i
PROPOSAL SKRIPSI
RESPON ANAK DALAM PERSPEKTIF KOGNITIF MENGENAI PRODUK PERMAINAN TRADISIONAL REMITAN
DI DESA MAYONG LOR JEPARA
Oleh
MUHAMMAD MUHAIMIN NIM 201733116
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2021
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING PROPOSAL SKRIPSI
Proposal skripsi dengan judul RESPON ANAK DALAM PERSPEKTIF KOGNITIF MENGENAI PRODUK PERMAINAN TRADISIONAL REMITAN DI DESA MAYONG LOR JEPARA oleh Muhammad Muhaimin NIM 201733116 program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar disetujui untuk diseminarkan.
Kudus, 15 Juli 2021 Pembimbing I
Nur Fajrie, M.Pd.
NIDN. 0619097803
Pembimbing II
Deka Setiawan, M.Pd.
NIDN. 0617088403
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Siti Masfuah, M.Pd.
NIDN. 0615129001
iii
PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI
Proposal Skripsi dengan judul RESPON ANAK DALAM PERSPEKTIF KOGNITIF MENGENAI PRODUK PERMAINAN TRADISIONAL REMITAN DI DESA MAYONG LOR JEPARA oleh Muhammad Muhaimin NIM 201733116 ini telah diseminarkan di depan Tim Penguji pada tanggal 20 Maret 2021 sebagai syarat untuk melakukan penelitian.
Kudus, 16 Juli 2021 Tim Penguji
Nur Fajrie,M.Pd., Ketua
NIDN. 0619097803
Deka Setiawan, M.Pd., Anggota
NIDN. 0617088403
Imaniar Purbasari, M.Pd., Anggota NIDN. 0619128801
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Siti Masfuah, M.Pd.
NIDN. 0615129001
iv ABSTRAK
Muhaimin, Muhammad. 2021. Respon Anak Dalam Perspektif Kognitif Mengenai Produk Permainan Tradisional Remitan Di Desa Mayong Lor Jepara. Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus. Dosen pembimbing (1) Deka Setiawan S.Pd., M.Pd. (2) Nur Fajrie S.Pd., M.Pd.
Kata Kunci : Respon, Permainan Tradisional, Remitan.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon kognitif anak dalam permainan tradisional remitan di masyarakat mayong lor jepara yang mudah menjadi produk unggulan di daerah tersebut.
Respon adalah istilah yang digunakan oleh psikologi untuk menamakan reaksi terhadap rangsangan yang diterima oleh panca indera. Permainan tradisional suatu aktivitas bermain yang dilakukan oleh anak – anak sejak zaman dahulu dengan aturan – aturan tertentu guna memperoleh kegembiraan. Remitan adalah produk mainan tradisional yang berasal dari desa mayong lor dibuat dengan bahan dasar tanah liat memanfaatkan ketrampilan tangan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi yang akan dilaksanakan di desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Subjek penelitian ini adalah anak dan tokoh desa Mayong Lor.
Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, catatan lapangan. Dengan menggunakan Analisis data interaktif yang meliputi tahapan reduksi, penyajian, dan verifikasi atau pengumpulan data.
v DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
PERSETUJUAN PEMBIMBIMNG PROPOSAL SKRIPSI ...ii
PENGESAHAN PROPOSAL ...iii
ABSTRAK ...iv
DAFTAR ISI ...v
DAFTAR GAMBAR ...vii
DAFTAR LAMPIRAN ...viii
BAB 1 PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang Masalah ...1
1.2 Rumusan Masalah ...4
1.3 Tujuan Penelitian ...4
1.4 Manfaat Penelitian ...5
1.5 Ruang Lingkup ...5
1.6 Definisi Operasional ...6
BAB II PEMBAHASAN ...7
2.1 Deskripsi Konseptual ...7
2.1.1 Respon ...7
2.1.1.1 Macam - macam Respon ...8
2.1.1.2 Terjadinya Respon ...9
2.1.1.3 Faktor Terbentuknya Respon ...10
2.1.2 Karakteristik Anak ...11
2.1.3 Permainan Tradisional ...11
2.1.3.1 Manfaat Permainan Tradisional ...13
2.1.4 Produk Permainan Remitan ...14
2.1.5 Perspektif Kognitif ...15
2.1.5.1 Perkembangan Kognitif ...16
2.2 Kajian Penelitian Relevan ...17
2.3 Kerangka Teori ...20
2.4 Kerangka Berpikir ...21
BAB III METODE PENELITIAN...22
3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian ...22
3.1.1 Tempat Penelitian ...22
3.1.2 Waktu Penelitian ...22
3.2 Pendekatan Dan Jenis Pendekatan ...22
3.3 Peranan Peneliti ...26
3.4 Data Dan Sumber Data ...26
3.4.1 Data ...27
3.4.2 Sumber Data...27
vi
3.5 Teknik Pengumpulan Data ...27
3.5.1 Observasi...28
3.5.2 Wawancara ...28
3.5.3 Dokumentasi ...29
3.5.4 Catatan Lapangan...30
3.6 Keabsahan Data ...30
3.7 Analisis Data ...31
DAFTAR PUSTAKA ...33
Lampiran ...36
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.3 Kerangka Teori ...20 Gambar 2.4 Kerangka Berpikir ...21 Gambar 3.2 Metode Fenomenologi ...25
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Jadwal Pelaksanaan ...37
Lampiran 2 Lembar Observasi ...38
Lampiran 3 Indikator Observasi ...40
Lampiran 4 Kisi-Kisi Wawancara Anak ...41
Lampiran 5 Pedoman Wawancaea ...42
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah
Pendidikan seni sebagai bentuk untuk membentuk sikap dan kepribadian anak yang mempunyai fungsi-fungsi jiwa yang meliputi fantasi, sensitivitas, kreativitas dan ekspresi. Seorang anak dapat berfantasi terhadap hasil karyanya, melalui perasaan anak menuangkan ide gagasannya kedalam hasil karya menjadikan anak sensitivitas, menjadikan anak memiliki kreativitas yang baik, dan mengekspresikan hasil karya seni.
Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa arti seni adalah hasil keindahan yang dapat mempengaruhi perasaan seseorang yang melihatnya, dan seni merupakan perbuatan manusia yang bisa mempengaruhi dan menimbulkan perasaan indah. Emanuel kant menyatakan bahwa pendidikan seni adalah rasionalisasi, seni melalui keindahan. Keindahan adalah sesuatu yang dapat diukur menggunakan alat tertentu dan sesuai kebutuhan. Rasionalisasi keindahan dapat dilihat dari susunan, keseimbangan, maupun maknanya. Ketiganya merupakan prinsip dalam menciptakan karya seni (Hajar Pamadi, 2012: 247). Sumanto (2015:
7) menyatakan tentang pengertian seni sebagai berikut: seni adalah hasil atau proses kerja dan gagasan manusia melibatkan kemampuan terampil, kreatif, kepekaan indera, kepekaan hati dan pikir untuk menghasilkan suatu karya yang memiliki kesan keindahan, keselarasan, bernilai seni dan lainnya.
