• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Data Responden

Analisa dan pembahasan dilakukan berdasarkan data lapangan melalui kuesioner yang telah dikumpulkan. Kuesioner yang berhasil dikumpulkan berjumlah 201 yang terdiri dari 31 mandor dan 170 tukang. Kuesioner ini disebarkan selama dua bulan mulai dari 12 Maret 2018 sampai 11 Mei 2018 ke 4 proyek High Rise Building dan 5 proyek perumahan yang ada di Surabaya.

Kuesioner dapat dilihat pada lampiran 1.

Dari pihak mandor, kuesioner diisi oleh mandor High Rise Building maupun mandor perumahan. Dari tukang, kuesioner dijawab oleh tukang batu, tukang kayu dan tukang besi baik dari proyek High Rise Building maupun dari proyek perumahan. Dengan bantuan penjelasan dalam mengisi kuisioner untuk pengumpulan data mandor dan tukang, agar tidak terjadi kesalahan pemikiran pada setiap pertanyaan.

Rentang umur responden yang mengisi terdapat bermacam – macam. Dari pihak mandor sebanyak 39% responden berumur 20-30 tahun, 29% responden berumur 40-50 tahun, 16% responden berumur 30-40 tahun, 10% responden berumur kurang dari 20 tahun, dan 6% responden berumur lebih dari 50 tahun.

Sedangkan dari pihak tukang sebanyak 41% responden berumur 20-30 tahun, 27%

responden berumur 30-40 tahun, 16% responden berumur 40-50 tahun, 8%

responden berumur kurang dari 20 tahun, dan 8% responden berumur lebih dari 50 tahun. Pembagian proporsi rentang umur responden dapat dilihat pada Gambar 4.1.

(2)

Gambar 4.1. Diagram umur responden

Untuk tingkat pendidikan responden dari pihak mandor, sebanyak 36%

responden memiliki tingkat pendidikan SD, dan 32% responden memiliki tingkat pendidikan SMP dan SMA, sedangkan dari pihak tukang sebanyak 37%

responden memiliki tingkat pendidikan SMP, 32% responden memiliki tingkat pendidikan SMA, dan 31% responden memiliki tingkat pendidikan SD.

Pembagian proporsi tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Diagram tingkat pendidikan responden

Sedangkan untuk pengalaman kerja responden dari pihak mandor sebanyak 74% responden memiliki pengalaman lebih dari 5 tahun, dan 13%

responden memiliki pengalaman kurang dari 2 tahun dan pengalaman 2 – 5 tahun.

Dari pihak tukang sebanyak 47% responden memiliki pengalaman lebih dari 5

10%

39%

16%

29%

6%

Mandor

<20 tahun 20-30 tahun 30-40 tahun 40-50 tahun

>50 tahun

8%

41%

27%

16%

8%

Tukang

<20 tahun 20-30 tahun 30-40 tahun 40-50 tahun

>50 tahun

36%

32%

32%

Mandor

SD SMP SMA

31%

37%

32%

Tukang

SD SMP SMA

(3)

tahun, 28% responden memiliki pengalaman kurang dari 2 tahun, dan 25%

responden memiliki pengalaman 2-5 tahun. Pembagian proporsi pengalaman kerja responden dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3. Diagram pengalaman kerja responden

4.2. Hasil Uji Instrumen Kuesioner

Kuesioner ini diuji oleh dua uji instrumen yaitu uji validitas dan uji reliabilitas dengan menggunakan program SPSS ver. 23.0. Uji validitas dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instrument. Sedangkan uji reliabilitas dilakukan untuk sejauh mana pengukuran dari suatu tes tetap konsisten setelah dilakukan berulang-ulang terhadap subjek dan dalam kondisi yang sama.

4.2.1 Uji Validitas

Pengujian validitas yang dilakukan dengan melalui program SPSS ver. 23.0 dapat dilihat pada Lampiran 2 dengan menggunakan korelasi product moment menghasilkan nilai masing-masing item. Hasil dari 201 responden dinyatakan valid. Dapat dilihat bahwa semua nilai r hitung indikator pertanyaan lebih besar dari r Tabel 5% (α = 0.1384), sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator- indikator tersebut dapat digunakan untuk mengukur variabel penelitian. Untuk lebih jelasnya disajikan dalam Tabel 4.1.

13%

13%

74%

Mandor

<2 tahun 2-5 tahun

>5 tahun

28%

25%

47%

Tukang

<2 tahun 2-5 tahun

>5 tahun

(4)

Tabel 4.1. Uji Validitas Variabel

4.2.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan pendekatan internal consistency reliability yang menggunakan Cronbach Alpha untuk mengidentifikasikan seberapa baik item-item dalam kuisioner berhubungan antara satu dengan yang lainnya, uji reliabiltas dapat dilihat pada Lampiran 3. Sebuah faktor dinyatakan reliabel/handal jika koefisien Alpha lebih besar dari 0,6.

