• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN. Populasi dan Sampel Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "METODE PENELITIAN. Populasi dan Sampel Penelitian"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

56 METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi

Populasi dalam penelitian ini ialah kepala keluarga peternak sapi potong yang terhimpun dalam kelompok peternak, yang berdomisili dan berusaha di tiga kabupaten yakni Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat; Kabupaten Sukohardjo, Jawa Tengah dan Kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta. Penentuan tiga kabupaten dan penentuan ke lompok terpilih dilakukan berdasarkan pada tingkat kemajuan kelompok peternak sapi potong. Data tingkat kemajuan kelompok peternak tersebut diperoleh dari Direktorat Jenderal Peternak (Ditjenak) Departemen Pertanian RI.

Kabupaten Sukabumi dipilih karena termasuk kategori kabupaten yang kelompok pe ternaknya relatif baru dan belum maju. Alasan pertimbangan lain dipilihnya Kabupaten Sukabumi adalah karena kabupaten ini memiliki motto untuk menjadikan “Kabupaten Sukabumi sebagai kabupaten peternakan,” dan telah merancang untuk mengembangkan Pembangunan Kawasan Agribisnis Terpadu Ternak Sapi Potong di wilayah Sukabumi Selatan. Kecamatan terpilih di Kabupaten Sukabumi ini adalah Kecamatan Nyalindung dan Kecamatan Surade.

Sedangkan kelompok peternak terpilih di Kabupaten Sukohardjo dan Gunung Kidul termasuk kategori kelompok “utama” atau sudah maju dan pernah jadi juara lomba ternak sapi potong tingkat nasional. Baik di Kabupaten Sukohardjo maupun Gunung Kidul diambil satu kecamatan terpilih yakni Kecamatan Polokarto dan Gedangsari, dimana di masing-masing kecamatan tersebut terdapat kelompok peternak sapi potong pemenang Lomba Agribisnis Ternak Sapi Potong tingkat Nasional pada tahun 2003.

Sampel

Sampel berasal dari populasi yang tersebar di empat kecamatan terpilih diambil sebanyak 125 responden, yang mewakili kelompok peternak sapi potong yang sudah eksis (maju) yakni dari dua kelompok peternak sapi potong, satu dari

(2)

57

Desa Ngalang Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul dan satu lagi dari Desa Mranggen Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo; dan dua kelompok dari kelompok peternak sapi potong yang relatif baru, dari Desa Cisitu Kecamatan Nyalindung dan dari Desa Jagamukti Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi.

Penentuan besarnya sampel yang mewakili populasi sebanyak 125 orang ditetapkan berdasarkan pertimbangan teknis dan nonteknis. Pertimbangan teknis dilihat berdasarkan (a) variabilita s atau derajat keragaman data yang dipelajari, (b) tingkat kepercayaan dalam angka estimasi yang dihasilkan, (c) presisi atau batas penyimpangan yang bisa ditolerir dalam angka estimasi, dan (d) rencana analisis data. Sedangkan pertimbangan nonteknis berupa efisiensi biaya, keterbatasan tenaga peneliti dan waktu yang tersedia (Scheaffer et al., 1992). Perhitungan Penetapan jumlah sampel dilakukan atas pertimbangan ragam (varians =σ 2) yang didapat di lapangan (diambil dari peubah yang paling besar sebagai pembatas) yakni dari data kelas ekonomi pada selang kepercayaan 90% bagi x ± a. Secara umum untuk menghitung nilai n atau penarikan jumlah sampel adalah sebagai berikut:

Keterangan:

n = Jumlah peternak yang dijadikan contoh α = Taraf nyata

σ2 = Ragam

z = Nilai peubah untuk normal baku

a = K onstanta sehingga x ± a merupakan selang kepercayaan (1-α )

Untuk memperoleh akurasi yang tinggi, secara teori nilai a harus kecil sehingga diperoleh nilai n relatif besar. Berdasarkan rumus di atas, dengan menggunakan selang kepercayaan dugaan 90% (yang diambil dari tabel z =1,645) diperoleh nilai (4,04632E+15)

n = (1,645)2 --- = 109 orang. Agar n data cukup layak/ mewakili (10.000.000)2

(representativeness), diambillah jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 125 responden peternak, dengan mempertimbangkan kemungkinan adanya pencilan dan keragaman yang tinggi.

σ 2 n = (z α/2 )2 --- a2

(3)

58

Desain Penelitian

Untuk memetakan (mapping) jaringan komunikasi, diambil dua kelompok peternak sapi potong yang maju (“sedyo rukun” atau Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul dan kelompok “subur” atau Polokarto Kabupaten Sukohardjo) dan dua kelompok belum maju (Cisitu dan Surade) sebagai unit contoh. Contoh ini diambil dengan teknik “sampling intact system” (Rogers dan Kincaid, 1981).

Dengan metode “intact system” ini, semua individu dalam setiap kelompok peternak sapi potong sebagai suatu sistem sosial adalah sebagai responden.

Penelitian ini dirancang sebagai penelitian survei deskriptif korelasional.

Sedangkan pemetaan jaringan komunikasi menggunakan kajian analisis jaringan komunikasi yang dilakukan dengan pembuatan matriks hubungan komunikasi yang berasal dari has il pertanyaan sosiometris. Dari matriks tersebut dibuat sosiogram jaringan komunikasi sapi potong.

Dipilihnya metode analisis jaringan komunikasi, karena metode ini dapat dengan jelas mendeskripsikan jaringan komunikasi dengan sosiogram. Metode ini bertit ik tolak dari analisis konvergensi yang berlandaskan pada teori cybernetic, yakni teori yang memandang tingkah laku manusia dari perspektif sistem-sistem (Rogers dan Kincaid, 1981). Teori ini beranggapan bahwa perilaku seseorang akan lebih ditentukan oleh relasi-relasi sosialnya daripada ciri-ciri individunya.

