4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan
Untuk penelitian ini, peneliti menggunakan 10 perusahaan, berikut adalah gambaran umum dari masing – masing perusahaan tersebut.
1. PT. Alas Petala Makmur
PT. Alas Petala Makmur merupakan perusahaan yang didirikan sejak tahun 1992, berlokasi di Jalan Tambaklangon no. 18, Surabaya. PT Alas Petala Makmur menghasilkan produk moulding dan assembling yang dipasarkan untuk ekspor ke negara-negara Eropa, Asia Timur, Afrika, dan Amerika.
Dalam aktivitas operasionalnya, PT. Alas Petala Makmur didukung oleh 606 karyawan yang tersebar di berbagai divisi.
2. PT. Varia Cipta Pratama
PT. Varia Cipta Pratama ini berdiri sejak tahun 1962 merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi pintu harmonika generasi pertama di Indonesia. Kantor perusahaan ini berlokasi di Jalan Kayun no. 2, Surabaya.
Sebagai upaya memperluas segmen pasar dan jangkauan, dirilis juga anak perusahaan yang diberi nama UD. Karya Cipta Utama (UD. KCU).
3. PT. Samudra Alam Raya
PT. Samudra Alam Raya ini didirikan pada tahun 1988, yang berlokasi di Jalan Indrapura No. 49, Surabaya. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa pengangkutan barang antar pulau di Indonesia, khususnya pulau Jawa dan Kalimantan. Bentuk usaha dari perusahaan ini adalah perusahaan pelayaran.
Karyawan yang dimiliki saat ini berjumlah 227 orang.
4. PT. Karunia Sentosa Plastik
PT. Karunia Sentosa Plastik merupakan perusahaan yang didirikan sejak tahun 1989, berlokasi di Jalan Pergudangan Meiko Abadi A-18, Gedangan, Surabaya. PT. Karunia Sentosa Plastik ini adalah perusahaan yang memproduksi houseware yang terbuat dari plastik. Dalam aktivitas operasionalnya, karyawan yang dimiliki oleh perusahaan ini berjumlah 40 orang.
5. PT. Wavin Duta Jaya
PT. Wavin Duta Jaya ini didirikan pada tahun 1996, yang berlokasi di Alun - Alun Contong 1B. Perusahaan ini bergerak di bidang manufaktur bahan bangunan, seperti granit, pipa PVC, asbes, dan stainless steel. Karyawan yang bekerja di perusahaan ini adalah 392 orang.
6. PT. Sinar Inti Indopratama
PT. Sinar Inti Indopratama ini didirikan pada tahun 1998, berlokasi di Pertokoan Rungkut Megah Raya, Jl. Raya Kali Rungkut No. 5, Blok E-1, Surabaya. Bentuk usaha perusahaan ini adalah elemen pemanas, dengan memiliki karyawan sebanyak 42 orang.
7. PT. Wijaya Multi Lestari
PT. Wijaya Multi Lestari merupakan perusahaan yang didirikan sejak tahun 1997, berlokasi di Jalan Kapasari no. 127, Surabaya. PT. Wijaya Multi Lestari ini memiliki bentuk usaha distribusi barang yang bergerak di bidang jasa percetakan. Dalam aktivitas operasionalnya, karyawan yang dimiliki oleh perusahaan ini berjumlah 45 orang.
8. PT Kim & Hwa
PT Kim & Hwa ini berdiri sejak lebih dari 25 tahun yang lalu, berlokasi di Jalan Pecindilan no. 16, Surabaya. PT Kim & Hwa ini menghasilkan produk mie dan pia (kue bulan). Untuk produk mie dipasarkan di area Surabaya, sedangkan untuk pia dipasarkan di area di luar Surabaya maupun di luar Jawa. Untuk saat ini dalam memproduksi produk-produk tersebut mempekerjakan karyawan lebih dari 40 orang.
9. PT. Paramount
PT. Paramount ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri rumah tangga, berlokasi di Jalan Gajah Mada no. 4. Jumlah pegawai perusahaan ini adalah 125 orang.
10. PT. Citra Surya Pasific
PT. Citra Surya Pasific ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang garment, dan telah berdiri sejak tahun 1968. Perusahaan ini berlokasi di Jalan Pecindilan no. 26 Surabaya. Jumlah Karyawan di dalam kantor 30 orang,
4.2. Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil pengisian kuesioner yang dilakukan, berikut ini akan disajikan karakteristik karyawan berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir.
