“TEKS LAGU – LAGU MELAYU BATU BARA SUATU ANALISIS SEMIOTIK”
SKRIPSI
DISUSUN OLEH :
NAMA : PUTRI ALFIAH SIREGAR NIM : 140702001
PROGRAM STUDI SASTRA MELAYU FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
SURAT PERNYATAAN
Nama : Putri Alfiah Siregar
Nim : 140702001
Tempat Tanggal Lahir : Padangsidimpuan, 12 Agustus 1996
Prodi : Sastra Melayu
Alamat : Jl. Jamin Ginting gg golf No. 4b Padang Bulan
Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi saya dengan judul : “Teks Lagu- Lagu Melayu Batu Bara Suatu Analisis Semiotik” yang diusulkan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana dari Program Studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara ; bersifat original dan belum pernah dipublikasikan oleh siapa pun
Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyatan ini, maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan sebenar-benarnya.
Mengetahui, Medan, Juli 2018
Ketua, Yang Menyatakan,
Dr. Rozanna Mulyani, M.A. Putri Alfiah Siregar
NIP 19600609 198612 2 001 NIM.140702001
TEKS LIRIK LAGU-LAGU MELAYU BATU BARA SUATU ANALISIS SEMIOTIK
PUTRI ALFIAH SIREGAR
ABSTRAK
Lagu adalah suatu komposisi musikal yang dibagi atas bait-bait dan ditujukan untuk dinyanyikan. Lirik lagu sebagai puisi merupakan sarana ekspresi seseorang dari dalam batinnya. Lirik lagu yang ditulis bisa menjadi salah satu media dalam sebuah proses pengartian makna. Lirik lagu yang berfungsi sebagai sebuah proses pengartian makna adalah salah satunya lagu-lagu rakyat yang menceritakan suatu kisah, yaitu lagu-lagu Melayu Batu Bara yang berjudul “Kabupaten Masih Mudo”, “Ragam Batu Bara” dan “Batu Bara Berjaya” dalam kaset yang berjudul
“Pesanku Dalam Lagumu”. Penelitin ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah aspek semiotik yang berupa ikon, indeks, simbol yang terkandung dalam lagu ini. Metode yang digunakan peneliti adalah metode kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi. Peneliti menggunakan teori Peirce. Pada penelitian ini penulis menganggap bahwa lagu-lagu Melayu Batu Bara ini memiliki nilai sejarah dan nilai rasa yang tinggi. Dengan adanya nilai rasa yang tinggi sehingga dapat mengantarkan pendengar untuk menjadikan lagu-lagu tersebut dikenal di luar daerah Kabupaten Batu Bara. Dengan ketiga bentuk lagu tersebut tergolong kepada lagu rakyat yang berkisah atau bersejarah, juga bertemakan perjuangan, budaya, dan kerja sama. Ketiga lagu ini didapatkan ikon yang pada umumnya terdapat pada sampul, indeks yang selalu memiliki kaitan antara judul dengan album, dan simbol-simbol yang berupa kata isyarat dan simbol sosial.
Kata Kunci: Teks lirik lagu Batu Bara, Album kaset, Semiotik
ﻚﻴﺗﻭﺍ ﻲﻤﻴﺳ ﺲﻴﺴﻴﻟﺎﻧﺍ ﻮﺗﺍ ﻮﺳ ﺭﺎﺑﻮﺗﺎﺑ ﻮﻴﻠﻴﻣ ﻮﻜﻟ -ﻮﻜﻟ ﺲﻜﻴﺗ ﺮﻜﻳﺮﻴﺳ ﻩﺍ ﻲﻘﻟﺍ ﻱﺮﺘﻗ
ﻙﺮﺘﺴﺑﺍ
ﻚﻴﺳﻮﻣ ﻲﺳ ﻲﺳﺎﻘﻤﻛ ﻮﺗﺍﻮﺳ ﻪﻟﺩﺍﻮﻜﻟ ﻝ
ﻱ ﻍ ﻚﻳﺭ ﻲﻟ .ﻦﻛ ﻲﻳﺎﻳﺩ ﻙﻮﺘﻧﺍ ﻦﻛﻮﺠﺘﻳﺩ ﻥ ﺩ ﺖﻳﺎﺑ -ﺖﻳﺎﺑ ﺲﺗﺍ ﻲﻛ ﺎﺒﻳﺩ
ﺲﻴﻟﻮﺘﻳﺩ ﻎﻳﻮﻜﻟ ﺎﻜﻳﺭ ﻲﻟ .ﻲﻨﻴﺗﺎﺑ ﻢﻟﺩ ﻱﺭﺩ ﻍﺭﻭﺍ ﻲﺴﻴﺳ ﻲﺴﻳﺮﻗ ﺲﻜﻳﺍ ﺎﻧﺮﺳ ﻦﻛﺎﻗﻭﺮﻴﻣ ﻲﺴﻳﺍﻮﻗ ﻲﻛﺎﺒﻴﺳﻮﻜﻟ ﻱﺎﻛ ﺎﺒﻴﺳ ﻲﺳ ﻍﻮﻓﺮﺑ ﻎﻳﻮﻜﻟ ﻚﻳﺭ ﻲﻟ .ﻦﻜﻣ ﻥﺍ ﻲﺗﺮﻐﻴﻗ ﺲﻴﺳﻭﺍﺮﻗ ﻩﺍﻮﺒﻴﺳ ﻢﻟﺩ ﺍ ﻱﺪﻴﻣﻮﺗﺎﺳ ﻪﻟﺎﺳ ﻱﺪﺠﻨﻴﻣ ﺎﺴﻴﺑ ﻮﺘﻳﺍ ﺎﻳ ,ﻪﺴﻴﻛ ﻮﺗ ﺍ ﻮﺳ ﻦﻛﺎﺘﻳ ﺮﻴﺠﻨﻣ ﻎﻳ ﺖﻴﻛﺭﻮﻜﻟ -ﻮﻜﻟ ﺏﻮﺗﺎﺳ ﻪﻟ ﺎﺳ ﻪﻟﺩﺍ ﻦﻜﻣ ﻥﺍ ﻲﺗﺮﻐﻴﻗ ﺲﻴﺳﻭﺍﺮﻗ ﻩﺍﻮﺒﻴﺳ ﻢﻟﺩ" ﺎﻳﺎﺟﺮﺑﺭﺎﺑﻮﺗﺎﺑ " ﻥﺩ ," ﺭﺎﺑﻮﺗﺎﺑ ﻢﻛﺭ " ," ﻭﺍﺩﻮﻣ ﻪﻴﺳﺎﻣ ﻦﺗ ﺎﻓ ﻮﺒﻛ " ﻝﻭﺩﻮﺟﺮﺑ ﻎﻳﺭ ﺎﺑ ﻮﺗ ﺎﺑﻮﻴﻠﻴﻣ ﻮﻜﻟ -ﻮﻜﻟ ﻚﻴﻘﺳﺍ ﻪﻜﻨﻤﻴﻜﺑ ﻱﺍ ﻮﻬﺘﻴﻐﻴﻣ ﺎﻛﻮﺘﻧﺍ ﻥﺍ ﻮﺟﻮﺗﺮﺑ ﻲﻨﻳﺍ ﻥﺍ ﻲﺘﻴﻠﻴﻨﻴﻗ ."ﻮﻣﻮﻜﻟ ﻢﻟﺩﻮﻜﻨﺴﻴﻗ" ﻝﻭﺩﻮﺟﺮﺑ ﻎﻳ ﺖﻴﺴﻛ ﻦﻜﻧﻮﻜﻳﺩ ﻎﻳ ﻱﺩﻭﺍ ﺖﻴﻣ .ﻲﻧﺍ ﻮﻜﻟ ﻢﻟﺪﻏﻭﺪﻨﻛﺮﺗ ﻎﻳ ﻝﻭﺍ ﺐﻤﻴﺳ ,ﺲﻜﻳﺪﻧﺍ ,ﻥﻭﺍ ﻚﻳﺍ ﻕﻭﺮﻴﺑ ﻎﻳ ﻚﻴﺗﻭﺍ ﻲﻴﻤﻴﺳ ﻎﻴﻣ ﻲﺗ ﻲﻠﻴﻨﻴﻗ .ﻲﺴﻳﺍ ﺲﻴﺴﻴﻟﺎﻧ ﺍ ﻱ ﺩﻭﺍ ﺖﻴﻣ ﻦﻐﻳﺩ ﻒﻴﺘﻘﻳﺮﻜﺴﻳﺩ ﻒﻴﺗﺎﺗ ﻲﻟ ﺍ ﻮﻛ ﻱﺩﻭﺍ ﺖﻴﻣ ﻪﻟﺩﺍ ﻲﺗ ﻲﻠﻴﻨﻴﻗ ﻱ ﻞﻴﻧ ﻲﻜﻴﻠﻴﻤﻴﻣ ﻲﻨﻳﺍﻮﻴﻠﻴﻣﻮﻜﻟ -ﻮﻜﻟﻮﻬﺑ ﻖﻜﻏ ﻎﻴﻣ ﻲﺗ ﻲﻠﻴﻨﻴﻗ ﻲﻨﻳﺍ ﻥﺍ ﻲﺗ ﻲﻠﻴﻨﻴﻗﺪﻗ .ﻲﺟﺮﻴﻗ ﻱﺭ ﻭﺍ ﻲﺗ ﻦﻜﻧﻮﻛ ﻙﻮﺘﻧﺍﺮﻐﻳﺪﻨﻴﻗ ﻦﻛﺮﺘﻨﻐﻴﻣ ﺖﻗﺩﺎﻛ ﻎﻴﺤﻴﺳ ﻲﻜﻐﻴﺗ ﻎﻳ ﺱﺭ ﻱ ﻞﻴﻧ ﺏﺩﺍ ﻦﻐﻳﺩ .ﻲﻛ ﻎﻴﺗ ﻎﻳ ﺱﺭ ﻱ ﻞﻴﻧ ﻥﺩ ﻩﺮﺠﻴﺳ ﺪﻘﻴﻛ ﻍﻭﺍ ﻞﻏﺮﻴﺗ ﺕﻮﺒﻴﺳﺮﺗﻮﻜﻟ ﻙﻮﺘﻨﺑﺎﻛ ﻲﺘﻛ ﻦﻏﺩ .ﺭﺎﺑﻮﺗﺎﺑ ﻩﺭ ﻱﺩﺭﺍﻮﻠﻳﺩ ﻞﻨﻴﻜﻳﺩ ﺕﻮﺒﻴﺳﺮﺗﻮﻜﻟ -ﻮﻜﻟ ﻦﻜﻳﺪﺠﻨﻴﻣ ﻦﻜﺘﻗﺪﻳﺩ ﻲﻨﻳﺍ ﻮﻜﻟ ﺎﻛ ﻲﺘﻴﻛ .ﺎﻤﺴﺟﺮﻛ ,ﻱﺩﻮﺑ ,ﻦﻏﺍ ﻮﺟﺮﻗ ﻦﻜﻤﻴﺗﺮﺑ ﺎﻛﻮﺟ ,ﻩﺮﺠﻴﺳﺮﺑﻭﺎﺗ ﺍ ﻪﺴﻴﻛﺮﻳ ﻎﻳ ﺖﻴﻛﺭﻮﻜﻟ ﺐﻤﻴﺳ ﻥﺩ ,ﻡﻮﺒﻟﺍ ﻦﻐﻳﺩ ﻝﻭﺩﻮﺟﺮﺘﻧﺍ ﻦﺘﻳ ﻙ ﻲﻜﻴﻠﻴﻤﻴﻣﻮﻠﻠﻴﺳ ﻎﻳ ﺲﻜﻳﺪﻧﺍ ,ﻝﻮﻘﻤﺳ ﺪﻗ ﺖﻗﺩﺮﺗ ﺐﻣﻮﻣﻭﺍﺪﻗ ﻎﻳ ﻥﺍﻮﻛﺍ ﻝﺍ ﻲﺳﻭﺍ ﺱ ﻝﻭﺍ ﺐﻤﻴﺳ ﺕﺮﻴﺳ ﺕﺮﺸﻳﺍ ﺖﻛ ﻕﻭﺮﻴﺑ ﻎﻳ ﻝﻭﺍ .
