BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Konsep Pembelajaran Value Clarfication Technique (VCT)
a. Pendekatan Teknik Klarifikasi Nilai (Value Clarification Technique, VCT)
Value Clarification Technique (VCT) sebagai teknik pengajaran untuk menanamkan dan menggali mengungkapkan nilai-nilai tertentu dalil pada diri siswa.VCT adalah sebuah metode dalam model pembelajaran mediatif, VCT biasanya digunakan khususnya untuk pendidikan nilai/
afektif. Dalam konteks pendidikan persekolahan di Indonesia istilah VCT sebenarnya sudah dikenal sejak berlakunya kurikulum 1975, yang diartikan sebagai “Teknik Pembinaan Nilai”. Dalam pembelajaran VCT dapat dikembangkan dalam berbagai cara yang tentunya telah diadaptasi dari Negara-negara barat.
VCT adalah pendekatan pendidikan nilai di mana peserta didik dilatih untuk menemukan, memilih, menganalisis, memutuskan, mengambil sikap sendiri nilai-nilai hidup yang ingin diperjuangkannya.Peserta didik dibantu menjernihkan, memperjelas atau mengklarifikasi nilai-nilai hidupnya, lewat values problem solving, diskusi, dialog dan presentasi.Misalnya peserta didik dibantu menyadari nilai hidup mana yang sebaiknya diutamakan dan dilaksanakan, lewat pembahasan kasus-kasus hidup yang sarat dengan konflik nilai atau normal.
Jadi VCT adalah memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatan sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri.
Tujuan pendekatan ini adalah:
a. Membantu peserta didik untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain;
b. Membantu peserta didik agar mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berkaitan dengan nilai-nilai yang diyakininya;
c. Membantu peserta didik agar mampu menggunakan akal budi dan kesadaran emosionlanya untuk memahami perasaan, nilai-nilai dan pola tingkah lakunya sendiri.
Kirschenbaum (1995) mengatakan bahwa ada begitu banyak pendekatan dalam pendidikan nilai, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Maka perlu dipertimbangkan pendekatan yang komprehensif. Kirschenbaum (dalam Adi Susilo, 2011: 142) mengatakan:
” We have spent so much time arguing whether it is better to instill the right values in young people or to teach them to think for themselves that we have avided the more diffuclt question of when is each approach appropriate? The comprehensive approach suggests that there is a time to moralize to our children and a time to listen to their wisdom; a time to model and a time to ask clarifying questions; a time to reward and a time to be neutral; a time to intervene and a time to overlook; a time to say”no” and a time to let go.”
Dalam pandngan Kirschenbaum, pendidikan nilai jangan berbentuk indoktrinasi, tetapi dalam bentuk suatu tawaran nilai sehingga peserta didik mempunyai waktu dan kesempatan untuk memikirkannya secara bebas dan rasional nilai-nilai mana yang paling tepat untuk dirinya.Tugas pendidik lebih sebagai fasilitator, pendamping yang bijak bagi peserta didik.
Dalam rangka pendidikan nilai, keterampilan bekomunikasi perlu mendapat perhatian utama dan perlu didahulukan pengembangannya, hal ini dapat dilakukan dengan model values problem solving, dialog, diskusi kelompok, presntasi, dan lain-lain. Sering kali nilai-nilai luhur mau ditanamkan dalam diri peserta didik, namun ternyata tidak dapat bertumbuh atau berkembang karena cara penyampaiannya atau mengkomunikasikannya tidak tepat. Nilai-nilai luhur bangsa seperti pancasila dirasakan belum mendasari tingkah laku, sikap, tutur kata bangsa ini, antara lain karena perasaan bangsa ini telah membeku, tidak lagi dapat merasa bersalah atau merasa malu. Perasaan bersalah dan malu merupakan hal yang esensial dalam pendidikan nilai atau moral.“Orang yang tidak bisa merasa bersalah,
praktis tidak bisa dididik” (Sinurat, 2004:16).Jadi kemampuan mengungkapkan perasaan dan berempati atau memahami dan memantulkan perasaan mitra komunikasi(peserta didik) adalah penting untuk pendidikan nilai.
Sejumlah ahli pendidikan nilai seperti Harmin, dkk. (Cheppy,1998: 201;
Sjarkawi, 2006: 71-72) yang mengatakan bahwa dari sekian metode pembelajaran nilai maka VCT jauh lebih efektif, mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan metode atau pendekatan lainnya.
Pendekatan ini juga sesuai dengan alam demokrasi, yang memungkinkan setiap peserta didik untuk memilih, menentukan, mengolah dan mengembangkan nilai-nilainya itu sendiri, dengan pendampingan seorang pendidik.Sebab menurut Harmin (1976:32, dalam Sinurat, 1987: 3; dan 2004: 128).
”Students do not need any more values imposed upon them. They do need to kearn the skills that will help them develop their own values.
For this reason it is more effective to teach a procces of valuing than it is to teach one set of values.”
b. Arti VCT (Teknik Klarifikasi Nilai)
Hall (1973:11) mengartikan teknik klarifikasi nilai (VCT) sebagai:
“By value clarification we mean a methodology or process by which we help a person to disover values through behavior, feelings, ideas, and through important choices he has made and is continually, in fact, acting upon in and through his life.”
Dengan klarifikasi nilai, peserta didik tidak disuruh menghafal dan tidak”disuapi” dengan nilai-nilai yang sudah dipilihkan pihak lain, melainkan dibantu unuk menemukan, menganalisis, mempertanggungjawabkan, mengembangkan, memilih, mengambil sikap dan mengamalkan nilai-nilai hidupnya sendiri. Peserta didik tidak dipilihkan nilai mana yang baik dan benar untuk dirinya, melainkan diberi kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri nilai-nilai mana yang mau dikejar, diperjuangkan dan diamalkan dalam hidupnya. Dengan
demikian, peserta didik semakin mandiri, semakin mampu mengambil keputusan sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, tanpa campurtangan yang tidak perlu dari pihak lain. Dalam hidup manusia selalu berhadapan dengan situasi yang mengundangnya untuk membuat pilihan. Tanpa keterampilan menetukan pilihan sendiri orang akan banyak mengalami kesulitan dalam perjalanan hidupnya.