Mayong lor merupakan sebuah nama desa yang ada di kecamatan mayong kabupaten jepara provinsi jawa tengah. Desa mayong lor merupakan salah satu dari sekian banyak daerah di indonesia yang memiliki cabang seni kriya yaitu kriya keramik. Kriya keramik mayong lor merupakan keramik yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan kasongan, bayat dan daerah lainnya. Desa mayong lor adalah salah satu desa yang sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil seni kerajinan tanah liat atau keramik. Sebuah karya ciptaan manusia mendapat predikat sebagai karya seni jika dengan sengaja dibuat untuk dinikmati atau diapresiasi oleh masyarakat. Sebagian orang juga berpendapat bahwa karya seni
2
adalah ciptaan manusia yang karena kualitasnya dapat menimbulkan pengalaman estetik bagi para pengikutnya. Pengalaman estetik tersebut diperoleh penonton ketika ia berhadapan dengan bentuk yang estetik. Bentuk yang estetik adalah bentuk karya seni atau bentuk alam yang mampu menimbulkan pengalaman estetik bagi siapa saja yang melihatnya. Jadi bentuk yang estetik sebenarnya tidak terbatas pada karya seni tetapi juga pada karya non seni. Kesenian merupakan kehidupan sehari-hari bagi masyarakat desa mayong lor. Salah satu kekhasan yang dimiliki oleh desa mayong lor adalah sebagai mata pencaharian mayoritas masyarakat desa mayong lor yaitu kerajinan keramik dan genteng. Keramik yang dihasilkan dari desa mayong lor tak kalah kualitasnya dengan keramik daerah lain di indonesia
Perkembangan adalah proses perubahan yang terjadi pada manusia yaitu proses bertambahnya kemampuan menjadi lebih baik ataupun sebaliknya, begitu juga dengan perkembangan anak. Bertambahnya kemampuan anak, baik dilihat dari postur tubuh, fungsi tubuh yang lebih sempurna. Perkembangan menyangkut adanya perubahan dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Mutiah (2012: 85) mengatakan “perkembangan anak usia dini merupakan konsep yang memiliki perubahan yang bersifat kuantitatif yang menyangkut aspek mental/psikologis. Kemampuan anak dalam merespon pembicaraan orang tua, tawa orang dewasa, merangkak, berjalan, memegang suatu benda, dan sebagainya”. Oleh karena itu, hubungan sosial sangat penting dalam perkembangan anak dan anak selalu ingin tahu apa yang menarik perhatiannya, tidak henti-hentinya memperhatikan apa yang dikaguminya. Oleh karena itu anak-anak berusaha ingin mengungkapkan kembali pengamatan yang dilihatnya sehingga anak-anak mempunyai respon atau tanggapan untuk mengungkapkan apa yang dilihat dengan cara mengamati seperti yang dilakukan oleh pengrajin remitan yang ada di desa mayong lor.
Menurut munib (2011: 76) lingkungan secara umum merupakan kesatuan dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan
3
manusia serta makhluk hidup lainya. Lingkungan sekitar anak dipengaruhi oleh lingkungan sosial, dengan sosial yang tinggi dalam diri anak maka ada dorongan dan rasa ingin tahu. Anna (ali, 2011:85) mengatakan “hubungan sosial adalah cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya”. Maka dari pada itu, pengaruh hubungan sosial anak dengan lingkungan sekitar dapat mempengaruhi dirinya, baik dalam hal positif maupun negatif it. Menurut muhibbin syah (2001: 76) sejalan dengan pendapat ki hajar dewantara, mengemukakan bahwa lingkungan pendidikan dapat mempengaruhi pembentukan karakter seseorang mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekolah/kampus, serta lingkungan masyarakat. Ketiga lingkungan tersebut secara langsung juga berpengaruh terhadap kompetensi sosial seorang.
Hertati (2009: 21) mengatakan bahwa lingkungan sosial merupakan lingkungan pergaulan antar manusia, pergaulan antar anak dengan lingkungan sekitarnya.
Syah (2002,132-139) menjelaskan faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan anak terdiri dari: (a) lingkungan sosial sekolah, seperti pendidik, tenaga administrasi dan teman-teman sekelas. Hubungan yang harmonis diantara ketiganya dapat menjadi motivasi; (b) lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal akan mempengaruhi perkembangan anak; (c) lingkungan sosial keluarga. Lingkungan ini sangat mempengaruhi kegiatan anak. Ketegangan lingkungan, sifat-sifat orangtua, demografi rumah (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas anak. Hubungan sosial antara anak dengan masyarakat, orang tua, kakak, adik yang harmonis akan membantu anak melakukan aktivitas dengan baik.
Menurut ahmad susanto, dunia anak adalah dunia bermain. Oleh karena itu, maka wajar saja jika dalam aktivitas mereka sehari-hari lebih banyak mainnya ketimbang belajarnya. Tetapi sebenarnya, dari bermain itulah mereka belajar.
Karena setiap permainan anak ada cara atau peraturan yang sudah menjadi ketentuan dari turun-temurun, yang menuntut sikap sportif, komitmen terhadap aturan main, dalam permainan itu ada berlaku pola hukum penghargaan dan
4
sanksi, ada pemenang ada yang kalah, dan semua berada pada posisi proses berlatih menuju puncak prestasi.
Dari latar belakang diatas peneliti tertarik dengan kesenian remitan masyarakat mayong lor dan menulis tentang respon anak dalam perspektif kognitif mengenai permainan tradisional remitan desa mayong lor jepara.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi Respon Anak Dalam Perspektif Kognitif Mengenai Permainan Tradisional Remitan Di Desa Mayong Lor Jepara ?
2. Bagaimana hasil Respon Anak Mengenai Produk Permainan Tradisional Remitan di Desa Mayong Lor Jepara ?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui faktor yang mendukung Respon Anak Dalam Perspektif Kognitif Mengenai Permainan Tradisional Remitan Di Desa Mayong Kabupaten Jepara.
2. Untuk mengetahui Respon Anak Mengenai Permainan Tradisional Remitan di Desa Mayong Lor Jepara.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis
Secara umum hasil penelitian ini untuk mengetahui faktor dan respon anak mengenai Permainan Tradisional Remitan di Desa Mayong Lor Kabupaten Jepara sekaligus menjadi bahan rujukan bagi masyarakat untuk memperkenalkan Produk mainan Remitan di Desa Mayong Lor kepada generasi penerus sedini mungkin baik dalam lingkup pendidikan informal, formal maupun nonformal karena memiliki bakat dan kreativitas yang telah lekat dengan kehidupan sehari-hari.
5 1.4.2. Manfaat Praktis
1.4.2.1. Bagi Anak
Penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan anak terhadap Produk Permainan Remitan dan juga meningkatkan Kreativitas keterampilan pada anak yang ada di Desa Mayong Lor, agar terus melestarikan kesenian tersebut karena terdapat banyak manfaat telah dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari selama melaksanakan Pembuatan Remitan Tradisi di Desa Mayong Lor.
1.4.2.2. Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat menjadi dokumentasi ilmiah Produk Permainan Tradisional Remitan yang ada di Desa Mayong Lor, selain itu penelitian ini juga dapat menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk terus menghasilkan Produk Mainan Remitan sekaligus mengajarkannya pada generasi penerus agar tidak tergerus oleh perkembangan jaman.
1.4.2.3. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menambah wawasan tentang Respon Anak Dalam Perspektif kognitif Mengenai Permainan Tradisional Remitan serta menambah pengetahuan dan pengalaman langsung mengenai Produk Remitan.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian observasi, wawancara, dan dokumentasi. Karena penelitian dilakukan untuk mengetahui Respon Anak Dalam Perspektif Kognitif Mengenai Produk Permainan Tradisional Remitan. Dalam penelitian ini, penulis akan mengkaji bagaimana respon anak mengenai produk permainan tradisional remitan di Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.
6 1.6 Definisi Operasional
Sesuai dengan judul penelitian “Respon Anak Dalam Perspektif Kognitif Mengenai Produk Permainan Tradisional Remitan” maka definisi operasionalnya dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. Respon Anak
Respon anak adalah suatu bentuk tanggapan anak yang dihasilkan dari proses penangkapan dan pengolahan alat indera manusia, proses penangkapan alat indea itu kemudian diolah oleh perasaan yang dirasakan maupun proses berfikir, kemudian terbentuklah tanggapan atau respon.
2. Perspektif Kognitif
Pengetahuan atau pengalaman yang didapatkan oleh anak untuk mengenali, mengetahui dan memahami.
3. Produk Remitan
Produk remitan merupakan sesuatu benda atau barang berupa mainan yang ditawarkan dipasaran untuk memenuhi kebutuhan konsumen sehingga kebutuhan masing-masing individu saling melengkapi.
7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Konseptual
Dalam kajian teori ini, peneliti menguraikan topik penelitian secara sistematis mengenai (1) Respon, (2) Permainan Tradisional, (3) Remitan, (4) Perspektif Kognitif.
