Bioplastik Limbah Kulit Udang dan Biji Alpukat, Alternatif Pengganti Plastik Ramah Lingkungan
UNAIR NEWS – Ditangan mahasiswa jurusan kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, limbah biji alpukat dan limbah kulit udang diinovasi menjadi bioplastik sebagai pengganti plastik yang ramah terhadap lingkungan.
Lima orang mahasiswa yang mensintesis bioplastik ramah lingkungan itu adalah Nurlailiatul Machmudah, Fitria Pebriani, Adi Rachmadji, Tri Susanti, dan Dimas Noor Asyari.
Nurlailiatul Machmudah, ketua tim peneliti ini menjelaskan, bahwa dipilihnya melakukan inovasi ini karena penggunaan perkakas yang terbuat dari plastik, terutama tas, sudah semakin menggila. Hingga Environment Protection Body, sebuah lembaga lingkungan hidup di Amerika Serikat mencatat, setiap tahun sekitar 500 miliar sampai 1 triliun tas plastik digunakan di seluruh dunia.
”Inilah ancaman terhadap lingkungan hidup, sebab plastik merupakan material yang sulit dihancurkan oleh organisme.
Untuk bisa lebur dan terurai dalam tanah, sampah plastik butuh waktu antara 200 sampai 1.000 tahun,” katanya.
Kemudian, dewasa ini telah ditemukan beberapa macam plastik biodegradable antara lain, polihidroksi alkanoat (PHA), poli e-kaprolakton (PCL), poli butilen suksinat (PBS) dan poli asam l a k t a t ( P L A ) . N a m u n k e b a n y a k a n b a h a n b a k u p l a s t i k biodegradable itu masih menggunakan sumber daya alam yang tidak diperbaharui (non-renewable resources) dan tidak hemat energi.
TIM peneliti ketika melakukan penelitian dan uji coba di Lab FST UNAIR. (Foto: Dok PKMPE FST)
Hasil penelitian yang menarik ini kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE). Setelah melalui seleksi Dikti, proposal “Bioplastik Mbah Kilat (Limbah Kulit Udang Dan Biji Alpukat)” ini lolos untuk mendapatkan dana penelitian dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.
Ditambahkan oleh Nurlailiatul, penelitian ini menekankan pada penggunaan limbah yang pemanfaatannya kurang maksimal, antara lain limbah biji alpukat dan limbah kulit udang untuk dibuat sebagai bioplastik ramah lingkungan dan aman untuk digunakan.
Bioplastik hasil sintesis ini dinamai bioplastik “Mbah Kilat”
(limbah kulit udang dan biji alpukat).
Jadi, bioplastik “Mbah Kilat” ini dibuat dari bahan dasar kitosan kulit udang dan pati (tepung) limbah biji alpukat.
Pada biji alpukat itu terdapat banyak kandungan pati yang bisa dijadikan komponen plastik, sehingga plastik mudah didegradasi oleh mikroorganisme.
Sedangkan pada limbah kulit udang mengandung kitin yang bisa ditransformasi menjadi kitosan sebagai penguat karakter polimer plastik. Untuk menambah karakteristik plastik, maka
ditambahkan zat pemlastis atau plastisizer sorbitol.
”Dengan hadirnya bioplastik ‘Mbah Kilat’ ini kami berharap dapat menjadi alternatif plastik pengganti plastik komersial yang aman digunakan, mudah terurai, dan dapat digunakan sebagai solusi mengoptimalisasi pemanfataan limbah,” kata Nurlaili, panggilan akrab mahasiswa S1 FST UNAIR ini. (*) Editor: Bambang Bes
Mahasiswa UNAIR Temukan Solusi Efektif untuk Osteoarthritis
UNAIR NEWS – Osteoarthritis merupakan kasus yang sering terjadi dan memiliki prevalensi cukup besar di dunia ini.
Osteoarthritis merupakan suatu keadaan patologis yang melibatkan degenerasi pada tulang rawan artikular yang mendasari peradangan pada membran sinovial, sehingga mengakibatkan nyeri, gerakan sendi terbatas, deformitas dan disfungsi. Kerusakan tulang rawan ini biasanya disebabkan oleh cedera saat berolahraga, trauma saat kecelakaan, ataupun penuaan.
Sekelompok mahasiswa S-1 Teknik Biomedik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga Surabaya berhasil menciptakan bahan yang dapat membantu dengan cepat mengatasi peradangan tulang rawan akibat degenerasi jaringan tulang rawan yang disebut Osteoarthritis.