Proses pembentukan nilai adalah proses seumur hidup. Orang terus menerus mengambangkan nilai-nilainya.Nilai-nilai hidup termasuk peringkatnya tidak pernah bersifat statis, tetapi harus terus menerus dipilih kembali, ditambah atau diubah dan dikembangkan seumur hidup.Memelihara dan mengmbangkan nilai hidup adalah bagaikan membawa telur di suatu nampan yang datar; kalau tidak hati-hati bisa langsung jatuh.Dengan terus belajar semakin memahami diri dan lingkungannya, seseorang bisa berubah dan semakin dewasa.Perubahan nilai-nilai hidup seseorang amat dipengaruhi oleh pengalaman dan perkembangan hidupnya dalam masyarakat yang dinamis dan terus berkembang.
c. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran VCT
Langkah-langkah strategi pembelajaran VCT disajikan kedalam bagan sebagai berikut:
1. Mendalami dilemma 1. Menjawab pertanyaan 2. Memilih nilai dan alasan 3. Menyusun nilai-nilai 4. Memilih prioritas nilai
PESERTA DIDIK TUGAS MANDIRI
Bagan 2.1 Langkah-Langkah Pembelajaran VCT
PENDIDIK MENYAJIKAN
DILEMMA
1. Pembukaan, penjelasan topic 2. Menjelaskan itilah-istilah 3. Mengelompokan fakta-fakta
4. Menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyelidik
MEMBENTUK DISKUSI KELOMPOK
KECIL
1. Memikirkan dan menentukan dilemma 2. Menentukan tindakan dan alasan 3. Mengurutkan alasan-alasan
4. Menyusun dan mengurutkan nilai-nilai dan mengambil sikap
5. Menyusun laporan kelompok
Tahap pertama DISKUSI PLENO KELAS
Tahap kedua
1. Laporan kelompok 2. Tanggapan pleno 3. Laporan
kelompok berikutnya 4. Tanggapan pleno
berikutnya
1. Menentukan norma dan nilai 2. Menyusun hierarki norma
3. Menyusun hierarki nilai dan alasannya serta mengambil sikap
4. Menentukan pelaksanaan nilai (internalisasi nilai)
Di dalam kelas PENUTUP DISKUSI KELAS
Di luar kelas 1. Member tanggapan
2. Merangkum alasan 3. Merangkum
nilai/moral
4. Menyimpulkan nilai utama
5. Member penguatan
1. Memperdalam jawaban atas pertanyaan/tugas
2. Mencari/menemukan dilemma moral sesuai topic
3. Menulis dilemma moral sesuai topic dan penyelesaiannya
4. Presentasi dilemma moral 5. Bentuk aplikasi nilai pilihan
Sejalan dengan bagan tersebut tentunya didalam langkah-langkah startegi VCT terdapat proses pembelajaran atau proses pelaksanaan VCT.
Proses pelaksanaan Value Clarification Technique (VCT) dalam klarifikasi nilai adalah proses pemilihan dan penentuan nilai (the proses of valvinf) serta sikap terhadapnya dan bukan isi nilai-nilai atau dafta nilai-nilai hidup. Juga bukan untuk melatih peserta didik untuk berproses menghargai dan melaksanakan nilai-nilai yang dipilih secara bebas.
Howe (1975:19) menulis sebagai berikut:
“Value Clarification is not an attempt to beach student’s right’and
‘wrong’values. Rather, is it an approach designed to help students prize and act upon their own freely chosen values.”
Jadi fokusnya adalah bagaimana orang sampai pada pemilikannilai- nilai tertentu dan menginternalisasikannya dalam tingkah laku serta sikap (Kaswardi, 1993). Proses penentuan nilai dan sikap mencakup tujuh sub proses atau aspek yang biasanya digolongkan menjadi tiga kategori.
Ketujuh sub proses atau aspek pembentukan nilai yang dimaksudkan terpapar di bawah ini.
Ada tiga proses klarifikasi nilai menurut pendekatan VCT. Dalam tiga proses terdapat tujuh sub proses (Hall,1973;Simon, 1972), yaitu sebagai berikut:
1. Memilih 1) Memilih dengan bebas
2) Memilih dari berbagai alternative
3) Memilih dari berbagai alternative setelah menagadakan pertimbangan tentang berbagai akibatnya
2. Menghargai/
menjunjung tinggi
4) Menghargai dan merasa bahagia dengan pilihannya 5) Bersedia mengakui/menegaskan
pilihannya itu di depan umum
3. Bertindak 6) Berbuat/berprilaku sesuatu sesuai dengan pilihannya 7) Berulang-ulang bertindak sesuai dengan pilihannya
itu hingga akhirnya merupakan pola hidupnya
Berikut ini masing-masing sub prosses diperjelas secara singkat (Hall, 1982; Raths,et al., 1966).
1. Memilih dengan bebas
Memilih nilai secara bebas berarti bebas dari segala bentuk tekanan.Lingkungan dapat memaksakan sesuatu nilai pada seseorang yang sebenarnya tidak disukainya.Adakalanya lingkungan menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang tidak berdasarkan keyakinan kita.Hal yang demikian belum merupakan nilai yang seseungguhnya.Nilai yang sesungguhnya adalah nilai yang kita pilih secara bebas.Karena itu nilai- nilai yang ditanamkan pada masa kanak-kanak belum merupakan nilai yang sesungguhnya bagi anak yang bersangkutan; itu baru indikator nilai atau benih nilai yang dapat berkembang menjadi nilai yang sesungguhnya.
2. Memilih dari berbagai alternatif
Memilih secara bebas mengandaikan ada berbagai alternative. Kalau tidak ada alternatif pilihan, maka tidak ada kebebasan memilih
3. Memilih sesudah mempertimbangkan konsekuensi dari masing-masing alternatif
Memilih nilai berarti menentukan suatu nilai sesudah mempertimbangkan konsekuensi dari semua alternatif yang ada.Tidak mengetahui akibat suatu alternatif berarti tidak mengetahui apa yang akan terjadi dan apa akibatnya; jika demikian seseorang tidak bebas memilih. Sebaliknya jika seseorang mengetahui akibat-akibat dari alternatif yang ada, maka dia dapat memilih dengan lebih tepat.Dapat terjadi bahwa akibat pilihan tidak diketahui sebelumnya.Ini tidak berarti bahwa tidak ada pilihan bebas, tetapi apabila orang sudah meyadari akibat-akibat pilihannya, maka dia harus mempertimngkan pilihannya kembali.
4. Menghargai dan senang dengan pilihan yang dibuat
Nilai adalah sesuatu yang dianggap positi: dihargai, dihormati, dijunjung tinggi,diagungkan, dipelihara. Nilai membuat orang senang, gembira, bersyukur.Kalau menentukan pilihannya itu dia menjadi gembira atau senang maka dia menemukan nilai bagi dirinya.Tetapi kalau orang menjadi murung, sedih karena pilihannya, maka kiranya dia telah keliru dalam menentukan pilihannya.Jadi, kalau seseorang memilih sesuatu nilai, seharusnya dia merasa bahagia, senang atas pilihannya, dan memelihara sebagai sesuatu yang berharga baginya.