ﻚﻴﺗﻭﺍ ﻲﻤﻴﺳ ,ﺖﻴﺴﻛ ﻡﻮﺘﻟﺍ ,ﺭﺎﺑﻮﺗﺎﺑ ﻮﻜﻟ ﻚﻳﺮﻴﻟ ﺲﻜﻴﺗ :ﻲﺠﻧﻮﻜﺘﻛ
PRAKATA
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Teks Lagu- Lagu Melayu Batu Bara Suatu Analisis Semiotik”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sastra di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Dalam proses penyelesaian skripsi ini, peneliti telah banyak menerima bantuan, bimbingan, pengarahan, saran-saran, dan dukungan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, peneliti mengucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Bapak Prof. Drs. Mauly Purba, M.A., PhD., sebagai Pembantu Dekan I, Ibu Dra. Heristina Dewi, M.Pd., sebagai Pembantu Dekan II, dan Prof. Dr.
Ikhwanuddin Nasution, M.Si., sebagai Pembantu Dekan III.
2. Ibu Dr. Rozanna Mulyani, M.A, sebagai ketua program studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Mardiah Mawar Kembaren, M.A, Ph.D sebagai sekretaris program studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
4. Kepada kedua orang tua yang sangat peneliti cintai yang sudah tenang di sisi-Nya, Ayahanda Alm. Amir Husin Siregar dan Ibunda Almh. Zainab Pane yang selalu menjadi motivasi dan alasan utama peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Dr. Rozanna Mulyani, M.A, sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi.
6. Bapak Drs. Baharuddin, M.Hum., sebagai dosen penguji yang telah memberi masukan kepada peneliti sehingga penelitian skripsi ini lebih baik lagi.
7. Seluruh Bapak dan Ibu staf pengajar Program Studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang banyak memberikan ilmu yang bermanfaat kepada peneliti.
8. Abangda Dedy Rahmad Sitinjak M.Hum., yang banyak membantu peneliti mengurus segala kekurangan selama proposal dan memberikan dukungan kepada peneliti agar dapat lulus tepat waktu.
9. Kak Tri dan bang Yogo yang banyak membantu peneliti mengurus keperluan administrasi selama penyusunan skripsi.
10. Kepada keluarga peneliti yaitu utamanya kepada 10 saudara kandung peneliti yang selalu membantu dan memberi dukungan, abang Rizal, Faisal, Syaiful, Rahmat, Pandapotan, Budiman, Hariman, Bungsu, dan kak Irma, Lenni.
11. Kepada Sahabat-Sahabatku, Nocang, Ipeh, Lulu, Mumu, Yuni, Icha, Nurul, Putnan, Adella, Valvy, Fajariah. Kepada teman-teman yang telah banyak membantu peneliti ini dari awal perkuliahan hingga saat ini, yaitu Desi, Kiki, Pesek, Nurini, Nanda, Aisah, Bela dan kepada teman-teman stambuk 2014 yang tidak bisa disebutkan namanya satu per satu menjadi teman
berjuang bersama selama proses pembuatan skripsi.
12. Terindah (Ly) yang selalu menemani ritme hidupku, suka dan duka maupun disaat bpenulis sedang rapuh. Semoga kisah kita di ridhoi Allah SWT menjadi hubungan yang halal. Allah always does things right. You can be sure that he will always give you what you need at the appropriate time.
Thanks a lot Yus! You’r the best.
13. Kepada keluarga besar UKM Teater ‘O’ USU yang telah memberikan wadah untuk peneliti melatih mental dan kesadaran dalam 4s yaitu sadar diri, ruang, waktu, tempat.
14. Kepada senior 2012 dan 2013 yang membagi pengalaman, memberi masukan, dan membantu dalam menyelesaikan skripsi ini dan junior stambuk 2015, 2016, dan 2017 yang selalu menyemangati dan memotivasi peneliti.
15. Kepada semua yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
Peneliti menyadari penelitian ini belum sempurna. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan hasil penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dan pembaca.
Medan, Juli 2018
Putri Alfiah Siregar
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
PRAKATA ... iv
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………...1
1.2 Rumusan Masalah………... 6
1.3 Tujuan Penelitian………... 6
1.4 Manfaat Penelitian……….………...…... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian yang Relevan……….……... 8
2.2 Landasan Teori………... 9
2.2.1 Analisis Semiotik... 9
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian…..………..…... 14
3.2 Sumber Data………... 15
3.3 Instrumen Penelitian………..……... 15
3.4 Tekhnik Pengumpulan Data…..……….…... 17
3.5 Metode Analisis Data……….………... 17
BAB IV TEKS LAGU-LAGU MELAYU BATU BARA SUATU ANALISIS SEMIOTIK 4.1 Pembahasan Lirik Lagu Melayu Batu Bara ... 18
4.1.1 Aspek Semiotik Lirik Lagu “Kabupaten Masih Mudo” ... 18 4.1.2 Aspek Semiotik Lirik Lagu “Ragam Batu Bara”... 33 4.1.3 Aspek Semiotik Lirik Lagu “Batu Bara Berjaya” ... 44 BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ... 52 5.2 Saran ... 57 DAFTAR PUSTAKA………...……….…... 59 Lampiran 1 : Teks Lirik Lagu Melayu Batu Bara
Lampiran 2 : Cuplikan Tiga Video Lagu dari Album Batu Bara “Pesanku Dalam Lagumu”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia hidup dan berinteraksi secara sosial, berkarya, beribadah, dan dilatar belakangi oleh lingkungan budaya dimana dia tinggal. Budaya memiliki norma – norma yang dijadikan panduan hidup, pilihan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Masyarakat Melayu juga mengenal sistem sosial kemasyarakatan yang diistilahkan dengan turai sosial. Mereka mengenal pihak penerima isteri disebut anak beru. Mereka juga mengenal kerabat karena hubungan perkawinan yang disebut dengan kelompok semenda. Mereka juga mengenal golongan masyarakat bansawan dan awam. Masyarakat Melayu juga mengenal sistem pencaharian sebagai nelayan, pegawai negeri, petani, dan sebagainya. Orang – orang Melayu juga memiliki sistem tekhnologi seperti sistem peralatan penangkapan ikan seperti jaring, jala, mesin, dan sebagainya. Mereka juga mengenal sistem pendidikan yaitu sistem pendidikan agama yang disebut pesantren, dan sistem pendidikan nasional yang disebut sekolah dasar, menengah, sampai perguruan tinggi.
Masyarakat Melayu juga mempunyai kesenian , seperti seni tari Serampang Dua Belas, seni silat, seni inai, seni ronggeng , dan lain – lain. Mereka juga memiliki bahasan ibu yang disebut bahasa Melayu, bahasa Melayu Langkat, bahasa Melayu Batu Bara, bahasa Melayu Deli Serdang, bahasa Melayu Asahan, dan bahasa Melayu Labuhan Batu.
Tantawi (2013 : 98) mengatakan bahasa adalah salah satu alat untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kemauan dari seseorang kepada orang lain.
Bahasa (dalam KBBI 2011 : 66) Merupakan lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Bahasa digunakan dalam berbagai kehidupan sosial masyarakat. Ada yang digunakan dalam kegiatan komunikasi sehari-hari antar warga masyarakat, baik di rumah ibadah, di sekolah, di warung kopi, di Universitas, di upacara keagamaan, kenegaraan, dan sebagainya. Begitu juga bahasa selalu digunakan dalam kegiatan yang bersifat estetis, yaitu pertunjukan musik, vokal, lagu.
Kegiatan yang bersifat estetis di setiap budaya kerap memunculkan simbol-simbol , lambang, dan ikon-ikon tertentu yang digali dari sumber budaya itu sendiri. Keberadaan simbol, lambang, dan ikon tersebut mencerminkan sifat- sifat asli budaya masyarakatnya.
