8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
Faturrohmin (2011) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasannya PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di provinsi jawa tengah, usia harapan hidup berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di provinsi jawa tengah, sedangkan angka melek huruf berpengaruh negatif tapi tidak signifikan terhadap kemiskinan di provinsi jawa tengah. Variabel independen dari penelitian ini menjelaskan variasinya dari variabel dependen sebesar 96.32%. sedangkan sisanya 3.68% di pengaruhi oleh faktor lain diluar pada penelitian ini.
Janjua et all (2014) The study concludes three key findings. First, in contrast to trickle-down theory, achieving decent or high income growth rates do not ensure poverty reduction at similar pace. Second, improvements in educational and health outcomes are strongly and negatively associated with poverty incidence. However, educational improvements appear to be more strongly correlated with decline in poverty headcounts as compared to health improvements. Third, efficient use of public expenditures on education and health not only results in improved educational and health outcomes but it also permits a reduction in poverty. Thus, the study provides evidence in support of poverty reduction through improved education and health status.
Suryandari (2017) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasannya pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat
9
kemiskinan di provinsi DIY Yogjakarta, pendidikan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan di provinsi DIY Yogjakarta, kesehatan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di provinsi DIY yogjakarta, dan secara bersama-sama pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan di provinsi DIY yogjakarta tahun 2004-2014.
Bintang dan Woyanti (2018) Hasil dari penelitian ini yaitu pertumbuhan PDRB memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan, rata-rata lama sekolah memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan, tingkat harapan hidup juga memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan, serta pengangguran memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan.
Efendi et al (2019) The results showed that: (1). Economic growth has a positive and not significant influence on Indonesia's poverty level, (2). Health has a negative and significant influence on Indonesia's poverty level, (3).
Education has a negative and insignificant influence on Indonesia's poverty level, (4). Economic growth, health, and education affected the Indonesian poverty rate of 88.5% which was indicated by the R-squared value of 0.885.
B. Teori dan Kajian Pustaka A. Investasi
a. Pengertian Investasi
Investasi merupakan bentuk dari berbagai kegiatan dalam penanaman modal maupun pengeluran modal, yang dapat di gunakan sebagai penambah ouput baik itu barang dan jasa dalam suatu proses produksi. Hasil dari produksi
10
tersebut kemudian akan berguna dalam peningkatan dan pengembangan usaha pada bidang perekonomian (Sukirno,2006 dalam Dhyatmika, 2003).
Investasi merupakan kumpulan suatu barang yang dibeli dengan tujuan untuk digunakan di masa yang akan datang. Investasti sendiri dibedakan menjadi tiga macam yaitu, business fixed investment yang meliputi peralatan dan sarana yang digunakan dalam proses produksi suatu perusahaan, residential investment merupakan suatu pembelian rumah baru, rumah tersebut dapat digunakan oleh pemiliki, dan inventory investment yang merupakan alat maupun barang yang disimpan di ruang penyimpanan berupa gedung, seperti bahan mentah maupun bahan baku olahan produksi, stok persediaan cadangan maupun barang sisa produksi (Mankiw, 2006 dalam Dhiyatmika 20013).
Investasi juga dapat membuat tingkat pemerataan antar daerah bisa semakin rendah. Pada wilayah-wilayah masing tergolong berkembang, pada tingkat permintaannta dapat mendorong kenaikan jumlah pendapatan.
Sedangkan pada daerah-daerah terbelakang akan terjadi sebaliknya, permintaan akan barang dan jasa sangat rendah sehingga investasi yang terjadi sangat rendah dan pendapatan juga semakin rendah. Investasi swasta lebih di pengaruhi oleh kekuatan pasar, oleh sebab itu kekuatan pasar menjadi faktor utama dalam menarik investasi swasta, kekuatan pasar sendiri merupakan keuntungan demografi yang terdapat pada suatu wilayah (Sjafrizal 2008, dalam Dhyatmika, 2013).
.