5. Bersedia mengakui pilihan di muka umum
Kalau nilai dijunjung tinggi, dihargai dan membuat orang bahagia atau senang maka orang tertntu bersedia mengakui, menyataknnya kepada orang lain. Kalau orang menjunjung tinggi suatu nilai, maka orang yang bersangkutan bisa diharapkan akan mengkomunikasikan kepada orang lain.
6. Berprilaku sesuai dengan pilihan
Agar sesuatu benar-benar merupakan nilai bagi seseorang, maka sikap hidup, tindakan yang bersangkutan harus berdasarkan nilai itu;
nilai itu harus diwujudkan atau tercermin dalam sikap dan tingkah lakunya. Salah satu pertanyaan yang perlu diajukan untuk melihat apakah sesuatu sudah merupakan nilai yang sesungguhnya ialah pertanyaan ini:” Apakah saya sudah bertindak berdasarkan nilai yang peneliti pilih, atau apakah pilihan masih merupakan sesuatu yang sedang saya pertimbangkan?”. Kalau orang belum mewujudkannya dalam sikap atau tingkah lakunya,belum bertindak sesuai dengan pilihannya itu, maka nilai tersebut belum merupakan nilai yang sesungguhnya; hal yang dikatakan sebagai nilai hanyalah suatu keinginan, gagasan, impian saja.
Dengan klarifikasi nilai, orang dibantu untuk dapat membedakan apa yang dilakukannya dan apa yang diiinginkannya, dirasakannya atau dipikirkannya. Tindakan seseorang mencerminkan nilai yang dianut, yang diyakininya; dia bertindak dan mengambil keputusan sesuai
dengan nilainya.Dengan demikian, nilai itu memberikan arah pada hidupnya.Bobot suatu nilai dapat juga diukur dengan melihat baerapa banyak waktu yang digunakan untuk memperhatikan nilai tertentu, berapa banyak tenaga yang dicurahkan demi nilai yang dianutnya, dan seberapa banyak hartnya yang dikorbankan demi nilai yang diyakininya.
7. Berulang-ulang berperilaku sesuai dengan pilihan sehingga terbentuk suatu polaa hidup
Agar sesuatu sungguh-sungguh merupakan nilai bai seseorang.Maka tindakannya dalam berbagai situasi harus sesuai dengan nilai itu.Dia bertindak berdasarkan nilai yang diyakininya, dan ini berulang-ulang sehingga merupakan pola hidupnya.Dalam tahapan ini nilai ukan saja dipahami, dimengerti, diyakini, kebenarannya, tetapi diwujudkan dalam perbuatan atau tindakan hidup.
Jadi ketujuh subproses tau aspek tersebut harus ada agar sesuatu benar-benar merupakan nilai bagi seseorang. Dengan kata lain, ketujuh subproses itulah yang dipandang sebagai criteria untuk menetukan apakas sesuatu itu merupakan nilai yang sesungguhnya bagi orang yang bersangkutan. Kalau ada yang kurang,maka itu belum merupakan nilai yang sesungguhnya, itu baru merupakan indikator nilai (a value indicator).
d. Kelebihan dan Kekurangan VCT
1. Kelebihan Strategi Pembelajaran VCT
Strategi VCTmemberi penekanan pada usaha membantu seseorang/peserta didik dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri dan mendorongnya untuk membentuk sistem nilai mereka sendiri serta mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari (Hall, 1982).Secara singkat Casteel mau menandaskan VCT amat berguna bagi peserta didik untuk berlatih mengkomunikasikan keyakinan, nilai hidup, cita-cita pribadi pada teman sejawat; berlatih berempati pada
teman lain bahkan yang mungkin berbeda keyakinanannya; berlatih memecahkan persoalan dilem normal; berlatih untuk setuju atau menolak keputusan kelompok; berlatih untuk setuju atau menolak keputusan kelompok; berlatih terlibat dalam membuat keputusan atapun mempertahankan atau melepas keyakinannya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan kelebihan strategi VCT terkait nilai yaitu:Pertama, pendidikan nilai membantu peserta didik untuk berproses menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka itu sendiri serta nilai-nilai orang lain. Kedua, pendidikan nilai membantu peserta didik, supaya merek mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri.Ketiga, pendidikan nilai membantu peserta didik, supaya mereka mampu mengggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, sikap dan pola tingkah laku mereka sendiri dan akhirnya didorong untuk menghayatinya. Dalam proses VCT menggunakan metode pembelajaran: inkuiri, diskusi kelompok, cooperative learning, analisis dilemma normal, moral problem solving yang menantang, presentasi dalam kelompok besar atau kecil, ceramah dan Tanya jawab (Lickona,1991;Ceppy, 1988). Pendekatan ini amat fleksibel pelaksanaannya dan tepat untuk mengembangkan pemahaman moral/nilai seseorang (Hall, 1982). Pendekatan ini menjadi amat terkenal sejak dikembangkan oleh Raths, Harmin, dan Simon (Hall,1982;Cheppy,1988).
2. Kelemahan Strategi Pembelajaran VCT
Kelemahan strategi VCTdalam metode pembelajaran nilai:
1. Proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memerhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri siswa.
2. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan nilai lama dan nilai baru. Salah satu karakteristik VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam diri siswa kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru yang hendak ditanamkan.
e. Manfaat dan Syarat VCT
Ada berbagai manfaat yang dapat dipetik bila pendekatan klarifikasi nilai diterapkan. Dengan pendekatan teknik klariikasi nili kita dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (Simon, et al,.1972): (1) memilih, memutuskan, mengkomunikasikan, mengungkapkan gagasan, keyakinan, nilai-nilai dan perasaannya; (2) berempati (memahami perasaan orang lain;melihat dari sudut pandang orang lain);
(3)memecahkan masalah; (4) menyatakan sikap: setuju, tidak setuju, menolak atau menerima pendapat rang lain; (5) mengambil keputusan;
(6) mempunyai pendirian tertentu, menginternalisasikan dan bertinfgkah laku sesuai dengan nilai yang telah dipilih dan diyakini. Jadi inti dari VCT adalah melatih peserta didik untuk berproses melakukan penilaian terhadap nilai-nilai kehidupan yang ada dalam masyarakat.Dan akhirnya menetapkan nilai yang menjadi acuan hidupnya.
Menurut Harmin, dkk. (Sinurat, 2004) penerapan klarifikasi nilai akan efektif bila fasilitator atau pendidik:
1) Bersikap menerima dan tidak mengadili (nonjudgmental) pilihan nilai peserta didik, menghindari kesan member nasihat, menggurui seakan pendidik lebih tahu dan lebih baik.
2) Membiarkan adanya kebhinekaan pandangan, dialog dilakukan secara terbuka, bebas dan individual.