Keberhasilan menemukan alternatif atas penanganan kasus Osteoarthritis itu kemudian dituangkan dalam proposal Program
Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) ”Inovasi Injectable Hydrogel Berbasis Chitosan-Hyaluronic Acid (HA) sebagai Regenerasi Cartilage pada Kasus Osteoarthritis (OA).”
HIDROGEL siap disuntikkan kepada pasien Osteoarthritis.
(Foto: Dok PKMPE)
Ketua Tim PKM-PE kelompok ini, Ainia Rahmah Aisyah mengabarkan, dibawah bimbingan dosennya, Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes, proposal PKM-nya ini telah lolos pendanaan penelitian dari Kemenristekdikti pada program PKM tahun 2016-2017.
Dijelaskan oleh Ainia Rahmah, bahan yang biasa digunakan dalam penggantian tulang rawan seperti logam banyak menimbulkan reaksi, seperti infeksi maupun serangan dari respon imun tubuh (Host), selain itu bahan logam yang baik harganya sangat mahal.
Berangkat dari permasalahan inilah Ainia Rahmah Aisyah, Wilda Khilida Annaqiyah, Amalia Nur Hayati, Novita Putri Rahayu, dan Ahda Nur Laila Nabilah mencari paduan bahan yang tepat dan efektif untuk penyembuhan Osteoarthritis.
”Selama ini, penanganan yang ada masih memerlukan proses lama melalui operasi dan bisa memakan waktu berjam-jam. Di sini kami mengupayakan penanganan berupa penyuntikan hidrogel langsung ke tempat yang dirasa nyeri, sehingga kondisi dapat langsung teratasi,” tutur Ainia.
Ainia juga menjelaskan bahwa hidrogel merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk mengatasi Osteoarthritis, karena kompatibel dengan sel dan jaringan sekitarnya, sehingga dianggap sebagai bahan yang sangat cocok untuk matriks ekstraseluler (Extracellular Matrix/ECM) buatan untuk teknik jaringan.
”Harapan kami kedepannya, penelitian ini dapat lebih diperbaiki dan dikembangkan sehingga dapat benar-benar diimplementasikan pada penanganan pasien Osteoarthritis,” ujar Ainia Rahmah Aisyah menambahkan. (*)
Editor: Bambang Bes
Antropolog Paparkan Pendidikan Lingkungan
UNAIR NEWS – Antropolog asal Universitas Western Australia Prof. Lyn Parker memberikan kuliah tamu bertajuk “Creating Responsible Environmental Citizens through Education in Indonesia”, Senin (10/7). Pemaparan kuliah tamu tersebut dilakukan di hadapan mahasiswa dan pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.
Didampingi Wakil Dekan III FISIP Prof. Myrtati Dyah Artaria sebagai moderator, Prof. Lyn membahas tentang sisi edukasi dan lingkungan dari aspek antropologi. “Prof. Lyn akan membahas edukasi dari sisi antropologi. Bagaiman pentingnya menjaga lingkungan agar masyarakat tetap tinggal dengan nyaman di wilayah tersebut,” tutur Myrtati.
Pada kuliah tamu yang berlangsung lebih dari satu jam, Prof.
Lyn mempresentasikan hasil penelitiannya selama di Indonesia.
Risetnya tentang perilaku masyarakat Indonesia dan lingkungannya masih berjalan hingga kini.
Berdasarkan hasil observasi yang profesor asal Universitas Western Australia lakukan, Indonesia sudah memiliki banyak program demi mendukung terciptanya lingkungan yang bersih.
Pada tingkat sekolah, misalnya, telahh diterapkan kegiatan ekstrakurikuler bidang lingkungan.
“Misalnya, lomba kebersihan lingkungan atau lomba yel-yel dan juga sudah banyak ekstrakurikuler di sekolah. Namun, semuanya itu belum bisa menyentuh bagian dalam pada diri manusianya karena perilakunya masih ada yang merusak alam. Selain itu, ada sebagian orang yang masih terlalu boros dalam penggunaan energi,” imbuh antropolog.
Selain memberikan kuliah tamu, Prof. Lyn juga bekerjasama dengan FISIP. Bentuknya, peneliti Universitas Western Australia itu akan memberikan pelatihan berupa penulisan jurnal kepada dosen dan mahasiswa FISIP.
“Nantinya kami akan kerjasama dalam waktu yang panjang. Tahun depan, kita akan melakukan penelitian dengan Prof. Lyn,”
pungkas Myrtati.
