4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Data Responden
Analisa dan pembahasan dilakukan berdasarkan data lapangan melalui kuesioner yang telah dikumpulkan. Kuesioner yang berhasil dikumpulkan berjumlah 201 yang terdiri dari 31 mandor dan 170 tukang. Kuesioner ini disebarkan selama dua bulan mulai dari 12 Maret 2018 sampai 11 Mei 2018 ke 4 proyek High Rise Building dan 5 proyek perumahan yang ada di Surabaya.
Kuesioner dapat dilihat pada lampiran 1.
Dari pihak mandor, kuesioner diisi oleh mandor High Rise Building maupun mandor perumahan. Dari tukang, kuesioner dijawab oleh tukang batu, tukang kayu dan tukang besi baik dari proyek High Rise Building maupun dari proyek perumahan. Dengan bantuan penjelasan dalam mengisi kuisioner untuk pengumpulan data mandor dan tukang, agar tidak terjadi kesalahan pemikiran pada setiap pertanyaan.
Rentang umur responden yang mengisi terdapat bermacam – macam. Dari pihak mandor sebanyak 39% responden berumur 20-30 tahun, 29% responden berumur 40-50 tahun, 16% responden berumur 30-40 tahun, 10% responden berumur kurang dari 20 tahun, dan 6% responden berumur lebih dari 50 tahun.
Sedangkan dari pihak tukang sebanyak 41% responden berumur 20-30 tahun, 27%
responden berumur 30-40 tahun, 16% responden berumur 40-50 tahun, 8%
responden berumur kurang dari 20 tahun, dan 8% responden berumur lebih dari 50 tahun. Pembagian proporsi rentang umur responden dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Diagram umur responden
Untuk tingkat pendidikan responden dari pihak mandor, sebanyak 36%
responden memiliki tingkat pendidikan SD, dan 32% responden memiliki tingkat pendidikan SMP dan SMA, sedangkan dari pihak tukang sebanyak 37%
responden memiliki tingkat pendidikan SMP, 32% responden memiliki tingkat pendidikan SMA, dan 31% responden memiliki tingkat pendidikan SD.
Pembagian proporsi tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2. Diagram tingkat pendidikan responden
Sedangkan untuk pengalaman kerja responden dari pihak mandor sebanyak 74% responden memiliki pengalaman lebih dari 5 tahun, dan 13%
responden memiliki pengalaman kurang dari 2 tahun dan pengalaman 2 – 5 tahun.
Dari pihak tukang sebanyak 47% responden memiliki pengalaman lebih dari 5
10%
39%
16%
29%
6%
Mandor
<20 tahun 20-30 tahun 30-40 tahun 40-50 tahun
>50 tahun
8%
41%
27%
16%
8%
Tukang
<20 tahun 20-30 tahun 30-40 tahun 40-50 tahun
>50 tahun
36%
32%
32%
Mandor
SD SMP SMA
31%
37%
32%
Tukang
SD SMP SMA
tahun, 28% responden memiliki pengalaman kurang dari 2 tahun, dan 25%
responden memiliki pengalaman 2-5 tahun. Pembagian proporsi pengalaman kerja responden dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3. Diagram pengalaman kerja responden
4.2. Hasil Uji Instrumen Kuesioner
Kuesioner ini diuji oleh dua uji instrumen yaitu uji validitas dan uji reliabilitas dengan menggunakan program SPSS ver. 23.0. Uji validitas dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instrument. Sedangkan uji reliabilitas dilakukan untuk sejauh mana pengukuran dari suatu tes tetap konsisten setelah dilakukan berulang-ulang terhadap subjek dan dalam kondisi yang sama.
4.2.1 Uji Validitas
Pengujian validitas yang dilakukan dengan melalui program SPSS ver. 23.0 dapat dilihat pada Lampiran 2 dengan menggunakan korelasi product moment menghasilkan nilai masing-masing item. Hasil dari 201 responden dinyatakan valid. Dapat dilihat bahwa semua nilai r hitung indikator pertanyaan lebih besar dari r Tabel 5% (α = 0.1384), sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator- indikator tersebut dapat digunakan untuk mengukur variabel penelitian. Untuk lebih jelasnya disajikan dalam Tabel 4.1.
