• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Pemahaman Mata Kuliah Fisika Terapan melalui Model TAPPS (Thinking Aloud Pair Problem Solving) di AT AUB Surakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Peningkatan Pemahaman Mata Kuliah Fisika Terapan melalui Model TAPPS (Thinking Aloud Pair Problem Solving) di AT AUB Surakarta"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Vol.2, No.2, Desember 2021 ISSN: 2722-8126

Accessed online by http://journalindonesia.org/index.php/JIGI  174

Peningkatan Pemahaman Mata Kuliah Fisika Terapan melalui Model TAPPS (Thinking Aloud Pair Problem Solving)

di AT AUB Surakarta

Kunto Hamijoyo

Akademi Teknologi AUB Surakarta, Indonesia e-mail: [email protected]

Abstrak

Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia yang secara teknis- operasional dilakukan melalui perkuliahan. Program perkuliahan yang baik akan menghasilkan efek pada kemampuan mahasiswa untuk belajar secara terus-menerus melalui lingkungannya.

Proses perkuliahan tersusun atas komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lainnya.

Peran dosen dalam mengajar sangat penting. Interaksi antara dosen dengan mahasiswa pada saat proses perkuliahan memegang peranan penting dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Fisika Terapan merupakan salah satu mata kuliah yang menduduki peranan penting dalam bidang teknik. Keberhasilan proses perkuliahan dapat diukur dari tingkat pemahaman, penguasaan materi dan prestasi belajar mahasiswa. Namun pada kenyataannya keberhasilan prestasi belajar matakuliah Fisika Terapan yang dicapai mahasiswa masih rendah. Perkuliahan Fisika Terapan di AT AUB Surakarta selama ini belum berhasil meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang konsep-konsep Fisika Terapan. Faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman konsep mahasiswa dalam belajar Fisika Terapan adalah perkuliahan yang terpusat pada dosen.

Berdasarkan uraian permasalahan, peneliti memberikan solusi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAPPS (Thinking Aloud Pair Problem Solving) sebagai upaya meningkatkan pemahaman konsep Fisika Terapan. Rumusan masalah dalam penelitian ini:

“Adakah peningkatan pemahaman konsep Fisika Terapan setelah dilakukan perkuliahan dengan model pembelajaran TAPPS?”. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pencapaian mahasiswa dalam menyajikan konsep menjadi bentuk representasi. Peningkatan dalam menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu. Serta adanya peningkatan mahasiswa yang dapat mengaplikasikan konsep pemecahan masalah dapat dilihat dari data hasil tindakan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat peningkatan pemahaman konsep Fisika Terapan melalui model TAPPS.

Kata kunci: Pemahaman Konsep, Fisika Terapan, TAPPS

1. PENDAHULUAN

Proses perkuliahan tersusun atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lainnya. Peran dosen dalam mengajar sangat penting. Interaksi antara dosen dengan mahasiswa pada saat proses perkuliahan memegang peranan penting dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Kemungkinan kegagalan dosen dalam menyampaikan suatu pokok bahasan disebabkan pada saat proses perkuliahan, dosen kurang membangkitkan perhatian dan aktivitas mahasiswa dalam perkuliahan. Perkuliahan cenderung pada ketercapaian target materi menurut kurikulum atau buku ajar yang dipakai sebagai buku wajib, bukan pada pemahaman materi yang dipelajari. Seringkali mahasiswa mengulang-ulang menyebutkan definisi yang diberikan dosen yang tertulis dalam buku dalam menghafal konsep-konsep, tanpa memahami maksud dan isinya [7].

(2)

Fisika Terapan merupakan salah satu mata kuliah yang menduduki peranan penting.

Banyak mahasiswa beranggapan bahwa mata kuliah Fisika Terapan sangat sulit, padahal sulit tidaknya suatu mata kuliah itu tergantung pada mahasiswa sendiri, siap atau tidaknya mereka menerima perkuliahan. Oleh sebab itu, bagaimana cara dosen meyakinkan mahasiswa bahwa matakuliah Fisika Terapan tidak sulit seperti yang mereka bayangkan karena dengan hal tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan mahasiswa dalam belajar Fisika Terapan.

Keberhasilan proses perkuliahan dapat diukur dari keberhasilan mahasiswa yang mengikuti kegiatan perkuliahan tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi dan prestasi belajar mahasiswa. Semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi serta prestasi belajar maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan perkuliahan [8].

Namun pada kenyataannya keberhasilan prestasi belajar matakuliah Fisika Terapan yang dicapai mahasiswa masih rendah.

Faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman konsep mahasiswa dalam belajar Fisika terapan adalah perkuliahan yang terpusat pada dosen. Dalam penyampaian materi, dosen cenderung monoton menguasai kelas sehingga mahasiswa kurang leluasa menyampaikan ide- idenya, akibatnya pemahaman konsep mahasiswa dalam belajar Fisika terapan menjadi kurang optimal. Perilaku belajar yang lain seperti suasana kelas yang menyenangkan, keaktifan dan kreativitas mahasiswa dalam perkuliahan hampir tidak tampak.

Gambaran permasalahan tersebut menunjukkan bahwa perkuliahan Fisika Terapan di AT AUB Surakarta perlu diperbaiki guna meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep Fisika Terapan. Mengingat pentingnya mata kuliah, maka diperlukan pembenahan proses perkuliahan yang dilakukan dosen yaitu dengan menggunakan suatu metode perkuliahan yang dapat meningkatkan pemahaman konsep Fisika Terapan. Salah satu cara untuk mengatasi yaitu dengan menerapkan model pembelajaran yang diperkenalkan oleh Claparade yaitu TAPPS (Thinking Aloud Pair Problem Solving). Model pembelajaran ini melatih kerjasama dan tanggung jawab mahasiswa dengan peran antara PS (Problem Solver) dan L (Listener) [6] [8] [9].

Perkuliahan dengan model TAPPS, mahasiswa di kelas dibagi menjadi beberapa tim, setiap tim terdiri dari dua pihak. Satu pihak menjadi PS dan pihak lainnya menjadi L. Setiap anggota tim mempunyai tugas masing-masing yang akan mengikuti aturan tertentu dan akan saling bertukar peran saat permasalahan yang diberikan selesai dipecahkan. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif TAPPS, mahasiswa dapat saling membantu dalam rangka menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah sehingga prestasi belajarnya meningkat [4].

Berdasarkan uraian di atas tentang permasalahan dalam perkuliahan Fisika Terapan, peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAPPS sebagai salah satu upaya peningkatan pemahaman konsep dalam perkuliahan Fisika Terapan.

2. METODE PENELITIAN

2.1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini dipilih berdasarkan purpose sampling (sampel bertujuan), yaitu untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep Fisika Terapan pada mahasiswa secara keseluruhan. Dalam penelitian ini mahasiswa semester I Kelas A, AT AUB Surakarta sebagai subyek penelitian yang akan menerima tindakan.

2.2. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu penelitian yang mengkaji tentang permasalahan dengan ruang lingkup yang tidak terlalu luas yang berkaitan dengan perilaku seseorang atau kelompok tertentu disertai permasalahan yang diteliti terhadap dampak perlakuan dalam rangka mengubah, memperbaiki, dan meningkatkan perilaku yang sedang diteliti. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan perkuliahan yang menarik yang mampu meningkatkan

(3)

pemahaman mahasiswa untuk menjamin diperolehnya tujuan yang diinginkan. Secara singkat penelitian ini dapat disusun dalam Gambar 1 sebagai berikut.

Gambar 1. Rancangan Pelaksanaan Penelitian modifikasi dari Kemmis dan Mc. Tanggart

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Penelitian ini mengacu pada pemahaman konsep Fisika Terapan melalui model TAPPS.

Adapun indikator-indikator pemahaman konsep dalam penelitian ini adalah mahasiswa dapat menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, mahasiswa dapat menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu, dan mahasiswa dapat mengaplikasikan konsep pemecahan masalah.

1. Mahasiswa dapat menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis.

Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis merupakan salah satu indikator pemahaman konsep. Mahasiswa yang dapat menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis artinya mahasiswa dapat memahami konsep dasar sehingga bisa menyatakan ulang suatu bentuk konsep itu ke dalam representasi matematis.

Kemampuan mahasiswa untuk menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis dari sebelum tindakan sampai putaran III mengalami peningkatan yang berarti.

Sebelum tindakan, mahasiswa dapat menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis sebanyak 10 mahasiswa (20%), putaran I sebanyak 16 mahasiswa (32%), putaran II sebanyak 19 mahasiswa (38%), dan putaran III sebanyak 26 mahasiswa (52%).

Kemampuan mahasiswa untuk menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis dari sebelum putaran sampai putaran III mengalami peningkatan yang berarti. Hal ini dikarenakan model TAPPS melatih mahasiswa bekerja secara kelompok mandiri sehingga tiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab, selain itu mahasiswa terlatih untuk berkomunikasi dan aktif dalam perkuliahan sehingga secara tidak langsung mereka dapat menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, dan karena adanya pemberian reward berupa point tambahan dari dosen, mahasiswa menjadi termotivasi untuk lebih aktif dalam perkuliahan.