3) Menghargai kesediaan peserta didik untuk ikut berpartisipaasi atau tidak, hindari unsur pemaksaan untk berpendapat atau bersikap.
4) Menghargai jawaban/respons peserta didik, tidak memaksa peserta didik untuk member respons tertentu apabila memangg peserta didik tida menghendkinya.
5) Mendorong peserta didik untuk menjawab, mengutarakan pilihan dan mengambil sikap secara jujur.
6) Mahir mendengarkan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mengklarifikasi nilai hidup.
7) Mahir mengajukan/ membangkitkan kehidupan pribadi dan sosial.
f. Metode Pembelajaran Nilai
Di atas sudah dibahas bahwa inti proses VCT ada tiga, yaitu: 1) memilih dan menentukan nilai dengan bebas; 2) merasa senang, bahagia dengan pilihan nilai; 3) menginternalisasikan, bersikap, melaksanakan atau bertingkah laku sesuai dengan nilai yang menjadi pilihannya.
Agar proses VCT dapat berlangsung secara efektif dalam proses pembelajaran di kelas maka metode pembelajaran yang digunakan oleh pendidik adalah (Cheppy, 1988;cf. Lickona.1991):
1) Metode dialog
Pendidik menawarkan nilai tertentu untuk dibicarakan, dibahas secara dialogis di antara peseta didik. Dalam dialog ini garis besarnya sebagai berikut:
a) Pendidik menawarkan nilai tertentu dalam suatu dilemma moral, peserta didik mendalami dengan metode inkuiri, analisis dilemma moral.
b) Peserta didik diberi kebebasan untuk menanggapi, bertanya, menjelaskan satu sama lain yang berlangsung dalam diskusi kelompok.
c) Peserta didik bebas mengambil pilihan keputusan dan kesinmpulan terkait dengan nilai yang jadi bahan dialog.
d) Pilihan nilai diberi dan dikemukakan pada teman yang lain lewat presentasi.
e) Pendidik atau teman sejawat memberikan pertanyaan kritis terhadap nilai pilihan peserta didik.
f) Peserta didik menyampaikan niat untuk melaksanakan plihan nilainya.
2) Diskusi kelompok- cooperative learning
Pendidik membentuk kelompok-kelompok dalam kelas, dan kepada tiap kelompok pendidik menyampaikan sejumlah nilai beserta pertanyaan kritis terkait daftar dengan nilai-nilai tersebut secara berbeda. Masing-masing peseta didik secara bebas, dalam kelompok berdiskusi, menanggapi pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap nilai yang ditawarkan, memberi argumentasi atas pilihannya.Kemudian setiap kelompok mencooba merangkum pendapat bersama dan dalan pleno peseta didik atau kelompok diberi kebebasan mengutaraan pilihan nilai beserta alasannya, termasuk niat untuk melaksanakan nilai yang telah dipilih. Peran pendidik sebagai pendamping dan fasilitator dalam proses diskusi kelompok agar jalannya diskusi dapat lancar.
3) Studi kasus dengan problem solving moral, studi kasus moral yang berdilema (Hall, 1982)
Pendidik membuat cerita berkasus yang mengandung unsur problem solving moral atau pemecahan kasus yang mengandung dilemma moral atau nilai tertentu, disertai sejumlah pertanyaan untuk ditanggapi peserta didik baik secara individual maupun secara kolektif dalam diskusi kelompok dan dopresentasikan dalam pleno.Problem solving moral sebaiknya mengandung dilemma nilai atau moral yang jelas dan tajam sehingga peserta didik ditantang untuk mencari penyelesaian.Dalam diskusi kelompok peserta didik bebas memilih jalan keluar dari dilemma yang ada, dengan disertai alasannya.Peran pendidik sebagai fasilitator dalam diskusi, hanya member pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap argumentasi peserta didik, tanpa memkasakan pendapatnya.
2. Konsep Belajar dan Hasil Belajar Siswa a. Pengertian Belajar
Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari (Aunurahman, 2010: 35). Adapun menurut slameto (2003: 2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar menurut Gagne, Belajar menurutnya adalah seperangkatkognitif yang merubah sifat stimulus lingkungan, melaluipengolahan informasi menjadi kapabilitas baru. Setelah membahasbelajar, selanjutnya akan dibahas apa yang disebut denganhasil belajar.
b. Tujuan Belajar
Gagne dalam Hasibuan (2002: 5) mengelompokkan kondisi-kondisi belajar (sistem lingkungan belajar) sesuai dengan tujuan-tujuan belajar yang ingin dicapai. Gagne mengemukakan lima macam kemampuan hasil belajar, diantaranya sebagai berikut:
a. Kemampuan intelektual
Ialah sejumlah kemampuan mulai dari membaca, menulis, menghitung sampai dengan kemampuan memperhitungkan kekuatan sebuah jembatan atau akibat devaluasi.
b. Strategi kognitif
Ialah kemampuan mengatur “cara belajar dan berpikir” seseorang, dalam arti yang seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalahh. Salah satu nama yang diberikan kelompok kemampuan ialah adalah perilaku pengaturan diri (self management behaviour).
c. Informasi verbal
Ialah kemampuan menyerap pengetahuan dalam arti informasi dan fakta termasuk kemampuan untuk mencari dan mengolah informasi sendiri.
d. Keterampilan motorik
Ialah kemampuan yang erat dengan keterampilan fisik seperti keterampilan menulis, mengetik, menggunakan jangka, busur derajat, dan lain-lain.
e. Sikap dan nilai
Ialah kemampuan yang erat hubungannya dengan arah intensitas emosional yang dimiliki seseorang, bagaimana dapat disimpulkan dari kecenderungan untuk bertingkah laku terhadap orang, barang atau kejadian.Sekolah diharapkan berperan dalam pembentukan sikap dan nilai, seperti sikap mengormati orang lain, kesediaan bekerjasama, tanggungjawab atau keinginan untuk terus menerus belajar dan sebagainya.
Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar 1. Faktor dari luar
Faktor dari luar terdiri dari dua bagian penting, yakni:
a. Faktor environmental input (lingkungan)
Kondisi ;lingkungan jug mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik/alam dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik/alami termasuk di dalamnya dalah seperti keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara, dan sebagainya. Belajar pada keadaan udara yang segar, akan lebih baik hasilnya dari pada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap.
