• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK EKONOMI PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN ALTERNATIF POROS GORONTALO-TAPA-ATINGGOLA (PGTA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSPEK EKONOMI PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN ALTERNATIF POROS GORONTALO-TAPA-ATINGGOLA (PGTA)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PROSPEK EKONOMI PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN ALTERNATIF POROS GORONTALO-TAPA-ATINGGOLA

(PGTA)

Eriyanto Lihawa

Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo

[email protected]

M. Yamin Jinca

Labo Infrastruktur Dan Transportasi PWK Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Abstract

Road is an important infrastructure in supporting of regional development, economy, and accessibility of regions. The idea for building an alternative GTA-Road based on the efficiency and effectiveness of road users and in the area development around in the road. This study aims to explain how the cost retrenchment economic impact of time and Vehicle Operational Cost (VOC) and time value to compare with development costs. Internal Rate of Return (IRR) at the level of traffic and regional economic growth in traffic growth between 2% to 6% is around 13% to 30%.

Keywords: Road Network, Economic Benefit, Return Of Investment.

Abstrak

Jalan merupakan infrastruktur penting dalam mendukung pengembangan wilayah, ekonomi, dan peningkatan aksesibilitas wilayah atau daerah. Gagasan pembangunan jalan alternatif Gorontalo- Tapa-Atinggola didasarkan pada efisiensi dan efektifitas pengguna jalan dan pengembangan wilayah. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana waktu sebagai nisbah biaya pengembangan dengan manfaat ekonomi dengan kriteria pengembalian investasi. Tingkat pengembalian investasi (IRR), bergantung pada tingkat pertumbuhan lalu lintas dan pertumbuhan ekonomi wilayah. IRR untuk pertumbuhan lalu lintas antara 2% sampai dengan 6% adalah berkisar 13% sampai dengan 30%.

Kata Kunci : Jaringan Jalan, Manfaat Ekonomi, Pengembangan Wilayah, Pengembalian Investasi.

PENDAHULUAN

Pembanguan transportasi merupakan penunjang kegiatan ekonomi dan sosial karena meningkatkan pergerakan barang dan jasa yang menghubungkan asal tujuan, tempat-tempat beraktivitas masyarakat atau dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Oleh karena itu, sistem transportasi menjadi salah satu kebutuhan dasar bagi kehidupan masyarakat. Infrastruktur transportasi berperan penting dalam menunjang keseharian rumah tangga untuk beraktivitas, distribusi produk-produk pertanian, industri dan kegiatan ekonomi lainnya. Infrastruktur yang baik akan memberi manfaat ekonomi penurunan biaya trasportasi dan efisiensi ekonomi yang lebih baik. Jalan merupakan salah satu infrastruktur penting dalam mendukung dan mempercepat aktifitas-aktifitas sosial ekonomi dan budaya masyarakat, jalan memfasilitasi pembangunan perdesaan, dan akan meningkatkan aksesibilitas wilayah atau daerah. Peningkatan akses akan meningkatkan kehidupan dan

(2)

kesempatan memperoleh peluang pendapatan tinggi sesuai harapan visi pembangunan dengan dukungan infrastruktur jaringan jalan.

Kemudahan masyarakat mencapai fasilitas diperlukan untuk kelancaran kegiatan kehidupan masyarakat sehari-hari, meliputi kemudahan mencapai lahan pertanian, pasar, sekolah, fasilitas kesehatan, dan pelayanan lainnya. Konektivitas antar wilayah di Provinsi Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo Utara tidak terlepas dari permasalahan infrastuktur jalan. Kabupaten Gorontalo Utara jika dihubungkan dengan ibukota propinsi yaitu Kota Gorontalo berjarak sekitar 111,2 km di tempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Ruas jalan eksisting Gorontalo ke Atinggola merupakan jalur jalan nasional arteri primer Trans Sulawesi sebagai jalan darat yang saat ini penghubung antar Provinsi (Gorontalo- Sulawesi Utara), pada saat yang sama jalan nasional ini juga digunakan sebagai jalur utama transportasi darat antar kota antar kabupaten atau merupakan arus lalu lintas regional.

