• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori dan Metode Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Teori dan Metode Penelitian"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Berdasarkan penjelasan mengenai permasalahan yang telah dijelaskan di latar belakang yaitu mengenai keberhasilan implementasi program pengendalian penyakit demam berdarah di Kabupaten Paser, yang dimana implementasi merupakan bagian atau langkah terpenting dalam mencapai keberhasilan program atau kebijakan. Untuk mencapai keberhasilan tersebut dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti komunikasi, sumberdaya, disposisi dan struktur birokrasi. Oleh sebabitu, pembahasan dalam bab ini terdapat beberapa konsep dan juga teori yang digunakan dalam penelitian ilmiah sebagai pendekatan terhadap masalah dan solusi yang dihasilkan melalui penelitian, yang mana akan dikupas pada pembahasan. Diawah in merupakan penjelasan tentang konsep dan teori yang digunakan dalam penelitian ini:

2.1 Literatur Review

Table 2.1 Literatur Review

No. Nama Penulis dan Judul

Teori dan Metode

Penelitian Temuan

1. Massi, Rahamat.

Implementasi Kebijakan Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Pusat Kesehatan Talise Kota

Palu(Massi, 2016).

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori

implementasi kebijakan oleh Edward III.

Penelitian ini

menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Dalam penelitian ini, implementasi kebijakan P2DBD di Puskesmas Talise Kota Palu belum efektif dalam

menurunkan angka penderita penyakit DBD.

Hal ini disebabkan sosialisasi yang belum konsisten (Komunikasi), Alokasi pembiayaan yang masih minim dan belum meratanya fasilitas kesehatan

(2)

(Sumber daya), serta lintas program yang tidak melaksanakan tanggung jawab dalam kegiatan penyakit DBD (Disposisi dan Struktur Birokrasi).

2. Ulfa Mawaddah, Arini. Peran Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Dalam Pengendalian Demam Berdarah (DBD).(Mawaddah, 2017)

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah model

implementasi kebijakan menurut Donald Van Metter dan Carl Van Horn. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif.

Dalam penelitian ini ditemukan dua indikator yang sangat berperan dan masih belum efektif dalam implementasinya.

Indikator yang sangat berperan adalah penyuluhan kepada masyarakat yang rutin dilakukan pada musim DBD. Faktor yang masih kurang dalam pelaksanaannya adalah pemeriksaan jentik nyamuk yang terdapat di sekitar rumah

masyarakat.

3. Pujiyanti, Aryani.

Implementasi Program Pengendalian Demam Berdarah Dengue di

Kabupaten

Jenis penelitian deskriptif evaluatif yang bersifat kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pemilihan sampel menggunakan tehnik purposive

Dari penelitian ini ditemukan bahwa dalam implementasi kebijakan pengendalian DBD yang ada di Kabupaten

Donggal dipengaruhi oleh tiga variabel.

(3)

Donggala Sulawesi tengah Tahun 2014 (Studi Kasus di Puskesmas Wani dan Puskesmas Labuan).(Pujiyanti et al., 2020)

sampling. Variabel input menunjukkan alokasi anggaran kebijakan P2DBD lebih rendah jika dibandikan dengan anggaran pengendalian penyakit menular lainnya. Variabel proses menunjukan upaya pemberantasan sarang nyamuk belum berjalan dengan baik karena pola perilaku yang masih belum terbentuk.

Variabel output menunjukan angka bebas jentik yang cenderung mengalami penurunan.

4. Wardati.

Implementasi Kebijakan Pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Tambora Kota Administrasi Jakarta

Barat.(Wardati et al., 2020)

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori

implementasi kebijakan yang dikemukakan oleh Van Meter dan Van Horn. Penelitian ini menggunakan

pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif.

Dari penelitian ini ditemukan bahwa dalam proses implementasi kebijakan P2DBD di Kecamatan Tambora Jakarta Barat dirasa belum efektif karena secara teoritis seperti yang dijelaskan pada teori implementasi kebijakan Van Horn bahwa terdapat enam

(4)

karakteristik dan harus saling berhubungan, akan tetapi pada

penelitian ini masih ada karakteristik yang bermasalah seperti pembagian tugas yang belum berjalan dengan baik serta keterlibatan sektor swasta yang masih kurang.