Lingkungan sosial, baik yang berwujud manusia maupun hal-hal lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Seseorang yang sedang belajar memecahkan soal yang rumit dan membutuhkan konsentrasi tinggi, akan terganggu, bila ada orang lain yangmondar- mandir di dekatnya, keluar masuk kamarnya, atau bercakap-cakap,yang cukup keras didekatnya.
b. Faktor-faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental ini dapat berwujud faktor-faktor keras (hardwere), seperti:
1. Gedung perlengkapan belajar 2. Alat-alat praktikum
3. Perpustakaan dan sebagainya
Maupun faktor-faktor lunak (softwere),seperti:
1. Kurikulum
2. Bahan/program yang harus dopelajari 3. Pedoman-pedoman belajar dan sebagainya.
2. Faktor dari dalam
Faktor individu dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a. Kondisi fisiologis anak
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaam capai, tidak dalam keadaan cacat jasmani, seperti kakinya atau tanganya (karena ini akan mengganggu kondisi fiologis), dan sebagainya, akan sangat membantu dalam proses dan hasil belajar.
b. Kondisi psikologis
Setiap manusia atau anak didik pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda (terutama dalam hal kadar bukan dalam hal jenis), maka sudah tentu perbedaan-perbedaan itu sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Seperti minat yang rendah, tentu hasilnya akan lain jika dibandingkan dengan anak yang belajarnya dengan minat yang tinggi, dan seterusnya.
Di bawah ini beberpa faktor yang dianggap utama dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar:
1. Minat 2. Kecerdasan 3. Minat 4. Motivasi
5. Kemampuan-kemampuan kognitif
d. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan.Perubahan tersebut dapat diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik, misalnya dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari yang tidak mengerti menjadi mengerti (Hamalik, 2006: 30).
Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan.Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi dari sebelumnya.Untuk mengetahui perkembangan sampai di mana hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi (Sudjana, 2005: 22).
Sementara itu, Vigotsky (1978) berpendapat bahwa hasil belajar adalah membangun kerjasama secara sosial dalam mendefinisikan pengetahuan dan lain-lain, yang terjadi melalui pembangunan peluang- peluang secara sosial.Pandangan ini dikenal dengan konstruktivisme dialektikal. Akan tetapi, secara umum aliran konstruktivisme lebih menekankan pada peran aktif pembelajar dalam upaya membangun pemahaman dan pemaknaan dari informasi (Woolfolk: 227-281).
Sementara itu Bloom (1975:7), membagi hasil belajar kedalam 3 ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar pada dasarnya merupakan suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat latihan atau pengalaman. Anderson dan Krathwohl (2001: 28- 29) menyebut ranah kognitif dari taksonomi Bloom merevisi menjadi dua dimensi, yaitu dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan. Dimensi proses kognitif terdiri atas enam tingkatan: 1) ingatan, 2) pemahamn, 3) penerapan, 4) analsis, 5) evaluasi, 6) menciptakan. Sedangkan dimensi pengetahuan erdiri atas empat tingkatan, yaitu: 1) pengetahuan factual, 2) pengetahuan konseptual, 3) pengetahuan procedural, 4) pengetahuan meta- kognitif.
Dalam hal ini Aronson dan Briggs (1983:98) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah perilaku yang dapat diamati dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki seseorang.Hasil belajar ini sering dinyatakan dalam bentuk-bentuk pembelajaran.
Soediarto (1993: 49), mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan suatu pengetahuan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti program pembelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.
Ada lima hasil belajar menurut Gagne, sebagai berikut: Pertama, informasi verbal adalah kabailitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan. Kedua, keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang. Ketiga, strategi kognitif adalah kemampuan menyeluruh dan mengarahkan aktivitas kognitifnyasendiri Keempat, adalah keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmaniahdalam urusan dan kordinasi, sehingga terwujud otomatismegerak jasmani. Kelima, sikap adalah kemampuanmenerima atau menolak objek berdasarkan penilaianterhadap objek tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kemampuan siswa yang dimiliki pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Seorang guru harus
menyelaraskan kegiatan pembelajaran, artinya seorang guru biasanya diakhir pembelajaran melakukan evaluasi hasil belajar sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Dengan demikian guru perlu melakukan evaluasi hasil belajar dengan tujuan untuk mengetahui sejauhmana siswa dapat memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru dan untuk mengetahui hasil belajar siswa.
e. Kriteria Keberasilan Pembelajaran
Keberasilan pembelajaran dapat dilihat dari segi hasil, asumsi dasar adalah proses pengajaran yang optimal memungkinkan hasil belajar yang optimal pula, dimana adanya korelasi antara proses pembelajaran dengan hasil yang dicapai (Tindryni, 2007:14).
Adapun kriteria keberhasilan pembelajaran itu menurut Sudjana (2004: 35) adalah:
1. Kriteria ditinjau dari sudut proses
Kriteria dari sudut proses menekankan kepada pengajran sebagai suatu proses haruslah merupakan interkasi dinamis sehingga siswa sebagai subjek yang belajar mampu mengembangkan potensinya melalui belajar sendiri dan tujuan yang telah ditetapkan tercapai secara efektif.
2. Kriteria dari sudut hasil yang dicapai
Kriteria dari segi hasil menekankan pada tingkat penguasaan tujuan oleh siswa baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Kedua kriteria ini tidak bisa berdiri sendiri tetapi harus merupakan hubungan sebab akibat, dengan kriteria tersebut berarti pengajaran bukan hanya mengejar hasil tetapi keduanya ada dalam keseimbangan.
3. Konsep Pendidikan Ilmu Pengetauan Sosial a. Definisi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Nama Ilmu Pengetahuan Sosial dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Negara kita muncul bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum SD, SMP dan SMA tahun1975. Dilihhat dari sisi ini maka
bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial masih “baru”.Kita sebut “baru”
karena bahan yang dikaji sebetulnya bukanlah baru. Namun cara pandang yang dianutnya memang dapat dianggap baru.
IPS merupakan program pendidikan pada tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah yang banyak disorot.
b. Hakikat dan Tujuan Pendidilkan Ilmu Pengetahuan Sosial
Banyak ahli ilmu-ilmu sosial berpendapat bahwa sifat-sifat kemanusiaan itu dipelajari (Perry dan Seidler, 1973). Proses belajar terhadap sifat-sifat tersebut berlangsung sejak manusia sangat muda, saat kanak- kanak. Proses tersebut berlangsung dalam interaksi akrab antara anak dengan orang-orang dewasa sekelilingnya. Hubungan interaksi yang akrab itu dapat berlangsung berkat adanya bahasa.
Dengan berpusat pada pembahasan tentang manusia IPS memperkenalkan kepada siswa bahwa manusia dalam hidup bersama dituntut rasa tanggung jawab sosial.mereka akan menyadari bahwa dalam hidup bersama ini ada kalanya mereka menghadapi berbagai masalah, diantaranya telah disinggung ialah masalah sosial. Dalam konteks ini diantaranya menyangkut tentang orang-orang yang bernasib kurang menguntungkan; karena tidak mempunyai orangtua, karena terpisah dengan keluarga, bahkan dalam skala besar karena korban perang atau bencana alam. Dalam pembahasan tenatang pemenuhan kebutuhan akan tersambul masalah globalisasi perekonomian. Hal-hal ini akan membawa dorongan kepada siswa terhadap kepekaan sosial.