13%
13%
74%
Mandor
<2 tahun 2-5 tahun
>5 tahun
28%
25%
47%
Tukang
<2 tahun 2-5 tahun
>5 tahun
Tabel 4.1. Uji Validitas Variabel
4.2.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan pendekatan internal consistency reliability yang menggunakan Cronbach Alpha untuk mengidentifikasikan seberapa baik item-item dalam kuisioner berhubungan antara satu dengan yang lainnya, uji reliabiltas dapat dilihat pada Lampiran 3. Sebuah faktor dinyatakan reliabel/handal jika koefisien Alpha lebih besar dari 0,6.
Adapun reliabilitas untuk masing-masing variabel hasilnya disajikan pada Tabel 4.2. yang menunjukan bahwa semua item memenuhi syarat dan dinyatakan sudah reliabel.
Item r Hitung Keterangan
Sikap A 0.388 Valid
Sikap B 0.433 Valid
Sikap C 0.389 Valid
Sikap D 0.281 Valid
Sikap E 0.461 Valid
Pengalaman A 0.279 Valid
Kemampuan A 0.521 Valid
Kemampuan B 0.411 Valid
Kemampuan C 0.484 Valid
Kemampuan D 0.580 Valid
Motivasi A 0.508 Valid
Motivasi B 0.529 Valid
Lingkungan A 0.455 Valid
Lingkungan B 0.578 Valid
Lingkungan C 0.612 Valid
Pelatihan A 0.424 Valid
Pelatihan B 0.382 Valid
Insentif A 0.384 Valid
Insentif B 0.537 Valid
Reputasi A 0.494 Valid
Tabel 4.2. Uji Reabilitas Variabel
No Item Variabel
Reablititas Keterangan
1 Sikap A 0.785 Reliabel
2 Sikap B 0.783 Reliabel
3 Sikap C 0.786 Reliabel
4 Sikap D 0.792 Reliabel
5 Sikap E 0.782 Reliabel
6 Pengalaman A 0.790 Reliabel
7 Kemampuan A 0.779 Reliabel
8 Kemampuan B 0.784 Reliabel
9 Kemampuan C 0.780 Reliabel
10 Kemampuan D 0.774 Reliabel
11 Motivasi A 0.778 Reliabel
12 Motivasi B 0.777 Reliabel
13 Lingkungan A 0.782 Reliabel
14 Lingkungan B 0.775 Reliabel
15 Lingkungan C 0.772 Reliabel
16 Pelatihan A 0.784 Reliabel
17 Pelatihan B 0.792 Reliabel
18 Insentif A 0.795 Reliabel
19 Insentif B 0.777 Reliabel
20 Reputasi A 0.780 Reliabel
4.3 Hasil Analisa Kuesioner
Ada 20 indikator aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan di Surabaya dari sisi mandor yang dicantumkan dalam Tabel 4.3. dan dilihat dari sisi semua tukang dalam Tabel 4.4. Perhitungan analisa statistik deskriptif dihitung menggunakan SPSS ver. 23.0 yang tercantum pada Lampiran 4 dan Lampiran 5.