Adapun reliabilitas untuk masing-masing variabel hasilnya disajikan pada Tabel 4.2. yang menunjukan bahwa semua item memenuhi syarat dan dinyatakan sudah reliabel.

Item r Hitung Keterangan

Sikap A 0.388 Valid

Sikap B 0.433 Valid

Sikap C 0.389 Valid

Sikap D 0.281 Valid

Sikap E 0.461 Valid

Pengalaman A 0.279 Valid

Kemampuan A 0.521 Valid

Kemampuan B 0.411 Valid

Kemampuan C 0.484 Valid

Kemampuan D 0.580 Valid

Motivasi A 0.508 Valid

Motivasi B 0.529 Valid

Lingkungan A 0.455 Valid

Lingkungan B 0.578 Valid

Lingkungan C 0.612 Valid

Pelatihan A 0.424 Valid

Pelatihan B 0.382 Valid

Insentif A 0.384 Valid

Insentif B 0.537 Valid

Reputasi A 0.494 Valid

(5)

Tabel 4.2. Uji Reabilitas Variabel

No Item Variabel

Reablititas Keterangan

1 Sikap A 0.785 Reliabel

2 Sikap B 0.783 Reliabel

3 Sikap C 0.786 Reliabel

4 Sikap D 0.792 Reliabel

5 Sikap E 0.782 Reliabel

6 Pengalaman A 0.790 Reliabel

7 Kemampuan A 0.779 Reliabel

8 Kemampuan B 0.784 Reliabel

9 Kemampuan C 0.780 Reliabel

10 Kemampuan D 0.774 Reliabel

11 Motivasi A 0.778 Reliabel

12 Motivasi B 0.777 Reliabel

13 Lingkungan A 0.782 Reliabel

14 Lingkungan B 0.775 Reliabel

15 Lingkungan C 0.772 Reliabel

16 Pelatihan A 0.784 Reliabel

17 Pelatihan B 0.792 Reliabel

18 Insentif A 0.795 Reliabel

19 Insentif B 0.777 Reliabel

20 Reputasi A 0.780 Reliabel

4.3 Hasil Analisa Kuesioner

Ada 20 indikator aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan di Surabaya dari sisi mandor yang dicantumkan dalam Tabel 4.3. dan dilihat dari sisi semua tukang dalam Tabel 4.4. Perhitungan analisa statistik deskriptif dihitung menggunakan SPSS ver. 23.0 yang tercantum pada Lampiran 4 dan Lampiran 5.

(6)

Tabel 4.3. Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang (Responden Mandor)

Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan (Responden Mandor)

Nilai

Mean Standart Deviasi A. Sikap

a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah

ditetapkan 4.71 0.46

b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang

ditetapkan 4.26 0.44

c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.52 0.63

d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit atau belum pernah

melakukan pekerjaan tersebut sebelumnya 4.10 0.60

e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain 4.13 0.62 B. Pengalaman Kerja

a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu, seperti

ahli kayu, batu dan besi selama 2 sampai >5 tahun 4.65 0.49 C. Kemampuan

a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.58 0.56 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja

maupun mandor 4.19 0.65

c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang

tertentu 4.35 0.66

d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung 2.84 1.04 D. Motivasi

a. Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan

sandang, pangan, papan) 4.26 0.68

b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau

dana pensiun 4.45 0.77

E. Lingkungan kerja

a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai 4.16 0.73

b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.23 0.76

c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan

bawahan 4.58 0.56

F. Pelatihan

a. Mendapatkan on the job training 4.39 0.80

b. Mendapatkan off the job training 3.48 1.21

G. Pemberian Insentif

a. Mendapatkan bonus finansial 3.39 0.88

b. Mendapatkan pujian dari mandor 3.19 0.79

H. Reputasi

a. Mendapat kepercayaan dari mandor 4.03 0.55

(7)

Tabel 4.4. Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang (Responden Tukang)

Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan

(Responden Tukang Batu+Tukang Kayu+Tukang Besi)