Sedangkan analisis korelasional digunakan untuk menjelaskan faktor- faktor yang diduga berhubungan dengan peran komunikasi peternak dalam jaringan komunikasi sapi potong. Faktor yang diduga berhubunga n secara nyata dengan peran komunikasi peternak dalam jaringan komunikasi tersebut adalah tingkat pendidikan, kelas ekonomi dan ke pemilikan media massa, serta perilaku komunikasi interpersonal yang digunakan dan keterdedahan media massa (radio, tv dan suratkabar). Termasuk melihat keterkaitan hubungan karakteristik personal terpilih dengan pemanfaatan media massa maupun pemanfaatan media interper- sonal, hubungan peran komunikasi anggota kelompok dalam jaringan komunikasi dengan tingkat informasi yang dimiliki (distorsi pesan), hubungan kelas ekonomi dengan pemusatan jaringan komunikasi, serta hubungan kelas ekonomi dengan macam kepemimpinan komunikasi pemuka pendapat.

(4)

59

Data dan Instrumentasi

Data

Dalam penelitian ini ada dua jenis data yang diambil, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data kuantitatif, yakni data yang berkaitan dengan peubah bebas berupa karakteristik personal terpilih, saluran komunikasi interpersonal yang digunakan dan keterdedahan media massa, dan data peubah terika t berupa peran komunikasi anggota kelompok dalam jaringan komunikasi penyuluhan sapi potong dan distorsi; serta data kualitatif (soft data ) berupa hasil wawancara mendalam (indepth interview) kepada responden dan informan, dimana informasi dikumpulkan dengan alat tape recorder.

Data sekunder meliputi kondisi umum wilayah penelitian, data ternak dan kelompok peternak serta data yang relevan dengan penelitian ini yang diperoleh dari kantor desa/kecamatan lokasi penelitian dan kantor dinas peternakan maupun KIPP (Kantor Informasi dan Penyuluhan Pertanian) Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Sukohardjo dan Kabupaten Gunung Kidul, UPP (Unit Penyuluhan Pertanian) dan KCD (Kepala Cabang Dinas) kecamatan lokasi penelitian. Di samping itu dilakukan studi literatur, diskusi dan observasi lapangan untuk memperoleh gambaran wilayah, situasi dan kondisi lokasi penelitian.

Data primer yang dikumpulkan terdiri dari:

1. Karakteristik personal terpilih yang meliputi: pendidikan formal, kelas ekonomi dan kepemilikan media massa.

2. Perilaku komunikasi interpersonal yang digunakan, berupa aktivitas interaksi peternak secara individu dengan pembina, penyuluh, pejabat dinas peternakan dan pejabat terkait lainnya, pedagang, pemodal dan pendamping, atau dengan sesama peternak, kontak tani da lam bentuk komunikasi tatap muka. Perilaku komunikasi interpersonal dalam hal ini meliputi: perilaku menerima, mencari, mengklarifikasi atau mendiskusikan dan menyebarkan informasi tentang sapi potong.

3. Keterdedahan media massa yang meliputi: perilaku komunikasi peternak dalam mencari atau mendapatkan informasi dari siaran radio, televisi dan suratkabar.

(5)

60

4. Data jaringan komunikasi yang terdiri atas sosiogram yang mengandung indikasi jenis jaringan, arah arus informasi, anggota jaringan, pemencil, tingkat informasi masing-masing individu baik yang menjadi anggota jaringan, orang yang mempunyai posisi sebagai pemuka pendapat, orang yang berposisi sebagai pengikut pemuka pendapat, jaringan utama dan sub-sub jaringannya. Peran-peran Komunikasi yang diamati dari sosiogram jaringan komunikasi penyuluhan sapi potong ini meliputi: mutual pairs, neglectee dan star.

Instrumentasi

Untuk keperluan pengumpulan data diperlukan alat bantu kuestioner berupa daftar pertanyaan yang berhubungan dengan peubah-peubah yang diamati terhadap objek penelitian. Kuestioner terdiri atas tiga bagian yakni bagian pertama mengidentifikasikan karakteristik personal, bagian kedua untuk memperoleh data tentang perilaku komunikasi interpersonal dan keterdedahan media massa, serta bagian ketiga untuk memperoleh data tentang jaringan komunikasi dan distorsi. Beberapa data tambahan untuk pendalaman dikumpulkan melalui interview dan observasi ke lokasi penelitian.

Validitas dan Reliabilitas Instrumen. Penentuan validitas dan reliabilitas instrume n dilakukan dengan uji coba kuestioner. Uji coba kues tioner dilakukan terhadap peternak yang memiliki ciri-ciri relatif sama dengan peternak yang dijadikan sampel penelitian. Pelaksanaan uji coba dilaksanakan dari tanggal 1-10 Desember 2004 di Desa Nyalindung dan Desa Kertaangsana Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pengumpulan data uji coba dilaksanakan melalui wawancara langsung dengan 30 peternak.

Validitas Instrumen. -- Validitas instrumen merupakan suatu tingkat keabsahan kuestioner sebagai alat ukur untuk menunjukkan sejauhmana instrumen tersebut benar-benar mengukur apa yang seharusnya ia ukur (Kerlinger, 1986; Rakhmat, 2005, Wimmer dan Dominick,1983). Pengukuran validitas instrumen diarahkan

(6)

61

ke validitas isi atau “content validity,” yakni sejauhmana isi alat pengukur tersebut memadai mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep, dan diarahkan ke validitas konstrak atau “construct validity,” yaitu dengan melihat faktor -faktor apa yang dapat menerangkan keragaman (varians) sesuatu yang diukur (Kerlinger, 1986).

