1
Universitas Kristen Petra
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Wisata merupakan salah satu kebutuhan manusia. Lelah dengan rutinitas sehari-hari, ingin menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman, mengunjungi tempat-tempat yang indah, ingin bergembira dan bersantai merupakan beberapa alasan orang untuk melakukan perjalanan wisata. Dewasa ini banyak sekali faktor- faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan perjalanan wisata. Mulai banyak bermunculan acara-acara televisi yang menayangkan hal-hal yang berhubungan dengan wisata, review tempat wisata, tips wisata, hotel, reality show, hingga kuliner yang menarik. Selain acara televisi, media sosial juga mempunyai dampak yang mendorong orang untuk melakukan perjalanan wisata. Saat ini mulai banyak bermunculan blog-blog yang menulis ulasan tentang tempat wisata dan tips berwisata serta youtuber yang me-review tempat wisata melalui channel mereka youtube.
Hal-hal diatas mendorong para wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata. Saat ini orang ingin melakukan perjalanan wisata tetapi terbentur dengan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli paket tour yang ditawarkan oleh penyedia jasa wisata sehingga orang-orang mulai mencari gaya berwisata baru yang tidak memerlukan biaya yang besar. Hal inilah yang menyebabkan munculnya fenomena backpacker dan flashpacker. Backpacker dan flashpacker merupakan gaya berwisata yang timbul karena adanya kebutuhan masyarakat yang menginginkan liburan yang murah. Tidak hanya murah saja, hal- hal lain seperti kenyamanan dan waktu berwisata juga menyebabkan munculnya backpacker dan flashpacker.
Backpacker berasal dari kata backpack, yang artinya tas punggung atau ransel. Sedangkan orang yang melakukan perjalanan dengan menggunakan ransel disebut sebagai backpacker. Jadi aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh backpacker disebut backpacking. Melakukan perjalanan sebagai backpacker identik dengan perjalanan murah meriah. Semua lini pengeluaran diusahakan mencari yang semurah mungkin, bahkan gratis (Messwati, 2010).
2
Universitas Kristen Petra
Semakin berkembangnya teknologi membuat orang-orang tidak bisa lepas dari gadget baik pada saat bekerja, bersantai dan juga berwisata. Teknologi dan berwisata saat ini memang tidak dapat dipisahkan. Hannam, Sheller & Urry (2006) menyatakan bahwa internet dan telepon seluler memberikan gaya baru dalam berkomunikasi, koordinasi baru antar orang, meeting dan event, serta perubahan ruang publik. Dampak dari teknologi juga mempengaruhi para wisatawan, sehingga muncullah sebuah istilah yaitu flashpacker.
Dari penelitian Marabese (2012), dapat disimpulkan bahwa flashpacking adalah backpacking dengan budget lebih besar dan lebih fokus pada faktor teknologi serta tetap menjunjung semangat backpacker yakni kebebasan dan petualangan. Flashpacker bisa dilihat sebagai budaya masyarakat yang berkembang dari masalah ekonomi, demografi, teknologi dan perubahan sosial di dunia (Hannam & Diekmann, 2010). Flashpacker menggunakan perangkat seluler sebagai perantara mereka berkomunikasi (Paris, 2010a; Hannam & Diekmann, 2010). Flashpacker merupakan perwujudan dari budaya backpacker dan budaya digital.
Saat ini di Indonesia jumlah anggota komunitas-komunitas backpacker dan flashpacker terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini
Gambar 1.1. Chart for preliminary flashpacking definition.
(Sumber : Marabese, 2012)
3
Universitas Kristen Petra
menunjukkan bahwa backpacking dan flashpacking merupakan kegiatan yang sedang populer di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Tabel 1.1. Pertumbuhan anggota komunitas backpacker dan flashpacker di Indonesia.
Komunitas Tahun
Berdiri
Jumlah Anggota
2016 2017
Backpacker Indonesia 2009 70.893 79.314
Jalan2.com 2012 41.246 45.526
Komunitas Liburan Murah 2009 46.577 64.728
Backpacker Dunia 2009 86.318 102.431
Couchsurfing Indonesia 2013 10.547 11.921
Sumber : Olahan penulis.
Selain mengikuti komunitas untuk mendapatkan info dan bertukar pengalaman, wisatawan backpacker dan flashpacker juga menikmati liburan murah dengan mengikuti acara-acara open trip yang diadakan oleh komunitas backpacker/flashpacker. Pengalaman wisata seorang backpacker/flashpacker semakin meningkat seiring bertambahnya usia, dan karena bertambahnya pengalaman mereka, para backpacker cenderung mengunjungi tempat yang lebih eksotik dan lebih jauh (Richards & Wilson 2004). Dengan bertambahnya pengalaman backpacker dan flashpacker semakin membuat mereka ingin lebih mengeksplorasi dan mengunjungi tempat-tempat eksotis lainnya. Hal ini secara tidak langsung memberikan ide usaha wisata backpacker (Pearce 1993).