Tabel 4.3. Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang (Responden Mandor)
Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan (Responden Mandor)
Nilai
Mean Standart Deviasi A. Sikap
a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah
ditetapkan 4.71 0.46
b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang
ditetapkan 4.26 0.44
c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.52 0.63
d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit atau belum pernah
melakukan pekerjaan tersebut sebelumnya 4.10 0.60
e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain 4.13 0.62 B. Pengalaman Kerja
a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu, seperti
ahli kayu, batu dan besi selama 2 sampai >5 tahun 4.65 0.49 C. Kemampuan
a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.58 0.56 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja
maupun mandor 4.19 0.65
c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang
tertentu 4.35 0.66
d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung 2.84 1.04 D. Motivasi
a. Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan
sandang, pangan, papan) 4.26 0.68
b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau
dana pensiun 4.45 0.77
E. Lingkungan kerja
a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai 4.16 0.73
b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.23 0.76
c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan
bawahan 4.58 0.56
F. Pelatihan
a. Mendapatkan on the job training 4.39 0.80
b. Mendapatkan off the job training 3.48 1.21
G. Pemberian Insentif
a. Mendapatkan bonus finansial 3.39 0.88
b. Mendapatkan pujian dari mandor 3.19 0.79
H. Reputasi
a. Mendapat kepercayaan dari mandor 4.03 0.55
Tabel 4.4. Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang (Responden Tukang)
Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan
(Responden Tukang Batu+Tukang Kayu+Tukang Besi)
Nilai Mean Standart
Deviasi A. Sikap
a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah
ditetapkan 4.24 0.58
b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan 4.19 0.59
c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.26 0.68
d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit atau belum pernah
melakukan pekerjaan tersebut sebelumnya 4.04 0.67
e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain 3.89 0.78 B. Pengalaman Kerja
a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu, seperti ahli
kayu, batu dan besi selama 2 sampai >5 tahun 4.42 0.56 C. Kemampuan
a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.34 0.53 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja
maupun mandor 4.32 0.62
c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang
tertentu 4.24 0.58
d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung 3.04 0.98 D. Motivasi
a. Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan
sandang, pangan, papan) 4.33 0.65
b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau
dana pensiun 4.38 0.75
E. Lingkungan kerja
a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai 4.34 0.76
b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.21 0.6
c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan
bawahan 4.27 0.63
F. Pelatihan
a. Mendapatkan on the job training 4.22 0.67
b. Mendapatkan off the job training 3.79 0.92
G. Pemberian Insentif
a. Mendapatkan bonus finansial 3.34 1.1
b. Mendapatkan pujian dari mandor 2.97 0.9
H. Reputasi
a. Mendapat kepercayaan dari mandor 3.79 0.81
Dari Tabel 4.3. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan mandor sebagai responden yaitu
“Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan”
(mean 4.71), “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.65),
“Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan keahlian” (mean 4.58),
“Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” (mean 4.58), dan “Bekerja untuk meraih kesuksesan” (mean 4.52). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan mandor sebagai responden adalah “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung”
(mean 2.84).
Tabel 4.4. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan tukang sebagai responden (tukang batu + tukang kayu + tukang besi) yaitu “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.42), “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun” (mean 4.38), “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” (mean 4.34), “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai”
(mean 4.34), dan “Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja” (mean 4.33).
Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan tukang sebagai responden (tukang batu + tukang kayu + tukang besi) adalah “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 2.97).
Dari Tabel 4.3. dapat dilihat bahwa hampir semua aspek berdasarkan mandor sebagai responden memiliki hasil mean diatas 4. Namun terdapat pula hasil mean dibawah 4, aspek tersebut adalah “Memiliki sertifikat kompetensi tukang bangunan gedung” (mean 2.84), “Mendapatkan off the job training” (mean 3.48), “Mendapatkan bonus finansial” (mean 3.39), dan “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 3.19). Sedangan dari tabel 4.4. dapat dilihat juga bahwa hampir semua aspek berdasarkan tukang sebagai responden memiliki hasil mean diatas 4.
Namun terdapat juga hasil mean dibawah 4, aspek tersebut meliputi “Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain” (mean 3.89), “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung” (mean 3.04), “Mendapatkan off the job training” (mean 3.79), “Mendapatkan bonus finansial” (mean 3.34),
“Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 2.97), “Mendapat kepercayaan dari mandor” (mean 3.79).
Selain itu dapat dilihat dari Tabel 4.3. dan Tabel 4.4. terdapat kesamaan dan perbedaan aspek – aspek yang paling mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan antara mandor dan tukang sebagai responden dilihat dari lima hasil rata- rata tertinggi. Untuk mempermudah melihat perbedaan dan persamaan tersebut dibuat tabel 4.5.
Tabel 4.5. Perbandingan Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan dari Sisi Mandor dan Tukang
Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan
Mandor Tukang
Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu
Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu
Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu
Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu
Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan
Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan sandang, pangan, papan)
Bekerja untuk meraih kesuksesan
Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun
Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan
Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai
Dari Tabel 4.5. dapat dilihat persamaan aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan antara mandor dan tukang antara lain
“Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” dan “Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan bidang keahlian”.