Untuk mencapai validitas instrumen, maka langkah yang biasa dilakukan adalah: (1) menentukan peubah-peubah apa yang mungkin berhubungan dengan sesuatu yang menjadi pokok pengamatan, (2) menyesuaikan dengan apa yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu untuk mendapatkan data yang sesuai, (3) menjadikan teori-teori dan kenyataan yang telah diungkapkan pada berbagai kepustakaan sebagai dasar membangun instrumentasi, (4) menyesuaikan isi pertanyaan/pernyataan dengan keadaan peternak dan lingkungan komunikasinya serta (5) memperhatikan nasehat-nasehat para ahli, terutama Komisi Pembimbing.

Tingkat validitas suatu alat ukur bisa diketa hui dari nilai koefisien validitasnya yang memilik i rentang dari nol sampai 1,00 dengan pengertian semakin mendekati angka satu maka validitas semakin sempurna. Dengan menggunakan rumus korelasi moment product nilai koefisien validitas instrumen penelitian ini dapat diperoleh (Kerlinger, 1986; Singarimbun dan Effendi, 1995).

Hasil uji korelasi produk momen, Pearson correlation menunjukkan nilai total validitas sebesar 0,4299 pada taraf nyata 5% , yang bila dibandingkan dengan nilai kritis tabel korelasi (rtabel) = 0,361 menunjukkan nilai yang lebih besar; maka secara keseluruhan butir pertanyaan dikatakan valid. Apabila dilihat per butir pertanyaan, maka hasil hitungan uji validitas ini menunjukkan ada tiga butir pertanyaan tidak signifikan , yakni butir pertanyaan nomor 7 (P7), butir P14 dan butir P23. Koefisien validitas ketiga butir tersebut berada di bawah angka kritis, bahkan negatif. Untuk itu, dua butir pertanyaan tak valid (P7 dan P14) dihilangkan dari kuestioner yang diberikan kepada responden, karena pernyataan tersebut bertentangan dengan pernyataan/pertanyaan yang lain. Sedangkan pertanyaan nomor 23 (P23) didiversifikasi atau dipecah menjadi tiga butir pernyataan yang lebih spesifik, agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

(7)

62

Reliabilitas Instrumentasi. -- Malo dan Trinoningtias (1991) mengemukakan bahwa reliabilitas instrumen adalah tingkat kemantapan atau konsistensi suatu alat ukur atau disebut juga keterandalan alat ukur. Reliabilitas lebih mudah dimengerti dengan memperhatikan tiga aspek dari suatu alat ukur, yakni unsur kemantapan (stabilitas), unsur ketepatan (akurasi ataupun presisi) dan yang ketiga ialah unsur error ataupun kesalahan pengukuran dimana semakin kecil keragaman (variabilitas) maka semakin tinggi akurasi instrumen pengukuran tersebut, oleh karena semakin kecil eror yang terdapat (Kerlinger, 1986). Analisis reliabilitas digunakan untuk mengukur tingkat akurasi dan presisi dari jawaban yang mungkin dari beberapa pertanyaan. Dalam penelitian ini metode yang digunakan ialah metode konsistensi internal, dengan Reliability Analysis Scale Alpha (Cronbach’s Alpha). Hasil analisis uji keterandalan terhadap kuestioner penelitian ini diperoleh nilai koefisien reliabilitas alfa Cronbach sebesar 0,6635. Karena nilai rhasil = 0,6635 > rtabel = 0,361, dapat dikatakan bahwa kuestioner yang digunakan terandal (reliabel).

Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilaksanakan selama dua bulan, dari tanggal 14 Desember 2004 sampai 16 Februari 2005 dengan teknik wawancara memakai kuestioner dan observasi lapangan, termasuk pengumpulan data sekunder.

Pengumpulan data dilakukan di kelompok peternak sapi potong Cisitu Kecamatan Nyalindung dan kelompok Surade Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, di kelompok Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta dan di kelompok Polokarto Kabupaten Sukohardjo Jawa Tengah.

Analisis Data

Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan dua macam metode, yakni Pertama: analisis jaringan komunikasi untuk merekonstruksikan struktur peran komunikasi peternak anggota kelompok dalam jaringan komunikasi sapi potong yang terbentuk di empat lokasi penelitian.

Analisis jaringan komunikasi dilakukan dengan menggunakan teknik sosiometri,

(8)

63

untuk mendapatkan sosiogram. Kedua, analisis statistik deskriptif yang relevan misal, tabel distribusi, frekuensi, rataan (boxplot) dan persentase , serta untuk melihat hubungan menggunakan metode tabulasi silang (cross tab), uji lintas (path analysis), uji beda vektor nilai tengah (Inferences about a mean vector) atau T2 Hotelling, uji diskriminan yang bertatar (stepwise), analisis matriks korelasi, ana- lisis biplot, analisis korespondensi (correspondence analysis) dan uji khi-kuadrat dengan bantuan program SPSS versi 12 for Windows dan program SAS seri 8.2.

Analisis Jalur

Pengujian hubungan antara peubah pemberi pengaruh kepada peran-peran komunikasi anggota kelompok dalam jaringan komunikasi sapi potong, dilakukan analisis regresi linear ganda (multiple linear regression). Adapun bentuk umum untuk regresi linear ganda peubah tak bebas Y atas X1, X2, …, Xk ditaksir oleh:

dengan konstanta b0 dan koefisien-koefisienb1,b2 ,…, bk dapat ditaksir berdasarkan n buah pasang data (X1, X 2 , …, Xk, Y) yang diperoleh dari pengamatan (Sudjana, 1996). Berdasarkan model regresi linear ganda di atas ditentukanlah koefisien lintas (path coefficient). Koefisien jalur ini pada dasarnya merupakan koefisien beta atau koefisien regresi baku. Notasi yang dipakai untuk koefisien jalur ialah pij