Penulis: Akhmad Janni Editor: Defrina Sukma S
Mahasiswa Teknobiomedik
Ciptakan Aplikasi Deteksi
Komplikasi Diabetes pada Mata
UNAIR NEWS – Perkembangan teknologi seperti ponsel pintar semakin hari semakin pesat dan telah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Dengan memanfaatkan perkembangan ponsel pintar berbasis Android, mahasiswa Universitas Airlangga menciptakan aplikasi yang dapat mendeteksi komplikasi diabetes pada mata atau Retinopati Diabetic.
Melalui pengajuan proposal program kreativitas mahasiswa karsa cipta (PKM–KC) tahun 2016, aplikasi bernama Adedirable berhasil diciptakan. Adedirable berhasil dibuat mahasiswa Teknobiomedik, Fakultas Sains dan Teknologi yang beranggotakan Kusnul Romimah, Riza Umi Nurjannah, Bestia Kumala Wardani, Debrina Rizka Pangesti, dan Nurrahmah Wida Achmadi.
Adedirable merupakan gagasan yang diusung oleh kelima mahasiswa dalam PKM–KC berjudul “Adedirable (Automated Detection Diabetic Retinopathy Portable) Berbasis Android dengan Jaringan Saraf Tiruan”.
Pembuatan aplikasi ini dilatarbelakangi banyaknya kasus Retinopati Diabetic. Berdasarkan data yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada 40 persen penderita Diabetes yang mengalami Retinopati Diabetic.
“Penderita diabetes hanya memperhatikan kadar gula darah tubuh tidak terlalu concern terhadap kesehatan mata. Selain itu untuk pemeriksaan Retinopati Diabetic sendiri sampai saat ini harus dilakukan di rumah sakit yang memiliki alat untuk menangkap citra fundus karena harganya yang cenderung mahal,”
ungkap Khusnul.
Usai mengunduh aplikasi dari Playstore, pengguna cukup menempatkan posisi mata pada lensa kamera eksternal (utama).
Kemudian, kamera utama tersebut akan menangkap citra fundus retina. Setelahnya, citra fundus retina akan diproses untuk menunjukkan hasil.
Editor: Defrina Sukma S
Ditawarkan, Hand Sanitizer Berbasis Natural Protection Dari Daun Kersen
UNAIR NEWS – Memanfaatkan keberadaan melimpahnya bahan, yaitu pohon kersen atau ada yang menyebut pohon talok yang mudah tumbuh dimana-mana, serta kandungan saponin, tanin dan flavonoid yang ada pada daun kersen, dimanfaatkan oleh mahasiswa Universitas Airlangga untuk diinovasi menjadi hand sanitizer atau antiseptik tangan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau bakteriostatik.
Apalagi, penggunaan hand sanitizer di kalangan mahasiswa dan masyarakat, saat ini bukanlah suatu gaya hidup baru.
Penggunaan antiseptik tangan atau hand sanitizer sudah menjadi kebiasaan masyarakat luas, karena penggunaan hand sanitizer yang praktis serta memiliki efek yang sama seperti cuci tangan.
Antiseptik yang biasa digunakan (di pasaran) merupakan bahan dengan kandungan alkohol, dimana alkohol merupakan zat aktif pada kebanyakan hand sanitizer. Namun, penggunaan alkohol yang berlebihan dapat mengakibatkan kulit kering pada beberapa kulit sensitif.
Dengan fakta banyaknya bahan dan ingin membuat 0% bahan kimia, menggelitik mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga untuk melakukan inovasi membuat hand sanitizer dari daun kersen. Mahasiswa inovativ ini adalah Maulita Maharani Ulfa (2014), Nur Lailatul Fitrotun Nikmah
(2014), Shendy Canadya Kurniawan (2014), Gayoh Mahardika Wan Mahsuri (2015), dan Nandana Abimantra (2015).
”Karena cara kerja dari saponin, tanin dan flavonoid itu adalah menghambat pertumbuhan bakteri atau bakteriostatik, dan itu juga ada pada daun kersen,” kata Maulita Maharani Ulfa, ketua tim.
KELOMPOK PKMK Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR sambil menunjukkan Calabura Septik buatannya. (Foto: Dok PKMK-FF) Kreativitasnya ini kemudian dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K), dan berhasil lolos dari seleksi oleh Dikti, sehingga memperoleh dana pengembangan dari Kemenristekdikti untuk program PKM tahun 2016-2017.
Sehingga, lanjut Maulita, ekstrak daun kersen yang berbasis natural protection juga ikut dalam upaya ekoefisiensi pohon kersen itu sendiri. Ekofisiensi yang dimaksudkan adalah memaksimalkan potensi dari keberadaan pohon kersen yang relatif banyak ini, dengan tanpa merusak ekosistem pohon kersen itu sendiri.