5. Sari A, Rafica.

Implementasi Kebijakan Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota

Semarang.(Rafica et al., 2013)

Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori dari Van Meter dan Van Horn (1975) mengenai Implementasi

Kebijakan. Metode penelitian

menggunakan metode kualitatif deskriptif.

Di dalam penelitian ini ditemukan bahwa terdapat empat variabel yang mempengaruhi kebijakan P2DBD di Dinas Kesehatan Kota Semarang, yaitu komunikasi yang telah di tansmisikan secara baik untuk masyarakat akan tetapi kurang optimal dan konsisten.

Sumber daya yang masih kurang seperti sumber daya manusia, sumber daya informasi dan sumber daya anggaran pelaksanaan kebijakan. Kemudian pada variabel disposisi

(5)

sudah baik namun pada struktur birokrasi masih terdapat ketidak tepatan pada pelaksana dengan SOP dalam pelaksanaan kebijkaan P2DBD di Kota Semarang.

Pertama, Massi, Rahamat / “Implementasi Kebijakan Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Pusat Kesehatan Talise Kota Palu”. Penelitian ini mengginakan teori implementasi kebijakan oleh George C. Edward III dengan variabel komunikasi, Sumber daya, Komitmen dan Struktur Birokrasi. Dalam penelitian ini implementasi kebijakan belum efektif dikarenakan dari keempat variabel yang ada, keempatnya merupakan faktor penghambat dalam proses implementasi kebijakan. Mulai dari pelaksanaan penyuluhan yang tidak konsisten, alokasi sumber daya yang tidak merata. Serta komitmen dalam menjalankan program sesuai prosedur tidak terlaksana.

Kedua, Ulfa Mawaddah, Arini / “Peran Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Dalam Pengendalian Demam Berdarah”. Penelitian ini menggunakan model implementasi kebijakan Donald Van Metter dan Carl Van Horn. Dalam penelitian ini terdapat faktor yang memegang peranan penting dalam proses implementasi kebijakan. Pelaksanaan penyuluhan (Komunikasi) oleh Dinas Kesehatan Pekanbaru secara rutin menjadi faktor yang sangat berperan.

Ketiga, Pujiyanti, Aryani / “Implementasi Program Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah Tahun 2014 (Studi Kasus di Puskesmas Wani dan Puskesmas Labuan)”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif evaluative yang bersifat kualitatif dengan rancangan studi.

Dari penelitian ini ditemukan bahwa alokasi anggaran kebijakan P2DBD lebih rendah jika dibandingkan dengan anggaran pengendalian penyakit menular

(6)

lainnya. Jumlah kasus juga meningkat dikarenakan salah satunya pembiayaan yang tidak memadai pada program P2DBD.

Keempat, Wardati / “Implementasi Kebijakan Pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Tambora Kota Administrasi Jakarta Barat”. Penelititan keempat ini menggunakan teori yang dikemukakan oleh Van Meter dan Van Horn. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pembagian tugas yang belum berjalan dengan baik menjadi faktor penghambat proses implementasi kebijakan. Hal ini dapat menjadi rujukan jika dihubungkan dengan variabel yang ada dari teori implementasi kebijakan Edward III, dimana pengangkatan birokrasi dan pelaksanaan prosedur merupakan faktor yang menentukan sebuah implementasi kebijakan dapat berjalan dengan baik atau tidak.

Kelima, Sari A, Rafica / “Implementasi Kebijakan Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Semarang”. Penelitian ini menggunakan teori dari Van Meter dan Van Horn dengan metode penelitian kualitatif deskriptif. Jika dihubungkan dengan teori yang akan digunakan peneliti yaitu teori implementasi kebijakan oleh Edward III, terdapat beberapa faktor yang menjadi faktor penghambat dalam proses implementasi. Sumber daya yang masih kurang baik dan terdapat ketidak tepatan pada pelaksanaan SOP mejadi faktor yang menghambat proses implementasi kebijakan P2DBD di Kota Semarang.

