• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-V/2007

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-V/2007"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 11/PUU-V/2007 PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 56 PRP TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS TANAH PERTANIAN

TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR 1945

ACARA

PEMERIKSAAN PERBAIKAN PERMOHONAN (II)

J A K A R T A

KAMIS, 31 MEI 2007

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NO. 11/PUU-V/2007 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 56 PRP Tahun 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian terhadap Undang-Undang Dasar 1945

PEMOHON Yusri Adisoma.

ACARA

Pemeriksaan Perbaikan Permohonan (II)

Kamis, 31 Mei 2007 WIB, Pukul 10.00 WIB

Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 7, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Maruarar Siahaan, S.H. K e t u a 2) Prof. Abdul Mukhtie Fadjar, S.H., M.S Anggota

3) Soedarsono, S.H. Anggota

Eddy Purwanto,S.H. Panitera Pengganti

(3)

HADIR:

Pemohon :

• Yusri Ardisoma

(4)

SIDANG DIBUKA PUKUL 10.00 WIB

1. KETUA : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Baik, Saudara-saudara sidang Pemeriksaan Pendahuluan yang kedua untuk perkara Nomor 11/PUU-V/2007 dengan ini kita buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Saudara Yusri tetap hadir sendiri ya? Tidak ada pendamping, baiklah jadi Saudara Yusri kita pada sidang yang lalu pemeriksaan pendahuluan yang pertama telah memberikan beberapa saran untuk sedikit banyak memperbaiki apakah ada yang Saudara lakukan perbaikan-perbaikan?.

KETUK PALU 1 X

2. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Yang Mulia Majelis Hakim sudah ada perbaikan-perbaikan Pak.

3. KETUA : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Kalau begitu bisa dibacakan dulu saya kira kami beri waktu Saudara.

4. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA.

Ada cuma nanti ada perbaikan salah ketik, sambil dibacakan.

5. KETUA : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Sambil dibacakan langsung saja duduk perkaranya.

6. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA.

1 DASAR PERMOHONAN

A. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI

Pasal 24 C ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa

“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan

(5)

lembaga negara yang kewenangannya di berikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum”.

1. Pasal 10 ayat (1) huruf (a) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut UU MK), menyatakan bahwa “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang undang terhadap Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945”.

2. Pasal 1 angka 3 huruf (a) UU MK menyatakan bahwa “Permohonan adalah permintaan yang diajukan secara tertulis kepada Mahkamah Konstitusi mengenai pengujian undang undang terhadap Undang- Undang Dasar 1945”.

3. Pasal 29 ayat (1) UU MK menyatakan bahwa “Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia oleh Pemohon atau kuasanya kepada Mahkamah Konstitusi”.

4. Berdasarkan uraian hal hal tersebut diatas, maka Mahkamah Konstitusi berwenang untuk melakukan pengujian materil terhadap Pasal 10 ayat (3) penjelasan Pasal 10 ayat (3) dan Pasal 10 ayat (4) penjelasan Pasal 10 ayat (4) Undang-Undang Penetapan Luas Tanah Pertanian Nomor : 56 PRP Tahun 1960 terhadap terhadap Pasal 28D ayat (1), Pasal 28H ayat (4) dan Pasal 28 I ayat (2) UUD Tahun 1945 B. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON

1. Bahwa menurut Pasal 51 ayat (1) UU MK Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/ atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang, yaitu :

a) Perorangan Warga Negara Republik Indonesia ;

b) Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara ;

c) Badan hukum publik atau privat, atau ; d) Lembaga Negara.

2. Bahwa Pemohon adalah perorangan Warga Negara Indonesia yang menganggap hak konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang- Undang Penetapan Luas Tanah Pertanian Nomor : 56 PRP Tahun 1960, hal ini dapat dilihat dengan adanya peristiwa hukum dibawah ini:

a) Bahwa tanah hak milik orang tua Pemohon telah dilakukan penyitaan oleh Kejaksaan Negeri Subang pada tanggal 13 september 1979 dari Desa Pamanukan Hilir, Bobos, Tegalurung dan Pangarengan seluas 277.645 Ha.

b) Bahwa orang tua Pemohon sebagai Terdakwa telah disidangkan di PN Subang dalam perkara pidana Nomor : 38/1979/Pidana/PN.Sbg dan diputuskan pada tanggal 24 Maret 1981, amar putusannya sebagai berikut:

M E N G A D I L I :

(6)

• Menyatakan bahwa Terdakwa Dukrim alias Pak Kebon bin Suta menurut bukti dan meyakinkan terang bersalah telah melakukan memiliki tanah pertanian seluas 277.645 ha melebihi batas maksimal sebagai mana diatur dalam UU No 5 Tahun 1960 beserta peraturan pelaksananya.

• Menghukum ia dari sebab itu dengan pidana penjara kurungan 3 (tiga) bulan.

• Memerintahkan bahwa hukuman tersebut tidak usah dijalankan kecuali jika di kemudian hari dengan putusan hakim diperintahkan lain disebabkan terdakwa dalam masa percobaan selama 6 (enam) bulan melakukan suatu tindak pidana atau tidak mencukupi suatu syarat khusus yang telah ditentukan

• Memerintahkan agar barang-barang bukti berupa : 1. Surat-surat dilampirkan dalam berkas perkara.