”Keunggulan yang kami tawarkan dalam produk ini adalah penggunaan 0% bahan kimia, dapat dimakan atau edible, sehingga aman untuk digunakan oleh segala umur,” kata Maulita.
Oleh Tim PKMK, produk ini diberi nama “Calabura Septik”.
Selama ini ditawarkan dengan dua kemasan botol spray ukuran 60 ml dan 100 ml. Harganya sangat terjangkau masyarakat, yaitu harga Rp 10.000 untuk kemasan isi 60 ml dan harga Rp 18.000 untuk kemasan isi 100 ml. Budaya hidup sehat memang banyak diidamkan. (*)
Editor: Bambang Bes
Dorong Perkembangan Inovasi Radiologi Era Molekuler dan Digital
UNAIR NEWS – Perkembangan dunia radiologi terus berjalan.
Dimulai dari penemuan sinar rontgen di Jerman pada tahun 1895, hingga munculnya sinar-X serta lahirnya inovasi selanjutnya berupa ultrasonografi pada tahun 1950. Upaya dan berbagai inovasi radiologi inilah yang menjadi konsen Prof. Bambang Soeprijanto, dr.,Sp.RAD., Guru Besar bidang Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang dikukuhkan pada Sabtu (8/7).
Dalam pengukuhan yang dihelat di Aula Garuda Mukti Kampus C UNAIR, Bambang berpidato dengan judul “Inovasi Radiologi di Era Molekuler dan Digital”. Dalam paparanya, Bambang menekankan bahwa perkembangan inovasi radiologi merupakan upaya untuk memudahkan diagnosis berbagai penyakit yang tidak bisa dilihat oleh panca indra secara langsung.
“Perkembangan teknologi ini telah melalui berbagai pertimbangan. Salah satunya keuntungan lebih banyak daripada resiko,” terangnya.
Bambang juga menambahkan bahwa dalam perkembangannya, inovasi radiologi telah memasuki beberapa era serta memanfaatkan berbagai alat. Pada era komputer, mesin sinar-X memanfaatkan dengan inovasi alat yang disebut CT-scan. Selanjutnya, ditemukan modalitas baru tanpa penggunaan sinar-X yaitu MRI.
Alat MRI sendiri menurut Bambang, bekerja dengan cara memanipulasi proton dengan gelombang radio pada medan magnit yang kuat.
“Sumber radiasi lain dalam radiologi adalah isotop, suatu bahan yang memancarkan radiasi secara spontan. Dari alat yang sederhana, ada inovasi mesin dengan teknologi komputer yang disebut SPECT dan PET. Peralatan ini pun digabung dengan CT dan MRI,” papar Guru Besar FK UNAIR ke-108 tersebut.
Selanjutnya, Bambang kembali menjelaskan, perkembangan inovasi radiologi pun terus terjadi hingga era digital. Pada era ini, gambar penyakit pasien tidak lagi dalam lembaran kertas foto, tetapi sudah dalam bentuk data digital yang dapat disimpan dalam CD. Di era ini pula informasi foto pasien dalam bentuk data digital dapat dikirim langsung antar unit di suatu rumah sakit dengan Radiology Information System. Sedangkan untuk penyimpanan dan pengambilan kembali gambar radiologi dipergunakan Picture Archiving and Communication System.
“Di era ini gambar radiologi dapat di informasikan sesama dokter yang berbeda kota ataupun negara secara langsung dan ini disebut teleradiology,” terang Bambang.
Inovasi pemeriksaan radiologi selanjutnya yang dipaparakan oleh Bambang adalah kemampuan menampilkan gambar dari kelompok sel dengan aktifitasnya. Hal itulah yang disebut Moleculer imaging. Pada fase ini Bambang menjelaskan bahwa pemeriksaan ini memberikan informasi pada level molekuler dan level sel.
“Metode ini juga dipergunakan untuk studi ekspresi gen.
Penerapannya untuk penyakit misalnya pada kanker dan penyakit di jantung,” jelas Bambang.
Di akhir, Bambang menegaskan bahwa inovasi radiologi ini memiliki berbagi keunggulan. Selain bisa melakukan deteksi awal terhadap penyakit yang tidak bisa dilihat dengan mata secara langsung, dengan inovasi radiologi juga menjadi bagain untuk evaluasi. Namun, meski kecanggihan teknologi sangat membantu manusi, Bambang kembali menegaskan bahwa peranan manusia tidak bisa diambil alih oleh teknologi secara sepenuhnya.