2.1.1. Respon
Respon Menurut Effendy (1984: 19) dalam bukunya yang berjudul ilmu komunikasi teori dan praktik, respon adalah tanggapan, seperangkat reaksi pada komunikan setelah diterpa pesan. Seringkali anak diberikan rangsangan yang sama namun responnya berbeda beda mungkin ini yang terjadi di desa mayong lor mengenai produk mainan tradisional remitan. Hal ini dikarenakan tak ada satupun anak di dalam masyarakat yang persis sama dengan anak lain, baik itu dari segi kemampuan alat indera, maupun dari pengalaman sosial yang didapat dari lingkungan. Menurut Djalaludin Rakhmat (2008: 51) respon adalah suatu kegiatan (activity) dari organisme itu bukanlah semata-mata suatu gerakan yang positif, setiap jenis kegiatan yang ditimbulkan oleh suatu perangsang dapat juga disebut respon. Secara umum respon atau tanggapan dapat diartikan sebagai hasil atau kesan yang didapat (ditinggal) dari pengamatan tentang subjek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan-pesan. Menurut Kartono (2014: 431) respon adalah suatu jawaban, khususnya satu jawaban bagi pertanyaan atau satu kuesioner atau seberang tingkah laku, baik yang jelas kelihatan atau lahiriyah maupun yang tersembunyi atau tersamar. Dilihat dari psychology sendiri, istilah respon merupakan sesuatu yang sangat umum sekali, dan merupakan istilah yang paling banyak digunakan dalam psikologi, biasanya bersamaan dengan pemberi sifat.
Respon sangatlah erat kaitanya dengan rangsangan, sehingga apabila rangsangan timbul dimuka mungkin sekali diikuti oleh respon. Menerima Perilaku yang muncul setelah stimulus ditransmisikan ke komunikan adalah sebuah bentuk
8
respon, respon adalah hasil yang berupa perilaku yang timbul karena rangsangan.
Menurut Saifuddin Azwar (2015: 14) dalam bukunya yang berjudul Sikap manusia Teori dan Pengukurannya respon adalah suatu reaksi atau jawaban yang bergantung pada stimulus atau merupakan hasil stimulus tersebut. Respon hanya timbul apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya reaksi individu. Respon seseorang dapat dalam bentuk baik dan buruk, positif atau negatif menyenangkan atau tidak menyenangkan. Untuk memberikan respon terhadap suatu objek mulanya kita harus melakukan pengamatan terhadap objek tersebut. Oleh karena itu objek yang kita amati disebut pula stimulus tau perangsang dan respon yang kita berikan merupakan reaksi atau stimulus tersebut.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa respon adalah perilaku atau sikap yang muncul setelah adanya stimulus berupa penerimaan melalui panca indera yang nantinya akan membentuk tingkah laku baru berupa persetujuan atau penolakan. Respon dalam komunikasi sering disebut dengan istilah umpan balik (feedback). Respon memainkan peran yang penting dalam komunikasi. Sebab respon akan menentukan berlanjutnya komunikasi atau berhentinya komunikasi yang dilancarkan oleh komunikator.
Tujuan utama dalam suatu komunikasi adalah terjadinya respon atau tanggapan terhadap stimulus atau rangsangan. Tanpa adanya suatu respon atau tanggapan baik secara langsung maupun tidak langsung, maka dapat dikatakan komunikasi tersebut tidak berhasil sesuai tujuannya.
2.1.1.1. Macam – Macam Respon
Berdasarkan teori yang ditemukan oleh Stellen M Chafe respon terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
a) Respon kognitif (pendapat), yaitu respon yang berhubungan langsung dengan pikiran atau penalaran, sehingga khalayak yang semula tidak tahu, yang tadinya tidak mengerti, yang tadinya bingung menjadi merasa jelas. Sehingga muncul adanya perubahan terhadap apa yang dipahami atau dipersepsi oleh khalayak terhadap apa yang disampaikan oleh komunikator.
9
b) Respon Afektif (perasaan), yaitu respon yang berkaitan dengan perasaan atau yang terjadi secara tiba-tiba pada saat ada perubahan apa yang dirasakan oleh khalayak, seperti perasaan senang, benci, dan apa yang dirasakan oleh khalayak tersebut.
c) Respon Konatif (perilaku), yaitu respon yang berhubungan dengan niat, tekad, upaya, usaha, yang cenderung menjadi sesuatu kegiatan atau tindakan atau kebiasaan perilaku (Effendy, 2000:318-319).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa respon yang ditimbulkan oleh khalayak meliputi pendapat, perasaan, dan perilaku. Antara proses respon, tanggapan, ataupun jawaban yang muncul ketika disebabkan suatu kejadian atau peristiwa yang dialami secara tiba-tiba terhadap apa yang disaksikan (dilihat), apa yang didengar, dan apa yang dirasakan terhadap khalayak tentu akan timbul respon atau tanggapan.
2.1.1.2 Terjadinya Respon
Sejak lahir, manusia langsung menerima stimulus, sehingga mampu menjawab dan mengatasi semua pengaruh manusia dalam pertumbuhannya, mampu mengatasi semua pengaruh dari dirinya untukmengembangkan fungsi alat inderanya sesuai fungsi terus memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya. Alat indera yang dimiliki oleh individu meliputi indera penglihatan, indera pendengar, indera pembau, indera perasa atau pengecaman, indera perasa, indera keseimbangan, indera perasa urat daging (kinestesi), dan indera perasa jasmaniah (organism). Pada kenyataannya individu atau seseorang tidak hanya dikenai satu stimulus saja melainkan ada banyak sekali stimulus yang mengenai individu atau seseorang.
Tetapi dari sekian banyak stimulus yang mengenai individu hanya beberapa stimulus yang diberikan respons oleh individu yang bersangkutan.
Menurut Walgito (1981) proses terbentuknya stimulus dapat digambarkan sebagai berikut (Arifin dkk, 2017: 91).
10 L_____S_____O_____R_____L
L = Lingkungan S = Stimulus
O = Organisme atau individu R = Respons atau reaksi
Respon yang diberikan oleh individu akibat adanya stimulus adalah sebagai reaksi terhadap stimulus yang dipilih oleh individu yang bersangkutan.
Stimulus yang diberikan respon oleh individu yang bersangkutan tergantung pada beberapa faktor, diantaranya faktor perhatian yang merupakan aspek psikologi Prawira (2012: 64-65). Tidak semua stimulus itu mendapat respon individu,sebab individu melakukan terhadap stimulus yang ada persesuaian yang menarik dirinya.
2.1.1.3. Faktor Terbentuknya Respon
Tanggapan yang dilakukan seseorang dapat terjadi jika terpenuhi faktor penyebabnya. Hal ini perlu diketahui supaya individu yang bersangkutan dapat menanggapi dengan baik. Pada proses awalnya individu mengadakan tanggapan tidak hanya dari stimulus yang ditimbulkan oleh keadaan sekitar. Tidak semua stimulus yang ada penyesuaian atau yang menarik darinya. Dengan demikian maka akan ditanggapi adalah individu tergantung pada stimulus juga bergantung pada keadaan individu itu sendiri. Menurut Walgito (1999: 51) Faktor yang mempengaruhi stimulus akan bergantung pada 2 faktor, yaitu :
a. Faktor Internal
Yaitu faktor yang ada dalam diri individu manusia itu sendiri dari dua unsur yakni rohani dan jasmani. Seseorang yang mengadakan tanggapan terhadap stimulus tetap dipengaruhi oleh eksistensi kedua unsur tersebut. Apabila terganggu salah satu unsur saja, maka akn melahirkan hasil tanggapan yang berbeda intensitasnya pada diri individu yang melakukan tanggapan atau akan berbeda tanggapan tersebut satu orang dengan orang lain. Unsur jasmani atau fisiologi meliputi keberadaan, keutuhan dan cara kerja atau alat indra, urat syaraf dan bagian –bagian tertentu pada otak. Unsur-unsur rohani dan fisiologisnya yang
11
meliputi keberadaan dan perasaan (feeling), akal fantasi, pandangan jiwa, mental, pikiran, motivasi, dan sebagainya.
b. Faktor Eksternal
Yaitu faktor yang ada pada lingkungan. Faktor ini intensitas dan jenis benda perangsang atau orang menyebutkan dengan faktor stimulus. Bimo Walgito dalam bukunya menyatakan faktor psikis berhubungan dengan objek menimbulkan stimulus dan stimulus akan mengenai alat indera (Walgito, 1996:
55).