dengan pengertian i menyatakan akibat atau peubah tak bebas dan j menyatakan penyebab/peubah bebasnya. Koefisien ini bisa dicantumkan pada garis jalur yang bersesuaian dalam diagram jalur. Dalam penelitian ini, tampilan diagram dan koefisien jalur faktor-faktor yang mempengaruhi peran komunikasi anggota kelompok dalam jaringan komunikasi sapi potong tersaji pada Gambar 4. Dalam diagram jalur tersebut, pendidikan (X1) dan kelas ekonomi (X2) merupakan peubah eksogenus. Korelasi antara kedua eksogenus ini dilukiskan berupa garis beranak panah tunggal pada ujungnya, dengan nilai p21. Peubah pemilikan media massa (X3), X4, X5, X6, X7, X8 dan Y adalah peubah endogenus. Jalur juga berupa garis beranak panah tunggal pada ujungnya, ditarik dari peubah-peubah bebas sebagai penyebab kepada peubah-peubah tak bebas yang diambil sebagai akibat.

Y = b0 + b1 X1 + b2 X 2 + … + bk Xk

(9)

64 py1

p41

py5

p31

p45

p53 py 4

p21 py3

p63

py 6 p46

p32 p73

p6 2

p47 py8

p72 py 7 py 2

p51

py2y

Gambar 4. Tampilan diagram jalur antar peubah yang mempengaruhi peran-peran komunikasi dalam jaringan komunikasi sapi potong dan distorsi pesan

Dari diagram jalur ini, diturunkanlah model jalur, yang persamaannya (dinyatakan dalam angka baku z) menjadi sebagai berikut:

z1 = e1

z2 = p21 z1 + e2

z3 = p31 z1 + p32 z2 + e3

z4 = p41 z1 + p45 z5 + p46 z6 + p47 z7 + e4

z5 = p51 z1 + p53 z3 + e5

z6 = p62 z2 + p63 z3 + e6

z7 = p72 z2 + p73 z3 + e7

zy = py1 z1 + py2 z2 + py3 z3 + py4 z4 + py5 z5 + py6 z6 + py7 z7 + ey

dengan persamaan ini, maka koefisien-koefisien jalur dapat dihitung dinyatakan oleh korelasi rij. Oleh karena itu harga-harga peubah dinyatakan dalam angka baku, maka untuk n buah pengamatan berlaku rumus: (Sudjana, 1996)

Di samping itu, diagram jalur pada Gambar 4 menyajikan pula peubah- peubah residual untuk menunjukkan efek peubah-peubah yang tidak termasuk dalam model rekursif antara peubah-peubah bebas (karakteristik personal,

rij = 1n

zizj

Pendidikan Z1

Pemilikan media massa

Z3

Kelas ekonomi Z2

Peran komuni kasi Zy

Dis tor si

Zy 2 Terdedah

radio Z5

Komunikasi interpersonal

Z4

Terdedah tv Z6

Terdedah

Koran Z7 Pemuka pendapat

Z8

(10)

65

keterdedahan media massa dan perilaku komunikasi interpersonal) yang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan peubah tak bebas (peran komunikasi peternak dalam jaringan komunikasi sapi potong). Peubah residual tersebut adalah X8 (pemuka pendapat) dan Y2 (distorsi pesan), dimana untuk menghitung koefisien jalur antara peubah X8 dan Y (peran komunikasi anggota kelompok dalam jaringan komunikasi sapi potong), dihitung dari model persamaan:

z8 = e8

zy = py8 z8 + ey

dan menghitung koefisien jalur antara peubah Y dan Y2 (distorsi pesan) , dihitung model jalur dari model persamaan:

zy = ey

zy2 = py2y zy + ey2

Perhitungan kesemua koefisien jalur di atas dapat dibantu dengan pengolahan data dan prosedur analisis regresi menggunakan piranti lunak program SPSS versi 12 for Windows.

Matriks Korelasi

Untuk mendapatkan gambaran data hasil pengamatan yang terdiri dari banyak peubah dengan melihat seberapa kuat hubungan antara peubah-peubah itu terjadi, dapat ditentukan derajat hubungan antara peubah-peubah tersebut dalam bentuk matriks koefisien korelasi.

Untuk menentukan koefisien-koefisien korelasi rij antara xi dan xj, dan koefisien-koefisien korelasi dengan rumus ryi antara y dan xi, dapat dibantu dengan jalan memanfaatkan jasa komputer. Untuk itu amatan peubah xi (i = 1, 2,

…, k) da n y diubah menjadi bilangan baku zx dan zy seperti berikut:

kemudian menggunakan bilangan-bilangan baku ini, koefisien-koefisien korelasi sederhana rij antara xi dan xj, dan ryi antara y dan xi secara umum dihitung dengan rumus: rxy =

n z zx y

Σ (Sudjana, 1996).

zx = sx

x

x− dan zy = sy

y y

(11)

66

Analisis Biplot

Untuk mendapatkan gambaran keragaan umum tentang objek dan gambaran tentang peubah, baik tentang keragamannya maupun korelasinya, maka digunakan analisis biplot. Dimana panjang vektor akan memberikan gambaran tentang keragaman. Semakin panjang vektor peubah tersebut, makin tinggi keragamannya. Sedangkan sudut antara vektor menunjukkan korelasi antara peubah. Bila sudut antara kedua vektor tersebut mendekati 0 maka makin besar korelasi positif antara kedua peubah tersebut. Korelasi sama dengan 1 diperoleh bilaθ= 0. Bila sudut antara kedua vektor mendekati π , makin besar korelasi negatif antara kedua peubah tersebut. Korelasi sama dengan -1 akan diperoleh bila θ= π. Makin dekat θ terhadap π/2, makin kecil korelasi kedua peubah tersebut dan korelasi sama dengan 0 atau tidak ada korelasi diper oleh apa bila θ= π /2.