“Masa depan memang akan terus dijawab melalui teknologi. Namun peran manusia tetap menjadi satu hal penting dan utama. Dalam dunia kesehatan, mengobati adalah seni dan pengetahuan, inilah yang tidak dimiliki teknologi,” tegas Bambang.
Penulis: Nuri Hermawan
Mahasiswa UNAIR Ciptakan Alat Deteksi Dini Penyakit ”Angin Duduk”
UNAIR NEWS – Ada sebagian masyarakat menyebutnya “angin duduk”. Dalam bahasa kedokteran disebut sebagai Angina Pectoris, merupakan salah satu jenis penyakit jantung yang menyerang secara mendadak akibat kurangnya pasokan oksigen pada otot-otot jantung.
Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute’s Atherosclerotic Risk in Communities (ARIC), kematian karena
“angin duduk” ini mencapai 37% per tahun. Saat ini, deteksi terhadap gangguan kesehatan bernama “angina duduk” ini dapat dilakukan menggunakan Electro Cardio Graph (ECG).
Sayangnya, ECG ini hanya dimiliki rumah sakit saja, sehingga pasien “angin duduk” sebagian besar tak tertolong, apalagi di daerah-daerah terpencil yang jauh dari rumah sakit.
Berangkat dari kebutuhan yang penting itulah, lima orang mahasiswa Universitas Airlangga menciptakan alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi secara dini penyakit “angin duduk”
ini. Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Airlangga yang berkreasi ini diketuai Ahmad Nurianto, dengan anggota Aji Sapta, Rahardian, Difa Fanani, dan Novi Dwi.
Setelah melalui seleksi yang ketat pada Dirjen Dikti, proposal PKM-KC karya Ahmad Nurianto Dkk ini berhasil lolos seleksi, dan berhak mendapatkan dana pengembangan dari Kementerian Riret Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) program PKM tahun 2016-2017.
Dijelaskan oleh Ahmad Nurianto, alat inovasinya itu diberi nama i-Humble, singkatan dari Innovation Heart Monitoring Portable Device. Alat ini dilengkapi dengan filter digital dan sistem pakar. Dengan menggunakan filter digital, dimaksudkan agar grafik sinyal jantung yang dihasilkan lebih mudah dibaca.
PERANGKAT I-Humble yang diciptakan PKM-KC UNAIR. (Foto:
Istimewa)
Selain itu, alat yang dihasilkan memiliki ukuran yang relatif kecil, dikarenakan komponen yang digunakan merupakan komponen digital. Dengan ukuran yang kecil itulah, alat ini mudah untuk dipindah-pindah dan dapat digunakan pada kondisi darurat.
Pada alat ini juga ditambahkan sistem pakar yang dapat mendeteksi besar resiko pasien terserang penyakit “angin duduk”. Alat ini juga menggunakan tampilan layar sentuh, sehingga menambah nilai plus pada kemudahan pengoperasian alat ini pada penggunanya.
Menjawab news.unair.ac.id, dikatakan Ahmad, bahwa biaya yang d i b u t u h k a n u n t u k m e m b u a t a l a t i n i t i d a k l a h b e s a r . Pengoperasiannya pun mudah.
“Dengan demikian kami berharap alat ini dapat menjangkau tenaga medis yang berada di pelosok-pelosok desa di Indonesia, mengingat deteksi dini angin duduk dan penyakit jantung lainnya penting untuk seluruh masyarakat Indonesia,” kata Ahmad Nurianto. (*)
Editor : Bambang Bes
Pakan Aditif dari Wortel, Mampu Naikkan Berat Badan Harian Ayam Broiler
UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Kedoktean Hewan (FKH) Universitas Airlangga dalam penelitiannya menemukan bahwa wortel (Daucus carota L) dapat digunakan sebagai bahan aditif pakan ayam broiler yang teruji efektif dan mampu meningkatkan berat badan harian ayam.
Mahasiswa FKH UNAIR yang melakukan penelitian tersebut adalah Ahmad Syaifullah (2014), Akhmad Afifudin Al-Anshori (2016), Indah Tri Lestari(2016), Maylendah Larasati Wibowo (2016), dan Dhinar Ramadhani (2016).
Dibawah bimbingan Dr. Widya Paramita Lokapirnasari, Drh., MP., penelitian tersebut dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) dengan judul “Pemanfaatan Ekstrak Umbi Wortel (Daucus carota L) Terhadap Peningkatan Berat Badan Harian Pada Ayam Broiler”.
