BAGIAN 1 : SEKTOR KEHUTANAN
10 PERUSAHAAN SEKTOR KEHUTANAN DENGAN KEBAKARAN TERLUAS DI PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2019
Oleh : Hutan Kita Institute, 5 November 2019
Temuan Penting
• Enam dari 10 perusahaan yang kebakaran paling luas tahun 2015, kembali terbakar di tahun 2019.
Areal yang terbakar juga sebagian terjadi di areal gambut dan tanaman pokok untuk bahan baku pulp dan paper.
• 5 dari 10 peringkat perusahaan yang terbakar tahun ini adalah Hutan Tanaman Industri terafiliasi dengan Asia Pulp dan Paper (APP) – Sinar Mas yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, dengan luas keseluruhan mencapai 32.991 Ha.
• PT. HBL yang beroperasi dengan skema kemitraan dalam kawasan hutan, hampir keseluruhan arealnya berupa kebun sawit yang mengalami peningkatan lebih dari 200 persen sejak kemitraan diberlakukan.
Lebih dari 90% areal adalah gambut dan terbakar habis.
• Total kebakaran dalam kawasan hutan yang dibebani izin tahun 2019 di Sumsel mencapai luas 57.589, 43 Hektar
Palembang, 5 November 2019. Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di berbagai wilayah di Sumatera Selatan. Sampai dengan
minggu ke-empat Oktober, asap pekat menyesakkan pernapasan masih menyelimuti sebagian besar Kota Palembang. Data Air Quality Index di laman Air Visual berada pada rata-rata di kategori hazardous atau berbahaya1 sehingga sekolah – sekolah diliburkan, rumah sakit dipenuhi oleh penderita ISPA dan perekonomian melambat.
Tahun 2015, Bank Dunia mencatat bahwa kerugian akibat paparan kabut asap di Sumsel mencapai Rp. 53,7 trilyun.2 Dampak kabut asap juga dirasakan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore. Kementerian Lingkungan Hidup Singapore bahkan mengeluarkan Preventive Measures Notice kepada 4 perusahaan HTI di Sumsel yang terafiliasi dengan Asia Pulp dan Paper (APP) yaitu PT. BMH, PT. RHM, PT. BAP dan PT. SBA-WI, atas dugaan pelanggaran undang- undang pencemaran asap lintas negara
“Transboundary Haze Pollution Act.”3
Kebakaran di areal PT. HBL, photo by HaKI 2019
Peta 1 : IUPHHK Terbakar di Sumatera Selatan Tahun 2019
Kebakaran hebat ini adalah situasi berulang dari tahun 1997, 2014 dan 2015. Lokasinya juga kurang lebih sama yaitu di areal bergambut. Yang masih segar di ingatan kita adalah peristiwa 2015, dimana luas gambut terbakar mencapai 410.962 ha atau 50% lebih dari total luas kebakaran hutan dan lahan.
214.444 hektar-nya terjadi di IUPHHK- Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (HaKI, 2015).
Pada tahun 2015, HaKI mengeluarkan laporan terkait luas dan lokasi terbakar. Tahun ini (2019), HaKI kembali mengeluarkan hasil kajian yang sama, yang akan dibagi dalam dua kategori, yaitu kebakaran pada sektor kehutanan dan perkebunan. Fokus kali ini adalah pada sektor kehutanan.
Yang ingin dilihat dari kajian ini adalah ; Apakah kebakaran yang terjadi pada tahun 2019 adalah perusahaan yang sama pada peristiwa 2015? Berdasarkan tata ruang dan jenis lahan (gambut atau non gambut), areal apa yang terbakar didalam konsesi perusahaan tersebut? Yang akan dibandingkan adalah 10 perusahaan dengan luas kebakaran terluas pada tahun 2015 dan 2019. Untuk data gambut yang digunakan adalah peta gambut yang dikeluarkan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG)
berdasarkan SK Nomor 5 Tahun 2016 tentang Penetapan Peta Indikatif Restorasi Gambut dan ditumpangsusunkan dengan hasil survey lapangan HaKI tahun 2017.
HASIL KAJIAN
Berikut adalah daftar 10 peringkat teratas nama perusahaan sektor kehutanan yang arealnya terbakar 2019, yang diolah dari berbagai sumber baik data pemerintah maupun sumber lain yang relevan.
Untuk keseluruhan, ada 31 IUPHHK yang terbakar tahun 2019 dengan total diperkirakan mencapai
57.589, 43 Hektar.4 Data dihitung berdasarkan analisis citra landsat 8 path/row 123-126/60-64 periode Juli – 18 Oktober 2019 dan hotspot MODIS 6/VIIRS sampai Oktober 2019. 5
10 NAMA DAN LUAS PERUSAHAAN TERBAKAR TAHUN 2019
No Nama Perusahaan SK dan Luas (HA) Group Luas Terbakar
(Ha) Gambut
1 PT. Bumi Mekar Hijau
338/Menhut-II/2004 Add 417/Menhut-
II/2004.