Dasar pertimbangan mandor dan tukang sama-sama memilih pengalaman menjadi aspek terpenting yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan disebabkan karena sebagian besar mandor memulai karirnya berawal dari menjadi seorang tukang. Berdasarkan pengalaman mandor tersebut, tukang yang sudah terlatih dan sering melakukan pekerjaan sesuai bidang keahliaanya serta mampu
mengambil solusi ketika menghadapi masalah dalam pekerjaan akan memudahkan tukang tersebut dalam meraih peluang menjadi mandor. Demikian pula dengan tukang, dengan memiliki pengalaman bekerja sebagai tukang dapat dikatakan bahwa tukang telah terampil dan ahli dalam melakukan pekerjaannya.
Pengalaman kerja yang dimiliki oleh seorang tukang akan menentukan prestasi kerja. Pengalaman kerja yang cukup, dalam arti waktu yang telah dilalui oleh seorang tukang dalam melaksanakan tugasnya akan mendukung kinerja tukang.
Aspek yang sama berikutnya adalah “Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan bidang keahlian”. Dari sisi mandor tukang dengan kemampuan menggunakan alat dapat meringankan pekerjaan mandor. Mandor tidak perlu memberi pelatihan kepada tukang. Sedangkan dari sisi tukang, alat merupakan sarana untuk memudahkan tukang dalam melaksanakan pekerjaan. Hal ini menunjukan bahwa tukang yang mengetahui fungsi alat dan mahir dalam menggunakan alat memiliki kinerja yang baik dibandingkan tukang yang tidak bisa menggunakan alat.
Adapun perbedaan aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan dilihat dari Tabel 4.5. berdasarkan mandor sebagai responden adalah “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan”, “Bekerja untuk meraih kesuksesan”, dan “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan”. Bagi mandor menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu adalah hal penting. Mandor dituntut agar para tukangnya dapat menghasilkan pekerjaan sesuai dengan target waktu. Oleh karena itu mandor menilai bahwa tukang yang memiliki kinerja yang baik adalah tukang yang dapat bekerja sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Aspek berikutnya adalah “Bekerja untuk meraih kesuksesan”. Salah satu karakteristik agar dapat berprestasi dalam pekerjaan adalah adanya keinginan dalam diri untuk mencapai kesuksesan. Sebagian besar mandor memulai karirnya berawal dari menjadi seorang tukang. Dengan keinginan kuat untuk mencapai kesuksesan, tukang akan terdorong bekerja sebaik-baiknya agar karir nya dapat meningkat. Secara tidak langsung hal tersebut dapat meningkatkan kinerja tukang.
Aspek terakhir adalah adanya “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan”. Menurut mandor lingkungan kerja yang harmonis dapat
dibentuk dari suasana tempat kerja yang positif dan kondusif. Tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan kerja yang positif dan kondusif akan meningkatkan semangat kerja yang tinggi. Semangat kerja yang tinggi tentu akan mendukung kinerja tukang bangunan.
Sedangkan hasil kuesioner berdasarkan tukang sebagai responden dilihat dari Tabel 4.5. aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan adalah “Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena bekerja”, “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”, dan yang terakhir adalah “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai”. Menurut tukang adanya motivasi pemenuhan kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) dapat memberi kepuasan dan mendorong semangat kerja tukang. Tukang akan lebih terpacu dalam melakukan pekerjaannya sehingga kinerja tukang meningkat.
Aspek selanjunya adalah “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”. Dengan mendapat tunjangan tersebut, tukang akan merasa lebih aman terhadap resiko pekerjaannya. Tukang yang memiliki rasa aman lebih terbebas dari rasa was-was dan gelisah ketika bekerja, sehingga mereka bisa melakukan pekerjaannya dengan lebih baik.
Aspek terakhir adalah “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai”. Fasilitas kerja yang memadai dengan kondisi yang layak pakai dan terpelihara dengan baik akan membantu kelancaran kerja. Hal ini menunjukan bahwa tukang membutuhkan fasilitas yang baik pada area proyek seperti mushola, toilet, area merokok, penerangan dan barak pekerja agar dapat mendorong tukang dalam bekerja.