Nilai Mean Standart

Deviasi A. Sikap

a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah

ditetapkan 4.24 0.58

b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan 4.19 0.59

c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.26 0.68

d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit atau belum pernah

melakukan pekerjaan tersebut sebelumnya 4.04 0.67

e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain 3.89 0.78 B. Pengalaman Kerja

a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu, seperti ahli

kayu, batu dan besi selama 2 sampai >5 tahun 4.42 0.56 C. Kemampuan

a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.34 0.53 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja

maupun mandor 4.32 0.62

c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang

tertentu 4.24 0.58

d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung 3.04 0.98 D. Motivasi

a. Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan

sandang, pangan, papan) 4.33 0.65

b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau

dana pensiun 4.38 0.75

E. Lingkungan kerja

a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai 4.34 0.76

b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.21 0.6

c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan

bawahan 4.27 0.63

F. Pelatihan

a. Mendapatkan on the job training 4.22 0.67

b. Mendapatkan off the job training 3.79 0.92

G. Pemberian Insentif

a. Mendapatkan bonus finansial 3.34 1.1

b. Mendapatkan pujian dari mandor 2.97 0.9

H. Reputasi

a. Mendapat kepercayaan dari mandor 3.79 0.81

(8)

Dari Tabel 4.3. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan mandor sebagai responden yaitu

“Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan”

(mean 4.71), “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.65),

“Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan keahlian” (mean 4.58),

“Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” (mean 4.58), dan “Bekerja untuk meraih kesuksesan” (mean 4.52). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan mandor sebagai responden adalah “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung”

(mean 2.84).

Tabel 4.4. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan tukang sebagai responden (tukang batu + tukang kayu + tukang besi) yaitu “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.42), “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun” (mean 4.38), “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” (mean 4.34), “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai”

(mean 4.34), dan “Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja” (mean 4.33).

Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan tukang sebagai responden (tukang batu + tukang kayu + tukang besi) adalah “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 2.97).

Dari Tabel 4.3. dapat dilihat bahwa hampir semua aspek berdasarkan mandor sebagai responden memiliki hasil mean diatas 4. Namun terdapat pula hasil mean dibawah 4, aspek tersebut adalah “Memiliki sertifikat kompetensi tukang bangunan gedung” (mean 2.84), “Mendapatkan off the job training” (mean 3.48), “Mendapatkan bonus finansial” (mean 3.39), dan “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 3.19). Sedangan dari tabel 4.4. dapat dilihat juga bahwa hampir semua aspek berdasarkan tukang sebagai responden memiliki hasil mean diatas 4.

Namun terdapat juga hasil mean dibawah 4, aspek tersebut meliputi “Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain” (mean 3.89), “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung” (mean 3.04), “Mendapatkan off the job training” (mean 3.79), “Mendapatkan bonus finansial” (mean 3.34),

(9)

“Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 2.97), “Mendapat kepercayaan dari mandor” (mean 3.79).

Selain itu dapat dilihat dari Tabel 4.3. dan Tabel 4.4. terdapat kesamaan dan perbedaan aspek – aspek yang paling mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan antara mandor dan tukang sebagai responden dilihat dari lima hasil rata- rata tertinggi. Untuk mempermudah melihat perbedaan dan persamaan tersebut dibuat tabel 4.5.

Tabel 4.5. Perbandingan Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan dari Sisi Mandor dan Tukang

Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan

Mandor Tukang

Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu

Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu

Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu

Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu

Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan

Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan sandang, pangan, papan)

Bekerja untuk meraih kesuksesan

Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun

Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan

Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai

Dari Tabel 4.5. dapat dilihat persamaan aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan antara mandor dan tukang antara lain

“Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” dan “Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan bidang keahlian”.

Dasar pertimbangan mandor dan tukang sama-sama memilih pengalaman menjadi aspek terpenting yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan disebabkan karena sebagian besar mandor memulai karirnya berawal dari menjadi seorang tukang. Berdasarkan pengalaman mandor tersebut, tukang yang sudah terlatih dan sering melakukan pekerjaan sesuai bidang keahliaanya serta mampu

(10)

mengambil solusi ketika menghadapi masalah dalam pekerjaan akan memudahkan tukang tersebut dalam meraih peluang menjadi mandor. Demikian pula dengan tukang, dengan memiliki pengalaman bekerja sebagai tukang dapat dikatakan bahwa tukang telah terampil dan ahli dalam melakukan pekerjaannya.

Pengalaman kerja yang dimiliki oleh seorang tukang akan menentukan prestasi kerja. Pengalaman kerja yang cukup, dalam arti waktu yang telah dilalui oleh seorang tukang dalam melaksanakan tugasnya akan mendukung kinerja tukang.

