanah Melayu di Kabupaten Asahan serta Tanah Pesisir di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai daerah pelabuhan laut etnik Batak Toba.
Gambar 2.1: Peta Wilayah Suku Batak di Provinsi Sumatera Utara (Sumber: https://www.google.com)
Batak Toba sebagai bagian dari suku bangsa Batak terdiri atas empat subetnik, yaitu Toba, Samosir, Humbang, dan Silindung. Keempat subetnik ini disebut sebagai Orang Batak sedangkan kampung halamannya disebut Tano