2. Tanah-tanah seluas 277.645 ha setelah dikurangi tanah milik terhukum asal dari warisan orang tuannya sesuai dengan batas maksimal menurut ketentuan yang berlaku, dirampas untuk selanjutnya diperintahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Subang c.q Kantor Agraria Subang dengan dibantu Kejaksaan Negeri Subang menyelesaikan persoalan tanah lebih lanjut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3. Uang tunai sebanyak Rp 402.856,50 dikembalikan kepada Terdakwa menghukum pula terhukum untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 7.500,-

c) Bahwa setelah Putusan Pengadilan orang tua PEMOHON langsung stress dan terserang stroke sehingga pada tanggal 6 Mei 1981 meninggal dunia.

d) Bahwa setelah diterbitkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana, PEMOHON sebagai akhli waris dari mendiang Bapak Dukrim bin Suta alias Pak Kebon mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung RI atas Putusan Pengadilan Negeri Subang Nomor : 38/Pidana/1979/PN.Sbg dan diputus dengan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 16/PK/Pid/1983, Putusan Permohonan Peninjauan Kembali ditolak.

e) Bahwa Kejaksaan Negeri Subang dalam Putusan Pengadilan Negeri Subang Nomor 38/Pidana/1979/PN.Sbg melaksanakan eksekusi dan untuk barang bukti berupa tanah seluas 277.645 ha diserahkan kepada Kantor Agraria Subang pada tanggal 8 Mei 1981.

f) Bahwa PEMOHON sebagai akhli waris dari mendiang Bapak Dukrim bin Suta alias Pak Kebon telah menandatangani Surat Tanda Penerimaan Penyerahan Hak dan Pemberian Ganti Rugi (STP3) atas tanah kelebihan dari batas maksimal pada tanggal 1 Juli 1986 Nomor : A/VIII/53A/574/1986, sampai sekarang belum mendapatkan ganti rugi sekalipun sudah diusulkan oleh Kepala Kantor Agraria Subang pada tanggal 16 Oktober 1986 Nomor : 592/Kad.1125/1986, perihal permohonan ganti rugi atas tanah kelebihan maksimum bekas penguasaan/pemilikan saudara Dukrim bin Suta.

(7)

g) Bahwa orang tua PEMOHON dituduh telah melakukan perbuatan melanggar Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1960 yaitu Undang- Undang Pokok Agraria beserta peraturan pelaksanaannya yaitu Undang- Undang Nomor : 56 PRP Tahun 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian, memiliki tanah pertanian melebihi batas maksimal sesuai Pasal 10 ayat (3) dan ayat (4) menurut hemat PEMOHON sangat bertentangan atau melanggar Pasal 28H ayat (4) UUD 1945 yaitu setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil sewenang-wenang oleh siapapun.

Bahwa berdasarkan peristiwa hukum diatas tersebut kiranya bahwa PEMOHON sebagai ahli waris adalah pihak yang menganggap hak dan /atau kewenangan konstitusionalnya telah dirugikan oleh dengan diterapkannya Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 Pasal 10 ayat (3) dan ayat (4) karena tanah yang jatuh pada negara tanpa hak untuk menuntut ganti kerugian berupa apapun.

C. ALASAN ALASAN PEMOHON

Dalam pengajuan permohonan ini, Pemohon tidak menyampaikan dalil-dalil hukum yang rumit atau teori teori hukum sulit dan canggih, karena menurut hemat PEMOHON, apapun yang menjadi alasan PEMOHON ini sudah sangat jelas dan kuat serta sulit dibantah, bahwa Pasal 10 ayat (3) dan (4) Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian secara nyata telah bertentangan terhadap Pasal 28D ayat (1), Pasal 28H ayat (4) dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945 yang menyebutkan setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun.

Adapun alasan-alasan permohonannya adalah sebagai berikut : Bahwa jika terjadi tindak pidana dalam Pasal 10 ayat (3) dan (4) Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian (disebut UU PLTP) adalah pelanggaran, yaitu :

a. Bahwa Pasal 10 ayat (3) UU PLTP menyebutkan jika terjadi tindak pidana yang dimaksud ayat (1) huruf (a) pasal ini maka pemindahan hak itu batal karena hukum sedangkan tanah yang bersangkutan jatuh pada negara, tanpa hak untuk menuntut ganti kerugian apapun.

Bahwa pengertian anak kalimat “jika terjadi tindak pidana” adalah mengandung pengertian tidak ada kepastian hukum bagi orang-orang yang memiliki tanah melebihi batas maksimal dan ini hanya berlaku bagi orang yang terkena tindak pidana meskipun memiliki tanah melebihi batas maksimum dibiarkan sekalipun sudah melanggar UU PLTP, sebagai contoh : masih banyak Dukrim-Dukrim lain di Republik Indonesia ini dalam artian memiliki tanah yang luasnya melebihi batas maksimum

(8)

kepemilikan, akan tetapi tanahnya tidak dirampas oleh negara sehingga jelas ada tindakan diskriminatif dan tidak adil.