(4)

2. Mahasiswa dapat menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu.

Memilih prosedur atau operasi tertentu artinya mahasiswa memahami prosedur mana yang lebih baik digunakan dalam penyelesaian suatu masalah dengan konsep yang ada. Dengan indikator ini, mahasiswa yang paham akan konsep Fisika Terapan nampak terlihat.

Kemampuan mahasiswa untuk menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu dari sebelum tindakan sampai putaran III mengalami peningkatan yang berarti. Sebelum tindakan, mahasiswa dapat menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu sebanyak 12 mahasiswa (24%), putaran I sebanyak 18 mahasiswa (36%), putaran II sebanyak 22 mahasiswa (44%), dan putaran III sebanyak 28 mahasiswa (56%).

Kemampuan mahasiswa dalam menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu sebelum putaran sampai putaran III mengalami peningkatan yang berarti.

Hal ini dikarenakan penggunaan model TAPPS dapat melatih mahasiswa untuk aktif dalam perkuliahan sehingga dalam kerja kelompoknya, mereka bertukar pikiran memilih prosedur mana yang digunakan untuk menyelesaikan soal yang diberikan dosen.

3. Mahasiswa dapat mengaplikasikan konsep rumus Fisika untuk pemecahan masalah.

Kemampuan mahasiswa mengaplikasikan konsep atau rumus untuk pemecahan masalah artinya mahasiswa dapat mengingat materi yang dipelajari, menentukan ciri-ciri yang diketahui, dan mahasiswa dapat mengaplikasikan konsep tersebut dalam pemecahan masalah.

Kemampuan mahasiswa mengaplikasikan konsep pemecahan masalah dari sebelum tindakan sampai putaran III mengalami peningkatan yang signifikan. Sebelum tindakan, mahasiswa dapat mengaplikasikan konsep pemecahan masalah sebanyak 13 mahasiswa (26%), putaran I sebanyak 15 mahasiswa (30%), putaran II sebanyak 23 mahasiswa (46%), dan putaran III sebanyak 28 mahasiswa (56%).

Kemampuan mahasiswa mengaplikasikan konsep pemecahan masalah dari sebelum putaran sampai putaran III mengalami peningkatan yang berarti. Hal ini dikarenakan di dalam penggunaan model TAPPS yang selalu ada presentasi dan evaluasi di akhir pertemuan dengan mahasiswa menyampaikan kesimpulan dan review dari materi yang telah disampaikan pada pertemuan tersebut. Hal ini melatih mahasiswa untuk dapat mengaplikasikan konsep pemecahan masalah.

Adanya tanggung jawab individu mendorong setiap anggota kelompok berusaha untuk mencapai ketuntasan materi yang disajikan dosen supaya tujuan kelompok tercapai sehingga diharapkan kelompok tersebut dapat memahami konsep materi yang diajarkan.

3.2. Pembahasan

Pembahasan berisi tentang uraian dan penjelasan mengenai hasil penelitian yang dilakukan. Hal-hal yang dibahas dalam pembahasan yaitu sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan penelitian dan hipotesis selama proses penelitian. Bagian ini menjawab permasalahan adakah peningkatan pemahaman konsep Fisika Terapan melalui model TAPPS?

Penelitian yang dilakukan peneliti bertujuan meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa terhadap fisika terapan. Proses perkuliahan selalu dihadapkan dengan kendala- kendala yaitu kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap konsep fisika. Sebelum diadakan penelitian, perkuliahan masih menggunakan model perkuliahan langsung. Dosen menjelaskan materi dan mahasiswa hanya diam mendengarkan penjelasan dari dosen.

Pemahaman konsep (concept understanding) merupakan salah satu aspek dari tiga aspek penilaian. Penilaian pada pemahaman konsep ini bertujuan mengetahui sejauh mana mahasiswa menerima dan memahami konsep dasar Fisika Terapan yang telah diterima.

Penelitian difokuskan pada tindakan dosen model untuk menumbuhkan keaktifan mahasiswa dalam perkuliahan melalui model TAPPS. Pada perkuliahan ini terdapat unsur-unsur dasar pembelajaran yang mencerminkan bahwa mahasiswa belajar dari suatu pengalaman dan

(5)

berpartisipasi aktif dalam kelompok kecil, dan membantu mahasiswa belajar keterampilan sosial seiring dengan mengembangkan berpikir logis. Proses perkuliahan dilakukan dengan kerja sama dan saling bertukar pendapat. Tindakan ini dilakukan selama 3 kali putaran. Pembelajaran ini diterapkan supaya mahasiswa tidak beranggapan bahwa fisika terapan merupakan mata kuliah yang sulit.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan disimpulkan, terdapat peningkatan pemahaman konsep Fisika Terapan melalui model TAPPS (Thinking Aloud Pair Problem Solving). Mahasiswa dapat menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi rumus.