Metode analisis ini digunakan untuk menyajikan data peubah ganda dari ruang yang berdimensi banyak ke dalam ruang yang berdimensi rendah, sehingga dimaksudkan data lebih mudah untuk ditaf sirkan. Hal ini sesuai dengan istilah bi dalam biplot dikaitkan dengan peragaan bersama atau serempak berupa penumpangtindihan antara vektor-vektor yang mewakili baris dan kolom matriks (Siswadi dan Suhardjo, 2002).

Data yang digunakan untuk analisis biplot berupa matriks X berpangkat r, berukuran n x p (n = banyaknya objek dan p = banyaknya peubah) dikoreksi dengan nilai tengah. Matriks X diuraikan menggunakan konsep Penguraian Nilai Singular (PNS). Dengan menggunakan program statistik SAS seri 8.2 didapat hasil grafik Biplot, adapun bentuk persamaan dan penguraiannya sebagai berikut:

Keterangan: U = matriks berukuran n x r dengan lajur saling ortonormal L = matriks diagonal berukuran r x r dengan unsur pada diagonal utamanya ialah akar kuadrat dari akar ciri matriks X’X dan unsur-unsur diagonal ini disebut nilai singular matriks X A = matriks berukuran p x r dengan lajur saling ortonormal r = pangkat dari matriks X.

X = nUrLrAp = nUrLarL1-arAp = nGrHr

(12)

67

dengan mendefinisikan G = ULa dan H = AL1-a ; 0 < a < 1.

Fakta yang diperoleh untuk a = 0 (G = U dan H = AL) yang digunakan dalam studi ini, adalah:

1. hi hj = (n-1)sij, dengan sij = (n-1)-1 ∑(xik-xi) (xjk-xj).

Artinya, penggandaan titik antara vektor hi dengan hj akan memberikan gambaran koragam antara peubah ke-i dengan peubah ke -j.

2. hi = (n-1)-1/2 si.

Artinya, panjang vektor tersebut akan memberikan gambaran tentang keragaman peubah ke -i. Makin panjang vektor hi dibandingkan dengan vektor lainnya, katakanlah hj, makin besar pulalah keragaman peubah ke -i dibandingkan dengan peubah ke -j.

3. cos θ = rij, θ merupakan sudut antara vektor hi dengan vektor hj dan rij

merupakan korelasi antara peubah ke -i dengan peubah ke-j. Bila sudut antara kedua vektor tersebut mendekati 0 maka makin besar korelasi positif antara kedua peubah tersebut. Korelasi sama denga n 1 diperoleh bila θ= 0. Bila sudut antara kedua vektor tersebut mendekati π , makin besar korelasi negatif antara kedua peubah tersebut. Korelasi sama dengan -1 akan diperoleh bila θ = π . Makin dekat θ terhadap π/2, makin kecil korelasi kedua peubah itu, dan korelasi sama dengan 0 atau tidak ada korelasi diperoleh bila θ= π/2.

4. Bila pangkat X = p, maka (xi-xj) S-1 (xi-xj) = (n-1) (gi-gj)’ (gi-gj).

Artinya, (kuadrat) jarak Mahalanobis antara xi dengan xj akan sebanding dengan (kuadrat) jarak Euclid antara gi dengan gj. Makin kecil jarak Euclid antara titik gi dan gj yang terlihat dalam plot akan memberikan gambaran makin dekatnya xi dengan xj yang diukur dengan menggunakan peubah ganda asal dengan jarak Mahalanobis. Sebaliknya, makin besar jarak Euclid antara titik gi dan gj yang terlihat dalam plot akan memberikan gambaran makin jauhnya xi dengan xj yang diukur dengan menggunakan peubah ganda asal dengan jarak Mahalanobis.

(13)

68

Uji Beda Vektor Nilai Tengah

Untuk menguji hipotesis pertama “terjadi pergeseran tingkat pemanfaatan media massa oleh peternak sapi potong untuk mendapatkan informasi” digunakan uji beda vektor nilai tengah (Inferences about a mean vector ) dengan alat uji T2 Hotelling (Johnson dan Wichern, 2002).

Uji T2 Hotelling ini memiliki kemampuan melihat adanya perbedaan antara dua kelompok amatan. Karena amatan perubahan berdasarkan dimensi waktu tidak mungkin dilakukan, digunakanlah upaya melihat perubahan tersebut atas dasar lokasi pemilihan sampel penelitian. Satu kelompok kurang maju (Kecamatan Nyalindung dan Surade, Sukabumi) dan satu kelompok lagi yang maju (Kecamatan Polokarto Sukohardjo dan Kecamatan Gedangsari Gunung Kidul). Gambaran input analisis nya tersaji pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Data yang diolah dengan T2 Hotelling Observasi

(Responden)

Peubah

X4-1 X4-2 X4-3 X4-4 X5 X6 X7

Status Kelompok

1 2 . . n1

K1

(Kelompok Maju)

1 2 . . n2

K2

(Kelompok Kurang Maju) Keterangan: X5 = Perilaku keterdedahan radio

X4-1 = Perilaku menerima informasi sapi potong (pasif) X6 = Perilaku keterdedahan tv

X4-2 = Perilaku mencari informasi sapi potong (aktif) X7 = Perilaku keterdedahan koran

X4-3 = Perilaku klarifikasi/diskusi informasi sapi potong n1 = Banyaknya observasi K1

X4-4 = Perilaku menyebarkan informasi sapi potong n2 = Banyaknya observasi K2

Perhitungan rumus uji statistik T2 Hotelling adalah sebagai berikut:

T2 =

2 1

2 1

n n

n n

+ (x1 – x2)T S-1 (x1 – x2)

(14)

69 Untuk mengetahui perbedaan antar kelompok dilanjutkan Uji F dengan rumus;

Keterangan:

n1 = ukuran sampel pada kelompok 1 n2 = ukuran sampel pada kelompok 2 p = banyaknya peubah yang diamati S-1 = invers matriks koragam x1 = vektor rataan kelompok 1 x2 = vektor rataan kelompok 2

dengan derajat bebas (p, n1 + n2 – p – 1). Bila Fhitung > Ftabel (p, n1 + n2 – p – 1) dimana α = 0,05, menyatakan bahwa ada perbedaan perilaku komunikasi di kalangan peternak sapi potong pada kelompok maju dan kurang maju yang memiliki perbedaan karakteristik personal yang diuji. Sedangkan untuk penguatan deskripsi analitis terjadi pergeseran tersebut, digunakan matriks korelasi antar indikator-indikator dari peubah yang diamati dan penyajian analisis biplot.