Bahwa pengertian anak kalimat “tanah yang bersangkutan jatuh pada Negara tanpa hak untuk menuntut ganti kerugian berupa apapun” ini jelas merupakan sanksi yang sangat berat padahal tindak pidana ini hanya bersifat pelanggaran dan bukan kejahatan, yang seharusnya kita setujui bersama dengan penetapan luas tanah pertanian maka batas maksimal diambil oleh Pemerintah dengan ganti kerugian sesuai Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1960.

Sehingga Pasal 10 ayat 3 UU PLTP bertentangan dengan Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945.

b. Bahwa penjelasan Pasal 10 dan 11 adalah sebagai berikut : Sudah dijelaskan dalam penjelasan umum angka (10) apa yang ditentukan dalam pasal 10 ayat (3) dan (4) tidak memerlukan Keputusan Pengadilan tetapi berlaku karena hukum setelah ada ketentuan Hakim yang mempunyai ketetapan hukum untuk dijalankan yang menyatakan bahwa benar terjadi tindak pidana yang dimaksud dalam ayat (1), jika disini adalah penjelasan yang keliru dimana kalau tidak ada Keputusan Pengadilan pasti tidak ada ketentuan hukum yang mempunyai kekuatan yang untuk dijalankan, oleh karena kejelasan menjadi penjelasan ini tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dengan segala akibat hukumnya.

c. Bahwa Pasal 10 ayat (4) UU PLTP menyebutkan jika terjadi tindak pidana sebagai yang dimaksud dalam ayat (1) huruf (b) pasal ini maka kecuali di dalam hal termaksud dalam Pasal 7 ayat (1), tanah yang selebihnya dari luas maksimum jatuh pada negara yaitu jika tanah tersebut semuanya milik terhukum dan/atau anggota keluarganya dengan ketentuan bahwa ia diberi kesempatan untuk mengemukakan keinginannya mengenai tanah yang jatuh kepada negara itu ia tidak berhak atas ganti kerugian berupa apapun.

Bahwa pengertian anak kalimat “jika terjadi tindak pidana”

adalah pengertian yang tidak adil dan diskriminatif karena hanya yang terkena tindakan pidana saja sedangkan yang tidak kena tindakan pidana lepas dari ketentuan ini, yang seharusnya agar UU PLTP ini berjalan dengan baik sekalipun waktunya sudah ½ abad (47 tahun) tapi UU PLTP ini kata peribahasa “mati enggan hidup pun tidak mau” dan harus mengacu kepada Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 “tanah melebihi maksimal diambil oleh Pemerintah dengan ganti kerugian”.

Bahwa anak kalimat “mengenai tanah yang jatuh kepada negara itu tidak berhak atas ganti keruguian beruapa apapun” adalah perkataan yang melanggar hak azasi manusia sebab berdasarkan Undang-Undang

(9)

Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara 1960 Nomor 104 Penjabaran Tambahan Lembaran Negara No 2043) :

a. Pasal 20 ayat (1)

Hak milik adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuhi yang dapat dipunyai orang atas tanah dengan mengingat ketentuan Pasal 6

b. Pasal 18

Untuk kepentingan umum termasuk kepentingan bangsa dan negara serta kepentingan bersama dari rakyat hak-hak atas tanah dapat dicabut dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan Undang-Undang.

c. Pasal 17 ayat (3)

Tanah-tanah yang merupakan kelebihan dari batas maksimal termaksud dalam ayat (2) pasal ini diambil oleh Pemerintah dengan ganti kerugian untuk selanjutnya dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan menurut ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah.

d. Pasal 27

Hak milik hapus apabila : - Tanahnya jatuh pada Negara

1. Karena pencabutan hak berdasarkan Pasal 18

2. karena penyerahan dengan sukarela oleh pemiliknya 3. Karena diterlantarkan

4. karena ketentuan Pasal 21 ayat (3) dan Pasal 26 ayat (2) - Tanahnya musnah

e. BAB III Ketentuan pidana Pasal 52 :

Ayat (1) : Barangsiapa sengaja melanggar ketentuan dalam Pasal 15 dipidana dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 10.000,-

Ayat (2) : Peraturan Pemerintah dan Peraturan Perundangan yang dimaksud Pasal 19, 20, 24, dan 26 ayat (1), 46, 47, 48, 49 ayat (3) dan 50 ayat (2) dapat memberikan ancaman pidana atas pelanggaran peraturannya dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan atau denda setinggi-tingginya Rp 10.000,-

Ayat (3) : Tindak pidana dalam ayat (1) dan (2) Pasal ini adalah pelanggaran f. Peraturan Pemerintah Nomor : 224 Tahun 1961 Tentang Pelaksanaan,

Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Rugi Kerugian (Lembaran Negara 1961 Nomor 180 Penjabaran Tambahan Lembaran Negara Nomor 2322)

BAB III

Pemberian Ganti Kerugian

Pasal 6 ayat (1) : Kepada bekas pemilik dari tanah-tanah yang berdasarkan Pasal 1 Peraturan ini diambil oleh pemerintah untuk dibagi-

(10)

bagikan kepada yang hendak atau dipergunakan oleh Pemerintah sendiri diberikan ganti kerugian yang besarnya ditetapkan oleh Panitia Landreform Daerah TK II yang bersangkutan atas dasar perhitungan perkalian hasil bersih rata-rata selama lima tahun terakhir yang ditetapkan tiap hektarnya menurut golongan kelas tanahnya dengan menggunakan degresivitet sebagai tertera dibawah ini :

a. Untuk 5 ha yang pertama tiap hektarnya 10 kali hasil bersih setahun;

b. Untuk 5 hektar yang kedua, ketiga dan keempat tiap hektarnya 9 kali hasil bersih pertahun;

c. Untuk yang selebihnya tiap hektarnya 7 kali hasil bersih setahun.