Tabel 4.1. Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Usia
Usia
Total
< 21 Tahun 21 ‐ 30 Tahun 31 ‐ 40 Tahun > 40 Tahun
JK Pria 7 56 90 31 184
Wanita 4 16 38 8 66
Total 11 72 128 39 250
Sumber: Lampiran 2
Dari hasil data di atas diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin pria, yaitu sebanyak 184 responden dan sisanya 66 responden berjenis kelamin pria. Hal ini dikarenakan lebih dari separuh perusahaan yang ada bergerak di bidang yang berat, seperti pengangkutan, manufaktur bahan bangunan, produksi pintu, produksi houseware, produksi produk moulding dan assembling. Dari hasil data di atas juga didapatkan bahwa responden yang berjenis kelamin pria sebanyak 146 orang dan responden berjenis kelamin wanita sebanyak 54 orang memiliki usia antara 20-40 tahun. Hal ini dikarenakan usia produktif adalah sekitar 20-40 tahun, oleh karena itu kebanyakan perusahaan merekrut dan mengoptimalkan karyawan pada usia produktif tersebut
Tabel 4.2. Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Pendidikan
Pendidikan
Total
SD SMP SMA Diploma S1
JK Pria 8 10 44 28 94 184
Wanita 0 2 8 15 41 66
Total 8 12 52 43 135 250
Sumber: Lampiran 2
Dari hasil tabel di atas dapat diketahui bahwa kebanyakan karyawan memiliki pendidikan terakhir S1, yaitu sebanyak 94 responden yang berjenis kelamin pria dan 41 responden yang berjenis kelamin wanita. Hal ini menunjukkan bahwa
perusahaan lebih mengoptimalkan karyawan dengan lulusan minimal S1 karena untuk level manajemen menengah diperlukan tenaga kerja yang memiliki kelulusan minimal S1.
Tabel 4.3. Frekuensi Lama Bekerja Karyawan Lama Bekerja Frekuensi Persentase
< 3 Bulan 0 0,00%
4‐6 Bulan 38 15,20%
7‐9 Bulan 56 22,40%
10‐12 Bulan 114 45,60%
> 12 Bulan 42 16,80%
Total 250 100,00%
Sumber: Lampiran 2
Dari hasil deskriptif tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar karyawan memiliki lama bekerja antara 10-12 bulan, yaitu sebanyak 114 responden atau 45,6%. Terdapat 56 responden memiliki lama bekerja 7-9 bulan, 42 responden > 12 bulan, dan 38 responden 4-6 bulan.
Tabel 4.4. Divisi/Departemen/Bagian Pekerjaan Karyawan Divisi Frekuensi Persentase
Pemasaran 98 39,20%
Personalia 26 10,40%
Pembukuan 48 19,20%
Administrasi 34 13,60%
Produksi 44 17,60%
Total 250 100,00%
Sumber: Lampiran 2
Dari hasil deskriptif tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar karyawan bekerja pada divisi pemasaran, yaitu sebanyak 98 responden atau
bekerja pada divisi produksi, 34 responden bekerja pada divisi administrasi, dan 26 responden bekerja pada divisi personalia.
4.3. Analisis Deskriptif
Langkah selanjutnya setelah data berupa jawaban responden mengenai procedural justice (X1), social power (X2), dan (OCB) organizational citizenship behaviour (Y) terkumpul dari penyebaran kuesioner, selanjutnya ditabulasikan.
Kemudian dicari nilai rata-rata dari setiap butir item pertanyaan untuk mengetahui keadaan sebenarnya di lapangan.