Pembangunan ruas jalan Gorontalo-Tapa-Atinggola telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Gorontalo pada tahun 2010- 2030, dan didasarkan pada efisiensi dan efektifitas jalan dengan memperpendek jarak dan waktu tempuh dari Kota Gorontalo dengan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Propinsi Sulawesi Utara dan akan membuka aksesibilitas baru serta konektivitas antar wilayah. Untuk itu, kajian prospek ekonomi pengembangan jaringan jalan poros Gorontalo-Tapa-Atinggola (PGTA) dapat memberikan kejelasan, sejauh mana dampak ekonomi dan pengembalian investasi (IRR) dari pengembangan jaringan jalan PGTA.

Gambar 1. Ruas jalan Tapa-Atinggola, Provinsi Gorontalo, Indonesia

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pilihan Trase Rencana Dan Lalu Lintas

Terdapat tiga alternatif pilihan trase rencana pengembangan ruas PGTA, yaitu : Alternatif 01 jaringan penghubung Kecamatan Tapa -Kecamatan Bulango Utara–Kecamatan Atinggola sepanjang 38,5 km, alternatif 02 jaringan penghubung Kecamatan Tapa–Kecamatan Telaga–Kecamatan Telaga Biru–Kecamatan Atinggola sepanjang 43,1 km dan alternatif 03 penghubung Kecamatan Tapa–

Kecamatan Telaga–Kecamatan Telaga Biru–Kecamatan Atinggola sepanjang 54 km, sebagaimana pada gambar 1.

Kondisi geografi lokasi rencana ruas PGTA merupakan pegunungan dengan elevasi berkisar antara 125 s/d 875 m dpl, dari ketiga alternatif tersebut dengan mempertimbangkan aspek jarak, kondisi topografi dan peluang produktif lahan di sepanjang jalan menempatkan alternatif 01 yang banyak mendapat rekomendasi dari stakeholder baik dari pemerintah, masyarakat dan pengamat resiko dampak serta dalam dokumen yang termuat dalam peraturan daerah Provinsi, Kota dan Kabupaten.

Arus Lalu lintas harian rata-rata (LHR) yang melewati ruas jalan ini adalah peralihan dari kendaraan yang melewati pada ruas eksisting Kwandang-Atinggola, yang berasal dan bertujuan Gorontalo dengan pertimbangan efisiensi jarak dan waktu tempuh. Jumlah kendaraan yang diprediksi beralih ke jalur alternatif adalah sebanyak 6.500 kendaraan dengan prosentase jenis kendaraan sebagaimana dalam gambar 2.

Gambar 2. Grafik peluang peralihan lalu lintas menurut jenis kendaraan

(4)

2. Manfaat Pengembangan Jalan Potensi Komoditi

Berdasarkan data jumlah komoditi pada sekitar pengembangan PGTA yang berpotensi untuk pengembangan lahan adalah lahan pertanian padi 4.161 ha, dan lahan untuk tanaman jagung 46.613 ha, pengembangan sektor peternakan diperkirakan 15.000 ekor sapi, 6000 ekor kambing, dan pengembangan ternak unggas berkisar 400.000 ekor.

Diperkirakan pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah pengembangan jalan Gorontalo-Tapa-Atinggola mempunyai nilai manfaat potensi komoditi sebesar Rp. 927,6 milyar pertahun. Areal pertanian yang luas dan jumlah populasi ternak yang semakin berkembang karena ditunjang oleh akses produksi ke wilayah pasar. Manfat lainnya yang belum terukur adalah peningkatan nilai lahan yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan potensi pengembangan lahan industri atau agropolitan.