2.2 Implementasi Kebijakan

Para ahli yang lebih dahulu mencurahkan gagasan mengenai masalah implementasi adalah Douglas R. Bunker di forum the American Association for the Advancement of Science di tahun 1970(Akib, 2015). Pada masa itu diakui oleh Eugene Bardach untuk pertama kalinya ditunjukkan proses implementasi kebijakan secara konseptual sebagai sebuah wujud sosial politik. Konsep tentang implementasi menjadi tema yang semakin sering dibicarakan seiring bertambahnya kontribusi yang dikemukakan oleh para pakar tentang implementasi kebijakan yang menjadi salah satu langkah dalam proses suatu kebijakan.

(7)

Pada dasarnya implementasi adalah deretan kegiatan yang bertahap dan terencana yang dilakukan oleh instansi pelaksana kebijakan yang sudah ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Kajian tentang implementasi merupakan tahap merubah gagasan atau prgoram mengenai Tindakan dan bagaimana kemungkinan cara menjalankan perubahan tersebut(Sunarti, 2016).

Pengertian mengenai implementasi menurut Purwanto dan Sulistyastuti, Implementasi pada basisnya merupakan sebuah kegiatan mendistribusikan keluaran suatu kebijakan (to deliver policy output) yang dilakukan oleh para implementor kepada kelompok sasaran (target group) sebagai usaha untuk mewujudkan suatu kebijakan(Purwanto, 2012). Implementasi adalah perluasan aktivitas saling menyelaraskan interaksi antara tindakan dan tujuan agar mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif.

Seperti yang dicuplik oleh Erwan Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti, implementasi diartikan dengan empat kata kunci seperti berikut:

untuk menjalankan kebijakan (to carry out), untuk memenuhi sebagaimana janji- janji yang dinyatakan dalam dokumen kebijakan (to fulfill), untuk menghasilkan output, sebagaimana yang dinyatakan dalam tujuan kebijakan (to produce), untuk menyelesaikan misi yang harus diwujudkan dalam tujuan kebijakan (to complete).

Didasari beberapa pengertian di atas, menunjukan bahwasannya arti dari implementasi menunjuk kepada mekanisme sebuah sistem. Berdasarkan pengertian-pengertian para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan suatu kegiatan yang terencana, tidak hanya sebuah kegiatan yang dilaksanakan secara sungguh-sungguh didasarkan acuan norma- norma tertentu untuk mencapai sebuah tujuan. Maka dari itu, implementasi menghasilkan kebijakan-kebijakan dalam melakukan perubahan terhadap suatu pembelajaran dan memperoleh hasil yang diharapkan.

Terdapat dua perspektif mengenai implementasi kebijakan yang dikemukakan oleh oleh Mazmanian dan Sabatier melalui buku Implementation and public policy Tahun 1983 (Akib, 2015), yaitu perspektif administrasi publik

(8)

implementasi kebijakan didasarkan oleh bagaimana memenuhi aspek keefisienan dan ketepatan. Namun pada akhirnya berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelaku administrasi publik tidak sekedar bekerja berdasarkan mandate resmi, akan tetapi karena adanya tekanan dari kelompok kepentingan, lembaga legistatif dan bermacam faktor dalam lingkungan politik. Sedangkan dalam sudut pandang ilmu politik, perspektif ini memberikan perhatian bagaimana suatu implementasi kebijakan dapat dipengaruhi oleh faktor dari luar lingkup administrasi, seperti perubahan prefensi publik, ketentuan administratif, teknologi baru serta preferensi masyarakat.

Menurut Ripley dan Franklin dalam buku Policy Implementation and Bureaucracy edisi kedua terdapat dua pendekatan dalam memahami implementasi kebijakan, yaitu pendekatan kepatuhan dan pendekatan faktual(Akib, 2015). Pendekatan kepatuhan hadir dengan fokus terhadap membangun kepatuhan individu bawahan di suatu organisasi. Perspektif ini berfokus pada analisis karakter serta kualitas dari perilaku sebuah organisasi.

Sedangkan pada perspektif faktual dijabarkan bahwa terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi jalannya implementasi kebijakan sehingga mengharuskan pelaksana kebijakan atau implementator untuk bisa leluasa dalam melakukan penyesuaian.