Aspek yang sama berikutnya adalah “Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan bidang keahlian”. Dari sisi mandor tukang dengan kemampuan menggunakan alat dapat meringankan pekerjaan mandor. Mandor tidak perlu memberi pelatihan kepada tukang. Sedangkan dari sisi tukang, alat merupakan sarana untuk memudahkan tukang dalam melaksanakan pekerjaan. Hal ini menunjukan bahwa tukang yang mengetahui fungsi alat dan mahir dalam menggunakan alat memiliki kinerja yang baik dibandingkan tukang yang tidak bisa menggunakan alat.

Adapun perbedaan aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan dilihat dari Tabel 4.5. berdasarkan mandor sebagai responden adalah “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan”, “Bekerja untuk meraih kesuksesan”, dan “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan”. Bagi mandor menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu adalah hal penting. Mandor dituntut agar para tukangnya dapat menghasilkan pekerjaan sesuai dengan target waktu. Oleh karena itu mandor menilai bahwa tukang yang memiliki kinerja yang baik adalah tukang yang dapat bekerja sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Aspek berikutnya adalah “Bekerja untuk meraih kesuksesan”. Salah satu karakteristik agar dapat berprestasi dalam pekerjaan adalah adanya keinginan dalam diri untuk mencapai kesuksesan. Sebagian besar mandor memulai karirnya berawal dari menjadi seorang tukang. Dengan keinginan kuat untuk mencapai kesuksesan, tukang akan terdorong bekerja sebaik-baiknya agar karir nya dapat meningkat. Secara tidak langsung hal tersebut dapat meningkatkan kinerja tukang.

Aspek terakhir adalah adanya “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan”. Menurut mandor lingkungan kerja yang harmonis dapat

(11)

dibentuk dari suasana tempat kerja yang positif dan kondusif. Tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan kerja yang positif dan kondusif akan meningkatkan semangat kerja yang tinggi. Semangat kerja yang tinggi tentu akan mendukung kinerja tukang bangunan.

Sedangkan hasil kuesioner berdasarkan tukang sebagai responden dilihat dari Tabel 4.5. aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang bangunan adalah “Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena bekerja”, “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”, dan yang terakhir adalah “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai”. Menurut tukang adanya motivasi pemenuhan kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) dapat memberi kepuasan dan mendorong semangat kerja tukang. Tukang akan lebih terpacu dalam melakukan pekerjaannya sehingga kinerja tukang meningkat.

Aspek selanjunya adalah “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”. Dengan mendapat tunjangan tersebut, tukang akan merasa lebih aman terhadap resiko pekerjaannya. Tukang yang memiliki rasa aman lebih terbebas dari rasa was-was dan gelisah ketika bekerja, sehingga mereka bisa melakukan pekerjaannya dengan lebih baik.

Aspek terakhir adalah “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai”. Fasilitas kerja yang memadai dengan kondisi yang layak pakai dan terpelihara dengan baik akan membantu kelancaran kerja. Hal ini menunjukan bahwa tukang membutuhkan fasilitas yang baik pada area proyek seperti mushola, toilet, area merokok, penerangan dan barak pekerja agar dapat mendorong tukang dalam bekerja.

Dari Tabel 4.3. dan Tabel 4.4. dapat dilihat pula bahwa terdapat kesamaan aspek terendah baik antara mandor dan tukang. Aspek terendah tersebut adalah “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung” dan

“Mendapatkan pujian dari mandor”. Tujuan dari adanya sertifikat ini adalah sebagai pertanggung jawaban kepada masyarakat dan bukti sah kompetensi seorang tukang. Dari hasil kuesioner menunjukan bahwa aspek memiliki sertifikat kompetensi tukang bangunan gedung menempati peringkat terendah dikarenakan sebagian besar proyek konstruksi di Surabaya belum mewajibkan setiap tukang

(12)

untuk memiliki sertifikat tersebut. Sehingga, adanya sertifikat yang dimiliki tukang tidak mempengaruhi kualitas dan kinerja tukang dalam bekerja.

Aspek terendah selanjutnya antara mandor dan tukang adalah “Mendapatkan pujian dari mandor”. Jika pekerjaan dihargai oleh atasannya, bawahan akan mengerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Namun, dari hasil kuesioner pemberian pujian dari mandor kepada tukang kurang dibutuhkan dalam meningkatkan kinerja tukang. Hal tersebut terjadi dikarenakan tidak setiap tukang terdorong untuk meningkatkan kinerjanya hanya karena mendapatkan pujian dari mandor. Sebagian dari responden merasa biasa saja ketika mendapatkan pujian.

Dalam Tabel 4.3. merupakan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan mandor sebagai responden. Mandor yang dimaksud disini meliputi mandor rumah dan mandor High Rise Building. Untuk melihat lebih detail apa saja perbedaan aspek antara mandor rumah dan mandor High Rise Building dapat dilihat dalam Tabel 4.6.