Jadi dengan jelas dalam uraian Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 dan Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 tersebut mendapat ganti rugi akan tetapi keharusan harus dapat ganti rugi. Jadi jelaslah apa yang diatur dalam Pasal 10 ayat (4) UU PLTP tidak sejalan apa yang diatur dalam UU No. 5 tahun 1960 sehingga hal tersebut sangat bertentangan dengan Pasal 28H ayat (4) dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945.

Untuk penjelasan atas UU PLTP : Umum :

(1) Dalam rangka membangun masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila, Undang-undang Pokok Agraria (UU No 5/1960) menetapkan dalam Pasal 7, bahwa agar supaya tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan. Keadaan masyarakat tani Indonesia sekarang ini (…)

7. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Ya jadi alasan sudah jelas, di samping untuk pemerataan kehidupan hal mana bertentangan pula dengan prinsip Indonesia sekarang sudah tidak ada gaungnya lagi dan Negara Republik Indonesia tidak memakai prinsip sosialis Indonesia dengan tegas seharusnya dengan tidak ada warga negara Indonesia yang mengajukan untuk pengujian UU a quo, karena Pemerintah RI sendiri yang seharusnya merevisi UU a quo karena sudah lama 47 tahun, sudah ketinggalan dengan kemajuan perkembangan zaman bahwa pembuatan Undang- Undang Nomor 65 Tahun 1960 tidak memenuhi ketentuan pembentukan Undang-Undang berdasarkan Undang Undang Dasar 1945, sebab Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2).

Dua, dalam pembuatan Undang undang PLTP yang dituntut dengan waktu singkat sebagaimana dimaksud Pasal 7 ayat (2) Undang- Undang Nomor 5 tahun 1960, maka dalam keadaan memaksa tidak dibuatkan undang-undang dengan persetujuan DPR tapi diatur dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dan ini seharusnya sudah tidak ada lagi Undang-Undang PRP dan harusnya tugasnya

(11)

Pemerintah dan DPR untuk segera membuat undang-undang yang sesuai dengan perkembangan zaman dan berkembang teknologi pertanian perikanan yang tujuan demi kesejahteraan petani.

Bahwa ada hak konstitusional yang diberikan oleh Undang- Undang Dasar 1945 yaitu Pasal 28H ayat (4) ”setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil secara sewenang-wenang oleh siapapun, jadi jelas hak milik itu dijamin dan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945, sedang hak milik ada hak turun temurun terkuat dan terpenuhi yang dapat dipunyai oleh orang atas tanah dengan mengingat ketentuan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 dan dipertegas pula memori penjelasan Peraturan Pokok Agraria pada Pasal 20 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 dalam pasal ini disebutkan sifat-sifat dan hak milik dari yang membedakan dengan hak-hak lain. Hak milik adalah hak terkuat dan terpenuhi yang dapat dipunyai orang atas tanah pemberian sifat ini tidak berarti bahwa hak ini merupakan hak mutlak tak terbatas dan tidak dapat diganggu gugat sebagai hak aigendom menurut pengertian sifat yang demikian akan terang bertentangan dengan sifat-sifat hukum adat dan fungsi sosial bagi tiap-tiap hak kata-kata terkuat dan terpenuhi ini termaksud untuk membedakannya dengan hak guna usaha, guna bangunan, hak pakai dan hak lainnya yaitu untuk menunjukkan bahwa diantara hak atas tanah yang dapat dipunyai seseorang.

Bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu undang-undang yang diuji bahwa sangat jelas sekali dengan konstitusional dengan undang-undang yang akan diuji, sedangkan tanah yang jatuh pada negara tanpa hak untuk menuntut ganti kerugian berupa apapun hal ini mencerminkan tindakan pengambilalihan secara sewenang-wenang tidak memperhatikan syarat keadilan dan merugikan sepihak dan sangat bertentangan dengan Pasal 28H ayat (4) tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun, yang penjabarannya tidak boleh diambil secara sewenang- wenang oleh siapapun. Jadi harus ada aturan konstitusional yang tidak merugikan yang punya hak milik sekalipun mempunyai tanah melebihi dari batas maksimal diambil oleh Pemerintah harus dengan ganti kerugian. Bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang bersifat spesifik khusus dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menutup penalaran yang wajar dapat dipastikan terjadi bahwa sangat jelas Undang undang PLTP ini dibiarkan akan sangat merugikan sekali bagi orang-orang yang memiliki tanah yang melebihi dari batas maksimal yang sangat merugikan sepihak yaitu bekas pemilik tanah yang akhirnya Undang-Undang PLTP ini tidak didukung oleh semua warga negara Indonesia, sekalipun telah diundangkan 47 tahun yang lalu sehingga program renderform tidak berjalan dan ini harus dibagaimanakan entah salah siapa undang-undang nya atau yang membuatnya atau warga negaranya dan kalau itu a quo ini dibiarkan menjadi potensi terjadi kerugian akibat termasuk orang tua Pemohon yang kurang taktis atau