Proposal ini telah lolos seleksi Dikti, sehingga berhak atas dana penelitian program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.
Dijelaskan oleh Ahmad Syaifullah, ayam Broiler merupakan ayam ras pedaging hasil persilangan antara ayam Cornish dengan Plymouth Rock. Peternakan Broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sumber protein hewani.
Dalam usaha peternakan broiler, biaya pakan merupakan komponen terbesar dari total biaya produksi yang harus dikeluarkan peternak, yaitu sekitar 70%. Guna memaksimalkan hasil produksi dengan biaya seminimal mungkin, peternak melakukan berbagai cara. Salah satu usahanya dengan menambahkan bahan aditif.
Kenapa wortel? Lanjut Ahmad Syaifullah, wortel merupakan salah satu bahan pakan yang melimpah. Kandungan betakaroten dan tingginya kadar serat dalam wortel sangat berguna melancarkan sistem pencernaan dan meningkatkan kinerja usus dalam penyerapan nutrisi. Dengan potensi tersebut, wortel dapat digunakan sebagai alternatif untuk efisiensi pakan pada peternakan broiler, jadi dapat meningkatkan pertumbuhan berat badan secara harian pada broiler.
DIAGRAM pertambahan berat badan harian ayam broiler dari hasil uji coba. (Dok PKM-PE FKH)
”Kami melakukan penelitian menggunakan 100 ekor ayam broiler yang dipelihara secara intensif. Pada umur 2 minggu dibagi dalam 5 kelompok, terdiri dari 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan yang diberi wortel dengan dosis dari konversi manusia ke ayam. Selanjutnya semua dosis dicampurkan dalam air minum sesuai kebutuhan harian ayam broiler,” kata Ahmad menjelaskan.
Parameter yang dilihat adalah laju pertambahan berat badan harian ayam selama masa pemeliharaan (5 minggu) hingga panen.
Penimbangan berat badan dilakukan setiap minggu terhadap 50%
sampel dari tiap kelompok, kemudian dibagi 7 untuk mengetahui rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) ayam broiler per minggu. Pertambahan berat badan ini bisa dilihat pada diagram.
Menurut Ahmad Syaifullah, kecukupan energi dan protein dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kondisi gizi masyarakat, juga keberhasilan usaha pemerintah dalam pembangunan pangan peningkatan sumber daya manusia. Hal ini penting sebab peternakan ayam broiler merupakan penyumbang
protein hewani terbesar bagi masyarakat Indonesia.
Ahmad Dkk berharap hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para peternak ayam broiler. Keberadaan wortel di Indonesia yang sangat melimpah, biaya pembelian yang cukup efisien serta telah terbuktinya dalam uji coba, menjadi nilai tambah untuk memilih wortel sebagai bahan pakan aditif untuk usaha broiler mereka. (*)
Editor: Bambang Bes
Rektor: Guru Besar Terus Lahirkan Ilmu Pengetahuan
UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga mengukuhkan empat profesor baru di bidang sosial dan kesehatan. Keempat profesor UNAIR tersebut diharapkan terus menyumbangkan gagasan-gagasan ilmiahnya demi kemajuan bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Rektor UNAIR saat mengukuhkan keempat guru besar tersebut di Aula Garuda Mukti, Sabtu (7/8).
“Guru besar dihadapkan pada tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan. Agar kita terus berkembang, maka para guru besar harus melahirkan riset-riset baru,” tutur Prof. Dr. Mochammad Nasih, S.E., M.T., Ak.
Setelah penelitian jadi rutinitas selain mengajar dan mengabdi kepada masyarakat, para profesor UNAIR diharapkan mempublikasikan penelitiannya tersebut di jurnal-jurnal bereputasi agar bisa direspon oleh masyarakat akademis.
Nasih mengatakan, bidang kajian yang ditekuni oleh para guru
besar baru sudah sesuai dengan tuntutan zaman. Keempat guru besar tersebut memiliki latar keilmuan sosiologi gender, sosiologi ekonomi, kesehatan lingkungan, dan radiologi kedokteran.
“Tanggung jawab guru besar sudah sangat berat karena bersesuaian dengan lingkungan, persaingan hingga perubahan konsumsi. Tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga iklim,”
imbuh Nasih yang Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Keempat profesor UNAIR yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., MA, Prof. Dr. Bambang Soeprijanto, dr., Sp.Rad(K)A, Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., dan Prof.
Dr. Ririh Yudhastuti, drh., M.Sc.