Dari Tabel 4.6. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari mandor rumah yaitu “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan” (mean 4.73),

“Bekerja untuk meraih kesuksesan” (mean 4.73), “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” (mean 4.73), “Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu” (mean 4.45), dan “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” (mean 4.73). Sedangkan lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari mandor High Rise Building yaitu “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” (mean 4.85), “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan” (mean 4.7), “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun” (mean 4.7), “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” (mean 4.65), dan “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” (mean 4.65). Perhitungan analisa statistik deskriptif dihitung menggunakan SPSS ver. 23.0 yang tercantum pada Lampiran 6 dan Lampiran 7.

(13)

Tabel 4.6. Perbandingan Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang ( Responden Mandor Rumah dan Mandor High Rise Building )

Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan ( Responden Mandor Rumah dan Mandor High Rise Building)

Mean

Mandor Rumah

Mandor High Rise

Building A. Sikap

a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah

ditetapkan 4.73 4.7

b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan 4.27 4.25

c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.73 4.4

d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit 4.09 4.1

e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain 4 4.2 B. Pengalaman Kerja

a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu 4.73 4.6 C. Kemampuan

a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.09 4.85 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun

mandor 4.09 4.25

c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu 4.45 4.3 d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung 2.27 3.15 D. Motivasi

a. Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena

bekerja 3.82 4.5

b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana

pensiun 4 4.7

E. Lingkungan kerja

a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai 3.64 4.45

b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.18 4.25

c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan 4.45 4.65 F. Pelatihan

a. Mendapatkan on the job training 4.27 4.45

b. Mendapatkan off the job training 2.36 4.1

G. Pemberian Insentif

a. Mendapatkan bonus finansial 3.18 3.5

b. Mendapatkan pujian dari mandor 2.82 3.4

H. Reputasi

a. Mendapat kepercayaan dari mandor 3.82 4.15

(14)

Untuk mengetahui perbedaan aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang antara mandor rumah dan mandor High Rise Building dapat dilihat dalam Tabel 4.7.

Tabel 4.7. Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan (Responden Mandor Rumah dan Mandor High Rise Building) Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang

Bangunan

Mandor Rumah Mandor High Rise Building Menyelesaikan pekerjaan sesuai

dengan target waktu yang telah ditetapkan

Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan

Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu

Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu

Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan

Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan

Bekerja untuk meraih kesuksesan Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu

Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu

Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun

Berdasarkan Tabel 4.7. dapat dilihat bahwa terdapat persamaan aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang antar mandor rumah dan High Rise Building. Aspek tersebut meliputi “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan”, “,Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu”, dan “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan”. Hal ini menunjukan bahwa ketiga aspek tersebut sama-sama dibutuhkan dalam proyek perumahan maupun High Rise Building. Disisi lain terdapat perbedaan aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang antara mandor rumah dan High Rise Building.

Aspek tertinggi menurut mandor rumah adalah “Bekerja untuk meraih kesuksesan” dan “Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu”. Jumlah tukang pada proyek perumahan lebih sedikit dibandingkan dengan proyek High Rise Building, sehingga peluang untuk naik pangkat pada tukang proyek perumahan juga lebih besar dibandingkan dengan proyek High

(15)

meraih kesuksesan. Sedangkan untuk aspek memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu, lebih diperlukan oleh tukang proyek perumahan. Mengingat proyek perumahan memiliki pekerjaan yang lebih beragam dan rumit dibandingkan dengan proyek High Rise Building yang cenderung memiliki teknik pekerjaan berulang.

Berbeda dengan mandor rumah aspek tertinggi menurut mandor High Rise Building adalah “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” dan

“Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”.

Peralatan yang dibutuhkan pada proyek High Rise Building kebanyakan menggunkaan peralatan mekanis, dimana peralatan tersebut membutuhkan keahlian khusus dalam penggunaannya. Sebagai contoh, pekerjaan pembengkokan tulangan pada proyek High Rise Building yang memiliki dimensi tulangan yang lebih besar dari pada proyek perumahan, sehingga dibutuhkan peralatan khusus, yaitu bar bender. Sedangkan untuk aspek mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun lebih dibutuhkan oleh tukang yang bekerja pada proyek High Rise Building, mengingat resiko pekerjaan proyek High Rise Building yang lebih tinggi dibandingkan dengan proyek perumahan.

Tabel 4.4. menunjukan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang berdasarkan gabungan antara tiga keahlian tukang sebagai responden.