(12)

akan terjadi bagi yang lainnya. Adapun hubungan sebab akibat atau causal verbal antara kerugian dan berlakunya undang-undang dimohon untuk untuk rugi yang pasti akan menimbulkan sebab akibat yaitu merugikan bekas pemilik, tanah tidak mendapat ganti rugi sehingga merugikan sepihak yang akhirnya jadi suatu kesadaran dari orang-orang yang memiliki tanah melebihi batas maksimal, sehingga Undang-Undang BLTP tidak berjalan yang seharusnya dapat membuat rasa keadilan, baik pada bekas pemilik maupun kepada penerima bagian tanah dengan secara distribusi untuk pembagiannya.

adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi, maka ini pasti kerugian konstitusional tidak akan atau tidak lagi terjadi karena tidak ada pihak yang dirugikan baik bekas pemilik tanah maupun calon penerima pemilik tanah baru dengan secara restribusi pembagian tanah, sehingga program renderform bisa berjalan dan Undang-Undang BLTP berjalan dengan baik pernah didukung oleh semua warga Indonesia dilindungi secara adil untuk menuju masyarakat adil makmur tercapai.

Dari bukti-bukti yang diajukan ada 12 dalam pokok permohonan, maka berdasarkan fakta-fakta, alasan-alasan dan pendapat sebagaimana diuraikan diatas Pemohon memohon agar yang terhormat Bapak Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi dapat berkenan untuk memberikan keputusan sebagai berikut:

1. Menerima dan mengabulkan permohonan Pemohon;

2. Menyatakan Pasal 10 ayat (3), (4) dan Penjelasan Pasal 10 dan 11 Undang undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian bertentangan terhadap Pasal 28D ayat (1), Pasal 28H ayat (4) dan Pasal 28I ayat (2) Undang Undang Dasar 1945;

3. Menyatakan materi muatan Pasal ayat Pasal 10 ayat (3), (4) dan Penjelasan Pasal 10 dan 11 Undang undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dengan segala akibat hukumnya, hormat Pemohon 8. KETUA : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Baik terima kasih Saudara Yusri, sebenarnya kita menginginkan lebih singkat lagi tetapi sebelum itu halaman 5 dan 6 salah ketik tadi supaya perbaiki langsung ya Saudara Panitera nanti, kemudian halaman 10 kalimat kedua tidak jelas apa yang Saudara maksudkan bahwa sangat jelas sekali dengan konstitusional dengan undang-undang, nanti apa yang Saudara maksud coba jelaskan lagi kepada Panitera. Dengan kalimat itu nanti Saudara baca sendiri—Saudara tidak tegas apa yang ingin saudara bacakan itu.

Kemudian kami tadi mengatakan penjelasan undang-undang itu tidak usah dimasukkan di sini sehingga singkat biaya itu halaman 7 tadi penjelasan Undang-Undang PLTP itukan kalau bisa tidak usah dimuat itu,

(13)

kita fokus kepada Undang-Undang Dasar bahwa nanti dalam perdebatan itu muncul bisa Saudara majukan. Saya kira ini yang saya ingin kemukakan, kalau Petitum saya kira sudah tepat ini tetapi kurang fokus dan juga salah ketik halaman 5, halaman 6 halaman 10 mungkin yang saya tidak paham itu dengan konstitusional apa. Oleh karena itu kesempatan on the spot hari ini kalau Saudara ingin memperbaiki masih ada kesempatan ya nanti langsung diserahkan kepada Panitera, tapi sementara itu Pak Soedarsono

9. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Terima kasih Ketua.

Sauadara Yusri Ardisoma pada sidang yang lalu Saudara mengaku bahwa Saudara adalah anak angkat dari orang nama Dukrin alias Pak Kebon bin Suta betul kan?

10. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Betul

11. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Yang dihukum karena melanggar ketentuan luas tanah yang dia miliki. Yang ingin saya tanyakan, Tadi Saudara baca pada halaman 10 itu ya, saya tanyakan, apakah sekarang ini Saudara termasuk orang-orang yang mempunyai kelebihan tanah maksimum?

12. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Tidak Pak.

13. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Kalau tidak, bagaimana Saudara bisa mengatasnamakan orang- orang yang memiliki tanah yang melebihi batas maksimum, sedang Saudara sendiri tidak mempunyai luas tanah yang melebihi maksimum.

Kalau umpama, ya coba pelan-pelan dengarkan. Umpama permohonan Saudara ini dikabulkan umpama terus kerugian Saudara dimana dan apakah bisa hapus? wong Saudara tidak punya luas tanah yang lebih begitu?

14. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Begini Bapak Majelis, saya juga ada tanah cuma lebih sedikit begitu aja. Itu jadi kan kalau orang tua ratusan hektar saya hanya sepuluh hektaran gitu.

(14)

15. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Itu menurut mana daerah Subang ya?

16. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Ya.

17. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Itu apakah terkena itu luas tanah?

18. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Kena harusnya kan 7 hektar setengah.

19. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Itulah jadi Saudara kan tidak bisa namakan orang-orang ya mengatas namakan diri Saudara sendiri kan, justru itu sebetulnya yang harus diperjuangkan, sehingga nanti kalau umpama dikabulkan tanah Saudara yang akui melebihi batas maksimum untuk daerah Saudara itu nanti tidak terkena pasal ini, ya pasal yang Saudara mohonkan kan begitu. Itu bisa ditambahkan kalau perbaikan ya? Kalau perlu kalau tidak membawa apa ya barangkali tulis tangan atau bagaimana ya pokoknya hari ini sesuai tadi yang dikatakan Ketua itu harus hari ini karena batasnya sudah habis, terima kasih.

20. HAKIM KONSTITUSI : Prof. ABDUL MUKHSTIE FADJAR, S. H., M.S

Jadi Saudara Pemohon, pada sidang yang lalu sudah saya ingatkan agar permohonan ini difokuskan kepada adanya norma hukum yang menentukan bahwa kelebihan pembelian tanah itu kena pidana bisa diambil oleh negara dan tanpa ganti rugi ya, jadi sedangkan kasus- kasus yang menimpa orang tua angkat Saudara itu hanya sebagai ilustrasi dan mungkin menjadi alat bukti, sehingga pertanyaan Bapak Hakim Konstitusi Soedarsono tadi memang perlu mendapatkan perhatian artinya begini, kalau Anda tidak memiliki tanah yang lebih melebihi ketentuan undang-undang maka kalau permohonan dikabulkan itu mungkin hanya bisa atau Saudara akan menjadi pahlawan bagi orang lain yang mempunyai kelebihan tanah artinya sebagai pribadi karena tidak akan memulihkan putusan Mahkamah Konstitusi itu putusannya kedepan mengikat kedepan tidak berlaku surut sehingga memulihkan kembali tanah orang tua angkat yang diambil itu untuk kembali ke saudara tapi mengikat kedepan itu artinya nanti kalau ada tanah-tanah

(15)

yang dimiliki oleh saudara atau orang lain yang melebihi ketentuan Undang undang nah kalau permohonan itu dikabulkan itu baru punya pengaruh punya makna ini perlu anda renungkan jadi kalau toh dikabulkan pun seperti pada halaman 10 apabila permohonan dikabulkan kemungkinan tidak akan lagi mengalami kerugian, nah, itu hanya berlaku untuk orang yang masih memiliki tanah yang melebihi ketentuan undang-undang. Tapi untuk kasus yang menimpa orang tua angkat Saudara ya sudah tidak berpengaruh apa-apa putusan Mahkamah Konstitusi. Itu kalaupun mengabulkan karena itu sudah masa lalu ya, karena Mahkamah Konstitusi putusannya baru mengikat ke depan ya, itu yang perlu Anda pertimbangkan, apakah akan lanjut kecuali memang Anda punya kelebihan-kelebihan tanah yang bisa terancam oleh undang- undang itu, kalau tidak punya kelebihan tanah lagi ya tidak banyak artinya, begitu ya itu saja Bapak Ketua

21. KETUA : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Jadi itu direnungkan saja Pak ya, tidak usah dijawab pun boleh mungkin Saudara punya alasan lain nanti apakah itu menjadi alasan yang dijadikan dasar yang dijadikan untuk tindak lanjut. Tetapi sebelumnya karena Saudara mendalilkan di halaman 3 Saudara sebagai ahli waris, anak angkatlah dan ahli waris didalam awal permohonan Saudara sebutkan juga itu bahwa apakah Saudara bertindak untuk diri sendiri dan sebagai ahli waris kan begitu di halaman 1 coba perhatikan.

Untuk bisa mencapai kualifikasi seperti itu saudara harus sebutkan di halaman 1 itu Yusri bla bla, ini bertindak untuk diri sendiri maupun sebagai ahli waris kan, kalau mau halaman 3 ini merupakan satu dasar.

Nah yang ketiga kita akan periksa dulu alat bukti, alat bukti pertama tentunya bahwa Saudara anak angkat tidak ada dalam daftar ada nomor dua? Penetapan itu maksudnya, tapi tidak jelas betul kalau bisa saudara kasih copy yang jelas nanti Bapak ini tidak nampak mungkin copy yang dari Saudara saja di atau mungkin fotokopinya yang salah ini kan tintanya bergeser sehingga, jadi kita sahkan itu P1 itu fotokopi, ya saya kira sudah pas itu

P.2 penetapan, bagi saya tidak nampak Pak ya? Saya minta maaf tidak bisa saya baca tadi, paling tidak diktumnya menetapkan Pemohon sebagai ahli waris, kita sahkan saja penetapan itu tapi nanti Saudara tentu juga sebagai anak angkat ada bukti tambahan sebelum untuk membuktikan ahli waris, itu kan ada kalau bisa Saudara tambahkan di P2 penetapan ahli waris P3

KETUK PALU IX

(16)

P3. Undang-Undang No. 5 tahun 1956, biasanya kita memakai yang ada di dalam lembaran Negara. Pak Yusri supaya dihindari salah cetak, ini barang kali saudara peroleh dari mana? Kalau DPR harus ada tanda garuda, kalau cetakan yang lain bahayanya akan terjadi salah- salah cetak nanti Saudara cek saja nanti diperbaiki ya?