Dari Tabel 4.3. dan Tabel 4.4. dapat dilihat pula bahwa terdapat kesamaan aspek terendah baik antara mandor dan tukang. Aspek terendah tersebut adalah “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung” dan
“Mendapatkan pujian dari mandor”. Tujuan dari adanya sertifikat ini adalah sebagai pertanggung jawaban kepada masyarakat dan bukti sah kompetensi seorang tukang. Dari hasil kuesioner menunjukan bahwa aspek memiliki sertifikat kompetensi tukang bangunan gedung menempati peringkat terendah dikarenakan sebagian besar proyek konstruksi di Surabaya belum mewajibkan setiap tukang
untuk memiliki sertifikat tersebut. Sehingga, adanya sertifikat yang dimiliki tukang tidak mempengaruhi kualitas dan kinerja tukang dalam bekerja.
Aspek terendah selanjutnya antara mandor dan tukang adalah “Mendapatkan pujian dari mandor”. Jika pekerjaan dihargai oleh atasannya, bawahan akan mengerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Namun, dari hasil kuesioner pemberian pujian dari mandor kepada tukang kurang dibutuhkan dalam meningkatkan kinerja tukang. Hal tersebut terjadi dikarenakan tidak setiap tukang terdorong untuk meningkatkan kinerjanya hanya karena mendapatkan pujian dari mandor. Sebagian dari responden merasa biasa saja ketika mendapatkan pujian.
Dalam Tabel 4.3. merupakan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan mandor sebagai responden. Mandor yang dimaksud disini meliputi mandor rumah dan mandor High Rise Building. Untuk melihat lebih detail apa saja perbedaan aspek antara mandor rumah dan mandor High Rise Building dapat dilihat dalam Tabel 4.6.
Dari Tabel 4.6. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari mandor rumah yaitu “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan” (mean 4.73),
“Bekerja untuk meraih kesuksesan” (mean 4.73), “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” (mean 4.73), “Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu” (mean 4.45), dan “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” (mean 4.73). Sedangkan lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari mandor High Rise Building yaitu “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” (mean 4.85), “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan” (mean 4.7), “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun” (mean 4.7), “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” (mean 4.65), dan “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” (mean 4.65). Perhitungan analisa statistik deskriptif dihitung menggunakan SPSS ver. 23.0 yang tercantum pada Lampiran 6 dan Lampiran 7.
Tabel 4.6. Perbandingan Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang ( Responden Mandor Rumah dan Mandor High Rise Building )
Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan ( Responden Mandor Rumah dan Mandor High Rise Building)
Mean
Mandor Rumah
Mandor High Rise
Building A. Sikap
a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah
ditetapkan 4.73 4.7
b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan 4.27 4.25
c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.73 4.4
d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit 4.09 4.1
e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain 4 4.2 B. Pengalaman Kerja
a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu 4.73 4.6 C. Kemampuan
a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.09 4.85 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun
mandor 4.09 4.25
c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu 4.45 4.3 d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung 2.27 3.15 D. Motivasi
a. Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena
bekerja 3.82 4.5
b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana
pensiun 4 4.7
E. Lingkungan kerja
a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai 3.64 4.45
b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.18 4.25
c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan 4.45 4.65 F. Pelatihan
a. Mendapatkan on the job training 4.27 4.45
b. Mendapatkan off the job training 2.36 4.1
G. Pemberian Insentif
a. Mendapatkan bonus finansial 3.18 3.5
b. Mendapatkan pujian dari mandor 2.82 3.4
H. Reputasi
a. Mendapat kepercayaan dari mandor 3.82 4.15
Untuk mengetahui perbedaan aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang antara mandor rumah dan mandor High Rise Building dapat dilihat dalam Tabel 4.7.
Tabel 4.7. Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan (Responden Mandor Rumah dan Mandor High Rise Building) Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang
Bangunan
Mandor Rumah Mandor High Rise Building Menyelesaikan pekerjaan sesuai
dengan target waktu yang telah ditetapkan
Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan
Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu
Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu
Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan
Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan
Bekerja untuk meraih kesuksesan Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu
Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu
Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun
Berdasarkan Tabel 4.7. dapat dilihat bahwa terdapat persamaan aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang antar mandor rumah dan High Rise Building. Aspek tersebut meliputi “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan”, “,Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu”, dan “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan”. Hal ini menunjukan bahwa ketiga aspek tersebut sama-sama dibutuhkan dalam proyek perumahan maupun High Rise Building. Disisi lain terdapat perbedaan aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang antara mandor rumah dan High Rise Building.