Pada era globalisasi dan era informasi, setiap orang berusaha untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya baik dalam bidang tekhnologi dan ilmu pengetahuan maupun dalam bidang seni, sosial dan budaya. Dengan perkembangan zaman , untuk dapat berkomunikasi dalam berbagai hal orang sering mengungkapkan dalam bentuk lisan seperti puisi, cerita (cerpen, novel) atau juga dengan lagu-lagu dan pantun.
Lagu adalah suatu komposisi musikal yang dibagi atas bait – bait dan ditujukan untuk dinyanyikan. Secara umum lagu dapat ditinjau dari segi fonetis (apa yang diucapkann manusis) karena mempunyai nada atau irama. Secara
khusus lagu merupakan puisi yang dilantunkan berupa nyanyian. Dengan demikian, lagu mempunyai aturan – aturan khusus yaitu bait – bait dan pengulangan. Yang dimaksud bagian khusus pada lagu adalah aturan – aturan melodis lagu. Lagu adalah suatu makna yang tercipta dari sebuah penyelarasan tujuan antara aturan – aturan melodis dan linguistik. (Ensiklopedi Musik, 1992:28 dan 334) menyatakan melodi adalah naik turunnya harga nada, yang seyogyanya dilihat sebagai gagasan inti musikal, yang sah menjadi musik bila ditunjang dengan gagasan yang memadukannya dalam suatu kerja sama dengan irama, tempo, bentuk dan lain-lain. Lirik merupakan semua jenis atau bentuk syair dalam lagu apa saja.
Lagu mempunyai ciri – ciri yang mirip dengan puisi, selain itu puisi dapat dilagukan. Hal ini dapat disebabkan adanya beberapa pengarang yang menghubungkan puisi dengan musik ( Tarigan, 1983 : 5 ).
Lirik lagu sebagai puisi merupakan sarana ekspresi seseorang dari dalam batinnya. Lirik lagu yang ditulis bisa menjadi salah satu media dalam sebuah proses pengartian makna. Lagu dapat mencerminkan realitas kehidupan dengan liriknya. Setiap lirik yang ditulis tentunya mengandung pesan atau makna tersendiri yang ingin disampaikan penulis kepada khalayak luas. Artinya lirik yang dikemas bersama musik bukan hanya menjadi hiburan tetapi menjadi aspirasi kehidupan individu, kelompok, ataupun juga masyarakat.
Lirik lagu dengan puisi memiliki keterkaitan dapat dilihat adanya persamaan antara lirik lagu dengan puisi. Pada dasarnya lagu merupakan puisi yang dinyanyikan, baik lagu maupun puisi mempunyai persamaan unsur seperti bunyi, irama, dan kata – kata. Pradopo (1987 : 22) berpendapat, dalam puisi bunyi
bersifat indah (estetis), yaitu unsur dari puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Misalnya, lagu, melodi, irama dan sebagainya. Sebuah saja dikatakan baik apabila sajak tersebut sudah merupakan sebuah nyanyian yaitu hubungan – hubungan kata memberikan bentuknya. Dari uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa proses pembuatan sebuah syair atau lirik sama dengan proses penciptaan sebuah karya sastra terutama puisi, karena puisi mempunyai karakteristik yang sama dengan sebuah lirik lagu. Terutama dalam hal bunyi yang bersifat estetis juga dalam rangkaian gaya bahasa dalam kata yang penuh dengan muatan – muatan estetis, filosofis, yang tinggi. Seorang komponis sering kali hanya menciptakan rangkaian melodi dan musiknya saja. Sedangkan untuk liriknya di ambail dari puisi orang lain. Hubungan antara lirik dengan puisi sangatlah berkaitan, hal ini karena lirik lagu merupakan puisi yang dinyanyikan atau dilantumkan. Untuk itu dapat disimpulkan dari beberapa pengertian di atas adalah bahwa untuk mengkaji sebuah lagu dapat dilakukan dengan dua kategori yaitu yang pertama kategori musik (aturan melodis) dan kategori bahasa (aturan linguistik) yang dalam hal ini adalah lirik lagu.
Lagu-lagu rakyat selalu berkaitan antara lagu dan lirik. Sehingga lagu-lagu rakyat yang menonjolkan salah satu unsur, baik itu lirik maupun lagu dianggap kurang sempurna dan dinamakan lagu-lagu rakyat yang tidak sesungguhnya.
Sebaliknya untuk lagu-lagu rakyat yang sesungguhnya Brunvand (dalam Danandjaya, 1986: 146) menggolongkan pada :
1. Lagu-lagu rakyat yang berfungsi (functional folk songs) adalah lagu yang kata-kata dan lagunya memegang peranan yang sama pentingnya dan cocok dengan irama dalam aktifitas tertentu.
2. Lagu-lagu rakyat yang bersifat liris (lyrical folk songs) adalah lagu- lagu rakyat yang teksnya bersifat liris, yang merupakan pencetusan rasa haru si penyanyi tanpa menceritakan kisah bersambung.
3. Lagu-lagu rakyat bersifat berkisah (narrative folk songs) adalah lagu- lagu rakyat yang menceritakan suatu kisah.
Sesuai dengan Brunvand (dalam Danandjaya 1986 : 146) tentang lagu- lagu rakyat, maka lagu-lagu Melayu Batu Bara yang berjudul “Kabupaten Masih Mudo”, “Ragam Batu Bara” dan juga “Batu Bara Berjaya” dalam kaset yang berjudul “Pesanku Dalam Lagumu”. Dengan ketiga bentuk lagu tersebut tergolong kepada lagu rakyat yang berkisah atau bersejarah, juga bertemakan perjuangan, budaya, dan kerja sama, karena menceritakan tentang suatu daerah yaitu Kabupaten Batu Bara, yang memiliki banyak ragam kebudayaan, ragam tempat wisata dan memiliki pemimpin yang peduli terhadap rakyat dan budaya dan juga menceritakan dimana letaknya Batu Bara. Penulis akan menjelaskan mengenai teks lagu-lagu rakyat Melayu Batu Bara ini dengan menggunakan analisis semiotik menggunakan teori Peirce (1978) yang menjabarkan ikon, indeks, simbol. Dan menggunakan metode kualitatif deskriptif karena penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menggambarkan dengan jelas tentang objek yang diteliti secara alamiah dengan meneliti teks lagu-lagu tersebut. Dengan metode analisis isi (contennt analysis) yang mengutamakan pengkajian isi, dengan menggunakan sumber data primer yaitu lirik lagu Batu Bara yang didapatkan dengan cara mendengarkan album yang berjudul “Pesanku Dalam Lagumu”. Pada penelitian ini penulis menganggap bahwa lagu-lagu Melayu memiliki nilai sejarah
dan nilai rasa yang tinggi sehingga menimbulkan daya tarik masyarakat untuk menikmati tema-tema tersebut ke dalam diri mereka. Dengan adanya nilai rasa yang tinggi sehingga dapat mengantarkan pendengar untuk menjadikan lagu-lagu tersebut dikenal di luar daerah Kabupaten Batu Bara.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini yaitu:
1. Bagaimanakah aspek semiotik yang berupa ikon, indeks, simbol yang terkandung dalam lagu “ Kabupaten Masih Mudo “
2. Bagaimanakah aspek semiotik yang berupa ikon, indeks, simbol yang terkandung dalam lagu “ Ragam Batu Bara “
3. Bagaimanakah aspek semiotik yang berupa ikon, indeks, simbol yang terkandung dalam lagu “ Batu Bara Berjaya “
1.3 Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan hasil data penelitian yang mana tujuannya adalah :
1. Untuk mengetahui aspek semiotik yang berupa ikon, indeks, simbol yang terkandung dalam lagu “ Kabupaten Masih Mudo “
2. Untuk mengetahui aspek semiotik yang berupa ikon, indeks, simbol yang terkandung dalam lagu “ Ragam Batu Bara “
3. Untuk mengetahui aspek semiotik yang berupa ikon, indeks, simbol yang terkandung dalam lagu “ Batu Bara Berjaya “
1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat praktis dari penelitian ini adalah dapat dijadikan salah satu materi dari pembahasan semiotik atau kajian bahasa lainnya yang berkaitan
2. Dapat digunakan sebagai pedoman terhadap objek yang sama dan sudut pandang atau permasalahan yang berbeda.
3. Melestarikan dan menginformasikan seni tradisional Melayu kepada masyarakat lain.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian yang Relevan
Tinjauan pustaka atau sering juga disebut kajian yang relevan ialah salah satu cara untuk mendapatkan referensi yang lebih tepat tentang informasi data yang ingin kita teliti. Oleh karena itu, penulis melakukan tinjauan pustaka adalah sebagai referensi, teori dan konsep yang berkaitan dengan tulisan ini sehingga dapat memudahkan menyelesaikan permasalahan dalam penulisan.
Adapun skripsi-skripsi yang berhubungan dengan kajian penulis yaitu : 1. Hafni Zahara (2004) dalam skripsi yang berudul “ Analisis Lirik Lagu –
Lagu Melayu Deli : Kajian Semiotik, dalam penelitian ini yang bertujuan untuk memahami lirik – lirik lagu Melayu Deli dan juga menambah khasanah kajian sastra Melayu, khususnya terhadap lagu – lagu Melayu Deli.
2. Muhammad Yunus (2010) dalam tesis yang berjudul “ Analisis Semiotik Teks Lagu – Lagu Melayu Sumatera Utara, yang dimana tujuannya untuk mendeskripsikan makna semiotik yang terdapat dalam teks lagu – lagu Melayu Sumatera Utara dan juga mendeskripsikan peranan teks lagu – lagu Melayu dalam seni pertunjukan Melayu Sumatera Utara.
3. Lia Lestari Lobo (2016) dalam skripsi yang berjudul ‘Representasi Kebudayaan Bugis-Makassar Dalam Lirik Lagu Album “Alkisah” Band Indie Theory Of Discoutic – Analisis Semiotika, penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui representasi nilai-nilai budaya Bugis-Makassar dalam lirik lagu pada album “alkisah” theory of discoutic menggunkan semiotika Ferdinand De Saussure.
4. Kadek Dyah Intansari Puteri (2016) dalam skripsi yang berjudul ‘Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure Pada Lirik Lagu “Jangan Menyerah”
Karya Group Band D’masiv.