KETUK PALU IX

22. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Ya, Pak

23. KETUA : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Saya lihat tidak ada tanda garuda ini kalu bisa di perbaiki itu. Jadi untuk bukti P3 Undang-Undang 5 tahun 1960, saya kira nanti belakangan saja kita sahkan, supaya Saudara ganti dulu demikian juga Undang-Undang No. 56 PRP Tahun 1960 Penetapan Luas Tanah Pertanian, saya kira yang dicetak oleh penerbitan swasta ini bisa jadi salah. Jadi P3,4 belum kita sah kan.

Bukti P5 berita acara penyegelan kita sahkan saja P5 ini

Bukti P6 penyerahan atau penitipan barang bukti oleh kejaksaan negeri yang disita dari Pak Nukrim Ya? ya bukti P6 kita sah kan

Bukti P7. Fotokopy bukti kepemilikan tanah hanya dalam bentuk surat ketetapan iuran IPDA ya? artinya bukan surat keterangan apa ini termasuk bukti pemilikan tanah?. Jadi dia bukti P7. sampai halaman berapa itu1,2,3,4,5,6,7,8 halaman ini yang merupakan bukti kepemilikan Pak Nurkim ya? Apa kalau ada bukti lain tentunya bisa juga di tampilkan itu, saya kurang tahu apakah ini mencukupi sebagai alat bukti untuk merujuk bahwa kita memiliki tanah. Ya? kemudian kalu bisa tambahkan Saudara punya sendiri, kalau mau dalam kualifikasi Saudara juga menjadi Pemohon, baik jadi bukti P7 kita sah kan.

KETUK PALU IX

KETUK PALU IX

KETUK PALU IX

(17)

Bukti P8 putusan pengadilan negeri ini juga sangat sulit saya baca meskipun kaca mata saya sudah terang juga ini. Tapi fotokopinya mungkin ini barang kali, jadi buktinya ini Putusan Pengadilan Negri No.

38 Tahun 1979 kita sah kan saja.

Bukti P9 penyerahan barang bukti rampasan. Penyerahan pada hari ini Winarno Kepala Kejaksaan Negeri Subang berdasarkan keputusan bla, bla, bla menyerahkan barang bukti berupa bla, bla, bla kepada pemerintah daerah, oh kepada pemerintah daerah kita sahkan saja

Kemudian bukti 10. Putusan MA PK No. 16 yang isinya menolak permohonan PK Saudara kan? Itu sebagai ahli waris. Ya kita sah kan

Bukti 11. Fotokopi surat Kepala Kantor Agraria Kabupaten Subang, perihal permohonan ganti rugi atas kelebihan atas tanah kelebihan. Oh ini penyampain surat Saudara kepada gubernur ya? Jadi kantor agraria membuat pengantar saya kira begitu saja isinya, kita sah kan bukti P11

Bukti P12. penetapan unit keluarga wajib lapor serta luas pertanian yang tetap dimiliki oleh unit keluarga. Ini keputusan Bupati Kepala Daerah Tk II Subang No. 592, jadi isinya bahwa keluarga Dukrim mempunyai dua tanggungan keluarga bahwa tanah pertanian yang boleh tetap dimiliki pada angka 1 serta pertanian di sini tidak disebutkan dalam daftar lampiran yaitu seluas tanah yang boleh tetap dimiliki yang dimana yang dimaksud tanah yang dimiliki itu? Karena Saudara sambungkan ini. 8,768 ha ya? Baiklah kita sahkan saja yang sisanya diambil alih Pemerintah. Baik jadi, 12 alat bukti sudah kita sahkan tetapi ada suatu alat bukti sebagai pengantar yang menjadi bukti Saudara

KETUK PALU IX

KETUK PALU IX

KETUK PALU IX

KETUK PALU IX

(18)

untuk memperoleh bukti P2 pemetapan pengadilan sebagai ahli waris tentu ada kan? Apakah anak angkat dsb, baik silakan.

24. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Saudara Yusri ya? Saya ingin kejelasan ya, sehingga kami bisa tahu sebetulnya tujuan Saudara ini. Andaikata, andaikata ini lho permohonan Saudara itu dikabulkan yaitu Pasal 10 itu tadi dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, andaikata begitu terus apa yang akan Anda perbuat atau perjuangkan selanjutnya kira-kira apa?

25. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Terima kasih, jadi begini jadi—kan saya juga punya 10 ha, jadi jangan sampai masuk seperti orang tua lagi ada pidana seperti itu.

26. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Okelah, itu sudah jelas ya terus kaitannya dengan Saudara sebagai ahli waris dari almahrum Durlim itu bagaimana?

27. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Ya, maksudnya kalau tadi ini dibatalkan ya kemungkinan tadi berlaku surut tidak mungkin untuk mendapatkan ganti rugi dan tanahnya kembalilah gitu, hanya mungkin kami di sana dari orang yang mempunyai mulai dari batas maksimal supaya jangan terkena kasus yang ini begitu Pak.

28. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Tapikan kan tidak ada hubunganya yang sawahnya almarhum kan? Orang-orang kan? Orang yang sama dengan Andalah begitu yang mempunyai kelebihan luas tanah begitu, kami hanya ingin. Saudara kan jauh-jauh ke sini sudah tentu dengan pikiran, pengorbanan, biaya dan sebagainya, kan harus jelas keinginnanya kan? Terima kasih.

29. KETUA : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Tapi Saudara Yusriya? Karena Saudara juga mengajukan surat bupati sebagai pengantar ganti rugi kepada gubernur yang saudara lampirkan sebagai alat bukti tentu mungkin dalam pikiran Saudara tidak usah ragu-ragu menyatakan mungkin Saudara memperjuangkan ganti ruginya kan begitu? Jadi tidak usah terlalu anu, karena Saudara buat itu sebagai alat bukti sampai sekarangkan belum ada ketetapan apa itu ditolak, kan begitu?

(19)

30. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Ya. Ini kan dulu dibuatkan ini Pak? Jadi yang mengusulkan kepala kantor BP agraria untuk mendapatkan ganti rugi sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.224 Tahun 61, tapi sampai sekarang belum jelas ditolak belum, apa belum.

31. KETUA : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Nah, itulah yang saya maksud jangan ragu-ragu Saudara menjawab tadi pertanyaan itu bahwa sudah membutuhkan juga ini mungkin untuk memperkuat soal ganti rugi. Jadi jangan apa namanya terlalu sopan sehingga Saudara membungkus hanya untuk kepentingan Saudara yang masa sekarang kan begitu? Tidak ada kelirunya itu.

Baiklah, jadi saya kira kita anggap kalau ada lagi yang Saudara ingin kemukakan?

32. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Ya, maksud saya mungkin perbaikan ini harus hari ini selesai, terus mungkin tadi bukti tambahan saya mungkin anak angkat.

33. KETUA : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Kalau itu bisa belakangan, bisa disusulkan karena proses pembuktian masih berlangsung, tetapi perbaikan ini dihalaman 1 Saudara bertindak untuk diri sendiri atau sebagai ahli waris, kemudian halaman 5, halaman 6 dipenjelasan undang-undang tidak usah dimuat.

Saya kira demikian Saudara Yusri, nanti kami berikan batas waktu jam kantor tentunya. Jam 16. 00 ya perbaikanya kalau tidak diperbaiki lagi, ya namanya saran mau diterima mau tidak tidak apa-apa tetapi ya langsung saja nanti kepada Kepaniteraan.

Saya kira dengan pemberitahuan ini dan beberapa hal yang merupakan catatan sidang pada pemeriksaan pendahuluan yang kedua ini kita anggap telah selesai dan setelah perbaikan Saudara selesai tentu kita akan laporkan kepada Pleno apakah sidang ini akan dilanjutkan dengan mendengar pemerintah termasuk Pemerintah Daerah Kabupaten Subang atau DPR nanti akan kami tentukan sidang berikutnya kalau misalnya Pleno menyetujui sidang yang bersifat mendengar Pemerintah maupun DPR.

Baik dengan pengumuman ini sidang kita nyatakan ditutup dan akan di buka kembali di hari yang akan datang dan ditentukan kemudian, sidang kita tutup.

(20)

KETUK PALU 3X

SIDANG DITUTUP PUKUL 11.47 WIB

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pengajuan permohonan ini Pemohon tidak menyampaikan dalil-dalil hukum yang rumit atau teori hukum yang sulit dan canggih karena menurut hemat Pemohon apa yang menjadi

Di dalam kesempatan sidang yang terhormat ini izinkan saya selaku Kepala Badan Pertanahan Nasional menyampaikan beberapa perspektif penting kepada yang mulia Majelis Hakim, berkaitan

Karena DPR sebagai lembaga negara yang membentuk undang-undang dalam mekanisme demokrasi yang wajib memberi keterangan di depan MK dalam hal adanya permohonan

[r]

Sedangkan kegiatan PKL pada manajemen asuhan gizi bertujuan untuk dapat tercapainya kompetensi yang terdiri dari: kemampuan melakukan self assessment dalam rangka

Hormon yang mempengaruhi diantaranya adalah brassinosteroid (BRs) dan auksin yang merupakan dua phytohormon penting dalam mengendalikan berbagai tanggapan

• 5 jika siswa hanya menghubungkan sifat- sifat kubus dan sifat-sifat balok saja, tanpa menuliskan hubungan kubus dan balok • 4 jika siswa hanya dapat menghubungkan. 7-9 sifat

Lampiran dari Informasi No: 125 – 2018 Halaman 8 dari 9 Dengan memperhatikan komentar tersebut diatas, Sub Komite meminta WG untuk mempertimbangkan hal ini dalam