Analisis Diskriminan

Analisis lainnya adalah analisis diskriminan. Analisis ini bertujuan mencari ga ris atau persamaan yang mampu membedakan antar kelompok dengan baik. Jadi, masalah yang ditelusuri dalam analisis diskriminan ialah (1) mencari cara terbaik untuk menyatakan perbedaan antar kelompok objek (masalah diskriminasi); (2) cara untuk mengalokasikan suatu objek (baru) ke dalam salah satu kelompok tersebut (masalah klasifikasi).

Fungsi diskriminan merupakan fungsi atau kombinasi linear peubah- peubah asal yang akan memberikan cara terbaik dalam pemisahan kelompok- kelompok tersebut. Fungsi ini akan memberikan nilai-nilai yang sedekat mungkin dalam kelompok dan sejauh mungkin antar kelompok. Fungsi ini tentunya di samping dapat digunakan untuk menerangkan perbedaan antar kelompok, juga bisa digunakan dalam masalah klasifikasi.

F-hitung =

) 2 (

1

2 1

2 1

− +

− +

n n p

p n

n T2

(15)

70

Bila matriks koragam total T = (tij), matriks koragam dalam kelompok W

= (wij), dan matriks koragam antar kelompok B = (bij) maka T = W + B. Bila fungsi diskriminan Z1 = a11X1 + a12X2 + …+ a1pXp = a1’X yang memaksimumkan nisbah antara ragam antar kelompok dengan ragam dalam kelompok maka yang ingin dicari ialah a1 sehingga a1’B a1/a1’Wa1 maksimum. Fungsi diskriminan lainnya yaitu Zi = a1’X yang memaksimumkan a1’B a1/ a1’Wa1 dengan kendala tidak berkorelasi dalam kelompok dengan Z1, Z2, … , Zi -1. Vektor -vektor a1, a2,

…, ai dapat diperoleh sebagai vektor ciri yang berpadanan dengan akar ciri λi

λ λ

λ123 ≥⋅ ⋅⋅≥ dari matriks W-1B.

Dari analisis diskriminan ini dapat pula digunakan untuk mencari peubah- peubah asal yang dianggap dominan untuk digunakan dalam membedakan antar kelompok. Salah satu pendekatan yang relatif efisien dalam komputasi ialah melalui penggunaan peubah secara bertatar (stepwise) yaitu menambahkan peubah satu per satu yang relatif dominan ke dalam fungsi sampai suatu saat dimana penambahan peubah lainnya dianggap tidak menambah baik diskriminasinya. Menurut Supranto (2004) analisis diskriminan berguna untuk menganalisis data kalau peubah kriterion atau dependen (tak bebas) berupa kategori dengan skala pengukuran nominal atau ordinal dan peubah bebasnya berskala interval atau rasio (kuantitatif, hasil penilaian/rating).

Analisis Korespondensi

Analisis ini digunakan untuk melihat hubungan antar peubah kelas ekonomi dengan macam kepemimpinan komunikasi ketokohan peternak yang beratribut star dalam jaringan komunikasi sapi potong, berupa analisis untuk tabel kontingensi.

Tujuan dari analisis korespondensi (correspondence analysis) yaitu memperagakan baris dan kolom suatu matriks data secara serentak dari tabel kontingensi dua arah dalam ruang dimensi rendah.

Matriks korespondensi didefinisikan sebagai iPj = (1/n..) N, dengan n = 1’N1. Vektor yang unsur-unsurnya merupakan jumlah unsur dari vektor -vektor baris matriks P ialah r = P1; ri > 0, i = 1, 2, ..., i. Vektor yang unsur -unsurnya

(16)

71

merupakan jumlah unsur dari vektor-vektor kolom matriks P ialah c = P’1; cj > 0, j = 1, 2, …, j. Definisikan Dr sebagai matriks diagonal yang unsur-unsur diagonal utamanya ialah unsur-unsur dari vektor r, yang dilambangkan sebagai Dr = diag (r), dan Dc = diag (c).

Matriks profil baris didefinisikan sebagai R = Dr-1P dan matriks profil kolom didefinisikan sebagai C = Dc-1

P’. Jadi, vektor r juga merupakan rataan terboboti dari profil-profil kolom dan vektor c juga merupakan rataan terboboti dari profil-profil baris. Andaikan R = [r1, r2, .., ri] dan C = [c1, c2, .., cj], maka jarak yang digunakan untuk menggambarkan ke dekatan antar profil ialah jarak Khi-kuadrat, yaitu:

(ri – rj)’Dc-1

(ri – rj) untuk jarak antara profil baris ri dengan profil baris rj, dan (ci – cj)’Dr-1

(ci – cj) untuk jarak antara profil kolom ci dengan profil kolom cj. Profil-profil baris dan kolom di atas ingin digambarkan dengan menumpang- tindihkannya dalam ruang berdimensi rendah.