Penghematan Biaya Operasional Kendaraan (BOK)

Penghematan BOK pada ruas jalan yang akan dikembangkan didasarkan pada selisih nilai BOK ruas jalan eksisting dengan jalan alternatif PGTA. BOK dihitung berdasarkan biaya dasar BOK yang di pengaruhi oleh unsur kecepatan dan komponen harga bahan bakar, pelumas, harga ban, biaya awak kendaraan, biaya pemeliharaan, mekanik dan suku cadang serta depresiasi, sebagai berikut :

Tabel 1. Model Biaya BOK

Sumber : Tamin 2008, diolah dengan kalibrasi nilai kini dan setempat (2018).

(5)

Nilai komponen BOK dan biaya pengorbananan untuk melintasi segmen jalan eksisting Gorontalo-Atinggola atau sebaliknya dan membandingkan dengan ruas alternatif PGTA ; (lihat gambar 3), menunjukkan kecendrungan BOK berbanding terbalik dengan kecepatan kendaraan. BOK tertinggi adalah truk, disusul bus dan terendah mobil penumpang.

Gambar 3. Grafik Harga Dasar BOK Masing-masing kendaraan

Gambar 4. Grafik Penghematan BOK dan Nilai Waktu perhari

Hasil analisis menunjukkan bahwa BOK yang melewati jalan alternatif PGTA memberikan nilai penghematan untuk mobil penumpang sebesar 11,79 %, bus 16,67 %, truck 17,53 %. Total penghematan BOK kendaraan perhari berdasarkan nilai BOK masing-masing kendaraan dengan volume lalu lintas harian-

(6)

rata-rata masing-masing kendaraan, mobil penumpang sekitar Rp. 413 juta, bus 32 juta, dan truck Rp. 209 juta atau total penghematan BOK pada jalan alternatif berkisar Rp. 238 milyar pertahun

Nilai Waktu

Nilai waktu berdasarkan metode income perkapita dipengaruhi oleh tingkat pendapatan rata-rata dan jumlah jam kerja, seperti pada persamaan berikut ini :

Nilai waktu = f ( PDRB, Jumlah Penduduk, Jumlah Jam Kerja)

Pendapatan rata-rata adalah perbandingan antara PDRB provinsi Gorontalo tahun 2016 dengan jumlah penduduk untuk tahun yang sama. Jam kerja dalam sebulan didasarkan atas jam kerja harian yaitu 8 jam perhari, hari kerja 5 hari per minggu, serta pendekatan waktu kerja sebulan rata-rata 4 minggu. Dengan demikian, jumlah jam kerja sebulan sekitar 160 jam. Berdasarkan PDRB provinsi gorontalo tahun 2016 sebesar Rp. 31,823 trilyun dan jumlah penduduk tahun 2016 sebesar 1.150.765 jiwa. Secara pendekatan income perkapita diperoleh Rp.

2.304.492 perbulan kurang lebih sesuai dengan upah minimum propinsi atau rata- rata Rp. 14.403 per jam, nilai waktu menurut jenis kendaraan sebagai berikut :

Tabel 1. Nilai waktu menurut jenis kendaraan

Jenis Kendaraan

Jumlah Penum-

pang

Nilai Waktu Penumpang (Rp/jam/org)

Prosentase Kesempatan

Produktif

Nilai Waktu (Rp/Kend/ja

m) Mobil

Penumpang 7 14.403 50% 50.410,77

Bus 18,5 14.403 50% 133.228,47

Truk 3 14.403 90% 38.888,31

Sumber : Hasil Analisis

(7)

Gambar 5. Grafik nilai waktu perhari

Nilai waktu penghematan kendaraan perhari yang melewati ruas jalan alternatif PGTA dengan asumsi kecepatan kendaraan rata-rata 50 km/jam (perencanaan) untuk ketiga jenis kendaraan dengan selisih jarak tempuh sekitar 72,7 km antara ruas jalan eksisting dan ruas jalan alternatif masing-masing sebesar Rp. 293 juta untuk mobil penumpang, bus Rp. 27 juta, truck Rp. 51 juta, dengan total Rp. 373 juta perhari atau sekitar Rp. 136 milyar penghematan nilai waktu dalam setahun. Penghematan biaya pemakai jalan pada rencana pembangunan jalan aternatif adalah penjumlahan dari nilai total penghematan BOK dan nilai waktu per hari Rp. 1,027 milyar atau setara 374,998 milyar per tahun.