Sudut pandang yang dikemukakan oleh Ripley dan Franklin diatas menurut Grindle pada tulisannya yang berjudul Politics and Policy Implementation in The Third World tidak saling bertolak, akan tetapi menurut Grindle saling melengkapi(Akib, 2015). Dari dua sudut pandang tersebut dapat disimpulkan bahwa berhasilnya suatu kebijakan akan sangat dipengaruhi pada proses implementasi yang ditentukan dari kemampuan implementator mengikuti arahan dari atasan. Mampunya implementator untuk mengambil tindakan pribadi yang tepat dalam menghadapi faktor dari luar dan juga faktor non-organisasional.

Pada penerapannya implementasi kebijakan merupakan sebuah proses yang sangat kompleks bahkan dapat dikatakan tidak jarang sangat kental unsur politisnya karena adanya intervensi dari berbagai kepentingan yang ada di dalamnya. Dalam mengkaji implementasi kebijakan publik, George C.Edward III

(9)

mengungkapkan terdapat empat variabel atau faktor dari kebijakan. Sebagaimana yang dimaksud model implementasi kebijakan George C. Edward III (1980) dalam (Agustino, 2008) menyebutkan empat faktor atau variabel yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu implementasi kebijakan. Empat variabel atau faktor yang dimaksud antara lain sebagai berikut:

1. Variabel Komunikasi (communication)

Komunikasi kebijakan merupakan sebuah proses penyampaian informasi kebijakan atau program dari si pembuat kebijakan (policy maker) kepada si pelaksana kebijakan (policy implementor). Menurut Edward III, komunikasi merupakan faktor yangsangat menentukan suatu keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik, implementasi akan efektif apabila para pembuat keputusan telah memahami apa yang akan mereka kerjakan.

Terdapat tiga dimensi dalam komunikasi kebijakan, pertama adalah transfromasi (transmission), yang menghendaki agar kebijakan publik dapat ditransformasikan kepada para pelaksana, kelompok sasaran, dan pihak lain yang terkait dengan kebijakan. Yang kedua meruapakan dimensi kejelasan (clarity) menghendaki agar kebijakan yang akan ditransmisikan kepada pelaksana atau implementator, kelompok target, dan pihak lain yang memiliki kepentingan baik langsung maupun tidak langsung terhadap kebijakan bisa diterima dengan jelas agar di antara mereka memahami apa yang menjadi maksud dan tujuan serta sasaran, juga substansi dari kebijakan publik dapat dicapai secara efisien dan efektif. Kemudian Ketiga adalah dimensi konsistensi (consistency), menghendaki agar dalam pelaksanaan kebijakan wajib dilaksanakan secara konsisten dan jelas (diterapkan dan dijalankan), karena apabila perintah yang diberikan tidak konsisten, maka akan menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana lapangan.

2. Variabel Sumber Daya (Resources)

Edward III mengemukakan bahwa faktor sumber daya ini juga memliki peranan penting dalam implementasi kebijakan. Dalam implementasi kebijakan, sumber daya terdiri dari empat variabel, yaitu:

(10)

a. Sumber Daya Manusia (SDM), adalah salah satu variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan dala proses pelaksanaan kebijakan. Edward III menjelaskan bahwa “Probably the most essential recourses in implementing policy is staff”. Sumber daya manusia (staff), haruslah cukup secara jumlah dan cakap atau memiliki keahlian yang diperlukan. Maka dari itu, SDM harus memiliki kelayakan antara jumlah staf yang diperlukan dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan tugas pekerjaan yang dipegangnya.

b. Sumber Daya Anggaran (SDA), merupakan dana (anggaran) yang dibutuhkan untuk membiayai operasionalisasi pelaksana kebijakan.