11 A. Kemiskinan
a. Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang terjadi pada setiap penduduk di berbagai negara karena ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kebutuhannya, seperti kebutuhan pokok, kesehatan yang tinggi, pendidikan yang layak serta perekonomian yang rendah. Adapun kemiskinan juga diartikan sebagai kurangnya kesejahteraan penduduk yang membuat mereka menjadi miskin karena tidak memiliki pendapatan yang tinggi serta konsumsi yang tidak layak yang mengakibatkan penduduk tidak bisa mendapatkan kesejahteraan.
kemiskinan sebagai “ketidakmampuan penduduk/ seseorang dalam memenuhi standar kebutuhan minimum”. Adapun kebutuhan-kebutuhan dasar yang harusnya terpenuhi oleh penduduk untuk dapat kehidupan yang layak sehingga bisa terhindar dari kemiskinan yaitu meliputi pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan (Kuncoro, 2003).
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dan Departemen Sosial, kemiskinan merupakan ketidakmampuan suatu individu dalam memenuhi kebutuhan minimum untuk hidup yang lebih layak, baik itu dalam hal makanan maupun non-makanan. Badan Pusat Statistik (BPS) telah menetapkan garis kemiskinan yang dibutuhkan oleh individu untuk memenuhi kebutuhan makanan setara dengan 2100 kalori per individu per hari, sedangkan kebutuhan non-makanan yaitu seperti pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, barang dan jasa, serta transportasi.
12
Menurut Salim (1984:61) dalam Suryandari (2017) mengemukakan kemiskinan adalah seseorang yang memiliki pendapatan rendah karena produktivitas juga rendah. Produktivitas rendah tersebut disebabkan karena : 1. Lemah dalam jasmani dan rohani
2. Tidak memiliki asset untuk produksi b. Penyebab Kemiskinan
kemiskinan disebabkan karena perbedaan pola kepemilikan sumber daya, kualitas sumber daya yang berbeda, serta perbedaan akses untuk modal.
Menurut Sharp (1996:173-191) dalam Suryandari (2017) penyebab kemiskinan dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Secara mikro terdapat perbedaan kepemilikan sumber daya, sehingga menyebabkan timpangnya distribusi pendapatan karena penduduk yang miskin memiliki keterbatasan sumber daya serta kualitasnya juga rendah
2. Adanya perbedaan antara kualitas sumber daya manusia, sehingga menyebabkan produktivitas rendah dan upah atau gaji juga akan rendah
3. Perbedaan pada modal yang diakses.
Menurut Nasikun, terdapat beberapa proses penyebab terjadinya kemiskinan yaitu sebagai berikut :
1. Natural Cycles And Processes
Yaitu kemiskinan karena keadaan yang terjadi pada alam 2. Population Growth
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena pertambahan penduduk yang terlalu banyak
13 3. Socio-Economic Dualism
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena pola produksi seperti colonial 4. Policy Induces Processes
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena dilestarikan, atau di reproduksi dengan pelaksanaan kebijakan
5. Resources Management And The Environment
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena terdapat unsur manajmenen sumber daya alam serta lingkungan
6. Cultural And Ethnic Factors
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena masih adanya faktor budaya dan etnik 7. Internal Political Fragmentation And Civil Stratfe
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena penerapan kebijakan pada suatu daerah yang fragmentasi politiknya tinggi
8. The Marginalization Of Woman
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena peminggiran kaum perempuan yang disebut golongan kelas ke dua
9. International Processes
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena system-sistem internasional yang bekerja, seperti kaum kolonialisme dan kapitalisme
10. Explolative Intermediation
Yaitu kemiskinan yang terjadi karena seorang penolong yang berubah menjadi penodong.
14 c. Ukuran Kemiskinan
Badan Pusat Statistik (2010) menjelaskan bahwsannya dalam mengukur konsep kemiskinan ialah menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Didalam pendekatan ini kemiskinan adalah ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kebutuhan makanan dan non makanan yang di ukur dari sisi pengeluaran penduduk itu sendiri. Jadi dalam hal ini penduduk yang di kategorikan miskin yaitu ketika rata-rata pengeluaran perkapita mereka berada di bawah garis kemiskinan (Head Count Index). Adapun persentase penduduk miskin di provinsi di hitung dengan rumus berikut:
%𝑃𝑀𝑝 = 𝑃𝑀𝑝 𝑃𝑝 Keterangan :
%PMp = Persentase Penduduk Miskin di Provinsi p PMp = Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi p Pp = Jumlah Penduduk di Provinsi p
Adapun menurut World Bank pengukuran dalam garis kemiskinan ialah berdasarkan pada pendapatan yang di peroleh penduduk. Jika pendapatan yang diterima oleh penduduk dalam 1 hari kurang dari US$ 1.25 sampai dengan US$
2 per hari, maka penduduk tersebut masuk dalam kategori penduduk miskin (World Bank 2009).