Aspek tertinggi menurut mandor rumah adalah “Bekerja untuk meraih kesuksesan” dan “Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu”. Jumlah tukang pada proyek perumahan lebih sedikit dibandingkan dengan proyek High Rise Building, sehingga peluang untuk naik pangkat pada tukang proyek perumahan juga lebih besar dibandingkan dengan proyek High
meraih kesuksesan. Sedangkan untuk aspek memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu, lebih diperlukan oleh tukang proyek perumahan. Mengingat proyek perumahan memiliki pekerjaan yang lebih beragam dan rumit dibandingkan dengan proyek High Rise Building yang cenderung memiliki teknik pekerjaan berulang.
Berbeda dengan mandor rumah aspek tertinggi menurut mandor High Rise Building adalah “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” dan
“Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”.
Peralatan yang dibutuhkan pada proyek High Rise Building kebanyakan menggunkaan peralatan mekanis, dimana peralatan tersebut membutuhkan keahlian khusus dalam penggunaannya. Sebagai contoh, pekerjaan pembengkokan tulangan pada proyek High Rise Building yang memiliki dimensi tulangan yang lebih besar dari pada proyek perumahan, sehingga dibutuhkan peralatan khusus, yaitu bar bender. Sedangkan untuk aspek mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun lebih dibutuhkan oleh tukang yang bekerja pada proyek High Rise Building, mengingat resiko pekerjaan proyek High Rise Building yang lebih tinggi dibandingkan dengan proyek perumahan.
Tabel 4.4. menunjukan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan gabungan antara tiga keahlian tukang sebagai responden.
Keahlian tukang disini adalah tukang batu, tukang kayu, dan tukang besi. Untuk melihat lebih detail apa saja aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang sesuai dengan keahlian masing-masing di rangkum dalam Tabel 4.8. Perhitungan analisa statistik deskriptif dihitung menggunakan SPSS ver. 23.0 yang tercantum pada Lampiran 8, Lampiran 9 dan Lampiran 10. Sedangkan Tabel 4.11.
menunjukan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang menurut tukang rumah dan tukang high rise building dengan perhitungan analisa statistik deskriptif yang tercantum pada Lampiran 11 dan Lampiran 12.
Tabel 4.8. Perbandingan Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang (Responden Tukang Batu, Tukang Kayu dan Tukang Besi)
Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan
Mean Tukang
Batu
Tukang Kayu
Tukang Besi A. Sikap
a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target
waktu yang telah ditetapkan 4.18 4.28 4.26
b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar
yang ditetapkan 4.14 4.21 4.23
c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.14 4.33 4.36 d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit 4.08 3.95 4.11 e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari
orang lain 3.68 4.05 4
B. Pengalaman Kerja
a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian
tertentu 4.26 4.47 4.6
C. Kemampuan
a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.22 4.41 4.4 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan
kerja maupun mandor 4.25 4.34 4.38
c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam
menguasai bidang tertentu 4.2 4.21 4.34
d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan
Gedung 2.78 3.33 3.02
D. Motivasi
a. Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan)
terpenuhi karena bekerja 4.15 4.31 4.6
b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi
kecelakaan, atau dana pensiun 4.37 4.4 4.36
E. Lingkungan kerja
a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas
memadai 4.11 4.4 4.57
b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.2 4.24 4.19
c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara
atasan dan bawahan 4.26 4.22 4.34
F. Pelatihan
a. Mendapatkan on the job training 4.14 4.21 4.36 b. Mendapatkan off the job training 3.83 3.6 3.96 G. Pemberian Insentif
a. Mendapatkan bonus finansial 3.17 3.4 3.51
b. Mendapatkan pujian dari mandor 3.14 2.81 2.94 H. Reputasi
a. Mendapat kepercayaan dari mandor 3.75 3.78 3.87
Dari Tabel 4.8. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dari tukang batu sebagai responden yaitu
“Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”
(mean 4.37), “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.26),
“Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” (mean 4.26),
“Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” (mean 4.25), dan “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” (mean 4.22).
Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung” (mean 2.78).
Berdasarkan tukang kayu sebagai responden, lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang yaitu “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.47), “Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.41), “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun” (mean 4.40), “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai” (mean 4.40), dan “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” (mean 4.34). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 2.81).
Berdasarkan tukang besi sebagai responden menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang yaitu “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.60), “Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan sandang, pangan, papan)” (mean 4.60),
“Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai” (mean 4.57), “Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.40),
“Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” (mean 4.38). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 2.94).
Dari Tabel 4.8. mengenai perbandingan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang antara tukang batu, tukang kayu dan tukang besi,
dirangkum lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang menurut jenis keahlian tukang dalam Tabel 4.9.
Tabel 4.9. Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan (Responden Tukang Batu, Kayu dan Besi)
Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan
Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Memiliki pengalaman
pada bidang keahlian tertentu
Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu
Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu
Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu
Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu
Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu
Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor
Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor
Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor Mendapatkan tunjangan
kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun
Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun
Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena bekerja
Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan
Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai
Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai
Berdasarkan Tabel 4.9. dapat dilihat bahwa aspek tertinggi dari tukang batu, tukang kayu, dan tukang besi terdapat pada segi pengalaman, motivasi, lingkungan dan kemampuan. Kelima aspek tersebut memiliki rata-rata berkisar antara 4.2 sampai 4.6. Jika dilihat lebih detail lagi terdapat tiga aspek yang sama- sama masuk dalam urutan lima ranking terbesar menurut tukang batu, tukang kayu dan tukang besi. Ketiga aspek tersebut adalah “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu”, “Memiliki kemampuan menggunakan alat” dan “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor”. Hal ini menunjukan bahwa keahlian tukang batu, tukang kayu dan tukang besi didapatkan dari pengalaman kerja yang pernah dikerjakan sebelumnya. Keahlian yang terbentuk dari pengalaman akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja
tukang. Sedangkan aspek “Kemampuan menggunakan alat sesuai dengan keahliaannya” juga menjadi hal yang penting bagi tukang. Setiap jenis tukang harus mampu menggunakan alat sesuai dengan bidang keahliannya. Seperti, tukang batu menggunakan molen, vibrator, trowel, sendok semen, palu, dan cangkul; tukang kayu menggunakan gergaji, mesin serut, mesin bor, mesin amplas, dan catut; tukang besi menggunakan pemotong besi, pembengkok besi, tang, dan catut. Aspek ketiga adalah “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor”. Kemampuan berkomunikasi dibutuhkan bagi ketiga jenis keahlian tukang, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam penyampaian dan penerimaan informasi, sehingga pekerjaan dapat dikoordinasikan dengan baik.
Pada Tabel 4.10 dapat dilihat aspek tertinggi dari tukang batu, tukang kayu, dan tukang besi yang berbeda terdapat pada aspek “Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi”, “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”, “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai”, dan “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” memiliki jarak ranking yang jauh antara tukang batu, tukang kayu dan tukang besi.
Tabel 4.10. Aspek Motivasi dan Lingkungan Kerja
Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan
Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi
Mean Rank Mean Rank Mean Rank
D. Motivasi
a. Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan,
papan) terpenuhi karena bekerja 4.15 9 4.31 7 4.6 1 b. Mendapatkan tunjangan kesehatan,
asuransi kecelakaan, atau dana pensiun 4.37 1 4.4 3 4.36 6
E. Lingkungan kerja
a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki
fasilitas memadai 4.11 13 4.4 3 4.57 3
c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis
antara atasan dan bawahan 4.26 2 4.22 10 4.34 9
Hal ini menunjukan bahwa aspek tersebut tidak terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap bidang keahlian melainkan hanya menjadi aspek pendukung peningkatan kinerja tukang bangunan.