Dari uraian di atas tampak bahwa IPS merupakan kajian yang luas tentang manusia dan dunianya.Hal ini dapat membawa dampak bagi siswa yang dihadapkan dengan IPS. Hal demikian selanjutnya dapat membawa dampak ikutan (nurturant effect) yang baik: perluasan tentang manusia.
Sedangkan dampak yang ialah bahwa dengan luasnya kajian tentang manusia itu dapat menimbulkan kesulitan pada mereka yang menggelutinya.
Oleh karena itulah dalam buku Barr dan kawan-kawan (1977); (1978); dan
Barth dan Shermis (1980) menujukkan bahwa sebenarnya bukan hanya ada satu telaah dalam IPS melainkan ada tiga. Mereka menyebutkan tradisi yang terdapat dalam IPS.
Tradisi pertama ialah pewarisan budaya (Citizenship Tranmission) yang menurut mereka bersifat indokrinatif dalam menyajikan bahan belajar.
Kewargaan (Citizenship) dalam pengertian dari tradisi ini berarti kemampuan bertindak sebagai warga yang sesuai dengan nilai-nilai dasar yang telah disepakati dan dianggap baik. Mereka mengartian indoktrinasi adalah semua pengalaman belajar (pendidikan) yang dilaksanakan dalam suasana belajar yang tidak kritis (uncritical learning) (Barr, dan kawan- kawan 1977).
Tradisi kedua ialah tradisi ilmu sosial yang menunjuk kepada pengertian bahwa IPS sebenarnya dapat diturunkan dari salah satu ilmu sosial. Jadi sifat IPS dalam tradisi ini reduktif.Sifat-siat kewargaan dapat diperoleh melalui pemahaman tentang segi metodologis ilmu sosial.
Tradisi ketiga disebut inkuiri reflektif yang didasrkan kepada pemikiran reflektif dan John Dewey. Dalam anggapan dari tradisi ini kewargaan tercermin dari kemampuan memecahkan masalah dalam suasana lingkungan yang sarat nilai. Dalam telaah tentang nilai yang dikaji bukan masalah baik atau buruk itu sendiri melainkan tentang cara bagaimana kita menelaah nilai dengan tepat.
Pembelajaran IPS menurut pendapat Daldjoeni (1992:27) memiliki empat tujuan:
a. IPS mempersiapkan siswa untuk studi lanjut di bidang ilmu sosial.
Jika nanti masuk SMA dan perguruan tinggi, akan disajikan ssecara parswial antara ekonomi, sejarah, geografi, antropologi, dan sosiologi.
b. IPS bertujuan untuk mendidik warga Negara yang baik. Karena itu mata pelajaran yang disajikan ditempatkan dalam konteks budaya melalui pengolahan secara ilmiah dan psikologis yang tepat.
c. IPS yang mempelajari closed area, yaitu maslah-masalah sosial yang pantang dibahs di muka bumi, bahannya berbagai pengetahuan
ekonomi sampai politik, dari sosial sampai cultural untuk melatih siswa berpikir demokratis.
d. Membina warga Negara Indonesia atas dasar moral Pancasila dan UUD 1.945, serta sikap sosial rasional dala kehidupan.
4. Teori Pembelajaran IPS
1. Menurut prof. Nu’man Soemantri, bahwa IPS adalah pelajaran ilmu- ilmu social yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, SLTA. Penyederhanaan disini mengandung arti menurunkan tingkat kesukaran ilmu-ilmu social yang biasanya dipelajari di Universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematengan berfikir siswa siswi sekolah dasar, dan lanjutan dan mempertautkan serta memadukan bahan aneka cabang ilmu-ilmu social dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi pelajaran yang mudah dicerna (sofa:2010).
2. Menurut Moeljono Cokrodikardjo, bahwa IPS adalah perwujudan suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu social. IPS ini merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu social yakni sosiologi, antropologi, budaya, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.
3. Menurut Saidiharjo (1966:4), bahwa IPS adalah hasil kombinasi atau hasil perpaduan dari sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu social dan ilmu lainnya kemudian di olah berdasarkan prinsip pendidikan dan ditaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan.
4. Menurut Nasution Sumaatmadja (2002:123) bahwa IPS adalah suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dan lingkungan social yang
bahannya diambil dari berbagai ilmu social seperti: geografi, sejarah, ekonomi, antropologi, sosiologi, ilmu politik, dan psikolog.
5. Menurut A. Kosasih Djahiri (1972:2) bahwa IPS adalah ilmu yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu social dan ilmu lainnya kemudia di olah berdasarkan prinsip pendidikan dan ditaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan.
6. Menurut Soemantri (2001:03) bahwa IPS adalah penyederhanaan adaptasi, seleksi dan modifikasi dari disiplin akademis ilmu-ilmu social yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis untuk tujuan institusional pendidikan dasar dan menengah dalam kerangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila.
7. Menurut Resnik dalam Martoreela (1991) pembelajaran IPS adalah alih informasi pengetahuan dan keterampilan yang membantu peserta didik menempatkan diri dalam situasi yang membuatnya mampu melakukan konstruksi konstruksi pemikirannya dalam situasi wajar, alami dan mampu mengekspresikan dirinya secara tepat apa yang mereka rasakan dan mampu melaksanakannya.
8. Martoella (1987) mengatakan bahwa pembelajaran pendidikan IPS lebih menekankan pada aspek “pendidikan” daripada “transfer konsep”, karena dalam pembelajaran IPS peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS adalah suatu system pendidikan yang terdiri dari berbagai faktor yang menyusun antara lain peserta didik, mendidik, media belajar, fasilitas belajar dan juga sumber belajar yang bertujuan membuat peserta didik menguasai dan memahami berbagai integrasi berbagai
disiplin ilmu sosial seperti, ekonomi, sejarah, sosial, geografi, dan lain-lain.
5. Teori IPS Mengenai Sosiologi a. Pengertian Sosiologi
Secara etimologis (asal kata) sosiologi berasal dari kata socious dan logos.Socious dari bahasa Latin yang artinya teman, sedangkan logos dan bahasa Yunani yang artinya ilmu. Secara harfiah, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup berteman (Kusnomo Hadi,dkk., 2004: 2).
Beberapa ahli mengemukakan pengertian-pengertian sosiologi menurut sebagai berikut:
1. Aguste Comte perintis sosiologi yang dikutip tim sosiologi (2003: 7) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu, yang terutama mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya. Artinya sosiologi mempelajari segala aspek kehidupan bersama yang terwujud dalam asosiasi- asosiasi, lemabaga-lembaga maupun peradaban-perdaban.