Keahlian tukang disini adalah tukang batu, tukang kayu, dan tukang besi. Untuk melihat lebih detail apa saja aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang sesuai dengan keahlian masing-masing di rangkum dalam Tabel 4.8. Perhitungan analisa statistik deskriptif dihitung menggunakan SPSS ver. 23.0 yang tercantum pada Lampiran 8, Lampiran 9 dan Lampiran 10. Sedangkan Tabel 4.11.

menunjukan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang menurut tukang rumah dan tukang high rise building dengan perhitungan analisa statistik deskriptif yang tercantum pada Lampiran 11 dan Lampiran 12.

(16)

Tabel 4.8. Perbandingan Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang (Responden Tukang Batu, Tukang Kayu dan Tukang Besi)

Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan

Mean Tukang

Batu

Tukang Kayu

Tukang Besi A. Sikap

a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target

waktu yang telah ditetapkan 4.18 4.28 4.26

b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar

yang ditetapkan 4.14 4.21 4.23

c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.14 4.33 4.36 d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit 4.08 3.95 4.11 e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari

orang lain 3.68 4.05 4

B. Pengalaman Kerja

a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian

tertentu 4.26 4.47 4.6

C. Kemampuan

a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.22 4.41 4.4 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan

kerja maupun mandor 4.25 4.34 4.38

c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam

menguasai bidang tertentu 4.2 4.21 4.34

d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan

Gedung 2.78 3.33 3.02

D. Motivasi

a. Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan)

terpenuhi karena bekerja 4.15 4.31 4.6

b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi

kecelakaan, atau dana pensiun 4.37 4.4 4.36

E. Lingkungan kerja

a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas

memadai 4.11 4.4 4.57

b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.2 4.24 4.19

c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara

atasan dan bawahan 4.26 4.22 4.34

F. Pelatihan

a. Mendapatkan on the job training 4.14 4.21 4.36 b. Mendapatkan off the job training 3.83 3.6 3.96 G. Pemberian Insentif

a. Mendapatkan bonus finansial 3.17 3.4 3.51

b. Mendapatkan pujian dari mandor 3.14 2.81 2.94 H. Reputasi

a. Mendapat kepercayaan dari mandor 3.75 3.78 3.87

(17)

Dari Tabel 4.8. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dari tukang batu sebagai responden yaitu

“Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”

(mean 4.37), “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.26),

“Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” (mean 4.26),

“Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” (mean 4.25), dan “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” (mean 4.22).

Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung” (mean 2.78).

Berdasarkan tukang kayu sebagai responden, lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang yaitu “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.47), “Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.41), “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun” (mean 4.40), “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai” (mean 4.40), dan “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” (mean 4.34). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 2.81).

Berdasarkan tukang besi sebagai responden menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang yaitu “Memiliki pengalaman sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.60), “Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan sandang, pangan, papan)” (mean 4.60),

“Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai” (mean 4.57), “Memiliki kemampuan menggunakan alat sesuai dengan bidang keahlian” (mean 4.40),

“Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” (mean 4.38). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 2.94).

Dari Tabel 4.8. mengenai perbandingan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang antara tukang batu, tukang kayu dan tukang besi,

(18)

dirangkum lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang menurut jenis keahlian tukang dalam Tabel 4.9.

Tabel 4.9. Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan (Responden Tukang Batu, Kayu dan Besi)

Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan

Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Memiliki pengalaman

pada bidang keahlian tertentu

Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu

Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu

Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu

Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu

Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu

Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor

Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor

Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor Mendapatkan tunjangan

kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun

Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun

Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena bekerja

Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan

Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai

Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai

Berdasarkan Tabel 4.9. dapat dilihat bahwa aspek tertinggi dari tukang batu, tukang kayu, dan tukang besi terdapat pada segi pengalaman, motivasi, lingkungan dan kemampuan. Kelima aspek tersebut memiliki rata-rata berkisar antara 4.2 sampai 4.6. Jika dilihat lebih detail lagi terdapat tiga aspek yang sama- sama masuk dalam urutan lima ranking terbesar menurut tukang batu, tukang kayu dan tukang besi. Ketiga aspek tersebut adalah “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu”, “Memiliki kemampuan menggunakan alat” dan “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor”. Hal ini menunjukan bahwa keahlian tukang batu, tukang kayu dan tukang besi didapatkan dari pengalaman kerja yang pernah dikerjakan sebelumnya. Keahlian yang terbentuk dari pengalaman akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja

(19)

tukang. Sedangkan aspek “Kemampuan menggunakan alat sesuai dengan keahliaannya” juga menjadi hal yang penting bagi tukang. Setiap jenis tukang harus mampu menggunakan alat sesuai dengan bidang keahliannya. Seperti, tukang batu menggunakan molen, vibrator, trowel, sendok semen, palu, dan cangkul; tukang kayu menggunakan gergaji, mesin serut, mesin bor, mesin amplas, dan catut; tukang besi menggunakan pemotong besi, pembengkok besi, tang, dan catut. Aspek ketiga adalah “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor”. Kemampuan berkomunikasi dibutuhkan bagi ketiga jenis keahlian tukang, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam penyampaian dan penerimaan informasi, sehingga pekerjaan dapat dikoordinasikan dengan baik.