Selain pengukuran konsep kemiskinan diatas, terdapat juga indikator untuk mengukur tingkat kemiskinan, yaitu dengan melihat indeks kedalaman kemiskinan penduduk (Poverty Gap Index–P1) dan indeks keparahan
15
kemiskinan (Poverty Severity Index-P2) yang di rumuskan oleh Foster-Greer- Thorbecke adalah sebagai berikut :
𝑃𝑎 = 1
𝑁 ∑ (𝑍 − 𝑦𝑖
𝑍 )
𝑁
𝑖=1
𝛼
Keterangan :
Z = Garis kemiskinan
i = Rata-rata pengeluaran perkapita penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan
q = Banyak penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan N = Jumlah penduduk
α = 0, 1, 2
α=0 = Head Count Index (Po) α=1 = Poverty Grap Index (P1) α=2 = Power Serverity Index (P2)
Adapun penjelasan dari pengertian Head Count Index, Poverty Grap Index, dan Power Severity Index yaitu sebagai berikut :
1. Head Count Index (Po) adalah jumlah persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, jika angka ini mengalami penurunan dan semakin kecil maka penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan akan mengalami penurunan.
2. Power Grap Index (P1) adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran dari masing-masing penduduk terhadap garis kemiskinan, jika semakin kecil angka
16
pada grap indek maka secara rata-rata pendapatan penduduk miskin sudah semakin mendekati garis kemiskinan.
3. Power Serverity Index (P2) adalah gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantaras penduduk miskin, jika semakin kecil angka yang ada pada Serverity Index maka distribus pendapatan diantara penduduk sudah merata.
Arsyad (2016) mengemukakan bahwa secara umum yang digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif adalah sebagai berikut :
1. Kemiskinan Absolut
Pada dasarnya, tingkat kemiskinan di kaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan. Kemungkinan seseorang bisa hidup layak ialah dengan memperkirakan kebuthan yang hanya dibatasi pada kebutuhan pokok ataupun kebutuhan dasar minimum yang dapat membuat penduduk hidup layak. Ketika pendapatan penduduk tersebut tidak memenuhi kebutuhan minimum, maka penduduk tersebut bisa dikatakan miskin. Jadi hal ini membuktikan bahwasannya kemiskinan bisa dibandingkan dengan pendapatan penduduk dengan tingkat pendapatan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Tingkat pendapatan minimum menjadi batas antara keadaan miskin dengan tidak miskin atau biasa di sebut garis kemiskinan. Jadi hal ini biasa disebut dengan kemiskinan absolut, dimana konsep ini dimaksudkan untuk memenuhi tingkat kebutuhan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik
17
terhadap makanan, pakaian, dan rumah untuk menjamin kelangsungan hidup suatu penduduk (Todaro dalam arsyad, 2006).
2. Kemiskinan Relatif
Suryandari (2017), menyatakan bahwasannya beberapa pakar berpendapat meskipun seseorang telah memenuhi kebutuhan minimumnya, namun pendapatan seseorang tersebut jika di bandingkan dengan pendapatan seseorang di sekitarnya masih rendah maka di kategorikan miskin. Hal tersebut terjadi karena kemiskinan itu di tentukan oleh keadaan di sekitar lingkungan seseorang tersebut.
d. Lingkaran Setan Kemiskinan
Dalam konsep lingkaran setan kemiskinan yang pertama kali di perkenalkan oleh Ragnar Nurkse. Lingkaran setan kemiskinan merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi satu sama lain yang menyebabkan kondisi pada suatu negara akan terus miskin dan akan menyulitkan dalam meningkat pembangunan ekonomi untuk lebih tinggi (Arsyad, 2016).