Tabel 4.11. Perbandingan Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang (Responden Tukang Rumah dan Tukang High Rise Building)
Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan ( Responden Tukang Rumah dan Tukang High Rise Building)
Mean
Tukang Rumah
Tukang High Rise
Building A. Sikap
a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah
ditetapkan 4.32 4.21
b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan 4.18 4.19
c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.23 4.28
d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit 4.18 4.00
e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain 3.65 3.97 B. Pengalaman Kerja
a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu 4.45 4.42 C. Kemampuan
a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.35 4.33 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun
mandor 4.05 4.40
c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu 4.23 4.25 d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung 2.80 3.11 D. Motivasi
a. Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena
bekerja 4.15 4.38
b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana
pensiun 4.23 4.42
E. Lingkungan kerja
a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai 4.13 4.40
b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.00 4.28
c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan 4.20 4.29 F. Pelatihan
a. Mendapatkan on the job training 4.20 4.23
b. Mendapatkan off the job training 3.27 3.95
G. Pemberian Insentif
a. Mendapatkan bonus finansial 3.50 3.29
b. Mendapatkan pujian dari mandor 2.83 3.02
H. Reputasi
a. Mendapat kepercayaan dari mandor 3.55 3.87
Dari Tabel 4.11. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dari tukang rumah sebagai responden yaitu “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” (mean 4.45), “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” (mean 4.35), “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan” (mean 4.32), “Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu” (mean 4.23), dan “Bekerja untuk meraih kesuksesan” (mean 4.23). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung” (mean 2.80).
Berdasarkan tukang high rise building sebagai responden menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang yaitu
“Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”
(mean 4.42), “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” (mean 4.42),
“Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai” (mean 4.40), “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” (mean 4.40),
“Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena bekerja” (mean 4.38). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 3.02).
Dari Tabel 4.11. mengenai perbandingan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang antara tukang rumah dan tukang high rise building dirangkum lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dalam Tabel 4.12. Berdasarkan Tabel 4.12. dapat dilihat bahwa terdapat kesamaan aspek yang dipilih dari tukang rumah dan tukang high rise building aspek tersebut adalah “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” hal ini menunjukkan bahwa pengalaman merupakan aspek yang diperlukan dalam mendukung kinerja tukang karena keahlian tukang didapatkan dari pengalaman yang dimiliki. Jika tukang tersebut semakin sering melakukan pekerjaan pada suatu bidang, maka tukang akan menjadi terampil dalam bekerja.
Dapat dilihat pada Tabel 4.12. Tukang High Rise Building memilih aspek
“Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”, dan
“Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai” hal ini menunjukan
bahwa kedua aspek tersebut merupakan kebutuhan tukang akan rasa aman disaat bekerja, mengingat pada proyek high rise building memiliki resiko kecelakaan yang lebih tinggi dari pada proyek rumah. Serta terdapat pula aspek “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” hal ini menjadi aspek yang dipilih oleh tukang high rise building, dikarenakan jumlah tukang high rise building relatif banyak. Semakin banyak tukang maka akan semakin rumit pula dalam berkomunikasi. Sehingga diperlukan teknik komunikasi yang baik agar informasi yang didapatkan juga baik pula. Ada pula aspek
“Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan sandang, pangan, papan)”, hal ini menunjukkan bahwa tukang high rise building termotivasi untuk bekerja dikarenakan harus memenuhi kebutuhan hidup.
Tabel 4.12. Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan (Responden Tukang Rumah dan High Rise Building) Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang
Bangunan
Tukang Rumah Tukang High Rise Building Memiliki pengalaman pada bidang
keahlian tertentu
Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu
Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu
Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun
Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan
Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai
Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu
Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor
Bekerja untuk meraih kesuksesan
Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan sandang, pangan, papan)
Sedangkan aspek yang lebih dipilih oleh tukang rumah adalah “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu”, “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan”, dan “Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu”. Hal ini menunjukkan bahwa aspek kemampuan dan ketepatan dalam bekerja memang lebih dibutuhkan tukang dalam proyek rumah dikarenakan pekerjaan yang lebih beragam dan bervariasi dibandingkan dengan proyek high rise building. Terdapat pula aspek “Bekerja untuk meraih kesuksesan” hal ini menunjukan bahwa tukang rumah memiliki peluang mencapai kesuksesan lebih besar dikarenakan jumlah tukang yang lebih sedikit dibandingkan jumlah tukang pada high rise building.