Adanya peningkatan mahasiswa yang dapat menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi dapat dilihat dari data hasil tindakan. Pada putaran I sebanyak 16 mahasiswa (32%), putaran II meningkat menjadi 19 mahasiswa (38%), putaran III meningkat lagi menjadi 26 mahasiswa (52%). Mahasiswa dapat menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu. Adanya peningkatan mahasiswa yang dapat menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu dapat dilihat dari data hasil tindakan kelas. Pada putaran I sebanyak 18 mahasiswa (36%), putaran II meningkat menjadi 22 mahasiswa (44%), putaran III meningkat lagi menjadi 28 mahasiswa (56%). Mahasiswa dapat mengaplikasikan konsep pemecahan masalah. Adanya peningkatan mahasiswa yang dapat mengaplikasikan konsep pemecahan masalah dapat dilihat dari data hasil tindakan. Pada putaran I sebanyak 15 mahasiswa (30%), putaran II meningkat menjadi 23 mahasiswa (46%), putaran III meningkat lagi menjadi 28 mahasiswa (56%).

5. SARAN

Penelitian memberikan saran, Dosen hendaknya lebih menguasai konsep dasar materi fisika terapan yang diajarkan dan menerapkan proses perkuliahan yang lebih menarik. Dosen hendaknya menggunakan model perkuliahan yang melatih tanggung jawab mahasiswa seperti model TAPPS (Thinking Aloud Pair Problem Solving). Dosen perlu menumbuhkan kreativitas mahasiswa. Hal ini dapat membantu dosen untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan tentang materi perkuliahan yang dimiliki mahasiswa. Dosen perlu mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menguasai materi perkuliahan karena dapat disajikan catatan penting bagi dosen untuk melakukan perbaikan dalam proses perkuliahan. Dosen hendaknya dapat menjalin hubungan baik dengan mahasiswa agar proses perkuliahan terasa nyaman dan menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Ahmad Saebani, Beni. 2008. Metode Penelitian. Pustaka Setia, Bandung [2] Arikunto, Suharsimi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara, Jakarta

[3] Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta, Jakarta

[4] Barkley, Elizabeth. 2005. Collaborative Learning Techniques (Handbook For College Faculty). Jossey-Boss, San Fransisco

[5] Johnson, D.W., Johnson, R.T., and Smith, K.A. 1998. Active Learning: Cooperation in the college classroom. Edina, MN: Interaction Book Company.

[6] Johnson, S.D., Chung, S. 1999. The Effect of Thinking Aloud Pair Problrm Solving (TAPPS) on the Troubleshooting Ability of Aviation Technician Students. Journal of Industrial Teacher Education, 37 (1).

[7] Rusman. 2013. Model-model Pembelajaran. Raja Grafindo Persada, Jakarta

(6)

[8] Stice, James E. 1987. Teaching Problem Solving (vol 4). The University of Texas at Austin, [Online] Tersedia : http://ic.ucsc.edu.

[9] Uno, Hamzah. B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Bumi Aksara, Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Perhitungan kinerja reksadana saham dengan metode Sharpe dan Treynor menghasilkan 12 reksadana bernilai positif, artinya bahwa hanya 29,26% reksadana saham yang

Dengan ini kami Panitia Pengadaan Barang/Jasa RSUD Kabupaten Nunukan T.A.2012 dengan ini menyatakan sanggahan benar mengenai kekeliruan jadwal yang terlalu singkat dan kesalahan

Gambar 16 menunjukkan perbandingan akurasi rata-rata yang dihasilkan pada penelitian identifikasi durian dengan penelitian identifikasi 13 jenis tanaman yang menggunakan

Dengan dibuatnya aplikasi multimedia player ini pemakai tidak perlu membutuhkan 2 player untuk menjalankan file audio dan file video dengan berbagai macam jenis file yang

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. ©Anindya Widita

Variabel advertising, sales promotion, personal selling, direct marketing dan harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan customer membeli cat minyak merek Avian

Objek wisata di Kota Bengkulu tersebut sangat diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke Kota Bengkulu, saat ini masih banyak wisatawan yang berkunjung ke Kota

Hasil penelitian adalah sebuah aplikasi sistem pencarian dan pemesanan pemandu wisata berbasis web yang menampilkan daftar seluruh pemandu wisata yang terdaftar sebagai