Teori yang di kemukan oleh Ragnar Nurkse menyatakan bahwasannya kemiskinan bukan hanya di sebabkan oleh tidak adanya pembangunan pada masa lalu, namun kemiskinan juga menjadi faktor penghambat dalam pembangunan ekonomi dimasa yang akan datang. Sehubungan dengan hal tersebut nurske meyatakan bahwa “suatu negara akan terus miskin karena negara tersebut merupakan negara miskin”. Adapun penyebab dalam terjadinya lingkaran setan kemiskinan ialah karena adanya hambatan yang kuat dalam proses pembentukan modal (Aryad, 2016).
18
Menurut Ragnar Nurske dalam teorinya berpendapat bahwa ada 2 jenis lingkaran setan kemiskinan yang menghalangi negara berkembang untuk mencapai pembangunan ekonomi dengan pesat, yaitu:
1. Dari segi penawaran (Supply)
Dalam hal ini pendapatan rendah yang di terima oleh penduduk karena tingkat produktivitas yang rendah menyebabkan ketidakmampuan penduduk untuk menabung. Akibatnya akan membuat pembentukan tingkat modal akan rendah. Jika dalam pembantukan modal rendah maka akan menyebabkan kurangya ketersedian barang-barang modal, dan hal tersebut akan membuat tingkat produktivitas tetap rendah.
Berikut adalah gambaran lingkaran setan berdasarkan dari segi penawaran menurut Ragnar Nurkse :
Gambar 2.1. Lingkaran Setan Kemiskinan Berdasarkan Penawaran Sumber : Ragnar Nurkse (1953)
Dari gambar 2.1 diatas maka dapat dijelaskan bahwasannya tingkat kemiskinan yang tinggi maka akan menyebabkan rendahnya angka produktivitas yang di hasilkan oleh seseorang, dan hal itu akan mempengaruhi pendapatan seseorang dimana pendapatan akan rendah dan akan meyebabkan seseorang tersebut tidak bisa menabung atau tabungan seseorang tersebut juga
Produktivitas Rendah Pembentukan
Modal Rendah
Pendapatan Rendah Tabungan Rendah
Tingkat Kemiskinan tinggi
Investasi Rendah
19
rendah, angka tabungan yang rendah tidak akan bisa meningkatkan investasi seseorang dan akan mengakibatkan pembentukan modal yang seharusnya di tingkatkan akhirnya ikut rendah sehingga dengan kurangnya modal tersebut maka kebutuhan tidak akan terpenuhi dan akan menyebabkan kemiskinan.
2. Dari Segi Permintaan (Demand)
Pada negara-negara miskin penanaman pembentukan modal sangatlah rendah, itu dikarenakan luas pasar untuk berbagai jenis barang yang terbatas.
Adapun keterbatas pasar tersebut dikarenakan rendahnya pendapatan yang dimiliki penduduk tersebut yang berada pada suatu negara. Kurangnya pembentukan modal tersebut karena kurangnya perangsan atau dukungungan dalam penanaman modal sehingga menyebabkan kemiskinan tiada akhirnya.
Berikut adalah gambaran lingkaran setan kemiskinan berdasarkan segi permintaan menurut Ragnar Nurkse :
Gambar 2.2. Lingkaran Setan Kemiskinan Berdasarkan Segi Permintaan Sumber : Ragnar Nurkse (1953)
Dari gambar 2.2 diatas maka dapat dijelaskan bahwasannya tingkat kemiskinan yang tinggi maka akan menyebabkan rendahnya angka produktivitas yang di hasilkan oleh seseorang, dan hal itu akan mempengaruhi
Produktivitas Rendah Pembentukan
Modal Rendah
Pendapatan Rendah Permintaan Barang
Rendah Investasi Rendah
Tingkat Kemiskinan tinggi
20
pendapatan seseorang dimana pendapatan akan rendah dan akan meyebabkan seseorang tersebut tidak bisa memenuhi keinginan untuk membeli barang dan menyebabkan permintaan terhadap barang akan rendah, permintaan barang yang rendah tidak akan bisa meningkatkan investasi seseorang dan akan mengakibatkan pembentukan modal yang seharusnya di tingkatkan akhirnya ikut rendah sehingga dengan kurangnya modal tersebut maka kebutuhan tidak akan terpenuhi dan akan menyebabkan kemiskinan.