Dalam teori De Saussure dijelaskan bahwa tanda memiliki unsur yang saling berhubungan yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified).
Sesuai dengan tujuan penelitian skripsi ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pemaknaan lirik lagu ‘jangan menyerah’ karya group band D’Masiv dalam analisis semiotika Ferdinand De Saussure.
5. Indri Pravita Sari (2015) dalam skripsi yang berjudul ‘Analisis Struktural – Semiotik Lirik Lagu Mon Meilleur Amour Karya Anggun Cipta Sasmi’
dengan menggunakan teori Peirce memiliki tujuan mendeskripsikan aspek struktural, aspek semantik, aspek semiotik, ikon, indeks, dan juga simbol pada lagu Anggun Cipta Sasmi. Dengan menggunakan tekhnik analisis konten yang bersifat kualitatif deskriptif.
Walaupun kelima penulis di atas menganalisis lagu dengan kajian semiotik ataupun struktural, namun berbeda dengan penelitian penulis, dimana penulis mengkaji tentang “Teks Lagu-Lagu Batu Bara : suatu analisis semiotik”
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Analisis Semiotik
a. Pengertian Semiotik
Analisis struktural tidak dapat dipisahkan dengan analisis semiotik.
Dikarenakan karya sastra itu merupakan struktur (sistem) tanda-tanda yang bermakna (Pradopo, 1987:108). Untuk memahami puisi maupun memberi makna pada puisi tidaklah mudah tanpa mengetahui konvensi puisi. Maka dari itu dapat dijelaskan bahwa puisi merupakan karya seni yang menggunakan media bahasa dan harus dipahami sebagai sistem tanda. Semiotik sendiri berasal dari kata Yunani “Semeion”, yang berarti tanda. Semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (Van Zoest, 1993: 1).
Pendiri dasar teori ini adalah bapak linguistik modern Ferdinand de Saussure (1857-1913) yang menyebut dengan istilah semiologi, dan satu lagi ahli filsafat yaitu Charles Sunder Peirce (1839-1914) menyebutnya dengan istilah semiotik.
b. Semiotik menurut Peirce
Dalam (Saragih 2011 : 13), Peirce menyatakan bahwa tanda terjadi dari tiga komponen, yakni :
1. Representamen, yaitu bentuk yang menyatakan tanda atau
‘kenderaan tanda’; setara dengan penanda (signifier).
2. Interpretant, yaitu makna yang didatangkan dari tanda itu atau
‘makna’ yang dibuat oleh seseorang; setara dengan signified 3. Object, yaitu sesuatu yang berada di luar tanda yang
merupakan acuan.
Peirce mengklasifikasikan tanda-tanda menjadi tiga yaitu ikon, indeks, dan simbol yang disebut trikotomi.
1. Ikon (icone)
Ikon adalah tanda yang didasarkan atas ‘keserupaan’ atau ‘kemiripan’
(resemblance) antara representamen dan objeknya (Peirce 1978 : 148). Ikon tidak semata-mata mencakup gambaran atau foto saja melainkan ekspresi semacam grafik, skema, bahkan metafora. Ikon masih bisa dibagi lagi menjadi tiga jenis yaitu citra atau (ikonimagis), diagram atau (ikondiagramis), metafora atau (ikonmetaforis). Metafora adalah ikon yang didasarkan pada similaritas diantara objek-objek dari dua tanda simbolis (Peirce dalam Budiman, 2005:74). . Ikon merupakan tanda yang dirancang untuk mempersentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (artinya, sumber acuan dapat dilihat dan didengar, dsb).
2. Indeks (i’indice)
Peirce (1978 :140) menyatakan bahwa indeks adalah suatu tanda yang ditujukan pada objek yang diyatakan karena keberadaan tanda tersebut disediakan oleh objek yang ditujunya. Indeks adalah tanda yang memiliki kaitan fisik eksistensial antara representamen dan objeknya sehingga seolah-olah akan kehilangan karakter yang menjadikannya tanda, jika objeknya dipindahkan atau dihilangkan, contohnya, asap adalah indeks dari adanya api. Indeks merupakan tanda yang dirancang untuk mengindikasikan sumber acuan atau saling menghubungkan sumber acuan.
3. Simbol (le symbol)
Peirce ( 1978 :161) menjabarkan bahwa simbol adalah suatu tanda yang diwakili oleh sebuah karakter dan secara tegas terdapat dalam suatu ketentuan yang akan menentukan makna dari tanda tersebut. Simbol merupakan tanda yang dirancang untuk menyandikan sumber acuan melalui kesepakatan atau persetujuan.
Pradopo (1985:120) menyampaikan bahwa tanda memiliki dua aspek yaitu penanda ( signifier ) dan petanda ( signified ). Penanda adalah bentuk formalnya yang menandai sesuatu yang disebut petanda, petandaadalah sesuatu yang ditandai oleh petanda itu pada contoh kata “ ibu “ tanda berupa satuan bunyi yang menandai arti: “ orang yang
melahirkan kita”. Ada beberapa macam tanda berdasarkan hubungan antara penanda dan petandanya. Jenis – jenis tanda yang utama adalah ikon, indeks, simbol :
1. Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dan petandanya, misalnya gambar pohon menandai pohon.
2. Indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal (sebab- akibat) antara penanda dan petandanya, misalnya asap menandai api, alat penanda angin menunjukkan arah angin.
3. Simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dan petandanya, hubungannya bersifat arbitrer, misalnya : “ibu” adalah simbol, artinya ditentukan oleh konvensi masyarakat indonesia. Masyarakat inggris menyebutnya “mother”, Melayu Batu Bara menyebutnya “omak”.
Semiotik diterjemahkan oleh Budiman (2005 : 34), yakni << logika, secara umum adalah suatu doktrin formal atau quasi necessary tentang tanda – tanda. Budiman (2005 : 38) menjelaskan dalam perspektif semiotik, bahasa hanyalah salah satu dari sistem tanda – tanda yang dalam bahasa lisan berupa citraan bunyi yang erat kaitannya dengan konsep- konsep tertentu (dalam skripsi Sari 2005 : 21).
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode artinya cara atau tekhnik melakukan sesuatu yang bersifat ilmiah untuk mencapai tujuan tertentu. Penelitian adalah salah satu kegiatan untuk mencatat, merumuskan, mencari,dan menganalisis suatu masalah yang dilakukan secara sistematis yang akhirnya diperoleh hasil dalam bentuk laporan. Jadi, metode penelitian adalah sekumpulan peraturan , kegiatan, dan prosedur yang digunakan pelaku suatu disiplin untuk memperoleh jawaban dari persoalan yang diteliti.
3.1 Metode Penelitian
Seorang peneliti haruslah menetapkan suatu metode penelitian jika untuk melakukan suatu penelitian. Penentuan suatu metode tersebut harus sesuai dengan judul penelitian dan permasalahan yang ingin dibahas. Dan dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi (content analysis) yang mengutamakan pengkajian isi. Analisis konten digunakan untuk memahami pesan simbolik dalam bentuk lagu, tarian, karya sastra , dan sebagainya. Metode deskriptif merupakan suatu metode yang menggambarkan fenomena atau suatu gejala yang terjadi dalam karya nyata.
Metode ini digunakan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi pada situasi sekarang yang dilakukan dengan cara menempuh langkah pengumpulan,
pengklasifikasian, analisis, pengolahan data, dan membuat suatu kesimpulan dan membuat laporan dengan tujuan utama yaitu untuk penggambaran tentang suatu keadaan secara objektif dalam suatu deskripsi situasi.
3.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari album yang berbentuk kaset dan video yang berjudul “Pesanku Dalam Lagumu”, juga menggunakan buku-buku dari perpustakaan yang bertujuan untuk mendukung permasalahan penelitian ini agar penelitian ini tidak lari dengan permasalahan yang dibahas. Maka penulis mencari dan menemukan data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dan dengan terciptanya penelitian ini supaya mempermudah pembaca memahami dan mengetahui lirik –lirik lagu Melayu Batu Bara .
3.3 Instrumen Penelitian
Alat atau instrumen yang digunakan untuk menjaring data dalam penelitian ini adalah Lagu – lagu Melayu Batu Bara, yang berjudul Batu Bara Berjaya dan Ragam Batu bara, dan menganalisis dari segi lirik lagunya.
1. Alat yang digunakan untuk mendengarkan dan memahami lirik lagu – lagu Melayu Batu Bara tersebut adalah dengan menggunakan kaset yang berjudul “ Pesanku Dalam Lagumu” dan berisikan lagu – lagu Melayu Batu Bara antara lainnya yang berjudul Batu Bara Berjaya dan Ragam Batu Bara serta Kabupaten Masih Mudo.
2. Kemudian, Laptop dan Headset yang digunakan mendengarkan video dari kaset berupa lirik lagu yang berjudul ‘Batu Bara Berjaya’ dan ‘Ragam Batu Bara’ serta ‘Kabupaten Masih Mudo’.
3.4 Tekhnik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam penelitian, karena metode ini merupakan strategi atau pun cara yang dipakai oleh peneliti guna mengumpulkan data dalam penelitian dimaksudkan guna mendapatkan bahan, keterengan, kenyataan, dan informasi yang bisa dipercaya.
Untuk mendapatkan data seperti yang dimaksudkan tersebut, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui proses mendengarkan, pencatatan, dan pembacaan.
3.5 Metode Analisis Data
Metode yang digunakan dalam menganalisis data yang diperoleh dalam penelitian ini menggunakan tekhnik analisis isi (conten analysis). Dengan data yang diperoleh melalui pembacaan dan pemahaman terhadap lagu – lagu Melayu Batu Bara. Data yang sudah terkumpul dan diorganisir sebagai pendukung penelitian ini,dan dianalisis secara rinci sehingga diperoleh jawaban yang baik.
Dalam pelaksanaan teknik penelitian ini akan ditempuh melalui proses yang sistematis sebagai berikut :
1. Membaca teks lagu Melayu Batu Bara yang berjudul ‘Batu Bara Berjaya’ ,
‘Ragam Batu Bara’ dan ‘Kabupaten Masih Mudo’.