Deskripsi variabel penelitian dilakukan dengan menggolongkan skor variabel penelitian ke dalam interval skor yang telah peneliti tentukan. Untuk tujuan ini, skor variabel yang digunakan adalah skor rata-rata dalam suatu variabel. Untuk memudahkan penilaian dari jawaban responden, maka kriteria penilaian dari jawaban responden dibuat sebagai berikut:
Sangat Setuju (SS) = 5
Setuju (S) = 4
Ragu-ragu (R) = 3 Tidak Setuju (TS) = 2 Sangat Tidak Setuju (STS) = 1
Selanjutnya dicari rata-rata dari setiap jawaban responden. Untuk memudahkan penilaian dari rata-rata tersebut, maka digunakan interval untuk menentukan panjang kelas interval. Adapun rumus yang digunakan menurut Sudjana (2000, p.79) adalah sebagai berikut:
Rentang Panjang kelas interval =
Banyak Kelas Interval
Dimana:
Rentang = Nilai tertinggi – Nilai terendah Banyak kelas interval = 5
5 – 1
Jadi, panjang kelas interval = = 0.8
5
Kategori untuk OCB, procedural justice, dan social power:
1.00 – 1.80 = Sangat Rendah 1.81 – 2.60 = Rendah 2.61 – 3.40 = Cukup 3.41 – 4.20 = Tinggi
4.21 – 5.00 = Sangat Tinggi
4.3.1. OCB
Berikut ini akan dibahas mengenai nilai rata-rata dari setiap pertanyaan penyusun variabel OCB. Dari nilai rata-rata akan diketahui tentang seberapa tinggi perilaku OCB yang dimiliki karyawan pada perusahaan keluarga di Surabaya. Nilai rata-rata tersebut disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4.5. Nilai rata-rata OCB
Item Skor Jawaban
Total Mean Standar Deviasi
1 2 3 4 5
Y1 1 2 33 148 66 1026 4,104 0,67454
Y2 15 47 78 87 23 806 3,224 1,04796
Y3 0 14 42 138 56 986 3,940 0,78443
Y4 2 24 45 139 40 941 3,760 0,86214
Y5 0 8 44 153 45 985 3,940 0,69450
Y6 1 7 42 161 39 980 3,920 0,68372
Y7 9 50 107 16 16 821 3,284 0,97527
Y8 2 38 123 22 22 875 3,500 0,88381
Y9 0 4 125 96 96 1063 4,250 0,69745
Y10 1 3 152 53 53 1003 4,010 0,67949
Mean Total 3,794
Sumber: Lampiran 3 yang diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel 4.5 di atas ditunjukkan bahwa pada variabel OCB nilai rata-rata secara keseluruhan yang diperoleh adalah sebesar 3,794, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan pada perusahaan keluarga di Surabaya memiliki OCB yang tinggi.
Tabel di atas juga menjelaskan masing-masing indikator, yakni indikator yang pertama adalah karyawan bersedia tiba lebih awal, sehingga siap bekerja pada saat jam kerja dimulai didapatkan nilai sebesar 4,104, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20. Hal ini menunjukkan tingginya kesediaan karyawan untuk tiba lebih awal, sehingga siap bekerja pada saat jam kerja dimulai.
Indikator kedua, yaitu karyawan bersedia untuk tidak mengambil kelebihan waktu meskipun memiliki cuti didapatkan nilai sebesar 3.224, nilai ini termasuk dalam kategori cukup karena berada pada rentang interval kelas 2,60 - 3,40. Hal ini berarti kesediaan karyawan untuk tidak mengambil kelebihan cuti meskipun memiliki hak cuti yang diterapkan perusahaan antara iya dan tidak.
Indikator ketiga, yaitu karyawan bersedia membantu rekan lain yang pekerjaannya overload didapatkan nilai sebesar 3.940, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20. Hal ini berarti tingginya kesediaan karyawan untuk membantu rekan lain yang pekerjaannya overload.
Indikator keempat, yaitu karyawan bersedia membantu proses orientasi karyawan baru meskipun tidak diminta didapatkan nilai sebesar 3,760, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20. Hal ini berarti tingginya kesediaan karyawan untuk membantu proses orientasi karyawan baru meskipun tidak diminta.
Indikator kelima, yaitu karyawan bersedia memberikan perhatian terhadap fungsi – fungsi yang membantu image organisasi didapatkan nilai sebesar 3.94, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20. Hal ini berarti tingginya kesediaan karyawan untuk memberikan perhatian terhadap fungsi – fungsi yang membantu image organisasi.
Indikator keenam, yaitu karyawan bersedia mengikuti perubahan – perubahan dan perkembangan – perkembangan dalam organisasi didapatkan nilai sebesar 3,920, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20. Hal ini berarti tingginya kesediaan karyawan untuk mengikuti perubahan – perubahan dan perkembangan – perkembangan dalam organisasi.
Indikator ketujuh, yaitu karyawan tidak banyak menemukan kesalahan dalam organisasi didapatkan nilai sebesar 3,284, nilai ini termasuk dalam kategori baik karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori tinggi. Hal ini berarti karyawan ternyata merasa bahwa kesalahan dalam organisasi hampir tidak ada atau sedikit.
Indikator kedelapan, yaitu karyawan tidak banyak mengeluh akan keadaan perusahaan didapatkan nilai sebesar 3,500, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20. Hal ini berarti bahwa karyawan tidak banyak mengeluh dengan keadaan perusahaan dan menerima apa adanya.