2. Pertumbuhan Ekonomi
a. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Sukirno (2011:423) mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan suatu kegiatan perekonomian berupa barang dan jasa yang di produksi oleh masyarakat sehingga menghasilkan suatu peningkatan pendapatan. Peningkatan tersebut disebabkan karena bertambahnya faktor- faktor produksi baik secara kualitas maupun kuantitas. Olehkarena itu teknologi yang digunakan akan semakin berkembang dan tenaga kerja juga akan semakin bertambah seiring dengan ketrampilan yang dimiliki.
Pertumbuhan Ekonomi menurut Kuznet dan Tambunan (2014) mempunyai korelasi yang sangat kuat terhadap kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang pada tahap awal dapat menyebabkan tingkat kemiskinan cenderung meningkat namun pada saat akan mendekati tahap akhir akan terjadi pengurangan tingkat kemiskinan secara berkesinabungan. Dengan demikian dapat dapat diartikan bahwasannya pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh yang negatif terhadap kemiskinan.
21
Todaro (1998:124) mengemukakan bahwa terdapat 3 komponen utama pada pertumbuhan ekonomi yaitu :
1. Akumulasi Modal, merupakan suatu jenis investasi baru yang ditanamkan pada peralatan fisik, tanah dan pada modal atau sumber daya manusia. Investasi pada pembinaan sumber daya manusia yaitu berupa pelatihan-pelatihan kerja serta menyediakan pendidikan formal maupun non formal, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas tenaga kerja.
2. Pertumbuhan Penduduk, merupakan komponen penting pada pertumbuhan ekonomi karena pada beberapa tahun yang akan datang dapat menambah atau memperbanyak angkatan kerja dengan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik.
3. Kemajuan Teknologi, merupakan suatu proses perubahan yang berkaitan dengan produksi sehingga menghasilkan pembaharuan atau teknik penelitian yang baru. Seiring dengan berkembangnya teknologi maka produktivitas dan modal akan semakin meningkat.
b. Ukuran Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi pada umumnya dapat diukur melalui suatu perbandingan dua komponen yang mewakili keadaan perekonomian di setiap Negara dengan periode sebelumnya. adapun kedua komponen tersebut yaitu : 1. Produk Nasional Bruto (PNB), merupakan suatu pendapatan yang diterima
oleh Negara dalam kurun waktu selama satu tahun berdasarkan yang diterima oleh setiap warga negara. Pendapatan yang juga masuk dalam Produk Nasional Bruto (PNB) harus berupa produk barang jadi dan harga yang disesuaikan
22
dengan harga pasar yang berlaku. Sedangkan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan PNB yaitu membandingkan antara PNB pada periode sekarang dengan periode sebelumnya, dengan cara mengurangi PNB tahun sekarang dengan tahun sebelumnya kemudian dibagi dan dikalikan 100%.
2. Produk Domestik Bruto (PDB), merupakan suatu penghasilan yang didapatkan oleh Negara berdasarkan batasan wilayah. Artinya semua barang ekonomi yang di produksi terjadi pada suatu Negara, baik itu warga Negara lokal maupun asing yang termasuk dalam penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB).
Sedangkan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi melalui PDB yaitu melihat perbandingan antara PDB periode sekarang dan sebelumnya.
Adapun rumus laju pertumbuhan ekonomi menurut bps adalah sebagai berikut:
𝑃𝐷𝑅𝐵𝑋− 𝑃𝐷𝑅𝐵𝑋−1 𝑃𝐷𝑅𝐵𝑋−1 𝑋100 Keterangan :
PDRBₓ : PDRB tahun sebelumnya PDRBₓ-1 : PDRB tahun sekarang
Berdasarkan rumus diatas maka untuk menghitung laju pertumbuhan ekonomi di daerah maka haruslah menggunakan PDRB, baik itu menurut harga berlaku maupun harga konstan. Adapun penjelasan dari harga berlaku adalah untuk menggambarkan pada nilai tambah barang dan jasa yang di hitung menggunakan harga pada tahun berjalan, sedangkan untuk harga berlaku konstan adalah untuk menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang
23
di hitung menggunakan harga berlaku pada satu tahu tertentu sebagai tahun dasar.