Luas 250.370
APP–Sinar Mas
22.311,2 8.799,12
2 PT. Musi Hutan Persada
38/Kpts-II/1996.
Luas 296.400
Marubeni
Corporation 10.175,79 228,49 3 SBA Wood Industries 374/Menhut-II/2004 APP-Sinar Mas 3.876 877,9 4 PT. Tiesico Cahaya
Pertiwi
500/1168/IV/2002.
Luas 4.800
- 3.815,5 2.734,12
5 PT Rimba Hutani Mas 90/Menhut-II/2007.
Luas 67.100
APP-Sinar Mas
3.540,14 2.326,52 6 PT Paramitra Mulia
Langgeng
378/Menhut-II/2009.
Luas 70.130
- 3.409,55 195,26
7 PT Hutan Bumi Lestari
01/SPK/KPH- MM/IX/2016.
Luas 2.084.75
-
2.084 2.017,49
8 PT. Bumi Andalas Permai
39/Menhut-II/2004.
Luas 192.700
APP-Sinar Mas
1.718,91 1.216,89 9 PT. Bumi Persada
Permai (SK 688 & 79)
688/Menhut-II/2010 dan 79/Menhut-II/2009
APP-Sinar Mas
1.546,91 -
10 PT Buana Sriwijaya Sejahtera
686/Menhut-II/2009.
Luas 29.010
- 1.036,92 -
Dari daftar 10 peringkat (Top 10) perusahaan yang terbakar di tahun 2015 6 ; 6 (Enam) kembali terbakar di tahun 2019 yaitu PT. Bumi Mekar Hijau (BMH), PT. Bumi Andalas Permai (BAP), PT.
Rimba Hutani Mas (RHM), PT. SBA Woods Industries (SBA), PT. Paramitra Mulia Langgeng dan PT. Musi Hutan Persada.
BMH, BAP, RHM dan SBA adalah perusahaan hutan tanaman industri yang terafiliasi dengan Asia Pulp dan Paper (APP). Pada tahun 2015, atas terjadinya kebakaran tersebut - keempat perusahaan mendapatkan sanksi KLHK, baik berupa teguran, paksaan dan/atau pembekuan izin. BMH bahkan didenda sebesar 78 milyar rupiah.7 Tahun ini, perusahaan ini kembali terbakar ; dengan luasan sekitar BMH seluas 22.311 ha, BAP 1.216 ha, SBA 3.876 Ha dan RHM 3.540 ha. Sebesar 40,07% dari luas terbakar tersebut terindikasi sebagai gambut. Dan sebesar 2,23% atau 717 hektar areal terbakar indikasinya adalah tanaman pokok (Planted acacia).
4 Data dihitung dengan menggunakan analisis burned scar dari citra landsat pada Agustus sampai 18 Oktober 2019. Dengan hanya menggunakan metode ini dan tidak dilakukan cek lapangan secara keseluruhan maka hasil ini hanya indikasi dan memungkinkan untuk tidak sama persis dengan fakta sebenarnya.
5 Data lengkap terkait perusahaan atau pemegang izin sektor kehutanan yang lahannya terbakar Tahun 2019 dipegang oleh Hutan Kita Institute – HaKI.
Peta 2 : Kebakaran Hutan di PT. BMH, PT. BAP dan SBA-WI Tahun 2019
PT. Musi Hutan Persada adalah perusahaan dalam naungan perusahaan yang berbasis di Jepang, Marubeni Corporation. Tahun ini terbakar seluas 10.175 hektar (Peta 3). Pada tahun 2015,
perusahaan ini mengalami kebakaran yang cukup hebat seluas 28.323 hektar, termasuk areal tanaman pokoknya. Atas peristiwa tersebut, KLHK memberikan sanksi administrasi8 dengan Nomor
4273/Menlhk-PHLHK/PPSA/GKM.0/9/2016. Selain itu MHP pada waktu yang sama, juga sempat menjadi objek penyidikan Polri 9. Analisis landsat yang diambil pada tanggal 18 Oktober 2019 menunjukkan bahwa sebesar 13,07% areal terbakar terindikasi sebagai tanaman pokok.
88 Sanksi administrasi merupakan instrument yuridis yang bersifat preventif dan represif non-yustisial untuk mengakhiri atau menghentikan pelanggaran ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam persyaratan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup, selain bersifat represif, sanksi administrasi juga mempunya sifat reparatoir, artinya memulihkan keadaan semula, oleh karena itu pendayagunaan sanksi administrasi dalam penegakan hukum lingkungan penting bagi upaya pemulihan media lingkungan yang rusak atau tercemar. Detil dapat dilihat di
http://sanksiadministratif.blogspot.com/2015/04/makalah-sanksi-administratif.html.