3. Kelayakan Ekonomi

Kelayakan ekonomi pada ruas jalan alternatif dihitung dengan membandingkan nilai manfaat ekonomi pemakai jalan dengan jumlah biaya konstruksi selama masa investasi atau umur rencana, yaitu nilai manfaat peghematan BOK dan nilai waktu.

Nilai investasi jalan

Nilai investasi jalan merupakan komponen biaya proyek yang terdiri dari biaya konstruksi, biaya penyusunan detail engineering design, biaya supervisi, biaya operasional dan pemeliharaan rutin dan berkala. Perhitungan biaya proyek di dasarkan pada harga yang berlaku di Provinsi Gorontalo. Dalam penyusunan biaya

(8)

proyek dipilih alternatif trase 01 dengan pertimbangan jarak terpendek yaitu 38,5 km dan topografi trase terendah.

Komponen biaya investasi pengembangan jaringan jalan alternatif poros Gorontalo-Tapa-Atinggola sebesar Rp. 1,78 trilyun, setelah di konversi dan membandingkan dengan biaya konstruksi Gorontalo Outer Ring Road (GORR) dengan perkiraan umur investasi selama 10 tahun. Selama periode ini dilakukan pemeliharaan rutin delapan kali dengan biaya Rp. 286 milyar,- dan pemeliharaan berkala dua kali dengan biaya Rp. 179 milyar.

Nilai Manfaat ekonomi

Manfaat ekonomi pembagunan jalan alternatif PGTA diukur dari indikator probability pengembangan jalan Gorontalo-Tapa-Atinggola berdasarkan biaya pengembangan jalan dengan mempertimbangkan biaya konstruksi, administrasi proyek, DED, supervisi, pemeliharaan rutin dan berkala jalan GORR segmen I sejauh 16 km dengan biaya pembangunan sekitar 46,3 milyar per km. Dengan demikian, estimasi biaya pembangunan jalan alternatif sepanjang 38,5 km adalah sebesar 1,788 trilyun. Manfaat ekonomi berupa penghematan BOK dan nilai waktu, nilai opportuniti masyarakat dan asumsi pertumbuhan lalu lintas sebagaimana pada gambar berikut :

Gambar 7. Grafik NPV dan IRR vs Pertumbuhan Lalu Lintas

Tingkat pengembalian investasi sesuai dengan prediksi pertumbuhan lalu lintas antara 2% sampai dengan 6% adalah IRR berada di antara 14% sampai dengan 30 %. Manfaat eknomi lainnya adalah prospek pengembangan lahan

(9)

pertanian dan agroindustri serta peningkatan nilai lahan yang diharapkan menjadi penyumbang pendapatan dari pajak PBB dan pengembangan ekonomi regional.

KESIMPULAN

Pengembangan ruas jalan alternatif poros Gorontalo-Tapa-Atinggola berdasarkan potensi ekonomi wilayah, berpeluang untuk mengembangkan lahan pertanian dan prospek pengembangan agropolitan dan agroindustri. Tingkat pengembalian investasi berkisar 14% sampai dengan 30% untuk pertumbuhan peralihan lalu lintas 2% sampai dengan 6%.Biaya penghematan BOK dan nilai waktu berbanding terbalik dengan kecepatan operasional kendaraan pada jalan alternatif. Prospek lainnya yang menjadi manfaat pengembangan jalan adalah peningkatan ekonomi wilayah, NJOP lahan yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pajak.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pusbiktek-BPSDM Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang telah memberi bantuan beasiswa dan kesempatan mengikuti pendidikan program Magister Teknik Perencanaan Transportasi Universitas Hasanuddin Tahun 2016- 2018 dan Pemerintah Kabupaten Bone Bolango selaku pengutus tugas belajar yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

DAFTARPUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo. 2017.Gorontalo Dalam Angka 2016.