3. Pendidikan
a. Pengertian Pendidikan
Menurut Kuznet dan Todaro (2011) menyatakan bahwasannya pendidikan merupakan salah satu cara yang dapat membantu seseorang terhindar dari kemiskinan. Todaro menyatakan bahwasannya pendidikan merupakan suatu pembangunan yang mendasar, yang mana pendidikan merupakan salah satu peran penting untuk membentuk kemampuan suatu negara dalam menyerap teknologi modern dan untuk pengembangan sebuah kapasitas agar tercipta pembangunan yang berkelanjutan.
Suryandari (2017) dalam upaya mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable development), sektor pendidikan memiliki pernanan yang strategis untuk mendukung proses produksi dan aktivitas ekonomi lainnya. Pendidikan dalam hal ini dianggap sebagai alat dalam mencapai target yang berkelanjutan karena dengan pendidikan aktivitas pembangunan akan dapat tercapai sehingga peluang untuk meningkatkan kualitas hidup dimasa mendatang akan lebih baik.
Adapun keadaan pendidikan penduduk secara umum dapat bisa diketahui dari beberapa faktor seperti angka partisipasi sekolah, tingkat pendidikan yang di tamatkan, angka melek huruf, dan rata-rata lama sekolah. Penjelasan indikator diatas tersebut bisa dilihat pada penjelasan berikut :
24 1. Angka Partisipasi Sekolah
Angka partisipasi sekolah merupakan indakator yang penting dalam pendidikan yang menunjukkan persentase penduduk 7-12 tahun yang masih terlibat dalam sistem persekolahan.
2. Tingkat Pendidikan yang di Tamatkan
Rendahnya tingkat pendidikan yang di tamatkan menjadi faktor dalam penghambat pembangunan. Dengan demikian dapat dipastikan bahwasannya sangat diperlukan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan penduduk.
3. Angka Melek Huruf
Salah satu yang menjadi ukuran dalam kesejahteraan sosial yang merata ialah dengan melihat tinggi rendahnya angka melek huruf suatu penduduk.
Adapun tingkat angka melek huruf dijadikan sebuah ukuran dalam kemajuan suatu bangsa, dengan tingginya angka membaca dan menulis yang dimiliki penduduk diharapkan mampu untuk mendorong penduduk lebih berperan aktif dalam pembangunan di suatu negara.
4. Rata-rata Lama Sekolah
Rata-rata lama sekolah merupakan indikasi yang mengartikan bahwasannya makin tinggi pendidikan oleh masyarakat di suatu daerah. Jika semakin tinggi rata-rata lama sekolah maka semakin tinggi jenjang pendidikan yang dijalani. Adapun rata-rata lama sekolah merupakan rata-rata penduduk usia 15 tahun keatas yang sudah menyelesaikan di seluruh jenjang pendidikan formal yang pernah diikuti.
25
Adapun rumus pendidikan dalam indikator rata-rata lama sekolah adalah sebagai berikut :
𝑅𝐿𝑆 = 1
𝑛× ∑ 𝑥𝑖
𝑛
𝑖−1
Keterangan :
RLS = Rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas Xi = Lama sekolah penduduk ke-I yang berusia 25 tahun N = Jumlah penduduk usia 25 tahun keatas
4. Kesehatan
a. Pengertian Kesehatan
Suryandari (2017) mengatakan beberapa ekonom beranggapan bahwasannya kesehatan fenomena yang dilihat dari stok maupun di nilai sebagai investasi sehingga fenomena kesehatan menjadi variabel yang nantinya bisa dianggap sebagai suatu faktor produksi untuk meningkatkan nilai tambah barang dan jasa, atau sebagai suatu sasaran dari berbagai tujuan yang diinginkan oleh setiap induvidu, rumah tangga maupun masyarakat, yang dikenal sebagai tujuan untuk kesejahteraan.