Bila dengan Penguraian Nilai Singular (PNS) Umum diperoleh bahwa P – rc’ = ADµB; A’Dr-1A = B’Dc-1B = I, maka profil baris matriks R yang posisi

relatifnya sama dengan profil baris matriks R – 1 c’, diberikan oleh F = Dr-1

ADµ

Profil kolom matriks C yang posisi relatifnya sama dengan profil kolom matriks C – 1r’, diberikan oleh G = Dc-1BDµ. Bila dengan profil baris R atau profil kolom C digunakan jarak Khi-kuadrat maka dengan profil dari matriks F dan G representasinya diperoleh jarak Euclid. Seperti halnya dalam biplot, penggambaran dalam ruang berdimensi rendah, katakanlah k maka koordinat yang digunakan untuk menggambarkan profil-profil tersebut ialah k unsur pertamanya.

Seperti halnya dalam analisis biplot, interpretasi kedekatan antar profil dalam kategori yang sama didasarkan pada jarak Euclidnya sedangkan hubungan profil-profil antar kategori dapat ditelusuri melalui formula transisi, yaitu F = RGDµ-1 atau G = CFDµ-1. Jarak yang jauh antar profil akan memberikan kontri- busi yang relatif besar terhadap tak adanya kebebasan antar kategori yang diamati.

(17)

72

Jadi, peragaan hasil analisis korespondensi, seperti halnya dengan analisis biplot, merupakan penumpangtindihan profil-profil baris dan kolom yang dalam analisis ini diperoleh dari tabel kontingensi dengan menggunakan jarak khi- kuadrat. Penggunaan PNS Umum (Generalized Singular Value Decomposition) dalam penghitungan analisis ini akan memberikan keterkaitannya dengan analisis lain dalam APG atau Analisis peubah Ganda (Siswadi dan Suhardjo, 2002).

Kerangka Pendekatan Analisis Penelitian

Kerangka pendekatan analisis dari penelitian “Tingkat Penggunaan Media Massa dan Peran Komunikasi Anggota Kelompok Peternak dalam Jaringan Komunikasi Penyuluhan” disa jikan pada Tabel 4 berikut ini. Kerangka pendekatan analisis tersebut dikembangkan dari empat masalah penelitian dan untuk menguji tujuh butir hipotesis sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya.

(18)

73 Tabel 4. Kerangka pendekatan analisis penelitian

MASALAH PENELITIAN

TUJUAN

PENELITIAN HIPOTESIS

KOMPONEN YANG DIUKUR

PENDEKATAN PENGUJIAN

HIPOTESIS

MODEL PENGUJIAN

HIPOTESIS

DATA YANG DIPERLUKAN

Hipotesis 1.

Terjadi pergeseran tingkat pemanfaatan media massa oleh peternak untuk mendapatkan informasi.

Hipotesis kerja 1a:

Terdapat perbedaan nyata tingkat pemanf aatan media massa untuk mendapatkan informasi antara peternak maju dengan peternak kurang maju.

Perbandingan tingkat peman- faatan media massa dengan perilaku peman- faatan media interpersonal

Mengkaji keterde- dahan media massa dan perilaku pemanfaatan media interpersonal antara kelompok maju dan kurang maju

M atriks korelasi, Biplot,

Uji beda vektor nilai tengah / T2 Hotelling, Uji diskriminan

Data keterdedahan media massa dan frekuensi komunikasi interpersonal dengan unit analisis Kab.

Sukabumi, Sukohardjo dan Gunung Kidul 1. Bagaimana

perilaku komunikasi peternak dalam mendapatkan informasi.

1. Melihat perilaku peternak dalam mendapatkan informasi.

Hipotesis kerja 1b:

Di antara masing-masing peubah personal dan perilaku pemanfaatan media interperso- nal, terdapat perbedaan nyata penggunaan media massa untuk mendapatkan informasi dari lokasi yg berbeda.

Idem Membandingkan

antara 10 peubah amatan antar kelompok.

Idem Idem

2. Bagaimana partisipasi peternak dalam Jaringan kom.

sapi potong, dilihat dari pe- ran kom.?

2. Mengidentifikasi tingkat partisipasi peternak dilihat dari peran kom.

dalam jaringan komunikasi sapi potong

- Peran -peran

komunikasi peternak dalam jaringan komunikasi sapi potong

- - Data peran kom.

peternak dalam jaringan dengan unit analisis Kabupaten Sukabumi, Sukohardjo dan Gunung kidul

(19)

74 MASALAH

PENELITIAN

TUJUAN

PENELITIAN HIPOTESIS

KOMPO NEN YANG DIUKUR

PENDEKATAN PENGUJIAN

HIPOTESIS

MODEL PENGUJIAN

HIPOTESIS

DATA YANG DIPERLUKAN

Butir 2.

Terdapat hubungan nyata antara karakteristik personal dengan perilaku keterdedahan media massa

Pendidikan formal, kelas ekonomi, kepemilikan media massa, dengan keterdedahan media massa

Melihat korelasi dan keragaman antar peubah karakteristik personal dengan keterdedahan media massa

Analisis jalur, Matriks korelasi, Analisis biplot.

Data karakteristik dan perilaku keterdedahan media massa dengan unit analisis

Kabupaten Sukabumi, Sukohardjo dan Gunung Kidul.

Butir 3.

Terdapat hubungan nyata antara karakteristik personal dengan perilaku komunikasi interpersonal informal

Pendi dikan formal, kelas ekonomi, kepe- milikan media massa, dengan perilaku kom.

interpersonal

Melihat korelasi dan keragaman antar peubah karakteristik personal dengan perilaku kom.

interpersonal

Matriks korelasi, Analisis biplot.

Data karakteristik dan perilaku komunikasi interpersonal dengan unit analisis

Kabupaten Sukabumi, Sukohardjo dan Gunung Kidul.

3. Sejauhmana hubungan karakteristik personal dgn keterdedahan media massa dan kom.

interpersonal;

hubungan ke- peubah tsb dengan peran kom. peternak dalam jaringan komunikasi sapi potong;

dan hubungan peran kom.

peternak sapi potong dengan distorsi pesan?