Pada Tabel 4.10 dapat dilihat aspek tertinggi dari tukang batu, tukang kayu, dan tukang besi yang berbeda terdapat pada aspek “Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi”, “Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”, “Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai”, dan “Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan” memiliki jarak ranking yang jauh antara tukang batu, tukang kayu dan tukang besi.

Tabel 4.10. Aspek Motivasi dan Lingkungan Kerja

Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan

Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi

Mean Rank Mean Rank Mean Rank

D. Motivasi

a. Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan,

papan) terpenuhi karena bekerja 4.15 9 4.31 7 4.6 1 b. Mendapatkan tunjangan kesehatan,

asuransi kecelakaan, atau dana pensiun 4.37 1 4.4 3 4.36 6

E. Lingkungan kerja

a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki

fasilitas memadai 4.11 13 4.4 3 4.57 3

c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis

antara atasan dan bawahan 4.26 2 4.22 10 4.34 9

Hal ini menunjukan bahwa aspek tersebut tidak terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap bidang keahlian melainkan hanya menjadi aspek pendukung peningkatan kinerja tukang bangunan.

(20)

Tabel 4.11. Perbandingan Aspek – Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang (Responden Tukang Rumah dan Tukang High Rise Building)

Aspek-Aspek yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan ( Responden Tukang Rumah dan Tukang High Rise Building)

Mean

Tukang Rumah

Tukang High Rise

Building A. Sikap

a. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah

ditetapkan 4.32 4.21

b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan 4.18 4.19

c. Bekerja untuk meraih kesuksesan 4.23 4.28

d. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit 4.18 4.00

e. Melakukan pekerjaan agar menjadi lebih baik dari orang lain 3.65 3.97 B. Pengalaman Kerja

a. Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu 4.45 4.42 C. Kemampuan

a. Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu 4.35 4.33 b. Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun

mandor 4.05 4.40

c. Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu 4.23 4.25 d. Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung 2.80 3.11 D. Motivasi

a. Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena

bekerja 4.15 4.38

b. Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana

pensiun 4.23 4.42

E. Lingkungan kerja

a. Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai 4.13 4.40

b. Lingkungan pekerjaan yang aman 4.00 4.28

c. Lingkungan pekerjaan yang harmonis antara atasan dan bawahan 4.20 4.29 F. Pelatihan

a. Mendapatkan on the job training 4.20 4.23

b. Mendapatkan off the job training 3.27 3.95

G. Pemberian Insentif

a. Mendapatkan bonus finansial 3.50 3.29

b. Mendapatkan pujian dari mandor 2.83 3.02

H. Reputasi

a. Mendapat kepercayaan dari mandor 3.55 3.87

(21)

Dari Tabel 4.11. menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dari tukang rumah sebagai responden yaitu “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” (mean 4.45), “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu” (mean 4.35), “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan” (mean 4.32), “Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu” (mean 4.23), dan “Bekerja untuk meraih kesuksesan” (mean 4.23). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Memiliki sertifikat kompetensi Tukang Bangunan Gedung” (mean 2.80).

Berdasarkan tukang high rise building sebagai responden menunjukan bahwa lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang yaitu

“Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”

(mean 4.42), “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” (mean 4.42),

“Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai” (mean 4.40), “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” (mean 4.40),

“Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) terpenuhi karena bekerja” (mean 4.38). Sedangkan aspek terendah yang kurang mendukung peningkatan kinerja tukang dilihat dari sisi mandor adalah “Mendapatkan pujian dari mandor” (mean 3.02).

Dari Tabel 4.11. mengenai perbandingan aspek – aspek yang mendukung peningkatan kinerja tukang antara tukang rumah dan tukang high rise building dirangkum lima aspek tertinggi yang mendukung peningkatan kinerja tukang dalam Tabel 4.12. Berdasarkan Tabel 4.12. dapat dilihat bahwa terdapat kesamaan aspek yang dipilih dari tukang rumah dan tukang high rise building aspek tersebut adalah “Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu” hal ini menunjukkan bahwa pengalaman merupakan aspek yang diperlukan dalam mendukung kinerja tukang karena keahlian tukang didapatkan dari pengalaman yang dimiliki. Jika tukang tersebut semakin sering melakukan pekerjaan pada suatu bidang, maka tukang akan menjadi terampil dalam bekerja.