Cardenete A.M and Cabaco L.R 2017. “Economic Impact of The New Mediterranean Rail Corridor In Andalusia

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Gorontalo, 2012. “Feasibility Study Gorontalo Outer Ring Road”. Gorontalo

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Gorontalo, 2012. “Studi Kelayakan Pembangunan Jalan Provinsi Gorontalo”. Gorontalo

Jinca Y.M, 2015. “Perencanaan Transpotasi, Buku/modul perkuliahan Program Magiste Teknik Perencanaan Transportasi Dan Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin, Makassar.

(10)

Kementrian Perhubungan Republik Indonesia, 2005. Sistem Transportasi Nasional Pemerintah Daerah Kabupaten Bone Bolango, 2012. Peraturan Daerah Kabupaten Bone Bolango No 8 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bone Bolango Tahun 2011-2031.

Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo Utara, 2013. Peraturan Daerah Propinsi Kabupaten Gorontalo Utara No 5Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2011-2031

Pemerintah Daerah Provinsi Gorontalo, 2011. Peraturan Daerah Propinsi Gorontalo No 4 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Gorontalo Tahun 2010-2030.

Shrestha Slesha, A. 2017. “Road Participation In Markets and Benefits To Agricultural Household: Evidence From The Topografi-Based Highway Network In Nepal”. National University of Singapore

Snieska V Dan Simkunaite I, 2009 . “Socio-Economic Impact of Infrastructure Investments”. Journal of Inzinerine Ekonomika-Engineering Economics, ISSN 1392 – 2785.

Sreelekha M.G, Krishnamurty K, and Anjaneyulu M. 2014. “Assessment of Topological Patern of Urban Road Transport System of Calicut City”.

Transportation Research Procedia 17 (2016) 253-262. Mumbai, India Tamim, O.Z. 2008. “Perercanaan dan Pemodelan Transportasi”. ITB, Bandung Turu H, Jinca Y.M, and Asdar M. 2014“ The Effect of Concrete Rigid Construction

For Development of Rural Transport and Land Value. International Refereed Journal of Engineering and Science (IRJES) ISSN (Online) 2319-183X, (Print) 2319-1821

Referensi

Dokumen terkait

Okun menyangkut hubungan dalam konseling perlu pengkajian lebih mendalam dan komprehensif menurut perspektif Islam, agar layanan konseling yang diberikan lebih

“Pemindahan orang melewati batas nasional dan internasional secara gelap dan melanggar hukum, terutama dari negara berkembang dan dari negara dalam transisi ekonomi, dengan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan ekstrak batang buah nanas yang mengandung enzim bromelain dalam produksi VCO dapat meningkatkan rendemen

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan mengenai evaluasi isi/materi buku teks pelajaran Sejarah Indonesia kelas X terbitan Kemendikbud revisi 2017

Bentuk simbol komunikasi pada tradisi Rokat 7DVHn adalah segala sesuatu yang menyimpan makna di baliknya sesuai dengan pemahaman pada sekelompok orang (masyarakat desa

Aktivna mjesta alosteriˇckih enzima djeluju kooperativno ˇsto se moˇze uoˇciti iz sigmoidnog oblika krivulje brzine reakcije u ovisnosti o koncentraciji supstrata (Slika

pendapat pakar pada elemen allor yang berperan dalam pengendalian pencemaran ditemukan 6 sub elemen antara lain. sebagai berikut : (l) Pemerintah pusat; (2) Pemda;

Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa banyaknya jenis dan jumlah individu yang dapat ditemukan di daerah tertentu dari suatu populasi yang membentuk suatu komunitas dan