2. Mendeskripsikan teks lagu Melayu Batu Bara yang berjudul ‘Batu Bara Berjaya’ , ‘Ragam Batu Bara’ dan ‘Kabupaten Masih Mudo’.
3. Menganalisis dengan kajian semiotik yang berupa ikon, indeks, dan simbol yang terdapat dalam lirik lagu berjudul ‘Batu Bara Berjaya’,
‘Ragam Batu Bara’ dan ‘Kabupaten Masih Mudo’.
BAB IV
TEKS LAGU – LAGU MELAYU BATU BARA SUATU ANALISIS SEMIOTIK
4.1 Pembahasan Lirik Lagu Melayu Batu Bara
4.1.1 Aspek semiotik lirik lagu “ Kabupaten Masih Mudo”
1. Ikon (i’cone)
Ikon merupakan tanda yang didasarkan atas “kemiripan” atau
“keserupaan” antara representament dan abjeknya. Ikon merupakan tanda yang dirancang untuk mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (artinya, sumber acuan dapat dilihat dan didengar, dsb). Ikon pada lagu Kabupaten Masih Mudo ini dapat terlihat pada video klip lagu ini. Dalam video klip tersebut digambarkan bahwa usia Kabupaten Batu Bara yang masih muda dan belum lama berdiri, tetapi banyak yang sudah dicapai seperti, pendidikan, sumber daya alam, dan mata pencaharian. Seperti yang ada pada video klip lagu ini tampak seseorang yang menjadi pemimpin di daerah Kabupaten Batu Bara terjun langsung ke lapangan untuk bersosisalisasi dengan masyarakat dan mengajak atau memerintahkan untuk bersama-sama dan saling bahu membahu dalam segala proses yang membutuhkan usaha yang banyak. Narator menuliskan lirik harapan dari pemerintah agar masyarakat menyatukan suara demi mewujudkan daerah Kabupaten Batu Bara yang semakin jaya.
Dalam lagu ini narator berdo’a kepada Allah Subhana Wata’ala agar Allah melimpahkan segala karunia-Nya kepada seluruh masyarakat dan juga kepada
para pemimpin untuk memajukan dan memakmurkan negeri yang tercinta yaitu Kabupaten Batu Bara. Narator menuliskan pada lagu “Kabupaten Masih Mudo”
ini bahwa segala kesuksesan dibutukan usaha untuk menghadapi segala rintangan yang ada, karena setiap kesuksesan pasti memiliki proses atau tahapan.
2. Indeks (I’indice)
Analisis berikutnya adalah indeks. Indeks adalah tanda yang memiliki kaitan fisik eksistensial antara representamen dan objeknya sehingga seolah-olah akan kehilangan karakter yang menjadikannya tanda, jika objeknya dipindahkan atau dihilangkan, contohnya, asap adalah indeks dari adanya api. Indeks merupakan tanda yang dirancang untuk mengindikasikan sumber acuan atau saling menghubungkan sumber acuan,
Indeks pada judul album “pesanku dalam lagumu”, kata pesan berartikan perintah nasihat dan juga amanat. Penggunaan kata pesan sama halnya dengan kehidupan, yaitu kita sebagai manusia hidup dengan berbagai aturan yang dilaksanakan karena adanya perintah dari hal tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Indeks kedua yaitu pada judul lagu ini “Kabupaten Masih Mudo” yang merupakan indeks dari teks lagu karena awal dalam meguak makna teks. Selain itu juga memberikan kesan terhadap sebuah album sehingga orang tertarik mendengarnya bukan hanya masyarakat dalam Batu Bara saja tetapi juga diluar Batu Bara.
Pada judul lagu dapat diuraikan beberapa indeks, yang pertama
mengurus urusan pemerintahannya sendiri .yang berartikan lambang kepemimpinan. Maksud narator pada lirik ini memperkenalkan Kabupaten Batu Bara, agar dikenal dan diketahui masyarakat di dalam maupun masyarakat di luar Batu Bara bahwa Batu Bara memiliki banyak sejarah dan berbagai keragaman budaya walaupun termasuk kabupaten yang masih baru.
3. Simbol (le symbole)
Analisis selanjutnya pada lagu ini adalah simbol. Simbol merupakan hubungan yang terbentuk secara konvensional tanda tersebut. Selain itu simbol juga
merupakan tanda semiotika. Dalam lirik lagu ini yang berjudul “kabupaten masih mudo” dapat ditemukan beberapa simbol di setiap baitnya, yaitu pada bait
pertama :
Kabupaten batu baro
Kabupaten masih mudo
Pantai pangan pun baru oh yang baru
Mulai membina masa depannya
Parancanaan dibuat disertai dengan tekad
Juga dengan iman kuat
Masa jaya akan dapat
Pada bait pertama tersebut terdapat kata “mudo” pada lirik “kabupaten masih mudo”. Muda melambangkan belum lama ada atau belum lama berdiri.
Muda pada lirik lagu ini dimaksudkan bahwa Batu Bara lahir atau terbentuk belum lama usianya. Selanjutnya, kata “baru” pada lirik “pantai pangan pun baru oh yang baru”. Kata baru melambangkan belum ada sebelumnya. Kata baru pada lirik ini berartikan sebelumnya Batu Bara belum memiliki apa yang sudah ada pada saat ini dengan berkembangnya daerah Kabupaten Batu Bara yang sekarang.
Seperti, pantai pangan yang ada di Batu Bara belum pernah ada sebelumnya.
Selanjutnya kata “masa” dan “depan” pada lirik “mulai membina masa depannya”. Kata masa melambangkan sewaktu-waktu akan mendapat kesempatan baik. Kata masa pada lirik ini dimaksudkan mulai membina waktu dengan hal yang baru untuk memulai membangun kabupaten yang baru agar lebih baik dan maju untuk ke depannya. Kata depan melambangkan untuk seterusnya masa yang akan datang. Depan pada lirik ini berartikan untuk waktu yang akan datang dengan membina waktu yang baik dari sekarang. Selanjutnya dijumpai kata
“tekad’ dan “iman” pada lirik “parancanaan dibuat disertai dengan tekad dan juga dengan iman kuat”. Kata tekad melambangkan kemauan (kehendak) yang pasti dari dalam diri. Kata tekad yang dimaksud pada lirik ini ialah kesungguhan hati untuk membuat rencana-rencana dalam memajukan kabupaten yang masih muda ini yaitu Kabupaten Batu Bara. Kata iman melambangkan memiliki kepercayaan, ketepatan hati atau keteguhan dan keseimbangan batin. Maksud narator pada lirik ini adalah memiliki kepercayaan dengan pilihan ketepatan hati dan mempersiapkannya pada diri untuk membangun Kabupaten Batu Bara.
Lihat para pemimpinnyo
Bersama-sama rakyatnyo
Saling bahu membahu ya membahu
Membangun batu baro tercinta
Samuanyo dilibatkan untuk mencapai tujuan
Mohon ridho dari tuhan doa kami dikabulkan
Pada bait kedua di atas, terdapat kata “pemimpin” pada lirik “lihat para pemimpin nyo”. Kata pemimpin melambangkan orang yang paling atas dan pada lirik ini dimaksud adalah orang yang ditunjuk memimpin daerah tersebut.
Selanjutnya, kata “bahu” pada lirik “saling bahu membahu ya bahu”. Kata bahu melambangkan bekerja sama. Pada lirik tersebut berartikan berjalan sesuai aturan secara bersama-sama dalam mencapai tujuan yang sama. Kata selanjutnya “cinta”
pada lirik “membangun Batu Baro tercinta” . kata cinta melambangkan sangat dikasihi maksudnya rasa tulus mengasihi Kabupaten Batu Bara dengan kecintaan demi membangun Batu Bara. Kata “tujuan” pada lirik “samuanyo dilibatkan untuk mencapai tujuan”. Tujuan menyimbolkan arah. Dimaksudkan pada lirik bahwa narator meyatakan kerja sama dengan melibatkan siapapun. Siapapun itu adalah alasan untuk arah yang dituju bersama. Selanjutnya kata terakhir pada bait kedua ini “dikabulkan” pada lirik “mohon ridho dari Tuhan do’a kami dikabulkan.
Kabul melambangkan tercapainya harapan atau kelulusan. Maksud pada lirik ini harapan besar kepada sang pencipta untuk mendengar doa demi tercapai nya tujuan membangun Kabupaten Batu Bara.
Ya Allah...
Sertai pemimpin kami
Untuk memakmurkan negeri ini
Ya Allah...
Satukanlah tekad kami
Untuk melayarkan bahtera ini
Selanjutnya pada bait ketiga di atas juga ditemukan beberapa simbol yaitu terdapat kata “pemimpin” diambil dari lirik “sertai pemimpin kami”. Kata pemimpin melambangkan orang yang paling atas, dan maksud narator pada lirik ini adalah orang yang ditunjuk memimpin daerah tersebut. Kata “memakmurkan”
dan “negeri” pada lirik “untuk memakmurkan negeri ini”. Kata makmur adalah simbol membuat atau sebab. Pada lirik ini dimaksudkan makmur adalah membuat hasil yang baik untuk Kabupaten Batu Bara. Kata negeri melambangkan kampung halaman atau daerah. Pada lirik ini berartikan untuk membuat hasil pada daerah Kabupaten Batu Bara. Selanjutnya kata “satukanlah” dan “tekad” pada lirik
“satukanlah tekad kami”. Kata satu melambangkan menjadi satu atau menyatukan suatu kelompok. Maksud narator pada lirik ini adalah kata satu merupakan menggabungkan suatu tujuan untuk bersama-sama menuju harapan atau keinginan. Kata tekad melambangkan kemauan (kehendak) yang pasti dari dalam diri. Kata tekad yang dimaksud pada lirik ini adalah kesungguhan hati untuk membuat rencana-rencana dalam memajukan kabupaten yang masih muda ini
yaitu Kabupaten Batu Bara. Selanjutnya kata “melayarkan” dan “bahtera” pada lirik “untuk melayarkan bahtera ini”. Kata melayarkan mewakili kata layar yang berarti menjalankan dengan lambang mengememudi. Kata bahtera melambangkan angkutan (kapal, perahu). Bahtera yang dimaksudkan narator pada lirik ini adalah menjalankan atau mengemudi suatu jalan untuk memajukan kabupaten ini dengan menyatukan tekad bersama-sama demi mencapai satu tujuan bersama.