Indikator kesembilan, yaitu karyawan bersedia untuk menjaga hubungan baik dengan atasan, bawahan, maupun dengan sesama rekan kerja didapatkan nilai sebesar 4,250, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 4,20 - 5,00. Hal ini berarti tingginya kesediaan karyawan untuk menjaga hubungan, baik dengan atasan, bawahan, maupun dengan sesama rekan kerja.
Pada indikator terakhir, yaitu karyawan bersedia membantu meredakan atau menyelesaikan pertikaian antar rekan kerjanya didapatkan nilai sebesar 4,010, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa jika terjadi pertikaian antar rekan kerja, karyawan yang ada akan membantu menyelesaikan masalah, bukannya hanya berdiam diri.
4.3.2. Procedural Justice
Berikut ini akan dibahas mengenai nilai rata-rata dari setiap pertanyaan penyusun variabel procedural justice. Dari nilai rata-rata akan diketahui tentang seberapa tinggi procedural justice yang diterapkan pada perusahaan keluarga di Surabaya. Nilai rata-rata tersebut disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4.6. Nilai rata-rata Procedural Justice
Item Skor Jawaban
Total Mean Standar Deviasi
1 2 3 4 5
X1.1 8 53 13 137 39 896 3,584 1,08427
X1.2 3 48 18 134 47 924 3,696 1,02361
X1.3 2 24 24 156 44 966 3,864 0,84401
X1.4 3 37 33 132 45 929 3,716 0,96700
X1.5 6 30 44 138 32 910 3,640 0,93482
X1.6 6 34 41 129 40 913 3,652 0,98324
Mean Total 3,692
Sumber: Lampiran 3 yang diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel 4.6. ditunjukkan bahwa pada variabel procedural justice nilai rata-rata secara keseluruhan yang diperoleh adalah sebesar 3,692, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20. Hal ini menunjukkan tingginya keadilan pada standart operating procedure (SOP) yang terkait pengalokasian outcomes pada perusahaan keluarga di Surabaya.
Tabel di atas juga menjelaskan masing-masing indikator, yakni indikator yang pertama adalah kosisten pada semua orang didapatkan nilai sebesar 3,584, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori tinggi.
Indikator kedua, yaitu tidak berdasarkan kepentingan pribadi yang didapatkan nilai sebesar 3,696, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena
berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa standar operasional perusahaan (SOP) tidak mengandung unsur yang bertujuan membela kepentingan pihak-pihak tertentu..
Indikator ketiga, yaitu informasi akurat didapatkan nilai sebesar 3,864, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa SOP dibuat berdasarkan informasi yang akurat dan fakta yang ada.
Indikator keempat, yaitu perbaikan dan modifikasi dari kesalahan yang lalu mendapatkan nilai sebesar 3,640, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa SOP terus diperbaiki menjadi lebih baik dari SOP yang sebelumnya.
Pada indikator terakhir, yaitu sesuai dengan standar etika dan moral yang ada mendapatkan nilai sebesar 3,652, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa SOP telah sesuai dengan standar etika dan moral yang ada.
4.3.3. Social Power
Berikut ini akan dibahas mengenai nilai rata-rata dari setiap pertanyaan penyusun variabel Social Power. Dari nilai rata-rata akan diketahui tentang seberapa tinggi Social Power yang dilakukan oleh pemimpin atau atasan-atasan pada perusahaan keluarga di Surabaya. Nilai rata-rata tersebut disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4.7. Nilai rata-rata Social Power
Item Skor Jawaban
Total Mean Standar Deviasi
1 2 3 4 5
X2.1 12 62 44 112 20 816 3,264 1,06905
X2.2 9 57 40 110 34 853 3,412 1,09134
X2.3 3 24 27 147 49 965 3,860 0,88290
X2.4 2 39 32 124 53 937 3,748 0,98813
X2.5 5 40 32 138 35 908 3,632 0,97796
Mean Total 3,583
Sumber: Lampiran 3 yang diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel 4.7 di atas ditemukan bahwa pada variabel social power nilai rata-rata secara keseluruhan yang diperoleh adalah sebesar 3,583, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20. Hal ini menunjukkan tingginya penerapan social power oleh pemimpin atau atasan-atasan pada perusahaan keluarga di Surabaya.
Tabel di atas juga menjelaskan masing-masing indikator, yakni indikator yang pertama adalah ingin menjadi seperti atasan didapatkan nilai sebesar 3,264, nilai ini termasuk dalam kategori cukup karena berada pada rentang interval kelas 2,60 - 3,40 yang telah dikategorikan sebagai kategori cukup. Hal ini berarti bahwa karyawan melakukan tugas karena cukup ingin menjadi seperti atasan.