9 https://setkab.go.id/polri-tetapkan-140-tersangka-pembakaran-hutan-termasuk-7-korporasi/
Peta 3 : Kebakaran Hutan di PT. Musi Hutan Persada Tahun 2019
PT. Hutan Bumi Lestari (PT. HBL) terbakar hebat keseluruhan konsesinya seluas 2.084 ha. HBL adalah perusahaan yang operasionalnya menggunakan skema kemitraan dengan KPH Lalan
Mangsang Mendis, SK No. 01/SPK/KPH-LMM/IX/2016 dengan luas 2.084,75 Ha. Berdasarkan data Ditjen AHU - 0022103.AH.01.0 Tahun 2016, PT. HBL dimiliki oleh Ibu Dameriana Br.
Sembiring, dan beralamat di Jambi Selatan – Provinsi Jambi. Temuan menarik pada lokasi terbakar di HBL ini, interpretasi citra landsat 8 pada path/row 124-125/61 tahun 2015-2019 pada lokasi izin PT.HBL, terjadi penambahan luasan kebun sawit dari ketika kemitraan dilakukan pada tahun 2016 dan 3 tahun berikutnya, dari seluas 375,67 hektar menjadi 1.206 hektar di tahun 2019. Atas kebakaran tak terkendali pada arealnya, perusahaan ini sekarang sedang dalam penyidikan POLDA Sumsel.
Peta 4 ; Kebakaran pada areal PT. Hutan Bumi Lestari Tahun 2019
KESIMPULAN
Sebagaimana ditunjukkan oleh analisis ini bahwa dari 10 peringkat perusahaan yang terbakar paling luas di tahun 2015 ; 6 (Enam) diantaranya kembali berada dalam 10 peringkat kebakaran terluas di tahun 2019.
5 perusahaan yang terbakar tersebut adalah ; PT. BMH, PT. BAP, PT. SBA, PT. BPP dan PT. RHM berasal dari group yang sama yaitu Asia Pulp dan Paper (APP) yang menyuplai kayu untuk pabrik pulp dan kertas terbesar di Asia, PT. OKI Mill Pulp and Paper. Terjadinya kembali kebakaran, bahkan di areal tanaman pokok adalah bukti kegagalan APP memenuhi janjinya kepada publik untuk
mengendalikan kebakaran hutan.10 Sistem yang mereka bangun dengan klaim pendanaan 20 juta dolar Amerika Serikat, efektifitasnya patut disanksikan.
PT. Musi Hutan Persada yang menempati peringkat ke-5 di tahun 2015, tahun ini kembali terbakar cukup luas, dan areal yang terbakar juga termasuk tanaman pokok. Ini membuktikan bahwa MHP tidak mampu menjaga kawasannya. Regulasi mengatakan setiap perusahaan mempunyai
tanggungjawab mutlak terhadap kawasannya, mengeyampingkan asal muasal api.11 PT. MHP bahkan sangat tidak transparan ke public terkait system mereka dalam penanggulangan kebakaran. Tidak ada satupun informasi terkait sistem kesiapsiagaan dan kebijakan mereka dalam mencegah dan
menangulangi kebakaran hutan, yang dapat diakses publik
PT. HBL mengalami kebakaran untuk keseluruhan konsesi yaitu seluas 2.084 hektar. HBL sangat unik karena didalam areal kerjanya, yang ditemukan sangat dominan adalah tanaman sawit, yang semakin meluas lebih dari 200% sejak tahun 2016. Lebih dari 90% konsesi HBL adalah gambut.
Tiga perusahaan lainnya yang masuk dalam peringkat 10 terbesar terbakar 2019 ; Paramitra Mulia Langeng (PML), Tiesico dan Buana Sriwijaya Sejahtera tidak diperoleh informasi yang cukup untuk menilai bagaimana kegiatan perusahaan ini terkait penanganan kebakaran hutan. Bahkan perusahaan seperti Tiesico terindiksi tidak aktif karena tidak adanya kegiatan yang terlihat di lapangan. Sebagian areal yang terbakar (Terutama Tiesico) ada di areal gambut. Seluruh perusahaan ini juga terbakar di tahun 2015.
Narahubung :
1. Aidil Fitri, Direktur Eksekutif : [email protected]/ 08127110385
2. Adiosyafri. Direktur Riset dan Kampanye : [email protected]/ 0813 67312929
10If a hot spot is detected and confirmed, 2,700 certified firefighters are on call across 266 monitoring posts. In areas that are difficult to reach helicopters can be deployed to drop water on the fire from above. In 2016, we deployed our fleet of six helicopters carried out over 2,000 water drops, APP sustainability report 2016, page 35.
11 UU Kehutanan No. 41 Tahun 1999 menyatakan bahwa “Pemegang hak atau izin bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran hutan di areal kerja-nya” (Pasal 49), dan UU Lingkungan Hidup No. 32 Tahun 2009 secara umum mengatur mengenai tanggung jawab mutlak tanpa beban pembuktian (Pasal 88) serta kewajiban atas kelalaian yang mengakibatkan kerusakan lingkungan (Pasal 99).