Niat kami tulus sudah terpatri
Untuk memajukan batu baro
Masa depan akan cerah
Batu baro akan jaya
Pada bait keempat di atas ditemukan kata “niat”, “tulus”, “terpatri” untuk lirik “niat kami tulus sudah terpatri”. Kata niat melambangkan kesungguhan hati yang dimana tanpa ada alasan yang lain untuk memajukan kabupaten yang masih muda ini. Kata tulus melambangkan bersih hati, maksud dari narator tulus berartikan masyarakt tidak ada mengharapkan imbalan dari apa yang sudah diusahakan untuk daerah Kabupaten Batu Bara ini. Dan kata terpatri melambangkan sudah tertanam dalam hati, maksudnya sungguh-sungguh memiliki dari niat hati demi memajukan Batu Bara. Kata “masa” “depan”, dan
“cerah” pada lirik “masa depan akan cerah”. Kata masa melambangkan sewaktu- waktu akan mendapat kesempatan baik atau keinginan. Kata masa pada lirik ini dimaksudkan mulai membina waktu dengan hal yang baru untuk memulai
membangun Kabupaten Batu Bara agar lebih baik untuk kedepan nya. Kata depan melambangkan untuk seterusnya masa yang akan datang. Depan pada lirik ini berartikan untuk waktu yang akan datang dengan membina waktu yang baik dari sekarang. Terakhir di bait keempat ini ada kata “jaya”, pada lirik “Batu Bara akan jaya” yang berartikan kesuksesan atau kehebatan melambangkan keberhasilan.
Batu baro yang kayo
Sumber alam balimpah
Itulah model paling pertamo
Walau banyak tantangan
Walau banyak rintangan
Kami pun siap untuk berkorban
Tapi kami sadar jugo
Tak mungkinlah tibo-tibo
Membangun batu baro
Itu ado tahapannyo
Pada bait kelima ditemukan kata “kayo” pada lirik “Batu Bara yang kayo”
yang melambangkan banyak harta. Yang pada lirik ini maksudnya kaya keragaman yang dimiliki Batu Bara baik budaya, adat, keyakinan, dan lainnya.
Selanjutnya terdapat kata “sumber” pada lirik “sumber alam balimpah” yang
melambangkan asal atau kekayaan yang dimiliki daerah Kabupaten Batu Bara.
Selanjutnya kata “modal” pada lirik “itulah modal paling pertama” modal melambangkan awal segalanya untuk membangun Batu Bara. Pada lirik ini yang dimaksudkan kata modal hal yang paling utama dipersiapkan dalam mencapai kesuksesan daerah Kabupaten Batu Bara. Selanjutnya kata “sadar” pada lirik “tapi kami sadar jugo”. Kata sadar melambangkan mengkoreksi diri dengan sebaik- baiknya. Maksud narator adalah kesadaran yang memang timbul dari diri sendiri dengan pengkoreksian diri untuk melakukan kebaikan dalam membangun dan memajukan daerah Kabupaten Batu Bara. Selanjutnya, kata “membangun” pada lirik “membangun Batu Bara” diambil dari kata bangun yang melambangkan mewujudkan suatu perencanaan untuk mencapai hasil. Maksud dari narator adalah membangun Batu Bara menjadi lebih baik lagi. Selanjutnya kata “tahap” pada lirik “itu ada tahapannya” yang berartikan suatu cara untuk mewujudkan yang sudah direncanakan untuk membangun dan memajukan Batu Bara.
Kabupaten batu baro
Kabupaten masih mudo
Pantai pangan pun baru oh baru
Mulai membina masa depannyo
Parancanaan dibuat disertai dengan tekad
Juga dengan iman kuat
Masa jaya akan dapat
Pada bait keenam adalah ulangan dari bait pertama, yaitu kata “mudo”
pada lirik “kabupaten masih mudo”. Muda melambangkan belum lama ada atau belum lama berdiri. Muda pada lirik lagu ini dimaksudkan bahwa Batu Bara lahir atau terbentuk belum lama usianya. Selanjutnya, kata “baru” pada lirik “pantai pangan pun baru oh yang baru”. Kata baru melambangkan belum ada sebelumnya.
Kata baru pada lirik ini berartikan sebelumnya Batu Bara belum memiliki apa yang sudah ada pada saat ini dengan berkembangnya daerah Kabupaten Batu Bara yang sekarang. Seperti, pantai pangan yang ada di Batu Bara belum pernah ada sebelumnya. Selanjutnya kata “masa” dan “depan” pada lirik “mulai membina masa depannya”. Kata masa melambangkan sewaktu-waktu akan mendapat kesempatan baik. Kata masa pada lirik ini dimaksudkan mulai membina waktu dengan hal yang baru untuk memulai membangun kabupaten yang baru agar lebih baik dan maju untuk ke depannya. Kata depan melambangkan untuk seterusnya masa yang akan datang. Depan pada lirik ini berartikan untuk waktu yang akan datang dengan membina waktu yang baik dari sekarang. Selanjutnya dijumpai kata “tekad’ dan “iman” pada lirik “parancanaan dibuat disertai dengan tekad dan juga dengan iman kuat”. Kata tekad melambangkan kemauan (kehendak) yang pasti dari dalam diri. Kata tekad yang dimaksud pada lirik ini ialah kesungguhan hati untuk membuat rencana-rencana dalam memajukan kabupaten yang masih muda ini yaitu Kabupaten Batu Bara. Kata iman melambangkan memiliki kepercayaan, ketepatan hati atau keteguhan dan keseimbangan batin. Maksud narator pada lirik ini adalah memiliki kepercayaan dengan pilihan ketepatan hati dan mempersiapkannya pada diri untuk membangun Kabupaten Batu Bara.
Ya Allah...
Sertai pemimpin kami
Untuk memakmurkan negeri ini
Ya Allah...
Satukanlah tekad kami
Untuk melayarkan bahtera ini
Dan bait ketujuh pengulangan lirik dari bait ketiga. kata “pemimpin”
diambil dari lirik “sertai pemimpin kami”. Kata pemimpin melambangkan orang yang paling atas, dan maksud narator pada lirik ini adalah orang yang ditunjuk memimpin daerah tersebut. Kata “memakmurkan” dan “negeri” pada lirik “untuk memakmurkan negeri ini”. Kata makmur adalah simbol membuat atau sebab.
Pada lirik ini dimaksudkan makmur adalah membuat hasil yang baik untuk Kabupaten Batu Bara. Kata negeri melambangkan kampung halaman atau daerah.
Pada lirik ini berartikan untuk membuat hasil pada daerah Kabupaten Batu Bara.
Selanjutnya kata “satukanlah” dan “tekad” pada lirik “satukanlah tekad kami”.
Kata satu melambangkan menjadi satu atau menyatukan suatu kelompok. Maksud narator pada lirik ini adalah kata satu merupakan menggabungkan suatu tujuan untuk bersama-sama menuju harapan atau keinginan. Kata tekad melambangkan kemauan (kehendak) yang pasti dari dalam diri. Kata tekad yang dimaksud pada lirik ini adalah kesungguhan hati untuk membuat rencana-rencana dalam memajukan kabupaten yang masih muda ini yaitu Kabupaten Batu Bara.
Selanjutnya kata “melayarkan” dan “bahtera” pada lirik “untuk melayarkan
bahtera ini”. Kata melayarkan mewakili kata layar yang berarti menjalankan dengan lambang mengememudi. Kata bahtera melambangkan angkutan (kapal, perahu). Bahtera yang dimaksudkan narator pada lirik ini adalah menjalankan atau mengemudi suatu jalan untuk memajukan kabupaten ini dengan menyatukan tekad bersama-sama demi mencapai satu tujuan bersama.
Niat kami tulus sudah terpatri
Untuk memajukan batu baro
Masa depan akan cerah
Batu baro akan jaya
Selanjutnya, pada bait kedelapan adalah ulangan dari bait keempat. Kata
“niat”, “tulus”, “terpatri” untuk lirik “niat kami tulus sudah terpatri”. Kata niat melambangkan kesungguhan hati yang dimana tanpa ada alasan yang lain untuk memajukan kabupaten yang masih muda ini. Kata tulus melambangkan bersih hati, maksud dari narator tulus berartikan masyarakt tidak ada mengharapkan imbalan dari apa yang sudah diusahakan untuk daerah Kabupaten Batu Bara ini.
Dan kata terpatri melambangkan sudah tertanam dalam hati, maksudnya sungguh- sungguh memiliki dari niat hati demi memajukan Batu Bara. Kata “masa”
“depan”, dan “cerah” pada lirik “masa depan akan cerah”. Kata masa melambangkan sewaktu-waktu akan mendapat kesempatan baik atau keinginan.
Kata masa pada lirik ini dimaksudkan mulai membina waktu dengan hal yang baru untuk memulai membangun Kabupaten Batu Bara agar lebih baik untuk
kedepan nya. Kata depan melambangkan untuk seterusnya masa yang akan datang. Depan pada lirik ini berartikan untuk waktu yang akan datang dengan membina waktu yang baik dari sekarang. Terakhir di bait keempat ini ada kata
“jaya”, pada lirik “Batu Bara akan jaya” yang berartikan kesuksesan atau kehebatan melambangkan keberhasilan.
Batu baro yang kaya
Super alam balimpah
Itulah modal paling pertamo
Walau banyak tantangan
Walau banyak rintangan
Kami pun siap untuk berkorban
Tapi kami sadar jugo
Tak mungkinlah tibo-tibo
Mambangun batu baro
Itu ado tahapannyo
Dan juga bait kesembilan adalah ulangan dari bait kelima. kata “kayo”
pada lirik “Batu Bara yang kayo” yang melambangkan banyak harta. Yang pada lirik ini maksudnya kaya keragaman yang dimiliki Batu Bara baik budaya, adat, keyakinan, dan lainnya. Selanjutnya terdapat kata “sumber” pada lirik “sumber
alam balimpah” yang melambangkan asal atau kekayaan yang dimiliki daerah Kabupaten Batu Bara. Selanjutnya kata “modal” pada lirik “itulah modal paling pertama” modal melambangkan awal segalanya untuk membangun Batu Bara.