2. Roucek dan Warren, yang dikutip tim sosiologi (2003: 7) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungn manusia dalam kelompok. Misalnya interaksi sosial diantara sesama anggota masyarakat, RT, RW, dan negeri.
3. Kusmono Hadi, dkk., (2004: 2) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, termasuk perubahan sosial dan masalah-masalah sosial.
4. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang dikutip Soejono Soekanto (1990: 20) menyatakan bahwa Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses- proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial.
5. Bahrein T. Sugihen (1996: 3), menyatakan bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu yang menyangkut mempelajari dan menjelaskan perilaku manusia di dalam kelompoknya dan di dalam
hubungannya dengan orang lain atau kelompok lainnya. Oleh karena itu sosiologi sebagai salah satu ilmu perilaku manusia.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dengan kelompok lainnya baik itu perilaku manusia, struktur sosial, proses sosial, perubahan sosial, dan masalah-masalah sosial.
b. Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Sosiologi 1. Tujuan Pembelajaran Sosiologi
Menurut Siti Waridah Q, dkk, (1999: 5) mengatakan bahwa tujuan pembelajaran sosiologi adalah untuk mengembngkan sikap perilaku yang rasional dan kritis dalam menghadapi perbedaan-perbedaan di masyarakat, perbedaan-perbedaan kebudayaan dan situasi sosial, serta berbagai masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan sehari- hari. Dari penjelasan di atas bahwa tujuan pembelajaran sosiologi diharapkan dapat bersosialisasi dengan baik, dapat mengenal suatu keadaan masyarakat, sehingga dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang pada akhirnya dapat menjadi anggota masyarakat yang baik, karena mengenal berbagai macam kondisi suatu masyarakat yang perlu dipahami satu sama lain supaya tidak terjadi ketimpangan, pertengkaran-pertengkaran karena perbedaan sosial budaya.
2. Fungsi Pembelajaran Sosiologi
Fungsi pengajaran sosiologi yang dikemukakan oleh Siti Waridah (1999: 5) yaitu:
a. Menanamkan kesadaran dan pemahaman tentang kemajuan masyarakat dan kebudayaan, serta adanya perbedaan-peerbedaan situasi sosial ( kedudukan dan peran sosial) yang mempengaruhi sikap dan perilaku sosial warga masyarakat tertentu.
b. Mengembangkan sikap saling menghargai dan menumpuk solidaritas untuk mempercayai keteraturan dalam masyarakat, menuju kepada terbentuknya masyarakat modern.
c. Ruang Lingkup Kajian Sosiologi
Ruang linngkup kajian sosiologi meliputi manusia pada sosialnya atau manusia sebagai anggota masyarakat, ruang lingkup itu mulai dari masalah kehidupan yang berada disekitar tempat tinggal dan sekolah, dan ruang lingkup itu melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Ruang lingkup sosiologi menurut kurikulum berbasis kompetensi meliputi berbagai hal antara lain sosiologi sebagai ilmu dan metode interaksi sosial, sosialisasi, struktur sosial, kebudayaan dan perubahan sosial budaya.
Ruang lingkup sosiologi mencakup pula pengetahuan dasar yang pengkajian kemasyarakatannya yang meliputi:
1. Kebudayaan dan peran sosial individu dalam kelompok kelompok masyarakat
2. Nilai dan norma sosial yang mendasari atau mempengaruhi perilaku, interaksi dan hubungan sosial dalam masyarakat
3. Masyarakat dan kebudayaan daerah sebagai bagian dari masyarakat dan kebudayaan nasional Indonesia
4. Perubahan sosial yang terus nmenerus berlangsung disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal.
5. Masalah-masalah sosiologi yang diterima dalam kehidupan sehari- hari (Depag, 1995: 1).
Dari uraian di atas, dapat disebut bahwa ruang lingkup kajian sosiologi itu mengkaji aspek secara sempit maupun secara luas, mulai dari lingkungan keluarga sampai lingkungan masyarakat, bangsa dan negara.
d. Pengaruh Pembelajaran Sosiologi
Menurut Muhammad Surya (2004: 7) pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Jadi pembelajaran sosiologi adalah suatu proses yang diharapkan dapat membina tingkah laku siswa dalam berperilaku sosial di dalam kehidupan sehari-hari agar siswa memiliki tingkah laku yang baik sesuai dengan tujuan pendidikan. Maka hasil proses pembelajaran sosiologi ialah perubahan perilaku individu. Individu akan memperoleh perilaku yang baru, menetap, fungsional, positif, disadari dan sebagainya.
Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran sosiologi ialah perilaku secara keseluruhan yang mencakup aspek kognitif, efektif, konatif, dan motorik. Pembelajaran belum dikatakan lengkap apabila hanya menghasilkan perubahan satu atau dua aspek saja. Misalnya, kalau hasil pembelajaran anak baru berupa hafalan, maka ia belum mencakup seluruh perilaku lainnya. Jadi, kalau seorang anak dikatakan telah belajar matematika, maka ia akan berubah perilakunya dalam aspek kognitif atau pengetahuannya.
Mata pelajaran sosiologi atau lebih dikenal dengan ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Oleh karena itu, menurut Cohen (1992 : 2) pelajaran sosiologi sangat penting karena dengan sosiologi kita bisa memperoleh suatu pandangan agar mengenai lingkungan sosial dan bisa meneliti kembali golongan atau masyarakat di sekitar kita yang jarang atau bahkan tidak pernah kita kenal.
Adanya pembelajaran sosiologi diharapkan siswa MTs An-Nur Kota Cirebon dapat meningkatkan kemampuan berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dalam keragaman realitas sosial dan budaya berdasarkan etika, dapat mengembangkan sikap perilaku siswa yang rasional dan kritis dalam menghadapi perbedaan-perbedaan di masyarakat,
perbedayaan-perbedayaan kebudayaan dan situasi sosial serrta berbagai masalah sosial budaya yang ditemui ddalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu menurut Soedjono Soekanto (1990: 51) pembelajaran sosiologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyrakat atau siswa.
6. Konsep Penelitian Tindakan Kelas a. Prinsip-prinsip PTK
Menurut Hopkins, (1993:57-61), ada 6 prinsip dalam PTK yaitu sebgai berikut:
1. Pekerjaan utama guru adalah mengajar dan metode PTK yang diterapkannya seyogianya tidak mengaganggu komitmennya sebagai pengajar.
2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
3. Metodologi yang digunakan harus reliable, sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang ditemukannya.
4. Masalah program yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang cukup merisaukan dan bertolak dari tanggung jawab professional.