Indikator kedua, yaitu paksaan didapatkan nilai sebesar 3,412, nilai ini termasuk dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa karyawan bersedia melakukan pekerjaan karena tidak ingin mendapatkan hukuman dari atasan.
Indikator ketiga, yaitu kekuasaan yang sah antara atasan dan bawahan didapatkan nilai sebesar 3,860 di mana dapat dikategorikan dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval 3.40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai
kategori baik. Hal ini berarti bahwa karyawan melakukan tugas yang diinginkan atasan karena kekuasaan yang sah antara atasan dan bawahan.
Indikator keempat, yaitu kekuasaan memberi penghargaan mendapatkan nilai sebesar 3,748 di mana dapat dikategorikan dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval kelas 3,40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori baik. Hal ini berarti bahwa karyawan melakukan tugas yang diinginkan karena ingin mendapatkan imbalan.
Indikator terakhir, yaitu keahlian yang dimiliki pemimpin atau atasan, di mana pernyataan ini mendapatkan nilai sebesar 3,632 dan dapat dikategorikan dalam kategori tinggi karena berada pada rentang interval 3.40 - 4,20 yang telah dikategorikan sebagai kategori baik. Hal ini berarti bahwa karyawan melakukan tugas yang diinginkan karyawan karena keahlian yang dimiliki atasan.
4.4. Uji Instrumen 4.4.1. Uji Validitas
Uji validitas adalah uji tentang kemampuan suatu kuesioner, sehingga benar-benar dapat mengukur apa yang ingin diukur. Untuk mengukur validitas menggunakan kriteria r (korelasi), jika rhitung > rtabel maka item pertanyaan tersebut valid dan sebaliknya jika rhitung < rtabel maka item pertanyaan tersebut tidak valid.
Besarnya r tiap butir pertanyaan dapat dilihat dari SPSS pada kolom Corrected Items Total Correlation. Dalam uji validitas ini digunakan responden sebanyak 250 orang, sehingga pada tingkat signifikansi 5% dari Tabel r diperoleh nilai rtabel
= 0,126. Pengujian menggunakan bantuan program SPSS 13. Berikut adalah hasil uji validitas pada setiap butir pertanyaan yang digunakan pada penelitian ini:
Tabel 4.8. Hasil Uji Validitas OCB
Variabel Item r hitung r tabel Keterangan
Organizational Citizenship
Behaviour (OCB)
OCB 1 0,315 0,126 Valid
OCB 2 0,279 0,126 Valid
OCB 3 0,557 0,126 Valid
OCB 4 0,483 0,126 Valid
OCB 5 0,486 0,126 Valid
OCB 6 0,316 0,126 Valid
OCB 7 0,231 0,126 Valid
OCB 8 0,427 0,126 Valid
OCB 9 0,261 0,126 Valid
OCB 10 0,338 0,126 Valid
Sumber: Lampiran 4 yang diolah oleh peneliti
Tabel 4.9. Hasil Uji Validitas Procedural Justice
Variabel Item r hitung r tabel Keterangan
Procedural Justice
Procedural Justice 1 0,680 0,126 Valid
Procedural Justice 2 0,574 0,126 Valid
Procedural Justice 3 0,589 0,126 Valid Procedural Justice 4 0,516 0,126 Valid
Procedural Justice 5 0,627 0,126 Valid
Procedural Justice 6 0,569 0,126 Valid Sumber: Lampiran 4 yang diolah oleh peneliti
Tabel 4.10. Hasil Uji Validitas Social Power
Variabel Item r hitung r tabel Keterangan
Social Power
Social Power 1 0,479 0,126 Valid
Social Power 2 0,540 0,126 Valid
Social Power 3 0,360 0,126 Valid
Social Power 4 0,498 0,126 Valid
Social Power 5 0,480 0,126 Valid
Sumber: Lampiran 4 yang diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel di atas bahwa semua item yang terdapat pada kuesioner memiliki Corrected Items Total Correlation yang lebih besar dari 0,126. Hal ini menunjukkan bahwa semua item pada kuesioner valid dan mampu untuk mengukur apa yang diinginkan dan mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.