Guru Besar bidang Sosiologi Gender Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prof. Emy merupakan guru besar UNAIR sejak berdiri ke-459 dan profesor FISIP aktif ke-17. Prof. Emy yang juga guru besar UNAIR sejak PTN-BH ke-167 menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Perempuan, Relasi Kuasa dan Sosiologi Gender”
saat pengukuhan titel barunya.
“Mereka, perempuan masyarakat kelas menengah atas terkena penyakit the gender complex. Mereka nggak merasa kalau mereka tereksploitasi dan tersubdominasi. Bahkan, mereka, anak-anak muda itu, dengan bangga menunjukkan tubuhnya. Mereka tidak tahu bahwa mereka dieksploitasi untuk kepentingan profit atau kapitalis,” tutur Prof. Emy.
Prof. Bambang yang juga guru besar UNAIR sejak PTN-BH ke-168 menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Inovasi Radiologi di Era Molekuler dan Digital”. Dosen kelahiran Ponorogo juga menambahkan bahwa dalam perkembangannya, inovasi radiologi telah memasuki beberapa era serta memanfaatkan berbagai alat.
Pada era komputer, mesin sinar-X memanfaatkan dengan inovasi alat yang disebut CT-scan. Selanjutnya, ditemukan modalitas baru tanpa penggunaan sinar-X yaitu MRI. Alat MRI sendiri menurut Bambang, bekerja dengan cara memanipulasi proton
dengan gelombang radio pada medan magnet yang kuat.
“Sumber radiasi lain dalam radiologi adalah isotop, suatu bahan yang memancarkan radiasi secara spontan. Dari alat yang sederhana, ada inovasi mesin dengan teknologi komputer yang disebut SPECT dan PET. Peralatan ini pun digabung dengan CT dan MRI,” papar Guru Besar FK UNAIR ke-108 tersebut.
Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi FISIP Prof. Bagong merupakan guru besar UNAIR sejak berdiri ke-461 dan profesor FISIP aktif ke-18. Prof. Bagong yang juga guru besar UNAIR sejak PTN-BH ke-169 menyampaikan orasi ilmiah berjudul
“Sosiologi Ekonomi: Dinamika Kapitalisme dan Gaya Hidup Masyarakat Konsumer di Era Posmodern”.
Bagong menawarkan pendekatan baru berupa Sosiologi Ekonomi.
Laki-laki yang aktif menulis di media massa ini mengatakan, eksploitasi konsumen menjadi berbahaya ketika konsumen menjadi konsumen yang boros.
Bagong menawarkan solusi untuk meminimalisir kebiasaan masyarakat konsumtif. Yakni, mendidik konsumen agar kritis mengonsumsi produk.
“Keinginan bisa puluhan. Butuh kecerdasaan dan silap kritis konsumen, bahwa yang dia hadapi ini kapitalis yang selalu mengeruk keuntungan, bukan hanya upah buruh, tapi eksploiutasi konsumen. Kini konsumen harus makin kritis,” ungkapnya.
Terakhir, Guru Besar bidang Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat merupakan guru besar UNAIR sejak berdiri ke-462 dan profesor FKM aktif ke-11. Prof. Ririh yang juga guru besar UNAIR sejak PTN-BH ke-170 menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Meramal Wabah Demam Berdarah Dengue”.
Di Surabaya, setiap tahunnya kasus DBD selalu terjadi di sejumlah kawasan di Surabaya seperti Sawahan dan Tambaksari.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa program doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat, virus dengue juga sudah
menjangkiti kawasan-kawasan di Makassar seperti Toraja.
“Bahkan, di tempat penampungan air, telur nyamuk itu sudah mengandung virus dengue,” tutur Prof. Ririh.
Penulis: Tim UNAIR News
Mengajarkan Kewirausahaan Mandiri untuk Anjal dan Anak Marginal
UNAIR NEWS – Dengan sasaran membantu mengatasi perekonomian keluarga, tak sedikit anak-anak dibawah umur dijumpai sudah terjun menjadi pedagang asongan di jalan-jalan raya. Realita seperti itu tidaklah adil jika kebutuhan dan hak yang seharusnya mereka dapatkan tidak tercukupi. Waktu bermain dan belajar untuk memiliki keterampilan mereka korbankan demi ikut menopang nasib keluarga.
Melihat kesulitan yang dihadapi anak-anak yang hidup di jalanan ini, tiga mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) yaitu Aisyah Nusa Ramadhana, Aisah Anggraeni Reswariningtyas, dan Muhammad Reza Dzulfikri, mengenalkan pembelajaran kewirausahaan bagi anak- anak agar mereka kelak bisa mandiri dan tidak terus bergantung pada orang lain.