Pada lirik ini yang dimaksudkan kata modal hal yang paling utama dipersiapkan dalam mencapai kesuksesan daerah Kabupaten Batu Bara. Selanjutnya kata
“sadar” pada lirik “tapi kami sadar jugo”. Kata sadar melambangkan mengkoreksi diri dengan sebaik-baiknya. Maksud narator adalah kesadaran yang memang timbul dari diri sendiri dengan pengkoreksian diri untuk melakukan kebaikan dalam membangun dan memajukan daerah Kabupaten Batu Bara. Selanjutnya, kata “membangun” pada lirik “membangun Batu Bara” diambil dari kata bangun yang melambangkan mewujudkan suatu perencanaan untuk mencapai hasil.
Maksud dari narator adalah membangun Batu Bara menjadi lebih baik lagi.
Selanjutnya kata “tahap” pada lirik “itu ada tahapannya” yang berartikan suatu cara untuk mewujudkan yang sudah direncanakan untuk membangun dan memajukan Batu Bara.
Lihat para pemimpinnyo
Bersamo-samo rakyatnyo
Saling bahu membahu ya membahu
Membangun batu baro tercinta
Tanah keramat negeri bertuan
Rakyat beradat juga beriman
Yang terakhir bait kesepuluh terdapat kata “bahu” dan “cinta” pada lirik
“saling bahu membahu ya membahu”, dan “membangun Batu Baro tercinta”. Kata bahu melambangkan bekerja sama. Pada lirik tersebut berartikan berjalan sesuai aturan secara bersama-sama. Kata selanjutnya “cinta” pada lirik “membangun Batu Baro tercinta” . Kata cinta melambangkan sangat dikasihi maksudnya rasa tulus mengasihi Kabupaten Batu Bara dengan kecintaan demi membangun Batu Bara. Selanjutnya, terdapat kata “keramat” dan “bertuan” pada lirik “tanah keramat negeri bertuan”. Kata keramat dalam KBBI, (2012 : 675) berartikan suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain.
Yang dimaksud narator pada lirik ini , keramat melambangkan tempat suci yang dimiliki Batu Bara yang memiliki kepercayaan. Selanjutnya, kata bertuan melambangkan kepemilikan maksudnya ada pemiliknya. Selanjutnya kata
“rakyat”, “peradat”, dan juga “beriman” pada lirik “rakyat peradat juga beriman”.
Kata rakyat melambangkan masyarakat keseluruhan yang ada di Batu Bara. Kata adat melambangkan aturan , maksudnya adat adalah wujud gagasan budaya yang terdiri atas nilai-nilai budaya. Dan terakhir beriman diambil dari kata iman melambangkan kepercayaan atau ketepatan hati, keteguhan dan keseimbangan batin. Maksudnya narator adalah memiliki kepercayaan dengan pilihan ketepatan hati pada diri untuk membangun Kabupaten Batu Bara.
Berdasarkan analisis semiotik yang berupa tanda ikon, indeks dan simbol pada lirik lagu “Kabupaten Masih Mudo” ditemukan makna tersirat melalui pemaknaan yang sudah dilakukan secara struktural. Lagu “Kabupaten Masih Mudo” bertemakan kerja sama. Di dalam lirik lagu ini narator menceritakan
bahwa kabupaten ini masih muda. Oleh karena itu, narator mengharapkan kepada seluruh masyarakat untuk bersama – sama membantu pemimpin yang telah di amanahkan untuk memimpin daerah Kabupaten tersebut. Dan narator juga menulis lirik yang berupa permohonan kepada Allah Subhana Wata’ala agar mengabulkan segala do’a yang diniatkan untuk membangun dan memajukan negeri yan g tercinta ini yaitu daerah Kabupaten Batu Bara.
4.1.2 Aspek semiotik lirik lagu “ Ragam Batu Bara ”
Lagu “Ragam Batu Bara” ini merupakan lagu urutan ke enam di dalam album “Pesanku Dalam Lagumu”. Secara semiotik yaitu sistem ketandaan makna lagu “Ragam Batu Bara” dapat diuraikan melalui ikon, indeks, dan juga simbol.
1. Ikon (i’cone)
Ikon merupakan tanda yang didasarkan atas “kemiripan” atau
“keserupaan” antara representament dan abjeknya. . Ikon merupakan tanda yang dirancang untuk mempersentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (artinya, sumber acuan dapat dilihat dan didengar, dsb).
Ikon yang mendukung pemaknaan lagu “Ragam Batu Bara” juga terdapat pada sampul album. Pada album “Pesanku Dalam Lagumu” yang berisikan delapan lagu dan lagu “Ragam Batu Bara” terdapat diurutan ke enam. Di sampul album yang terdapat gambar pemandangan yang merupakan tempat wisata di Kabupaten Batu Bara. Kaitannya dengan lagu “Ragam Batu Bara” yang
menceritakan berbagai macam tempat wisata yang dimiliki Kabupaten Batu Bara dan juga memiliki motto yaitu “Sandra Berjaya”.
Dalam lagu ini narator menggambarkan keindahan alam Kabupaten Batu Bara. Kabupaten Batu Bara bukan hanya memiliki keindahan alam saja tetapi penduduknya merupakan orang – orang yang ramah tamah. Masyarakat Kabupaten Batu Bara juga adalah masyarakat yang sangat mencintai adat budanya sehingga mereka juga menjaga wasiat leluhur.
2. Indeks (I’indice)
Indeks adalah tanda yang memiliki kaitan fisik eksistensial antara representamen dan objeknya sehingga seolah-olah akan kehilangan karakter yang menjadikannya tanda, jika objeknya dipindahkan atau dihilangkan, contohnya, asap adalah indeks dari adanya api. Indeks merupakan tanda yang dirancang untuk mengindikasikan sumber acuan atau saling menghubungkan sumber acuan,
Selanjutnya, analisis semiotik indeks yaitu pada judul album “Pesanku Dalam Lagumu” yang berarti ada isi atau pesan yang disampaikan penulis kepada pendengar. Indeks dari judul lagu “Ragam Batu Bara”, kata ragam yang berarti macam atau jenis-jenis, sangat berhubungan karena jika digabungkan. Judul lagu ini menceritakan wadah yang ada di dalam Kabupaten Batu Bara tersebut sehingga memiliki pesan terhadap pendengar tentang isi yang ada di daerah Kabupaten Batu Bara. Seperti ada pantai, pulau, istana dan tempat wisata lainnya.
Batu Bara juga memiliki motto tersendiri yaitu “Sandra Berjaya” yang berarti sandra berhasil, yang di mana Kabupaten Batu Bara sudah berhasil memiliki banyak wisata, berbagai macam suku di dalamnya dan memiliki masyarakat yang rukun dan damai.
3. Simbol (le symbole)
Berikutnya ialah analisis simbol, yang merupakan tanda semiotika. Dalam lirik lagu “Ragam Batu Bara” dapat ditemukan beberapa simbol yaitu pada bait pertama, yaitu :
Batu Bara indah negerinyo
Luas laut ladang
Bermacam sukunyo
Kabupaten Batu Bara
Kabupaten Batu Bara
Kito hidup rukun dan damai
Pada bait di atas terdapat kata “indah” dan “negeri” pada lirik “ Batu Bara indah negerinyo” yang menandakan suatu keadaan yang enak dipandang. Kata indah maksudnya suatu keragaman yang ada di Kabupaten Batu Bara terlihat enak dipandang mata. Selanjutnya, kata “negeri” di dalam KBBI, (2012 : 957) berarti
tanah tempat tinggal suatu bangsa. Negeri yang dimaksud narator ialah Kabupaten Batu Bara yang didiami oleh masyarakat melayu. Terdapat juga kata “luas” dan
“laut” pada lirik “luas laut ladang”, luas berarti lapang atau lebar. Kata luas ini merupakan keragaman yang dimiliki Kabupaten Batu Bara yaitu laut dan juga ladang yang luas seperti yang ada pada lirik lagu “Ragam Batu Bara”. Kata laut merupakan kumpulan air asin. Di mana bagi masyarakat Batu Bara laut melambangkan wadah mata pencaharian sehari-hari bagi mereka. Selanjutnya pada bait pertama ada juga kata “macam” pada lirik “bermacam sukunyo”, Kata macam merupakan jenis atau rupa, sama halnya dengan ragam Batu Bara kata macam juga berartikan berbagai macam yang ada dimiliki Batu Bara. Kata
“kabupaten” pada lirik “Kabupaten Batu Bara. Kata “kabupaten” dalam KBBI, (2012 : 597) berartikan daerah swantara tingkat II yang dikepalai oleh bupati, setingkat dengan kota (madya) merupakan bagian langsung dari provinsi yang terdiri atas kecamatan. Maksud narator Kabupaten melambangkan pimpinan daerah yang dipimpin oleh bupati. Kata “rukun” dan juga “damai” pada lirik
“kito hidup rukun dan damai”. Kata rukun merupakan damai, baik. Maksudnya, Rukun melambangkan makna tidak sering ada pertengkaran antar masyarakat di daerah Kabupaten Batu Bara. Kata damai berarti tidak ada kerusuhan yang terjadi di daerah masyarakat Batu Bara. Maksud narator,damai berartikan tentram dan tenang.
Indah tempat wisato
Ado pulau, ado pantai, ado istana
Indah tempat wisato
Ado pulau, ado pantai, ado istana
Izinkan adek ondak bertanyo
Apo mottonyo Batu Bara
Izinkan adek ondak bertanyo
Apo mottonyo hai Batu Bara
Selanjutnya pada bait kedua di atas dijumpai kata “indah” dan “wisata”
pada lirik “indah tempat wisato”. Kata indah yang melambangkan suatu kenyamanan enak dipandang dalam berbagai ragam yang dimiliki Kabupaten Batu Bara. Maksudnya, indah berartikan keasrian tempat wisata yang dimiliki Kabupaten Batu Bara dan enak dipandang. Kata “wisata” melambangkan tempat yang dimiliki oleh daerah Kabupaten Batu Bara berupa pantai, pulau, istana dan yang lainnya. Selanjutnya ada kata “pulau”. Kata pulau, kata “pantai”, dan juga kata “istana” pada lirik “ado pulau, ado pantai, ado istano”. ketiga kata ini melambangkan suatu tempat wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Batu Bara.