Sebagai wisatawan, para backpacker dan flashpacker mempunyai motivasi yang mendorong dan menarik mereka untuk melakukan perjalanan wisata.
Banyak sekali faktor yang membentuk motivasi seseorang melakukan perjalanan wisata. Keinginan berwisata didasari oleh bermacam alasan seperti dari sisi sosiologi, antropologi dan psikologi (Cohen, 1972; Dann, 1977; Crompton, 1979;
Gnoth, 1997). Kozak (2002) menyimpulkan bahwa motivasi setiap orang untuk berwisata tidaklah sama. Dari penelitian Yuan & McDonald (1990); Uysal &
Hagan (1993) mengenai motivasi turis juga menunjukkan bahwa keinginan
4
Universitas Kristen Petra
berwisata itu didasarkan oleh dua dimensi yaitu, faktor pendorong dan faktor penarik. Konsep dibalik faktor pendorong dan faktor penarik orang berwisata adalah orang bepergian karena didorong oleh keinginan pribadi dan ditarik oleh atribut wisata yang dituju.
Faktor pendorong adalah faktor intangible yang mendorong turis agar jauh dari rumahnya. Sedangkan faktor penarik adalah karakteristik yang tangible dari tempat wisata yang menarik wisatawan untuk berkunjung. Hal ini mengacu pada hal yang menarik bagi wisatawan seperti misalnya sejarah, budaya, pantai dan akomodasi (Andreu, Bigne & Cooper, 2000)
Menurut Dann (1977), Secara keseluruhan ada dua dasar alasan orang berwisata, yaitu anomie dan ego-enhancement. Dann berpendapat bahwa anomie merupakan keinginan untuk bebas dari kehidupan sehari-hari dan menjauhkan diri dari semua itu. Hal ini didukung oleh Krippendorf (1987) yang mengatakan bahwa keinginan untuk mendapatkan relaksasi dan hiburan merupakan penggerak utama yang dirasakan orang sebelum mengambil keputusan untuk berwisata.
Sementara itu ego-enhancement berasal dari kebutuhan manusia untuk diakui, hal ini bisa didapatkan dari beriwisata. Hal ini merupakan sesuatu yang dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhan personal.
Murphy (2001) menemukan ada beberapa alasan orang berwisata dengan cara backpacking yaitu, alasan ekonomi, sosial, pengalaman nyata, jangka waktu berwisata, kebebasan dan rekomendasi dari orang lain. Sedangkan menurut Lee (2015) alasan seseorang berwisata dengan cara flashpacking adalah karena alasan kenyamanan, sudut pandang, selera makan dan teknologi.
Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa gaya wisata yang berbeda memiliki motivasi yang berbeda pula. Para backpacker pasti memiliki faktor yang mendorong dan menarik mereka melakukan perjalanan wisata yang berbeda dengan para flashpacker. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui faktor-faktor pendorong dan penarik apa saja yang dominan bagi masyarakat Surabaya dalam melakukan perjalanan wisata dengan cara backpacking dan flashpacking.
Penelitian ini diharapkan dapat menyediakan data dan fakta yang berguna bagi penyedia jasa untuk dapat lebih memahami dan menyediakan jasa yang menjawab
5
Universitas Kristen Petra
kebutuhan konsumen sehingga penyedia jasa dapat menentukan cara pemasaran yang tepat bagi para backpacker dan flashpacker di Surabaya.
1.2. Rumusan Masalah
Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui apa saja faktor pendorong dan penarik wisatawan Surabaya dalam berwisata ala backpacker dan flashpacker.
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor pendorong dan penarik wisatawan Surabaya dalam berwisata ala backpacker dan flashpacker.
1.4. Manfaat Penelitian
− Bagi para stakeholder dunia pariwisata agar dapat menyesuaikan sarana dan prasarana di destinasi wisata dengan kebutuhan para backpacker dan flashpacker karena pasar backpacker dan flashpacker yang cukup besar
− Bagi para pengelola destinasi wisata agar dapat melihat kebutuhan para backpacker dan flashpacker sehingga dapat menyediakan tempat wisata serta sarana dan prasarana yang memenuhi kebutuhan mereka.
1.5. Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis hanya membatasi lingkup penelitian pada faktor pendorong dan penarik apa saja yang memotivasi wisatawan Surabaya untuk melakukan perjalanan wisata ala backpacker dan flashpacker. Penelitian ini hanya meneliti wisatawan Surabaya yang berusia 18 tahun keatas dan sudah melakukan backpacking atau flashpacking di dalam maupun luar negeri dalam jangka waktu 6 bulan terakhir.