Diantara anak jalanan (anjal) tersebut adalah yang ngasong di Jl. Gemblongan Surabaya, yang ternyata juga bagian anak-anak yang sudah bergabung dalam komunitas Save Street Child (SSC) Surabaya.
Sumbangan pemikiran untuk pengembangan potensi kewirausahaan
bagi anak jalanan dan marginal itu, kemudian mereka tulis ke dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) dengan judul ”COCA-COLA (Cool Handycraft and Cooking Class) sebagai Sarana Pengembangan Potensi Kewirausahaan bagi Anak Jalanan dan Marginal di Komunitas Save Street Child Surabaya”.
Dibawah bimbingan dosennya, proposal ini berhasil lolos seleksi Dikti, sehingga berhak memperoleh dana hibah pengembangan dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2016-2017.
Aisyah Nusa Ramadhana, ketua kelompok PKM ini menjelaskan, gerakannya ini bertujuan untuk memberikan solusi efektif dalam mengembangkan potensi kewirausahaan pada anak jalanan dan marginal. Dalam jangka panjang dengan pemberian wawasan semacam “COCA-COLA” ini dapat mengurangi jumlah anak jalanan dan jumlah anak yang menghabiskan waktu di luar rumah.
”Ciri khas dalam pelaksanaan kami dengan mengadakan Training of Trainer bagi anggota tim agar maksud dan tujuan dapat tersampaikan dengan baik serta pelatihan berjalan lancar sesuai rencana yang telah disusun,” kata Aisyah N. Ramadhana.
SEORANG anggota Tim COCA-COLA melakukan
pembelajaran ditengah anak-anak anjal. (Foto:
Dok PKMM)
Kegiatan yang dilaksanakan, pertama dengan nama “Which One Your Cool Handycraft” dilakukan sosialisasi, pengenalan, serta pelatihan membuat kerajinan tangan. Yang kedua dengan topik
”Let’s Join Cooking Class” anak-anak komunitas SSC wilayah Gemblongan diberikan pemahaman dan pelatihan masak-memasak.
Kegiatan ketiga, “Market Day”, yaitu berkunjung ke pusat keramaian serta mengadakan bazaar untuk memasarkan hasil kreasi anak didik.
”Prinsipnya, kegiatan yang kami dalam COCA-COLA ini lebih mengarah pada penanaman mindset wirausaha pada anak sejak dini, utamanya anjal dan anak marginal agar tingkat ketergantungan pada bidang ekonomi semakin menurun dan menjadi pribadi mandiri,” lanjut Aisyah.
Selama empat bulan tim COCA-COLA melaksanakan program tersebut diatas. Keterampilan seperti kerajinan yang berhasil diajarkan kepada anak-anak antara lain kerajinan tangan dari kokoru, membuat kartu ucapan, pelatihan memasak (membuat salad buah, es capucino, es krim, dan es kopyor), serta pelatihan menjualnya. Dari program ini juga telah terbentuk kader penerus kegiatan, dimana telah bekerja sama dengan Dinas S o s i a l K o t a S u r a b a y a u n t u k m e m a n t a u d a n m e n d u k u n g keberlanjutan program ini.
“Respon adik-adik terhadap program COCA-COLA sangat aktif dan antusias. Bahkan ada salah satu anak, bernama Siska, nyeletuk,
’Mbak, tiap minggu ajarin bikin kokoru ya, nanti tak jual ke temen-temenku’. Jadi seperti ada hembusan angin kebahagiaan saat mendengar pernyataan tersebut bahwa program ini mampu memancing tumbuhnya jiwa kewirausahaan adik-adik,” tambah Aisyah.
Para relawan pengajar SSC juga berperan aktif, tak pernah absen berpartisipasi. Demikian juga dorongan kuat dari dosen-
dosen pembimbing tak kalah aktifnya. Hal ini ditunjukkan dalam banyaknya saran dan kritik yang disampaikan setiap proses kegiatan. Semangat dan motivasi yang tinggi inilah diharapkan program COCA-COLA ini dapat mengubah mindset anak jalanan dan anak marginal untuk mendiri dalam wirausaha.
Langkah selanjutnya COCA-COLA sedang membentuk kader dari luar komunitas SSC, baik yang berlatarbelakang akademisi atau masyarakat umum, sehingga program ini mampu menumbuhkan kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar. Jika program ini bermula dari komunitas SSC wilayah Gemblongan, selanjutnya bisa meluas ke seluruh wilayah Komunitas SSC di Surabaya. (*) Editor: Bambang Bes