Sumberdaya keuangan (anggaran) akan mempengaruhi keberhasilan proses pelaksanaan kebijakan. Disamping itu tidak bisa dilaksanakan secara optimal, terbatasnya anggaran dalam proses implementasi kebijakan dapat menyebabkan disposisi para pelaku kebijakan menjadi rendah, bahkan dapat terjadi goal displacement yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan terhadap pencapaian tujuan. Maka dari itu, diperlukan penetapan suatu sistem insentif dalam sistem akuntabilitas.

c. Sumber daya peralatan (facility), adalah sarana atau fasilitas yang digunakan dalam operasionalisasi implementasi sebuah kebijakan yang mencakup gedung, tanah, dan sarana yang dimana semua itu dapat memudahkan dalam memberikan pelayanan dalam implementasi kebijakan.

d. Sumber daya informasi dan kewenangan, merupakan informasi yang berkaitan dan memadai dengan bagaimana cara mengimplementasikan kebijakan. Kewenangan yang dimaksud merupakan hak dan kekuasaan yang digunakan dalam membuat keputusan sendiri dalam melaksanakan kebijakan yang menjadi kewenangannya.

A. Variabel Disposisi (Dispotition)

Disposisi di sini adalah sikap dari pelaksana kebijakan atau implementator untuk melakukan kebijakan secara sungguh-sungguh sehingga tujuan kebijakan bisa tercapai. Sikap yang bisa mempengaruhi berupa sikap menerima, acuh tak acuh, atau menolak. Hal ini dipengaruhi oleh

(11)

pengetahuan dari seorang implementor akan kebijakan tersebut mampu menguntungkan organisasi atau dirinya sendiri. Pada akhirnya, intensitas disposisi implementor dapat mempengaruhi pelaksana kebijakan. terbatasnya atau kurangnya intensitas disposisi ini, dapat menyebabkan gagalnya suatu implementasi kebijakan.

Terdapat faktor-faktor yang menjadi perhatian dari George C. Edward III dalam (Agustinus, 2006) tentang disposisi dalam implementasi kebijakan yang terdiri dari:

a) Pengangkatan birokrasi. Disposisi atau sikap pelaksana akan menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap implementasi kebijakan bila personel yang ada tidak melaksanakan kebijakan yang diinginkan oleh pejabat-pejabat yang lebih atas. Karena itu, pengangkatan dan pemilihan personel pelaksana kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada kebijakan yang telah ditetapkan, lebih khusus lagi pada kepentingan warga masyarakat.

b) Insentif merupakan salah satu teknik yang disarankan untuk mengatasi masalah sikap para pelaksana kebijakan dengan memanipulasi insentif. Pada dasarnya orang bergerak berdasarkan kepentingan dirinya sendiri, maka memanipulasi insentif oleh para pembuat kebijakan mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan. Dengan cara menambah keuntungan atau biaya tertentu mungkin akan menjadi faktor pendorong yang membuat para pelaksana menjalankan perintah dengan baik. Hal ini dilakukan sebagai upaya memenuhi kepentingan pribadi atau organisasi.

4. Variabel Struktur Birokrasi (Bureaucratic Structure)

Menurut George C. Edward III, kebijakan yang bersifat kompleks mengharuskan adanya Kerjasama dari banyak orang atau pihak, ketika struktur suatu birokrasi tidak berjalan dengan kondusif pada kebijakan yang ada, maka dapat menyebabkan sumber-sumber daya yang tidak termotivasi dan menyebabkan terhambatnya proses berjalannya suatu kebijakan.

(12)

Birokrasi sebagai implementator sebuah kebijakan wajib dapat mendukung kebijakan yang telah diputuskan secara politik dengan jalan melakukan koordinasi dengan baik.

Terdapat dua hal menurut Edward III, yang bisa meningkatkan kinerja organisasi atau struktur birokrasi menjadi lebih baik, yaitu:

a. Membuat standard operating procedure (SOP) yang lebih fleksibel. SOP merupakan suatu prosedur atau kegiatan terencana rutin yang memungkinkan pelaksana kebijakan agar dapat melaksanakan kegiatannya di setiap harinya sesuai dengan standar atau prosedur yang sudah ditetapkan.

b. Melaksanakan fragmentasi, tujuannya untuk menyebar berbagai tanggung jawab aktivitas, kegiatan atau program pada beberapa unit kerja yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Dengan fragmentasinya struktur birokrasi, maka implementasi akan lebih efektif karena dilaksankan oleh organisasi yang berkompeten dan kapabel.

Dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan adalah cara agar sebuah kebijakan bisa mencapai tujuannya. Berbagai macam variabel akan selalu mempengaruhi proses kebijakan baik itu dari dalam organisasi maupun variabel non-organisasi. Terdapat empat variabel yang dapat menjadi masalah dan menjadi faktor berhasilnya sebuah kebijakan. Salah satunya adalah komunikasi, komunikasi yang baik dalam tahap implementasi kebijakan akan sangat mempengaruhi proses implementasi. Tidak hanya diperlukan komunikasi yang baik dan jelas antara implementator (pelaksana kebijakan) tetapi juga diperlukan penyampaian informasi yang tepat kepada pihak yang menerima kebijakan. Maka dari itu komunikasi dalam implementasi kebijakan harus memiliki tiga dimensi, yaitu transformasi (transmission), kejelasan (clarity) dan konsistensi (consistency).

Sumber daya dapat dikatakan sebagai alas atau fondasi dalam implementasi kebijakan. Pentingnya sumber daya dalam implementasi tidak bisa dikesampingkan karena variabel inilah yang menjadi roda penggerak agak suatu kebijakan dapat mencapai tujuannya. Sumber daya pada implementasi dapat

(13)

dibagi menjadi empat bagian, dimana yang pertama adalah sumber daya manusia.

Sumber daya manusia dapat dikatakan menjadi faktor yang paling berperan dalam berhasil atau gagalnya sebuah kebijakan, hal ini dikarenakan sebagai pihak yang menjalankan kebijakan haruslah cukup dalam segi jumlah dan cakap dalam keahliannya.

Sumber daya yang kedua adalah sumber daya anggaran yang dimana adalah dana yang diperlukan untuk menjalanlan suatu kebijakan. Dana dianggap penting karena dapat mempengaruhi kecepatan atau arah sebuah kebijakan. Kurangnya anggaran atau dana yang dialokasikan kepada pekerja dapat menimbulkan masalah disposisi implementator yang berakhir kepada gagalnya tujuan kebijakan. Kemudian yang ketiga adalah sumber daya peralatan (facility) yang mana akan mempermudah jalannya implementasi kebijakan. Terakhir adalah sumber daya informasi dan kewenangan dimana informasi yang dimaksud adalah bagaimana informasi yang diterima oleh implementator dalam menjalankan kebijakan cukup dan jelas. Kewenangan disini adalah kewenangan dalam mengambil keputusan dalam menjalankan kebijakan dalam lingkup kewenangannya.

Variabel ketiga yang dapat mempengaruhi implementasi sebuah kebijakan adalah disposisi (dispotition). Yang dimaksud sebagai disposisi di sini adalah sikap dari implementator atau pelaksana kebijakan dalam menjalankan kebijakan dengan serius sehingga dapat mewujudkan tujuan kebijakan. sikap berupa menolak, acuh tak acuh, atau menerima adalah sikap-sikap yang dapat memberikan pengaruh dalam proses implementasi kebijakan.

Kemudian yang terakhir adalah variabel struktur birokrasi yang mana berfokus pada dua karakteristik yang dapat menyokong kinerja suatu organisasi dalam melaksanakan implementasi kebijakan. Dua karakteristik ini adalah pembuatan standard operating procedure (SOP) dan melaksanakan fragmentasi.

Dengan adanya dua karakteristik ini kinerja sebuah struktur organisasi akan menjadi optimal karena aktivitas yang dilakukan para pegawai tersusun dan terencana serta penyebaran unit-unit kerja sesuai dengan bidangnya.

(14)

2.3 Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (P2DBD)

Dalam 30 tahun terakhir ini penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan kasusnya tidak hanya di indonesia tetapi juga di berbagai belahan dunia khususnya pada daerah beriklim tropis dan sub-tropis. Di Indonesia kasus sebaran penyakit DBD mengalami naik turun setiap tahunnya namun cenderung meningkat angka temuannya dan semakin luas sebaran wilayahnya. Diperkirakan temuan serta meluasya kasus DBD ini akan terus berlanjut. Hal ini dikarenakan media penularan DBD tersebar baik di tempat umum maupun di pemukiman.