2.1.2. Karakteristik Anak Sekolah Dasar
Siswa SD berusia antara 7 – 13 tahun menurut Piaget berada pada fase operasional konkret dan operasional formal (Noehi Nasution, 2004: 3.19).
Karakteristik anak sekolah dasar secara umum sebagaimana dikemukakan Basset dkk, (dalam Mulyani Sumantri dan Johar Permana 2011: 11) berikut ini : 1) mereka secara ilmiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik pada dunia sekitar yang mengelilingi diri mereka sendiri, 2) mereka senang bermain dan lebih suka bergembira / riang, 3) mereka suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha – usaha baru, 4) mereka bergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka tidak suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan – kegagalan, 5) mereka belajar secara efektif ketika mereka merasa puas dengan situasi yang terjadi, 6) mereka belajar dengan cara bekerja, mengobservasi, berinisiatif, dan mengajar anak – anak lainnya.
2.1.3. Pengertian Permainan Tradisional
Permainan tradisional merupakan warisan budaya di Indonesia. Setiap daerah memiliki cara yang khas dalam melakukan permainan tradisional. Permainan tradisional bersifat universal, karena permainan yang muncul di suatu daerah mungkin juga akan muncul di daerah lainnya. Ngazizah, Linda, dan Fakhrina (2019: 211) menyatakan permainan tradisional merupakan permainan yang relatif
12
sederhana namun memberikan manfaat yang luar biasa jika ditelusuri makna dari permainan itu secara mendalam.
Lindawati (2019: 14) menyatakan permainan tradisional merupakan salah satu kebudayaan lokal yang mampu menjadi aset daerah. Permainan tradisional berfungsi sebagai sarana dalam proses sosialisasi bagi para pemainnya. Selain itu, permainan tradisional juga dapat dijadikan sebagai media sosialisasi anak untuk mengajarkan nilai dan norma sosial. Pangastuti (2014: 76) mengemukakan permainan tradisional salah satu wahana enkulturasi nilai-nilai budaya tertentu serta wahana proses untuk menjadi individu-individu yang dapat diterima masyarakatnya.
Royana dalam Annisa, dkk (2019) menyatakan permainan tradisional adalah aset kebudayaan yang memiliki ciri khas suatu bangsa. Dalam permainan tradisional sarat akan nilai kehidupan berbangsa dan negara mulai dari budaya, budi pekerti, gotong royong dan masih banyak lagi. Permainan tradisional merupakan kearifan lokal setiap daerah di Indonesia. Hidayat (2013) mengemukakan permainan tradisional adalah segala perbuatan baik mempergunakan alat atau tidak yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang sebagai sarana hiburan atau untuk menenangkan hati. Bishop & Curtis mendefinisikan permainan tradisional sebagai permainan yang telah diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan permainan tradisional mengandung nilai baik, positif, bernilai, dan diinginkan (Hidayat, 2013: 1061).
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional merupakan salah satu kebudayaan lokal yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang yang mengandung nilai-nilai positif dan norma sosial.
Mutiah (2010: 113) Permainan dan bermain memiliki arti dan makna tersendiri bagi anak. Permainan mempunyai arti sebagai sarana mensosialisasikan diri (anak) artinya permainan digunakan sebagai sarana membawa anak ke alam masyarakat. Permainan juga sebagai sarana untuk mengukur kemampuan dan potensi anak sehingga diharapkan ia akan menguasai berbagai macam benda, memahami sifat-sifatnya maupun peristiwa yang berlangsung di dalam
13
lingkungannya. Hardiman (2003). Masyarakat Indonesia seringkali terjebak dalam persoalan-persoalan kearifan lokal yang tersisihkan oleh modernitas. Masyarakat sedang dihadapkan pada persoalan sederhana, yaitu memilih menjadi tradisional atau menjadi modern. Kemajuan pesat globalisasi di era sekarang ini mempunyai dampak pada berbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali untuk kehidupan anak- anak Indonesia. Nurjanah (2012) Arus modernisasi membuat mereka tidak lagi mengenal mainan tradisional yang merupakan warisan budaya (Senoprabowo &
Khamadi, 2018: 223).
Hal ini membuat mainan tradisional semakin tergeser dan mulai dilupakan padahal di dalamnya terdapat nilai budaya, nilai moral, dan nilai keterampilan yang dapat membantu perkembangan sosial dan kecerdasan motorik, afektif serta kognitif anak (Nugrahastuti, Pupitaningtyas, Puspitasari, & Salimi, 2016).
2.1.3.1 Manfaat Permainan Tradisional
Permainan tradisional memiliki banyak manfaat bagi anak. Annisa dkk (2019) mengemukakan manfaat dari permainan tradisional yang bersifat sosial yaitu: membiasakan kejujuran, melatih kerjasama atau berinteraksi dengan kelompok, melahirkan sikap kebersamaan dengan sesama teman, melatih sikap mentaati terhadap peraturan yang telah dibuat, melatih kecerdasan dan kemampuan analisis siswa membuat strategi.
Misbach menyatakan permainan tradisional bagi anak dapat menjalin relasi, bekerjasama, melatih kematangan sosial dengan teman sebaya dan meletakkan pondasi untuk melatih keterampilan sosialisasi dengan berlatih peran dengan orang lebih dewasa dan masyarakat secara umum Irman (2017). Dalam permainan tradisional terdapat sejumlah manfaat menurut Rahmawati (2010: 111) mengemukakan manfaat permainan tradisional antara lain:
1. Dapat mengembangkan kreativitas anak dalam ide atau pelajaran.
2. Meningkatkan kemampuan sosialnya.
3. Meningkatkan rasa berempati kepada sesama.
4. Mengasah kecerdasan natural.
5. Mengasah kecerdasan bahasa.
14 6. Melatih anak untuk selalu sportivitas.
Berdasarkan uraian para ahli diatas dapat disimpulkan manfaat bermain permainan tradisional yaitu: melatih bekerja sama sehingga dapat meningkatkan kemampuan sosialnya, melatih sikap sportif, menumbuhkan rasa empati anak, melatih kecerdasan anak dan kemampuan anak.
2.1.4. Produk Remitan
Sebelum mengkaji remitan terlebih dulu menguraikan terkait produk.
Produk adalah hasil barang atau benda yang dihasilkan seseorang untuk dijual dan ditawarkan kepada konsumen untuk kebutuhan masing-masing individu, menurut Kotler Dan Amstrong (2001: 346) produk merupakan segala sesuatu yang dapat diitawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsikan yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Setiap harinya setiap orang menawarkan produknya kepada konsumen yang membutuhkan barang tersebut. Menurut Bob Sabran (2009: 4) produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatau keinginan atau kebutuan baik fisik, jasa, pengalaman, dan ide. Selaian itu menurut Benyamin Molan (2007: 4) produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan konsumen baik berwujud maupun tidak berwujud yang diterima oleh pembeli agar dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan konsumen.
Sedangkan remitan merupkan merupakan kerajinan tangan yang terbuat dari tanah liat, remitan merupakan produk tradisional yang berasal dari Mayong Lor. Imaniar dkk (2020: 149-150) menyatakan beberapa definisi. Remitan merupakan mainan anak tradisional dari tanah liat yang berupa miniatur alat dapur seperti wajan, cobek, muntu, tungku, gentong, kendi, piring dan lain-lain yang membutuhkan biaya produksi yang relatif murah dan dibuat secara tradisional.
Remitan juga dapat didefinisikan sebagai warisan nenek moyang desa mayong lor jepara yang memiliki nilai tuntunan budaya, kesederhanaan, kebersamaan dan keberagaman. Dalam arti lain yang tidak jauh berbeda remitan merupakan salah
15
satu permainan tradisional yang memiliki kekayaan khasanah budaya lokal, dan sudah seharusnya dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran berkarakter bangsa.
Triyanto (2015 : 3) Remitan adalah salah satu jenis benda keramik yang dibuat dari tanah liat yang dibakar dengan suhu tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan remitan merupakan jenis permainan tradisional yang terbuat dari dari tanah liat dan memiliki nilai budaya dan keberagamaan yang dapat dijadikan pembelajaran pendidikan karakter melalui khasanah budaya lokal.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa produk remitan merupakan sesuatu benda atau barang berupa mainan yang ditawarkan dipasaran untuk memenuhi kebutuhan konsumen sehingga kebutuhan masing-masing individu saling melengkapi.