4.4.2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk menunjukkan konsistensi dan stabilitas dari suatu skor atau skala pengukuran. Untuk mengukurnya digunakan nilai Cronbach's Alpha. Jika koefisien Cronbach’s Alpha (α) > dari 0,6, maka instrumen dikatakan reliabel (Priyatno, 2010, p. 100). Pengujian menggunakan bantuan program SPSS 13
Tabel 4.11. Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Cronbach's Alpha Nilai Kritis Keterangan
OCB (Y) 0,701 0,6 Reliabel
Procedural justice (X1) 0,688 0,6 Reliabel
Social power (X2) 0,713 0,6 Reliabel
Sumber: Lampiran 4 yang diolah oleh peneliti
Berdasarkan pada tabel 4.11 didapatkan bahwa Cronbach's Alpha pada seluruh variabel penelitian lebih besar dari nilai kritis 0,6. Dengan demikian butir- butir pertanyaan dalam kuesioner adalah reliabel.
4.5. Uji Asumsi Klasik
Dalam melakukan analisis, pertama-tama perlu dilakukan pengujian terhadap beberapa asumsi yang harus dipenuhi. Pengujian asumsi-asumsi tersebut untuk membuktikan apakah analisis yang akan dilakukan dapat dikatakan valid.
Pengujian asumsi tersebut dapat menggunakan program SPSS. Suatu data dikatakan sehat apabila terdeteksi memenuhi asumsi klasik tersebut. Pengajuan asumsi klasik tersebut antara lain:
4.5.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.
Uji yang digunakan adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov- Smirnov (K-S). Uji K-S ini memiliki kriteria Sig. (2-tailed) = 0,05, jika Sig. >
0,05 maka distribusi data adalah normal. Sebaliknya jika Sig. < 0,05 maka distribusi data adalah tidak normal. Hasil uji normalitas disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 4.12. Hasil Uji Normalitas
Unstandardized Residual
N 250
Normal Parameters(a,b) Mean 0,0000000
Std. Deviation 4,12360755
Most Extreme Differences Absolute 0,057
Positive 0,027
Negative ‐0,057
Kolmogorov‐Smirnov Z 0,896
Asymp. Sig. (2‐tailed) 0,398
Sumber: Lampiran 5
Berdasarkan tabel 4.12. ditemukan bahwa Sig. (2-tailed) sebesar 0,398 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data berdistribusi normal.
Penentuan suatu variabel terdistribusi normal atau tidak juga dapat dilihat melalui normal probability plot yang penyebaran titik-titik variabelnya seharusnya berada tidak jauh di sekitar garis Y=X dan histogram yang membentuk kurva normal (normal curve). Adapun grafik plot penelitian ini terlihat pada gambar 4.1 berikut ini:
Gambar 4.1 Grafik Plot
Sumber: data penelitian yang diolah menggunakan SPSS 13
Gambar 4.2 Grafik Histogram
Sumber: data penelitian yang diolah menggunakan SPSS 13
Berdasarkan gambar 4.2, terlihat bahwa titik-titik variabel berada di sekitar garis Y=X atau menyebar disekitar garis diagonal serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal, ini menunjukkan bahwa data telah terdistribusi normal.
4.5.2 Uji Multikolinieritas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antarvariabel bebas (independen). Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinearitas. Uji Multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) pada model regresi. Jika VIF < 5 maka tidak terdapat masalah kolinearitas dengan variabel bebas lainnya. Hasil uji multikolinieritas disajikan dalam tabel 4.13 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.13. Hasil Uji Multikolinieritas
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std.Error Beta Tolera
nce VIF
1
(Constant) 3,138 0,203 15,434 0.376
Social Power 0,086 0,038 0,140 2,241 0,026 0,993 1,00
7
Procedural
Justice 0,094 0,043 0,137 2,184 0,030 0,933 1,00
7 Sumber: Lampiran 6
Berdasarkan tabel 4.13, dapat diketahui bahwa nilai VIF untuk social power sebesar 1,007 dan procedural justice sebesar 1,007. Karena nilai VIF kurang dari 5, maka dapat disimpulkan bahwa pada model regresi tidak ditemukan adanya masalah multikolinieritas (Priyatno, 2010).
4.6. Model Regresi Linier Berganda
Analisa regresi linear berganda adalah analisa yang digunakan untuk melihat secara langsung pengaruh beberapa variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS 13.
Berikut adalah tabel hasil analisa regresi linier berganda :
Tabel 4.14. Hasil Perhitungan Regresi Linier Berganda
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients t Sig.