3. Menganalisis hubungan karakteristik personal dengan keterdedahan media massa dan komunikasi interpersonal;

Hubungan karakteristik, keterdedahan media mas sa, komunikasi interpersonal dengan peran komunikasi dlm jaringan kom sapi potong; dan hub.

peran komunikasi dlm jaringan kom sapi potong dgn distorsi pesan.

Butir 4.

Terdapat hubungan nyata antara karakteristik personal dengan peran komunikasi anggota kelompok dalam jaringan komunikasi sapi potong

Pendidikan, klas ekonomi, kepe- milikan media massa dan peran komunikasi dalam jaringan

Melihat korelasi dan keragaman antar peubah karakteristik personal dengan peran komunikasi dalam jaringan kom.

Analisis jalur, Matriks korelasi, Analisis biplot.

Data karakteristik dan peran kom. dalam jaringan dgn unit analisis Kabupaten Sukabumi, Sukohardjo dan Gunung Kidul.

Butir 5.

Terdapat hubungan nyata antara perilaku komunikasi interpersonal dengan peran komunikasi anggota kelompok dalam jaringan komunikasi sapi potong

Perilaku kom.

interpersonal dan peran kom peternak dalam jaringan kom.

sapi potong

Melihat korelasi dan keragaman antar peubah pemanfaatan kom. interpersonal dgn peran

komunikasi dlm jaringan kom.

Matriks korelasi, Analisis biplot

Data komunikasi interpersonal dan peran komunikasi dalam jaringan dengan unit analisis tiga kabupaten sampel.

(20)

75 MASALAH

PENELITIAN

TUJUAN

PENELITIAN HIPOTESIS

KOMPONEN YANG DIUKUR

PENDEKATAN PENGUJIAN

HIPOTESIS

MODEL PENGUJIAN

HIPOTESIS

DATA YANG DIPERLUKAN

Butir 6.

Terdapat hubungan nyata antara keterdedahan media massa dengan peran komunikasi peternak dalam jaringan komunikasi sapi potong

Keterdedahan media massa dgn peran kom.

peternak dalam jaringan kom.

Melihat korelasi dan keragaman antar peubah keterdedahan media massa dengan peran komunikasi

Matriks korelasi, Analisis biplot

Data keterdedahan media massa dan peran komunikasi dalam jaringan dengan unit analisis tiga kabupaten sampel.

Butir 7.

Terdapat hubungan nyata antara peran komunikasi peternak dalam jaringan komunikasi sapi potong dengan distorsi pesan

Peran kom.

peternak dalam jaringan kom.

sapi potong dan distorsi pesan

Melihat korelasi dan keragaman antar peubah peran kom.

dalam jaringan kom.

dgn distorsi pesan

Matriks korelasi, Analisis biplot

Data peran komunika- si dalam jaringan dan distorsi pesan dengan unit analisis tiga kabupaten sampel 4. Bagaimana

pola jaringan komunikasi antar anggota kelompok peternak sapi potong?

4. Mengetahui pola jaringan

komunikasi antar anggota

kelompok peternak sapi potong

- Peran

komunikasi peternak dalam jaringan komunikasi sapi potong, dan kelas ekonomi

Melihat korelasi dan keragaman antar peubah peran kom.

anggota kelompok dalam jaringan kom.

sapi potong dengan kelas ekonomi

Matriks korelasi Analisis biplot

Data peran komunikasi dan kelas ekonomi dengan unit analisis tiga kabupaten sampel

- Karakteristik

kelas ekonomi peternak star dalam jaringan komunikasi sapi potong, dan macam kepe- mimpinan kom.

Melihat hubungan peubah kelas ekonomi dan macam kepemimpinan komunikasi peternak beratribut star dalam jaringan komunikasi sapi potong

Uji khi-kuadrat, Analisis korespondensi,

Data kelas ekonomi dan macam kepemimpinan kom.

ketokohan peternak dalam jaringan kom.

sapi potong dengan unit analisis tiga kabupaten sampel 5. Mendesain

strategi/ model komunikasi

penyuluhan.

-

Gambar

Gambar 4. Tampilan diagram jalur antar peubah yang mempengaruhi peran-peran  komunikasi dalam jaringan komunikasi sapi potong dan distorsi pesan

Referensi

Dokumen terkait

Variabel SHARIAH SHARE merupakan sebuah variabel yang bergerak di dekat garis x , hal ini menunjukkan bahwa goncangan dari tingkat bunga PUAB mempunyai pengaruh yang relatif

• Hasil analisa struktur yang telah dilakukan pada perencanaan Gedung Bupati Lombok Timur dituangkan pada gambar teknik yang terdapat pada

Keragaman acak pada H1 menurun sangat besar dibandingkan dengan H0, menunjukkan tidak adanya perubahan peluang sepanjang urutan bertelur ketika pengaruh dari jenis

Berfungsi mengatur dan mengendalikan kegiatan bagian pelayanan keperawatan sesuai dengan visi dan misi Rumah Sakit Roemani menuju terwujudnya pelayanan keperawatan yang prima.

Sebagai perbandingan bangunan fasilitas cottage, ada beberapa kawasan wisata dengan fasilitas akomodasinya yang memanfaatkan lingkungan sekitarnya sehingga fasilitas wisata

Menetapkan : KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIPONEGORO TENTANG PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN (PPK), PEJABAT PELAKSANA DAN PENGENDALI KEGIATAN (PPPK) DAN PEMEGANG UANG MUKA

Orang Kelantan, walau pun yang berkelulusan PhD dari universiti di Eropah (dengan biasiswa Kerajaan Persekutuan) dan menjawat jawatan tinggi di Kementerian atau di Institusi

Metode yang digunakan untuk steganografi dalam penelitian adalah Low Bit Encoding dengan enkripsi