2.1.5. Perspektif Kognitif
Menurut Khulusinniyah (2016: 246) Kognitif adalah proses berpikir berupa kemampuan untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan sesuatu atau dimaknai sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan untuk mencipta karya. Sedangkan menurut Witherington sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Susanto mengatakan bahwa, “Kognitif adalah pikiran, melalui pikiran dapat digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi dan memecahkan masalah”. Jika pikiran anak berkembang dengan cepat dan baik maka anak akan menjadi lebih cerdas. Anak akan berkembang lebih optimal dalam kehidupannya sejalan dengan tumbuh kembang anak yang bersangkutan.
Kognitif adalah kemampuan individu untuk mengembangkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Ranah kognitif memiliki keterkaitan erat dengan intelegensi (kecerdasan) karena perkembangan kognitif merupakan perkembangan pikiran. Pikiran adalah bagian dari proses berpikir otak. Pikiran digunakan untuk mengenali, mengetahui, dan memahami yang mencirikan seseorang. Dengan dasar itu, aspek yang mempengaruhi perkembangan daya pikir anak adalah: Kemampuan memecahkan masalah,
16
kemampuan berpikir logis, kematangan intelegensi, kreatif, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
2.1.5.1 Perkembangan Kognitif
Piaget menyatakan perkembangan kognitif merupakan struktur kognitif tentang bagaimana anak mengembangkan konsep dunia disekitar mereka. Adapun tahap perkembangan kognitif antara lain (Ratna Wilis, 2011:137) :
a. Tahap Sensorimotor yang merupakan tahap pertama usia 0-2 tahun , dalam hak ini anak mengalami dana memahami dunianya dengan menghasilkan tingkah laku sesuai apa yang ditangkap oleh inderanya.
b. Tahap Pemikiran Pra-Operasional yang merupakan tahap usia 2-7 tahun, pada fase ini anak mulai menunjukan dunianya dengan kalimat ataupun kata kata serta gambar dan simbol. Walaupun sudah dapat menunjukan dengan kalimat dan simbol namun cara berpikir anak pada fase ini bersifat tidak sistematis, tidak logis dan konsisten dengan ditandai dengan pemikiran-pemikiran yang imajinatif dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan hal ini bisa terjadi pada saat anak bermain dengan boneka atau mainannya dan mengajaknya mengobrol dan bergumam sendiri.
c. Tahap Operasional Konkret
Pada fase ini, anak cukup matang dalam menggunakan pemikiran logika atau operasi dan bersifat logis. Tahap ini terjadi pada usia 7–11 tahun, egosentrisnya berkurang dan kemampuan menjalankan tugas konservasi jadi lebih baik, akan tetapi tanpa objek fisik mereka masih mengalami kesulitan besar dalam menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan logika , jadi pada tahapan ini anak kesulitan dalam berpikir abstrak.
d. Tahap Operasional Formal
Pada fase ini terjadi mulai dari umur 11 ke atas tahun.Karakteristik anak pada tahap ini diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan membuat kesimpulan dari informasi yang ada.
Dalam tahap ini individu dapat memahami seperti cinta, bukti logis, dan
17
nilai serta melakukan idealis dan membayangkan kemungkinan- kemungkinan.
ditinjau dari faktor biologis, tahapan ini ditandai dengan masa pubertas ( masa berbagai perubahan besar lainnya), hal ini menjadi awal masuknya anak ke dalam dunia dewasanya secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. pada tahap ini, anak bisa dikatakan remaja karena telah memiliki kemampuan berpikir sistematis. yaitu itu memungkinkan bisa menyelesaikan semua persoalan yang dihadapinya.
2.2. Kajian Penelitian Relevan
Kajian penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan Annisa dkk (2019) dalam penelitiannya mengkaji tentang lunturnya kearifan permainan tradisional pada siswa SMP Negeri 1 Purwodadi. Di dalam penelitiannya Annia dkk (2019) menyatakan bahwa penyebab lunturnya permainan tradisional ini karena adanya teknologi yang telah merubah anggapan siswa mengenai permainan dari berbagai aspek. Dalam penelitiannya anissa dkk (2019) juga menyatakan respon siswa terhadap permainan tradisional yang antusias saat diterapkan di SMP Negeri 1 Purwodadi.
Persamaan penelitian annisa (2019) dengan penelitian ini adalah sama-sam membahas tentang permainan tradisional. Perbedaan penelitian ini terletak pada lokasi penelitian dan fokus penelitian, penelitian yang dilakukan anissa (2019) dilakukan di smp purwodadi dan fokus penelitiannya mengkaji tentang lunturnya permainan tradisional. Sedangkan dalam penelitian ini berlokasi di desa Mayong Lor Dan penelitiannya difokuskan pada respon anak dalam permainan tradisional.
Berikutnya adalah penelitian Lindawati (2019) permainan tradisional yang memiliki banyak manfaat dan pengaruh positif terhadap perkembangan jiwa anak masih terus dilestarikan oleh masyarakat desa Nyangkringan kabupaten bantul.
Eksistensi permainan tradisional di desa Nyangkringan kabupaten Bantul dapat terlihat dari warga desa, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, masih
18
memainkan permainan tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Ragam permainan tradisional yang dimainkan oleh warga desa Nyangkringan kabupaten Bantul cukup banyak jenisnya, antara lain sebagai berikut Gobak sodor, Bekelan, Nekeran (kelereng), Lompat tali, Delikan (petak umpet), Layangan, Engklek, Dakon, Jamuran, Gamparan.
Persamaan penelitian Lindawati (2019) dengan penelitian ini adalah sama- sama membahas tentang permainan tradisional. Perbedaan penelitian ini terletak pada lokasi penelitian dan fokus penelitian, penelitian yang dilakukan Lindawati (2019) dilakukan di desa Nyangkringan kabupaten bantul dan fokus penelitiannya mengkaji tentang faktor-faktor penyebab eksistensi permainan tradisional di desa Nyangkringan kabupaten bantul. Sedangkan dalam penelitian ini berlokasi di desa Mayong Lor dan penelitiannya difokuskan pada respon anak dalam permainan tradisional.
Berikutnya penelitian Ngazizah dkk (2019) dalam penelitiannya mengkaji tentang Pendampingan Permainan Tradisional Sebagai Upaya Untuk Menanamkan Karakter Dan Peningkatan Psikomotorik Siswa SD 221. Dalam penelitiannya Ngazizah dkk (2019) menyatakan bahwa permainan tradisional menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang menyenangkan untuk memunculkan karakter yang unggul dan keterampilan psikomotorik siswa SD.
Permainan tradisional memiliki peran yang sangat penting dalam merangsang potensi yang ada pada diri anak.
Persamaan penelitian yang dilakukan Ngazizah dkk (2019) dengan penelitian ini sama-sama membahas tentang permainan tradisional. Perbedaan penelitian yang dilakukan Ngazizah dkk (2019) dengan penelitian ini adalah terletak pada fokus penelitian dan lokasi penelitian. Dalam penelitiannya Ngazizah dkk (2019) memfokuskan pada Penanaman Karakter dan Meningkatkan Psikomotorik di SD Muhammadiyah Kutoarjo. Sedangkan dalam penelitian ini berlokasi di desa Mayong Lor dan penelitiannya difokuskan pada respon anak dalam permainan tradisional.
Berikutnya penelitian yang dilakukan oleh Irman (2017) yang mengkaji tentang nilai-nilai karakter pada anak dalam permainan tradisional dan modern.
19
Dalam penelitiannya Irman (2017) menyatakan bahwa permainan tradisional umumnya menggunakan alat permainan yang bersifat alamiah dan tempat permainan dilakukan di alam terbuka dan pada permainan modern pada pelaksanaanya menggunakan alat elektronik yang umumnya dilakukan di tempat tertutup. Dalam permainan tradisional memiliki nilai-nilai yang cenderung mengarah ke aspek sosial dan pada permainan elektronik cenderung ke karakter individu.