Kata yang selanjutnya adalah “motto” pada lirik “apo mottonyo” dalam KBBI, (2012: 930) motto adalah kalimat, frasa, atau kata yang digunakan sebagai semboyan, pedoman, atau prinsip seperti “berani karena benar”. Motto juga bisa diartikan sebagai kalimat, frasa, atau kata yang tertera di atas sesuatu yang menggambarkan sifat atau kegunaan benda itu. Maksud narator, motto pada lirik lirik ini ialah semboyan yang dimiliki oleh daerah Kabupaten Batu Bara yaitu
“Sandra Berjaya”.
Alek, rajo berburu
Berburu ke hutan mencari ruso
Alek, rajo berburu
Berburu ke hutan mencari ruso
Kalo ce adek hai ondak tau
Sandra berjaya itu mottonyo
Kalo ce adek hai ondak tau
Sandra berjaya itu mottonyo
Pada bait ketiga, terdapat kata “berburu”, “hutan” dan “ruso” pada lirik
“alek rajo berburu” dalam KBBI, (2012 : 227), Berburu adalah mengejar atau mencari (binatang di hutan dsb). Jadi, pada lirik ini kata berburu melambangkan pencarian binatang yang di mana jika ditilik pada lirik berikutnya bahwasanya narator menceritakan alek rajo pergi ke hutan untuk berburu mencari rusa.
Selanjutnya, pada kata hutan ini dilambangkan tanah luas yang ditumbuhi pepohonan yang tidak dipelihara atau liar yang biasanya berada pada pegunungan yang jauh dari pemukiman. Kata “ruso” atau dalam bahasa indonesia disebut rusa, rusa melambangkan hewan. Yang dimaksud oleh narator pada lagu ini adalah alek rajo yang pergi ke hutan berburu untuk mencari hewan rusa tersebut. Kata yang terakhir pada bait ketiga ini adalah “berjaya” pada lirik “sandra berjaya” diambil dari kata jaya, jaya dalam KBBI, (2012 : 572) adalah berhasil, sukses, hebat.
Sedangkan berjaya adalah berhasil, beruntung, menang, mencapai kemegahan
(kebesaran). Jaya yang dimaksud pada lirik ini adalah sebuah semboyan atau motto yang dimiliki oleh daerah Kabupaten Batu Bara itu sendiri.
Batu Bara indah negerinyo
Luas laut ladang
Bermacam sukunyo
Kabupaten Batu Bara
Kabupaten Batu Bara
Kito hidup rukun dan damai
Pada bait keempat itu adalah ulangan lirik keseluruhan yang ada pada bait pertama. Yaitu terdapat kata “indah” dan “negeri” pada lirik “ Batu Bara indah negerinyo” yang menandakan suatu keadaan yang enak dipandang. Kata indah maksudnya suatu keragaman yang ada di Kabupaten Batu Bara terlihat enak dipandang mata. Selanjutnya, kata “negeri” di dalam KBBI, (2012 : 957) berarti tanah tempat tinggal suatu bangsa. Negeri yang dimaksud narator ialah Kabupaten Batu Bara yang didiami oleh masyarakat melayu. Terdapat juga kata “luas” dan
“laut” pada lirik “luas laut ladang”, luas berarti lapang atau lebar. Kata luas ini merupakan keragaman yang dimiliki Kabupaten Batu Bara yaitu laut dan juga ladang yang luas seperti yang ada pada lirik lagu “Ragam Batu Bara”. Kata laut merupakan kumpulan air asin. Di mana bagi masyarakat Batu Bara laut melambangkan wadah mata pencaharian sehari-hari bagi mereka. Selanjutnya
pada bait pertama ada juga kata “macam” pada lirik “bermacam sukunyo”, Kata macam merupakan jenis atau rupa, sama halnya dengan ragam Batu Bara kata macam juga berartikan berbagai macam yang ada dimiliki Batu Bara. Kata
“kabupaten” pada lirik “Kabupaten Batu Bara. Kata “kabupaten” dalam KBBI, (2012 : 597) berartikan daerah swantara tingkat II yang dikepalai oleh bupati, setingkat dengan kota (madya) merupakan bagian langsung dari provinsi yang terdiri atas kecamatan. Maksud narator Kabupaten melambangkan pimpinan daerah yang dipimpin oleh bupati. Kata “rukun” dan juga “damai” pada lirik
“kito hidup rukun dan damai”. Kata rukun merupakan damai, baik. Maksudnya, Rukun melambangkan makna tidak sering ada pertengkaran antar masyarakat di daerah Kabupaten Batu Bara. Kata damai berarti tidak ada kerusuhan yang terjadi di daerah masyarakat Batu Bara. Maksud narator,damai berartikan tentram dan tenang.
Siak jaoh dimato
Sejarah lamo negeri kito jangan dilupo
Siak jaoh dimato
Sejarah lamo negeri kito jangan dilupo
Adek jugo ondak bertanyo
Dimano lotaknyo Batu Baro
Adek jugo ondak bertanyo
Dimano lotaknyo Batu Baro
Selanjutnya di bait kelima kata pertama yang ingin dianalisis semiotik adalah kata “sejarah” dan “negeri”. Dalam KBBI, (2012 : 1241) sejarah merupakan asal usul (keturunan) silsilah, kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Pada lirik bait kelima ini sejarah melambangkan ingatan suatu asal usul negeri Batu Bara pada masa lampau dengan keragaman yang dimilikinya agar tidak dilupakan. Selanjutnya, kata “negeri” di dalam KBBI, (2012 : 957) merupakan tanah tempat tinggal suatu bangsa. Negeri yang dimaksud narator ialah Kabupaten Batu Bara yang didiami oleh masyarakat Melayu.
Ramah tamah urangnyo
Adat budayo samo – samo kito jago
Ramah tamah urangnyo
Adat budayo samo – samo kito jago
Batu Bara elok lotaknyo
Dipinggir pantai selat melako
Batu Bara elok lotaknyo
Dipinggir pantai selat melako
Pada bait keenam terdapat kata “ramah tamah” pada lirik “ramah tamah urangnyo” dalam KBBI, (2012 : 1136) adalah amat ramah, kami
menyelenggarakan pertemuan pertemuan dengan gubernur. Ramah tamah yang dimaksud adalah lambang dari sifat yang dimiliki masyarakat Batu Bara.
Selanjutnya, kata “adat” dan “budaya” pada lirik “adat budayo samo-samo kito jago”, kata adat dalam KBBI, (2012 : 8) adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan yang lain berkaitan menjadi satu sistem. Di dalam lirik ini yang dimaksud narator adalah adat budaya yang dimiliki Batu Bara agar bersama dijaga yang berupa lambang sebuah pesan narator kepada pendengar dan juga kepada masyarakat Batu Bara. Kata budaya dilambangkan dengan adat istiadat yang harus dijaga bersama. Dilanjutkan dengan kata “elok” pada lirik “Batu Bara elok letaknyo” , kata elok adalah baik, bagus, cantik. Kata elok yang melambangkan sifat dimana narator menjelaskan bahwa letak Batu Bara itu bagus dan baik. Selanjutnya, kata
“pantai”, “selat”, dan “melako” pada lirik “dipinggir pantai selat melako”. Pantai adalah tepi laut, pesisir. Maksud narator pantai yang melambangkan kata benda adalah salah satu keragaman wisata yang dimiliki Kabupaten Batu Bara.
Selanjutnya kata “selat” yang merupakan laut diantara pulau-pulau. Maksud narator, selat menyimbolkan ragam wisata yang dimiliki oleh Batu Bara. Yang terakhir pada bait keenam adalah “melako” atau kata melaka. Yang melambangkan tempat yaitu pantai selat malaka.
Batu Bara indah negerinyo
Luas laut ladang
Bermacam sukunyo
Kabupaten Batu Bara
Kabupaten Batu Bara
Kito hidup rukun dan damai
Dan pada bait ketuju adalah ulangan dari bait pertama, Terdapat kata
“indah” dan “negeri” pada lirik “ Batu Bara indah negerinyo” yang menandakan suatu keadaan yang enak dipandang. Kata indah maksudnya suatu keragaman yang ada di Kabupaten Batu Bara terlihat enak dipandang mata. Selanjutnya, kata
“negeri” di dalam KBBI, (2012 : 957) berarti tanah tempat tinggal suatu bangsa.
Negeri yang dimaksud narator ialah Kabupaten Batu Bara yang didiami oleh masyarakat melayu. Terdapat juga kata “luas” dan “laut” pada lirik “luas laut ladang”, luas berarti lapang atau lebar. Kata luas ini merupakan keragaman yang dimiliki Kabupaten Batu Bara yaitu laut dan juga ladang yang luas seperti yang ada pada lirik lagu “Ragam Batu Bara”. Kata laut merupakan kumpulan air asin.
Di mana bagi masyarakat Batu Bara laut melambangkan wadah mata pencaharian sehari-hari bagi mereka. Selanjutnya pada bait pertama ada juga kata “macam”
pada lirik “bermacam sukunyo”, Kata macam merupakan jenis atau rupa, sama halnya dengan ragam Batu Bara kata macam juga berartikan berbagai macam yang ada dimiliki Batu Bara. Kata “kabupaten” pada lirik “Kabupaten Batu Bara.
Kata “kabupaten” dalam KBBI, (2012 : 597) berartikan daerah swantara tingkat II yang dikepalai oleh bupati, setingkat dengan kota (madya) merupakan bagian langsung dari provinsi yang terdiri atas kecamatan. Maksud narator Kabupaten melambangkan pimpinan daerah yang dipimpin oleh bupati. Kata “rukun” dan juga “damai” pada lirik “kito hidup rukun dan damai”. Kata rukun merupakan