Arsyad (2016) menjelaskan bahwasannya salah satu intervensi pemerintah untuk dapat mengurangi kemiskinan ialah dengan memperbaiki kesehatan yang ada di suatu negara sehingga bisa meningkat produktivitas pada suatu negara.
Kesehatan yang baik akan meningkatkan daya kerja, mengurangi pengangguran dan meningkatkan ouput energi. Oleh karena itu kesehatan yang baik akan menurunkan Tingkat Kemiskinan (negatif).
26
Mils dan Gilson (dalam Hakimuddin,2010) mendifinisikan ekonomi kesehatan sebagai penerapan teori, konsep dan teknik ilmu ekonomi sebagai sektor kesehatan, sehingga dengan demikian ekonomi kesehatan berkaitan dengan erat dengan hal-hal sebagai berikut :
1. Alokasi sumber daya diantara berbagai upaya kesehatan
2. Jumlah sumber daya yang digunakan dalam pelayanan kesehatan 3. Perorganisasian dan pembiayaan dari berbagai pelayanan kesehatan 4. Efesiensi pengalokasian dan penggunaan berbagai sumber daya alam
5. Dampak upaya pencegahan, pengobatan, dan pemulihan kesehatan pada induvidu dan masyarakat.
Kesehatan adalah suatu variabel kesejahteraan rakyat yang menggambarkan tingkat kesehatan masyarakat sehubungan dengan kualitas hidupnya. Kesehatan penduduk merupakan salah satu modal bagi keberhasilan pembangunan bangsa karena dengan penduduk yang sehat, diharapkan pembangunan akan mengalami peningkatan dan lancer.
Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam menggambarkan kesehatan di suatu daerah umumnya terdiri dari:
1. Tingkat Kesakitan penduduk 2. Sarana Kesehatan
3. Angka Harapan Hidup 4. Tenaga Kesehatan.
Angka harapan hidup yang rendah haruslah diimbangi dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehetan
27
lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan.
Adapun penghitungan kesehatan dalam indikator angka usia harapan hidup adalah sebagai berikut:
Penghitungan angka usia harapan hidup melalui angka kematian menurut umur (age specific death/ ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan untuk dibuatkan tabel (BPS).
5. Hubungan Antar Variabel
1. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Tingkat Kemiskinan
Suryandari (2017) didalam penelitiannya menyebutkan bahwasannya terdapat pengaruh negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kemiskinan, yang artinya jika terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi makan akan menyebabkan penurunan terhadap tingkat kemiskinan. adapun menurut penulis menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi salah satu kunci untuk dapat menurunkan kemiskinan di suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator untuk melihat keberhasilan suatu proses pembangunan dan merupakan syarat dalam pengurangan tingkat kemiskinan. adapun banyak daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi menyebabkan kesejahteraan masyarakatnya rendah sehingga memicu pertumbuhan ekonomi yang rendah pula.
Faturrohmin (2011) didalam penelitiannya menyebutkan bahwasannya terdapat pengaruh negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat
28
kemiskinan, yang artinya jika terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi makan akan menyebabkan penurunan terhadap tingkat kemiskinan. adapun menurut penulis menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama untuk kelangsungan pembanunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi dalam penambahan kesempatan kerja rendah akan menyebabkan ketimpangan pendapatan, hal tersebut akan berdampak pada meningkatknya kemiskinan.