Persamaan penelitian Irman (2017) dengan penelitian ini adalah sama- sama mengkaji tentang permainan tradisional. Perbedaan penelitian yang dilakukan Irman (2017) dengan penelitian ini adalah terletak pada fokus penelitian dan lokasi penelitian. Dalam penelitiannya Irman (2017) memfokuskan pada nilai- nilai Karakter dalam permainan tradisional di kota padang. Sedangkan dalam penelitian ini berlokasi di desa Mayong Lor dan penelitiannya difokuskan pada respon anak dalam permainan tradisional.
Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Saputra (2017) mengenai Permainan Tradisional Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Dasar Anak.
Di dalam penelitiannya Saputra (2017) menyatakan bahwa permainan tradisional memiliki fungsi dalam mengembangkan kemampuan dasar anak. Permainan tradisional mudah dilakukan baik dalam cara bermain, maupun membuat alat permainannya. Daerah jambi memiliki 13 permainan tradisional yang dimiliki oleh anak usia dini sekaligus menanamkan karakter pada anak.
Persamaan penelitian Saputra (2017) dengan penelitian ini adalah sama- sama mengkaji tentang permainan tradisional. Perbedaan penelitian yang dilakukan Saputra (2017) dengan penelitian ini adalah terletak pada fokus penelitian dan lokasi penelitian. Dalam penelitiannya Saputra (2017) memfokuskan pada peningkatan kemampuan dasar dalam permainan tradisional di jambi. Sedangkan dalam penelitian ini berlokasi di desa Mayong Lor dan penelitiannya difokuskan pada respon anak dalam permainan tradisional.
20 2.3. Kerangka Teori
Kerangka Teori merupakan keterkaitan antara teori yang digambarkan sebagai dasar penelitian yang disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.
Respon Anak Dalam Perspektif Kognitif Pada Permainan Tradisional Remitan
Respon
Menurut Muliasari (2020: 1087) respon adalah suatu kegiatan (activity) dari organisme itu bukanlah semata-mata suatu gerakan yang positif, setiap jenis kegiatan (activity) yang ditimbulkan oleh suatu perangsang dapat juga disebut respon.
Dalam hal ini dapat diartikan bahwa respon merupakan bentuk tanggapan yang dihasilkan oleh anak melalui alat indera atau perasaannya.
Permainan Tradisional Menurut Annisa dkk (2019:
78) permainan tradisional merupakan kearifan lokal atau aset kebudayaan yang memiliki ciri khas suatu bangsa. Dalam permainan tradisional pun sarat akan banyak nilai berkehidupan berbangsa dan negara mulai dari budaya, budi pekerti, gotong royong dan masih banyak lagi berkebudayaan masyarakat Indonesia.
Remitan
Imaniar dkk (2020: 149- 150) menyatakan Remitan merupakan kerajinan tangan yang terbuat dari tanah liat, remitan merupakan produk tradisional yang berasal dari mayong lor. Remitan merupakan maianan anak tradisional dari tanah liat yang berupa miniatur alat dapur seperti wajan, cobek, muntu, tungku, gentong, kendi, piring dan lain-lain.
Perspektif Kognitif Menurut Khulusinniyah (2016: 246) Kognitif adalah proses berpikir berupa
kemampuan untuk
menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan sesuatu atau dimaknai sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan untuk mencipta karya.
Gambar 2.3 Bagan Kerangka Teori
21 2.4. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan konsep pemikiran peneliti untuk mempermudah penelitian sehingga arahnya jelas. Penelitian ini akan mengkaji terkait bagaimana respon anak dalam perspektif kognitif pada permainan tradisional remitan. Penelitian ini berfokus pada faktor dan respon anak dalam permainan tradisional remitan yang disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.
Gambar 2.4 Bagan Kerangka Berpikir Permainan Tradisional Remitan
Anak
Respon Faktor
Perspektif kognitif
22 BAB III
Metodologi Penelitian
3.1. Tempat Dan Waktu Penelitian 3.1.1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara dengan jarak tempuh ke ibu kota kecamatan 1 km dan ke ibu kota kabupaten 24 km. Luas wilayah daratan desa 243 ha yang terdiri dari empat dukuh.
Desa Mayong Lor merupakan salah satu dari sekian banyak daerah di Indonesia yang memiliki cabang seni kriya yaitu kriya keramik. Kriya keramik Mayong Lor merupakan keramik yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan Kasongan, Bayat dan daerah lainnya. Desa Mayong Lor adalah salah satu desa yang sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil seni kerajinan tanah liat atau keramik.
3.1.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini meliputi tiga tahap yaitu perencanaan, pengumpulan data dan tahap pelaporan. Adapun tahap persiapan penelitian dilakukan pada bulan september 2020, kemudian tahap pengumpulan data dilakukan pada Bulan Januari-Februari 2021 dan tahap pelaporan akhir akan dilakukan bulan Mei 2020.
Dengan adanya acuan waktu penelitian, diharapkan penelitian yang akan dilakukan dapat berjalan tepat waktu dan dapat memperoleh hasil yang diharapkan sebelumnya.
3.2. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis data secara deskriptif. Pendekatan kualitatif ini dilakukan dengan mengutamakan kedalaman penghayatan konsep yang dikaji secara empiris dan teknik pengumpulan data dilakukan secara deskriptif dan dokumentasi yang diperoleh dari kegiatan observasi. Data yang didapatkan berupa transkip-transkip
23
wawancara, catatan lapangan, gambar atau foto dan lain sebagainya. Ciri utama pada penelitian ini adalah terletak pada fokus penelitian yang berupa kajian intensif tentang suatu fenomena atau keadaan tertentu.
Rubiyanto (2011: 59) menyatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan suatu metode penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang diamati. Selain itu, Sugiyono (2016: 15) juga berpendapat bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang ilmiah, dimana peneliti sebagai instrumen kunci dan hasilnya lebih menekankan makna daripada generalisasi. Sedangkan menurut Herdiansyah (2011: 9), penelitian kualitatif adalah penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, misalnya pelaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang mendeskripsikan atau menggambarkan sebuah fenomena atau suatu keadaan yang diobservasi secara objektif. Setyosari (2010: 33) berpendapat bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu keadaan, peristiwa, objek apakah orang atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variabel yang bisa dijelaskan berupa data. Pendapat tersebut diperkuat oleh Rubiyanto (2011:
42) yang menjelaskan bahwa tujuan penelitian deskriptif yakni menggambarkan secara sistematis, fakta, karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian fenomenologi yang merupakan pengetahuan sebagaimana tampak dalam kesadaran.
Pengetahuan disini maksudnya adalah apa yang dipersepsikan oleh seseorang , apa yang dirasa dan diketahui melalui kesadaran atau pengalamannya
Menurut Husserl (2010 : 82) fenomenologi adalah studi tentang bagaimana orang mengalami dan menggambarkan sesuatu. sedangkan Creswell (2015) mengemukakan bahwa studi fenomenologi mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup individu terkait dengan konsep atau fenomena.
24
Fenomenologi mendeskripsikan bagaimana gejala-gejala yang muncul di kehidupan sehari-sehari. Gejala yang dimaksud baik gejala secara langsung bisa diamati oleh panca indera maupun gejala dari pengalaman yang dialami, dirasakan, diimajinasikan atau yang dipikirkan oleh pengamat tanpa perlu ada referensi empirisnya.
Penelitian ini dilakukan dengan mengutamakan observasi langsung ke lapangan. Adapun langkah-langkah penelitian yang menggunakan fenomenologi menurut Husserl (dalam Azharini & Nency 2019: 14) antara lain :
1. Menentukan fenomena, peneliti memahami fenomena yang diteliti.
2. Pengumpulan data meliputi pemilihan partisipan dan metode.
3. Perlakuan dan analisis data.
4. Studi literatur
5. Mempertahan kan kebenaran.
6. Pertimbangan etik
Dalam pengumpulan data fenomenologi menggunakan In-Depth Interview dengan mencari makna untuk mendapatkan suatu pemahaman yang mendetail tentang fenomena yang diteliti. Data yang diperoleh diproses dengan Interpretative Phenomenological Analysis Smith (dalam Azharini & Nancy 2019:
15) dengan tahapan antara lain:
1. Reading And Reading, peneliti memfokuskan diri dalam membaca hasil penelitian yang original.
2. Initial noting, menguji isi dari kata, kalimat dan bahasa yang digunakan partisipan dalam level eksploratori.
3. Developing Emergent Themes (mengembangkan kemunculan tema), proses dimana peneliti mengidentifikasi tema-tema kemungkinan tujuan peneliti untuk membedah kembali alur narasi interview, jika peneliti pada narasi awal merasa tidak comfortable.