Berdasarkan Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 581/MENKES/SK/VII/1992 tentang pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue, pemberantasan penyakit DBD adalah semua upaya untuk mencegah dan menangani kejadian DBD. Adanya keputusan tersebut bertujuan untuk memberikan pedoman bagi masyarakat, tokoh masyarakat, petugas kesehatan dan sektor-sektor terkait dalam upaya mencegah dan membatasi penyebaran penyakit, sehingga program Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue (P2DBD) dapat tercapai. Program P2DBD mempunyai tujuan pokok diantaranya adalah untuk menurunkan angka kesakitan, menurunkan angka kematian, dan mencegah terjadinya kejadian luar biasa penyakit DBD. Tenaga pelaksana program P2DBD idealnya memiliki latar belakang pendidikan yang meliputi epidemiolog kesehatan, entomolog kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator kesehatan dan sanitarian(Anis Faizah, 2018).

Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan di atas, terdapat Visi, Misi, Strategi serta Tujuan P2DBD(Kemenkes, 2017) sebagai berikut:

a. Visi

Terwujudnya individu dan masyarakat yang mandiri dalam mencegah dan melindungi diri dari penularan DBD melalui optimalisasi kegiatan PSN 3M Plus disamping meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.

b. Misi

(15)

• Pengendalian DBD mengedepankan aspek pemberdayaan dan peran serta masyarakat serta kemitraan multisektor.

• Pengendalian DBD dilaksanakan secara komprehensif dan terpadu dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta aspek kesehatan lingkungan.

c. Strategi

• Pengendalian vektor penularan DBD dengan mengedepankan upaya pemberdayaan masyarakat dan peran serta masyarakat dalam PSN 3M Plus melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik.

• Penguatan sistim surveilans untuk deteksi dini, pencegahan &

pengendalian kasus serta KLB DBD.

• Penguatan diagnostic dan penatalaksanaan penderita secara adekuat di fasilitas pelayanan kesehatan untuk mencegah kematian.

• Pengembangan dan pemanfaatan vaksin dan teknologi tepat guna lainnya dalam upaya pencegahan dan pengendalian DBD.

d. Tujuan

• Meningkatkan presentase kabupaten/kota yang mencapai angka kesakitan DBD kurang dari atau sama dengan 49 per 100.000 penduduk.

• Menurunkan angka kematian akibat DBD menjadi kurang dari 1%.

• Membatasi penularan DBD dengan mengendalikan populasi vektor sehingga angka bebas jentik (ABJ) di atas sama dengan 95%.

Gambar

Table 2.1 Literatur Review

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat empat (4) bentuk partisipasi masyarakat di kawasan wisata Pantai Pidakan yakni partisipasi buah pikiran yang paling tinggi bentuk partisipasinya yaitu berupa

Kinerja pengelolaan keuangan dan aset daerah maka dapat disimpulkan bahwa kinerja Pemerintahan Kabupaten Barito Kuala untuk seluruh jangka waktu RPJMD tahun 2012 – 2017

Pengukuran sipat datar/waterpass memanjang adalah suatu metode pengukuran untuk menentukan beda tinggi antara dua buah titik di permukaan bumi yang letaknya berjauhan, atau dengan

Pada tahun 1962, mulai diupayakan secara khusus untuk mengembangkan gagasan ketahanan nasional di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Bandung. Dalam

1) Penulis menyarankan agar dokumen SOP yang telah diuji bisa benar-benar diterapkan dengan baik. Hal pertama yang dapat dilakukan Subdit PSI DPTSI ITS Surabaya adalah

Ilmu Pragmatik membantu untuk menemukan cara pengajaran bahasa asing yang menghasilkan pembelajar bahasa asing yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menggunakan

Taksonomi Tanah mendefenisikan tanah histosol (gambut) dengan ketentuan apabila 1) tidak mempunyai sifat-sifat tanah andik pada ≥ 60% ketebalan di antara permukaan tanah

Skiripsi yang berjudul “STUDI ORGANOLOGI KETENG KETENG PADA MASYARAKAT KARO BUATAN BAPAK BANGUN TARIGAN” ini diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Seni