B Std.Error Beta
1 (Constant) 31,380 2,033 15,434 0,000
Procedural Justice 0,172 0,072 0,137 2,184 0.030
Social Power 0,172 0,077 0,140 2,241 0.026
Sumber: Lampiran 7
Persamaan Regresi yang dihasilkan adalah:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3
Y = 31,380 + 0,172 X1 + 0,172 X2
Dimana :
Y = Organisasional Citizenship Behavior (OCB) a = Konstanta
Χ1 = Procedural Justice Χ2 = Social Power
b1, b2, b = Koefisien Regresi X1, X2, X3
Persamaan Regresi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Konstanta sebesar 31,380 menyatakan bahwa jika social power dan procedural justice nilainya adalah 0, maka nilai organizational citizenship behaviour (OCB) adalah 31,380
2. Koefisien Regresi variabel Social Power (X1) sebesar 0,172 menyatakan bahwa jika variabel Procedural Justice bernilai tetap dan Social Power mengalami kenaikan satu satuan maka OCB akan meningkat sebesar 0,172. Koefisien bernilai positif artinya semakin kuat social power maka semakin tinggi OCB
3. Koefisien Regresi variabel Procedural Justice (X2) sebesar 0,172 menyatakan bahwa jika variabel Social Power bernilai tetap dan Procedural Justice mengalami kenaikan satu satuan maka maka OCB akan meningkat sebesar 0,172. Koefisien bernilai positif artinya
4.7. Uji Simultan (Uji F)
Uji simultan digunakan untuk menunjukkan apakah seluruh variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Berikut adalah tabel hasil dari uji F yang menguji variabel social power (X1) dan procedural justice (X2) secara simultan terhadap OCB (Y):
Tabel 4.15. Hasil Uji F
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 183,185 2 91,953 5,343 0.005a
Residual 4234,031 247 17,142
Total 4417,216 249
Sumber: Lampiran 8
Adapun langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut :
1. Menentukan formulasi hipotesis nihil dan hipotesis alternatif
Ho : b1 = b2 = b3 = 0, berarti secara bersama-sama tidak ada pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Ha : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0 berarti secara bersama-sama ada pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
2. Menentukan level of significance (α) yaitu sebesar 0,05.
3. Kriteria pengujian
Apabila F hitung > F tabel sedangkan nilai probabilitas F atau signifikansi <
0,05 maka dengan tingkat keyakinan tertentu, berarti Ho di tolak sedangkan Ha diterima sehingga semua variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Apabila F hitung ≤ F tabel sedangkan nilai probabilitas F atau signifikansi ≥ 0,05 maka pada tingkat keyakinan tertentu, berarti Ho diterima sedangkan Ha ditolak sehingga secara bersama-sama semua variabel independen tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
4. Perhitungan
Perhitungan F tabel dapat dilihat dengan menggunakan tingkat keyakinan 95%, α = 5%, df 1 (jumlah variabel – 1) atau 3-1 = 2 dan df 2 (n-k-1) atau 250-2-1 =
247, maka hasil yang diperoleh untuk Ftabel sebesar 3,00 (Lihat lampiran tabel statistik untuk distribusi F).
Sedangkan besarnya F hitung dengan bantuan program SPSS 13.0 didapat sebesar 5,343 (lebih lengkapnya dapat dilihat di tabel 4.15).
5. Hasil perhitungan
Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa nilai F hitung sebesar 5,343 yang lebih besar dari F tabel sebesar 3,592. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya bahwa secara bersama-sama variabel (social power dan procedural justice) sebagai variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya.
4.8. Uji Parsial (Uji t)
Uji parsial (Uji t) ini digunakan untuk menunjukkan apakah seluruh variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara parsial terhadap variabel dependen. Berikut adalah tabel hasil uji t pada variabel procedural justice (X1) dan social power (X2) secara parsial terhadap OCB (Y):
Tabel 4.16. Hasil Uji t
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients t Sig.
B Std.Error Beta
1 (Constant) 31,380 2,033 15,434 0,000
Social Power 0,172 0,077 0,140 2,241 0.026
Procedural
Justice 0,172 0,072 0,137 2,184 0.030
Sumber: Lampiran 9
Pengujian regresi digunakan uji dua arah (two tail test) dengan langkah-langkah pengujian sebagai berikut :
1. Menentukan formulasi hipotesis nihil dan hipotesis alternatif
Ho : βI = 0 (tidak ada pengaruh yang signifkan variabel independen secara
Ha : βI ≠0(ada pengaruh yang signifikan variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen )
2. Menentukan level of significance (α) yaitu sebesar 0,05.
3. Kriteria pengujian
Apabila - t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel atau probabilitas nilai t atau signifikansi ≥ 0,05 maka dengan tingkat keyakinan tertentu, berarti Ho diterima sedangkan Ha ditolak sehingga variabel independen secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.