4. Searching For Connection A Cross Emergen Themes, peneliti didorong untuk mengeksplorasi dan mengenalkan sesuatu yang baru dari hasil penelitiannya dalam term pengorganisasian analisis.
25
5. Moving the next case, tahap berpindah kasus atau partisipan berikutnya hingga selesai semua kasus.
6. Looking For Patterns Across Cases, tahap mencari pola-pola yang muncul antara kasus/partisipan.
Dari bagan diatas menunjukan bahwa langkah awal dari pendekatan fenomenologi menentukan fenomena yang muncul setelah itu dilakukan pengumpulan data dan dianalisis dengan studi dokumen atau studi literatur.
Setelah data terkumpul dan dianalisis langkah selanjutmya yakni mengecek kebenaran data tersebut dengan mengcroscek data itu kembali setelah data valid
Fenomenologi
Pengumpulan data
Respon Kognitif Anak
Analisis Studi literatur
Validitas
Temuan
Gambar 3.2 Metode Fenomenologi Sumber (Azharini&Nency, 2019)
26
dan benar ditemukanlah sebuah temuan yang nantinya akan menjadi unsur utama dalam peneitian.
3.3 Peranan Peneliti
Peran peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai human instrument dalam penelitian. Peneliti sebagai instrument awal masuk ke lokasi penelitian agar dapat berhubungan langsung dengan informan untuk mengumpulkan data. Peneliti juga berperan sebagai pendamping dari informan atau objek yang akan diteliti.
Dalam penelitian ini peneliti bertanggung jawab dengan penelitian yang dilakukan. Peneliti berperan sebagai perencana, pelaksana, pengumpulan data, penganalisis, serta nantinya menjadi pelapor hasil penelitian. Keterlibatan peneliti di dalam suatu penelitian dapat menentukan keberhasilan suatu penelitian.
Selama berlangsungnya penelitian, peneliti akan melakukan observaasi terhadap subjek penelitian, wawancara kepada sumber data atau pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian ini, diantaranya adalah anak yaitu dengan mengetahui respon anak mengenai produk remitan. Dengan demikian peneliti juga mengumpulkan data dengan melakukan dokumentasi berbagai kegiatan yang mendukung dalam penelitian ini.
3.4. Data Dan Sumber Data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian yaitu hasil observasi dan data tertulis yang dibutuhkan adalah wawancara secara lisan melalui pernyataan respon anak yang terjadi, arsip dan secara visual dari sebuah peristiwa yang terjadi. Data yang diperlukan bersumber dari masyarakat yang berada di lingkungan sekitar Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Alasan melakukan penelitian ini karena ingin mengetahui hasil respon anak terhadap produk remitan.
Jumlah anak-anak sekolah dasar di desa mayong lor, kecamatan mayong, kabupaten jepara adalah 20 anak yang berbeda-beda kelas tapi kebanyakan duduk di kelas 4 sekolah dasar. Subjek penelitian yang dijadikan sampel hanyalah 5 orang anak perempuan karena anak perempuan lebih suka bermain dan lebih mengenal produk remitan.
27 3.4.1. Data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah informasi mengenai respon anak terhadap permainan tradisional remitan di desa Mayong Lor dari aktivitas masyarakat pengrajin remitan. Selain itu penelitian ini juga memerlukan data pendukung seperti dokumentasi penelitian.
3.4.2. Sumber Data
Sumber data adalah sesuatu yang dijadikan sumber utama dalam penelitian. Menurut Lofland (2007) sumber utama penelitian kualitatif, sumber data adalah kata-kata dan tindakan seperti dokumen dan lain-lain.
Dalam penelitian ini, sumber data dibagi menjadi 2 yaitu sumber data primer dan data sumber data sekunder :
a. Data Primer
Data primer adalah sumber data dalam pemberian informasi dilakukan secara langsung pada pengumpul penelitian. Data primer berarti sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Dalam penelitian ini data primernya yaitu 5 anak perempuan.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang sudah ada, yang dikumpulkan oleh lembaga dan organisasi penyelidik sebelumnya. Data sekunder berarti sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Dalam penelitian ini data sekundernya yaitu Tokoh Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiyono (2016: 308) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam sebuah penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.
Berdasarkan pendapat tersebut, peneliti mengutamakan pengumpulan data secara langsung dan sebanyak-banyaknya agar penelitian yang dilakukan dapat
28
menghasilkan data yang diharapkan sebelum dilakukannya proses analisis data, berikut teknik pengumpulan data yang akan digunakan peneliti dalam penelitiannya:
3.5.1. Observasi
Menurut Rubiyanto (2011: 85), observasi merupakan cara mengumpulkan data dengan jalan mengamati langsung terhadap objek yang diteliti. Menurut Jonathan (2016: 224), kegiatan observasi meliputi melakukan pencatatan secara sistematik kejadian-kejadian, perilaku, objek yang dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung penelitian yang sedang dilakukan.
Observasi yang akan dilakukan oleh penelitian ini adalah observasi partisipan. Peneliti akan melakukan observasi tentang beberapa hal yang terkait respon anak mengenai produk permainan tradisional remitan. Melalui pengamatan langsung diharapkan peneliti dapat memperoleh data yang dibutuhkan dalam menunjang hasil penelitian.
3.5.2. Wawancara Mendalam
Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab yang dilakukan oleh pewawancara kepada informan secara langsung atau tatap muka. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Gunawan (2013: 162) menjelaskan bahwa wawancara merupakan suatu kegiatan tanya jawab dengan tatap muka antara pewawancara dan yang diwawancarai tentang masalah yang diteliti, dimana pewawancara bermaksud memperoleh persepsi, sikap dan pola pikir dari diwawancarai yang relevan dengan masalah yang diteliti.
Sugiyono (2016: 194) mengemukakan bahwa wawancara terbagi menjadi 2 jenis, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan secara terencana dengan terlebih dahulu mempersiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif. Sedangkan wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan secara bebas, dimana peneliti tidak perlu menggunakan pedoman-
29
pedoman wawancara yang disusun secara sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan data.
Wawancara menjadi dasar utama dalam penelitian kualitatif yang dipercayai data yang akan didapatkan bersifat (valid). Wawancara identik dengan penelitian kualitatif karena data yang didapatkan merupakan data yang berbentuk deskriptif sehingga peneliti dapat menganalisis data sesuai dengan informasi yang didapatkan dari wawancara tersebut. Berikut merupakan narasumber yang rencananya akan diwawancarai.
a. 5 anak perempuan Di Desa Mayong Lor b. Tokoh Desa Mayong Lor
Jonathan (2006: 224) wawancara dalam penelitian kualitatif dibagi menjadi tiga, yaitu 1) wawancara dengan cara melakukan pembicaraan informal, 2) wawancara umum yang terarah, 3) wawancara terbuka standar. Dalam menggunakan teknik wawancara ini keberhasilan dalam mendapatkan data atau objek yang diteliti sangat tergantung pada kemampuan peneliti dalam melakukan wawancara.
3.5.3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah proses pengambilan gambar terhadap kegiatan- kegiatan penting dalam penelitian, semua kejadian yang berpengaruh dalam pengumpulan data secara langsung dilapangan seperti observasi, wawancara dan lain sebagainya akan didokumentasikan dalam sebuah gambar atau potret agar menjadi sumber data pendukung dari data yang diperoleh. Dokumentasi juga dapat dijadikan sebagai bukti nyata bahwa seorang peneliti telah melakukan sebuah penelitian terhadap fenomena tertentu.
Dalam penelitian ini, dokumentasi yang dikumpulkan adalah berupa gambar-gambar semua bentuk Respon anak dalam permainan tradisional dan semua aktivitas pengumpulan data berupa wawancara kepada seluruh informan dalam proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
30 3.5.4. Cacatan Lapangan
Pencatatan menjadi salah satu hal yang penting dalam proses pengumpulan data bagi seorang peneliti. Pencatatan dapat dilakukan secara sederhana seperti dalam kertas, buku dan handphone, selain itu pencatatan juga dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan keduanya agar dapat mengumpulkan informasi atau data yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.