Dapat dilihat pada Tabel 4.12. Tukang High Rise Building memilih aspek

“Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun”, dan

“Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai” hal ini menunjukan

(22)

bahwa kedua aspek tersebut merupakan kebutuhan tukang akan rasa aman disaat bekerja, mengingat pada proyek high rise building memiliki resiko kecelakaan yang lebih tinggi dari pada proyek rumah. Serta terdapat pula aspek “Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor” hal ini menjadi aspek yang dipilih oleh tukang high rise building, dikarenakan jumlah tukang high rise building relatif banyak. Semakin banyak tukang maka akan semakin rumit pula dalam berkomunikasi. Sehingga diperlukan teknik komunikasi yang baik agar informasi yang didapatkan juga baik pula. Ada pula aspek

“Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan sandang, pangan, papan)”, hal ini menunjukkan bahwa tukang high rise building termotivasi untuk bekerja dikarenakan harus memenuhi kebutuhan hidup.

Tabel 4.12. Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang Bangunan (Responden Tukang Rumah dan High Rise Building) Lima Aspek Tertinggi yang Mendukung Peningkatan Kinerja Tukang

Bangunan

Tukang Rumah Tukang High Rise Building Memiliki pengalaman pada bidang

keahlian tertentu

Memiliki pengalaman pada bidang keahlian tertentu

Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu

Mendapatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau dana pensiun

Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan

Lingkungan pekerjaan yang memiliki fasilitas memadai

Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu

Dapat berkomunikasi dengan baik kesesama rekan kerja maupun mandor

Bekerja untuk meraih kesuksesan

Kebutuhan fisiologis terpenuhi karena bekerja (Kebutuhan sandang, pangan, papan)

(23)

Sedangkan aspek yang lebih dipilih oleh tukang rumah adalah “Memiliki kemampuan menggunakan alat tertentu”, “Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan”, dan “Memiliki kemampuan dan keahlian dalam menguasai bidang tertentu”. Hal ini menunjukkan bahwa aspek kemampuan dan ketepatan dalam bekerja memang lebih dibutuhkan tukang dalam proyek rumah dikarenakan pekerjaan yang lebih beragam dan bervariasi dibandingkan dengan proyek high rise building. Terdapat pula aspek “Bekerja untuk meraih kesuksesan” hal ini menunjukan bahwa tukang rumah memiliki peluang mencapai kesuksesan lebih besar dikarenakan jumlah tukang yang lebih sedikit dibandingkan jumlah tukang pada high rise building.

Gambar

Gambar 4.1. Diagram umur responden
Gambar 4.3. Diagram pengalaman kerja responden
Tabel  4.1. Uji Validitas Variabel
Tabel  4.2. Uji Reabilitas Variabel  No  Item  Variabel  Reablititas  Keterangan  1  Sikap A  0.785  Reliabel  2  Sikap B  0.783  Reliabel  3  Sikap C  0.786  Reliabel  4  Sikap D  0.792  Reliabel  5  Sikap E  0.782  Reliabel  6  Pengalaman A  0.790  Relia
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sarung tangan yang kuat, tahan bahan kimia yang sesuai dengan standar yang disahkan, harus dipakai setiap saat bila menangani produk kimia, jika penilaian risiko menunjukkan,

Efektivitas biaya produksi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi dengan cara meminimalkan penyimpangan biaya produksi yang terjadi,

Data pada Tabel 1 tersebut di atas menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen dan kontrol tidak ada yang lebih baik keterampilan generik pemodelan siswa sebelum

Perancangan fasilitas kerja yang dirancang untuk mengurangi keluhan dan kelelahan pekerja yaitu meja, kursi kerja dan wadah lem yang ergonomis. Meja dan kursi kerja yang

Aplikasi ini merupakan aplikasi untuk menentukan jalur terdekat lokasi fasilitas pelayanan darurat yang terdiri dari 3 instansi atau lembaga yakni pemadam kebakaran,

Selanjutnya, hasil estimasi dari model yang diperoleh akan digunakan untuk perhitungan besarnya gaji seseorang di masa yang akan datang pada program dana pensiun.. M ETODE

Kumpulan software aplikasi yang tidak kalah menarik bagi anak-anak SD adalah Gcompris yang berisi sangat banyak game untuk mendidik anak.. Game yang ada membantu akan dalam

Sumber kesalahan (error) terletak pada alat / instrumen yang digunakan dalam proses evaluasi. Penyusunan alat evaluasi tidak mudah, lebih- Iebih bila aspek yang diukur