Apabila t hitung > + t tabel atau t hitung < - t tabel atau nilai probabilitas nilai t atau signifikansi < 0,05 maka dengan tingkat keyakinan tertentu, berarti Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga variabel independen secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
4. Perhitungan
t tabel dapat dicari pada α = 5% : 2 = 0,025 (uji dua sisi) dengan derajat kebebasan (df) n–k–1 atau 250–2–1 = 247 (n adalah jumlah kasus dan k adalah jumlah variabel independen). Ftabel dengan pengujian dua sisi (signifikansi = 0.025) hasil diperoleh untuk t tabel sebesar 1,960 (Lihat lampiran tabel statistik untuk distribusi t).
Sedangkan besarnya nilai t hitung dan masing-masing nilai probabilitas t untuk masing-masing variabel independen dengan bantuan program SPSS 13.0 adalah sebagai berikut (untuk lebih lengkapnya dapat dilihat di tabel 4.16) : Untuk variabel social power besarnya t hitung adalah 2,241 dengan nilai probabilitas t sebesar 0,026.
Untuk variabel procedural justice besarnya t hitung adalah 2,184 dengan nilai probabilitas t sebesar 0,030.
5. Hasil perhitungan
Untuk variabel procedural justice didapat nilai t hitung sebesar 2,184 yang lebih besar dari t tabel sebesar 1,960 atau nilai probabilitas t hitung = 0.026 lebih kecil dari 0,05. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya bahwa variabel procedural justice (X1) secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya.
Untuk variabel social power didapat nilai t hitung sebesar 2,241 yang lebih besar dari t tabel sebesar 1,960 atau nilai probabilitas t hitung = 0.030 lebih kecil dari 0,05. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya bahwa variabel social power (X2) secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya.
4.9. Pembahasan
Menurut hasil analisis data menunjukkan bahwa procedural justice berpengaruh signifikan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya dengan t sebesar 2,184 dan nilai probabilitas t sebesar 0,026 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti bahwa adanya faktor procedural justice akan memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan Moorman (1991) di kota Virginia terhadap dua buah perusahaan yang menunjukkan bahwa keadilan prosedural berpengaruh signifikan pada OCB (Colquitt et al., 2001, p. 430) dan juga didukung oleh studi lapangan yang dilakukan Scarlicki dan Latham (1996) yang melakukan pelatihan pada supervisor dengan prinsip keadilan prosedural menunjukkan bahwa keadilan prosedural berpotensi untuk meningkatkan OCB (Colquitt et al. 2001, p. 430). Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan Organ (dalam Ehrhart, 2004) bahwa ketika karyawan merasa mereka diperlakukan dengan adil, mereka membalas melalui kinerja OCB dan meskipun mungkin outcome yang diharapkan karyawan tidak terpenuhi akan tetapi proses yang adil akan membuat karyawan puas dan berdampak pada OCB nya. Tjahjono (2007, p. 12) juga mengatakan apabila pimpinan atau organisasi mengambil kebijakan yang dipersepsikan karyawan adil dalam persepsi karyawan akan menumbuhkan rasa kepemilikan dan kebersamaan karyawan di dalam organisasi dan peningkatan OCB pun akan terjadi. Dengan demikian hipotesa yang mengatakan bahwa ada pengaruh signifikan antara procedural justice terhadap OCB dapat diterima.
Diketahui pula bahwa faktor social power berpengaruh signifikan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya dengan t hitung sebesar 2,241 dengan nilai probabilitas t sebesar 0,026 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti bahwa social power berpengaruh positif dan signifikan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya. Simon (dalam Jahangir, Akbar & Begum, 2006, p. 25) mengatakan bahwa karyawan melakukan OCB dengan harapan bahwa usaha ekstra (extra-role) itu dapat dirasakan dan diberi penghargaan (reward) oleh bos dan organisasi. Dengan hasil dan pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa ketika social power meningkat, maka OCB juga akan meningkat. Dengan demikian, hipotesa yang mengatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara social power dan procedural justice dapat diterima.
Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa faktor social power dan procedural justice secara serempak berpengaruh positif dan signifikan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya. Hal ini dapat dilihat dari F hitung sebesar 5,343 yang lebih besar dari F tabel sebesar 3,000. Dapat dikatakan bahwa ketika social power dan procedural justice meningkat, maka OCB pun meningkat. Dengan demikian, hipotesa penelitian ini dapat diterima yang menyatakan bahwa ada pengaruh signifikan antara social power dan procedural justice secara simultan dengan OCB pada perusahaan keluarga di Surabaya.