5. Dalam menyelenggarakan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap proses dan prosedur yang berkaitan dengan pekerjaannya.
6. Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin harus digunakan class room excerding perspective dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu, melainkan perspektif misi sekoplah secara keseluruhan. Sebagai
contoh yang dilakukan oleh kepala sekolah. Sekolah adalah memperbaiki sekolah, sedangkan pengawas sekolah memperbaiki system pendidikan (operasional kepengawasan). PTK hanyalah sebuah modal, yang penting proses memperbaiki.
b. Tujuan dan Manfaat PTK
PTK merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Hal itu dapat dilakukan mengingat tujuan penelitian indakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan.Tujuan ini
“melekat” pada diri guru dalam ppenunaian misi professional kependidikannya.
Manfaat yang dapat dipetik jika guru mau dan mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas itu terkait dengan komponen pembelajaran, antara lain:
1. Inovasi pembelajaran,
2. Pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan di tingkat kelas, dan
3. Peningkatan profesionalisme guru
B. Kerangka Pemikiran
Menurut Uma (Sugiyono, 2012: 60), kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih.
Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan. Dalam proses belajar siswa, tidak dipungkiri lagi bahwa pembelajaran IPS di MTs harus sesuai dengan yang diharapkan. Guru IPS dalam mengajar IPS dilakukan dalam suasana menyenangkan. Berbagai macam keluhan dalam pembelajaran IPS seperti sulit mengerjakan soal, sulit memahami materi, malas belajar, kurang bergairah,dan keluhan- keluhan lain dari para siswa adalah permasalahan mendasar yang harus segera diatasi.
Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dalam kandungan hingga liang lahat. Menurut Suherman (Taniredja, 2010:69) hasil belajar mencakup aspek yang berkenaan dengan perubahan dan kemampuan yang telah dimiliki siswa pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan dan kemampuan yang telah dimiliki tersebut bisa berupa komunikasi, interaksi, kreativitas, dan sebagainya.
Keberhasilan proses dan hasil pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah guru dan siswa selain menguasai materi seseorang guru juga dituntut untuk mengusai strategi- strategi penyampian materi tersebut, cara guru menciptakan suasana kelas akan berpengaruh terhadap respon siswa dalam proses pembelajaran. Apabila guru berhasil menciptakan suasana yang menyebabkan siswa termotivasi aktif dalam belajar akan kemungkinan terjadi peningkatan hasil belajar.
Sampai dengan saat ini, diketahui terdapat banyak metode yang digunakan oleh guru IPS dalam kegiatan proses pembelajaran yang digunakan oleh guru di MTs An-Nur Selain metode yang sudah umum dilakukan para guru IPS tersebut, terdapat metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka dalam penelitian ini digunakan metode pembelajaran mengklarifikasi nilai (Value clarification technique) sebagai salah satu metode yang berbasis pada
KBK. Secara lebih jelas pembelajaran dengan metode (Value clarification technique) menurut Siswandi, (2009:92) dapat dilihat pada bagan, sebagai berikut:
Bagan2.2 Kerangka Pemikiran Penelitian
Strategi pembelajaran VCT yang dilaksanakan dengan baik sesuai dengan langkah-langkah yang benar dapat meningkatkan hasil pembelajaran IPS siswa MTs An-Nur Kota Cirebon.
Stimulus cerita gambar
Guru memberi pengantar dan memotivasi
siswa Guru
Siswa dalam diskusi kelompok
3 tingkatan pembelajaran:
1. Memilih 2. Menghargai 3. berbuat
Hasil pembelajar an
1. Kesadaran tentang suatu nilai
2. Menanamkan nilai
3. Melatih cara menilai 4. Menghargai
dan menerima Pembelajaran
Value
Clarification Technique
D. Kajian Penelitian yang Relevan
1. Agustina Triwijayanti (2013) dengan judul “Implementasi Pendekatan Values Clarification Technique (VCT ) dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar “hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan teknik klarifikasi nilai, proses pembelajaran IPS semakin bermakna.
guru mudah untuk menyampaikan materi IPS dan menanamkan nilai- nilai karakter yang baik pada siswa. Implementasi pembelajaran dilakukan dengan mengklarifikasi dan menginternalisasi nilai-nilai karakter yang disesuaikan dengan materi pelajaran IPS, dengan menerapkan model tanya jawab, cerita anak secara konstekstual, analisis kasus serta diskusi kelompok untuk melatih kerjasama, saling menghargai dan memahami orang lain. hasil implementasi Value Clarification Technique (VCT ) dalam Pembelajaran IPS dapat memunculkan perilaku positif siswa seperti aspek nilai religius dan taat beribadah, toleransi terhadap sesama, disiplin, kepedulian terhadap teman, bermusyawarah dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas tepat waktu baik individu maupun kelompok.
2. Zidni, S861108020 (2012/2013) dengan judul “Implementasi Pembelajaran IPS Melalui Klarifikasi Nilai/VCT Untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Siswa kelas VIII di SMPN Suralaga Kabupaten Lombok Timur , “hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui model pembelajaran VCT dengan metode percontohan dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelasVII ruang D SMPN Suralaga, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur tahun ajaran 2012/2013. Hal ini tebukti dari hasil belajar siswa sebelum diberi tindakan nilai rata-rata siswa mencapai 58,48dengan prsentasi ketuntasan klasikal 48,27%. Tetapi setelah diberikan tindakan pada siklus I nilai rata-rata siswa mencapai 74, 4 dngan persentasi ketuntasan klasikal 89,65%, siklus ke II nilai rata-rata siswamencapai 89 dengan presentasi ketuntasan klasikal 96,55%, siklus III meningkat dengan nilai
rata-rata siswa 90 dengan presentasi ketuntasan klasikal mencapai 100%
tuntas”.
3. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Al-Masih dari jurusan pendidikan IPS dengan judul penelitian “Penerapan Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII-3 MTs. Unwanunnajah Tangerang Selatan’’. Hasil penelitian ini menunjukkan pada siklus I rata-rata nilai pre test 48 meningkat menjadi 67 pada nilai post test tetapi belum 100% siswa mencapai KKM. Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus II lebih baik dari siklus I yaitu rata-rata pre test siswa 59 menjadi 81 pada nilai pos test. Dan jumlah siswa yang mencapi KKM sudah 100%.Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran Value Clrification Technique dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-3 MTs. Unwannunnajah Tangerang Selatan.
C. Hipotesis Tindakan
Penelitian ini direncakan terbagi ke dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur (planning), tindakan (acting), pengamatan (observer), dan refleksi (reflecting). Melalaui tiga siklus tersebut dapat diamati peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan strategi pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPS.
2. Strategi pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) dapat meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa dalam pembelajaran efektif, aktif, dan kreatif.