2. Pengaruh Pendidikan Terhadap Tingkat Kemiskinan
Bintang dan Woyanti (2018) dalam penelitiannya menyebutkan bahwasannya terdapat pengaruh negatif antara pendidikan dengan tingkat kemiskinan, yang artinya jika terjadi kenaikan angka pendidikan maka akan menurunkan Tingkat Kemiskinan. adapun menurut penulis menyatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu pengaruh yang penting dalam mengurangi kemiskinan, pendidikan formal menjadi salah satu modal yang penting bagi manusia untuk mencapai kesejahteraan. Jika akses untuk pendidikan semakin baik maka semakin besar pula kesempatan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Janjua et all (2014) dalam penelitiannya menyebutkan bahwasannya terdapat pengaruh negatif antara pendidikan dengan tingkat kemiskinan, yang artinya jika terjadi kenaikan angka pendidikan maka akan menurunkan Tingkat Kemiskinan. Adapun menurut penulis menjelaskan bahwa pendidikan merupakan investasi bagi induvidu di masa yang akan datang karena dengan meningkatnya angka pendidikan maka akan mendorong peningkatan
29
pendapatan dan hal tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Kesempatan mendapatkan pendidikan yang tinggi merupakan indikator dalam mengurangi kemiskinan.
3. Pengaruh Kesehatan Terhadap Tingkat Kemiskinan
Faturrohmin (2011) didalam penelitiannya menyebutkan bahwasannya terdapat pengaruh negatif antara pendidikan dengan tingkat kemiskinan, yang artinya jika terjadi kenaikan tingkat kesehatan maka akan menyebabkan penurunan terhadap tingkat kemiskinan. adapun menurut penulis menjelaskan bahwa harapan hidup adalah rata-rata perkiraan banyaknya tahun yang dapat di tempuh oleh seseorang dalam hidup. Pada tingkat mikro yaitu pada tingkat induvidu dan keluarga, kesehatan merupakan dasar bagi produktivitas kerja dan kapasitas untuk belajar di sekolah. Sedangkan pada tingkat makro, penduduk dengan tingkat kesehatan yang baik merupakan masukan penting untuk menurunkan kemiskinan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi dalam jangka panjang.
Efendi et all (2019) dalam penelitiannya menyebutkan bahwasannya terdapat pengaruh negatif antara kesehatan dengan tingkat kemiskinan, yang artinya jika terjadi kenaikan angka pendidikan maka akan menurunkan Tingkat Kemiskinan. Adapun menurut penulis menjelaskan bahwa kesehatan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemiskinan, kesehatan merupakan salah satu faktor penting untuk menjalankan proses perekonomian, dimana kesehatan harus dimiliki oleh seluruh warga negara dalam memenuhi kebutuhannya
30
sehingga hal tersebut akan berdampak pada peningkatan pendapatan yang akan dapat mengurangi kemiskinan.
31 C. Kerangka Konseptual
Gambar 2.3 Kerangka Konseptual Penelitian Tujuan dalam penelitian ini adalah
untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota provinsi Gorontolo. Pada skripsi ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan jenis data panel yang bersumber dari Badan Pusat Statistik provinsi Gorontalo dan jumlah sampel berjumlah 6 kabupaten/kota.
Faturrohmin (2011), PDRB dan angka usia harapan hidup memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di provinsi jawa tengah.
Suryandari (2017), Pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di provinsi daerah istimewa yogjakarta.
Bintang et al (2018), Rata-rata lama sekolah dan angka usia harapan hidup memiliki pengaruh negatif dan signifikan, sedangkan PDRB memiliki pengaruh positif dan signifikan.
Permasalahan:
Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata dan rendah, serta rendahnya angka pendidikan dan juga angka kesehatan menyebabkan meningkatnya tingkat kemiskinan.
Hipotesis:
Diduga Pertumbuhan ekonomi, Pendidikan, dan Kemiskinan berpengaruh signifikan terhadap tingkat Kemiskinan di Kab/kota Provinsi Gorontalo.
Anaslisis Data:
Uji Hausman,Uji LM Regresi Data Panel Uji F dan Uji T
Hasil:
Pertumbuhan Ekonomin, Pendidikan, dan Kesehatan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Tingkat Kemiskinan di Kab/kota provinsi Gorontalo tahun 2012-2019.
32 D. Hipotesis
H1 : Diduga Pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap tingkat Kemiskinan di Kabupaten/kota provinsi Gorontalo.
H2 : Diduga Pendidikan berpengaruh signifikan terhadap tingkat Kemiskinan di Kabupaten/kota provinsi Gorontalo.
H3 : Diduga Kesehatan berpengaruh signifikan terhadap tingkat Kemiskinan di Kabupaten/kota provinsi Gorontalo.