3.6. Keabsahan Data
Menurut Lexy (2014: 324), untuk menentukan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu:
1. Kepercayaan (Credibility)
Kriterium ini berfungsi sebagai melaksanakan inkuiri sedemikian rupa hingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai. Kedua mempertunjukan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.
2. Keteralihan (Transferability)
Berfungsi sebagai mengumpulkan kejadian empiris tentang temuan kesamaan konteks. Dengan demikian penelitian bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya jika ia ingin membuat keputusan tentang pengalihan tersebut.
3. Kebergantungan (Dependability)
Ketergantungan merupakan substitusi dari istilah reliabilitas pada penelitian non kualitatif sehingga ia memiliki kesamaan fungsi.
4. Kepastian (Confirmability)
Kriterium kepastian berasal dari konsep objektivitas menurut non kualitatif. Non Kualitatif menentukan objektivitas dari segi kesepakatan antar subjek. Sesuai dengan pernyataan tersebut, peneliti akan memastikan bahwa data didapatkan melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi dan pencatatan secara langsung dari lapangan harus memenuhi empat kriteria tersebut agar
31
keabsahan data dapat memenuhi fungsi kepercayaan, fungsi keteralihan, fungsi ketergantungan dan fungsi kepastian.
3.7. Analisis Data
Analisis data yaitu proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain, Sugiyono (2016: 335).
Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2015: 337) menjelaskan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas hingga datanya sudah jenuh. Dalam menganalisis data penelitian kualitatif harus dilalui 3 tahapan, yaitu:
1. Reduksi data (data reduction)
Mereduksi data merupakan kegiatan merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting dan membuang hal yang tidak diperlukan serta mencari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.
2. Penyajian Data (data display)
Langkah selanjutnya setelah mereduksi data adalah menyajikan data.
Dalam penelitian penelitian ini penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sebagainya. Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2015) mengemukakan bahwa yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah teks yang bersifat naratif.
32
3. Verifikasi atau penyimpulan (consclusion drawing)
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2015: 345) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Verifikasi masih bersifat sementara namun apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten maka data yang disimpulkan merupakan kesimpulan yang kredibel.
33
DAFTAR PUSTAKA
Annisa, A. N., Sari, L. F., Bachri, M. S., Fauroni, M. R., & Setiani, R. (2019).
Lunturnya Kearifan Lokal Permainan Tradisional Pada Siswa Smp Negeri 1 Purwodadi. Jurnal Ilmu Budaya, 7(1), 78-82.
Azharini, E., Nency. 2019 “. Fenomenologi.” Sekolah Tinggi Agama Islam.Sorong.
Creswell, John W. 2015. Penelitian Kualitatif & Desain Riset Memilih Diantara Lima Pendekatan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
De Breving, R. M., Ismanto, A. Y., & Onibala, F. (2015). Pengaruh Penerapan Atraumatic Care Terhadap Respon Kecemasan Anak Yang Mengalami Hospitalisasi Di Rsu Pancaran Kasih Gmim Manado Dan Rsup Prof. Dr. RD Kandou Manado. Jurnal Keperawatan, 3(2).
Gunadi, A. A. (2017). Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Imajinasi Anak. Refleksi Edukatika: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 7(2).
Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Irman, I. (2017). Nilai-Nilai Karakter Pada Anak Dalam Permainan Tradisionan Dan Moderen. Konseli: Jurnal Bimbingan Dan Konseling (E- Journal), 4(2), 89-96
.
Jauzak, I. (2016). Kerajinan Keramik Desa Mayong Lor Kabupaten Jepara Periode 2005–2015 (Doctoral Dissertation, Institut Seni Indonesia (Isi) Surakarta).
Khulusinniyah, K. (2016). Kognitif Development: Mencermati Siklus Pertumbuhan Kognitif Anak. Lisan Al-Hal: Jurnal Pengembangan Pemikiran Dan Kebudayaan, 10(2), 243-264.
Lindawati, Y. I. (2019). Faktor-Faktor Penyebab Eksistensi Permainan Tradisional Di Desa Nyangkringan. Hermeneutika: Jurnal Hermeneutika, 5(1), 13-24.
Margana, M., & Aliyah, I. Ibm Kelompok Pengrajin Gerabah Melalui Pengembangan Desain, Alat Produksi Dan Manajemen Pemasaran Di Kabupaten Klaten. Journal Of Rural And Development, 5(1).
Medan, D. K. V. Hubungan Perkembangan Sosial Emosional Terhadap Kemandirian Anak Usia Dini Di Tk Ummul Habibah.
34
Naibaho, M. (2016). Respon Masyarakat Terhadap Pesan Komunikasi Survei Sosial Ekonomi Nasional Pada BPS Kota Pematangsiantar. Jurnal Simbolika: Research And Learning In Communication Study, 2(1).
Ngazizah, N., Linda, R. F. C., & Fakhrina, A. (2019). Pendampingan Permainan Tradisional Sebagai Upaya Untuk. The 9th University Research Colloqium (Urecol), 9(2).
Nurhabibah, N., Ahmad, A., & Maidiyah, E. (2016). Perkembangan Sosial Emosional Anak Melalui Interaksi Sosial Dengan Teman Sebaya Di Paud Nurul Hidayah, Desa Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar (Doctoral Dissertation, Syiah Kuala University).
Nurwita, S. (2020). Meningkatkan Perkembangan Seni Anak Menggunakan Media Smart Hafiz Di PAUD Aiza Kabupaten Kepahiang. Early Childhood Research And Practice, 1(01), 34-37.
Purwaningrum, J. P., Purbasari, I. P., & Rini, G. P. (2020). Pemberdayaan Pengrajin Melalui Inovasi Produk “Remitan” Ramah Anak Berdaya Saing Global Di Kampoeng Remitan Desa Mayong Lor, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Jurnal Pengabdian Al-Ikhlas Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjary, 6(2).
Rubiyanto, Rubino. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Solobaru: Qinant.
Sari, A. M., & Linda, L. (2020). Sikap Dan Respon Anak PAUD Dalam Mengenal Metamorfosis Serangga Melalui Media Animasi. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 1083-1100.
Senoprabowo, A., & Khamadi, K. (2018). Model Transformasi Mainan Warak Ngendog Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Mainan Tradisional Kota Semarang. ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual
& Multimedia, 4(02), 221-238.
Simanjuntak, S. D., & Imelda, I. (2018). Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika Realistik Dengan Konteks Budaya Batak Toba. MES:
Journal Of Mathematics Education And Science, 4(1), 81-88.
Solihati, N., Hikmat, A., Jupri, A. R., & Hidayatullah, S. (2019). Character Education Value In Folk Games On Merapi Mountain Slope. Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran, 3(1), 28-42.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
35
Syarifah, M., Rusdi, R., & Khoir, W. (2020). Persepsi Dan Respon Pesantren Terhadap Kesadaran Hukum Masyarakat. Ahsana Media, 6(2), 11- 20.
Tabi’in, A. (2017). Menumbuhkan Sikap Peduli Pada Anak Melalui Interaksi Kegiatan Sosial. Ijtimaiya: Journal Of Social Science Teaching, 1(1).
Tindaon, Rosmegawaty.2012. Kesenian Tradisional. Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Karya Seni, 14(2).
Triyanto, T. 2015. Perkeramikan Mayong Lor Jepara: Hasil Enkulturasi Dalam Keluarga Komunitas Perajin. Imajinasi: Jurnal Seni, 9 (1), 1-10.
Walgito, Bimo.2004.Pengantar Psikologi Umum.Yogyakarta: Andi Yogyakarta Warsiti, W. (2011). Pembentukan Karakter Siswa Sekolah Dasar Melalui
Pembelajaran Ipa. In Prosiding Seminar Biologi (Vol. 8, No. 1).
Wulandari, D., & Hartono, H. (2018). Respon Estetis Anak Terhadap Kesenian Barongan Sindhung Riwut Di Kabupaten Blora. Jurnal Seni Tari, 7(2), 52-65.
36